Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 6

Buah Dari Masa Depan 6

Disebuah toko peralatan bayi, tampak wanita dewasa cantik berambut lurus tampak memilih – milih baju berukuran kecil, ia tak sendiri melainkan datang bersama seorang wanita lain yang juga tak kalah cantik darinya.

Lisna dan Ruby, menantu dan mertua yang selalu terlihat kompak. Lisna yang masih seperti Ibu-ibu muda di umur yang sudah berkepala empat itu selalu bisa mengimbangi Ruby menantunya yang juga cantik. Kedua wanita dengan rambut panjang yang selalu digerai itu lebih mirip jika disebut kakak beradik daripada Ibu dan menantu, mereka sama-sama cantik dan modis.

Lisna tampak sibuk memilih-milih contoh baju bayi yang dipasang berjajar didepannya, sedangkan Ruby yang berdiri disampingnya terlihat begitu tidak nyaman berada disana, beberapa kali mengusap perut berusia 8,5 bulannya dan tampak gelisah.

Tersenyum melihat menantu kesayanganya canggung, memang Ruby jarang sekali keluar rumah semenjak kehamilannya mulai membesar, dia malu karena hamil di usia muda. Tapi hari ini Lisna memaksanya untuk memilih segala kebutuhan bayinya nanti. “Ruu? kau kenapa? wajahmu terlihat tidak senang?” tanya Lisna sambil memilih baju.

Pura-pura memilih baju dihadapanya, padahal hanya dibolak balik, “Umm… semua orang seperti menatapku, aku malu…” jawabnya menunduk.

“Kenapa harus malu? Kau hamil dan punya suami. Apa yang jadi alasan untuk malu?”balas Lisna kembali, kelihatanya ia sangat tertarik dengan baju bayi berwarna biru langit yang kini sedang diperiksa kecocokanya.

“Tidak, bukan itu…hanya saja, Aga selalu mengejeku gendut pasti aku sangat jelek kan Ibu? makanya orang-orang menatapku seperti itu,” iya selain malu karena hamil diusia muda, Ruby juga takut terlihat sebegitu gendutnya seperti yang dikatakan Aga.

“Ahahaha… kau ini, jangan dengarkan bocah bodoh itu. Kau terlihat cantik, tenang saja Aga kan memang senang sekali menggodamu.” Lisna menanggapi sekenanya, karena ia masih sangat antusias memilih pakaian untuk calon cucunya.

Memang hari itu Ruby tampak sangat cantik, dengan baju hamil yang beberapa bulan lalu dibelikan Lisna. Baju yang tidak terkesan keibuan, baju berwarna baby lavender dan rambut nan panjang halus, membuatnya sangat cantik hari itu, maka tidak jarang Ruby jadi pusat perhatian dan itu membuatnya sedikit salah paham.

“Hei kenapa melamun? Ayo sekarang bantu Ibu memilih baju-baju lucu ini,” kaget Lisna mencolek Ruby yang melamun.

“Ibu saja, aku tidak mengerti,” sedikit merengek seperti biasa. Yah gadis pendiam itu telah sedikit berubah semenjak menjadi istri Aga Nugraha, dia jadi sedikit manja. Dari gadis pendiam dan pemalu, bahkan dia juga tidak punya banyak teman dulu waktu disekolah.

Seolah tak menghiraukan Ruby yang menolak permintaanya, Lisna semakin bersemangat memilih baju bayi. “Wah pasti cucuku akan sangat tampan dengan baju ini,” wajah yang seharusnya sudah keriput itu berbinar, menjunjung tinggi kemeja berwarna orange bergambar jerapah kecil di sisi kanan dadanya. “Lihatlah Ruby, putramu pasti sangat tampan,” lagi-lagi kata itu yang terlontar dari bibir Lisna, Ruby hanya menghela nafas panjang melihat ibu mertuanya terlihat sangat berlebihan.

“Iya terserah Ibu saja, Ibu kan lebih mengerti,”

“Bantu Ibu, pilih saja yang menurutmu bagus Ruby,” perintahnya sambil memasukkan banyak-banyak pakaian bayi kedalam kereta belanjaan yang kecil.

“Ahh… baiklah…” sedikit malas Ruby kembali memilih-milih baju imut yang tertata rapi dalam rak baju itu. Kemudian berkeliling toko, memilih beberapa celana ganti, kaus rumahan, topi bayi, jaket hangat, popok dan sepatu kecil yang semuanya lucu menurut Ruby. Seperti pesan Ibunya.

Semua belanjaan di tas belanjaan Ruby hampir semua berwarna biru laut, warna yang menurutnya sangat cocok untuk bayi laki-laki. Iya setelah melakukan Usg bayi Ruby dinyatakan laki-laki dan sehat. Saat itu Lisna yang yang selalu setia menemani Ruby periksa kandungan melonjak gembira.

Tidak buruk juga, malahan Ruby yang dari awal tidak suka belanja dan menghamburkan uang mulai menikmati kegiatan belanjanya. Beberapa kali berpapasan dengan Ibu hamil yang lainnya yang juga membeli perlengkapan bayi membuat Ruby mulai tak canggung lagi, malahan mereka sempat sedikit mengobrol untuk memberikan pendapat.

Lisna tersenyum melihat menantunya, lalu ia yang sudah berpengalaman dalam mengurus bayi, kini membiarkan Ruby yang memilih pakaian beserta celana ganti dan hal-hal standart lainnya. Sedangkan Lisna memutuskan untuk membeli beberapa minyak penghangat, bedak bayi yang tak dimengerti Ruby.

Dirasa sudah cukup Lisna memanggil menantunya yang masih sibuk memilih selimut, mengajak Ruby untuk segera membayar dikasir, karena mereka harus pergi ketempat lain untuk membeli kereta bayi hari itu.

Kemudian mereka meletakan barang belanjaan yang mencapai empat keranjang dan satu trolly, sedikit berbasa-basi kemudian Kasir mulai menghitung total biayanya. “Kau terlihat lelah Ruu?” ujar Lisna melihat wajah Ruby yang memucat. “Masuklah kemobil, biar Ibu yang membayar,” lanjut Lisna tampak khawatir.

Ruby meringis menahan perutnya, sejak mengangkat keranjang belanjaan yang cukup berat tadi tiba-tiba perutnya terasa mulas. “Ssh…tidak apa Ibu, mungkin karena bayinya sejak tadi menendang terlalu keras,” jawab Ruby wajahnya terlihat pucat.

Memegang kening Ruby dengan telapak tanganya. “Kau tidak panas, tapi kau sangat pucat,”

“Ughs!” Ruby sedikit membungkuk meringis, memegangi perutnya kembali.

“Ruu!” Lisna memegangi kedua lengan Ruby menahanya agar tak jatuh, ia mulai panik melihat ekspresi Ruby yang mengernyitkan keningnya menahan sakit.

“Aawh! Ibu perutku sakit sekali!” putri tunggal Hanggoro itu merasakan perih diperutnya.

“Ah iya bagaimana ini, tenanglah Ruu!” Lisna kali ini benar-benar panik melihat Ruby, bahkan Kasir yang seharusnya menghitung belanjaannya ikut berlari membantu Lisna menahan Ruby. Lalu beberapa karyawan toko dan pengunjung lainnya mulai mengerubuti Ruby, bermaksud menolong sebisanya atau sekedar melihat.

“Cepat panggilkan ambulance!” teriak seorang karyawan wanita kepada salah satu temanya yang juga berdiri disana. Sementara Ruby semakin kesakitan, perutnya mengalami kontraksi hebat, dan rasa sakit ini belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Sabarlah Ruu, tahan. Ambulance akan datang sebentar lagi!” ucap Lisna menenangkan. Lisna tidak menyangka akan secepat ini, Iya Lisna mulai menyadari bahwa Ruby akan segera melahirkan.

“Ibuuu…sakit, rengek Ruby. Air matanya mulai meleleh merasakan mulas yang amat sangat diperutnya.

“Ibu tau sayang, sabarlah.” Menghapus airmata Ruby yang melewati pipi putihnya. “Kau akan jadi Ibu, sabarlah sebentar ya kita tunggu Ambulance,” terang Lisna mencoba setenang mungkin agar Ruby tidak makin panik.

Setelah menunggu beberapa saat kemudian, “ambulance sudah datang!” teriak seseorang yang menerobos kerubutan orang-orang itu.

“Ayo cepat bawa bawa menantuku!” seru Lisna tak sabaran pada perawat yang datang.

Lalu beberapa pria dan perawat rumah sakit memapah tubuh Ruby yang mulai tidak sanggup berdiri, Lisna yang semakin gugup dan panik mengikuti langkah tergesa-gesa para perawat itu menuju Ambulance.

[center]—***—[/center

Tubuh Ruby yang sudah terbaring ditempat tidur khusus melahirkan itu menggeliat kesakitan. Menggenggam apapun yang bisa ia raih untuk menyalurkan rasa sakitnya, termasuk mencengkeram baju Lisna yang mungkin sebentar lagi akan robek.

Sementara beberapa suster telah menyiapkan peralatan untuk menolong Ruby yang meraung-raung kesakitan, beberapa tetes keringat mulai membasahi keningnya.

“Ini sangat perih bu…. sakit sekali..hiks..” tangis Ruby memelas pada Lisna.

“Sabarlah sayang, berdoÔÇÖa kepada Tuhan agar semua lancar,ÔÇØ Lisna mengusap kening Ruby, suaranya masih panik meski ia berusaha menormalkan suaranya.

“Aaah!..Ayaaaah! Sakit sekali! Nnnh!” teriak Ruby memanggil-manggil Ayahnya, ia merasakan nyeri yang teramat diseputar perut dan pinggangnya.

“Sabar Ruby…dokternya akan segera datang!”

“Huuft…hah..ahh.. sakit…Ibuuuu toloong aakhuh…hah..” nafasnya mulai tersengal-sengal, rasa sakit yang mendera tubuh bagian bawahnya itu menjalar sampai keseluruh tubuhnya.

“Ruby dengarkan Ibu, kau harus berjuang nak. Putramu sedang berjuang untuk melihat dunia, kau harus kuat ya,” sebisa mungkin Lisna menguatkan Ruby, menggenggam tangan Ruby agar sedikit lebih baik.

“Hnn…nnnhhh…aaahh! Ibuuu..huh..huh..hh”

Lisna berdoÔÇÖa dalam hatinya, tak henti-hentinya memohon agar Ruby kuat sampai akhir, dia tau bagaimana rasa sakitnya melahirkan. Bahkan kalau boleh tugas itu bisa diambil alih oleh dirinya, Lisna tidak akan membiarkan menantunya kesakitan seperti itu. Lisna tidak tega.

Setelah beberapa saat kemudian pria berambut cepak, dan berpakaian serba putih masuk dengan tergesa-gesa, tentu saja karena melihat Ruby yang jadi pasienya sejak tujuh bulan yang lalu itu merintih-rintih kesakitan.

“Dokter Daren?!” Lisna terlihat lega melihat dokter yang selama ini memeriksa kandungan menantunya itu datang.

“Tenanglah nyonya Nugraha, tak apa aku akan menolong Ruby dan bayinya dengan sekuat tenaga.” Seakan tau apa yang Lisna rasakan, Dokter Daren mencoba meyakinkan bahwa Ruby dan bayinya akan baik-baik saja.

“Nona Ruby… kau ingat apa yang aku katakan dulu? Rilex dan tarik nafasmu dengan teratur,” ucap Dokter muda mengingatkan Ruby.

“Ummmh…nnhhh aaahh… dok..tee..err!” Ruby memandang Dokter Daren, dengan tatapan penuh dengan permintaan pertolongan.

Kemudian Dokter muda itu memeriksa jalan bayinya. “Pembukaanya sudah cukup, kita mulai Ruby, tarik nafasmu dalam-dalam!” perintah Dokter Daren, tanpa mengulangi Ruby menurutinya, ia sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan tugas berat ini. “Sekarang dorong yang kuat…iya, begitu terus…dan dorong Nona Ruby!” lanjut Dokter Daren memberi instruksi.

“Nnnhh… aaahh… kyaaah! Sakit!.. huh..huh..huh..nnnhh…aakh Ibuuuu!”

“Iya terus Ruu! berjuanglah… ulangi lagi! Tarik nafas…dorong Ruu…!” Seru Lisna.

Dokter Daren dan Lisna mendorong Ruby untuk tetap berjuang. Peluh telah membasahi tubuh Ruby yang mengejang, sekuat-kuatnya Ruby mengejan. Rambut halusnya basah karena keringat, dan beberapa helai telah menutupi wajah ayunya.

Rasanya sudah lelah, Ruby tak kuat lagi. Badanya benar-benar terasa tak bertenaga, tapi tanda-tanda akan segera lahirpun juga tidak ada padahal tadi jalan lahirnya sudah terbuka dengan sempurna.

“Nnnhhhh!…aku tidak kuat lagi…nnnhh..aahh” rengek Ruby.

“Ruu…ayolah, dia ingin melihatmu. Kau juga ingin melihatnya kan?” kata Lisna membangun semangat Ruby lagi

“Tarik nafasmu sedikit lagi Nona Ruby!” pinta Dokter Daren.

Hampir satu jam berlalu, peluh sudah membasahi, bukan Ruby saja. tetapi juga Lisna dan Daren yang tak hentinya menyemangati Ruby. Menuntun Rubu untuk mengatur pernafasannya, menarik nafas dan menghembuskanya.

“Huuh…huh..huh..hnnnn…huh…huh..hnnnn…! ” Ruby mengejan dengan kuat.

“Bagus Nona Ruby! sedikit lagi! kepalanya sudah terlihat!” seru Dokter Daren, ÔÇ£suster siapkan airnya!ÔÇØ lanjutnya memerintahkan suster untuk mengambilkan air.

Lisna yang mendengarnya juga ikut senang, jantungnya semakin berdegup. Mengenggam tangan Ruby dengan erat berharap dapat menyalurkan sedikit kekuatan untuk membantu Ruby yang sudah tidak karuan.

“Aaaakh! Hnnnn…aaaakkh!”

“Bagus Nona Ruby! satu dorongan lagi! Iya terus! Sedikit lagi!”

“Haaaaannnnnhhhhhhh! Aaaaaaarrghhhh!ÔÇØ

“GOOOLLLL!” teriak pemuda berambut durian didepan layar LED yang menampilkan lapangan hijau, gawang, beberapa pemain bola berseragam biru yang bersorak-sorak bersama penonton ditribun lapangan. Pemuda itu merentangkan kedua tangannya keatas melakukan selebrasi.

“Ah sial!” umpat Arslan, melempar stick playstasionnya asal.

“Ahahahaha…kau kalah lagi! kemarikan hadiah taruhannya!” pinta Aga, menagih bahan taruhan yang mereka janjikan.

“Kita main lagi!, aku tidak akan kalah!” timpal Arslan tak mau kalah.

“Kita sudah main 5 kali, dan kau kalah brengsek! Sudahlah kemarikan barang yang kau janjikan!”

Dengan malas Arslan berjalan ketempat tidur Aga, mengambil sebuah benda dari tasnya. Sebuah patung, lebih tepatnya action figure Lionel messi original dari negara dimana club Barcelona berasal, dan itu hanya dibuat sebanyak 10 buah.

Menyeringai penuh kemenangan, mengetahui sebentar lagi benda yang diinginkanya sejak dulu akan menjadi miliknya. Sementara Arslan masih enggan memberikan benda yang didapatkanya waktu liburan ke spanyol harus menjadi milik sahabat yang dianggapnya bodoh itu.

“Kemarikan brengsek!” tak sabar Aga ingin memilikinya.

“Kita main lagi!” Arslan masih tak rela.

“Tidak mau! Kemarikan sekarang juga!ÔÇØ

—***—

“Haaah…”

“Nnnnrrr…oeek! ooeek! ooeekkk!ennnrrrr…ooeeeekkk …” makhluk kecil yang berada di tangan suster itu menangis keras, tubuh kecilnya bergerak-gerak masih penuh darah.

“Selamat Nona Ruby bayi anda laki-laki, sehat dan tampan,” ujar Dokter Daren tersenyum senang.

Lisna juga tersenyum lega,Ruby juga terlihat lega dengan peluh yang membasahi wajahnya. Kejadian barusan terasa seperti mimpi, ia tak percaya telah melahirkan manusia dari dalam rahimnya. Ruby tersenyum pada Lisna, kemudian suster mendekatkan bayi mungil itu ke Ruby. Tapi kesadaran Ruby mulai menghilang, ia sangat lelah dan semua terlihat semakin menggelap.

“Ruby!” teriak Lisna khawatir melihat Ruby tak sadarkan diri.

“Tenang Nyonya, ia hanya pingsan. Biar suster yang merawatnya, dan kami akan membersihkan bayinya juga. Nyonya bisa istirahat dan menunggu diluar,” kata Dokter meyakinkan Lisna lagi.

“Baiklah…tolong rawat cucu dan menantuku, aku akan menghubungi Suami dan besanku.” Lisna meninggalkan ruangan bersalin, berjalan keruang tunggu untuk menelpon Julian suaminya.

Menekan tombol panggil dan menempelkan handphone ketelinganya, terdengar nada tunggu dari seberang sana.

“Lisna!” panggil seseorang yang baru saja akan ditelepon-nya, menghamipiri Lisna yang duduk sendirian.

“Julian!” seru Lisna sedikit heran bagaimana suaminya itu bisa menyusulnya.

“Tadi Jona yang mengabariku, maaf terlambat datang.” Terangnya masih memakai pakaian kerjanya.

“Jona ya?” Teringat bahwa ia datang ketoko itu dengan Jona supir pribadinya, tentu saja Jona tau mereka ada disini. “Eh baguslah,ÔÇØ senyumnya lembut pada suami kesayangannya. ÔÇ£Um Julian sayang, kau pasti tidak percaya! cucuku sudah benar-benar lahir!” seperti teringat sesuatu, Lisna langsung menghambur kepelukan suaminya.

“Syukurlah, kau sudah melihat wajahnya? apa mirip Aga, atau Ruby?” tanya Julian antusias, sambil membalas pelukan istrinya.

“Sayang sekali aku belum melihatnya dari dekat, karena Ruby pingsan dan bayinya langsung dibawa keruanganya untuk dibersihkan, tapi yang kulihat sekilas rambutnya agak acak-acakan, sepertimu dan Aga! hihi…” Lisna tertawa geli sekaligus senang mengingat cucunya yang imut tadi.

“Hahahaha…benarkah? Aku tidak sabar untuk melihatnya, dimana ruangan menantu kita?” Julian tak sabaran mendengar cerita Istrinya.

“Baiklah ayo kita kesana, oh ya aku akan menelpon Aga dan Ayah Ruby terlebih dahulu,” ucap Lisna melepaskan pelukannya dan membuka ponselnya lagi.

—***—

Lisna membuka pintu dan memasuki ruangan bercat krem itu, ruang rawat Ruby. Ruang VVIP yang sudah dipesan sejak jauh hari oleh Lisna. Saat memasuki ruangan itu yang pertama kali terlihat adalah ruang tamu dengan tempat duduk berwarna senada dengan tembok, lalu disebelahnya sebuah mini pantry lengkap dengan kulkas dan meja makan. Sedikit berjalan kedepan baru akan ditemui Electric bed yang ditempati Ruby, dekat dengan jendela kaca besar. Ruang rawat itu lebih mirip jika disebut hotel berbintang.

Julian mengikuti istrinya, didapatinya Ruby tengah berbaring dengan pakaian pasien berwarna krem dengan gambar-gambar kecil boneka beruang. Mereka berdua tersenyum melihat menantu kesayanganya sudah terlihat normal.

“Kau sudah baikan Ruu?” sapa Lisna penuh perhatian, dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Ruby. Kemudian mendekati Ruby, mengusap rambutnya pelan.

“Selamat ya kau sudah menjadi ibu” ucap Julian disamping Lisna.

ÔÇ£Terima kasih Ayah Julian…ÔÇØ jawab Ruby tersenyum tipis, ia masih sedikit lemas. Menjadi ibu? Ruby tak percaya akan secepat ini, rasanya baru kemarin ia dinyatakan hamil. Dan kali ini ia benar-benar melahirkan seorang manusia. Tidak! Tidaaak! Hal ini membuatnya frustasi saja! ia tidak mau anak itu, anak hasil dari pemerkosaan! Hubungan yang sangat ia benci! Ruby tidak menginginkanya!

Krieeeetttt….

“Permisi… maaf menganggu Nyonya, Tuan.” Seorang suster dengan baju dinas berwarna merah muda masuk kekamar, berjalan menggendong bayi mungil berselimutkan selimut yang pagi tadi dipilihkan Ruby kearah mereka bertiga. “Ini cucunya, sehat dan tampan,ÔÇØ Ucapnya saat berada didepan Lisna dan Julian. ÔÇ£Panjangnya 46cm dan beratnya 2,5kg,” lanjutnya terlihat sangat ramah.

“Uwaaaghh…boleh aku menggendongnya suster?” tentu saja Lisna sangat antusias.

“Tentu saja Nyoya, tapi nona Ruby harus menyusuinya terlebih dahulu,” kata suster cantik ber tag name Noela itu.

‘Me-menyusui?’ pekik Ruby dalam hati. Wajahnya tampak gugup, lagipula dirinya tidak sudi menyentuh bayi itu, darah daging Aga. Tidak! Ruby tidak mau!

Ruby melihat bungkusan bayi yang sudah ada didalam gendongan Lisna memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela disamping kanannya. Bagaimana-pun Ruby tidak akan sudi menyentuh bayi itu, rasa geramnya tiba-tiba muncul membuat semua kenangan buruknya dan Aga kembali berlarian dibenaknya.

“Waahh…tampan sekali sayang… kau mirip sekali dengan Ayahmu,” Lisna tampak begitu senang melihat cucunya.

“Benar dia tampan seperti kakeknya, bukankah begitu Ryuuki?” sahut Julian kepada cucunya yang telah ia carikan nama sejak jauh hari. Wajahnya benar-benar bahagia melihat makhluk mungil didekapan istrinya itu

“Kau ini sudah tua masih suka bercanda ya Julian!” ejek Lisna, kegiatan mereka sangat menyenangkan, bahkan sampai lupa kalau ada Ruby yang menahan air mata berada diantara mereka.

Entah apa yang Ruby rasakan, ia ingin sekali menjerit saat ini. Seharusnya ia berbahagia karena anaknya sudah lahir dengan selamat, tapi kalau itu berjalan normal seperti impiannya. Sayangnya semua ini tak pernah ia inginkan dari awal, menikah dengan pemuda yang memperkosanya dan sekarang harus merawat bayi yang tak pernah diinginkannya itu.

“Baiklah saya tinggal dulu ya Nyonya, Tuan. Pastikan Nona Ruby menyusui bayinya,” pamit suster cantik itu mohon diri setelah menyerahkan bayi Ruby bersama Lisna.

“Iya suster, terima kasih sudah merawat cucuku ya,” ucap Lisna ramah, lalu suster itu membuka pintu dan keluar. Kemudian perpapasan dengan kedua pria bermata sama didepan pintu, dan memberikan sedikit senyum ramahnya.

Kriiieeettt…

Pintu kembali terbuka, dan tak lama kedua pria bernama belakang Hanggoro masuk kedalam ruangan itu dengan aura khas mereka. Kuat dan tidak ramah, mereka hampir sama seperti keluarga Dermawan.

“Pak Hanggoro?!” Julian yang sedari tadi hanya menyentuh pipi gembil cucu digendongan istrinya itu sejenak menghentikan kegiatanya.

Ruby menoleh mendengar Julian memanggil nama ayahnya, dan tersenyum ketika melihat ayah dan kakak sepupunya datang.

Berjalan kearah Julian dan Lisna, diikuti Gary yang langsung menghampiri adik sepupu kesayanganya, memastikan Ruby sehat dan baik-baik saja.

“Pak Henri lihatlah cucu kita…sangat tampan!” seru Lisna bersemangat sambil menunjukan bayi mungil itu kepada Henri.

“Hahahaha… aku benar-benar tidak percaya akan dipanggil kakek secepat ini Julian!” tawa Henri sangat gembira setelah sekilas melihat cucunya, wajah yang biasanya datar itu kini menyiratkan kebahagiaan saat melihat makhluk digendongan Lisna itu menguap dengan bibirnya yang benar-benar mungil.

“Hahahahahaha…lihatlah dia menguap, lucu sekali! benar-benar tampan!” Julian juga tak kalah heboh diikuti Lisna dan Henri yang juga nampak sangat senang dengan bayi Ruby yang menggemaskan.

ÔÇ£Hahahaha….siapa namanya?ÔÇØ tanya Henri Hanggoro antusias.

ÔÇ£Namanya Lord Ryuki Nugraha, bagaimana pak Hanggoro nama yang bagus bukan?ÔÇØ jawab Julian tak kalah antusias, nama itu dia yang memilihkan sejak jauh hari.

ÔÇ£Hahahaha… iya nama yang bagus, tapi kenapa harus memakai nama belakang kalian, He? Kenapa tidak namaku?!ÔÇØ Henri sedikit tidak setuju.

ÔÇ£Apalah artinya pak Henri, tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja Ayahnya kan Nugraha?ÔÇØ timpal Lisna.

ÔÇ£Aah… baiklah, yang penting aku senang cucuku lahir dengan selamat!ÔÇØ

Ruby menghela nafas dalam-dalam melihat orang tuanya sangat sibuk dengan bayi yang baru saja dilahirkanya. “Bahkan Ayah tidak menanyakan keadaanku Kakak…” keluh Ruby melihat sayu Gary yang duduk disamping ranjangnya.

“Mereka sangat senang Ruu, bukankah kau juga begitu?” tanya Gary mengusap-usap lembut kening Ruby.

“Entahlah…” jawab Ruby malas.

“Ruu, lihatlah putramu tampan sekali seperti Aga,” ujar Lisna yang seperti baru mengingat bahwa cucunya seharusnya bertemu dengan Ibunya terlebih dahulu. Berjalan mendekati Ruby, dan Ruby kembali memalingkan wajahnya. Tidak sudi menyentuh bayi itu.

Wajah bahagia Lisna berubah kecewa melihat Ruby seperti itu, tidak menerima putranya. “Ruu…kau harus menyusuinya,” pinta Lisna berdiri disamping Ruby. “Hei lihatlah Ruu…kau tidak maukah melihatnya?” lanjut Lisna membujuk

“Tidak Ibu, aku tidak mau,” cicit Ruby lirih tanpa melihat Lisna.

Henri dan Gary hanya diam, mereka yang tadinya juga tidak terlalu perduli dengan bayi Ruby mulai khawatir Ruby menolak bayinya. Meski mereka tau perasaan Ruby, tapi setelah melihat wajah tak berdosa bayi mungil itu Henri berubah pikiran, seketika ia benar-benar sangat menyayangi cucunya itu dan berharap Ruby mau menyusuinya.

“Ruu? lihatlah bayimu, dia ingin merasakan hangat tubuhmu. Gendonglah walau hanya sebentar,” pinta Henri membuat Ruby melebarkan iris emeraldnya yang sayu. Bahkan ayahnya malah menyuruhnya menerima bayi itu, tidak!

ÔÇ£Ruu… Ibu mohon susui bayi Ryuki walau hanya sebentar,ÔÇØ pinta Lisna memelas.

ÔÇ£Aku tidak mau Ibu!ÔÇØ tolak Ruby. Wajahnya benar-benar muram saat itu.

ÔÇ£Oeeeee….ooeekk…hiks…ÔÇØ

ÔÇ£Sssssh…. diam sayang, ssshh… sayaang… cucu Oma..ÔÇØ Lisna menimang pelan bayi Ryuki digendongannya. ÔÇ£Ruu… ibu tau kau tidak suka pada Aga, bahkan mungkin kau sangat membencinya melebihi apa yang kita lihat. Tapi kau tau, bayi ini tak mengerti apa-apa. Dia tidak pernah berdosa apapun padamu, dia suci. Bagaimanapun dia suci meski cara ia ada dengan jalan yang buruk, Ibu mohon padamu Ruu sekali saja biarkan dia merasakan hangat Ibunya.ÔÇØ Bujuk Lisna panjang lebar.

Bagaimanapun Ruby tidak sudi! Tetapi jauh didalam lubuk hatinya Ruby tetaplah seorang ibu kandung. Ibu yang mengandung bayi merah itu selama 8,5 bulan, dan bayi itu tidaklah berdosa benar kata Lisna. Bayi itu butuh kasih sayang Ibunya, begitu juga sebaliknya. Seperti Ruby yang sangat menyayangi ibunya, butuh ibunya. Menyadari itu semua, Ruby menoleh kearah Lisna. ÔÇ£Hanya sekali!ÔÇØ ucap Ruby menyerah.

Ruby tidak sudi! Tetapi jauh didalam lubuk hatinya Ruby tetaplah seorang ibu kandung. Ibu yang mengandung bayi merah itu selama 8,5 bulan, dan bayi itu tidaklah berdosa benar kata Lisna. Bayi itu butuh kasih sayang Ibunya, begitu juga sebaliknya. Seperti Ruby yang sangat menyayangi ibunya, butuh ibunya. Menyadari itu semua, Ruby menoleh kearah Lisna. ÔÇ£Hanya sekali!ÔÇØ ucap Ruby menyerah.

Lisna tersenyum lega mendengarnya. “Baiklah hanya sekali,ÔÇØ jawab Lisna tersenyum dan Ruby bangun kemudian duduk diranjangnya. “Lihatlah bayimu…,” Lisna menyerahkan bayi Ryuki ketangan Ruby dengan pelan, ia terlihat gugup dan takut saat menerima bungkusan itu. Dan dalam hitungan detik tubuh ringkih bayi itu sudah ada didalam rengkuhannya.

Ruby membulatkan iris hijaunya saat atensinya menangkap wajah tak berdosa itu tertidur digendongan tangannya. Makhluk kecil yang kini ada didalam dekapanya itu bernafas dengan sangat teratur, mata kecilnya terpejam, hidungnya mungil mancung seperti Aga, bibirnya juga mungil merah menggemaskan, kulitnya putih seperti kulitnya dan rambutnya itu seperti Aga. Meski dia masih bayi Ruby tau rambut itu nantinya akan sama seperti Aga, susah diatur dan acak-acakan.

Sedetik kemudian mata Ruby berkaca-kaca, entah kenapa ia merasa begitu kejam terhadap bayi yang baru dilahirkannya itu. Tersenyum tipis lalu menyentuh pelan pipi gembil yang tampak menggemaskan, bayi kecil Ruby bergerak pelan, mungkin kegelian merasakan sentuhan jari Ruby dipipinya. Lalu berlahan mata kecil itu bergerak-gerak kemudian terbuka, menampilkan iris safir yang begitu indah sama seperti ayahnya.

Ruby sedikit terhenyak melihat pemandangan indah didepannya, rambut dan mata indah itu milik Aga. Iya, bayinya sangat mirip Aga. Untung saja kedua alisnya yang tebal tidak dibawa Ryuki juga, kalau tidak putranya pasti akan sangat mirip pria yang menghamilinya itu.

Ruby kembali tersenyum saat kedua pasang safir mungil itu memandangnya penuh kasih. Ia benar-benar merasa sangat berdosa menolaknya beberapa saat yang lalu. Perlahan airmatanya meleleh dipipi mulusnya, sementara Lisna dan Julian saling bertatapan senang melihat menantu mereka menggoda bayinya. Henri dan Gary Hanggoro juga terlihat lega melihat Ruby.

“Uugh…” bayi Ruby menggeliat pelan.

“Hei? kau sudah bangun pangeran mungil?” sambut Ruby, mendekatkan hidungnya kehidung Ryuki mencium aroma bayinya. Masih sedikit berbau amis memang, itu khas bayi baru lahir tapi itu sangat menyenangkan. ÔÇ£Kau tampan sekali…ÔÇØ Ruby menciumnya penuh kelembutan dan kasih. “Ryuki…a-anak Ibu…maaf…” ucap Ruby menangis sambil mendekap bayi mungil itu. Seketika Ruby melupakan kebenciannya terhadap bayinya, perasaan itu berubah menjadi perasaan yang sangat bahagia. Perasaan sayang yang teramat sangat, bahkan Ruby belum pernah merasa sesayang itu pada siapapun. Ruby merasa sangat bodoh dan tidak berperi kemanusiaan karena telah menolaknya tadi, kalau boleh ia mau memukuli dirinya sendiri karena sudah menolak bayi-nya sendiri. Tapi Ruby yakin, semua orang diruangan itu pasti akan mencegah, lalu sekarang sudah diputuskan bahwa Ruby akan menyayangi Ryuki, melindungi Ryuki dari apapun.

Lisna yang melihat pemandangan itu juga meneteskan airmatanya, merasa lega dan sangat bersyukur. Lisna tau Ruby adalah wanita yang baik, tidak mungkin dirinya tega menyia-nyiakan Ryuki. “Ruu susui Ryuki sebentar,” pinta lisna sambil menghapus airmata dipipinya dengan tangannya sendiri, membuyarkan kegiatan Ruby yang menimang bayinya.

“Me-menyusui?” Ruby terhenyak, bagaimana caranya ia tidak tau. Dan setaunya menyusui itu kegiatan bayi menghisap puting Ibunya, Ruby takut pasti rasanya geli. Ruby ingat betul rasanya dihisap puncak dadanya saat itu oleh Aga dan itu memalukan sekaligus sangat geli. Ruby takut.

“Iya kata suster, Ryuki tadi hanya minum susu yang diambil saat kau pingsan. Jadi sekarang kau harus menyusuinya secara langsung,” terang Lisna menjelaskan. Sedangkan Ruby hanya memasang wajah kikuk, “Ibu akan menemanimu, tenanglah… bayi akan jauh lebih sehat kalau minum Asi,” lanjutnya mengerti kegalauan Ruby yang pertama kali harus menyusui.

“Dan… seharusnya para pria meninggalkan ruangan ini sebentar saja, karena Nona muda Nugraha akan menyusui bayinya,” ujar Lisna sedikit bercanda, tersenyum kearah ketiga pria dewasa yang masih berdiri disana.

“Hahaha…baiklah tentu saja kami akan keluar, pak Henri, Gary sebaiknya kita menunggu diluar saja, mari mengobrol disana,” ajak Julian, lalu berjalan meninggalkan kamar diikuti Henri dan Gary.

Sepeninggalan Julian, Henri dan Gary hanya ada Lisna dan Ruby diruangan VVIP itu, segera Lisna mengajari Ruby bagaimana cara menyusui putranya dengan benar.

Setelah membuka sedikit kancing baju pasiennya, Ruby dibantu Lisna tampak meringis kesakitan saat Ryuki mulai menghisap puncak dadanya. Lisna hanya tertawa cekikian melihat Ruby matanya berair menahan sakit, ia tahu betul rasanya. Memang sakit sekali saat pertama kali menyusui bayi karena lidah bayi begitu kasar, bahkan lebih sakit daripada terkena gigi Julian saat mereka bercinta. Hah, apa yang dipikirkannya.

“Sshh…aawh sakit Ibuuu,” rengek Ruby mengernyitkan dahinya.

“Hehehem..heem… sabarlah, kau tau? Semua ibu merasakan ini,” ujar Lisna.

“Benarkah? apa Ibuku dulu juga begitu waktu menyusuiku?”

“Hahahah…tentu saja,” jawab Lisna bersemangat sambil membenarkan kepala Ryuki didekapan Ruby agar membuat bayi yang mulai tertidur itu semakin nyaman.

—***—

“Maaf Pak Julian, sampai selarut ini aku tidak melihat Aga datang kemari,” Gary yang sedari tadi tidak melihat adanya Aga menemani Ruby bertanya.

Menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin, kemudian meletakan dimeja lagi dan menimbulkan dentingan kecil. “Aku sudah menghubunginya, tapi Aga tidak mau datang,” terang Julian menyiratkan penyesalan. Henri dan Gary langsung menajamkan tatapan mereka tanda tidak suka.

“Tch! Anakmu itu benar-benar pengecut Julian!” tanggap Henri kecewa, “seharusnya dulu aku benar-benar membunuhnya!” lanjutnya terlihat marah.

“Maafkan kami Pak Henri, kami mencoba mengerti keadaan ini. Aga juga Ruby masing-masing masih labil, mungkin Aga tidak bermaksud mengacuhkan Ruby, tapi…” jawab Julian mencoba memberi pengertian kepada besannya.

“Aku benar-benar merasa terhina oleh kelakuan anakmu!” emerald Henri menatap Julian tajam, sementara Gary juga memasang wajah tak sukanya.

“Sebaiknya perceraian mereka dipercepat saja paman,” pinta Gary serius, bahkan Julian tampak terkejut dengan pernyataan Gary itu. “Tidak usah menunggu bayi Ruby berumur tiga bulan atau lebih, aku tidak mau adikku lebih lama tersiksa!” putusnya tegas.

“Sabarlah nak Gary, setidaknya biar Ruby pulih dahulu dan putranya siap ditinggalkan olehnya,” jawab Julian berusaha tidak terbawa suasana panas yang ditimbulkan keluarga Hanggoro.

“Siapa bilang Ruby akan meninggalkan putranya? Dia akan membawa serta putranya tinggal bersama kami! Tentu saja setelah mereka bercerai!” pernyataan Henri itu membuat Julian semakin tak percaya. Bukankah perjanjian sebelumnya setelah mereka bercerai anak Ruby akan dirawat Lisna, tapi mengapa Henri begitu saja ingin membawa serta Ryuki.

“Ta-tapi Pak Henri perjanjiannya buk-”

“Aku berubah fikiran!” Henri memotong kalimat Julian, “Kulihat Ruby terlihat senang berada dekat dengan putranya, begitu juga denganku. Aku ingin merawat cucuku, cucu yang lahir dari rahim putriku!” lanjutnya. Itu keputusannya, tidak peduli penolakan atau apa, Henri akan mendapatkan apa yang diinginkannya, tidak boleh ada yang menghalanginya.

Sesaat suasana panas penuh ketegangan imemenuhi kantin private dengan meja bundar berisi tiga pria kalangan atas itu. Tidak ada lagi yang mau membuka suara membuat suasana semakin terasa tegang.

Julian yang memang terkenal pria kalem diantara semua koleganya enggan meladeni Henri. Bahkan Julian tau walau Henri begitu profesional dalam hal bisnis tapi pria dengan tatapan membunuh itu memiliki ego yang tinggi kalau sudah menyangkut harga dirinya, apalagi ini menyangkut puteri kesayangannya. Julian memilih diam dan mengalah.

—***—

“Ayah dan Ibu lama sekali, padahal sudah larut malam begini,”Aga mondar-mandir dengan gelisah dikamarnya, sesekali melihat jam berwarna hitam yang melingkar ditangan kirinya, wajahnya juga tampak kusut ditambah rambutnya yang susah diatur.

“Kenapa kau tidak menyusulnya saja, dasar bodoh!” jawab Arslan yang seakan tidak ada bosannya bermain ps sejak siang. Sementara Aga yang sudah bosan bermain memilih mondar-mandir menunggui orang tuanya.

Lelah menunggu, Aga merebahkan tubuhnya ditempat tidurnya yang luas, beberapa kali memantul pelan. Menatap langit-langit kamar yang dipenuhi logo batman, pikiranya tidak fokus setelah mendengar Ruby melahirkan siang tadi, bahkan ia telah dikalahkan 5 kali oleh Arslan.

Pikiranya terus melayang, bertanya-tanya apa Ruby baik-baik saja? Apa bayinya tidak apa-apa, dia pernah membaca sebuah artikel diinternet bahwa melahirkan itu sakitnya teramat sangat sampai menjalar keseluruh tubuh, selain itu melahirkan juga mempertaruhkan nyawa. Sekali lagi apa Ruby tidak apa-apa? bagaimana dengan bayinya?. Kasihan Ruby, setiap hari selalu diejek gendut dan dijahili, sekarang dia harus merasakan sakitnya melahirkan gara-gara dirinya? apa sebaiknya ia menengok Ruby? tapi bagaimana, Aga malu tak siap bertemu Ruby apalagi bayinya.

“Hei bodoh! kau melamun apa?” merasa tidak ada gerak-gerik dari sahabat yang biasanya selalu berisik itu membuat Arslan mempause permainannya, menoleh ketempat Aga terbaring ditempat tidur dibelakangnya, menyadari sahabat jabriknya itu sedang memikirkan sesuatu.

“Ah, aku hanya memikirkan keadaan Ruby, apa dia baik-baik saja, apa bayinya juga baik-baik saja?” Aga memejamkan matanya, pernyataan yang terlontar dari mulutnya itu sama sekali tak disadarinya.

Arslan tersenyum tipis mendengar pengakuan Aga, yaah paling tidak sahabat yang dianggapnya bodoh itu sedang menghawatirkan anak dan istrinya meski tanpa tindakan apapun.

Lalu Aga bangun dan duduk dikasurnya, mendapati Arslan tersenyum dengan tatapan mengejek. “Kenapa kau tersenyum begitu?!” seru Aga tidak suka ditatap Arslan dengan tatapan yang menurutnya menggelikan.

“Tidak, hanya saja aku sekarang mengerti kalau kau menyukai Ruby,” jawabnya santai, sementara Aga tampak kaget.

“Apa?! memangnya apa yang baru saja aku katakan?”

“Kau bilang kau merindukan Ruby!” jawab Arslan bohong.

“He?! Tidak…tidak! kau pasti salah dengar dasar brengsek! bodoh!” kelaknya, dan hal itu malah membuatnya terlihat salah tingkah tak karuan.

“Haahahaha… kau mengatakanya tadi! dan aku jadi tau kalau kau mondar-mandir sedari tadi bukan karena menunggu paman dan bibi, tapi karena kau menghawatirkan Ruby dan bayinya.”

“Heee … jangan sembarangan dasar brengsek!”

“Hahah! sudahlah akui saja bodoh!”

“Aku tidak begitu!” balas Aga masih berusaha membela diri, kemudian kembali diam dan berfikir. “Tapi benarkah?” Aga seketika melompat dari tempat tidurnya dan duduk disamping Arslan dibawah. “He?? jangan katakan pada siapapun tentang ini ya!” tatap Aga kepada Arslan serius. “jalau tadi aku memang mengatakan merindukan Ruby itu hanya bohong! mungkin lidahku keseleo!” kilahnya.

“Memangnya kenapa?” tanggap Arslan kembali santai.

“Aku malu kau tau, dan bukannya kau juga tau kalau aku tidak menyukainya!”

“Benarkah begitu? jadi sekarang kau bahagia ya karena sebentar lagi akan bercerai dari Ruby, begitu?” Arslan kembali membuat game di layar LED itu berjalan.

“Eh?” raut wajah pria berkulit pale itu seketika berubah terkejut, ia ingat perjanjianya waktu itu. Ia ingat mereka akan bercerai setelah Ruby melahirkan.

“Benarkah kau senang tuan muda Nugraha yang terhormat?” tanya Arslan dengan senyum tipis yang tak disadari Aga.

“Eee… tentu saja kan,” jawabnya nyengir kuda, meski senyum lebar yang menjadi ciri khasnya itu tampak dibuat-buat.

“Kau bahagia?” entah kenapa kali ini Arslan yang mempunyai penyakit sariawan kronis karena tidak mau banyak bicara itu terkesan cerewet dari sebelumnya.

“Aku tidak tau,” jawab Aga singkat sambil mengambil stick Playstationnya. “Kau tau? kalau aku dan Ruby bercerai tidak ada lagi yang bisa aku goda kan? Dan tidak akan ada lagi yang memukulku saat aku memanggilnya gendut. Hahaha begitu kan, meski menyebalkan tapi aku jadi tidak terlalu kesepian dirumah ini kalau ada Ruby.” jawab Aga sengaja membuang tatapannya kedepan TV-nya.

“Jadi? kau akan tetap bercerai? atau mempertahankan pernikahanmu?” lanjut Arslan melirik Aga disampingnya.

—***—

Pagi kembali menyapa, udara yang lumayan dingin dipagi itu membuat sang Nugraha muda malas untuk bangun. Bahkan selimut tebalnya masih memanjakannya untuk tidur dibawahnya dengan tampan.

Pintu kamarnya dibuka seseorang, dan berlahan mendekati Aga yang masih memeluk guling kesayangan. Mengusap kepala jabrik sang anak, memperhatikan wajah tampan yang sangat mirip denganya.

“Aga bangunlah,” sentuh sang ayah dipundaknya. Ayah yang kini telah menjadi kakek.

Aga tetap tidak bergeming, Aga memang susah bangun, itu juga sifat yang dimiliki Julian. Bahkan Lisna harus menggodanya dengan sedikit nakal hanya untuk membuat Julian mau bangun pagi.

“Hei bangunlah!” seru Julian mengguncang-guncang tubuh Aga. “Dasar anak bandel! pantas saja Lisna sering mengomelimu ya!” seakan lupa dengan sifatnya sendiri, padahal mereka hampir mirip kalau masalah susah bangun.

“Nggh..” menyingkirkan tangan ayahnya yang sedari tadi mencoba membangunkanya.

“Bangun Aga! temani Ibumu dirumah sakit!”

“Hoooamh… kerumah sakit?” Aga menguap lebar, membuka matanya, mendengar kata rumah sakit. Ia baru ingat bahwa Ruby melahirkan dan Ibunya menungguinya semalaman.

“Iya, nanti sore Ruby dan bayinya sudah boleh pulang, jadi sekalian kau jemput mereka karena Ayah ada pertemuan dengan klien dari luar kota.

“Baiklah…aku berangkat nanti,” jawab Aga masih memeluk gulingnya.

“Oh iya Ayah beritahu sesuatu padamu,” lanjutnya tersenyum senang. “Putra Ruby sangat mirip denganmu,” lanjut Julian.

Mendengar itu Aga membuka matanya. “Ah… benarkah?” berbalik menatap ayahnya, “baguslah kalau begitu Ayah, itu artinya Ruby tidak tidur dengan pria lain kan?” cengirnya senang.

“Memangnya kenapa kalau Ruby tidur dengan pria lain? kau cemburu? tidak rela?” Goda Julian pada Aga.

“Ah Ayah ini bicara apa sih.” jawab Aga tak berminat.

“Kau terlihat senang, bukankah dulu kau sangat berharap Ruby hamil dengan pria lain? Jangan bilang kalau kau mulai menyukai Ruby ya?” pria yang mempunyai rambut yang sama dengannya itu masih menggoda, wajahnya terlihat konyol kalau begitu.

“Ayaaahhh hentikan jangan menggodaku seperti itu! Aku tidak mungkin menyukai Ruby!” jawabnya mengelak. Padahal terdapat semburat merah dipipinya.

“Hahaha… kau lucu sekali ya, seperti gadis yang jatuh cinta. Malu-malu begitu, ternyata Arslan benar ya,” seakan tak puas Julian masih menggoda puteranya, wajahnya menyelidik geli melihat Aga pipinya merah dengan bibir mengerucut.

“Memangnya Arslan bilang apa?! dasar! tidak kusangka Dermawan satu itu suka bergosip!” Aga berusaha mengalihkan perubahan sikapnya yang malahan membuatnya semakin kentara bahwa dia salah tingkah.

“Ahahaha…” Julian menggaruk belakang kepalanya, “Arslan tidak bilang apa-apa, hanya saja tadi pagi dia buru-buru pulang setelah kau mengigau menyebut nama Ruby sambil memeluk Arslan.”

“Apa!” Melonjak dari tidurnya, “tidak! menjijikan! pasti itu tidak benar! si brengsek pantat ayam itu pasti bohong!” Aga membela dirinya sebisa mungkin, kali ini dia benar-benar dipermalukan oleh Arslan didepan Ayahnya sendiri, dasar Dermawan brengsek!

“Hahaha… sudahlah, Arslan tidak suka berbohong sepertimu, Ayah tidak menyangka kau bisa juga jatuh cinta,” ejek Julian bersedekap dan ekspresi ayahnya membuat Aga semakin salah tingkah juga jengah.

“Sudahlah Ayah jangan menggodaku seperti itu!” mengerucutkan bibirnya. Pipinya yang telah memerah sedari tadi semakin memerah sempurna mendengar Ayahnya sangat jahil pagi itu.

“Hahahaha… ya sudah cepatlah bergegas, Ibu sudah menunggumu.” Mengusap kepala durian Aga, kemudian berdiri meninggalkan putera satu-satunya itu.

“Baiklah…baiklah…aku bangun”

—***—

Aga berjalan tergesa-gesa, lebih tepatnya berlari kecil dikoridor rumah sakit mewah dengan dominan warna biru itu. Manik safir indahnya sesekali melihat jam berwarna hitam ditangan kirinya, mengumpat karena ruangan yang dicarinya tidak juga ditemukan. Sementara ponselnya tak berhenti berdering sedari tadi, enggan menjawab karena pasti hanya omelan yang akan didengarnya. Tapi kalau difikir bukankah itu lebih baik? setidaknya setelah dimarahi ia bisa bertanya dimana kamar Ruby berada.

Merogoh ponsel pintar seri terbaru yang baru dibelinya satu minggu yang lalu dari saku celana jeans Armani kesukaannya, lalu menempelkan layar ponsel ditelinganya setelah sebelumnya mengusap kekiri layar ponsel itu untuk menerima panggilan.

“Iya Ibuuuu…” raut wajah tampan itu terlihat pasrah bersiap menerima bentakan dari Lisna. “Aku sudah sampai, hanya saja aku tersesat,” jawabnya lagi, lalu diam untuk beberapa saat mendengarkan suara ibunya yang entah bilang apa, “Iya aku memang bodoh, sekarang dimana kamarnya?” Aga mengerucutkan bibirnya bosan. “Baiklah baiklah..” menghela nafas lalu memasukan hpnya kesaku lagi.

Tanpa menunggu lebih lama pemuda yang hari itu menggunakan polo shirt Ralph Laurent berwarna merah itu berjalan lurus dan berbelok kekanan. Setelah sekitar 3 menit akhirnya menemukan kamar yang dia cari.

Memegang gagang pintu berwarna putih dan membukanya.

‘Kriieeett…’

Melongokan kepala jabriknya yang tidak pernah rapi. Langsung disambut suara Ibu berambut indahnya. “Masuklah jangan seperti pencuri!” yaaah… sedikit ragu memang kalau langsung masuk.

Saat Aga masuk dan menuju ruang rawat Ruby yang pertama kali didapatinya ketika memasuki kamar itu adalah ibunya yang sedang mengemasi beberapa barang, dan tentu saja Ruby yang sedang mendekap bungkusan mungil diranjangnya.

Wajah Ruby cerah sekali, rasanya sangat lama wajah itu tak Aga lihat, padahal baru kemarin ia tidak bertemu Ruby. Tapi kata orang, wanita yang habis melahirkan itu memang kecantikannya bertambah 100%, entah itu betul atau tidak yang jelas Ruby benar-benar cantik saat itu.

“Ha-hai gendut,” sapa Aga canggung, tetapi Aga berusaha sesantai mungkin seakan tidak ada perasaan apa-apa. Padahal semalaman kepala duriannya itu dipenuhi bayangan wanita yang saat ini terlihat mengabaikannya. Ruby sendiri sebenarnya ingin berteriak seperti biasanya, namun enggan menanggapi karena tidak mau mengagetkan makhluk yang sedang tidur dengan nyaman didekapanya.

Merasa lega melihat Ruby sepertinya baik-baik saja, tapi kemudian merasa diacuhkan dan membuatnya canggung. Aga memilih mendekati Ibunya yang berdiri agak jauh dari ranjang Ruby, lebih tepatnya didepan ranjang Ruby yang sepertinya adalah ruang keluarga, karena disana hanya terdapat satu sofa memanjang yang dipenuhi beberapa barang bawaan Lisna.

“Sayaaang… jangan ganggu Ruby,” ujar Lisna yang melihat Aga mendekatinya.

“Tidak, aku hanya menyapa,” jawabnya. “Kenapa tidak menyuruh maid saja yang membereskannya bu?” tanyanya lagi melihat Ibunya tampak sibuk melipat baju-baju kecil Ryuki.

“Ibu hanya ingin merawat cucu Ibu sendiri! dan kenapa kau sangat terlambat menjemput kami, ha?! Kau pikir ini jam berapa!” bentak Lisna menjawab sekaligus bertanya pada Aga yang duduk disofa itu dan menindih beberapa baju Ryuki.

“Maaf, tadi aku ketiduran lagi Ibuuu…” jawabnya malas-malasan, lalu mengambil satu celana kecil Ryuki dan mempermainkannya sambil mendengus geli.

“Itu punya cucu ibu!” Lisna melotot sambil merebut pakaian kecil Ryuki. “Kau memang selalu begitu terlambat bangun! tapi yasudahlah,” Lisna mengalah kemudian memasukan pakaian Ryuki yang dilipatnya kedalam tas.

“Umm… bagaimana kalau kau menggendong putramu?kau tau wajahnya sangat mirip denganmu!” tawar Lisna yang terlihat sudah selesai merapikan barang bawaanya.

Sedangkan Aga tak menjawab dan melirik sekilas pada bayi didekapan Ruby. “Ngg…mu-mungkin nanti saja dirumah, sekarang ayo cepat pulang,” jawab Aga ragu.

“Jangan! kau tidak boleh menyentuh Ryuki!” seru Ruby tiba-tiba, ternyata ia mendengar pembicaraan Ibu dan suaminya itu. “Kau tidak boleh menyentuhnya Aga!” ulangnya lagi.

Kening Aga berkedut, menoleh dan terpaksa menatap Ruby yang sedang menatapnya tajam sembari berkata. “Memangnya siapa yang ingin?! Aku juga tidak mau menggendongnya! bau ompol, menjijikan!” jawab Aga memiringkan bibirnya mencibir, sedangkan Ruby mulai membuka mulutnya. “Biar kau saja yang bau ompol sendirian!”.

“Kkh-kaaau!” Ruby kesal diejek seperti itu, dia ingin membalas Aga.

“AGA! RUBY! HENTIKAN!” dan Lisna menatap tajam keduanya bergantian, lagi-lagi menghentikan kalimat yang akan terlontar dari bibir Ruby. Wanita setengah baya yang rutin fitnes itu tidak mau kedua anaknya bertengkar dirumah sakit.

“Berhentilah bersikap seperti itu, kalian sudah menjadi orang tua,” lanjut Lisna serius, sementara Aga mendekapan kedua tanganya didada berpaling keluar jendela disebelah kanannya.

“Daripada kalian terus bertengkar disini, ayo kita pulang! memalukan saja!” ujar Lisna tegas, “Aga! Kau bawa tas itu, kau keluarlah dulu. Biar Ibu dan Ruby menyusul,” perintahnya menunjuk kedua tas yang berisi pakaian Ruby dan Ryuki.

“Haaah… selalu saja dari dulu! Merepotkan!” keluh Aga lirih sambil bangkit dari duduknya dan mengangkat kedua tas pakaian itu.

“Kau sudah berani membantah Ibu?!” hardik Lisna melemparkan tatapan seramnya.

“Eh!” kaget dengan wajah konyolnya, “tidak-tidak…baiklah aku mengerti,” jawab Aga tidak mau membantah.

Tanpa diperintah duakali Aga bergegas keluar kamar tanpa melirik Ruby begitu saja meninggalkan Lisna dan Ruby dikamarnya.

—***—

Mobil Nissan GT-R berwarna silver milik keluarga Nugraha melesat dengan suara khas mobil sport karena empat knalpotnya, dikendarai putera tunggal mereka menyusuri jalanan kota Jekardha yang sudah mulai gelap. Lampu jalan juga papan-papan besar iklan sudah menyala menghiasi jalanan yang yang tak pernah sepi itu.

Mobil berisi Aga, Lisna dan Ruby beserta bayinya itu berjalan sedikit lambat tapi tak bisa juga selambat mobil yang lainnya, karena tentu saja ini bukan kebiasaan Aga yang lebih suka kebut-kebutan.

Siapa lagi kalau bukan Lisna yang sedari tadi tidak berhenti mengomel dan memarahi Aga jika mobil melaju sedikit kencang.

“Kapan sampainya, rasanya seperti naik kura-kura saja,” geruto Aga tetap fokus menyetir menatap kedepan dengan tampang malasnya.

“Yang penting sampai dan selamat! Aku tidak mau cucuku menangis ketakutan karena kau menyetir seperti berandalan!” bentak Lisna sewot, ia duduk disamping Aga.

“Bukankah dia seorang pria? Pria tidak akan takut kalau hanya ngebut sepertiku Ibu,” jawab Aga santai.

Bletak!

“Kau bodoh atau apa! dia itu masih bayi!” Lisna memukul kepala Aga tak sabaran.

“Aww! Ibuu kan sakit!” rengek Aga menggosok-gosok kepalanya yang panas, sementara Ruby hanya tersenyum mengejek melihat Aga dipukul seperti itu.

“Jangan memukulku seenaknya begitu Bu… kebiasaan buruk Ibu! aku kan sedang menyetir!” Protes Aga bersungut-sungut.

“Ahhahahahaha… maaf maaf sayaang…” Lisna mengusap-usap kepala jabrik itu dan meminta maaf, Lisna memang selalu begitu, gerak refleknya hampir selalu mencelakai Aga. Sering sekali.

“Bagaimana kalau tadi aku kehilangan keseimbangan?” gerutu Aga meneruskan acara marah-marahnya.

“Ah tidak akan, Ibu kan tau mana yang berbahaya dan tidak!” kilahnya ngawur, membuat keringat Aga menetes didahinya.

“Sok tau!” timpal Aga sebal.

“Hiik…ooeeek…hiks.hiks.hiks…ooeeekk..” Ryuki menggerakan tangannya terbangun, kemudian menangis. Mungkin sedikit kaget dengan suara Lisna dan Aga.

“Ssh…cup..cup..sayang kau bangun, ha?” Ruby mencoba menenangkan Ryuki menggoyangkan tubuh kecil itu pelan.

“Hei… kau bangun cucuku yang manis? maaf membangunkanmu…” Lisna menengok kekursi belakang dimana ada Ruby dan cucunya. “Sebentar lagi kita pulang kerumah sayaaang…” lalu mengusap pelan kepala jabriknya yang mirip Aga.

Sementara Aga merasa berdebar mendengar tangisan pertama Ryuki untuknya, ia melirik melalui kaca didepanya mencuri-curi pandang wajah Ruby juga berharap sedikit saja melihat wajah bayi yang disebut Julian dan Lisna mirip denganya.

Namun sayang, Ruby selalu mendekapnya dengan posesif, dan selalu saja topi bayi beserta selimut itu semakin menghalangi indahnya wajah Ryuki putranya.

Ryuki masih menangis dengan mata terpejam, padahal Ruby sudah mencoba menenangkanya. “Mungkin dia haus Ruu,” kata Lisna yang memutar duduknya lagi demi menyentuh Ryuki yang masih menangis. “Biarkan dia minum, bayi memang begitu, sedikit-sedikit minum susu,”

Ruby membulatkan matanya seolah berteriak APA?! dalam hati, menyusui Ryuki? Ruby harus menyusui Ryuki sementara ada Aga didepanya? Oh…Lisna tidak mungkin sang puteri mau. Tapi setelah melihat Ryuki menangis seperti itu Ruby juga tidak tega, bukankah ini juga salah satu resiko menjadi Ibu yang baik seperti yang dikatakan Lisna? Baiklah anggap saja ini demi sang pangeran kecil.

Ruby menyiapkan dirinya untuk menyusui Ryuki. Masih belum terbiasa dengan bayinya Ruby masih kikuk dan kaku jikalau harus menyusui tanpa bantuan Lisna, karena itulah Lisna yang duduk didepan hanya mengarahkan dan terpaksa Ruby harus berusaha sendiri melepas kancing bajunya sambil menahan kepala Ryuki, itu lumayan sulit untuk Ibu baru sepertinya. Belum lagi dia harus menjaga serapat mungkin agar Aga tidak melirik payudara besarnya.

Tidak lama kemudian Ryuki berhenti menangis, Ruby berhasil menyusui Ryuki tanpa bantuan Lisna. Yah meski tetap sedikit dibantu karena Lisna membantu memegangi kepala Ryuki dari kursi depan, lalu tak lama kemudian dengan wajah imutnya Ryuki meminum Asinya dengan tenang.

Aga diam-diam melirik Ruby lagi dari kaca diatasnya, pipinya memerah melihat Ruby sedang menyusui Ryuki terlihat sangat keibuan dan cantik, payudaranya yang putih juga menyembul sedikit, tidak apa-apa bukan dia mengintip sedikit? toh Ruby sudah menjadi istrinya yang sah, bahkan jika ingin menyentuhnya tidak ada yang boleh melarangnya pikir Aga tersenyum tipis.

“Kau lihat apa Aga!” bentak Lisna tiba-tiba, menangkap basah safir indah Aga melihat Ruby melalui kaca diatasnya. Sementara Ruby yang tidak menyadari sedari tadi dilirik Aga mendesis pelan.

“Dasar mesum!” ujar Ruby membenarkan selimut Ryuki untuk menghalangi pandangan Aga kedadanya. Yah sebagai lelaki normal wajar kan Aga tertarik dengan hal semacam itu.

“Aku tidak lihat apa-apa, percaya diri sekali!” jawab Aga menyembunyikan semburat merah dipipinya.

“Biar saja! daripada mesum!” balas Ruby tak mau kalah.

“Jangan teriak-teriak nanti jahitanmu lepas,” timpal Aga kembali.

“Si-siapa yang dijahit?! jangan sok tau! jabrik jelek!” teriak Ruby lagi, berteriak sambil memejamkan matanya.

“Heii… sudahlah, apa tidak bisa kalian ini akur? Ryuki tidak mungkin dibesarkan dikeadaan yang seperti ini kan?” ujar Ruby yang lagi-lagi harus menjadi penengah.

Enggan meladeni Aga, begitu juga dengan Aga yang enggan meladeni Ruby, keduanya memilih diam dan menyibukan diri dengan pikiran masing-masing. Sementara Lisna yang sudah berada diposisinya hanya memijat keningnya yang terasa pening, entah harus berapa lama lagi dia harus berada diposisi ini. Dan tak berapa lama mobil mewah itu memasuki halaman luas kediaman Nugraha.

Aga memarkirkan mobilnya didepan pintu masuk rumahnya, dan beberapa penjaga menghampiri mobil itu, membuka pintu mobil dan mereka bertiga keluar dari dalamnya. Lalu bergegas masuk kedalam rumah, beberapa maid menawarkan diri untuk membantu menggendong bayi Ruby, tapi Ruby menolak dan memilih menggendong putranya yang beberapa jam lalu tak ingin ia sentuh. Sedangkan Aga langsung melenggang pergi berniat masuk kedalam kamarnya dengan wajah jengkel andalanya.

“Aga bawa Ryuki keatas, bantu Ruby me-”

“Tidak usah Ibu, aku bisa sendiri,” tolak Ruby, tidak mau bayinya disentuh Aga.

“Hah! Yasudahlah aku juga tidak mau! Urus saja sendiri!” ujar Aga sengit pada Ruby. Padahal semalam ia selalu teringat Ruby dan bayinya, tapi entah kenapa saat makhluk menyebalkan itu ada didepan matanya Aga merasa sangat benci. Andai saja Ruby bisa sedikit lembut padanya.

Aga meneruskan niat sebelumnya, masuk kamar dan kembali tidur. Dia yang merasa selalu diacuhkan kedua wanita yang dipanggilnya Ibu dan Ruby itu meninggalkan keduanya yang kembali ngobrol seolah tak ada Aga disana. Menyebalkan memang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*