Home » Cerita Seks Umum » Predator 6

Predator 6

Predator 6

Hujan masih terdengar deras mengguyur tanah yang kian basah sore itu, ketika di salah satu ruang kelas dua insan sedang berpacu menuntaskan birahi.
“Ahhhh…ouh…iyahhh..” Suara bu Astri yang saat itu sedang menungging sambil berdiri. Kedua tangannya memegang meja dengan erat, bajunya masih melekat ditubuhnya, hanya saja celana beserta celana dalamnya telah melorot sampai mata kaki. Dibelakangnya mas Hadi yang merupakan suami bu Indah tengah bernafsu mengeluar masukan senjatanya di vagina legit bu Astri. Sambil menggenjot, tangannya terus meremasi pantat kenyal bu Astri yang dengan lihai mengimbangi genjotan mas hadi dengan goyangannya.
“Oh…bu Astri…kamu binal sekalih…sudah lama saya pengen kayak gini” racau mas hadi sambil terengah-engah. “Ohhh…iyah masss…masss hadi suka yang binal ya…” Bu Astri menjawab racauan suami teman kerjanya itu sambil terus memutar pantatnya menggilas batang kemaluan mas Hadi yang bersarang di vaginanya.
Namun suami bu Indah itu memang hanya besar nafsunya saja. Ia tak mempunyai stamina yang cukup untuk menandingi kebinalan bu Astri. “Ahhh…bu…saya keluar…ahhh nikmaaattt” ucapnya ketika kemaluannya menyembur di dalam lorong vagina bu Astri.
“Uh dasar loyo…baru digoyang dikit aja udah muncrat” ucap bu Astri dalam hati ketika merasakan semburan sperma mas Hadi di dalam vaginanya.

Beberapa menit berlalu, kini bu Astri dan mas Hadi sudah kembali merapikan pakaiannya masing-masing. Mereka sedang Asik mengobrol ketika bu Indah dan bu Ernita datang.
“Eh mas..ko jemput gak bilang-bilang sih” tanya bu Indah sedikit kaget melihat suaminya telah berada di sekolah tempat ia mengajar. Tak ketinggalan bu Ernita juga ikut menyalami suami teman kerjanya itu.
“Tadi aku udah bbm…tapi hp kamu nya mati kan” mas Hadi menjawab pertanyaan istrinya, tetapi dengan mata tertuju kepada sosok yang yang mendampingi bu Indah.
“Waduh…ni guru bahenol gini…bisa gak ya gue ngerasain ngentot sama dia” pikir mas Hadi ketika matanya memelototi bodi sintal bu Ernita.
Setelah ngobrol basa-basi, tak lama kemudian mereka pulang. Bu Ernita dan bu Astri mendapat tumpangan dari mas Hadi dan bu Indah untuk pulang bersama. Di dalam mobil, suami bu Indah itu memperhatikan kedua guru cantik itu di kursi belakang mobilnya. Tau dirinya tengah diperhatikan, bu Astri menggoda mas Hadi yang tengah menyetir dengan senyum dan kedipan nakalnya.

Sementara itu di rumah pak Risman. Kepala sekolah mesum itu masih asik mengintip istrinya yang tengah berselingkuh dengan tukang kebun sekaligus supir pribadi istrinya. Dimana kini mereka mulai kembali membangkitkan hasrat birahi masing-masing setelah beberapa menit beristirahat.
Saat itu nampak bu Yunitha tengah berada diatas tubuh mang Udin dengan mulut yang penuh dijejali batang penis mang Udin yang mengacung tegak. Begitupun sebaliknya, mang Udin tidak menyia-nyiakan vagina yang disuguhkan istri majikannya tersebut di depan wajahnya. Ia dengan rakus menjilati bahkan menyedot lubang vagina bu Yunitha sambil kedua tangannya ia gunakan untuk merekahkan bongkahan pantat kenyal istri majikannya tersebut.
Mereka terus melakukan gaya 69 tersebut dengan penuh nafsu, hingga bu Yunitha mengerang. Vaginanya berkedut memuncratkan cairan orgasmenya. Kenikmatan itu benar-benar meluluh lantakan tubuh bu Yunitha.
Kini mang Udin telah berada di belakang tubuh bu Yunitha yang sedang menungging sexy diatas kasur kamar tamu rumahnya. Kepalanya ia benamkan diatas bantal, membuat erangan kenikmatannya terdengar tertahan ketika merasakan tusukan penis mang Udin di vaginanya.
Tanpa menunggu vagina majikannya beradaptasi, mang Udin langsung menggenjot tubuh bu Yunitha dengan kecepatan tinggi, membuat wajah cantik istri dari pak Risman itu semakin terbenam diatas bantalnya.
“Hnggghhh…hngggghhh…” Erangan tertahan bu Yunita ketika merasakan kenikmatan yang tiada tara dari genjotan kasar tukang kebun sekaligus supir pribadinya. Mang Udin dengan gemas meremas pantat majikannya. Ia semakin mempercepat genjotannya, membuat suara vagina becek yang ditumbuk penisnya semakin nyaring terdengar di ruangan itu.
Tak sampai 10 menit, bu Yunitha kembali merasakan gelombang orgasme menghampirinya. Kepalanya menengadah, punggungnya melengkung, dan dari mulutnya terdengar erangan yang mengantar muncratnya cairan orgasme dari vaginanya.
Mang Udin yang merasakan semburan hangat di batang penisnya yang tengah berada di dalam vagina bu Yunitha, tidak mau memberikan istri pak Risman itu kesempatan menghirup udara. Ia langsung mencabut penisnya dan membalikan tubuh majikannya. Dibuatnya tubuh itu terlentang diatas kasur dengan kaki mengangkang. Lalu mang Udin kembali menancapkan batang penis kebanggaannya itu kedalam lubang vagina bu Yunitha. Ia kembali memompa vagina itu dengan kasar.
Bu Yunitha hanya bisa melenguh dan menggeleng-gelengkan kepalanya meresapi kenikmatan yang diberikan mang Udin melalui batang penis diselangkangannya.
“Addduuuh…ahhh…enak mang…sayah mauh keluar lagi” racau bu Yunitha ketika merasakan orgasmenya kembali datang. “Tatt..tahan nyah…mam..mamang juga mau nyampeh..” Ucap mang Udin terengah, karena ia pun hampir mencapai klimaksnya.
Akhirnya secara bersamaan kedua insan yang tengah asik bersetubuh itu meraih puncak kenikmatannya. Tubuh keduannya berkelojotan dan mengejang-ngejang. Bu Yunitha merasakan orgasme yang sangat hebat hingga bola matanya terbalik hanya menunjukan warna putihnya saja.
Beberapa detik kemudian mang Udin ambruk diatas tubuh bu Yunitha dengan batang penis yang masih menancap di vagina istri majikannya tersebut. Hingga “Braaaaak…” Seseorang mendobrak pintu itu.
Bu Yunitha menjerit kaget, begitu juga dengan mang Udin. Bahkan saking kagetnya, mang Udin sampai jatuh terguling dari atas kasur. Bu Yunitha tampak ketakutan melihat sosok yang mendobrak pintu itu. Tubuhnya telanjangnya bergetar, keringat dingin membasahi dahinya.
Dengan suara bergetar bu Yunitha berkata, “ppp…pa..papah..”

Tanpa terasa liburan sekolah berakhir begitu cepat, hari ini merupakan hari pertama kegiatan belajar-mengajar setelah dua minggu para staff, guru maupun murid me-refresh otaknya dari kegiatan rutin sehari-harinya.
Pak Risman masih nampak bermalas-malasan untuk beranjak dari tempat tidurnya, padahal jam sudah menunjukan pukul 06.30. Disampingnya seorang perempuan cantik dengan rambut panjang di cat agak coklat elegan masih menggelayut manja memeluk tubuh buncitnya. Kulit perempuan itu yang kuning langsat nampak kontras dengan warna kulit pak Risman.
Nampaknya malam tadi telah terjadi pertarungan yang hebat, hingga pagi itu nampak si wanita masih enggan untuk melepaskan pelukannya dari tubuh pria buncit disampingnya. Selain itu, bekas-bekas sperma yang mengering nampak di beberapa bagian tempat tidur tersebut.
“Cklek…” Suara pintu kamar itu dibuka dari luar, sesaat kemudian masuklah sosok wanita cantik mengenakan kimono putih pendek yang bawahnya tak dapat menyembunyikan putih mulus pahanya. Dengan rambut yang disanggul, perempuan itu masuk ke dalam kamar pak Risman membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan dua potong sandwich.
Perempuan itu meletakan nampan berisi sarapan diatas meja kecil di samping tempat tidur. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidur di sebelah pak Risman. Tangan kanan wanita itu lalu mengelus dada telanjang pak Risman yang agak sedikit berbulu. Ia lalu menundukan kepalanya menciumi pipi gembil pak Risman. Ketika bibirnya sudah mendekati telinga laki-laki buncit itu, wanita cantik itu berbisik, “pahhh…ayo bangun, mamah udah bikinin sarapan tuh…katanya mau ke sekolah…nanti kesiangan loh..” Ternyata wanita itu adalah bu Yunitha istri pak Risman yang sexy yang tempo hari ketahuan tengah berselingkuh dengan mang Udin sopirnya.
Pak Risman ternyata mampu menguasai keadaan saat ia memergoki istrinya saat itu. Tak seperti suami-suami yang lain yang lantas menceraikan istrinya ketika mengetahui perselingkuhan yang terjadi, pak Risman justru malah membebaskan istrinya untuk tidur dengan siapa saja. Tentu saja dengan catatan semua perbuatan itu dilakukan di rumah, supaya tidak tercium oleh siapapun diluar sana. Selain itu, pak Risman juga bebas membawa perempuan manapun untuk tidur bersamanya dan mengarungi malam dengan kegiatan birahi di rumahnya.
Demi kelancaran kegiatan permesuman di rumah miliknya itu, pak Risman sampai harus memberhentikan pembantu perempuannya. Hingga pada akhirnya selama dua minggu ini bu Yunitha menambah perannya di rumah itu menjadi Istri, pembantu, sekaligus pemuas nafsu. Jika yang membawa sarapan adalah bu Yunitha istri pak Risman, lalu siapa gerangan wanita cantik yang tengah memeluk pak Risman?

Senyum manis tersungging dari bibir tipis perempuan berambut coklat itu. “Hi…selamat pagi bu Yunitha..” Sapa wanita itu ketika melihat istri dari laki-laki yang tengah dipeluknya. “Eh…selamat pagi juga bu Melisa…gimana, enak tidurnya” tanya bu Yunitha ramah.
Ya, wanita yang tengah memeluk tubuh buncit pak Risman itu adalah bu Melisa, wanita yang dulu menjadi korban pemerkosaan pak Risman dan mang Yono di ruang kepala sekolah. Bu Melisa diperkosa pak Risman waktu itu karena dirinya tidak sengaja memergoki bu Ernita dan mang Yono tengah bersetubuh. Pak Risman yang ketakutan skandalnya terbongkar akhirnya memerkosa wanita itu. Namun perkosaan itu malah memberikan sensasi kenikmatan yang berbeda terhadap bu Melisa. Ia jadi sangat menikmati kenikmatan yang diberikan batang kejantannan pak Risman, hingga ia rela menjadi salah satu budak seks kepala sekolah mesum itu.
Hari ini adalah hari kedua bu Melisa menginap di rumah pak Risman. Suaminya yang seorang pelaut membuat dirinya bebas tidur dimana saja ketika suaminya sedang bertugas, ditambah lagi saat itu anaknya sedang berlibur di rumah orang tuanya, membuat bu Melisa semakin bebas keluar rumah.

Pak Risman dengan malas bangkit dari tempat tidurnya. Ia lalu mencium pipi istrinya sebelum beranjak ke kamar mandi yang terletak di kamarnya. Sebelum memasuki kamar mandi pak Risman menoleh ke arah tempat tidurnya. Diatas kasurnya nampak dua orang wanita sexy sedang bercengkrama, dimana yang satu duduk dipinggiran kasurnya masih mengenakan kimono putih sexy, dan yang satunya lagi masih merebahkan tubuh telanjangnya diatas tempat tidur. “Hmmm…benar-benar indah hidup ini” gumamnya sebelum memasuki kamar mandi.
15 menit berlalu, pak Risman nampak keluar dari kamar mandinya dengan memakai handuk putih yang melilit di tubuh buncitnya.
Baru saja ia keluar pintu kamar mandi, matanya sudah disuguhi tontonan menarik. Dua wanita cantik tengah beradu nafsu memacu birahi diatas tempat tidur itu. Terlihat bu Yunitha mendominasi pergumulannya dengan bu Melisa pagi itu. Entah siapa yang memulai, kini keduanya terlihat sedang beradu lincah memagut bibir. Air liur belepotan di kedua wajah cantik itu.
Bu Yunitha yang berada diatas tubuh bu Melisa mengambil inisiatif, kaki keduanya saling membelit, pinggul keduanya bergoyang erotis dengan sangat kompak menggesek-geskan permukaan kedua vaginanya.
Erangan dan desahan penuh kenikmatan menggema di kamar sang kepala sekolah mesum pagi itu.
Pak Risman kini telah selesai berpakaian. Ia kini tengah menikmati sarapan buatan istrinya diatas sofa kecil kamar itu. Begitupun bu Yunitha dan bu Melisa, keduanya terlihat terkapar diatas tempat tidur dengan tubuh telanjang. Senyum yang mengembang di kedua bibir ranum wanita tersebut menandakan kepuasan.
Pak Risman lalu bangkit dari sofanya setelah menyelesaikan sarapannya. Ia kemudian mengecupi kening kedua wanita cantik yang terkapar diatas tempat tidurnya. “Mah…papah berangkat ya…” Ucap pak Risman kepada istrinya. “Bu Melisa…saya berangkat dulu…kalau masih pengen kontol, mang Udin ada di kebun belakang…” Lanjut pak Risman berpamitan kepada bu Melisa.
Dengan gaya genit seperti girl band korea keduanya serempak menjawab, “hatiiii-hatiii paaaak..”

Waktu sudah menunjukan pukul 07.30 ketika jagoan kita pak Risman tiba di sekolahnya. Ia lalu menuju lapangan sekolah tersebut, disana terlihat ratusan siswa-siswi sudah memenuhi lapangan bersiap untuk upacara pembukaan masa orientasi siswa baru. Dibimbing oleh kakak kelas dan guru-guru pembimbing para siswa-siswi baru tersebut menyiapkan barisannya.
Tepat jam 08.00 upacara pun dimulai. Pak Risman kini naik ke podium memberikan sambutan kepada siswa-siswi baru yang tampak serius mengikuti upacara tersebut.
Cuaca pagi itu memang terasa sangat panas. Matahari terasa menyengat menyinari lapangan sekolah tersebut. Tak sedikit dari siswa-siswi tersebut yang pingsan kala mengikuti upacara tersebut, membuat para guru dan pembimbingnya sibuk.
Termasuk Nanda, siswi kelas 2 yang merupakan anggota OSIS di sekolah itu. Ia tak kuat menahan teriknya matahari menyengat tubuh tinggi semampainya, hingga terjatuh pingsan dan kini ditandu rekan-rekannya menuju ruang UKS untuk mendapat perawatan.
Sementara itu, ditengah-tengah sambutannya pak Risman memperkenalkan seorang guru baru kepada semua siswa dan guru yang mengikuti upacara tersebut. Namanya Ibu Gita, berusia 26 tahun dengan tubuh tinggi dan berat badan ideal, payudara sedang ditunjang dengan bentuk bokong yang bulat menggemaskan. Kulitnya putih mulus dengan wajah cantik dan rambut pendek tidak melebihi tengkuknya.
Saat itu ibu Gita naik ke podium mendampingi pak Risman untuk memperkenalkan dirinya. Pakaian yang ibu Gita kenakan saat itu benar-benar memancarkan keseksiannya. Ia memakai kemeja putih berlengan pendek, bawahannya memakai rok ketat berwarna coklat yang menggantung sedikit diatas lutut. Sepatu berhak tinggi berwarna putih menghiasi kakinya yang jenjang. Penampilannya itu membuat semua laki-laki menelan ludah, termasuk pak Risman yang kini berdiri di sebelahnya. Pikiran mesumnya menerawang, ia membayangkan kenikmatan yang disuguhkan tubuh guru baru disampingnya.

###

Sementara itu di ruang UKS, Nanda yang tadi pingsan tengah mendapatkan perawatan. Diruangan tersebut, siswi cantik yang baru menginjak kelas 2 SMA tersebut dibaringkan diatas ranjang perawatan.
Pak Hamdan sedang berusaha menyadarkan Nanda dari pingsannya. Ia kini tengah memijati telapak kaki muridnya. Namun bagaimanapun pak Hamdan adalah laki-laki normal. Melihat seorang wanita muda yang cantik tengah berbaring lemas, hasrat kelelakiannya mulai timbul. Apalagi ketika ia mengangkat kaki kanan gadis itu untuk memijati telapak kakinya, dari bawah rok yang dikenakan gadis itu terlihat gundukan vagina yang ditutupi celana dalam putih menggoda keimannannya.
Niat pak Hamdan memijati telapak kaki gadis itu berubah. Ia kini malah mengelus betis mulus sang gadis yang tengah pingsan itu. Kepalanya mulai celingukan melihat ke sekitar ruangan. Ketika dirasakannya aman, guru mesum itu melanjutkan aksinya. Lidahnya mulai menyusuri betis kanan Nanda yang masih terbaring pingsan, sedikit-sedikit tangan pak Hamdan mulai mengangkat rok abu-abu yang dikenakan muridnya. Ia terus menjilati kaki mulus sang gadis hingga ke pangkal paha bagian dalamnya.
Kini hidung pak Hamdan tepat di depan gundukan vagina sang gadis yang tengah pingsan tersebut. Ia mulai mendengus-dengus penuh birahi menghisap aroma segar dari vagina Nanda. Semakin lama pak Hamdan semakin berani. Ia kini sudah menyingkap pinggiran celana dalam sang gadis dan lidahnya mulai menjilati mulut vagina yang nampak putih bersih tanpa bulu.
Tepat ketika lidah pak Hamdan menyeruak masuk ke lubang vagina Nanda, muridnya tersebut terbangun dari pingsannya. Awalnya ia hanya merem melek merasakan kenikmatan dari sapuan lidah gurunya yang panas mengorek liang vaginanya. Namun ketika sadar sepenuhnya gadis itu kaget dan mulai beringsut ketakutan.
“A..a..apa yang bapak lakukan” ucap gadis itu kaget sambil beringsut menjauh dari gurunya. Pak Hamdan yang panik langsung membekap mulut gadis itu dan mendekap tubuhnya.
“Ma..maafkan bapak Nanda…bapak khilaf…kamu jangan berteriak” ucap pak Hamdan panik mencoba menenangkan muridnya yang kini mengerang tertahan dan mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan guru mesum tersebut. “Bapak khilaf…maafkan bapak…kamu tahu sendiri bapak seorang duda…kalau kamu janji gak bakalan teriak, bapak akan lepasin kamu dan anggap tak pernah terjadi apa-apa…maafkan bapak” kembali pak Hamdan mencoba bernegosiasi dengan muridnya itu, ia sadar perbuatannya akan mencoreng mukanya dan menimbulkan banyak masalah. Pak Hamdan benar-benar ketakutan dan menyesali perbuatannya.
Sementara itu Nanda yang mendengar ungkapan pak Hamdan yang ketakutan malah tersenyum geli dalam hatinya. Nanda memang tipikal gadis SMA jaman sekarang yang sedikit nakal. Ia sudah kehilangan keperawanannya sejak ia masih di bangku SMP. Malah sekarang ia sudah sering melayani nafsu Oom-Oom hidung belang yang membookingnya untuk mendapatkan pelayannan seksual dari tubuhnya.
Nanda mengangguk pelan ketika mendengar penawaran dari pak Hamdan, ia masih berpura-pura ketakutan ketika pak Hamdan melepaskan dekapannya.
“Ma…Maafkan bapak…bapak khilaf…” Ucap pak Hamdan mengulangi perkataannya sambil duduk diatas kursi yang terletak di samping ranjang tersebut. Wajahnya menunduk menunjukan penyesalan yang mendalam akibat perbuatannya.
Nanda benar-benar geli melihat gurunya yang ketakutan. “Kasian juga pak Hamdan…pasti dia udah lama ga ngerasain dijepit memek” pikirnya. “Aku kasih hadiah aja kali ya…daripada dia konak gak ada penyaluran…hitung-hitung berterimakasih udah nyadarin aku dari pingsan” kembali pikiran gadis menerawang.
Lalu dengan gemulai Nanda merangkak diatas ranjang mendekati pak Hamdan yang tengah duduk menunduk menyesali perbuatannya. “Pak…lihat sini dong…ko nunduk terus” ucap Nanda dengan suara dibuat mendesah menggoda.
Mendengar ucapan muridnya pak Hamdan langsung mengangkat wajahnya. Matanya melotot seakan tak percaya, terlihat tenggorokannya beberapa kali mencoba menelan ludah, ketika melihat muridnya merangkak sexy diatas ranjang menuju kearahnya.
“Ko bengong pak…masih mau sama tubuh Nanda…tadi Nanda cuma kaget ko pak” kembali Nanda menggoda gurunya. Kini wajahnya hanya beberapa senti didepan wajah pak Hamdan yang tak berkedip melihat bibir muridnya yang basah terus mengucapkan kata-kata yang memancing gairahnya.
Pak Hamdan yang baru saja menyadari kekhilafannya kini mulai kembali gelap mata. Tanpa sadar bibirnya kini sudah berpagutan panas dengan bibir ranum anak didiknya. Bahkan kini pak Hamdan bangkit dari kursi yang didudukinya. Sambil berpagutan ia menaiki ranjang perawatan di ruang UKS itu. Tubuhnya terus mendesak tubuh semampai gadis itu yang kini sudah terbaring mengangkang dibawah tindihan tubuh besar pak Hamdan. Nanda menjepitkan kedua kakinya di pinggang pak Hamdan, ia menggoyangkan pinggulnya menggesek-gesekan vaginanya yang masih memakai celana dalam menggoda batang penis pak Hamdan yang mulai membengkak didalam celanannya. Tangan kanannya menahan kepala bagian belakang gurunya tersebut agar tak melepaskan pagutan panasnya, sementara tangan kiri gadis itu terus mengusap punggung pak Hamdan.
Pak Hamdan tak mau kalah, kedua tangannya dengan gemas meremas gumpalan payudara berukuran sedang gadis yang tengah ditindihnya, membuat sang gadis mengerang tertahan penuh kenikmatan.
Setelah beberapa menit Nanda melepaskan pagutannya. Keduanya tampak terengah-engah mencari nafas. Senyum menyeringai di bibir pak Hamdan, ia senang mendapatkan pelayanan dari gadis cantik yang dengan sukarela memberikan tubuh ranumnya untuk dinikmati olehnya.
“Bapak mau langsung coblos…apa mau di sepong dulu” tanya Nanda menawarkan service tubuhnya kepada pak Hamdan. Vaginanya memang sudah sangat basah akibat gesekan yang ia lakukan barusan, sehingga ia berpikir tak masalah jika gurunya itu langsung mempenetrasikan batang penisnya membelah vagina mudanya.
Pak Hamdan yang sudah tak tahan nampak terburu-buru memelorotkan celana berikut celana dalamnya. Bahkan saking bernafsunya ia tak membuka celana dalam muridnya terlebih dahulu, ia hanya menyingkap celana dalam Nanda untuk memberi jalan kepala penis besarnya memasuki vagina ranum milik muridnya.
“Hkkkk…enghhh…ahhh” Nanda mendesah lirih merasakan batang penis besar milik pak Hamdan menjejali vaginanya yang licin. “Ohhh…pak…tahannnhhh…ohhh…sebentarrrhh h..” Racau Nanda ketika merasakan gurunya tersebut langsung memompa vaginannya tanpa memberi waktu untuknya mengambil nafas.
Pak Hamdan tidak memperdulikan racauan muridnya tersebut. Kini ia malah mengangkat pinggul Nanda dan menghentak-hentakan pinggulnya dengan kasar menumbuk selangkangan murid cantiknya yang nampak mengerang pasrah.
Di dalam hatinya, Nanda sangat menikmati perlakuan gurunya itu terhadap tubuhnya. Hingga orgasme datang sangat cepat menghampiri tubuhnya. “Udddahh paaahhk…istirahat duluh” erang Nanda sambil mencoba menahan hentakan pak Hamdan yang sangat bernafsu melahap tubuh ranum muridnya.
Namun bukannya berhenti, mendengar muridnya memohon, pak Hamdan malah semakin bernafsu. Ia kini membalikan tubuh Nanda menjadi menungging, kembali ia jejalkan batang penis besarnya menusuk vagina Nanda dari belakang. Seperti tadi, pak Hamdan langsung memacu tubuhnya menghentak vagina Nanda.
Selang beberapa menit orgasme kembali datang menghampiri tubuh Nanda yang kini terlihat tersungkur dengan pantat menungging dihantam pak Hamdan. “Aaaahhh…tuhhh…Nandah…keluar lagihhh…ahh” Nanda merengek merasakan vaginanya kembali menyemburkan cairan putih kental.
Pak Hamdan yang sudah tak tahan akhirnya mencabut batang penis dari vagina muridnya. Ia lalu menjambak rambut muridnya memaksa untuk mengoral batang kemaluannya yang sudah terasa berkedut.
Nanda yang mengerti keinginan gurunya itu langsung memberikan service oral terbaiknya, hingga pak Hamdan melenguh-lenguh menahan kenikmatan yang diberikan dari mulut muridnya itu.
Namun tepat ketika pak Hamdan akan menyemburkan spermanya di dalam mulut Nanda, seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut. Pak Hamdan yang kaget otomatis menarik batang penisnya yang tengah berada didalam mulut Nanda yang saat itu telah bersiap menghisap sperma gurunya. Alhasil sperma menyembur membasahi wajah Nanda yang saat itu terpekik kaget.
Orang yang baru saja masuk berkacak pinggang menyaksikan perbuatan mesum pak Hamdan dengan muridnya. Dengan wajah galak dan suara sedikit membentak ia berkata, “apa-apaan ini..”

Pak Hamdan tak bisa apa-apa ketika seorang guru memergokinya berbuat mesum di ruang UKS itu. Ia hanya bisa diam terpaku dengan batang yang sedikit demi sedikit mulai layu.
Sementara Nanda sang murid binal yang menjadi betina pelampiasan nafsu pak Hamdan tak kalah kagetnya. Nanda yang sedang berjongkok didepan selangkangan pak Hamdan hanya bisa diam mematung dengan wajah belepotan sperma pak Hamdan.
“Apa-apaan ini…?” Teriak seorang guru wanita yang baru saja menerobos pintu ruangan itu dan memergoki pak Hamdan. Tampak muka galak dari wanita tersebut. Namun dibalik wajahnya yang galak, dalam hatinya ia merasa geli melihat raut wajah ketakutan seorang murid perempuan cantik yang tengah berjongkok didepan selangkangan gurunya. Begitu pula ketika ia melihat sosok guru laki-laki itu, dalam hatinya ia tertawa puas.
“Oh…jadi selama ini pak Hamdan memang suka daun muda ya…” Ucap guru perempuan itu sambil melipat tangan didepan buah dadanya yang sexy dalam balutan baju batik berwarna merah.
“Ng..ngga bu Ernita…” Jawab pak Hamdan tergagap. Sementara Nanda hanya bisa menunduk ketakutan tak berani memandang wajah gurunya yang rupanya adalah bu Ernita, guru cantik dan semok piaraan kepala sekolah.
“Enggak gimana pak..? Sudah jelas saya melihat dengan mata kepala saya sendiri…sekarang pakai baju kalian…ikut saya ke kantor pak Risman” kembali bu Ernita berucap dengan masih memperlihatkan muka galaknya.
Pak Hamdan yang ketakutan akhirnya berpikir nekad. Dalam pikirannya, daripada kelakuannya ini mencoreng mukanya, lebih baik ia perkosa juga guru yang memergokinya.
Pak Hamdan mulai memantapkan hatinya. Pikiran jorok tentang kenikmatan yang akan ia dapatkan dari tubuh bu Ernita membuat batang kemaluannya kembali menegang. Ia mulai melangkah menghampiri tempat dimana bu Ernita berdiri.
Sementara itu, kecerdasan yang dimiliki bu Ernita membuat dirinya bisa menebak apa yang akan guru laki-laki itu lakukan. “Hehe…aku tahu kamu ketakutan Hamdan…kamu pasti nekad untuk memperkosaku…” Itulah yang ada dipikiran bu Ernita melihat pak Hamdan yang mendekatinya. Namun, bu Ernita sama sekali tak menghindar karena itulah yang ia harapkan.

Bu Ernita yang kesehariannya terlihat alim memang sangat berbeda ketika dirinya sedang berurusan dengan masalah kelamin. Ia adalah sosok yang hebat dalam memberikan kepuasan dalam hubungan badan. Didukung dengan wajah cantik dan tubuh yang semok, kebinalannya diatas ranjang memang selalu memberi kepuasan kepada setiap laki-laki yang menyetubuhinya.
Pak Risman, mang Yono, dan kelima murid kesayangannya adalah orang-orang yang senantiasa merasa puas dengan pelayanan yang bu Ernita berikan.

“Aku harus pura-pura berontak..agar pak Hamdan semakin bernafsu dengan tubuhku” itulah yang ada dipikirkan bu Ernita ketika pak Hamdan kini hanya berjarak beberapa langkah saja dari dirinya.
Pak Hamdan yang sudah nekad kini telah ada dihadapan bu Ernita. Sementara Nanda hanya duduk bersimpuh melihat apa yang akan dilakukan guru laki-laki yang baru saja memberikan kepuasan kepadanya.
“Aa…apa mau bapak..?” Bu Ernita bertanya, dengan suara yang dibuat-buat seakan dia sedang panik melihat pak Hamdan yang mendekat. Ia lalu membalikan badannya berpura-pura akan menghindari pak Hamdan yang mendekat.
Sesuai dengan perkiraannya, pak Hamdan langsung merangkul tubuh bu Ernita dari belakang dengan tangan kiri yang mengunci erat tubuh bu Ernita, sementara tangan kanan ia pakai untuk membekap mulut bu Ernita yang berpura-pura meronta.
“Hmmm…hngggghhh…hnggghhhh” suara erangan tertahan bu Ernita ketika dirinya meronta berpura-pura seakan ia ingin melepaskan pelukan erat pak Hamdan dari tubuhnya. Namun berbeda dengan apa yang dilakukan tubuhnya, pikiran bu Ernita justru malah menyuruh pak Hamdan melanjutkan pelecehannya.
“Ayo Hamdan…gunakan kontol besarmu untuk memuaskan memekku…” Itulah yang ada dibenak guru wanita itu.
Bu Ernita terus meronta-ronta. Ia sengaja menggerak-gerakan pantat semoknya, sehingga menimbulkan gesekan pada batang kemaluan pak Hamdan yang membuatnya semakin bernafsu akan tubuh bu Ernita.
Nanda yang kala itu hanya menonton tersentak kaget, pak Hamdan menyuruhnya untuk merekam adegan perkosaan itu dengan handphonenya. Ia segera menyalakan kamera di Handphone miliknya untuk menuruti apa yang diperintahkan guru laki-laki itu. Layaknya pembuatan video porno, Nanda merekam semua kejadian itu.
Kini terlihat bu Ernita yang diseret pak Hamdan ke atas ranjang yang tadi ia gunakan untuk menggagahi muridnya di ruangan itu. Bu Ernita berpura-pura kehabisan tenaga untuk melawan pak Hamdan. Kini terlihat ia terengah-engah dalam keadaan telungkup dibawah tindihan pak Hamdan.
“Ooohhh…pakh…jangan lakukan ini sama sayahhh..” Ucap bu Ernita dengan suara lirih seolah-olah memohon supaya pak Hamdan menghentikan perbuatannya.
Namun mendengar bu Ernita yang terengah, pak Hamdan jadi semakin bernafsu. Ia merogohkan tangan kirinya untuk membuka kancing celana bu Ernita. Setelah terlepas pak Hamdan langsung menurunkan celana guru cantik tersebut. Ia mulai menciumi tubuh bu Ernita yang kini berpura-pura menangis.
“Ttto…tolong hentikan pak…saya tidak mau menghianati suami saya..” Ucap bu Ernita lirih. Mendengar permohonan itu pak Hamdan malah semakin bernafsu. Ia terus menciumi tubuh bu Ernita yang masih di balut kemeja batik lengan panjangnya. Tangannya tak ketinggalan terus menjamah payudara menantang bu Ernita yang kenyal.
Selang beberapa menit ciuman pak Hamdan telah sampai di pantat bu Ernita. Ia terus menciumi bongkahan pantat semok yang menggiurkan tersebut.
Kini terlihat wajah pak Hamdan terbenam diantara bongkahan pantat bu Ernita yang masih ditutupi celana dalamnya. “Ahhhh…iyyahhh…hmmm…” Bu Ernita bergumam menikmati ciuman-ciuman pak Hamdan di pantatnya. Lalu sesaat kemudian celana dalam sang guru wanita itu telah terlepas. Pak Hamdan kini dengan gemas menjilat bahkan menyedot lubang vagina dan pantat bu Ernita yang tersaji didepan matanya. “Ouhhhh…iyyyyaaahhh….ahhhh…” Bu Ernita bergumam sambil terus menggoyang pantatnya.
“Gimana…nikmat kan bu…lubang memeknya saya jilat…” Tanya pak Hamdan disela-sela kegiatannya menjilati lubang kenikmatan bu Ernita yang semakin membanjir karena birahi.
“Oh…hentikan…ahhh…tidak…hmmmhhh…” Bu Ernita menjawab pertanyaan pak Hamdan sambil memejamkan matanya menikmati jilatan lidah pak Hamdan di vaginanya. Ia juga mendesak-desakan pantat semoknya di wajah pak Hamdan.
Semua kejadian itu tak luput dari mata Nanda yang mengabadikan adegan demi adegan tersebut dengan handphonenya.
“Oooohhhh…ti…daaaak…” Orgasme bu Ernita meledak di mulut pak Hamdan. Cairan putih kental yang keluar dari lubang vagina bu Ernita dengan rakus dijilati pak Hamdan.
“Hehe…gimana bu..?mau pasrah atau terus melawan” tanya pak Hamdan dengan mulut belepotan cairan orgasme bu Ernita.
“Ohh…tidak pak..hoh…jangan perkosa saya” jawab bu Ernita terengah-engah, dengan posisi tubuh yang masih menungging dihadapan pak Hamdan.
Sesaat kemudian pak Hamdan mulai memposisikan batang kemaluannya didepan belahan vagina bu Ernita yang masih menungging. Lalu ia mendorong batang itu membelah celah vagina bu Ernita yang ia rasa sangat legit. “Ouuuuhhhh…jangan paaaak…” Lenguh bu Ernita ketika batang kemaluan pak Hamdan menjejali lubang vaginanya.
Pak Hamdan kemudian mulai memaju mundurkan pantatnya perlahan, ia sangat menikmati jepitan vagina bu Ernita terhadap batang kemaluannya. “Ohhh…bu…punya memek enak gini ko baru sekarang di kasih ke saya…” Ucap pak Hamdan sambil terus menggenjot pelan vagina bu Ernita dari belakang. Tangannya tanpa henti meremas-remas bulatan pantat bu Ernita yang kenyal.
“Arrrgghhh…ngga…ahhh…ouhhh..tidak…” Bu Ernita mendesah-desah merasakan lubang vaginanya digaruk otot-otot batang kemaluan pak Hamdan yang memberinya sejuta kenikmatan. Ia sangat menikmati sandiwaranya yang berpura-pura menolak perlakuan pak Hamdan pada tubuhnya.
Semakin lama genjotan pak Hamdan semakin cepat, membuat gelombang orgasme kembali menghampiri bu Ernita. Namun ketika bu Ernita akan mencapai klimaksnya, pak Hamdan secara tiba-tiba menghentikan genjotannya, membuat orgasme itu gagal diraih bu Ernita. Tentu saja hal itu membuat bu Ernita kelojotan dan berusaha menghentakan pinggulnya terhadap selangkangan pak Hamdan. Namun pak Hamdan yang memang berniat mempermainkan birahi bu Ernita, tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia menahan pantat semok bu Ernita dengan kedua tangannya. Hal itu dilakukan berulang-ulang oleh pak Hamdan, yang tentu saja membuat bu Ernita tersiksa.
Kali ini adalah kali keempat pak Hamdan menggagalkan orgasme yang hampir diraih bu Ernita. “Sialan kamu Hamdan” pikir bu Ernita kesal. “Hahah…kenapa bu…? Udah pengen ngecrot ya…?” Tanya pak Hamdan sambil terkekeh menjijikan. “Oh..i..iyyaah pakh..tolong biarkan saya ngecrot..” Jawab bu Ernita lirih, memohon kepada pak Hamdan untuk memberinya kesempatan mendapatkan orgasme.
Ya, pak Hamdan berhasil mempermainkan birahi bu Ernita yang semula berniat mempermainkan dirinya. Kini dengan terang-terangan bu Ernita memohon penuntasan birahinya kepada pak Hamdan.
“Saya akan berikan kepuasan kepada bu Ernita…tapi ibu harus menuruti kemauan saya…gimana..?” Dengan sombongnya pak Hamdan memberikan penawaran. Bu Ernita hanya mengangguk tanda ia menyetujui penawaran itu.
Pak Hamdan sangat senang melihat reaksi guru bahasa inggris ini. Lalu ia menyuruh Nanda yang dari tadi merekam adegan persetubuhannya untuk menaiki ranjang perawatan itu. Ia menyuruh Nanda mengangkang, dengan posisi vagina tepat didepan wajah guru cantik yang tengah menungging tersebut.
“Ayo Nanda…suruh pelacur ini untuk menjilati memekmu…kapan lagi kamu bisa merendahkan gurumu” ucap pak Hamdan, dengan kurang ajar dia memerintahkan murid cantik yang telah memberikan kepuasan kepadanya untuk merendahkan gurunya sendiri. Nanda yang mendengar ucapan pak Hamdan tersentak kaget. Ia benar-benar tak percaya jika pak Hamdan bisa mengeluarkan kata-kata sekotor itu.
Lalu dengan sungkan Nanda lalu mengangkat dagu bu Ernita dengan tangan kirinya. Jari-jari tangan kanannya mencoba merekahkan lubang vagina miliknya. “Ma…maaf bu…tolong jilatin memek Nanda..” Ucap murid cantik itu kepada bu Ernita.
Bu Ernita yang mengetahui kegundahan hati Nanda muridnya segera melakukan apa yang diminta. Dengan telaten ia menjilati semua titik sensitif di vagina muridnya yang kini hanya bisa mendesah lirih dengan tubuh bersandar pada dinding dibelakangnya, dan mata yang setengah terpejam, serta tangan yang mulai meremas-remas payudaranya. Sebenarnya bu Ernita memang menyukai dirinya direndahkan saat disetubuhi. Menurutnya, ada rasa kepuasan tersendiri ketika tubuhnya didominasi dan direndahkan pejantannya.
“Lihat saja Hamdan…akan aku buat kamu memohon ampun kepadaku” bisik bu Ernita dalam hatinya. Lalu ia mulai merasakan pak Hamdan kembali menggoyang batang kemaluannya. Semakin lama genjotan pak Hamdan semakin hebat, membuat birahi bu Ernita kembali merangkak naik ke puncak yang berimbas terhadap pelayanan yang ia berikan terhadap vagina muridnya semakin menggila.
Erangan dan desahan Nanda mulai terdengar kacau, ia tak menyangka jika bu Ernita bisa membawanya menuju puncak kenikmatan. Apalagi saat ini bukan hanya lidah bu Ernita yang bermain di lubang vagina Nanda, jari tengah tangan kiri bu Ernita pun terasa nikmat menusuk-nusuk lubang anus Nanda. Hingga beberapa saat kemudian Nanda mengerang penuh kenikmatan. Ia mencapai orgasmenya di bibir bu Ernita guru bahasa inggrisnya. Begitupun yang bu Ernita rasakan pada vaginanya. Hampir bersamaan ia pun mendapatkan orgasme yang sedari tadi ia dambakan. Terlihat mata bu Ernita terpejam meresapi kenikmatan yang ia dapatkan, wajahnya semakin terbenam di selangkangan muridnya dengan nafas yang terengah-engah ia menyembunyikan senyumnya.
Keadaan pak Hamdan pun tak jauh berbeda dengan dua betina di hadapannya. Tubuhnya bergetar, batang kejantanannya ia tusukan dalam-dalam di lubang vagina bu Ernita yang berdenyut-denyut. Beberapa semprotan kencang yang keluar dari batang kemaluannya membuatnya puas dan lemas.
Pak Hamdan lalu mencabut batangnya dari lubang vagina bu Ernita yang masih menungging terengah-engah. Dengan lemas ia duduk berselonjor diatas ranjang tersebut dengan senyum puas menghiasi wajahnya.

“Auhhhh…yeahhh…Ahhhh…” Suara wanita yang mendesah penuh kenikmatan tatkala vaginanya ditusuki batang kejantanan besar terdengar di ruang kepala sekolah itu. Rupanya selesai upacara pembukaan pak Risman yang terus-menerus membayangkan tubuh sexy bu Gita benar-benar tak bisa menahan birahinya.
Selesai upacara, pak Risman segera memanggil salah satu budak seksnya untuk memuaskan birahinya.
Terlihat kini bu Linda sedang menungging dalam keadaan berdiri, dengan tangan meremas meja dan celana panjang berikut celana dalamnya yang sudah berserakan di lantai ruangan kepala sekolah tersebut. Baju kemeja lengan panjang masih menempel di tubuhnya, walaupun semua kancingnya telah terlepas. Kepalanya yang masih memakai jilbab warna putih terlihat menengadah setiap kali pak Risman menghantamkan batang kemaluan panjang dan besarnya dengan tenaga penuh.
“Oohhh…yahhh…ke..luarrr…” Erang bu Linda ketika vaginanya mendapatkan orgasme akibat sodokan-sodokan kasar pak Risman. Namun pak Risman tak mau memberi guru cantik dan semok itu kesempatan mengambil nafas, ia malah mempercepat tempo genjotannya, sehingga bu Linda makin mengerang-erang.
“Hehhhhh…ampun…oh…stop dulu pak…oh…” Racau bu Linda ketika merasakan batang besar pak Risman semakin cepat menumbuk vaginanya. “Hhhhh…enak…memek bu Linda…a..apa..memek bu Gita..juga…seenak ini..?” Ucap pak Risman terputus-putus sambil terus menghentak batang kejantannannya menusuk vagina bu Linda.
Bu Linda yang mendengar ucapan pak Risman pun tersenyum. Ia kini tau alasan pak Risman sudah meminta jatah darinya sepagi ini. Rupanya si kepala sekolah ini sudah teramat birahi dengan tubuh bu Gita rekan barunya di sekolah tersebut. Ia pun segera mengeluarkan jurus andalannya. Dengan gemulai bu Linda menggoyangkan pantat semoknya mengimbangi hentakan pak Risman, membuat si mpunya batang merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa. Hingga tak lebih dari 5 menit vagina bu Linda merasakan semburan sperma pak Risman menyemprot di dalam lubang vaginanya.
Sesaat pak Risman terlihat kelojotan. Lalu ketika orgasmenya mereda, ia segera mencabut batang kemaluannya dari vagina bu Linda dan duduk diatas sofa dengan nafas yang terengah-engah.

Sementara itu di ruang UKS. Bu Ernita yang kini sudah menanggalkan pakaiannya terlihat sedang menghentak-hentakan tubuhnya diatas tubuh pak Hamdan yang terlentang di lantai ruangan tersebut. Sesekali bu Ernita memutar pantatnya membuat pak Hamdan meringis merasakan batang kemaluannya terasa di pelintir oleh lubang vagina bu Ernita.
“Ohhh…inih…nikmati memek…sayah pak…” Racau bu Ernita, sambil memaju mundurkan pinggulnya menggilas batang pak Hamdan. Sedangkan pak Hamdan hanya bisa mendesah-desah, tak percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Ia benar-benar heran, bu Ernita yang tadi begitu terpaksa melayani nafsunya, kini malah menjejal-jejalkan batang kemaluannya kedalam lubang kenikmatan guru cantik itu.
Belum hilang rasa heran dipikirannya, pak Hamdan sudah dikagetkan oleh kedatangan Nanda yang langsung mengangkangi wajahnya. Muridnya yang cantik itu mendesak-desakan lubang vagina yang merah merekah dan basah di atas wajahnya.
“ini..jilatin pak…jilatin memek Nanda sampai ngecrot…” Ucap Nanda sambil mendesak-desakan vaginanya diatas wajah gurunya tersebut yang mau tak mau menuruti keinginan muridnya.
Kenikmatan yang diberikan dua orang wanita itu membuat pak Hamdan tak kuat menahan klimaksnya. Tubuhnya kelojotan dibawah tindihan bu Ernita dan Nanda. Akhirnya sperma pak Hamdan menyembur di dalam vagina bu Ernita yang saat itu juga sama-sama mendapatkan orgasmenya.
Bu Ernita kemudian beranjak dari tubuh pak Hamdan. Namun saat itu Nanda tak mau memberi ampun, ia segera mengulum batang kemaluan pak Hamdan yang hampir layu tersebut.
Batang kemaluan itu dipaksa ereksi kembali oleh mulut murid cantik tersebut, hingga membuat pak Hamdan mengerang menahan ngilu di kepala batangnya. Lalu Nanda mulai memasukan batang kemaluan gurunya kedalam lubang vagina sempit miliknya.
Beberapa menit berlalu, kembali pak Hamdan menyemprotkan spermanya, kali ini sperma pak Hamdan menyembur di dalam mulut Nanda muridnya. Namun seperti kejadian sebelumnya, pak Hamdan kembali di buat kaget oleh bu Ernita yang segera mengocok batang kemaluan pak Hamdan dengan bibir ranumnya.
“Ohhh…sudah bu…kita istirahat dulu..” Ucap pak Hamdan ketika merasakan batangnya dipaksa mengeras kembali oleh bibir lembut bu Ernita. Sementara bu Ernita hanya tersenyum penuh arti mendengar kata-kata yang terucap dari mulut guru laki-laki tersebut.
Setelah batang kemaluan pak Hamdan kembali mengeras, bu Ernita lalu beranjak naik keatas tubuh pak Hamdan. Kali ini ia memasukan batang kemaluan pak Hamdan kedalam lubang anusnya. “Hhhhh…cobain lubang pantat saya pak…ssshhh…pasti bapak belum pernah kan ngentottin lubang pantat…” Ucap bu Ernita sambil merasakan sedikit demi sedikit batang guru laki-laki itu membelah pantatnya.
Pak Hamdan hanya bisa meringis merasakan ngilu sekaligus nikmat ketika batang kejantanannya berhasil menusuk lubang pantat bu Ernita.
Hanya butuh waktu 5 menit bagi bu Ernita membuat pak Hamdan menyemburkan spermanya. Namun ketika batang kejantannan itu di cabut dari lubang pantat bu Ernita, kembali pak Hamdan tidak diberikan waktu untuk memulihkan tenaganya. Kali ini Nanda kembali menyambar batang kemaluan pak Hamdan.
Kejadian itu terus berlanjut. Bu Ernita dan Nanda tampak begitu kompak mengerjai pejantannya. Hari itu pak Hamdan sampai 7 kali menyemburkan spermanya, hingga ia memohon ampun kepada kedua wanita tersebut yang kini tengah tersenyum penuh kepuasan melihat pak Hamdan mendengkur kelelahan.

Tanpa terasa beberapa minggu berlalu semenjak hari pertama penerimaan siswa-siswi baru di sekolah tersebut. Pak Risman si kepala sekolah mesum semakin nyaman dengan kedudukannya, apalagi sekarang kegiatan mesumnya telah mendapat dukungan dari beberapa staff pengajar di sekolah itu yang mendapat kesempatan menikmati legitnya tubuh-tubuh para selir pak Risman. Program pak Risman yang ingin mencerdaskan anak bangsa dengan bumbu-bumbu seks didalamnya mulai di rancang.
“Kita harus mulai menyeleksi para guru dan staff di sekolah ini pak…yang gak kompeten harus kita ganti..” Ucap pak Hamdan yang merupakan seorang staff pengajar bagian kurikulum di sekolah tersebut. Hari itu pak Risman memang mengadakan rapat tertutup diruangannya dengan beberapa staff penting. Namun rapat tersebut tak seperti rapat biasanya, dimana para guru sexy dan genit telah bersiap untuk menjadi coffee break bagi para pesertanya.
“Iya pak betul…ehmmh…kita harus pikirkan cara untuk..emmhh…mendepak para guru yang tidak sejalan..ahhh..dengan program kita..hhh” pak Junadi yang merupakan wakil kepala sekolah menimpali perkataan pak Hamdan dengan nafas yang terengah-engah, karena batang penisnya tengah dikulum bu Indah yang bersimpuh didepan selangkangannya.
Tak berbeda jauh dengan pak Junadi, pak Hamdan pun yang tadi berkomentar tengah menikmati nakalnya gerayangan tangan lembut bu Linda yang duduk disampingnya. Jilatan lidah lembut guru bohay tersebut terus menjalar di dada pak Hamdan yang telah membuka semua kancing kemejanya.
Pak Arif yang mendengar perkataan kedua rekannya tersebut mengacungkan jempol tangannya tanda menyetujui usulan pak Hamdan dan pak Junadi. Ia tak bisa berkata apapun karena tengah sibuk menghentakan batang penis kebanggaannya kedalam vagina bu Ernita yang menungging sambil terengah-engah didepannya.
“Hahahaha…baik bapak-bapak kita pikirkan itu bersama-sama…sekarang silahkan nikmati hidangannya…” Ucap pak Risman sambil tertawa lepas. Ia sangat senang dimana saat ini bawahannya mendukung dirinya untuk membuat program baru di sekolah yang ia pimpin.
Pak Risman lalu memanggil bu Astri yang saat itu tengah duduk mengangkang diatas meja kerjanya. Dengan tubuh telanjang kecuali kerudung yang masih ia pakai, bu Astri tampak sedang bermasturbasi merangsang dirinya sendiri dengan menggosok klitorisnya dengan jari-jari tangannya sendiri.
“Ayo bu Astri sini saya entot memeknya…udah gatal ya..?” Ucap pak Risman memanggil guru cantik itu sambil menunjukan batang kemaluan besar, panjang dan berotot miliknya. Bu Astri tak menunggu lama langsung menghampiri pak Risman yang tengah duduk diatas sofa ruangan tersebut. Ia kemudian melihat rekan-rekan sesama pengajarnya satu persatu dan tersenyum.
Nampak disekelilingnya orang-orang tengah berasyik-masyuk dengan pasangannya masing-masing. Terlihat bagaimana bu Ernita yang tengah merem-melek didoggy oleh pak Arif, bu Linda yang mendesah-desah diatas sofa karena vaginanya mendapat hujaman penis pak Hamdan, dan juga terlihat bagaimana bu Indah meringis-ringis dengan tangan yang meremas sandaran sofa karena dibelakangnya pak Junadi tengah menggenjot lubang anus guru sexy tersebut. Sungguh pemandangan yang menggugah birahi terjadi diruangan kepala sekolah tersebut, membuat vagina bu Astri semakin basah dan gatal.
“Maaf ya pak…Astri pinjam kontol bapak buat garuk memek Astri…” Ucap bu Astri sambil tubuh telanjang yang masih berkerudung itu menaiki paha pak Risman yang hanya terkekeh mendengar ucapan kotor guru sexy tersebut. Lalu bu Astri menggenggam batang penis pak Risman dan menjejalkannya kedalam vaginanya yang basah.

Sementara itu di gudang sekolah tersebut pemandangan yang tak kalah erotis tengah terjadi. Tifany yang dulu diperkosa di ruangan tersebut karena memergoki bu Indah tengah berpesta seks dengan mang Yono serta kedua muridnya, kini nampak asik menikmati tiga batang penis mengobrak-abrik ketiga lubangnya. Ia kini tengah disandwich oleh Noval dan Rizal, dengan mulut dijejali penis panjang Reska. Disampingnya nampak Firman dan Anto tengah duduk bersandar kelelahan, dengan batang-batang yang layu diselangkangan masing-masing.
Rupanya semenjak perkosaan tempo hari tersebut Tifany benar-benar berubah. Ia kini menjadi gadis yang haus akan kenikmatan. Tak jarang ia menggunakan jepitan vaginanya untuk menebus nilai-nilai pelajaran dari para guru laki-laki di sekolah tersebut.
“Gila lu fan…kuat banget dientot…masih semangat aja…” Firman mengomentari tingkah laku Tifany. “Ayo…hajar terus bray..” Anto menimpali memberi semangat kepada teman-temannya.
Namun ketika sedang asik-asiknya mereka dikagetkan oleh suara ketukan pintu yang teramat nyaring. Dengan serempak, Rizal, Noval dan Reska menghentikan kegiatannya menyetubuhi Tifany.
“Sssiapa itu man…liat gih..” Bisik Rizal kepada Firman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*