Home » Cerita Seks Umum » Predator 3

Predator 3

Predator 3

Diceritakan ketika kejadian persetubuhan threesome itu berlangsung di ruang kepala sekolah tersebut, bu Linda yang sedang mengintip hanya bisa menutup mulutnya karena tak percaya guru-guru cantik yang terlihat alim itu ternyata mau bersetubuh dengan cara seperti itu dengan kepala sekolahnya. “Aku aja yang doyan kontol gak pernah threesome…tapi mereka ini aduuuh” pikir bu Linda tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Adegan demi adegan persetubuhan didalam ruangan kepala sekolah itu terus ia lihat. Tanpa ia sadari birahinya mulai naik, kakinya mulai tidak bisa diam karena dari vaginanya mulai keluar cairan. “Uuuh..ko aku malah sange” pikirnya. Tangan bu Linda tanpa sadar mulai meremasi payudara besarnya yang menggantung, ia lupa kalau saat itu ia tak sendirian.
Bu Linda baru sadar setelah terasa ada yang mengelus pantat semoknya. “Eh Rizal..ngapain kamu? Jangan kurang ajar ya” bu Linda langsung memarahi anak itu. Namun Rizal menghadapinya dengan tenang ia malah meletakan jari telunjuk tangan kanannya didepan bibirnya sambil tangan kirinya meraih bahu bu Linda guru bahasa indonesianya dan mendorongnya agar kembali membungkuk untuk mengintip lagi apa yang terjadi di ruang kepala sekolah tersebut. “Ssssttt…jangan kenceng-kenceng bu..nanti ketauan” ucap rizal terhadap gurunya itu. Bu Linda hanya menurut apa yang dikatakan muridnya dan kembali mengintip. “Tuh bu, lihat tuh bu Ernita sama bu Astri binal banget ya..pasti mereka bisa jadi kesayangan pak Risman tuh” bisik Rizal kepada bu Linda. “Wiiih…tuh lihat bu goyangan bu Astri, mantap ya..ibu bisa gak” Rizal berkomentar lagi terhadap apa yang dia dan bu Linda lihat di dalam ruangan itu sambil tangannya kembali mengelus-ngelus bongkahan pantat bu Linda. Namun kali ini tidak ada penolakan dari bu Linda. Ia malah tampak serius melihat adegan yang terjadi didalam sana.
“Uh..dasar anak bau kencur..aku goyang baru tau rasa dia” ucap bu Linda dalam hatinya. Rasa iri yang timbul karena tontonnan dari dalam ruangan membuat birahinya naik. Hingga saat Rizal mengelus-elus vaginanya dengan jari tengahnya pun bu Linda tak menggubrisnya. Bahkan elusan itu malah menambah naik nafsu birahi bu Linda.
Melihat tak ada penolakan dari gurunya, Rizal semakin berani. Ia menusuk-nusukan jarinya ke vagina bu Linda yang walaupun masih terhalang celana panjangnya tetap saja mampu membuatnya melenguh nikmat.
“Oooh..Rizal..uuhh..apa yang kamu lakuin sama ibu” tanya bu Linda. Dengan santai Rizal menjawab, “nikmati aja bu..saya pengen tau..enak mana memek bu Linda, bu Astri atau bu Ernita”. “Ja..jadi kamu juga udah pernah ngentot mereka” tanya bu Linda kaget. “Gak cuma saya bu..mang Yono juga kemaren ikutan..nih saya ada videonya” terang Rizal memberitahukan apa yang kemarin ia dapat dari bu Ernita dan bu Astri. “Apah??? Ma..mang Yono” tanya bu Ernita tak percaya kalau wanita-wanita alim itu juga mau melayani penjaga sekolah. “Iya bu..makanya saya juga sekarang pengen entot ibu” jawab Rizal enteng seakan-akan dia bukan tengah berbicara dengan gurunya.
Rizal mulai berani berlaku lebih kurang ajar terhadap bu Linda. Kali ini tangan kanannya menggapai payudara bu Linda yang sebelah kanan yang langsung diremas-remasnya. Sementara tangan kirinya terus menjamah vagina bu Linda dari balik celanannya.
Selang beberapa menit Rizal mendekatkan wajahnya ke wajah bu Linda dan mencium pipi bu Linda yang sudah merah merona karena birahi yang meninggi akibat tontonan mesum didalam ruangan kepala sekolah tersebut. Rizal pun berbisik pada gurunya, “bu celananya saya buka ya..saya pengen jilatin memek ibu”. Bu Linda mendengar pertanyaan kurang ajar itu malah tersenyum malu-malu tapi mau. “Eh..zal..inikan diluar..kalau ada orang lihat gimana” jawab bu Linda. “Gak bakalan ada orang kesini ko bu..percaya deh” ucap Rizal. “Hmmm..iya deh” jawab bu Linda sambil menganggukan kepalanya yang diiringi senyum yang malu-malu. “Yaudah ibu nonton mereka ngentot aja..biar saya yang puasin ibu” kembali Rizal memberi perintah kepada gurunya sambil mulai menurunkan celana bu Linda berikut celana dalam warna hitam berendanya yang anehnya malah dituruti oleh bu Linda.
“Uhhh…memek yang menggoda” gumam Rizal ketika melihat vagina gurunya yang bersih dari bulu sambil berjongkok dari arah belakang. Bu Linda tersentak kaget ketika merasakan benda basah dan kasar menyapu lubang vaginanya. Rupanya Rizal sudah mulai menjilati vagina gurunya tersebut, sambil meremasi pantatnya yang semok. Lenguhan-lenguhan tertahan keluar dari mulut bu Linda, apalagi ketika Rizal muridnya merekahkan lubang pantatnya dan menjilati bahkan menyedot-nyedot lubang itu.
Dengan tangan kanan menopang tubuhnya pada tembok dan tangan kiri menutup mulutnya, bu Linda hanya bisa merem melek menikmati perlakuan murid bengalnya ini. Belum pernah ada orang yang mau menjilati lubang pantatnya, tapi anak ini benar-benar berani bahkan tak cuma menjilat tapi ia juga menyedot-nyedot lubang itu. “Oooh nikmat” itulah yang terucap dalam hatinya.
Sambil menjilati lubang pantatnya kini jari tengah tangan Rizal mulai bermain di lubang vagina bu Linda yang sudah basah. Ia kocok lubang itu dengan kencang sampai akhirnya bu Linda orgasme di tangan muridnya sendiri.
Bu Linda hanya bisa memejamkan mata saat orgasme itu meluluh lantakan tubuhnya. “Oooh…Rizzzall..pintar sekali kamu muasin ibu” ucapnya sambil tersenyum menoleh kearah pantatnya yang mana Rizal muridnya masih asik menjilati cairan orgasmenya.
Setelah puas dengan cairan orgasme gurunya Rizal pun berdiri menghampiri kepala gurunya tersebut dan memelorotkan celananya, lalu mengeluarkan batang kemaluan panjang miliknya. Dengan bangga Rizal menunjukan batang kemaluan panjangnya itu terhadap guru bahasa indonesianya. “Bu..lihat ni kontol aku..masukin ke memek ibu ya” tanya Rizal kepada gurunya. Bu Linda terlihat kaget melihat batang kemaluan Rizal yang panjang dan keras itu, ia tak menyangka kalau muridnya ini punya batang yang bagus untuk dijadikan peliharaan. “Ko gak bilang-bilang sama ibu kalo kamu punya kontol bagus? Tau kayak gini ibu gak usah repot-repot nyari kontol buat muasin memek ibu” ucap bu Linda sambil menjilati bibir atasnya tanda ia sangat menginginkan batang kemaluan muridnya itu.
Rizal hanya tersenyum lalu menyodorkan kemaluannya kedepan bibir sensual yang selalu dihiasi lipstick tebal milik bu Linda. Dengan rakus bu Linda langsung mengulum batang muridnya tersebut. Setelah puas bu Linda melepaskan batang kemaluan muridnya itu dari mulutnya. Lalu dengan mata sayu penuh birahi ia pun meminta Rizal segera menusuk vaginanya dengan batang kemaluan yang ia miliki. “Ayo zal tusuk memek ibu sama kontol kamu” ucap bu Linda.
Rizal lalu bersiap di pantat bu Linda yang menungging lalu menusukan dengan perlahan batang miliknya kedalam vagina milik guru bahasa indonesianya. Mata bu Linda mendelik, mulutnya menganga menikmati penetrasi gemilang dari muridnya.
Setelah beberapa menit menikmati remasan vagina gurunya di batang kemaluan miliknya, Rizal lalu menggenjot dengan tempo sedang. Dia sangat menikmati bagaimana pantat gurunya itu ikut bergoyang mengiringi genjotannya. Begitupun sebaliknya, bu Linda sangat menikmati gesekan otot kemaluan milik muridnya menggaruk dinding vaginanya.
“Oooh…bu..memek ibu gak kalah legitnya sama memek bu Astri ataupu bu Ernita..” Ungkap Rizal merasakan empotan memek bu Linda. “Mmmhhh…yah zal…kontol kamu juga ennak..nanti ibu kasih temen ibu yah” balas bu Linda mengomentari batang kemaluan muridnya.
Menit demi menit berlalu. Genjotan Rizal dan goyangan pantat bu Linda makin hebat. Desahan-desahan penuh kenikmatan dari dua orang itupun makin kacau. Bu Linda sudah melupakan niatnya mengintip bu Astri dan bu Ernita yang tengah bersetubuh dengan pak Risman di ruang kepala sekolah tersebut. Kini bu Linda hanya ingin menikmati apa yang ia dapatkan dari muridnya. “Hmmm..dasar murid nakal..berani entotin gurunya ahhh..” Ucap bu Linda sambil tersenyum menoleh terhadap Rizal muridnya sambil menggoyangkan pantat semoknya. “Oooh…bu..oh dasar guru lonte..doyan kontol murid..oh..” Balas Rizal terhadap gurunya.
Akhirnya bu Linda mulai diserang orgasme, badannya menegang, kakinya berjinjit, bibir bawahnya ia gigit. Sambil memejamkan mata ia mulai merasakan vaginanya berkedut dan menyemburkan cairan kenikmatan. “Oooh..Rizal..ibu keluar ahhh..ibu dapet..ahhh” desah lirih bu Linda ketika orgasmenya tiba.
Rizal yang merasakan batangnya dipijat dalam vagina gurunya juga merasakan yang sama. Dengan meremas pantat bu Linda ia tancapkan batang kemaluannya sedalam-dalamnya di lubang vagina bu Linda. Lalu beberapa kedutan di batang kemaluanya mengiringi semburan sperma kental di rahim gurunya.
Setelah kenikmatan itu mereda Rizal mencabut batangnya perlahan dan mencium bongkahan pantat bu Linda yang masih menungging meresapi kenikmatan yang baru saja dia dapatkan dari muridnya. “terimakasih bu..” Ucap Rizal yang dijwab senyum dan kedipan mata genit bu Linda guru bahasa indonesianya.

Pagi hari tepatnya jam 06.30 di suatu sekolah menengah atas yang dipimpin oleh pak Risman Kusbiantoro si kepala sekolah mesum sudah terjadi kesibukan. Para staff dan guru-guru di sekolah tersebut sedang sibuk membereskan ruang rapat. Ya, hari ini kabarnya mereka akan mengadakan rapat dengan orang tua siswa perihal biaya anggaran pengadaan fasilitas belajar di sekolah tersebut. Murid-murid tidak diliburkan, akan tetapi mereka dibebaskan dari pelajaran hari itu.
Jam 07.00 sekolah mulai tampak ramai. Para orang tua siswa sudah mulai berdatangan. Pak Risman menyambut mereka didepan ruang rapat yang telah disiapkan didampingi oleh semua guru dan staff sekolah tersebut. Beliau menyalami semua orang tua murid sekolah tersebut dengan ramah, walaupun pikiran mesum masih saja terlintas ketika mendapati beberapa orang tua murid yang berparas cantik dan berbody sexy. Tak terkecuali ketika ia menyalami bu Melisa, salah satu orang tua siswa disekolah tersebut.
Bu Melisa yang kesehariannya bekerja di bagian accounting salah satu perusahaan swasta tampil sangat sexy hari itu dengan balutan busana khas perempuan karir. Menggunakan rok pendek berwarna biru cerah yang menggantung diatas lutut menampilkan kemulusan setengah dari pahanya. Sementara kemeja lengan panjang bu Melisa yang berwarna putih nampak sangat tipis, sehingga BH hitam yang ia pakai untuk menutup payudaranya yang membulat menggoda nampak menerawang.
“Saya Melisa pak, orang tuanya Vita..kelas 3” ucap bu Melisa ketika ia menyalami pak Risman. “Oh bu Melisa, saya Risman..kepala sekolah disini, senang bertemu ibu..” Jawab pak Risman dengan senyum ramah dan tak ketinggalan mata yang mencuri-curi pandang terhadap body mulus dan sexy bu Melisa. “Aduhhh…ko burung saya jadi ngaceng ya, mana tangannya halus..cocok banget buat ngocokin kontol saya nih” itulah yang ada dibenak pak Risman saat ia menyalami bu Melisa.
Jam 08.00 rapatpun dimulai. Didahului dengan sambutan dan berbagai macam pemaparan dari kepala sekolah.
Sementara ketika rapat tengah berlangsung, terlihat di salah satu tempat disekolah itu beberapa orang siswa tengah berkumpul. Mereka berkumpul di pinggir ruangan kepramukaan yang terletak di ujung paling belakang sekolah tersebut. Nampak sekali siswa-siswa bengal tersebut sedang melakukan hal yang sebenarnya tidak layak dilakukan oleh pelajar seusia mereka. Mereka sedang asik mengobrol dengan rokok yang terselip di jari-jari mereka, dan sesekali merekapun tampak menenggak minuman keras yang mereka masukan kedalam botol air mineral. Aldo, Firman, Reska dan Noval, serta tak ketinggalan juga Rizal si Murid bengal beruntung yang saat itu sedang asik bermabuk-mabukan.
“Eh…do, lu disekolah ini paling pengen ngentotin siapa?” Tanya Rizal kepada Aldo sambil menghisap rokoknya. “Bu Indah bro…secara dia khan baru kawin pasti memeknya masih sempit” jawab Aldo yang ditimpali dengan gelak tawa teman-temannya. “Kalau lu val?” Kembali Rizal bertanya, kali ini terhadap noval. “Kalau gw sih kayanya bu Ernita..haha…lu liat kan pantatnya men? Gile deh kalau tuh pantat bahenol ngelindes kontol gw” jawab Noval sambil menerawang membayangkan dirinya tengah bersetubuh dengan bu Ernita, dan kembali gelak tawa terdengar disana.
Firman yang sedari tadi tampak diam hanya membayangkan obrolan-obrolan keempat temannya itu sambil sesekali menenggak minuman dan menghisap rokoknya. “Lu nanya-nanya terus zal..kalau lu sendiri siapa guru yang paling pengen lu entot?” Tanya Reska sambil menjitak kepala Rizal temannya. “Hehe..kalau gw sih udah pernah entotin bu Ernita, bu Linda sama bu Astri..tinggal bu Indah bro” ungkap Rizal sambil membetulkan posisi kemaluannya yang terasa sudah berdiri akibat obrolan itu. Mendengar jawaban Rizal tersebut, sontak gelak tawa terdengar dari keempat temannya, mereka berpikir jika Rizal hanya membual. “yee..kalian pada gak percaya ya” ungkap Rizal kepada teman-temannya. “Ngimpi lu bro…paling cuma ngayal sambil coli..haha..” Firman yang dari tadi diam menimpali. “Nih gw punya videonya bu Ernita lagi dientot pak Risman sama bu Astri lagi dientot mang Yono sama pak Risman sambil nyepong kontol gw..” Sahut Rizal sambil mengeluarkan handphone dari tasnya. Serempak keempat temannya mengerubungi Rizal. Sambil asik minum-minum mereka menonton rekaman tersebut.
Sedang asik-asiknya, kelima siswa bengal tersebut dikagetkan oleh kedatangan bu Indah yang saat itu tengah berkeliling disekolah tersebut. Mereka tak sempat menyembunyikan minuman-minuman serta rokok yang tengah mereka nikmati.
“Oh..jadi kalian seperti ini ya kalau sedang bebas pelajaran” bentak bu Indah dengan wajah galak terhadap lima orang siswa tersebut sambil melipatkan tangan didadanya yang membusung. Tampak sekali raut ketakutan dari kelima orang siswa yang ketahuan sedang menenggak minuman keras itu. Mereka hanya bisa menunduk ketakutan. “Baik…bawa minuman-minuman itu ke ruang konseling buat barang bukti..biar kalian dikeluarkan dari sekolah ini” kembali bibir ranum bu Indah berucap dengan geram terhadap kelima siswa bengalnya itu.
Namun pikiran Noval yang dipengaruhi minuman keras malah menerawang ke hal lain melihat bu Indah yang sedang marah waktu itu. Ia malah terangsang melihat tubuh bu Indah dalam balutan seragam mengajarnya yang berwarna abu-abu, celana panjang ketat yang menonjolkan pantatnya yang walaupun tidak sebesar bu Ernita atau bu Linda tapi tetap menggoda kelelakiannya, apalagi dengan kerudung putih berhias bunga-bunga yang menutupi kepalanya menambah aura kecantikan bu Indah yang sempurna, serta sepatu hak tinggi yang menambah sexy guru muda tersebut.
Ternyata apa yang ada dipikiran Noval sama dengan keempat temannya. Seperti sudah dikomando, kelimanya secara bersamaan menghampiri bu Indah yang tengah berdiri berkacak pinggang tak jauh dari kelima muridnya.
Bu Indah yang tidak menyadari apa yang akan dilakukan murid-muridnya tampak tenang. Hingga ia dikagetkan oleh remasan tangan dipantatnya, yang ternyata itu dilakukan oleh Reska. “Hey…kurang ajj..aaah” ucap bu Indah terpotong karena ia kembli dikagetkan oleh Firman yang meremas payudaranya. Tubuh bu Indah kini mulai dikerubungi oleh kelima siswa-siswa bengal itu.
“Ap..apa yang kalian lakukan..ahhh..kurang ajar” maki bu Indah terpotong, karena kini tubuhnya tengah dijamah kelima siswanya. “Ini akibatnya kalau ibu gangguin kami…” Ucap Firman sambil matanya melotot terhadap bu Indah dan dengan tangan meremas-remas payudara gurunya tersebut berebutan dengan teman-temannya.
“Bro..bawa masuk ke ruang pramuka aja..” Ucap Noval kepada teman-temannya. Lalu tubuh bu Indah yang meronta-ronta mereka seret dengan paksa memasuki ruangan ruangan tersebut.
Ruangan itu memang terletak terpisah dan lumayan jauh dari bangunan yang lain, hingga teriakan bu Indah sekencang apapun tak akan terdengar oleh orang-orang yang tengah berada di areal sekolah tersebut.
Didalam ruangan tersebut bu Indah mereka letakan terlentang diatas meja yang tak terpakai. Firman dan Reska memegangi kedua tangan bu Indah yang meronta, tangan mereka berdua pun tak tinggal diam dengan meremas kedua payudara membusung bu Indah. Sementara itu Rizal dan Aldo menelanjangi celana panjang bu Indah lalu mengangkangkan kedua kakinya yang kini hanya memakai sepatu hitam berhak tinggi saja mempertontonkan vagina bu Indah yang ditutupi celana dalam putih berenda tipis menggoda.
Noval dengan tergesa-gesa mendekatkan mukanya kedepan selangkangan bu Indah, lalu jari-jari tangan kanannya menyingkap CD putih bu Indah, Lidahnya mulai menyapu belahan vagina bu Indah yang dihiasi bulu tipis menggoda. “Auuuhhh…hentikan…bia..dab kalian..ku..rang..ajjjar ahhh” lenguhan dan makian bu Indah terdengar ketika ia merasakan sapuan lidah kasar Noval di vaginanya. Firman, Reska, Aldo dan Rizal tak mau ketinggalan. Mereka terus berebut tubuh mulus bu Indah dengan meraba, meremas, dan mengelus seluruh bagian tubuh bu Indah yang hanya bisa menjerit-jerit histeris menggelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Tangisan dan lenguhan bu Indah bukannya menghentikan aksi dari kelima siswa bengal tersebut. Kini mereka malah menikmati tangisan mengiba dari guru mereka ini.
Selang 5 menit mereka bergantian menjilati vagina bu Indah yang walaupun menolak tetap saja vaginanya membanjir.
Kancing baju seragam bu Indah telah terbuka semuanya. BH putih berenda yang senada dengan CDnya juga telah tersingkap keatas menampakan payudara yang membulat padat nan menggiurkan, yang kini puting-putingnya tengah dikulum oleh Rizal dan Aldo. Kaki jenjangnya yang berhias sepatu hitam berhak tinggi masih meronta-ronta dengan dipegangi Reska dan Noval. Sementara itu Firman menikmati basahnya vagina bu Indah dengan jilatan kasarnya serta tusukan jari telunjuknya yang menusuk lubang anus gurunya tersebut.
“Auuuh…toll..ong..tidakkk…ahhh” bu Indah melenguh ketika merasakan vaginanya berkedut memancarkan cairan orgasme di mulut Firman muridnya, yang dengan lahap menyedot vaginanya. Sontak gelak tawa terdengar diruangan tersebut menyambut orgasme bu Indah di tangan murid-muridnya.
Hati bu Indah sangat pedih, ia menangis tersedu meratapi tubuhnya yang mengkhianati dirinya. Ia sangat malu menyadari dirinya orgasme di tangan murid-muridnya.
“Sudah..hentikan..saya guru kalian” ucap bu Indah sambil menangis, melihat Reska yang kini mempersiapkan kemaluannya yang walaupun tidak besar tapi cukup panjang dan keras didepan vaginanya yang masih tertutup CD putih berenda. “Kemarin bu Indah memang guru kami..tapi mulai sekarang ibu akan jadi pelacur kami” ucap Reska sambil tersenyum memuakan dan menyingkap CD putih gurunya, lalu menusukan kemaluannya itu ke vagina bu Indah yang hanya bisa memejamkan mata dan menggigit bibirnya merasakan perih dihatinya dan kenikmatan di lubang vaginanya.
Dilema mulai terjadi dihati bu Indah. Setengah dirinya menikmati perkosaan ini, akan tetapi setengah kesadarannya mengutuk apa yang dilakukan kelima muridnya ini. “Ouh…aku menikmati jilatan nafsu anak-anak muda ini di memekku..ouh..tidak..ini tidak boleh..ini tabu” itulah yang terpikirkan oleh bu Indah saat Reska menggenjot vagina legitnya.
Reska tak bertahan lama, ia tak kuasa menahan nikmatnya jepitan vagina bu Indah. Hanya 5 menit ia mampu menggenjot vagina gurunya, ia mencabut kemaluannya dan memuntahkan seperma kental di perut gurunya.
Rizal langsung menggantikan temannya, ia terlihat mengocok pelan kemaluan panjang dan besar miliknya yang kemarin ia gunakan untuk menaklukan 3 orang gurunya. “Ini memek guru keempat yang akan saya nikmati” begitulah pikir Rizal sambil memegangi paha bu Indah dan menekan kemaluannya memasuki vagina gurunya. Sementara bu Indah seakan tak percaya melihat kemaluan muridnya tersebut. “Oh…sungguh besar, kontol suamiku pun tak sebesar itu” pikir bu Indah melihat dengan takjub kemaluan Rizal memasuki vaginanya.
Bu Indah benar-benar merasakan kenikmatan yang sempurna dari kemaluan Rizal yang menggenjot pelan vaginanya. Ia memejamkan mata dan melenguh-lenguh penuh kenikmatan. “Auuuuh…yeah..mmmh..” Begitulah lenguh bu Indah kala itu, saat dimana Rizal dengan perkasa menggenjot pelan vagina gurunya yang sempit.
“Ibu haus? Minum ini bu” tiba-tiba Reska mencekoki bu Indah dengan minuman keras yang ia bawa. “Uhuk..uhuk..aaahhh..mmmh” bu Indah tersedak akibat minuman yang diberikan Reska muridnya, tetapi ia tak menolak ketika Reska kembali menyodorkan minuman itu.
Beberapa saat kemudian, efek dari minuman keras itu mulai dirasakan bu Indah. Kepalanya terasa ringan, tubuhnya terasa panas. Bu Indah mulai lupa akan statusnya sebagai seorang pengajar. Ia kini merasa birahinya sangat tinggi dan hanya ingin menuntaskannya saat itu.
Senyum manis nan menggoda mulai tersungging dibibirnya. “Persetan dengan suamiku..aku hanya ingin kontol besar mengisi memekku” itulah yang kini ada dalam pikirannya. Efek minuman keras telah merubah bu Indah yang tadi menolak dan mengutuk pelecehan yang dilakukan murid-muridnya terhadap tubuhnya, kini dia malah meminta dan memohon untuk di lecehkan.
Kini bu Indah tampak mengangkat pinggulnya, ia mengimbangi setiap gerakan Rizal yang memompa pelan vaginanya dengan goyangan pinggul yang ia perlihatkan kepada murid-muridnya.
“Ouh…yeaahh..nikmati tubuh ibu..zal..ahhh” desahan bu Indah benar-benar menggugah hasrat. Diiringi dengan senyum genit dan kerlingan mata binal, bu Indah menyuruh semua muridnya bertelanjang, yang tentu saja ditanggapi oleh smuanya dengan semangat.
Bu Indah membagi tugas terhadap murid-muridnya tersebut untuk memberikan kenikmatan pada tubuhnya. Firman dan Noval ia suruh menyusu di payudaranya, sementara Aldo dan Reska Ia nikmati kemaluan keduanya secara bergantian dengan mulutnya.
Aroma persetubuhan tercium sangat kental diruangan tersebut, lenguhan, desahan, erangan penuh kenikmatan terdengar menggairahkan.
Hingga kurang lebih 15 menit kemudian lenguhan Reska yang kembali tidak bisa menahan kenikmatan dari kuluman bu Indah membuatnya memuncratkan sperma di mulut gurunya. “Oooooh…gile bro…nik..mat bangettt…ahhh” erang Reska ketika mengeluarkan spermanya yang nampak dinikmati oleh bu Indah sampai Reska meringis-ringis karena kepala kemaluannya di sedot bu Indah.
Bu Indah pun sudah mendapat 2 kali orgasme dari genjotan Rizal. Namun anehnya stamina dan nafsu berseetubuhnya tak kunjung padam.
“Ahhh…ampun bu…ohhh..gak kuat…” Lenguh Rizal ketika bu Indah menggoyangkan kembali pinggulnya, sehingga memaksa Rizal menumpahkan spermanya didalam vagina gurunya. Bu Indah menanggapi lenguhan Rizal yang takluk oleh goyangan pinggulnya dengan senyuman yang genit.
Setelah Rizal menyelesaikan hajatnya, bu Indah bangkit dari meja tempat ia terlentang menikmati hujaman kemaluan muridnya barusan. Sementara Rizal dan Reska tampak duduk kelelahan. Bu Indah lalu berjalan ke arah matras yang sudah tergelar diruangan itu. Lalu dengan goyangan erotisnya ia melucuti sisa pakaian yang menutupi tubuhnya kecuali kerudung yang masih menutupi kepalanya.
Dengan jentikan jari dan mata binal ia memanggil Aldo dan menyuruhnya terlentang di matras. Bu Indah lalu menunggangi Aldo muridnya yang mempunyai postur tubuh paling besar diantara kelima muridnya itu, diikuti firman dan Noval yang langsung menyodorkan kemaluannya didepan mulut bu Indah.
Persetubuhan hebat itu terjadi hampir 3 jam, dimana tubuh bu Indah digilir oleh lima orang siswanya. Entah berapa kali bu Indah mengalami Orgasme, dan entah berapa banyak pula sperma yang tertumpah dari kelima murid bengal itu.
Hingga di akhir persetubuhan itu bu Indah tampak meringkuk di atas matras kusam di dalam ruang kepramukaan, dengan mata terpejam dan senyum yang menghiasi bibir manisnya.
Sementara kelima siswa bengal itu tampak duduk kelelahan masih dalam keadaan telanjang. Ditangan mereka tampak rokok-rokok yang menyala sedang mereka hisap. Sesekali Rizal mengabadikan keadaan bu Indah dengan kamera handphonenya. “Hahahaha…nambah lagi ni lonte gw” ucap Rizal dalam hati.

Masih di waktu yang sama ketika rapat sedang berlangsung, di sebuah ruangan disekolah itu nampak seorang wanita cantik dengan masih mengenakan baju khas para pengajar sedang asik menaik turunkan tubuhnya dipangkuan seorang laki-laki paruh baya yang jauh dari kata tampan. Pakaian wanita tersebut telah terbuka semua kancingnya, serta nampak wanita itu tidak memakai BH sehingga payudara putih mulusnya langsung tersaji dihadapan laki-laki paruh baya itu yang dengan rakus menjilati, mengulum bahkan menggigit kecil payudara wanita itu. Sementara celana panjang serta CD keduanya nampak berserakan di lantai ruangan tersebut.
“Oh..iyaahhh..bu Ernita..ayoh lebih kencang buh” ucap laki-laki itu kepada wanita yang tengah asik menunggangi batang kelelakiannya yang hitam berotot. “Mmmhh..iyahhh..innih..mangh..oh” balas wanita itu sambil terus menghentak-hentakkan pinggulnya yang semok diatas pangkuan laki-laki paruh baya tersebut yang tampak kewalahan mengimbangi gerakannya.
Ya, mereka yang tengah bersetubuh itu tak lain dan tak bukan adalah bu Ernita si guru bahasa inggris yang alim itu, yang kini telah ketagihan rasa batang kemaluan laki-laki. Dan laki-laki yang kini beruntung mendapatkan service bu Ernita adalah mang Yono sang penjaga sekolah mesum yang selalu mupeng melihat lenggak-lenggok tubuh guru-guru muda di sekolah itu. Mereka tengah bersetubuh di ruang UKS yang letaknya tak jauh dari ruang kepala sekolah.
Lenguhan-lenguhan bu Ernita menjadi pembangkit semangat Mang Yono dalam mengimbangi gerakan erotis bu Ernita yang semok. Sementara bagi bu Ernita, batang kemaluan mang Yono yang hitam, panjang dan besar serta berotot mampu memberikan rasa persetubuhan yang lain daripada persetubuhan yang biasa ia lakukan dengan suaminya.
“Mangh…saya nyampe mangh…ohhh” ungkap bu Ernita ketika orgasme pertama dipagi itu datang menenggelamkannya dalam kenikmatan. Tubuhnya berkelojotan diatas tubuh mang Yono yang meringis menahan kenikmatan yang ditimbulkan oleh kontraksi dari vagina bu Ernita yang mendapatkan orgasme. “Ahhh…bu..konthol mamang..rasanya kayak dikunyah” timpal mang Yono ketika merasakan efek yang ditimbulkan oleh orgasme yang menimpa bu Ernita.
Setelah beberapa menit mengistirahatkan tubuhnya mereka kembali melanjutkan persetubuhan itu. Kini bu Ernita tampak pasrah mengangkang diatas kasur yang tersedia di ruang tersebut. Tangan bu Ernita tampak memeluk mesra tubuh kurus mang Yono yang kini tengah asik memagut bibir ranum bu Ernita dengan pinggul yang menghentak kasar memompa kemaluannya keluar masuk vagina guru bahasa inggris tersebut.
Sementara itu diruang rapat, tampak semua berjalan dengan lancar. Kini yang tengah berbicara adalah pak Kusnadi yang dikenal sebagai wakil dari yayasan. Beliau sedang memaparkan apa saja yang dibutuhkan sekolah tersebut guna memenuhi kelengkapan sarana belajar siswa-siswinya.
Saat itu pak Risman bukannya memperhatikan apa yang tengah dibicarakan. Kepala sekolah mesum itu malah sedang menikmati elusan tangan halus bu Astri yang tengah mengelus lembut batang kemaluan pak Risman dari luar celana panjangnya. Meja didepannya membuat kegiatan mesumnya bersama bu Astri terlindung dari perhatian orang-orang diruangan tersebut.
Sedang asik-asiknya bermesum ria di muka umum, pak Risman dikagetkan dengan kedatangan bu Melisa dihadapannya. “A..ada apa bu?” Tanya pak Risman kaget melihat kedatangan bu Melisa. “Gini pak, saya ada penawaran untuk sekolah ini..bisa kita bicara sebentar?” Jawab bu Melisa singkat. “Oh..iya tentu bu tentu…sebentar saya kasih instruksi dulu anak buah saya” ucap pak Risman semangat.
Setelah meminta izin kepada beberapa pimpinan yayasan dan memberikan perintah kepada bawahannya untuk mencatat hasil rapat tersebut, pak Risman lalu keluar ruangan diikuti bu Melisa. “Begini pak, perusahaan saya bisa bekerja sama untuk pengadaan komputer di sekolah ini yang katanya sudah banyak yang rusak” ucap bu melisa sesaat setelah mereka keluar ruang rapat. “Keuntungannya bisa kita bagi dua, bagaimana menurut pak Risman?” Lanjut bu Melisa memberikan penawaran. Tampak pak Risman sesaat seperti sedang berpikir, padahal yang dia pikirkan bukanlah barang yang bu Melisa tawarkan melainkan barang yang ada dibalik pakaian yang bu Melisa kenakan.
“Gini bu..kayaknya gak enak kalau kita ngomongin ini disini, gimana kalau kita keruangan saya saja” ajak pak Risman kepda bu Melisa dengan tawa yang menunjukan kemesumannya. Lalu setelah bu Melisa menyetujui ajakan pak Risman, kepala sekolah itupun menunjukan arah menuju ruangannya.
Sambil berjalan pak Risman tidak hentinya melirik tubuh bu Melisa. “Hmmm…ini namanya tua-tua kelapa..makin tua makin banyak santannya” pikir pak Risman mengagumi tubuh bu Melisa yang tengah berjalan disampingnya.
Bu Melisa memang tampil luar biasa menggoda. Tubuhnya masih segar dengan kulit yang masih terlihat kencang di usianya yang menginjak 42 tahun. Pantat yang menungging serta payudara yang tampak membusung sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia telah mempunyai anak yang kini telah duduk di kursi SMA kelas 3. Apalagi hari itu, pakaiannya sangat sexy dengan memakai rok ketat diatas lutut dan kemeja putih transparan, serta rambut coklat yang ia kuncir kebelakang memperlihatkan leher yang putih mulus menggoda kelelakian siapa saja yang melihatnya.
Ditengah perjalannan menuju ruang kepala sekolah. Mereka berdua dikagetkan oleh suara desahan serta lenguhan dari dalam ruangan UKS yang mereka lewati. Bu Melisa tampak mengernyitkan dahinya sambil menoleh ke arah pak Risman. Ia sangat hafal dengan suara-suara itu. “Pak..tampaknya ada yang tidak beres didalam sana” ucap bu Melisa setengah berbisik kepada pak Risman sambil tangan kanannya menunjuk ruangan asal suara itu keluar. Pak Risman mengangguk pelan, hatinya mulai was-was. Ia tau diruangan tersebut pasti sedang terjadi persetubuhan. “Waduh..bisa gawat ini kalau ketahuan..lagian siapa sih yang asik-asikan ngentot diruangan ini” pikir pak Risman. Lalu bu Melisa menghampiri pintu ruangan tersebut, ia mengintip apa yang sedang terjadi di ruangan itu dari lubang kunci.
Bukan main kagetnya bu Melisa saat itu. Walaupun terlihat tidak terlalu jelas, namun ia tahu jika didalam tengah terjadi persetubuhan. Ia hanya bisa melihat pantat seorang wanita berseragam guru tengah dipompa oleh laki-laki kurus. Suara wanita itu tampak menikmati apa yang dilakukan laki-laki kurus dibelakangnya.
Beberapa saat kemudian, tanpa bisa dicegah bu Melisa dengan emosi mengetuk pintu ruangan tersebut. Lalu tak berapa lama seorang laki-laki paruh baya membuka ruangan itu, wajahnya menampakan ketakutan dengan keringat yang masih mebasahi tubuhnya ia keluar dari ruangan tersebut.
Tanpa ampun bu Melisa mencaci maki laki-laki tersebut yang tampak gemetar yang beberapa menit kemudian disusul oleh seorang wanita cantik berpakaian seragam pengajar dengan jilbab yang acak-acakan. “Terkutuk kalian…biadab…kalian melakukan tindakan cabul ditempat yang tidak semestinya” maki bu Melisa sambil melayangkan tangannya ke arah wanita yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. Namun pak Risman dengan cekatan menangkap tangan bu Melisa. “Tenang bu jangan terbawa emosi…kalian berdua ikut kekantor saya” ucap pak Risman dengan nada galak yang di buat-buat.
Ya, bu Melisa sudah memergoki bu Ernita dan mang Yono yang tadi tengah berstubuh di ruang UKS. Keempat orang itu kini sudah berada di ruang kepala sekolah, yang tanpa sepengetahuan bu Melisa, pak Risman telah mengunci ruangan itu.
Tampak bu Ernita dan mang Yono duduk berdampingan diatas sofa didalam ruangan tersebut. Mang Yono hanya bisa menunduk ketakutan, sementara bu Ernita terlihat datar seakan-akan tak terjadi apa-apa. Pak Risman menyilangkan kedua tangan didepan dadanya dan menggeleng-gelengkan kepala, bersandiwara seakan-akan dia tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Beberapa menit suasana diruangan kepala sekolah tersebut hening. Sebelum bu Melisa angkat bicara dan memaki-maki penuh emosi terhadap bu Ernita dan mang Yono.
“Kamu wanita jalang…tak pantas jadi guru di sekolah ini…dasar pelacur murahan” maki bu Melisa dengan nada yang menunjukan kemarahannya. Namun tanpa disangka-sangka bu Ernita malah menghampiri bu Melisa yang tengah dilanda emosi. “Kalau memang saya pelacur apa urusannya sama ibu? Apa ibu merasa tersaingi untuk mendapatkan kontol-kontol perkasa menjejali memek ibu?” Dengan nada sinis bu Ernita mengucapkan kata-kata itu tepat didepan wajah bu Melisa. Mendengar perkataan bu Ernita, tak ayal lagi bu Melisa langsung melayangkan tangannya hendak menampar guru binal itu. Namun lagi-lagi tangannya ditangkap pak Risman, yang kini dengan kurang ajar langsung mendekap tubuh bu Melisa dari belakang. “Hey…pak Risman apa-apaan ini” protes bu Melisa sambil meronta-ronta mencoba melepaskan dekapan pak Risman dari tubuhnya. Akan tetapi bukannya melepaskan, pak Risman kini malah nampak membenamkan mukanya di leher jenjang bu Melisa. Hidungnya mengendus-ngendus menghisap aroma harum tubuh bu Melisa, bahkan lidahnya mulai berani menjilat leher jenjang itu. “Bu Ernita saja bisa nikmatin kontol saya dan mang Yono, kenapa bu Melisa tidak sekalian saja menikmati juga” bisik pak Risman di telinga bu Melisa yang kemudian mengulum telinga bu Melisa.
“Anjing kau Risman..lepaskan..tak sudi aku melayanimu kepala sekolah bejat..” Teriak bu Melisa sambil terus meronta-ronta.
Sementara itu mang Yono dan bu Ernita hanya menonton bu Melisa yang meronta meminta untuk dilepaskan dari dekapan pak Risman. Semakin lama rontaan bu Melisa mulai melemah, tenaganya untuk melawan dekapan pak Risman mulai habis. Kini ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Sementara tangan pak Risman mulai bergerilya ditubuh sexy bu Melisa. Tangan-tangan pak Risman mulai secara intens meremas-remas payudara bu Melisa yang empuk.
Diperlakukan seperti itu bu Melisa hanya bisa menangis, hingga bu Ernita memanggilnya. “Bu..lihat sini, ni lihat..ini enaknya jadi pelacur,dapet kontol segede ini tiap hari” ucap bu Ernita yang kala itu tengah berlutut didepan mang Yono yang telah memelorotkan celana berikut celana dalamnya dan memperlihatkan batang kejantanan kebanggaannya di depan bu Ernita.
Bu Melisa terbelalak kaget melihat aksi dari bu Ernita yang menjilati batang kemaluan mang Yono didepan mata kepalanya sendiri. Ia sungguh tak menyangka, guru wanita secantik ini mau melakukan hal yang merendahkan harga dirinya didepan laki-laki paruh baya yang kurus dan dekil serta jauh dari kata tampan. Bahkan wanita itu tampak menikmati pelecehan yang dilakukan laki-laki didepannya. “Apa..yang wanita cantik ini lakukan..begitu nikmatkah kontol itu?” Itulah yang ada dipikiran bu Melisa saat melihat bu Ernita tersenyum ketika mang Yono memukul-mukulkan batang kemaluan besarnya di wajah guru bahasa inggris tersebut. “Uh..apa..besar..ya, kontol itu memang sangat besar..nikmatkah?” Kembali pertanyaan terbersit dipikiran bu Melisa. Dilema terjadi didalam pikirannya, melihat batang kemaluan mang Yono yang hitam, besar dan berotot mengacung keras serta mengkilap akibat air liur bu Ernita yang dari tadi memanjakannya. Apalagi sudah tiga bulan ini bu Melisa tidak melakukan persetubuhan kerena suaminya adalah seorang pelaut.
Ditengah-tengah kekalutannya, bu Melisa dikagetkan oleh sesuatu yang memasuki vaginanya. Tanpa sadar kemejanya telah dilucuti oleh pak Risman, begitupula dengan BH hitamnya yang kini terlihat tegeletak di lantai ruangan tersebut. Kini posisinya tengah mengangkang diatas sofa, roknya kini sudah tergulung menggantung di pinggangnya, payudara kanannya tengah dihisap pak Risman dengan rakus, sedangkan payudara kirinya sedang diremas tangan kiri pak Risman yang mendekapnya dari belakang. Sementara itu, vaginanya yang mulai becek sedang ditusuk-tusuk jari tengah pak Risman.
“Aahhh…ough…tidak..bangsattt kamu Risman..” Lenguhan bu Melisa terdengar memilukan ketika jari tengah pak Risman memaksanya mendapatkan orgasme. Pak Risman tampak terkekeh menjijikan mendapati jari serta telapak tangannya dilumuri cairan putih kental yang menyembur dari vagina bu Melisa.
“Hehe..katanya gak mau..tapi muncrat juga..enak ya bu” tanya pak Risman melecehkan bu Melisa. “Anjing kau Risman..haah..haah..” Jawab bu Melisa terengah-engah.
Mendengar jawaban bu Melisa, kepala sekolah mesum itu kembali mengocokan jari tengah gemuknya di vagina bu Melisa yang kembali melenguh-lenguh. Sesaat kemudian lenguhannya tertahan dikarenakan bu Ernita kini memagu-magut bibirnya. Bu Ernita kini berada diatas sofa dengan posisi menungging. Dibelakangnya mang Yono menancapkan batang kemaluan besarnya di vagina guru bahasa inggris tersebut dan langsung mengocoknya dengan kasar. Kenikmatan yang bu Ernita dapatkan dari hujaman batang mang Yono ia lampiaskan terhadap bu Melisa yang kala itu kembali dilanda orgasme.
Selang beberapa menit giliran bu Ernita yang mendapatkan orgasme hebat dari genjotan mang Yono. Itu merupakan orgasmenya yang ke 5 dihari itu yang ia dapatkan dari orang yang sama, hingga ia merasa badannya sudah tak bisa lagi dipakai untuk melayani pejantannya. Sebelum ambruk diatas sofa bu Ernita meminta bantuan kepada bu Melisa. “Tolong saya bu..tolong gantikan saya untuk memuaskan mereka” ucap bu Ernita kepada bu Melisa.
Entah merasa iba dengan bu Ernita, atau memang bu Melisa menginginkan bersetubuh dan menikmati batang-batang besar milik kedua pejantan itu, kini ia tak menolak ketika disuruh pak Risman untuk menunggangi batang kejantanan mang Yono yang kini tengah duduk selonjoran diatas sofa dipinggir bu Ernita yang meringkuk kelelahan.
Tampak bu Melisa menengadahkan kepalanya dan dengan mulut terbuka mengeluarkan desahan tertahan ketika mili demi mili batang kejantanan mang Yono yang ia pegang dengan jari-jari lentiknya memasuki vaginanya yang becek dan licin.
Selang beberapa menit, sudah mulai terlihat bu Melisa dengan semangat menghentak-hentakan pinggulnya, menyerahkan vaginanya diobrak-abrik batang kejantanan mang Yono. Desahan penuh kenikmatan yang kini dihiasi senyum yang mengembang di bibir merahnya mengiringi suara tumbukan kedua alat kelamin tersebut.
Ketika sedang asik menunggangi mang Yono, bu Melisa dikagetkan oleh batang kejantanan yang tak kalah besar dengan batangnya mang Yono yang menyentuh-nyentuh bibirnya. Ia menengadah keatas dan terlihat pak Risman tengah menyeringai menjijikan terhadapnya sambil tangannya mengelus-elus kepalanya. Mengerti dengan keinginan kepala sekolah mesum itu, bu Melisa langsung memperlihatkan kebolehannya menyenangkan laki-laki. Ia mulai menjilati batang kejantanan pak Risman dari biji sampai ujung kepalanya dengan telaten hingga tak ada yang terlewat sedikitpun, lalu setelah itu ia mengulum kepala kejantanan pak Risman dan mengurut lembut batangnya hingga membuat pak Risman melenguh.
“Ouuuh bu..bu Melisa hebat sekali manjain kontol saya…udah kayak pelacur beneran..ahhh” ucap pak Risman ditengah-tengah kenikmatan yang ia dapatkan.
Namun bukannya marah mendapatkan pelecehan tersebut, hati bu Melisa malah merasa senang dengan ucapan pak Risman itu.
“Oh…beginikah yang dirasakan para pelacur itu..haaaah…sangat nikmat” itulah kata-kata yang ada dibenak bu Melisa saat itu.
“Terimakasssih pak Risman…saya memang pelacur pak” tanpa sadar kata-kata itu meluncur dari mulut bu Melisa, hingga ia mendapatkan orgasmenya yang hebat.
Setelah orgasme bu Melisa mereda, pak Risman beralih ke belakang bu Melisa. Ia mngorek-ngorek lubang anus milik bu Melisa dengan jarinya serta sesekali meludahinya. Menyadari apa yang akan dilakukan kepala sekolah itu bu Melisa sedikit kaget.
“Oh…pak jangan disitu, sakkkiiit” tolak bu Melisa. Namun pak Risman tak mendengarkan penolakan itu, kali ini ia sudah menempelkan ujung batang kejantanannya di lubang yang mengerucut itu. Perlahan-lahan ia mendorong batang kejantanannya tersebut dengan diiringi lenguhan yang terdengar memilukan.
Tak memberi waktu untuk menghela nafas, pak Risman langsung menggenjot dengan brutal anus bu Melisa yang terus menjerit-jerit. “Ampuuun..oh..oh..panas..ahhh” ungkap bu Melisa merasakan dinding lubang anusnya seperti terbakar.
Tapi setelah beberapa menit, rasa perih, sakit dan panas itu mulai hilang. Kini yang dirasakan bu Melisa adalah rasa nikmat yang tiada tara yang ia dapat dari kedua batang besar yang menyumpal lubang vagina dan anusnya.
Persetubuhan ketiganya terus berlanjut dengan berganti-ganti gaya maupun posisi. Kini bu Melisa sudah ketagihan batang kemaluan besar mang Yono dan pak Risman, bahkan ia rela melakukan adegan lesby dengan bu Ernita demi membangkitkan gairah pejantan-pejantannya yang saat itu menonton kebinalannya beradegan lesby bersama bu Ernita dengan batang-batang yang layu diselangkangannya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*