Home » Cerita Seks Kakak Adik » i Love You Handsome 3

i Love You Handsome 3

“Ci, dipanggil bos!” panggil Rahma.

Arci menoleh ke arah Rahma. “OK!” Ia segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian segera beranjak ke ruangan direktur Produksi. Sudah seminggu ini dia bekerja di perusahaan ini. Pekerjaannya cukup bagus, cukup rapi, cukup cepat untuk anak baru. Ternyata ijazah yang dibanggakannya sebagai mahasiswa cumlaude benar-benar nyata. Arci pun mengetuk pintu.

TOK! TOK! TOK!

Arci kemudian membuka pintu dan segera masuk. “Ada perlu dengan saya, bu?”

“Ah, iya. Sini sebentar!” kata Andini sambil memberikan isyarat agar Arci duduk. Pemuda itu pun segera mendekat kemudian duduk di hadapan atasannya. Arci mulai menduga-duga banyak hal.

“Ada apa, bu?”

“Begini, aku butuh kamu untuk menganalisa data tentang penjualan produk-produk yang tidak laku atau kurang diminati pasar. Aku ingin kamu cari cara bagaimana agar supaya barang-barang yang tidak laku itu bisa habis. Dalam arti stok kita habis, sehingga gudang itu bisa kosong dan kita bisa dapatkan laba dari barang-barang itu,” kata Andini.

“Lho, bukannya itu tugas tim pemasaran bu?” kata Arci. Andini menatap tajam ke arah Arci. “Eh, maaf, teruskan!”

“Jadi, karena saat ini tim pemasaran stuck dan banyak kerjaan untuk produk-produk baru. Mereka memang diperlukan untuk itu. Aku ingin kamu cari cara bagaimana agar supaya gudang kita yang berisi barang-barang lama itu bisa laku terjual. Entah kamu pasarkan bagaimana kek caranya yang penting stok habis. Perusahaan ini lemah di bidang marketing online, kamu coba pasarkan lewat media online. Buat situs semenarik mungkin agar orang membeli ke kita. Kalau misalnya berhasil, aku ingin kamu yang menangani tim pemasaran dan sekaligus aku akan mengangkatmu menjadi manajer pemasaran yang sekarang ini kerjanya lamban kaya’ siput.”

Arci menelan ludah. Manajer?? Manajer???

“Tapi bu…,” Arci ingin protes karena pekerjaan itu terlalu mendadak. Ia baru seminggu bekerja masa’ harus dapat tugas begini berat.

“Aku beri waktu kamu dua minggu. Selesaikan! Kalau gagal kamu saya pecat,” kata Andini.

“Heeh?? Jangan dong bu, masa’ saya cuma seminggu langsung dipecat. Iya deh, iya deh.”

“Nah, bagus. Kalau kamu butuh tentang data stok coba tanya-tanya Yusuf. Dia kan bagian Entry, pastinya hafal dengan semua barang-barang yang numpuk di gudang itu,” kata Andini dengan nada ketus.

“Err…baik bu, saya coba,” kata Arci.

“Kamu kerja apa main-main?”

“Kerja bu.”

“Nggak usah pake coba-cobaan, langsung saja kerjakan!”

“Iya, bu. Maaf. Saya kerjakan sekarang?”

“Tahun depan!”

“Eh?”

“Ya sekaranglah! Udah sana!”

Arci agak keder juga melihat ketegasan Andini. Dia segera keluar dari ruangan bossnya. Rahma melirik ke arah Arci. Melihat Arci dengan mimik serius, pasti ada sesuatu.

“Ci!” panggil Rahma.

Arci menoleh ke arahnya. “Apa?”

“Ada apa tadi di dalem?” tanya Rahma.

“Ada kerjaan, berat kaya’nya,” jawab Arci dengan sedikit nada datar.

“Oh, beneran? Emang apa kerjaannya?”

“Ngabisin stok barang lama di gudang.”

“Heh? Itukan bukan tugasmu.”

“Entahlah, yang nyuruh boss, mau gimana lagi?” Arci mengangkat bahunya.

Rahma hanya manggut-manggut. Arci segera kembali ke mejanya. Dia melonggarkan dasi yang dia pakai kemudian membuka satu kancing atas kemejanya. Lengan kemejanya pun dia gulung. Setelah itu ia menganyam jemarinya sampai berbunyi. Ia menepuk tangannya tepat di depan wajahnya. Hal itu membuat semua orang menoleh ke arahnya. Arci tak peduli. Ia langsung menggerakkan jemarinya dengan lincah di atas keyboard. Orang-orang yang kaget melihatnya tadi akhirnya kembali ke mejanya. Yusuf tambah lebih bingung dengan sikap Arci.

“Oh ya,” Arci menghentikan aktivitasnya sejenak dan mendekat ke Yusuf yang meja kerjanya bersebalahan.

“Ada apa?” tanya Yusuf.

“Tadi Bu Dini ingin aku menganalisa data stok penjualan, aku butuh data barang yang saat ini ada di gudang. Terutama barang-barang lama,” kata Arci.

Yusuf menegakkan alisnya, “Buat apa?”

“Aku ditugaskan untuk bisa menjual habis barang-barang itu.”

“What?? Yang bener?? Itu tugas tim pemasaran.”

“Entahlah, tapi sepertinya kata-kata Bu Dini tadi aku dengar sangat jelas di dalam sana.”

“Hmm…sepertinya ada sesuatu nih,” kata Yusuf sambil menggaruk-garuk dagunya.

“Apa?”

“Jadi gini ada isu yang mengatakan bahwa pihak marketing mau diganti jajaran manajemennya karena akhir-akhir ini penjualannya nggak segencar tahun lalu. Padahal sebentar lagi mau tutup tahun dan tentu saja kalau misalnya stok barang di gudang yang ada itu tidak habis bisa-bisa Bu Andini bakal dihabisi di rapat jajaran direksi.”

“Kenapa barang-barang itu tak bisa dipasarkan oleh pihak marketing saat ini?”

“Masalahnya kita kekurangan tim di pihak marketing. Manajer pemasaran orangnya sedang sakit dan opname di rumah sakit. Namanya Pak Malik. Tapi sepertinya perusahaan tahu bahwa sakitnya Pak Malik nggak akan bisa ditolong lagi. Beliau kena komplikasi gula dan darah tinggi. Kita di tim marketing sudah kosong kepemimpinan selama dua minggu ini dan tak ada yang bisa menggantikan beliau. Kandidatnya nggak ada.”

Arci manggut-manggut. “Baiklah, aku tahu sekarang permasalahannya.”

“Trus, kamu punya ide bagaimana cara untuk memasarkannya?” tanya Yusuf.

Arci berdiri. Ia berjalan mondar-mandir, lalu menatap ke arah Rahma. Sebenarnya Arci menatap dengan tatapan kosong, karena ia tak benar-benar menatap Rahma. Tapi melihat Arci menatap ke arahnya Rahma jadi salah tingkah. Beberapa kali ia membenarkan rambut yang menutupi telinganya.

“Ini bocah ngapain ngelihatin aku?” kata Rahma dalam hati. “Nggak, nggak, nggak, dia emang cakep. Tapi aku udah punya cowok. Nggak deh, nggaak.”

Arci kemudian berjalan ke tembok lalu melakukan handstand. Orang-orang heran melihatnya.

“Kon lapo rek, ngono iku?” tanya Yusuf.

“Mikir” jawab Arci.

“Wong edan,” Yusuf melanjutkan pekerjaannya lagi.

Arci memang sering mendapatkan tekanan seperti ini. Dan melakukan handstand seperti ini adalah salah satu cara yang bisa membuatnya lebih bisa berpikir. Andini mengintip dari kaca jendela di kantornya. Ia ngikik melihat tingkah polah Arci.

“Dasar, anak aneh. Ayo, kamu pasti bisa. Buktikan kepadaku bahwa kuliahmu memang berhasil,” kata Andini.

Tak sampai lima menit Arci menyudahinya. Setelah itu ia segera ke mejanya. Ia mengutak-atik komputernya. Entah apa yang dikerjakannya di sana. Yang jelas hari itu ia sampai lupa makan karena seharian berada di depan komputer.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Siang hari Andini pergi ke kantin. Mungkin memang sedikit aneh bos di perusahaan ini mau makan di kantin bersama anak buahnya. Tapi begitulah Andini tiap hari. Ia tak pernah merasa tinggi, ia menganggap dirinya sama seperti yang lain. Ada satu yang selalu aneh dari dirinya, setiap kali ia makan tak pernah ada yang mau nimbrung. Mungkin karena kewibawaannya, mungkin juga karena tak ada makhluk yang pantas bersanding dengan ibu bos yang cantik itu. Melihat Arci tidak di kantin, Andini bertanya-tanya ke mana dia.

Ruangan kantor sepi, hanya Arci sendirian sedang mengutak-atik komputer. Ponselnya berdering, tapi nadanya ia matikan, hanya getaran. Berkali-kali ponselnya bergetar. Tapi dia tak peduli.

Andini kesal karena ponsel Arci tak diangkat. Dia kemudian beranjak kembali ke ruangannya. Orang-orang heran karena tak biasanya Andini bertingkah seperti ini. Biasanya dia duduk manis sambil menikmati makan siangnya berupa menu sayur sehat tanpa kolesterol dan jus wortel, straweberry, dan jeruk yang dicampur jadi satu. Namun kali ini belum sempat ia memesan apapun sudah pergi. Dengan rok selututnya ia tampak berjalan anggun. Memang ia menarik perhatian semua lelaki selain paras cantik, cara berjalannya pun mengakibatkan seluruh jajaran karyawati yang ada di pabrik itu lewat semua. Andini juga tak ketinggalan dalam hal mode. Terlihat dari sepatunya yang mahal, bahkan baju kantornya pun sangat trendi.

Andini kembali ke ruangannya dan melihat Arci sedang sibuk di meja kerjanya. Wanita karir ini pun menghampirinya.

“Nggak makan siang?” tanya Andini.

“Eh, ibu. Bikin kaget saja,” jawab Arci.

“Ayo, makan siang!” ajaknya.

“Saya kerjain ini dulu.”

“Nggak ada tapi-tapian, kamu ikut makan siang sama saya atau saya pecat.”

Mendengar kata pecat bikin telinga Arci sensi. “Eh…i..iya deh, sebentar.” Arci buru-buru logout dari komputernya. Ia mengambil ponselnya yang ada di meja. Ternyata ada 10 kali misscall dari nomor Andini.

“Kerja itu juga butuh istirahat. Kalau kamu tewas karena workaholic, yang rugi juga perusahaan. Kamu adalah aset berharga bagi perusahaan, maka dari itu jaga kondisimu,” Andini menasehatinya.

Arci mengangguk. “Iya bu.”

Mereka berdua pun berjalan bersama. Saat perjalanan menuju kantin, mereka berdua jadi perhatian. Baru kali ini Ibu Direktur mau berjalan dengan seorang cowok, walaupun ini bukan pertama tapi kali ini agak lain. Adini yang mengajaknya. Arci hanya mengikutinya saja sambil menjaga jarak, karena ia tahu bahwa banyak pasang mata yang melirik ke arah mereka.

Rahma saat itu sedang ada di kantin tampak kaget melihat mereka berdua masuk ke kantin. Langsung beberapa teman wanitanya berbisik-bisik.

“Eh lihat itu, si boss tahu aja cowok cakep,” kata Nita teman kerja Rahma.

“Hihihi, siapa namanya?” tanya Sonia juga teman kerja Rahma.

“Namanya Arczre Vian Zainal. Aneh yah. Mirip nama bule,” jawab Rahma.

“Yah, potongannya kaya’ orang blesteran gitu. Tapi tampang harajuku hahahaha,” Nita ketawa.

“Dia kan udah kenalan beberapa hari lalu, masa’ kalian nggak tahu sih?” tanya Rahma ketus.

“Yee… kenal nama doang, tapi selama seminggu ini dia jadi pembicaraan cewek-cewek kantor tahu!” ujar Sonia. “Cakep yah.”

“Selain cakep, kerjanya juga bagus koq. Kerjaan yang biasanya dikerjain Yusuf seharian, sama dia cuma sepuluh menit,” kata Rahma.

“Hah? Nggak salah?” Nita tak percaya.

“Dan kaya’nya tadi di ruangan Bu Dini, Arci ini mau ditempatkan bagian pemasaran. Gantiin Pak Malik. Nggak tahu deh.”

“Heh? Pak Malik? Ora salah kon?” tanya Sonia.

“Menejer yang sekarang sakit itu?” Nita nggak percaya lagi.

“Beneran. Makanya dia dikasih tugas agak sulit ama Bu Dini tadi. Whew, koq aku naksir dia ya?” tanya Rahma ceplas-ceplos. Memang mereka bertiga seperti itu suka ceplas-ceplos kalau sedang bersama-sama. Maka jangan heran kalau misalnya segala persoalan mereka bicarakan, bahkan sampai habisnya tissue toilet mereka bicarakan.

“Ciee..cieee…. yang naksir. Tapi aku juga naksir lho. Kita saingan dong,” kata Sonia.

“Aku ikut deh, ngantri urutan paling depan pokoknya,” sela Nita.

Mereka ketawa-ketiwi di meja mereka sendiri. Tiga cewek jomblo yang sedang ngincer cowok ter-cool di kantor ini. Tapi mereka paling tidak sekarang harus gigit jari karena sekarang Arci sedang semeja dengan Andini.

Seorang pelayan datang ke meja Andini. Dia membawa nota untuk dicatat.

“Pesan apa?” tanya Andini.

Arci melihat daftar menu makanan yang ada di meja. “Ibu sendiri?”

“Saya sih biasanya pesan sup sehat dan jus sehat.”

Arci ragu untuk memesan.

“Nggak usah dipikirkan, aku yang bayarin. Kamu tinggal pilih.”

“Saya jadi nggak enak. Biasanya juga cowok yang bayarin.”

“Kali ini aku yang traktir. Lain kali saja kamu nraktir aku, gajian saja belum.”

“Hehehehe, saya pesen nasi rawon saja deh, sama teh anget.”

“Nasi rawon satu, teh anget satu, sup sehat satu, jus sehat satu. Gitu ya bu?” tanya pelayan mengulangi.

Andini mengangguk. “Iya.”

Sang pelayan segera berbalik menuju dapur. Andini kembali menatap ke arah Arci. Ia melonggarkan dasinya. Andini sedikit tersenyum. Melihat itu Arci jadi heran. Senyuman bosnya ini sungguh manis dan renyah. Kalau misalnya ada rempeyek, maka rasanya seperti rempeyek yang paling garing digigit. KRIYUUUKKK! Apalagi kacangnya itu dikunyah rasanya sangat sensional. Dalam hidupnya, Arci tak pernah sedekat ini dengan perempuan. Bukan berarti dia lebih suka dekat dengan keluarganya, bukan itu. Ia tahu tabu rasanya dengan hubungan incest dia, hanya saja sekarang ini bukan itu yang menjadi masalah. Tak pernah ada wanita yang datang dalam kehidupannya. Dia melakukan itu semata-mata karena peristiwa ketika dia menjadi gigolo. Selama ini ia kerja keras, kuliah tinggi, berjuang hingga dapat nilai cumlaude, mengorbankan seluruh masa mudanya untuk belajar, belajar dan belajar, hingga sekarang ia duduk di sini. Diterima di perusahaan textil terkemuka di Indonesia.

“Semua karyawan cowok di sini itu nggak pakai dasi, cuma kamu yang kaya’nya pakaiannya resmi. Tapi nggak apa-apa, aku suka,” kata Andini.

“Eh, i..iya bu. Hehehe,” Arci nyengir. Ia baru saja sadar kalau memang semua pegawai cowok tak ada yang pakai dasi.

“Tapi jangan kamu lepas itu, kamu kelihatan tampan kalau pakai dasi.”

Lagi, senyumannya itu membuat dunia seakan runtuh. Tiba-tiba dengan melihat senyuman bosnya ini perut Arci sudah merasa kenyang. Efek apa ini? Sihir? Ah, jaman sekarang koq ya ada sihir. Ini dunia nyata pren. Dunia nyata. Apa wanita ini pake susuk? Sudah menikahkah dia?

“Cantik,” gumam Arci.

“Hmm? Kamu bilang apa?” tanya Andini mengejutkan dia.

“Oh, nggak koq bu. Nggak bilang apa-apa. Itu lho, sekretaris ibu cantik juga orangnya.”

“Kamu suka ama dia?”

“Eh, nggak koq. Nggak.”

“Aku nggak cantik?”

“Kamu…eh, ibu, cantik juga.”

“Hahahaha. Aneh kamu ini. Oh ya, ceritain dong tentang keluargamu.”

“Keluargaku…hmmm, mereka baik-baik saja. Begitulah. Ibu sudah membacanya di file saya bukan?”

“Aku cuma kepengen denger langsung dari kamu. Cerita aja!”

“Yah, saya hidup bersama ibu, kakak dan adik. Saya paling ganteng di rumah. Karena kakak dan adik saya cewek semua. Adik saya masih SMP dan sekarang sedang berjuang untuk UJIAN NASIONAL.”

“Kerja apa ibu dan kakakmu?”

“Oh, mereka… ibu nggak kerja, kakak kerja kecil-kecilan.”

Kerlingan mata Andini mengisyaratkan bahwa ia sepertinya tahu segalanya, hanya saja itu tak difahami oleh Arci. Ia lebih tertarik kepada wajah Andini yang menawan. Parfumnya sungguh harum, wangi khas Paris dibalut dengan lembut aroma Barcelona. Pasti parfumnya sangat mahal.

Tak berapa lama kemudian pesanan mereka sampai. Arci dan Andini makan bersama. Dan tiga cewek yang agak jauh dari mereka mengamati dengan rasa dongkol.

“Duuhh… mereka koq bisa makan bersama kaya’ gitu ya? Mana Bu Dini ketawa-ketiwi seperti itu. Kaya’nya akrab banget.” Rahma menahan dagunya dengan kedua tangannya. Minuman es campur buah yang ada di depan mereka tak disentuh, hanya melihat bagaimana akrabnya Arci dan Andini di meja makan mereka.

Nita, Sonia dan Rahma hanya menatap Arci dari kejauhan sambil mengaduk-aduk gelas es campur mereka sampai esnya mencair.

“Cakepnyaaa…” itulah gumaman mereka berkali-kali.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

“Makasih bu, makan siangnya,” kata Arci.

“Mulai sekarang, kamu makan siang tiap hari sama saya,” kata Andini.

“Hah? Tapi bu, jadi nggak enak ntar dilihat orang-orang.”

“Kenapa? Kamu sudah punya cewek?”

“Nggak, blom punya.”

“Nah, saya juga nggak punya cowok, single. Nggak masalah kan? Lanjut juga nggak masalah.”

“Hah? Maksudnya?”

“Hahahaha, bercanda. Gitu aja dianggap serius,” lagi, ketawa renyahnya Andini membuat jantung Arci nggak menentu.

Arci nyengir. Dia nggak nyangka bosnya bisa seagresif ini. “Tapi saya keberatan kalau tiap hari harus makan siang sama ibu.”

“Ya sudah, nggak masalah koq. Selanya kamu saja. Tapi aku ngasih peraturan khusus untuk kamu. Waktunya istirahat, kamu harus istirahat. Kecuali lembur. Ok?”

“Siap bu.”

“Nah, begitu. Aku nggak suka bawahanku orangnya workaholic semua.”

“Oh, begitu.”

“Malam Minggu ada acara?”

“Hmm?? Maksudnya?”

“Kamu kosong nggak malam minggu?”

“Biasanya sih, nggak. Cuma jagain ibu sama saudara-saudara saya di rumah.”

“Kepengen nonton film di 21. Ada film bagus. Temenin aku yah.”

“Err…gimana yah.”

“OK, jam 5 sore aku tunggu di Matos.”

“Lho, bu, saya belum bilang mau.”

Andini tidak menghiraukannya. Ia sudah masuk ke ruangan kerja. Arci hanya menghela nafas.

“Mateng aku”

Perasaannya sekarang ini campur aduk. Apalagi dideketi oleh bosnya seperti ini. Memang banyak cewek dulu yang mendekati dia. Tapi ia selalu bisa menolaknya dengan halus. Nah, bagaimana menolak bosnya sendiri seperti ini? Apakah ia harus move on dan melupakan janjinya dulu? Lagipula ia sudah pindah ke Malang, mana mungkin juga Ibu Susiati bakal tahu di mana dia berada. Tapi yang namanya orang kaya seperti Bu Susiati pasti bisa membayar orang untuk melacak dirinya dan keluarganya. Arci lagi-lagi menghela nafas. Ia tak tahu harus bagaimana. Tapi ini adalah janji, dan ia harus bisa menolak halus atasannya itu walau bagaimana pun juga. Tapi jujur sebagai seorang lelaki normal ia juga terpesona dengan kecantikan Andini.

Sementara itu tiga gelas es campur buah yang sudah meleleh dibiarkan begitu saja di meja kantin. Tiga gadis yang nimbrung di meja kantin tadi meninggalkannya dan kembali kepada aktivitasnya masing-masing. Perasaan mereka tentu saja kecut, tak semanis es yang tadi mereka pesan. Saingan mereka berat. Saingan mereka adalah bos mereka sendiri.

Es campur, es campur, mubadzir banget.

Arci sudah berada di kamarnya sore ini. Besok hari sabtu dan minggu kantornya libur. Tapi besok juga adalah hari yang nggak ingin ia hadapi. Sebuah janji yang terpaksa diiyakan olehnya telah ia sanggupi. Arci tak habis pikir kenapa ia sampai mengiyakan. Tidak, sebenarnya ia tidak mengiyakan, hanya tidak menjawab. Kamarnya yang berukuran 2×3 meter ini serasa sempit untuk bisa membuat dia berpikir. Udara Malang cukup dingin malam ini, bahkan dengan jendela tertutup pun masih terasa.

Sejujurnya ia tak pernah cerita kepada ibu dan kakaknya tentang kejadian di hotel itu. Yang jelas, mereka tahu bahwa Arci bisa menghasilkan uang. Itu saja. Dan selama ini Arci bekerja mati-matian untuk mereka agar mereka tidak melacur lagi. Uang kontrakannya pun baru dibayar separuh, sisanya menyusul. Arci yakin gajinya nanti bisa untuk menutupi hutang-hutang ibu dan kakaknya. Dan Arci melarang kalau sampai mereka membayar hutang-hutang itu dengan tubuh mereka.

“Kalau kalian kepengen, aku bisa memberikan. Tapi aku mohon kalian jangan melakukannya lagi. Jangan menjual diri!” itu yang selalu dikatakan Arci kepada ibu dan kakaknya. Ya, dia tahu itu hal tabu. Bahkan di beberapa negara lain incest adalah perbuatan yang melanggar hukum dan pelakunya akan dipidana. Tapi di negara Indonesia, beda. Asal suka sama suka, hukum tak bisa menjerat. Emang negara ini agak sedikit kacau dalam soal ini. Penjeratan hukum hanya untuk mereka yang melakukan pelecehan seksual, bukan atas hubungan seperti ini.

Pemuda ini kemudian memejamkan matanya. Ia tak mau memikirkan dulu hal ini. Apa yang akan terjadi nanti, ia ingin mencoba untuk menikmatinya. Biarkan seperti air yang mengalir.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Matos, Malang Town Square. Sebuah mall yang megah di Malang. Mungkin termegah pertama kali waktu itu setelah Sarinah. Kali ini Malang dijejali dengan mall-mall yang tak hanya satu dua, tapi banyak mall-mall yang berdiri. Letak Matos cukup strategis. Selain di sebelah pemukiman elit, Matos juga dikerubuti oleh kampus dan lembaga pendidikan lainnya. Tak heran anak muda banyak yang mampir ke sini. Di sebelah utara ada makam pahlawan, di sebelahnya juga baru ada sebuah mall yang lebih megah, namanya MX Mall. Walaupun mall ini megah, tapi masih sedikit stand-stand yang ada di sini. Tapi yang menarik adalah ada sebuah stand yang sudah disewa oleh Apple. Hanya saja, kapan digunakan masih tidak ada kabar sampai sekarang.

Arci dan sepeda motor. Itu adalah pemandangan yang tidak pas sebenarnya. Mengganggu. Orang secakep itu naik sepeda motor bebek? Apa kata dunia. Tapi itulah yang terjadi. Hidup memang kejam, mungkin dengan kekejaman itulah akan muncul suatu rahmat yang entah dari mana. Arci sudah sampai duluan setelah masuk dan menerima karcis parkir. Andini duduk di food court menunggu dia. Food Court ada di lantai dua, satu lantai dengan play ground dan cineplex 21. Beberapa stand juga memenuhi tempat ini seperti stand toko boneka, batik, dan time zone yang letaknya tepat persis di sebelah teather.

Selama perjalanan ia terus saling kirim BBM ke atasannya ini. Begitu sampai di Food Court Arci menyapu pandangannya. Dia pun melihat Andini sedang duduk sendirian sambil fokus ke ponselnya. Dia begitu spesial, karena sekalipun dia duduk di meja, tapi tak ada orang yang mau mendekat, padahal wanita secantik itu bisa duduk dengan gaun berwarna biru yang menampakkan kulit halusnya. Kali ini Arci menelan ludah.

“Cantik banget ya bosku ini,” gumam Arci.

Andini mendongak dan melihat-lihat ke semua arah. Begitu pandangan mereka bertemu, Arci segera melambai. Andini tersenyum. Semua mata lelaki melihat ke arah Andini. Mereka berandai-andai kalau bisa, jadi kursi yang diduduki oleh Andini. Andini kembali tersenyum, hal itu seolah-olah seperti ada cupid yang memanah langsung ke hati Arci.

“Oh tidak, jangan. Ini tak mungkin,” ujar Arci dalam hati. “Jaimput, koq aku deg-degan gini!?”

Andini kemudian berdiri. Arci bisa melihat beberapa orang yang kepalanya ikut naik ketika Andini berdiri. Beberapa di antara mereka geleng-geleng saja. Andini memakai gaun panjang warna biru. Sepatunya high-heels bermerk. Dia menenteng sebuah tas kecil. Hal itu membuat ia semakin terlihat anggun. Kontras dengan Arci berpakaian kaos berkrah hitam, celana jeans dan memakai sandal.

Andini menghampirinya. “Jadi, kamu telat lima menit.”

“Ayolah, di parkir tadi ngantri,” Arci beralasan.

“No excuse, kamu telat. Harusnya datang lebih awal.”

“Iya deh bu, iya.”

“Jangan panggil ibu, kalau di luar kantor panggil saja Dini.”

“OK, Din. Eh, nggak enah manggil Dini.”

“Kenapa?”

“Mirip suara klakson.”

Andini ketawa. Arci lagi-lagi mengumpat dalam hati, buset dah ini bosnya. Ketawanya bisa bikin hatinya rontok. Arci jadi nyengir.

“Nama lengkapku Andini Maharani. Terserah deh, mau panggil apa.”

“Oke, Din. Dini aja. Biar selalu ingat kamu kalau aku nekan klakson,” kata Arci. Hal itu membuat Andini ketawa.

“Udah ah, perutku sakit nanti kalau ketawa terus ama lelucon kamu,” ujar Andini sambil megang perutnya.

“Trus, jadi nih?”

“Nggak usah pake boso resmi lapo? Biasa wae. Niatnya kan emang uklam-uklam.” Andini mulai berjalan berdampingan dengan Arci.

“Habis itu nakam oskab? Tapi aku yang traktir kali ini,” kata Arci.

“Yuk!”

Tak ada yang tahu bagaimana Arci bisa sedekat itu dengan Andini. Dalam hati Andini sangat senang sekali bisa bersama dengan Arci. Andai Arci tahu siapa dirinya apakah bisa seperti ini nantinya? Tapi itu semua tak bisa dipungkiri kalau Andini mulai menyukai Arci, bukan saja sekarang, tapi sejak dulu. Dan perjumpaan dengan Arci ini bukan yang pertama. Takdirlah yang akhirnya mempertemukan mereka lagi.

Mereka pun akhirnya melangkah ke teather bioskop. Setelah membeli tiket masuk dan beberapa snack, mereka pun akhirnya masuk ke studio. Untungnya mereka masih kedapatan kursi di deret D. Bisa jadi karena terbaawa suasana, akhirnya Andini pun merangkul lengan Arci, bahkan ketika mereka sudah duduk kepala Andini disandarkan ke bahu pemuda ini. Arci sendiri bingung bagaimana menolak Andini yang sudah sedekat ini dengan dirinya. Akhirnya tak ada yang bisa ia lakukan. Ya, tak ada yang bisa ia lakukan.

Film pun dimulai. Selama pemutaran film itu, kedua insan ini menikmatinya. Tertawa ketika lucu, dan tegang saat ada adegan actionnya. Arci agak canggung, tapi kecanggungannya hilang begitu saja. Semuanya mengalir begitu saja saat Arci menoleh ke arah Andini. Adegan di layar memperlihatkan bagaimana dua insan berciuman, saat itu seperti ditarik oleh magnet Arci dan Andini pun sudah berciuman. Keduanya saling mengecup. Arci bisa menghirup bau parfum Andini yang sangat wangi, bibirnya yang lembut itu seperti marshmallow. Kalau biasanya ia hanya melihat sekarang Arci bisa merasakannya.

“Din, rasanya ini terlalu cepat,” bisik Arci.

“Tak ada yang terlalu cepat. Semuanya memang seperti ini,” bisik Andini.

“Maaf, aku tak bisa melakukannya,” kata Arci mulai menjauhkan wajahnya.

Tangan Andini memegang pipi Arci dan mengarahkan wajahnya agar menatap ke Andini, “Katakan kamu mencintaiku.”

“Aku…,” mulut Arci seperti tercekat. Ia takut untuk meneruskan hubungan ini. Ia sangat takut. “Aku tak bisa Din. Bukan berarti aku tidak suka, kamu cantik, anggung, semua pria pasti memimpikanmu, tapi…. aku tak pantas buatmu.”

“Arci…,” panggil Andini dengan nada manja. “Tak apa-apa, aku akan menerimanya.”

“Tidak, kamu tak tahu siapa aku. Maaf, aku harus pergi. Kita tak boleh seperti ini!” kata Arci. Dia berdiri, lalu pergi dari tempat dia duduk.

Andini beranjak ia mengikutinya. Dengan terpaksa sekali mereka harus keluar padahal film belum usai. Arci berjalan pelan di depan. Sepatu hak Andini terdengar setiap kali Arci melangkah. Arci menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat Andini. Tubuh semampai, cantik, memakai gaun biru. Siapa yang bakal menoal jalan dengannya? Andini tidak menampakkan ekspresinya. Hal itu makin membuat Arci bersalah.

“Maafkan aku,” kata Arci.

“Tak apa, mungkin memang aku seperti wanita gatel menurutmu.” Andini menghela nafas.

“Bukan, bukan begitu. Jujur aku akui kamu menarik, kamu cantik. Siapapun pasti terpesona kepadamu. Tapi, aku tak mau seperti ini. Kuharap kamu bisa maklum.”

“Kamu gay?”

“Aku normal.”

“Kenapa kamu tidak mau? Aku benar-benar ingin kita bisa jalan.”

“Din, ada sesuatu yang aku tak ingin kamu mengetahuinya. Kumohon. Dua bulan lagi hari ulang tahunku. Dan aku harus kerja keras sampai waktu itu.”

“Ada sesuatu kah?”

“Iya, ada sesuatu.”

“Apa ada wanita lain?”

“Ya, aku sudah janji kepadanya.”

“Oh, katanya kamu tidak punya cewek.”

“Iya, aku memang tidak punya cewek, tapi aku sudah janji kepadanya untuk menikahinya diusiaku 25 tahun nanti. Dan aku punya banyak hutang kepadanya.”

“Tapi Arci…,” Andini ingin memberitahu siapa dirinya. Tapi Arci memotongnya.

“Kumohon, beri aku waktu sampai saat itu tiba. Aku tak ingin mengecewakanmu, tapi ini terlalu cepat dan aku tak bisa. Aku… ya aku akui aku suka sama kamu. Aku sangat bersyukur punya bos seperti dirimu, tapi kuharap kita tak terlalu cepat.”

Andini menghela nafas. “Baiklah, tapi bukan berarti kita tak bisa bersahabat bukan?”

Arci tersenyum. “Tentu saja.”

Andini mendekat ke Arci dan mengulurkan jari kelingkingnya. “We are still friends then. Until you findished you bussines.”

“Yeah, friends.” Arci mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Andini. Sebenarnya ingin sekali Arci merengkuh Andini tapi cukuplah mereka berciuman hari ini. Jangan lebih dari itu.

“Jadi nakamn oskab?” tanya Andini.

“Aku traktir.”

“Siapa takut.”

Mereka pun berjalan bersama untuk mencari bakso terenak di kota Malang. Ya, kota yang sangat terkenal dengan kuliner baksonya. Mulai dari bakso biasa, bakso bakar bahkan bakso berbagai isi ada di sini. Cara penyajiannya pun beragam. Hal ini membuat kota Malang memang terkenal dijuluki kota Bakso.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Sementara itu sebenarnya di dalam bioskop tadi Rahma, Nita dan Sonia melihat Arci dan Andini. Mereka terkejut ketika mendapati dua orang itu bisa ketawa-ketiwi sambil beli tiket. Mereka bertiga benar-benar kalah dalam hal pakaian. Pakaian Rahma, Nita dan Sonia cukup casual, berbeda jauh dengan Andini yang memakai gaun menawan. Seluruh mata lelaki tertuju ke Andini daripada ke mereka bertiga. Rasanya membandingkan antara putri raja dengan kacung.

“Eh, ternyata beneran Bu Dini sama Arci nonton bareng. Waduuuhhh…..remuk deh hatiku,” kata Rahma.

“Eh, eh, mereka koq bisa gandengan seperti itu?! Nggak boleh, nggak boleh. Ini pelanggaran namanya. Gimana bisa. Woi, kalian jadian aja belum koq sudah pegang-pegang!” bisik Nita.

“Kalau kamu ngomong sebaiknya di depan mereka saja!” kata Sonia sewot.

Ketiga gadis ini melihat dua orang itu dari jauh. Mereka tak berani untuk mendekat atau sekedar menyapa. Tapi memang bagi mereka ini peristiwa langka. Orang seperti Andini yang selama ini tak mau dekat dengan cowok, bisa sedekat itu dengan Arci, mana Arci juga cowok paling tampan di kantor. Rasanya dunia serasa mau kiamat. Ketiga gadis ini seolah-olah tak ada lagi kesempatan buat mereka untuk menang.

Ketika pintu teather dibuka mereka pun masuk agak akhir setelah Arci dan Andini masuk. Ketiga gadis ini masih menjaga jarak agar tak ketahuan. Dan surprise, mereka duduk di atas Andini dan Arci.

“Gilak, koq ya pas ya duduknya di bawah kita,” bisik Rahma.

“Apa menurutmu mereka berdua udah jadian?” tanya Nita.

Rahma dan Sonia mengangkat bahu mereka.

Selama menonton film mereka juga sibuk menonton kedekatan Andini dan Arci.

“Eh, eh, itu kepala kepala kepala!” bisik Sonia.

“Kenapa?” tanya Rahma.

“Kepalanya mereka koq nempel?” kata Sonia.

Saat itu Andini dan Arci sedang berciuman. Dan benar seperti dugaan mereka bertiga. Arci dan Andini berciuman saat itu. Tak berapa lama kemudian Arci beranjak meninggalkan Andini. Andini kemudian menyusul. Rahma pun berinisiatif menyusul mereka sambil menjaga jarak. Nita dan Sonia awalnya berpadangan tapi akhirnya mengikuti Rahma.

Ya, mereka bertiga mendengarkan semua percakapan Andini dan Arci. Itu artinya Rahma dan kawan-kawannya masih punya kesempatan untuk mendekati Arci.

“Syukurlah, mereka nggak jadian,” kata Rahma setelah mendengarkan percakapan mereka di lorong EXIT dari teather.

“Iya, nggak jadian, tapi bikin penasaran. Janji Arci itu kepada siapa?” gumam Nita.

“Ada sesuatu nih. Kita selidik yuk!?” ajak Sonia.

“Eh, apa baik nyelidiki seperti itu? Takutnya itu urusan pribadi Arci. Nggak baik kalau kita bongkar-bongkar,” kata Rahma.

“Yee, aku bukannya bongkar. Cuma penasaran saja. Pasti ada sesuatu dengan diri anak baru itu. Pesonanya memang luar biasa, tapi… ada yang aneh aja sih,” lanjut Sonia.

“Oke deh, setuju,” kata Nita.

“Girls..yang bener aja!” Rahma tak setuju.

“Ayolah non, kalau misalnya Arci itu orang baik-baik, kita nggak bakal rugi kan suka ama orang baik? Tapi kalau orang yang jahat, baru deh silakan kita kasih tahu ke Bu Dini,” kata Sonia.

“Koq gitu?” tanya Rahma.

“Hello, Bu Dini itu atasan kita. Dia juga wanita. Masa’ kita nggak ngasih tahu hal itu kalau memang itu baik buat Bu Dini. Kalau misalnya Arci bukan pemuda baik-baik, yang rugi bukan cuma Bu Dini, kita-kita juga,” lanjut Sonia.

“Ah, kamu benar. Nggak ada salahnya juga kita selidiki siapa itu Arci,” kata Nita.

Rahma menghela nafas. Ia tampaknya tak bisa mencegah teman-temannya ini. “Terserah kalian deh.”

“Nah, gitu dong. Oke, kita gerak yuk!”

“Aku balik ah, mau nonton lagi,” kata Rahma sedikit mendongkol karena cowok idamannya akan distalking oleh kedua sahabatnya.

“Ayolah nooon…jangan sewot begitu!” Sonia kepengen membujuk Rahma. Nita pun mengikuti.

* * * * I LOVE YOU HANDSOME * * * *

Di sebelah MX Mall ada sebuah pujasera, dikenal sebagai Pujasera UB. Di sini banyak warung-warung yang menawarkan berbagai macam kuliner. Saat itu Andini dan Arci menikmati makan bakso di salah warung ini. Mereka mengobrol banyak hal. Tapi seperti biasa Arci merasa tertutup. Ia tetap tak mau membuka tabir tentang dirinya. Andini tak ingin memaksa Arci. Ia tahu beban yang dibawa oleh Arci sangat berat.

Setelah kenyang makan bakso, Andini berniat pulang. Arci pun mengantarkannya sampai ke tempat parkir. Adalah bodoh kalau membiarkan wanita secantik ini jalan sendirian menuju tempat parkir yang gelap. Sebagai seorang gentlemen, Arci tak sebodoh itu membiarkan wanita seperti Andini pergi sendirian.

“Baiklah, hari ini sangat menyenangkan,” kata Andini saat mereka akan berpisah.

“Sorry atas ciuman tak terduga tadi,” kata Arci.

“Halah, nggak usah dipikirin, anggap aja bonus.”

“Bonus? Bonus yang kane ilakes”

Andini memukul bahu Arci. Arci tertawa.

“Kamu tak perlu tertutup kepadaku, katanya aku sahabatmu?”

“Yeah, aku belum siap. Aku tak mau ketika aku ceritakan siapa diriku, kamu akan berempati kepadaku. Aku tak mau. Aku cowok, aku kuat. Aku bisa menghadapi segalanya. Sekalipun aku seorang diri.”

“Jangan sok kuat, terkadang kamu butuh seseorang untuk menumpahkannya.”

“Sekarang aku masih sanggup.”

Andini tersenyum. “OK, met malem. Sampai ketemu Senin?”

“Iya, sampai ketemu Senin. Have a sweet dream.”

“You too.”

Andini menghirup nafas dalam-dalam. Setelah menghela nafas ia kemudian beranjak meninggalkan Arci. Arci hanya bisa melihat Andini masuk ke mobilnya, kemudian ia melambai kepada wanita itu. Setelah mobil Andini pergi ia hanya bisa mengumpat ke dirinya sendiri.

“Fuuucckk! Apa itu tadi?” katanya. “Kenapa aku jadi suka ama dia. Bu Susiati, Iskha. Janjiku kepada kalian… apakah harus aku ingkari?”

Arci kemudian berjalan menuju ke tempat parkiran sepeda motor. Hari itu ia pulang dengan perasaan galau. Galau yang tak terkira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*