Home » Cerita Seks Mama Anak » Maafkan Mama

Maafkan Mama

MASA LALU

Namaku Lidya Dian Irawati, aku sudah bersuami, hasil dari pernikahanku dengan Mas Rifki aku melahirkan dua orang anak, putra putri. Kini mereka tumbuh menjadi anak remaja yang baik dan penurut.

Jujur aku bukanlah Ibu yang baik buat mereka, mungkin ini dikarenakan masa laluku. Saat aku masih kecil, aku sering memergoki Mamaku, Ibu kandungku berselingkuh dengan Adik kandungnya sendiri. Awalnya aku tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan disaat Papa sedang tidak berada dirumah, tapi seiring bertambahnya usia akhirnya aku mengerti apa yang mereka lakukan.

Saat itu aku marah, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, mengadukan perbuatan Mama ke Papa, adalah sesuatu yang mustahil, karena kalau sampai Papa tau bisa-bisa mereka bercerai, belum lagi rasa malu yang harus di tanggung keluargaku, karena bagaimanapun juga keluarga besarku adalah keluarga yang terpandang.

Rasa benci yang dulu memenuhi relung hatiku, perlahan mulai memudar seiring dengan seringnya aku melihat mereka yang sedang bersetubuh, hingga akhirnya aku menjadikannya sebagai rutinitas, mengintip mereka yang sedang bersetubuh.

Aku masih ingat, saat itu hari rabu, aku baru pulang dari sekolah, aku tau Papa sedang tidak ada dirumah, itu artinya Mama dan Adiknya Akmal pasti sedang bersetubuh didalam kamar orang tuaku, dan seperti biasanya aku menyempatkan diri untuk mengintip mereka.

Tapi hari itu adalah hari tersial dalam hidupku, aku tidak menyangkah kalau aksiku mengintip Mama dengan adiknya ketahuan.

Bukannya marah, takut ataupun merasa malu, Mama malah menjelaskan tentang perselingkuhan mereka, seolah apa yang mereka lakukan bukanlah sesuatu perbuatan yang salah, bahkan Mama malah mengajarkanku bagaimana rasanya di setubuhi. Dengan bujuk rayunya, hari itu kuserahkan darah perawananku kepada Om Jamal, adik kandung Mama.

Selama beberapa tahun aku menjadi simpanan Om Jamal dan dengan beberapa pria simpan Mama, bahkan aku sempat hamil walaupun akhirnya terpaksa di gugurkan. Hubungan terlarang itu berlanjut hingga aku lulus SMA dan kulia di luar kota, setiap pulang kampung Om Jamal pasti meniduriku didepan Mama.

Hubungan terlarang ini baru berakhir setelah aku bergabung dengan organisasi agama di kampusku. Agar benar-benar bisa lepas dari mereka, aku nekat menikah muda dengan Rifki Kakak kelasku sekaligus seniorku di organisasi.

Dua tahun setelah aku menikah, Ibu dinyatakan meninggal karena terkena penyakit kelamin yang mematikan, jujur saat itu aku sangat khawatir, takut kalau nanti juga tertular, karena aku juga telah melakukan hubungan yang beresiko selama bertahun-tahun, apa lagi adiknya dan beberapa teman kencan Mama juga meninggal karena HIV.

Tanpa sepengetahuan Suamiku, aku memeriksakan diri kerumah sakit, dan ternyata aku aman.

Bertahun-tahun lamanya kami menikah, aku berhasil melupakan masa laluku, hingga kami dikaruniai dua orang anak.

Tapi entah kenapa dua tahun belakangan ini, semenjak Suamiku tak bisa lagi memuaskan birahiku diatas ranjang, bayangan masa lalu kembali hadir. Segala cara sudah kulakukan, bahkan aku nekad membeli beberapa mainan sex untuk memuaskanku.

Kehadiran sex toy memang mampu menutupi kekosongan yang ditinggalkan oleh Suamiku, tapi bayangan masa laluku tidak juga mau hilang, apa lagi setiap kali aku melihat kedua anakku.

Tepatnya setengah tahun yang lalu aku menyerah, aku mulai membayangkan Putriku disetubuhi pria lain, dan anak laki-lakiku slalu kugambarkan menjadi pria losser, anak laki-laki yang penakut, yang hanya bisa pasrah melihat Kakak perempuannya, ataupun Uminya dan orang-orang yang dia cintai di setubuhi didepannya.

Semakin lama aku mulai berkeinginan mewujudkan fantasiku, mengkhayal saja sudah tidak cukup bagiku. Perlahan aku mulai mewujudkan fantasyku, dimulai dari merubah karakter mereka, Aziza kudidik seperti diriku dulu, menjadi anak gadis yang centil dan juga menjadi anak yang nakal, sementara Adam kudidik menjadi anak yang manja dan penakut tapi penurut.

Ini gila, dan aku sudah gila…

***

Cukup lama aku mematung didepan cermin, memperhatikan penampilanku yang serba hitam membalut tubuhku, walu usiaku kini sudah memasuki 38 tahun tapi bentuk tubuhku sama seperti saat aku masih berusia 20 an tahun.

Tentu aku merasa bangga dengan apa yang kumiliki saat ini, walaupun aku sudah melahirkan dua orang anak, tapi bentuk tubuhku tidak kalah kalau dibandingkan dengan anak remaja. Mungkin aku bisa masuk dalam katagori hot mom.

“Umi buruan, nanti kami telat kesekolah.”

“Bentar sayang, ini Umi juga hampir selesai.” Jawabku sambil memasang bros di jilbab hitamku.

Oh iya yang manggil tadi itu anak pertamaku, Aziza Khanza Az Zahra, usianya saat ini 16 tahun, dia tumbuh menjadi anak remaja yang cantik, aku yakin pasti banyak pria yang suka kepadanya.

Oke persiapan sudah selesai, ternyata aku memang sangat cantik. Aku berjalan santai keluar kamar, kulihat kedua anakku sudah menungguku didalam mobil.

“Buruan Umi.”

“Iya sayang.” Segera aku masuk kedalam mobil toyota Inova, duduk disamping putraku Adam “Ayo Pak jalan.” Kataku kepada sang sopir.

Perlahan mobilpun bergerak melaju meninggalkan perkarangan rumah, menembus kemacetan jakarta, entah kapan jakarta bisa terhindar dari kemacetan.

Yang pertama turun dari mobil adalah putriku Aziza, seperti biasanya aku mencium kedua pipinya dan berpesan agar ia rajin-rajin belajar. Sebelum mobil meninggalkan perkarangan sekolah, aku melambaikan tanganku memberi semangat kepada putriku.

Sekitar lima belas menit kemudian, mobil kembali berhenti diparkiran sekolah putraku, tapi kali ini aku turut turun dari mobil.

“Tunggu Dam, kok buru-buru banget.” Terpaksa aku memgejarnya saat ia hendak bergabung bersama teman-teman sebayanya.

“Ada apa lagi si Umi.”

“Kamu lupa ya ?” Kataku memasang wajah tidak suka, kulihat putraku tersenyum kecut saat mendengar ucapanku dengan nada yang cukup tinggi.

“Maaf Umi.” Ujarnya, lalu menyalimi tanganku.

Tidak sampai disitu saja, aku menarik wajahnya lalu aku melakukan hal yang paling ia benci dihadapan teman-temannya. Kucium kedua pipinya, lalu keningnya sehingga meninggalkan bekas lipstik tipis di sekujur wajahnya, tentu saja hal tersebut membuat kedua sahabatnya tertawa.

“Eheem… enaknya yang dicium.” Ledek Rudi salah satu sahabat anakku. Adam langsung mendelik tanda tak suka diledek, aku hanya tertawa kecil melihat tingkah putraku yang lucu.

“Kenapa ? kalian mau ?” Godaku, tentu saja godaanku di tanggapi penuh semangat oleh kedua sahabat anakku, aku nyaris tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah mereka berdua.

Sungguh aku sangat mengenal mereka berdua termasuk tentang kemesuman mereka, aku sangat sering memergoki mereka didalam kamar anakku menonton video porno, bahkan aku perna mendapatkan celana dalamku dikamar mandi anakku berlumuran sperma mereka. Marah ? Tentu saja tidak, aku malah senang, mengingat usiaku yang tidak muda lagi tapi masih menarik dimata mereka.

“Mau dong Tante.” Serempak mereka mengajukan diri.

“Iih, masi kecil udah nakal, mau jadi apa gedenya nanti.”

“Ya Tante, kali ini aja Tante, besok-besok gak lagi deh.” Pinta Bambang memasang wajah polosnya, dasar anak jaman sekarang paling pintar ngerayunya.

“Hmmm, gimana ya ?” Kataku pura-pura berfikir sambil mengetuk-ngetuk daguku.

“Please Tante !” Timpal Rudi.

“Boleh, tapi dengan satu syarat !”

“Syaratnya apa Tante ?”

Kulirik putraku yang dari tadi diam saja, tapi aku yakin saat ini dia pasti sedang kesal, anak mana coba yang gak kesal kalau Ibunya digodain oleh sahabatnya sendiri, tapi aku senang, ide nakal tiba-tiba melintas di otakku.

“Syaratnya kalau anak Tante mau bibirnya Tante cium, soalnya Adam paling gak suka kalau bibirnya Tante cium, padahal Tante ini Ibunya, seharusnya gak jadi masalahkan ? Kalau kalian bisa bujuk Adam mau di cium bibirnya sama Tante, nanti Tante kasih ciuman buat kalian berdua, gimana ?” Kulirik mereka satu persatu yang masih tampak bengong mendengar ucapanku. Hihi… siapa suruh tadi ngebalas ngegodain.

Cukup lama mereka berdiam, mungkin mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, mencium bibir anaknya sendiri, tentu saja itu terdengar tabu, apa lagi keinginan ini keluar dari mulutku, seorang wanita alim yang kemana-mana slalu mengenakan kerudung lebar.

Bukan hanya mereka sebenarnya yang terkejut, anakku sendiri juga tampak terkejut, mungkin Adam tidak menyangka kalau Ibu kandungnya ini sangat ingin mencium bibirnya.

“Umi apa-apaan sih ?” Protes Adam, aku tau dia pasti tidak suka dengan ide gilaku.

“Gak papalah Dam, sama Ibu kandung sendiri.”

“Iya Dam, dosa loh kalau gak nurut sama Ibu kandungmu sendiri, nanti kayak si Malin kundang di kutuk jadi batu, mau kamu ?” Timpal Rudi, duh… anak ini memang paling pintar ngebujuk.

“Gue udah gede, bukan anak kecil.” Balas Adam.

“Yakin udah gede ? Pacar aja gak punya !” Ledek Bambang, jujur sebagai seorang Ibu, sebenarnya aku cukup tersinggung, tapi ya sesekali gak papa deh.

“Udah gak usah malu.”

“Tapiii… ” Kesal mendengar perdebatan mereka yang lama, aku nekat menarik kembali putraku, lalu dengan cepat aku mencium bibir anakku beberapa detik lamanya.

Sebanarnya ada rasa takut juga saat mencium anakku, bagaimanapun saat ini aku sedang berada di lingkungan sekolah, tapi untunglah suasana sekolah agak sepi, hanya meninggalkan beberapa siswa yang sedang sibuk sendiri tanpa memperhatikan kami.

Sambil memanggut bibir anakku, aku melirik kearah mereka berdua yang tampak terkesima melihat apa yang kulakukan sekarang terhadap anak kandungku, sensasi ini membuatku sangat terangsang, vaginaku terasa basah, bahkan aku yakin cairan cintaku sedikit mengalir dari sela-sela pahaku.

Segera kulepas pagutanku, sejenak kulihat ekspresi wajah anakku yang tampak tidak.percaya dengan apa yang barusan kulakukan, aku yakin ini adalah ciuman pertama baginya. Ini gila, aku mengambil ciuman pertama darinya, anak kandungku sendiri.

“Udahkan Tante ?” Tanya Bambang, aku tau maksud dari pertanyaanya barusan.

“Pengen banget kayaknya dicium Tante.”

“Pasti dong Tante, hehehe… kapan lagi bisa ngerasain ciuman Tante.”

Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah gila mereka, tapi ya aku sudah berjanji jadi aku harus melunasi janjiku kepada mereka.

“Sini !” Panggilku, dengan serempak mereka berdua mendekat.

Lalu satu-persatu dari mereka kuhadiai kecupan di kedua pipi mereka, ya… hanya pipi tidak untuk yang lainnya, aku tidak ingin membuat Adam lebih kesal lagi, bagaimanapun juga aku sebagai Ibunya juga harus bisa menjaga perasaan anak kandungku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*