Home » Cerita Seks Umum » Buah Dari Masa Depan

Buah Dari Masa Depan

Jekarda International Highschool, sebuah sekolah swasta yang dibangun seorang pengusaha kaya dikota itu dan mendapat suntikkan dana yang besar dari beberapa pengusaha lainnya. Sekolah yang dibangun 20tahun yang lalu itu memang dikhususkan untuk anak anak pejabat, pengusaha kaya, beberapa anak pindahan dari luar negri dan artis-artis muda.

Karena fasilitas dan biayanya yang cukup lengkap dan mahal, maka memang hanya mereka lah kaum elit yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka disana.

Tidak itu saja, anak-anak borjuis itu juga harus menjalani beberapa test masuk untuk dapat belajar disana. Kalau hanya kaya saja jangan harap dapat lolos masuk Jekarda International Highschool, karena sekolah itu memang dibuat untuk mendidik secara khusus anak-anak orang kaya yang juga smart agar siap mengemban tugas orang tua mereka suatu hari nanti.

Disana terdapat banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler yang juga banyak, seperti menari, belajar musik, menyanyi, pecinta alam dan masih banyak lagi. Bahkan lebih tepat jika itu disebut sebuah tempat les. Karena memang satu kegiatan akan dibimbing oleh guru yang memang sudah ahli dibidangnya

Satu kegiatan yang cukup populer adalah pecinta alam, setiap tiga bulan sekali klub itu pasti akan mengadakan pendakian bersama dan melakukan kegiatan sosial didaerah pendakian. Kegiatan biasanya akan ditutup dengan pesta api unggun bersama.

Seperti malam itu. Ditengah canda, gelak tawa juga gitar yang mengiringi nyanyian siswa Jekarda International Highschool di depan api unggun yang besar dan menghangatkan orang disekitarnya, menyamarkan suara teriakan permintaan pertolongan dari seorang gadis muda yang merupakan salah satu siswinya.

“Tolooong…lepaskan! Lepaskan aku! Bajingan!” Teriak seorang gadis, ditengah gelapnya tenda perkemahan yang hanya diterangi pantulan cahaya dari api unggun diluar sana.

Sipemilik suara itu memohon agar pemuda yang mencengkeram kedua pergelangan tanganya dan menindih perutnya segera melepaskan dirinya. Tapi seolah tuli pemuda beriris Saphire itu tetap mencengkeram tangan mungil yang tenaganya tak sebanding dengannya, dan beberapa detik kemudian berhasil mengoyak pakaian sang gadis yang masih terus berusaha melepaskan diri.

Lalu tanpa persetujuan gadis bernama Ruby itu, pemuda diatasnya mulai mengecup bibir berwarna peach dengan aroma buah cherry miliknya, menggigitnya dengan gemas lalu berlahan pemuda itu menenggelamkan kepalanya dileher putih tanpa cacat Ruby. Kemudian menjilati sesuka hatinya sambil meremas dadanya yang cukup besar.

Tak ketinggalan beberapa kiss mark yang tipis ia buat disana, beberapa saat kemudian bibirnya kembali bergerak menuruni leher hingga kepundak Ruby. Mengecupnya berkali-kali lalu semakin turun didadanya dan melahap puting kemerahan Ruby yang langsung membuatnya menegang.

“Aahh! Lepas! Brengsek! Menjijikkan!” Tangis Ruby, menjambak rambut hitam pemuda yang sedang asik bermain dengan puncak dadanya yang kecil, ia tampak menikmati mempermainkan bulatan yang merupakan salah satu titik rangsang wanita itu, memang sangat menggemaskan bagi siapapun yang menyentuhnya.

Pemuda 17 tahun berambut acak yang kekinian itu kesetanan mendapati gadis yang tengah berusaha diperkosanya meronta, dan mulai menteskan bulir bening dari mata emerald-nya yang unik. Entah kenapa pemandangan itu semakin membuat miliknya dibawah sana menegang sekaligus sakit tak nyaman terhalang jeans yang dipakainya.

“Aku mohon Aga! Jangan sakiti aku,” Tangis gadis itu semakin menjadi, dia ketakutan melihat pemuda bernama Aga yang merupakan teman sekolahnya menyeringai bagai binatang buas yang siap mengoyak tubuhnya. Iris biru langit yang biasanya teduh itu kini tajam menatapnya. Nafas beraroma alkohol dari deru nafas Aga semakin membuat nyali putri seorang pengusaha property itu menciut.

“Kau bisa diam tidak?! Sialan!” Bentak Aga saat kaki Ruby hampir lepas dari apitan kedua pahanya.

“Aku mohon, lepaskan aku…aku mohon…” Ruby terus menangis, bergerak-gerak sekuat tenaga agar terlepas cengkeraman tangan kuat Aga. Tapi semakin ia bergerak, gerakan penolakanya semakin melemah.

Puting basah Ruby terasa dingin tertiup udara yang masuk dari luar tenda saat Aga melepaskannya. Ada sedikit rasa lega saat Aga menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ruby.

Tapi kenyataannya tak sesuai harapan, Ruby merasakan sesuatu yang asing baginya menyeruak, memaksa masuk ke area intimnya.

Membelalak saat sesuatu dibawah sana terasa perih karena hal itu, “Aaaaaah! Saaakittt…!” Pekikan itu meluncur dari bibirnya yang tipis, kepalanya mendongak memperlihatkan bekas ciuman Aga beberapa saat yang lalu, gerakkan reflek yang tidak ia sengajai itu malah membuat Aga semakin gemas padanya dan menanamkan kepunyaannya semakin dalam.

“Hiks… Ayaaaah…” Tangis keputusasaan Ruby memecah ditengah gerakkan Aga yang sedang menikmati penyatuan paksa mereka.

Iya kumbang jantan itu hinggap dan menghisap sari dari bunga itu dengan paksa, lalu sang bunga pun layu setelahnya.

Aga terus menggerakkan tubuhnya in, out kedalam tubuh Ruby yang sekal. Ia bergerak semakin cepat dan cepat, ia mengejar sesuatu yang didambakan sejak tadi. Tak ada penolakkan berarti dari gadis itu, ia pasrah. Percuma saja menolak sekuat tenaga, ia tak mampu, ia sudah kehilangan kesucian yang telah dijaganya selama ini.

“Nnnggggghh!” Geram Aga setelah beberapa saat, hasratnya hampir tersampaikan. Ia terus menggerakkan tubuhnya dengan keras, cepat dan kuat membuat tubuh Ruby berguncang. Gadis itu menangis, memohon pada Aga untuk berhenti tapi tak dihiraukan padahal kewanitaannya terasa begitu perih. Sampai ia tak sadar kuku-kuku-nya menancap dipunggun Aga, membuat sebanyaknya sepuluh goresan dipunggung pemuda itu.

“Ssssshhh! Aarrrgghh!” Satu gerakan terakhir Aga itu sangat kuat, ia rasakan sesuatu dari dalam tubuhnya mengalir mengisi rahim Ruby yang terlihat begitu shock atas apa yang dilakukan Aga. Aga yakin, gadis itu juga merasakan cairan hangat itu membasahi rahimnya.

Seringai wajah Aga memancarkan kepuasan, kepuasan saat dirinya berhasil menyakiti Ruby yang masih menangis dibawahnya. Dalam hatinya sangat puas telah berhasil memberi pelajaran untuk gadis yang membuatnya gagal mewakili sekolah dalam olimpiade kimia tingkat National. Karena hanya dengan mengikuti lomba itu dia setengah berhasil membuat segalanya akan dipenuhi Ayahnya.

‘Greep!’ Sebuah tangan kekar yang lainya mencengkeram pundak kanan Aga dan secepat kilat membalikan tubuh Aga menghadiahinya bogem mentah diwajahnya yang tampan. Tubuh Aga terjatuh disamping Ruby, gadis itu beringsut menutupi tubuhnya dengan jaket tebalnya.

“Cih! Dasar bodoh! Brengsek!” Cerca pria bermata Obsidian yang baru saja datang. Tapi kedatangannya terlambat, Aga sudah berhasil menodai gadis yang tadinya masih suci itu.

“Sial kenapa ka-!” Aga terkejut melihat siapa yang memukulnya. Belum sempat mengucap sebuah kata, satu tinju dilayangkan lagi kewajah Aga. Membuat wajahnya yang tampan menghadap kesamping dan terdapat sedikit darah disudut bibirnya, perih.

“Hn?!” Masih dengan tatapan membunuh, pemuda bernama Arslan yang baru saja datang tak menjawab Aga. “Kau menjijikan Nugraha!” Suara ‘baritone’ Arslan memenuhi tenda yang lumayan luas itu. Aga tak menyangka sahabatnya akan datang menghajarnya.

“Dengarkan aku Ar-”

“Cepat bereskan pakaianmu, atau mereka akan segera datang untuk membunuhmu!” Arslan memotong kalimat Aga, dan berlalu keluar dari tenda begitu saja tidak memperdulikan Ruby yang masih terisak disudut tenda.

Aga bangkit sedikit sempoyongan, alkohol yang tadi diminumnya ternyata masih memberikan efek pusing yang belum juga menghilang. Sebelum dia benar – benar pergi meninggalkan Ruby, ia menoleh kearah Ruby yang masih ketakutan. “Kau! Wanita brengsek!” Tatap Aga penuh kebencian, lalu pergi meninggalkan Ruby yang menatapnya dengan putus asa.

—***—

Ruby masih tidak mengerti apa salahnya, kenapa pemuda terhormat seperti Aga tega melakukan hal hina seperti itu kepada dirinya. Seumur hidupnya tidak pernah mengganggu Aga. Sedikitpun tidak mau berurusan dengan pemuda jabrik yang orang tuanya adalah penyumbang dana terbesar sekolah dimana ia belajar.

Bukan apa-apa, Ruby hanya takut dirinya akan dikeluarkan dari sekolah terbaik itu, walau dia tahu ayahnya Henri Hanggoro tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Karena ayahnya juga orang kaya, juga rutin menyumbang untuk sekolah itu. Tak kalah seperti keluarga Nugraha ayah Aga.

“Ruby?” Sapa lembut seorang gadis berambut kuncir kuda, entah sejak kapan gadis itu sudah berada didalam tenda, sebuah syal melingkar dilehernya. “Apa tubuhmu sudah pulih?” Gadis bernama Yuka itu menyentuh kening sahabat poni ratanya yang meringkuk berselimutkan selimut tebal.

Memang sebelumnya Ruby izin untuk tidak mengikuti acara api unggun sebagai penutupan kegiatan kemah hari itu. Tubuhnya terasa lelah dan kemudian panas, karena siang tadi kecapaian setelah mendaki gunung bersama kelompoknya, salahkan dirinya yang mempunyai tubuh yang lumayan ringkih.

“Aku baik-baik saja Yuka,” Jawab Ruby lirih, tidak melihat kearah Yuka sedikitpun, menyembunyikan tangisnya. Namun sahabat kuncir kudanya itu tidak percaya bahwa Ruby baik-baik saja, masih perlu banyak belajar untuk berbohong padanya batin Yuka.

“Tubuhmu semakin panas Ruu, dan aku tau kau menangis,” Yuka membelai lembut rambut sehalus sutra milik Ruby. “Siapa yang menyakitimu?” Tanya Yuka penuh perhatian, “Ceritakanlah…”

Mata emerald Ruby yang indah masih basah, lalu ia bangun dari tidurnya dengan tubuh terbungkus jaket besar sampai sebatas leher. Matanya sembab dan rambutnya berantakan. “Yuka…” Lirihnya, tampak ragu untuk berbicara apalagi menceritakan semuanya, “Aku…” Bulir mutiara yang bening itu kembali menetes diwajah putihnya, Yuka-pun menatap sahabatnya itu dengan perhatian. “A-aku…hiks Yukaaaa…” Tangis Ruby kembali memecah saat ia tiba-tiba memeluk sahabatnya sedari kecilnya.

“Ruu…” Yuka membalas pelukkan Ruby, ia tau, ia sangat hafal sahabatnya ini hanya perlu menangis untuk meluapkan perasaanya.

“Yuka…aku ingin pulang…” Tangis Ruby semakin menjadi.

“Tenanglah Ruu…tenanglah dulu,” Yuka memeluk Ruby dengan perasaan khawatir, namun Yuka tidak mau memaksanya untuk memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena Yuka sangat hafal sifat sahabatnya yang satu ini. Dipaksa-pun Ruby saat ini tidak akan bercerita, ia akan menceritakan masalahnya jika perasaanya sudah kembali tenang. Yang bisa dilakukan Yuka saat ini hanyalah berada disamping Ruby.

—***—

Sudah seminggu sejak kejadian menjijikan itu menimpa Ruby, gadis dengan rambut sehalus sutra itu belum juga berani menampakan dirinya keluar rumah dan bersekolah lagi, hal ini menimbulkan tanda tanya kebeberapa teman sekelasnya, karena tidak biasanya Ruby libur selama ini. Surat keterangan tidak masuknya pun tidak ada, itu artinya dia membolos. Bukan kebiasaannya seperti itu.

“Yuka? Sebenarnya ada apa dengan Ruby?” Suara lembut dari depan bangku Yuka membuat gadis itu menghentikan kegiatan mencatat pelajaran yang ada dipapan tulis, lalu menanggapi pertanyaan gadis bercepol dua yang tengah menatapnya serius.

“Hhh… aku juga tidak tahu Risa,” Yuka menghela nafas dan menghembuskanya berlahan, menundukan pandanganya yang terlihat sedih, “Beberapa kali aku mendatanginya tapi dia tidak pernah mau menemuiku, bahkan Gary kakak sepupunya sudah membujuknya, tapi…Ruby seperti bukan Ruby yang kukenal,” Lanjut Yuka tampak sedih.

“Yuka sudahlah… semoga tidak terjadi apa-apa pada Ruby ya,” Risa mengusap tangan Yuuka dengan lembut mencoba mengerti perasaan Yuka yang memang sangat menghawatirkan Ruby.

Yuka tersenyum tipis, “Terima kasih Risa.”

—***—

“Ruu makanlah dulu,” Pemuda berambut cokelat panjang membawa sepiring nasi dan lauknya itu mencoba membujuk Ruby yang masih belum bosan dengan kebiasaanya seminggu ini, yaitu meringkuk ditempat tidurnya. Sudah ada kemajuan memang dibanding beberapa hari yang lalu, pintunya sudah tidak terkunci, membuat Gary sepupunya bisa masuk dan membujuknya makan.

“Aku tidak lapar kakak,” Jawab Ruby lembut.

“Makanlah, sedikit saja…” Gary terus membujuk adiknya, membelai lembut rambut adikknya. Namun Ruby tetap diam. “Paman Henri besok akan pulang, kau tidak mau kan menyambutnya dengan badan yang kurus seperti itu?”

Perkataan Gary barusan membuat Ruby melebarkan iris indahnya. “A-Ayah pulang?” Ruby tak percaya, tapi dapat terlihat bahwa dia sangat senang.

“Aku sangat menghawatirkanmu, aku memberi tahu paman Henri tentang keadaanmu, dan beliau memutuskan untuk pulang,” Jelas Gary meyakinkan.

Binar manik berwarna hijau itu menyiratkan kebahagiaan mendengar Ayahnya yang sudah lama tidak pulang kini akan segera datang, “Benarkah Kakak?” Ruby meyakinkan dirinya, senyumnya tersungging diwajah pucatnya, tapi anggukan Gary sudah cukup menjelaskan semuanya.

“Baiklah, aku mau makan Kakak,” Kata gadis itu dengan semangat.

“Iya makanlah lalu mandi, kau bau sekali, kau tau?” Gary mengacak-acak rambut Ruby, membuatnya menggembungkan pipinya yang menggemaskan. Lalu Gary menyuapi adik sepupu yang amat sangat ia sayangi itu.

—***—

“Kau kenapa bodoh?” Pemuda berambut raven yang sedari tadi memainkan laptopnya kini memperhatikan wajah sahabatnya yang tampak kusut sedang menatap keluar jendela apartemenya, “Kau menyesal telah menodai gadis Hang-”

“Aku tidak apa-apa playboy tengik!” Potong Aga menghentikan kalimat Arslan sahabatnya.

“Kalau begitu, datang dan minta maaf,” Ucap Arslan dengan datar.

“Tidak akan kulakukan!”

“Kalau begitu nikmati saja rasa bersalahmu,” Masih dengan wajah datarnya, Arslan pemuda paling tampan disekolah itu kembali memainkan Laptopnya. “Dan bersiaplah kau
dihantui jika gadis itu memutuskan
bunuh diri,” Tutupnya.

“Eh?” Manik saphire Aga melebar mendengar kata ‘bunuh diri’. Benar, pemuda ber-alis tebal menawan itu tidak pernah berfikir bahwa gadis yang terlihat rapuh seperti Ruby pasti hanya bisa bunuh diri karena depresi.

“Kenapa? Kau takut?” Kalimat Arslan semakin membuat wajah Aga memucat. “Dan kalau sampai hal itu terjadi, tidak perduli seberapa banyak harta kekayaan ayahmu, kau-!” Menatap tajam punggung Aga yang menundukan kepalanya, “-akan
membusuk dipenjara, bodoh!”

‘Jlebb!’ Seperti ada sebuah tombak yang mengarah pada dada pemuda bernama belakang Nugraha itu, Aga melebarkan iris sebiru langitnya. “Diam Brengsek!” Aga berbalik membalas tatapan tajam Arslan, kedua tanganya mengepal.

“Hn?” Arslan dengan gaya stoic-nya mengangkat sebelah alisnya, “Kenapa? kau tidak pernah berfikirkan, bahwa tindakan bodohmu itu bisa membuat orang lain mengakhiri hidupnya? Dasar bodoh.”

Aga berdiri dari kursi malasnya yang sedari tadi ia duduki. Berniat meninggalkan Arslan yang masih berbicara tidak-tidak tentang Ruby.

“Kau mau kemana?” Arslan menghentikan langkah Aga yang membuka knop pintu apartemennya, “Aku berharap kau tidak akan mengakhiri hidupmu terlebih dulu bodoh!”, Lanjut Arslan. Hal itu membuat Aga berdecih kesal lalu membanting pintu meninggalkan sahabat sok kerennya yang kembali sibuk dengan laptopnya.

—***—

Menatari pagi membiaskan sinarnya melalui celah jendela kamar bercat putih bersih dan bergaris ungu dibeberapa bagian. Diranjang kingsize yang tampak nyaman masih terbaring sosok lemah yang beberapa hari lalu setia menunggui kamar kesayanganya itu.

Ketika sinar mentari mulai menyinari wajahnya yang ayu, ia mengerjap-ngerjapkan iris emeraldnya kemudian terbuka walau kedua alisnya menaut.

Ruby lalu melirik jam waker dimeja lampu disampingnya, menunjukan pukul 07.05, ia hampir lupa bahwa hari ini akan menjemput ayahnya dibandara bersama Gary jam 08.00 nanti. ‘Belum terlambat’ batinya lega. Tak mau membut kakak sepupunya menunggu Ruby bergegas mandi dan bersiap-siap.

Masih asik mandi menyabuni tubuhnya, Ruby mendengar suara ketukan pintu kamar mandinya, siapa pagi-pagi begini sudah mengganggunya. Rubu mendengus heran lalu menghentikan kegiatanya untuk mendengar siapa yang memanggilnya.

‘Tok..tok..tok’ “Ruu?” Suara yang tak asing baginya terdengar lagi. “Ruu?? Bisakah kau cepat sedikit?”

“Iyaa Kakak!” Ruby tau siapa yang mengetuk pintunya. Sembarangan sekali kakaknya itu masuk kekamarnya dan mengetuk pintu kamar mandinya, apa dia benar-benar lupa kalau Ruby kini sudah bukan lagi adik kecilnya? Yang dulu bahkan tidak malu jika harus mandi bersama Gary. Ruby mendengus sedikit kesal, namun bagaimanapun Ruby sangat menyayangi kakaknya itu.

“Cepatlah turun ada yang ingin menemuimu,” Gary menjelaskan.

“Iyaaa sebentar lagi aku turun,” Jawab Ruby sambil meneruskan mandinya.

“Baiklah kakak keluar dulu,” Gary meninggalkan kamar Ruby dan kembali turun kelantai satu menemani seseorang yang sudah duduk dimeja makan kediaman Hanggoro.

Dalam hati Ruby bertanya, siapakah yang pagi-pagi ingin menemuinya? Ah mungkin Yuka. Inikan hari minggu dan sekolah libur, pasti Yuka ingin menemuinya lagi. Mengingat beberapa hari yang lalu ia menolak menemuinya, ah Ruby jadi merasa benar-benar jahat telah membuat Sahabatnya itu kecewa.

Tapi mengapa Yuka tidak langsung masuk
saja dikamarnya seperti biasa, apa dia merasa tidak enak ya setelah diusir secara halus olehnya.

Setelah memakai bajunya, merapikan rambut dan menggunakan body lotion ketangan dan kakinya, Ruby memutuskan untuk segera menemui seseorang yang telah menunggunya dibawah. Rok selutut yang berwarna merah, kemeja berwarna putih membuat Ruby terlihat segar dan manis hari itu.

Ruby melangkahkan kakinya keruang tamu, namun tidak ada siapapun. Kemudian berjalan keruang keluarga dan
mendengar suara yang tak asing dimeja makan.

Ruby berlari tak sabar ingin segera memeluk siempunya suara khas itu. “A-Ayah?” Ruby mematung didekat ayahnya yang tengah tersenyum kepadanya.

“Begitu sambutan seorang anak yang sudah satu tahun tidak bertemu dengan orang tuanya?” Sindir Henri yang melihat putri kesayangannya masih belum mendekatinya.

“Ayaaaahhh… hiks…” Ruby menghambur kepelukan Ayahnya, Pria setengah baya yang masih terlihat muda itu bisa dibilang sudah satu tahun tidak pulang kerumah karena mengurus perusahaanya yang sedang berkembang di luar negri.

Ayah Ruby memang tinggal di luar negri setelah terpukul atas kematian istrinya 3 tahun yang lalu. Bukanya tidak mau bertanggung jawab mengurus Ruby dan mengajaknya tinggal disana. Tapi Ruby memilih menjaga rumah dan tinggal bersama sepupunya, Gary. Walau masih sedikit kecewa atas keputusan Henri meninggalkan Ruby sendirian bersama Gary, rasa rindu dihati Ruby kepada ayahnya mengalahkan kekecewaan yang masih belum sepenuhnya termaafkan itu.

“Ayaaaah…Ruby rindu sekali, hiks…Ayah jahat..” Tangis Ruby pecah dipelukan ayahnya.

“Maafkan Ayah, Ruu. Ayah terlalu sibuk sampai tidak sempat menengokmu,” Henri mengelus rambut halus anak semata wayangnya yang sedikit manja itu. “Sebagai gantinya Ayah akan tinggal lebih lama,” Lanjut Henri, membuat rona kebahagian terpancar dari wajah Ruby yang cantik.

“Terimakasih Ayaaah,” Ucap Ruby memeluk ayahnya semakin erat seakan tidak mau jauh lagi.

“Ehem.. biarkan paman Henri sarapan dulu Ruu, kau juga harus sarapan. Setelah itu kau bisa bermanja-manja lagi,” Ujar Gary yang sedikit merasa iri atas kedekatan Ruby dan ayahnya.

Dari kecil memang Gary tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, mereka sudah lama meninggal. Gary bayi terpaksa dikeluarkan dari rahim ibunya yang saat itu sedang koma akibat kecelakaan mobil yang ditumpanginya bersama Tria Hanggoro ayahnya. Tapi sayang nyawa ibu Gary tak terselamatkan.

Lalu Gary dirawat dan dibesarkan oleh ibu dan saudara kembar ayahnya, yaitu Henry Hanggoro pamannya. Walau perlakuan kedua orang tua Ruby kepada Gary tidak beda dari anak kandungnya, tetap saja Gary ingin merasakan kasih sayang orang tuanya.

Gary yang kini berumur 28 tahun sudah dipercaya Henri memegang perusahaanya di kota ini. Selanjutnya ia dan Ruby akan dijadikan pewaris atas kekayaan keluarga Hanggoro dimasa depan.

Acara sarapan keluarga Hanggoro sangat terlihat akrab, beberapa pelayan yang mengurusi segala kebutuhan keluarga tersebut juga terlihat bahagia atas kehangatan tuanya. Lalu setengah jam berlalu mereka sudah menyelesaikan acara sarapan bersama dan dilanjutkan berbincang-bincang bersama diruang keluarga.

“Na..na…hmm…hmn..” Seorang wanita berambut hitam kebiruan indah sedang bersenandung sambil mencuci piring-piring kotor didapur, entah darimana datangnya sepasang tangan kekar sudah memeluk pinggangnya dari belakang dan mendaratkan ciumanya dipipi sang ibu yang masih cantik diusianya yang sudah 40tahun. “Julian…” Lisna tau itu suami tampannya yang sedang memeluknya.

“Selamat pagi…” Bisik Julian dengan senyumnya, Lisna memerah pipinya atas perlakuan suaminya yang juga masih terlihat tampan dan lebih muda dari usia 45nya.

“Kita sudah terlalu tua untuk bermesraan ditempat terbuka Julian..” Lisna mengingatkan suaminya yang masih suka sembarangan memeluk dan mencium istrinya tercinta dimanapun.

“Memangnya kenapa? kau istriku,” Sebuah ciuman didaratkannya ditengkuk sang istri yang langsung membuatnya berjingkat kegelian.

“Mmmmhh… tidak apa-apa, hanya saja…ssh! Awh!” Kalimatnya terputus saat lidah sang suami menyapu lembut lehernya yang putih. Pasangan suami istri Nugraha itu tampak terbawa suasana romantis yang mereka ciptakan.

“Apa hanya ingin mengingat masa muda ki-”

“Ayah…Ibu selamat pagi,” Pemuda berambut jabrik yang sedari tadi memperhatikan kemesraan orang tuanya itu terlihat berantakan, entah sejak kapan Aga datang, kedua orang tuanya sampai tak mendengar suara mobil anak kesayanganya itu.

“Aahaha… Aga, sejak kapan kau ada disana? Ibu tidak melihatmu,” Lisna salah tingkah dan melepaskan pelukan suaminya.

“Ibu sibuk bermesraan dengan Ayah, jadi tidak mendengar suara mobil rongsokanku,” Jawab Aga.

“Aga?!” Julian agak mendelik saat Aga lagi-lagi membahas mobilnya. Sedangkan Aga hanya diam mengacak-acak rambutnya lalu berjalan malas menaiki tangga menuju kamarnya, tanpa memperdulikan tatapan ayahnya.

“Dia masih marah…” Desis Julian memperhatukan punggung anaknya yang semakin menjauh dan menghilang dibalik kamarnya.

“Sudahlah… biar aku saja yang membujuknya,” Lisna mengusap punggung suaminya yang wajahnya sangat tampan mencoba menenangkan.

“Baiklah, aku mengandalkanmu Lisna,” Jawab Julian tersenyum, “Aku mau kopi,” Lanjutnya sambil mencium pipi sang istri lagi.

Aga menghempaskan tubuh tegapnya ketempat tidur besarnya, mengusap-usap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.

Menghela nafas lalu menghembuskanya, Aga masih frustasi atas kejadian satu minggu lalu. Ada setitik rasa bersalah didadanya. “Rubyyyy…” Bisiknya lirih, bayanganya menerawang, dia sadar tidak seharusnya dia kelewatan terhadap gadis itu, bagaimanapun niat awalnya tidak seperti itu. Aga hanya ingin menggertak Ruby, tapi alkohol sialan itu membuat rencana awalnya berubah.

‘Tok..tok..tok…’ Pintu kamar Aga

diketuk dari luar. “Aga? Boleh Ibu masuk?” Suara lembut Lisna membuyarkan lamunan pemuda tanggung yang tampak kurang tidur itu.

“Eh” Aga menoleh kearah pintu yang belum dibuka, “Masuklah Ibu, tidak dikunci.”

Kriieett… Suara pintu kamar Aga terbuka, menampakan sesosok malaikat cantik tanpa sayap, yah setidaknya itulah julukan ibu Aga saat ibunya tersenyum lembut seperti itu.

Aga bangkit lalu duduk ditempat tidurnya, wajahnya masih kusut dan rambutnya berantakan. Tentu saja, sudah beberapa hari ini Aga tidak mandi dan kurang tidur. Lisna mendekatinya dan duduk disamping Aga. “Kau masih marah pada Ayah? Kau terlihat tidak sedang baik-baik saja,” Lisna mengusap kepala Aga penuh kasih sayang.

“Tidak, aku benar-benar tidak apa-apa Ibu,” Jawab Aga singkat. Tapi tetap dengan wajah yang muram.

“Kau tidak bisa bohong dari Ibumu,” Batin Lisna dalam hati.

Aga berbisik dalam hatinya bahwa ibunya kali ini salah. Bukan, bukan karena Aga gagal dibelikan mobil baru seperti yang diketahui ibunya, tapi ada masalah lain yang lebih besar dibanding memiliki mobil idamannya. Memang mobil Lamborghini Veneno seharga US 4 juta atau sekitar 41 miliar rupiah itu seharusnya menjadi miliknya ,mobil yang tadinya akan dihadiahkan untuknya jika bisa mewakili olimpiade kimia tahun ini. Tapi sekali lagi, kali ini bukan karena itu Aga uring-uringan tidak jelas, melainkan karena gadis yang sudah membuatnya gagal telah ia nodai.

Memang tadinya Aga sangat marah ketika ia gagal dalam seleksi olimpiade kimia, karena itu artinya ia juga akan kehilangan kesempatan memiliki mobil idamanya itu. Sampai-sampai ia mengorbankan harga dirinya dengan melukai gadis yang tidak tau apa-apa. Tapi kini kenyataanya lain, setelah melukai gadis selembut itu Aga malah diselimuti rasa bersalah dan tak lagi berhasrat memiliki mobil mewah itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Meminta maaf? Ah itu sama saja membunuh dirinya sendiri bukan? Lalu bagaimana jika gadis itu melapor?

Fikiran Aga benar-benar tidak fokus. “Aga?” Lisna membuyarkan pikiran kalut anak semata wayangnya itu.

“EeeÔÇöibu aku, aku mau mandi dulu,” Sebelum ibunya menanyai ini itu Aga berpamitan untuk mandi.

“Baiklah… sebaiknya kau tinggal disini dulu, kau harus memperbaiki hubunganmu dengan Ayah,” Lisna mengacak-acak rambut kecoklatan anak kesayanganya itu, “Dan jangan lupa segeralah turun jika sudah selesai mandi, Ibu buatkan kau soto special kesukaanmu.” Ibu bersurai indigonya tersenyum dan Aga hanya mengangguk, lalu beranjak dari tempat tidurnya untuk mandi.

ÔÇØMaaf Ibu aku tidak bisa jujur mengatakan semuanya saat ini.

—***—

Ruby mengayun-ayunkan tubuh mungilnya diatas ayunan kayu, dibawah pohon besar dipekarangan rumahnya. Sampai sebuah suara langkah kaki yang mendekatinya membuatnya menoleh memastikan siapa yang datang. ” Ayah?”

“Ayah dengar dari Kakakmu, kau sudah satu minggu tidak kesekolah. Ada apa?” Henry Hanggoro bertanya kepada putrinya, dan duduk dikursi taman disamping ayunan Ruby.

“Eh…itu, aku..” Ruby ragu.

“Ayah tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak bertanggung jawabkan?” Henri meneruskan kalimatnya. Sementara Ruby menundukan kepalanya berusaha menyembunyikan raut wajahnya.

“Sekarang katakan pada Ayah apa sebenarnya masalahmu?”

Ruby masih tetap bungkam menahan lelehan dimatanya yang sudah siap menetes, Ruby tak tau apa yang harus dikatakanya. Apa dia mengaku saja? Tidak mungkin. Ayahnya bisa saja membunuhnya sekarang, bahkan Gary pasti akan membencinya. Walau Ruby tau ini bukan kesalahanya.

“Setau Ayah anak satu-satunya wanita kuat seperti Mawar tidak secengeng ini,” Sindir Henri melihat anaknya dan wanita bernama Mawar menangis.”Kalau kau tidak mau mengatakanya pada Ayah, Ayah anggap kau mampu menyelesaikan masalahmu sendiri. Jika memang begitu… Ayah tidak ingin melihatmu menangis lagi!” Ucap Henri tegas, pria berusia 51tahun itu memang terkenal sangat tegas. Jarang tersenyum dan selalu bersikap datar, kadang raut wajahnya selalu masam membuat orang yang belum mengenalnya pasti akan menilainya jahat.

Ruby masih menundukan kepalanya, menyembunyikan tangisnya yang semakin deras,meski begitu ia tetap berusaha agar berhenti menangis.

“Sekarang istirahatlah, sudah malam. Angin malam tak baik untuk anak gadis Ayah,” Henri menunggu Ruby turun dari ayunanya, sedikit tersenyum karena ternyata anaknya sudah mulai dewasa. Pasti hal yang membuatnya menangis adalah pria teman sekolahnya, ya masa muda memang selalu begitu. Jatuh cinta lalu patah hati memang sudah wajar kan? Namun sayang masalahnya tak semudah itu tuan Hanggoro.

Lalu Ruby menghapus air matanya dan turun dari ayunan kayu miliknya, tersenyum kepada ayahnya. “Terima kasih Ayah, dari dulu memang Ruby gadis yang kuat seperti Ibu.” Ruby tersenyum, kalau mengingat ibunya memang wanita itu sangat kuat. Dan mulai malam ini Ruby berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan semua kejadian yang menimpanya, menguatkan hatinya jika disekolah nanti bertemu dengan Aga Nugraha, pria yang sangat ingin dia bunuh. Bunuh? Sejak kapan Ruby mempunyai pikiran seperti itu? Ruby tersenyum kecut mengingat wajah Aga.

Entahlah…yang Ruby rasakan saat ini hanyalah membenci Aga, namun kali ini Ruby tidak akan mendundukan kepalanya lagi jika berhadapan dengan pemuda bernama lengkap Aga Nugraha itu.

—***—

Aga sedang berada dikoridor sekolah bersama Arslan dan beberapa teman mereka yang lainya. Entah membicarakan apa tapi terlihat begitu seru dan menyenangkan, gelak tawa tampak menghiasi wajah pemuda-pemuda kaya, bersih dan tampan itu.

Seragam yang mereka kenakan membuat mereka semakin terlihat berkelas dan khas kaum elit. Jas sekolah hitam dengan kemeja berwarna putih dipadukan dengan dasi bergaris garis putih dan hitam. Tidak salah memang jika sekolah ini hanya diperuntukan untuk anak-anak orang kaya dan pintar saja seperti mereka.

Ruby menghentikan langkahnya, dadanya berdegup kencang saat melihat siapa yang sedang ada dikoridor sekolah yang akan dilewatinya. Berbalik atau terus berjalan menganggap pemuda bernama Aga yang telah merusak hidupnya itu tidak ada?. Tapi… jujur saja Ruby masih takut. Melihat rambutnya dari kejauhan saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri, Ah bukankah dia sudah berjanji pada Ayah dan dirinya sendiri untuk tidak takut menghadapi siapapun? Termasuk menghadapi pemuda bermata biru Itu bukan?

Setelah menimbang-nimbang keputusannya akhirnya Ruby memutuskan untuk meneruskan langkahnya. Ia kepalkan kedua tangannya menguatkan dirinya sendiri dan melangkah, tidak dipungkiri dadanya berdegup kencang, wajahnya mulai pucat saat bayangan didepanya semakin terlihat jelas.

Dan kerumunan para pria itu menghentikan candaanya, lalu mengalihkan pandanganya kepada Ruby. Tak terkecuali pemilik iris sebiru langit yang kini melebarkan matanya melihat Ruby yang semakin mendekat. Ruby mengumpulkan keberaniannya saat mulai melewati Aga, tapi entah siapa yang merasukinya tiba-tiba ia berhenti didepan Aga yang bersandar tiang koridor. Disampingnya ada Arslan yang memilih memalingkan wajahnya memperhatikan Yuka yang sedang bergurau dengan teman-temanya. Arslan tidak mau ikut campur, sedangkan Juna dan yang lain menunggu apa yang akan dilakukan gadis yang terkenal pendiam yang sekarang sedang memiliki pandangan dan aura kebencian disekelilingnya.

“Mau apa kau Hanggoro!” Bentak Aga menajamkan tatapannya, meski didalam dadanya sama-sama berdegup kencang tak kalah dengan Ruby, sedangkan Ruby masih tak bergeming. Hanya menatap tajam seakan dengan tatapan itu Ruby berkata ‘Kubunuh kau brengsek!’

“Apa? Kau lihat apa?” Aga kembali membentak Ruby, Ruby mengangkat tanganya.

‘Plakkk!ÔÇÖ

“Ouufh!” Juna dan yang lain memegang pipi masing-masing dengan wajah yang konyol saat tangan mungil Ruby menampar pipi Aga, Arslan hanya menoleh sebentar tersenyum sinis lalu kembali memandangi Yuka, meski dalam hati sedang menertawakan sahabatnya itu.

“Kau Bajingan! Nugraha!” Ruby berteriak dan mengangkat tangannya lagi, ia akan memukul Aga tapi tangan Aga berhasil menahanya.

“Hei apa yang sebenarnya terjadi padanya Aga?” Tanya Juna yang tak mengetahui apa-apa.

ÔÇ£Juna sudahlah, biarkan mereka dan jangan ikut campur,” Arslan akhirnya ikut angkat bicara, walau hanya menyuruh Juna diam.

Aga menarik paksa pergelangan tangan Ruby menjauh dari teman-temanya. Ruby berusaha melepaskanya namun sia-sia karena tenaganya terlalu lemah, ternyata Aga membawanya kebelakang sekolah yang sepi lalu mendorong dengan kasar tubuh Ruby ketembok ruang kelas.

ÔÇ£Auh!ÔÇØ Ruby meringis kesakitan, memegangi pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman kuat Aga sekaligus punggungnya yang terantuk tembok.

“Apa sebenarnya maumu! Ha?!” Teriak Aga meluapkan emosinya, hampir saja Ruby membongkar kelakuan memalukan Aga didepan teman-temanya. Dan itu artinya hidup Aga hampir saja tamat. Padahal kan Ruby sebenarnya juga tidak berani mengaku telah diperkosa pria yang kini sedang menatapnya dengan raut wajah yang memerah tanda ia sangat marah.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu Tuan muda Nugraha yang terhormat!” Bentak Ruby, air matanya mulai menetes, walau daritadi ia tahan sekuat mungkin. “SEKARANG KATAKAN PADAKU! APA SALAHKU KEPADAMU! KENAPA KAU TEGA MENYAKITI AKU Aga?!” Ruby meninggikan suaranya, emosi dan tangisnya meledak.

Aga mengepalkan kedua telapak tanganya, giginya tergeretak menatap tajam tubuh mungil tak berdaya didepanya. Dia tak tahu harus berkata apa, dia bingung sekaligus takut.

Lalu entah siapa yang menyuruh Aga, tanganya tak ragu mengangkat rahang Ruby dan mencengkeramnya dengan kasar. Ruby mendongak dengan mata dan pipi yang basah. “KAU MAU TAU JAWABANYA!?” Aga membentak Ruby yang terlihat kesakitan, tangannya berusaha menyingkirkan tangan Aga tapi tidak bisa. “KARENA AKU MEMBENCIMU!”

DEGH! Benci? Salah apa dirinya sampai Aga membencinya’, batin Ruby.

“DAN AKU PERINGATKAN KAU! JANGAN PERNAH MENGGANGGUKU! DAN JANGAN PERNAH MEMBOCORKAN SEMUANYA! ATAU…” Aga menghentikan kalimatnya, memikirkan kata apa yang akan diucapkanya, setidaknya hal yang akan membuat Ruby bungkam. “KAU AKAN KUBUNUH!” Bunuh? Hah lucu sekali, setelah memperkosanya kini bunuh, apa yang Aga katakan? Gadis itu begitu ketakutan, kau bodoh Aga!

Aga sadar kata-kata spontanya membuat Ruby sangat ketakutan, merasa keterlaluan Aga melepaskan tanganya dari rahang Ruby. Sekilas Aga mengagumi bibir Ruby yang berwarna pink saat bibir itu berbentuk seperti bibir ikan waktu tanganya mengangkat rahang Ruby tadi.

Bibir yang lembut, bibir yang pernah dicium Aga dengan paksa, Ah apa yang dia pikirkannya, Aga menggelengkan kepalanya membayangkan ‘rasa’nya bibir Ruby waktu itu.

Ruby masih terisak atas perlakuan Aga, sedangkan perasaan Aga begitu campur aduk antara kasihan, dan juga khawatir Ruby akan membocorkan perbuatan kejinya.

Lalu Aga memilih meninggalkan Ruby sendirian yang masih terus terisak, sementara didalam hatinya mengutuk Aga mati-matian, dia berdoa agar pemuda itu cepat-cepat mati.

—***—

Ruby berjalan pelan memasuki kelasnya, kelas yang diatas pintu masuknya bertuliskan angka 3-2, kelas yang ia rindukan tentu saja. Baru menginjakan kakinya dipintu kelas, “Ruuuu!” Teriak antusias seorang gadis berkuncir kuda yang tampak bersemangat, lalu berlari menghambur memeluk Ruby.

“Yuka…”

“Ruu… kupikir kau tidak akan pernah mau lagi kesekolah dan bertemu denganku, aku kesepian Ruu…” Suara Yuka memelan, memeluk sahabatnya, menumpahkan rasa rindunya.

“Yuka, aku kan sudah disini…” Kata Ruby tersenyum manis.

“Apa kau baik-baik saja Ruu?” Tanya Yuka, memperhatikan tubuh sahabat kesayangannya yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya, dan mata Ruby yang membengkak. Ruby mengangguk, mengiyakan bahwa dia baik-baik saja. “Kau habis menangis lagi ya?” Tanya Yuka khawatir.

“Yuka… sudah kubilang aku tidak apa-apa, kau terlalu menghawatirkanku, seperti Gary saja,” Ruby menggembungkan pipi gemasnya melihat sahabatnya yang selalu berlebihan.

“Oke oke…baiklah, yang jelas kau sudah kembali. Ayo kita duduk, sebentar lagi pasti Guru Jiro datang,” Ajak Yuka, lalu mereka duduk dibangku masing-masing.

Beberapa teman Ruby mengerubutinya, menanyakan kabarnya yang sebenarnya yang hanya dijawab dengan kata-kata ‘Aku sakit, Kak Gary sibuk tidak sempat mengantarkan surat dokter kesekolah. Dan kebohongan-kebohongan yang lain yang dibuat gadis cantik itu.

—***—

“Ruby…” Yuka memecah keheningan ditengah kebisuan suasana taman belakang sekolah, tempat dimana dan ia dan Ruby sering mencurahkan perasaan.

“He? kenapa Yuka?” Jawab Ruby sambil menyedot Teh dalam kotak yang dibelinya dari kantin.

“Maaf ya kalau aku terlalu ikut campur urusanmu, tapi…” Belum selesai meneruskan kalimatnya, Ruby memotong kalimat Yuka.

“Aku mengerti Yuka, aku memang seharusnya tidak memendam semua ini sendirian.” Ruby menundukan kepalanya, mengerti kemana arah perbincangan ini, serapi apapun dirinya menyimpan musibah ini dia tetap tidak sanggup menyimpanya sendirian.

“Aku tidak akan memaksamu Ruu,” Gadis yang suka menguncir rambutnya keatas itu tersenyum lembut.

Menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskanya berlahan. “Aku…” Ruby berbisik pelan, tapi masih bisa didengar sahabat ponytail yang kini sedang memperhatikanya dengan seksama.

“Aku, sudah kehilangan kehormatanku Yuka,” Ruby masih tertunduk, dadanya mulai sesak dan matanya mulai memanas menahan airmata dipelupuk kedua emeraldnya yang indah. Sebentar lagi air suci dari sana pasti akan terjatuh.

“Maksudmu apa, Ruu?” Yuka menautkan kedua alisnya, mencoba memahami maksud Ruby.

“Aga… aku diperkosa Aga!” Pundak Ruby berguncang hebat, kedua pahanya basah oleh titik-titik airmatanya yang mulai berjatuhan dipangkuannya.

“Ja-jadi malam itu??” Yuka menutup mulutnya dengan kedua telapak tanganya mendengar pengakuan Ruby. Ia amat terkejut sekaligus tidak percaya.

“Hidupku sudah Hancur Yuka! Hiks…” Tangis Ruby semakin tak terkontrol, “Bahkan, sekuat apapun aku mencoba menghadapinya aku tetaplah lemah, aku sudah hancur! Tidak akan ada yang mau menikahiku kan Yuka? Bahkan kau tau bagaimana jika Ayah dan Kak Gary tau? aku pasti akan dibunuh!”

Yuka tidak sanggup berkata apa-apa, ia pun mulai menangis lalu mendekap sahabatnya, memeluknya berharap dapat mengurangi luka hati Ruby sahabatnya. “Ruu, jangan berkata seperti itu. Ayahmu tidak akan melakukan hal bodoh semacam itu!” Ucap Yuka menenangkan Ruby, mengusap punggung Ruby. “Kalau kau mau aku bisa menemanimu melaporkan semua ini ke pihak berwajib!”

“Tidak Yuka… jangan,” Ruby melepaskan pelukan Yuka, lalu menghapus airmatanya dengan kedua punggung tanganya dan tersenyum meski hatinya masih sakit, “Menghukum Aga dengan cara itu, juga tidak akan membuat kegadisanku kembali kan? Bahkan resikonya, semua penghuni sekolah akan tau kalau aku diperkosa dan aku tidak siap menanggung malu Yuka..hiiks,” Ruby menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya, pundaknya berguncang-guncang, ia menangis lagi.

“Ruby…” Yuka kembali memeluk Ruby, menyalahkan dirinya kenapa ia tidak menemani Ruby malam itu, kenapa saat inipun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Payah Yuka benar-benar merasa payah dan tidak berguna.

—***—

3 Minggu kemudian…

Kamar apartemen yang lebih pantas disebut kapal pecah itu nampak kedua pemuda tanggung yang sedang asik dengan kegiatannya masing-masing disana.

“Playboy tengik, ambilkan aku aspirin dikotak depanmu itu.” Perintah Aga pada pemuda dengan model rambut yang mirip personil boyband.

“Ini,”

“Playboy sial, ambilkan aku air disampingmu itu,”

“Ini!”

“Arslan, aku mau makan pisang,”

“Iya!”

“Arslan…”

“Apa lagi Bodoh!” Bentak Arslan yang sedari tadi diperintah-perintah Aga kesal karena menganggu jalannya game yang sedang ia mainkan.

“Arslaaaan, aku kan hanya minta tolong, begitu saja marah,” Aga ngeles dengan wajah sebal.

“Aku pulang saja kalau kau masih perintah-perintah pemuda keren sepertiku ini,” Jawab Arslan kesal. “Atau sebaiknya kau pulang saja kalau sakit, biar bibi Lisna yang merawatmu! Kau pikir aku ini pacarmu, memintaku menemanimu dan merawatmu?” Arslan bersungut-sungut menanggapi sahabat jabriknya yang tidak tahu diri itu.

“Arslan ayolah… bukanya kau memang pacarku?” Goda Aga, membuat Arslan memasang wajah jijik.

“Kau menjijikan bodoh!” Sebuah bantal melayang kearah Aga, tapi tidak mengenainya karena bantalnya hanya mengenai sudut tempat tidur Aga.

“Hahaha…tidak kena! Aku juga jijik padamu,” Aga terkekeh dengan cengiranya yang khas, “Playboy busuk kau tau sendiri kan aku sedang malas pulang kerumah,” Jawabnya murung.

“Kenapa malas pulang? Kau merepotkanku, kalau kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri jangan tinggal sendirian, dan jangan sakit!” Arslan ngomel, tidak biasanya pria yang irit bicara itu banyak bicara. Memang beda urusannya kalau berurusan dengan orang bodoh macam Aga.

“Berisik! Aku mau tidur!” Aga membanting tubuhnya dikasur, menutup wajahnya dengan bantal mulai malas menanggpi Arslan yang selalu memarahinya.

Suasana hening sejenak, hanya suara dari monitor yang menampakan game yang sedang dimainkan Arslan. Layar monitor tidak lama bertuliskan ‘You lose, try again!’. Arslab mendengus kesal, lalu menoleh kebelakang dimana Aga sedang berbaring. “Kau apakan lagi gadis itu?” Arslan tiba-tiba membuka percakapan.

Aga memindahkan bantal diwajahnya kesamping, “Hanya memperingatinya supaya tidak membuat kesalahan,” Jawab Aga singkat.

“Sebenarnya siapa yang salah? Kau atau gadis malang itu?” Arslan mencoba menekan Aga lagi.

“Dia sudah membuatku gagal menjadi wakil sekolah dan menjadi kebanggan sekolah, dia juga sudah membuatku gagal mendapat mobil baru dari Ayah,” Jawab Aga merasa tindakannya sudah tepat.

“Hah! Kau makhluk paling bodoh dan menjijikan Nugraha,” Arslan kembali membuat telinga Aga gatal. “Kaupikir apa yang kau lakukan? Hanya karena sebuah mobil dan pengakuan membuatmu menjadi orang yang menjijikan? Bahkan jika itu semua ditukar dengan kesucian Ruby, itu masih sangat kurang!” Lanjut Arslan mencoba membuat sahabatnya itu berfikir.

“Sudahlah, tadinya aku berniat meminta maaf padanya, tapi kau tau kan dia malah menantangku didepan teman-teman? Sebagai seorang laki-laki aku tidak terima!”

“Jangan sebut dirimu laki-laki dasar brengsek! lalu apa hebatnya kalau kau menang melawan Ruby?” Ejek Arslan, “Dia hanya seorang perempuan, kalau kau kalah darinya itu sangat memalukan, tapi jika kau menang, kau juga tidak akan terlihat hebat,”

“Lalu menurutmu apa yang harus aku lakukan? Kalau harus meminta maaf aku tidak bisa sekarang!” Pemuda penyuka buah nanas itu menjelaskan ketidak siapanya.

“Selain bodoh kau juga pengecut ya!” Arslan melemparkan bantal yang dipakainya duduk kearah Aga. Pemuda itu hanya mengaduh, lalu Arslan naik keranjang Aga berniat tidur.

“Mau apa kau playboy brengsek?!” Tanya Aga sedikit sebal.

“Tidur, memangnya mau apa lagi?”

“Kenapa tidak tidur disofa?”

“Tidak mau, dingin,”

“Apa kau mau mencoba memperkosaku bocah brengsek?” Goda Aga dengan tampang menggoda.

“Tidak akan! Kau menjijikan dasar bodoh! Menyingkir dariku!” ‘Braakkk!”

“Aargh sakit!…Sialan kau! Memangnya ini kamar siapa?!” Aga terjatuh dari ranjangnya setelah ditendang Arslan dengan kuat.

—***—

“Hmm..hooek…umh..hhoek!” Wajah putih itu memerah akibat tekanan dari dalam perutnya yang memaksa ingin dikeluarkan.

“Ruu, sebaiknya kau keruang kesehatan saja ya,” Yuka memijat tengkuk Ruby yang sejak pagi mual-mual.

“Aku tidak apa-apa Yuka” Ruby menyeka bibirnya dengan tissue yang diambilnya dari dekat wastafel.

“Tapi kau terlihat pucat, apa tadi kau sudah sarapan?”

“Sudah Yuka, mungkin aku hanya masuk angin,”

“Baiklah… ayo keruang kesehatan, biar aku gosok perutmu dengan minyak angin,” Yuka mengajak Ruby keruang kesehatan. Setelah berjalan melewati perpustakaan dan berbelok Yuka dan Ruby masuk kedalam ruang kesehatan. Ruangan yang lebih pantas disebut sebagai puskesmas daripada hanya sebuah UKS.

“Berbaringlah disini aku akan minta obat Kak Tiara,” Yuka pergi meninggalkan Ruby yang berbaring disalah satu ranjang pasien dibilik yang hanya disekat kain putih. Tak lama kemudian Yuka datang membawa sebotol minyak kayu putih lalu mengoleskannya diperut Ruby.

“Bagaimana Ruu, apa kau masih mual?” Tanya Yuka sambil menutup botol minyak kayu putih itu.

“Masih sedikit mual, dan aku merasa sangat pusing,” Yuka meringis dan memijat kedua sisi keningnya, pusing juga mual masih dirasakanya.

“Apa sebaiknya aku menelepon Kak Gary agar membawamu kerumah sakit ?” Yuka menawari Ruby untuk pulang karena khawatir dengan Ruby yang masih belum pulih.

“Tidak usah, aku menunggu disini saja sampai Kak Gary menjemputku. Sekarang kau pergilah kekelas, nanti kau terlambat,”

“Baiklah, nanti aku bawakan tasmu kesini ya? Sekarang istirahatlah,” Yuka menyelimuti tubuh Ruby sampai kelehernya, lalu meninggalkan Ruby sendirian diruang kesehatan.

Tanpa sepengetahuan kedua gadis cantik itu ternyata pembicaraan mereka sedang didengarkan oleh seorang pemuda berambut raven yang sedang berbaring disamping ranjang Ruby, tampak lilitan perban membalut kepalanya. Pemuda itu mendengar jelas apa yang mereka bicarakan. Ruby mual, Ruby pusing, hah pasti gadis itu hamil! Itu yang ada didalam kepala pantat ayamnya itu.

“Sekarang, tamat kau bodoh!” Arslan bergumam mengingat Aga, lalu memejamkan matanya. Rasa nyeri didahinya yang didapat karena terantuk sudut meja kaca dikelas Fisika tadi masih terasa perih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*