Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan 2

Buah Dari Masa Depan 2

“Ruu ini tasm- eh kau?” Yuka berhenti begitu saja setelah tubuhnya hampir menabrak sesosok tegap dengan kepala yang dibalut perban melingkari kepalanya.

“Kau mencari temanmu? Dia sudah pulang bersama Kakaknya,” Ucap pemuda itu tanpa ekspresi.

“Ka-kalau begitu permisi,” Yuka langsung berbalik berniat pergi, tapi tangannya ditahan.

“Kenapa kau selalu menghindariku?” Ucapnya.

“Aku tidak menghindarimu, aku hanya buru-buru!”

Arslan membalikkan paksa tubuh Yuka untuk menghadapnya, “Kenapa kau meninggalkanku? Dan berpacaran dengan Kakakku?”

“Kita sudah selesai, dan aku tidak pernah tau dia Kakakmu!” Jawab Yuka memalingkan wajahnya.

“Setelah semua yang telah kita lakukan dibelakang teman-teman kau bilang selesai?! Bahkan aku masih mengingat betul lekuk-lekuk indahmu!” Bisiknya, mendorong tubuh Yuka ditembok dan memepetnya.

Dada Yuka berdetak dengan kencang, nafas hangat lelaki yang sedang mengapitnya antara tembok ruang kesehatan itu membuat wajahnya memerah.

“Kau mau apa?” Bisik Yuka pelan.

“Aku ingin lihat,” Jawab Arslan semakin membuat tubuh gadis itu sesak karena dorongan dari tubuh tegapnya.

“Lepaskan aku! Atau kau mau memperkosaku seperti temanmu yang brengsek itu?!”

“Aku rasa aku tidak perlu memperkosamu, ayolah Miss.Ponytail aku tau kau menginginkanku!” Bisiknya lalu menjilat telinga kiri Yuka.

“Arslan! Kau gila!” Yuka berusaha mendorong tubuh Arslan dengan tas Ruby yang dibawanya, tapi tubuh Arslan tidak bergerak.

“Aku benci wanita yang sok menolakku, ayolah aku tau kau Yuka. Dua bulan bersamamu, aku cukup tau kau seperti apa.” Tangan Arslan bergerak membuka satu kancing seragam Yuka.

Dada Yuka berdetak sangat cepat, dia memang sering bercinta dengan Arslan melalui obrolan Line-nya, bertukar gambar nude tanpa wajah berkali-kali bahkan sex by phone, tapi yah hanya sebatas itu. Bahkan keduanya tak saling tahu kalau mereka sebenarnya teman satu sekolah. Barulah keduanya saling tau saat mereka berencana membuat kencan kecil ditaman, tapi keduanya terkejut saat bertemu, membuat Yuka sangat malu dan pergi, memutuskan untuk melupakan semuanya dan menghindari laki-laki pewaris kekayaan keluarga ‘Dermawan’ itu.

Tapi sepertinya takdir mempertemukan mereka didalam situasi seperti ini. Tubuhnya tengah dihimpit mantan teman kencannya diinternet, dan kancing bajunya telah terlepas semuanya membuat mata Onyx pria berwajah maskulin itu melebar.

‘Cuph’ Satu buah ciuman ia daratkan dileher mulus Yuka membuat bulu gadis itu meremang, tangan Arslan juga bergerak meremas dada berlapis bra biru dengan motif lingkar-lingkar dengan benang berwarna emas seakan menegaskan bahwa itu memang bukan bra murahan.

“Kkh! Arslan… Aku dan Alan,” Pekik Yuka saat bibir Arslan menggigit leher Yuka pelan.

“Jangan bicarakan bajingan itu didepanku,” Bisik Arslan, dapat Yuka rasakan hangat nafasnya dilehernya. “Bahkan kau akan meninggalkannya kalau kau tau,”

“Mmh…apa maksudmu?”

Arslan tidak menjawab, ia menatap mata abu-abu Yuka yang indah. Lalu membelai wajah Yuka dengan tangannya, perasaan Yuka semakin tidak menentu. Baru pertama kalinya ia sedekat ini dengan Arslan, wajahnya yang tampan benar-benar menghipnotisnya.

“Eh??!” Yuka membelalakan matanya saat bibir Arslan menempel dibibirnya, lalu sedetik kemudian mulai membuka bibirnya melumat bibir Yuka. Yuka berusaha mendorong tubuh Arslan tapi tangannya dipegang kuat oleh pemuda itu.

Cklek! Suara pintu UKS seperti akan dibuka seseorang, Arslan langsung membekap mulut Yuka dan dengan cepat menarik tubuh Yuka untuk masuk kedalam bilik yang hanya disekat kain putih disampingnya.

Keduanya saling diam didalam bilik, menunggu apa yang akan dilakukan seseorang yang masuk itu. Tapi tampaknya dua orang yang datang itu hanya mengambil kotak obat untuk menolong siswa yang terjatuh saat bermain sepak bola.

Saat mata Arslan kembali menatap Yuka, ternyata gadis itu sudah mengancingkan kemejanya membuat Arslan mendengus tidak suka dan langsung menarik tubuh Yuka kedalam dekapanya membuatnya terjepit lagi diantara tembok dan tubuhnya.

Meremas lagi payudara Yuka dengan kasar lalu mencium bibirnya gemas membuat Yuka semakin kesakitan saat ia berusaha menolak. Lalu dengan cepat membuka kancing-kencing seragam itu lagi dan menelusupkan tangan kanannya kebelakang tubuh ramping Yuka membuka pengait bra itu dan menariknya kedepan.

Bongkahan dada Yuka terbuka didepan Arslan yang manatapnya kagum, ia mengangkat salah satu sudut bibirnya puas. “Tidak jauh beda dengan gambar yang kau kirim,” Bisiknya, tangan Arslan memuntir ujung dada kiri Yuka membuat gadis itu memejamkan matanya.

“Eennggh…”

“Kau tidak mau menyentuhnya?”

Yuka semakin berdebar saat tangannya dibawa Arslan menyentuh pangkal pahanya yang menegang, oke Yuka pernah melihatnya waktu itu tapi hanya foto. Dan baru pertama ini menyentuhnya secara langsung dan itu membuatnya grogi.

“Hei ayolah, kau sangat penasaran kan waktu itu?” Ucap Arslan menggoda Yuka yang semakin memerah. Tidak menjawab kalimat Arslan, pria itupun kembali melumat bibir gadis yang masih terlihat kaget dengan perlakuannya.

Krrriiieeek Suara itu membuat Yuka membuka matanya, dan ia dapati Arslan tengah menyeringai padanya. Lalu ia duduk diranjang pasien disampingnya, menarik tubuh setengah telanjang Yuka untuk berlutut.

“A-arslan??” Gumamnya penuh tanya dan keraguan saat matanya menangkap benda kecokelatan dengan rambut-rambut yang tidak terlalu tebal tengah menegang didepannya, mungkin pria itu tipe pria yang juga rajin merawat kepunyaannya.

Arslan tak menjawab malah menarik kepala berkuncir itu kepangkal pahanya, dan memaksa Yuka untuk membuka mulutnya dan memasukkan benda sebesar mentimun itu.

“Aaahhhhpp,” Yuka melirik Arslan yang meringis karena setengah juniornya sudah masuk kelorong hangat itu. Yuka yang melihat Arslan tampak menahan nikmat membuang rasa ragunya untuk mempraktekkan semua yang dia tau dari hasil imajinasinya selama ini.

Arslan mengangguk, mempercayakan hal itu pada Yuka. Gadis itu mulai menggerakkan kepalanya maju mundur berlahan, tak lupa tangannya menggenggam junior Arslan sambil sesekali mengurutnya. Aroma khas kejantanan seorang pria tercium hidungnya yang mancung, tidak terlalu buruk tidak sebau yang Yuka kira.

Yuka semakin terbawa suasana mengoral junior Arslan, setiap kali pria itu mendesis nikmat Yuka menjadi semakin bersemangat. Entah hanya perasaan Yuka atau memang benar, benda dengan urat-urat yang menonjol itu semakin membesar dan keras.

Yuka melepaskan kulumannya, ia lirik Arslan yang menatapnya sayu lalu menggenggam lagi benda itu dan menggunakan tangannya untuk mengocoknya sedikit lebih cepat. Arslan kembali mendesis saat lidah hangat Yuka menjilat kedua biji kejantanannya yang menggantung. Lalu tanpa ragu Yuka membuka mulutnya dan melahap dua bola itu memainkannya dengan lidah didalam sana, sementara tangannya menggenggam batang keras itu dan menggerakkannya turun naik.

Kepala Arslan terasa sangat panas menikmati rasanya dimanjakan wanita cantik seperti Yuka, sepertinya Yuka benar-benar mempraktekan apa yang dipelajarinya. Arslan merasa mungkin sebentar lagi ia akan memuntahkan semennya.

Tidak, bagi pria sejati orgasme terlebih dahulu adalah sebuah hal yang memalukan, apalagi pria dengan gengsi tinggi sepertinya. Arslan mengangkat lembut Yuka agar berdiri, lalu meremas payudara Yuka yang ada didepannya, menarik pinggang mungil Yuka agar ia bisa melahap dada yang tidak terlalu besar itu.

“Aaaahhh….” Desis Yuka saat salah satu dadanya dijilati Arslan, ia hanya bisa memeluk leher kokoh Arslan. Tak hanya itu, diantara pahanya dapat Yuka rasakan benda yang baru saja ia mainkan menyundul paha mulusnya.

“Boleh aku lepas?” Bisik Arslan, tangannya sudah turun diatas pantat Yuka sambil memegang karet penutup pakaian mini itu. Arslan memandang Yuka dengan pandangan memohon.

Yuka mengangguk, kepalang basah. Tidak perlu menjaga citranya, Arslan yang lebih kaya darinya saja tidak malu-malu mengumbar nafsunya kenapa dia harus malu? Bukankah dia mencintai pria itu?

Kain tipis itu diloloskan Arslan dari tubuh Yuka, jadi tubuh sexy itu tak lagi memakai celana dalam dibalik rok seragamnya. Tangan Arslan bergerak meraba paha Yuka yang masih memeluk lehernya, meremas kedua bongkah pantat Yuka yang dulu hanya bisa dibayangkannya.

“Eennhhh….Ahh,” Yuka kembali mendesis, jari telunjuk tangan kanan Arslan ternyata sudah menari-nari diatas ‘kacang’ nya, sementara jari tengahnya ia gunakan untuk menusuk berlahan lubang yang mulai basah itu.

“Crruph…” Arslan mengulum puting Yuka lagi, menyedotnya seperti bayi. “Apa Alan juga mendapatkan ini?” Tanyanya, Yuka hanya menggelang. Arslan senang mengetahui itu, ia kembali mengulum puting kemeraha Yuka, serangan combo pada kedua titik rangsangnya itu membuatnya belingsatan, menggigit bibir bawahnya sambil menjmbak rambut tebal Arslan.

“Aahhh….Arslan!” Yuka mendekap kepala pemuda itu, tubuhnya menegang dan bergetar. Sebuah letupan kenikmatan yang berasal dari tubuhnya sukses ia keluarkan.

Arslan tersenyum tipis memeluk gadis yang terlihat kelelahan didepannya, ia angkat tangannya yang basah karena cairan dari tubuh Yuka. “Ummm…” Menjilatnya, lalu merebahkan tubuh Yuka diranjang pasien. Hanya tubuh atas Yuka saja yang ia baringkan, sengaja membuat kakinya tergantung agar memudahkannya membuka paha Yuka sesukanya.

Ia singkapkan rok sekolah Yuka keatas, terlihat jelas gundukan cantik itu dengan bulunya yang agak tebal tapi tertata rapi. Arslan melebarkan paha Yuka, merendahkan tubuhnya lalu menyapu bersih cairan pelicin alami yang dihasilkan Yuka dengan lidahnya. Yuka mengerang lagi merasakan ujung lidah Arslan memainkan ‘kacang’nya yang masih lumayan ngilu.

Puas dengan itu, Arslan berdiri dan memposisikan juniornya dikewanitaan Yuka yang sudah ia buka, menggesek-gesekkan kepala kecil mirip jamur itu. Yuka menggeleng pelan, pertanda ia tidak mengijinkan Arslan memasukinya.

Arslan tersenyum, mengusap keringat dikening Yuka dan mencium bibir Yuka. “Bagaimana kalau pelan-pelan?” Rayu Arslan.

“Tidak, kau sudah berjanji waktu itu,” Jawab Yuka mengingatkan janji mereka dahulu. Janji tidak akan meminta Yuka untuk menyerahkan kesuciannya.

“Baiklah…” Balas Arslan, “Kalau hanya begini?” Lanjutnya sambil menggesekkan juniornya didepan liang Yuka yang terus membanjir, sementara Yuka hanya tersenyum dan memejamkan matanya. Itu artinya dia mengijinkan.

Cukup lama bertahan diposisi yang tidak terlalu menyenangkan untuk Arslan, pemuda itu menarik kedua tangan Yuka untuk duduk. Kemudian meremas kedua payudara Yuka, menyatukannya kemudian membimbing kedua tangan Yuka untuk tetap pada posisi itu.

Menggerakkan berlahan juniornya diantara belahan dada Yuka, sambil sesekali menggoda Yuka. Gemas dengan benda mirip jamur yang bergerak-gerak didadanya Yuka menjulurkan lidahnya.

Perlakuan Yuka itu membuat Arslan semakin bersemangat menggerakkan juniornya, sedangkan Yuka mengerling genit pada Arslan. “Aah!” Arslan sudah pada batasnya, entah kenapa gadis yang tadinya malu-malu itu terlihat begitu sexy dan menggodanya.

“Yukaaahhh….” Desisnya sambil memejamkan matanya, lalu tidak lama kemudian cairan putih itu muncrat diatas payudara Yuka yang mulus, sebagian dibibir Yuka. Yuka nyengir, ternyata seperti itu bentuknya cairan ‘semen’ pria? Begitu baunya seperti pemutih pakaian?

Arslan menyeka cairannya dibibir Yuka dengan ibu jarinya, lalu menciumnya dan tersenyum. “Terima kasih ya,” Ucapnya.

“Masih rahasia,” Jawab Yuka.

“Baik, as you wish Mrs.ponytail,” Balasnya sambil memeluk Yuka.

—***—

Keesokan harinya Ruby berangkat sekolah diantarkan Gary kakaknya, seperti biasa dengan seragam berjas dan berdasi garis-garis. Ruby baru saja memasuki koridor sekolah, setiap hari sejak kejadian melawan Aga ia selalu teringat kejadian dikoridor itu. Dan entah karena hal itu atau bukan, kini Aga dan teman-temanya tidak pernah mengobrol disana, mereka pindah tempat ditaman dekat kantin.

Ruby berjalan sesekali mengedarkan pandang disekelilingnya, tersenyum kepada beberapa teman yang ia temui disepanjang koridor sampai seseorang memanggilnya.

“Ruby…tunggu!” Gadis berponytail dengan postur tubuh yang ideal berlari kearahnya.

“Yuka… kenapa kau berlari?”

“Hh…Kau sudah tidak apa-apa?” Yuka langsung menghampiri Ruby dan menanyakan keadaan Ruby dengan nafas yang tersengal-sengal, tanpa menjawab kenapa ia berlari.

“Sudah…” Jawab Ruby dengan senyum manis seperti biasanya.

“Syukurlah…” Yukapun tersenyum lega, “Kau melupakan tasmu,” Lanjutnya sambil memberikan tas berwarna ungu itu pada Ruby.

“Maaf, Kak Gary terlalu menghawatirkanku dia menjemputku dengan segera, padahal jam kerjanya belum selesai,” Terang Ruby menceritakan Kakaknya yang lumayan protective padanya.

“Hahaha… aku sudah hafal sifat Kakak sok kerenmu itu,” Jawab Yuka, lalu mereka berjalan bersama menuju kelas.

—***—

Jam istirahat telah tiba, seperti biasa Ruby berada dikantin bersama Yuka dan Gista teman sekelasnya, memakan baso atau sekedar meminum jus. Tapi ada yang beda, Ruby sekarang lebih suka memesan rujak yang hanya berisi mangga muda dan jeruk. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya dikepala berekor Yuka.

“Ruu? Kenapa tidak pesan baso kesukaanmu lagi?” Tanya Yuka, sambil memainkan sedotan digelas jus cherry-nya.

“Aku sedang ingin makan rujak, beberapa hari ini aku tidak berselera makan makanan berat,” Jawab Ruby sambil menikmati mangga muda dengan bumbu gula merah dan cabai sebagai sausnya.

“Apa kau sedang diet Ruu? Kau terlihat sedikit gemuk dari sebulan yang lalu,” Gadis berkuncir dua itu ikut mengomentari Ruby dengan mulut yang penuh dengan kue ‘mochi’.

“Tidak Gista, aku tidak diet. Eh tapi yang benar saja aku gendut? Benarkah begitu Yuka?” Tanya Ruby berharap sahabatnya itu menjawab tidak, karena Ruby tidak suka jika harus mempunyai badan gemuk.

Yuka memperhatikan dengan seksama tubuh Ruby, “Umm… tidak.” Jawab Yuka dengan santai, karena memang dia tidak mendapati perubahan berarti pada diri Ruby.

“Syukurlah…hahaha…” Ruby bersyukur mendengar pernyataan Yuka.

Acara makan pada jam istirahat mereka habiskan dengan mengobrol dan bergurau, tapi tiba-tiba Yuka menghentikan makanya dan menutup mulutnya “Ummhk!” Suaranya tertahan.

“Ruu???”

“Ruby…” Kedua teman semeja makannya itu tampak khawatir melihat Ruby seperti mau muntah.

“Yuka… Gista maaf aku permisi dulu,” Ruby berdiri lalu berlari meninggalkan kedua temanya yang masih melongo melihatnya berlari sambil memegangi perut dan mulutnya.

Ruby lari tergesa-gesa menuju toilet, bahkan beberapa kali menabrak teman-teman sekolahnya. Setelah sampai ditoilet mewah dan wangi seperti toilet disuper mall itu dia buru-buru membuka pintunya. Tapi malangnya semua pintu terkunci dari dalam, itu artinya semua terpakai. Tak tahan, semakin mual Yuka berlari ketoilet pria.

Brukh! Sial! Ruby menabrak seseorang dan limbung, tetapi seseorang yang ditabraknya itu dengan spontan merengkuh tubuhnya agar tidak jatuh.

Emerald bertemu pandang dengan Saphire. ‘Indah’ gumam kedua manusia berbeda gender itu. Menyadari siapa yang ‘ditahan’ dan siapa yang ‘menahan’, keduanya dengan cepat melepaskan diri. Ruby melepas tangan kekar yang menahan pinggangnya lalu berdiri dengan cepat, sementara pemilik tangan kekar juga dengan cepat menarik tanganya. Jika saja Ruby tidak cepat berdiri mungkin jadinya dia juga terjatuh.

“Biarkan aku lewat,” Ruby menundukan kepalanya, baru saja dia akan menghindari pria berkulit putih yang baru saja menolongnya itu lenganya sudah ditarik kembali.

“Mau kemana kau?” Aga menghentikan langkah Ruby.

“Jangan ganggu aku bodoh, aku mual! Aku mau masuk kedalam!” Ruby melepaskan genggaman Aga dipundaknya.

“Aku duluan! Kau tidak pernah diajarkan mengantri?! Lagi pula didalam ada Arslan!” Aga tidak mau mengalah, “Dan apa kau lupa kalau ini toilet pria? Kenapa kau kemari ha?!” Selidik Aga curiga.

“Aku mual! Aku mau muntah! Jangan ganggu dan tahan aku!” Yuka melawan, memaksa menerobos Aga. Tapi lagi-lagi Aga menahanya. Terjadi aksi saling dorong diantara mereka, membuat pria berambut raven yang berada didalam toilet tersenyum kecut.

“Biarkan aku masuk Aga! Aku sudah tidak tahan!” Ruby mendorong-dorong dada bidang Aga.

“Tidak boleh! Kau mau mengintip Arslan?!” Teriak pemuda tampan dengan bola mata biru itu mulai emosi.

‘Bodoh’ dengus Arsn didalam toilet, lalu pemuda keturunan keluarga Dermawan itu merapikan dirinya, semenatara Aga dan Ruby masih ribut diluar sana.

“Hum…ummh..” Ruby mendorong tubuh Aga dengan tangan kananya sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mulutnya, ia benar-benar mual.

“Tidak boleh!” Aga masih ngotot menahan tubuh Ruby, sementara Ruby semakin pucat menahan mual, sampai akhirnya tidak kuat menahan lagi.

“Hooeekkk…hoooek!” Ruby muntah. Muntah dibaju seragam Aga. Oh sial! Ruby, pasti pemuda dengan mata indah itu marah.

“Grrrhhh…” Aga menggeram, memelototi Yuka yang memasang wajah bersalah.

“Kau! Kau memang gadis bodoh!” Wajah Aga memerah menahan marah, melihat bajunya basah. Memang hanya air, itu tidak terlalu menjijikan tapi tetap saja itu muntahan dan pasti membuat Aga berang.

“Sudah kubilang! Aku mau muntah! Tapi kau malah menahanku!” Bentak Ruby tidak mau disalahkan, sibuk mengelap mulutnya dengan punggung tanganya.

“Bajuku jadi kotor! Bau muntahanmu! iieeehh…menjijikan!” Aga berusaha menjauhkan kemeja yang masih melekat ditubuhnya dengan menariknya kedepan dan mengibas-ngibaskan muntahan Ruby dengan ekspresi yang konyol.

“Rasakan! Memang enak? Sudah aku katakan aku mau muntah! Kau menahanku!”

“Rrrhghh…” Aga mengangkat tanganya bersiap menampar Ruby, sementara gadis berponi depan itu menutup wajahnya dengan telapak tanganya pasrah menerima apa yang akan dilakukan Aga.

Saat tangan kekar itu diayunkan kearah Ruby, sebuah tangan kekar yang lain menahanya. Aga menoleh kearah pemuda yang berani menghalanginya, dan Ruby pelan-pelan membuka manik uniknya saat dirasa tangan yang seharusnya memukulnya tak kunjung mengenai wajahnya.

“Sudah cukup bodoh!” Suara bariton dengan tangan yang menahan tangan Aga.

“Playboy?” Aga bengong melihat sahabatnya datang lagi-lagi membela Ruby. Aga tidak habis pikir Arslan bukan tipe yang suka ikut campur masalah orang lain, tapi sudah dua kali ini dia selalu ikut campur urusan Aga. Apa dia menyukai Ruby? bukankah Arslan selama ini hanya memperhatikan Yuka? Aga bertanya-tanya sendiri dalam benaknya.

“Hn!” Hanya sebatas dengusan itu jawaban Arslan, dia memang selalu begitu tapi dalam benaknya berpendapat bayi yang dikandung Ruby sedang mengerjai ayahnya.

‘Dia menolongku dua kali’ Batin Ruby saat melihat pemuda bernama belakang Dermawan itu menolongnya lagi, walau waktu itu terlambat paling tidak kali ini dia berhasil mencegah pemuda rambut nanas itu menyakitinya lagi.

“Biarkan saja dia, aku sudah selesai. Ayo pergi,” Ajak Arslan dengan raut wajah yang tenang seakan tidak terjadi apa-apa.

“Hah!” Aga menarik tanganya dengan kasar dari cengkraman Arslan, “Tenang saja brengsek! Aku tidak benar-benar akan memukulnya, ayo pergi.” Balas Aga, lalu kedua pria keren itu pergi setelah sebelumnya Aga dengan sengaja menabrak lengan Ruby dengan lenganya. Ruby hampir saja terjatuh akan hal itu, sedangkan pria menyebalkan berambut nanas itu malah meliriknya dengan tatapan tajam.

Ruby tak memperdulikanya lagi, dalam hatinya senang bisa membuat Aga sedikit ribut seperti kebakaran jenggot. Lalu Ruby segera masuk kedalam toilet dan membersihkan mulutnya.

—***—

Langit yang siang tadi cerah kini telah berubah warna menjadi jingga, menandakan sore telah datang. Beberapa siswa yang mengikuti pelajaran tambahan kini sudah keluar kelas dan segera memenuhi jalanan kestasiun kereta terdekat untuk segera pulang kerumah masing-masing. Termasuk Ruby dan Yuka yang hari itu tidak dijemput Gary maupun Alan.

Ruby yang berjalan beriringan dengan gadis penyuka cokelat itu sesekali bercanda disore yang sejuk, sampai Yuka memulai obrolan yang sedikit serius.

“Ruu…” Yuka melirik Ruby yang berjalan disampingnya, ingin menanyakan sesuatu tapi Yuka ragu.

“Iya Yuka?” Jawab gadis bersurai pekat yang berjalan menundukan kepalanya, sesekali rambutnya yang indah menari-nari diudara karena tertiup angin sore yang teduh.

“Eh..tidak Ruu…” Yuka mengurungkan niatnya, Yuka takut menyinggung sahabat cantiknya.

“Ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?” Tanya Ruby memiringkan kepalanya melihat ekspresi murung sahabat kuncir kudanya itu.

“Ah s-sebenarnya…” Yuka mendadak gagap seperti Ruby waktu masih disekolah dasar.

“Hm?” Ruby mengerutkan keningnya, mencoba menebak-nebak apa yang akan ditanyakan Yuka.

“Eh, a..maaf Ruu, aku hanya…” Yuka menghentikan kalimatnya, bergelut dengan perasaanya sendiri, sampaikan atau tidak.

“Ada apa? Kau membuatku penasaran,” Ruby masih memasang wajah ingin taunya.

Yuka tersenyum, “Eh…itu, aku..aku maaf, aku khawatir kalau ternyata, kau ternyata hamil Ruu,” Ucap Yuka dengan wajah yang saat ini benar-benar gugup.

Pernyataan yang terlontar dari bibir Yuka sukses membuat Ruby membulatkan Emeraldnya, Ruby tak percaya dan juga tidak pernah berfikir sampai kesitu, dalam hatinya pun khawatir pernyataan Yuka itu benar.

“M-maaf Ruu, melihatmu akhir-akhir ini sering mual dan lebih suka memakan buah berasa asam… dan kejadian aneh lainya i-itu,” Yuka kembali mengingat-ingat dengan sebuah artikel tentang tanda-tanda kehamilan, dan itu yang kini sedang Ruby alami. Mengingat kejadian yang menimpa sahabat cantiknya itu.

“Maaf Ruu… itu seperti tanda-tanda kehamilan.” Yuka menghentikan langkahnya, ia tatap sahabatnya yang kini mematung, dilihatnya ada aura ketakutan didiri Ruby.

“Tidak Yuka..aku tidak percaya,” Jawab Ruby lirih, tak dipungkiri perasaannya kini juga takut, dalam hati ia membenarkan kata-kata Yuka. Walau tidak berpengalaman, tapi setidaknya dia juga pernah mendengar soal tanda-tanda kehamilan persis seperti yang ia alami.

“Ruu… apa sebaiknya kita buktikan? a-aku..aku berharap hasilnya negatif,” Ucap Yuka, mencoba memberi Ruby harapan yang baik.

“Aku takut Yuka…” Jawab Ruby lirih.

“Aku akan menemanimu, aku janji menemanimu,” Jawab Yuka tersenyum meyakinkan Ruby.

—***—

Kamar bernuansa putih dan sedikit warna ungu dibeberapa bagian itu sunyi, walau disana ada dua anak manusia yang biasanya menimbulkan suara kegaduhan dan membuat pria bernama Gary pusing karena tingkah mereka. Tapi kali ini sepertinya masing-masing dari mereka enggan untuk memulai suatu percakapan.

Ruby masih berdiri didepan Yuka yang duduk diranjang bersprei ungu pudar. Tangan Ruby membawa sebuah ‘test pack’ kehamilan, raut wajah ragu juga kekhawatiran tersirat dari kulit wajahnya yang seputih salju.

Lalu sebuah anggukan dari Yuka seakan mendorong Ruby untuk memberanikan dirinya untuk melakukan ‘tes’ kehamilan dengan alat sederhana tersebut.

“Hh…lakukanlah Ruu,” Bujuk Yuka menepuk pelan dan mengusap lengan Ruby mencoba meyakinkan.

“Baiklah,” Ruby mencoba tersenyum ditengah genderang dadanya yang makin berdegup. Walaupun begitu, dia tetap harus membuktikan agar pertanyaan dalam hatinya dan Yuka terjawab.

Yuka sudah dikamar mandinya, lalu mengambil ‘urin’ dan dimasukan kedalam wadah kecil. Dengan tangan yang bergetar Ruby memasukan alat mirip lidi pipih berwarna putih dan ada satu strip warna merah pada alat itu. Masih dengan perasaan yang takut Ruby menunggui hasilnya.

1 menit…

2 menit…

‘Tuhan semoga hasilnya negatif’ doa Ruby dalam hati, peluh mulai menetes dari pilipisnya yang ditumbuhi rambut-rambut halus.

4 menit…

‘Aku mohon Tuhan…aku mohon…’ Ruby memejamkan matanya, degup jantungnya kini benar-benar memacu dengan keras seakan ingin meloncat keluar dari dadanya.

5 menit…

Ruby membuka iris sehijau daunnya berlahan, meletakan wadah kecil sebagai penampung ‘urin’ nya diatas closed yang tertutup. Kemudian melihat ‘test pack’ yang masih dipegang tangan kananya.

Manik emerlad unik itu terbelalak, bibir mungil berwarna ‘peach’ itu juga membuka lebar, sementara semua aliran darahnya terasa mengalir dan berhenti dikepalnya. Dunia kini terasa berhenti berputar.

“T-tidak mungkin,” Suara Ruby tercekat, jantungnya seakan berhenti saat itu juga, “Tidak…aku tidak mau..hiks..” Bulir bening itu sudah meleleh dipipi mulusnya, tubuhnya telah merosot dan terduduk dilantai kamar mandi yang basah dan dingin. Kakinya tak sanggup lagi menopang tubuhnya, lemas seakan seluruh tulangnya lepas dari tubuhnya

Hidupnya terasa berakhir dan semakin hancur setelah melihat benda itu bergaris dua, menandakan bahwa gadis bernama belakang Hanggoro itu positif hamil. Hamil dari hasil sebuah hubungan yang sangat dikutuknya. Hasil dari pemerkosaan yang dilakukan Aga Nugraha, putra tunggal keluarga Nugraha yang sangat terhormat.

“Tidaaak! Aku tidak mau..! Hiks..haaa…! ” Jerit Ruby, sampai seluruh isi rumahnya mendengar, termasuk ayahnya yang sedang mengetikan sesuatu dilaptopnya.

“Ruuby…!” Yuka yang menungguinya didalam kamar terkejut oleh suara Ruby, seketika ia berlari menemui sahabatnya yang tengah menjerit-jerit histeris mengacak-acak rambut yang biasanya rapi dan indahnya.

“Ruu…” Yuka memeluk Ruby, ia sudah tau apa yang terjadi pada Ruby hanya dengan melihat benda bergaris merah yang masih digenggam Ruby. “Ruu…” Hanya kata itu yang mampu diucapkan Yuka, sementara manik abu-abunya juga mulai meneteskan butiran bening merasakan kesedihan sahabatnya itu.

“AKU TIDAK MAU YUKAAA! AKU TIDAK MAU! AKU TAK SUDI!..” Tangis Ruby histeris, mengacak-acak lagi rambut indahnya hingga beberapa helai rambut itu tercabut dari akarnya. Ruby benar-benar tidak peduli lagi teriakanya akan membuat dirinya dikerubuti banyak orang.

“Sudah Ruu…tenanglah,” Yuka mendekap erat tubuh Ruby yang dingin, “Kumohon Ruu tenanglah..” Yuka masih memohon.

“AKU TIDAK MAU! BAJINGAN! AGA BAJINGAAAAN..HAAAA! Ruby semakin menjadi-jadi, dia memukul-mukul perutnya sendiri dengan kedua tanganya, tak perduli lagi rasa sakit akibat pukulan itu.

“Hentikan Ruu! Sudah jangan lakukan itu!” Dengan tangisnya Yuka mencoba menahan tangan Ruby yang masih memukul-mukul perutnya. Ruby memang berharap janin itu mati dan tidak pernah ada ada lagi dirahimnya.

“Hiks..hiks..kenapa…kenapa harus aku Yuka? Apa salahku padanya?” Tangis Ruby mulai mengontrol emosi. “AKU TIDAK SUDI RAHIMKU DIKOTORI BENIH PEMUDA BRENGSEK ITU! Aku tidak mau!” Teriak Ruby mengeluarkan seluruh emosi yang selama ini dipendamnya.

Yuka hanya bisa mengusap-usap rambut Ruby dan memeluknya lagi berharap itu akan memberi Ruby sedikit kekuatan. Tapi nyatanya tubuh Ruby melemah, pandanganya kabur, sayup-sayup dia mendengar suara Yuka memanggil-manggil namanya. Lalu suara beberapa orang yang memasuki kamarnya. Setelah itu semua tampak gelap dari penglihatan Ruby.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*