Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 4

Buah Dari Masa Depan 4

Hari yang menegangkan itu telah tiba, hari yang seharusnya menjadi hari yang ditunggu dan hari paling membahagiakan bagi seorang kekasih, apalagi kalau bukan hari pernikahan. Tapi sayangnya itu tidak bagi pasangan Aga dan Ruby, ini adalah hari yang mereka berdua kutuk, iya mereka akan menikah. Ruby akan menikah dengan Aga pria yang memperkosanya, pria yang sama sekali tidak ia sukai.

Dengan balutan gaun pengantin ala eropa berwarna putih bermotif bunga sakura putih dibahunya, dan rambut yang tergerai rapi dihias headband bunga-bunga dikepalanya, Ruby nampak semakin cantik dan anggun. Meski tidak suka tapi mata [i]emeraldnya tetap bersinar indah, bibir berwarna peach itu juga membuat tampilan Ruby terlihat begitu segar dan membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum.

Acara sakral itu diadakan disebuah taman buatan yang memang dikhususkan untuk acara pernikahan. Hawanya sejuk, banyak pepohonan dan ada danau buatan kecil yang difungsikan hanya untuk keperluan dekorasi saja.

Sang pengantin pria juga tak kalah mempesona, dengan stelan jas pengantin berwarna putih ia tampil segar berdiri dialtar menunggu pengantin wanitanya. Manik birunya menawan walau wajahnya tak terlihat bahagia, Namun pria bermata safir itu sejenak tertegun melihat pengantin wanitanya tampak berbeda. Diam-diam mencuri pandang saat Ruby dibawa ayahnya untuk diantarkan dialtar bersamanya.

Pernikahan itu dibuat sangat sederhana, meski begitu bagi orang menengah kebawah itu termasuk pesta yang cukup mewah. Acara itu hanya dihadiri sanak saudara dekat saja, mengingat bahwa pernikahan ini terjadi karena kecelakaan. Walaupun begitu, Yuka dan Arslan yang memang teman sekolah sekaligus sahabat keduanya boleh turut hadir menemani mereka.

Ruby dan Ayahnya berjalan melewati tamu undangan yang duduk berjajar rapi, membiarkan lengannya digandeng sang putri yang sedari tadi menahan tangis atas pernikahan ini. Tapi sang ayah sudah mewanti-wantinya sejak beberapa hari yang lalu, ia tidak boleh menangis toh pernikahan ini hanya sementara.

Setelah melalui beberapa proses yang cukup merepotkan bagi pasangan muda tersebut seperti bersumpah janji dan memasangkan cincin, akhirnya Aga dan Ruby telah resmi menjadi pasangan suami istri. Meski tanpa senyuman sepanjang upacara, apalagi ciuman didepan semua yang duduk menyaksikan acara sakral itu tetap saja semua berjalan lancar dan semua yang hadir tampak berbahagia.

Senyuman lebar juga terlukis diwajah Julian dan Lisna, entah mengapa mereka merasa sangat bahagia atas pernikahan anak kesayangannya itu. Sementara Henri dan Gary memasang wajah datar seperti biasanya, mereka benar-benar mirip.

Sekitar 2 jam sudah berlalu dari waktu itu, prosesi berikutnya dan yang terakhir yaitu foto-foto bersama keluarga kedua mempelai. Sepanjang proses foto, disitu juga Aga dan Ruby dipaksa untuk tersenyum meski mereka tak ingin, itu semua demi tuntutan Ibu Aga yang menginginkan hasil fotonya bagus.

Setelah sesi keluarga selesai kemudian giliran foto pengantin yang khusus hanya berdua. Dimana salah satu pengambilan fotonya mengharuskan Aga mencium kening Ruby.

“Aku tidak mau! Jangan memaksaku paman!” Tolak Aga pada photographer yang mengarahkan gaya keduanya. Baginya pose seperti itu sangat tidak penting.

“Aku juga tidak sudi!” Tidak mau kalah, Ruby menimpali Aga sebal.

“Aga, Ruby ayolah,” Pinta Lisna dengan tatapan membunuh, membuat Aga bergidik ngeri. Ibunya memang begitu, dibalik sifatnya yang lembut, wanita cantik itu punya sisi lain seperti rubah yang bisa saja menyeramkan saat marah. Jangan sampai ibunya mengamuk disini. Sedangkan Julian sweetdrop melihat kelakuan istri dan anaknya yang tidak kenal tempat.

“Ba-baiklah…” Aga menggaruk kepalanya, memilih mengalah daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

“Ta-ta-tapi tapi,” Ruby tergagap, ia mau protes. Bagaimana bisa dia dicium pria brengsek dan mesum itu?!

“Hihihi… ayolah menantuku sayang…hanya kening,” Wanita itu tidak menyerah, dia tertawa cekikikan seperti itu. Hah menyebalkan sekali untuk Ruby, tapi bagaimana bisa Ruby menolak wanita yang entah kenapa membuatnya nyaman.

“Hhhh…” Akhirnya wanita yang sudah tidak gadis itu memilih menyerah.

Kini Aga dan Ruby sudah berhadapan bersiap diambil gambarnya. Saling menatap sebal dan membenci, tidak disadari kelakuan mereka menciptakan bisikan-bisikan menggoda dari Lisna dan Yuka yang saat itu masih menunggui mereka.

Saat sang fotographer mengarahkan pose mereka, Aga dengan kikuk meraih kedua pundak Ruby yang tak berpenghalang kain, halus. Ruby menggembungkan pipinya, melirik pria didepannya tajam seakan berteriak ‘Awas macam-macam!’

“Hitungan ketiga mulai ya!” Seru pria yang sedang membidik kedua pengantin baru itu dengan mata lensa kameranya. “1! 2!-”

Aga menarik kedua lengan Ruby, mendekatkan wajahnya.

“3!”

Cuph!

Sebuah ciuman didaratkan dikening Ruby. Wajahnya memerah, jantungnya berdegup dengan keras. Bibir Aga terasa begitu lembut menyentuh keningnya, tapi tunggu! dimana rasa jijik yang Ruby rasakan? Selain itu ia juga mendengar jantung Aga yang berdegup dengan keras. ‘Dia juga gugup ya?’ batin Ruby.

“Waaahh manis sekali…” Bisik Lisna mengenggam kedua tangannya didepan dada dengan mata berbinar-binar.

Klik!

Suara foto yang telah diambil membuyarkan lamunan kedua pengantin muda yang saling membenci itu. Dengan cepat Aga melepaskan ciumanya, memalingkan wajahnya dan berulah seakan-akan dia mau muntah, tentu saja itu membuat Ruby sebal dan menggosok keningnya.

“Wah benar-benar bagus jadinya, memang bagus kalau yang menjadi objek adalah pasangan serasi” Ucap sang photographer yang tidak diketahui namanya itu, melihat hasil jepretannya barusan.

“Ahahahaha… kau benar mereka sangatlah serasi, bukankah begitu Julian?” Kagum Lisna masih dengan mata berbinar. Julian hanya tersenyum mengiyakan istrinya. Sementara Aga dan Ruby saling pandang, dan ketika pandangan mereka bertemu keduanya memiringkan bibir saling mrncibir lewat gerakan bibir yang aneh.

Setelah berfoto-foto dan makan bersama, acarapun selesai. Seperti kesepakatan sebelumnya, Ruby akan tinggal dikediaman Nugraha. Tentu saja kini wanita penyuka warna ungu itu telah resmi menyandang nama Nugraha sebagai nama belakangnya, selain itu juga karena ada Lisna yang sudah berpengalaman dalam mengurus kehamilan dan persiapan kelahiran putra Aga nantinya.

Didalam mobil mewah berwarna merah metalic, berhias buket bunga didepannya tengah melaju ditengah keramaian kota, disana terdapat sepasang pengantin bermata saphire dan emerald yang baru saja melangsungkan pernikahan.

Mereka saling diam, duduk tenang berdampingan dikursi penumpang sambil menatap keluar jendela. Tak berminat memulai suatu percakapan, hanya aroma parfum bvlgari omnia amethyste daritubuh Ruby yang mendominasi wangi ruang mobil yang tak luas tersebut, membuat Aga sesekali melirik Ruby yang memalingkan wajahnya kekiri memandangi jalanan dari kaca mobil.

Aga memegangi kedua pelipisnya yang tidak pusing sama sekali, mencoba mengurangi rasa tegang diantara mereka. Keadaan seperti ini entah kenapa membuatnya seperti mati kutu, dia yang seorang pria periang bahkan tak mampu membuat dirinya nyaman dengan sendirinya.

“Nantinya kau akan tidur sendiri,” Entah kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya yang sedari tadi terkunci. “Jangan berharap kita tidur bersama,” Lanjutnya, lagi-lagi kalimat itu seperti keluar dengan sendirinya membuat Ruby meliriknya sedikit, lalu memandang jalanan kembali.

“…”

“Hei! Kau dengar tidak?” Aga menoleh menatap Ruby dengan sebal karena Ruby tak menjawab.

“Kau itu tuli ya Ruby?!” Aga mulai tak sabaran, membuat Ruby mendengus dan kembali melirik pria disampingnya dengan ekspresi malas.

“Kau bertanya padaku?” Jawab Ruby sekenanya.

“Tentu saja siapa lagi?” Jawab Aga benar-benar sewot.

“Kukira kau bicara dengan drivermu,” Jawab Ruby berusaha santai, lalu kembali menatap keluar mobil. Jujur saja sebenarnya Ruby tak sanggup menatap safir milik Aga lebih lama.

“Tch!” Aga berdecih kesal, lalu memalingkan pandanganya kekanan seperti yang dilakukan Ruby.

“Aku juga tidak sudi tidur dengan sampah!” Ucap Ruby sarkatis.

“Apa kau bilang? Ha?!” Aga menatap Ruby, memasang wajah tidak suka dengan istilah yang dipakai Ruby, bisa-bisanya wanita itu mengatainya. “Awas saja ya kalau kau berani macam-macam dirumahku!” Ancam Aga.

Ruby memberanikan diri menatap kembali Aga disampingnya, “Memangnya kenapa? Ibumu sendiri yang berjanji akan melindungiku darimu, aku tidak takut padamu Aga Nugraha!” Balas Ruby tegas.

Aga kembali berdecih mendengar pernyataan Ruby, lalu membanting dirinya sendiri dikursi mobil menggigit ujung jari telunjuknya untuk menenangkan dirinya. Bisa-bisanya wanita itu menggunakan Ibunya untuk melawannya.

Tiga puluh menit telah berlalu, mobil mewah yang ditumpangi Ruby dan suami ‘terpaksanya’ itu telah memasuki halaman luas milik keluarga Nugraha. Lalu mobil mewah berwarna hitam yang berisi Julian dan Lisna juga menyusul, diikuti beberapa mobil mewah lainya yang ditumpangi oleh pengawal-pengawal keluarga Nugraha.

Setelah semuanya turun dari mobil dan berjalan kedalam rumah, keempat maid berseragam hitam dengan pita putih yang menyambut kedatangan majikannya malah sibuk membicarakan Ruby.

“Hei kalian, apa yang kalian lihat?” Tegur Lisna, merasa tidak suka menantu kesayanganya dibicarakan.

“Ti-tidak nyonya..maaf,” Ucap salah satu maid tetsebut.

“Aku permisi kekamar dulu Ayah, Ibu,” Aga menyela, lalu pergi kekamarnya tanpa menunggu persetujuan Ayah dan Ibunya.

“Antar Nona Ruby kekamarnya,” Perintah Lisna selanjutnya, tidak memperdulikan Aga yang telah menghilang dari hadapan mereka.

“Baik Nyoya,” Jawab kedua maid tersebut. “Mari ikuti kami Nona Ruby, akan kami tunjukan kamar anda,” Maid itu mengajak Ruby menuju kamarnya.

“Beristirahatlah dulu Ruu, nanti malam kita makan malam bersama.” Ucap Lisna lagi dengan senyumnya yang lembut.

“Baik terima kasih banyak paman, bibi,” Ucap Ruby sedikit canggung.

“Eeiii…panggil kami Ayah dan Ibu ya? Bukankah kau sekarang juga anak kami Nona muda Nugraha?” Jawab Lisna tampak senang.

“Ba-baiklah Ibu, Ayah..” Ruby tersenyum manis, “Kalau begitu aku permisi.” Pamitnya, dan dijawab dengan anggukan Lisna dan Julian yang sedari tadi hanya tersenyum ramah.

Ruby memasuki kamar barunya dikediaman Nugraha. Saat pertama kali masuk yang tercium adalah aroma wangi dari pengharum ruangan beraroma fresh. Kamar yang benar-benar mewah dengan segala kelengkapannya, sebuah tempat tidur yang besar dengan sprei putih berbunga, sebelahnya terdapat lemari yang besar. Ruby menutup kembali pintu bercat putih itu, berjalan pelan menuju kasurnya. Manik indah itu mengamati kamar yang akan ditinggalinya kira-kira satu tahun lebih, itupun kalau dia betah.

Ruby merebahkan tubuh lelahnya dibed besar itu, tidak peduli baju pengantinya masih melekat. Iyaaah hari ini memang hari yang sangat melelahkan, seperti mimpi buruk yang tak ia harapkan kedatangannya.

Ia berbaring diatas kasurnya, tubuhnya membentuk huruf X besar yang melintang, matanya masih senang melihat-lihat interior kamarnya ini. Fikirannya melayang entah kemana, tidak lama kemudian kesadarannya mulai hilang, ia memejamkan matanya dan tertidur.

—***—

Aga merebahkan tubuhnya dibed berseprei cokelat tua bergambar Tazmania Lion, dengan kedua tanga yang menutupi wajahnya. Entah apa yang sedang sikepala durian itu sembunyikan, sampai-sampai harus menutup wajah tampanya.

Perlahan Aga membuka tanganya, seulas senyum mengembang diwajah tampannya. Menerawang mengingat pernikahan konyol yang ia jalani beberapa jam yang lalu.

Tanganya menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jari, mengusap perlahan bibir yang telah terpaksa ia gunakan untuk mencium kening istrinya. Tak dipungkiri hal itu membuat pemuda bernama belakang Nugraha itu terbayang-bayang kejadian yang seharusnya ia anggap biasa saja. Tidak, tidak bisa… kulit Ruby terlalu lembut untuk dilupakan begitu saja oleh pemuda penyuka klub sepak bola Chelsea ini.

Berfikir bahwa kini ia telah resmi menjadi seorang suami dari Ruby, itu artinya ia memang boleh menyentuh Ruby, bebas. Seringai cabul tiba-tiba menghiasi wajah tampanya, mengingat hangat dan lembut kulit Ruby waktu ia peluk dengan paksa saat itu, yah walau dia mabuk tetap saja masih Aga ingat.

“Aaaarrrghh…” Mengacak-acak rambut landaknya yang memang sudah acak-acakan, berharap bayangan tentang Ruby rontok berjatuhan dari dalam kepalanya. Namun hal itu sama sekali tidak berhasil, mata emerald Ruby yang unik malah melintas dalam otaknya. Wajah Ruby yang terlihat sangat cantik sepanjang upacara pernikahan, dan bibir tipis berwarna peach membayang didalam kepalanya. Bahkan aroma parfumnya masih melekat dihidung Aga.

Aga memejamkan manik safirnya menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskanya perlahan. Membuka matanya lagi, menerawang langit-langit kamarnya yang berwarna putih, tanganya terangkat keatas seakan menggapai sesuatu.

“Ru.by.Nu.gra.ha” Lirihnya mengeja nama Ruby diatas udara. “Hhh…tidak buruk juga,” Tersenyum menyadari wanita itu kini menyandang nama belakangnya.

“Aaarrghhh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Umpat Aga salah tingkah, kembali mengacak-acak rambutnya sadar tingkahnya begitu aneh.

“Hah… sebaiknya aku mandi, otaku rasanya benar-benar terganggu!” Dengus Aga merutuki kelakuanya yang mulai konyol. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi.

—***—

Pagi telah menyapa kembali, udara masih segar dan bersih. Burung-burung juga berkicau merdu menambah suasana pagi yang sejuk dan segar semakin menenangkan.

Ruby yang masih tertidur berselimutkan selimut hangat perlahan membuka matanya, suara burung yang berkicau diatas pohon disamping kamarnya itu sedikit mengusik ketenangan Ruby.

“Ngh…” Ruby menarik kedua tanganya keatas, berkedip-kedip beberapa saat untuk membiasakan matanya dari cahaya yang lumayan menyilaukan, yang menerobos melalui celah kain gorden kamarnya. Lalu duduk mengucek kedua matanya dengan punggung tangan, menguap dengan malas. Sampai kesadaranya mulai normal dan melihat sekeliling kamar.

“Hhah… ternyata bukan mimpi ya?” Dengus Ruby menyadari bahwa kemarin ia telah resmi menjadi Nyonya Nugraha, istri dari Aga Nugraha. Pria brengsek yang sudah merenggut kesuciannya. Dan kamar ini adalah kamarnya yang baru, kamar sebagai bagian dari keluarga Nugraha. Dan ketika ia nanti keluar kamar dan turun dilantai bawah, bukan lagi Gary dan ayahnya yang akan dia temui. Melainkan Julian dan Lisna mertuanya.

“Haaah…” Kembali menghela nafasnya dalam-dalam, rasanya sangat malas menghadapi hari-harinya kedepan. Iris sehijau daunnya melirik kekanan, dimana jam meja berbentuk durian emas itu menunjukan pukul 06.00. ‘Jamnya mirip Aga’ sambil tetsenyum meremehkan.

“Humm..hhookk…” Ruby membungkam mulutnya yang baru saja mentertawakan Aga yang mirip jam mejanya. Rasa mual yang beberapa hari ini ia alami kembali datang. ‘Sial’ dengan piyama putihnya, Ruby langsung melesat kekamar mandi, mencondongkan badanya kewastafel.

“Hoooeek…uhuk! Mmhhooek!”

Lisna yang sedang mengiris sayuran membantu maidnya memasak didapur mendongakan kepalanya keatas, kekamar Ruby. Tersenyum mengingat saat Lisna dulu mengandung Aga, ia juga begitu.n

Ruby menatap pantulan dirinya dicermin, mengelap dengan tissu bibirnya yang terlihat basah. “Seorang istri yang sedang mengandung ya?” Ucapnya pada pantulan dirinya sendiri, menggembungkan pipinya sedikit tak terima.

“Ini menyiksa sekali!” Dengusnya pelan, lalu mengelus perutnya pelan. “Kalau tidak karena Ibu mertua yang aku sayangi, aku tidak sudi mengandungmu! Bodoh! Aga bodoh! Ayahmu bodoh” Ruby merajuk, menggembungkan pipinya, menghentakan kakinya pelan seperti anak kecil, Kesal.

“Ibu yakin kau tidak akan menyesal melahirkanya Ruu,” Ucap Ibu bersurai lembut dan indah itu tersenyum, mengagetkan Ruby.

“Eh?” Ruby membalik tubuhnya, menghadap Lisna yang entah sejak kapan berada dipintu kamar mandi yang tidak ditutup itu.

“Kudengar kau muntah-muntah, kemarilah…” Lisna tersenyum manis, dan menggandeng tangan menantunya keluar kamar mandi, kemudian duduk ditepian bed.

“Itu namanya morning sickness, dan itu wajar dialami oleh wanita yang hamil. Ini pil untuk mengurangi rasa mualmu,” Lisna masih tersenyum hangat, sembari menyodorkan pil pengurang rasa mual untuk wanita hamil kepada Ruby. Ia menyambutnya dengan wajah yang tidak enak.

“Beristirahatlah, kau terlihat pucat nanti biar pelayan mengantarkan sarapan untukmu,”

“Aku tidak apa-apa Ibu, sebentar lagi aku akan turun,” Jawab Ruby membalas senyuman Ibu mertuanya.

“Baiklah kalau begitu, mandilah dengan air hangat. Aga dan Ayah sudah menunggu kita untuk sarapan.” Ucap Lisna, mengelus pucuk rambut gelap Ruby.

“Um..hu’um.” Ruby mengangguk dan tersenyum, benar kan sangat nyaman seperti ibu kalau berada didekat Lisna. Saat itu juga Ruby memutuskan akan menjadi fans Lisna wanita yang sangat perhatian dengannya. Lalu tak lama kemudian Lisna beranjak keluar dari kamar menantunya.

Lisna menuruni tangga yang menghubungkan lantai satu dan kamar atas, lalu berjalan kemeja makan membaur bersama Aga dan suaminya yang sudah rapi dengan seragam sekolah dan baju kerjanya, duduk manis dimeja makan. Kedua orang pria yang sangat mirip itu menyambut Lisna dengan senyuman yang juga sangat mirip.

“Mana menantu kita, Lisna?” Tanya Julian yang memang tau bahwa Lisna memanggil Ruby untuk makan.

“Ruby bilang akan menyusul, kasihan sekali Ruby sangat tersiksa dengan kehamilanya,” Ucap Lisna, menceritakan keadaan Ruby.

“Jangan terlalu memanjakanya Ibu, dari kemarin Ibu terus memperhatikan Ruby!” Aga terlihat cemburu, alis tebalnya yang menawan mengkerut. Wajahnya cemberut dengan seragam sekolah yang lengkap.

“Hei? Kau cemburu ya? Tidak malu dengan seragamu?” Selidik Ibunya iseng.

“Siapa yang cemburu?” Jawab Aga membela diri. “Aku hanya tidak suka Ibu terlalu dekat denganya,”

“Aga… memangnya kenapa? Kau sudah membuat kesalahan yang sangat besar. Dan hanya dengan ini Ibu membantumu bertanggung jawab. Kau seharusnya juga bersikap baik pada Ruby,” Lisna mencoba menjelaskan. “Masih untung Ayah mertuamu tidak membiarkanmu dipenjara. Malahan mempercayakan putrinya untuk tinggal bersama kita! Bukan begitu Julian sayang?” Lanjut Lisna meminta dukungan suaminya, Julian hanya mengangguk mengiyakan istrinya yang selalu banyak bicara. Atau kalau tidak istrinya akan marah.

“Iyaa aku mengerti, aku sangat menyayangi Ibu. Aku hanya takut Ibu berbalik tidak memperdulikanku!” Aga protes.

“Ibu sangat menyayangimu Nugraha,” Jawab Lisna, mengusap kepala durian anaknya.

“Tadi Ibu tidak membangunkanku, malah menyiapkan makanan untuk Ruby,” Sepertinya Aga masih tidak terima, ia masih protes.

“Hahaha… maaf sayang, Ruby kan baru pertama kali hamil, jadi Ibu hanya menyiapkan makanan apa saja yang harus dikonsumsinya. Itu demi anakmu juga kan?” Ucap Lisna dengan senyum yang terlihat salah tingkah, ia memang sadar sejak kedatangan Ruby ia lebih memperhatikan Ruby daripada Aga.

“Ibu menyebalkan!” Ucap Aga cemberut.

“Kau ini sudah besar Aga! Masih saja bersikap seperti itu!” Julian ikut berkomentar, sambil meminum kopinya yang mulai dingin.

“Ayah cemburu yaa?” Aga nyengir bergantian menggoda ayahnya, “Hahaha! Ayah cemburu!”

“Tidak, bukan begitu!” Julian berkilah, wajahnya mulai konyol membela diri.

“Hahaha! Padahal setiap hari Ayah tidur dengan Ibu, masih saja cemburu pada anak sendiri,” Ejek Aga, dengan cengiran khasnya.

“Kau nakal ya!” Pipi Lisna memerah, mencubit pipi Aga.

“Aaaa…Ibu hentikan! Sakit!” Aga menjerit- jerit heboh merasakan cubitan Ibunya. Sedangkan Lisna dan Julian tertawa terbahak-bahak melihat Aga memasang tampang kesakitan.

Ruby yang sedari tadi berdiri didekat guci besar disekitar meja makan hanya tersenyum tipis, melihat kedekatan Aga dan kedua orangtuanya membuatnya sedikit iri. Ia masih mematung disana dengan dress rumahan berwarna biru muda, enggan menghampiri dan merusak suasana hangat itu.

Namun ternyata Julian menyadari kedatangan menantu cantiknya yang sudah berdiri didekat mereka. “Hei Ruu? Kenapa berdiri saja disitu?” Tanya Julian.

“Kemarilah Ruu sayang,” Lisna-pun mengajak Ruby bergabung, sedangkan Aga yang melihat kedatangan Ruby memalingkan wajahnya sebal.

Dengan langkah ragu Ruby mendekat, ia masih saja canggung berbaur dengan mereka walau semalam mereka juga sudah makan disatu meja. Mata Ruby menangkap Aga yang seolah tak peduli oleh kedatangannya. Hah begitu ya? Dia tidak mau menatap Ruby, baiklah. Ruby juga tidak sudi, melihatnya saja sudah membuat Ruby malas duluan.

Tatapan benci Ruby pada Aga ternyata juga disadari Lisna yang menghela nafas dalam-dalam.

“S-selamat pagi?” Ucap Ruby, kemudian menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan Aga yang pura-pura sibuk mengaduk-aduk susu digelasnya.

“Selamat pagi Ruby…” Lisna dan Julian menyambut Ruby dengan senang.

“Nah Ruu, kau harus makan ikan buatan Ibu ya. Ikan sangat baik untuk kesehatanmu dan bayimu,” Lisna sibuk menyiapkan makanan untuk Ruby.

“Ee…tapi, Ibu biar aku mengambilnya sendiri,” Ruby mengambil piring yang tadinya dipegang Lisna, ia merasa sangat tidak enak kalau diperlakukan seperti itu. Seorang Nyonya besar Nugraha tidak pantas melakukannya untuknya pikir Ruby.

“Kau manja sekali!” Sahut Aga sebal melihat Ibunya melayani dan lebih perhatian terhadap Ruby.

“Siapa yang manja? Kau saja yang terlalu sensitif!” Kilah Ruby, pipinya menggembung sebal.

“Hei… kalian jangan ribut, kalau kalian tidak bisa akur Ayah akan menyuruh kalian tinggal diapartemen berdua saja!” Ancam Julian mendeathglare kedua suami istri muda itu.

“Tidak…tidak mau Ayah Julian,” Ruby langsung gugup atas pernyataan Julian.

“Aku juga tidak mau!” Begitupun juga dengan Aga.

“Ya sudah… sekarang makanlah, dan Aga cepat habiskan makananmu, nanti kau terlambat!” Timpal Lisna mencoba membuat suasana kembali kondusif.

“Suapi aku bu…” Rengek Aga manja. Dan hal itu sangat menggelikan bagi Ruby.

“Kau tidak malu pada Ruby ya?” Jawab Lisna heran.

“Biar dia tau, Ibu hanya menyayangiku!” Jawab Aga melirik Ruby yang mulai menyantap ikanya.

Ruby menatap Aga tajam.

“Apa?! Kau mau protes?” Hardik Aga, bibirnya mengerucut.

“Aku tidak peduli Aga, dasar manja..” Dengus Ruby pelan sambil mengiris ikan bumbu manis yang beraroma lezat itu. Tetapi suaranya tetap saja didengar Aga.

“Kau bilang apa ha!”

“Tidak ada!”

“Aku dengar! Kau bilang aku manja!”

“Yasudah, kenapa tanya!”

“Hei Aga! Ruby!” Lisna mulai gerah dengan sikap menantu dan anaknya yang mulai saling menunjukan ketidak cocokan. Mereka benar-benar seperti anak kecil dengus Lisna sedikit pusing.

Keduanya terdiam mendengar wanita itu mulai marah.

“Kelihatanya kalian memang harus tinggal berdua saja di Apartemen,” Wajahnya yang biasanya lembut kini terlihat serius, “Supaya kalian bisa saling membantu dan menjaga,” Ucap Julian yakin.

“Tapi Ayah ak-”

“Tidak ada yang namanya tapi!” Julian memotong kalimat bernada protesan dari Aga. “Kalian sudah membuat jam makan pagiku terlambat 15 menit,” Lanjut Julian, sementara Lisna hanya menghela nafasnya dalam-dalam.

Keduanya masih diam, mungkin menyesal telah membuat Julian kehilangan kesabaran.

“Ini semua gara-gara kau!” Bisik Aga, mendeathglare Ruby yang duduk berhadapan denganya.

“Aku juga tidak mau! Aga! Ini salahmu!” Berteriak seakan tidak memperdulikan ada Julian dan Lisna. Ruby mulai jengah. “Coba saja kalau kau tidak membuatku hamil!” Ruby emosi dan berteriak-teriak seperti anak kecil, memarahi Aga.

“Salahmu! Salahmu terlalu subur! Aku kan hanya melakukanya sekali, kenapa kau langsung hamil begitu?!” Bela Aga yang membuat kedua orang tuanya yang menyaksikan pertengkaran yang sedikit lucu itu sweetdrop.

“Lagipula, aku yakin itu bukan anakku!” Kontan semua kaget. Termasuk Ruby yang terlihat sangat terpukul.

“Cukup Aga! Kau sudah keterlaluan!” Bentak Julian. Kontan membuat suasana hening sejenak.

“Aku sudah selesai, aku sudah kenyang!” Ruby berdiri dari tempat duduknya, lalu pergi berlari meninggalkan Lisna dan Julian begitu saja, tidak peduli jika dia disebut tidak sopan. Sekilas Lisna menangkap mata menantunya sedikit basah.

“Aku juga sudah selesai!” Aga juga ikut berdiri berniat beranjak dari kursinya.

Tapi sebelum itu terjadi Ibunya memerintah. “Aga…kau harus minta maaf pada Ruby!”

“Kenapa selalu aku Ibu?!”

“Karena memang kau salah!” Tambah Julian menyudutkan putra semata wayangnya.

“Bulan depan kau tidak boleh ikut liburan bersama teman-temanmu, Kalau Ruby belum memaafkanmu!” Ancam Lisna serius.

Aga memutar bola matanya bosan. “Baiklah…baiklah, aku akan minta maaf. Tapi nanti kalau aku pulang sekolah, sekarang aku harus pergi,” Pamitnya, kemudian menyandang tas sekolahnya yang sedari tadi ada dibelakang tempat ia duduk. Kemudian berpamitan, mencium tangan Ayah dan Ibunya lalu pergi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*