Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 5

I Love You Handsome 5

Dua tahun lalu….

“Ooohhh…ahh…ahh…ahh…,” jerit seorang perempuan yang sedang meliuk-liukkan pinggulnya di atas seorang lelaki.

“Ahhh…ahh…ahhh….ohh…fuck….enak banget,” kata lelaki di bawahnya

“Jes, enak banget jes…! Manukmu nyucuk jeru!”

“Ahhh….goyanganmu jiaaaannn uuweeenaaaaakk!”

“Uuggghhh…aduh Jes, pentilku ojok dijiwit! Aduuuuuhh….aahhh….aduhh…gatelll itilku gatel Jess! Aaarrgghhh…manukmu gedhi, manukmu gedhii….!”

“Aku seneng karo susumu, duh…koq empuk banget!”

“Uwissss Jess…aku ora kuat maneh… Aku metu…ngentoooottttttt! Ngenttooooottt! Aku dikenthu Jesie! Jessieeeeee ngentoooooottt!”

“Ayo Naa…aku metu Naaaaaaa….ohhh…Pejuhku metu….ErnAAAAAA!”

BRAAKK!

Pintu kamar kos terbuka. Saat itu wajah Rahma memerah, ia masih terbalut baju Toga. Ia baru saja diwisuda, sengaja ia langsung pergi ke tempat kos pacarnya Jesie. Jesie yang saat itu berada di puncak orgasme benar-benar menembakkan pejuhnya ke liang senggama Erna, seorang wanita SPG yang baru saja ia kenal di Matos. Secara fisik Erna memang menarik, menggoda, rambutnya sedikit berombak, berwarna hitam dan merah ujungnya. Kedua wajah mereka melongo ketika di pintu tampak Rahma dan….seorang lelaki berkumis tebal dengan beberapa orang penghuni kos melihat mereka.

OK, ini saat yang sangat buruk bagi Jesie dan Erna. Ngentot di siang bolong, lupa ngunci pintu, digerebek oleh Pak RT. Dan itu sangat buruk karena mereka berdua sama-sama orgasme. Terlebih Jesie yang mendapati Rahma, pacarnya selama ini memergoki dia sedang indehoy. Setelah itu, nggak perlu diceritakan lagi. Jesie dan Erna langsung disidang.

“Woooooo…dasar mesum!” seru seseorang saat Jesie dan Erna berada di Balai RW.

Kedua tersangka kini tentu saja sudah pakai baju. Dan seseorang dari penggerebek, sengaja mengabadikan persenggamaan tadi. Ternyata mereka sudah mengintip dari sejak pertama kali Jesie mengajak Erna ke kamarnya. Dan akhirnya diabadikanlah persenggamaan mereka di sebuah lubang kamar kos, mungkin karena sudah terlalu nafsu Jesie dan Erna tidak waspada. Padahal di depan pintu kos sudah banyak orang yang siap menggerebek di saat mereka sedang berada di puncak. Dan penggerebekan berhasil.

“Jadi enaknya gimana? Telpon orang tua kalian untuk ke sini. Hari ini kita bakal menikahkan kalian!” kata Pak RT.

“Wah, pak jangan pak! Ampuun, saya bisa bayar deh asal jangan dibawa kedua orang tua kami,” kata Jesie.

“Kenapa? Kalian kan udah enak tadi indehoy di kamar,” kata Rahma.

“Rahma, maafkan aku Ma, maaaf,” kata Jesie.

“Maaf? Dasar hidung belang, brengsek!” umpat Rahma.

“Tapi aku begini juga karena kamu, Ma.”

“Koq karena aku?”

“Soalnya kamu nggak pernah mau aku ajak begituan!”

Seketika itu semua orang yang ada di balai RW tertawa semua.

“Woo dasar wong edan, emangnya memekku gratis buatmu ketika kamu jadi pacarku, sontoloyo!” ujar Rahma ketus. “Udah deh, pak RT. Sidang aja, nikahin saja dia di sini, kalau nggak mau kirim aja ke kantor polisi.”

“Waduh, Rahma koq kamu tegaa?”

“Iya, kita emang berniat begitu.” Pak RT makin berang dengan kelakuan Jesie.

Sementara itu Erna dari tadi menangis karena malu. Ia sebenarnya perempuan baik-baik. Entah bagaimana ia bisa dirayu oleh Jesie hingga akhirnya bisa menghabiskan waktu untuk melakukan icikiwir di kamar kosnya. Memang untuk ukuran cowok Jesie cowok yang cukup tampan, terlebih dengan Toyota Altis miliknya bisa membuat cewek bakal langsung naik saja tanpa pikir panjang. Apalagi sejak di dalam mobil Jesie memberikan jurus rayuan mautnya. Bagi cewek seperti Erna, dia tak perlu pikir panjang. Toh dengan pemuda tajir seperti Jesie, dia bisa punya harta yang bisa memuaskan Erna, tak hanya sekedar seks.

Itulah pengalaman buruk yang tak terlupakan bagi Rahma. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi dirinya, sekarang malah menjadi hari terburuk yang tak akan pernah dia lupakan.

Sejak saat itu Rahma menjaga jarak dengan siapapun. Ia hampir pasti tidak pernah lagi berniat pacaran atau dekat dengan cowok. Baginya dikhianati dengan cara seperti itu sungguh sakit. Kabarnya Jesie sudah dinikahkan “paksa”. Kabar terakhir mereka bahkan sudah punya anak. Rahma hanya tertutup, bukan berarti ia tak mau membuka hatinya untuk lelaki lain.

Rahma sedang sendiri di kamarnya sambil membaca-baca novel karangan Danielle Steel. Beberapa hari ini dia sudah memasukkan lowongan ke berbagai perusahaan. Entah mana yang bakalan nyantol. Total dia sudah membuat sepuluh aplikasi dan semuanya sudah dia kirim. Di kamarnya tiap malam dia habiskan untuk membaca novel-novel tebal itu hingga mengantuk. Namun hari itu ada yang berbeda, kalau saja ia tak mengangkat dering telepon itu mungkin hidupnya tak akan berubah.

Rahma segera mengangkat ponsel dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo? Siapa ya?” tanya Rahma.

“Rahma ya?” tanya suara itu.

“Siapa ya?”

“Ini aku Singgih. Masih ingat?”

Ingatan Rahma mulai sedikit demi sedikit tertata. Ingatannya kembali kepada saat masa-masa kuliah. Singgih adalah seniornya di kampus dulu. Dan tentu saja Singgih sudah berkali-kali mendekatinya, hanya saja karena saat itu Rahma sudah punya pacar, maka ia pun menjauh dengan sikap jantan.

“Oh, kamu.”

“Yah? Ekspresinya mana? Masa’ hanya bisa bilang gitu? Histeris kek, menjerit kek, kaget kek.”

Rahma tersenyum, “Dasar, kamu nggak berubah ya.”

“Begitulah, sudah dari sononya.”

“Hahahaha. Ada apa?”

“Nggak apa-apa, cuma say hai aja. Wah, nomorku kamu hapus ya? Koq sampai tanya segala?”

“Bukan begitu, ponselku hilang. Jadi nomor-nomor kontak terhapus.”

“Oh, begitu.”

“Tumben nyapa, biasanya juga diem.”

“Hahaha, bukan begitu Ma. Terus terang aku selama ini mencoba menghindar.”

“Menghindar? Kenapa menghindar?”

“Kamu tahu sendiri kenapa?”

Rahma dadanya serasa sesak ketika mengingat kembali bagaimana dulu perjuangan Singgih mendekatinya, tapi apa daya dia sudah punya Jesie waktu itu. “Hmm…”

“Aku sudah dengar semuanya tentang Jesie. Aku turut sedih.”

“Nggak usah kamu kasihani aku, emang seharusnya aku nggak bersama ama dia. Jangan sebut-sebut lagi nama si brengsek itu.”

“OK, OK. Btw, besok kosong nggak?”

“Ada apa?”

“Yah, kalau kosong kita jalan yuk?!”

“Hmm? Ini rencananya menggunakan kesempatan dalam kesempitan?”

“Hahaha, yahh…kamu tahu sendirilah. Aku juga namanya usaha. Apa tak boleh aku usaha?”

Rahma tersenyum. “Emang kamu nggak punya pacar?”

“Nggak, pacarku nanti cuma satu wanita. Cuma kamu aja. Dan kalau toh nggak bisa bersama dengan kamu aku akan membujang.”

“Huuu…gombal.”

“Namanya juga usaha. Jadi gimana?”

“Kamu mau ajak aku ke mana?”

“Ke Alun-alun Batu yuk!? Trus habis itu ke Museum Angkut”

“Ngapain ke sana? Itu tempat kencan yang nggak cocok. Rame banget.”

“Oh, enaknya tempat kencan itu seperti apa?”

“Terserah deh.”

“Lha?? Dasar cewek. Katanya ke sana nggak mau, trus bilangnya terserah.”

“Hehehehe, terserah tapi jangan ke sana.”

“Ke Selecta?”

“Ngapain ke sana?”

“Yah? Katanya kencan?”

“Emang siapa yang bilang kencan?”

“Kamu.”

“Iyo a? Moso’ seh?”

“Yo opo seh rek?”

“Hehehehe, ya udah ke alun-alun Batu ajah. Jemput yah?”

“Beneran?”

“Iya, beneran.”

“Siippp!”

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Rahma dijemput oleh Singgih jam tujuh malam. Ini bukan malam minggu. Hari Sabtu saja masih tiga hari lagi. Singgih bukan dari keluarga kaya. Dia orang biasa hanya saja nasibnya mujur, itu saja. Setelah lulus, dia diterima bekerja di sebuah perusahaan air mineral yang ada di kota Pandaan. Tapi di sana masih bekerja sebagai karyawan kontrak, belum tetap. Sebenarnya hari demi hari ia terus bertanya-tanya tentang kabar Rahma. Di dalam hidupnya hanya ada Rahma dan Rahma. Dia sudah cinta mati dengan Rahma semenjak kuliah. Tak sedikit usahanya untuk sekedar ngajak dia jalan, tapi sayang waktu itu Jesie sudah mengencani cewek itu duluan. Dia kalah cepat.

Rahma tinggal bersama orang tuanya. Orang tuanya Rahma cukup baik selama ini, selalu mendukung putrinya. Sebagai putri pertama maka Rahma punya beban. Ya, tentu saja. Dia harus bekerja untuk bisa membantu orang tuanya dalam merawat adik-adiknya. Dalam urusan asmara kedua orang tuanya selalu mewanti-wanti Rahma untuk memilih lelaki yang baik, serta ketika berpacaran tidak kelewat batas. Mungkin atas nasehat kedua orang tuanya inilah Rahma benar-benar tidak pernah menerima ajakan Jesie untuk bercinta. Boleh dibilang pengalaman Rahma dalam bercinta masih nol. Meskipun ia pernah berciuman, tapi itu hanya sekedar tempel bibir, belum sampai ke french kiss.

Singgih pun datang dengan motor kesayangannya. Jangan dikira itu motor berkelas. Cuma motor bebek bermerk Honda Astrea tahun 98. Lama memang, tapi boleh dibilang cukup tangguh menemani Singgih selama ini. Rahma bukan cewek matre, dia juga sudah kenal Singgih lama.

“Oh, masih ada aja ini motor,” kata Rahma yang sudah menunggunya di teras.

Singgih turun dari motor dan menghampirinya. “Iya dong, sekalipun tuwir, tapi motor ini sangat berjasa. Tanpa dia aku bisa keteteran kuliah ama kerja.”

“Ya ya ya, terserah deh,” kata Rahma.

“Jadi jalan nggak?” tanya Singgih.

“Terserah.”

“Yuk?!”

“Buukk…paaaakk!? Rahma pergi!”

“Ojok bengi-bengi!” sahut ibunya Rahma dari dalam rumah.

“Mboten buk!” sahut Rahma. “Yuk!?”

Singgih tak mau berlama-lama, segera ia membonceng Rahma setelah menyerahkan helm kepada cewek yang baru saja patah hati ini. Menggeber motor di atas aspal menuju Alun-alun Batu merupakan perjalanan yang cukup jauh, mengingat rumah Rahma ada di daerah Purwantoro. Yang mana masih ada di kota Malang. Untuk menuju Batu, maka mereka harus melewati jalan protokol, kampus-kampus seperti Kampus STMIK ASIA, STIMATA, Unbraw, Poltek UB, UNMUH dan lain-lain. Malang merupakan salah satu kota dengan perguruan tinggi terbanyak, maka dari itulah terkadang kota ini juga disebut sebagai kota pelajar. Dahulu Batu masih merupakan satu kawasan dengan Malang, namun semenjak adanya otonomi Daerah, maka Malang dan Batu berpisah. Batu akhirnya mengurus sendiri rumah tangganya. Bahkan yang katanya buah Apel Malang pun sebagian orang sudah menjulukinya Apel Batu. Namun sekalipun sudah berpisah, Batu tak bisa lepas dari Malang dalam masalah kultur. Mereka masih satu daerah yang mana punya kebiasaan yang sama, bahasa yang sama dan perilaku yang sama.

Setelah mereka melewati jalanan yang cukup panjang mendaki dan melelahkan di antara mobil-mobil roda empat akhirnya Honda Astrea itu sampai juga di alun-alun Batu. Tempat ini cukup menarik sekarang, setelah adanya renovasi di sana-sini oleh pemerintah kota Batu saat itu. Ada taman bermain, patung-patung dari lampion dan tak lupa sebuah bianglala ada di tengah alun-alun ini.

Selama perjalanan Rahma dan Singgih berbicara tentang banyak hal. Bahkan boleh dibilang malam ini adalah malam pelipur lara bagi Rahma. Setelah Jesie pergi, Singgih datang menawarkan cinta untuknya. Dan sepertinya Rahma pun berusaha untuk bisa menerima cinta Singgih. Mereka pun naik bianglala malam itu setelah jalan-jalan dan makan di sebuah warung bakso yang terkenal karena pentol raksasanya di dekat alun-alun ini.

“Jadi, bagaimana jalan-jalannya?” tanya Singgih.

“Yah, boleh juga. Makasih,” jawab Rahma.

“Ma, kitakan sekarang ada di atas. Kalau misalnya aku nembak kamu di atas sini, kira-kira kamu terima nggak?”

Rahma sudah tahu sebenarnya Singgih akan nembak dia ketika naik bianglala. Rahma hanya tersenyum.

“Ayolah, jangan tersenyum aja. Bilang iya kek atau OK gitu,” kata Singgih.

“Hahahaha, kamu ini. Nggak pernah menyerah ternyata.”

“Yo opo seh, ono arek kodew ayu koq dianggurne?” Singgih nyengir.

Rahma menjulurkan lidahnya.

“Trus?” tanya Singgih lagi.

“Opone?”

“Laaahh?? Piye? Gelem ora dadi pacarku?”

“Mbuhkah”

“Lho?? Koq mbuh??”

Rahma tersenyum.

“Sorry kalau misalnya aku terlalu cepat, aku tahu kamu mungkin perasaannya campur aduk. Aku bukan bermaksud mengambil kesempatan, tapi kalau aku tidak mengambilnya sekarang kapan lagi?”

Rahma tertawa kecil, “Baiklah”

Betapa bahagianya Singgih waktu itu. Berciuman di atas bianglala, melihat seluruh kota Batu dari atas. Well, tak ada yang lebih romantis dari itu semua.

Hari-hari berikutnya Rahma benar-benar menemukan tambatan hati baru. Hubungannya dengan Singgih makin dekat dan kian mesra. Rahma mengerti bahwa Singgih sangat mencintainya. Singgih bukan seorang playboy. Mungkin memang ketulusan cinta Singgih yang membuat Rahma pun membalas cintanya dengan nilai yang sama. Singgih bukan orang yang menuntut, tapi dia lebih banyak menuntun. Rahma lebih melihat sosok Singgih sebagai lelaki dambaan, lelaki yang tidak ingin menang sendiri. Bahkan tak seperti Jesie, Singgih benar-benar tak menyentuhnya kecuali diijinkan oleh Rahma.

Ada kalanya perjumpaan, ada kalanya perpisahan. Sebagaimana kehidupan ini, tak ada yang abadi. Bukan, Rahma tidak berarti sudah tidak mencintai Singgih lagi. Juga Singgih, bukan berarti sudah tidak mencintai Rahma lagi. Hanya saja waktu yang memutuskan.

“Aku ingin bilang sesuatu kepadamu,” kata Singgih ketika mereka sedang berada di teras rumah Rahma.

“Apaan?”

“Aku akan keluar negeri. Aku dapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di sana.”

“Oh…trus?”

“Aku galau.”

“Galau kenapa?”

“Itu artinya aku akan jauh darimu. Aku juga tak mungkin melepaskan kesempatan ini. Lagipula ini satu-satunya kesempatan karena aku dapat beasiswa. Ini juga adalah impian orang tuaku. Aku ingin bisa membahagiakan mereka.”

Tatapan Rahma kosong. Berpisah dari Singgih? Itu hal yang mustahil.

“Kalau misalnya engkau tak mengijinkanku pergi tak apa. Aku mengerti. Seorang wanita yang jauh dari lelaki yang dicintainya pasti akan sangat sedih. Tapi kita bisa telponan, kita masih bisa chattingan. Aku akan kirim email kepadamu, aku akan selalu menelponmu.”

Rahma mengangguk tanpa ekspresi.

“Ketika besok kalau aku sudah kembali aku tak ingin jauh lagi darimu. Kamu bisa menungguku?”

Rahma memejamkan mata. “Aku tak tahu.”

“Rahma..?”

“Kamu mau pergi ke mana?”

“Ke Inggris”

“Jauhnya.”

“Ya, jauh.”

“Kamu tak perlu minta ijin aku. Aku akan melepaskanmu kalau kamu memang ingin.”

“Rahma…?”

“Hiatusin saja hubungan kita.”

“Hiatus?”

“Iya, ketika aku jauh darimu aku tak tahu apa yang terjadi denganku. Engkau juga. Aku tak tahu apa yang terjadi disana. Siapa tahu engkau akan tertarik kepada cewek yang lebih cantik dariku. Kudengar nonik-nonik London cantik-cantik.”

“Rahma, aku tak akan melupakanmu. Aku akan ingat terus.”

“Aku tak bisa melakukan LDR, kamu tahu itu. Aku jauh darimu rasanya sedih. Aku ingin kamu selalu ada disampingku.”

“Aku juga Ma, aku juga.”

“Kita hiatus.”

“Hiatus?”

“Iya, itu satu-satunya jalan. Aku tak tahu nanti ketika engkau jauh dariku bisa jadi ada yang mendekatiku. Kamu juga, aku tak ingin kecewa lagi.”

Singgih tahu. Ia tak akan tahu masa depan nanti seperti apa. Apakah Hiatus adalah salah satu caranya? Mereka juga tak yakin. Dan Rahma tak pernah melakukan LDR. Singgih mengusap pipi Rahma kemudian dia mencium kekasihnya ini. Ciuman untuk mengungkapkan perasaan mereka saat ini.

“Jangan pergi….!” bisik Rahma.

“Kita jalani saja.” Singgih mengusap rambut Rahma.

“Jangan pergi…”

“Aku akan kembali”

“Please…!”

Singgih kemudian berbalik. Meninggalkan Rahma sendirian di teras itu. Rahma memejamkan matanya. Air matanya mengalir. Bukan seperti ini yang ia harapkan. Tapi ia juga tak bisa egois memaksa Singgih untuk tetap tinggal. Jadi… bagaimana ia akan menjaga cintanya sampai Singgih pulang. Bagaimana?

Beberapa bulan kemudian Rahma pun diterima kerja di PT Evolus Produtama menjadi sekretaris Andini. Awalnya hanya dua bulan mereka intens berhubungan lewat telepon, email dan chatting. Namun setelah itu Singgih seperti menghilang. Tak ada kabar, tak pernah telepon, hampir seluruh kontaknya tak bisa dihubungi. Selama berbulan-bulan Rahma galau tak menentu. Kemana Singgih? Kenapa ia tak pernah menghubunginya? Ada apa sebenarnya? Rahma juga tak mungkin menyusul Singgih ke London.

Rahma tahu Singgih bukan orang yang mudah meninggalkannya. Namun ini sangat aneh. Apakah kekhawatirannya selama ini terbukti bahwa Singgih sudah tergoda dengan nonik-nonik Inggris? Kalau toh benar, maka ia sangat bersedih. Hatinya rindu, galau tak menentu. Akhirnya untuk melupakan kegalauannya ia pun lebih konsen bekerja. Hidup itu sangat singkat, kalau harus memikirkan Singgih selalu maka tak mungkin. Akhirnya Rahma hanya bisa pasrah terhadap mau dibawa kemana hubungan dia dan Singgih.

Tapi sekarang ada seorang lelaki yang mengetuk hatinya. Seorang lelaki yang selalu ia lihat punggungya tiap hari. Seorang lelaki yang membuat ia harus bersusah payah menyelidiki siapa sebenarnya dirinya. Hingga ada getar-getar rasa setelah lama ia tak merasakan getaran rasa itu. Getar-getar yang ia rasakan ketika ia bersama dengan Singgih. Apakah ia goyah? Apakah keyakinannya sekarang goyah?

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Aku harus pulang!” kata seorang lelaki.

“Kau yakin dia akan menerimamu dengan kondisi seperti ini?” tanya seorang wanita.

Sang lelaki pun diam. Ia menangis. Tubuhnya gemetar, terlihat tangan yang buntung berusaha menggapai wajahnya. Sang wanita pun kemudian mengusap air mata sang lelaki dengan tissue yang ada di tangannya. Wajah sang wanita juga tampak menunjukkan raut muka sedih. Melihat lelaki di hadapannya tak punya lengan dan kaki semakin membuat hatinya tersayat. Lelaki ini hampir setiap hari bersedih. Bersedih karena ia tak bisa apa-apa sekarang. Sebuah foto tampak berada di pigura yang ada di meja dekat tempat tidurnya. Foto itu adalah sebuah foto yang tak asing lagi. Seorang wanita dengan senyumannya yang manis menghiasi pigura itu.

Itu adalah foto Rahma.

Arci memakai seragam sekolahnya yang basah terkena hujan. Saat itulah dia melihat seorang cewek gemuk berkacamata duduk di halte. Hujan-hujan ternyata menjadi salah satu kebiasaan dari Arci akhir-akhir ini. Arci tentu kenal dengan cewek itu.

“Kamu kan???” Arci berhenti di depannya sambil menunjuk cewek gemuk berkaca mata.

“Hah? Aku??” tanyanya.

“Iya, kamu. Kamu Iskha bukan?” tanya Arci.

“Lho?? Koq tahu namaku?”

“Ya ampun, lupa ama aku?”

Cewek gemuk itu menggeleng.

“Ini aku Arci. Kita pernah ketemu di hotel waktu itu, sama mamamu!”

“Hotel?? Sama mama? Emangnya tahu siapa mamaku?”

“Mamamu Bu Susiati kan?”

“Iya. Emangnya aku dan mamamu kenapa?”

“Duh, masa’ nggak ingat sih. Ya udahlah. Mau aku anter?”

“Hujan begini?”

“Dianter calon suami nggak mau?”

“Heh? Sejak kapan kamu jadi calon suamiku?”

“Sejak di hotel itu.”

“Sembarangan.”

“Aku sudah janji sama kalian dan aku tak akan mengingkari janjiku. Ayo aku anter, daripada membusuk di sini!?”

Iskha ragu-ragu. Akhirnya dia berdiri juga. Hujan masih belum reda, tapi mau tak mau akhirnya mereka berdua pun berboncengan. Sedikit beban buat sepeda motor Arci tipe Honda Supra-X ini menahan beban beratnya. Tapi itu tak jadi masalah. Arci tak ada niat buruk sama sekali. Mereka pun melaju di atas aspal yang basah.

**** I LOVE YOU HANDSOME ****

“Iskha, Iskha! Kamu harus kuat! Kamu harus kuat!” teriak Andini sambil mendampingi Iskha yang didorong di atas ranjang dorong. Tapi ketika masuk ke ruang ER Andini pun ditahan oleh para perawat. Ia tak menyangka bisa melihat tubuh Iskha bersimbah darah seperti itu. Ada luka robek di kepala, tangannya pun patah.

Tak berapa lama kemudian dari arah lain muncul juga pasien lain yang didorong oleh tiga orang perawat. Saat itulah ia terkejut melihat wajahnya. Dia kenal orang itu. “Arci?? Dia yang bersama adik saya?” Andini bertanya kepada salah seorang perawat.

“Iya, mereka boncengan. Menurut saksi mata karena jalan licin akhirnya sepeda motornya selip. Mungkin karena mereka ngebut. Setelah itu yang cowok menghantam pembatas jalan. Yang cewek terseret beberapa meter hingga hampir ditabrak mobil box,” ujar sang perawat.

Andini terperangah. Bagaimana bisa Iskha ketemu dengan Arci? Bagaimana mereka berdua bisa bertemu? Ya, sejatinya walaupun bukan saudara kembar, tapi wajah Andini dan Iskha mirip. Iskha adalah adik satu-satunya. Dan sekarang ia pun bingung bagaimana bisa dua orang yang ada arti dalam hidupnya ada di rumah sakit yang sama?

Andini menunggu dan menunggu. Sementara para dokter dan asisten dokter sudah masuk ke ruang operasi dari tadi. Andini berharap cemas, menunggu dalam kegamangan, cemas. Hingga kemudian lampu kamar operasi telah mati. Andini berdebar-debar, sampai sang dokter dengan pakaian dokternya serta sarung tangan bersimbah darah keluar. Sang dokter menggeleng sambil menundukkan wajahnya.

“Tidak, tidak, tidak mungkin! Adek! Adek! Adekku! Iskhaaa!” jerit Andini. Terlebih ketika ia masuk ke ruang operasi untuk melihat adiknya untuk yang terakhir kali.

Tak berapa lama kemudian dari arah lain muncul ayah dan ibunya. Mereka pun shock. Anaknya Iskha telah tiada karena sebuah kecelakaan maut. Andini menangis sejadi-jadinya Bu Susiati berusaha menenangkan anaknya itu.

“Mama, ini salah kita ma. Salah kita,” kata Andini.

“Salah kita? Kenapa?” tanya Bu Susiati.

“Arci ada di sini. Dia tadi membonceng Adek,” kata Andini.

“Anak itu?? Bagaimana dia bisa bertemu dengan Iskha?”

“Siapa Arci?” tanya papa Andini.

“Ceritanya panjang pa, nanti akan mama jelaskan,” jawab Bu Susiati.

“Arci, bagaimana dengan dia?” Andini tiba-tiba segera beranjak meninggalkan Iskha. Dia langsung menuju ke ruang operasi sebelah yang ternyata sudah selesai. Ia langsung bertanya kepada perawat.

“Di mana orangnya sus?” tanya Andini.

“Oh, pasiennya ada di ruang observasi. Kami belum bisa menghubungi keluarganya,” katanya.

“Pindah dia ke VIP! Cepetan! Kami akan tanggung semua biayanya!” kata Andini tegas.

Setelah mengurusi segala administrasinya kemudian Arci yang sudah melakukan operasi itu dipindahkan ke kamar VIP. Ia mendapatkan cedera yang cukup parah ternyata. Kepalanya dibalut perban melingkar. Menurut dokter ia mendapatkan gegar otak ringan. Sebagian ingatannya mungkin akan kacau. Andini pun menemaninya setelah ia menguburkan Iskha. Di samping Arci ia terus berbisik.

“Kenapa kamu sampai bertemu dengan adikku? Kenapa kalian bisa bersama?” tanya Andini. “Apa yang kalian lakukan?”

Setelah seminggu kemudian Arci pun terbangun. Melihat dia diinfus dan seorang wanita ada di dekatnya Arci merasa ada yang aneh. Ia tak ingat apapun. Bahkan bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit ia pun bingung.

“Lho, aku di mana?” tanya Arci.

“Kamu sudah bangun? Kamu tahu siapa namamu?” tanya Andini.

“Ya….sepertinya begitu. Kenapa aku bisa ada di sini? Dan kamu….?? Iskha?”

Andini terkejut karena Arci mengenali dirinya sebagai Iskha.

“Oh, maaf. Aku ingat sekarang, aku mengantarkanmu pulang trus kita jatuh…..dan…ah iya, itulah mengapa aku ada di rumah sakit ini,” ujar Arci. “Syukurlah kamu tak apa-apa.”

Andini memang mirip Iskha. Akan tetapi hal itu membuat Andini sakit.

“Kenapa kamu ada waktu itu?” tanya Andini.

“Entahlah, udah jodoh mungkin. Hehehehe. Sorry yah, kamu yang biayain semua ini?” tanya Arci.

Andini mengangguk.

“Kamu dan ibumu memang baik. Aku makin berhutang kepada kalian,” kata Arci.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Kamu istirahat yang cukup saja,” kata Andini sambil mengusap wajah Arci. Andini sekuat mungkin menyembunyikan kematian adiknya kepada Arci dan membiarkan lelaki ini menganggap dirinya sebagai Iskha. Ini semua juga salah dia. Di hotel dulu dia mengaku sebagai Iskha, bukan sebagai Andini.

“Iskha, aku akan tetap memegang janjiku. Kamu tak perlu khawatir. Aku akan kembalikan uang kalian. Aku akan kembalikan,” ujar Arci.

“Sudahlah tak usah dipikirkan. Kamu tak kembalikan juga tak apa-apa koq.”

“Tapi aku sudah janji. Aku tak mau berpantang dari janjiku.”

“Apa kamu mau menikah dengan wanita seperti aku ini? Aku jelek. Aku gendut.”

“Tapi hatimu baik. Aku tak keberatan.”

“Kamu anaknya ganteng, pasti akan banyak yang suka ama kamu di luar sana nanti. Aku jelek, nggak pantas ama kamu.”

“Jangan berkata seperti itu. Siapa wanita yang mau menolong seorang anak yang sedang membutuhkan bantuan? Engkau. Dan aku tidak akan berpaling dari janjiku. Tunggulah aku sampai usia 25 tahun.”

“Itu tak perlu.”

“Bagiku itu perlu.”

“Kamu memangnya mau dengan aku yang seperti ini?”

“Iya, aku tak keberatan.”

“Apa kata orang kalau kamu nanti beristri wanita seperti aku?”

“Aku tak peduli kata orang. Asal kamu mau bersabar dengan keadaanku, aku tak keberatan.”

Andini tak mampu lagi membendung tangisnya. Ia ingin mengatakan bahwa dia bukan Iskha. Tapi ia tak sanggup.

“Arci!?” tampak ibu dan kakaknya Arci datang. Andini menoleh ke arah mereka. Tentu saja Lian dan Safira terkejut. Tapi Andini memberi isyarat dengan mengangguk.

“Aku tinggal dulu. Kamu istirahat saja,” kata Andini.

Seribu pertanyaan terlintas di benak Lian dan Safira. Mereka tahu bahwa wanita yang berada di satu ruangan dengan Arci ini adalah yang menyewa jasa gigolo Arci beberapa waktu yang lalu. Andini tangisnya makin menjadi.

“Maafkan aku Iskha, dia menganggap diriku sebagai dirimu. Aku tak menyangka ada seorang laki-laki seperti ini. Apakah aku pantas untuknya? Apakah aku pantas untuk orang sebaik dia? Dia dari keluarga orang-orang yang baik. Tapi…kenapa adek ikut dia, tidak. Dia tidak tahu kalau adek udah pergi. Dia tak boleh tahu. Belum saatnya, aku akan datang kepadanya suatu saat kelak. Aku akan datang, tapi dengan wajah berbeda. Aku ingin dia benar-benar menyukaiku. Bukan karena terpaksa, aku ingin dia benar-benar menyukaiku…..Apakah permintaanku terlalu muluk Yaa Tuhan??”

Andini menangis lagi. Ia sudah berada di luar rumah sakit. Hujan pun turun lagi membasahi bumi. Menyapu segala kesedihan kepada orang-orang yang sedang berduka. Andini melihat langit yang mendung. Wajahnya tersiram air hujan. Dia bertekad harus jadi orang yang berbeda. Orang yang berbeda. Ia tak mau Arci melihat dirinya sebagai Iskha. Dia adalah Andini. Andini Maharani.

“Dini?!” panggil seseorang sambil membawa payung.

“Papa?”

“Ngapain kamu hujan-hujanan?”

Andini langsung memeluk papanya. “Kenapa anak orang yang menyelamatkan hidup papa, sangat baik? Dan kenapa aku justru jahat kepadanya?”

“Sudahlah?! Kita harus melaksanakan wasiat Om Zenedin. Sampai dia nanti siap untuk menjadi pemimpin perusahaan,” kata papanya Andini.

“Ada satu lagi pa. Andini mulai suka ama dia,” kata Andini.

“Hmm?? Serius?”

“Nggak tau.”

“Ya sudah, ayo kita pulang. Mamamu sudah menunggu di mobil.”

Andini pun akhirnya berjalan meninggalkan Rumah Sakit bersama papanya. Mereka menuju ke sebuah mobil SUV warna putih. Di dalamnya ada Bu Susiati yang sudah menunggu mereka. Papanya Andini sebelum masuk ke mobil menoleh dulu ke rumah sakit.

“Semoga kita bisa bertemu lagi, Arci,” gumamnya.

Andini terbangun di kamarnya. Mimpi buruk tentang masa lalunya kembali menghantui. Mimpi tentang Iskha, adik satu-satunya yang tewas karena kecelakaan. Sampai sekarang Arci tak mengetahui tentang hal tersebut. Andinilah yang menemuinya di hotel waktu itu dengan mengaku sebagai Iskha. Tapi ternyata Arci malah bertemu dengan Iskha yang asli. Mungkin memang sudah menjadi suratan takdir bahwa Iskha tewas dalam kecelakaan maut itu. Dan Arci juga kebetulan tak mencari tahu tentang kecelakaan yang menimpa dirinya.

Alarm di ponselnya berdering. Ia pun mengangkatnya dan melihat jadwal dia hari ini. Sebuah kalimat terukir di sana, “Presentasi Produk oleh Arcie”. Andini mengangkat alisnya.

“Oh iya, hari ini,” gumamnya.

Andini segera pergi ke kamar mandi. Dia sibukkan aktivitas pagi itu untuk membersihkan diri, dandan, kemudian memeriksa semua berkas-berkas yang harus ia bawa. Tak lupa ia membawa tablet dan laptopnya. Di meja makan sudah ada papa dan mamanya.

“Pa? Kapan pulang?” tanya Andini yang langsung mencium pipi papanya.

“Tadi malam. Papa sengaja nggak bangunin kamu,” jawab papanya.

Andini tersenyum.

“Bagaimana kabar Arci? Kira-kira ia sudah siap menerima siapa dirinya?” tanya papanya.

“Entahlah, hari ini penentuannya. Sebab sebentar lagi ia ulang tahun ke-25,” jawab Andini.

“Kamu sudah siap memberitahukan kepada dirinya siapa dirimu?” tanya papanya.

Andini menggeleng. “Nggak pa. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku ingin Arci bisa menyukaiku dengan siapa diriku sebenarnya. Bukan sebagai Iskha. Aku tak ingin ia mencintaiku karena balas budi.”

Bu Susiati tersenyum. “Ingat lho ya, dulu mama sudah kasih banyak calon pendamping tapi kamu tolak semua. Ini yang terakhir. Dan jangan kecewakan mama. Usiamu sudah nyentuh kepala tiga!”

“Ma, ketika kita dulu di hotel kenapa skenarionya jadi begini ya?”

Bu Susiati tertawa kecil. “Entahlah. Padahal kita dulu di hotel cuma kepengen ngasih kejutan ama anak itu. Toh uang itu tetap akan kita kasih dia minta atau tidak. Koq malah jadi skenario balas budi gini?”

“Tapi dari situlah aku bisa tahu siapa Arci.”

“Hei, sekarang fokus saja. Sebentar lagi PT Evolus akan berhadapan dengan PT Denim. Kamu yang menjadi kepala direksi akan bertarung bersama direksi lainnya. Sebentar lagi pimpinan perusahaannya akan diambil alih oleh pendatang baru yang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya. Tentunya para pimpinan direksi akan mencari cara untuk menjatuhkannya. Kamu sendirian di sini, papa sangat khawatir,” kata papanya.

Andini menghela nafas. “Aku tahu koq pa.”

“Kalau kamu butuh bantuan kakakmu, kamu bisa telpon sekarang,” sambung papanya.

“Nggak pa. Aku bisa sendiri koq.”

“Hei, Dini. Kamu jangan berlagak kuat. Ingat perusahaan ini kalau 50 persen sahamnya bukan milik kita kamu sudah pasti akan didepak dari jajaran direksi,” ujar Bu Susiati. “Ayah dari Pak Zenedin dulu membangun perusahaan ini dari memintal benang dengan alat sederhana, hingga sekarang sebesar ini. Kita tak boleh mengecewakannya. Apalagi, dia yang selama ini membantu papamu.”

“Iya ma, tapi… aku masih penasaran, kenapa keluarganya tak mau menerima Lian bahkan mengusirnya?”

“Kamu tahu sendiri apa profesi Lian. Sebenarnya waktu itu niat Pak Zenedin berniat akan mengawininya tapi ia diancam tidak akan mendapatkan sepeser pun dari perusahaan itu kalau menikahi Lian. Akhirnya ia pun mengalah. Akhirnya Pak Zenedin tak punya satu pun keturunan dari istrinya. Bahkan sampai istrinya meninggal. Sekarang satu-satunya keturunan dia adalah Arci. Ada alasan mengapa Pak Zenedin tak bisa dekat dengan anaknya selama ini karena keluarganya menyembunyikan keberadaan Arci dan membuat sengsara kehidupan Lian. Itulah mengapa Pak Zenedin mengutus papa untuk melindungi keluarga mereka.

“Setelah beliau menguasai PT Evolus dan keluarganya tak bisa berbuat apa-apa lagi kepada dirinya akhirnya dia pun membuat surat wasiat yang sekarang dipegang oleh mamamu. Hanya mamamu yang diberikan wasiat tersebut. Tak ada satu pun yang tahu hingga tanggal 31 Mei nanti. Saat itulah semuanya akan mengubah hidup Arci. Tapi itu juga tergantung kepada dirinya apakah dia akan sekuat itu untuk bisa memimpin perusahaan sebesar PT Evolus Produtama,” jelas papanya panjang lebar.

Andini menyantap roti isi dan meneguk segelas jus jeruk yang ada di meja makan. Andini berdiri. Ia siap berangkat. “Baiklah Dini berangkat dulu.”

“Hati-hati jangan ngebut!” kata Bu Susiati.

“Siap ma,” kata Andini.

Ia mencium pipi papa dan mamanya, lalu berangkat. Ia berhenti sebentar ke sebuah foto pigura kecil di pojok ruang tamu. Foto dua cewek berkacamata dengan pipi chuby yang sedang ceria. Itu adalah foto Andini dan Iskha yang tampak gembira sampai gigi mereka kelihatan. Itu sudah lama, beberapa tahun yang lalu sebelum Andini bertekad untuk melangsingkan tubuhnya, diet dengan berbagai cara, hingga ia seperti sekarang. Ia tak ingin seperti dulu, ia ingin menjadi dirinya sendiri. Dan ia sangat berharap Arci bisa menerima dirinya sekarang. Andini mengusap pigura itu.

“Do’ain aku ya dek,” kata Andini sebelum berangkat.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Presentasi Arci begitu menawan. Ia memberikan banyak solusi bagi permasalahan gudang yang ada, terutama tentang stock lama. Bahkan ketika dia memberikan solusi beberapa applause untuknya dari seluruh peserta rapat. Dalam waktu singkat dia sudah bisa menghabiskan seluruh stock dengan menjualnya ke komunitas penggemar produk PT Evolus Produtama. Membuat toko online dan juga membuat promo-promo terbaru.

Arci terlihat sangat menguasai materi bahkan ia sama sekali tak melihat papan presentasi. Ia bahkan sudah hafal apa saja yang ada di layar tersebut. Ia cukup bicara dan mengarahkan audience untuk konsentrasi terhadap kata-katanya. Para direksi yang ada di ruang rapat terkesima, bahkan beberapa kali mulut mereka menganga karena heran atau takjub lebih tepatnya. Andini cukup puas. Tak salah ia menempatkan Arci pada posisi Manajer Marketing sekarang.

“Bagaimana presentasinya tadi?” tanya Arci.

“Well, cukup memuaskan,” jawab Andini. “Kamu lihat sendiri tadi bagaimana applause para direksi melihat hasil kerjamu. Posisi itu emang cukup cocok buatmu.”

“Sejujurnya aku nggak terbiasa dengan cara seperti ini. Ini terlalu mengejutkan.”

“No excuse. Gimana kalau kita ngerayain ini?”

Arci menggeliatkan badannya. Agaknya di dalam ruang rapat tadi cukup membuatnya lelah. Dia melihat Rahma yang membawa berkas-berkas.

“Ajak Rahma juga nggak apa-apa kan?” tanya Arci.

Andini menoleh ke arah Rahma. Rahma yang mendengar namanya disebut kaget. Hampir saja berkas-berkas yang ia bawa jatuh.

“Iya, ajak semuanya,” jawab Andini. “Kamu tak apa-apakan, Rahma?”

“Eh…ngg…nnggak koq bu. Anu, maksud saya…saya ada acara. Jadi sepertinya saya nggak bisa ikut.”

“Acara apaan?” tanya Arci. “Udah deh, ayo ikut!”

“Ikut yuk!?”

Rahma agak kikuk. Tapi akhirnya ia mengangguk. Tidak enak juga kalau menolak ajakan Bu Andini, juga ajakan Arci. Paling tidak dia tidak sendirian. Ternyata beberapa orang juga ikut diajak. Mereka makan-makan di sebuah tempat yang sudah dipesan. Mejanya cukup besar hingga bisa untuk menampung sepuluh orang. Berbagai makanan pesanan dihidangkan sesuai dengan pesanan masing-masing. Arci duduk diapit oleh Andini dan Rahma.

Andini agaknya agak cemburu ketika Arci lebih banyak ngobrol kepada Rahma.

“Jadi, kamu anak tunggal?” tanya Arci.

“Iya, begitulah. Kamu sendiri punya saudara?” tanya Rahma.

“Ada kakak sama adik.”

“Orang tua?”

“Ibu ada, ayah udah meninggal.”

“Ooo… maaf”

“Ah, nggak apa-apa. Semua orang juga pasti tanya.”

“Btw, selamat yah. Atas promosinya. Jarang ada karyawan baru masuk beberapa hari sudah dapat promosi.”

“Mungkin aku cuma beruntung saja.”

“Kamu itu bukan beruntung, tapi berprestasi!” sela Andini.

Arci cuma nyengir dan Rahma ketawa.

“Kalau perusahaan ini punya sepuluh orang seperti kamu, aku rasa kita tak perlu karyawan lainnya,” gurau Andini. Kemudian yang lainnya ketawa.

“Wah, bisa ngambil jatah kita dong bu,” protes Yusuf.

Pesta yang menyenangkan. Hari itu Arci bisa membaur dengan semuanya. Setelah makan-makan mereka tutup dengan karaokean. So pasti tambah kacau tingkah polah teman-teman kantor Arci. Dia hanya melihat saja dengan diapit oleh dua orang perempuan, Andini dan Rahma. Sang Ibu Direksi ini hanya melihat tingkah polah anak buahnya saja sambil sesekali melirik ke arah Arci. Rahma malah menatap semuanya dengan tatapan kosong.

“Aku mau pulang dulu,” kata Andini beranjak dari tempat duduknya. “Kalian teruskan saja!”

Arci ikut berdiri. Rahma juga. Tapi Arci memberikan isyarat agar Rahma tetap duduk. Akhirnya ia pun duduk.

“Aku tak perlu diantar,” kata Andini.

“Cuma sampai tempat parkir nggak apa-apa kan?” tanya Arci.

“Terserah deh. Rahma, duluan!?” kata Andini.

“Iya bu,” sahut Rahma.

Arci akhirnya mengantarkan bosnya. Mereka menyusuri lorong hingga berbelok ke arah tempat parkir. Belum sampai membuka pintu Andini langsung memeluk dan mencium Arci. Sang pemuda ini tentu saja terkejut dengan perlakuan wanita ini. Tapi dia menerima ciuman sang bidadari. Setiap lembut bibirnya ia rasakan, terlebih Andini mengecupnya dengan kuat seakan-akan tak ingin melepaskan ciuman itu. Tapi hal itu ia rasakan cukup melelahkan, karena ia harus sedikit jinjit untuk menggapai wajah sang pemuda. Ia pun mengakhiri ciuman itu.

“Maaf, aku tak bisa menahan diri. Ini hadiah dariku, semoga kamu suka,” kata Andini.

Arci tak menjawabnya. Hanya sedikit shock dengan tingkah polah Andini. Tapi ia mengerti bagaimana perasaan Andini kepadanya. Hanya saja ia tak bisa memberikan jawaban.

“Dini, aku… aku tak tahu harus bilang apa.”

“Kamu tak perlu bilang apa-apa. Aku hanya melakukan apa yang aku harus lakukan.” Andini kemudian membalikkan badan meninggalkan Arci.

“Aku tidak menolakmu, hanya saja aku belum bisa. Aku harap kamu mengerti.”

“Aku sangat mengerti. Aku sangat mengerti!”

Arci hanya bisa menatap kepergian Andini yang masuk ke dalam mobilnya.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Rahma masih berada di dalam ruangan, sementara teman-temannya yang lain sedang asyik berkaraoke ria. Entah kenapa dia tiba-tiba saja ingin ke toilet.

“Gaes, aku ke toilet dulu,” kata Rahma. Dia segera beranjak.

Toilet tersebut sekalipun terpisah laki-laki dan perempuan. Tapi sebenarnya masih satu atap. Sehingga kalau ada pembicaraan yang terdengar di tempat cowok juga akan terdengar di tempat cewek. Rahma tanpa curiga masuk ke dalam toilet perempuan. Dia masuk ke WC dan buang hajat sebagaimana wanita pada umumnya. Saat itulah terdengar percakapan beberapa orang.

“Presentasinya anak baru itu cukup lumayan ya?”

“Iya, dia sangat berprestasi. Pantas saja dia langsung dapat promosi.”

“Tapi bukankah itu artinya posisi Andini masih selamat?”

“Untuk saat ini iya, tapi kedepannya, dia tak akan bisa berbuat apa-apa.”

“Bagaimana itu?”

“Sebentar lagi akan ada rapat di Vila Batu. Rapat rutin tahunan. Di sini nanti ia akan kita habisi. Kalau bisa dipecat, nggak cuma dihabisi saja. Selama dipimpin oleh dia perusahaan memang menguntungkan, tapi kalau dia selalu menimbun barang terus-menerus bagaimana bisa memangkas biaya produksi?”

“Setuju sekali. Memang harusnya ia dibungkus dari dulu.”

“Ah, aku dapat ide. Ini sedikit nakal.”

“Maksudnya?”

“Biarkan dia di sini.”

“Lho, itu tidak bisa. Dia harus disingkirkan. Biar direksi dipimpin oleh orang-orang baru.”

“Tidak, aku ada rencana. Kita buat dia mengemis untuk posisinya, tapi untuk itu dia harus menyerahkan tubuhnya. Hahahahaha, bagaimana?”

“Ahahaha, ide bagus itu. Gosipnya dia kan masih perawan. Udah lama nggak nyicip perawan!”

“Oke, minggu depan kita garap.”

“Trus?”

“Oh ya, tentang merger Evolus dan Denim kita akan kaji ulang. Sepertinya menarik kerja samanya.”

“Oke, hati-hati. Sampai nanti.”

Rahma menutup mulutnya sedari tadi. Ia sangat shock. Siapa mereka? Kenapa mereka berniat jahat kepada Andini?? Arci harus tahu. Arci harus diberi tahu. Rahma segera buru-buru membersihkan dirinya, lalu bergegas keluar dari toilet. Ia ingin tahu siapa orang yang berbicara tadi. Tapi sepertinya toilet cowok sudah sepi. Ia segera mencari Arci. Diambil ponselya dan menelpon Arci.

Tapi sama sekali tak ada jawaban. Ponsel Arci tak diangkat. Rahma pun kemudian mengirimkan SMS.

Quote Originally Posted by SMS Rahma Savithri

Ci, SMS aku yes. Puenting, guawat. Cepet!
“Duh, gimana ini. Gawat ini. Bisa kenapa-napa Bu Dini kalau begini,” gumam Rahma cemas.

Disaat Rahma sedang berusaha menghubungi Arci itulah, sebuah tangan dengan sapu tangan berkloroform membekap Rahma. Rahma yang tak siap ia tak bisa melawan. Ia menghirup cairan Kloroform itu, hingga ia pun pusing dan pingsan…..

(bersambung….)

KOSA KATA:

dadi = jadi
gelem = mau
kodew = cewek
ono = ada
dianggurne = dianggurin
piye = gimana
ojok = jangan
bengi = malam
mboten = tidak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*