Home » Cerita Seks Kakak Adik » I Love You Handsome 4

I Love You Handsome 4

Arci sampai di rumah malam itu dengan banyak pikiran. Selama perjalanan pulang ia teringat dengan berbagai hal dalam hidupnya yang sangat aneh. Seperti yang terjadi beberapa tahun setelah peristiwa ia menjual dirinya saat itu. Dia masuk ke bangku SMA. Bagi dirinya ada sebuah peristiwa yang tak pernah ia lupakan lagi, yaitu ketika sang kakak tidak pulang selama tiga hari. Kejadian ini terjadi beberapa waktu yang lalu.

Malam itu hujan, seperti biasa di bulan Desember saat menjelang akhir tahun, hujan turun lebih sering daripada hari-hari biasa. Arci di rumah setelah menjalani hari yang berat mengikuti UTS, sekarang saatnya ia bisa di rumah beristirahat. Sementara itu di ponselnya BBM dari teman-temannya bersahut-sahutan, satu pun tak dijawab. Hari ini rumah sepi, seperti biasa, ibunya “dinas”. Kakaknya entah sudah dua hari belum pulang. Kabar terakhir mengatakan ia ada klien besar. Setidaknya bakal bawa uang banyak, katanya.

Pintu tiba-tiba terbuka dan ibunya langsung membanting pintu. Arci segera keluar dari kamarnya.

“Kenapa? Ada apa?” tanyanya.

“Brengsek, ada klien yang brengsek hari ini. Apes,” jawab ibunya. Tak biasanya Lian datang dengan wajah seperti itu.

“Klien brengsek?”

“Iya brengsek. Aku ditipu. Katanya sudah transfer duitnya ke rekeningku, eh sudah diservis ternyata masih kosong rekeningnya, untung belum crot. Aku sempat lihat isi rekeningku belum nambah. Dia cuma ngasih SMS palsu, transfer ke rekening temennya. Brengsek. Sebel!”

“Oh, begitu.” Arci menghela nafas. Bermaksud kembali ke kamarnya.

“Ci, tunggu!”

“Apa?”

“Ih, anak ibu ini tega banget ninggalin ibu. Sini doonngg!” Kalau ibunya sedang manja seperti ini berarti hanya ada satu hal. Lian, sang ibu sedang sange berat. Dan Arci mau tak mau harus bisa memberikan sesuatu kepadanya biar sangenya hilang.

Secara fisik, Lian ini boleh dibilang MILF kelas berat. Berat karena buah dadanya berukuran 36D serasa bisa membuat mabuk semua laki-laki yang bersamanya. Bahkan sekali pun terpaksa Arci juga bisa merasakan bagaimana mempesonanya sang ibu untuknya. Lian bukan wanita yang hyper, tapi dia memang terkadang merasa dicukupkan dengan kehadiran anak laki-lakinya itu. Arci pun kemudian mendekat kepadanya.

“Ibu sedang kepengen?” bisik Arci.

“Adikmu ada?” tanya Lian.

“Iya, ada di kamarnya,” jawab Arci. “Sepertinya sudah tidur.”

“Yakin sudah tidur?”

“Sepertinya begitu.”

“Ke kamarmu aja ya?”

Arci mengangguk. Sang ibu yang sudah horni berat karena kentang akibat ulah kliennya tadi langsung saja mencium satunya anak laki-lakinya ini. Entah kenapa Arci punya sifat yang sangat berbeda dengan dia dan Safira. Sampai sekarang Lian menyimpan rapat-rapat tentang jati diri ayah Arci sebenarnya.

Kedua bibir ibu dan anak ini sudah bersentuhan. Arci menggeret Lian ke kamarnya, sambil berciuman tentu saja. Ketika sampai di kamar langsung pintu kamar di kunci dari dalam. Sang ibu yang sudah bernafsu sudah tak memikirkan lagi bahwa yang sedang ia pagut adalah anaknya sendiri. Hal ini sudah berlangsung lama. Dan selama ini ia cukup terpuaskan. Dia telah mengajarkan Arci bagaimana menaklukkan wanita.

Kaos Arci pun diangkatnya, lalu dilempar. Arci diam saja ketika Lian berlutut lalu menurunkan celananya. Penisnya masih tidur saat itu. Sebenarnya Arci tak terlalu bernafsu, tapi ia berusaha untuk bisa menghadirkan sendiri birahi itu ke dalam otaknya, sebab wanita yang ada di depannya ini butuh dipuaskan. Tapi sungguh ia sudah tak bisa lagi melakukan hal ini kepada ibunya sendiri. Ini sangat tabu, bagaimana mungkin dia bisa sebejat ini kepada ibunya. Akhirnya mau tak mau ia pun tak bisa melawan nafsu yang sudah berada diubun-ubun. Batasan antara ibu dan anak pun ia langgar. Ini semua karena ibunya, ya, karena ia merasa harus berbakti kepadanya. Mungkin ini cara berbakti yang salah, tapi apa yang bisa dilakukan oleh Arci?

“Ehmmm….mhhhmmm….ssluurrruppp!”

Lian sudah menggila, kepalanya maju mundur mengocok batang kemaluan yang sudah mengeras seperti wortel. Lidahnya berputar-putar menggelitik kepala jamur shitake, menelusuri sambil terus menerus menghisap, mengeluarkan ludah, dan menghisap. Sesekali dikocoknya batang itu hingga Arci bisa merasakan bahwa tangan lembut.

Arci membuka matanya, kini ia melihat ibunya tinggal memakai pakaian dalam saja. Ternyata selama diservis Lian telah melepaskan seluruh bajunya. Lian mulai liar. Kini Lidahnya menjilati pangkal si rudal berotot. Dua buah telur yang bisa lari-lari ketika disentuh itu kini dihisapnya. Sensasinya membuat lutut Arci gemetar hebat. Para lelaki manapun pasti akan merasa geli keenakan ketika lidah basah seorang wanita seksi, putih, dan menggiurkan seperti Lian dengan bibirnya menghisap buah peler mereka. Arci saja bisa merasakan sensasi ini. Arci hanya mengikuti permainan Lian, jadi ketika Lian ingin ia berbaring maka Arci pun menurut saja berbaring.

Sang ibu yang sudah horni ini pun memakai posisi 69. Dia mengarahkan pantatnya ke wajah Arci. Arci pun kemudian menjulurkan lidahnya untuk menjilati garis kemaluan Lian. Di sinilah ia dulu dilahirkan, di sini juga dulu ia ditunggu kelahirannya. Sebagai fakta bahwa ibunya melahirkan semua anaknya dengan normal. Namun dengan perawatan mahal ibunya juga mempunyai memek kelas dunia yang peretnya minta ampun. Jurus empot-empotnya tak kalah dengan wanita panggilan manapun. Bongkahan pantat Lian yang mulus tanpa cela itu diusap-usap oleh Arci. Ia menciumi bau pantat ibunya yang sebenarnya bagi siapapun tidak enak, tapi kali ini mungkin sedikit beda. Setiap kali ia merasakan lendir Lian, rasanya pasti gurih dan bikin bernafsu.

“Ahhh…kamu makin jago Ci,” kata Lian.

Dia sudah tak ingat lagi dengan blowjobnya. Ia lebih sibuk untuk menikmati sensasi dari memeknya yang basah, banjir karena ulah Arci. Otomatis tangannya hanya menjadi alat kocok bagi batang Arci yang sudah mengeras maksimal.

“Terus…sayangku yaa…gitu…uhhh…ditusuk-tusuk…ooowww…..aaahhhhhh!” pantat Lian bergetar. Bersamaan dengan itu gelombang orgasme datang merambat ke kepala Lian, seperti ada tangan yang meremas-remas kepalanya. “Aaaahhh…..akhirnya keluar juga….aaahhhh…!”

Lian kemudian berguling ke kiri, lalu memutar tubuhnya. Ia kemudian merebahkan diri di sebelah Arci. Ia berbaring dengan posisi tangannya di atas. Arci lalu berguling hingga sekarang posisinya berada di atas ibunya. Penisnya sudah disiapkan menggesek-gesek bibir vagina perempuan malam ini. Satu hal yang berbeda ketika Lian bercinta. Ia memang selalu memakaikan kondom ke penis para pelanggannya, tapi untuk anaknya spesial, tak pernah pakai.

SLEBBB!

Dengan mudahnya sang rudal berotot masuk ke dalam rongga memek Lian. Pemuda ini pun segera menggerakkan maju mundur. Sebuah rasa sensasional, lebih sedap daripada segala rasa jenis bumbu masakan di dunia telah dirasakan oleh Arci. Sesuatu yang membuat ia mau memeluk ibunya dan berpagutan. Pinggulnya bergoyang membelah sebuah celah berlendir yang melahirkannya dulu. Dalam keadaan bercinta seperti ini, sebenarnya Lian merasa bersalah. Ada rasa di dalam lubuk hatinya menyesal. Apalagi Arci sangat mirip dengan “Dia”. Ya, “si Dia” yang mengakibatkan ia harus mengandung Arci selama delapan bulan dua puluh lima hari tepatnya. Agaknya mungkin karena rasa sayangnya yang terlalu dalam, ditambah dengan kerinduan sang klien yang paling baik yang pernah dia layani, ia ingin mengobatinya dengan melakukan hal ini dengan Arci. Dia masih ingat bagaimana sodokan-sodokan lembut sang klien. Arci juga melakukan hal itu, semuanya serasa nostalgia.

Lesakan-lesakan lembut, hentakan-hentakan kenikmatan membuat dua insan ini terbuai dalam lautan birahi. Arci kembali menyusu kepada ibunya, tapi bukan dengan cara menyusu seperti bayi, melainkan memainkan puting dengan jilatan-jilatan maut, dengan usapan-usapan serta sapuan lidah yang bikin Lian mabuk kepayang. Karena hal inilah Lian sudah lupa siapa Arci. Ya, Arci jadi lebih terampil dan sangat berpengalaman dengan bercinta.

Pabrik sperma pun mulai bekerja untuk membentuk milyaran sel sperma di kantong menyan sang pemuda. Rasa gatal dan geli sudah mulai menyeruak di pucuk penis. Sebenarnya sayang sekali untuk segera menyudahi permainan ini, tapi Arci tahu ini tak boleh lama-lama, ingat dia ibunya. Namun Lian sudah terlalu jatuh cinta dengan permainan anaknya. Ya, ada rasa cinta. Bukan cinta sebagai seorang ibu. Tapi cinta sebagai kekasih. Wajarkah ini?

Ada rasa sesal ketika Lian merasakan Arci orgasme, ia juga tak mampu lagi menahan beban air kenikmatannya yang menyembur membasahi batang kemaluan Arci. Arci tak mencabutnya. Ia masih menikmati bagaimana remasan-remasan liang senggama Lian yang sekarang sudah terpuaskan oleh gesekan-gesekan lembut tadi. Terlebih Arci melakukannya dengan memeluk sang ibu. Untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan.

“Arci, ibu mohon maaf kalau ibu sampai seperti ini. Ibu sangat menyesal telah merusakmu,” kata Lian sambil mengusap wajah anaknya dengan lembut.

Arci menggeleng, “Tidak, semua ini aku lakukan demi ibuku. Bukan untuk diriku sendiri.”

“Kamu sadarkan, yang kita lakukan ini adalah hubungan antara dua orang kekasih?”

“Iya”

“Lalu kenapa kamu masih menuruti ibu?”

“Sebab, kalau aku tak melakukannya ibu akan tersiksa, dan aku tak mau ibu menderita. Aku juga bersedia kalau misalnya ibu ingin melakukan ini selamanya asalkan ibu tidak lagi menjual diri.”

“Kamu tahu ibu nggak bisa. Kalau ibu tidak melakukannya bagaimana kita bisa makan?”

“Suatu saat nanti, kalau aku jadi orang kaya. Ibu mau kan berhenti?”

“Hahahaha,…anak ibu ini. Ya, baiklah. Kapan kamu akan kaya?”

“Entahlah. Asalkan ibu dan kakak baik-baik saja, aku akan melakukan segala hal. Aku ingin bisa melihat kalian tersenyum.”

Lian menggeleng-geleng. “Dasar, baiklah. Oh… anak ibu.”

Keduanya berpelukan lagi. Kali ini berpelukan sebagai ibu dan anak. Setelah itu Lian dan Arci tidur bersama dalam satu selimut. Tidak. Mereka tidak bercinta lagi. Mereka sudah terlalu capek memikirkan kejadian hari itu.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Keesokan paginya. Sang ibu sudah bangun terlebih dahulu dan meninggalkan Arci sendirian di kamar. Arci terbangun setelah matahari terbit. Ia merasa tak punya kerjaan di hari minggu ini. Apalagi UTS sudah selesai. Dia bangun kemudian keluar kamar.

“Hai mas,” sapa Putri adiknya yang masih SD.

“Lho, Mbak belum pulang?” tanya Arci.

Putri menggeleng. Setelah itu dia keluar rumah.

“Mau kemana?” tanya ibunya.

“Dolin buk!” jawab Putri yang setelah itu pergi meninggalkan rumah.

“Safira belum pulang bagaimana ini?” tanya ibunya.

“Lah, ibu koq tanya aku? Emangnya katanya pergi ke mana?” tanya Arci.

“Entahlah, terakhir kali ibu terlibat diskusi hebat dengan dia.”

“Diskusi? Diskusi apa?”

“Dia kepengen berhenti. Ibu sudah nasehati, mana bisa? Mau kerja apa? Trus dia bilang yang penting dapat duit.”

Perasaan Arci mulai nggak enak. “Koq aku merasa nggak enak?”

Arci mengambil ponselnya kemudian menelpon Safira. Baru saja mau ditelpon orang yang dibicarakan sudah masuk dengan sempoyongan. Hampir saja Safira ambruk, kalau tidak ditolong oleh Arci.

“Heh, kamu kenapa?” tanya Arci.

“Nggak apa-apa, akhirnya aku dapat uang dengan cara halal, dek. Lihat!” Safira menyerahkan sebuah amplop coklat yang isinya sepertinya cukup tebal.

“Nggak mungkin, dari mana kamu dapet uang segini banyak?” tanya Arci menginterogasi.

“Aku jual ginjalku. Ada yang membutuhkan,” katanya sambil tersenyum.

“GILA! Wong edan!” Arci membentaknya. “Jual ginjal? Sampeyan koq yo dadi edan mbak!? Lapooo??”

“Fira! Koq kamu ngelakuin ini!??”

Safira hanya tersenyum. Sungguh itu perjuangan yang tak pernah bisa diterima akal. Demi 70 juta Safira menjual ginjalnya. Arci tak habis pikir sampai sekarang, kenapa kakaknya melakukan itu semua. Sampai sekarang Safira kondisinya lemah. Ia tak kuat untuk melakukan pekerjaan berat. Alhasil ia masih menekuni profesinya sebagai wanita panggilan. Tapi Arci bersumpah dia akan jadi orang kaya dan tak akan mengijinkan ibu dan kakaknya melacur lagi. Tapi akankah ia bisa?

“Aku bersumpah aku akan berjuang hingga jadi orang berada agar kalian tidak melacur lagi. Aku akan sekolah hingga tinggi dan aku akan balas jasa kalian selama ini. Please mbak, jangan lagi jual organ. Kamu tahu aku sangat mencintai kalian. Aku tak mau kehilangan mbak!” kata Arci sambil menangis.

“Deek.. udah dong, iya… mbak janji. Mbak nggak bakal jual organ lagi,” ujar Safira. “Mbak nggak kepengen adik mbak nangis. Wis, cup! Arek lanang ora oleh nangis!”

“Tapi aku nangis gara-gara mbak.”

Akhirnya Safira memeluk Arci dan menenangkannya. “Shhh…udah, mbak janji. Mbak janji, nggak boleh Arci nangis lagi. Nggak boleh!”

Selama ini siapa yang bisa berbuat baik kepada Arci selain ibu dan kakaknya? Tak ada rasanya. Arci juga sangat sayang kepada adiknya. Putri ini termasuk anak yang cerdas juga. Arci bertekad sebagai kepala keluarga sekarang ia harus bisa menopang seluruh kebutuhan keluarganya. Maka dari itulah dia harus kerja keras. Kerja keras.

Di dalam kamarnya ia kemudian menghidupkan laptopnya. Pekerjaan kantornya yang sudah ia simpan di flashdisk sekarang mulai dikerjakan lagi. Arci tak tahu kalau besok akan ada kejutan baginya di kantor. Mungkin bukan kejutan biasa, karena gosip kedekatan dia dengan sang boss telah merambah di dunia maya tanpa ia sadari.

______KOSAKATA MALANGAN____

uklam-uklam = mlaku-mlaku
oskab = bakso
sumpaon = sumpah lo?
dolin = main
lanang = lelaki
wis = sudah
ora = bukan
di luar nagrek = di luar negeri

Saat jarak memisahkan aku dan kamu
Jika ku hidup dijaman mama papaku dulu
aku khawatir aku khawatir 

Berapa banyak kertas tinta amplop kuhabiskan
Berapa lama ku menunggu surat balasan kamu
aku khawatir aku khawatir 

Tapi untungya ku hidup dijaman sekarang
tak perlu khawatir lagi kan ada Skype invite tingkahmu
Instagram update foto indahmu
Line lagi dimana kamu
Twitter curhatmu ohh..

Skype invite tingkahmu
Instagram update foto indahmu
Line lagi dimana kamu
Twitter curhatmu saat ini

Suara alarm memutarkan musik di pagi hari. Andini terbangun dan menggeliat di atas kasurnya. Dia memegangi bibirnya, teringat dengan kejadian tadi malam yang membuat jantungnya berdebar hari itu. Entah bagaimana dia nanti akan menghadapi hari berhadapan dengan Arci, terus terang ciuman mereka berdua tadi malam menggetarkan sesuatu di dalam sanubarinya. Ada sesuatu yang salah, tapi sesuatu yang salah itu bukanlah sesuatu yang harus dianggap benar-benar salah. Karena memang ia telah mengakuinya, ia jatuh cinta.

“Arci, aku tak tahu apakah aku berani berhadapan denganmu hari ini,” gumam Andini.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Hari Senin, kabar Arci nonton bareng dengan Andini langsung menyebar. Mulai dari karyawan sekelas OB, sekuriti sampai karyawan sekelas manajer membicarakannya lewat dunia maya. Mereka berbisik-bisik ketika Arci datang seperti biasa ke kantor. Mereka juga membicarakan Andini. Yang tidak suka terhadap isu itu hanyalah Rahma dan dua temannya. Padahal ya mereka bertiga sendiri yang mulai pembicaraan itu. Kemudian di dengar teman sebelahnya, sebelahnya teman ternyata punya channel di bagian lain, kemudian disebarkan, dari disebarkan kemudian update status di facebook, dari update status di facebook kemudian update status di twitter hingga akhirnya jadi pembicaraan hangat.

Begitu Arci datang dan duduk di kursinya. Yusuf menegurnya, “Ci, kamu kemaren jalan ama Bu Dini?”

“Hah? Koq tahu?” tanya Arci.

“Yaah….sekantor juga tahu kale,” kata Yusuf.

“Sumpaon?”

“Beneran.”

Arci menepok jidatnya, “Wah, kalau seluruh kantor tahu gawat dong. Aku cuma nonton aja ama beliau, nggak ngapa-ngapain.”

“Hehehehe, tahu nggak? Kalau Bu Dini itu nggak pernah jalan ama cowok lain lho. Cuma kamu doang.”

“Halah wis, mbuhkah. Kerjo sing bener”

“Selamat pagi semua!?” Andini menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan.

“Pa..gi…?” sahut Arci.

“Pagi bu,” tampak Rahma berdiri dari tempat duduknya menyambut atasannya.

“Gimana Arci? Sudah selesai request saya minggu kemarin?” tanya Andini ke Arci langsung.

“Saya sedang membuat sebuah portal dan toko online. Semuanya sudah saya coding. Dan bisa kita langsung pasarkan melalui sosial media seperti facebook, twitter, dan lain-lain.”

“Hmm?? Pasarkan melalui online?”

“Yang penting stock di gudang itu bisa habis bukan? Saya yakin dalam waktu kurang dari dua minggu ini stock itu bisa habis terjual. Kita tinggal melakukan pemasaran melalui media online, memberikan diskon, kemudian kita akan berikan semua yang diinginkan oleh customer. Dalam hal ini kita bisa memanfaatkan sosial media. Seperti yang kita tahu sosial media saat ini lebih digandrungi oleh orang-orang. Untuk online pun sekarang tidak terlalu sulit seperti dulu,” jelas Arci.

“Sebentar, lalu bagaimana cara pembayarannya?”

“Saya kemarin telah berunding dengan bagian keuangan, untuk kasus ini saya bisa memakai rekening perusahaan untuk masalah ini dan katanya saya harus meminta persetujuan ibu. Enaknya bagaimana?”

“Oh, baiklah. Kita ada nomor akun untuk semua jenis pembayaran. Kamu saya ijinkan untuk memakainya sebagai tempat unuk pembayaran. Paypal, mastercard dan lain-lain, silakan tanya ke bendahara.”

“OK, kalau begitu nggak ada masalah, besok kita sudah launching,” kata Arci. “Situs pertama kita Evolus Textil, Untuk Evolusi gaya Anda.”

“Hahahaha, kamu yang mikirin moto itu?”

“Iya.”

“Baiklah, keren. OK, besok saya inginkan hasilnya.”

“Beres.”

Setelah itu Andini berbalik menuju ke ruangannya. Yusuf hanya tercengang melihat hal itu. Rahma juga sepertinya tak menyangka Arci melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh tim pemasaran. Membuat sebuah situs website? Hei, ini beneran?! Kurang dari satu minggu udah selesai?

Mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kebanyakan orang bahwa Arci ini selain anaknya jenius juga tekun dalam mengerjakan sesuatu. Dia benar-benar menunjukkan siapa dirinya. Memang mungkin bisa dilihat tentang bagaimana dia mengerjakan apa yang diinginkan oleh atasannya dengan cepat dan sempurna. Hanya saja dibalik keseriusan dirinya, dia adalah orang yang lebih cenderung tertutup. Seperti hari itu, dia akhirnya mengikuti peraturan Andini istirahat siang.

Di kantin dia duduk di dekat jendela. Semangkuk pangsit yang sudah dia pesan belum disentuh sama sekali. Ia hanya memandangi keluar jendela, ia asyik dengan pikirannya sendiri sambil menopang dagunya.

“Hei!?” seseorang mengejutkannya.

Arci terkejut ketika Rahma sudah ada di hadapannya. “Hai juga,” sapa Arci.

“Sendirian aja? Nggak ganggu kan? Atau lagi nunggu orang?” tanya Rahma.

“Sendirian, ada apa?”

“Hehehe, nggak. Cuma kepengen mau nemeni aja.”

“Ada sesuatu? Pasti soal aku dan Bu Dini kemarin kan?”

“Hehehehe, tau aja. Kemarin kamu jalan ama beliau ya?” Rahma pura-pura nggak tahu.

“Iya”

“Kalian jadian?”

“Nggak”

“Yang bener?”

“Beneran”

“Oh”

“Sebenarnya gosipnya apa sih? Aku cuma nonton aja sama Bu Dini, nggak ada maksud lain koq.”

Padahal kemarin Rahma sangat tahu kalau mereka berdua berciuman. Dia ingin menjelaskan ke Arci kalau dia dan teman-temannya duduk di belakang mereka tapi urung ia beritahu.

“Kamu punya cewek nggak?” tanya Rahma. “Kulihat kamu sendirian aja.”

“Blom punya. Kamu sendiri?”

Rahma menghela nafas. “Kalau aku sih, dibilang punya nggak. Dibilang nggak punya, ada.”

“Complicated?”

Rahma mengangguk.

“LDR?”

Rahma mengangguk.

“Udah lama?”

Rahma mengangguk lagi.

“Dia setia nggak?”

“Entahlah Ci, wong arek’e di luar nagrek”

“Tapi masih kontak-kontak ‘kan?”

“Masih lah, tapi ya itu. Makin lama makin hambar saja. Godaannya di sini berat.”

“Hahaha, mulai ada yang nyangkut di sini?”

“Sebenarnya juga sih kita belom resmi koq.”

“Trus? Siapa cowok ini kalau boleh aku tahu?”

“Namanya Singgih. Sekarang sedang kuliah di Inggris.”

“Hmmm…Inggris ya.” Arci mulai menyantap pangsit mie ayamnya yang sudah dingin.

“Biarpun dikit pake ongkosnya juga ke sananya.”

Rahma menoleh ke arah lain. Saat itu tampak Andini baru saja datang.

“Tuh, ibu suri datang. Aku menyingkir dulu,” kata Rahma yang ingin beranjak.

“Ngapain? Nggak usah, sini aja!” Arci mencegah Rahma. Dia memegang lengan Rahma.

Andini mendekat ke meja Arci. Rahma yang tadi mau berdiri jadi enggan karena bossnya sudah ada di dekat mereka lalu duduk di kursi yang kosong.

“Keberatan aku ikut?” tanya Andini.

Arci menggeleng, “Nggak.”

“Saya permisi dulu bu,” kata Rahma.

“Nggak perlu sungkan. Duduk aja!” kata Andini.

Rahma nyengir. Ia jadi sedikit malu-malu kucing.

“Aku tahu kalian sedang ngomongin aku ya?” tanya Andini langsung to the point.

“Eh, nggak koq bu. Nggak,” elak Rahma.

“Gosip sudah beredar, nggak perlu ditutupi. Kamu pasti minta klarifikasi ke Arci ya?”

Rahma menelan ludahnya. Ia pun mengangguk. Padahal dia tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin di bioskop.

“Nah, Arci. Kamu sudah berikan penjelasan ke dia soal kemarin?” tanya Andini.

“Ya, begitulah,” kata Arci.

“Bagus.”

“Kamu sudah pesen?” tanya Andini ke Rahma.

“B..belum bu,” jawab Rahma.

Andini melambaikan tangan kemudian sang pelayan datang. Rahma jadi canggung setengah mati. Dalam hati Arci hanya ngikik saja. Tentu saja makan siang itu dilewatkan dengan canggung. Andini bertanya banyak hal kepada Rahma tentang pekerjaan. Arci sedikit lega karena tidak ditanyai lagi hal-hal yang aneh oleh Rahma.

Setelah makan siang yang canggung Arci sibuk lagi. Hingga akhirnya tak terasa sudah sampai jam pulang. Arci masih berada di meja kerjanya.

“Kamu lembur?” tanya Yusuf yang sudah memberesi mejanya.

“Yah, mau gimana lagi,” jawab Arci.

“Oke, aku duluan yah,” kata Yusuf.

“OK”

Rahma pun sudah beberes dan mengambil tasnya. “Pulang dulu ya Ci. Eh, iya. Boleh minta nomor telepon atau BBM?”

“Oh, silakan. Nomorku 0819221200***, pinku BG78***”

Rahma kemudian menambahkannya di ponselnya. “Makasih, dulu ya Ci.”

“OK”

Arci kembali sibuk. Sampai setengah jam kemudian gantian Andini yang keluar dari ruangannya.

“Masih di sini?” tanya Andini.

“Iya bu, ini sudah mau selesai, tinggal dikit. Ini sedang mempersiapkan materi untuk besok sekalian,” kata Arci.

“Besok bisa selesai?” tanya Andini.

“Mestinya begiu,” jawab Arci.

“OK, besok kamu coba paparkan ke seluruh jajaran direksi,” kata Andini.

“OK, siapa takut.”

“Aku pulang dulu ya?”

Arci hanya ada di ruangan itu sendirian. Namun bagi orang yang sudah terbiasa dengan yang namanya sendiri. Maka kesunyian justru merupakan temannya. Ia tak pernah menyesali ketika sudah akrab dengan yang namanya sepi. Baginya dalam kesendiriannya ia bisa mendengar dengungan lebah. Ya, dengungan lebah-lebah yang sedang bekerja. Sesibuk dirinya dalam kesendirian.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Rahma sudah sampai di rumahnya saat waktu petang sudah hampir habis. Dia tinggal di sebuah tempat kos di dekat Kampus Widiyagama. Di sini sebenarnya adalah rumah pamannya yang mana juga dibuat sebagai tempat kos. Sebagai keponakan, tentunya ia tak membayar. Hanya saja tak enak kalau tak membayar, akhirnya ia pun ikut andil bagian walaupun harus dengan harga diskon yang besar.

Teman-teman Rahma adalah para mahasiswi dari berbagai perguruan tinggi yang ada di sekitar Malang. Mereka cukup akrab satu sama lain. Begitu masuk kamar ia langsung ambruk di kasurnya. BRUK! Untuk beberapa saat lamanya dia membenamkan kepalanya di kasur. Lalu Rahma mengambil ponselnya dan menyapa seseorang di ponselnya. Sebuah nama. “Singgih”

Quote Originally Posted by BBM RAHMA

Rahma: ping!
Koq nggak ngasih kabar??
Kamu ngapain?
Sehat nggak?
Menurutnya percuma saja memberi kabar ke Singgih. Toh BBM-nya nggak bakal dibalas. Sudah lebih dari sebulan ini tak ada kabar, hal ini tentu saja membuat Rahma khawatir. Dia lalu melihat nama. “Arczre”. Iseng ia chatting dengan Arci.

Quote Originally Posted by BBM RAHMA

Rahma: ping!
Masih di kantor aja?
Lama tak ada balasan. Rahma akhirnya menggeliat, lalu melepas seluruh pakaiannya, ganti baju dengan baju rumahan berupa kaos dan celana pendek sepaha. Ia sengaja tak memakai bra dan celana dalam karena ingin mandi. Peralatan mandi dibawanya, rambutnya diikat. Begitu ia mau keluar kamar untuk menuju ke kamar mandi, ada balasan dari BBM-nya.

Quote Originally Posted by BBM RAHMA

Arczre: Barusan mau keluar.
Rahma tersenyum. Ia pun membalasnya lagi.

Quote Originally Posted by BBM RAHMA

Rahma: Emang ngerjain apa sih?

Arczre: Ada deh.

Rahma: Ya udah, hati-hati pulangnya. Jangan ngebut!

Arczre: Nggak bisa non, laki-laki nggak ngebut itu namanya banci.

Rahma: yah, setidaknya hati-hati saja deh.

Arczre: Thx.

Rahma: Btw, tadi itu aku canggung banget tauk. Semeja ama Bu Dini.

Arczre: Lha, kamu kan sekretarisnya. Masa’ canggung?

Rahma: Yeee… kamu ini gimana sih? Ya jelas canggung lah, tahu sendiri gosip di kantor seperti apa? Tapi aku senang kalau misalnya kamu ama Bu Dini bisa bersama.

Arczre: Apa sih? Kan udah aku bilang, kita nggak ada hubungan apa-apa.

Rahma: Nggak mungkin deh, Ci. Dari tatapan mata kalian saja aku tahu koq kalau kalian berdua deket.

Arczre: Dibilangin koq.

Rahma: Emangnya kamu udah punya cewek?

Arczre: Belum. Hmm….lebih tepatnya complicated.

Rahma: Ealah, melok-melok wae.

Arczre: Hahaha….Nanti disambung deh, ini aku mau nyetir motor.

Rahma: Oh, ok. Aku juga mau mandi. Udah bau acem.

Arczre: Wogh, boleh ikut?

Rahma: Enak aja.
Rahma senyum-senyum sendiri. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas kasur lalu pergi ke kamar mandi. Singgih, bagaimana Rahma bisa sesetia ini kepada Singgih? Padahal bisa jadi Singgih di luar sana tak setia. Entahlah, yang namanya cinta memang bikin orang jadi bodoh. Rahma tak habis pikir dengan kondisi dirinya sendiri. Dikata Jomblo, iya. Dikata udah punya pacar iya juga. Bingung. Semua ini hanya karena satu kesalahan ya ia lakukan. Ya, satu kesalahan.

Hari itu, tepatnya dua tahun yang lalu…..

(Bersambung…….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*