Home » Cerita Seks Umum » Predator 1

Predator 1

Predator 1

Suatu hari di suatu sekolah menengah atas tepatnya di ruang kepala sekolah tampak seorang pria berumur 45 tahun sedang merenung, entah apa yang sedang dia pikirkan. Wajahnya tampak gelisah, dengan raut muka serius duduk di belakang meja kerjanya yang nyaman.
Namanya Pak Risman Kusbiantoro, berkulit sawo matang berperawakan tinggi dengan perut yang agak buncit. Sudah dua tahun Pak Risman menjadi kepala sekolah di SMA tersebut. Namun entah mengapa baru hari ini dia mulai berpikir mesum. “Mungkin ini gara-gara film porno yang aku tonton tadi malam”,begitulah pikirnya. Sejak pagi tadi Pak Risman tidak hentinya berpikiran jorok ketika bertemu dengan para guru-guru perempuan di sekolah tersebut. “Aku rasanya ingin sekali mencicipi tubuh-tubuh sexy mereka”. Kata-kata itu selalu muncul ketika Pak Risman bertemu dengan para guru perempuan di sekolah itu yang rata-rata masih muda.
Hingga suatu saat dia mulai tersenyum, terbersit dalam pikirannya bagaimana cara untuk bisa menikmati para guru tersebut. Dia mulai berpikir jika kekuasaan yang dia miliki di sekolah itu bisa dia jadikan senjata untuk mengajak para guru wanita di sekolah tersebut naik ranjang.
Jam istirahat sekolah telah tiba dengan ditandai bunyi nyaring bell tanda istirahat. Murid-murid berhamburan menuju kantin sekolah, begitupun para guru mulai berkumpul di ruangan kantor guru. Begitupun tak ketinggalan dengan Bu Ernita, seorang guru honorer mata pelajaran bahasa inggris di sekolah itu, berusia 28 tahun, berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dengan jilbab yang selalu melindungi kepalanya, tak ketinggalan kacamata yang menambah anggun wajahnya.
Hari itu Bu Ernita tengah berbincang dengan sesama rekannya di kantor guru. Ada Pak Hamdan dari bagian kurikulum dan juga Bu Astri yang mengajar mata pelajaran matematika. Ketika sedang asik berbincang-bincang datanglah Mang Yono yang merupakan penjaga sekolah di sekolah tersebut. “Maaf ganggu nih, Bu Ernita dipanggil sama Pak Risman katanya bu” Mang yono langsung memotong pembicaraan mereka. “Wah ada apa ya mang? Tumben nih Pak Risman panggil saya” sahut Bu Ernita dengan senyuman manisnya. “Waduh bu,saya juga kurang tau” jawab Mang Yono sambil garuk-garuk kepala cengengesan namun matanya tanpa disadari guru-guru yang ada disitu tengah melirik gumpalan payudara Bu Ernita yang walaupun tertutup baju seragam mengajarnya tetap terlihat membusung menggemaskan. “Hmmm…baik Mang saya sebentar lagi kesana” sahut Bu Ernita sambil kemudian berpamitan kepada Bu Astri dan Pak Hamdan.
“Tok…tok…tok..” Pintu ruangan kepala sekolah itu diketuk dari luar, sesaat kemudian masuklah seorang wanita cantik berseragam abu-abu has pengajar dan berkerudung putih dengan kacamata yang menghiasi wajahnya. “Oh…Bu Ernita, mari silakan duduk bu” suara berat menyambutnya. “Bapak panggil saya ada keperluan apa ya?” sahut Bu Ernita sambil duduk didepan meja kepala sekolah tersebut. “Eh anu bu ada hal penting yang harus saya sampaikan sama ibu dan rekan-rekan lainnya, nanti akan saya panggil satu persatu” kata Pak Risman dengan nada bicara dibuat seberwibawa mungkin. “Oh…hal penting apa pak?” Bu Ernita tampak penasaran.
Pak Risman mulai menjelaskan tentang hal yang harus dia sampaikan kepada para guru khususnya para guru honorer di sekolah tersebut. Menurutnya pihak yayasan sudah memberikan keputusan jika di sekolah tersebut harus mulai berhemat dalam segi pengeluaran, yang berimbas terhadap pengurangan staff pengajar.
“Jadi artinya saya diberhentikan pa”? Bu Ernita mulai bertanya. “Bisa ya bisa juga tidak” jawab Pak Risman tenang. “Jadi bagaimana Pa?” Bu Ernita mulai penasaran. “Saya akan menyeleksi para guru disini bu, karena saya diberi wewenang dalam mengambil keputusan itu” jawab Pak Risman dengan jumawa.
Lalu Pak Risman mulai menjelaskan secara mendetail tahapan-tahapan seleksi tersebut, bagaimana cara penilainnya dan sebagainya. Bu Ernita tampak serius mendengarkan penjelasan dari Pak Risman, hingga suatu saat bu Ernita mulai penasaran dengan apa yang dikatan kepala sekolah tersebut. “Tapi jika ibu tak keberatan saya punya cara lain agar ibu bisa lolos seleksi dan tetap mengajar di sekolah ini” itulah kata-kata terakhir dari penjelasan pak Risman yang panjang lebar. Dengan penasaran dan wajah bersinar bu Ernita pun bertanya, “apa itu pa?”. “Ibu harus mau tidur dengan saya” jawab pak Risman dengan tenang dan senyum menjijikan.
Bagai petir di siang bolong bu Ernita mendengar kata-kata itu, ia tak menyangka jika orang yang selama ini ia anggap sangat terhormat bisa berkata semenjijikan itu. “Jangan harap itu terjadi Risman” ucap guru bahasa inggris tersebut dengan nada tinggi dan amarah yang menggebu. “Ternyata kau sangat menjijikan” lanjutnya.
Namun amarah bu Ernita ditanggapi dengan sangat tenang oleh pak Risman, ia telah mengantisipasi jika hal itu akan terjadi. “Hmmm…baik kalau itu mau bu Ernita, saya tidak apa-apa jika ibu menolak” ungkapnya dengan tenang. Lalu sambil beranjak dari tempat duduknya dia memaparkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika ajakannya itu mendapat penolakan. “Saya tidak apa-apa bu, silahkan ibu mengikuti seleksi akan tetapi saya pastikan kalau ibu akan jadi orang pertama yang saya nyatakan gagal” ungkapnya dengan senyum memuakan. “Silahkan ibu pikirkan kembali”.
Bu Ernita tampak merenung, pikirannya kacau balau. Ia mulai memikirkan masa depannya, bagaimana keluarganya, anak semata wayangnya yang baru berusia empat tahun, dan suaminya yang saat ini tengah menganggur akibat terkena PHK dari tempatnya bekerja. “Siapa yang akan menafkahi keluargaku?” Pikirnya. Pikiran bu Ernita seketika buyar ketika mendengar bel tanda masuk berbunyi. Tanpa ia sadari sudah 1 jam ia berada diruangan kepala sekolah mesum ini.
“Bagaimana bu Ernita? Mau terima tawaran saya atau anda akan mengikuti seleksi yang sia-sia itu?” Tanya pak Risman dengan senyum yang menjijikan. “Silahkan ibu kembali mengajar, saya tunggu sepulang sekolah disini ya bu” ujarnya dengan masih mengembangkan senyum khasnya.
Dengan tak berkata apapun bu Ernita meninggalkan ruangan kepala sekolah tersebut, langkahnya lemah tak bergairah. Beberapa murid dan sesama guru yang menyapanya ia jawab seadanya dan dengan senyum yang dipaksakan. Sampai pada suatu ketika ia berpapasan dengan bu Linda, seorang guru honorer mata pelajaran bahasa indonesia yang juga seorang janda muda belum mempunyai anak yang dikenal banyak orang sebagai wanita yang gampang diajak naik ranjang. Dalam pikiran bu Ernita terbersit jika bu Linda ini bisa jadi orang yang lolos seleksi kepala sekolah mesum itu. Lalu mulai timbul rasa iri di hati bu Ernita. “Inilah dia sainganku” bekitulah kira-kira pikirnya.
“Eh bu Erni, katanya tadi pak Risman manggil ibu? Ada apa ya? Terus katanya semua guru juga akan dipanggil menghadap, ada apa bu?” Tanya bu Linda nyerocos. Lalu bu Ernita pun menceritakan hal yang dibicarakan bapak kepala sekolah itu tadi akan tetapi iya tidak menceritakan semuanya apalagi tentang ajakan jalan pintas pak Risman terhadap dirinya.
“Wah…bu Erni bisa jadi sainganku nih” ucap bu Linda jujur. “Ah bu Linda saya pamit dulu, anak-anak sudah nunggu pelajaran saya di kelas” jawab bu Ernita tak menanggapi ucapan bu Linda sambil beranjak menuju ke kelasnya.
Waktu tak terasa berlalu, bel tanda jam pelajaran terakhirpun sudah berbunyi. Para murid berhamburan meninggalkan sekolah tersebut, begitupula para guru. Di ruang guru hanya tersisa beberapa orang guru saja yang sekarang tengah bersiap pulang tak terkecuali bu Ernita. “Bu Erni yuk pulang bareng, kebetulan suami saya jemput bawa mobil” ajak bu indah seorang guru cantik yang baru saja menikah. “Oh..engga..eh silahkan bu duluan saya masih ada kerjaan ngoreksi hasil ulangan anak-anak” jawab bu Ernita tergagap karena pikirannya sedang menerawang. “Kalau gitu saya duluan ya bu” ungkap bu Indah yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis bu Ernita.
Bu Ernita mengambil ponselnya dan memberi tahu suaminya di rumah jika ia kemungkinan pulang agak sore dikarenakan ada rapat dengan staff guru di sekolah, dan tentu saja itu berbohong.
Bu Ernita keluar dari ruang guru, namun ia berbelok ke ruang kepala sekolah setelah melihat-lihat kanan kiri dan memastikan tidak ada yang melihatnya ia mulai mengetuk pintu ruang kepala sekolah tersebut. “Masuk bu Ernita” suara dari dalam menjawab ketukan dipintu ruangan tersebut seakan-akan yang didalam tahu kalau yang datang itu dirinya.
“Hmmm…bu Ernita,mari bu sini dan kunci pintunya” ucap pak Risman yang melihat bu Ernita masuk ruangannya. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya bu Ernita menurut mengunci pintu dan menghampiri pak Risman yang tengah duduk di sofa ruangan kepala sekolah tersebut sambil menikmati sebatang rokok. Hatinya menjerit lirih, hari ini ia akan menghianati suaminya dan menyerahkan kehormatannya. “Maafkan mamah pah” begitulah kata hatinya ketika mengingat suaminya.
“Oh bukan disitu bu duduknya,tapi disini” ungkap pak Risman sambil menepuk-nepuk pahanya ketika melihat bu Ernita hendak duduk di sofa. Dengan gontai bu Ernita melangkah mendekati pa Risman dan mendaratkan pantatnya yang semok itu menyamping dipangkuan pak Risman.
“Sudah lama saya menginginkan ini bu Ernita, ibu terlihat sangat sexy dan menggairahkan” ucap kepala sekolah tersebut sambil merangkulkan tangan kirinya di pinggang bu Ernita dan mengelus bongkahan pantatnya yang semok. Tak ketinggalan tangan kanannya mengelus pipi bu Ernita dan mengusap air matanya lalu berakhir di daun telinga yang tertutup kerudung putih. “Tak usah menangis bu, nikmati saja” ucap pak Risman sambil kembali mengusap air mata bu Ernita. Dengan suara bergetar bu Ernita akhirnya angkat bicara “sudahlah pak jangan merayu, kita mulai saja agar semuanya cepat selesai dan bapa puas”.
Pak Risman menyeringai penuh kemenangan, lalu dengan tangan kirinya dia mendorong kepala bu Ernita yang memakai jilbab tersebut ke arahnya dan mulai mencium bibir ranum dan tipis bu ernita. Tangannya mulai menjamah semua bagian tubuh bu Ernita. Tanpa disadari bu Ernita gairahnya mulai merangkak naik seiring dengan usapan dan jamahan tangan pak Risman ditubuhnya.
Ciuman mulai berubah menjadi pagutan. Air mata bu Ernita mereda, sekarang ia mulai melayani pagutan-pagutan ganas pak Risman. Bunyi kecipak air liur mulai terdengar bahkan sayup-sayup mulai terdengar desahan bu Ernita ketika pak Risman meremas payudarnya dengan kasar dari balik seragam. “Ohhhh..ahhh…yaaahhh” desahan bu Ernita mulai keluar. Rupanya pak Risman sangat piawai memancing gairah perempuan, terlihat dari gerakan bu Ernita yang tadi tampak terpaksa justru sekarang berbalik menjadi memaksa pak Risman untuk bercumbu dengannya.
Tanpa sadar jari-jari lentik bu Ernita mulai mempereteli kancing baju pak Risman. Ia sangat bergairah dan ingin segera mengeluarkan hasrat yang paling liar dari dalam dirinya yang selama ini dikenal sebagai sosok pengajar yang alim. Air liur keduanya bercampur bahkan tampak meleleh di dagu keduanya.
“Oh bu Ernita…kau sangat bergairah sekali” ucap pak Risman disela-sela pagutannya. “Jangan banyak omong pak, mari kita selesaikan” jawab bu Ernita beringas.
Pergumulan itu berlanjut. Pak Risman kini sudah bertelanjang dada. Perut buncit dan dadanya yang berbulu itu kini sedang dijilati bu Ernita dengan buas. Tak ketinggalan tangan kanan pak Risman kini tengah memainkan vagina bu Ernita dari balik celana panjang abu-abu yang senada dengan bajunya. Tangan bu Ernita tanpa sadar mempereteli kancing bajunya sendiri dan membukanya, tak ketinggalan juga ia membuka BH-nya. Seakan mimpi pak Risman memelototi payudara ranum berputing coklat indah yang meloncat dihadapannya. Bu Ernita melepaskan pagutannya, lalu kedua tangannya meraih kedua payudara ranum itu dan meremasnya, pandangan sayu dan senyum menggoda mengembang, dengan kerlingan mata binal ia melirik pak Risman dan dengan desahan lirih ia mulai berkata menggoda “ko diliatin terus pak? Inikan jalan pintas buat saya agar tidak bapak pecat? Ayo nikmati pak Risman yang terhormat” seru bu Ernita sambil tidak hentinya meremas payudara ranumnya.
Dengan tangan bergetar pak Risman menggerakan tangannya menggapai payudara bu Ernita yang tadinya sangat terpaksa justru sekarang tampak binal. Ia seperti merasa ini mimpi. Awalnya ia berpikir kalau bu Ernita akan susah untuk ditaklukan.
Kini pak Risman tengah asik menyusu di payudara bu Ernita yang sedang mendesah seperti orang kepedesan menikmati lumatan dan sedotan mulut pak Risman dipayudaranya.
Keduanya mulai tak sabar. Pak Risman menurunkan bu Ernita dari pangkuannya dan dengan terburu menelanjangi dirinya sendiri. Begitupun bu Ernita yang membuka celana panjang dan CD hitamnya dengan gaya yang menggoda sambil duduk diatas sofa ruangan kepala sekolah tersebut yang walaupun ber-AC tapi kini malah terasa sangat panas bagi mereka berdua.
Bu Ernita tampak kaget sekaligus kagum ketika pak Risman sang kepala sekolah mesum berdiri dihadapannya sambil mengocok pelan kemaluannya. “Hmmm…ah besar sekali pak” ucap bu Ernita sambil menggerakan tangannya menggapai kemaluan pak Risman lalu mengocoknya dengan lembut. Dalam pikiran bu Ernita ia sangat mengagumi kemaluan kepala sekolahnya yang besar dan panjang, bahkan telapak tangannya pun tak mampu untuk menggenggamnya, “ini sangat berbeda dengan kontol suamiku, ini sangan panjang, besar, hitam dan berotot. Yah…inilah kontol yang selama ini aku inginkan mengobok-obok memekku” itulah pikir bu Ernita. “Bu Ernita,maukah ibu nyepong kontol saya?” Pertanyaan pak Risman mengagetkan lamunan bu Ernita lalu ia mengangguk dan tersenyum menggoda. Bu Ernita menyuruh pak Risman duduk di sofa dan menaikan kakinya mengangkang. Lalu ia turun dan berlutut didepan pak Risman yang tengah mengangkang di atas sofa. Bu Ernita mulai memperlihatkan kehebatannya memuaskan kaum pria. Ia jilat semua bagian kemaluan pak Risman mualai dari biji pelir hingga ujungnya dan diakhiri dengan kuluman dan sedotan yang dahsyat.
Beberapa menit berselang pak Risman menyudahi bu Ernita yang tengah asik melumat kemaluannya. Ia suruh bu Ernita naik ke atas sofa dengan kepala dan tangan ada di sandaran sofa tersebut dan tubuh menungging menunjukan lubang kemaluan yang berbulu tipis dan lubang anus yang coklat mengerucut menggoda menawarkan berjuta kenikmatan. Tanpa disangka wajah berjilbab itu menoleh dan tersenyum ke arah pak Risman yang tengah mengagumi semoknya tubuh telanjang guru bahasa inggris ini. “Pak, ko saya jadi kaya pelacur?” Ucap bu Ernita dengan senyum dan desah menggoda. “Kamu memang pelacur bu Ernita. Pelacur buat saya” ungkap pak Risman sambil membenamkan wajahnya di pantat semok bu Ernita. Dengan buas pak Risman menjilati dan menyedot lubang vagina bu Ernita, bahkan sesekali ia juga menjilat lubang anus bu Ernita. Diperlakukan seperti itu bu Ernita sangat senang hatinya malah berbunga dikatakan sebagai pelacur, bahkan ketika jari telunjuk tangan kanan pak Risman menerobos lubang anusnya sambil menyedot lubang vaginanya ia malah mendapatkan orgasme yang hebat sehingga air kenikmatannya menyembur membasahi wajah kepala sekolah tersebut. “Ahhhh…ahhh…nikmat sekali pak..hmmm…” Desah bu Ernita ketika orgasmenya tiba.
Dengan lemas bu Ernita membalikan badannya dan duduk menyender di sofa, begitupun dengan pak Risman. Mereka duduk berpelukan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka. Sambil istirahat tak henti-hentinya bu ernita mengelap wajah pak Risman yang semakin jelek karena terkena semburan air kenikmatan miliknya, dan sesekali menciumi laki-laki mesum tersebut.
“Wah kayanya bu Ernita berbakat jadi pelacur,gimana kalau saya jadi germonya” terang pak Risman dengan cengengesan. Tapi bukannya marah dengan perkataan tersebut bu Ernita malah menanggapinya dengan santai dan nampak senang. “Aaa..bapak”,” tapi kalau saya jadi pelacur masih boleh kan saya ngajar disekolah ini pak, siapa tau sambil ngajar saya bisa sambil melacur buat murid,guru dan staff di sekolah ini…kan lumayan”.
“Waduh bu Ernita ini jadi seneng ya kalau banyak yang ngentot” tanya lagi pak Risman sambil tangannya tak berhenti meremas payudara bu Ernita.”Sssst…udah ah pa, denger entot-entotan rame-rame saya jadi pengen ni” jawab bu Ernita dengan kerling menggoda.
Selang beberapa menit merekapun kembali berpagutan panas, dan tak lama kemudian pak Risman mengatur posisi bu Ernita diatas sofa. Ia kembali ditunggingkan. Sementara pak Risman telah siap dibelakang bu Ernita dengan kemaluan tegak mengacung didepan lubang vagina bu Ernita yang menungging menantang. “Bu saya tusuk sekarang ya” sambil berkata demikian pak Risman mendorong kemaluannya memasuki vagina legit bu Ernita.
Tampak bu Ernita memejamkan mata dan membuka mulutnya membentuk huruf O merasakan mili demi mili kontol panjang, hitam, besar,dan berurat milik pak Risman memasuki vaginanya. Setelah ujung kemaluan pak Risman terbenam semua didalam vagina bu Ernita, ia mendiamkannya sesaat untuk meresapi pijatan dan kehangatan vagina guru bahasa inggris tersebut. Setelah dirasa cukup, pak Risman mulai menggerakan pinggulnya secara perlahan.
Tiap detik berlalu penuh kenikmatan. Pak Risman terus meningkatkan tempo genjotannya di Vagina bu Ernita yang legit, hangat dan basah. Desahan mulai terus terdengar di ruangan tersebut. Bu Ernita mengimbangi kebrutalan genjotan pak Risman dengan goyangan pinggulnya. Selang 5 menit mereka berganti gaya. Kini gantian bu Ernita berada diatas, dia memamerkan goyangan erotisnya dalam memuaskan pak Risman. Sambil meremasi payudaranya ia bergoyang dan selang beberapa menit bu Ernita mendapatkan orgasmenya kembali diatas tubuh pak Risman. Kali ini pak Risman tidak mau memberi bu Ernita kesempatan beristirahat, ia membalikan posisinya dan langsung menghajar vagina bu ernita dengan kemaluan besarnya. “Aaaahhh…ohhh…ampun..yah..enak…oh” desahan bu Ernita mulai tak terkendali,orgasme-orgasme susulan datang bertubi-tubi hingga akhirnya pak Risman menggeram sambil memuntahkan lahar kenikmatannya didalam tubuh ibu guru bahasa inggris tersebut, tubuh buncitnya ambruk menindih bu Ernita. Hingga selang beberapa menit ia mencabut kemaluannya tersebut dan berjalan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai ruang kepala sekolah tersebut.
Setelah keduanya beristirahat sejenak dan berpakaian tak ada satupun yang berbicara hingga bu Ernita mulai mengeluarkan suara yang terdengar bergetar. “Bagaimana, apa bapak puas? Apa saya berhasil melewati seleksi ini pak”. Pak Risman terkekeh menjijikan, lalu memeluk bu Ernita dan berbisik, “saya sangat puas bu, tapi ibu masih punya lubang satu lagi yang belum saya coba”. “Sekarang kita pulang bu, suami bu Ernita sudah nunggu pastinya di rumah, mungkin besok atau lusa saya cicipi lagi ya”.
Perasaan kesal mulai timbul kembali di hati bu Ernita, ia merasa dipermainkan oleh pak Risman.
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa perasaan berbeda dikedua hati mereka. Namun tanpa mereka sadari setelah mereka beranjak dari ruangan itu nampak seseorang cengengesan sambil menonton video dalam ponselnya hasil rekamannya sendiri.

Jam menunjukan pukul 09.30. Di waktu yang masih relatif pagi itu dua insan berlainan jenis sudah mengumbar birahi. Tepatnya di ruang kepala sekolah suatu sekolah menengah atas. Ya siapa lagi kalau bukan pak Risman si kepala sekolah mesum dan si semok bu Ernita sang guru bahasa inggris.
Saat itu bu Ernita tengah menungging di sofa ruang kepala sekolah, pakaiannya masih lengkap hanya beberapa kancing baju seragam mengajarnya saja yang terbuka dengan BH tersingkap sehingga menampakan payudara mulusnya bergelantungan kesana kemari. Begitupun dengan jilbab yang selalu ia kenakan masih menutupi kepalanya. Akan tetapi kejanggalan nampak pada celana panjang warna coklat yang senada dengan baju seragamnya. Celana itu hanya menggantung sebatas lutut guru semok itu, tak ketinggalan dengan CD bu Ernita yang bernasib sama dengan celana panjangnya.
Di belakang wanita itu tampak seorang pria buncit berkulit sawo matang berusia 45 tahun tengah menyodok-nyodokan kemaluan besar, hitam dan panjangnya ke lubang nikmat nan legit milik guru bahasa inggris semok tersebut.
Kurang lebih sudah 30 menit mereka mengumbar nafsu di ruangan tersebut. Bahkan sudah dua kali bu Ernita mengalami orgasme oleh kemaluan sang kepala sekolah mesum itu. Cairan putih licin dan lengket yang keluar dari vaginanya kini meleleh di paha bu Ernita. Suara kulit paha membentur pantat kenyal terdengar bersahutan dengan suara desahan dan erangan penuh kenikmatan bu Ernita.
Ini baru hari kedua bu Ernita digauli pak Risman, dimana kemarin siang untuk pertama kalinya dia menyerahkan kehormatan yang selama ini dia jaga dan hanya dia berikan untuk suaminya kepada pak Risman dengan diiming-imingi lolos seleksi pengajar di sekolah itu yang tentu saja itu hanya akal-akalan pak Risman untuk menikmati tubuh sexy, semok dan menggiurkan bu Ernita. Namun biarpun baru dua kali bu Ernita digagahi kepala sekolahnya tersebut ternyata ia sudah mulai ketagihan dengan ukuran kemaluan pak Risman yang jauh lebih panjang, besar dan lebih perkasa dari suaminya. Ia kini tampak pasrah dan menikmati setiap sodokan kemaluan pak Risman pada lubang kenikmatannya. Kata-kata kotor dan binal keluar dari mulut ranum dan tipis bu Ernita disertai senyuman nakal dan kerling mata menggoda lawan jenisnya.
“Uuuh…yahhh…soddok terushh pak…kontolnya enak” racau bu Ernita ketika pak Risman menggenjotnya dengan kecepatan sedang. “Hmmm…bu Ernita ternyata doyan kontol gede..” Jawab pak Risman dengan senyum menjijikannya sambil terus menghujam-hujamkan kemaluan besarnya di lubang legit bu Ernita.”Ohhh…yah pak…ssaya..suka..kontol gede..seperti punya bapak…ooohhh..yaahhh..” Racau bu Ernita terputus-putus.
Ternyata kenikmatan akhirnya mengubah bu Ernita yang tadinya merupakan seorang istri dan guru yang alim dan terhormat kini malah tampak seperti pelacur binal yang memuja kenikmatan seksual dari lawan jenisnya.
“Ahhh…kontol enak…aku keluar lagi pak..”. Bu Ernita mengerang, bola matanya terbalik, kepala menengadah dengan mulut terbuka ketika kemaluannya berdenyut-denyut menyemburkan cairan orgasme yang ketiga kalinya di pagi itu. Namun tanpa ampun pak Risman bukannya menghentikan sejenak genjotannya, akan tetapi ia malah menambah kecepatannya dalam menghentak pantat bu Ernita yang kini mulai tersungkur dan meringis dikarenakan gesekan pada dinding vaginanya mulai terasa panas.
“Oh…ampun pak..cepet keluarin pejuhnya oh” racau bu Ernita sambil meringis-ringis. Namun pak Risman malah semakin beringas melihat bu Ernita tersiksa dengan genjotannya. “Tenang saja bu…masih ada setengah jam lagi kan sebelum jam istirahat?” Ucap pak Risman sambil menaikan ritme genjotannya dan mencengkram pantat putih mulus nan semok bu Ernita.
Ruang kepala sekolah tersebut memang letaknya agak jauh dari ruang-ruang yang lainnya di sekolah tersebut sehingga jarang sekali ada orang yang lewat didepannya. Namun hari itu entah merupakan kesialan atau keberuntungan bagi Rizal Ferianto, seorang murid kelas 2 SMA tersebut. Rizal bermaksud menyerahkan tugas perbaikan kepada bu Ernita dikarenakan nilainya jeblok pada mata pelajaran bu Ernita. Setelah mencari di kantor guru dia tidak mendapati bu Ernita disana, namun salah satu staff tata usaha di sekolah itu mengatakan kalau bu Ernita tengah menghadap kepala sekolah. Rizal bergegas menyusul bu Ernita ke ruang kepala sekolah karena dia tak ingin ketinggalan mata pelajaran bu Astri guru favoritnya. Namun ketika hendak mengetuk ruangan kepala sekolah tersebut, sayup-sayup rizal mendengar suara desahan wanita dari dalam ruangan tersebut dan diikuti geraman seorang pria. Rizal yang penasaran akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Ia kemudian mengintip melalui jendela yang terletak dipinggir ruangan tersebut.
Seperti disambar gledek perasaan anak itu kagetnya bukan main melihat adegan yang terjadi didalam ruangan tersebut. Guru yang dia cari ternyata tengah berada diatas tubuh buncit kepala sekolahnya yang terlentang di sofa ruangan itu dengan mulut dipenuhi kemaluan kepala sekolahnya. Vaginanya tengah menduduki wajah kepala sekolah itu yang asik menjilat dan menyedot cairan yang keluar dari dalamnya.
Adegan demi adegan ia lihat dari balik jendela itu sambil mengelusi kemaluannya sendiri. Ia tak percaya kalau guru yang kesehariannya alim tersebut bisa berlaku binal dengan seorang kepala sekolah bahkan lebih mirip pelacur ketimbang seorang guru.
Sementara itu di dalam ruangan kepala sekolah tersebut kedua insan yang sedang memacu birahi itu tidak menyadari kalau kegiatannya tersebut tengah ada yang mengintip. Mereka semakin panas melakukan persetubuhan itu, bahkan saat ini bu Ernita sedang menghentakan pantanya di pangkuan pak Risman dengan posisi membelakanginya. Tampak sekali senyuman senang dari bu Ernita mendengar pak Risman melenguh-lenguh menikmati goyangan pantat semoknya.
“Ouh…bu Ernita pintar sekali bergoyang…kontol saya tak ku..at lagih bu” ungkap pak Risman ketika kemaluannya akan menyemburkan isinya. “Hmmm…baru digoyang memek udah kelojotan pak, gimana kalo di goyang lubang ini” ujar bu Ernita sambil menunjukan lubang pantanya dihadapan pak Risman dan menusuk-nusukan jari manis tangan kirinya ke lubang pantatnya sendiri.
“Tahan sebentar lagi saya juga nyampe pak…ouuuhhh” ucap bu Ernita lagi sambil memperhebat goyangan erotis di atas kemaluan pak Risman.
Akhirnya dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya mengalami orgasme yang hebat bertepatan dengan bel tanda istirahat sekolah tersebut berbunyi.
Setelah beristirahat beberapa menit tampak di ruangan itu bu Ernita tengah duduk bersimpuh di lantai dihadapan pak Risman yang duduk di sofa masih belum mengenakan celana dan mengelus-elus kepala bu Ernita yang berjilbab yang tengah membersihkan kemaluan kepala sekolah tersebut dengan bibir dan lidahnya.
“Kamu hebat bu Ernita” ungkap pak Risman sambil mengelus-ngelus kepala bu Ernita. “Terimakasih pak” jawab bu Ernita singkat sambil tersenyum senang dan melanjutkan tugasnya kembali membersihkan kemaluan pak Risman. Hatinya sangat berbunga-bunga ketika mendapat pujian itu, entah kenapa ia kini malah senang jika dirinya dilecehkan oleh lawan jenisnya.
“Bu nanti kalau di kantor bertemu bu Astri tolong suruh dia menghadap saya ya” ucap pak Risman sambil tersenyum menerawang membayangkan korban berikutnya yang akan dia nikmati. ” Baik pak, ta..tapi…” Ucap bu Ernita terpotong. “Tapi apa bu?” Tanya pak Risman yang melihat bu Ernita tertunduk. Lalu bu Ernita memandang mata kepala sekolah mesum itu dan tersenyum genit dengan kerlingan mata binalnya, dan berucap “kalau bapak udah dapet jatah dari bu Astri…saya pelacur bapak yang pertama kasih jatah juga ya pak”. Mendengar itu gelak tawa menjijikan keluar dari mulut pak Risman sambil manggut-manggut dan menepuk-nepuk kepala bu Ernita yang berjilbab yang tengah tersenyum nakal.
Dan diluar ruangan itu rizal pun ikut tersenyum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*