Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome

I Love You Handsome

Andini mengerang, badannya yang ramping itu berkali-kali mengeluarkan suara gemertuk persendiannya. Ia menggeliat hingga membuat dadanya membusung sesaat. Beberapa hari ini pekerjaannya sangat berat, terutama menjelang pelaporan produksi terakhir. Bulan depan akan ada pertemuan dengan para direksi. Hal itu tentu saja adalah agenda rutin yang setiap tahun selalu diberengi dengan pesta para bos.

Perusahaan PT EVOLUS PRODUTAMA, sebuah perusahaan textil yang telah berkiprah selama puluhan tahun dan merajai pemasaran produknya di kancah pertextilan di Indonesia ini tak bisa dianggap remeh. Selama berpuluh-puluh tahun telah dianggap sebagai pioner bagi perkembangan dunia textil. Hasil produksinya telah diekspor kemana-mana, hal itu tidak lain adalah berkat tangan dingin sang pimpinan yaitu Haris Surya Ramadhan.

Andini hari ini lebih memilih tinggal di ruangannya sambil membaca berkas-berkas yang ada di mejanya. Tumpukan berkas itu pun ditelitinya satu-satu sambil serasa sesekali mengerutkan dahinya. Dia lalu mengoreksi dan mengoreksi. Dia memang butuh orang, ya tentu saja untuk membantu dia menyelesaikan pekerjaannya ini. Dia pun mengambil gagang telpon dan menelpon sekretarisnya Rahma.

“Rahma, bagaimana? Ada kabar dari HRD?” tanyanya.

“Iya bu, HRD sudah ada dua kandidat yang melamar. Tapi yang satu gugur karena tidak sesuai harapan. Pada test masuk dia gagal,” jawab Rahma sang Sekretaris.

“Trus kapan pelamar itu datang?” tanya Andini ketus.

“Hari ini seharusnya datang,” jawab Rahma.

“Kalau sudah datang suruh langsung menemui saya. Dan tolong berkas-berkas yang ada di ruangan saya diberikan kepada Pak Wiguna bagian distributor, sekarang.”

“Baik bu”

Tak berapa lama kemudian Rahma muncul di pintu. Andini menunjuk ke tumpukan berkas yang ada di mejanya. Rahma segera mengambilnya. Rahma tampak serasi dengan balutan blus warna coklat dan rok selutut. Rambutnya disanggul dengan anggun, serta cara berjalannya sangatlah mempesona. Ya, sekretaris dari Andini ini sangat anggun. Bahkan mungkin seandainya bosnya tidak lebih cantik dari dirinya mungkin ialah yang bakal jadi primadona di kantor ini. Sayangnya Andini tak kalah cantik. Walaupun usianya hampir masuk ke angka 30, tapi dia boleh dibilang sebagai wanita yang sangat cantik, seksi, anggun dan menawan. Semua karyawan di kantor ini amat memuja kecantikan Andini. Dan beredar desas-desus tak enak karena dengan usia yang sudah hampir berkepala tiga dia tak terlihat dengan pria manapun. Banyak bos-bos yang jalan dengannya, tapi tak pernah lama.

Kabar angin mengatakan bahwa Andini adalah seorang lesbian. Kabar yang lain, ia sudah tunangan, kabar yang lain pula mengatakan bahwa ia lebih memilih hidup membujang karena termasuk wanita yang workaholic. Namun itu semua tidak terbukti. Toh, sampai sekarang Andini masih easy going, enjoy, dan free available, sebut saja sesukanya.

TOK! TOK! TOK!

“Permisi,” sapa seseorang di pintu.

Sesosok wajah pria ganteng dengan rambut ala harajuku nongol di pintu. Andini dan Rahma menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pemuda asing dengan baju putih berdasi biru bergaris putih melongok ke dalam.

“Ya? Cari siapa?” tanya Rahma.

“Eh…hhmmm…apa ini ruangan Direktur Produksi?” tanya pemuda itu.

“Ya, dengan saya sendiri di sini,” jawab Andini. Namun Andini sedikit terhenyak ketika melihat wajah pemuda itu. Ia sepertinya mengenal sang pemuda.

“Oh, maaf. Saya disuruh oleh bagian HRD untuk langsung menemui ibu. Saya yang melamar lowongan di surat kabar,” jawab sang pemuda.

“Oh, sudah datang rupanya. Baiklah masuk saja. Rahma tolong bawa berkasnya ya!” kata Andini.

“Baik bu.” Rahma kemudian mengambil berkas-berkas yang kalau ditumpuk sampai sedagunya. Dia melirik ke arah pemuda yang masuk ke ruangan Andini. Pemuda itu memakai parfum yang maskulin, tubuhnya tegap, tinggi dan kulit sawo matang. Pemuda tampan ini ternyata bisa membuat Rahma berdebar-debar ketika melintas di hadapannya. Rahma kemudian keluar dari ruangan bosnya.

“Anjiiiirrrrr…cakep banget itu pegawai baru. Wah, wah, bakalan ramai nih kalau dia sampai keterima di kantor ini,” ujarnya dalam hati. Ia buru-buru kembali ke meja Pak Wiguna.

“Duduk!” Andini menyuruh pemuda itu duduk.

Sang pemuda tampan ini pandangannya menyapu seluruh ruangan mulai dari lukisan, kaca jendela, hingga AC. Pandanganya pun terhenti di mata Andini. Calon bossnya ini menatap ke arahnya. Andini menoleh ke arah layar monitornya dan melihat email yang dikirim bagian HRD. Dia membaca berkas yang diberikan HRD di monitor laptopnya.

“Baiklah, nama?” tanya Andini.

“Arczre Vian Zainal,” jawab sang pemuda.

“Panggilannya?”

“Arci,” jawab sang pemuda.

“Kamu bisa panggil saya Bu Andini,” kata Andini.

“Baik, bu. Bu Andini.”

Andini tersenyum. Dalam hatinya ada perasaan rindu, tapi kenapa mereka harus bertemu dengan cara seperti ini. Dalam hati Andini tertawa. Tapi semuanya ditahan. Ia tak mau mengacaukan semuanya. Pandangan Andini kepada Arci penuh arti, semua itu karena satu peristiwa masa lalu yang dialaminya.

“Punya pengalaman kerja?” tanya Andini.

“Saya pernah beberapa kali bekerja di perusahaan kecil, setahun di percetakan, saya juga mengerjakan servis komputer di rumah, kebanyakan freelance,” jawab Arci.

“Lulusan akuntansi dengan cumlaude, hebat,” puji Andini.

“Alhamdulillah bu,” kata Arci.

“Punya saudara?” tanya Andini.

“Ada ibu, adik dan kakak, semuanya wanita,” jawab Arci.

“Kakak sudah berkeluarga?” tanya Andini.

Arci menggeleng, “Belum sedangkan adik, sekarang masih SMA.”

Andini sebenarnya tak perlu bertanya tentang silsilah keluarga dari Arci, ia sudah tahu. Andai Arci tahu siapa dirinya pasti ia tak akan memaafkannya. Tapi inilah kehidupan, kadang sesuatu kita ada di atas, kadang juga ada di bawah. Sama seperti yang dilihat olehnya kali ini. Dulu Andini tidak seperti ini. Perjumpaannya dengan Arci mengubah segalanya.

Selama ini ia bertanya-tanya, di manakah pemuda itu selama ini. Pemuda yang membuat dia berubah. Pemuda yang telah memberikan menggetarkan hatinya, seorang pemuda tampan yang sangat sabar dalam mengarungi kehidupan. Dan mungkin saja karena jodoh akhirnya mereka dipertemukan oleh tuhan di sini.

Dalam hati Arci berkata, “Cantik sekali wanita yang berada di hadapannya ini. Rambutnya berombak, dewasa, kulitnya putih, dan sangat mempesona. Apakah dia sudah menikah? Kalau dilihat dari jari manisnya yang kosong, ia sepertinya belum menikah. Tapi bisa jadi sudah, jaman sekarang ini terkadang memang orang tak mementingkan cincin yang melingkar di jari manis.”

“Baiklah, CV-mu sungguh baik. Aku suka sama kamu, eh,..maksudnya aku suka dengan profilemu. Kapan siap kerja?” tanya Andini agak gugup.

“Sekarang juga saya siap bu,” kata Arci.

“Baiklah, sekarang kamu duduk di dekat Yusuf, meja kerjamu akan ditunjukkan oleh Rahma. Kamu bisa minta tolong ke dia. Oh ya, hari ini aku ingin kamu langsung melakukan rekap data produksi tahun ini. Bagaimana caranya kamu bisa tanya ke Yusuf,” kata Andini.

“Siap bu,” kata Arci. “Ada lagi?”

“Itu saja dulu,” kata Andini.

“Baik bu, kalau begitu saya permisi,” kata Arci.

“Silakan!”

Arci kemudian beranjak dan pergi dari ruangan Andini. Setelah yakin Arci pergi dari ruangannya dan dia sendirian, Andini menghela nafas. Ia mengelus-elus dadanya. Ia senyum-senyum sendiri.

“Aku tak menyangka kamu sekarang berhasil Ci, itu yang aku harapkan. Tapi kuharap kamu tak kaget nanti kalau tahu siapa aku. Arci, jangan kecewakan aku ya!” gumam Andini seorang diri.

* * *

“Mbak, mejanya Yusuf sebelah mana ya? Saya disuruh ibu Andini ” tanya Arci membuat Rahma yang saat itu baru saja duduk setelah dari meja kerja Pak Wiguna terkejut.

“Oh, iya maaf. Masnya langsung kerja di sini?” tanya Rahma.

“Iya, nih,” jawab Arci.

“Ikut saya deh, nama mas siapa?”

“Saya Arci.”

“Ah, iya.”

Arci pun mengikuti kemana Rahma pergi. Rahma mengantarnya ke sebuah meja yang tak jauh dari tempat Rahma bekerja. Di sana ada seorang pemuda berkaca mata tampak sedang menginput data. Di mejanya ada tumpukan file-file. Tampak sekat tempat mejanya telah dipenuhi berbagai tempelan.

“Mas Yusuf!?” sapa Rahma.

Yusuf langsung berbalik, “Eh, Rahma. Ada apa?”

“Ini pegawai baru bagian audit,” kata Rahma.

“Arci,” Arci mengulurkan tangannya langsung dijabat oleh Yusuf.

“Yusuf,” kata Yusuf. “Duduk deh!”

Arci kemudian duduk di kursi kosong di meja sebelah Yusuf.

“Aku tinggal dulu ya?” kata Rahma.

Rahma kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Arci melihat ke layar monitor.

“Lulusan mana?” tanya Yusuf.

“UNAIR,” jawabnya.

“Wah, keren dong,” kata Yusuf sambil membuka file excel.

“Ah, nggak juga. Biasa aja koq mas. Lulus pas-pasan,” kata Arci merendah.

“Hahaha, jangan merendah gitu. Dari penampilanmu sepertinya kamu ini bukan orang sembarangan.”

“Masa’ sih, mas?”

“Yah, dari penilaianku saja sih. Tadi disuruh apa sama Bu Dini?”

“Bu Dini? Oh, iya. Katanya untuk merekap data produksi tahun ini,” jawab Arci sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Oh, gampang itu. Kita sekarang sudah punya aplikasinya, kamu tinggal mengambilnya via aplikasi yang disediakan seperti ini,” Yusuf mengoperasikan sebuah aplikasi yang menampilkan data produksi. “Kemudian buka file excel lalu export saja ke excel, jadi deh. Kamu tinggal filter aja berdasarkan tanggal.”

“Oh, begitu,” Arci manggut-manggut.

“Datanya kamu filter juga berdasarkan kode produk, karena aku yakin Bu Dini pasti ingin menginginkannya berdasarkan kode produk,” Yusuf menjelaskan pekerjaan yang harus ditangani Arci.

“Oh, OK. Gampang kalau gitu. Yang penting semuanya ada di aplikasi ini kan?” tanya Arci sambil menunjuk ke aplikasi yang dibuka oleh Yusuf.

“Iya,” jawabnya.

“Consider it done!”

Yusuf mengangkat alisnya. “Sombong amat, bisa selesai cepet,” ujarnya dalam hati.

“Ini sebelumnya mejanya siapa?” tanya Arci kemudian.

“Oh, dulu ini meja milik Farid, dia udah resign,” jawab Yusuf.

Arci mulai menghidupkan komputer. Dia menaruh ransel yang ia bawa di meja dekat monitor lalu mulai mengeluarkan binder, pulpen, dan beberapa peralatan lainnya termasuk charger. Ia juga keluarkan ponselnya dan langsung memasukkan colokan charger ke tempatnya. Arci mulai bekerja, Yusuf cukup penasaran ketika Arci mulai mengetik dengan cepat. Ia tampak sangat cekatan.

“Boleh juga,” kata Yusuf. Tapi Arci tak mendengar. Baginya hari ini ia harus memberikan first impression kepada atasannya.

Beberapa menit berlalu. Yusuf sibuk dengan pekerjaannya sambil sesekali melihat Arci bekerja. Disaat Yusuf sedang asyik bekerja itulah tiba-tiba Arci menghampirinya lagi.

“Trus dikirim lewat email atau diprint?” tanya Arci.

“Kirim lewat email saja,” kata Yusuf. “Emailnya Bu Dini, andini[at]evolus.com”

Arci manggut-manggut. Segera ia kembali ke mejanya dan mengetikkan alamat email ke composer. Setelah itu dia mengklik send. Dia lalu duduk dengan merendahkan tubuhnya. Melihat itu Yusuf jadi heran.

“Sudah?” tanya Yusuf.

“Yup, kalau cuma mengumpulkan data dengan filternya saja sih sudah,” jawab Arci.

“Coba, mana aku lihat!” Yusuf menggeser kursinya kini berada di sebelah Arci.

Arci kemudian memperlihatkan bagaimana cara dia menyusun data sebanyak itu dalam waktu cepat. Pertama dia membuat program sederhana dari bahasa pemrograman PHP, kemudian dia mengutak-atik kodingnya sehingga dengan cepat ia bisa mendapatkan segala yang ia perlukan.

“Cuma segini kan?” tanya Arci yang membuyarkan lamunan Yusuf yang melongo melihat hasil kerjaan Arci.

“Gile, kamu cepet juga ya ngerjain ini. Mana sempurna lagi,” puji Yusuf.

Yusuf akhirnya mengerti kalau si Arci ini punya sesuatu yang lebih daripada karyawan biasa.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Jam lima sore, waktunya pulang. Jalan Raya Mondoroko pada jam-jam pulang kantor seperti ini sangat padat, terlebih bagi mereka yang memakai kendaraan roda empat akan tua di jalan. Arci dengan sepeda motor Supra-X miliknya menyelip di sebelah kiri di antara mobil-mobil. Kemudian dia berhenti di pertigaan Karang Ploso ketika lampu telah berubah menjadi merah. Arci pun menarik rem sehingga sepeda motornya berhenti. Pikirannya menerawang jauh. Ya, menerawang jauh. Mumpung lampu merahnya dihitung 69 detik.

Bagaimana dia bisa terdampar di kota yang bernama Malang ini? Sebuah kesempatan yang harus dia lakukan demi menghidupi keluarganya. Setidaknya begitu. Ia harus ke kota ini untuk mencari pekerjaan, bukan hanya mencari pekerjaan tapi juga mencari tempat tinggal karena hidup dengan kondisinya sekarang ini cukup susah. Cukup susah.

Mungkin kebetulan, tapi ini adalah yang disebut takdir. Tepat di samping Arci, Andini sedang duduk di kursi kemudi melirik ke arahnya. Ia terkejut karena berpapasan dengan si pemuda tampan itu. Andini tersenyum sambil menatap Arci. Entah sampai kapan ia akan merahasiakan tentang dirinya kepada Arci. Yang jelas ia sangat berhutang budi kepada si pemuda tampan yang usianya jauh lebih muda dari dirinya itu.

“Ia mendesah, seandainya Arci tahu tentang rasa ini,” kata dia dalam hati.

Ah, seandainya dia tahu.

Cukup lama Andini menatap Arci. Hingga lampu lalu lintas menjadi hijau dan kemudian Arci mulai melajukan sepeda motornya. Andini hanya melihat aksi ngebut Arci hingga menghilang dari pandangannya.

“Dasar, tak berubah,” ujarnya. Ya, Arci suka naik sepeda motor dengan ngebut. Tak berubah sejak dulu.

Setelah berjibaku dengan macetnya jalan raya, akhirnya tibalah Andini di sebuah perumahan elit. Ya, sebuah perumahan elit. Dia termasuk keluarga berada. Ayahnya seorang diplomat, ibunya seorang pengacara ternama, semua kakaknya sudah menikah dan sekarang dia tinggal sendirian di sebuah rumah megah seharga 2 Milyar yang ia dapat dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Ya, begitulah. Keadaan Andini ini sangat berbeda sekarang. Dia hampir mendapatkan semuanya, terkecuali seorang kekasih. Dia sebenarnya sudah putus asa selama ini. Dan hanya ingin memasrahkan semuanya kepada Yang Kuasa. Hanya saja perjumpaannya dengan Arci hari ini membuat semangatnya itu kembali lagi. Sesuatu yang telah lama ia kubur akhirnya kembali lagi.

Mobilnya pun mulai masuk ke dalam setelah seorang pembantu yang usianya masih cukup muda membuka gerbangnya. Andini segera keluar dari mobil dan melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah. Ia agak terkejut.

“Lho, mama ada Sri?” tanya Andini.

“Iya, non. Tadi sore dateng,” jawab sang pembantu.

Andini segera membawa map dan tas yang ada di dalam mobilnya kemudian menutup pintu mobil. Ia segera masuk ke dalam rumah.

“Pulang Din?” sapa mamanya. Mamanya bernama Susiati, seorang pengacara handal dan terkenal. Bukan rahasia lagi kalau klien-klien yang ditangani olehnya hampir semuanya memenangkan kasus. Mamanya tampak sedang duduk di sofa sambil menonton tv.

“Tumben mama ke sini,” kata Andini. Dia langsung mencium tangan mamanya, lalu duduk di samping mamanya setelah meletakkan map dan tasnya di meja.

“Kebetulan ada kasus yang harus ditangani di kota ini,” jawab mamanya.

“Hmm?? Kasus di kota ini?”

“Iya, salah seorang pengusaha terkena kasus tukar guling.”

“Oh, kabar kakak bagaimana?”

“Sekarang sedang nunggu hari lahiran. Kamu kapan nyusul?”

“Entahlah ma,” Andini malas kalau harus membahas soal jodoh. Ia sering kali ditanyai oleh mamanya tentang perjodohan. Tapi berkali-kali tawaran mamanya tentang seorang lelaki ditolaknya.

“Kamu ini, koq masih jual mahal aja. Ingat usia mama ini udah nggak muda lagi. Kamu juga.”

“Mama, udah ah, nggak usah dibahas lagi. Dini masih menanti dia koq.”

“Dia? Kamu masih ingat aja tentang dia. Sudahlah, dia sudah pergi.”

“Nggak koq ma, dia nggak pergi jauh ternyata.”

“Ha? Nggak pergi jauh?”

“Iya, dia ngelamar kerja di kantorku.”

“Oh ya?”

Andini hanya mengangguk.

“Kali ini Dini yakin dia tak akan memaafkan Dini.”

“Kenapa?”

“Mama tahu sendiri alasannya.”

“Sudahlah, toh sekarang kamu sudah berubah bukan?”

“Moga dia maafin Dini ya mah.”

Susiati pun memeluk Andini. “Duuhh…anak mama.”

“Adududuh, ma. Jangan kenceng-kenceng!”

“Hehehe…iya mama lupa kalau kamu belum mandi. Mandi sana gih!” mamanya melepaskan pelukan.

“Iya, iya,” Andini segera beranjak dari tempatnya duduknya dan mengambil map yang ditaruhnya tadi.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Arci tiba di sebuah rumah kontrakan. Belum sempat Arci masuk ke rumahnya, keluarlah seorang laki-laki asing dari rumahnya. Arci menatap lelaki itu dengan tatapan tidak suka. Dia langsung masuk ke dalam rumah.

“Bu, itu tadi apa?” Arci langsung menghardik ibunya sendiri.

“Ibu kerja!” jawab ibunya singkat. Ia membenarkan bra yang barusan melorot. Dia juga melihat kakaknya membetulkan baju yang barusan terlepas ke mana-mana.

“Kak, bu! Ingat kita pindah ke kota ini untuk jadi orang bener. Menjauhi kehidupan kelam kita. Nggak seperti ini!” suara Arci makin meninggi.

“Emangnya ibumu bisa apa? Nih, berkat kerjaan ini ibu dapet duit. Gimana kamu?” tanya sang Ibu.

“Arci keterima kerja hari ini. Dan aku sekali lagi melarang kalian jual diri lagi. Cukup!”

“Sudahlah, berapa sih gajimu. Nggak akan cukup dik! Nih, kita dapat dua juta habis treesome tadi,” jawab Safira. Kakak Arci.

“Mana Putri?” tanya Arci.

“Putri ke rumah temennya belajar kelompok,” jawab ibunya.

“Jangan sampai Putri mengalami kejadian seperti aku. Kalau sampai kalian jual adikku satu-satunya itu, kalian nggak akan kumaafkan! Camkan itu!” kata Arci sambil menunjuk wajah ibu dan kakaknya.

“Putri masih kecil, gila apa kami jual?” kata Safira.

“Emangnya kalian tahu berapa usiaku ketika menjualku? Aku masih tiga belas!” kata Arci.

“Udahlah, yang penting kita ada uang tambahan. Lagipula yang punya kontrakan sudah nagih,” kata sang ibu.

“Aku ingin kalian semua nggak ngelakuin itu lagi. Cari kerja yang halal, apa kek. Kemarin gimana kerja jadi salesnya?” tanya Arci ke Safira.

“Halah, Ci. Aku itu nggak bisa jualan. Yang ada cuma capek. Masih untung kemaren aku sepongin om-om di toilet agar mau beli produk yang aku jual,” kata Safira.

“Anjrit! Rusaaak, keluarga rusak. Kalau sampai nanti terjadi sesuatu kepada kalian. Aku nggak akan tanggung jawab. Kalau aku nggak menganggap kalian sebagai keluarga, aku sudah pergi dari rumah ini,” kata Arci.

Pemuda tampan itu pun segera pergi meninggalkan mereka berdua masuk ke kamarnya. Ya, tentu saja. Arci adalah anak seorang pelacur. Ibunya bernama Lian. Seorang pelacur high class yang terlilit hutang sehingga pergi dari Jakarta ke Malang untuk menghindar dari debt collector. Bahkan saking disebut high class bayarannya lebih dari lima juta sekali main. Arci sendiri anaknya siapa Lian nggak pernah tahu. Tapi dilihat dari perawakannya yang sedikit bule, Lian mengira salah satu kliennya yaitu seorang bule dari Republik Ceko yang pernah menyewa dia dulu yang membuahinya. Dia sudah lupa siapa nama bule itu. Yang jelas, itu kliennya yang sangat memuaskan. Dibayar mahal plus cum inside.

Sebagai anak haram, sebenarnya Arci juga gusar. Ia tak ingin dikatakan anak haram terus-terusan. Maka dari itulah dia selalu menghindar ketika ditanya apa pekerjaan orang tuanya. Arci juga tak akan pernah lupa kejadian beberapa tahun lalu di saat ia pertama kali melepas perjakanya. Bukan oleh orang lain, tapi oleh kakaknya sendiri dan itu disaksikan oleh sang ibu. Hanya karena satu hal. Dan ingatannya pun menerawang lagi peristiwa memilukan itu.

Arci yang berusia 13 tahun itu baru saja pulang dari sekolah. Saat itu dari rumah keluar beberapa orang bertampang garang. Karena ketakutan Arci segera masuk ke dalam rumah. Dia melihat kakak dan ibunya tampak menangis.

“Kenapa? Ada apa?” tanyanya. Mata abu-abu Arci yang menandakan ia bukan keturunan pribumi menatap tajam kepada kedua anggota keluarganya.

“Debt Colector, biasa,” jawab Lian.

“Ibu, kakak, sudah berapa kali Arci bilang, jangan sembarangang ngutang! Apalagi kepada renternir!” kata Arci.

“Heh, kalau kita nggak ngutang bagaimana kita bisa biayain sekolah kamu?”

“Ya sudah, aku nggak usah sekolah saja!” kata Arci.

“Mana bisa begitu? Justru kamu adalah harapan kami Arci, kamu harus sekolah. Kakak sama ibu rela begini biar kalian bisa hidup, biar kamu dan adikmu bisa menyambung hidup,” kata Safira.

“Emangnya berapa hutangnya?” tanya Arci ingin tahu.

“Ada seratus dua pulu juta,” jawab sang Ibu.

“Sera…apa?? Kenapa kalian baru bilang? Kenapa?”

“Kamu masih kecil Ci, kenapa harus ikut urusan orang dewasa?” kata Lian.

“Ibu, ini serius! Dari mana kita bisa dapat uang sebanyak itu? Lagipula kenapa kalian bisa berhutang sebanyak itu?” tanya Arci.

“Lha? Mobil? Rumah ini, semua dari mana?”

“Astaga, tak kusangka. Aku sebenarnya mau punya keluarga yang punya pekerjaan seperti ini. Aku malu!” kata Arci.

“Hadapi saja dek, ini kenyataannya,” kata Safira.

“Nggak, nggak mungkin! Bagaimana kita bisa dapetin uang segedhe itu??!”

Semuanya hening. Arci melemparkan topi SMP-nya. Ia serasa ikut berpikir dengan keadaan keluarganya yang begini kacau. Ia padahal sudah berusaha keras mati-matian belajar di sekolah, tapi ia makin pusing melihat kelakuan ibu dan kakaknya seperti ini.

“Dek, kamu mau nolong kita nggak?” tanya Safira.

“Apaan?”

“Tapi kamu harus setuju cara kita.”

“Caranya?”

“Ada tante-tante yang kepengen brondong. Siapa tahu kita nanti bakal dibayar mahal.”

“Brengsek! Apaan itu?”

“Ayolah dek, ini cara yang paling wajar buat kita.”

“Wajar buat kakak, nggak buat aku.”

“Safira, itu cara yang konyol!” bentak Lian.

“Nggak, aku nggak bakal mau melakukan itu. Gila apa!?” kata Arci.

“Tapi ini demi kita dek, demi kita! Bagaimana kita bisa membayar hutang-hutang itu? Kamu tahu debt collector itu bisa mematahkan kaki dan tangan kita gara-gara tak membayar uang! Itu anak buah Darsono. Kamu tahu bukan siapa itu Darsono?”

Darsono adalah salah seorang pejabat. Dia memang suka bekerja menjadi renternir, pemalak, penjudi, mucikari dan banyak pekerjaan gelap lainnya. Ia bahkan menjadi bosnya mafia. Arci tak menyangka keluarga mereka terlibat dengan orang dari dunia hitam itu. Arci lalu menangis.

“Kenapa? Kenapa hidup kita harus seperti ini?” Arci menutup wajahnya.

Melihat adiknya menangis Safira segera merangkulnya. “HUsshhh…sshhh… udah dek, maaf. Maafin kakak. Kalau adek nggak mau kakak nggak bakal memaksa.”

Lian yang melihat kedua anaknya itu jadi trenyuh. Walaupun ia tak tahu siapa bapak dari ketiga anaknya ini. Tapi didikannya untuk saling mengasihi tampaknya berhasil. Terbukti dari keadaan kedua anaknya ini.

TOK! TOK! TOK!

Lamunan masa lalu Arci langsung buyar ketika pintu kamar diketuk oleh seseorang.

“Ada apa?” tanya Arci dari dalam.

“Kamu mau titip sesuatu nggak? Kakak mau beli nasi goreng,” kata Safira.

“Nggak, nggak usah, nggak laper,” jawab Arci.

Setelah itu tak ada suara lagi.

Kembali lagi Arci melamun, pikirannya menerawang kembali ke masa di mana dia pertama kali berciuman dengan Safira, kakanya sendiri. Hari itu ia diajari oleh kakaknya bercinta.

“Iya, bagus. Begitu caranya, ibu sebaiknya tinggalkan kalian. Safira, ajari adikmu dengan baik agar klien nggak kecewa,” kata Lian.

Tapi hal itu tak dibalas oleh mereka berdua. Arci telah bergumul dengan Safira. Lidah mereka saling memagut, saling melumat, menyisakan kecupan panas dan lelehan air liur. Sebenarnya, Arci tak bernafsu, tapi mengingat mereka berdua baru saja nonton film porno, hal itu membuat keduanya horni. Ini adalah latihan Arci, ya, latihan pertamanya untuk menjadi gigolo di usia yang masih belia.

Arci sudah tak ingat lagi bahwa wanita yang kini dipeluk dan diremas payudaranya ini adalah kakaknya sendiri. Dia juga heran kenapa dia bisa sampai nafsu kepada kakaknya sendiri. Mungkin juga karena dorongan birahi tadi, mungkin juga yang lain. Arci dan Safira berguling-guling di atas kasur. Lalu Safira mendorong tubuh Arci.

“Dek, kamu di atas yah. Ayo entotin kakak!” katanya.

Arci hanya menurut saja, ia sudah terlalu konak. Terlebih lagi penisnya sudah mengacung menandakan siap untuk dimasukkan ke dalam sarangnya. Kemudian penis yang sudah tegang itu pun masuk.

“Aaahkk! Gile, kamu baru SMP kontol udah segedhe ini, gimana ntar kalau SMA?” tanya Safira yang menahan gesekan penis Arci.

“Emang bisa lebih lagi dari ini?” tanya Arci.

“Iyalah, kamu itu anaknya bule. Punya kontol ukuran luar biadab kamu nanti. Kalau gitu, ntar kalau kakak lagi sange kamu puasin yah?”

“Cieh, maunya. Ogah. Ini aja aku ngelakuin ini karena kepengen kakak ajarin buat ngelayanin tante-tante besok. Tapi buat lebih dari itu aku nggak mau. Ini pertama dan terakhir,” kata Arci.

“Yee…gitu aja sewot.”

“Dilanjut nggak nih?”

“Iya lanjutin..aahhkk..goyang Ci, yang cepet boleh, pelan boleh terserah kamu!” kata Safira.

Akhirnya Arci pun menggenjot tubuh kakaknya yang putih mulus itu. Kasur pun mulai berguncang tak kala hentakan demi hentakan pinggul Arci membuat kulit kemaluannya menggesek liang senggama sang kakak.

“Aaahhrrgghh…Anjing. Kak enak banget. Duh, udah gatel mau keluarr…aaahhkk!”

“Hihihi, dasar perjaka. Ayo semprotin kakak!” kata Safira.

CROOTT! CROOOTTT! CROOOTT!

Keluarlah sperma Arci ke dalam memek Safira. Rahim Safira yang terkena siraman air mani hangat itu membuat sensasi sendiri bagi tubuhnya. Memeknya berkedut-kedut dan menjepit erat kemaluan Arci hingga pemuda tanggung ini merasa ngilu dan nikmat sekaligus.

“Aduh, enak kak!” kata Arci.

“Tapi kalau kamu ngelayanin orang segini cepet, ya bakal nggak dapat apa-apa, Ci. Kurang lama!” kata Safira.

“Trus?”

“Aku ajarin deh, sini cium kakak!” Mereka berdua berciuman lagi seperti sepasang kekasih. Saling memagut, saling melumat.

Arci mengusap wajahnya. Mengingat kembali memori bercintanya pertama kali itu membuat dia merasa bersalah. Ia tak menyangka saja keperjakaan miliknya malah diberikan kepada sang kakak untuk mengajari apa yang disebut orang ngentot. Kalau saja kehidupannya tak seperti ini, tentu ia masih perjaka sampai sekarang dan tidak bakal ngentot ama kakak atau bahkan ama ibunya sendiri kalau lagi ada kesempatan. Terkadang ketika sepi order dan ibu serta kakaknya sedang horni Arcilah yang jadi pelampiasan. Tapi ketahuilah, hanya satu kali Arci menjadi gigolo, dan satu kali itu dia dibayar dengan sangat mahal.

Namun itu adalah siluet masa lalunya. Ia ingin mengubur itu dalam-dalam. Satu kali cukup menjadi gigolo. Dan cukuplah ia hanya melayani ibu dan kakaknya di saat mereka butuh. Itu semata-mata karena ia sayang kepada keluarganya, tidak lebih dari itu. Walaupun ini adalah dosa, tapi biarlah dosa ini dia simpan tanpa boleh ada satupun yang tahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*