Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 10 (Tamat)

Buah Dari Masa Depan 10 (Tamat)

Ruby membelai pipi gembil Ryuki, bayi kecilnya itu sudah tidur tenang disampingnya, dengan nafas yang teratur makhluk kecil yang rupawan itu tampak kelelahan setelah hampir semalaman menangis.

Sementara Ruby bisa sedikit lega melihat putranya akhirnya bisa tidur dengan nyenyak. Tak seperti satu jam yang lalu, dimana ia harus menenangkan Ryuki mati-matian.

Beruntung Ruby memiliki kakak seperti Gary, cepat tanggap. Tau apa yang harus dilakukanya untuk menenangkan Ryuki tanpa harus mendatangkan Aga disana. Yah walau harus menanyai Ruby hal yang tidak sopan. Gary terpaksa menanyakan pada Ruby soal baju yang kemarin dikenakan saat bergumul dengan Aga.

Tidak sopan memang pertanyaan yang sedikit tabu itu ditanyakan oleh seorang Gary Hanggoro, tapi itu terpaksa demi keponakan kecilnya. Meski Ruby menjawab dengan pipi semerah kepiting rebus, setidaknya berkat Gary ia bisa mengatasi masalahnya.

Dress berwarna putih milik Ruby, Gary meminta Ruby untuk mengambilnya dari tumpukan baju kotor. Tentu saja pakaian itu masih ada aroma khas tubuh Aga yang tertinggal, yah walaupun sedikit. Tapi semua tau bayi itu sensitif, Gary yakin penciuman Ryuki juga sensitif. Mungkin hanya Ryuki yang bisa mencium aroma Aga digaun putih itu, gaun yang kini ada disamping Ryuki. Buktinya hanya dengan mendekatkan baju itu, Ryuki jauh lebih tenang.

Ruby tersenyum saat memandang Ryuki, rambutnya agak memanjang mulai terlihat jabrik, hidung yang mancung dan alisnya yang makin tebal mengingatkannya pada Aga, Ayah biologisnya.

Kemudian tangan Ruby berpindah. Membelai dress putihnya didekat kepala Ryuki, pipinya memerah mengingat kejadian siang tadi, kegiatan intim yang ia lakukan berdua dengan Aga untuk yang pertama kalinya setelah hampir satu tahun mereka menikah. Mengingat saat wajah Aga begitu dekat dengan wajahnya, saat bibir Aga menyentuh bibirnya dan melumatnya lembut, saat tangan kuat dan hangat Aga menyentuh bagian-bagian sensitifnya. Saat seperti itu adalah saat yang memalukan juga mendebarkan baginya.

“Aakkhh! Aahh! Jangan keluarkan didalam! Aku tidak mau hamil lagi!” saat itu dengan wajah penuh hasrat dan rasa geli disekujur tubuhnya, ia merasakan kedutan kuat didalam kewanitaannya. Ya Ruby tau sebentar lagi pria yang tengah mengaduk-aduk kewanitaannya itu akan segera mencapai puncaknya dan siap menumpahkan benih dirahimnya lagi.

“Sshh…aahh! ini terlalu nikmat kau tau?! memangnya apa masalahnya kalau aku keluar didalammu?! Ha?!” tatapannya yang menggelap seolah menegaskan bahwa dia sama sekali tak berminat mencabut kejantanannya yang tertanam dalam dikewanitaan Ruby.

Ruby menggigit bibirnya menahan ngilu dibawahnya sana. “Ngghh…. Agaaa…. jangan! Ahh!” sepertinya ia juga tidak berniat menjawab pertanyaan suaminya itu, ia hanya terus menggeleng sambil sesekali mendesah hebat karena Aga menghisap putingnya kuat-kuat sambil meremas dadanya yang besar. Sampai saat Aga tak sanggup lagi menahan gelombang orgasmenya dan berniat menumpahkannya didalam rahim Ruby, Istrinya itu dengan kuat mendorong tubuh Aga sampai terjengkang kebelakang, membuat cairan orgasmenya tumpah diperut Ruby, berceceran di sprei merah yang mereka gunakan, wajah Aga tampak konyol saat itu dan Ruby langsung menutup tubuhnya dengan selimut.

Ruby tersenyum mengingatnya, bodoh! Kenapa ia tidak membiarkan Aga menanamkan benihnya lagi saja? Siapa tau mereka tak perlu bercerai secepat ini, tapi Ruby ragu. Ia tidak pernah tau bagaimana perasaan Aga padanya, tidak mungkin ia harus hidup bersama pria yang mungkin tidak mencintainya.

Ruby kemudian bangun dari tidurnya, menurunkan kaki mulusnya memijak lantai kamarnya yang dingin. Kemudian berjalan mendekati meja rias, tangannya membuka kotak make up yang belum sempat ia keluarkan isinya dan mengambil sesuatu dari sana.

Senyum Ruby kembali mengembang memandangi benda persegi panjang yang kini berada ditangannya, benda yang ternyata adalah sebuah foto pernikahan.

Sambil membelai permukaan kaca foto itu dengan lembut, Ruby membawanya kembali ketempat tidurnya. Masih dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Ruby mengusap wajah pria tampan difoto itu. Foto yang memperlihatkan dirinya dengan baju pengantin dan keningnya tengah dicium oleh pengantin pria.

“Kau sedang apa, Aga?” Lirihnya pelan dengan wajah sendu tapi enggan menghilangkan senyumnya, ia terus memeluk foto berukuran 25.4 cm x 30.5 cm dengan bingkai hitam polos itu. Ia sangat rindu pada pria jabrik didalam didalam foto yang sedang ia peluk, biar baru beberapa jam berpisah ia sudah sangat rindu. Lalu perlahan ia memejamkan mata hijaunya, berharap bisa bertemu dengan Aga di alam mimpi nanti.

Sementara dikamar Aga. Pemuda berambut jabrik yang susah diatur itu juga tengah memikirkan Ruby. Foto yang sama dengan yang Ruby bawa-pun juga ia peluk dengan erat, seolah itu adalah Ruby. Tak mau Aga melepaskannya sedetikpun, ia terlalu ingin bersama Ruby.

Seolah keduanya saling terhubung dan dapat saling berkomunikasi, Aga mulai memejamkan matanya. “Selamat tidur Ruu….” ucapnya lirih. Tersenyum, dibenaknya terlintas Ruby juga tengah tersenyum manis dipelukkannya. Dan kemudian iapun terlelap perlahan dengan senyum diwajah tampannya.

—***—

“Aga, pinjam pulpenmu sebentar,” pinta Arslan yang sedang membaca buku catatan kuliahnya, mengulurkan tangannya tanpa melihat Aga yang tampak kusut duduk disampingnya.

Aga sibuk melamun menopang dagunya dengan kedua tanganya melirik Arslan malas, dan dengan malas pula Aga memberikan pulpen yang sedari tadi ia gigiti sambil melamun.

Kedua pemuda tampan itu tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Duduk disebuah kafe mewah, menikmati hot capuchino sambil mengerjakan tugas kuliah. Setidaknya itu yang mereka rencanakan sejak awal. Yah walau sebenarnya Aga sedari tadi hanya melamun memikirkan Ruby dan Ryuki dengan wajah suram.

“Bisa ambilkan buku disampingmu itu?” pinta Arslan beberapa saat kemudian. Dan dengan respon yang sama Aga menyodorkan buku yang diminta Arslan, kemudian kembali dengan kegiatan melamunya.

“Aga bisa kau pesankan aku seporsi frenchfries? Aku sedang tanggung,” lagi-lagi Arslan memerintah tanpa melihat Aga.

“Brengsek! Kau menggangguku dari tadi!” Aga bangkit dari sofa cokelat yang diduduki-nya, wajahnya terlihat sangat marah. Entahlah ia merasa sangat kesal, tapi entah dengan siapa. Bukan juga dengan Arslan, ia merasa sangat kesal secara random.

Arslan mendongak dengan ekspresi datar, memperhatikan wajah kesal Aga. Kemudian melirik sekeliling, ternyata beberapa orang tengah memperhatikan mereka dengan tatapan aneh. “Ada apa? Kenapa kau marah? Aku hanya minta tolong,” tanya Arslan malas dan kembali sibuk dengan buku yang dibacanya.

“Jangan ganggu aku!” jawab Aga setengah membentak.

“Hn? Kau ini kenapa?” ulang Arslan, yang sebenarnya heran dengan tingkah sahabatnya itu, tapi ia tampak acuh. “Sensitif sekali, seperti gadis yang baru saja datang bulan,” lanjutnya, sembari mengangkat cangkir keramik berisi Capuchino, menyesap capuchinonya yang mulai dingin. “Duduklah, kita terlihat seperti Gay yang sedang bertengkar, apa kau tidak malu?” ucap Arslan kembali, meletakkan cangkirnya kemeja.

“Brengsek! Kau itu tidak mengerti!” lalu Aga mengambil tasnya, pergi begitu saja meninggalkan Arslan yang malahan kembali membaca bukunya.

“Hn? Bodoh!” dengusnya tak peduli, memiringkan senyumannya meremehkan Aga.

—***—

Langit sore yang cerah kini mulai berwarna jingga, burung-burung juga berterbangan untuk kembali kesarangnya, para pekerja juga sudah menghentikan pekerjaannya untuk segera pulang bertemu dengan keluarga mereka.

Disana, diatap sebuah gedung yang sudah tua. Aga duduk tanpa alas dipermukaannya yang masih terasa hangat karena sinar matahari siang tadi. Rambutnya yang jabrik tampak bergerak-gerak oleh tiupan angin senja. Manik safirnya menatap sendu pada matahari yang mulai menghilang dibalik gedung-gedung yang lebih tinggi dari yang ia tempati sekarang. Pikirannya hanya penuh dengan Ruby, Ryuki, Ruby, Ryuki!

“Sudah kuduga kau pasti kesini,” sebuah suara yang sangat Aga kenal tiba-tiba terdengar, suara langkah kaki seseorang juga mulai mendekatinya.

Tanpa menoleh, Aga hanya memiringkan sudut bibirnya sinis ketika mendengarnya. Kemudian pemuda berambut raven itu duduk disampingnya, membiarkan tas hitamnya tergeletak begitu saja disamping tubuhnya.

“Aku tidak seperti melihat Aga yang biasanya didalam dirimu-” ucapnya sambil membetulkan duduknya dan menekuk kedua lututnya sama dengan Aga. “Kau terlihat lebih bodoh dari sebelumnya,” lanjutnya sinis.

Namun Aga masih tak bergeming, memilih tetap menatap matahari yang rupanya akan benar-benar tenggelam, tidak memperdulikan sahabat rambut pantat ayamnya itu.

“Hei! Aku mengajakmu bicara!” bentak Arslan tak sabaran, melirik tajam Aga.

“Sejak kapan kau jadi banyak bicara, Ha?! Arslan Dermawan?!” bentak Aga kembali ia masih sangat kesal. “Kalau kau hanya ingin mengejeku, lebih baik kau pergi dari sini!” usirnya serius. Kalau kedatangan Arslan hanya membuatnya bertambah kesal, lebih baik ia tidak bertemu Arslan sama sekali.

Arslan mendengus geli, “Hn! Kau bodoh, akui saja kau mencintai Ruby!”

“Tch! Aku tidak sedang memikirkanya!” jawab Aga tanpa berfikir.

“Lalu apa? Kau tidak punya bakat berbohong dasar bodoh!” ejek Arslan lagi. “Lagipula masalahmu itu tidak terlalu rumit, kau saja yang membuatnya terkesan rumit! Katakan kau mencintai Ruby dan bawa pulang, semua masalahmu akan selesai!” lanjutnya sedikit geregetan. Dia tau sahabatnya itu bodoh, tapi ia tidak menyangka Aga sebodoh itu. Masalah yang menurutnya tidak perlu dibuat rumit ini jadi makin rumit untuk Aga.

“Eh…. aku hanya sedang memikirkan Ryuki,”

“Ryuki dan Ibunya!” sedikit mendengus Arslan memindahkan atensinya, memandang matahari yang sudah mulai hilang, hanya meninggalkan semburat jingga dilangit. “Sebagai temanmu, aku hanya bisa menyarankan. Bawalah mereka pulang.”

“Kau tidak meng-”

“Kau takut pada Paman Henri, takut pada Gary?” Arslan memotong kalimat Aga, ia dapat menebak apa yang ada didalam kepala jabrik Aga.

“Kalau aku jadi kau, aku akan membawa anak dan istriku pulang bersamaku. Walau harus melawan harimau yang tak mungkin kukalahkan, karena sesungguhnya kebahagiaan itu harus diperjuangkan, apalagi ini menyangkut orang-orang yang aku yakin mampu membuatmu bahagia selamannya,” tutur Arslan mencoba menasehati Aga “Berapa kalipun kau jatuh cinta, kalau kau tidak berjuang untuk mendapatkannya kurasa kau tidak akan pernah berhasil sampai kapanpun.” Lanjutnya, membuat Aga menundukkan kepalanya.

Kalau difikir memang apa yang dikatakan Ayahnya dan Arslan ada benarnya, bagaimana dia bisa tau kalau Ruby akan menolaknya, sedangkan dia tak pernah mengutarakan perasaannya pada Ruby. Bagaimana dia bisa hidup dengan Ryuki sementara dia hanya terus diam dan tidak melakukan apa-apa, bagaimana dia bisa hidup dengan Ruby dan Ryuki kalau dirinya masih terus menahan perasaannya?

“Kurasa kalau masalah bersemangat kau ahlinya, kenapa kau sekarang jadi begini?” tanya Arslan lagi.

Aga menegakkan kepalanya, menolehkan kepalanya kekanan dan tersenyum 3 jari pada Arslan. “Iyaaa aku tau, kau cerewet sekali brengsek! Kurasa porsi bicaramu sekarang bertambah,” kekeh Aga sudah kembali seperti biasanya.

“Hn, aku baru saja mengajak Yuuka makan, dia banyak bicara dan sangat cerewet. Mungkin aku tertular itu darinya,” canda Arslan dengan senyum khasnya yang dingin.

“He?! Kalian kencan?” selidik Aga dengan wajah aneh berniat menggoda Arslan.

Wajah Arslan sedikit berubah, “Tidak! Aslan meninggalkanya dipinggir jalan. Aku mengantarnya pulang, lalu mengajaknya makan, membicarakanmu dengan Ruby tentu saja,” jawab Arslan mengingat wanita yang kini ternyata sudah putus dari kakak kandungnya sendiri.

“Eh? maksudmu?” Aga memiringkan kepalanya tidak mengerti

“Sudahlah kita bicarakan itu nanti saja!” sela Arslan yang tidak mau hubungannya dengan Yuuka diketahui lebih jelas, “Yang jelas Ryuki mencarimu sepanjang malam! Kau tidak mau kan membuat Ruby dan Ryuki malam ini tidak tidur lagi?” tambah Arslan mengalihkan perhatian Aga.

“Ryuki?”

“Jemputlah mereka,”

“Kau yakin Ruby mau?” wajah Aga tampak tak yakin.

Dengan senyumnya yang khas dan angin yang meniup rambut hitamnya, Arslan berkata, “percayalah, Ruby berharap kau menjemputnya.”

Wajah Aga-pun berubah, ia tersenyum yakin. “Kalau begitu, aku akan kesana playboy brengsek!” kekeh Aga berdiri dari duduknya.

“Baik, semoga berhasil bodoh!”

“Terima kasih!” cengir Aga, kemudian berlari meninggalkan Arslan yang tersenyum dengan gayanya yang dingin. Menuruni satu persatu anak tangga yang menghubungkan lantai satu gedung tua itu dengan atapnya.

Saat itu juga Aga mendapatkan kembali semangatnya, tekadnya sudah bulat untuk membawa keluarga kecilnya kembali kerumahnya. Tekadnya sudah bulat, menjemput pusat kebahagiaannya itu.

Aga membuka pintu jaguar hitamnya dengan terburu-buru, masuk kedalam mobil mewahnya dan membawanya melesat pergi.

Dari atas bangunan, Onyx tajam Arslan menatap laju mobil sahabatnya yang meninggalkan area gedung tua itu, tersenyum penuh harap pada Aga yang selalu dianggapnya bodoh. “Kali ini aku percaya padamu Aga!”

—***—

Tidak perlu waktu yang lama untuk Aga sampai dirumah mewah bercat putih dan ungu itu, dengan plat mobil yang sudah terdaftar dilist tamu penting keluarga Hanggoro, dengan mudahnya Aga mendapat ijin memasuki halaman rumah Ruby.

Setelah memarkir jaguar hitamnya, Aga turun. Kedatangannya disambut beberapa orang penjaga disana dengan penuh hormat.

“Selamat malam tuan muda Nugraha,” sambut pria setengah baya bertubuh tinggi.

“Selamat malam,” balas Aga sedikit grogi karena ini kali pertamanya ia datang kerumah ini.

Agak aneh memang bagi-nya, ini pertama kalinya ia datang ke rumah Hanggoro tetapi sepertinya orang-orang sudah mengenalnya semua.

Tetapi memang bukan salahnya kalau ia tidak tahu atau tidak ingat dengan orang-orang yang menyambutnya itu, yang ternyata mereka dahulu pernah hadir dalam acara pernikahan Aga dan Ruby.

“Ada yang bisa kami bantu Tuan muda?” tanya laki-laki yang diketahui bernama Romi itu.

“Eh..” Aga masih tampak bingung,

“Ingin bertemu Nona muda Ruby, atau Tuan Hanggoro?” lanjut Romi menyadari kebingungan Aga.

“Eh…e.. Aku ingin bertemu keduanya, tapi pertama aku ingin bertemu Pak Hanggoro,” jawab Aga yakin.

“Baiklah silahkan masuk Tuan muda Nugraha.” Romi mempersilahkan Aga masuk, dan Aga mengikuti dari belakang pria tinggi berkemeja putih dengan rompi hitam sebagai pakaiannya, dari penampilannya mungkin dia kepala pelayan.

Sesampainya didalam rumah, yang ia lihat adalah ruangan mewah yang bergaya eropa lengkap dengan furniture yang artistik, tak kalah dengan rumahnya yang juga mewah. “Silahkan duduk Tuan muda, saya akan memanggilkan Tuan besar Hanggoro,” pamit Romi sopan.

“Siapa yang datang?” belum sempat Romi memanggil Henri, ternyata Henri sedang berada diruang sebelah memberi makan ikan-ikannya.

‘DEGH!’

Tiba-tiba dada Aga berdegup mendengar suara baritone yang tegas dari ruang sebelah, tampak sekali aura hitam yang membuat Aga agak bergidik ngeri.

“Tuan muda Nugraha sedang berkunjung, Tuan besar Hanggoro,” jawab Romi merendah.

Henri memicingkan matanya mendengar nama Nugraha, lalu orang tua itu meletakan kotak makanan ikanya disamping Aquarium. Kemudian berjalan menuju ruang tamu disebelahnya dengan sedikit tergesa.

“Kau?-” gumam Henri, tatapannya menajam saat bertatap muka dengan Aga yang saat itu terlihat sedikit berantakan. Tapi bagi gadis-gadis seusianya itu terlihat sangat keren.

“Eh… Pak Hanggoro,” Aga sedikit grogi dengan tatapan Henri yang jelas terlihat tak suka padanya, tapi ia sudah bertekad bahwa ia berani menghadapi Ayah Ruby.

Henri mendekat dan berdiri tepat didepan Aga tanpa melembutkan tatapannya, “mau apa kau datang kemari? Ha?!” Tanya Henri melipat tangannya didada kemudian.

Romi yang melihat Tuan besarnya mengeluarkan aura terkutuk memilih berpamitan pergi, tidak ingin mengganggu. Sedangkan Aga susah payah menelan ludahnya ngeri membayangkan apa yang akan selanjutnya ia hadapi.

Namun Aga mencoba mengumpulkan keberanianya, demi Ruby dan demi Ryuki. “Aku ingin membawa Ruby dan Ryuki pulang,” jawab Aga yakin tanpa basa-basi.

“Hn!” Hanya jawaban itu yang terdengar dari mulut pria setengah baya yang tersenyum sinis meremehkan Aga.

“Aku ingin meminta maaf pada Ruby dan membawanya pulang kerumahku, aku membatalkan perceraianku dengannya!” lanjut Aga seakan rasa takutnya telah musnah, tapi jujur saja ia masih sedikit takut. Tak apa ia telah mengambil semua stok keberaniannya saat ini dan bisa saja ia kembali down nanti.

“Cih! Apa yang kau bicarakan bocah busuk?!” suara itu terdengar tiba-tiba dari arah pintu masuk, membuat Aga dan Henri menoleh. Ternyata Gary yang baru pulang entah darimana tengah berjalan kearah mereka, menatap buas Aga yang sedikit terkejut atas kedatangannya.

Baik, Aga sepertinya melupakan adanya Gary pada misinya kali ini, dan ia hanya menyiapkan amunisinya untuk menghadapi Henri, belum memasukkan Gary dalam perkiraannya. Apa boleh buat? Mau tak mau ia harus menghadapi Singa sekaligus Macan yang buas bersamaan.

“Memangnya kau siapa?! datang kerumahku, berniat mengambil Adik dan Keponakanku?!” bentak Gary marah. “Tidak sopan! Memalukan! tak kusangka Julian tidak becus mendidik anaknya menjadi anak yang santun!”

Kening Aga berkedut, tak suka Ayahnya disebut-sebut. “Jangan bawa-bawa Ayahku! Ayah dan Ibu mendidikku dengan sangat baik, jika semua hal yang aku timbulkan itu salah, itu semua memang salahku! bukan orang tuaku!” jawab Aga tegas membela ayahnya.

‘BUGH!’

ÔÇ£Ouugh!ÔÇØ

Satu tinju dilayangkan Gary tepat di perut Aga. Membuatnya meringis menahan perutnya yang nyeri, ini tidak ada dalam bayangannya kalau dirinya akan bertemu Gary. “Sudah lama aku ingin menghajarmu! bahkan membunuhmu setelah kau memperkosa Adikku!ÔÇØ kemudian Gary menarik kerah baju Aga, ia masih belum bisa melupakan sakit hatinya karena Aga memperkosa Adik kesayangannya. Kalau saja waktu itu Henri tidak mencegahnya untuk pergi menemui Aga, pasti pemuda yang kini terlihat pasrah padanya ini sudah dibunuhnya sejak lama. ÔÇ£Brengsek!ÔÇØ

ÔÇÿBRRAAAKKHH!ÔÇÖ

Satu tinju diwajah Aga berhasil membuatnya tersungkur jatuh dibawahkaki Henri, orang tua itu hanya menatapnya dingin tak berniat menolong. Tampak darah keluar dari hidung Aga dan langsung diusapnya. Sakit, ngilu dan perih mungkin tulang hidungnya patah akibat pukulan Gary itu. Belum sempat Aga bangun, Gary kembali menarik rambutnya, memutar wajah Aga kemudian menendang wajahnya lagi dengan lutut kuatnya.

ÔÇÿBRRAAAKK!ÔÇÖ

ÔÇ£Ouughh!ÔÇØ Aga memekik kesakitan, wajahnya terasa panas, mungkin juga mati rasa. Yah, pukulan kedua ditempat yang sama membuat kepala Aga benar-benar pusing sampai ia mau pingsan.

Aga berusaha bangun dengan susah payah, tapi kaki kanan bersepatu Gary menginjak bahu kirinya kuat-kuat, mendorongnya dan membuat pemuda berkepala jabrik itu terbaring sambil menatap tajam padanya. ÔÇ£Sebaiknya kau pulang! Lupakan rencana bodohmu untuk membawa Adikku bersamamu!ÔÇØ ucapnya menekan bahu Aga dan membuatnya kembali meringis kesakitan.

ÔÇ£Cih! Aku tidak akan pulang sebelum membawa mereka kembali padaku!ÔÇØ Aga menjawabnya dengan sangat yakin!

Aga tidak sadar, pernyataannya barusan itu malah membuat api didalam dada Gary seperti disiram minyak. ÔÇ£BRENGSEK!ÔÇØ

ÔÇÿBRAAAKKKH! BRRAKH! BRAAKH!ÔÇÖ

Tinju kuat Gary berkali-kali menghantam wajah dan perut Aga, ia sangat marah pada pemuda yang secara tidak langsung menantangnya itu. ÔÇ£Kau itu sampah! Kau tidak pantas menemui Ruby lagi!ÔÇØ

ÔÇÿBRAAKH!ÔÇÖ satu pukulan kembali mendarat dipelipis Aga.

ÔÇ£Kau sudah menghancurkan Adikku!ÔÇØ Sekarang kau datang ingin membawanya pulang?!ÔÇØ

‘BRAAAKH!’ Satu tinju lagi di pelipis kanannya dan membuat wajah Aga menoleh.

ÔÇ£Aku ingin minta maaf pada Ruby!ÔÇØ terang Aga sambil menyilangkan tangannya menghalau pukulan Gary pada wajahnya yang sudah babak belur. Ia tidak berniat melawan Gary, Aga sadar dirinya memang pantas diperlakukan seperti sekarang ini. Bahkan semua yang dilakukan Gary tidak mungkin tidak setimpal dengan perbuatannya dulu pada Ruby.

ÔÇ£Adikku tidak akan memaafkanmu!ÔÇØ

‘BRAAAKKH!’ Tendangan diperut Aga terasa mau mati, ia ingin menangis saja tapi tidak mungkin.

“Uhuk! ÔÇ£Pak Hanggoro, ak-aku mohon biarkan aku bertemu dengan Ruby!ÔÇØ pinta Aga disela-sela pukulan Gary pada perut dan wajahnya. Dan Henri hanya menatap tajam menantunya yang menjadi bulan-bulanan Gary.

ÔÇ£Kau bajingan! Hah… hah… hah…ÔÇØ Nafas Gary terasa berat setelah puas memukuli Aga yang sudah tak sanggup bergerak.

“Apa aku salah ingin meminta maaf dan memperbaiki semuanya? apa aku salah jika ingin membawa Istri dan anaku kembali bersamaku?” Aga berkata lirih sambil menahan sakit disekujur tubuhnya. Dia sudah memutuskan untuk tidak menyerah, sudah terlalu lama dirinya menjadi pecundang. Dan saat ini mati-pun dia tidak lagi takut.

“Jangan terlalu percaya diri aku katakan padamu Nugraha muda, Ruby tidak akan sudi kembali kerumahmu lagi!” timpal Henri membelakangi Aga dan Gary yang tengah terengah, sengaja ia menghindari tatapan memelas Aga.

“Setidaknya ijinkan aku bertemu dengannya, biarkan aku meminta maaf, dan mengutarakan perasaanku padanya,” jawab Aga tak menyerah.

“Perasaan macam apa ha?!” bentak Gary mengangkat tinjunya kearah Aga. Reflek Aga menyilangkan kedua tangannya lagi didepan wajahnya.

ÔÇ£Cukup Gary!ÔÇØ beruntung Henri menoleh dan menghentikan gerakkannya, meski membuat keponakannya itu mendecih kecewa.

Aga menurunkan tangannya perlahan dan membiarkan wajahnya terbuka. “Perasaan bahwa aku benar-benar mencintai Ruby, aku mencintai Ruby, aku ingin menjaga Ruby dan Ryuki, aku ingin membatalkan perceraianku.”

“Kau pikir putriku akan bahagia hanya dengan itu?! Kau tidak pantas untuk putriku!” decih Henri meremehkan Aga. “Pulanglah atau aku juga akan menghajarmu!”

Aga bersusah payah untuk duduk, sesekali meringis karena rasanya seluruh tulangnya telah patah. “Hhh… A-kan aku buktikan kalau aku pantas,ÔÇØ ucapnya, membuat Henri meliriknya, sedang Gary menatapnya dingin. ÔÇ£aku akan berikan semua untuk Ruby!”

“Cih! memangnya kau punya apa?!” pertanyaan Henri membuat Aga tersenyum getir.

“Hh, Aku memang belum punya apa-apa,” jawabnya sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah. “aku hanya punya rasa sayang yang terlalu besar untuk Ruby. Aku rela melakukan apapun untuk membahagiakan Ruby,”

“Hanya itu?”

“Aku juga berjanji akan bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhanya, mungkin tidak akan bisa sebanyak harta Ayahku. Tapi aku juga yakin, Putri anda tidak butuh harta yang berlimpah. Aku mohon, percayakan Ruby padaku. Aku akan menjaga Ruby, Aku janji tidak akan menyakitinya, menjatuhkan airmata kesedihan darinya setetespun! “Kumohon. Ijinkan aku bertemu anak dan istriku!” lanjutnya sambil bersusah payah berdiri, nada suaranya memelas. Mungkin ini adalah pertama kalinya Aga merendahkan dirinya pada orang lain.

Henri masih diam membelakangi Aga. Dia masih ingat semalam saat berniat melihat Ryuki dikamar Ruby, Henri mendapati Ruby tengah memeluk foto pernikahanya dengan Aga. Tersenyum dalam tidurnya. Henri baru melihat Ruby seperti itu, Putrinya telah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Tapi hatinya sedikit tak terima kenyataan, ia tak terima Putrinya telah jatuh cinta pada pria yang justru pernah memperkosanya.

Tapi Ruby putri satu-satunya yang ia miliki, tidak akan rela jika Ruby bersedih dan tidak bahagia. Maka dari itu Henri berniat mempercepat proses perceraian Ruby, dengan harapan Ruby akan bahagia jika ia dan Aga berpisah. Lalu Ruby akan terbebas dan bahagia setelah menikah lagi, dengan Putra rekannya yang jelas-jelas mencintai Ruby.

Tapi seingat Henri sejak kepulangannya dari kediaman Nugraha, Putrinya itu tampak menyembunyikan sesuatu. Henri tau itu bukan sesuatu yang membahagiakan, berbeda saat ia melihatnya tengah dalam pelukkan Aga waktu itu. Tapi apa iya kebahagiaan Ruby ada pada pemuda yang kini sudah berdiri dengan darah dikening dan beberapa memar diwajahnya.

Setelah beberapa lama ia berfikir kemudian ia sudah memutuskan, “baiklah! kau boleh menemuinya!” Henri tau keputusannya ini mungkin tidak sepenuhnya ia setujui sendiri, dia masih belum percaya pada Aga. Tapi apa salahnya membiarkan pemuda yang rela dihajar Gary itu menemui Putrinya, setidaknya saat ia dihajar Gary dia sama sekali tidak melawan ataupun gentar. Itu sedikit contoh kecil bahwa perkataannya serius, “tapi cepat pergi jika Ruby menolakmu!” lanjutnya kemudian.

ÔÇ£Tapi Paman!ÔÇØ Gary tampak tidak setuju, tentu saja ia tidak setuju kalau Adikknya bertemu dengan Aga.

ÔÇ£Gary! biarkan saja!ÔÇØ Gary melunak, apa boleh buat? Gary tidak mungkin menolak keputusan Pamannya. Menurutnya kebahagiaan Ruby adalah segalanya, lagipula Aga anak dari Julian dan Lisna, orang-orang yang sudah sangat ia kenal. Kalau terjadi apa-apa pada Ruby, mereka berdua yang akan dimintainya bertanggung jawab.

“B-benarkah Pak Hanggoro?” wajah Aga berbinar sekaligus tak percaya.

“Aku tidak akan mengulangi pernyataanku! Kamar Ruby ada diatas!” jawabnya seperti biasa, dengan wajah antagonisnya. Sangat bertolak belakang dengan Ruby yang lemah lembut dan baik hati.

“B-baiklah…. terima kasih Pak Hanggoro,” ucap Aga tersenyum lebar dan langsung melesat pergi kekamar Ruby tanpa nanti-nanti, yah sebelum Ayah mertuanya itu berubah fikiran.

ÔÇ£Hei! Hei tunggu bocah brengsek!ÔÇØ Cegah Gary ingin menahan Aga yang berlari menaiki tangga untuk mencari kamar Ruby.

ÔÇ£Gary hentikan!”

“Ta-tapi Paman,”

“Sebaiknya kau cepat cari Istri!ÔÇØ Suara tegas Henri itu membuat Gary seketika mematung, perkataan Pamannya itu terasa menusuk jantungnya.

ÔÇ£A-eeh… Tapi Pa-paman?!ÔÇØ tentu saja selama ini dirinya memang tidak peduli soal menikah, bahkan banyak wanita yang menyukainya ia tolak semua.

“Tinggalkan pacar pria-mu itu dan menikahlah dengan seorang wanita! Aku juga ingin cucu darimu! Berhenti bersikap keras pada Adikmu!” kalimat tambahan dari Pamannya itu sukses membuatnya membatu dan berkeringat dingin. Wajah Gary menegang sambil menatap punggung Pamannya yang semakin jauh meninggalkannya. Yah penyimpangan seksualnya akhirnya diketehui oleh Henri.

—***—

Dada Aga berdegup semakin keras saat tiba didepan pintu kamar Ruby, ada rasa bahagia sekaligus gugup. Dibalik pintu itu ada orang yang sangat dicintainya.

Tangannya terulur memegang knop pintu yang terbuat dari besi itu, dengan ragu ia memutarnya.

‘Cklek’

Tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, Aga membuka pintu kamar Ruby lebar-lebar. Disana ada Ruby yang sedang bermain dengan Ryuki ditempat tidurnya, spontan Ruby menoleh.

‘DEGH’

Jantung keduanya serasa berhenti berdetak, Safir yang indah bertemu kembali dengan Emerald yang lembut, berbeda dengan kedua Emerald milik dua orang dibawah sana, orang-orang yang hampir saja membunuhnya.

Ruby langsung berdiri tak percaya, wajahnya tampak menegang dan membuka mulutnya sedikit. Ia pastikan bahwa sesosok pria dengan darah dipelipis kanan dan memar diwajahnya itu adalah Aga, bukan halusinasinya. Sedetik kemudian Ruby langsung berlari kearahnya.

‘Brukh’ Ia langsung memeluk tubuh Aga, membuat pemuda itu meringis menahan tubuhnya yang ngilu, “Hiks… Aga…” kemudian Ruby terisak didalam pelukannya. Hati wanita yang pernah dinodainya itu terasa sakit melihat pemuda yang dicintainya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.

“Ruu…” Aga membalas, mendekap tubuh mungil Ruby dengan lembut.

“Hiks… kau kenapa? Kenapa ada darah?” Isak Ruby khawatir. Ruby melepaskan pelukannya dan menatap Aga. “Kau terluka dan berdarah!” Ya, Aga hampir lupa kalau dirinya belum sempat membersihkan luka-lukanya.

“Hehe…. ini bukan apa-apa, yang penting aku bisa menemuimu,” cengir Aga berusaha menenangkan Ruby.

“Pasti Ayah?! Atau kak Gary?!” tebak Ruby, dia sangat hafal sifat kedua orang yang disayanginya itu. Ruby tau mereka bukan tipe orang yang sabaran. “Apa yang mereka lakukan padamu?” isak Ruby tak berhenti. Semantara Aga menahan tubuh Ruby “Biarkan aku membersihkan luka-lukamu,” Ruby melepaskan pelukkannya, kemudian tampak kebingungan karena gugup sekaligus menghawatirkan Aga. “Dokter, aku akan panggilkan dokter!”

ÔÇ£Ruu sudah, aku tidak apa-apa,ÔÇØ

ÔÇ£Tidak! Aku akan memanggil Dokter. Tunggu sebentar,ÔÇØ

“Ruu….” Aga menarik langan Ruby, mencegahnya pergi dan mendekap kembali tubuh Ruby. ÔÇ£Jangan pergi, jangan pergi walau hanya sebentar. Aku hanya ingin memelukmu,ÔÇØ lanjut Aga memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma kiwi yang wangi dari rambut Ruby.

ÔÇ£Tapi kau terluka….ÔÇØ jawab Ruby lirih tanpa berniat melepaskan pelukan Aga yang terkesan posesif.

ÔÇ£Lukaku sudah sembuh hanya dengan memelukmu,ÔÇØ Itu bukan sekedar kata manis untuk membuat Ruby senang, nyatanya Aga tidak butuh menyembuhkan lukanya. Bertemu dengan Ruby dan memelukknya sudah mampu melupakan rasa perih disekujur tubuhnya. Ya Ruby, Ruby adalah obatnya.

“Tapi Aga….”

Aga melepaskan pelukkannya, lalu menangkup wajah Ruby, menatap wajahnya lembut dan menghapus air mata yang Ruby teteskan. “Tidak usah dibahas lagi, aku senang bisa menemuimu,” Sekali lagi, Aga membawa Ruby kedalam pelukannya. Keduanya berpelukan erat, tidak ada niatan untuk melepaskannya lagi.

“Aga…” lirih Ruby memejamkan matanya didada Aga, merasakan hangatnya Aga, mendengarkan detak jantungnya, menghirup aroma khasnya. Ia sangat merindukan sosok ini. Walau hanya satu hari, rasa rindunya bagai seribu tahun. Mungkin terdengar berlebihan, tapi Ruby sudah terlanjur jatuh kedalam pesona pemuda itu, tidak peduli jika dirinya dianggap berlebihan.

“Au…uuuh! aaii…ouu!” Suara Ryuki yang terkesan minta diperhatikan terpaksa membuat kedua orang tuanya yang sedang melepas rindu membuka mata, dan dengan perlahan melepaskan pelukan itu, dan menoleh kearah Ryuki.

“Ryuki?” Gumam Aga pelan, ia hampir lupa pada makhluk kecil menggemaskan itu. Ya, bahkan pesona Ruby mampu membuat Aga melupakan sejenak Putranya. Aga tersenyum, tak sabar ingin menciumi sesosok kecil yang tengah melihat kearah mereka sambil menendang-nendangkan kakinya keatas, Ryuki tampak sangat girang dengan bibir yang terbuka lebar.

“Eh, aku akan aku ambilkan obat,” Pamit Ruby kemudian saat Aga mendekati Ryuki dan dijawab dengan anggukan Aga.

Kemudian Aga duduk ditepian ranjang, menyentuh pipi gembil Ryuki yang membuat siapapun ingin mencubitnya. “Ryuki sayang, rubah kecilku yang manis….”

“Aooh…! Aaaaiih…aaii!” balas Ryuki melebarkan tawanya menatap Aga. Meski ia masih bayi, dari sorot matanya jelas sekali ia sangat bahagia dengan hadirnya Aga.

“Sayang…” Aga-pun menatap Ryuki penuh kasih, mengangkatnya dari tempat tidur lalu mencium mulut mungil Ryuki yang terbuka karena menguap, kemudian memangkunya. “Pangeran kecil Ayah, kau mengantuk ya?” cengir Aga menggoda Ryuki, lalu mendekap Ryuki dan mencium pipinya berkali-kali. Ia sangat merindukan bayi kecilnya, merindukan aroma lembut Putranya. “Ayah merindukanmu Ryuki, sangat rindu, kau juga rindu Ayah kan?”

Tak lama kemudian, Ruby kembali. Ia datang membawa kotak obat dan berjalan mendekati Aga, tersenyum bahagia melihat keduanya saling melepas rindu. “Biar aku bersihkan luka-lukamu dulu,” katanya kemudian.

“Eh? i-iya, baiklah,” lalu dengan berat hati Aga kembali membaringkan Ryuki ditempat tidur, ÔÇ£Nanti kita main lagi ya sayang?ÔÇØ

Kemudian Ruby duduk disamping Aga, meletakkan kotak obatnya, mengambil Alkohol dan kapas untuk membersihkan luka-luka diwajah tampan suaminya itu. Setelah menuangkan Alkohol pada kapasnya, lalu dengan lembut Ruby mengusapkannya pada pelipis Aga.

“Sshh..aaa..” Aga meringis perih saat cairan dingin itu mengenai lukanya.

“Sakit? Apa aku terlalu kuat menekannya?” tanya Ruby penuh kekhawatiran. Aga hanya menggeleng dengan senyum tak lepas dari pandangannya pada Ruby.

“Tidak, jika kau yang merawatku,” cengir Aga, membuat Ruby salah tingkah.

“Kau ini, kau kan sedang terluka. Kenapa masih saja merayuku.” Ruby menggembungkan pipinya pura-pura sebal.

“Hehe… aku serius,” kekehnya iseng.

“Menyebalkan!”

“Aaaauhh!” pekik Aga saat dengan sengaja Ruby menekan luka dipelipisnya.

“Hahaha… maaf-maaf….” cengir Ruby merasa bersalah kemudian.

“Kau ini ya, tidak tulus menyembuhkanku,” balas Aga pura-pura marah.

“Ah begitu saja marah,ÔÇØ timpal Ruby kemudian. “Umm… apa ada yang luka dibalik bajumu?” Ruby bertanya lagi.

“Mungkin,” jawabnya ragu. Sebenarnya ia merasa bahu, perut dan bagian dadanya perih. Gary hampir meremukkan seluruh bagian tubuhnya, tapi ia tidak mau membuat Ruby bertambah khawatir.

“Boleh aku membuka bajumu?” seketika dada Aga berdetak lebih keras lagi, entah kenapa pertanyaan Ruby yang wajar itu diterjemahkan otaknya menjadi hal yang mesum, membuatnya berfikir agak macam-macam. Tapi seketika ia buang jauh-jauh pikiran mesumnya.

“Eh tidak! tidak usah, tidak ada luka didalam sini,” jawab Aga bohong.

“Syukurlah,” wajahnya Ruby lega. “Jadi, bisa kau ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Ruby kemudian, ia sangat penasaran.

“Aaauuh! Oouh!”

“Bisakah kita tidak usah membahasnya sekarang? Aku sangat merindukan Ryuki.” Jawab Aga nyengir, kemudian menarik Ryuki dalam pangkuannya lagi. Ruby menghela nafasnya dalam-dalam.

Ryuki juga terlihat senang dengan kedatangan Aga, diraih-raihnya wajah Ayahnya itu dengan kedua tangan mungilnya. Dan tertawa bergelak saat Aga menggodanya dengan pura-pura menggigit jemari kecilnya. “Hahahaha… kau merindukanku ya?ÔÇØ

Ruby tampak tersenyum saat Ryuki tertawa terbahak-bahak ketika Aga membuat gerakan yang sama untuk menggoda Ryuki.

Tapi entah kenapa tiba-tiba Ruby merasa khawatir, melihat anak dan Ayah itu semakin dekat satu sama lain. Senyumnya perlahan sirna, Ruby masih ingat betul perdebatan mereka kemarin saat Ruby akan meninggalkan kediaman Nugraha, Aga bersikeras mengambil Ryuki darinya. Bisa jadi kedatangannya kesini hanya untuk merebut Ryuki darinya.

Wajah Ruby berubah, menatap tak suka pada Aga yang masih sibuk menggoda Ryuki. “Aga! kemarikan Ryuki!” tiba-tiba ia merebut paksa Ryuki dari Aga. Sedangkan Aga hanya melongo dengan wajah heran menatap Ruby. Istrinya itu cepat sekali berubah moodnya

“Kenapa tiba-tiba kau kemari!?” Tanya Ruby meninggikan suaranya.

“Eh, Ruu..” Aga membuka mulutnya mencoba menjelaskan.

“Jangan bilang kau akan membawa Ryuki pulang!” Bentak Ruby penuh tuduhan.

Kemudian Aga berdiri dari duduknya mencoba mendekati Ruby yang menatapnya tajam, bagai singa betina yang sedang melindungi Anaknya dari pemangsa lain. “Hei Ruu, tenanglah!” bujuk Aga.

“Tidak! jangan mendekat!” Ruby mundur, memeluk Ryuki sekuat yang ia bisa tapi masih tau batas aman agar Ryuki tidak kenapa-napa.

Aga memiringkan kepalanya, menatap Ruby masih dengan tatapan tak mengerti. Tapi kemudian Aga ingat perdebatannya kemarin dengan Ruby, ya tentu saja Ruby khawatir dirinya akan merebut Ryuki. “Ruby, memangnya kenapa kalau aku ingin membawa pergi Ryuki dari sini?” tanya Aga, sengaja membuat Ruby makin panik.

“T-tidak akan aku biarkan! Ryuki putraku! dia akan terus bersamaku! aku akan membesarkanya!”

“Ya memang benar aku kesini untuk membawa Ryuki pulang,” jawaban Aga itu tentu saja membuat hati Ruby semakin meradang, wajahnya memerah menahan marah. “Tapi bagaimana kalau ternyata aku kesini selain ingin membawa Ryuki, aku juga ingin membawa serta Ibu-nya?” timpal Aga menyeringai yakin.

“M-maksudmu?” tatap Ruby tak paham.

“Ayolah, aku ingin bicara sebentar denganmu,” Aga mengulurkan tangannya berniat menggenggam tangan Ruby.

“Jangan macam-macam!” tolak Ruby masih khawatir.

“Tidak akan,” jawab Aga. Kemudian tatapan Ruby melembut, jujur saja dia juga penasaran dengan apa yang ingin Aga bicarakan dengannya.

—***—

“Jadi apa? kenapa kau tiba-tiba datang kemari?” Ruby membuka suara sembari melirik Aga, setelah beberapa menit yang lalu ia dan Aga hanya duduk berdampingan dikursi panjang balkon kamarnya. Tapi Aga tak menjawab, ia masih senang berduaan dengan Ruby dalam diam. Sesekali angin malam berhembus menerpa kulit mereka, membuat bulu meremang karena cuaca yang lumayan dingin. Sambil menatap lurus langit disebrang sana, langit malam yang kerlap-kerlip berhias bintang. Langit memang cerah malam itu, tidak seperti kemarin.

Aga merapatkan dirinya dengan Ruby, membuat pundak dan jari kelingking mereka yang berada dikursi bersentuhan, perlahan Aga menggenggam punggung tangan Ruby. Istrinya itu melirik Aga, sedikit terkejut dengan hal itu, tetapi ia juga tidak menolak menarik tanganya.

Jantung keduanya berdetak keras karena sentuhan itu. “Ruu…” sebut Aga lirih. Kemudian Aga mencoba menoleh kekiri menatap wajah Ruby yang manis.

“Apa?” kemudian ia membalas tatapan Aga dan membuat wajah keduanya bertatapan.

Mata itu, Aga sangat suka mata itu. Mata yang kadang terlihat sendu sekaligus bercahaya, mata itu telah membuatnya jatuh cinta pada pemiliknya, mata yang selalu membuat dadanya berdebar saat menatapnya. “Aku…aku-ÔÇ£ kalimatnya terputus, bisakah seandanya ia tidak usah mengatakannya tanpa menatap emerald itu? Tapi alangkah tak etis jika ia meminta maaf tanpa menatap wajah seseorang yang telah dilukainya.

Tapi nyatanya sang wanita juga tak jauh beda dengannya, hanya dengan menatap safir itu dia sudah dibuatnya membeku dengan jantung yang berdetak kencang. Rasanya ia seperti patung yang memiliki jantung.

ÔÇ£Ruu… aku. Maaf,ÔÇØ setelah ia mengumpulkan seluruh stok keberaniannya, akhirnya kalimat pertama berhasil ia utarakan. ÔÇ£Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu,” Aga semakin erat menggenggam tangan lembut Ruby, sedangkan wanita didepannya itu melebarkan irisnya tak menyangka. “Maaf sudah menghancurkan masa depanmu, maaf sudah membuat keluargamu malu, maaf sudah menjadikanmu korban keegoisanku.”

“Aga…?” wajahnya melembut, tatapannya melembut.

“Aku datang kemari hanya untuk meminta maaf padamu. Aku tau, aku bersalah padamu, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kau dan Ryuki hidup bersamaku. Karena aku mencintaimu Ruby!”

Ruby melebarkan matanya, pernyataan cinta Aga itu sesuatu yang sangat diharapkan sekaligus mengejutkan baginya. “A-Aga… tapi, tapi…”

“Ruu…” Aga menarik tangan kanan Ruby lalu mengenggam kedua tangan Ruby. “Kau mau kan tetap menjadi istriku?” tanya Aga lagi, sambil menatap Ruby penuh harap, tanpa memberikan kesempatan pada Ruby untuk berbicara.

Ruby menundukan wajahnya, tak kuasa menatap sorot mata yang bisa saja melelehkan hatinya. Jujur saja Ruby sangat bahagia mendengarnya, sudah sejak lama kata itu yang ingin ia dengar dari bibir Aga. Tapi bagaimana dengan Ayahnya yang jelas-jelas ingin segera memisahkannya dengan Aga.

“Tidak apa-apa Ruu, tidak apa-apa kalau kau menolakku. Setidaknya aku sudah menyampaikan semua perasaanku dengan tulus padamu. Aku tau wanita sepertimu tak mungkin mau hidup dengan lelaki brengsek sepertiku kan?” tambah Aga tampak putus asa. Ruby terdiam, manik indahnya mulai berkaca-kaca. Tidak, Ruby tidak lagi menganggapnya seperti itu, bahkan dia sangat ingin hidup dengannya. Tapi Ayahnya sudah menyiapkan calon pengganti Aga.

Aga melepaskan genggaman tangannya pada Ruby, dia tau Ruby pasti akan lebih memilih Ayahnya. Dia tau Ruby bukan tipe anak yang berani membantah orang tuanya, kalau saja Ruby bisa menolak, pasti dia sudah menolak saat dinikahkan dengan Aga yang jelas-jelas telah memperkosanya.

“Aku senang bisa bertemu denganmu, aku berterima kasih kau telah melahirkan Ryuki,” Ruby masih diam. Bahunya bergetar menahan tangisannya.

“Kalau begitu aku pamit pulang, aku sudah lega,” Kemudian Aga berdiri, kakinya ia langkahkan berniat masuk kedalam kamar Ruby lalu pulang, meski Ruby menolaknya tapi Aga merasa lega. Perasaannya tersampaikan meski tidak dengan harapannya.

Sedangkan Ruby masih menunduk, menegakkan kepalanya kemudian saat Aga melewatinya, ia tidak rela kalau Aga pergi. Ia sendiri juga sangat menginginkan pemuda yang telah menghamilinya itu, “Aga!” Lalu Ruby berdiri, dan seketika Aga menghentikan langkah kakinya. ÔÇ£Tunggu!ÔÇØ lanjutnya.

‘Brukh’ ia menghamburkan pelukannya, tangannya melingkar ditubuh Aga. “Jangan pergi!ÔÇØ isaknya kemudian dipunggung Aga. ÔÇ£ Aku mencintaimu, hiks…aku sangat mencintaimu Aga! hiks…jangan pergi! Aku sudah memaafkanmu! bahkan dari dulu aku sudah memaafkanmu!” tangisnya tak terbendung, ia memeluk erat tubuh Aga seakan tak sudi untuk melepaskannya walau hanya sebentar saja. Lupakan soal Ayahnya yang pasti tidak akan mengijinkannya mencintai Aga, Ruby tidak peduli! Dia akan tetap memaksa untuk terus bersama Aga.

Aga tersenyum, lalu memutar tubuhnya menghadap Ruby dan memegang kedua bahu Ruby. “Hehehe… jangan menangis, aku kan hanya pura-pura pergi,” Aga nyengir menang, sedangkan Ruby melebarkan matanya tak mengerti. “Aku tau kau akan mencegahku pergi, kalau kau menolak sekali pun, aku sudah siap menggendongmu paksa, hahahaha!” kekehnya iseng.

“Hiks…hiks…hiks…kau jahat! Bodoh! Bodoh!” Ruby terisak sambil memukul-mukul dada Aga, dia senang sekaligus sebal pada Aga yang tengah mempermainkannya.

ÔÇ£Hahahaha! Kau lucu sekali, lihat wajahmu. Hahahah!ÔÇØ tawa Aga tak berhenti, meski Ruby terus memukulnya dan mencubit perutnya. Sayangnya hal itu yang harusnya membuat luka memarnya sakit, seperti tak terasa sama sekali, tindakkan manja Ruby itu hanya membuat Aga semakin gemas padanya.

ÔÇ£Bodooh! Kau mempermainkanku…huhuhu…ÔÇØ Ruby masih menangis bercampur tawa-nya. Aga memang menyebalkan! Bodoh dan menyebalkan! menyebalkan!

ÔÇ£Hehehe… sudah… sudaaah…ÔÇØ Aga melembut, ia tarik tubuh Ruby dan memeluknya hangat. Samar-samar ia melihat basahan dipipi dan mata Ruby. “Kau menangis untuku?” bisiknya. Membelai rambut lurus Ruby yang harum. Menghirup aromanya dalam-dalam, menenangkan hatinya.

Kemudian Aga melepaskan pelukannya, ia tatap wajah Ruby yang basah karena air matanya. ÔÇ£Sudah ya, jangan menangis lagi,ÔÇØ menakup wajah Ruby dengan kedua telapak tangan besarnya. Ia tatap mata indah Ruby. “Kau sudah terlalu banyak menangis karenaku, aku akan menghapusnya,” kedua ibu jarinya mengusap basahan dipipi Ruby. “Aku akan menggantinya dengan kebahagiaan, aku janji padamu Ruu.” Kemudian Aga mendekatkan wajahnya. Mencium dengan lembut kedua kelopak mata Ruby bergantian, kemudian merengkuh kembali tubuh Ruby kepelukannya. “Aku mencintaimu Ruby, sangat mencintaimu,” Bisiknya lembut.

“Aku juga mencintaimu Aga,” Balas Ruby. “Tapi Ayah?” suaranya tercekat.

“Ayahmu bilang, kalau kau menolakku aku harus pergi. Tapi kalau kau menerimaku lagi, aku boleh membawamu pulang bersamaku. Nyatanya kau tidak menolakku kan? itu artinya Ayahmu tidak boleh menarik lagi kata-katanya, aku yakin Ayahmu merestui kita,”

Sekali lagi Ruby melebarkan matanya tak percaya. “Benarkah?”

“Tentu saja, kalau tidak setuju pasti dia sudah membunuhku sedari tadi kan, dan pastinya tidak akan membiarkan aku menemuimu?” benar juga, kalau Ayahnya tidak menyetujui Aga menemuinya, Henri pasti sudah menghentikan Aga bagaimanapun caranya. “Ayahmu sepertinya hanya mengetesku dengan sikapnya, tapi pada akhirnya aku tau. Ayahmu tidak sekeras itu,” lanjut Aga. Memeluk Ruby penuh kasih.

“Hu…hum…” balas Ruby tersenyum bahagia.

Aga memutuskan untuk menginap dirumah Ruby, karena sudah terlalu malam Henri melarang mereka pulang dikediaman Nugraha. Ya, Henri telah merestui hubungan mereka, membiarkan Aga membawa pulang Ruby dan Ryuki. Ia sadar putrinya akan jauh lebih bahagia jika bersama Aga.

Dikamarnya, Ruby yang memakai piyama panjang tengah membungkukan badannya mengganti diapers Ryuki dibox tidurnya. Putra kesayangannya itu tampak nyaman tidur dibawah hangat selimut kecilnya.

“Ryuki sudah tidur ya?” Tanya Aga tiba-tiba muncul dari kamar mandi.

“Eh…” Ruby menoleh dan pipinya memerah seketika karena Aga hanya memakai handuk putih sebatas pinggangnya, dengan rambut basah dan membiarkan dada bidang penuh luka memar terbuka.

Lama Ruby terdiam menatap sosok Aga yang sedang menggosok rambut basahnya dengan handuk kecil. Ia menelan ludahnya susah payah mengagumi bentuk tubuh Aga yang sexy, bahkan tak berkedip. Memang perutnya tidak sixpacks atau apalah itu namanya, tapi itu cukup sexy bagi Ruby.

“Hei Ruu??” tegur Aga melihat Ruby tengah menatapnya tanpa berkedip, tapi Ruby tak mendengarnya sibuk tertegun. Menyadari Ruby tengah menatapnya seperti itu, Aga menyeringai iseng, dia tau Ruby tengah mengagumi badannya. Ya pesonanya memang kadang bisa membuat para gadis lupa diri, meski itu hanya terkadang, ia masih kalah dengan Arslan yang senantiasa membuat para gadis menjerit saat melihatnya.

Kemudian ia berjalan kearah Ruby, mendekatkan wajahnya ditelinga Ruby dan berbisik. “Bernafas Ruu…” Aga menyeringai, sengaja ia buat suaranya sesexy mungkin untuk menggoda Ruby.

Ruby mengerjapkan matanya beberapa kali, ia tersadar. “Eh! a-a-eh….” wajahnya memerah “Tidak Aga! Tidak!” jawab Ruby kaget, lalu refleks ia membalik badannya berpura-pura kembali menata selimut Ryuki yang sudah rapi, sambil menyembunyikan rona wajahnya.

Aga terkekeh pelan melihat Ruby salah tingkah seperti itu. “Aku kan sedang bertanya padamu, apa Ryuki sudah tidur? Dan kau hanya diam,” Aga mengulangi pertanyaanya.

“Eh… s-sudah.” Ruby masih gelagapan.

“Kau kenapa sih?” tatap Aga pada punggung Ruby kebingungan.

Ruby kembali menoleh, “Eh aku… aku… aku akan mengambilkan baju Kak Gary untuk gantimu,” kembali salah tingkah karena Aga mendekatinya.

“Hn, baiklah,” jawab Aga tidak mau memaksa Ruby. Kemudian membiarkan Ruby keluar dari kamarnya.

—***—

Aga tengah duduk dipinggiran tempat tidur Ruby, sambil terus menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, menunggu Ruby membawakan baju ganti untuknya.

Tidak lama kemudian Ruby datang membawa lipatan piyama berwarna abu-abu ditanganya. “Kurasa ini cukup untukmu,” Ruby mendekat dan menyodorkan baju itu pada Aga.

“Rambutku masih basah, aku akan memakainya nanti,” jawab Aga tanpa melirik Ruby.

Ruby tersenyum melihat Aga. “Biar aku yang mengeringkanya,” kemudian ia meletakkan baju yang dibawanya ditempat tidur, lalu berdiri didepan Aga dan langsung menggantikan Aga mengeringkan rambut jabriknya. Dengan lembut Ruby menggosok rambutAga untuk mengeringkannya.

Aga sedikit mendongak, senyum-senyum iseng sambil menatap wajah istrinya yang cantik. Kali ini ia benar-benar bersyukur, merasa paling beruntung punya Istri seperti Ruby. Cantik, lembut, sedikit galak, emh tunggu! dia galak juga baru-baru ini, itu juga karena dirinya.

“A-apa?!” tegur Ruby sok galak menyadari Aga tengah tersenyum mesum padanya.

Tanpa menjawab Aga menarik pinggang Ruby untuk dipeluknya. “Aku rindu padamu Ruu….” bisiknya pelan, membenamkan hidungnya didada besar Ruby yang berlapis piyama putih.

“Eh!” Ruby sedikit terkejut, tapi kemudian ia tersenyum malu-malu menatap mata biru Aga. Jujur saja ia juga merindukan pemuda yang tengah menatapnya penuh arti itu. Perlahan Ruby-pun mendekap kepala jabrik Aga dengan lembut, membiarkan kepala Aga tidur didadanya yang empuk, Ruby juga menghirup aroma bubblegum dari shampo miliknya yang dipakai Aga.

Kemudian Aga menarik Ruby untuk duduk disampingnya, tanpa menunggu lebih lama lagi ia langsung mencium bibir tipis Ruby dengan lembut.

“Mmmmmmccchh….mmmhh…”

Keduanya memejamkan mata, menikmati lembut dan hangat bibir keduanya. Saling mengecup berkali-kali, sengaja ingin berlama-lama melepas perasaan yang selama ini mereka simpan.

Mereka masih asik mengecup gemas bibir pasangannya, lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi jilatan lembut. Dengan lembut pula Aga menjilati bibir bawah Ruby, menggigitnya pelan sambil sesekali dihisap.

Tangan Ruby bergerak, melingkar memeluk leher kokoh Aga, tanpa melepas ciumannya, Ruby menariknya hingga Aga terbaring diatas tubuhnya yang kini sudah terbaring ditempat tidur, membiarkan kakinya terjuntai dilantai. Sepertinya Ruby tengah berusaha memancing kekasihnya itu untuk menyentuhnya lebih.

Aga melepaskan ciumanya, karena stok nafas diparu-parunya menipis. Ia butuh menghirup banyak-banyak oksigen untuk kegiatan selanjutnya, kesempatan itu ia gunakan untuk menatap wajah Ruby yang memerah, matanya menatap Aga sayu. Tatapan yang seolah sedang menantangnya untuk melakukan lebih dari sekedar ciuman manis.

“Apa tatapanmu itu berarti kau sedang menantangku, Nona muda Nugraha?” Bisik Aga menyeringai buas. Sedangkan Ruby hanya tersenyum manis meracuni suaminya yang diam-diam gairahnya telah terbakar karena ditatap seperti itu. “Kalau begitu aku terima tantanganmu,” ucapnya kemudian, melebarkan paha Ruby dengan lututnya, menggigit pelan telinga kanan Ruby dan langsung membuat wanita bersurai legam itu memejamkan matanya, mendesis kegelian.

ÔÇ£Aah… Aga…ÔÇØ

Lidah basahnya menggelitik telinga teling Ruby, tangannya bergerak menyentuh semua bagian tubuh Ruby. Lengan, perut, paha, seakan menegasnkan tubuh berisi yang tergeletak pasrah dibawahnya itu adalah miliknya.

Aga menggeser bibirnya dari telinga menyusuri rahang manis Ruby, mengecupinya sampai keleher putih dengan kissmark darinya yang belum hilang kemarin. Aga menyeringai melihat tanda kepemilikannya itu masih terlihat jelas disana, ia tersenyum kemudian membenamkan hidungnya lagi dileher dengan aroma lavender Ruby, berniat membuat tanda lebih banyak disana, bahkan disekujur tubuh wanita yang telah menaklukan hatinya itu.

Lidah Aga menjulur, ia sapukan pelan dipermukaan kulit leher Ruby yang halus. Tangannya tak tinggal diam mulai meremas gemas dada kiri Istrinya yang masih terbungkus piyama. Namun itu tak mengurangi rasa geli yang membuat Ruby kembali mendesis keenakan.

“Mmmhh… Agaaah,” desisnya mendongak keatas, saat leher depannya dijilat dan dihisap Aga dengan gemas. Bahkan bunyi kecupan yang ditimbulkannya menambah suasana erotis yang mereka ciptakan. Tangan kanan Aga yang sudah bosan meremas dada Ruby dari luar bergerak, melepas satu persatu kancing kemeja Ruby dan membuat dada besarnya menyembul dari Bra hitam dengan bordir mawar berwarna emas dipermukaannya.

Pipi Ruby memanas saat tangan Aga menarik Branya keatas dan membuat dada besarnya terbuka tanpa penghalang, meski ini untuk yang ketiga kalinya dia bertelanjang dada didepan Aga tetap saja Ruby merasa malu. Untuk sesaat Aga menghentikan hisapannya pada leher Ruby, ia menjauhkan kepalanya hanya untuk melihat ekspresi Ruby yang membuatnya semakin bernafsu.

Dada, wajah, dada, wajah. Berulang kali Aga menatapnya bergantian sambil meremas dada kiri Ruby yang terbuka, paduan keduanya adalah kesatuan yang sangat sempurna. Dada yang indah dengan puting kemerahan, wajah putih yang memerah dengan sorot mata menyipit. Aga menelan ludahnya, gemas, Aga sangat gemas pada Istrinya itu. Bahkan ia bingung harus mulai darimana, dia ingin menyentuh semua yang ada pada tubuh Ruby secara bersamaan, tapi ia hanya punya dua tangan.

ÔÇ£Jangan menatapku seperti itu, aku malu,ÔÇØ protes Ruby dengan nada pelan namun terdengar sexy.

ÔÇ£Eh,ÔÇØ Aga tersadar. Ia rasakan miliknya dibawah sana telah menegang keras hanya dengan memandangi tubuh Ruby yang setengah telanjang. Lalu ia kembali bergerak, menyeringai mesum melepaskan handuknya, membuatnya telanjang seutuhnya.

Ruby menutup wajahnya malu, sekilas matanya menangkap kejantanan suaminya tengah menegang. Tangan Aga kembali memijat payudara Ruby, membuat pemiliknya kembali mendesah menahan geli. ÔÇ£Uuuhh… Agaaa…ÔÇØ

ÔÇ£Hn? Kau suka?ÔÇØ bisiknya dibuat sesexy mungkin. Tanpa menunggu jawaban Ruby, Aga menarik tangan Ruby yang menutupi wajahnya, Aga ingin Ruby melihatnya beraksi memanjakan dirinya.

Tak sabaran, Aga mendekatkan kepalanya didada besar Ruby, membuka mulutnya lebar-lebar berniat mencaplok sebanyak-banyaknya daging segar yang tersedia didepan matanya.

ÔÇ£Aaaaahh… Agaaa…. ouuh…ÔÇØ mulutnya kembali mendesah saat dadanya diremas Aga kuat-kuat dan digigit. Kemudian puting merah mudanya juga menjadi sasaran Aga berikutnya.

Ruby kembali mendesis nikmat setelah putingnya berhasil Aga hisap dengan kuat. ÔÇ£Mmmm…ÔÇØ Ia memejamkan matanya, ia hisap sekuat mungkin puting Ruby dan menyesap air susu yang keluar dari sana. Ia menghisap kuat seolah ingin mengeluarkan seluruh air susunya.

ÔÇ£Mmmh… Agaaah, itu milik Ryuki… hentikan… aah!ÔÇØ meski tubuhnya tidak ingin Aga melepaskan mulutnya dari sana, tapi otaknya masih bisa berfikir bahwa bisa saja Aga menyedot seluruh air susunya. Meski kemungkinannya kecil.

ÔÇ£Punya Ryuki juga milikku sayang,ÔÇØ jawabnya disela hisapannya. Bahkan ia tidak memperdulikan perkataan Ruby, malahan tangan kirinya ia gunakan untuk memilin puting kanan Ruby yang juga mengeluarkan susu saat Aga memencet putingnya.

ÔÇ£Mmmmhh…. Agaa…geli…ÔÇØ

“Hmm… kau suka kan? mendesahlah terus sepuasmu, aku akan membuatmu senang.” seringai Aga. Dan tanpa sepengetahuan Ruby, tangan kanan Aga bergerak kebawah. Berusaha menarik turun celana panjang Ruby, posisinya agak sulit ia hanya berhasil menurunkannya sebatas paha. Kemudian tangannya bergerak lagi, melewati karet celana dalam Ruby. Ia susupkan jemarinya menyentuh kewanitaan Ruby yang sudah basah. Dengan tangannya Aga meratakan seluruh cairan pelumas alami yang Ruby keluarkan keseluruh permukaan kewanitaan Ruby, lalu ia memijat pelan benda sebesar kacang yang berada didalam kewanitaan Ruby.

ÔÇ£Aaaahh! Mmmmhhh…ÔÇØ lagi-lagi desahannya mengalun indah, rangsangan Aga pada kewanitaannya itu membuatnya semakin banyak mengeluarkan cairan cintanya.

Aga melepaskan kulumannya pada puting Ruby, kemudian ia turun dari tempat tidur dan berdiri. Tangannya segera melepaskan celana panjang sekaligus celana dalam Ruby, kemudian baju dan Bra Ruby juga ia buang. Membiarkan Ruby telanjang polos seperti dirinya.

Mata safirnya semakin menggelap saat melihat tubuh polos Ruby tergolek pasrah menunggu dirinya untuk disentuh dan dikuasainya. Dalam hatinya mengumpat melihat kewanitaan dengan bulu halus itu sedikit mengkilap karena perbuatannya. Kejantanannya semakin keras melihatnya, ingin sekali Aga melebarkan paha Ruby saat itu juga dan langsung menusuknya tanpa ampun. Tapi ia tak boleh egois.

Aga menelan ludahnya susah payah, lalu ia merendahkan tubuhnya, menumpu-kan badannya pada kedua lututnya dilantai yang dingin. Ruby menatapnya tak mengerti, tapi saat perlahan Aga melebarkan pahanya, Ruby baru sadar apa yang akan Aga lakukan padanya.

“Aaaahhpp!”

“Aahh! Agaaah… kotor!” pekik Ruby karena gerakan kepala Aga yang tiba-tiba melahap kewanitaannya.

“Oouhh… mmhh… Agaaah!” Ia menceracau saat lidah Aga mulai menjilat kewanitaannya yang merah basah.

Tak puas hanya menjilati, kedua tangan Aga juga digunakan untuk melebarkan bagian tubuh paling bribadi bagi Ruby, ia lebarkan titik rangsang itu gemas, bahkan lidahnya semakin bergerak liar diseluruh permukaannya.

Ruby memejamkan matanya menikmati, tubuhnya bergerak-gerak menahan serangan Aga yang terus memaksanya mendesah. Rasa geli yang belum pernah ia rasakan menambah kegilaannya kali ini. Ya, Ruby menjadi gila dibuat Aga, jilatan dan hisapan Aga dibagian pribadinya itu terasa sangat menakjubkan. Ruby suka, Ruby ingin terus Aga melakukannya, Ruby ingin Aga terus merangsangnya seperti itu.

Lidah Aga kemudian menggelitik klitorisnya, lalu mencucuk-cucuk lubang kewanitaannya yang memerah dengan ujung lidah Aga yang basah, mencucup sekaligus menelan cairan asin milik Ruby yang makin banyak.

Sampai beberapa saat kemudian Aga masih bernafsu bermain dikewanitaan Ruby, sepertinya Aga sangat menyukai rasa cairan cinta Istrinya itu. Ia tak bosan terus menjilatinya.

Tidak peduli Ruby yang sudah meronta-ronta menikmati siksaan yang nikmat dari Aga, pria pemilik mata safir itu masih saja menggelitik klitoris Ruby dan memasukan satu jarinya kedalam lubang merah itu. Menggerakkan jarinya kemudian dengan gerakan agak cepat. Lalu ia tambah lagi satu jari manis kedalam lubang Ruby.

“Oouuhh! Aaahhgaa…” Ruby menggeliat frustasi. Rasanya bagaikan ribuan sayap kupu-kupu menggelitik perut ratanya. Ruby terus bergerak liar sampai sesuatu akan meledak dari dalam tubuhnya.

“Mmmhh…. aaahh… Agaaah….Oohh… Agaa…”

Aga menyeringai lagi, ia tidak pernah melihat Ruby bergerak seliar itu sebelumnya, bahkan Ruby sampai meremas dadanya sendiri. DAMN! Itu sangat menggairahkan dimata Aga, juniornya yang sudah ereksi sedari tadi makin menegang hebat melihat Ruby menggeliat-liat bagai cacing kepanasan. Apa sebegitu nikmatnya permainan lidahnya sampai Ruby lepas kontrol seperti itu.

“Agaaah… sudah… Agaaa….” tubuhnya menegang, melengkung keatas saat gelombang orgasmenya semakin mendekat, ia jambak rambut Aga dan menariknya untuk terus terbenam dipangkal pahanya. Kemudian mengapit kepala Aga, membuat suaminya itu menghirup dalam aroma khas yang dikeluarkan Ruby disana.

ÔÇ£Ooouuuhhhh!ÔÇØ Satu hisapan kuat Aga pada klitoris Istrinya yang membengkak, menjadi akhir bagi Ruby untuk mempertahankan Orgasmenya. Tubuhnya perlahan melemah, apitan pahanya pada kepala Aga juga mulai mengendur, tapi Aga masih sibuk menjilati cairan Orgasme Ruby. Menelan semua cairan itu bagai singa yang haus akan darah.

Ruby memejamkan matanya, dadanya terengah naik-turun menikmati sisa-sisa Orgasmenya. Kemudian Aga yang tengah selesai membersihkan kewanitaan Ruby mulai merangkak naik, kembali menindih Ruby yang penuh peluh dan menempelkan juniornya diatas perut Ruby. ÔÇ£Kau terlihat sangat cantik, Ruu…ÔÇØ Tangannya membelai pelan dahi Ruby, mengelap keringat Ruby dan mengusap rambut-rambutnya yang melekat pada wajahnya keatas, berantakan basah.

Kemudian Ruby membuka matanya, tersenyum pada sesosok pria yang tengah menatapnya dalam Tangan kanannya terulur, menyentuh pipi Suami jabriknya, lalu bergerak sampai kebelakang kepala durian itu dan menariknya untuk mencium bibirnya.

Ruby dapat mencium aroma khas kewanitaannya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Aga. Tak terlalu peduli, kemudian Aga kembali membuka bibir Ruby dengan lidahnya, keduanya kembali melakukan french kiss yang manis.

Karena Ruby belum terlalu paham dalam hal bercinta dan membuat pasangannya senang, Aga sengaja menarik tangan kanan Ruby untuk menyentuh kejantanannya yang masih menegang sempurna dibawah sana.

Wajahnya kembali memerah saat menggenggam benda keras dan berukuran besar itu ditangannya, Ruby pernah melihat sebelumnya, bahkan benda yang mengacung tegas itu sudah duakali memasukinya, tapi baru kali ini dia menyentuhnya secara langsung. Aga mengernyitkan dahinya, mendesis saat tangan halus Ruby menggenggam kepunyaannya, ÔÇ£Mainkan sesukamu,ÔÇØ bisiknya pelan dengan suara berat yang sexy.

ÔÇ£Eh…tapi aku…ÔÇØ Ruby menatap Aga khawatir. Ia paham Ruby kembali malu dan canggung karena kesadaran yang direnggutnya tadi telah kembali sepenuhnya.

Aga menjilat lagi telinga Ruby penuh perasaan, kemudian membisikan sesuatu sambil meremas dada kiri Ruby, ÔÇ£dia milikmu, kau boleh memainkannya sesuka hatimu. Sentuh aku sebanyak yang kau mau Ruu…ÔÇØ

ÔÇ£Mmmmhh…ÔÇØ Ruby kembali mendesis. Perintah sekaligus ijin dari Aga itu membuat gairahnya kembali naik, meski ragu ia turuti mau Aga. Tangannya menggengam semakin erat kepunyaan Aga lalu mengurutnya pelan. Aga mendesis dibuatnya, membuat Ruby menghentikan sejenak gerakkannya.

ÔÇ£Tidak papa, teruskan. Aku suka,ÔÇØ ucap Aga meyakinkan Ruby.

Setelah yakin Aga menyukai sentuhannya, Ruby semakin gencar mengurut-urut junior Aga. Membiarkan Aga mendesah sambil sesekali menggigiti lehernya dan meninggalkan banyak tanda kepemilikkan disana.

Setelah melakukan sedikit perkenalan antara kejantanannya dan Ruby, Aga kemudian beringsut turun, membuat juniornya terlepas dari gengaman Ruby. Aga kembali memijak lantai kamar dengan benda yang masih mengacung sempurna. Kemudian ia tarik tubuh telanjang Ruby untuk duduk dipinggiran tempat tidur.

Mulut Ruby sedikit terbuka saat kepunyaan Aga tengah mengacung tepat didepan mulutnya, dapat ia cium aroma sabun beraroma susu dan buah alpukat dari sana. Ruby medongak keatas menatap Aga, seolah tatapannya itu menegaskan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang seharusnya ia lakukan.

ÔÇ£Buka mulutmu, Ruu…ÔÇØ bisik Aga lembut. Melihat pemandangan itu membuat kepalanya pusing, kepunyaannya yang menegang berdekatan dengan bibir ranum Ruby yang sedikit terbuka.

ÔÇ£Ta-tapi Aga…ÔÇØ

ÔÇ£Ini bersih, cobalah. Kalau tidak suka kau boleh menghentikannya,ÔÇØ rayu Aga sembari menempelkan kepala kejantanannya yang kemerahan dibibir Ruby. Rayuan Aga itu sepertinya berhasil, meski ragu-ragu Istrinya itu mau membuka mulutnya, membiarkan kepala junior Aga dijilat pelan oleh Ruby.

ÔÇ£Mmmmhh!ÔÇØ dahi Aga kembali mengernyit. Kepunyaannya yang tengah dijilat Ruby membuat darahnya berdesir. Meski terkesan ragu-ragu, tapi lidah kasar Ruby yang mulai senang bergerak-gerak melingkar diujung kejantanannya membuat kepalanya panas.

Rasanya tidak buruk juga, Ruby suka, ia mulai menikmati kegiatan mengoral Suaminya. Dan sepertinya Ruby tidak berniat menghentikan jilatannya pada batang kecokelatan milik Aga yang mulai mengeluarkan cairan bening yang terasa asin.

ÔÇ£Sssshh… sentuh sesukamu, Ruu…ÔÇØ perintahnya lagi, ia tak menyangka jilatan amatiran Ruby mampu membuatnya ingin mendesah sekeras-kerasnya. Atau hanya dirinya saja yang tidak pernah di Oral oleh gadis, makanya ia sangat exited dengan hal kecil yang dilakukan Ruby.

Ruby yang mendengar Aga pasrah dengan wajah horny-nya , tanpa ragu ia mulai menjilati seluruh permukaan kulit kejantanan Aga, bahkan ia menjadi sangat suka karena semburat otot-otot dipermukaannya itu menambah kesan kokoh, keras yang membuat sesuatu didalam diri Ruby menjadi bangkit lagi. Ruby gemas, bahkan ia mulai memejamkan matanya sambil terus menyapukan lidahnya dari ujung sampai kepangkal batang kejantanan Aga.

ÔÇ£Aaahh… iya Ruu, teruussh… oouhhh…ÔÇØ Aga mendesis nikmat. Bahkan Ruby mulai berani memasukkan benda berotot yang mengacung itu kedalam mulutnya.

Entah siapa yang mengajarinya, setelah separuh kepunyaan Aga masuk kedalam mulutnya, Ruby melakukan gerakkan memaju mundurkan kepalanya. Tentu saja hal itu membuat Aga ingin mengumpat keras, kejantanannya yang kokoh dilahap mulut Ruby wanita yang sangat dicintainya. ÔÇ£Ouuh! Ruu, ini nikmat sekali…mmh,ÔÇØ bahkan saat Ruby menghisap dalam-dalam batangnya, Aga merasa tak sanggup lagi. Sensasi yang diberikan Ruby untuk yang pertama kalinya membuatnya akan segera menyemburkan benihnya lagi.

Ruby sesekali melirik Aga, ia lihat Aga tengah mendongak memejamkan matanya. Melihat Aga tampak menyukai permainannya dikejantanannya, Ruby mengikuti instingnya untuk melakukan hal yang lebih. Mula-mula ia lepaskan hisapannya, membuat Aga sedikit kecewa karena dirinya terlanjur dibawa terbang oleh Ruby, tapi ia juga sedikit lega karena dia tak harus memuntahkan semennya sekarang. Tapi tak lama kemudian, Ruby kembali menggenggam kepunyaan Aga dan mengocoknya. Dirasa terlalu kering, Ruby mengulumnya lagi dan melakukan gerakan maju-mundur.

Aga menahan kuat-kuat jeritannya, berkali-kali ia mengumpat dalam hati karena seakan Ruby tidak memberikannya waktu untuk sekedar menurunkan gairahnya. Bahkan tangannya ia gunakan untuk memilin puting Ruby, berharap konsentrasinya sedikit terpecah. Tapi nyatanya ia tidak berhasil, karena tangan kanan Ruby digunakan untuk meremas-remas bola testisnya.

Baik, siksaan ini sepertinya harus segera ia selesaikan. Dengan lembut ia menjauhkan kepala Ruby dari kejantanannya. Kemudian ia mendorong pelan tubuh Ruby agar terbaring. Setelah terbaring, Aga menaikan kaki Ruby yang menggantung keatas ranjang, kemudian Aga juga naik dan langsung mengambil posisi diatas Ruby. Mengungkung Ruby didalam tubuhnya.

Ruby menggigit bibirnya melihat Aga menatapnya lapar, sama seperti Aga dirinya juga ingin segera menyelesaikan kegiatan ini. Pijatan dan pilinan Aga dipayudaranya telah kembali membuat nafsunya kembali naik. Dan sepertinya tak lama lagi keinginan keduanya akan terwujud, karena diam-diam Aga sudah melebarkan kedua paha Ruby dengan lututnya, kemudian membiarkan kepunyaannya bergesekan dengan kewanitaan Ruby yang kembali basah.

Tapi agaknya Aga tak mau terburu-buru, ia kembali menghujani Ruby dengan ciuman. Sebelum melakukan proses penyatuan mereka, Aga ingin sekali lagi merasakan manisnya Ruby. Karena ia sangat mencintai Ruby. Aga menciumi wajah Ruby, lehernya, bibirnya, hidung juga kedua matanya. Manis, sangat manis. Semua terasa manis saat Aga menciumi Ruby. Semua, semua yang ada pada Ruby terasa manis, mungkin sebentar lagi ia akan terkena diabetes karena selalu memakan yang manis-manis.

Apalagi wangi tubuhnya, Aga sangat suka mencium aroma leher Ruby, wangi yang lembut dan ingin selalu didekatnya, ya selalu didekatnya. Dan sial! sepertinya dirinya benar-benar akan kecanduan Ruby setelah ini. Kenapa, kenapa ia merasa sangat jatuh cinta pada sesosok wanita yang kini tengah berusaha ia masuki.

“Ah-Ahga…jangan.” Cicit Ruby seperti mengingat sesuatu, menghentikan Aga yang mulai melakukan proses penyatuan mereka, padahal awalnya ia juga sangat ingin mengulangi kejadian di kediaman Nugraha kemarin.

“Kenapa?” balas Aga, agak kecewa. Meski ia sambil menggesek-gesek Klitoris Ruby dengan kepala kejantanannya.

“Aku tidak mau hamil, Ryuki masih sangat kecil,” Jawabnya. Ia ingat bahwa dirinya sama sekali tidak memakai alat kontrasepsi.

Aga menatap manik emerald Ruby yang sayu, kemudian Aga menyeringai lebar. Peduli apa? Aga malahan menggigit pelan pundak mulus Ruby. “Kalau kau hamil karena ini, kita akan membesarkanya bersama Ryuki. Tapi kalau kau ternyata tidak hamil, kau boleh memasang alat pencegah kehamilan. Karena nantinya…” Aga menghentikan kalimatnya, mengecup lagi leher Ruby dan mulai menggerakan tubuhnya, memasuki Ruby wanita yang sangat dicintainya. “Aku akan melakukan ini,”

“Akkh!” pekik Ruby memejamkan matanya, merasakan kejantanan Aga mulai masuk setengahnya di lubang surga miliknya.

“Hhh…setiap ada kesempatan,”

“Ahhh Aga!”

“Setiap hari,”

“Ouhh! Agaaah!”

“Dan setiap malam,” bisik Aga. Sengaja menggerakkan kejantanannya didalam kewanitaan Ruby dengan lembut.

“Aaahh…Agaa…oouuhh…” Ruby memejamkan matanya, meremas rambut Aga. Menahan semua rasa nikmat yang diberikan Aga dibawah sana.

“Agaah…nnh..aku mencintaimu…” ucap Ruby disela-sela percintaanya dengan Aga. Tangan kirinya dikalungkan dileher Aga, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk membelai lembut luka memar ditubuh Aga.

Aga tersenyum penuh perasaan. “Aku juga mencintaimu Ruu, lebih…lebih. Bahkan sangat lebih dari cintamu padaku,” Kemudian ia mengecup bibir basah Ruby tanpa menghentikan tusukkannya pada kewanitaan Ruby.

“Mm…mmh… Agaah..” Ruby memeluk erat tubuh Aga diatasnya, baginya ini sangat istimewa. Menghirup dalam-dalam wangi keringat maskulin Aga yang memabukan dirinya sambil bercinta.

Sama, sama seperti Aga. Ruby juga merasa kecanduan Aga. ciuman Aga, sentuhan tangan besar Aga pada tubuhnya. Semuanya yang berhubungan dengan Aga, Ruby menyukainya.

“Agaah…aku…mmh…” Ruby mengernyitkan dahinya, darahnya berdesir. Perutnya terasa sangat geli.

“Aku mencintaimu Ruu…”

“Mmmh…Agaa…”

“Jangan ditahan, keluarkan saja…. keluarkan semuanya.” bisik Aga berat, menambah rasa gemas Ruby.

“Mmmmhh iyaah…. aaaaakkhh! Agaaaah!” Teriakan panjangnya itu adalah akhir, Ruby mencapai orgasme keduanya. Kewanitaannya berkedut hebat, meremas-remas kepunyaan Aga yang masih tertanam disana.

Aga membiarkan kejantanannya diremas-remas oleh dinding kewanitaan Ruby, rasanya sangat mengagumkan. Ia juga menciumi wajah Ruby yang kelelahan akibat terjangan orgasme keduanya.

Setelah berhenti dan membiarkan Ruby menikmati sisa orgasmenya, ini adalah saatnya bagi Aga. “Lakukan lagi,” ucap Ruby tersenyum sambil menggerakkan pinggulnya sendiri, ia tidak mau menyiksa Aga lebih lama.

“Aaah… Ruu, aku mencintaimu, sangat.” Aga kemudian mempercepat tempo kocokan pada kewanitaan Ruby. Ia hujamkan dengan sedikit kasar dan membuat Ruby mendesah pelan. Aga sudah tidak tahan lagi. Stok spermanya telah terkumpul seluruhnya, “Rubyyy…. aahh…Rubyyy…Ooouh!” dan hanya dalam sekali sentakkan Aga telah memuntahkan seluruh cairan semennya didalam rahim Ruby.

Ruby tersenyum lembut pada Aga yang langsung menindih tubuhnya lemas, kepalanya mendarat dileher kanan Ruby sekaligus menghirup aroma Ruby. Dapat Ruby rasakan sperma panas Aga perlahan merembes keluar, tapi sepertinya Suaminya itu enggan segera mencabut kejantanannya yang mulai melemas.

“Bisakah kau turun dari atasku sayang?” suara lembut Ruby menyadarkan Aga. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Ruby.

“Hehe…maaf,” cengirnya. Kemudian menggulingkan dirinya disamping Ruby.

Tapi kemudian Ruby bergantian menindih Aga, matanya bergerak memandangi memar disekujur tubuh Aga, “Kau bilang didalam sini tidak sakit?” ujarnya membelai lembut memar di dada Aga. Wajahnya tampak sedih, dapat Ruby pastikan rasanya pasti sakit.

“Hehehe…. tidak apa-apa, aku sudah sembuh, kan sudah minum susu,” cengirnya menggoda Ruby.

“Kau ini ya!”

“Aaauh!” Cubitan panas Ruby pada dadanya membuatnya menjerit.

“Eh… maaf, sakit ya?”

“Tentu saja!”

“Akan aku obati, semoga cepat sembuh,” ucap Ruby. Kemudian mengecupi semua memar ditubuh Aga.

“Mmh…kalau obatnya seperti itu, aku mau dipukuli Gary setiap hari,”

“Kau bisa saja!”

“Hehehe… tadi itu nikmat sekali ya?” lanjutnya, melirik Ruby yang beringsut memeluk tubuh telanjang Aga.

“Kau gila,”

“Tapi kau suka kan?”

“Suka,”

“Ya sudah, mau lagi?” tantang Aga, tangannya sudah meraba kewanitaan Ruby yang masih belum tertutup apa-apa.

“Aah Aga! Aku lelah!”

“Sebentar saja,”

“Janji!”

“Iyaa janji,”

Kemudian Aga kembali menindih tubuh Ruby, untuk melakukan ronde kedua. Meremas dada dan menciumi wajah Ruby dengan gemas.

Dan malam itu akan menjadi malam yang panjang bagi keduanya, bertukar kasih sayang, mengungkapkan cinta yang selama ini terpendam.

Dan mungkin hanya bahasa tubuh yang bisa mengungkapkan betapa besar cinta mereka, karena kata-kata saja tidak cukup untuk mengungkapkan betapa mereka sangat mencintai.

~SELESAI~

3 Tahun kemudian…

“Aku bica jalan cendili Ayah!” Seru bocah berusia 3,5 tahun yang baru saja turun dari mobil bersama Ayah dan Ibunya. Rambutnya jabrik, alis tebalnya tampak menaut dan bibirnya mengerucut karena ia benar-benar sedang kesal. Bocah lucu yang tengah digendong pria dewasa yang sangat mirip denganya itu meminta untuk diturunkan.

“Baiklah…baiklah…” Sang pria yang ternyata adalah ayah dari anak tersebut menurunkan putranya, membiarkanya pergi berlari menuju kediamanya.

“Sepertinya Ryuki masih marah Ruu,” keluh Aga pada wanita yang berjalan disampingnya, terdengar kecewa.

Sedangkan wanita berambut indah itu tersenyum lembut pada suaminya. “Biar aku yang bicara dengannya,” selalu… selalu saja senyuman itu membuat Aga selalu bisa mempercayainya. Senyuman lembut yang semakin lama membuat cintanya semakin dalam pada wanita itu. Bahkan setelah 4 tahun mereka menikah, rasa itu semakin kuat.

“Ryuki tunggu!” Ruby mencoba mengejar putranya. Tetapi bocah kecil yang sedang marah, karena meminta bayi Arslan dan Yuuka untuk dibawa pulang itu tidak mendengarkan Ibunya.

Ya, mereka baru saja pulang dari rumah sakit untuk melihat bayi Arslan dan Yuuka yang baru dilahirkan semalam. Arslan dan Yuuka menikah satu tahun yang lalu, setelah menyelesaikan kuliahnya. Mereka menjalin hubungan 3 tahun yang lalu setelah Yuuka dihianati Aslan, kakak kandung Arslan yang memang terkenal playboy.

Bayi Dermawan perempuan yang berkulit putih, berambut raven dan memiliki bibir yang sangat manis tadi memang membuat Ryuki gemas, sampai-sampai Ryuki memaksa Ayahnya untuk membawanya pulang.

“Ryuki tunggu! dengarkan Ibu!” Ruby masih mengejar putranya yang mempercepat larinya. Nugraha kecil itu terlihat sangat menggemaskan dengan polo shirt berwarna putih dan celana hijau selutut, berhias rantai kecil. Penampilanya hari itu tampak keren seperti Ayahnya. “Sayang, jangan lari nanti kau…” Ruby menghentikan kalimatnya, melebarkan matanya.

‘Brukh!’

“….jatuh,” kaki kecil Ryuki tersandung dan dia terjatuh. Telapak mungil dan lututnya yang kecil terantuk permukaan paving halaman kediaman Nugraha. Ruby mengela nafasnya dan menghembuskannya melihat Ryuki jatuh. “Selalu saja…”

“Hiks…hiks…cakit…Ibuuu….cakiiiit…” tangis Ryuki karena tangan dan lututnya terasa sakit.

“Apa Ibu bilang?” Ruby yang sudah berada didekatnya kemudian jongkok, membersihkan lutut Ryuki yang kemerahan lecet dengan meniupnya.

“Sudah tidak apa-apa sayang, hanya lecet, ayo Ibu obati didalam luka kecilnya,” Ruby tersenyum gemas melihat putranya yang menangis lucu.

“Butuh tumpangan Tuan cengeng?” Ejek Aga yang entah sejak kapan sudah berada diantara mereka.

Ryuki menghapus airmatanya dan berdiri dibantu Ruby, “Ayah yang cengeng.” Balas Ryuki kemudian, masih terlihat sebal.

Aga kemudian jongkok menyamakan tingginya dengan Ryuki. “Kenapa Ayah? memangnya Ayah pernah menangis?” tanyanya dengan senyum iseng.

“Ayah nangis saat Ibu cakit!” jawab Ryuki polos, sedangkan Ruby tertawa geli mendengarnya. Iya dia masih ingat saat Ruby sakit, Aga menangisi dirinya yang tak sembuh-sembuh waktu itu.

“Benarkah?” Lalu Aga mengangkat putranya, menggendongnya. “Siapa yang baru saja menangis?” Dan kemudian membawanya masuk kedalam rumah diikuti Ruby dibelakang mereka.

“Tentu caja Ayah,” jawab Ryuki nyengir sambil memencet hidung Aga.

“Hahahahaha! dasar anak nakal ya…” balas Aga menggelitik perut Ryuki dengan menciuminya bertubi-tubi.

“Kalian sudah pulang?” Sambut Lisna saat mereka masuk kedalam rumah. Wanita cantik yang dipanggil nenek itu tengah berada di ruang tamu bersama Julian, yang ternyata disana juga ada Henri dan Gary beserta satu lagi gadis cantik yang Aga dan Ruby belum kenal.

Mata safir Ryuki berbinar melihat Kakek dan Pamannya datang, dan tanpa menunggu nanti-nanti ia memerosotkan dirinya dari gendongan Ayahnya.

“Kakek….” Ryuki langsung berlari dan menghambur kepelukan kakeknya. Dan semua orang yang disana hanya tersenyum maklum melihat Ryuki.

“Aahhh… pangeran Kakek, kau tumbuh semakin besar ya rupanya?” Peluk Henri pada Ryuki, dan menciumi pipi gembil Ryuki.

“Kau tidak ingin memeluk Pamanmu juga berandal kecil?” Sindir Gary dengan gayanya yang kaku, meski ia tengah berusaha selembut mungkin pada Ryuki. Ryuki menoleh dan hanya menatap Gary bosan, sama sekali tidak menarik menurut Ryuki.

“Padahal paman membawakanmu, gundam terbaru,” Pamer Gary kemudian, menunjukan bungkusan mainan ditangannya.

“Wooaaah…” Ryuki membuka mulutnya dan melebarkan safirnya, beringsut dari pelukan Henri dan berlari memeluk Gary. “Paman Garyyyy….” Semua yang ada disitu tertawa melihat ekspresi lucu Ryuki.

“Hahahaha…kau lucu sekali, baiklah…baiklah anak nakal, mainan ini punyamu,” ucap Gary sambil memeluk Ryuki. Dan wanita cantik disamping Gary juga tampak mengusap puncak kepala Ryuki.

“Kau tadi sedikit lama Ruu?” Ujar Henri pada Ruby yang masih berdiri disamping Aga.

“Eh, Ryuki tadi memaksa kami untuk membawa bayi Yuuka pulang,” jawab Ruby, kemudian duduk disamping Lisna.

“Butuh beberapa menit untuk membujuknya agar mau pulang,” Tambah Aga yang juga mengambil tempat disofa samping Henri.

“Benarkah Ryuki?” Tanya Julian pada Cucunya yang tengah asik bermain dengan Gundam terbarunya, duduk dipangkuan Gary.

“Lyuki mau adik Kakek,” Jawab Ryuki polos tanpa melepaskan perhatiannya pada mainan kesukaannya itu.

“Hahahahaha…” Sontak semuanya kembali tertawa. Sedangkan Aga dan Ruby nyengir salah tingkah.

“Kata Ayah, Lyuki akan punya adik cepelti adik paman Ahlan dan bibi Yuuka, tapi macih lama,” lanjut Ryuki kemudian.

“Benarkah?” Ucap Lisna menanggapi Ryuki.

“Iya Nenek!” Angguk Ryuki yakin

“Jadi???” Lirik Lisna pada Ruby yang tampak malu-malu.

“Emhehe… iyah Ibu, kata Dokter usia kandunganku sudah 3 bulan,” jawab Ruby mengaku tentang kehamilan Anak keduanya.

“Waaaahh… syukurlaah….aku akan punya Cucu lagi,” Lisna tampak senang dan memeluk menantunya.

“Oh ya ada yang mau Ayah sampaikan,” Potong Henri kemudian, membuat Ruby dan Aga memperhatikannya. “Gadis ini namanya Shana,” ujar Henri menatap sesosok wanita cantik yang mempunyai senyum yang indah. “Minggu depan Gary akan menikah dengannya, jadi Ayah minta kalian semua datang dan mempersiapkan semuanya.” Lanjut Henri.

“Oh yaaa??!” seru Ruby terlihat sangat senang dengan kabar itu.

“Tentu saja benar Ruu, kau meragukanku? Aku masih laku kau tau,” Sahut Gary merasa tersinggung, dan Ruby nyengir tidak enak.

“Aku senang mendengarnya,” ucap Aga kemudian.

“Dia sangat cantik, bagaimana bisa kau jatuh cinta pada Kakakku yang galak ini?” tanya Ruby pada gadis disamping Gary itu.

“Mmmh… kebetulan aku adalah therapisnya, dan kami saling jatuh cinta,” jawabnya malu-malu.

“Waaah…. manis sekali…” tanggap Ruby kemudian.

Memang sejak 3 tahun yang lalu, saat Henri mengetahui Keponakannya menyukai sesama jenis, Gary memutuskan untuk sembuh. Gary merasa sangat mengecewakan dan mempermalukan pamannya.

Sebenarnya Gary bukan Gay, hanya saja kejadian pahit saat menjalin hubungan dengan seorang wanita membuatnya trauma, sejak saat itu dia hanya dekat dengan sahabatnya yang ternyata seorang Seme dan membuatnya terlalu nyaman, sampai Gary terjatuh dalam pesona sahabat yang bisa menenangkan hatinya itu.

Sore itu dua keluarga berkumpul dengan hangat, ramah dan bahagia. Suatu kebahagiaan bagi mereka, dimana tidak ada lagi perselisihan yang membuat persahabatan dua keluarga itu kembali retak.

~TAMAT~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*