Home » Cerita Seks Mama Anak » Maafkan Mama 2

Maafkan Mama 2

ADA APA DENGANKU ?

Apa sih maunya Umi ? Seneng banget bikin malu aku didepan mereka, apa lagi tadi sampe ada acara cium-cium segala. Ini semua juga salahnya mereka, sebagai teman seharusnya mereka mengerti perasaanku, bukannya mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti yang mereka lakukan tadi.

Menyebalkan… !

Oh iya, namaku Adam Ghazali, dan yang ikut nganter tadi adalah Ibuku. Jujur aku tidak suka kalau dia mengantarku kesekolah, aku malu sama temanku yang lain, mereka biasanya diantar sama sopir, mereka sangat berbeda denganku yang setiap hari diantar oleh Umiku. Parahnya, didepan mereka Umi sering mempermalukanku, contohnya seperti yang ia lakukan tadi pagi. Dan anehnya Umi tampak begitu menikmatinya.

Sudalah Adam, mungkin itu hanya perasaan kamu saja, tentu tadi pagi Umi hanya bercanda.

Ya… aku paham, apa yang dilakukan Umi adalah sebuah bukti kalau beliau sangat menyayangi kami, seharusnya aku bangga, disaat orang tua temanku yang lainnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi Umi masih mau menyempatkan diri memperhatikan kami.

Apa benar Umi sebaik itu ? Aku tidak boleh berprasangkah buruk terhadap orang tua kandungku sendiri, mana mungkin dia melakukan itu karena dia memang sengaja ingin ngerjaiku.

Tapi sejujurnya aku merasa aneh dengan sikap Umi beberapa bulan belakangan ini, karena sebelumnya Umi sangat jarang mengantarku kesekolah, tapi semenjak aku naik kelas dua smp, Umi jadi kerajinan nganterin aku kesekolah, selain itu sekarang dia jauh lebi bawel dari sebelumnya.

“Widiiii… pagi-pagi udah bengong !”

“Setan, ngagetin aja loh Bang ?” Orang yang di bentak malah cengengesan. “Gak usah senyum-senyum, ada perlu apa ?”

“Ngerti aja ni sohib kita.” Timpal Rudi, entah semenjak kapan dia duduk disampingku.

“Ntar pulang sekolah, kita mampir kerumah loh ya, biasa main ps ! Penasaran gue gak bisa menang dari loh.”

“Alesaaan, main ps apa liat nyokap gue ?”

“Hahaha… itu bonus bro !” Jawab Bambang sambil menepuk pundakku.

Terpaksa aku garuk-garuk kepala mendengar permintaan sahabatku yang gila ini. Bagaimanapun juga sebagai seorang anak tentu saja aku kesal dengan mereka berdua, entah kenapa mereka suka sekali main kerumahku, hampir setiap hari malahan, alasan mereka sama yaitu main ps, padahal aslinya mereka sengaja datang kerumah karena ingin ngeliat Umi.

Tapi mereka juga tidak dapat disalahkan begitu saja, Umi juga ikut andil dalam masalah ini.

Sebenarnya aku juga bingung dengan sikapnya Umi, dulu Umi sangat menjaga penampilannya, bahkan saat berada didalam rumah sekalipun, tapi kini ia berubah seratus persen. Memang diluar rumah ia tetap sama seperti Umi biasanya, tapi perubahan akan terlihat ketika ia sedang berada dirumah.

Didalam rumah Umi tampil sangat seksi, tak jarang dirumah ia hanya menganakan gaun tidur yang tipis atau tanktop dan hotspan yang sangat menggoda. Aku sendiri anaknya, terkadang sangat terangsang melihat kemolekan tubuh Umi, apa lagi mereka temanku. Aku tidak bisa membayangkan kalau nanti kedua temanku khilaf, lalu berbuat macam-macam terhadap Umi.

“Aah… Umi !” Aku mendesah pelan.

“Kenapa Dam ? Loh juga suka ya sama nyokap loh sendiri ? Paraaah loh !”

“Eh… maksudnya apa ?”

“Udah gak usah bohong, tadi loh bilang Umi sambil mendesah gitu.” Kata Rudi membenarkan perkataan Bambang.

“Udah sana, bentar lagi Pak Horas datang.” Kudorong tubuh mereka agar segera menjauh dariku.

Gila, mana mungkin aku sehina itu, ingat Adam Umi adalah Ibu kandungmu, kamu boleh bernafsu sama siapa saja tapi tidak dengan Ibu kandungmu, walaupun seseksi apapun Ibu kandungmu.

***

Perasaanku tidak enak saat mengajak kedua temanku kerumah biasanya kami memang suka main ps di ruang keluarga, selain tvnya yang besar, ruangannya juga cukup besar sehingga membuat nyaman kedua sahabatku.

Sesampainya diruang keluarga, perasaan yang tadi menggangguku kini terjawab sudah, ternyata Umi sedang tertidur didalam kamarnya, tapi yang jadi masalahnya kamar Umi dalam keadaan terbuka lebar, dan Umi tidur hanya dengan mengenakan tanktop dan celana hotspan berwarna hitam, warna yang begitu kontras dengan kulitnya yang putih bening.

Sejenak kami terdiam, mata kami tertujuh kearah Umi yang sedang tertidur lelap, paha mulusnya kini menjadi santapan mata kami.

Siaaaallll… ada apa denganku, kenapa aku diam saja ? Ayo Adam gerak, tutup pintunya.

Rasanya kakiku begitu berat melangkah hanya untuk sekedar menutup pintu kamar Umi, karena pemandangan yang disuguhi Umi untuk kami benar-benar sangat menggoda, membuat burungku mulai menggeliat, perlahan bangun dan mengeras.

Sadarlah Adam aku mohon, dia yang tidur disana adalah Ibu kandungmu. Ya benar dia Ibu kandungku, tapi dia juga wanita dewasa yang sempurna.

“Jiiirr, Ibu loh seksi banget man.” Puji Rudi sambil menyikut lenganku.

“Setan loh, udah ayo main.” Ajakku, dengan kesadaran yang tersisa aku mengajak kedua sahabatku untuk bermain ps seperti yang telah kami rencanakan.

“Ganggu aja ni loh.” Protes Rudi.

“Kalian dulu aja de main, gue lagi males.”

“Yakiinn, biasanya loh yang paling semangat tanding, tapi oke deh… !” Fuuhh… untunglah Bambang dan Rudi mau menuruti ucapanku.

Aku duduk diatas sofa, sementara mereka lesehan duduk didepan tv. Saat mereka lagi sibuk dengan permainan mereka, aku malah menyibukan diri dengan memperhatikan Umi yang sedang tertidur lelap. Entah kenapa, aku jadi sangat suka memperhatikan tubuh Umi.

Umi menggeliat perlahan, ia bergerak membalik tubuhnya hingga terlentang. Dari posisiku aku dapat melihat gundukan vaginanya yang tebal, ternyata hotspan itu tak bisa menutupi tebalnya vagina Umi. Selain itu aku juga bisa melihat benjolan kecil di dadanya yang meruncing, kalau dilihat-lihat sepertinya itu puttingnya Umi.

Ternyata Umi gak pake Bh, aku tak tau ini sebuah keberuntungan atau musibah bagiku.

Sadar gak si Umi, anakmu ini sudah gede, mana tahan kalau melihat pemandangan seindah ini, seharusnya kalau mau pake pakaian seseksi itu, harusnya pintunya di tutup, kalau sudah seperti ini aku juga yang repotkan.

“Hmmm… pamtesan dipanggil gak denger, ternyata ?”

“Loh Rudi, gak jadi mainnya ?” Tanyaku kaget, tiba-tiba Rudi sudah duduk disampingku.

“Udah selesai keless, tadi gue kalah, gih… buruan gantiin gue.” Katanya sambil mengusirku, dengan sangat terpaksa aku mengalah.

Tapi aku bukanlah anak yang bodoh, sebelum aku tanding lawan Babang, aku segera menuju kamar Umi, lalu dengan perlahan kututup daun pintu kamar Umi. Aku tak rela kalau Rudi menikmati tubuh Ibu kandungku.

“Ya, gak asik ni.” Desah kecewa Rudi ketika pintu kamar Umi tertutup rapat.

Sorry kawan, tubuh Ibu gue bukan gratisan.

“Yuk Bang main.” Ajakku semangat empat lima, setidaknya sekarang Umi aman dari mata jalang milik Rudi.

Staaar… permainan dimulai, aku langsung melakukan serangan pertama yang mematikan, sementara Rudi kulihat sepertinya tidak menyerah memandangi pintu kamar orang tuaku, mungkin dia berharap ada keajaiban sehingga pintu itu bisa terbuka dengan sendirinya. Sungguh kasihan nasib Rudi, sampe kucing bertanduk pintu itu tidak akan terbuka sendiri.

Akhirnya permainan ini dimenangkan olehku, itu artinya kini giliran Rudi yang menantangku.

Tapi saat Bambang mengusir Rudi, anak itu malah tampak enggan posisinya digantikan Bambang, sepertinya Rudi sadar diri dia tidak mungkin bisa menang melawanku. Tapi karena didesak terus menerus akhirnya Rudi maju menantangku.

Ternyata benar apa yang dikatakan orang tua, main game bisa membuatmu lupa waktu. Tak terasa hampir tiga jam kami bermain dan selama itu aku tak tergantikan, membuatku mulai jenuh.

“Udahan yuk, gue menang terus ni gak seru.” Kataku sambil meletakan stik ps.

“Serius ni ?” Aku mengangguk lemah. “Bagus deh, aku juga udah mulai bosan.” Jawab Bambang, lalu meletakan stik tersebut dilantai.

Tak lama kemudian Bambang berdiri lalu bergabung duduk di sofa disamping Rudi, mata mereka berdua sama seperti sebelumnya, tertuju kearah kamar orang tuaku. Dasar saraf, pintu ketutup gitu masih aja diplototin.

Aku rebahan sejenak, mataku menerawang jauh kembali mengingat pemandangan yang sempat kulihat beberapa jam yang lalu. Ada apa denganku sebenarnya ? Bagaimana mungkin aku begitu bernafsu terhadap Ibu kandungku sendiri, sampe-sampe burungku sedari tadi tidak mau kembali tidur.

Sudalah, semakin aku pikirkan, semakin aku tidak menemukan jawabannya.

“Lagi ngeliatin apa si Bro, seru banget kayaknya, ikut doooongggg… ”

Sungguh apa yang kulihat saat ini sangat sulit dipercaya, pintu Umi yang tadinya tertutup rapat kini kembali terbuka lebar, dan parahnya ternyata Umi sudah bangun dari tidurnya, dan sekarang dia sedang membelakangi kami duduk didepan meja rias hanya mengenakan handuk yang melilit ditubuhnya.

Oh Tuhaaan… apa yang ada di pikiran Umi, apa dia tidak sadar kalau sedari tadi kedua teman gilaku ini sedang memperhatikannya, atau jangan-jangan Umi memang sengaja melakukannya, tapi untuk apa ?.

Tidak… ini pasti ada yang salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*