Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 3

Buah Dari Masa Depan 3

Ruby mengerjapkan iris uniknya, tubuhnya terasa hangat dan nyaman dibalik selimut tebalnya. Kamar dan tempat tidurnya memang bersih, hangat, dan nyaman, maklum saja kamar seorang princes seharusnya memang begitu. Sedangkan bajunya yang basah tadi kini telah berganti piyama berwarna merah hati bergambar teddy.

Ketika kesadaranya telah benar-benar pulih matanya menyapu pandang sekelilingnya, yang ia lihat pertama kali adalah sahabat ponytailnya yang tersenyum hangat padanya, Yuka duduk dipinggiran tempat tidur Ruby.

‘Astaga Yuka menungguinya sampai selarut ini’ Batin Ruby, seragamnya juga masih menempel ditubuhnya yang ramping dan tampak kusut.

“Ruu? Kau sudah sadar?” Sambutnya hangat.

“Hu’um” Ruby membalas senyuman Yuka dan mengangguk, wajahnya tampak pucat.

“Minum teh hangatmu dulu,” Yuka mengambil teh hangat yang tadi disiapkan oleh pelayan keluarga Hanggoro dimeja dan memberikanya pada Ruby.

“Terima kasih Yuka,” Ruby meminum teh hangat yang diberikan Yuka kemudian duduk bersandar disandaran bed besarnya.

“Bagaimana keadaanmu? Katakan jika kau butuh sesuatu Ruu,” Yuka mengusap-usap pundak sahabatnya. Sedangkan Ruby hanya menundukkan wajahnya, perasaanya masih sakit.

Gadis berponi rata itu meletakan tangan kananya diatas perutnya, kemudian ia elus pelan. Wajahnya berubah sendu kembali, beberapa saat kemudian pundaknya berguncang-guncang, ada setetes, duatetes kemudian bertetes-tetes air yang jatuh mengenai tangannya yang kini telah meremas perutnya. Yuka yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa memasang wajah khawatir lagi.

“Ruu…” Panggil Yuka.

“Hiks..hiks..hiks.. Aku tidak mau…” Tangis Ruby pelan. Masih ingat bagaimana benda kecil itu bergaris dua, Ruby berharap itu mimpi tapi kenyataannya ini bukan mimpi.

“Aku mengerti Ruu, aku mengerti. Biarkan paman Henri yang mengurus semuanya,” Ucap Yuka, suaranya juga parau karena sedari tadi dia juga menangisi Ruby.

“A-Ayah??” Ruby mengangkat wajahnya mensejajarkan dengan Yuka, tatapan terkejut terpancar dari iris sehijau daun yang biasanya indah itu.

Yuka mengangguk pelan, “Maaf Ruu, aku menceritakan semuanya kepada paman Henri dan Gary,” Ada pancaran bersalah terukir diwajah Yuka, tapi dia juga tidak tau apa yang harus dilakukannya selain jujur.

“J-jadi Ayah, Kak Gary sudah t-tau? Tau s-semuanya?” Ruby tak kalah terkejut kalimatnya terbata-bata, iris uniknya melebar. Ayah dan kakaknya sudah tau semuanya. Sekarang apa yang harus dia hadapi lagi? Diusir? Atau mungkin tidak diakui sebagai keluarga Hanggoro?, Ruby ingin mati saja saat ini.

Ruby benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukanya, ayahnya pasti malu, keluarganya pasti sangat membencinya, Gary yang sangat disayanginya pasti juga membencinya.

Manik emerald itu masih mengalirkan butiran bening yang terus membasahi pipinya, kalau boleh memilih dia ingin mati dan tidak berurusan dengan segala kerumitan ini. Tapi sahabat kuncir kudanya nya itu terus disampingnya, memeluk seakan tidak mau sesuatu terjadi padanya. Sungguh kehadiran Yuka disampingnya mampu membuatnya sedikit lebih kuat.

“Paman Henri p-pergi ke kediaman Nugraha, Ruu. Beliau sangat marah pada Aga,” Ucap Yuka membuat dada Ruby semakin sesak, ia tidak tau apa yang akan dilakukan Ayahnya. Yang jelas Ruby tau betul Ayahnya seperti apa, tubuhnya terasa lemah kemudian memeluk Yuka dengan erat berharap Yuka bisa memberinya lebih dan lebih banyak ketegaran.

—***—

Dengan raut wajah yang masam Henri Hanggoro turun dari mobil hitamnya diikuti dua bodyguard ber-jas hitam rapi. Mobilnya terparkir didepan rumah bergaya Eropa yang megah. Aura yang terpancar dari pria separuh baya itu hitam, sehitam langit malam itu.

Dengan langkah pasti Henri berjalan melewati beberapa penjaga rumah elit kediaman Nugraha, ia tak sabar ingin segera menembak kepala putra rekan bisnisnya itu dengan pistolnya, kalau perlu sekarang ia akan berteriak sekencangnya agar pemuda yang dimaksud menemuinya. Tapi dia tetap harus menjaga pridenya sebagai laki-laki terhormat dan berkelas.

Kedatangannya disambut dengan salam yang ramah oleh penjaga-penjaga berpenampilan sangar disana.

“Selamat malam tuan Hanggoro,” Sapa seorang kepala penjaga terlihat sudah hafal dengannya.

“Hn!” Sebuah tatapan sinis merespon sambutan yang ramah dari kepala penjaga rumah Nugraha dan membuat pria itu sedikit canggung ditatap seperti itu.

“Anda pasti ingin bertemu tuan Nugraha, silahkan..silahkan masuk, akan saya panggilkan.” Orang itu mempersilahkan Henri masuk dan mempersilahkannya duduk.

Memang bukan hanya sekali ini Henri Hanggoro berkunjung kekediaman Nugraha, namun bukan dengan keadaan yang tidak baik seperti kali ini. Henri biasanya datang kerumah mewah itu hanya untuk urusan bisnis mereka dan tentu saja dengan aura yang bersahabat.

“Aku tidak butuh duduk! Cepat panggilkan Julian kemari!” Bentak Henri pada laki-laki yang dikenalnya bernama Bruno.

“B-baik Tuan Hanggoro,” Sontak pria berbadan tegap itu terkejut dan bergegas memanggil tuanya.

Beberapa saat kemudian munculah seorang laki-laki paruh baya bersurai hitam menghampiri Henri yang masih berdiri dengan aura membunuh, Berbeda dengan Henri wajahnya masih sangat muda dan terlihat ramah.

“Selamat malam Pak Hanggoro apa kabar? Lama sekali Pak Hanggoro tidak berkunjung kem- ”

“Mana anakmu?!” Henri membentak dan memotong kalimat Julian, wajah Julian yang tadi dihiasi keramahan kini terlihat bertanya-tanya.

“Ma-maksudnya Aga?” Tanya Julian heran.

“Siapa lagi? Anakmu cuma satu, dan memang hanya itu yang ingin aku bunuh!” Terang Henri dengan raut wajah meyakinkan. Sedangkan Julian hanya memasang wajah tak mengerti.

“Bunuh? Ah, jangan bercanda Pak Hanggoro,” Julian mencoba menanggapi dengan pikiran sedingin mungkin, berharap pria yang lebih tua darinya ini memang bercanda.

“Aku tidak ingin bertele-tele! Mana anakmu yang brengsek itu! Aku tidak sabar ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri!” Geram Henri membuat Julian semakin tak mengerti.

“Maaf Pak Hanggoro sebenarnya ada apa? Sebaiknya kita bicarakan secara baik-baik,” Ucap Julian mencoba menenangkan Henri yang terlihat sangat serius dengan ucapanya.

“Tidak ada yang harus dibicarakan, aku hanya ingin membunuh anakmu yang telah berani memperkosa putriku!” Terang Henri tegas, sontak membuat pria penyandang nama belakang Nugraha tersebut membulatkan matanya tak percaya.

“Apa maksudnya Pak Hanggoro??”

“Aku tidak mengerti, kenapa kau gagal mendidik anakmu itu! Sampai dia berani memperkosa putriku dan menghamilinya!” Henri sudah tidak bisa membendung emosinya lagi. “Hati orang tua mana yang tidak sakit dan merasa terhina mengetahui putrinya dilecehkan seperti itu Julian!” Bentaknya menegaskan.

“Juliaan..” Suara lembut penuh kekecewaan itu membuat Julian mengalihkan pandangan kebelakangnya, disana sudah berdiri wanita bersurai indigo panjang menitikan airmatanya.

“Lisna…”

“Apa yang diperbuat putra kita Julian…” Tanya Lisna menangis tidak percaya.

“Dia sudah memperkosa putriku! Anak yang kalian banggakan itu bajingan! Sampah!” Jawab Henri berapi-api, didalam dadanya ada kemarahan yang belum semuanya tercurahkan.

“Tidaak! Putraku tidak seperti itu Tuan Hanggoro!” Teriak Lisna disela tangisnya membela putra kesayangannya.

“Lisna…” Ucap Julian pelan, “Maaf Pak Hanggoro, sebaiknya kita bicarakan pelan-pelan. Aga juga belum pulang kerumah. Jika itu semua benar perbuatan Aga kami berjanji, kami akan bertanggung jawab,” Jelas Julian menenangkan Henri yang masih penuh dengan aura gelap.

Tak lama kemudian pintu rumah kediaman Nugraha terbuka, dan beberapa saat kemudian… “Aku pulaang…Ayah, Ibu. Eh??” Aga berhenti, terkejut ketika menatap sepasang mata emerald sedang menatap dirinya dengan aura membunuh. Sepasang mata yang tak asing bagi Aga, karena ada pemilik mata seperti itu disekolahanya. ‘Mungkinkah ini ayah Ruby?’ Tanyanya dalam hati.

Sementara Arslan yang berada dibelakangnya tak kalah terkejut, ‘Habis kau bodoh!’ Ucapnya dalam hati.

“Jadi kau rupanya…” Henri menggenggam erat kepalan tanganya, menatap Aga yang masih memasang wajah terkejut, dengan sigap Henri menghampiri pemuda dengan rambut jabrik itu.

‘Bukh!’ Satu pukulan kuat itu berhasil didaratkan diwajah Aga, pukulanya terjadi begitu singkat sampai Aga belum siap sama sekali sehingga tubuhnya terjatuh kebelakang.

“AGA!” Julian dan Lisna terkejut atas tindakkan Henri. Lalu Lisna berlari menghampiri Aga dan berusaha membantunya berdiri. Ah tapi tenaga Lisna tak sekuat itu, ia hanya bisa menangisi Aga.

“Jangan seenaknya memukul anakku Pak Hanggoro!” Teriak Lisna marah, memeluk Aga dan menangisi anak semata wayangnya yang sudut bibirnya berdarah.

“Apa masalahmu paman?!” Tanya Aga suaranya tak kalah tinggi, sambil terduduk meringis, memegangi pipinya yang terasa begitu perih. Walau sudah tidak muda, Aga mengakui pukulan Henri sangat kuat, gigi geraham Aga terasa akan lepas akibat pukulan itu.

“Kau jangan pura-pura bodoh!” Jawab Henri menunjuk wajah Aga dengan jari telunjuknya. Dan seakan belum puas meluapkan emosinya Henri berniat menghajar Aga lagi, tanganya sudah menggenggam dan siap memukul pemuda itu.

“Cukup Pak Hanggoro! Sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik!” Suara Julian membuat Henri menurunkan lagi tanganya.

Sementara Arslan yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu masih mematung ditempatnya, tidak mau ikut campur namun juga tidak meninggalkan sahabat dari kecilnya itu sendirian. Bagaimanapun dia tetap harus menemani Aga.

“Bicara baik-baik? Kau pikir bisa mengembalikan Ruby putriku seperti sedia kala, anakmu sudah berani menginjak-injak harga diri kami!” Henri menengokan kepalanya kesamping, berbicara pada Julian dibelakangnya.

“Aga, sebaiknya kau bicara jujur kepada kami,” Pinta Julian lebih pelan agar suasana tidak terlalu panas, “Apa benar kau telah menodai Ruby Hanggoro?! Dan kau tau sekarang gadis itu hamil!” Julian menatap Aga dengan seksama, sedangkan Aga yang sudah berdiri disamping Ibunya malah menundukan wajahnya.

“Jawab Ayah!” Julian mulai tidak sabar dan membentak Aga yang hanya diam.

‘Hamil?’ Ada perasaan takut dalam diri Aga, dia takut benar-benar takut. Apa jadinya kalau dia mengaku? Ayahnya pasti akan marah, dan Ayah Ruby pasti membunuhnya. Aga benar-benar takut mengakui bahwa itu adalah anaknya, dia hanya melakukannya sekali, bohong jika Ruby hamil. Tidak! Tidak mungkin Ruby hamil. Pernyataan seperti itu yang ada dalam kepala jabriknya.

“A-aku tidak mengenal Ruby! Dan A-aku t-tidak pernah menyentuhnya!” Ucap Aga terbata-bata. Henri geram, mana mungkin putrinya berbohong. “Dan.. itu pastinya bukan anaku! Aku tidak menghamili siapapun! Aku tidak menyentuhnya! Pasti putri anda tidur dengan lelaki lain!” Bela Aga, tubuhnya gemetaran. Keringatnya mengalir di pelipis dan dahinya tapi entah darimana keberaniannya muncul dan mengatakan hal bodoh lagi.

“BAJINGAN!” Bruakh! Pukulan kuat itu mendarat wajah Aga lagi, tubuh pemuda itupun kembali terhuyung. Jika saja tidak ada Lisna didekatnya yang sigap menangkapnya pasti Aga sudah terjatuh kembali.

“Hentikan! Jangan pukul Aga lagi!” Teriak Lisna marah.

“Kau fikir putriku wanita murahan hah?!” Nafasnya terengah-engah sambil menunjuk Aga yang kesakitan, sementara Julian hanya bisa memasang wajah terkejutnya.

“Cukup Pak Hanggoro yang terhormat! Bahkan kau tidak punya bukti bahwa putraku pelakunya!” Teriak Lisna membela dan memeluk putra yang telah dilahirkanya 18 tahun yang lalu. Sementara Aga sendiri hanya diam tak mau membalas perlakuan Henri.

Henri yang berniat menghajar Aga lagi mengurungkan niatnya, karena sadar apa yang dikatakan wanita bersurai hitam kebiruan itu benar. Henri belum punya bukti kuat bahwa Aga pelakunya, bisa saja malah dia yang disalahkan karena memfitnah seseorang.

Arslan yang telah melihat kejadian sebenarnya-pun terkejut, tidak percaya Aga akan menjadi pengecut separah itu. Padahal Arslan tau Ruby gadis baik-baik, dan sudah pasti janin yang sekarang dikandungnya adalah anak dari sahabat bermata birunya tersebut. “Aga!” Arslan mendelik kepadanya.

“Diam Arslan, jangan ikut campur!” Aga memperingatkan Arslan, sebelum sahabatnya itu bicara lebih banyak.

“Pak Henri mohon bersabarlah, kami akan bicarakan dengan Aga kembali,” Julian mencoba menenangkan Henri yang masih menekuk wajah angkuhnya. Kalau saja Henri sudah dapat bukti bahwa Aga yang menghamili Ruby mungkin Aga sudah dibunuhnya dari tadi.

“Lalu apa yang akan kalian perbuat kalau memang benar putra kalian yang melakukanya?!” Henri bertanya tanpa memandang Julian yang masih diam dibelakangnya.

“Kami akan bertanggung jawab, kami akan menikahkan putra kami dengan putrimu Pak Hanggoro.” Putus Julian sepihak tanpa perstujuan Istri dan anaknya. Aga membelalakan iris safir-nya kaget mendengar pernyataan sepihak dari Ayahnya.

“A-Ayaaah?”

“Diamlah Aga!” Aga mencoba protes, tapi tak diindahkan Julian.

“Hn, baiklah aku pegang kata-katamu! Aku menuntut pertanggung jawaban kalian atas putriku! Putriku menderita dan kami yang menanggung malu atas kebejatan anak brengsekmu itu!” Ucap Henri masih menyimpan emosinya.

Seakan melupakan segala hal tentang kesopanam Henri bergegas meninggalkan kediaman Nugraha tanpa berpamitan, bahkan tanpa melirik Arslan yang dilewatinya.

Sepeninggalan Henri dari hadapan keluarga Nugraha dan Arslan, Aga memilih pergi kekamarnya.

“Aga…” Lisna mencoba menahan putranya.

“Biarkan aku beristirahat Bu, aku lelah.” Jawabnya dengan keadaanya yang berantakan. Aga berjalan gontai menuju kamarnya, tidak ada senyum seperti biasanya. Sedangkan Julian yang wajahnya mirip dengan Aga memilih diam, membiarkan putranya menenangkan diri.

Lisna yang menyadari masih ada Arslan sedang berdiri disamping guci besar didekat pintu rumahnya mencoba tersenyum.

“Arslan…apa kau tau sesuatu?” Tanya wanita seumuran dengan ibunya itu terlihat sendu.

“Eh… a-akuu..” Pemuda bermata onyx itu menggaruk kepala belakangnya, berharap mengurangi rasa gugup dalam dirinya.

“Duduklah Arslan, katakan semua yang kau ketahui kepada kami.” Tambah Julian yang juga menyaadari ternyata ada Arslan anak rekan bisnisnya yaitu Felix Dermawan.

“Baiklah,” Atas permintaan Julian yang sudah dianggapnya seperti pamannya sendiri akhirnya Arslan melangkah, mendekati kursi diruang tamu tersebut dan duduk dengan tenang disana. Walau kini sekarang perasaanya juga tidak tenang.

“Apa benar semua tuduhan yang dilayangkan Henri Hanggoro kepada Aga, Arslan?” Tanya Julian memulai obrolan sembari duduk disofa putih berhadapan dengan Arslan diikuti Istrinya.

“Kami harap, kau berkata jujur Arslan,” Lisna menambahi, jari-jari tanganya saling menaut menyembunyikan kekhawatiranya.

Suasana hening untuk sejenak sampai bibir Arslan bergerak berlahan. Seperti melantunkan kidung kematian aura disekitarnya berubah menjadi suram dan menegang. Wajah Julian dan Lisna terlihat tidak percaya mendengar semua pernyataan dari teman anakknya yang memang hanya dia saksi mata atas perbuatan memalukan Aga anak kebanggaan keluarga Nugraha. Arslan menceritakan semuanya, apa alasan Aga melakukannya, bagaimana kejadianya bermula.

Bagai disambar petir hati Lisna terasa sakit, dadanya sesak. Lelehan air suci dari kedua pelupuk matanya menunjukan betapa kecewa dihatinya begitu besar pada putra kesayanganya. Sementara sang suami hanya bisa mengusap-usap bahu istrinya yang sedari tadi ia peluk.

“Julian…” Ucap Lisna lirih, ada beribu kesedihan dari kalimat yang diucapkan istrinya itu.

“Sabarlah Lisna,” Julian menyandarkan kepala istrinya dibahunya, menenangkannya meski dia sendiri juga sangat marah terhadap putranya. Tapi sebagai seorang pria, Julian harus berfikir lebih dingin.

Arslan terdiam, dengan wajah khas keturunan keluarganya yang stoic dan dingin.

“Kita harus datang dan meminta maaf kepada keluarga Hanggoro, kepada gadis itu Julian…hiks..” Tangis Lisna, merasa malu dan bersalah. Tidak percaya, putra manjanya yang polos bisa melakukan hal sebejat itu.

“Aku mengerti Lisna…aku mengerti.” Julian menepuk-nepuk pundak istrinya, mengerti akan keadaan mereka sekarang dan memutuskan bahwa besok mereka akan menemui keluarga Hanggoro dikediamanya.

—***—

Keesokan harinya, Aga menutup pintu kamar mandinya, lebih tepatnya membanting dengan kasar sampai terdengar bunyi debaman yang lumayan keras.

Kepalanya terasa pusing, tulang pipinya terasa ngilu. Masih membekas betul kejadian semalam dikepalanya

Lalu dengan tubuh tanpa pakaian sehelaipun, memperlihatkan perutnya yang rata dan dadanya yang tegap, pria bermata sebiru langit itu membasahi dirinya berdiri dibawah [i[shower[/i] yang menyemburkan air hangat.

Dengan tangan kekarnya ia menjambak rambut jabriknya yang telah basah. Aga meringis menangis dalam guyuran air showernya, berdecih merutuki kebusukanya. Iya dia menangis walau air matanya tak terlihat karena telah disamarkan air yang mengguyurnya.

Menangisi kebodohannya, menangisi perbuatannya, menangisi gadis yang dia anggap sebagai suatu penghalang kesuksesanya untuk menjadi nomor satu. Membayangkan betapa berat beban yang harus ditanggung Ruby atas perbuatanya membuatnya merasa bersalah, tapi tetap saja Aga menganggap tidak semua salahnya.

Mengingat ucapan-ucapanya semalam dihadapan Henri dan kedua orangtuanya, betapa busuk dirinya yang tidak mengakui perbuatanya. Betapa kejamnya dirinya malah menuduh gadis polos itu tidur dengan lelaki lain dan hamil. Namun jika harus menikahi gadis bermata [i]Emerald[/] itu Aga tidak siap, Aga tidak mau impianya hancur karena harus menikah diusia muda. Lagipula Aga tidak mencintai gadis itu.

Giginya menggeretak menahan emosi pada dirinya sendiri, memukul tembok yang kokoh dihadapanya dan menimbulkan bunyi debaman kecil disana.

Sementara gadis yang kini ditangisinya sedang meringkuk dikasur kesayanganya. Piyama putih membalut tubuhnya yang lemah, rambut halus nan indahnya tergerai diatas bantal yang juga berwarna putih bermotif boneka kucing, walau sudah tidak menangis lagi tapi tatapnya terlihat kosong.

“Ruu…” Pria berambut berwarna cokelat itu berjalan menghampiri Ruby, membawakan semangkuk bubur ayam yang pasti masih hangat.

Mengusap pelan rambut panjang adik sepupunya dengan rasa kasih sayang dan perhatian, Gary berniat menyuapi Ruby dengan bubur yang dibawanya sendiri.

“Makanlah dulu Ruu…” Pinta Gart penuh perhatian, namun tidak ada jawaban dari sang adik penyuka es krim rasa vanila itu.

“Ruu…kau harus makan, aku tidak mau kau sakit.” Ucap Gary lagi.

“Aku tidak mau makan Kakak, biarkan aku mati!” Ucap Ruby lirih, Gary tersentak mendengar ucapan adiknya.

“Kau tidak boleh bicara seperti itu, Tuhan akan marah kalai kau menyiksa diri dan bayimu.”

“AKU TIDAK MENGINGINKANYA KAK!” Bentak Ruby, membuat Gary terkejut. Tidak biasanya Ruby yang lembut itu membentaknya. Namun kali ini Gary mengerti keadaan Ruby, adiknya masih sangat terpukul.

“Ruby…aku mohon, demi Kakak makanlah…” Pinta Gary masih tidak menyerah membujuk adiknya makan.

“Hiks… aku tidak mengininkanya Kak, aku benci dia.. .hiks..” Tangis Ruby tumpah lagi, air matanya menetes diatas bantal yang dipakainya.

Gary meletakan mangkuk berisi buburnya dimeja sebelah bed Ruby, lalu mengusap air mata diwajah Ruby yang pucat. “Bangunlah Ruu…” Gary membantu Ruby untuk duduk, setelah Ruby duduk bersandar sandaran bednya Gary membingkai wajah adiknya dengan kedua tanganya, mengusap airmata Ruby yang jatuh dipipi putihnya dengan kedua ibu jarinya.

“Dengarkan Kakak, kau tidak boleh menyerah begitu saja, Kakak yakin kau mampu melalui semua ini Ruu,” Kata Gary tersenyum lalu mencium kening Ruby penuh kasih sayang.

“Aku tidak menginginkanya Kak, aku tidak mau dia tumbuh dalam rahimku…hiks…” Ruby memegangi perutnya, seperti biasa ia mulai meremas perutnya berharap benih yang ditanam Aga itu gugur.

“Jangan lakukan itu Ruby,” Suara lembut seorang wanita tiba-tiba memenuhi kamarnya.

Gary menengok kesamping melihat siapa yang datang, sedangkan Ruby yang bisa menatap langsung sosok wanita cantik didepam pintu kamarnya yang tidak tertutup hanya bisa bertanya-tanya tentang siapa wanita cantik itu.

Wanita itu mendekati Ruby, tersenyum hangat kepadanya juga kepada Gary yang juga memasang wajah heran. Gary yang juga masih belum mengenali wanita itu berdiri mempersilahkan wanita itu untuk duduk dibed Ruby.

“Terima kasih,” Ucap wanita itu kepada Gary tersenyun, Gary membalasnya dengan senyuman.

“Ruby… jangan pernah berfikir untuk menghilangkanya dari rahimu nak,” Kalimat wanita itu membuat Ruby semakin tidak mengerti.

Wanita itu menyingkirkan tangan Ruby dari perut Ruby dengan pelan, lalu berganti menyentuh perut yang masih terlihat rata milik Ruby dengan lembut. “Anak adalah hadiah dari Tuhan, kau harus merawatnya,” Wanita itu berkata seolah tidak mengerti perasaan Ruby yang mengandung anak hasil dari pemerkosaan. Andai wanita yang dianggap Ruby cantik itu tau bahwa dirinya sangat tidak mengininkan bayi yang dikandungnya, bayi dari seorang bajingan yang ia benci.

“Bibi tau, ini sulit bagimu… tapi bukankah dia tidak berdosa sama sekali? Bukankah dia hanya makhluk kecil yang tidak berdaya dan membutuhkan kehangatan dari ibunya? Biarkan dia hidup Ruby, bibi akan merawatmu, merawat calon cucu pertamaku,” Lanjutnya dengan senyum selembut salju.

Degh… ‘Cucu?!’ Ruby dan Gary membulatkan Emerald mereka mendengar pengakuan wanita cantik itu, ‘apakah wanita ini?’… batin mereka berdua.

“Hem… Iya, bibi adalah ibu dari Aga Nugraha,” Lisna tersenyum hangat pada Ruby, seakan tau apa yang ada dalam kepala Ruby, Lisna menjawab pertanyaan itu.

“Ba-bagaimana…” Suara Ruby tercekat, dadanya berdegup cepat. Ia ingin menangis saja sekarang, tidak tau kenapa ia ingin menangis.

“Ruby… kami sudah bicara pada Ayahmu, kami sepakat akan menikahkanmu dengan Aga anak kami,” Lisna masih tersenyum tulus, mengamati calon menantunya yang manis. Dalam hatinya sangat bahagia, ia akan memiliki menantu secantik Ruby.

Tapi tidak bagi Ruby, ini tidak benar ini tidak boleh terjadi, bagaimana mungkin dia menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Yang paling penting adalah dia harus menikah dengan pria yang menghancurkan hidupnya. Bagaimana bisa Ayahnya begitu tega malah menikahkannya dengan seorang bajingan? Dadanya semakin sesak, menahan setengah mati air mata yang kini sudah siap menetes. Bahkan Gary juga kaku terdiam mendengarnya, bagaimana Ayahnya malah mau menikahkan adik kesayangannya dengan pemuda yang ingin dipenggalnya.

“Ruby kumohon jangan menangis…” Lisna merengkuh tubuh ringkih Ruby, mengusap-usap rambut halus Ruby. Sementara Ruby tak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi ia tahan mati-matian.

“Ruby… bibi sangat mengerti perasaanmu. Maafkan kami, maafkan Aga,” Lisna-pun akhirnya menangis memeluk penuh kasih Ruby, merasa iba. Dan juga merasa sangat bersalah atas perbuatan Aga.

Tapi entah bagaimana, dalam hati Ruby sedikit tenang atas perlakuan Lisna, lembut. Seperti pelukan ibunya semasa hidup. Wangi harum ibu bersurai lembut dan panjang itu sedikit menenangkan Ruby.

“Maafkan putra kami, Ruby maafkan Aga,” Lisna masih menangis memeluk Ruby, sementara Ruby tidak tahu harus menjawab apa, memaafkan Aga tidak mungkin baginya.

“Ehem,” Suara bariton yang tegas itu membuat Lisna melepaskan pelukanya dan beralih melihat siapa yang datang.

Henri dan Julian sudah berdiri didepan pintu kamar Ruby. “Jadi ini calon menantuku Pak Henri?” Ucap Julian dengan senyum khasnya, “Cantik dan manis,” Lanjutnya.

Sementara Henri hanya diam tanpa ekspresi berarti melihat kedua calon besanya, yang malah terlihat senang pada Ruby.

Julian mendekati Ruby, Gary yang sedari tadi masih cengo tersadar dan mengambil kursi rias Ruby mempersilahkan Julian duduk disamping ranjang Ruby.

Ruby menundukan kepalanya saat Julian mendekat, baginya melihat Julian sama saja melihat Aga. Seseorang yang sangat tidak ingin dia temui, karena Julian seperti copyan Aga dewasa, mereka sangat mirip.

“Ruby maaf sebelumnya, kehadiran kami mungkin malah semakin membuat hatimu sakit,” Ucap Julian seakan mengerti bagaimana perasaan Ruby. “Jujur hanya ini yang mampu kami lakukan untuk bertanggung jawab atas perbuatan Aga.”

“Ta-tapi…Ayah?” Ruby mengangkat kepalanya menatap ayahnya, dengan tatapan protes.

“Ruby maafkan Ayah, tapi ini hanya jalan untuk membuat nama keluarga kita tidak tercoreng. Tidak mungkin kau akan melahirkan tanpa suami,” Terang Henri, bersedekap dan dengan tatapan tidak ramah.

“Tapi Ayah… aku tidak mau mengandung anak ini! Aku tidak mau menikah dengan Aga! Kenapa Ayah tidak menggugurkan saja bayi ini!” Teriak Ruby frustasi.

“Cukup Ruu! Hanggoro tidak pernah membunuh nyawa orang!” Bentak Henri membuat Ruby bungkam, padahal Gary yang berdiri didekat Ruby juga tidak setuju atas keputusan pamannya itu.

“Lagi pula ini hanya sementara! Kau boleh bercerai dengan Aga jika bayimu sudah lahir dan berumur 3 sampai 5 bulan!” Tegas Henri.

“Ruby… percayalah, kami lakukan semua yang terbaik untukmu juga untuk Aga,” Ucap Lisna lagi.

“Kakak???” Ruby melihat Gary, matanya ingkinkan pembelaan untuknya. Tapi Gary diam dengan wajah menyerah, itu artinya Gary juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Ruby menggigit bibir bawahnya, kedua pundaknya sedikit berguncang menahan tangis. Ia ingin menolak dan berteriak, tapi seperti biasanya ia tak sanggup melawan keinginan Ayahnya.

“Lalu bagaimana dengan Aga?” Tanya Henri kepada kedua calon besanya.

“Anak itu, biar kami yang urus,” Jawab Julian dengan yakin.

—***—

“Apa?! Menikah?!” Ucap pemuda jabrik yang kini wajahnya bermuram durja, dihadapan kedua orang tuanya.

“Terserah kau saja, kau menikahi Ruby atau memilih dikurung dalam penjara!” Pernyataan ayah bersurai sama seperti pemuda itu membuat sang pemuda nampak bingung.

“A-aku tidak mau dikurung Ayah!” Ucap sang pemuda yang enggan duduk tapi berdiri dengan gelisah.

“Aga! Ibu sudah bertemu Ruby, dia cantik. Apa kau tidak tertarik kepadanya?” Tanya Lisna sedikit menggoda anaknya. “Hm..jujur saja Ibu sedikit bersyukur bahwa ternyata Ruby yang akan jadi istrimu, walau cara kalian dipersatukan yang membuat Ibu kecewa!” Lanjut Lisna.

“Aku tidak tertarik padanya Bu! Dia itu sangat menyebalkan!” Ujar Aga sambil bersedekap dan memalingkan wajahnya melihat langit biru dari jendela ruang kerja Ayahnya.

“Tapi kau harus tetap bertanggung jawab atas perbuatanmu,” Paksa Julian, “Ayah tidak mau tahu, minggu depan kau akan menikah dengan Ruby!” Lanjut Julian tegas, membuat Aga membelalakan iris safirnya.

“Ke-kenapa secepat itu? Bagaimana dengan sekolahku?” Aga mencoba protes.

“Ayah sudah mengurus semuanya, kau tetap bersekolah. Ruby belajar dirumah, dia akan tinggal bersama kita setelah kalian menikah!” Jelas Julian dengan wajah serius, masih duduk dikursi kerjanya, sementara Lisna yang berdiri disamping suaminya tersenyum melihat tingkah kaget Aga. ‘Anakku akan menjadi seorang ayah’ ucapnya dalam hati kegirangan.

“Baiklah, terserah Ayah saja, terus saja mengatur hidupku sesuka kalian! Yang jelas aku tidak mau membusuk dipenjara seperti yang Arslan brengsek katakan. Dan satu lagi, aku tidak mau sekamar dengan Ruby!” Ucap Aga berapi-api.

Julian dan Lisna hanya tersenyum geli mendengarkan ocehan dan syarat yang diajukan putra mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*