Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 5

Buah Dari Masa Depan 5

Rambut duriannya bergerak-gerak oleh tiupan angin yang berhembus pelan. Duduk diatas atap sekolah, menundukkan kepalanya menatap lantai berlapis semen dibawahnya dengan sekaleng minuman dingin yang mulai mengembun digenggamannya. Ya sekolah itu selain memiliki taman yang luas juga memiliki atap berbentuk persegi panjang berpagar kawat, tempat itu yang lebih mirip sebuah lapangan. Sebenarnya atap itu hanya difungsikan untuk tempat penyimpanan air, tapi terkadang banyak siswa yang hanya sekedar duduk-duduk dipinggir pagar sambil melihat tata kota dari atasnya seperti Aga saat ini.

Pikiranya sedang dikuasai oleh hal-hal yang membuatnya pusing beberapa minggu ini. Mulai dari gagal dalam olympiade kimia, gagal mendapat mobil idamanya, lalu melampiaskan kekesalan pada Ruby yang dianggapnya sebagai penghancur impiannya, dan sekarang ia harus menikah dalam usia yang sangat muda. Hancur, hidupnya terasa benar-benar hancur.

Tapi kalau boleh ia mengingatnya lebih hancur mana dibandingkan dengan Ruby? Gadis itu lebih pintar darinya, seharusnya gadis itu masih disini belajar, mengembangkan kemampuanya bukan dirumah, memasak dan nantinya malahan akan mengurus bayi. Dan itu semua karena siapa? Karena dirinya, Ruby adalah korban dari keegoisannya.

Dan perlakuan apa yang selama ini ia lakukan untuk menebus semua kesalahanya? Tidak ada. Meminta maaf pun tidak, selama ini ia hanya bersikap seenaknya kepada Ruby, berbuat kasar, tidak mau mengakui perbuatan nistanya, malah menuduh gadis baik itu hamil dengan lelaki lain. Busuk! Kalau ia mengingat semua sikapnya selama ini, seperti bukan dirinya.

Bugh! Tangan kekar itu meninju tembok disamping kirinya, meluapkan perasaan yang ia sendiri tak tau. Ia tau dirinya bersalah, tapi meminta maaf pada Ruby juga tidak akan mengubah apapun kan?

“Ruby… maaf,” sesalnya, melembutkan tatapannya. “Tapi aku sangat takut. Aku tidak siap…”

—***—

“Ruu…” Ibu cantik bersurai indigo itu mengusap lembut rambut menantu kesayanganya yang sedari tadi masih meringkuk, menangis atas perlakuan Aga tadi pagi.

“Kenapa Aga selalu jahat padaku, Ibu?” Isak Ruby, matanya terlihat membengkak karena sudah terlalu lama menangis. Pernyataan Aga tadi pagi begitu menusuk hatinya.

“Ruu…maafkan Aga,” seolah hanya itu yang bisa diucapkan wanita dengan rambut yang hampir selalu tergerai indah setiap hari. Sedangkan bagi Ruby, bagaimana ia bisa memaafkan seseorang yang telah menghancurkan hidupnya? Bahkan orang itu meminta maaf juga tidak, sampai sekarang dia juga tidak tau apa sebenarnya salahnya. Bagaimana dia harus memaafkan?

“Ruu…ayo makan dulu, Ibu tidak mau kau sakit,” ajak Lisna masih gigih membujuk Ruby untuk makan, karena sedari tadi pagi menantunya ini hanya makan sedikit.

“Aku tidak lapar Ibu,” jawabnya, matanya sembab meski ia telah menyeka airmatanya berkali-kali.

“Tapi makanlah sedikit untuk bayimu.”

“Ibu aku tidak mau!” sedikit mencicit Ruby menolak tawaran Lisna, Ibu cantik itu hanya menghela nafasnya mengetahui menantunya ini sedikit keras kepala, meski sikapnya sangat lembut.

Lisna benar-benar pusing meladeni Aga dan Ruby, semua keras kepala. Baginya ini seperti sedang mengasuh dua balita.

“Sayang…kau boleh minta apa saja, asalkan kau makan,” Lisna mengubah strateginya mulai merayu Ruby. Ia terbiasa menghadapi Aga yg sedikit manja, pasti ia juga bisa menaklukan Ruby.

Ruby melebarkan bulatan matanya “B-benarkah?” Ia memastikan.

Lisna tersenyum. “Iya, memangnya kau sedang ingin mempunyai apa?” tanyanya dengan sabar.

Mengusap airmatanya sendiri dengan punggung tanganya, lalu bergerak duduk dari posisi meringkuknya, “A-aku ingin…” ucapnya ragu.

“Katakan… selama itu bisa didapatkan, Ibu pasti berikan,” tentu saja, bagi keluarga Nugraha apa saja hampir bisa dikabulkan.

“Aku… aku semalam menonton Fashion-TV dan aku lihat banyak item pakaian dalam terbaru dari Victoria Secret yang sudah rilis disini, Ibu aku mau membelinya sekarang,” jelas Ruby mengutarakan keinginannya. Memang produk pakaian dalam itu adalah produk favoritnya dan Yuka, setiap produk itu rilis biasanya dia dan Yuka akan berburu langsung di mall.

“Victoria Secret? Baiklah, besok Ibu antar kau kesana ya?”

“Tapi ibu…” Ruby memasang wajah memelas.

“Kenapa lagi sayang?”

“Boleh tidak kalau sekarang saja kita mencarinya?”

“Umm… Ibu hari ini harus menemani Ayahmu makan malam bersama klien dari luar kota,” sesal Lisna. Padahal dia ingin sekali menemani menantunya itu berbelanja. Dia tidak tega melihat Ruby tampak kecewa seperti itu.

Untuk beberapa saat Lisna terdiam, lalu melebarkan matanya tampak senang. “Bagaimana kalau Aga saja yang membelikanmu pakaian dalam itu?” serunya.

“A-aga? Tapi Ibuuu dia kan-” pipinya bersemu merah mendengar niat dari Ibu dari suaminya itu. Bagaimana mungkin, itu sesuatu yang memalukan bukan?

“Sudahlah dia tidak akan menolak, percayalah.”

“Tapi aku malu Ibu…” rengeknya.

“Kenapa malu, dia suamimu. Ibu hanya perlu ukuranmu itu saja. Dan Aga akan membelikanmu sesuai apa kau inginkan.” Yah seperti biasa apa yang dikatakan Lisna hampir semua tak bisa dilawan dan ditolak.

—***—

“Aaarrghhh!” Aga mengacak rambut jabriknya, wajahnya ditekuk setelah menerima telepon dari Lisna beberapa menit yang lalu, kemudian memasukan smartphonenya kedalam saku kemejanya lagi.

“Kau kenapa lagi bodoh?” tanya pemuda berambut raven yang sedang merapikan buku-buku pelajaranya dimeja.

“Ibu memintaku mampir ke Victoria Secret, membeli pakaian dalam,” jawab Aga berdiri bersandar ditembok disamping pintu kelas, masih nampak kesal.

Sedangkan pemuda sedingin es itu menahan tawanya mendengar kalimat yang diucapkan Aga. “Turuti saja,” jawabnya enteng.

“Yang benar saja! Aku malu, apa kata dunia jika pemuda setampanku membeli pakaian dalam wanita?!” seru Aga dengan wajah konyol. Lagipula Ibunya itu kenapa menyuruhnya yang tidak-tidak.

“Hm memangnya kenapa?” timpal Arslan cuek, padahal dia ingin sekali menertawakan sahabat jabriknya yang kini tampak frustasi.

“Seorang pria tidak membeli pakaian dalam wanita kan?!” Aga menarik tanganya dan melipat didadanya, bersedekap.

“Pakaian dalam siapa? Bibi Lisna setauku tidak pernah menyuruhmu membeli hal yang aneh seperti itu? Kenapa tidak beli sendiri saja ya?”

“Wanita hamil itu yang meminta,” jawab Aga mengerucutkan bibirnya malas.

“Hn? Istrimu maksudnya?” timpalnya sambil mengancingkan tasnya kemudian menaruhnya diatas meja.

“Ah… anak angkat keluargaku lebih tepatnya!” jawab Aga masih kesal.

“Jangan begitu bodoh, dia kan istrimu.”

“Ahh…iya terserahlah” Aga mengalah, malas berdebat dengan Arslan. Pria yang dijuluki pangeran es oleh para gadis-gadis disekolahnya itu hanya akan membuatnya kesal karena mulutnya yang kadang suka seenaknya.

“Arslan? Apa kau percaya tentang keinginan yang harus dituruti saat wanita hamil?” tanya Aga sembari duduk didekat Arsalan dengan wajah serius.

“Maksudnya apa?” Arslan mengangkat sebelah alisnya melirik Aga tak mengerti.

“Ibu bilang Ruby sedang ngidam, dia ingin membeli pakaian dalam itu dan harus aku yang membelikanya bukan yang lain!” jelas Aga, masih dengan ekspresi yang serius. Padahal sudah jelas Ibunya berbohong, Ruby tidak memintanya.

“Ngidam? apa itu ngidam? aku belum pernah dengar istilah itu. Lalu apa masalahnya?” Arslan benar-benar tidak paham, tidak biasanya ia begitu penasaran.

“Ibu bilang jika tidak dituruti bayi Ruby akan cacat, Ibu tidak mau mempunyai cucu yang cacat begitu katanya,” Aga menjelaskan, sembari mengingat-ingat perkataan Lisna ditelepon tadi. Jelas Ibunya mengada-ada.

“Begitu ya? kalau begitu belikan saja, kau tidak mau kan anakmu cacat?” tanggap Arslan. Dia yang sedikit lebih cerdas tidak begitu percaya hal itu, tapi pasti Lisna punya maksud lain.

Aga menggulirkan iris sebiru langitnya keatas, tampak berfikir. “Ah aku tidak peduli!” kemudian diam sejenak dan wajahnya menyeringai ia berubah fikiran lagi. “Tapi… Arslan? kalau begitu ayo antarkan aku!” putusnya mengajak Arslan.

“Tidak mau!”

“Ayolah…”

“Sudah kubilang tidak mau bodoh!”

“Aaaahh…ayolah…” Aga menarik tangan Arslan begitu saja, meninggalkan ruang kelas mereka yang sudah sepi. Tentu saja dia tidak mau terlihat memalukan sendirian, mengajak pria sok keren seperti Arslan ide yang bagus bukan?

Seperti biasa walau Arslan selalu bersikap dingin dan acuh namun tidak pernah bisa menolak keinginan sahabat jabriknya itu.

—***—

“Aku pulang…”

“Sayang…kau sudah pulang?” Lisna menyambut Aga dengan senyumannya ketika mengetahui putranya membawa bungkusan ditangannya.

“Itu pasti Victoria Secret untuk menantu Ibu?” tebaknya sambil berjalan mendekati Aga yang wajahnya tak minat itu.

“Iya seperti yang Ibu minta” jawab Aga malas.

“Sekarang berikanlah pada Ruby,” pinta Ibunya dengan senyum tanpa beban. Apa-apaan Ibunya itu, mempermalukannya dicounter pakaian dalam wanita dan kini menyuruhnya memberikan benda itu keseorang wanita?

“Kenapa harus aku Ibu?! aku lelah mau istirahat.” Aga menolak, membuang mukanya protes pada wanita yang berdiri didepannya itu.

“Karena kau juga harus meminta maaf! atau tidak berangkat ke Singapura berlibur?!” ancam Lisna dengan wajah yang mengerikan.

“Heee?! iya iya baiklah..” kalau sudah dideathglare seperti itu, dirinya tak bisa menolak atau dirinya akan dikirim keneraka sekarang juga oleh Lisna. Dengan malas Aga meninggalkan Ibunya, berjalan menaiki tangga kelantai atas menemui Ruby, Lisna yang melihatnya hanya senyum-senyum iseng menatap punggung Aga.

Ketika tubuh tegapnya sudah berada didepan pintu berwarna putih berhandle indah, Aga ragu. Sebaiknya dia mengetuk pintu kemudian masuk atau langsung pergi kekamarnya saja untuk tidur, soal pakaian dalam ditangannya itu biar pelayan saja yang memberikannya pada Ruby. Tapi bagaimana jika Ibunya tau dan memarahinya lalu melarangnya berlibur ke Singapura?

Dengan pertimbangan semacam itu akhirnya Aga memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Ruby.

‘Tok…tok..tok…’

“Masuklah…tidak dikunci!” seru Ruby dari dalam kamarnya, tidak tahu siapa yang mengetuk pintunya dengan semudahnya ia mempersilahkan orang lain memasuki kamarnya. Mungkin Ibunya, mungkin pelayannya, begitu pikirnya karena hanya mereka yang sering menemui Ruby.

‘Greek…Kriiiieeeeett’

Pintu terbuka perlahan, saat terbuka lebar menampakan sesosok gadis, bukan! tapi wanita sedang menyisir rambut indahnya yang panjang didepan kaca riasnya.

Ruby menoleh. “Haaaa! mau apa kau!” kaget saat mengetahui siapa yang masuk kekamarnya.

Aga tergagap, mematung seperti pencuri yang ketahuan. “Ha-hanya mengantarkan ini,” jawabnya berusaha ketus sambil menyodorkan tas berisi pakaian dalam baru milik Ruby. “Kalau tidak mau ya sudah biar aku buang!” Aga berbalik berniat meninggalkan kamar Ruby.

“A-aku mau!” timpal Ruby dengan cepat, padahal dia sangat malu, tapi dia benar-benar menginginkan pakaian itu. Aga pun berbalik, berjalam mendekati Ruby lalu menyodorkan bungkusan tas kecil berwarna putih itu tanpa menatap mata Ruby.

Setelah tas kecil yang dibawa Aga berpindah tangan ditangan Ruby, Aga masih berdiri canggung didepan Ruby yang juga terlihat canggung.

“Kenapa masih disitu?!” Ruby memasang wajah jutek, “kau tidak akan memaksaku lagi kan?” selidik Ruby curiga.

“Tch! aku hanya ingin minta maaf!” seru Aga merasa tersinggung.

“Soal apa?”

“Soal tadi pagi, menuduhmu hamil dengan pria lain!”

“Oh itu…” tanggap Ruby berpura-pura tidak butuh.

“Iya…tapi itu bukan berarti aku menerima anak yang kau kandung!” lanjut Aga menatap Ruby serius.

“Terserah! aku juga tidak peduli pada bayi ini! dari awal kan memang Ibumu saja yang memaksaku!” jawab Ruby kesal. Aga selalu membuatnya kesal!

“Terserahlah, sebaiknya kita jangan sering bertengkar. Aku tidak mau tinggal diapartemen berdua denganmu!” lanjut Aga memperingatkan wanita yang menatapnya dengan benci itu.

“Apa lagi aku, aku tidak mau tinggal berdua dengan sampah!” balas Ruby semakin kesal.

“Kau bilang apa?!”

“Sampah!”

“Aku baru saja meminta maaf, kau malah mencari gara-gara!” wajah tampan yang sudah terlihat lelah Aga memerah, sedikit terusik oleh kata-kata yang menurutnya tidak menyenangkan dari Ruby.

“Aku hanya bicara sampah! kenapa kau sangat sensitif?” Menghadap cermin dan mengacuhkan Aga yang masih berdiri disampingnya.

“Siapa yang kau bilang sampah?”

“Tidak ada! dasar jabrik bodoh!” cicit Ruby mengerucutkan bibirnya yang lucu.

“Kau bilang aku jabrik bodoh?!” geram Aga memanas. “Lihat saja ya anak yang kau lahirkan nanti! biar saja dia mirip denganku! jabrik bodoh!” lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk perut Ruby.

“Tidak! aku tidak mau punya anak sepertimu! dasar Nanas!” Ruby marah, menatap benci Aga dari pantulan cermin rias didepannya.

“Hah! kau lihat saja anakmu sudah aku kutuk!”

“Kau ini bicara apa! Pergiiii kau Aga bodoh!” Ruby berdiri lalu mendorong tubuh kekar Aga dengan tanganya.

“Aku tidak mau! aku belum selesai bicara padamu!”

“Pergiiii! dasar Nanas!” dorong Ruby sekuat tenaga, membuat tubuh Aga bergeser mendekati pintu kamar.

“Richi yang nanas bukan aku!” bantah Aga mengingat teman sekelas Ruby yang rambutnya keriting dan dikuncir seperti nanas.

“Pergi…!” tidak mau mendengar Ruby berhasil mendorong tubuh Aga keluar kamarnya.

‘BLAAAM!’

Pintu berhasil ditutup.

“Dasar wanita aneh! tidak tau berterima kasih.” Menggerutu dan berjalan kekamar sebelah. Membuka knop pintunya dan masuk kedalam kamar pribadinya yang memang bersebelahan dengan Ruby.

Sementara didalam kamar Ruby, wanita itu sedang berdiri dibalik pintu, dadanya berdegup kencang. Entah kenapa Aga itu sangat menyebalkan, tapi setiap bertemu dengannya ia merasakan hal yang menyebalkan tapi juga menggelitik perasaanya.

Iris emeraldnya melirik tas belanjaan berisi pakaian dalamnya, pakaian dalam yang dibelikan Aga suami yang sangat menyebalkan baginya. Dengan segera Ruby mengambil benda itu, membukanya dan merentangkan pakaian dalam yang dipesannya.

Bra berwarna biru langit berenda putih disetengah cup-nya itu tampak indah, celana dalam G-string yang senada bermerk Victoria Secret kesukaannya. Meski yang dibeli Aga tidak sama persis seperti yang dimintanya tapi Ruby cukup bahagia bisa mendapatkan salah satu seri terbatas dari koleksi merk pakaian dalam premium itu.

“Ummhh…” tersenyum tipis saat membayangkan Aga yang tinggi gengsi itu membeli pakaian dalam. Pasti ibu-ibu atau wanita-wanita muda yang berada ditoko itu mentertawakanya.

“Ini seperti mengerjai Aga, biarkan saja.” Ruby mengulum senyumnya, ide Ibu mertuanya bagus juga.

—***—

3 bulan kemudin….

Masih teringat perkataan Lisna tiga bulan yang lalu, Aga harus menuruti apa yang Ruby minta saat Ruby ngidam. Dan selama itu juga Ruby seperti berkesempatan mengerjai Aga, walau tak setimpal tapi cukuplah sebagai sedikit tindakan pertanggungjawaban Aga atas perbuatanya.

Sudah banyak yang Ruby minta termasuk hal-hal yang tidak masuk akal. Saat itu Ruby ingin makan semangka berbentuk hati, dan saat itu pula dengan ancaman Ibunya Aga berjuang mati-matian mencari buah tak lazim itu. Tentunya tanpa bantuan dari anak buah ayahnya, karena Julian melarang mereka membantu Aga.

Ada lagi saat Ruby menonton sinema ditelevisi yang menampilkan cerita tentang siluman kera bernama Sun go kong, saat itu kera sakti sedang memakan buah berwarna merah kekuningan, saat itu pula Ruby meminta dibelikan buah Sun go kong dan semua orang dirumah tidak tau apa yang disebut buah Sun go kong.

Ruby menangis seharian karena keinginannya tidak terpenuhi, Lisna juga kebingungan dan memerintahkan Aga untuk mencarikan buah Sun go kong.

Susah payah Aga mencari semua episode dari sinema dari negeri tirai bambu itu, dibantu Arslan yang juga mulai kesal karena tak juga ia temukan episode mana yang menampilkan buah misterius tersebut.

Sampai pada akhirnya Julian mengutus anak buahnya untuk pergi kestasiun TV yang menayangkan acara kolosal Sun go kong dan memintanya untuk mencarikan episode berapa yang ditonton Ruby pada hari itu.

Setelah berhasil mendapatkan episode yang Ruby tonton, akhirnya Aga tau itu buah apa. Itu hanyalah buah Peach, tapi sayangnya saat itu sedang tidak musim. Terpaksa Aga harus mencarinya keseluruh pelosok, saat Aga berhasil menemukan buah itu dan diberikan pada Ruby, ternyata Ruby hanya mau mencium aromanya saja. Seketika Aga pingsan dan dilarikan kekamarnya.

Penderitaan Aga masih berlanjut, saat Yuka menceritakan pengalamannya saat berlibur ke pulai bali dan memamerkan foto-fotonya saat dipantai, saat itu Ruby juga mengutarakan keinginannya untuk membeli dress pantai khas bali.

Sedikit beruntung karena di mall banyak dress pantai semacam itu, dengan mudah Aga mendapatkannya karena bantuan Yuka. Tapi sialnya saat Aga memberikan dress pesanan Ruby, gadis itu malah meminta Aga memakai pakaian itu.

Menangis tersedu-sedu saat Aga menolak, tentu saja Lisna tak akan membiarkan menantunya yang paling dia sayang menangis seperti itu.

Dengan sedikit ancaman dari Lisna, Aga dengan berat hati memakai pakaian itu dan memamerkannya pada Ruby dan Lisna.

Arslan yang juga berada disana tertawa terbahak-bahak melihat sahabat jabriknya itu memakai daster perempuan dengan wajah masamnya. Sebenarnya adalah pantangan terbesar bagi keturunan Dermawan yang terkenal dingin tertawa seperti itu, tapi melihat Aga dia tak dapat menahan tawanya.

Sedangkan Ruby tampak berbinar-binar melihat suaminya memakai daster itu.

Penderitaan Aga belum berakhir hanya sampai situ. Seperti malam ini, disaat semua sudah terlelap dalam tidurnya wanita yang perutnya kini sudah sedikit membesar malah berguling kekanan dan kekiri, tidak bisa tidur. Ingin memakan sesuatu, sate ayam bumbu kecap.

“Haaaah…tidak boleh sekarang, besok saja!” gumamnya pada diri sendiri, kemudian menutup wajahnya dengan bantal.

“Tapi aku ingin makan sekarang…” rengeknya manja. Diliriknya jam dimeja lampu dekat ranjangnya, sudah menunjukan pukul 23.12.

“Aga pasti sudah tidur,” Ruby beranjak dari tidurnya berjalan membuka pintu dan keluar kamar, melangkahkan kakinya kekamar Aga yang ada disamping kamarnya.

‘Tok…tok..tok…’

Ruby mengetuk pintu Aga tapi tak dijawab, lalu mengetuknya lagi lebih keras. Tapi nyatanya suara ketukan pintu tak membuat Aga bergerak sedikitpun.

Aga menunggunya beberapa saat, tetapi sang pemilik kamar tak bergeming.

“Aga… bangunlah!” Lelah menunggu akhirnya Ruby mencoba membuka pintu kamar Aga.

‘Kriieeet…’

“Tidak terkunci?” gumamnya saat pintu berwarna putih itu terbuka. Ruby memutuskan untuk berjalan berlahan mendekati Aga. Saat berada disamping ranjang Aga, Ruby melihat pemuda itu sedang tidur memeluk guling berwarna orange senada dengan spreinya. Walau lampu hanya bersinar temaram cukup membuat wajah tampan Aga terlihat dalam keremangan.

Tangan mungil Ruby perlahan menyentuh pundak Aga yang naik turun teratur seiring dengan nafasnya, menggoyangkan pelan tubuh suaminya yang beberapa bulan lalu tidak ingin ia temui. Lalu? apakah saat ini Ruby sudah tidak membenci Aga? Semua bisa berubah. Pernah dengar istilah ‘Tumbuhnya cinta karena terbiasa?’

Ah tapi diantara mereka tidak pernah ada tanda-tanda cinta. Ruby mau menemui Aga hanya karena pria itu yang bertugas menuruti kemauannya, itu saja tidak lebih.

“Aga…hei Aga…bangunlah”

“Nggh…” Menepis tangan yang menggoyang-goyangkan tubuhnya dan kembali terlelap.

“Tch! dasar pemalas! bangun Aga! bangun!” Ruby menggoyangkan tubuh Aga dengan kasar, sementara Aga hanya menggeliat malas.

“Ngg…apa lagi Ruu?” Namun matanya masih terpejam, ‘Ruby? sejak kapan Ruby berani masuk kedalam kamarnya? ah pasti hanya mimpi’. Membuka iris safirnya dengan perlahan, dan ia dapati wanita yang beberapa bulan ini menyusahkanya berjongkok sedekat ini wajahnya.

“Haa! mau apa kau!” Aga berjingkat kaget, ternyata suara yang memanggilnya tadi nyata.

“Maaf Aga…” memainkan kedua telujuknya didepan dada, wajahnya memerah gugup melihat Aga yang ternyata bertelanjang dada. Mengekspose tubuh seksinya.

“Mau apa kau ke kamarku malam-malam begini?” tanya Aga belum pulih betul kesadarannya.

“A-aku…aku ingin makan sate ayam…” jawabnya malu-malu dan penuh nada manja.

“Apa?! ini sudah malam dan kau ingin makan, aku tidak akan menurutimu!” tolaknya tegas.

“Memangnya kenapa? kau lupa pesan Ibu? aku akan mengadukanmu padanya!” berbalik berniat meninggalkan Aga.

“Mau kemana?” menarik tangan Ruby untuk tetap tinggal, “jangan suka mengadu yang tidak-tidak pada pada Ibu!”

“Tidak jika kau menurutiku!”

“Baiklah…baiklaah.. aku akan pergi tapi berhubung ini sudah malam, ada syaratnya!” Aga menyeringai, sementara Ruby merasakan firasat yang buruk.

“A-apa?!” tanya Ruby galak.

“Cium aku,” jawab Aga santai.

“Dasar kau mesum!” Ruby memukul bahu Aga dengan tanganya.

“Hanya cium…”

“Tidak mau!” wajah putih Ruby memerah, walau tidak terlihat tetapi Aga menyadarinya.

“Hahahaha… kenapa kau malu begitu, aku hanya bercanda,” terkekeh melihat tingkah Ruby salah tingkah.

“Menyebalkan!” Ruby mengerucutkan bibirnya menutupi rasa malunya digoda Aga.

“Baiklah baiklah…aku berangkat. Tapi aku tidak menjamin selarut ini masih ada penjual sate.” Aga bergegas turun dari tempat tidurnya, mengambil kaos putih yang tergeletak diranjang dan memakainya.

“A-aga…” lirihnya pelan.

“Apa lagi? dasar merepotkan!”

“Pastikan penjualnya berkumis dan botak!”

“Permintaan macam apa itu Ruu?!”

“Ayolah, aku ingin makan sate seperti itu, yang penjualnya berkumis tebal dan botak!” terang Ruby dengan wajah khasnya yang imut, tapi itu sama sekali tidak menolong. Tetap saja Aga sebal padanya, merepotkan!

“Kalau tidak ada bagaimana, ha?!”

“Aku tidak mau tau kau harus mencari penjual yang seperti itu! Berkumis tebal dan kepalanya botak!”

“BUNUH SAJA AKU RUU!”

—***—

4 bulan kemudian

Tinggal selama tujuh bulan bersama keluarga Nugraha tidak buruk juga bagi Ruby yang mulai terbiasa dengan lingkungan keluarga barunya. Semua penghuni rumah mewah itu ramah dan hangat, maid dan pengawal pribadi keluarga kaya itu juga semua baik pada Ruby. Apalagi Lisna dan Julian sangat perhatian dan menyayanginya.

Jikapun ada alasan Ruby tidak betah tinggal bersama keluarga Nugraha ya hanyalah karena Aga yang sering mengganggunya. Namun semua itu tidak lagi menjadi masalah besar bagi Ruby, karena dengan senang hati Lisna akan menghajar dan memarahi Aga karena mengganggunya.

Ruby sendiri lebih senang jika Aga tinggal di Apartemenya, itu artinya ia tidak perlu mengalami hal-hal aneh karena perbuatan Aga.

Seperti kemarin-kemarin saat Ruby hamil muda, Aga memilih tinggal di Apartemen. Apalagi kalau bukan menghindari keanehan ngidam Ruby yang membuat kepalanya pusing.

Tapi sudah tiga bulan ini Aga lebih senang tinggal dirumahnya, tentu saja karena Ruby sudah hamil 8 bulan dan otomatis masa-masa ngidamnya juga sudah berlalu. Kehadiran Aga itu malah membuat Ruby selalu sebal.

Pagi itu dimeja sarapan yang sudah penuh dengan beberapa gelas susu, air putih dan buah, Ruby yang perutnya sudah mulai membesar sedang menyiapkan sarapan. Dengan daster besar dan tubuh yang sedikit gemuk ia mengolesi roti dengan berbagai macam selai lalu menyiapkanya disebuah piring besar. Wajahnya semakin cantik kalau dilihat-lihat dengan penampilan yang seperti itu, rambut panjang dan poni depannya juga masih dipertahankan. Sangat manis.

Keluarga Nugraha memang lebih suka menyiapkan masakan sendiri dari pada disiapkan maid, karena menurutnya jika semua disiapkan maid keindahan menjadi sebuah keluarga itu tidak terasa, maka dari itu Lisna juga mengajarkan Ruby untuk menyiapkan sarapan dan mengurus suami secara mandiri.

Sedang asik mengolesi roti tawar dengan selai mata indah Ruby melirik kesamping, saat suara langkah seseorang menuruni tangga. Memutar kembali manik emeraldnya memperhatikan rotinya, tidak tertarik menyapa pemilik langkah yang ternyata adalah Aga suaminya.

“Hei gendut,” sapa pria berkulit putih khas asia yang sudah berdiri disampingnya. “Aku mau roti isi nanas,” kemudian duduk dikursi makanya, aroma citrus menguar dari tubuhnya dan menyapa hidung bangir Ruby.

Ruby melirik malas kearah suaminya yang ternyata sudah berseragam sekolah rapi. “Jangan panggil aku gendut!” Ruby membentak. “Dan hari ini tidak ada selai Nanas! habis!” jawab Ruby ketus, ia tidak suka dipanggil gendut.

Lisna yang sedang memanaskan daging cincang didapur hanya menggeleng mendengar menantu dan anaknya kembali ribut saat bertemu.

Aga mengambil roti yang sudah diolesi selai cokelat dan memakanya. “Nyam…” memakan dengan lahap roti buatan Ruby, lagi-lagi Ruby melirik sinis.

“Rasanya aneh, selai apa ini?” pancing Aga, padahal dia tau itu selai cokelat. Entah kenapa membuat Ruby marah itu menyenangkan.

“Kalau rasanya aneh kenapa kau habiskan! dasar menyebalkan!”

“Hehehe…jangan marah, nanti badanmu bertambah gendut,” timpal Aga, membuat Ruby mendelikan matanya.

“Kau selalu memanggilku gendut! Bodoh!” balas Ruby emosi, ingin sekali menyumpal mulut Aga dengan roti yang dibawanya.

“Hei…kenapa kau jadi ikut-ikutan Arslan playboy busuk memanggilku Bodoh?”

“Karena kau memang Bodoh! apa?! kau tidak terima aku memanggilmu dengan panggilan sayang kalian?”

“Panggilan sayang? apa maksudnya?” Aga menautkan kedua alisnya tak mengerti.

“Iya kau dan Arslan kan pacaran!” tegas Ruby.

“Enak saja, aku masih tertarik pada perempuan!”

“Menjijikan dasar gay!” Ruby tak berhenti mengatai Aga.

“Kalau aku gay, kau tidak akan hamil!”

‘Blush..’

Wajah Ruby memerah tak bisa lagi membalas Aga, sedangkan Aga sendiri juga langsung terdiam menyadari perkataannya.

“Hei..hei..kalian hentikan, jangan bertengkar terus. Kalian kan sebentar lagi akan menjadi orang tua, dan Aga hari ini terakhirmu kesekolah kan?” Ibu bersurai lurus tergerai sepinggul yang masih kencang itu sudah berada diantara mereka, meletakan piring berisi daging cincang yang sudah dibumbui merica dan saus sambal beraroma gurih pedas, kemudian duduk disamping anaknya.

“Iya, dan besok adalah pesta kelulusan,” Aga menggigit lagi roti keduanya.

“Oh ya, mungkin sebentar lagi Ruby juga akan melahirkan. Tahun ini tahun keberuntunganmu ya Aga sayang.” Lisna tersenyum mengusap kepala landak anaknya yang menekuk wajahnya.

“Jadi sebentar lagi dirumah ini akan ada seorang bayi ya, ah pasti berisik!” timpal Aga sambil mengunyah roti ketiganya. Ruby meliriknya tidak suka.

“Hehehem…pasti akan menyenangkan…” balas Lisna tersenyum bahagia. Ia benar-benar tidak sabar menanti kehadiran cucu pertamanya itu.

Lamborghini Gallardo LP 550-2 berwarna silver tengah melaju menerjang derasnya hujan disore itu. Jalanan tampak lenggang karena hujan yang turun sejak siang membuat beberapa orang malas berada dijalanan untuk sekedar berjalan-jalan atau menghabiskan waktu santai bersama orang-orang terdekat, jam pulang kantor juga sudah lewat beberapa jam yang lalu jadi jalanan sangat mulus untuk memacu kencang mobil mewah bekas pakai Ayahnya itu.

Mobil mewah itu tampak dikemudikan oleh seorang pemuda tampan berambut jabrik, yah meski Ayahnya sanggup membelikan apapun untuknya tapi sepertinya hanya untuk merapikan rambut anaknya itu Ayahnya sangat kesulitan. Bukan karena tak mau, tapi bagi Aga memang rambut yang susah diatur itu membuatnya tampak lebih keren, paling tidak itulah yang dikatakan gadis-gadis disekolahnya dulu.

Setelah beberapa saat kemudian dengan tampang yang agak masam, ia membawa mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar dan termewah di Ibu kota itu. Untung saja wajahnya yang tampan itu menyelamatknnya, jadi mau masam seperti apapun tetaplah dia terlihat begitu menawan.

Iya Lisna memaksanya menjemput Ruby yang sedang berbelanja disana, padahal pemuda itu kan sedang mencoba game terbaru yang baru saja dibelinya. Kesal karena selalu saja gara-gara Ruby dirinya harus meninggalkan sejenak kegiatan kesukaannya. Terlambat tidak ya kalau dirinya memilih dipenjara saja daripada harus menuruti semua kemauan orang tuanya? Toh dipenjara dia bisa kan diperlakukan istimewa seperti kalangan atas lainnya?

Aga memelankan laju mobil mewahnya saat tiba didepan pusat perbelanjaan. Berhenti tepat didepan seorang wanita yang telah berdiri lama dengan baju hamil berwarna merah muda, sedang memegangi perutnya yang besar dan membawa beberapa tas belanjaan.

Wanita itu tampak terkejut kemudian mengerucutkan bibirnya mengetahui siapa yang menjemputnya. Padahal Lisna ibu mertuanya kan mengatakan bahwa driver dan dirinya sendiri yang akan menjemputnya, bukan Aga.

“Kau pulang tidak?!” seru Aga dari dalam mobil setelah membuka kaca disisi kirinya, hujan yang dikatakan sudah tidak terlalu lebat masih terus turun saat itu.

“Kenapa kau yang menjemputku?!” tanyanya ketus dengan wajah yang tak kalah ketus.

Aga turun dari mobilnya membawa payung yang dibawanya dari rumah, kemudian menghampiri Ruby yang memandangnya seperti ingin menerkam. “Ibu ada acara bersama teman-temannya, kalau menjemputmu dia akan terlambat. Sekarang terserah kau saja mau pulang bersamaku tidak?!” jawab Aga tegas, mengimbangi Ruby yang selalu berbicara dengan nada kasar padanya.

Ruby melengos menggigit bibirnya bingung, tentu saja dia tidak mau satu mobil dengan Aga berduaan saja. Bisa-bisa dia diperkosa lagi oleh lelaki jabrik busuk sepertinya. Tapi kalau menolak dia akan pulang naik apa.

“Kalau tidak mau ya sudah!” ucap Aga cuek menyadari Ruby menolaknya.

Ruby melirik tajam suami yang tak dicintainya itu,

ÔÇ£Apa? Kenapa kau melirikku seperti itu??!ÔÇØ protes Aga yang ditatap tajam Ruby. ÔÇ£Kalau tidak mau yasudah aku pulang! Merepotkan sekali!ÔÇØ sedikit emosi melihat Ruby yang hanya diam sambil menatapnya seperti itu, kadang dia tidak mengerti kenapa wanita begitu rumit. Kalau tidak mau kan tinggal bilang.

ÔÇ£Kenapa kau selalu membentakku?!ÔÇØ teriak Ruby memejamkan matanya seperti biasa kalau dia sedang kesal, kadang hal konyol nan imut yang Ruby ciptakan semacam itu membuat Aga gemas untuk mencubitnya.

ÔÇ£Jangan berteriak seperti itu kau dilihat banyak orang!ÔÇØ protes Aga melirik sekelilingnya beberapa orang yang lewat sedang melihat kearah mereka.

ÔÇ£Aku tidak peduli!ÔÇØ

ÔÇ£Kalau begitu ya sudah aku pulang saja!ÔÇØ Aga berbalik dengan payungnya, berjalan meninggalkan Ruby di depan Mall yang menatapnya sebal bahkan sangat sebal, Aga tau itu.

ÔÇ£Terserah kau saja! Kau pikir aku tidak bisa pulang sendiri?!ÔÇØ timpal Ruby saat Aga masuk kedalam mobilnya dan menyalakan mesin. Kemudian dirinya juga pergi dari tempat itu dan menerjang hujan, tidak peduli bajunya basah atau apa. Ruby kesal pada pria itu, entah kenapa Aga itu makhluk yang sangat menyebalkan baginya. Tidak peka! Kenapa Aga tidak memaksanya, wanita kadang suka dipaksa? Kalau begini dia harus hujan-hujanan kan.

Aga melihat Ruby dari dalam mobilnya, memijat kepalanya yang berdenyut pusing, kalau dia membiarkan Ruby pulang dengan keadaan seperti itu dan naik taksi bisa-bisa hidupnya berakhir karena dikirim Ibunya keplanet lain. ÔÇ£Shit!ÔÇØ dengan berat hati Aga membuka pintu mobilnya kembali dan berlari menjemput Ruby, lupakan soal payung, Aga berlari semakin cepat dibawah hujan yang mulai membasahi tubuhnya karena Ruby berhasil mendapatkan taksi yang ternyata sedang stand by diseputaran Mall itu.

Menyahut pergelangan tangan Ruby dan mencegahnya memasuki taksinya begitu sampai. ÔÇ£Pulang bersamaku!ÔÇØ ucapnya. Permintaan bernada perintah itu membuat Ruby menghentikan langkahnya.

ÔÇ£Lepaskan aku, aku sudah dapat taksinya!ÔÇØ balas Ruby ketus.

Aga merogoh celananya mengeluarkan dompet berwarna hitam dan mengambil beberapa lembar uang kertas, kemudian menyodorkan uang itu ke supir taksi yang akan Ruby tumpangi. ÔÇØKurasa ini cukup, tinggalkan kami. Dia pulang bersamaku,ÔÇØ ucap Aga kepada pria dibalik kursi kemudi itu, tentu saja disambut dengan senang hati, sedangkan kening Ruby berkedut tak mengerti. Tanpa menunggu lebih lama taksi berwarna biru laut itu pergi meninggalkan Aga dan Ruby, anggap saja hari ini adalah hari keberuntungan supir taksi itu, mendapatkan uang yang mungkin cukup untuk setorannya hari ini.

ÔÇ£Kenapa?!ÔÇØ Ruby menghempaskan tangan Aga yang mencengkeram pergelangannya.

ÔÇ£Ayo pulang, aku tidak mau ibu marah karena tidak menjemputmu!ÔÇØ

ÔÇ£Aku akan jamin Ibu tidak marah, aku tidak mau pulang bersamamu!ÔÇØ

ÔÇ£Cerewet!ÔÇØ Aga mencengkeram pergelangan tangan Ruby kemudian menariknya dengan kasar menuju mobilnya.

ÔÇ£Sakit! Lepas!ÔÇØ

ÔÇ£Tidak akan sakit kalau kau diam dan menurutiku!ÔÇØ

ÔÇ£Pelan sedikit!ÔÇØ

ÔÇ£Baiklah… sekarang masuklah, kau basah nanti masuk angin,ÔÇØ perintah Aga saat mereka telah sampai didepan mobil Aga.

Dengan wajah yang tertekuk kesal, Ruby terpaksa masuk kedalam mobil mewah itu dan duduk disamping kursi kemudi, tak lama kemudian Aga yang menyusul dan menyalakan mesinnya kemudian membawa mobilnya pergi dari area pusat perbelanjaan.

Tidak ada obrolan yang tercipta diantara keduanya, mereka saling diam tak berniat sedikitpun untuk memulai suatu pembicaraan. Hanya berharap cepat sampai rumah dan berpisah, tapi keadaan seperti itu malah membuat waktu seakan tak berputar.

Aga melirik sebentar wanita disamping kirinya, baju dan rambut panjangnya basah. Bibirnya kebiruan dan sedikit menggigil, Aga tau meski ruangan didalam mobil gelap karena lampu jalan cukup menerangi. Sedikit tak tega melihatnya seperti itu, meski wanita disampingnya ini sangat menyebalkan tapi membiarkan wanita hamil kedinginan juga membuatnya sedikit kasihan.

ÔÇ£Kita mampir ke Apartemenku,ÔÇØ ucap Aga memutuskan. Hal itu membuat Ruby membulatkan bibir kebiruannya tak percaya.

ÔÇ£Ma-mau apa? Jangan macam-macam!ÔÇØ Ruby gugup sekaligus ketakutan, seketika pikirannya terlempar kemasa lalu yang membuatnya berada dirumah Nugraha sampai hari ini.

ÔÇ£Hn! Aku tidak tertarik dengan wanita hamil, apalagi denganmu! Aku hanya ingin kau mengganti pakaianmu itu saja!ÔÇØ seru Aga memastikan dan menegaskan. Lagipula dirinya juga tidak akan melakukan hal bodoh untuk yang kedua kalinya.

ÔÇ£Aku tidak mau!ÔÇØ jawab Ruby tegas.

ÔÇ£Yasudah kalau begitu kau tunggu aku dimobil, aku akan mengganti pakaianku sebentar di Apartmen,ÔÇØ tanpa menunggu persetujuan dari Ruby, Aga memutar mobilnya mengambil jalan pintas untuk ke Apartemennya dan hanya ditanggapi Ruby dengan mendelikkan mata hijaunya.

Setelah beberapa saat kemudian Aga sampai diparkiran Apartemennya, gedung mewah menjulang tinggi dengan keamanan yang sangat ketat. Hanya orang-orang tertentu saja yang dapat menempati dan memilikinya.

Aga sengaja memarkirkan mobilnya diluar karena niatnya hanya sebentar. ÔÇ£Aku tinggal sebentar ya, hati-hati. Jangan membuka jendela, karena kabar yang beredar disini ada hantu wanita yang dulu terjun dari lantai tujuh bergentayangan meneror orang-orang disekitar parkiran ini,ÔÇØ terang Aga berbohong menakut-nakuti Ruby yang mengelus-elus perutnya. Dia berharap Ruby takut dan ikut masuk ke Apartemennya, bukan apa-apa Aga hanya ingin Ruby mengganti pakaiannya, tidak mau Ibunya marah melihat menantu kesayangannya ini pulang dengan baju yang basah.

ÔÇ£Kau fikir aku takut?ÔÇØ jawab Ruby tanpa menatap Aga disampingnya. Sedangkan pemuda beralis tebal dan menawan itu tersenyum seakan berkata ÔÇÿsial aku gagalÔÇÖ.

ÔÇ£Iya sudah, hati-hati ya.ÔÇØ Aga membuka pintu mobilnya dan beranjak pergi, Ruby meliriknya kemudian matanya menyapu pandang keadaan sekitar. Lumayan gelap karena Aga mengambil tempat parkir yang agak pinggir pojok, ada pos satpam disebelah kanan tapi cukup jauh dari mobil Aga hal itu membuat Ruby ngeri dengan sendirinya.

ÔÇ£Tu-tunggu!ÔÇØ seru Ruby menghentikan Aga yang melangkahkan kakinya pergi. Pemuda itu menoleh, dengan malu-malu Ruby berkata. ÔÇ£Aku ikut! aku mau ke kamar mandi!ÔÇØ lanjutnya, berbohong untuk menutupi rasa malunya.

Aga menyeringai menang, apapun itu nyatanya Ruby mau mampir Apartemennya. Tanpa menjawab Aga menunggui Ruby berjalan kearahnya, masih dengan wajahnya yang hampir selalu cemberut saat bertemu Aga. Tidak menolong meskipun Aga semakin tampan dengan rambut yang basah seperti itu.

Ruby berjalan dibelakang Aga, dengan pakaian yang basah dan bibir yang membiru. Benar-benar dingin, kalau tidak berganti pakaian bisa-bisa dirinya masuk angin. ÔÇ£Cepat sedikit,ÔÇØ protes Aga saat dirasakannya Ruby semakin tertinggal dibelakang sana.

ÔÇ£Aku sedang berusaha! Perutku kan berat!ÔÇØ jawab Ruby tak mau kalah. Susah payah ia berjalan sambil memegangi pinggangnya, perutnya yang membesar itu memaksa pinggangnya untuk terus melengkung kedepan membuat pinggangnya begitu nyeri.

Aga berhenti dan menoleh kebelakang, kemudian menghampirinya. Tidak tega juga melihat Ruby tampak begitu tersiksa dengan keadaannya, semua itu gara-gara dia kan? ÔÇ£Ayo aku bantu,ÔÇØ ucapnya memegang kedua pundak Ruby. Awalnya ingin Ruby tolak, tapi bagaimanapun ia butuh Aga untuk menemaninya berjalan bagai keong.

Mereka berjalan beriringan, beberapa orang yang berpapasan dengan Aga tak jarang menanyainya tentang keadaannya yang basah kuyup, ditambah seorang wanita yang hamil sedang bersamanya. Aga hanya tersenyum dengan cengiran khasnya menanggapi mereka tanpa menjawab, sedikit membuat Ruby tersinggung atas perlakuannya, bagaimana bisa Aga tidak menjawab saja kalau dia itu istrinya. Memangnya Ruby jelek ya sampai-sampai Aga tidak mau mengakuinya? Meskipun hamil Ruby tetap cantik, tetap modis dengan baju rancangan disainer Lisna. Memang Aga itu sangat menyebalkan!

Ruby menggelengkan kepalanya cepat, apa yang dipikirkannya barusan? Ingin diakui Aga sebagai istrinya? Yang benar saja, bahkan dirinya sendiri sangat membenci Aga tidak sudi menikah dengan pria disampingnya ini. Gerakkan aneh Ruby tak disadarinya diperhatikan Aga, ÔÇ£Kau ini kenapa? Menggeleng seperti itu, gila ya?ÔÇØ ejek Aga santai membuat Ruby kaget.

ÔÇ£Tidak apa-apa!ÔÇØ Ruby salah tingkah dan Aga hanya sweatdrop melihatnya.

Kemudian keduanya melangkah memasuki lift, setelah Aga menekan tombol angka 10 lift naik, mereka hanya berdiam diri selama beberapa menit didalam sana. Tak lama kemudian pintu terbuka, mereka berdua berpapasan dengan wanita cantik berpakaian sexy yang ternyata tersenyum pada Aga.

ÔÇ£Nugraha?ÔÇØ sapanya dengan gesture tubuh yang sedikit menggoda.

ÔÇ£E-e kau Evelyn?ÔÇØ Aga tampak mengingat-ingat.

ÔÇ£Ya… ini aku,ÔÇØ jawabnya, tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya mengundang Aga untuk memeluknya.

Rentangan kedua tangan gadis berkulit putih itu disambut Aga dengan senang hati, ÔÇ£Eve… kau pulang kapan?ÔÇØ peluk Aga dengan hangat. Keduanya berpelukan saling menghirup aroma parfum masing-masing, sementara Ruby yang menyaksikan pemandangan itu hanya melongo tak percaya. Entah kenapa melihat Aga memeluk gadis itu membuat dirinya tidak suka, semakin sebal dan ingin sekali memukul Aga. Dasar genit, mesum dan tidak tau malu! Umpat Ruby dalam hati.

ÔÇ£Umm… aku baru dua hari, dan kau basah?ÔÇØ jawab Evelyn melepaskan pelukannya. Wajahnya sangat cantik, bibirnya merah basah, rambutnya lurus dan sengaja dibuat ikal diujung-ujungnya.

ÔÇ£Hahaha… maaf aku kehujanan,ÔÇØ Aga menjawabnya tak enak, dia bersemangat sekali bertemu dengan sahabatnya sewaktu SMP itu.

ÔÇ£Oh oke tidak masalah, um lalu siapa wanita yang bersamamu?ÔÇØ tanya Evelyn tersenyum pada Ruby yang tampak berantakan dengan rambut basahnya.

ÔÇ£Oh… dia… dia istri temanku,ÔÇØ jawab Aga ragu. Dan hal itu membuat Ruby membulatkan kedua emeraldnya.

Entah kenapa pernyataan Aga itu membuat hatinya terasa begitu sakit, memang Ruby tidak pernah mencintai Aga, tapi tetap saja itu menyakitkan.

ÔÇ£Oh jadi hanya istri dari temanmu ya?ÔÇØ tatapan lega dari kedua mata cokelat Evelyn tampak begitu nyata.

ÔÇ£Haha…iya begitulah,ÔÇØ jawab Aga melirik Ruby yang mulai berkaca-kaca menahan lelehan air matanya. Ada tanya didalam dada Aga tentang hal itu.

ÔÇ£Oh iya, aku ada janji makan malam bersama teman-teman bagaimana kalau kau menemaniku?ÔÇØ usul Evelyn dengan bersemangat.

ÔÇ£Eeee… aku sangat ingin tapi…ÔÇØ

ÔÇ£Ayolah….ÔÇØ kelemahan bagi seorang pria itu apabila seorang wanita sudah merengek padanya, Evelyn tau betul itu. Dan Ruby tau Aga tidak akan menolak wanita itu.

ÔÇ£Maaf sepertinya tasku ketinggalan,ÔÇØ Ruby begitu saja pergi meninggalkan kedua orang sahabat yang sedang mengobrol disana, tangisnya tak dapat lagi ditahan. Dia tidak suka wanita itu, dia tidak suka melihat Aga tertawa seperti itu, dia tidak suka melihat keduanya! Tidak suka! Tidak suka! Tidak suka!

ÔÇ£Emh Eve maaf aku harus pergi,ÔÇØ ujar Aga gelisah, kemudian mengejar Ruby dan mengabaikan Evelyn yang masih ingin mengajaknya bicara.

ÔÇ£Hei tapi? Aga!ÔÇØ berusaha menghentikan Aga, tapi ternyata pemuda itu lebih memilih mengejar Ruby.

ÔÇ£Ruu tunggu! Kau mau kemana?!ÔÇØ seru Aga mengejar Ruby yang berlari.

ÔÇ£Pulang! Kemana lagi!ÔÇØ jawabnya sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

ÔÇ£Pintu keluarnya bukan disana,ÔÇØ seketika kalimat itu menghentikan langkah kaki Ruby. ÔÇ£Sebelum pulang ayo ganti baju dulu, nanti kau sakit.ÔÇØ

ÔÇ£Peduli apa padaku!ÔÇØ

ÔÇ£Aku tidak mau Ibu marah,ÔÇØ

ÔÇ£Ibu! Ibu! Selelu Ibu! Kau tidak usah memperdulikanku lagi kalau semua yang kau lakukan hanya karena takut Ibumu! Aku berjanji tidak akan bicara apa-apa lagi tentangmu pada Ibu!ÔÇØ tangis Ruby berderai tak sanggup menahan amarahnya.

ÔÇ£Apa maksudmu Ruu?ÔÇØ

ÔÇ£Sudahlah aku mau pulang!ÔÇØ Ruby berbalik, menundukkan kepalanya kemudian berjalan melewati Aga yang masih mematung disana.

ÔÇ£Tunggu,ÔÇØ pergelangan tangan Ruby ditahan Aga. ÔÇ£Aku mau bicara,ÔÇØ lanjutnya. Lalu menarik pelan tangan Ruby untuk mengikutinya.

ÔÇ£Aku tidak mau!ÔÇØ tolak Ruby berontak, tapi tangannya terlalu lemah.

Tak peduli Aga membawa Ruby kekamarnya. Setelah memasukkan keycard pintu kamar Aga terbuka, lalu melepaskan cengkeraman tangannya saat keduanya sudah berada diruangan Apartemen mewah bercat cream itu.

ÔÇ£Kenapa menangis?ÔÇØ tanya Aga pada wanita hamil dihadapannya.

Masih menundukkan kepalanya sehingga poni depannya yang rata menutupi kedua pandangan matanya. ÔÇ£Aku mau pulang!ÔÇØ

Aga menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, mulai muak dengan sifat Ruby yang selalu menyembunyikan kemauannya. ÔÇ£GANTI PAKAIANMU LALU KUANTAR PULANG!ÔÇØ bentaknya membuat Ruby berjingkat kaget.

ÔÇ£KENAPA MEMBENTAKKU!ÔÇØ balas Ruby menatap tajam wajah Aga yang memerah, Aga tidak sengaja membentaknya seperti itu. ÔÇ£TERUS SAJA KATAKAN PADA SEMUA ORANG KALAU AKU BUKAN ISTRMU!, TERUS SAJA BERBICARA TENTANG IBU YANG AKAN MEMARAHIMU KALAU KAU TIDAK BERSIKAP BAIK PADAKU!ÔÇØ teriakan itu seakan menyadarkan Aga pada kesalahannya. ÔÇ£AKU TIDAK BUTUH PERHATIANMU! AKU BISA MENJAGA DIRIKU! DAN AKU TIDAK PERLU KAU AKUI TAPI SETIDAKNYA HORMATI PERNIKAHAN KITA!ÔÇØ Ruby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia menangis sejadi-jadinya. Hal itu membuat Aga merasa menjadi orang yang paling bersalah.

ÔÇ£Ruuu… maaf,ÔÇØ Aga melembutkan tatapan dan suaranya, merengkuh tubuh ringkih Ruby kedalam pelukkannya. ÔÇ£Maaf….ÔÇØ hanya itu yang dapat dikatakannya, mendekap Ruby yang masih sesenggukan didadanya. Tangannya mengusap lembut rambut basah Ruby, merasa sangat bersalah pada wanita yang menjadi korban keegoisannya.

“Kau tega! Jahat!” teriak Ruby dipelukkan Aga.

“Maaf… aku tidak akan begitu lagi Ruu…”

Setelah tenang Aga melepaskan pelukannya kemudian menangkup kedua pipi Ruby dengan telapak tangannya, kedua mata mereka bertemu lalu Aga mencium bibir Ruby yang kebiruan karena kedinginan dengan lembut. Ruby dan Aga memejamkan kedua mata mereka, bibir keduanya menempel sangat lama membuat tubuh mereka perlahan menghangat dengan sendirinya.

ÔÇ£Mmmh,ÔÇØ Aga melepakan ciumannya, tersenyum hangat pada Ruby. Ruby membalas senyuman itu dengan malu-malu, pipinya yang terlihat chuuby karena kehamilannya itu juga memerah.

ÔÇ£Ganti pakaianmu ya nanti kau sakit,ÔÇØ bujuk Aga sambil meminggirkan poni Ruby kesamping. Ruby hanya mengangguk. ÔÇ£Pakai bajuku tidak apa-apa kan?ÔÇØ lanjut Aga memastikan.

ÔÇ£Um… nanti tidak muat,ÔÇØ jawab Ruby dengan imutnya.

ÔÇ£Tenang saja kemejaku ada yang agak besar,ÔÇØ timpal Aga dan dijawab dengan anggukan Ruby. ÔÇ£Boleh aku melepas bajumu?ÔÇØ pertanyaan itu membuat Ruby berjingkat kaget. Apa-apaan dia mesum sekali.

ÔÇ£Kalau tidak boleh ya tidak apa-apa sih aku hanya ingin membantu,ÔÇØ Aga berkilah menutupi rasa malunya karena sudah lancang dan mungkin terlihat mesum didepan Ruby.

ÔÇ£Eh terima kasih sebelumnya, tapi aku memang tidak bisa membuka resluiting bajuku ini,ÔÇØ ucap Ruby sambil membelakangi Aga.

ÔÇ£Jadi tidak apa-apa aku yang membuka bajunya?ÔÇØ tanya Aga ragu.

ÔÇ£Buka sekarang atau aku berubah pikiran?ÔÇØ

ÔÇ£Baik aku yang buka,ÔÇØ pernyataan Ruby barusan seketika membuat Aga tak mau menyia-nyiakan waktunya. Perlahan ia buka resluiting Ruby sampai sebatas pinggangnya, punggung mulus dengan bra putih yang membelitnya itu membuat Aga menelan ludahnya susah payah.

Kemudian tangannya berpindah dikedua bahu Ruby, menurunkan kain yang membungkus tubuh Ruby pelan-pelan sambil bibirnya mencium tengkuk istrinya dengan lembut membuatnya mendesis pelan.

Perlahan tetapi pasti, Aga berhasil memelorotkan baju hamil Ruby sampai pinggangnya membuat perutnya yang membesar terlihat sexy. Tangan Aga mengusap-usap lembut kedua lengan Ruby sambil terus menciumi leher Ruby, menghirup aroma keringat Ruby yang segar. Kemudian tangan kekarnya berpindah mengusap perut Ruby, memeluk Ruby dari belakang membiarkan bibirnya bergerak mengulum dengan penuh perasaan telinga kanan Ruby dan membuat wanita muda itu menggelinjang kegelian.

Ciumannya berpindah kembali keleher putih Ruby, menyapukan lidahnya sepanjang leher dan berhenti dipundak mulus tanpa cacat itu memberikan tanda kepemilikan Aga disana sambil menahan geliat Ruby menahan rasa geli bercampur nikmat.

Tanpa persetujuan Ruby, Aga kembali menaikan tangannya kepundak indah itu. Menurunkan tali bra dari pundaknya diselingi ciuman-ciuman kecil dipunggung Ruby membuat Ruby memejamkan matanya dan kembali mendesis nikmat. ÔÇ£Aaah…Aga…ÔÇØ

Setelah kaitan terakhir dibelakang punggung Ruby berhasil ia lepas dan diloloskan dari tubuh Ruby, bra malang itu langsung dilemparkan jauh-jauh dari hadapan Aga. Kemudian memijat pelan kedua bongkah payudara Ruby yang besar semakin membesar karena air susunya sudah keluar, begitu kenyal dan mengasyikan. Aga suka itu.

Kembali Aga menyapukan lidahnya yang basah dipermukaan leher Ruby, kini leher kirinya yang menjadi bulan-bulanan bibir dan lidah Aga hingga beberapa tanda kepemilikkan itu kembali memenuhi leher Ruby. Kedua pasang jemarinya juga tak mau kalah, dengan terampil Aga memilin kedua puting Ruby yang memerah. Memerah akibat gerakkan tangannya yang tak berhenti memilin, mencubit dan menekan, Ruby sangat menikmati sentuhan itu, sentuhan diputingnya begitu geli dan menyenangkan membuat dirinya bergairah. Bahkan akibatnya beberapa tetes susu putih mengalir, desahan Ruby juga mulai memenuhi telinganya membuat Aga begitu gemas namun juga berhati-hati memperlakukan wanita hamil sepertinya.

“Aga…aah!” Ruby mendesah tertahan saat kedua payudaranya kembali dipijat lembut suaminya. “Mmmh.. Agaaa,” nafasnya mulai berat, Ruby semakin terangsang.

“Mnnnh…boleh aku menyentuhmu lebih dari ini kan, Ruby?” desah Aga dengan suara yang sexy.

“Ah! mmhh…” mendesah tertahan saat Aga menekan payudaranya. Lalu tangan kanan Aga perlahan mulai turun ke daerah selangkangan Ruby, menurunkan celana dalam senada dengan bra yang ia buang tadi, jemarinya mulai bermain dengan daging kecilnya disana, memberikan rangsangan pada kewanitaan Ruby.

Ruby merasakan panas ditubuhnya, ia tak lagi kedinginan, ia terangsang dengan perlakuan Aga. Aga juga sama, celananya terasa menyempit dan sakit ingin dibebaskan, tapi sepertinya belum saatnya.

“Ouuh! Aga…” bibir Aga kembali mengecup dan menjilat permukaan kulit leher Ruby membuat wanita itu semakin menggelinjang. Serangan pada ketiga titik rangsangnya itu benar-benar membuat Ruby terdiam, melayang menikmati.

Kemudian jari tengah Aga berpindah lagi dari benda sebesar biji jagung Ruby kelubang basahnya, mengeluar-masukan jarinya disana kemudian menambah satu jari lagi, jari telunjuknya.

Tangan kiri Aga yang sejak tadi meremas mulai memilin puting Ruby dengan gemas, secara bergantian hingga mengeras sempurna.

Kejantanan Aga juga sudah mengeras hebat, ia tak tahan lalu mulai bergerak menggesek-gesek pantat Ruby. Sensasinya begitu hebat meski celananya belum ia lepas.

Tubuh Ruby terasa melemas, desahannya tak berhenti lolos dari bibirnya, mungkin tak lama lagi ia akan terjatuh kalau Aga terus memperlakukannya seperti itu. Seakan tersadar tubuh Ruby mulai melemah, Aga sengaja menarik perlahan tubuh Ruby kebelakang dan berakhir dipangkuan Aga yang terduduk diranjang besar yang sangat empuk.

Tubuh Ruby mulai bergetar. “Aaahh… Aga, akuuuh…mmh,”

“Keluarkan sesukamu, sayang,” ucap Aga mengerti Ruby akan segera memuntahkan cairan orgasmenya. Ia mempercepat gerakan jarinya.

Ruby mendongak keatas, mengerang keras dengan desahan yang panjang, Iya Ruby telah mencapai puncaknya. Cairannya keluar dan meleleh turun dari lubang kewanitaannya membasahi paha Aga yang masih lengkap dengan celana panjangnya.

Aga menarik jemarinya dari kewanitaan Ruby, dan menunjukkan pada Ruby. Tentu saja hal itu membuat wajah Ruby memerah menahan malu. Merasa telah dipuaskan Aga, Ruby turun dari pangkuannya lalu berjongkok didepan selakangan Aga.

“Ruu??” Aga sedikit terkejut dengan tindakan Ruby.

“Aku tidak mau aku saja yang dilayani, kau kan suamiku!” jawab Ruby sambil melepas sabuk, celana dan boxer Aga kemudian memelorotkannya membuat harta miliknya mengacung bebas dihadapan Ruby. Aga mengerti maksud Ruby, tapi tidak tega melihatnya jongkok dengan perut yang besar.

Aga memegang kedua lengan Ruby dan mengangkatnya berdiri. “Lakukan sesukamu, tapi kau juga harus nyaman kan?” lanjutnya menukar posisinya dengan Ruby. Kini Aga berdiri didepan Ruby yang duduk diranjangnya.

Aga mengambil posisi jongkok didepan Ruby, dipegangnya perut membesar didepannya itu lalu menciumnya penuh sayang kemudian dia kembali berdiri.

Ruby tersenyum menggoda Aga sambil memijat pelan kejantanan besar milik Aga yang sudah ereksi sempurna. Sedangkan Aga deg-degan menunggu apa yang akan dilakukan Ruby selanjutnya.

“Ruby… aah…” Aga mendesah saat Ruby menjilati ujung kepala juniornya dengan lidah basahnya. Ini adalah pertama kalinya kejantanannya dijilat seorang wanita dan rasanya sangat nikmat.

Tangan Aga menahan kepala Ruby agar tak menjauh, sedangkan lidah Ruby menjilati setiap bagian kejantanan pria yang memperkosanya 9 bulan yang lalu itu.

Puas menjilati, Ruby mulai melahap aset pribadi Aga yang lumayan besar itu lalu menggerakkan kepalanya maju-mundur. Selain itu dia juga menghisap dalam-dalam benda itu membuat Aga mendesah-desah keenakan. Entah darimana Ruby mempelajarinya, ia terlihat sangat hebat dalam melakukannya.

“Ruuu…” Aga mendesahkan nama Ruby, ia benar-benar merasakan begitu tersiksanya benda miliknya didalam mulut Ruby. Iya, siksaan yang sangat nikmat.

“Ummnh… ‘plop’ ” Ruby mengeluarkan kejantanan Aga dari dalam mulutnya, lalu berganti menghisap kedua bola testis Aga, sedangkan satu tanganya ia gunakan untuk mengurut benda yang mengacung bebas dengan cairan precum diatasnya.

“Ruu… ini nikmat sekali! aahh! kau hebat,” puji Aga dengan nafas berat, sambil mengusap poni Ruby dan membuatnya berkumpul kebelakang.

Mendengar pujian itu entah kenapa membuat Ruby semakin bersemangat, ia kemudian bergantian menghisap dan menjilati testis Aga, kemudian melahap lagi kejantanan Aga dan menyedot dengan kuat juga cepat. Hal itu membuat Aga tak tahan lagi untuk menahan ledakan orgasmenya.

Aga mencengkeram lembut kepala Ruby kemudian menggerakkan kepala Ruby dengan cepat. Ruby sedikit kuwalahan, gerakan itu sesekali mengenai tenggorokanya dan itu membuatnya tersedak.

Tak lama kenudian Aga menyemburkan cairan putihnya ke dalam mulut Ruby, beberapa tetes mengenai wajah ayu Ruby.

“Maaf ya…. ” ucap Aga melihat Ruby berantakan dengan beberapa cairan cemen-nya yang mengotori Ruby, lalu membantu Ruby membersihkan cairannya dengan tissu yang diambil Ruby.

Beberapa saat kemudian Aga kembali menatap tubuh telanjang Ruby didepannya. Tubuh telanjang dengan perut yang membesar entah kenapa hal itu membuat Aga begitu tertarik, sampai-sampai kejantanannya kembali mengeras. Malu kalau mengingat ia pernah sesumbar tidak tertarik pada wanita hamil.

Aga sudah tidak sabar lagi untuk segera menyatukan tubuh dengan Ruby dan menggerakan juniornya didalam Ruby.

“Ruu?” Aga menarik lembut pergelangan tangan Ruby, menariknya untuk berdiri. kemudian memutar tubuh Ruby untuk membelakanginya dan membuat dirinya kembali duduk .

“Aah! Agaaa …” Ruby memekik kaget, kini wanita itu sudah berada di atas pangkuan Aga dengan posisi duduk membelakangi Aga, mengangkangi Aga.

“Boleh kan Ruu?” bisik Aga lembut ditelinga Ruby, meminta ijin wanita yang dinikahinya 7 bulan yang lalu itu untuk memasukinya.

ÔÇ£Ehhm…ÔÇØ hanya itu jawaban Ruby, dan itu artinya ÔÇÿsilahkanÔÇÖ menurut Aga.

Dengan sedikit gerakan dipinggulnya, Aga berusaha melesakkan kejantanannya kedalam tubuh Ruby. Sedikit sulit karena memang masih begitu sempit, karena itu Aga menggunakan jemarinya untuk meraba lubang surga milik Ruby kemudian memasukan aset pribadinya itu dengan pelan ketubuh Ruby sampai semuanya amblas.

“Ahh! Ahh! Agaaah… pelan. Ahh!” pekik Ruby ketika Aga mulai memompa kejantanannya, sedikit perih memang bagi Ruby.

“Maaf Ruu, tapi kau masih sempit,ÔÇØ jawab Aga dengan nada menggoda, kemudian mengecup punggung mulus Ruby sembari menaik-turunkan tubuh Ruby.

“Ahh! Ahh! Ouuh! Ohh!” desahan, lenguhan juga erangan terus keluar dari mulut Ruby. Kedua tangannya menggengam lutut Aga mencari pegangan, ini terlalu memabukkan untuknya.

Aga juga memeluk Ruby dari belakang dengan kuat, tangannya sesekali mengelus bayi yang ada diperut Ruby. Mereka berdua mulai hanyut dan menikmati permainan yang dibuat keduanya.

“Ah! Ahh! Agaaaaah!”

ÔÇ£Kau suka sayang? Ha, kau suka kan?ÔÇØ Aga menyeringai puas mendapati Ruby mendesahkan namanya, ia semakin keras menghujamkan kejantanannya.

ÔÇ£Ahh! Agaaah…oouh..ini..aah!” desahan Ruby begitu membakar gairah Aga, pemuda itu menghentikan gerakannya kemudian memposisikan tubuh Ruby untuk menungging. Kedua tangan Ruby bertumpu pada sisi tempat tidur Aga dan tidak sabaran Aga kembali melesakkan kepunyaannya kedalam tubuh Ruby.

“Aaaakkhhh!” gerakan tiba-tiba dari Aga itu membuat Ruby tersentak, seketika rasa nikmat kembali menjalari tubuh telanjangnya. Aga mulai kehilangan kesadarannya, lupakan soal wanita hamil harus diperlakukan lembut. Tak sempat, ia menghujam kewanitaan Ruby dengan brutal dan liar. Cepat, kuat dan keras membuat Ruby menjerit keenakan.

Kedua tangan Aga juga tak mau tinggal diam, sambil terus melakukan gerakan keluar-masuk ia memeluk tubuh Ruby dari belakang. Meremas kedua payudara Ruby yang menggantung bebas, memberikan satu lagi kenikmatan dititik rangsang Ruby dengan memilin putingnya.

Setidaknya sekitar lima menit mereka bertahan dengan doggy style, tubuh keduanya mulai bergetar hebat bersamaan. Ruby meneriakan nama Aga begitu juga dengan Aga yang meneriakkan nama Ruby. Dan dengan sekali hentakan kuat dari Aga, keduanya mencapai puncak bersamaan.

Cairan orgasme keduanya bercampur mengisi penuh kewanitaan Ruby, beberapa menetes keluar dari sana. Begitu panas dan menggairahkan.

KRIRIRIRIRIRIRIIINNNNNGGGGG!

Suara jam waker yang terpasang di nakas samping tempat tidurnya itu seketika membuatnya melonjak kaget dari tidurnya. Kemudian membuang benda sialan yang membangunkan tidurnya dari mimpi indah.

ÔÇ£TCH!ÔÇØ Mendecih kesal, memijat kepala jabriknya yang tiba-tiba terasa pusing, “Jadi hanya mimpi ya?” gumamnya setengah sadar, mimpinya barusan terasa begitu nyata.

Untuk sejenak ia masih mengingat-ingat kejadian demi kejadian didalam mimpinya, lalu matanya menangkap basahan dicelana boxer yang dipakainya. ÔÇ£Tch!ÔÇØ kembali mendecih saat tangannya meraba dan ternyata basah, bisa-bisanya dia bermimpi bercinta dengan wanita yang menyebalkan seperti Ruby. Kemudian ia menjatuhkan tubuh tegapnya kembali kekasurnya, memental beberapa kali kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak besarnya.

Masih pusing, badannya terasa begitu lemas. Cairannya terasa habis, tak percaya dirinya bermimpi melakukan hal mesum bersama Ruby, dan sialnya dia begitu menikmati. “Sial! Sial! Sial!” keluhnya mengacak-acak rambut jabriknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*