Home » Cerita Seks Kakak Adik » i Love You Handsome 2

i Love You Handsome 2

Lian Larasati, seorang wanita yang rela menjual dirinya untuk sesuap nasi. Perjalanannya berliku-liku mulai dari gadis kampung, kesasar di jalanan ibu kota hingga akhirnya ketemu mucikari, kemudian jadilah dia melayani pria hidung belang. Dia juga bukan pelacur biasa yang bisa dibayar oleh sembarangan orang. Dan sebenarnya ia sangat protektif, kecuali ketika mabuk. Dia boleh dibilang orang yang tidak tahan minum minuman beralkohol. Karena itulah tiga anak yang dia hasilkan adalah karena mabuk. Ya, dia mabuk karena melayani sang klien, setelah itu jadilah. Sekalipun kehidupannya kelam. Tapi sebenarnya Lian punya sisi kemanusiaan. Dia tak ingin menggugurkan kandungannya. Baginya hidup itu harus dihargai, baik atau buruk, mulia atau hina. Dosa seorang ibu tak bisa diturunkan kepada sang anak. Ketika Safira dewasa, dia memberikan keputusan kepada Safira. Ingin mengikuti profesinya ataukah tidak. Dan Safira pun mengikuti sang ibu.

Ah, aku hanya seorang wanita yang lemah, pikir Safira.

Safira putus sekolah ketika SMA. Ia menghabiskan hidupnya tiap hari untuk membantu ibunya mengurus rumah, mengurus segala hal. Bahkan ketika Arci lahir. Hampir semua kesibukan rumah tangga Safira yang mengurus. Menerima fakta bahwa ibunya seorang pelacur awalnya membuat dirinya sakit, dicemooh oleh para tetangga, dihina oleh masyarakat. Bagi Safira menerima keadaan seperti ini sangat sulit pada awalnya.

Safira sangat cantik, dengan wajah manis, bibir tipis lembut, rambut lurus sebahu sudah jadi modal utama dia sebagai wanita panggilan. Dia pertama kali menjual keperawanannya kepada seorang pengusaha kaya raya yang mempunyai mobil lima, rumah gedong seharga 3 milyar dan dua pabrik makanan. Itulah pertama kali Safira merasakan yang namanya sex. Dan untungnya dia mendapatkan klien yang baik.

Safira tentu ingat, ketika ia menawarkan keperawanannya di internet. Awalnya orang-orang mengira itu bohongan. Siapa yang bisa menjamin kebenaran dari sebuah situs yang tidak jelas, tiba-tiba menampangkan wajah seorang ABG usia 17 tahun yang sama sekali tidak pernah terpikirkan untuk menjual keperawanannya? Dia melelang dirinya, ya melelang dirinya. Awalnya ada orang iseng membelinya seharga 500.000,-. Whaat? Keperawanan dijual dengan harga segitu? Yang benar saja.

Ya, yang benar saja.

Untunglah tidak lama kemudian penawaran naik. Dari 500.000,- menjadi 5.000.000,-. Hingga akhirnya orang kaya yang diketahui bernama Agus Trunojoyo membelinya seharga 125.000.000,-. 125 juta bukan angka yang kecil bagi orang seperti Safira. Seharusnya memang ia bisa mendapatkan lebih banyak. Tapi kalau hanya untuk mengeluarkan uang lebih dari 125 juta, mending nikah resmi saja nggak sampai mengeluarkan mengeluarkan uang segitu. Mungkin juga itu adalah keberuntungan bagi Agus mendapatkan keperawanan Safira waktu itu.

Agus bukan orang tampan. Ia orang Jawa, rumahnya di Cilacap. Punya pabrik di Sumedang dan Cirebon. Agus punya seorang istri yang bahenol. Siapapun pasti tergoda kalau melihat istrinya yang seksi, dengan pakaian ketat dan sering menebar pesona itu. Namun satu yang Agus tak pernah dapatkan dari istrinya. Keperawanan. Ya, dia menikah dengan istrinya dalam keadaan sang istri sudah jebol. Tapi memang ia sangat mencintai istrinya, dan mau menerima istrinya apa adanya. Awalnya ia mengatakan itu, tapi lama-lama juga nggak bisa.

Lumrah sebagai sisi kemunafikan manusia, mereka akan lebih memilih sesuatu yang indah. Dan Agus akhirnya mengakui dia kepengen merasakan memek seorang perawan. Istrinya sebenarnya orang yang sangat setia. Tapi boleh dibilang sang istri ini sedikit eksib. Mungkin Agus tak tahu kalau Nyonya Agus pernah main mata dengan satpam rumahnya, ataupun tukang kebun yang ada di rumahnya. Tapi itu semata-mata hanya kebutuhan seksual yang ingin dipuaskan. Apalagi sang suami tak bisa memberikan fantasy yang ia inginkan. Tetapi, Nyonya Agus ini sangat setia. Dan ia sangat mencintai suaminya walaupun dengan cara yang aneh.

“Bagaimana menurut mama?” tanya Agus ketika memperlihatkan Safira yang menjual keperawanannya di tabletnya.

“Maksudnya apa pa?” tanya Nyonya Agus.

“Maksudnya, papa ingin merasakan memek perawan,” jawab Agus blak-blakan.

“Pa, papa gila ya?”

“Ayolah ma, mama masa’ mau enak sendiri nyobain burung laki-laki lain selain papa? Papa juga kepengen ma merasakan perawan. Lagipula ketika kita nikah mama sudah nggak perawan kan?”

“Tapi pa, masa’ harus dia sih? Kaya’ bukan perempuan baik-baik.”

“Emangnya harus? Mama sendiri apa yakin kalau Jono si tukang kebun kita itu orang baik-baik?”

Nyonya Agus merasa bersalah ketika kemarin kepergok main dengan Agus di ruang tamu. Tapi Agus hanya melengos sambil berkata, “Teruskan saja, habis ini kita bicara!”

Inilah pembicaraan itu. Dan Nyonya Agus menyesal ketika mengetahui keinginan suaminya ingin membeli keperawanan Safira. Nyonya Agus merasa tak ada yang kurang dari suaminya. Tapi ia sadar mengkhianati sang suami dengan cara seperti itu bagi dirinya suatu kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Tapi nyatanya suaminya membiarkan dirinya.

“Baiklah, mama setuju.”

“Nah, gitu. Tapi setelah ini, kalau mama kepengen ngentot ama orang lain, papa harus tahu. Nggak kaya’ tadi! Sebab memek mama cuma buat papa.”

“Iya deh, iya deh, mama minta maaf.”

Agus kemudian mencium istrinya. Awal mulanya Agus ingin mencumbui sang istri, namun yang terjadi adalah lima menit kemudian mereka telanjang. Agus berdiri dan istrinya duduk di sofa sambil mengulum penis suaminya yang sudah keras mengacung. Agus meremas rambut istrinya yang berombak sambil menekan-nekan agar penisnya bisa masuk ke dalam mulut istrinya lebih dalam lagi.

Tubuh Nyonya Agus semok, bukan gendut. Bokong putih bahenol, kulit mulus terawat karena melakukan perawatan spa setiap minggu, tak lupa senam aerobik rutin. Agus tentu saja memuja istrinya itu, terlebih buah dada padat menggantung mengisyaratkan pemiliknya benar-benar orang yang beruntung. Lidah sang istri meliuk-liuk bagai lidah ular menggelitik titik-titik rangsangan sang suami. Dan tak usah ditanya bagaimana profesionalnya sang istri menyedot-nyedot pare berotot milik Agus.

Agus tentu saja puas. Kini giliran sang istri diberikan kepuasan. Memeknya sudah banjir. Agus tahu sudah berapa banyak penis yang masuk ke dalam memek istrinya. Apalagi istrinya mengatakan bukan kali ini ia melakukan hubungan itu dengan seorang lelaki. Sekalipun memek istrinya sudah dijebol oleh bermacam-macam bentuk pare, entah bengkok, panjang, kurus panjang, gemuk pendek, tetap saja kemampuan jurus kempot-kempot miliknya tak kalah dengan wanita panggilan yang terkadang juga ditiduri oleh Agus.

“Ah, iya pah. Aahhhkk! Papah emang hebaaatt….aaahhkk! Terus paaah…iya, itu itil mamah! Itil mamah aahhh….!”

Sekali pun Agus tak mampu memberikan fantasy seperti yang diinginkan tapi jujur, oral sex yang dilakukan sang suami lebih hebat dari seluruh selingkuhan yang pernah tidur dengannya. Nyonya Agus mengakui sendiri.

“Aahhkkk..! Papah edaaaann! AAhhkkk…paah…aduh paaa…hhmmhh…. jangan digigit…awww..Heegghh!”

Agus tak mempedulikan. Emang siapa peduli? Yang dia inginkan adalah agar istrinya bisa orgasme sebelum mereka bertempur dengan pertempuran yang sebenarnya. Tak perlu nunggu lama, Nyonya Agus sudah mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Dari kemaluannya muncratlah lendir-lendir kenikmatan.

“Aaaahhhkkk! Papah emang hebat oralnya. Mama pasti nyerah kalau dioral,” ujar sang istri.

Agus tak butuh waktu lama untuk melakukan penetrasi. Dia sudah ada di atas tubuh sang istri dan mulai melesakkan pare berototnya ke dalam liang senggama. Agus menggenjot tubuh bahenol itu dengan kuat. Hentakan-hentakannya membuat Nyonya Agus keenakan. Tak perlu waktu lama bagi Agus untuk bisa menyudahi permainannya. Semburan maninya ke dalam memek istrinya benar-benar banyak. Nyonya Agus pun terkapar di atas sofa setelah di KO oleh suaminya.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Safira duduk dengan wajah menunduk. Ia dan Agus janjian ketemu di sebuah hotel. Dan di dalam hotel itu ada dia, ibunya dan tentu saja Agus. Agus menyerahkan uang dalam amplop coklat kepada sang ibu. Safira menoleh kepada ibunya sesaat. Ia tahu ini salah, sangat salah. Bagaimana mungkin sang ibu mau menjualnya begitu saja kepada lelaki hidung belang ini? Tapi bukankah ini juga adalah keputusannya?

Awalnya ia ragu. Tapi setelah melihat wajah ibunya yang juga tidak tega, akhirnya ia pun tak ragu lagi. Siapa yang bakal rela menyerahkan sang anak kepada orang lain hanya untuk segepok uang. Tidak ada. Dan kalau pun ada mungkin orang itu sudah gila. Tapi kata-kata RELA agaknya harus dibuang jauh-jauh. Keahlian apa yang dimiliki sang ibu? Terlebih sekarang ini Arci sudah akan masuk sekolah. Lian menaruh harapan besar kepada anak laki-lakinya itu. Ia ingin agar anak laki-lakinya menjadi orang yang berguna, berbeda dengan dirinya kelak.

Safira kemudian berdiri mematung di kamar itu. Ibunya sudah pergi. Di hadapannya ada Agus, seorang lelaki yang usianya sudah menginjak kepala 4. Wajahnya pas-pasan. Kalau misalnya orang yang tampan seperti Brad Pitt itu punya wajah ganteng bahkan ada kembalian, kalau dia itu pas-pasan. Tahulah bedanya. Rambutnya sedikit ikal, kumisnya tipis. Tapi percayalah, Nyonya Agus menganggapnya sebagai lelaki paling tampan di dunia. Tapi itulah yang namanya cinta, orang bilang cinta itu buta.

Malam itu Safira memulai prosesi pecah perawannya. Untuk mengurangi rasa canggung, Agus mengajaknya mandi bersama. Safira berusaha menahan malu. Tapi memang dasar Agus yang sudah berfantasi sejak lama. Ia memperlakukan Safira dengan baik. Ciumannya di bibir sang gadis pun dibuat selembut mungkin. Di kamar mandi mereka saling menyabuni tubuh masing-masing. Dan Safira pun dibelai, tubuhnya digerayangi, diratakannyalah sabun itu diseluruh tubuhnya, buah dadanya, punggungnya, kakinya. Agus sungguh sangat terampil untuk bisa merangsang birahi gadis 17 tahun itu.

Pentil gadis itu mengacung bak bambu runcing. Agus pun memelintir-melintir puting kecil keras berwarna coklat muda. Buah dada Safira yang kenyal pun diremas-remasnya. Sementara itu Safira untuk pertama kali dalam hidupnya memegang pare berotot. Karena masih kaku maka Agus memakluminya. Safira mengocoknya tak beraturan, namun lambat laun ia dapatkan iramanya sendiri. Agus benar-benar menahan diri agar tak langsung to the point. Sebab, gadis ini masih segelan, masih belum tahu dunia esek-esek. Maka dia harus memberikan malam terbaik untuknya.

Safira mulai berbaring di ranjang. Dia hanya memakai handuk, bahkan bau wangi sabunnya masih terasa.

“Om, jujur aku takut,” kata Safira.

“Nggak apa-apa rileks aja yah?” tanya Agus.

Safira kemudian memejamkan matanya. Agus sudah melepaskan handuk yang membelit pinggangnya. Dia mulai membuka handuk yang menutupi tubuh Safira. Dibelainya rambut di kening gadis yang akan diperawani itu. Lambat tapi pasti ciuman pun mendarat di bibir Safira. Safira sekali lagi merasakan bagaimana dengan begitu sabar dan telatennya Agus memperlakukan dirinya.

Buah dada Safira mulai jadi sasaran tangan jahil sang hidung belang. Safira membuka mulutnya dan lidah mereka saling menghisap. Safira dari sini mulai faham bagaimana rasanya french kiss, ia juga tahu bagaimana memperlakukan Agus dengan baik. Tangan kanannya sudah menangkap burung perkutut berbulu keriting lebat di selakangan Agus. Lelaki ini sudah tegang, siapa yang tidak tegang melihat tubuh mulus Safira. Mereka pun berpelukan. Agus mulai menciumi pipi, lalu leher Safira, beranjak ke bawah menuju ke bukit kembar yang kenyal. Mulutnya pun menangkap puting yang mengacung. Sungguh itu puting benar-benar mengajak berantem.

Safira menggeliat, dia mulai gelisah. Antara risih, geli dan birahi. Tiga kombinasi rasa yang pas. Tangan Agus mulai nakal, karena sudah menggelitiki klitoris cewek ini.

“Ahhhkk..! Omm…geli ommm!” kata Safira.

Agus tak mempedulikannya. Ia terus menyedoti kedua buah dada Safira. Ia bagaikan bayi yang baru lahir, menyusu kepada induknya. Walaupun tak keluar ASI tapi sungguh buah dada itu benar-benar sekal. Benar-benar mantab, lebih mantab dari kopi yang iklannya saja seolah-olah susunya paling mantab. Agus pun mulai mencolok-colok liang senggama Safira yang sudah mulai becek.

Safira sekarang mulai dikejar oleh sesuatu yang tak terlihat, kita menyebutnya nafsu. Nafsunya mulai terbakar. Baru kali ini ia merasakan bagaimana diperlakukan oleh seorang laki-laki. Lama-lama ia suka dengan perlakuan Om-om yang wajahnya yah, tak bisa disamakan dengan foto model atau coverboy. Biarpun begitu dia tajir, punya pabrik, mobil banyak, dan keperawanannya dibeli dengan uang 125 juta. Paling tidak uang itu bisa menyambung hidup. Agus sungguh bernafsu sekali dengan tubuh Safira. Ia pun kemudian mulai beranjak menindih Safira. Kepala penisnya sudah mulai menyentuh belahan memek Safira yang berlendir.

“Omm…pelan-pelan yah!” kata Safira.

“Tentu saja sayang, tentu,” ujar Agus.

Kembali kedua mata mereka bertemu. Agus sudah menempatkan kepala penisnya di ujung lubang kemaluan Safira. Agus perlahan-lahan menempatkan penisnya agar pas. Safira menggigit bibir bawahnya. Ia memejamkan mata menunggu saat di mana penis lelaki ini menyeruak masuk. Safira tersentak ketika kepala penis yang keras itu mulai masuk.

“Omm…sakiiiitt!” Rintih Safira.

Agus menghentikan aksinya. Ia menciumi Safira. Bibir mereka berpagut lagi. Agus cukup sabar. Disaat Safira rileks ia mendorong sedikit. Ketika terjadi penolakan Agus bersabar. Sungguh sekarang ini kalau Agus tidak berusaha menahan dirinya, mungkin ia sudah keluar begitu masuk ke dalam memek Safira. Ia cukup sabar menahan rasa empot-empot yang dilakukan oleh memek Safira.

Agus lagi menekan, perlahan-lahan hingga tak terasa sudah penuh. Safira merasakan ngilu yang luar biasa. Ia pasrah. Kini keperawanannya telah dilepaskan. Agus merasakan telah merobek kemaluan Safira.

“Omm… itu masuk semua?” tanya Safira lirih.

“Iya, masuk semua. Enak banget memekmu,” kata Agus. “Aku goyang yah?”

Safira mengangguk.

Akhirnya bergoyanglah pinggul lelaki ini naik turun. Agus benar-benar merasakan sensasi yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Memek Safira lebih legit, lebih nikmat dan lebih mencengkram daripada memek istrinya. Tentu saja.

“Ahhh…Fira, peret banget ahhh… Om jadi ketagihan kepengen genjot terus,” rancau Agus.

Safira nggak tahu harus bicara apa. Di saat seperti ini memeknya lambat laun perihnya hilang. Hanya rasa geli campur nikmat yang terasa. Rasanya seluruh syarafnya membuat dia terbius, terbius akan enaknya hubungan persenggamaan ini. Luar biasa nikmat. Tiba-tiba saja sesuatu menjalar di pinggangnya, lalu dadanya, beranjak ke otaknya. Apa ini? Dia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Nikmat sekali. Memeknya pun terasa geli. Apakah yang terjadi? Terlebih lagi memeknya serasa becek dan merasa ada sesuatu yang akan keluar.

“Omm…. Fiar ingin pipis.. pipiiiiissssssssss!” keluhnya. Pantat Safira terangkat.

“Ohh….om juga, udah nggak tahan. Ngecroooot! j*nc*k….enak temennnnnn, tempekmuuuuuu…. nyoooohhhh pejuhkuuuuu!”

“AAAHhhhhhhhkkkk! OOmmmm kontol ooomm…..gedheeeeeeeeee….! Anget om ANgeeeettt!”

“Cuuukkkk! Enaaaaaaaakk!….AAAHH!”

Semburan sperma akhirnya membasahi rahim Safira. Sungguh itu pengalaman yang tak akan mereka lupakan seumur hidupnya. Safira semenjak hari itu dia menjadi Wanita panggilan. Menekuni profesi yang sama dengan ibunya.

Karena Lian dan Safira bukan orang yang bisa menabung, kebanyakan uang mereka habis untuk foya-foya dan beli make-up. Maka secepat itu pula akhirnya mereka berhutang lagi. Hutang yang tidak sedikit. Hinga kemudian Arci pun harus menolong mereka ketika ada seorang tante-tante ingin memakai jasa gigolo. Tapi tante-tante ini ingin memilih gigolo yang masih muda, brondong muda yang belum berusia 17 tahun.

Usia 13 tahun menjadi seorang gigolo. Ini adalah kejahatan. Tapi Arci tak ada cara lain. Dia pun melakukannya. Menjual dirinya untuk seorang tante-tante.

* * * I LOVE YOU HANDSOME * * *

Arci berada di sebuah kamar hotel. Kamarnya mewah. Untuk anak remaja seusia dia masih ke kamar ini membuat semuanya canggung. Dia melihat seorang wanita muda gemuk sedang sibuk menerima telepon. Mungkin lebih tepatnya ia mengalami obesitas. Dia melihat ke arah Arci dengan malu-malu. Arci menelan ludah. Apakah wanita ini yang harus ia layani nanti?

“Tunggu sebentar yah, mama sedang pergi. Habis ini mau masuk kamar. Namamu siapa?” tanya wanita itu.

“Arci. Panggil saja Arci,” jawab Arci sambil menelan ludah.

“Aku … Iskha,” jawabnya.

Iskha cukup tambun untuk cewek seusia dia. Sambil membetulkan kacamatanya ia lagi-lagi melihat ponselnya. Arci bingung, mau apa dia sekarang. Berdiri salah, duduk juga salah. Ia pun canggung. Hanya melihat sekeliling. Dinding kamar hotel ini dihiasi oleh wallpaper. Pasti gunanya untuk menyerap bunyi apalagi coba?

TOK! TOK! TOK! Pintu diketuk.

Seorang wanita paruh baya masuk melihat Arci. Apakah ini tante-tante yang dimaksud??

“Eh, sudah datang?” tanya tante-tante ini. “Kenalkan namaku Susiati, ini anakku…”

“Kami sudah kenalan,” kata Iskha.

“Oh, ya sudah,” kata Susiati.

“Maaf sebelumnya, maaf, beribu-ribu maaf.” Arci menundukkan wajahnya.

“Lho, ada apa?”

“Kalau bisa, kalau bisa, tante jangan melakukan ini kepadaku. Aku masih 13 tahun dan…dan aku melakukan ini terpaksa karena lilitan hutang. Untuk biaya sekolah, kontrakan dan bayar hutang. Aku…aku dan keluargaku terpaksa melakukan ini,” kata Arci. “Aku tak punya cara lain untuk bisa menolong mereka. Ketika debt collector itu datang, aku takut. Aku hanya ingin agar ibu dan kakakku sadar itu saja. Bahwa masih ada pekerjaan halal. Masih ada cara, masih ada jalan. Aku….aku…aku tak bisa melakuan ini.”

Susiati dan Iskha terpana. Mereka tak menyangka remaja tampan ini bicara seperti itu.

“Kumohon, kalian boleh memukulku, atau apapun tapi aku tak ingin merusak diriku di sini. Aku tak mau mengikuti jejak ibu dan kakakku. Aku hanya butuh uang itu,” kata Arci.

“Tapi kami bayar kamu mahal lho,” kata Susiati. “Lagipula, ini bukan untuk tante tapi buat anak tante. Dia ingin mencoba. Daripada ngewe sembarangan sama temennya, lebih baik tante sewa kamu. Kamu tahu kan caranya?”

“Saya tahu tapi saya tak mau. Kumohon, kasianilah saya tante, saya tak bisa melakukannya. Saya hanya butuh uang itu.”

“Wahh…ya susah.”

“Saya akan pinjam. Saya akan pinjam uang tante. Nanti suatu saat nanti akan aku kembalikan. Aku akan sekolah setinggi-tingginya. Aku akan jadi orang sukses dan aku akan mencari tante. Kalau perlu aku akan nikahi anak tante ini. Aku janji, aku janji!”

Arci menatap serius ke arah Susiati. Melihat kesungguhan di mata Arci tampak hatinya luluh juga. Iskha tersenyum.

“Mama, kasih saja deh. Dia anak baik. Sudah seharusnya ia melakukan ini untuk keluarganya,” kata Iskha.

“Tapi…ya nggak bisa begini juga kan?” kata Susiati.

“Arci, aku pegang janjimu. Kapan kamu akan kembalikan uang kami dan menikahiku?” tanya Iskha.

“Itu…itu…hmmm….aku tak bisa memberikan waktu pastinya,” jawab Arci.

“Nah, bingung kan?” ejek Susiati.

“Tidak. Aku sungguh-sungguh. Bila nanti aku berusia 25 tahun, aku akan mencari kalian. Aku akan mengembalikan uangnya, dan aku janji akan menikahimu. Aku janji!” mata Arci berkaca-kaca. “Tapi aku tak mau melakukan pekerjaan ini.”

“Hahahahaha,” Susiati tertawa. “Anak yang unik. 25 tahun? Keburu tua nanti anakku”

“Kalau aku tidak bisa menempati janjiku. Aku akan bilang ke seluruh dunia bahwa aku adalah seorang gigolo. Dan aku akan bekerja seumur hidup kepada kalian,” kata Arci.

Mendengar itu Susiati merasa tersentuh. “Baiklah. Pada usiamu ke-25 kamu harus memenuhi janjimu. Kalau tidak, aku akan mencarimu dan menyakiti keluargamu dan kalian akan tampil di surat kabar.”

“Aku janji. Aku janji. Terima kasih. Terima kasih, tante memang baik. Mbak memang baik, aku janji aku akan melamar mbak suatu saat nanti, aku janji akan jadi suami yang baik,” ujar Arci.

Begitulah, sebuah janji yang mengubah semuanya. Janji seorang Arci. Tapi apakah Arci masih ingat akan janjinya ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*