Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 7

Buah Dari Masa Depan 7

“Besok rekan-rekan Ayah beserta istri dan teman-teman Ibu akan mengunjungimu, ingin melihat bayi tampan ini.” Lisna mencubit lembut pipi kemerahan milik Ryuki, ia terlihat begitu gemas dengan cucu pertamanya itu. “Sekarang istirahatlah dulu, bawa Ryuki masuk kamar beristirahat, dan kau yakin bisa sendiri?” tanyanya tak yakin, lebih tepatnya ia khawatir Ruby kenapa-napa karena dia masih terlihat lelah.

“Baik Ibu terima kasih, sepertinya masih ada sedikit tenaga untuk naik keatas,” yakin Ruby pada Ibu mertuanya dengan senyum yang selalu diberikan kepada siapapun, kecuali pada Aga.

“Iya sudah, nanti Ibu akan menyusulmu setelah ini,” ucapnya lagi.

—***—

“Ooeeekk…oooeekk…nnnn…nnooeeekk…hiks…hik s…oeeek!” waktu menunjukan pukul tiga dini hari, di saat suara yang mulai tidak asing ditelinga Aga itu kembali mengusik tidurnya dimalam ini. Mungkin sudah lebih dari tiga kali pria pemilik rambut model spike itu terbangun karena tangisan Ryuki. Dan selalu ia harus terbangun setiap malam selama beberapa minggu ini setelah datangnya Ryuki.

Berguling kekiri dan kekanan tidak nyaman, tengkurap lalu terlentang lagi, menutup telinga dengan bantal besarnya, berganti bersembunyi dibalik selimut tebalnya, tidak! semua itu tidak membantu pemuda bermata biru itu agar tak mendengar lagi tangis Ryuki yang setiap jam mengganggu tidurnya.

“Aaaarrrghh! berisik sekali!” decihnya, sembari meremas rambut duriannya frustasi. Tidak tau apa yang dilakukan Ruby didalam sana, masa hanya membuat bayinya diam saja tidak bisa.

“Aarrgggh! dasar merepotkan!” kan bisa saja seharusnya ia berikan balon pada bayinya, permen atau gula kapas seperti tayangan di TV yang pernah Aga lihat. Setaunya anak kecil akan diam jika diberi salah satunya, tapi Ryuki itu kan masih bayi?. Daripada dia berfikir hal yang tak masuk akal Aga berfikir akan lebih baik jika dia melabrak Ruby secara langsung, agar Ryuki kembali tenang.

Ya tak perlu ragu, Aga kemudian beranjak dari tempat tidurnya dengan piyama berwarna silver miliknya, berjalan penuh emosi kekamar Ruby yang berdampingan dengan kamarnya, wajahnya terlihat begitu kesal.

‘BRAK! BRAK! BRAK!’ menggedor pintu berwarna putih itu dengan sedikit kasar, ia tak sabar ingin segera melabrak Ruby. Aga sudah sangat lelah dibuat pusing oleh suara Ryuki, benar saja ia sedari tadi terus terganggu suara tangis bayi itu.

“Hei Ru! berisik sekali!” serunya bersungut-sungut.

‘Brak! brak!’

“Ooe! kau bisa membuat bayimu diam tidak! berisik kau tau!” lanjut Aga dari luar, “Aku mau tidur!”

Sementara Ruby yang sedang berusaha menenangkan Ryuki menatap pintunya tajam, bagaimana tidak? tubuhnya sudah sangat lelah, hatinya juga lelah, memangnya mengurus bayi itu gampang? sekarang Aga malah menggedor pintunya dengan keras. Hal semacam itu tentu saja membuat Ruby makin kesal.

Andai saja dia menerima tawaran Lisna untuk mengambil jasa pengasuh bayi selama Lisna menemani Julian ke Paris, mungkin dirinya tidak akan selelah ini. Sangat disayangkan bukan, sifat keras kepala dan percaya pada dirinya sendiri itu malah membuatnya kerepotan seperti ini.

“Ssstt… sayang tolong berhentilah menangis, Ibu mohon ya sayang…” Ruby mencium mulut mungil Ryuki yang terbuka karena tangisannya, sambil menimang-nimang Ryuki berharap bayi mungilnya itu mengerti.

“Ruby! ayolah jangan biarkan anakmu menangis terus ini sudah malam kau tau!” teriak Aga kembali. “Kau tau aku sangat mengantuk!” lanjutnya sambil memejamkan matanya didepan pintu. Sedangkan Ruby menatap tajam pintu kamarnya seolah sedang menatap Aga secara langsung.

“Aku sedang berusaha membuatnya diam! kalau memang kau terganggu kenapa kau tidak tinggal saja di Apartemenmu ha?!” bentak Ruby dari kamarnya.

Aga langsung membuka matanya. “Kenapa kau mengusirku! kau pikir ini rumah siapa?!” timpal Aga emosi, tapi wajahnya malah terlihat konyol. “Kau pikir aku mau tinggal dirumah kalau tidak diperintah Ibu untuk menemanimu?!”

Sedangkan Ruby tidak merespon, mengabaikan suami jabriknya yang semakin menyebalkan. Memangnya siapa yang butuh ditemani pria menyebalkan seperti Aga, dirinya juga tidak butuh.

Ruby sedikit heran, padahal kan beberapa waktu yang lalu Aga sedikit berubah tidak kasar lagi, tapi kenapa sekarang dia kembali jahat seperti itu, Ruby menggembungkan pipinya lelah.

“Sayang minum susu ya nak…” untuk kesekian kalinya Ruby berusaha menyusui Ryuki, tapi sayangnya Ryuki memalingkan wajahnya menolak, ia masih terus menangis.

“Hiks…ooeeekk! oeek!”

“Sssttt… sayaaang anak Ibu…Lord Ryuki Nugraha yang tampan, kasihan Ibu ya nak, jangan nakal Ryuki sayang…” bujuk Ruby dengan suara lembutnya, sembari mengelus-elus pipi Ryuki yang semakin memerah karena menangis.

Kemudian menempelkan dengan lembut hidungnya ke hidung bayinya, “apa yang kau inginkan sayang? Ibu sangat mencintaimu, Ibu sangat menyayangimu…kumohon Ryuki berhentilah menangis,” lanjut Ruby, berharap Ryuki mengerti kalimatnya. Sedangkan Aga yang merasa tidak dianggap keberadaannya oleh Ruby berdecak kesal kemudian meninggalkan kamar Ruby.

Kembali mencoba menyusui Ryuki, memperlakukanya dengan lembut. Beberapa hari ini semakin sering berinteraksi dengan Ryuki, membuat perasaan Ruby sebagai seorang ibu semakin kuat. Ia juga sedikit lebih paham bagaimana harus memperlakukan Ryuki, Ibu baru berambut bermata indah itu sangat lembut memperlakukannya. Ia teramat sangat mencintai Ryuki, anak yang dilahirkanya dua minggu hari yang lalu.

Ryuki kembali tenang setelah Aga menggedor pintunya, dengan imut dan wajah tanpa dosa Ryuki menyusu pada Ibunya. Ruby memeluknya dengan hangat, memberi perlindungan senyaman mungkin padanya, mendekap dengan sangat protektif seakan tidak mau bayi yang masih lemah itu terluka sedikitpun walau hanya karena dihinggapi nyamuk.

“Eh…kau diam karena mendengar teriakan Aga? apa itu artinya kau takut pada Ayahmu yang menyebalkan itu?” ucap Ruby sambil menatap putera kecilnya, sedang menggerakan bibir mungilnya karena sedang minum ASI, Ryuki juga mulai menyipitkan kedua iris safirnya yang mungil karena mengantuk. “Jangan takut, dia itu hanya seorang pengecut yang tidak mau mengakui kesalahanya. Bahkan kau tau kan sayang? dia tidak ada diantara kita saat kau berjuang untuk melihat dunia ini?” lanjut Ruby mengingat kejadian itu.

“Sekarang kau tidurlah sayang, Ibu akan menjagamu, jangan takut pada pria jabrik yang menyebalkan itu.” tambahnya lagi dengan wajah mengejek, lalu mencium pucuk hidung mungil Ryuki. Dan seakan mengerti apa yang diucapkan Ruby Ibunya, ia meresponnya dengan senyuman dalam tidurnya. Senyuman yang tidak bisa diartikan apa maksudnya oleh Ruby, namun senyuman itu jelas melukiskan kelicikan. Yaahh memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

—***—

Keesokan harinya Aga masih tertidur dikamarnya dengan nyaman, memeluk guling bergambar batman kesukaannya. Ia tidur dengan tenang setelah semalaman terganggu oleh tangisan Ryuki. Yah akhirnya dia bisa kembali tidur pada pukul tiga dini hari sampai sekarang jam berbentuk karakter favoritnya dinakas samping Bed-nya sudah menjunjukan pukul 08.33, walau Ryuki menangis lagi setelahnya dia sudah tidur nyenyak dan tidak mendengar tangisannya lagi. Lagi pula ini hari sabtu, jadi Aga bisa tidur sepuasnya karena tidak harus pergi kuliah.

“Oooeeeekkkk! hiks…hiks! oeeekk… ooeek! oeeeeekkk! oooeeekkk!” sayang sekali, tangisan yang memekikan telinga itu kembali mengalun dengan brutal mengorek telinga Aga.

Belum terlalu sadar, pria dewasa copy-an Ryuki itu bergerak reflek menutup telinganya dengan bantal.

“Ooooeeeekkk! Ooeeeeeekkk…nnnrr.. ooeek!”

“Aaaarrrghhh… dasar anak rubah!” decaknya kesal, rasanya baru saja ia memejamkan telinganya tapi suara tangisan Ryuki itu kembali mengusiknya. Bagaimana cara Ruby mengasuhnya, ia seperti tidak tau apa-apa. Membuat bayinya diam saja ia tak pernah bisa! Payah!

“Ooeeekkk…ooeekkk…” masih terus menangis dengan kencang disebrang kamarnya, sementara pria jabrik itu dengan gelisah berusaha menutup telinganya.

Kemudian Aga bangun dan duduk dikasurnya, menyumpal kedua lubang telinganya dengan jari telunjuknya, wajahnya terlihat sangat stress.

Lalu dengan tidak sabaran Aga bangkit, memutuskan kekamar Ruby untuk melabraknya kembali, berniat melakukan apa saja agar bayi itu diam. Menyumpal mulutnya yang berisik itu mungkin, atau menutup wajahnya dengan bantal. Ah oke! itu terlalu kejam dan sadis, Aga mungkin masih sedikit punya hati untuk tidak menghabisi nyawa orang lain.

“Ruby bisakah kau-!” dengan kasar ia mendorong pintu kamar Ruby. Menghentikan tegurannya saat kedua safirnya tak juga menemukan wanita penyuka parfum Bvlgari itu disudut manapun. Tapi saat pandangannya ia jatuhkan pada ranjang Ruby yang dia temukan adalah seorang bayi yang sedang menangis diatas ranjang bersprei hijau itu.

Aga menyeringai jahat, baginya ini adalah kesempatannya untuk membuat bayi Ruby yang menyebalkan itu diam dan berhenti menangis.

“Ooooeeekkk…ooeeekk…!” Ryuki masih menangis dengan lantang, sedangkan Aga pelan-pelan mulai mendekati bayi Ruby.

“Ryuki sayang sabar sebentar ya, Ibu sebentar lagi selesai!” suara lembut itu sontak membuat Aga sedikit berjingkat, tapi saat menoleh ke arah suara yang berasal dari dalam kamar mandi itu ia sedikit lega saat bersamaan suara gemericik air terdengar dari sana. Itu artinya ia masih punya cukup waktu itu membuat bayi itu diam dengan cara apapun.

Kemudian Aga mendekati bayi yang sedang sendirian diranjang itu, lebih dekat dan lebih dekat sampai Aga melihat putranya itu sedang menangis keras dengan kedua tangan mungilnya yang menggapai-gapai, kedua pasang kakinya juga menendang-nendang tak beraturan.

Sepasang safir dewasa itu membulat sempurna saat tatapannya berhenti pada bayi kecil itu, rambutnya persis sepertinya, rambut yang sama pada foto dirinya waktu masih bayi, lalu iris sebiru langit yang sedikit tertutup karena si empunya sedang menangis itu tidak luput dari sepasang safir milik Aga yang kini menatapnya dengan takjub. Benar-benar mirip denganya, dan bibir kemerahan dan tipis itu bibir yang sama dengan Ruby. Sangat tampan dan menggemaskan.

Seketika amarah pada dada Aga hilang entah kemana, tergantikan oleh hujan salju yang mendinginkan dadanya. Melihat betapa lucunya Ryuki itu membuat niat jahatnya benar-benar hilang.

Menjambak helaian kasarnya sendiri, merasa sangat bodoh karena dirinya terus marah-marah sedari kemarin hanya karena tangisan makhluk mungil tak berdaya dihadapanya ini. Bahkan berniat menyumpal mulutnya saat Ruby tidak ada.

Tapi kalau saja boleh jujur, sebenarnya Aga tidak pernah membenci bayi ini, sejak dia dilahirkan bukankah Aga ingin melihatnya? tapi Ruby melarang. Tentu saja ia merasa sangat kesal dan membuatnya juga kesal pada bayi yang tak tau apa-apa itu. Bahkan ia memutuskan untuk tidak memperdulikan Ruby dan bayinya lagi, namun nyatanya ikatan anak dan ayah itu tidak bisa dibohongi. Apalagi saat bertemu dengan bayi ini, Aga ingin menyentuhnya.

Aga kemudian duduk ditepian ranjang, tanganya gemetar terulur menyentuh pipi gembil Ryuki yang kemerahan. Ia menyunggingkan senyuman cerah khas Aga Nugraha yang selalu membuat fans wanitanya bersemangat.

“He-hei anak kecil, anak manis kenapa kau selalu menangis ha?” tanya Aga sedikit canggung, ia menggoda Ryuki sambil memainkan jari telunjuknya dihidung mungil itu.

“Hei… berhentilah menangis anak manis, kau tau wajahmu sangat merah kalau menangis, seperti buah tomat. Kau lucu sekali ya,” lanjut Aga lagi, jari telunjuknya kini ia main-mainkan dibibir Ryuki. Ryuki dengan semangat menyambar-nyambar jari Aga, mungkin Ryuki kira itu adalah nipple Ruby. Itu adalah insting seorang bayi, apabila ada yang menyentuh bibirnya disangka nipple Ibunya.

“Hahaha…kau membuka mulut, kau kira jariku ini nip-, ehhehe..” pipinya memerah, tidak meneruskan kata-katanya, karena menurutnya hal itu terlalu vulgar untuk pendengaran Ryuki yang masih sangat polos.

Sementara didalam kamar mandi, Ruby yang sedang menggosokan shampo dikepalanya sedikit heran, suara tangisan Ryuki tidak terdengar lagi. Ia tersenyum menganggap bahwa Ryuki itu sangat lucu, sudah lelah menangis dia malah tidur. Mengetahui hal itu Ruby meneruskan mandinya kembali.

“Ne? kau diam? kau suka bermain denganku Ryu?” ucap Aga senang. “Kalau begitu biar kugendong ya, tapi jangan ngompol. Tidak lucu jika pria tampan sepertiku bau ompol kan? hehehehe.” Aga nyengir senang aambil menggapai tubuh Ryuki beserta selimutnya, berusaha menggendong Ryuki sebisanya. Walau tidak pernah punya pengalaman sedikitpun soal mengendong bayi, Aga berusaha menyentuhnya dengan selembut mungkin, lagi-lagi hanyalah insting seorang ayah yang menuntunya.

Setelah berhasil memindahkan Ryuki dari bed ketanganya Aga tersenyum puas, kemudian mendekatkan wajahnya kewajah Ryuki, menghirup aroma Ryuki dalam-dalam, begitu lembut dan wangi Aga suka itu, wangi minyak telon dan bedak lavender yang harum.

“Waaahh… kau wangi sekali, tampan dan wangi sama sepertiku kan tomat kecil?” menempelkan hidungnya dipipi kiri Ryuki, menghirup lagi aroma khas baby Ryuki.

“Pipimu benar-benar halus ya…sama seperti pipi Ibumu hehe, kau tomat yang sangat segar dan manis.” Aga kembali nyengir, pipinya juga memerah saat mengingat pipi Ruby yang ia cium dengan paksa malam itu, padahal sudah cukup lama kejadiannya dan Aga masih mengingat betapa halusnya pipi Ruby? benarkah saat itu dirinya benar-benar mabuk? Entahlah.

“AGAAAAAA!” entah sejak kapan keluarnya Ruby dari kamar mandi. Makhluk bermata hijau itu sudah berkacak pinggang didepan pintu kamar mandinya, manik emeraldnya menatapnya tajam seolah ingin mencabik-cabiknya, wajah dan gerak tubuhnya yang biasanya lembut itu kini tampak garang, mirip dengan Henri dan Gary saat menatapnya. Seram.

“Ru-ru-riby?”

Glek!

Susah payah Aga menelan ludahnya sendiri, antara terkejut dengan kedatangan Ruby dan terkesiap oleh penampilan Ruby yang terlihat sangat sexy.

Melangkah dengan pasti kearah Aga yang sedang menggendong Ryuki tanpa melembutkan pandangannya. Tentu saja ia bersiap merebut Ryuki dari tangan Aga. Tidak peduli penampilanya kini mengundang naluri kelelakian Aga terusik. Rambut panjangnya yang basah, tubuhnya yang mulus tanpa cacat hanya terbalut handuk ungu sebatas dada dan pahanya, membuat Aga ngeri juga sedikit salah tingkah.

“Siapa yang kau bilang buah tomat ha!” teriaknya tepat didepan Aga. “Dan kembalikan putraku! jangan menyentuhnya!” Ruby menyambar Ryuki, berusaha merebut Ryuki dari gendongan Aga.

“Tunggu!” Aga tetap menahan Ryuki. “Kau ini kenapa?! aku hanya berusaha membuatnya berhenti menangis!” Aga masih membela diri sambil mempertahankan Ryuki.

“Tidak boleh! berikan Ryuki padaku dasar rambut durian jelek!”

“Aku hanya ingin menggendongnya! apa salahnya ha?!”

“Pokoknya tidak boleh!” Ruby menarik-narik Ryuki dari dekapan Aga, sementara Ryuki malahan tersenyum lebar saat tubuhnya terguncang kesana kemari sambip mendengar kedua orang tuanya sedang berebut dirinya.

“Kemarikan bayiku Aga!”

“Tidak mau! Aku ingin menggendongnya!”

Masih terjadi perebutan bayi secara sengit antara Aga dan Ruby, sekali Ryuki berada didekapan Aga, lalu ketangan Ruby, lalu ketangan Aga lagi, kemudian ditangan Ruby lagi, entah sudah berapa kali bayi ringkih itu jadi bahan rebutan, tapi ia hanya nyengir diperlakukan seperti itu.

“Kubilang jangan sentuh bayiku Agaa!” Ruby masih belum menyerah, bahkan handuknya mulai longgar karena kegiatan rebut merebut itu dan ia hampir melupakannya.

“Aku ingin menggendongnya!” Aga juga tak mau kalah, beberapa kali tangannya tak sengaja menempel didada Ruby, bahkan wangi shampo dan sabun dari tubuh Ruby juga tercium olehnya. Yah meski ia tak terlalu peduli.

Tapi lama kelamaan handuk ungu itu mulai merosot dan sebentar lagi pasti melorot.

SET!

Sukses, handuk Ruby benar-benar melorot dari tubuhnya dan terjatuh tepat dikakinya, satu-satunya penutup tubuhnya itu lepas.

“Uwaaaahh…” Aga langsung melebarkan mulutnya membuat huruf O yang sangat besar.

Waktu terasa berhenti berputar bagi keduanya, Aga dengan kekagumanya hampir tak percaya tubuh mulus Ruby yang agak berisi itu tersaji didepanya tanpa busana sama sekali, kedua bongkahan dadanya lebih besar dari sebelumnya, Aga tau itu meski hampir seluruhnya tertutup Ryuki. Lalu kewanitaan dengan rambut-rambut halus yang teratur rapi. Sekali lagi Aga membulatkan mata, berusaha menelan ludahnya sendiri tapi kesulitan.

Sedangkan Ruby mematung dengan keterkejutanya, tak percaya semua bagian tubuh yang selama ini ia tutupi begitu saja terpampang didepan pria yang pernah memperkosanya itu.

1 detik

2 detik

3 detik

“Kyaaaaaah!” Ruby berteriak histeris, seperti baru tersadar satu-satunya penutup tubuhnya itu terlepas begitu saja dibawah kakinya. Sontak melepaskan Ryuki begitu saja ditangan Aga, kemudian menutupi sebisanya bagian tubuhnya yang tidak boleh dilihat siapapun dengan tangannya, kalau saja Aga tak cukup konsentrasi mungkin Ryuki sudah terjatuh kebawah.

“Kyaaaah! apa yang kau lihat Aga! pergi! cepat pergi!” teriak Ruby heboh, memejamkan matanya menutupi rasa malu yang teramat, bahkan wajahnya sudah merah sempurna seperti udang rebus.

“A-aku…eh,” Aga mengusap hidungnya dengan punggung tangannya, ada cairan merah keluar dari hidungnya. Yah dia mimisan, lalu tanpa fikir panjang ia langsung melesat pergi dengan langkah seribu Aga berlari membawa Ryuki keluar kamar Ruby bersamanya.

“Aagaaaa! dasar jabrik jelek! kurang ajaar!” teriak Ruby semakin kesal pada Aga yang seenaknya membawa Ryuki keluar. Kejadian ini membuat Ruby malu, semalu malunya. Kalau boleh, sekarang ini Ruby ingin mengubur dirinya sedalam-dalamnya agar tidak bertemu Aga lagi.

—***—

“Haaah… haah…Ibumu menyeramkan ya kalau sedang marah,” kata Aga sedikit ngos-ngosan, sambil duduk disebuah gazebo. Bayi itu hanya tersenyum sambil sesekali menjulurkan lidahnya didalam gendongan Aga. Aga membawa bayi Ryuki ditaman belakang rumah mewahnya, taman dengan dua gazebo dan dibawahnya terdapat kolam ikan emas.

“Hei kenapa kau senyum-senyum begitu? Kau tadi lihat apa?” tanya Aga pada bayinya.

“Aa…uuuh…”

“Aahh kau jangan menggodaku seperti itu, ini urusan orang dewasa kau tau!” Aga salah tingkah sendiri dibuatnya. Sedangkan Ryuki malah melebarkan tawanya, terlihat sangat menggemaskan.

Angin bertiup semilir pagi itu, Aga membuat selimut biru Ryuki menutupi tubuh kecilnya agar tetap hangat, kemudian Aga menimang-nimang Ryuki yang tak berhenti tersenyum melihat wajah Aga yang terus menggodanya.

“Hahaha! apa kau lihat wajah Ibumu yang lucu tadi?” kenang Aga pada kejadian yang baru saja dialaminya.

“Naa…aauuh..” seolah menanggapi pertanyaan Aga, Ryuki memandang safir Aga berbinar.

“Ahahaha apa? ya kau juga menganggap Ibumu itu manis?” gumam Aga, mengernyitkan dahinya mencoba memahami maksud Ryuki yang hanya ‘haa..auuh…aaiih’ sejak tadi.

“Selamat pagi tuan muda?” sapa dua orang maid yang entah dari mana datangnya, mungkin mereka telah menyelesaikan tugas rutin mereka memotong daun-daun mawar yang rusak, lalu menghampiri Aga dan Ryuki, niatnya memang hanya menyapa. Tapi ternyata pesona sang Nugraha kecil membuat keduanya mendekat ingin melihat dari dekat.

“Iya selamat pagi,” cengirnya ramah pada dua orang berseragam sama itu, yang diketahui bernama Nana dan Oki.

“Waaah…tuan muda sedang bersama tuan muda Lord Ryuki,” gadis berambut hitam panjang tampak begitu antusias, namanya Nana.

“Waaahhh… tampan sekali bayi tuan muda,” sahut gadis berambut sebahu satunya.

Aga terkekeh senang melihat kedua maidnya mengagumi bayi digendonganya itu, tentu saja dia sebagai Ayahnya bangga. Tapi kedua maid itu tidak berani menyentuh bayinya, Aga mengerti bahwa kedua orang itu ingin sekali menyentuh Ryuki.

“Kalau kalian ingin menyentuhnya tidak apa-apa,” ucap Aga, memamerkan deretan gigi putihnya.

“Be-benarkah tuan?” tanya Oki tidak percaya, wajahnya berbinar senang.

“Tentu saja boleh,” cengirnya lagi makin lebar. Aga dan keluarganya memang terkenal dengan keramahanya dirumah itu, tidak pernah memperlakukan para assistan rumah tangganya dengan rendahan. Kecuali moodnya sedang buruk.

“Waaahh…lucunya,” seru Nana membelai pipi Ryuki yang halus, bayi itu meresponnya sama seakan itu adalah nipple Ibunya.

“Tuan muda Lord Ryuki memang sangat mirip anda tuan,” puji Oki antusias. “Mata birunya yang indah, rambut ini juga seperti tuan, kalau bibirnya seperti Nona Ruby, kulitnya juga putih bersih seperti Nona Ruby. Benar-benar tampan!”

“Hahahaha… dia memang tampan sepertiku,” timpal Aga percaya diri.

“Hehehe… pasti tuan,” balas Nana menyenangkan Aga.

“Sayangnya alisnya tidak terlalu tebal seperti tuan muda ya, kalau tebal sudah pasti tuan muda dan tuan Ryuki semakin mirip, bukan begitu Nana?” Tanya Oki pada Nana yang sedari tadi menggoda bayi Ryuki yang selalu tersenyum saat Nana menggelitik pipi gembilnya.

“Benar..” jawab Nana singkat, dan kembali menggoda Ryuki yang sangat menggemaskan.

“Hahaha…kalian bisa saja,” Aga kembali terkekeh senang. “Tapi benar juga ya, alisnya tidak terlalu tebal sepertiku.

“Hehehe… iya tuan muda,”

“Kalau begitu, kami mohon diri dulu tuan, masih ada pekerjaan yang harus kami selesaikan,” pamit Oki dan mencubit lengan Nana yang masih sibuk dengan Ryuki.

Nana lalu berhenti menggoda Ryuki dan berdiri mensejajarkan dirinya dengan Oki, kemudian membungkuk mengikuti Oki.

“Iya selamat bekerja ya,” jawab Aga sembari tersenyum lebar.

Setelah kedua maid itu menghilang dari pandangan Aga, ia kembali memperhatikan Ryuki yang menatapnya dengan tersenyum dengan kedua safir yang sama dengannya. “Apa? kau senang semua orang memanggilmu tampan?” tanya Aga lagi pada Ryuki.

“Aaa…auuuh…aaooh!”

“Haa? iya-iya aku mengerti kau lebih tampan dariku,” Aga berpura-pura memasang wajah sebal, menanggapi Ryuki yang seolah menjawab pertanyaannya.

“Aga!”

Aga menengokan kepalanya kekanan, kearah sumber suara yang memanggilnya. Ternyata Ruby sedang menatapnya dengan tajam, yah sang induk sudah menemukan anaknya.

“Sudah memakai baju rupanya? padahal kan kau lebih cantik jika seperti tadi,” kata Aga sedikit menggoda Ruby yang sudah berdiri didepannya dengan tatapan membunuh.

“Apa yang kau katakan?! dasar mesum!” pipi Ruby memerah. “Kembalikan putraku!” teriaknya tak sabar, kemudian merebut paksa Ryuki dari tangan Aga. Sedangkan Aga hanya melongo pasrah melihat Ruby berhasil merebut Ryuki darinya.

“Apa yang kau katakan?! dasar mesum!” pipi Ruby merah padam. “Kembalikan putraku!” teriaknya tak sabar, kemudian merebut paksa Ryuki dari tangan Aga. Sedangkan Aga hanya melongo pasrah melihat Ruby berhasil merebut Ryuki darinya.

“A-apa?!” Ruby berlagak sedikit galak meski agak kaku, jujur saja kejadian barusan masih membuatnya sangat malu.

“Tidak,” memalingkan wajahnya dan bersedekap, tak kalah sebal.

“Jangan coba-coba menculik Ryuki lagi dariku makhluk jabrik menyebalkan!” bentaknya sambil mendekap Ryuki dengan protektif, tak mau Ryuki disentuh Aga lagi.

Aga memutar kepalanya, memberanikan diri menatap wajah Ruby yang sedang menatapnya tajam. “Kau ini kenapa? Aku kan hanya ingin menggendongnya, memang apa salahnya?”

“Kurasa kau tidak perlu tau!” jawab Ruby, lalu berbalik dan meninggalkan Aga yang cengo sendirian. Memangnya Ruby sudah lupa perlakuan Aga selama ini padanya? Enak saja dia mau merebut Ryuki yang sudah dilahirkannya dengan susah payah.

“Hei..tunggu! aku belum selesai!” Aga berdiri mencegah Ruby pergi, tapi Ruby pura-pura tidak dengar dan tetap melangkah pergi, memangnya siapa yang mau bicara pada pria menyebalkan sepertinya.

“Wanita aneh, kukira dulu kau sangat pendiam dan manis,” gerutu Aga pelan sambil memandang punggung Ruby dengan rambut yang halus mulai menjauh dari jangkauannya.

Dan saat Ruby masuk kedalam rumah dan berniat melangkahkan kakinya kekamarnya seseorang menghentikan dan memanggilnya.

“Ruu!” suara lembut yang sangat dikenalnya itu berasal dari ruang tengah dan membuat Ruby menoleh kesumber suara.

Ruby tersenyum tak percaya melihat sesosok langsing dengan outfit top crop berwarna merah yang memperlihatkan perut ratanya dipadukan dengan hotpants putih, rambutnya kuncir kuda seperti biasanya. Ditangannya membawa papper bag putih yang entah apa isinya, yah itu Yuuka sahabat yang sangat dirindukannya selama ini. “Yuukaaa…”

Yuka tersenyum berlari kearah Ruby tak sabaran. “Aaaah…aku sangat merindukanmu Ruu, maaf aku baru sempat mengunjungimu,” Yuuka memeluk Ruby kencang, menumpahkan rasa rindunya pada Ruby, maklum saja hampir tiga bulan ini Yuuka tinggal diluar negeri dan kuliah disana.

“Aku juga merindukanmu Miss.Ponytail!” balas Ruby memeluk sahabatnya. Dan hampir lupa bahwa Ruby kini sedang menggendong bayinya.

“Oh wow, ini pasti putramu!” melepaskan pelukannya pada Ruby, bulatan matanya berbinar saat atensinya berpindah pada sosok kecil ditangan Ruby. “Ryuki yang kau ceritakan itu kan? tampan sekali, aku ingin menggendongnya Ruu…” rengek Yuuka tiba-tiba.

“Tentu saja tampan, anak siapa dulu?” jawab Ruby begitu bangga.

“Anak si bodoh jabrik itu siapa lagi?!” timpal Yuuka penuh semangat.

“Yuuka! dia putraku!” jawab Ruby sewot.

“Tidak bisa tanpa suami bodohmu itu!” goda Yuuka membuat Ruby menggembungkan pipinya.

“Aagh sudahlah aku tidak mau membahasnya, dan untuk sekarang kau tidak boleh menggendongnya, badanya masih terlalu lemah, nanti kau jatuhkan.” jawab Ruby mengalihkan pembicaraan agar sahabat cerewetnya itu tidak menggodanya lebih lama. Dan hal itu membuat Yuuka memajukan bibir merahnya kecewa merasa diremehkan.

“Baiklah… tapi beberapa bulan lagi aku akan menggendongnya” timpal Yuuka tak menyerah. “Oh iya namanya siapa Ruu?”

“Ha-ah, boleh saja.” Ruby menganggukan kepalanya membuat poni ratanya bergoyang pelan, “uhm…namanya Lord Ryuki Nugraha.” lanjut Ruby tersenyum manis.

“Nama yang keren…siapa yang memberikan nama itu?” tanya Yuuka penasaran, jari lentiknya ia main-mainkan dihidung Ryuki. Yang direspon Ryuki dengan menggeliat geli, Yuuka tampak begitu menyukai tingkah lucu Ryuki.

“Tentu saja Ayah Julian,” jawab Ruby lagi dan dijawab Yuuka dengan ‘oooh’ sambil mengangguk.

Aga masih berdiri ditaman, berniat masuk rumah tentu saja harus melewati dua orang wanita yang sibuk mengobrol dan bercanda itu, tidak enak, canggung juga. Meski tampan dan digemari banyak gadis tapi Aga sebenarnya sedikit pemalu, apalagi dia belum mengenal Yuuka dengan akrab.

Terpaksa Aga memutuskan untuk berbasa-basi, mendekati dua sahabat yang sedang temu kangen itu. “Hai Yuuka?” sapa Aga yang muncul tiba-tiba dari pintu yang menghubungkan taman dan ruang keluarga. membuat Yuuka sedikit terkejut, dia baru saja mengatai Aga bodoh dan bagaimana dia bisa muncul dari sana. Jangan-jangan Aga mendengar perkataannya, mati Yuuka!

Wajah Ruby sedikit berubah mendengar Aga menyapa Yuuka dengan suara yang ramah seperti itu, padahal kan kalau memanggil Ruby selalu terdengar kasar dan menyebalkan?! Apa jangan-jangan Aga sebenarnya suka pada Yuuka, Ruby pernah membaca tentang perubahan sikap pria yang tertarik pada wanita. Bahkan pria rela merubah kebiasaannya hanya untuk menyenangkan wanita yang disukainya, termasuk bersikap manis. Ruby sedikit tidak suka menyadarinya, dia tidak suka Aga jatuh cinta pada Yuuka sahabatnya! Tapi kenapa? apa salahnya? Pokoknya tidak boleh! Aga itu mesum dan menyebalkan! Tidak boleh kalau Yuuka bersatu dengannya! Pokoknya tidak boleh >.< !

“Ha-hallo Aga? selamat siang,” balas Yuuka berusaha tersenyum ramah, meski agak kikuk karena ia masih merasa perkataannya tadi didengar Aga. “Maaf aku masuk begitu saja kedalam rumahmu, aku sudah mencoba menghubungi Ruby, tapi dia tidak menjawab teleponnya, dan penjagamu mengijinkan aku masuk karena aku menunjukan kartu tamu keluargaku.” tutur Yuuka menjelaskan, merasa tidak enak karena seolah dia masuk rumah itu sembarangan.

“Oohh… tidak masalah, lagi pula kau kan teman Ruby, jadi tidak apa-apa,” jawab Aga dengan cengiran khasnya, dan hal itu malahan membuat Yuuka tak enak hati. “Baiklah kalau begitu silahkan lanjutkan mengobrolnya, sebaiknya aku masuk kekamarku.” lanjutnya berpamitan dengan sopan. Sementara Ruby terlihat semakin kesal, apa Aga sedang cari perhatian untuk membuat Yuuka suka padanya?

“Terima kasih Aga..” ucap Yuuka lega, lalu Aga meninggalkan mereka berdua.

“Yuuka… sebaiknya kita juga masuk kamar, aku harus menyusui Ryuki!” ajak Ruby menarik tangan Yuuka.

“Baiklah, setelah itu aku boleh mengangkatnya kan?”

“Iya boleh tapi hanya ditempat tidur!” jawab Ruby asal.

Setelah menutup pintu kamarnya, Ruby yang hari itu memakai terusan selutut berwarna krem duduk ditepian tempat tidurnya. Bersiap menyusui Ryuki, diikuti Yuuka yang juga naik ke kasur besar Ruby, tengkurap menyamankan dirinya setelah sebelumnya meletakan bungkusan yang ternyata berisi baju bayi dan perlengkapan lain, yang ia beli dari baby shop dinegara yang ia tinggali saat ini di nakas Ruby disampingnya.

“Ruu? kalau tidak salah kulihat kau tadi baru saja dari taman kan? dan tidak lama kemudian Aga juga muncul dari sana, apa kalian sedang menghabiskan waktu bersama?” tanyanya antusias, “apa kalian sudah baikan?” lanjutnya lebih bersemangat.

Ruby sedikit terkejut, “Ma-maksudmu baikan? aku tadi hanya mengambil Ryuki darinya.”

“Iyaa.. maksudku kau sudah memaafkan Aga, aku kira kalian merawat Ryuki berdua?” Yuuka menatap Ruby lekat, memperhatikan wajah sahabatnya yang semakin terlihat cantik dengan bayi digendongannya.

“Tidak, dia berusaha menculik Ryuki!” jawab Ruby sambil menyusui Ryuki.

“Ha?!” Yuuka bangun dari kasur dan duduk “memangnya hal semacam itu untuk apa? kau bercanda ya, lagipula kalian tinggal bersama sudah cukup lama? kenapa harus diculik?” tanya Yuuka lagi, lebih antusias dari sebelumnya. Dia memang begitu, terkadang terlalu berlebihan.

“Dia mencoba menggendong Ryuki bersamanya,” jawab Ruby cemberut.

“Memangnya kenapa? dia juga orang tuanya kan? bukankah hal itu lebih baik, artinya dia sudah menerima Ryuki.” tanggap Yuuka menatap yakin Ruby didepannya.

“Itu dia, aku masih sangat sebal Yuuka! Aku masih ingat saat itu, Ryuki masih didalam kandungan dan dia tidak mau mengakuinya, menuduhku tidur dengan pria lain. Kau tau hatiku masih terasa sakit! bahkan saat aku melahirkan dia tidak datang. Sekarang tiba-tiba Aga ingin dekat dengan Ryuki! Bukankah itu menyebalkan?!” kenang Ruby mengingat perlakuan Aga padanya.

“Hhh…Ruu… kenapa tidak ambil positifnya saja? Aku tau ini tidak mudah tapi-”

“Apanya yang positif Yuuka?” Ruby memotong perkataan Yuuka, semakin tidak mengerti. “Bahkan selama aku tinggal dirumah ini, Aga selalu menggangguku, membuatku setiap hari marah dan sebal padanya, kau tau dia selalu memanggilku gendut, kau tau dia manja sekali, kau tau..kau tau..” panjang lebar Ruby bercerita soal Aga kepada Yuuka, sementara Yuuka hanya senyum-senyum mendengarnya.

“Pokoknya Aga itu menyebalkan!” tutup Ruby setelah bicara panjang lebar tentang keburukan Aga memajukan bibirnya sebal mengingat semuanya.

“Aaaa…emm..” manik Yuuka mengerling menatap dengan pandangan menggoda pada Ruby, bibirnya tersenyum tipis.

“Ke-kenapa menatapku seperti itu Yuuka?” pekik Ruby menerima pandangan aneh dari sahabatnya.

Yuuka menatap tajam wajah Ruby sambil berkata. “Kau tau? cinta itu datang karena terbiasa, maksudku kau terbiasa bertemu denganya dan mungkin saja Aga mulai menyukaimu ,dan kau juga menyukainya.” ujar Yuuka yakin, dah hal itu membuat Ruby membelalakan matanya.

“Pe-pernyataan macam apa itu? tidak mungkin aku jatuh cinta pada pria yang sudah menghancurkan masa depanku?” sanggah Ruby mengalihkan pandangan matanya kearah lain.

“Hei dengarlah..” Yuuka menarik tangan kanan Ruby dan mengenggamnya. “Tuhan punya rencana untukmu Ruu, yakinlah..Tuhan pasti menyiapkan sesuatu yang lebih indah dan membahagiakan dari pada sesuatu yang kau sebut masa depan indah itu.” Yuuka tersenyum, mendapati Ruby memasang wajah tak mengerti. “Dan kalau kau ikhlas menerima semua ini, kau akan mengerti, bahwa…masa depanmu adalah Ryuki.” lanjutnya mencoba menyemangati Ruby dan membuatnya untuk menerima keadaan ini. Yuuka tau meski sulit, hidup Ruby masih lebih baik daripada korban pemerkosaan yang lainnya.

“Aku melihatmu bahagia bersama Ryuki dan Aga yang kau sebut menyebalkan itu!” lanjut Yuuka lagi, semakin membuat Ruby kebingungan. “Dan kurasa walaupun begitu, kau tidak pernah menangis lagi kan?” dan sekali lagi Ruby kembali membulatkan matanya baru menyadari sesuatu.

“Benar kan Ruu? kau tidak pernah bersedih lagi walau tinggal bersama Aga yang menyebalkan? bukankah hatimu bahagia? Aku tau Ruu!” Yuuka terus berbicara seperti peramal yang seakan lebih tau bagaimana perasaan Ruby, walau tak dipungkiri semua yang dikatakan Yuuka ada benarnya.

Masih tertegun dengan semua perkataan Yuuka, Ruby sedikit membenarkan semuanya dalam hati. Yah meski Aga selalu mengganggunya dan selalu bersikap seenaknya, bahkan Ruby tidak pernah menangis lagi karena Aga. Entahlah apa penyebabnya, mungkin karena sudah kebal dengan ejekan-ejekan semacam itu, atau karena hal lain Ruby tak tau pasti, Ruby tidak bisa menjelaskan perasaannya.

Kalau boleh sedikit jujur pada dirinya sendiri, rasa bencinya pada Aga memang tak sedalam waktu itu, tapi tidak juga hilang seluruhnya. Bahkan Ruby juga tidak rela jika hatinya melupakan kesalahan Aga dan memaafkanya, tapi meski tak diinginkannya rasa benci itu sedikit demi sedikit luntur, dan seperti keharusan Ruby masih terus berusaha membenci Aga semampunya. Meski kebencian yang besar itu kini telah menyusut menjadi kebencian yang sering disebutnya ÔÇÿMenyebalkan!ÔÇÖ Aga tetap harus menanggungnya. Penjahat tidak boleh kan dimaafkan segampang itu?

“Hei? kenapa diam? lihat Ryuki sudah tidur,” kata Yuuka membuyarkan lamunan Ruby.

“T-ttidak,” Ruby tergagap dan tersenyum pada Yuuka, dan sekarang sedikit heran darimana Yuuka belajar menyelami hati seseorang, setau Ruby dia bukanlah calon Psikolog. Lalu untuk menyembunyikan perubahan wajahnya, Ruby membaringkan Ryuki dikasurnya dengan perlakuan selembut mungkin.

“Jadi bagaimana, apa kau masih membenci Aga?” lanjut Yuuka kembali membuka obrolan.

“A-aku aku tidak tahu Yuuka…” Ruby menundukan kepalanya berpura-pura sibuk mengurus Ryuki, padahal dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya, dia tidak terlalu yakin akan hal itu apa ia sudah tidak membenci Aga.

“Memangnya tidak adakah perasaan yang sedikit ÔÇÿehemÔÇÖ?” goda Yuuka lagi menaikan sebelah alis indahnya, yang langsung sukses membuat pipi Ruby memerah.

“Kau ini bicara apa, tidak akan! bahkan aku sangat membencinya!” elak Ruby berusaha meyakinkan Yuuka.

“Benarkah?ÔÇØ tatapan Yuuka benar-benar membuat Ruby sebal. ÔÇ£kau tau benci dan cinta itu beda tipis?”

“Tidak Yuuka! Tidak tau dan tidak mungkin!” balas Ruby salah tingkah, membuat Yuuka cekikikan geli.

“Emmh… Ruu, kau menyadari tidak kalau Ryuki itu sangat mirip Aga, mata birunya indah, wajahnya kurasa juga mirip sekali dengannya.”

“Memang, lalu kenapa?”

ÔÇ£Jadi Ryuki tampan ya,ÔÇØ

ÔÇ£Iya sangat tampan.ÔÇØ

“Hahaha…kalau begitu kau juga mengakui Aga itu tampan!”

“Memang, eh kenapa kau jadi membicarakan si jabrik itu? Jangan-jangan kau suka ya padanya?” ejek Ruby membalas perlakuan iseng Yuuka padanya.

“Kalau iya memangnya kenapa?ÔÇØ jawab Yuuka santai, dan itu membuat Ruby sedikit tersentak meski tidak terlalu mencolok. ÔÇ£dan siapa yang sedari tadi membicarakan Aga? bukanya kau sendiri?”

“Ti-tidak apa-apa.”

“Benarkah kalau kau tidak apa-apa?” selidik Yuuka menaikan sebelah alisnya kembali, menatap serius membuat Ruby semakin tergagap.

“Be-benar, la-lagipula…apa ma-masalahnya buatku?”

“Hahaha… kau kenapa jadi gugup begitu? aku hanya bercanda,ÔÇØ jawab Yuuka nyengir iseng.

“Ah tidak, tidak apa-apa kalau Yuuka mau dengan Aga,” Kata Ruby berusaha berbicara normal, padahal Yuuka tau betul wajah Ruby seperti menahan sesuatu.

“Dan menjadi ibu tiri untuk Ryuki? Haha!” goda Yuuka melihat wajah Ruby yang berubah. “Tidak-tidak… seharusnya memang kau dan Aga saja yang menjadi orang tuanya, kurasa Aga itu sebenarnya baik, kalian cocok!” ujar Yuuka tersenyum menatap Ruby.

“Aahh Yuuka…aku tidak mau,”

“Hihi kenapa malu begitu?”

—***—

Satu minggu kemudian…

Hari ini adalah hari minggu, seperti biasa Aga menghabiskan harinya seperti hari-hari minggu sebelumnya. Menghabiskan waktunya dengan bermain playstation bersama Arslan dikamarnya sampai sore, kalau perlu sampai malam. Yaah hanya itu, kadang sifat mereka berdua membuat iri rekan-rekan bisnis Ayah mereka, dimana remaja seusia mereka lebih suka nongkrong dan berfoya-foya seperti anak-anak mereka. Tapi Aga dan Arslan yang konon bisa mendapatkan apa yang mereka mau, malahan berdiam diri bermain game seperti orang gila.

Memang kehidupan remaja mereka tak selurus itu, beberapa kali mereka pernah minum dan pergi ke sebuah club malam, ikut balap liar mobil dan ditangkap polisi lalu berhenti total dari semua itu.

Felix Dermawan Ayah Arslan, bahkan menghajar puteranya tanpa ampun saat itu dan membuat Arslan dirawat dirumah sakit. Arslan boleh memiliki apa yang diinginkannya, asal bukan kehidupan malam dan balap liar. Orang berkelas sepertinya tidak sudi menyentuh hal-hal semacam itu. Tidak boleh!

“Yes! Kali ini kau kalah bodoh!” lirik manik obsidian milik Arslan pada pemuda berambut jabrik disampingnya, yang tengah memajukan bibirnya.

“Aahh menyebalkan sekali!” gerutunya, melemparkan stik PS-nya menyesali kekalahanya saat bermain game PES. “Baiklah kau ambil saja mana yang kau suka!” melemparkan satu tas kecil berisi berbagai macam miniatur pemain sepak bola dunia dipangkuan Arslan.

“Tch! apa in?! aku tidak mau rongsokan ini!” Arslan melemparnya dipangkuan Aga lagi.

“Lalu apa maumu? dasar brengsek!”

“Kembalikan patungku yang kemarin saja!” pinta Arslan dengan tatapannya yang selalu dingin.

“Tidak mau!” jawab Aga memalingkan wajahnya kesamping.

“Kau bilang jika aku menang bisa memlilih koleksimu yang mana saja?!”

“Tapi jangan yang itu!”

“Aku ingin yang itu…ayolah bodoh!”

“Tidak!”

“Hiks…hiks… Oooeeek…oooeeekkk!”

“Ssst…diamlah sebentar brengsek!” meletakan telunjuk kanan dibibirnya memberikan kode agar Arslan diam dan ikut mendengarkan suara tangisan Ryuki.

“Hn? ” Arslan mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

“Kau tau, itu suara bayi Ruby.” kata Aga, “Kau belum pernah melihatnya kan?”

“Belum!” jawab Arslan singkat.

“Kau mau melihatnya tidak? banyak yang mengatakan wajahnya tampan sepertiku!” lanjut Aga percaya diri, dan hal itu membuat Arslan sedikit jengah.

“Oh ya? boleh saja!” jawabnya tanpa menunjukan ketertarikannya, dia memang selalu begitu.

“Baiklah… aku tau kalau sekarang adalah jam Ruby mandi, sebentar lagi pasti meninggalkan bayinya sendirian ditempat tidur, dan saat itu aku akan membawa bayinya kemari!” terang Aga bersemangat.

Arslan mengernyitkan dahinya samar mendengar Aga. “Bodoh! kau bahkan hafal jadwal saat Ruby mandi? kau mengintipnya? dan Kau mau menculik bayinya?”

“Enak saja! untuk apa aku melakukan hal menjijikan seperti itu?”

“Bahkan kau telah melakukan hal yang lebih menjijikan daripada mengintipnya?”

“Sudahlah…jangan mengingatkanku hal memalukan seperti itu,” Aga memonyongkan bibirnya sebal saat Arslan menyinggung peristiwa pemerkosaan Ruby. “Ruby melarangku dekat-dekat dengan bayinya,” lanjut Aga menjelaskan.

“Itu karena kau terlalu terlihat bodoh, mungkin Ruby tidak mau bayinya dekat-dekat dengan orang bodoh sepertimu!”

“Jangan bilang begitu! dasar brengsek!”

“Hn!” malas menanggapi Aga, Arslan memilih merestart game yang sudah selesai itu.

“Sudah diamlah, aku akan mengambilnya sekarang,” ucap Aga pada Arslan yang sudah tidak memperhatikannya itu. Lalu berdiri dan berjalan kekamar Ruby meninggalkan Arslan sendirian didepan monitor besarnya yang masih menampilkan game PES kesukaannya.

Aga telah berada didepan kamar Ruby. Dengan gerakan sepelan mungkin membuka pintu kamar Ruby yang memang jarang dikunci itu. Dan benar saja, dengan mudah Aga masuk dan mengendap-endap kekamar yang lumayan luas itu.

Mendengar suara gebyuran air dan senandung lirih dari dalam kamar mandi, sudah dipastikan Ruby sedang mandi seperti dugaan Aga. Pelan-pelan ia mendekati box bayi yang berada disamping tempat tidur Ruby, dan tersenyum lebar ketika dilihatnya Ryuki sedang terjaga sendirian, kakinya menendang-nendang bergerak bebas, memasukan jempol kanan imutnya kedalam mulut mungilnya.

“Hei…rubah kecil, selamat siang.ÔÇØ Bisik Aga tersenyum pada Ryuki yang juga meresponnya dengan melebarkan mulutnya senang. ÔÇ£Lama sekali tidak bertemu denganmu ya, kau terlihat lebih besar dari sebelumnya,” Aga mengelus lembut pipi Ryuki yang hari itu memakai stelan singlet dan celana biru langit, sangat tampan.

“Ayo ikut denganku sebentar, ada yang ingin berkenalan denganmu, ” pelan-pelan Aga mengangkat tubuh Ryuki dari box-nya. “Ayo jagoan kecil, kita berkenalan dengan paman Arslan si pantat ayam yang tingkat ketampananya nomor dua setelahku..hehe…jangan menangis ya nanti aku bisa dimarahi Ibumu yang seksi itu,” oceh Aga pada Ryuki, dibalas dengan tawa lebar tanpa suara Ryuki, karena mendengar suara Aga saja sudah membuat Ryuki senang. Kemudian dengan hati-hati Aga berhasil membawa Ryuki kekamarnya.

“Hei Arslan?!” mengagetkan Arslan yang ternyata tidak jadi meneruskan game-nya, malahan sedang memilah-milah mainan ditas kecil Aga yang dibuangnya tadi.

“Hei! ini dia bayi Ruby, lihatlah..” Aga membawa Ryuki beserta selimutnya, kemudian duduk disamping Arslan dengan Ryuki digendonganya.

Iris Onyx pemuda bernama belakang Dermawan itu menatap Ryuki, kemudian tersenyum tipis dan melirik Aga sebentar. “Hn! dia lebih tampan darimu bodoh!” ucapnya, tentu saja komentar itu termasuk komentar yang tidak diharapkan Aga.

“Hee!” Aga kaget dengan wajah konyolnya, “Bicara apa kau? jelas-jelas dia tampan sepertiku! kau tidak lihat mata dan rambutnya itu sama sepertiku?” protesnya tidak terima.

“Hahahah… baiklah terserah kau saja, memang kuakui perpaduan antara kau dan Ruby hasilnya tidak buruk juga.”

“Tentu saja,”

“Kalau begitu buatlah satu lagi, teman bermain untuk putramu itu,” ujar Arslan asal.

“Tentu saja,” jawab Aga juga asal. “Hee! apa yang kau katakan!?” kembali memasang wajah terkejut dan konyolnya.

“Hah…cukup tau saja,” jawab Arslan dengan wajah sinisnya.

“Jauhkan otak mesumu itu Arslan, jangan sampai Ryuki mengikutimu.”

“Kau yang mesum bodoh!”

ÔÇ£Tapi ngomong-ngomong, tubuh Ruby boleh juga.ÔÇØ Ujar Aga dengan wajah mesum.

ÔÇ£Kau sudah melihatnya?ÔÇØ

ÔÇ£Hihihi… sudah.ÔÇØ

ÔÇ£Menjijikan! Mesum!ÔÇØ balas Arslan cuek.

Seketika wajah Aga berubah sebal. “Sudahlah, aku tidak mau meladenimu! lebih baik tolong kau foto aku dan Ryuki, mau aku bagikan dipath dan blogku,” ujar Aga, merogoh ponsel dari saku celananya dan memberikan ponsel pintar itu kepada Arslan.

“Hh… merepotkan!” mendengus malas walau akhirnya menerima dengan berat hati permintaan sahabat bodohnya.

Kemudian Aga berpose dengan Ryuki. “Ayo senyum Ryuki tampan,” Aga mensejajarkan wajah Ryuki dengan wajahnya, dan seperti mengerti kata-kata Ayahnya Ryuki senyum lebar tampak senang.

‘Ckrek!ÔÇÖ satu foto berhasil dicapture Arslan yang tampak bosan.

“Mana hasilnya?”

“….” menunjukan foto hasil jepretanya.

Aga nyengir senang melihat hasil jepretan Arslan. “Wah keren… sekali, lagi ya Arslan,” perintahnya lagi sambil memberikan ponselnya pada Arslan. Sedangkan Arslan menatap Aga dengan tatapan membunuh.

“Hehe… sekali lagi, ayolah…” bujuk Aga meski ia tau Arslan tidak suka diperintah-perintah. Tapi lagi-lagi sahabat pantat ayamnya itu tidak bisa menolak, lalu dengan berat hati ia kembali membidik Aga dan Ryuki yang nyengir dari layar ponsel itu.

‘Ckrek!’

“Sudah!” ucap Arslan saat satu foto berhasil ia abadikan.

“Bagus tidak hasilnya?” Aga menyahut ponselnya, kemudian melihat hasil fotonya “Ah tapi ada yang kurang? umm… apa yaa?” manik safirnya memutar keatas menandakan ia sedang berfikir. “Aha! aku tau!” Ucap Aga mengingat sesuatu.

“Apa lagi?” tanggap Arslan malas.

“Gendong Ryuki sebentar,” begitu saja menyerahkan Ryuki ditangan Arslan yang tampak gelagapan.

“Aku tidak bisa bodoh!”

“Sebentar saja, hanya kekamar Ruby.” Jawab Aga, kemudian melesat pergi meninggalkan Arslan.

“…” Arslan tampak pasrah menerima Ryuki digendonganya, kemudian melihat wajah lucu Ryuki ditangannya. “Kau tau Ayahmu itu sangat menyebalkan, kuharap kau tidak sepertinya ya Nugraha kecil!” ucap Arslan pada Ryuki.

ÔÇ£Aa..uuh…ÔÇØ balas Ryuki yang tersenyum menatapnya dengan bulatan biru yang indah. Sepertinya pemuda Dermawan yang dingin itu berbakat juga menjadi pengasuh bayi.

Tak lama kemudian Aga kembali dengan berlari-lari kecil menghampiri Arslan dan Ryuki. “Haaah… untung saja Ruby belum selesai mandi.ÔÇØ

“Dari mana?” tanya Arslan dingin.

“Mengambil benda ini,” jawabnya tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya, dan menunjukan benda berbentuk pensil ditanganya.

“Apa itu?” tanya Arslan lagi tak paham.

“Uhm… ini namanya…” mencari-cari keterangan tentang benda apa itu sebenarnya, yang sudah tertulis dipermukaan benda itu. “Uhm…ini disini namanya…eyebrow, entahlah benda apa ini aku tidak tahu, aku ambil dari peralatan make up Ruby. Sepertinya ini semacam pensil penebal alis.” jawab Aga yakin.

“Untuk apa?” Arslan menaikan alisnya tak mengerti.

“Hehehe… untuk ini,” Aga tersenyum licik, lalu membuka tutup benda bertuliskan eyebrow itu. Lalu menggoreskan bagian pewarnanya ke alis Ryuki.

“Hei kau sudah gila! mau kau apakan bayimu!” reflek Arslan menarik Ryuki kesamping badanya guna menghindari Aga.

“Hanya menebalkan alisnya agar sama denganku!” jawab Aga, dibalas tatapan tajam Arslan yang melarang. “Ayolah kurasa ini aman,” bujuk Aga.

“Kau mau dibunuh Ruby?” tanya Arslan.

“Tidak akan, sebelum Ruby kemari akan ku hapus gambarnya,” jawab Aga meyakinkan.

“Oh…baiklah, terserah kau saja!” Arslan mengalah, lalu mendekatkan Ryuki ke Aga lagi. Ia juga yakin benda itu tidak akan melukai Ryuki.

Lalu Aga menebalkan alis Ryuki dengan pensil alis milik Ruby, dan beruntungnya Ryuki sama sekali tidak rewel. Beberapa saat kemudian Aga selesai, hasilnya Aga dan Ryuki kini benar-benar sangat mirip. “Hehehe…” nyengir senang melihat karyanya jadi dengan sempurna. “Sekarang kita benar-benar mirip ya Ryuki kecil!”

Arslan [i]sweatdrop[/] melihat kelakuan Aga yang menurutnya tidak wajar, berfikir jika beban sahabatnya itu sangat berat sampai membuatnya gila seperti itu.

“He brengsek? kenapa menatapku seperti itu?” protes Aga menyadari tatapan Arslan seperti menghawatirkanya.

“Hn? tidak, kuharap kau tidak gila sungguhan.”

“Apa katamu?, aku hanya bermain dengan Ryuki.”

“Iya terserah kau saja!” Lagi-lagi kalimat ketidak pedulianya itu terlontar.

“Kalau begitu foto lagi,” pinta Aga yang dijawab oleh decakan malas Arslan. Memangnya sejak kapan seorang Dermawan sepertinya menjadi juru foto amatiran seperti ini? kalau bukan Aga yang meminta mungkin sudah sejak tadi ponsel pintar itu rusak karena sudah dibanting terlebih dahulu.

Aga bersiap, menggendong dan mendekatkan wajah Ryuki dengan alis yang tebal sepertinya ke wajahnya. “Hihi…sekarang ayo senyum Ryuki, katakan moochii…” bersemangat dan memamerkan lagi gigi putih bersihnya.

‘Ckrek!’ Satu foto berhasil diambil.

“Bagaimana hasilnya?”

“Lumayan,” memberikan ponsel pintar itu ke Aga.

“Wah! hebat sekali… kita benar-benar sama Ryuki…hahaha!” Aga tertawa senang melihat hasil fotonya sesuai harapanya, tidak menyangka Arslan jago juga mengambil gambarnya.

“Aku akan mengirimkan ke Ibu…” ujar Aga senang, sementara Arslan kembali bersweatdrop menanggapi Aga.

‘Brraak!’

Tiba-tiba pintu terbuka.

Aga dan Arslan terkejut menoleh kearah suara, dua pasang manik safir dan onyx itu membulat sempurna menangkap sesosok wanita berambut panjang sedang menatap mereka tajam.

“AGA!” Ruby geram melihat Ryuki berada dalam gendongan Aga, lalu tanpa pikir panjang Ruby berjalan kearah Aga dan bersiap merebut Ryuki.

“Kau menculik Ryuki lagi, dasar menyebalkan!” cerca Ruby yang terlihat sangat marah. Sementara Aga dan Arslan hanya diam, masih belum siap menghadapi Ruby yang datang secara tiba-tiba.

“Dan…aaah..” Ruby menghentikan kalimatnya, menyisakan pemandangan sexy menurut Aga, karena bibir Ruby terbuka membentuk huruf ÔÇÿOÔÇÖ terlihat kemerahan dan segar ketika melihat wajah Ryuki penuh coretan di alisnya.

“Hehe…kami hanya bermain Ruu…” ujar Aga dengan wajah bersalah, sekaligus salah tingkah.

“Kau apakan wajah Ryuki!” bentak Ruby kesal, lalu merebut Ryuki dari Aga.

“Ehem…” Arslan berdiri dari duduknya. “Sebaiknya aku pulang saja, hari ini aku ada janji dengan Alan,” ujar Arslan menggaruk kepala belakangnya dan berniat menghindari amukan Ruby.

“Arslan!” rajuk Aga pelan dengan tatapan seolah ‘temani aku menghadapi Ruby!’. Namun semua itu hanya harapan, dengan santainya sahabat pantat ayamnya itu ngeloyor begitu saja, keluar dari kamarnya. Benar-benar tidak bisa diandalkan! Dalam hati Aga mengutuk Arslan dan bersumpah akan membawa sahabtanya itu kesarang banci yang sangat Arslan takuti.

Emerald itu melirik sebentar kearah Arslan yang melewatinya, lalu kembali menatap tajam Aga yang ada didepannya. Aga pasrah kalau saja sekarang Ruby mau memukul atau menendangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*