Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 9

Buah Dari Masa Depan 9

“Nnneee…aaaeek…ooouh..oooek! hiks..hiks…”

“Ryuki sayaang, kau sekarang cengeng sekali ha?” mau jadi anak nakal?” Wanita muda itu terus berbcara, tampak kesulitan membuat bayi kecilnya diam. Sesekali ia mengguncang pelan gendongannya sambil berusaha menyusui bayinya yang masih menangis.

“Ooeekkk…aaaeek..oooee’..” tapi sayangnya bayi mungil itu masih terus menangis.

Ruby mendekap tubuh mungil bayinya dengan hangat. “Ssstt… diam sayang, hei kau tau ini sudah malam?” rayu Ruby sambil menimang-nimang Ryuki.

“Hiks… ooee…ooekk..!” masih terus menangis.

‘Tok..tok..tok’

“Ruu?”

Ruby menoleh pintu kamarnya yang diketuk dari luar. “Masuklah Aga, tidak dikunci,” jawab Ruby hafal itu suara Aga.

‘Cklek’ pintu terbuka. Kemudian Aga masuk dengan mengenakan piyama, sepertinya ia terbangun dari tidurnya. “Berisik sekali, Ryuki kenapa lagi?” tanyanya dengan nada bosan, sambil ngeloyor mendekati Ruby.

“Tidak tahu, sekarang Ryuki makin cengeng dan nakal!” Ruby cemberut kesal.

“Jangan bilang begitu, kemarikan biar aku saja yang menimangnya.” Tawar Aga mengulurkan kedua tangannya.

“Hhh… baiklah…” mendengus pelan, dan tanpa ragu Ruby membiarkan Aga menggendong Ryuki, siapa tau Aga beruntung. “Hati-hati,” ucapnya saat Aga menerima bayinya.

“Kurasa aku bisa diandalkan,” jawabnya Aga percaya diri, sekilas membuat Ruby meliriknya bosan. Kemudian Aga menimang Ryuki sebentar, tapi pangeran kecilnya ternyata masih menangis. “Apa dia haus?” tanya Aga sembari menggoyang-goyang Ryuki pelan.

“Tidak, malah kurasa dia sudah terlalu kenyang,” jawab Ruby yakin, tentu saja karena sedari tadi Ryuki sesekali minum ASI-nya disela-sela tangisnya itu.

“Ooh…tapi kenapa kau masih terus menangis? Cengeng yaa anak Ayah?” Aga mencium pelan mulut mungil Ryuki yang terbuka, menghirup aroma khas nafas bayi Ryuki. Entah kenapa melihat Aga selembut itu pada Ryuki membuat dada Ruby sedikit berdegup.

“Oooeee…ummm…ooeekk.”

“Hei, hei…Ini Ayah, diamlah.” Aga masih berusaha membuat Ryuki diam, dengan telaten ia menimang dan memperlakukan Ryuki dengan lembut, ditemani Ruby disampingnya yang wajahnya terlhat sedkt tegang, bukan apa-apa ia hanya agak canggung.

Aga mengusap lembut pipi Ryuki dengan ibu jarinya.”Diamlah Pangeran Ryuki yang tampan, kau mau tetanggamu datang dan marah pada Ayah gara-gara kau berisik?” ujarnya membuat Ruby tersenyum tipis mendengarnya.

ÔÇ£Oeeeekkk! Hiks..ooeek!ÔÇØ alih-alih diam, Ryuki malah menjerit sejadi-jadinya.

ÔÇ£Sudah biar aku saja yang menggendongnya,ÔÇØ pinta Ruby putus asa atas usaha Aga.

ÔÇ£Beri aku kesempatan sebentar lagi,ÔÇØ tolak Aga. Ia masih yakin bisa membuat Ryukinya diam, lagi-lagi membuat Ruby mendengus menyerah.

Masih dengn sabar Aga mencoba membujuk Ryuki, tapi beberapa saat kemudian Aga merasakan perutnya hangat dan Ryuki berhenti menangis. Penasaran Aga meraba perutnya sendiri. “Payah kau ngompol ya!?” pekik Aga dengan ekspresi konyolnya, sedangkan Ryuki nyengir melihat Aga panik.

“Eh? mmh..mmhhh,” Ruby menutup mulutnya dengan telapak tangan, menahan tawa gelinya melihat wajah Aga yang jijik bercampur risih. Kalau saja itu bukan seorang bayi, Aga pasti sudah membantingnya.

“Ruu?! kau mentertawaiku? Apanya yang lucu?!” seru Aga masih dengan ekspresinya yang menurut Ruby sangat konyol.

“Mhh…tidak,” Ruby menggeleng cepat, tapi itu tidak membuat wajah yang jelas-jelas menertawakan Aga itu tersamarkan.

“Lalu apa?” Aga mendesak, ia tak percaya begitu saja.

“Mmmhhahahahah… tidak tidak!” akhirnya tawa Ruby yang sedari tadi ia tahan tak dapat dibendung lagi. Hal itu membuat jantung Aga berdetak keras, baginya ini pertama kali untuknya melihat Ruby tertawa begitu lepas. Sangat manis, cantik dan tentu saja itu sama sekali tidak dibuat-buat.

“Benar kau mentertawakanku kan Ruu?ÔÇØ desak Aga lagi, Ruby masih tertawa. ÔÇ£Kau memang selalu senang kalau aku sial ya!”

“Haaha…haha…sudahlah, kemarikan Ryuki biar aku ganti celananya,” ujar Ruby meraih Ryuki dari gendongan Aga.

Kemudian membiarkan Ruby mengambil alih Ryuki dari tangannya. “Ah…jadi kotor kan, kenapa tidak kau pakaikan diapers?” Aga mengerucutkan bibirnya sebal sambil mengibas-ngibaskan baju bagian perutnya yang basah.

“Maaf Aga diapersnya habis,” jawab Ruby tersenyum geli sembari merebahkan Ryuki ditempat tidurnya, lalu mengambil celana ganti dilemari.

“Ck memalukan sekali, kau itu Nyonya Nugraha. Apa kata orang kalau tau keluarga Nugraha kehabisan popok bayi?” gerutu Aga bersungut-sungut.

Ruby yang membungkukkan badannya ke tempat tidur karena sedang memakaikan celana Ryuki, menoleh dan tersenyum pada Aga.”Iya maaf, besok aku akan membeli popok bayi sebanyak mungkin. Kalau perlu kita beli saja pabriknya, bukan begitu Tuan muda Nugraha yang terhormat?” jawab Ruby bercanda, dibalas cengiran Aga yang khas.

“Aaeehh…uuh..aaeh…” sementara Ryuki senyum-senyum manis mendengar suara kedua orang tuanya.

“Kau senang Ryuki tampan?” ujar Ruby sambil mencubit pelan pipi gembil Ryuki.

“Dasar anak nakal!” sahut Aga, lalu mendekati Ryuki dan naik ketempat tidur Ruby. ÔÇ£Kau senang ya menjahili Ayahmu sendiri?ÔÇØ kemudian mencium gemas pipi Ryuki. ÔÇ£Kalau diingat, Ibumu juga pernah memuntahiku waktu mengandungmu.ÔÇØ Kenang Aga, melirik Ruby yang dibalas Ruby dengan melebarkan matanya.

ÔÇ£Salah siapa menahanku masuk kedalam toilet?!ÔÇØ sahut Ruby membela diri.

“Hehehe…ÔÇØ Aga nyengir lagi menatap Ruby, membuat pipi Ruby memerah. ÔÇ£Yasudah kalau begitu aku tidur lagi ya,ÔÇØ pamitnya, lagipula kenapa harus pamit? Memangnya Ruby peduli? ÔÇ£Kau juga tidur ya,ÔÇØ ucapnya kemudian pada Ryuki, ÔÇ£jangan menangis terus, berisik kau tau?ÔÇØ lanjutnya. padahal Ryuki masih sibuk meraih-raih wajahnya dengan senang. Ryuki terlihat begitu gemas pada Aga.

Aga kemudian bangkit dan turun dari tempat tidur Ruby, sedangkan Ruby masih berdiri menunggu Aga keluar dari kamarnya. Saat melangkahkan kakinya berniat keluar dan segera mengganti pakaianya tiba-tiba.

“HiksÔǪhiks..aaeekk…,umm..” Ryuki menangis lagi.

“Eh…Ryuki? Kenapa lagi?” Ruby naik kekasurnya, mendekati Ryuki yang mulai rewel kembali.

“Menangis lagi ya?” Aga mengurungkan niatnya kembali kekamarnya, kemudian mendekati Ryuki dan Ruby diranjangnya. ÔÇ£Kenapa sih? Apa ada semut ditubuhnya?ÔÇØ tanya Aga heran karena sebentar-sebentar Ryuki menangis. Tapi tiba-tiba saja Ryuki nyengir saat melihat Aga didekatnya.

“Eh?!” Ruby dan Aga saling bertatapan seolah bertanya apa yang terjadi, kenapa Ryuki tiba-tiba diam.

“Ryu-ki? Kau tidak mau aku pergi dari kamarmu ya?” tebak Aga menaikan sebelah alisnya yang tebal.

“Bukan itu maksudnya Aga!” sanggah Ruby sewot, menurutnya Aga terlalu mengada-ada.

“Aku yakin,” jawab Aga, melirik Ruby yang mendelikkan mata hijaunya.

Lalu dengan sengaja Aga mundur beberapa langkah, memastikan bahwa Ryuki menangisi kepergiannya. Dan terang saja, “Uuuh..ihiks…hiks…oooeek…” Ryuki kembali menangis dengan lantang.

“Kau lihat kan? Ryuki tidak mau aku pergi?” pamer Aga senang dan bangga.

“La-lalu?!” Ruby memasang wajah antara mengerti dan tidak mengerti, dia tidak mau hal paling buruk akan jadi solusinya.

Aga bersedekap, iris birunya memutar tanda ia sedang berfikir. Kemudian melirik Ruby disamping kirinya yang menatapnya was-was. Lalu seperti ada lampu yang menyala dikepala jabriknya. “Aku akan tidur disini malam ini!” jawab Aga menatap Ruby tegas, membuat Ruby membulatkan mulutnya tak percaya. Hal buruk yang ditakutinya terjadi juga.

“Apa?! Tidak mau!” tolak Ruby, pipinya langsung memerah.

“Kalau tidak mau kau yang tidur dikamarku!” jawab Aga santai.

“Ap-apa lagi itu?! A-aku tidak mau!” Ruby masih bersikeras, bagaimanapun dia tidak mau satu kamar dengan Aga. Yang benar saja, dia itu mesum dan menyebalkan! Bisa-bisa dia diperkosa lagi, uuuuh! Hal itu memalukan sekali bukan?!

“Lalu bagaimana? Apa aku membawa Ryuki tidur bersamaku tanpamu?” Aga menaikan lagi sebelah alisnya, melakukan penawaran agar Ryuki tidur bersamanya.

“Ja-jangan! Aku tidak mau jauh dari Ryuki, la-lagipula dia harus minum susu!” rengek Ruby gagap. Dan itu semakin membuatnya terlihat manis.

“Lalu bagaimana sebaiknya?” tanya Aga serius, melipat tanganya didepan dada dan menatap Ruby tajam.

Ruby diam sejenak, meremas-remas jemarinya bergantian. Ia gugup, bagimana ya? Lagipula kenapa Aga harus menatapnya tanpa berkedip seperti itu sih, hal itu kan membuat Ruby semakin gugup dan tidak bisa berfikir.

Bagamana bisa Aga tidur satu kamar denganny? Tapi kan demi Ryuki, mungkin tidak apa kalau Aga tidur dikamarnya semalam saja. Tapi kalau Aga macam-macam bagaimana? Ayah dan Ibu tidak ada, kalau dia diperkosa Aga lagi siapa yang menolongnya? Tapi Ryuki nanti menangis tanpa Aga???

Ruby memejamkan matanya sebentar, menarik nafas kemudian menghembuskannya berlahan. Aga masih menunggu jawaban Ruby, bagaimanapun ia harus memutuskan. “Hhhh…baiklah, kau boleh tidur disini, tapi sampai Ryuki tidur saja!” keputusan akhir Ruby itu membuat Aga nyengir senang.

“Baguslah, aku akan mengambil pakaian ganti dan gulingku sebentar!” Aga melonjak senang, dia bisa tidur dengan Ryuki bonus tidur bersama Ruby. Bukankah itu menyenangkan? Sementara Ruby menggembungkan pipinya sedikit menyesal atas keputusannya.

Lalu Aga berbalik berniat kembali kekamarnya, tapi baru selangkah ia berjalan. “Hiks…hikks…eemmm…” Ryuki melengkungkan garis bibirnya kebawah, ia menangis lagi saat Aga akan meninggalkannya.

“Ryuki? Kenapa kau cengeng sekali, heh?” Ruby mengusap lembut pipi Ryuki dengan tangannya dan menciumnya. Lalu menoleh ke Aga yang masih berdiri disamping kanannya, “kau disini saja! biar aku yang mengambil pakaian dan gulingmu!” yah mau bagaimana lagi, yang penting Ryuki diam. Lalu dengan berat hati Ruby bangkit dari duduknya. Aga nyengir kuda melihat ekspresi kesal Ruby yang seperti itu, semakin manis. Diakuinya mau marah atau senyum baginya Ruby tetap saja manis.

“Hehe…maaf ya merepotkanmu, kurasa memang Ryuki sangat menyayangiku,ÔÇØ ujar Aga mengejek, dibalas Ruby dengan mendelikan mata emeraldnya pada Aga kemudian meninggalkan suaminya itu bersama Ryuki.

Sesampainya dikamar Aga, Ruby langsung membuka lemari pakaian pria berambut spike itu. Bajunya tertata dengan rapi didalam lemari besar berwarna cokelat, tidak susah mencari tumpukan piyama Aga karena selain rapi kelihatannya penataannya sengaja diletakkan paling tengah, agar memudahkan Aga untuk mengambilnya secara sembarangan.

Kemudian Ruby mulai memilihkan piyama pengganti yang terkena ompol Ryuki barusan, entah kenapa Ruby harus memilih, bukankah seharusnya ia mengambil salah satunya saja? Entahlah. Namun nyatanya Ruby memilih warna lavender pudar kesukaanya, ia ingin Aga memakai piyama itu malam ini.

Setelah memilih piyama untuk Aga, Ruby beralih ketempat tidur dibelakangnya, mengambil selimut tebal berwarna baby orange milik Aga dan satu guling bersarung senada dengan selimutnya.

Tidak langsung kembali, Ruby sedikit penasaran dengan kamar Aga. Ia menyapukan pandangannya disekeliling kamar pria itu, banyak Action figur pemain bola dan pahlawan super dilemari kaca hias. Di depan TV-nya berserakan DVD game, musik dan beberapa film, yah selera Aga soal musik dan film tidak buruk juga menurut Ruby.

Ruby masih melihat-lihat isi kamar Aga, terakhir ia masuk kamar ini kalau tidak salah kira-kira 8 bulan yang lalu, saat kandunganya masih muda, dan oh! beberapa hari yang lalu saat menjemput Ryuki juga, tapi Ruby tak memperhatikan detil kamar ini. Dan yang dahulu tak ia lihat adalah sebuah foto dinakas disamping tempat tidur Aga, foto Ryuki dan Aga yang diambil Arslan tempo hari, Ruby tersenyum karena disitu Ryuki dan Aga terlihat hangat dan lucu, apalagi alis Ryuki yang waktu itu sengaja ditebali Aga dengan pensil alisnya. Cute! Ruby ingin mencubit kedua pria beda umur dengan tampilan yang mirip itu.

Dan yang membuat Ruby sedikit tak percaya adalah foto disamping foto Ryuki dan Aga, disana terpasang foto sepasang pengantin yang tampak malu-malu, dada Ruby berdetak keras melihatnya. Iya itu adalah foto pernikahanya dengan Aga, foto itu memperlihatkan Aga yang sedang mengecup keningnya, dan disitu pipi Ruby tampak merah padam. Padahal foto itu diambil dengan memaksa mereka kan? tapi hasilnya sangat hidup, seperti tak ada pemaksaan sama sekali. Keduanya tampak saling menerima.

Pipinya memanas mengingat waktu itu, lagipula tidak pernah menyangka Aga juga menyimpan foto pernikahannya. Malahan sampai memajangnya di dekat tempat tidurnya. Ruby tersenyum tanpa alasan, entah kenapa ia merasa senang foto itu dipajang disana.

Sadar terlalu lama berada dikamar Aga, Ruby segera pergi dari sana dan kembali kekamarnya.

Belum begitu normal detak jantungnya karena foto yang dilihatnya dikamar Aga tadi, tiba-tiba saat ia memasuki kamarnya, ia kembali dikagetkan Aga yang sedang duduk diranjangnya. Ruby gelagapan melihat keadaan Aga yang sudah tidak mengenakan baju atasanya, memperlihatkan dada bidang dan perutnya yang terlihat kokoh, ia sedang bermain-main menggoda Ryuki.

Pipi Ruby kembali merona, memerah terasa panas. Dadanya juga berdegup keras menyaksikan hal yang menurutnya terlalu seksi itu. Dengan ragu ia melangkahkan kakinya menghampiri Aga yang ternyata belum sadar kedatangan Ruby. “A-a-ag-aga?” panggilnya susah payah.

Aga mengangkat kepalanya melihat Ruby yang sudah berada didekatnya, sedang memeluk guling dan selimutnya, kemudian ragu-ragu Ruby meletakan selimut dan guling milik Aga ditempat tidurnya. Ia Semakin salah tingkah saat melihat dada bidang Aga yang sexy dari dekat begitu.

“I-Ini p-pakaianmu,” Ruby tergagap sambil menyodorkan pakaian Aga.

“Oh…terima kasih,” Aga menerima pakaian itu dan membuka kancingnya, tapi sekilas ia menyadari perubahan pada wajah Ruby. “Kau demam Ruu?” tanya-nya, menautkan kedua alis tebalnya sebagai penguat bahwa ia serius bertanya pada Ruby yang sedang mematung didekatnya.

“T-tidak!” jawabnya sok netral, padahal dadanya sudah berdetak tak beraturan.

ÔÇ£Syukurlah…ÔÇØ jawabnya lega. Kemudian Aga memakai piyama berwarna ungunya itu dan mengancingkan kancing-kancing kecilnya, “Kau mau terus berdiri disitu? atau tidur disini?” tanyanya, menepuk-nepuk permukaan bed.

ÔÇ£Ah, eh-iya iya!ÔÇØ Ruby yang tersadar langsung salah tingkah, canggung dan malu.”Aku akan tidur,” lanjutnya langsung naik ketempat tidurnya. Ia mengambil tempat disamping kanan Ryuki, dan Aga disamping kiri Ryuki, sedangkan Ryuki berada ditengah-tengah orang tuanya. Ini adalah saat-saat yang sangat canggung bagi Ruby, tapi Aga terlihat sangat tenang.

“Ngomong-ngomong ini piyamaku yang lama, kenapa kau mengambilnya?” tanya Aga yang sudah merebahkan tubuhnya santai disamping Ryuki senyum-senyum tidak jelas karena apa.

“Eh…” Ruby yang masih duduk canggung dengan keadaan itu kembali gelagapan karena pertanyaan Aga.”I-ituh… kkebetulan a-aku suka warna ungu, jadi aku ambil saja,” jawabnya jujur, menundukan kepalanya karena malu.

“Oh…begitu? Ini juga piyama kesukaanku,” jawab Aga kembali. Ia nyengir dengan cengiran yang beberapa hari ini selalu terlintas dibenak Ruby. Entah jujur atau hanya ingin membuat Ruby senang, yang jelas pernyataannya itu sukses membuat Ruby tersenyum.

“Benarkah?” tanya Ruby antusias.

Aga mengangguk mengiyakan. ÔÇ£Ngomong-ngomong kenapa sedari tadi kau gagap begitu?ÔÇØ

ÔÇ£Eh… tidak.ÔÇØ

“Sudahlah ayo kita tidur,” ajak Aga yang memang sudah sangat mengantuk.

Ruby masih diam, jujur saja ia masih takut kalau tidur sedekat ini dengan Aga.

“Kau takut?ÔÇØ Aga menebak Ruby yang tak kunjung merebahkan dirinya, ÔÇ£tenang saja aku tidak akan memakanmu. Lagipula ada Ryuki disampingmu kan?” Rayu Aga agar Ruby tak canggung tidur denganya.

“Bu-bukan itu,” jawab Ruby gagap.

“Ayolah…” Aga menarik paksa lengan kiri Ruby agar segera berbaring.

“Aaah!” Ruby memekik kaget. Karena Aga terlalu keras menarik lengan Ruby, akibatnya wajah Ruby jadi condong tepat diatas wajah Aga. Kedua pasang manik indah itu kembali bertemu, membuat debaran jantung keduanya terpompa lebih cepat secara tiba-tiba. Kedua wajah mereka juga berjarak begitu dekat membuat pipi-pipi mereka memerah, keduanya juga dapat mencium aroma nafas masing-masing. Aroma mint dan teh hijau, ya begitu hangat dan menenangkan.

ÔÇ£Aaah! Auuoh!ÔÇØ Suara Ryuki membuyarkan keduanya, dengan cepat Ruby menarik dirinya takut hal yang tak diinginkan terjadi.

“Ma-maaf aku terlalu keras menarikmu,” sesal Aga menyadari Ruby sedikit takut dengannya.

“Tidak apa-apa!” jawabnya cepat. Lalu berbaring membelakangi Aga dan Ryuki, menarik selimut ungunya, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal itu dan menyembunyikan semburat merah dikedua pipi putihnya. Berbeda dengan Aga, pemuda tampan itu terus memandangi gerak-gerik Ruby yang membelakanginya, senyum-senyum seperti orang gila.

ÔÇ£Cepat tidur ya Ryuki sayang,ÔÇØ bisik Aga pada Ryuki yang masih belum menampakkan kalau dia akan segera tidur.

—***—

Keesokan malamnya Aga kembali tidur dikamar Ruby. Tentu saja karena Ryuki kembali menangis saat Aga tidak ada didekatnya, untung saja hal itu hanya berlaku malam hari. Bisa repot kalau setiap jam Ryuki hanya mau ditemani Aga, bisa-bisa Ayahnya itu tidak kuliah.

“Ruuby …ummh…Ruby,” waktu menunjukkan pukul 00.15. Belum juga ada satu jam Aga tidur, ia mulai berulah dalam tidurnya, mengigau. Mengigau adalah penyakit Aga yang beberapa minggu ini ia derita. ÔÇ£Ruuu… Ruby…ÔÇØ

Pundak Ruby berjingkat mendengar sayup-sayup namanya disebut seseorang. Kemudian ia membuka matanya berlahan memastikan dari mana suara itu berasal, horror juga malam-malam begini ada suara yang memanggilnya. Dadanya semakin berdegup kencang saat ia sadari suara itu berasal dari Aga.

Ruby berlahan menoleh kebelakangnya, mendapati Aga sedang memeluk gulingnya erat sambil menyebut namanya. Hal itu membuat Ruby salah tingkah, pipinya memanas dan memerah, gugup dan sedikit ngeri menerka apa yang sebenarnya diimpikan Aga. Pasti hal-hal mesum, dasar pria! Ruby menggeleng cepat dan menutup wajahnya malu.

Lalu tubuh Aga bergerak, beberapa kali gerakan yang memperlihatkan dia tak nyaman. Dan kemudian gerakannya berakhir dengan tangan kokohnya menimpa tubuh kecil Ryuki. Terang saja Ryuki terganggu dan mengeluarkan suara ketidak nyamananya.

Ruby yang melihat hal itu mengganggu Ryuki langsung memindahkan tangan Aga pelan. Tapi berkali-kali kemudian Aga mengulangi hal yang sama dan itu membuat Ruby kesal. Tentu saja sebagai seorang Ibu dia tidak akan rela ada orang yang membuat Ryuki tidak nyaman dan terusik.

“Aga? Aga?! Bangun!” Ruby duduk diranjangnya dengan wajah ditekuk, mengguncang bahu Aga, mencoba membangunkan Aga dan berniat menyuruhnya pindah kekamarnya sendiri. Karena rencana awal jika Ryuki sudah tidur Aga harus kembali kekamarnya. Tapi berkali-kali dibangunkan pemuda itu masih tidur pulas seperti Ryuki, membuat Ruby merasa tidak tega membangunkanya. Dan hasilnya Ruby akan membiarkanya tidur dikamarnya sampai pagi.

Ruby putus asa kalau urusan membangunkan Aga. Ia mengerucutkan bibirnya sebal, kemudian melirik lagi pada Aga yang memeluk gulingnya menghadap Ryuki. Ruby tersenyum melihat wajah Aga. Lucu, tampan dan tenang. Yaah jujur saja memang Aga sangat tampan, bahkan kalau boleh lebih jujur Ruby sedikit terpesona pada ketampanan Aga. Apalagi saat melihat wajah Aga ketika tidur seperti itu, mana kelihatan kalau dia itu menyebalkan dan mesum? Yang ada dia terlihat menggemaskan seperti Ryuki.

Ruby senyum-senyum, kemudian ia mengangkat tanganya. Dengan perasaan campur aduk diberanikanya tangan halus dan lembut itu membelai pipi Aga pelan. Kembali tersenyum manis, mulai mengalah pada perasaan yang lain yang mengatakan bahwa Aga itu menyebalkan dan pantas dibenci. Kenyataannya diam-diam dirinya mengagumi sosok rupawan dihadapannya itu. Sempat terlintas pertanyaan dimana rasa benci yang seharusnya selalu ia pelihara khusus untuk Aga, tapi seolah rasa itu telah melebur bersama rasa yang lain. Rasa yang lebih kuat dibanding kebenciannya, kebencian yang harusnya dan pantas Aga terima seumur hidup.

Tatapan Ruby beralih pada sesosok kecil yang tidur dengan tenang disamping Aga, kemudian membandingkan. Kenyataannya mereka benar-benar mirip, walau sang putra tidak memiliki alis dan bibir yang sama dengan sang Ayah Mereka berdua sangat tampan dan mirip.

Ruby masih mengembangkan bibir tipisnya, tersenyum. Entah apa yang harus dia adukan kepada Tuhan untuk semua ini, haruskah ia bersyukur atau menyesal?

Pemuda yang sedang terlelap disampingnya itu adalah orang jahat yang menodainya, sampai kapanpun Ruby tidak akan pernah lupa hal itu. Dan makhluk kecil disampingnya itu adalah putranya, putra yang sangat dia sayangi, putra yang lahir dari kebejatan pemuda itu.

Sekarang entah apa yang harus ia perbuat, haruskah ia bersyukur dan bahagia atas semua ini? Tapi nyatanya memang Ruby saat ini sedang bahagia, bahkan jauh lebih bahagia dari sebelum ia mempunyai anak. Bahagia karena ada Ryuki yang sangat ia cintai melebihi apapun, dan haruskah bersyukur karena telah dinodai Aga? Mungkin tidak harus begitu juga.

Entahlah, pemikiran-pemikiran itu terlintas dibenak Ruby begitu saja dan membuatnya kemudian menggelengkan kepalanya.

Menyadari perlakuanya pada Aga sedikit memalukan jika sampai ketahuan, Ruby menarik lagi tangannya. Menjauhkan tanganya dari pipi Aga. Kemudian berlahan dirinya memindahkan Ryuki disamping kirinya menukar posisinya dengan Ryuki. Posisi Ruby kini ditengah antara Ryuki dan Aga, mengalah untuk mereka tidak apa-apa kan? Tidak tega membangunkan Aga, tidak tega juga melihat Ryuki sesak nafas karena Aga yang tidurnya ÔÇÿBar-barÔÇÖ.

Meski begitu,Ruby menata dua guling sebagai pemisah antara dirinya dan Aga. Memangnya siapa yang mau berdekatan dengan pemuda mesum seperti Aga?!

Haaah… tidak disangka, membiarkan Aga tidur bersamanya akan merepotkan seperti ini.

—***—

Waktu menunjukkan pukul 03.45.

Ruby mulai terusik ditidurnya, bukan karena aroma citrus, juga bukan nafas hangat beraroma mint yang kini dihirupnya. Tetapi saat ia rasakan pinggangnya sedikit terbebani oleh sesuatu yang sedikit berat.

Manik indahnya terasa begitu lengket karena sangat mengantuk, terpaksa harus ia buka hanya untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba matanya membulat, pipinya terasa panas saat menyadari dirinya ada didalam dekapan dada bidang Aga. Tangan kekar itu juga tengah memeluk erat pinggangnya yang kini sedikit berisi, bahkan yang membuat Ruby semakin malu adalah tanganya yang juga memeluk pinggang Aga.

Ini memalukan! bahkan Ruby seakan mau mati saat wajahnya dan wajah Aga ternyata sudah berhadapan, berjarak begitu dekat sampai Ruby bisa merasakan hembusan nafas hangat Aga yang begitu khas.

Belum sempat memindahkan tanganya yang bertengger dipinggang Aga, pemuda bermata lautan itu membuka matanya. Ia juga terkejut dengan posisi itu. Untuk sesaat keduanya hanya bisa diam mematung.

Dan untuk yang kesekian kalinya, mata mereka bertemu, saling berpandangan dan merasakan hembusan nafas dari keduanya. Hening seketika, hanya detak jantung yang memacu keras dari keduanya yang terdengar bersahutan seperti sedang berlomba. Detak jantung yang tentu saja tidak normal, bahkan mereka dapat mendengar degupan itu dari tubuh masing-masing.

“Eh?” Hanya itu saja suara yang mampu dihasilkan Ruby, tanpa melepaskan tatapannya pada lautan biru milik Aga.

Sementara tatapan terkejut Aga berubah melembut walau detak jantungnya masih tak beraturan. Tak ada kata yang terucap dari keduanya, hanya saling bertatapan. Dan sebagai seorang laki-laki yang normal Aga mengikuti instingnya, dengan lembut ia mengeratkan pelukanya, menarik pinggang Ruby agar merapat. Itu berjalan tanpa penolakan, sampai akhirnya Aga dapat merasakan hangat dan wanginya tubuh Ruby.

Keduanya masih saling bertatapan, tatapan yang membuat keduanya saling menghipnotis. Waktu juga terasa berhenti berjalan, detak jantung mereka juga seperti tabuhan genderang.

Aga mendekatkan wajahnya pada Ruby, nafasnya berhembus hangat dibibir yang berwarna peach yang terlihat indah dimata biru Aga.

Dengan perasaan yang juga tidak metentu, Ruby melihat bibir Aga semakin mendekat ke bibirnya. Apa Aga akan menciumnya? Ruby tidak mau! ini memalukan! bagaimana kalau Ruby menolak saja? tapi Ruby sepertinya tidak mampu, ia memilih memejamkan matanya berharap hal memalukan itu tidak terjadi.

‘Cuph’

Terlambat, kedua bibir manusia berbeda gender itu bersentuhan pelan. Aga mengecup bibir lembut Ruby semakin dalam, hal itu membuat jantung keduanya seperti berhenti berdetak, kepala terasa sangat pusing, pandangan gelap, tapi sensasinya seperti melayang diudara.

Berani sumpah, ciuman penuh perasaan itu adalah pengalaman pertama bagi keduanya, dan mereka sepertinya mau pingsan saat itu juga. Wajah mereka bukan lagi bersemu merah, tapi merah sempurna.

Memang ini bukanlah murni ciuman yang pertama bagi keduanya, tapi saat ini keadaanya berbeda. Ciuman kali ini terasa sangat lembut dan manis, keduanya saling memberi dan menerima, tidak ada paksaan seperti malam itu.

Setelah beberapa menit kemudian bibir itu masih bersentuhan, Ruby membuka matanya berlaha. Ia mulai kehabisan nafas dan tersadar. “Emh” mendorong pelan dada bidang Aga dan melepaskan tangan Aga.

“Iih! Me-menyebalkan!” pipi chubby Ruby masih sangat merah, matanya tidak berani menatap wajah Aga.

“Eh..maaf,” sesal Aga menggaruk kepala belakangnya, salah tingkah.

Lalu Ruby memutar tubuhnya, membelakangi Aga. Kejadian barusan adalah kejadian yang memalukan, “k-kau mencari kesempatan!” lirihnya gagap.

“Siapa yang mencari kesempatan? Kau sendiri yang tidur disampingku, jangan salahkan aku kalau aku mengira kau gulingku,” bantah Aga, membela diri.

“Aku kan sudah menata dua guling diantara kita! Dan kau yang membuangnya kan?” timpal Ruby tak mau disalahkan juga

Aga melirik pundak Ruby disampingnya. “Aku tidak membuangnya, hanya saja aku tidak tahu kenapa guling-guling itu semuanya terjatuh,” Aga menggaruk-garuk kepalanya.

“Kau yang menjatuhkanya!”

“Aku tidak tahu! Lagipula kenapa bisa kau memindahkan Ryuki? Kau ingin dekat-dekat denganku kan?” selidik Aga dengan wajah sombong.

Ruby berbalik dan menatap sebal. “Jangan seenaknya!” memukul Aga dengan bantalnya, Aga menangkis sekenanya. “Kau tidur seperti kuda, tanganmu menimpa tubuh Ryuki! aku tidak mungkin”

“Benarkah?”

“Iya! Sekarang pergilah! Ryuki sudah tidur, kau bisa kembali kekamarmu!” dengan kata lain Aga sedang diusir oleh Ruby.

“Baiklah baiklah…” Berat hati Aga bangun dari ranjang, menarik selimut dan bantalnya berniat kembali kekamar pribadinya.

Tapi….

“Hik…hik…eeeuukk…uuuuee…” Ryuki terbangun lagi.

Ruby memutar bola matanya bosan. “Kau boleh tidur disini,” ujar Ruby malas. Lama-lama ia kesal dengan Ryuki, seolah hanya pura-pura tidur sepanjang malam hanya untuk mengawasi Aga agar tidak keluar dari kamarnya. Terbukti kan kalau Aga pergi dia menangis? Menyebalkan.

“Baiklah…baiklah… anak cengeng,” Aga juga tampak bosan, kemudian kembali ketempat tidurnya.

Ruby bangun dan duduk, diangkatnya pelan tubuh Ryuki untuk ditenangkan. “Ini jam minum susu Ryuki, jadi tutup wajahmu saat aku menyusui!”

“Baiklah…silahkan, cerewet sekali!” keluh Aga, membaringkan tubuhnya lagi. Kemudian membelakangi Ruby yang bersiap menyusui Ryuki.

Keduanya terdiam larut dalam lamunan masing-masing.

Diam-diam keduanya mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Menyentuh pelan bibir mereka masing-masing. Ciuman itu masih terasa menempel disana. Aga tersenyum, sementara Ruby menggelengkan kepalanya cepat, dan pipi keduanya tampak kembali memerah mengingatnya.

Terhitung sudah dua hari, Aga tidur satu kamar dengan Ruby, tentu saja karena Ryuki. Bayi berusia hampir dua bulan itu benar-benar mempunyai feeling yang kuat, setiap kali Aga beranjak meninggalkan kamar Ruby, ia bangun dan menangis seolah tak mau Aga pergi dari dekatnya.

Untung saja hal itu hanya terjadi pada malam hari saja, sedangkan siang hari Ryuki seperti membiarkan Ayahnya pergi kuliah dan bermain dengan Arslan, good boy.

Pagi ini adalah hari minggu, Aga masih meringkuk memeluk gulingnya. Guling yang sekarang sudah satu setel dengan sarung guling Ruby yang berwarna merah bergambar mawar putih besar, karena kemarin Nana yang mengganti seprei beserta sarungnya.

Sementara Ruby sedang memandikan Ryuki dikamar mandinya, dibantu babysitter, karena untuk urusan yang satu ini Ruby belum bisa melakukanya dengan baik. Oleh karena itu, walau memutuskan untuk merawat Ryuki sendiri, Ruby masih dibantu babysitter yang hanya dikhususkan untuk memandikan Ryuki.

“Sudah selesai Nona,” wanita muda yang mungkin berusia 21 tahun itu tersenyum dan menyerahkan Ryuki yang terbungkus handuk lembutnya.

“Terima kasih Sari, kau boleh pergi,” Ia membalas senyum Sari dan kemudian gadis berseragam merah muda itu pergi meninggalkan Ruby.

Setelah Ryuki mandi, Ruby membawanya ketempat tidur, membaringkannya disamping Aga. Kemudian memakaikan Diapers, mini jumpsuit berwarna biru yang ia siapkan sebelumnya. Tak lupa sedikit mengoleskan minyak telon diperut Ryuki sebagai penghangat.

Ruby tersenyum senang melihat hasil karyanya yang membuat Ryuki tampak semakin tampan. “Nah…selesai! Ryuki sayang, kau sudah keren. Siap untuk pergi hari ini?” Rona keceriaan menghias wajah cantik Ruby pagi itu, ia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Ryuki yang wangi.

“Oouu…ooouuh…” balas Ryuki meraih-raih wajah Ruby senang.

Aga yang samar-samar mendengar suara Ryuki dan Ruby disampingnya, membuka matanya yang masih terasa berat. Lalu yang pertama dilihatnya adalah Ryuki yang sudah rapi, tak lupa Ibu Ryuki yang selalu terlihat cantik meskipun belum mandi.

“Hei… kau sudah mandi pangeran kecil?” Suaranya masih terdengar berat menandakan ia masih mengantuk. Meski begitu Ryuki lebih penting daripada tidur lagi, ia mengulurkan tangan kanannya dan mengusap pelan pipi Ryuki.

“Tentu saja, memangnya kau pemalas!” sahut Ruby melirik Aga.

“Cerewet,” jawab Aga berpura-pura sebal.

“Cepat mandi! Hari ini Ryuki harus imunisasi. Antarkan aku kerumah sakit!”

“Tentu saja, tapi bisakah kau meminta dengan lembut?” protes Aga karena Ruby pagi itu sudah tak semanis semalam, padahal Aga suka Ruby yang terlihat malu-malu seperti itu.

Ruby mendengus bosan, mengerucutkan bibirnya sebal. “Aga, kau mau kan mengantarkanku dan Ryuki imunisasi?” ulang Ruby lembut, bahkan ditambah sorot matanya yang mirip mata kucing yang sedang meminta diberi makan majikannya.

Aga bangun dan tersenyum iseng menatap wajah Ruby, bahkan walau baru bangun tidur dengan rambut yang semakin acak-acakan seperti itu, Aga mampu membuat dada Ruby deg-degan. “Tentu saja tuan putri,” jawabnya sok keren.

“S-siapa yang tuan putri?!”

“Kau!” jawab Aga lagi. “Dan aku pangeranya,” mendengar gombalan ringan dari Aga itu pipi Ruby langsung memerah.

“Kenapa pipimu jadi merah? Kau malu ya?” cengir Aga menggoda.

“T-tidak!” sedikit gelagapan.

“Gagapmu kambuh,” wajah Aga yang tengil seperti itu membuat Ruby sebal! aah sebal?

“S-siapa yang gagap?!”

“Kau, dari dulu kau memang gagap kan?”

“Jangan sok tahu!”

“Dan kau jangan sok ketus. Waktu sekolah dulu aku sering memperhatikanmu, kau kan gadis pemalu, kau juga sering mencuri-curi memandangiku kan?” rentetan kalimat Aga itu semakin membuat Ruby salah tingkah. Ya memang benar, waktu kelas 10 Ruby yang pemalu sering mencuri pandang pada Aga yang waktu itu terlihat mencolok, karena terlihat bersemangat dan ramah diantara Arslan dan geng-nya yang termasuk anak-anak nakal. Ruby hanya sesekali melihatnya, tidak lebih.

“K-kata siapa!?”

“Mengaku saja,” Aga mendekati Ruby berlahan, mendekatkan wajahnya ketelinga Ruby. “Kau dulu sangat pemalu dan manis, jadilah yang seperti dulu. Manis. Aku suka,”

‘Cuph!’

Ciuman ringan Aga pada pipi Ruby itu membuat Ruby mematung, melebarkan iris uniknya.

“Aku mandi dulu ya, hehe…” Aga nyengir dan cepat-cepat melesat dari kamar Ruby. Takut Ruby akan segera tersadar dan melemparnya dengan bantal lagi.

Beberapa detik kemudian Ruby mengerjapkan matanya tersadar. Bukan marah tapi tubuhnya malah melemas, hatinya terasa meleleh karena perlakuan Aga barusan, menyisakan senyuman dan semburat kemerahan dipipi putihnya. “Aaaaaaa…. Agaaa…” lirihnya pelan, menutup wajah dengan kedua telapak lembutnya dan menjatuhkan diri disamping Ryuki. Ruby salah tingkah sendiri.

“Aaaooh… hehkk…aaoh…” entah kenapa Ryuki nyengir-nyengir sendiri disamping Ruby, seolah sedang bersorak dan menggoda Ibunya.

—***—

“Ryuki bobok…ooh..Ryuki bobok, kalau tidak bobok… digigit nyamuk…” Ruby duduk dikursi riasnya, menghadap jendela kamar membiarkan angin sepoi-sepoi masuk kedalam, bersenandung lirih menidurkan Ryuki yang sedikit rewel karena baru saja diimunisasi.

Tanpa ia sadari, sepasang safir indah sedang memandangi punggungnya yang tertutup rambut panjang sepinggang itu. Mengagumi tubuhnya yang sedikit berisi dari sebelum ia menikah dan melahirkan.

“Kau sudah siap jika harus berpisah dengan Ryuki?” suara itu membuat pundak Ruby sedikit menegang.

Ruby menoleh sebentar karena suara suaminya itu sedikit mengejutkannya. “Kenapa menanyakan itu?” jawabnya santai kemudian.

“Sebentar lagi kita akan bercerai,” jawaban itu sedikit membuat Ruby terhenyak, wajahnya berubah agak layu. “Kau tau kan?” lanjutnya, berjalan mendekati Ruby, lalu menatap keluar dari jendela membelakangi Ruby.

Ruby mengangguk pelan, wajahnya berubah melembut. Ia ingat betul perjanjian yang disebutkan Ayahnya waktu itu, ya mereka harus bercerai.

“Ryuki akan tinggal disini bersamaku, karena kau Ibunya kau boleh menengoknya kapan saja jika kau mau,” ucapan Aga itu membuat Ruby semakin terkejut.

“Apa maksudmu! Ryuki akan ikut denganku!” tentu saja hal itu membuatnya tidak terima. Ryuki adalah puteranya, bagaimana mungkin ia membiarkan dia tinggal bersama Aga.

“Aku tau, dari awal Ibuku yang akan mengasuh Ryuki kan?” Aga masih melempar pandanganya diluar sana. Sedangkan Ruby menatap lekat-lekat punggung Aga.

“Aku Ibunya! Aku yang akan merawat Ryuki!” timpal Ruby lagi, ia tidak akan membiarkan Ryuki tanpanya.

“Bukannya dulu kau tidak mengininkanya! Bahkan kau hampir menggugurkanya kan?!”

“Itu dulu Aga! Sekarang aku sangat mencintai Ryuki, dan aku akan membawa Ryuki pulang bersamaku!”

“Tidak boleh!” Aga berbalik menatap Ruby didepanya. Tatapan tajam keduanya saling beradu.

“Kenapa! kau dulu juga tidak mengakuinya kan!”

“Sekarang berbeda! aku juga sangat mencintai Ryuki!”

“Tidak boleh!”

“Ruu, walau belum lama aku mulai terbiasa dengan Ryuki, aku tidak siap jika harus berpisah dengan Ryuki! aku terlalu menyayanginya,”

“Memangnya kau saja yang punya rasa seperti itu, aku Ibunya! aku yang mengandung dan melahirkannya! sekarang kau bilang akan mengambil Ryuki?! memangnya siapa dirimu?!”

“Sudah jelas kan aku Ayahnya,”

“Kau akan berhadapan dengan Ayahku dan Gary kalau kau memaksa!”

“Akan kulakukan!”

“Kau tidak takut pada Ayahku?”

“Bahkan jika Ayahmu menembaku, aku tetap akan merebut Ryuki!”

“Kau keras kepala! pokoknya Ryuki akan tinggal bersamaku, Ryuki itu putraku, darah dagingku!”

“Kau cerewet juga ya! Ryuki juga darah dagingku!”

“Tapi aku Ibunya! aku yang berhak!” Bentak Ruby kesal.

Aga menatap tajam Ruby, menyeringai memandangi penampilan Ruby yang cukup anggun dengan dress putih selutut. “Bagaimana kalau kau hamil lagi? dan kau boleh membawanya bersamamu, Ryuki bersamaku!” itu ide yang gila!

“Apa maksudmu!” seru Ruby tak mengerti.

Aga menyeringai, “maksudku?” menaikan garis bibirnya kesamping, menatap tajam Ruby yang menatapnya ngeri. Kemudian ia maju kedepan, “ini..” dengan cepat Aga merebut paksa Ryuki dari tangan Ruby.

“M-ma-mau apa!” Ruby gelagapan melihat Aga membawa Ryuki dan berjalan menuju Box Ryuki.

“Biarkan Ryuki tidur diBoxnya,” lalu Aga meletakan Ryuki yang sudah tidur disana, Ruby menatapnya tak mengerti.

Kemudian Aga mendekati Ruby yang masih mematung keheranan. “Aku mau ini…” Aga menerkam tubuh Ruby, dan dengan sedikit kasar mendorongnya ke tempat tidur dan kemudian menindihnya.

“Ah!” Ruby memekik karena kedua tangannya yang masing-masing berada dikedua sisi kepalanya, terkunci oleh cengkraman Aga. “Agaa! Tidak!” kaget karena Aga tiba-tiba memagut paksa bibir Ruby.

“Mmmm…mmmm!” berusaha terlepas dari kungkungan Aga, tapi Ruby tak cukup kuat mendorong suaminya yang mulai menghisapi bibir bawah Ruby, kemudian memaksakan lidahnya menerobos mulut Ruby, mencari daging lunak dan kasar didalam mulutnya untuk dihisap dalam-dalam.

‘Cruph…’ suara lidah Ruby yang dihisap kuat oleh Aga, membuat Ruby melebarkan irisnya karena itu cukup mengejutkan, tak ketinggalan tangan Aga mulai meremasi payudara besar Ruby yang masih tertutup dressnya.

“Huuffahh…” Benang-benang saliva tampak terlepas saat Aga melepaskan hisapannya, sedangkan Ruby menghirup nafas dalam-dalam karena ia hampir mati karena menahan nafas.

“Ah! jangan! Ah! lepaskan aku!” seakan tidak mau membiarkan Ruby menyesuaikan nafasnya lagi, Ruby berontak karena Aga mulai menurunkan pakaian Ruby melewati pundaknya. Beruntung itu tidak mudah, hanya membuat pundaknya terbuka saja. Kakinya juga bergerak bebas menendangi perut Aga, tidak peduli roknya itu tersingkap dan membuat paha mulusnya terekspose, celana dalam merahnya juga. Tapi suaminya itu seolah tak merasakan sakit sedikitpun karena tendangan Ruby, malahan sekarang Aga berhasil mengunci kedua kaki Ruby, mengapitnya dengan kedua paha Aga.

“Sebentar saja Ruu…” Nafasnya mulai berat, tatapan matanya menggelap, entahlah ia sangat ingin melakukannya lagi dengan Ruby.Meski itu tidak membuat Ruby setakut dulu, tapi tetap saja Ruby tidak mau Aga memperkosanya lagi, maksudnya bukan tidak mau ia hanya malu, iya malu! ini memalukan.

Ciuman Aga beralih keleher mulus Ruby, menjilat-jilat dan mengecupnya berkali-kali menimbulkan rasa geli yang rasanya menyebar keseluruh tubuh Ruby. Bagian itu adalah titik rangsangnya, rasa geli saat Aga menghisapi lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan Aga disana diam-diam membuat bagian bawahnya basah.

“Tidak mau! Agaah!” Tapi Ruby masih berusaha menolak, memukul-mukul dada bidang Aga berharap pemuda itu melepaskannya.

“Ayolah hanya sebentar Ruu…” Aga yang sudah tidak sabar bangkit. Menarik paksa kancing dress Ruby dan membuat kancingnya bertebaran, dada yang lebih besar dari sebelumnya itu menyembul keluar dari bra merah yang dipakainya.

“Kau gila! Ah!” Ruby masih berontak. Tapi Aga berhasil meloloskan dress Ruby dan membuangnya, menyisakan stelan bra dan celana dalam Victoria secrets merahnya.

“Ayolah, berikan aku satu bayi lagi untukmu,” bisik Aga sembari menjilati telinga Ruby, tangan kekarnya meremas salah satu dada Ruby dan menarik tali kecil dipundak mulus itu.

“Uuungh… Agaaah…lepaskan!” Ruby masih berusaha menolak, namun Aga terus merangsangnya. Menjilati telinga, leher dan turun kedada Ruby. Membuka bra merahnya dan melahap gumpalan daging menggairahkan milik Ruby, tak lupa putingnya yang kemerahan ia hisap kuat-kuat, tangan satunya ia pakai untuk memilin pelan puncak dadanya, Ruby mendesah pelan dibuatnya dan pada akhirnya ia mengalah. Menyerah dan memilih melayani Aga, toh perasaannya pada Aga sekarang sudah berbeda. Ruby juga mulai menikmati sentuhan Aga pada tubuhnya.

Menyadari Ruby sudah melembut, Aga melepaskan cengkramannya. Membiarkan Ruby mendesah-desah sambil meremas spreinya karena kedua payudaranya sedang dihisap Aga dan Ruby yakin suaminya itu sedang keenakan meminum air susu milik Ryuki.

“Manis…” Ucap Aga saat melepaskan kulumannya dari puting Ruby, tampak cairan putih disudut bibirnya yang Ruby yakin itu adalah air susunya. Tatapan Aga semakin liar, ia seolah sudah menyetubuhi Ruby dengan tatapannya itu. Kejantanannya juga sudah mengeras, siap menggauli Ruby seperti dalam mimpinya tempo hari.

“Ssshh… Agaaah…” desis Ruby merasakan kewanitaannya disusupi jari jemari Aga yang bertugas menggosok pelan klitorisnya membuatnya semakin basah. Ia juga mulai melepas celananya sendiri dan menurunkannya sebatas paha, kejantanannya langsung terbebas dan membenamkannya di diantara paha Ruby.

Ruby merinding merasakan benda tumpul itu menempel dan digesekkan Aga pada kewanitaannya yang masih terlapisi kain tipis, “Aahhhgaaa…” tatapannya juga sayu menatap Aga yang sedang menatapnya penuh nafsu dan mulai melepas celana dalam kecilnya itu dan melemparnya jauh-jauh.

“Mmmhh…” kemudian menutup matanya saat kejantanan Aga mulai memasukinya. Keringat semakin banyak keluar dari pori-pori kedua tubuh yang sedang dilanda gairah muda yang meluap-luap itu.

“Aaah… Ruu… akuh…mmh,” desah Aga mulai menggerakkan pelan ‘Junior’nya didalam tubuh Ruby.

“Ouh!” Gigitan Ruby pada bibirnya sendiri juga membuat Aga semakin gemas padanya, dan membuatnya tak tahan untuk melumatnya sambil terus melakukan gerakkan in out tanpa melepas kaus polosnya, tampak tidak adil memang. Melihat Ruby yang telanjang bulat dibawahnya.

Sementara itu tanpa diketahui keduanya, dibawah sana sudah ada Julian, Lisna, Henri beserta Gary yang mengobrol. Mereka berjalan naik menuju kamar Ruby untuk menengok Ryuki.

‘Cklek! Kriiieeet…’ Pintu kamar dibuka Lisna lebar-lebar.

“Ryuki sayaaa…oouuhh??!” Lisna membuka mulutnya tak percaya, kalimatnya juga tidak selesai karena melihat adegan panas yang Aga dan Ruby lakukan dihadapan para orang tua itu.

Keduanya menoleh kepintu yang terbuka.

“Kyaaaaahhh!” Ruby menjerit menutup matanya melihat Ayah dan Gary beserta mertuanya ada didepan pintu sana sedang memergoki kegiatan memalukan ini.

“Ayah?! Ibu?!” Aga juga kaget setengah mati. Apalagi ada Henri dan Gary yang langsung melebarkan iris emerald mereka melihat Ruby tergeletak pasrah dibawah Aga.

Kemudian Henri memejamkan matanya, rasanya hampir saja ia terkena serangan jantung saat itu juga.

“Apa yang kalian lakukan?!” pekik Julian tak percaya. Ya dia memang berharap Aga dan Ruby bersatu, tapi maksudnya kegiatan itu tidak pernah Julian bayangkan sebelumnya.

Sekilas tampak Gary menggeretakkan giginya, tangannya menggenggam dan bersiap menerjang Aga. Dia sangat tidak suka Adiknya diperlakukan seperti itu, tapi Henri menahan gerakkan Gary dengan tangan kekarnya.

“Maaf Aga, Ruby!” dengan wajahnya yang memerah sekaligus bersalah, Lisna langsung menutup kembali pintunya, dan berujar kepada Henri dan Gary yang memasang wajah tegang mereka. “Ehehehe… sepertinya perceraian mereka akan ditunda sampai cucu kedua kita lahir ya,” cengir Lisna menggaruk pipinya yang tidak gatal, yah mungkin bercandaannya itu sangat tidak lucu. Tapi bagaimanapun ia berusaha mencairkan suasana tegang dan juga memalukan ini.

Sementara itu, Aga dan Ruby masih membeku dengan kejadian yang baru saja terjadi. Bahkan saking kaget dan malunya mereka seperti mematung dan tidak dapat bergerak lagi. “A-Aga… b-bisakah kau turun dari atasku sekarang?” Ruby mengernyit, bibirnya basah karena liur Aga, wajahnya juga telah memerah seluruhnya.

“Eh?” Aga yang mulai tersadar menatap Ruby dibawahnya. Alih-alih menuruti permintaan Ruby, Aga malah semakin gemas karena Ruby memasang wajah seperti itu. Mata yang sayu, bibir basah semakin membuat dada Aga berpacu.

Ruby sangat-sangat menggodanya, bahkan kejadian yang seharusnya seketika menghancurkan konsentrasinya itu sama sekali tidak berpengaruh pada ‘Junior’nya yang kembali mengeras sempurna.

Aga menyeringai tipis menatap wajah cemas Ruby. “Aku belum selesai, biarkan mereka menunggu sebentar,” bisik Aga. Kembali memulai kegiatanya yang tertunda, menggerakkan pinggangnya maju-mundur kedalam lubang Ruby.

“Um! Aku tidak mau!” Ruby berusaha mendorong dada bidang Aga, meski kita semua tau hanya kegagalan yang akan ia dapat.

“Sedikith lagi Ruu…” desah Aga dengan wajah horny yang sudah tidak dapat ditahan.

“Ah! Agaaah! Ka-kauuh memperkosakuh- untuk yang kedua kalinya!” ucap Ruby terengah karena Aga sedang menyetubuhinya dengan gerakkan yang lumayan keras.

“Kali ini berbeda,” Aga mengalungkan kedua tangan Ruby dilehernya. Ia menatap mata indah Ruby yang hampir terpejam menahan nikmat yang diberikan oleh Aga. “Aku akan melakukanya dengan penuh perasaan, karena akuuh… menyukaimu Ruu…”

Ruby melebarkan iris uniknya, entahlah dia bahagia mendengar pengakuan Aga padanya, walau hanya suka tidak apa kan? setidaknya Ruby lega Aga tidak membencinya. “Aah.. Agaaah…ak-ku,”

‘Cup’

Dan ciuman Aga membungkam bibir tipis Ruby, menghipnotis wanita bermata indah itu semakin jatuh kepelukkanya.

Dan kali ini Ruby benar-benar menyesal menolak pemasangan kontrasepsi yang ditawarkan Dokter waktu itu.

“Mereka lama sekali! Apa yang mereka lakukan!” wajah Henri tampak gusar, berdiri melipat tanganya didada. Gelisah mondar-mandir setelah apa yang dilihatnya barusan, dan tentu saja semua orang yang sedang duduk diruang keluarga itu terlihat canggung dan bergelut dengan pikiran masing-masing.

Gary menopang kepalanya dengan tangan dan memijit keningnya, ia merasa sangat pusing. Mendadak dia merasa tidak enak badan setelah menyaksikan adik kesayanganya digagahi Aga didepan manik sehijau daunnya.

“Bukankah kita semua tahu apa yang dilakukan mereka berdua,” kekeh Julian canggung berusaha mencairkan suasana, ia duduk disofa berwarna krem dengan Lisna yang duduk manis disampingnya, meski ia juga tak kalah canggung.

“Anakmu memang kurang ajar!” sahut Henri sedikit emosi tanpa menatap Julian.

Dahi Lisna berkedut mendengar perkataan besannya itu. “Bukannya itu wajar? Mereka suami istri kan?” Ia tidak suka kalau selalu saja Aga yang dijelekkan.

Henri kembali diam dengan wajah kelamnya yang khas, malas menanggapi Lisna yang pasti ujungnya hanyalah perdebatan seperti yang sebelum-sebelumnya. Lebih baik dia diam menunggu Ruby.

“Duduklah Pak Henri,” lanjut Lisna.

“Tidak perlu! Aku hanya ingin cepat membawa putri dan cucuku pulang!”

“Sabarlah, mereka pasti akan segera kemari.” Dengan sabar Julian juga berusaha menenangkan Henri yang terlihat semakin marah.

Lalu tak lama kemudian Aga dan Ruby datang bersamaan. Mereka sudah berbenah, berganti pakaian dan bersih, meski begitu mereka tetap tampak ragu dan canggung

“Ngg… Ayah, Ibu?” lirih suara yang Ruby buat, membuat semua yang berada diruang tamu menengok padanya.

“Ruu?” Lisna tersenyum lembut pada menantu kesayanganya yang tampak takut. “Kemarilah… ada yang harus kita bicarakan,” kemudian mengisyaratkan Ruby agar segera duduk.

Ruby mengangguk pelan, kemudian berjalan dan duduk disofa yang masih kosong, diikuti Aga duduk disampingnya. Takut-takut Ruby memangku kedua tangannya diatas lutut berlapis rok merah. Sementara Henri menajamkan matanya menatap putrinya yang menundukan kepala menghindari tatapan Ayahnya, Gary juga melirik Ruby dengan wajah hopeless

Entah kenapa Aga dan Ruby kini lebih mirip kedua pasangan mesum yang tertangkap pihak berwajib. Menatap meja didepan mereka karena tak sanggup membalas tatapan semacam itu oleh semua orang disana.

Suasana mendadak hening, hanya suara detik jam yang terus berputar yang terdengar lebih keras dari biasanya. Salah satu diantara mereka sepertinya juga enggan untuk memulai suatu percakapan.

Sampai akhirnya Henri duduk disamping Gary, dan Gary menegakkan badannya bersiap mendengar Pamannya berbicara.

Masih dengan tatapan yang tajam menghunus Aga dan Ruby. Henri berkata tanpa basa-basi. “Kami sudah putuskan, kalian akan bercerai secepatnya! biar kami yang mengurus surat cerai kalian, akan aku usahakan secepat mungkin!” entah kenapa suara baritone itu membuat Aga tersentak kaget, bahkan dia melemparkan pandangannya pada kedua orang tuanya, seolah meminta bantuan berbicara kalau dia keberatan. Tapi wajah Julian dan Lisna sudah cukup menjelaskan kalau mereka tidak mampu.

Kemudian Aga menoleh kearah Ruby disampingnya, Ruby menundukkan kepalanya semakin dalam, memainkan tangannya tampak tidak nyaman. Aga mengerti tidak ada yang bisa ia harapkan disini, akhirnya memilih diam.

Mereka berdua tahu, cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Perceraian yang sudah direncanakan dari awal pernikahan mereka, namun entah sejak kapan perceraian itu sama sekali tidak mereka inginkan.

“Hari ini kau dan Ryuki akan pulang kerumah Hanggoro!” lanjut Henri yang diperuntukan untuk Ruby. Spontan pernyataan itu membuat Aga semakin terkejut dan kembali menatap Ruby, menunggu jawaban wanita yang mulai ia sukai itu. Ruby yang lebih bisa menguasai dirinya juga sedikit kaget, tapi mau bagaimana lagi ia harus menuruti Ayahnya, ia mengangguk pelan tanpa menjawab, membuat Aga mendecih kecewa padanya.

“Kalau kau ingin keluar dari rumahku, sebaiknya kau jangan bawa Ryuki!” Belum reda karena pernyataan Ayahnya, Ruby kembali tersentak karena perkataan Aga itu terasa memukul dadanya.

“Bicara apa kau bocah!” sanggah Henri geram, melempar tatapan membunuhnya pada Aga. Ia tidak suka puterinya dibentak seperti itu.

“Aga…” Julian dan Lisna berusaha mencegah Aga. Tidak ingin Aga melakukan kesalahan dan membuat Henri semakin geram.

“Bukanya kau senang ya terbebas dari Anak dan cucuku?” sindir Henri sinis. Gary yang melihat aura Pamannya terlihat lebih gelap dari sebelumnya memilih diam, karena dia yakin pamannya itu mampu sendirian menghadapi Aga dan keluarganya.

“Ryuki itu sudah lama disini! lagipula aku Ayahnya, aku berhak merawatnya!” jawab Aga tak mau kalah. “Aku juga merasa tidak bebas, justru aku senang Ryuki ada disini,”

Henri mendecih meremehkan. “Tau apa kau soal merawat bayi!”

“Aku memang tidak mengerti soal mengasuh bayi! Tapi aku mau Ryuki tinggal disini dan aku sendiri yang akan mendidiknya!”

“Tch! Memangnya kau siapa! Kau itu hanya penyakit yang merusak putriku! beraninya kau mau mendidik cucuku!” cercaan Henri itu membuat orang yang berada disitu terkejut. “Kau mau membuatnya bejat sepertimu, Ha?!” lanjutnya sinis.

“Pak Henri hentikan cara anda yang terus berbicara tidak baik pada putraku!” Lisna tidak terima, kalau saja Julian tidak menahannya ia pasti akan meledak-ledak.

Aga tidak gentar, ia membalas tatapan Henri padanya. “Dari awal anda sendiri yang tidak mau merawat putra Ruby! Anda sendiri yang menyerahkan Ryuki pada kami! Sekarang dengan seenaknya anda mengambil Ryuki!” entah darimana Aga mendapatkan keberaniannya berbicara seperti itu pada Henri, bahkan kedua orang tuanya juga tak percaya.

“Aku berubah fikiran, apa ada masalah?” tanggap Henri enteng sekaligus meremehkan.

“Ayah?!” Ruby yang merasa Ayahnya berbuat seenaknya mencoba menghentikan, tapi saat ia menatap Gary meminta bantuan, Kakak sepupunya itu malah memberi isyarat agar Ruby tetap diam.

“Kau ini memang orang tua tidak bisa dipercaya! Plin plan!” teriak Aga kasar tidak peduli telinga Henri panas dan bersiap menghajarnya lagi kalau bicara. Aga benar-benar tak habis pikir kenapa ia bisa bertemu dengan orang yang seenaknya seperti Henri. Bahkan sifatnya itu melebihi keluarga Arslan yang juga terkenal arogan.

“Aga! Sudahlah! Kau tidak boleh bicara seperti itu!” bentak Julian menghentikan aksi bodoh Aga yang bisa saja membuat Henri mengamuk dirumahnya.

Aga melemparkan tatapan kuatnya pada Julian dan berdiri dari duduknya. “Ayah tidak mengerti, aku menginginkan Ryuki!” geramnya marah. Kemudian Aga berdiri dari kursinya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan semuanya.

“A-Aga…” Ruby mengangkat kepalanya, menatap kepergian Aga dengan khawatir. Kemudian dia juga berdiri berniat menyusul Aga, ia tidak tega melihat Aga terlihat sangat sedih.

“Berhenti disitu Ruu!” baru saja ingin melangkahkan kakinya, suara Gary menahannya untuk tetap tinggal. Menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tangis. Ya, Ruby tidak bisa melawan mereka.

—***—

Aga mendekap tubuh kecil Ryuki, membelai pelan pipi chubby bayi yang dibaringkan disampingnya itu, memandangi wajah imut copyan dirinya dengan raut sedih.

Aga merasa sangat tidak siap kalau harus jauh dari bayi mungil berumur 2 bulan itu, bagaimanapun kehadiran Ryuki memberi warna baru dihidupnya. Ia jadi tau bagaimana rasanya menjadi seorang Ayah, bagaimana rasa sakitnya saat darah dagingnya itu menangis dan sakit, bagaimana bahagianya saat seorang anak selalu ingin selalu didekatnya. Dia mencintai Ryuki, dia menyayangi Ryuki, bahkan kata cinta dan sayang rasanya masih kurang untuk melukiskan perasaannya pada Ryuki.

“Katakan pada mereka kau tidak akan pergi kemana-mana Ryuu….” ucapnya pelan, menatap sedih bayi yang tidak berdosa itu. “Katakan kau bahagia disini bersama Ayah dan Ibu,” lanjutnya. Wajahnya memerah menahan amarah dan tangis sekaligus.

Ryuki melengkungkan bibirnya kecilnya kebawah dalam tidurnya, seolah mendengar kesedihan ayahnya dan ia juga turut bersedih atas apa yang terjadi.

“Kau tau aku sangat menyayangimu?” mencium pelan pipi merah muda Ryuki, “maaf jika dulu aku pernah menolakmu. Maaf aku pernah tidak mengakuimu. Tapi kau tau, pada akhirnya memang aku Ayahmu? Dan aku tidak bisa mengelak karena kau memang sangat mirip denganku, aku sangat lega, aku lega bahwa kau memang putraku. Aku mencintaimu Ryuki, aku ingin terus menjadi Ayahmu, membesarkanmu,”

Tanpa disadari Aga, kegiatanya sedari tadi diawasi oleh sepasang mata emerald indah yang tampak mendung, Ruby berdiri terpaku didekat pintu kamarnya, menyaksikan Aga begitu rapuh sedang mendekap Ryuki dengan protektif. Ruby tidak pernah melihat Aga seperti itu sebelumnya, Ruby tau Aga telah benar-benar mencintai Ryuki.

Hatinya terasa sakit melihat pemandangan didepannya itu, bagaimanapun sudah cukup lama Ruby hidup bersinggungan Aga. Sedih, marah, menangis, malu, semuanya pernah Ia rasakan selama didekat Aga, dan meski ia benci mengakuinya, Ruby mulai terbiasa dan nyaman merawat Ryuki bersama dengan Aga. Bahkan hidupnya sudah biasa terganggu oleh Aga. “A-Aga…” panggilnya lirih, sementara Aga enggan menengok sedikitpun padanya. Ia masih sangat kecewa pada Ruby yang mau saja menuruti semua kemauan Ayah dan Kakaknya.

Pelan-pelan Ruby menghampiri Aga dan duduk ditepian tempat tidur, tepat didepan Aga yang memiringkan badanya memeluk Ryuki.

Membuka mulutnya ragu ketika melihat wajah dan mata Aga memerah, tapi ia harus tetap menyampaikan sesuatu. “Aga, A-aku..harus pergi sekarang juga,” Kalimat terbata yang baru saja keluar lembut dari bibir Ruby bagai petir yang menyambar kepala jabrik Aga. Tidak! itu terlalu cepat! Aga tidak ingin Ruby dan Ryuki pergi secepat itu.

Brengsek! Laki-laki tua brengsek! bisa-bisanya orang itu mengaduk-aduk perasaan Aga seperti ini! Brengsek sudah berani membuatnya ingin menangisi anak perempuan yang pernah ia siakan sebelumnya. Dan pasti laki-laki tua itu sedang bersorak gembira mengetahui Aga menangis, hh! tidak, Aga tidak sudi menangisi Ruby! Bagaimanapun ia tidak akan menangis!

“Aauuh..hikk…aaaeeeekk…uuh…” Ryuki terbangun dan menangis ketika perlahan Ruby mengangkat tubuhnya dan menenagkanya.

“Sssst…tidak apa sayang…ini Ibu,” ucap Ruby menimang Ryuki.

Kemudian Aga bangun dari tidurnya dan duduk. Menundukan kepalanya, menyembunyikan raut mendung dari Istrinya yang sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi mantan Istri.

“Hn. Kau lega sekarang, bisa keluar dari rumah ini?” dengus Aga dengan tawa ambigu.

Ruby diam, menatap sedih Ryuki dipangkuanya. Jujur saja ia tidak bahagia, kalau boleh memilih ia lebih suka tinggal disini. Selain Lisna dan Julian yang baik padanya, Ruby sedikit berat meninggalkan Aga. Tapi Ayahnya? tidak mungkin Ruby melawan. “Tentu saja, aku tidak harus bertemu denganmu, bukankah kau juga senang?” jawab sekaligus bertanya balik, dengan nada seakan baik-baik saja.

“Eh..aku..aku tidak masalah kau pergi, tapi Ryuki…” Aga tidak tau harus berkata apa, tapi yang jelas perkataannya barusan sedikit membuat Ruby sedih. Ya Ruby tau Aga hanya menginginkan Ryuki. Bukan dirinya. Entahlah, kenapa Ruby jadi berharap banyak padanya, lagipula ia tidak harus cemburu pada Ryuki kan?

“Iyaaa… aku mengerti, Ryuki. Kau keberatan Ryuki bersamaku, tapi kau tau kan kalau akan lebih baik jika seorang anak dirawat ibunya? aku berjanji akan merawat Ryuki dengan baik,” terang Ruby dengan suara yang sedikit bergetar.

“Dia putraku, seharusnya ayahnya yang membesarkanya,”

“Aku yang mengandung dan melahirkannya!” Ruby tidak mau mengalah.

“Ryuki putra kita berdua, akan lebih baik jika dia dirawat kedua orang tuanya, bukan begitu? Heh?” Kalimat Aga membungkam bibir Ruby, Aga sendiri tidak tau darimana kata-kata itu bisa terucap dari bibirnya. Yang jelas memang itu yang dia inginkan, merawat Ryuki bersama Ruby seperti kurang lebih satu bulan setengah ini.

“Maksudku…akuu…” Aga meremas sprei berwarna merah yang menghias ranjang yang didudukinya, menghentikan kalimatnya ragu.

“Aku mengerti, aku tau kau sangat mencintai Ryuki,” potong Ruby. Tapi bukan itu yang ingin diucapkan Aga, lelaki jabrik yang jadi suaminya itu ingin mengatakan bahwa ia sangat mencintai Ryuki dan dirinya, tapi lidahnya kelu.

“Tidak bisakah kau meminta Ayahmu untuk membiarkan kalian tetap tinggal disini sampai kita benar-benar bercerai?” suara lirih penuh harap itu sedikit membuat Ruby senang, Aga ingin menahan mereka lebih lama. Tapi ia diam tak menjawab, hanya menatap wajah Ryuki yang mulai tertidur dipangkuanya.

“Baiklah, aku tau jawabanya! Kau tidak akan meminta hal bodoh pada lelaki tua yang seenaknya itu kan!?” Aga sedikit meninggikan suaranya.

“Aga! Dia Ayahku!” kata Ruby menatap Aga tidak suka.

“Baiklah aku tidak akan membahasnya! Sebelum kau pergi, aku hanya ingin mengatakanya padamu, aku…” menghentikan kalimatnya ragu. Sedangkan Ruby menatapnya penuh tanya.

“Selama ini, sebenarnya aku-” Aga menghentikan kalimatnya.

“Apa?” tanya Ruby heran, menatap wajah tampan Aga yang sendu semakin memberatkan hatinya.

“Eh, tidak- “Kau masih ingat saat kita menikah paksa? lalu saat kau ngidam dan menyuruhku mencarikan makanan-makanan aneh? seenaknya tidak perduli siang atau malam?” Aga mengingat-ingat masa lalunya.

“Um..huum..” Ruby mengangguk.

“Saat Ryuki cerewet dan sakit, itu semua menjadi kenangan yang tidak akan aku lupakan,” lanjut Aga. Ruby tersenyum mengingat semua, melirik Aga yang tersenyum pahit menceritakan semua hal yang mereka alami.

Lalu Aga memberanikan diri membalas tatapan Ruby padanya. Memandangi wajah cantik Ruby yang sendu, mengulurkan tanganya membelai pipi halus Istrinya itu.

“Ruu, aku…aku…” mata indah Aga dan Ruby kembali bertemu, tatapan yang jelas menjelaskan perasaan betapa mereka saling mencintai. Tapi mulut keduanya seakan kelu untuk mengungkapkan kata ‘Aku mencintaimu.’ Apalagi kalau bukan dinding gengsi yang menghalangi keduanya, lebih tepatnya ketakutan akan cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Sedetik kemudian Aga mendekatkan wajahnya pada Ruby, memiringkan kepalanya kekiri lalu dengan lembut mencium bibir Ruby yang beberapa jam lalu sudah habis ia lumat.

Beberapa detik hanya mengecup pelan, beberapa menit kemudian keduanya saling melumat. Dada keduanya kembali berdetak dengan keras. Ciuman yang mereka lakukan juga terasa sangat dalam dan manis.

Tangan Aga menahan leher belakang Ruby, menariknya dan semakin menenggelamkan bibirnya dibibir Ruby, seakan tidak mau sedikitpun Aga melepas ciumannya itu, begitupun dengan Ruby. Ciuman keduanya kali ini penuh dengan emosi dan cinta yang tak tergambarkan, ciuman panas sekaligus manis sampai keduanya seakan enggan berhenti menyesap rasa manisnya.

Keduanya memejamkan mata, ciuman itu lebih tepat jika disebut sebagai ciuman yang menggambarkan perasaan mereka, ciuman yang menggambarkan bahwa mereka ingin memiliki satu sama lain.

Hingga saat Aga mulai kehilangan kendali, dengan gemas ia meraba dan meremas salah satu dada Ruby disertai gigitan keras bibir bawah Ruby.

“Ugh! Sakit!” pekik Ruby mendorong dada Aga. Ya, Aga telah merusak suasana yang sedikit hangat barusan.

“Maaf…” ucap Aga lembut, kemudian mendekatkan lagi wajahnya, ingin mengulang kembali ciuman yang baru saja terjadi.

“Sudahlah, aku harus pergi. Ayah dan Gary sudah menungguku,” Ruby menahan dada Aga. Tapi Aga tidak peduli, dia terus mendesak Ruby untuk mencium bibirnya lagi. “Aga hentikan! aku harus menikah dan pindah ke London!”

Degh!

Seakan palu besar tengah menghantam keras dada Aga, membuatnya seketika melepaskan cengkramannya pada lengan Ruby. Bagaimana bisa secara mendadak Ruby harus menikah lagi. “De-dengan siapa?!” tanya Aga berat.

“Dengan anak rekan bisnis Ayahku, teman kecilku. Perjodohan kami dilakukan sejak kami masih anak-anak. Kalau aku menolaknya, nama baik Ayah akan tercoreng,”

“Hh!” Aga tersenyum sinis, sekarang dia semakin tidak mengerti apa mau orang tua itu. Menjodohkan anaknya sendiri sejak mereka masih anak-anak? Dan sekarang bahkan Ruby sendiri tidak mau menolak hanya untuk melindungi namanya?!

“Hh! baik! pergilah! lebih cepat kau pergi dari sini lebih baik!” Aga benar-benar kecewa, tapi kalau Ruby sendiri mau, bisa apa dirinya?

Kemudian Aga beranjak pergi dari duduknya, keluar meninggalkan Ruby begitu saja, setelah sebelumnya membanting pintu kamar dengan keras membuat Ryuki berjingkat kaget kemudian menangis.

“Ssssttt sayaaang…. tidak papa, ada Ibu disini.” Ruby menitikan airmatanya yang sedari tadi ia tahan, mencium Ryuki dalam-dalam menumpahkan rasa bersalahnya pada Aga, sekali lagi dirinya tidak bisa menolak kemauan Ayahnya.

—***—

Keluarga Nugraha beserta beberapa maid dan pengawal sudah berkumpul dihalaman utama, mereka disana untuk mengantarkan Ruby dan Ryuki pergi. Kecuali Aga yang enggan menampakan dirinya.

“Ruu, beri kami kabar tentangmu ya?” ucap Lisna memeluk Ruby dengan erat, wajahnya terlihat sangat sedih dan tidak rela.

“B-baik Ibu,” balas Ruby lembut. Kemudian Lisna melepaskan pelukannya membiarkan Ruby berpamitan dengan Julian.

“Ayah Julian, terima kasih sudah diijinkan tinggal disini, maaf jika aku selalu merepotkan semuanya.”

“Jangan bilang begitu, kau sudah kami anggap sebagai putri kandung kami sendiri,” balas Julian tersenyum tulus, memeluk Ruby. “Senang pernah mempunyai menantu yang baik dan cantik sepertimu Ruu…” lanjutnya.

“Hm..iyaa!” jawab Ruby mengangguk, tersenyum senang mendengarnya.

Julian melepaskan pelukan Ruby dan mengacak lembut rambut Ruby sebagai tanda ia juga menyayangi Ruby.

“Oh ya Ryuki tampan, kau jangan nakal ya? Jangan sakit lagi, kau cucuku yang paling hebat,” Lisna mencium Ryuki yang berada dalam gendongan Ruby.

Kemudian Julian bergantian mencium Ryuki. “Jaga Ibumu ya Ryuki,” ucapnya. Satu jarinya tengah digenggam Ryuki, menatap kakeknya dan tertawa lebar tanpa suara. Hal itu membuat Lisna dan Julian semakin berat hati ditinggalkan Ryuki.

Sementara itu Henri menatap dingin dan bosan pada Anak dan besannya yang sedang melepas rindu. Beda lagi dengan Aga, pemandangan itu sangat menyesakkan dadanya. Ia berdiri disana dikamar Ruby, menyaksikan pemandangan itu dari balik kaca jendelanya.

“Bisakah kau cepat sedikit Ruu?!” rusak Gary yang juga mulai bosan dengan perpisahan yang menurutnya sangat lama. Sedari tadi ia melipat tanganya dan bersandar pada mobil berwarna silvernya.

“I-iya,” jawab Ruby cepat. Lalu setelah berpamitan untuk yang kesekian kalinya, Ruby mulai masuk kedalam mobil setelah Gary membukakan pintu untuknya, sebelumnya Ruby menyempatkan diri memandang jendela kamarnya, berharap Aga berada disana, dan berteriak menahannya untuk pergi.

Namun hanya angin yang berhembus menerpa daun hias didepan kamarnya yang terlihat. Ruby menundukan kepalanya kecewa. Ya dia tau, Aga adalah lelaki pecundang yang tidak mungkin berani menahannya pergi. Dia masih ingat betul bagaimana Aga tidak mengaku kalau telah memperkosanya.

“Kau baik saja Ruu?” tegur Lisna melihat perubahan wajah Ruby.

“Eh..eh tidak Ibu,” Ruby menegakan kepalanya dan menggeleng cepat. Tidak mungkin dia mengatakan kalau ia sangat berharap Aga menahannya.

Lisna tersenyum dan mengusap pelan pipi Ruby.

“Kalau begitu aku harus pergi sekarang Ayah, Ibu,” pamit Ruby, menatap Julian dan Lisna bergantian.

“Baik, jaga dirimu dan Ryuki,” balas Lisna, wajahnya ia buat seolah tidak terjadi apa-apa, Ruby tau Ibu mertuanya itu sangat sedih.

Ruby tersenyum, kemudian menutup pintu mobil mewah milik Ayahnya itu.

“Kami pergi dulu Julian!” pamit Henri, kemudian masuk kedalam mobil, mengambil tempat disamping Ruby.

“Baik, hati-hati. Jaga cucuku,” balas Julian mencoba tetap tersenyum.

Setelah beberapa saat kemudian Garry yang mengambil kemudi, menstrarter mobil dan menjalankannya perlahan. Ruby membuka kaca mobilnya hanya untuk melambai kearah Julian dan Lisna, Lisna mereka membalas dengan pandangan tidak rela dan wajah yang mulai memerah menahan tangisan.

Julian mengerti hal itu, ia memeluk bahu Lisna yang mulai menangis melihat mobil yang membawa menantu dan cucunya semakin menjauh menghilang dari pandangan mereka.

—***—

Ruby nampak gelisah dikamarnya, dengan Ryuki yang masih saja terus menangis digendonganya sejak jam tidurnya tadi, beberapa kali Ruby mencoba menyusuinya tapi ditolak. Bahkan sekarang digendong sembari diayun pelan, yang notabene itu kesukaan Ryuki tetap saja ia menangis histeris.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.21 pagi. Beribu ungkapan sayang telah mengalun dari bibir Ruby untuk Ryuki, namun semua itu tidak cukup membuat Ryuki tenang dan tidur.

Gary sang kakak hanya bisa menunggui dan berharap keponakanya itu segera tenang dan tidur. Karena jujur saja Gary tidak tega melihat Ryuki menangis begitu keras dan lama. Andai saja ia bisa melakukan sesuatu, menggendong Ryuki saja hanya bisa ia lakukan sambil duduk.

Gary duduk ditepian tempat tidur Ruby, berharap cemas melihat Adikknya tampak kwalahan. “Apa yang harus kita lakukan untuk membuatnya diam, Ruu?” tanya Gary seperti mengetahui bahwa Ruby sedang berfikir sesuatu.

Ruby menatap kakaknya. Dengan ragu lalu menjawab. “Ryuki biasa tidur dengan Aga,”

“Maksudmu?” Gary menautkan alisnya tidak mengerti.

Ruby menghela nafasnya lalu menghembuskanya. “Kami tidur bertiga disatu kamar, Ryuki tidak pernah mau tidur jika tidak didekat Aga,” jelas Ruby membuat Gary tak percaya.

Pria yang mempunyai warna mata sama sepertinya itu masih menampakan wajah tidak mengerti. “Tapi kau kan ibunya?”

“Ryuki hanya akan tidur jika Aga didekatnya, Kakak.” ulang Ruby lembut.

“Sejak kapan? setauku bocah berkepala durian itu tidak memperdulikan kalian!”

“Sejak Ryuki sakit, Aga selalu bersama kami, menjaga kami,” jawab Ruby lagi. “Sejak saat itu, Ryuki selalu terbiasa dengan Aga disampingnya,” Ya Gary mengingatnya, Gary ingat Aga menjaga adik dan keponakanya waktu itu.

Kemudian pemuda itu tampak berfikir, mau bagaimana lagi. Meski Ryuki masih bayi justru feelingnya lebih kuat, satu-satunya cara memanglah Aga harus ada didekat Ryuki. Tapi itu tidak boleh.

—***—

Sementara dikediaman Nugraha, pemuda berambut jabrik itu nampak berbaring sendirian dikamar yang beberapa waktu ini ia tempati bersama keluarga kecilnya.

Kamar yang sengaja ia matikan lampunya agar semua mengira ia sudah tertidur disana. Seharian ini, Aga hanya mengurung diri, tidak makan dan tidak perduli dirinya sendiri.

Memeluk bantal kecil berbentuk kelinci berwarna putih berbulu halus, bantal milik Ryuki putra yang sedang ia rindukan saat ini.

Beberapa kali Aga menghirup dalam-dalam aroma Ryuki yang masih tertinggal dibantal lucu itu. “Ryuki…Ruby…” lirihnya pelan. Hatinya terasa sakit, mengingat kebahagiaan yang baru saja ia rasakan bersama putra dan istrinya direnggut pria tua yang menurutnya plin plan itu.

Ah! Andai saja orang tua kolot itu tidak membawa keluarganya pulang, saat ini seharusnya dirinya sedang memeluk Ruby yang sedang tertidur. Walau itu tanpa sepengatahuan Ruby, mencium pipi Rubu dan Ryuki disaat mereka terlelap.

Kembali Aga mengusap bantal didekapanya, menghirup lagi wangi Ryuki yang membuat Aga semakin kuat ingin bertemu kopian kecilnya. “Ryuu… apa kau sudah tidur?” lirihnya kembali.

Tanpa disadari Aga, kegiatanya diawasi oleh kedua orang tuanya. Mereka sengaja bangun dari tidurnya untuk melihat keadaan Aga. Melihatnya dari pintu kamar yang dibuka sedikit.

Lisna menatap cemas putranya, dan Julian hanya memeluk bahu Lisna mencoba memberi rasa nyaman.

“Dia belum makan hari ini, Julian.” ujar Lisna sedih. Ia ingin mendekati Aga, tapi Julian mencegahnya.

“Istirahatlah, kau juga tidak tidur sedari tadi. Biar aku yang bicara denganya,”

Lisna menatap Julian ragu. “Percayalah padaku Lisna,” Julian meyakinkan istrinya yang masih ragu. Karena setaunya Julian tidak pernah berhasil membujuk Aga.

“Baiklah Julian,” Ibu cantik itu mencoba tersenyum, menyerahkan pada suaminya. Apa salahnya kali ini mencoba percaya, membiarkan Julian mendekati Aga.

Pria berusia 45 tahun itu berlahan mendekati Aga, putera tunggalnya yang meringkuk memeluk bantal Ryuki.

Kemudian ia duduk dipinggiran bed berseprei merah yang biasa dipakai Ruby, sengaja Aga melarang maidnya mengganti sprei itu.

Permahan Julian mengulurkan tanganya, membelai pelan kepala Aga. Aga sedikit terkejut karena kedatangan Julian tak ia sadari, Aga terlalu sibuk memikirkan keluarga kecilnya. Namun dari aroma tubuh yang ia kenal, Aga tau itu ayahnya.

“Ibu menghawatirkanmu,” kata Julian membuka percakapan. “Kau kenapa?” lanjutnya menannyakan sesuatu yang Julian sendiri tau jawabannya.

“Aku tidak apa-apa, hanya tidak enak badan,” jawab Aga kaku, tanpa menoleh ayahnya.

Julian menghela nafas dalam dan menghembuskannya. “Kau mengurung diri dan tidak makan, kau bilang tidak apa-apa?” seru Julian. “Kau tau? Ibu mencemaskanmu!”

“Katakan pada Ibu aku tidak apa-apa!”

“Hn, kau sangat tidak sopan Aga!” sindir Julian. “Setidaknya ceritakan apa masalahmu,”

Aga diam tak bergeming, didalam temaranya lampu kamar Aga memejamkan matanya. Dia sendiri tidak tahu betul apa yang sedang ia rasakan, bukankah seharusnya ia senang keinginanya berpisah dari Ruby terwujud?

“Aku tidak tahu Ayah,” jawabnya lesu.

Julian mengernyitkan dahinya, anaknya ini benar-benar tidak mau terbuka padanya. “Baiklah baiklah, kalau boleh menebak-” Julian menghentikan kalimatnya, memastikan Aga tidak akan terkejut.

Aga melirik ayahnya, menunggu apa yang akan dikatakan ayahnya.

“- bawa mereka pulang, dan katakan padanya kau mencintainya,” lanjut Julian membuat duplikat dirinya sedikit terkejut.

“A-ma-maksud Ayah?” Aga memastikan.

“Ayah tidak akan mengulanginya lagi, bawa pulang Ruby dan Ryuki jika kau mencintai mereka. Hadapi orang tuanya, yakinkan mereka kalau kau benar-benar serius. Atau kau akan kehilangan mereka dan terus hidup sebagai pecundang yang menyesali perbuatannya, tanpa pernah meminta maaf dan tanpa pernah mengungkapkan perasaannya?” Aga membulatkan mata safirnya didalam keremangan kamar itu, kalau difikir memang dirinya tidak pernah mencoba meminta maaf pada Ruby, apalagi mengungkapkan perasaannya pada wanita itu.

“Kau sudah dewasa bukan? ambilah keputusan, dan jangan menyesali apapun pilihanmu nantinya,” Julian berdiri dari duduknya. “Singkirkan egomu, sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan apa yang kau inginkan kalau kau tidak mau memperjuangkannya, sekarang makanlah dulu, Ayah tidak suka kau berani membuat Ibumu khawatir,” lalu tanpa menunggu jawaban dari Aga, Julian berjalan keluar kamar meninggalkan putranya sendirian didalam kamar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*