Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 8

Buah Dari Masa Depan 8

Emerald itu melirik sebentar kearah Arslan yang melewatinya, lalu kembali menatap tajam Aga yang berada didepannya. Aga pasrah kalau saja sekarang Ruby mau memukul atau menendangnya.

“Hiks…hiks…ooeeekk… ” Ryuki tiba-tiba gelisah dan menangis, membuat perhatian Ruby tertuju pada Ryuki didekapannya. Lalu menatap Aga tajam, seolah menuduhnya melakukan sesuatu.

“Kenapa menatapku?! kau yang membuatnya menangis, bukan aku!” sadar dengan sorot mata Ruby, Aga membela diri.

“Kau apakan Ryuki?!” ia tak percaya begitu saja.

“Tidak ada!”

“Lalu kenapa Ryuki menangis?!” timpal Ruby takut sesuatu telah dilakukan Aga.

“Mana aku tau! mungkin kau menariknya terlalu kasar!”balas Aga tidak mau menjadi tersangaka atas menangisnya Ryuki.

“Shh…sayang, timang timaaang…diam sayang…” Ruby mencoba menenangkan Ryuki yang menangis sambil memejamkan matanya yang kecil.

“Coba biarkan aku saja yang menggendongnya,” pinta Aga. Tidak tega juga melihat Ryuki menangis seperti itu.

“Tidak boleh!” Ruby menolak kasar.

“Dia ingin bermain denganku, kemarikan sebentar saja!”

“Ma-mana mungkin! Ryuki senang bersamaku, aku Ibunya!” bentak Ruby tidak terima.

“Lalu apa salahnya?! aku juga Aya-” Aga menghentikan kalimatnya, ragu menyebut dirinya Ayah Ryuki. Bagaimana ya, bukannya tidak mau. Tapi bukankah dulu ia tidak mau mengakuinya, kalau tiba-tiba dia berkata seperti itu malu juga.

“Apa?!” seru Ruby masih dengan wajah ketusnya.

“Sudahlah, aku lelah bertengkar denganmu. Aku hanya ingin menenangkan Ryuki, memangnya apa salahnya?” Aga merendahkan suaranya pasrah.

“Ti-tidak ada yang salah, hanya saja Ryuki-”

“Sudahlah kalau boleh kemarikan, kau tidak kasihan dia terus menangis begitu?”

Bulatan kristal hijau Ruby teralih menatap Ryuki, dan bayi mungilnya itu masih menangis. Iya tidak tega juga melihatnya, tapi kalau Aga yang menenangkannya ia juga tidak yakin.

“Ayolah, sebentar saja Ruu,” bujuk Aga membuyarkan lamunan Ruby.

“Tapi dia harus minum susu, dan tidur!” jawab Ruby tegas.

“Sebentar saja, kau boleh menyusuinya setelah dia berhenti menangis,” Aga meyakinkan.

Ruby terdiam, ia terlihat ragu tapi jujur saja Ryuki memang susah dibujuk kalau sudah menangis seperti itu. Dan kali ini ada Aga yang menawarkan dirinya untuk membantu menenangkan Ryuki, apa salahnya dicoba? selama dia disamping Ryuki, Aga tidak akan bisa menyakiti Ryuki. Ya, bukankah Aga juga ayahnya, sepertinya Aga tulus mau menenangkan Ryuki.

Dengan ragu Ruby membiarkan Aga merengkuh tubuh Ryuki dari dekapannya, membiarkan Aga menimang Ryuki. Walau masih kaku dengan Ryuki digendongannya, tapi cukuplah untuk seorang pria yang tidak pernah menggendong bayi.

“Ssstt…sst.. tenanglah… ini aku, bukanya sudah kubilang laki-laki tidak boleh gampang menangis?” ujar Aga pada Ryuki, mengguncang pelan tubuh Ryuki kemudian mengelus pelan pipi merah itu menenangkan puteranya.

Setelah beberapa menit kemudian Ryuki berhasil ditenangkan, bayi mungil itu memejamkan matanya sambil menyesap jempol kanannya dengan nyaman. Ruby yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum tipis, ada sedikit rasa lega melihat Aga memperlakukan Ryuki dengan lembut. Tidak menyangka, pemuda kekanakan sepertinya bisa juga bersikap lembut pada seorang bayi, dan aura itu, entah aura apa yang dipancarkan Aga saat itu. Dia terlihat lebih menarik, em…bukan! tapi apa ya, yah Ruby juga tak tau pasti, mungkin terlihat lebih dewasa. Mungkin.

“He! Ryuki-nya sudah tidur,” suara Aga membuyarkan lamunan Ruby.

“Eh?”

“Kau mau membawanya kekamarmu, atau berdiam diri dan mengagumi ketampananku disana? He?” goda Aga menaikan sebelah alisnya berlagak keren.

‘Plash’

Wajah seputih porselen itu memerah. “Si-siapa yang mengagumimu! aku..aku hanya, em… aku akan menidurkan Ryuki sekarang!” merebut begitu saja Ryuki dari tangan Aga, kemudian pergi secepat mungkin dari hadapan Aga sambil menyembunyikan pipinya yang memerah seperti tomat masak.

“Dasar wanita aneh, kau aneh, dan kau…ah! lupakan!” gerutu Aga berbicara sendiri sambil menatap punggung dengan rambut lurus yang mulai menghilang dari pandanganya, kemudian masuk kekamar dengan Ryuki.

Lalu beberapa saat kemudian Aga berbalik dan mengambil ponselnya yang tergeletak dilantai, kemudian membuka galeri fotonya memeriksa foto yang beberapa saat lalu dibuat Arslan. Aga tersenyum melihat foto-fotonya dengan Ryuki, tampak beberapa foto dengan gaya yang lucu, tawa lebar Ryuki dengan alis buatannya yang tebal. Yaah… itu sangat lucu dan akrab.

—***—

“Paman, lalu kapan paman akan membicarakan perceraian Adikku dan Aga?” tanya pemuda dengan mata emerald yang tajam, ia bertanya pada seorang pria setengah baya yang sedang duduk dimeja kerjanya, tampak sibuk dengan dokumen-dokumen perusahaanya.

Kemudian pria yang dipanggilnya paman itu meletakan dokumen – dokumen itu kemeja, melirik sebentar kearah keponakan laki-lakinya yang berdiri mematung didepan meja kerjanya. Pemuda itu memang seperti itu, tidak bisa duduk dengan tenang kalau sudah menyangkut adik kesayangannya. “Mungkin secepatnya, menunggu Julian pulang dari Perancis!” jawabnya dengan suara yang berat dan tegas.

“Lalu apa paman akan tetap membawa Ryuki?”

“Ruby dan putranya akan tinggal bersama kita,”

“Aku senang mendengarnya paman, baiklah kalau begitu, sebaiknya aku mulai menyiapkan kamar Ruby dan Ryuki,” ucap Gary.

“Kerjakan saja jika itu memang perlu, kau kakak yang bisa diandalkan,” jawab Henri, menatap anak dari adiknya itu yakin.

“Baik paman, terima kasih.” balas Gary tersenyum tipis, kemudian meninggalkan Henri yang kembali sibuk dengan berkas perusahaanya.

—***—

Siang telah berganti malam dengan gelapnya yang pekat. Hujan yang turun sedari petang belum juga reda sampai tengah malam, masih menyisakan ribuan rintik yang berjatuhan kebumi. Hawa dingin dan suara rintiknya membuat sebagian orang semakin nyaman berada dibawah selimut tebal mereka masing-masing.

Tapi tidak dengan Ruby, ia masih terjaga dengan raut wajah yang tampak khawatir. Ia mengguncang pelan tubuh Ryuki agar bayi itu berhenti menangis, beberapa kali ia menempelkan punggung tangannya dikening Ryuki. Mengecek suhu badan Ryuki yang ternyata belum juga turun sejak sore tadi.

Ini adalah pengalaman pertama bagi Ruby menghadapi putranya yang demam, meski begitu ia berusaha agar tidak panik. Ia juga beberapa kali sudah menanyakan pada Lisna tentang apa yang harus dilakukannya. Yang ia dapat adalah, Lisna menyarankan agar mengompres Ryuki dan melepas selimutnya.

Ruby sudah melakukannya tapi sudah berlembar-lembar penurun panas ia ganti dari kening Ryuki, namun suhu panas sang putra belum juga turun. Sedari tadi Ryuki rewel dan menangis, sesekali tidur dan kemudian kembali menangis tidak nyaman.

Ruby melihat jam di dindingnya, waktu sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari, dan bayi berusia hampir dua bulan itu masih bergerak-gerak gelisah tanpa mau menyentuh ASI yang diberikan Ruby.

“Ryuki?” pekik Ruby saat punggung tangannya menyentuh leher Ryuki. Suhu badannya kembali naik! Dan sekarang ia tak bisa lagi bersikap tenang, Ruby sudah benar-benar panik, ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan lagi.

“Hiks…eeoooeekk…nneee…oooeekk!” tangis Ryuki gelisah.

“Sayang… ssh..ssh, cup cup…sayang, Ryuki sayang tenang ya?” Ruby mengangkat tubuh Ryuki, mendekapnya berusaha memberikan rasa nyaman untuk Ryuki. Namun nyatanya Ryuki masih terus menangis.

“Sayang… Ibu disini sayang tenanglah, kita kedokter!” ujar Ruby memutuskan. “Ssstt…sabar ya sayang,” mencium lembut pipi Ryuki yang panas.

Kedokter, iya Ruby tau ia harus membawa Ryuki kedokter segera. Tapi Ruby tidak bisa membawa mobilnya sendiri, dan ia tau driver mereka sudah pulang kerumah masing-masing.

Lalu apa yang harus dilakukannya, menanyakan berapa nomor pribadi driver keluarga Nugraha? tapi itu tidak sempat sedangkan ia harus cepat, satu-satunya penghuni rumah ini yang bisa membawa mobil hanyalah Aga, iya Aga!

Tanpa pikir panjang Ruby berlari kecil keluar dari kamarnya, membawa Ryuki didekapanya yang masih menangis keras, bahkan ia tidak peduli kalau Aga akan menolak! Ruby akan memaksa Aga, bahkan kalau harus bersujud untuk diantarkan akan Ruby lakukan! semua demi Ryuki.

‘Brak! brak! brak!’

“Aga! bangun Aga!” dengan kasar Ruby menggedor pintu kayu Aga, mulai tidak sabaran karena tangisan Ryuki mulai tak wajar, dan itu membuat Ruby tak kuasa menahan tangisannya.

“AGA KUMOHON BUKA PINTUNYA! BUKA AGAAA! BUKAA!” Ruby menjerit histeris saat Ryuki menangis gemetar, bahkan Ryuki sudah tidak mengeluarkan suaranya lagi.

“Ryuki! kumohon jangan begini nak…sabar sebentar ya sayang!” tangis Ruby panik.

‘Brak!brak!’ Ruby kembali menggedor dengan keras, seakan menumpahkan kekhawatirannya dipintu kayu tak berdosa itu.

“AGAAAAA! AGAA KUMOHON BANGUN! Tolong Ryuki Agaaaa! tolong Ryukiiiiii” teriak Ruby mulai putus asa.

“Nona Ruby?!”

“Ada apa Nona Ruby?!”

Lalu beberapa maid dan penjaga datang tergopoh-gopoh berkumpul menghampiri Ruby.

“Ryuki sakit…” jawabnya dengan tangisan.

‘Cklek’ pintu kamar Aga terbuka. “Ada apa?” melongokan kepalanya, dan iris birunya terbelalak mendapati Ruby bercucuran air mata dengan rambut yang berantakan.

“Aga Ryuki sakit! cepat antar aku kerumah sakit! kumohon!” tangis Ruby menarik-narik lengan baju Aga.

Aga memegang dahi Ryuki, “Ryuki?!” dan kemudian wajahnya menegang. Seketika ia juga panik mengetahui kening Ryuki sangat panas.

“A-aku ambil kunci mobil dulu!” Aga melesat, bergegas masuk kedalam kamarnya dan mengambil kunci mobilnya. Ryuki masih terus menangis, Ruby berusaha menenangkan semampunya, tapi Ryuki terus menangis, tangisannya tidak seperti biasanya. Sedangkan maid dan penjaga rumah itu hanya bisa menatapnya penuh kekhawatiran.

Dan tidak perlu waktu lama, Aga kembali dengan membawa kunci mobilnya. “Ayo Ruu, bawa Ryuki cepat!” ajaknya terburu-buru diikuti Ruby dibelakangnya. Lupakan soal pakaian Aga, bahkan ia tak sempat mengganti kaus putih polosnya dan celana santainya.

“I-iya!” mereka berjalan menurun tangga rumah dengan tergesa-gesa.

Aga mendahului Ruby yang berada dibelakangnya, keduanya terburu-buru dan panik. Maklum saja mereka hanyalah sepasang pasangan muda yang tidak mengerti apa-apa, tidak didampingi siapapun disaat genting seperti ini.

Setelah mengambil mobilnya Aga menuntun Ruby masuk kedalam mobil hitamnya, dan dengan serampangan Aga menutup pintu mobilnya, ia sangat panik! benar-benar panik. Lalu Aga berlari ke kursi kemudi, menstarter kemudian menjalankan mobilnya. Tidak perlu ada yang membukakan pintu gerbangnya, karena hanya dengan menekan password Aga bisa bebas keluar dari rumahnya dan melesatkan mobil sportnya itu dengan cepat.

Beruntung karena jalanan sudah sepi, selain karena hujan yang turun hari juga sudah mulai pagi. Aga melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, andai saja bukan karena ingin segera membawa Ryuki ke Dokter, mungkin Ruby sudah pingsan sedari tadi, ini terlalu berlebihan untuknya.

Mata biru Aga sesekali melirik Ryuki yang masih menangis, tampak sebuah kekhawatiran tersirat diwajahnya.

“Ooeeek…ooooeeek!..aaa..ooeeekkk…” Ryuki terus menangis, tubuhnya menggeliat tidak nyaman. Beberapa kali mau melompat dari tangan Ruby.

“Ryuki kumohon… jangan begini nak..” bujuk Ruby berusaha tenang meski suaranya bergetar, menandakan bahwa ia benar-benar tidak tenang. Pemandangan itu semakin membuat perasaan Aga gundah. Aga tidak sabaran, sebisanya ia melajukan mobilnya dengan kencang, ia tak kuasa melihat dua orang yang entah sejak kapan menjadi sangat berharga baginya sedih dan sakit itu membuat hatinya terasa sakit.

“Ruu…tenanglah, sebentar lagi kita sampai.” ujar Aga mencoba menenangkan Ruby. Walau sebenarnya ia benar-benar tidak tega melihat Ryuki seakan kesakitan disekujur tubuhnya.

“Aga! Ryuki kenapa?!” pekik Ruby hampir tak percaya melihat tubuh Ryuki mengejang, mata birunya membalik keatas hanya terlihat bagian putihnya saja.

“Ryuki!” Seru Aga semakin melihat Ryuki kejang-kejang “Ki-kita akan sampai Ruu sebentar lagi!” hati Aga terasa begitu sakit, ia ingin menangis saja melihat Ryuki seperti itu, ia benar-benar gugup apalagi Ruby sudah menjerit-jerit sambil mendekap Ryuki.

Mobil hitam itu melaju dengan cepat ditengah gerimis yang belum reda, beberapa menit kemudian mobil hitam Aga telah memasuki halaman rumah sakit International itu.

‘Blam!’

Dengan kasar Aga menutup pintu mobilnya dan keluar berlari kepintu Ruby, membukakan pintu Ruby dengan tidak sabaran.

“Cepat Ruu!” sekali lagi, mereka hanyalah pasangan muda yang tidak punya pengalaman apa-apa soal ini.

Keduanya berlari secepat mungkin mencari perawat, dan tentu saja dengan mudah mereka menjumpai dilorong rumah sakit.

Setelah Ryuki diserahkan keperawat kemudian dibawa kedalam ruang ICU, Ruby yang masih stress berusaha menemani Ryuki tapi perawat melarangnya, dengan berat hati Ruby membiarkan Ryuki dirawat sendirian.

Pundak Ruby bergetar tak kuasa menahan tangisnya, mematung didepan ruang ICU. Melihat Ryuki dibawa keruang rawat tanpa dirinya sangat-sangat membuat perasaannya semakin khawatir. Pipi mulusnya terus basah oleh lelehan air mata suci-nya yang sedari tadi menetes dari bulatan emeraldnya, dan agar tangisnya tak pecah Ruby menutup mulutnya rapat-rapat dengan telapak tangan, menjerit sekencangnya agar teriakannya tak terdengar siapapun.

“Ruu…” Aga menelan ludahnya dengan susah payah, ia masih terlihat shock, raut wajahnya masih tegang menyiratkan kekhawatiran, tapi dia seorang pria. Bagaimana kalau ia juga lepas kontrol seperti Ruby? itu akan membuat mental Ruby semakin down, jadi ia harus berpura-pura tegar.

Aga mendekati Ruby, tidak tau apa yang harus ia katakan pada Ruby, yang jelas perasaannya tak jauh beda dengan Ruby. Ia sentuh pundak Ruby yang membelakanginya. “Tenang Ruu..” ucapnya bohong, padahal ia juga tidak tenang.

Ruby berbalik menghadap Aga. “Agaaaaa…hiks…” tanpa disangka sebelumnya, Ruby menghambur kepelukan sang Nugraha muda yang sering disebutnya ‘menyebalkan’. Memeluk tubuh Aga dengan kencang, menangis tersedu-sedu didada bidang Aga.

“Eh?!” membulatkan iris safirnya, detak jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, terkejut dengan gerakan tiba-tiba Ruby. Namun beberapa detik kemudian safir itu kembali teduh meski detak jantungnya tak dapat ia kontrol, ia mengerti apa yang sedang dirasakan istrinya itu, ia tau Ruby butuh sandaran disaat yang seperti ini. Sekuat apapun, Ruby tetaplah seorang wanita yang butuh pendamping saat dirinya begitu rapuh.

Tidak mau mengganggu Ruby, Aga hanya diam saat Ruby memeluknya terlalu erat, membiarkan dada bidang yang tertutup kaus itu ikut basah oleh airmata Ruby. Aga yakin, Ruby mendengar detak jantungnya yang seolah mau keluar dari dadanya itu. Apa itu terlihat memalukan saat seorang wanita mengetahui jantungmu berdetak kencang saat dia berada didekatmu?

“Hiks…Ryuki… hiks…aku takut Aga…” lirihnya pelan.

Sebagai seorang pria yang melihat wanita yang sering mampir ditidurnya bersedih seperti itu, jujur saja membuat perasaannya bergetar. Dengan ragu kedua tangan kekar yang sedari tadi bergantung disisi badanya kini terangkat. Ragu ingin membalas mendekap tubuh mungil yang kini masih terisak dihadapanya, ragu jikalau Ruby marah dan menolaknya. Tapi apa salahnya mencoba? perasaanya tulus, hanya ingin menenangkan dan memberikan perasaan nyaman terhadap ibu dari anaknya ini.

Entah darimana Aga mengumpulkan keberanianya, Aga memutuskan membalas pelukan Ruby. “Ruu…, aku yakin Ryuki tidak apa-apa,” kedua tangan kekarnya melingkar dipunggung Ruby, kemudian tangan kananya mendekap kepala Ruby agar lebih nyaman didadanya. Mengusap lembut rambut lembut Ruby yang kini terlihat kusut. Tidak peduli dengan detak jantungnya yang semakin menggila.

Dekapan tulus Aga berhasil membuat Ruby sedikit tenang, ia hirup Aroma citrus yang melekat pada tubuh Aga, tak disadarinya aroma itu diam-diam telah menghipnotisnya, membuat perasaanya terasa aman dan nyaman saat berada didekapan Aga. Aroma itu, aroma tubuh Aga yang dulu pernah membuatnya trauma, aroma tubuh yang dulu sangat dibencinya, aroma yang dulu pernah menempel ditubuhnya dan sangat ingin dihilangkanya dengan mandi berjam-jam diguyuran air dikamar mandinya. Kini aroma itu malah membuatnya merasa nyaman dan tenang, merasa terlindungi dari apapun.

Ruby sadar dan kenal bahwa aroma itu adalah milik seseorang yang ia kenal, sekaligus orang yang ia benci. Dan ia yakin, yang ia peluk adalah Aga. Menyadari itu, Ruby enggan membuka matanya, malu, takut dan juga gengsi. Bodoh! Kenapa ia harus memeluk Aga sekencang ini? dan sialnya ia sangat suka, suka berada didekapan Aga. Bahkan Ruby suka mendengar degup jantung Aga yang tak karuan itu, sama seperti degup jantungnya saat mengetahui bahwa yang dipeluknya adalah Aga.

Ruby menghentikan tangisannya, ia harus memastikan bahwa dada bidang yang kini ia gunakan untuk bersandar adalah orang yang dikenalnya. Ia berharap itu Ayahnya atau Gary, ia tidak mau kalau itu Aga. Tapi kita semua tau kan siapa yang dipeluknya?

Berlahan [i]emerald[i] yang sudah membengkak dan basah itu terbuka pelan, saat menggulirkan bulatan matanya keatas yang pertama kali ia lihat adalah leher kokoh yang sudah ia kenal. Dan beberapa detik kemudian dirinya mengumpulkan keberanianya untuk melihat langsung wajah seseorang yang kini memeluknya, seseorang yang memberikanya rasa nyaman.

Aga merasakan Ruby bergerak pelan didalam dekapanya. Kemudian Ruby menarik kepalanya pelan-pelan dari dada Aga.

Saat emerald dan safir itu beradu keduanya saling terpaku, ada rasa lain yang menggelitik hati keduanya, kemudian menimbulkan rasa canggung bagi keduanya.

“Maaf…” kata itu yang terucap dari bibir tipis Ruby, dan begitu saja melepaskan pelukan Aga padanya.

“Ti-tidak apa-apa,” Aga tergagap, canggung. Ada sedikit rasa tidak rela saat tubuh itu lepas dari dekapannya. “Sebaiknya kita duduk saja, kau tampak lelah.” demi menghilangkan suasana canggung, Aga mengajak Ruby duduk. Tapi karena masih canggung Ruby diam tak bergeming.

Entah apa yang ada didalam otak Aga. “Ayolah…” tiba-tiba Aga menggenggam jemari tangan kiri Ruby dan menariknya menuju kursi tunggu disamping ruang ICU. Ruby sedikit terkejut atas gerakan tiba-tiba itu, tapi dia tetap mengikuti mau Aga.

Duduk berdua dikursi tunggu, keduanya terdiam sibuk dengan kekhawatiranya dengan Ryuki. Rumah sakit juga tampak sepi, sedangkan hujan masih turun dengan rintik yang semakin banyak.

Aga melirik Ruby yang menundukan kepalanya, kedua tangan halus Ruby terkepal diatas lutut menahan perasaanya. Wajah sendunya terhalang oleh poninya yang sudah mulai panjang. Walau samar Aga masih bisa melihat, bahwa wanita manis disampingnya itu masih terus menangis.

“Eh? aku tau kau sangat khawatir,” Aga kembali membuka percakapan. “Aku juga menghawatirkanya,” ujarnya. “Tapi kau tau kan? Kau yakin kan Ryuki itu pasti kuat? dia tidak akan apa-apa, jadi jangan menangis lagi, sebaiknya kita berdoa saja.” ujar Aga berusaha menguatkan dan memberi harapan pada Ruby.

Tapi Ruby malah semakin terisak mendengarnya, pundaknya berguncang-guncang hebat. Sedangkan Aga menjadi merasa bersalah karena mendengar Ruby menangis lagi, setaunya kata-katanya tidak ada yang salah. Lagipula Ruby menangis bukan karena Aga, ia hanya tidak menyangka, disaat seperti ini malahan Aga orang yang dibenci menguatkanya. Dia tidak seburuk itu, dia tidak secuek itu padanya dan Ryuki.

“Ma-maaf kalau aku salah bicara,” ucap Aga khawatir.

“Ti-tidak, terima kasih.” Kemudian Ruby mengangkat wajahnya, menatap Aga disampingnya dan mengangguk tersenyum padanya, dengan sisa-sisa airmata yang masih meleleh.

Aga terlihat lega, ia juga tersenyum membalas Ruby. Kemudian kedua tangan kekarnya terangkat menangkup kedua pipi Ruby, dengan lembut dihapus airmata yang membasahi pipi putih itu dengan ibu jarinya. “Jangan menangis, kau kan galak.” ejek Aga mencoba menghibur Ruby. Perlakuan spontanitas Aga itu membuat pipi-pipi Ruby yang tadinya putih pucat itu, kini menjadi putih bersemu merah.

Dan Aga terhipnotis wajah cantik polos tanpa make up didepannya itu. Kecantikannya juga berlipat ganda karena senyuman yang tidak pernah Aga lihat sebelumnya. Boleh kan kalau Aga jatuh cinta padanya?

Dan Aga terhipnotis wajah cantik polos tanpa make up didepannya itu. Kecantikannya juga berlipat ganda karena senyuman yang tidak pernah Aga lihat sebelumnya. Boleh kan kalau Aga jatuh cinta padanya?

‘Krieett…’ Pintu ICU terbuka.

Keduanya menoleh kearah suara, tak sabaran mereka berdua berdiri saat Dokter bermata cokelat keluar dari ruangan tempat Ryuki dirawat.

“Dokter?” wajah Ruby terlihat cemas, begitu juga dengan Aga. Menunggu apa yang akan dikatakan wanita berpakaian serba putih didepannya itu.

Tersenyum seolah menyadari kekhawatiran kedua remaja ini. “Tuan dan Nyonya Nugraha, putra anda sudah tidak apa-apa, tidak usah khawatir, hal ini sering terjadi saat balita demam tinggi.” terang Dokter, seketika wajah Ruby berubah lega. “Tapi untuk memulihkan tubuhnya, putra anda harus menginap disini mungkin untuk satu sampai dua malam. Itupun kalau tuan dan nyonya bersedia.” lanjutnya menerangkan.

“Syukurlah…” ucap Aga dan Ruby bersamaan.

“Kalau itu yang terbaik untuk kesehatan putra kami, kami setuju melakukan apa saja,” jawab Aga yakin, di amini dengan anggukan Ruby yang artinya dia juga setuju.

“Hm..baiklah kalau begitu, kami akan segera memindahkan putra anda keruang rawat khusus bayi, ” Dokter itu tersenyum kembali.

“I-iya Dokter silahkan,” balas Ruby.

—***—

Sekarang Ryuki telah dipindahkan diruang rawat khusus bayi. Ruang rawat VVIP dengan wallpaper bergambar Doraemon, sebenarnya kamar itu lebih mirip kamar anak pribadi daripada disebut ruang rawat.

Memang Aga yang sengaja memilihkannya, ia ingin Ryuki merasa nyaman seperti dirumah. Ia dan Ruby juga yang menjaga Ryuki bersama, Aga berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Ryuki sampai bayi itu benar-benar sehat.

Walau terlihat canggung dan enggan berbicara banyak, tapi keduanya terlihat kompak merawat Ryuki. Saling membantu dan berkerja sama. Saat Ryuki mengompol, Aga yang bertugas mengambilkan diapers dan membuangnya, Ruby yang memasangkan dan membersihkan. Begitu juga saat Ryuki menangis dan ingin digendong, mereka bergantian melakukannya.

Saat ini Ruby duduk dikursi disamping ranjang Ryuki, tak sengaja tertidur dan menopangkan kepalanya diranjang Ryuki.

Sedangkan Aga berbaring disofa, membuka beberapa pesan dari Arslan, kemudian melirik sebentar kesampingnya. Ternyata Ruby yang membelakanginya tengah tertidur dengan posisi seperti itu.

Kemudian Aga memasukan ponsel itu kesaku celananya, ponsel yang sedari tadi ia mainkan untuk sekedar melihat email dan blognya membuang waktu. Dirinya kemudian bangun, berdiri dan berjalan menghampiri Ruby, bermaksud membangunkan Ruby dan memintanya pindah ke sofa.

Aga memandangi sebentar wajah Ruby yang tengah tertidur, manis dan tenang. Lalu atensinya berpindah pada sesosok mungil copy-an dirinya dengan infus ditangan kecilnya, bayi kecil itu juga tertidur dengan manisnya, hal itu membuat Aga sedikit tersenyum. Yah… itu keluarga kecilnya.

Mata birunya berpindah lagi menatap Ibu dari anaknya itu, tangan kokohnya kemudian terjulur dengan ragu menyentuh helaian lembut Ruby. Mengusap pelan agar si empunya tidak terusik, Aga ingat betul semua kesalahannya pada wanita cantik yang kini jadi Istrinya ini. Dinodai sampai tak diakui kehamilannya oleh dirinya, sekarang sesosok cantik itu berada disini, tidur dengan posisi yang tidak nyaman, itu karena menjaga lelaki mungil yang hadir karena kesalahannya juga.

Aga ingin sekali meminta maaf dan memeluk wanita ini, kemudian berjanji akan menebus semua kesalahannya. Karena kini ia sadar, dirinya telah jatuh cinta pada wanita didepannya itu. Iya dia tau, perasaannya selama ini yang membuatnya terus mengingat Ruby bernama cinta.

Sadar akan tujuan sebelumnya, Aga menghentikan aksi mengagumi kecantikan Ruby dan menarik tangannya dari rambut Ruby. “R-ruu? Ruby bangunlah..” Aga mengguncang pelan pundak Ruby, membangunkannya.

“Ummh..” Ruby bergerak, mengerjapkan matanya sebentar kemudian terduduk dengan malas.

“Maaf membangunkanmu,” sesal Aga pelan.

“Hhh…ada apa? ” mengucek kedua matanya dengan punggung tangan, Ruby bertanya dengan suara yang menunjukan bahwa dia masih sangat mengantuk.

“Kau pindahlah ke sofa, biar aku yang menjaga Ryuki disini,” ucap Aga penuh perhatian.

“T-tidak usah,” Ruby menolak halus, wajahnya masih sayu.

“Ayolah… kau tidak boleh lelah, siapa yang akan merawat Ryuki kalau kau juga tidak sehat, aku tidak mungkin bisa?” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Aga. Tidak tau kenapa dirinya sedikit pintar kali ini.

“Tapi…”

“Sudahlah, tidur saja disana. Nanti kalau Ryuki sudah bangun, aku akan membangunkanmu.” lanjut Aga sedikit memaksa.

Kalau dipikir memang ada benarnya, Ruby memang merasa sangat lelah, kalau dipaksa ia juga akan sakit. Lalu Ryuki tidak ada yang merawat. Dengan ragu Ruby berdiri. “Terima kasih Aga,” ucapnya, tersenyum tipis. Dan lagi-lagi itu membuat Aga ingin pingsan, karena senyuman Ruby sangat manis.

Aga mengangguk salah tingkah. Ia juga berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang tiba-tiba memacu keras. Lalu Ruby kembali bergerak, merendahkan tubuhnya kearah Ryuki, mencium kening Ryuki. Lalu ia berjalan kesofa melewati Aga yang mematung. Kemudian merebahkan dirinya disana.

Kemudian Aga duduk dikursi samping ranjang Ryuki menggantikan Ruby, mengusap pelan pipi Ryuki yang bersemu merah. Ia senang berada didekat Ryuki dengan restu Ruby. Bebas menyentuh dan mencium Ryuki, tidak perlu takut Ruby marah seperti yang sudah-sudah. Meski tak mau Ryuki sakit, dirinya merasa beruntung karena musibah ini membuatnya bisa dekat dengan puteranya.

‘Tok..tok…tok’

Suara itu mau tak mau membuat Aga menoleh kesumber suara, sedikit bertanya-tanya siapakah gerangan yang datang.

‘Tok…Tok…Tok’ kembali suara itu terdengar.

Tidak mau seseorang itu menunggunya lebih lama, ia bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu kamar ruang rawat Ryuki.

‘Cklek, kriiieeettt…’ pintu-pun terbuka berlahan, tak lama kemudian menampakkan seorang pria bermata sama dengan Ruby, bedanya tatapannya sangat tajam.

“Ga-gary?” Aga sedikit terkejut melihat Gary mengunjunginya. Bukan apa-apa, ia hanya sedikit gugup bertemu langsung sedekat ini dengan kakak sepupu Ruby yang terlihat tak suka padanya.

“Kenapa? Kau seperti melihat hantu?” sindir Gary menyadari Aga terkejut atas kedatanganya.

“Eh..tidak, maksudku bukan-”

“Aku datang menjenguk bayi Ruby!” potong Gary, tidak mau mendengar basa-basi Aga yang menurutnya sangat tidak penting.

“Eh.. masuklah, mereka sedang tidur.” Aga mempersilahkan Gary masuk, dan memberi jalan.

Manik tajam Gary melirik sebentar kearah Ruby yang sedang tidur meringkuk dengan pulas, “Adikku sepertinya sangat lelah?” ujarnya dingin.

“Memang, dia menjaga Ryuki terus.” jawab Aga canggung.

“Lalu kau tidur?” tebak Gary sinis.

“Tidak juga,”

“Hm, bagaimana keadaan Ryuki?” Gary berjalan ketempat Ryuki berada, diikuti Aga dibelakangnya.

“Dokter bilang Ryuki sudah tidak apa-apa.” jawab Aga.

“Baguslah,” timpal Gary cuek membuat suasana semakin tegang.

“Aku kira kau tidak menemani Ruby disini,” kata Gary lagi, sambil mengusap rambut keponakanya yang lucu.

“E..t-tentu saja aku menemaninya, Ryuki sakit dan Ibu tidak ada,” jawab Aga sekenanya.

“Jadi kalau Ibumu ada kau tidak akan menemani Adikku?!” tatapan tajam Gary pada Aga itu membuatnya merinding.

“Aaa…bu-bukan begitu,”

“Lalu apa?! Kalau kau berani menelantarkan Adikku, aku tidak akan segan-segan menghajarmu!” ancam Gary serius.

“Em…ehm iya.” Jawab Aga susah payah menelan ludahnya.

“Baiklah, aku kesini hanya memastikan bahwa Ruby dan bayinya baik-baik saja,” Gary mengalihkan tatapannya pada Ryuki. Tapi tetap saja aura yang mirip Henri itu menyelimutinya. “Aku akan pulang, kali ini aku berharap kau benar-benar bertanggung jawab kepada Adikku. Jaga dia dan keponakanku, atau kau akan kubunuh jika mereka tergores sedikit saja!” tambah Gary, hal itu sukses membuat Aga gelagapan ngeri.

“Heh’? aku mengerti!” jawabnya berusaha tegas dan yakin. Ia tak mau terlihat menyedihkan didepan Gary.

Lalu Gary beranjak, berjalan melewati Aga begitu saja sampai akhirnya keluar dan meninggalkan Aga yang masih cengo atas kedatangannya yang tiba-tiba.

“Haah… aku benar-benar tidak mengerti dengan kakak dan ayahmu itu Ruu!” Aga mendengus, mengacak rambutnya kemudian melirik Ruby yang tengah tertidur seperti seorang putri yang cantik.

Kemudian Aga kembali duduk ditempatnya, kursi disamping ranjang Ryuki.

—***—

Pagi itu Ryuki sudah boleh pulang, bayi tampan yang tadinya gelisah dan terus menangis itu, kini sudah kembali tersenyum dan membuat orang-orang disekitarnya lega.

Ia tertidur tenang saat Ruby menggendongnya dan membawanya masuk kedalam rumah. Sebelumnya kedatangannya telah disambut oleh semua maid dan penjaga rumah, saat mobil mereka memasuki halaman depan. Mereka juga ingin mengetahui keadaan pangeran kecil Ruby.

“Syukurlah Nona, tuan muda Ryuki sudah sembuh.” Nana yang merupakan salah satu maid keluarga itu menemani Ruby, berjalan disampingnya membawakan bawaanya menuju kamar.

Mereka berdua mulai menaiki tangga yang menghubungkan lantai satu dengan kamar Ruby. “Terima kasih Nana, ini berkat doa orang-orang yang mencintai Ryuki,” jawaban penuh kebahagiaan itu membuat Nana ikut lega.

“Betul sekali Nona Ruby, dan maaf malam itu kami tidak tahu harus berbuat apa-apa.” Nana merasa tidak enak dan sedikit bersalah mengingat kejadian malam itu, karena saat itu dirinya juga ikut panik dan tidak melakukan apa-apa.

“Tidak apa-apa Nana, lagi pula waktu itu yang kuingat adalah segera membawa Ryuki kedokter dengan cepat, jadi aku juga tidak terlalu berharap pada kalian karena kalian tidak ada yang bisa membawa mobil,” ujar Ruby, tersenyum manis. agar Nana dan yang lainnya yakin dan tidak perlu merasa tidak enak.

Tak lama keduanya sudah berada didepan pintu kamar Ruby. “Hh…iiyaah, untung saja Tuan muda Aga cepat, syukurlah.” Nana menghembuskan nafasnya lega. “Um..baiklah Nona, sebaiknya Nona dan Tuan muda Ryuki istirahat,” Nana membukakan pintu itu, mempersilahkan Ruby masuk. Kemudian Nana meletakkan barang bawaan Ruby didepan lemari besarnya. “Kalau begitu, saya mohon diri Nona Ruby,” pamit Nana dengan sopan, membungkukan badanya.

“Baik, terima kasih atas bantuanya Nana.” balas Ruby, kemudian dia duduk diranjangnya bersama Ryuki.

“Jika nona butuh bantuan, saya dibawah.”

“Iya baik…”

Lalu Nana berjalan keluar kamar Ruby, sedikit terkejut karena ia berpapasan dengan Aga didepan pintu Ruby, bahkan hampir saja menabraknya.

“Permisi tuan!” pekik Nana kaget.

“Iya silahkan,” Aga yang juga sedikit kaget berusaha tersenyum ramah. Lalu ia menutup pintu dan berjalan mendekati Ruby yang sedang mengganti pakaian Ryuki.

“Sebaiknya jangan dimandikan dulu,” kata Aga yang sudah berdiri disamping Ruby.

Ruby menoleh sebentar kesumber suara. “Tidak, aku hanya mengelap tubuhnya dengan tissu basah,” jawabnya pelan. Bahkan ia tak pernah selembut itu pada Aga sebelumnya.

Aga senang Ruby menjawabnya dengan lembut seperti itu. “Oh…yasudah, kau sudah makan?” tanyanya penuh perhatian.

“Sebentar lagi, biar Ryuki tidur dulu,” Ia sudah selesai mengelap Ryuki dan menyiapkan pakaian kecilnya.

“Emm…aaaoo…aauuh,” Ryuki merespon suara Aga.

“Eh jagoan kecil, kau sudah sehat?” Aga mendekat, merangkak menaiki ranjang Ruby karena Ryuki sedang dibaringkan disana, kemudian Aga mencium pipi gembil Ryuki pelan, tidak peduli Ruby sedikit kesulitan memakaikan baju karena Ryuki terus bergerak karena tangannya meraih-raih wajah Aga.

“Aah..aauu..aahh..oou,” seolah mengerti Ryuki terus bersuara.

“Hahaha… apa?” goda Aga melihat Ryuki sedang menatapnya dengan mata birunya yang kecil.

“Ah uh!” balas Ryuki tersenyum lebar-lebar.

Aga menaikan sebelah alisnya, sementara Ruby sudah berhasil memakaikan baju Ryuki. “Ayah? kau memanggilku Ayah?” Aga tertawa menggoda Ryuki yang berceloteh tidak jelas.

“Dia tidak memanggilmu Ayah!” Ruby sewot, tidak rela.

“Benarkah? Lalu apa katanya?” Aga melirik Ruby yang tengah memakaikan celana Ryuki.

“Dia bilang dia menyayangi Ibu,” ucapnya.

“Benarkah? Darimana kau mengerti bahasanya?” tanya Aga lagi.

“Aku Ibunya! tentu saja aku mengerti!” jawab Ruby, kemudian ia selesai memakaikan celana Ryuki.

“Kalau begitu, aku juga Ayahnya, jadi aku juga mengerti,” timpal Aga tak mau kalah, padahal mereka berdua sebenarnya tidak tahu kan apa yang dimaksud Ryuki.

“Kau menyebalkan Aga!” Ruby mulai sewot, mendelik menatap Aga disampingnya.

“Kau juga menyebalkan!” balas Aga dengan tatapan yang membuat Ruby sebal.

“Aah! Auuh..!” Ryuki meninggikan suaranya, seolah melerai kedua orang tuanya.

“Ada apa Ryuki? Kau mau gendong Ayah?” usapan lembut di dahi Ryuki itu membuat Ryuki mengerjapkan matanya.

“Dia hanya haus, bisa tinggalkan kami berdua? Aku akan menyusuinya,” sahut Ruby, mengangkat tubuh kecil Ryuki kedalam dekapannya.

Aga menatap Ruby dengan tatapan yang tak dapat ia tebak. “Memangnya kenapa kalau aku disini? tidak usah malu, aku kan sudah pernah melihatnya, bahkan me-, eeh…” Aga menghentikan kalimatnya saat menyadari sepasang manik berwarna emerald tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Hehe…” Aga beringsut dari posisinya, “baiklah… baiklah aku keluar, 36 C cup!” lanjutnya, menyeringai mesum.

“B-Bodoh! jangan sok tahu!” cicit Ruby, wajahnya memerah malu.

“Memangnya berapa? Eh?”

“38!” timpal Ruby kesal.

“Wow Benarkah?” selidik Aga, wajahnya semakin mesum.

Dan sedetik kemudian.

“Agaaaaa!”

‘Bugh!’

Bantal-pun sukses melayang kewajah tampan Aga. Dan secepat kilat Aga berlari keluar kamar, tertawa terbahak-bahak berhasil menggoda Ruby. Menyisakan semburat merah jambu dipipi putih bagai porcelain Ruby.

—***—

“Aku senang lusa kita akan pulang, aku sudah tidak sabar menimang cucuku lagi.” Kata Lisna bersemangat, sambil menata pakaianya dan Julian kedalam koper. Sedangkan suaminya itu hanya tersenyum, menyesap kopi-nya berdiri memandangi pemandangan malam dari jendela kaca besar mirip sebuah pintu. Mereka sedang berada dihotel mewah yang tak jauh dari menara Eiffel.

“Seharusnya kau tidak ikut kemari kan? Aku jadi tidak tega membayangkan Ruby dan Aga kerepotan mengasuh Ryuki,” tanggap Julian sedikit menyesal.

Lisna tersenyum tipis. “Aku percaya Ruby bisa, makanya aku menemanimu. Lagi pula kan kalau aku dirumah pasti orang itu akan memintaku untuk mengurus perceraian Aga dan Ruby. Aku tidak mau, aku masih berharap Aga dan Ruby saling memaafkan.” pandangan Lisna melembut, mengingat Aga dan Ruby yang tidak pernah akur, dan iya kepergiannya ke Paris bersama Julian hanyalah salah satu alasan menunda perceraian kedua remaja itu, Lisna dan Julian berharap Aga dan Ruby bisa saling dekat.

Julian tersenyum menatap Lisna yang duduk dipinggiran ranjang disampingnya berdiri. “Yaah semoga saja dalam waktu sebulan lebih ini mereka bisa akur,” kata Julian berharap.

“Kau ingin Ruby terus menjadi menantumu ya?” senyum Lisna, berdiri mendekati Julian.

“Tentu saja, dia anak yang manis. Kau setuju kan jika Aga sangat cocok denganya?” jawab Julian dengan cengiran khasnya, mirip dengan Aga.

“Sangat setuju,” jawab Lisna, memeluk suaminya dengan manja dari belakang.

“Tapi sebelum pulang, bagaimana kalau kita menghabiskan malam terakhir di Paris dengan sedikit bernostalgia?ÔÇØ ujar Julian, mencengkeram lembut kedua tangan Lisna yang melingkar diperutnya.

ÔÇ£Umm… apa itu?ÔÇØ gumam Lisna tak paham. Mungkin juga pura-pura tidak paham.

Kemudian Julian memutar tubuhnya, menghadap Lisna yang tingginya hanya sebatas lehernya saja. ÔÇ£Jangan berpura-pura tidak mengerti seperti itu Nyonya besar Nugraha, delapan belas tahun yang lalu kita disini dan melakukannya berkali-kali seperti orang gila,ÔÇØ godanya sambil mencium pipi putih Lisna dan membuatnya memerah.

ÔÇ£Tidak, aku benar-benar lupa,ÔÇØ jawab Lisna malu-malu.

ÔÇ£Kau bohong,ÔÇØ balas Julian, menatap mata kecokelatan Istrinya yang lembut dan mencium keningnya.

ÔÇ£Kau sudah cukup tua untuk melakukan itu,ÔÇØ balas Lisna lagi, memeluk Julian menyembunyikan semburat merahnya.

Julian menjauhkan kepala Lisna dari dadanya, kemudian menangkup wajah Lisna dan menatapnya tajam. ÔÇ£Apa itu artinya kau sedang meremehkan staminaku yang sekarang?ÔÇØ

ÔÇ£Hheehehm…tidak,ÔÇØ jawab Lisna dengan wajah yang jelas meremehkan.

ÔÇ£Kalau begitu mari kita ulangi sekali lagi,ÔÇØ ucap Julian, kemudian mencium lembut bibir Lisna. Tangan kanannya bergerak menyentuh tengkuk Lisna, memiringkan leher istrinya kesamping kemudian menekan wajah dan bibirnya. Keduanya memejamkan mata, meresapi ciuman yang dalam dan penuh perasaan, dilatar belakangi Eiffel Tower dengan gemerlap lampu malam, letaknya persis disisi mereka, sangat romantis seperti bulan madu untuk yang kesekian kalinya.

Julian menggerakan bibirnya, mengecup berkali-kali bibir beraroma kayu manis yang berasal dari lipbalm yang dipakai Lisna. Berlahan lidahnya juga bergerak-gerak menijilati bibir Lisna, meminta akses untuk masuk kedalam mulutnya. Dengan senang hati, wanita berusia 40 tahun dengan tubuh yang masih kencang bagai umur dua puluhan itu membuka bibirnya, mempersilahkan Lidah hangat suaminya membelit lidahnya dan mengajaknya menari-nari didalam mulut Lisna.

ÔÇ£Hhhhmm…ÔÇØ desah Lisna merasakan tangan kiri Julian mulai menyentuh pantatnya, menarik kedepan agar perut rata Lisna yang masih tertutup sleep robe kimono berwarna cokelat menekan Juniornya yang mulai mengeras. Kemudian dengan gemas Julian meremas pantat Lisna.

Kedua lidah itu masih saling membelit, membuat beberapa tetes liur mereka menetes keluar. Kemudian saling mengulum lidah satu sama lain, menghisap dalam-dalam dan mengigit. Setelah beberapa lama kemudian keduanya melepaskan ciuman itu, menarik nafas dalam kemudian kembali berciuman dengan panas.

Ditengah ciuman yang seakan tak ada bosannya itu tangan kiri Julian bergerak, menarik tali sleep robe kimono Lisna, membuat lingerie transparant berwarna senada dengan kimononya terlihat jelas, tanpa bra hanya G-string mungil dibaliknya.

Julian semakin bergairah melihat Istrinya, tak sabar untuk segera menyentuhnya lebih dalam lagi. Ia turunkan kimono tipis itu melewati kedua bahu Lisna yang mulus tanpa cacat, membiarkan benda itu terjatuh dibawah kaki Istrinya yang putih dengan betis yang indah. Kemudian melepas sendiri piyama cokelatnya dengan membuka kancing-kancing kecilnya, dibantu Lisna yang mulai menurunkan celana Julian kebawah.

Tubuh Julian yang masih kekar dan kencang terpampang didepan Lisna, membuat Lisna semakin gemas pada suaminya. Kemudian dengan gerakan sedikit kasar, Julian mendorong tubuh Lisna yang masih terbalut pakaian transparannya ketempat tidur dengan sprei putih polos, tubuh sekalnya memantul beberapa kali, kedua putingnya juga tercetak jelas dibalik kain transparant-nya.

Julian tak sabar, ia kemudian menaiki tubuh Lisna yang terbaring pasrah. Ia menatap tajam Lisna yang tersenyum menggodanya. Kemudian tangan kanan Julian meremas lembut dada kiri Lisna yang hanya berukuran 32 B, membuat wanita yang dinikahinya 18 tahun yang lalu itu mengigit bibir bawahnya. Tak hanya itu, ia mulai menjilat puncak dada Lisna dan menghisapnya pelan.

ÔÇ£Ssssshhh…aaahh… Julian…ÔÇØ Lisna menggeliat sexy merasakan geli bercampur nikmat diseputaran dadanya. Ia mendesis pelan sembari menekan kepala jabrik Julian kedadanya. Suara desahannya membuat suaminya semakin gemas, membuat Julian mulai mempermainkan puting Lisna dengan ujung lidahnya lebih liar. Tangan kanannya juga memilin-milin puting Lisna yang keras, mencubit bahkan menarik-nariknya seolah itu adalah mainan yang sangat menyenangkan.

Tak puas, tangan kanan Julian yang tadi ia gunakan untuk memilin puting Lisna, kini ia gunakan untuk menjelajahi paha mulus Lisna yang sudah dilebarkannya, lingerienya juga sudah tersingkap sampai ke atas perutnya. Ia raba lembut bagian dalam paha Istrinya, sesekali sengaja menyenggol selakangan Lisna untuk menggodanya. ÔÇ£Sssshh! Julian!ÔÇØ serunya sedikit sebal, padahal Lisna sangat menginginkan bagian pribadinya itu disentuh oleh Julian.

Julian melepaskan bibirnya dari puting Lisna yang menegang dan memerah, tersenyum menggoda Lisna sebelum ia kabulkan keinginan Lisna. Tangan kanan Julian menyibak kain tipis penutup pangkal paha Lisna, menggunakan jari tengah dan jari manisnya untuk meraba kewanitaan Istrinya yang sudah basah. ÔÇ£Hmm… sudah basah rupanya?ÔÇØ bisik Julian, kemudian mengecup bibir Lisna lagi.

ÔÇ£Mmmmhh… jangan menggodaku,ÔÇØ balas Lisna manja, dengan tatapannya yang mulai sayu. Nafsunya semakin memuncak karena Julian menggosok bulatan kecil yang menegang dikewanitaannya, rasanya begitu menggairahkan. ÔÇ£Ssshh..oouh! jangan disitu.ÔÇØ rengeknya manja, tangan kanannya memeluk leher kokoh pria berusia 45 tahun itu dengan kuat.

ÔÇ£Kau bohong sayang, kau menyukainya kan?ÔÇØ timpal Julian, ia sangat hafal istrinya sangat suka disentuh bagian pribadinya ini.

ÔÇ£Aaakhh!ÔÇØ Lisna tersentak, karena tiba-tiba kedua jari Julian melesak kedalam tubuhnya, ÔÇ£oouuh! Pelan sedikit!ÔÇØ protesnya, karena jujur saja itu sakit. Meski ketika digerakan rasanya akan berubah menjadi nikmat.

ÔÇ£Maaf sayang,ÔÇØ jawab Julian, lalu ia gerakkan kedua jarinya kedalam kewanitaan Lisna dengan gerakan yang lembut kemudian lama-kelamaan menjadi semakin kencang. Lisna menggelinjang karenanya, tubuhnya kemudian mengejang, dadanya membusung tinggi-tinggi sambil meneriakan nama Julian.

Lisna telah mendapat orgasme pertamanya, tubuhnya melemas dan nafasnya terengah. Ia pandangi sesosok tampan diatasnya, tengah tersenyum lembut penuh cinta padanya. Ya Lisna juga sangat mencintainya, suaminya.

Merasa masih punya kewajiban, Lisna kemudian bangun dibantu Julian yang sudah berdiri menginjakan kakinya dilantai. Menyentuh pinggiran celana dalam berwarna hitam Julian dan menariknya kebawah dan membiarkan Julian membuangnya sendiri kain penutupnya itu, membuat bagian privat Julian yang telah menegang meloncat begitu saja didepan wajah cantik Lisna.

Julian menatap sayu Lisna, menunggu gerakan selanjutnya, tak lama kemudian Lisna menggenggam batang kecokelatan suaminya. Menggerakannya pelan-pelan, tak lupa sambil melirik wajah Julian yang menatapnya tak sabaran, ÔÇ£Kau.. suka ini?ÔÇØ desis Lisna menggoda.

Kemudian tangan kanan Julian menelusup dibalik rambut panjang Lisna yang sudah berantakan, mendorong kepala Lisna agar bibir penuh sang Istri menyentuh kejantanannya yang butuh dimanjakan lebih dari sekedar sentuhan. ÔÇ£Lebih sayang, ayolah kita bukan lagi sepasang remaja yang masih malu-malu.ÔÇØ desah Julian sambil mendorong ÔÇÿJuniornyaÔÇÖ memasuki bibir Lisna.

ÔÇ£Mmmh!ÔÇØ gumam Lisna, mengerling genit seiring permukaan benda berukuran raksasa itu masuk kedalam mulutnya yang hangat dan basah. Julian mendiamkan kejantanannya didalam mulut Lisna, sampai sebuah gerakan maju mundur disertai hisapan kuat membuat Julian melengkuh nikmat.

ÔÇ£Aahh! Kau yang terbaik…ÔÇØ desahnya, memejamkan mata birunya membiarkan Istri tercintanya mengulum dan menghisap benda kebanggaannya itu. Julian suka oleh ÔÇÿservisÔÇÖ yang selalu diberikan Istrinya sejak mereka berpacaran dulu, padahal sebelumnya hal ini menurutnya kurang pantas untuk keluarga terhormt seperti mereka. Karena bagaimanapun keluarga mereka menjunjung tinggi nilai kesopanan, dan kegiatan mengoral alat kelamin itu adalah hal tabu dan tidak sopan. Tapi jangan salahkan dia, salahkan Lisna yang selalu penasaran karena banyak bergaul dengan teman-teman yang memiliki tingkat penasaran yang tinggi. Akibatnya ia mati-matian memaksa Julian yang masih polos untuk menjadi bahan percobaannya, hasilnya sampai sekarang Julian malah menunggu-nunggu saat Lisna bermain-main dengan kejantanannya.

ÔÇ£Aaakh!ÔÇØ pekik Julian, Lisna menjilati kedua buah pelirnya sambil menggenggam dan memaju-mundurkan tangan kanannya yang lembut dibatangnya yang basah karena air liur Lisna.

Merasa pekerjaannya disukai Julian, Lisna kemudian melahap kedua biji menggantung itu kedalam mulutnya, menghisap kuat-kuat sambil menggerak-gerakkan lidahnya didalam membuat Julian mendongak keatas menahan desiran-desiran yang mulai terkumpul diperutnya.

ÔÇ£Sssshhh… ooohh.. sayang…ÔÇØ Julian berusaha menjauhkan kepala Lisna dari pangkal pahanya, ia tak rela kalau hanya dengan mulut dirinya K.O terlebih dulu. Tapi Lisna menahan dirinya, ia malah semakin giat menghisap kedua bulatan yang masing-masing sebesar bola bekel yang besar, ia suka membuat Julian gelisah seperti itu, ia suka aroma khas yang dikeluarkan kejantanan suaminya yang membuatnya semakin gemas.

ÔÇ£Aaakh.. Lisna hentikan!ÔÇØ pinta Julian dengan nafas yang berat. Kemudian dengan berat hati Lisna melepaskan kulumannya, Julian lega melihatnya itu artinya ia bisa mengulur waktunya untuk orgasme. Tapi siapa sangka, ternyata Lisna kembali mengocok kejantanan Julian yang sudah menegang sempurna.

Kemudian, ÔÇ£eeellmh…ÔÇØ jilatan lembut itu disapukan Lisna dikepala ÔÇÿJuniorÔÇÖ Julian yang sedikit kemerahan. Menjilati cairan bening dengan rasa asin yang dikeluarkan pucuknya, tentu saja itu membuat Julian sedikit mengumpat dalam hati. Sensasi geli yang ditimbulkan oleh lidah kasar Lisna itu membuatnya hampir kebobolan.

ÔÇ£Ooouh Lis-nah.. bisakah kkh-kau hentikan?!ÔÇØ Julian mati-matian menahan sensasi geli yang membuatnya semakin horny, tapi seolah tuli Lisna malah mengulum lagi kejantanan Julian. Mengocoknya dengan memaju-mundurkan kepalanya, meski itu terlalu besar mulutnya masih sangat elastis untuk terbuka lebar-lebar hanya untuk membenamkan seluruh batang berurat itu kedalam mulutnya.

ÔÇ£Nnggmmmh…, nggmmmh…ÔÇØ Lisna terus bergerak mengulum, mengurut-urut kejantanan Julian dengan gerakan sedikit kasar. Tak apa walau berkali-kali terantuk gigi dan membuat Julian mengernyit ngilu, toh sensasi yang diberikan Lisna jauh lebih besar.

Tak mau bertahan lebih lama lagi oleh siksaan Lisna, Julian kembali menjauhkan kepala Lisna dan membuat Lisna sedikit kecewa. Tapi Julian tidak peduli, ia angkat tubuh Lisna untuk berdiri bersamanya kemudian memeluk Lisna dengan kejantanan yang menyundul perut Lisna.

Dengan gerakan sedikit cepat, Julian membuat tubuh Lisna membelakanginya. Posisi keduanya didepan jendela kaca yang mirip pintu, langsung saja mata disuguhi pemandangan menara Eiffel dan bangunan dengan lampu yang menyala indah. Julian memeluk Lisna dari belakang dan membuatnya sedikit berjalan maju kedepan jendela.

ÔÇ£Mmmh… seharusnya kau menutup hordennya,ÔÇØ desah Lisna saat lidah Julian menyapu permukaan kulit lehernya. Tapi Julian hanya diam sambil meremas kedua payudara berlapis kain tipis Lisna, ÔÇ£Sssshh… sayang… bagaimana kalau ada yang lihat? Ini memalukan.ÔÇØ

ÔÇ£Sudahlah, ini sudah malam. Tidak akan ada yang lihat,ÔÇØ bisik Julian memaju-mundurkan dan menggesekkan kejantanannya dibelahan pantat Lisna dengan tali G-string yang menyelip dibelahannya. Sedikit mengganggu akses Julian, kemudian dengan tangan kanannya ia turunkan penutup kecil itu dari kaki mulus Lisna.

ÔÇ£Akh!ÔÇØ Lisna mengernyit karena tiba-tiba Julian membuat tubuhnya condong kedepan dan seketika tangannya berpegangan pada kaca jendela yang langsung mengarah keluar.

Dengan posisi Lisna yang menungging seperti itu, Julian mulai mengarahkan kejantanannya kelubang Istrinya, lubang dengan bulu-bulu tebal yang dicukur rapi. Menggeseknya pelan sambil meratakan cairan pelumas alami yang dihasilkan selama proses foreplay tadi.

“Oouh! Aah!” Lisna tersentak karena tanpa aba-aba, Julian melesakkan kejantanannya kedalam lubang surga Lisna.

Kemudian Julian mulai menggerakan pinggulnya maju-mudur, membuat batang besarnya keluar-masuk kedalam kewanitaan Lisna, menimbulkan suara-suara erotis yang sebabkan oleh tumbukan kedua titik rangsang mereka.

“Aahk!” jemari Julian meraba puting Lisna, kembali memelintirnya sambil terus menghentakkan pinggulnya memberi kenikmatan yang lebih untuk Istrinya. Tak ketinggalan jemari tangan kirinya ia gunakan untuk menggosok-gosok klitoris Lisna.

Jeritan diikuti desahan terus mengalun kecil dari bibir Lisna, perutnya terasa diaduk-aduk oleh batang besar Suaminya yang semakin membuatnya bergairah.

Wajah cantiknya merah padam, keningnya mengernyit dengan mulut yang terus terbuka mendesahkan rasa yang tak dapat ia lukiskan. Ia harus mengakui, bahwa suaminya memang masih begitu perkasa.

Tak lama kemudian, Julian melepaskan kejantanannya yang masih tegak berdiri, kemudian ia mengangkat kaki kiri Lisna kepinggang kanannya, lalu ia masukkan lagi benda kecokelatan itu kedalam lubang kecil kemerahan yang berada dipangkal paha Lisna.

“Uggh…” desah Julian ketika seluruh batangnya berhasil masuk kedalam gua hangat yang basah itu, kemudian ia kembali bergerak maju-mundur sambil menatap wajah Lisna yang horny berat karenanya.

“Ssh..ah..ah… bisa..bisakah kita segera selesaikah?” tanya Lisna yang sudah mulai tak tahan untuk mendapatkan orgasme keduanya.

“Mmh… aku sedang- aahh!” jawab Julian membuka mulutnya, ia juga tidak bisa bertahan lagi, “-berusaha!” lanjutnya.

Kemudian ia lepaskan lagi kejantanannya dan menarik Lisna kedalam pelukannya, lalu menjatuhkan tubuh Lisna ke tempat tidur lagi.

Mengerti apa yang diinginkan Julian, ia segera membuka pahanya lebar-lebar, menunjukkan kewanitaan dengan bulu yang cukup lebat dan basah.

Tak tahan dengan undangan dari Istrinya, kemudian Julian menindih Lisna dan memasukkan ‘Juniornya’ kembali. Menggerakkan pinggulnya dengan cepat karena ia akan segera memuntahkan semen panasnya.

“Aah! lebih cepat sayang!” pinta Lisna, menggigit bibir karena geli diperutnya semakin menjadi-jadi. Ia menginginkan Julian untuk lebih menusuknya dengan keras.

Merasa tertantang, Julian menuruti mau Lisna. Ia mempercepat kocokan kejantanannya dengan kecepatan maximum, menimbulkan suara kecipak yang cukup jelas karena kewanitaan Lisna semakin membanjir keluar.

“Ah.ah.ah…Lisna…akuh!” geram Julian merasakan cairan yang sedari tadi terasa penuh diperutnya akan keluar, ia sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

“Iyaah! aku juga! lebih cepat sayang! aah!” balas Lisna, ia juga merasakan hal yang sama dengan suami jabriknya yang kini berada diatasnya.

Julian sudah tidak mampu lagi menahan, ia mempercepat gerakannya. Dada kecil Lisna berguncang-guncang karenanya, membuat Julian gemas dan meremasnya dengan kuat.

“Oouuuh!” tubuh Lisna menegang, kemudian melengkung keatas mengantarkan gelombang orgasmenya yang begitu dahsyat. Sedetik kemudian disusul Julian yang memuntahkan semua spermanya kedalam rahim Lisna.

Tubuh Lisna melemah dan kembali turun, ditindih Julian yang mengulum telinga kirinya dengan penuh hasrat, ternyata sisa-sisa orgasmenya masih menyisakan perlakuan lembut yang membuat Lisna semakin cinta pada Julian.

“Satu kali lagi?” bisik Julian manja.

“Berapa kali saja, sepuasmu…” balas Lisna, memeluk Julian yang masih menanamkan kejantanannya yang mulai layu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*