Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 17

Wild Love 17

Di sebuah cafe yang terletak lumayan jauh dari perumahan ELITE, perumahan dimana Wanita cantik yang bersamaku ini tinggal. Aku diajak oleh wanita ini untuk makan malam bersama, kami mengobrol banyak mengenai beberapa hal yang bisa kami bicarakan untuk mencairkan suasana. Tatapan matanya ketika berbicara kadang sangat tajam menuju kearah bola mata ini. Tatapan mata yang tajam dan penuh arti yang tak bisa aku terjemahkan dalam kalimat. Suatu pemandangan aneh memang ketika seorang wanita cantik dengan gelar pendidikan yang tinggi serta kesehariannya mengajarku sekarang mengajakku untuk makan malam. Terbesit dalam pikiranku kalau wanita di depanku saat ini adalah seorang wanita yang sedang jatuh cinta kepadaku, tapi pikiran itu selalu aku buang jauh-jauh dan hanya aku gantung sebagai sebuah angan yang tak mungkin aku raih.

Setiap kumpulan makanan yang berada di alat makanku kadang aku diamkan sejenak ketika aku angkat hanya untuk mencoba melihat wajah cantik dan manisnya itu hanya untuk meluhatnya walau sebentar saja. Senyumannya kadang membuatku semakin gugup, kadang membuatku terbang ke awang-awang, kadang pula aku sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi di malam ini, apakah aku sedang bermimpi? Itulah pertanyaan yang tepat di malam ini. Namun kebahagiaan itu dalam sekejap berubah menjadi sebuah tempat gelap nan kelam bagiku.

Braaaak…. tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja makan kami, sempat aku melihat seorang lelaki dengan postur tubuh tinggi dan berkulit putih. Memakai HEM dan di lengkapi oleh jas berwarna abu-abu serta celana berwarna hitam.

Cepraaaaaaaaaat… minumanku di siramkannya di wajahku, aku tekejut dan kelabakan. Ada beberapa molekul-molekul dalam minuman itu masuk ke dalam mataku. Pedih rasanya mata ini, tanganku yang semula memgang alat makan langsung kulepas. Kedua tanganku mengucek-ucek kedua mata ini walau terasa semakin perih.

ÔÇ£DASAR LAKI-LAKI TIDAK TAHU MALU, BERANINYA MENGAJAK JALAN CEWEK ORANG!ÔÇØ bentak laki-laki tersebut yang tak bisa aku lihat ekspresi wajahnya karena perihnya mata ini

ÔÇ£Lucas, Apa-apaan kamu ini? Jangan sembarangan!ÔÇØ bentak bu Dian

ÔÇ£Lucas, siapa lucas? Kenapa dia marah kepadaku? Pedih sekali mataku, Sial! Tisu, aku butuh tisu dan airÔÇØ bathinku

Kulepaskan kucekan pada mata kiriku, tangan kiriku mencoba meraih tisu makan yang ada di meja. Pandanganku sedikit buram, semua nge-blur, walau buram aku masih dapat melihat Bu Dian yang nampak berdiri, kedua tangannya memegang tangan kanan Lucas. Kudengar pertengkaran antara mereka berdua, dimana bu Dian mencoba untuk menarik Lucas dan Lucas mencoba untu kmemberiku sebuah ÔÇ£HadiahÔÇØ. Kualihkan pandanganku ke tisu makan walau sedikit buram aku masih bisa melihatnya. Kusentuh bagian ujung tisu makan yang ada di meja itu dan BUGHH! Sebuah hantaman keras mengenai pipi kiriku dengan posisiku yang tidak siap menerima pukulan keras. Aku terjatuh kelantai disebelah kananku, tangan kananku mencoba untuk menahan laju tubuhku tetapi karena pukulan itu datang tiba-tiba aku terjatuh ditambah lagi kaki kananku sedikit terpeleset cairan mungkin itu adalah minumanku tadi. Kini aku jatuh dengan posisi tubuh miring, segera aku rubah posisiku menjad duduk dilantai. Kuraih kaosku sendiri dan kulap pada wajahku.

ÔÇ£ARYAAAAAAA! LUCAS HENTIKAN!ÔÇØ Teriak Bu Dian

Masih sedikit perih memang, kupaksa mata ini membuka dan sudah mampu untuk melihat lagi. Pandanganku sedikit kabur, kulihat Bu Dian mendorong lucas dan bergerak ke arahku tetapi dengan sigap lucas memgang tangan kiri Bu Dian dan menariknya kebelakang. Bu Dian tertarik kebelakang, secara tiba-tiba lucas meraih kaosku dan di tariknya aku. Aku yang semula berada di posisi duduk sekarang bagaikan seekor anjing ditarik, kucoba untuk berdiri walau ditarik oleh lelaki yang bernama Lucas ini.

ÔÇ£Lucas hentikan! Apa-apaan kamu ini!ÔÇØ Teriak Bu Dian di hadapan lucas, yang mencoba menghalangi jalan Lucas

ÔÇ£Apa-apaan? Kamu yang apa-apaan! Beraninya jalan dengan cowok lain!ÔÇØ bentak Lucas

ÔÇ£Kamu tidak berhak melarangku, karena kamu bukan siapa-siapaku!ÔÇØ balas Bu Dian, dan aku masih mencoba membersihkan wajahku dan menyeka mataku dengan lengan kaos di bahuku. Mataku kini sudah tidak begitu pedih, kulirik ke kanan dan kiriku tampak semua orang mengamati kami semua.

ÔÇ£Oh ya! Lalu selama ini aku kamu anggap apa!ÔÇØ bentak lucas yang masih memegang kaosku

ÔÇ£Kamu itu temanku,tidak lebih!ÔÇØ bentak Bu Dian

ÔÇ£Oooo jadi karena laki-laki ini sekarang kamu mau meninggalkan aku, begitu!ÔÇØ

ÔÇ£Kalau begitu laki-laki ini harus diberi pelajaran agar tahu bagaimana caranya menghormati hubungan seseorangÔÇØ bentak lucas yang mnearikku. Kini aku berdiri di belakang lucas yang masih memgang kaosku, kutatap mereka berdua. Aku tidak memberika perlawanan apapun dan hatikupun sedikit setelah mendengar apa yang lucas katakan pada Bu Dian.

ÔÇ£Hubungan? Ahh… memang benar apa yang dikatakan Lucas, aku selalu hadir di tengah-tengah hubungan seseorang, arghhhh sial kenapa pedih lagi matakuÔÇØ Bathinku

ÔÇ£Dia tidak ada hubungannya dengan ini semua! Lepaskan dia!ÔÇØ Bentak Bu Dian

ÔÇ£HAAAAAAAAH! Masa Bodoh, minggir!ÔÇØ bentak lucas sedikit mendorong tubuh bu dian, bu dian hampir saja jatuh tapi dia mampu menahan tubuhnya dengan berpegangan kepada sebuah meja.

Ditariknya tubuhku dengan kedua mataku yang sedikit pedih. Lelaki ini, Lucas, menarikku dan berteriak-teriak meminta semua orang yang berada di dalam cafe untuk menyingkir. Hingga di tempat parkir yang berada di depan cafe aku dilempar hingga jatuh tersungkur. Masih dalam posisi mengucek mataku, aku mencoba berdiri.

ÔÇ£HAJAR DIA! BERI DIA PELAJARAN!ÔÇØ Teriak lucas

Bugh… ku rasakan sebuah pukulan pada punggungku membuat aku jatuh tersungkur. Sempat kulihat dalam jatuhku orang-orang suruhan Lucas jumlahnya cukup banyak. Aku terjatuh miring, segera aku meringkuk, kedua kakiku kutarik kedalam dan kupeluk dengan kedua tangaku, wajahku kumasukan ke dalam pelukan tanganku itu. Tendangan keras dan injakan pada sekujur tubuhku dapat aku rasakan sangat kejam.

ÔÇ£HAJAR! JANGAN BERI AMPUN! JANGAN BERI AMPUN! DASAR PERUSAK HUBUNGAN ORANG!ÔÇØ Teriak lucas yang suaranya mulai aku kenali

ÔÇ£Lucas hentikan! Atau aku laporkan kamu ke polisiÔÇØ teriak Bu Dian, ya suara itu adalah suara Bu Dian

ÔÇ£Mau lapor? Lapor saja, dan kamu akan mendapatkan mayat dia ha ha haÔÇØ balas lucas dengan tawanya yang keras. Tiba-tiba tangan halus kurasakan pada tubuhku, Mataku ku buka seidikit dan dapat kulihat Bu Dian yang mencoba mendorong dan menjauhkan para lelaki-lelaki itu dariku. Aku kini dapat melihat air matanya yang keluar mengalir di pipinya. Tapi itu tidak berlangsung lama, tubuh Bu Dian kemudian ditarik oleh Lucas menjauh dariku.

ÔÇ£Kamu tidak usah ikut campur! Ini urusan laki-lakiÔÇØ bentak lucas dengan kasarnya

ÔÇ£Kamu jangan Lucas! Lepaskan!ÔÇØ ucap bu Dian kepada Lucas, yang kemudian mengalihkan pandanganya ke arahku

ÔÇ£Hentikan hiks hiks hentikaaaaaaaaaaaan, AryaaaaaÔÇØ teriak Bu Dian yang mencoba melepaskan genggaman Lucas pada lengan tangan kanannya. Ah Sial, kenapa juga ini orang memukuliku. Aku kemudian menendang salah seorang dari mereka, mereka tampak terkejut. Aku kemudian mencoba bangkit, segera aku mendorong salah seorang dari mereka lagi. Bughhh… hantaman keras di punggungku membuat aku jatuh tersungkur kembali. Aku mencoba bangkit kembali, dari sudut pandang sempitku kulihat orang yang aku tendang sedang menenteng kursi dari dalam cafe. Aku yang mencoba mebalikan badanku, dalam posisi setengah miring menghadap ke laki-laki itu aku terkejut.

ÔÇ£MATI KAU!ÔÇØ teriak laki-laki itu sambil mengangkat sebuah kursi di atas kepalanya dan siap di hantamkan padaku yang sedang dalam posisi benar-benar tidak siap sama sekali.

ÔÇ£ARYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!ÔÇØ teriak seorang wanita, Bu Dian yang sedang meronta-ronta mencoba melepaskan tangannya dari genggaman lucas

Jika kursi itu mengenai kepalaku, mungkin ini malam terakhir down hill update, eh salah mungkin ini malam terakhirku melihat Bu Dian. Ibu, bagaimana dengan Ibu? Ibu Bisa saja diperminkan oleh Ayah jika tidak ada aku. Kakek, Nenenk, Pakdhe, Budhe, Om, Tante dan adik-adikku. Selamat tingg….

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT…. ..

BUGH… BUGH…. BUGH….

PRAAAAAAAAAAAAAK… PRAAAAAAAAAAAAAAAAAAANG!

BRAAAAAAAAAAAAAK…. GLODAAAAAAAAAAAAAAAAK

BUGH BUGH BUGH!

Dari posisiku aku dapat melihat sebuah kayu besar dan panjang jatuh di hadapanku, entah siapa yang melemparnya. Beberapa orang dari mereka nampak mundur karena adanya seseorang yang memukul mundur mereka.

ÔÇ£SIAPA KALIAN BERANI SEKALI MENGANGGU URUSAN ORANG!ÔÇØ Bentak seorang laki-laki suruhan Lucas

ÔÇ£BUKAN URUSAN KITA??? HA HA HA HAÔÇØ ucap lelaku dihadapanku yang membelakangiku

ÔÇ£Perkenalken, nama saya WONGSO ALIAS WONG DOYAN MENUNGSO (Orang yang doyan manusia)ÔÇ£ Ucap lelaki dihadapanku, wongso. Besyukurnya aku mereka datang tepat waktu, ternyara ini bukan hari terakhirku

ÔÇ£Aku ANTON ALIAS AWAN KINTONÔÇØ ucap seseorang yang kemudian berdiri di samping kiri wongso dengan lagaknya yang sama sejak SMA, selalu menggoyangkan kedua bahunya, Anton.

ÔÇ£WOI AKU ARIS AHLI KERIS HO HO HOÔÇØ

ÔÇ£Tangi cat, malah turu wae, makane nek meh geger ngejak-ngejak ojo dewean (Bangun cat, malah tidur saja, makanya kalau mau geger ajak-ajak jangan sendirian)ÔÇØ Ucap seseorang yang memapah tubuhku dengan gayanya yang sok artis, Aris

ÔÇ£DEWO Gede Lan Dowo (Besar dan panjang)ÔÇØ ucap seseorang yang tingginya melebihi tinggiku dengan gagah dia berdiri di samping kanan wongso, dia satu-satunya sahabatku yang dari SMA memiliki tinggi lebih dariku

ÔÇ£Aku… Sudira Suka Jadi Waria emmmuaaaaaaaaaach…ÔÇØ ucap seseorang yang memapahku lembut dan menggrepe-grepe tubuhku, Sudira, sahabat SMA yang doyan sekali memake-up dirinya menjadi wanita

ÔÇ£Woi Ingat Ndes! Ini itu sobat sendiri jangan di embat juga kali!ÔÇØ bentak Aris yang mencegah tangan dira

ÔÇ£Iiiiiih mumpung ada kesempatan hi hi h hiÔÇØ ucap dira khas dengan suara wanitanya

Aku kemudian berdiri di belakang ketiga orang yang sudah sedari tadi berdiri dihadapanku. Aku tersenyum bahagia karena mereka datang tepat waktu. Kelima orang ini adalah sahabatku sejak SMA, sahabat yang membentuk Geng Koplak yang sampai sekarang tidak pernah pudar tali persahabatan kami. kulihat Bu Dian nampak menangis, air matanya mengalir di pipi indahnya, ingin sekali aku mengusapnya tapi aku harus menyelesaikan ini dulu.

ÔÇ£WOI KO! AWAS KALAU TELEPON POLISI! TAK POTONG-POTONG KONTOLMU!ÔÇØ Teriak Dira dengan nada laki-lakinya. Aku menoleh ke dalam cafe tampak seorang lelaki tua berkulit putih sedikit ketakutan dengan teriakan dira.

ÔÇ£Ndak papa kamu cat?ÔÇØ tanya Anton dan wongso bersamaan dengan masih menatap ke depan

ÔÇ£Biasa saja, kaya tidak pernah tahu aku saja BroÔÇØ jawabku santai

ÔÇ£HAH! DASAR ORANG KOPLAK! HAJAR MEREKA!ÔÇØ Teriak Lucas

ÔÇ£Yaelah, memang kita ini Geng Koplak, ya jelas Koplak, Majuuuuuuuuuuuuu!ÔÇØ teriak Dewo. Dengan senyum sumringah di bibirku aku kemudian ikut maju dan bertempur dengan mereka berlima. Memang kami kalah jumlah 5 : 10 dan itu selalu terjadi di setiap perkelahian kami.

Wongso ahli beladiri taekwondo, Anton Ahli Judo, Dewo ahli karate, Aris ahli Wushu dan Aku masuk dalam kategori Karate bersama Dewo. Sudira? Jangan tanya ke dia, dia adalah satu-satunya sahabatku dengan teknik beladiri tingkat atas, bahkan bisa dikatakan dialah yang terkuat diantara kami semua tapi karena sifatnya yang kewanita-wanitaan membuat dia dianggap lemah oleh musuh. Eitss.. tapi kalau sudah marah, Rumah bisa dia robohkan. Masih ada beberapa sahabatku yang tidak hadir disini mungkin mereka akan marah-marah ke aku karena tidak mengajak mereka berpesta!

Wongso tampak dengan santai menghajar 2 orang dari mereka tendangannya, 2 orang itu jatuh tersungkur. Anton membanting orang dengan teknik Judonya membuat dua orang kelabakan menghadapi Anton, Dewo memegang kepala dua orang dari mereka dan dibenturkan ke satu sama lain. Aris dengan lihai menghajar 2 orang secara bersamaan. Dira bermain-main dengan seorang dari mereka, di kuncinya tubuh orang itu dan diremas-remasnya kontol orang itu oleh Dira. Aku hanya kebagian satu orang, ku majukan tendanganku ke arah perut membuat orang itu membungkuk dengan cepat kuraih kepalanya dengan kedua tanganku. Kulayangkan dengkul manisku kewajah orang itu.

Perkelahian berlangsung cukup lama, walau sebenarnya kami menikmatinya sebagai permainan masa SMA kami. satu persatu wajah mereka babak belur dan terjatuh di lantai bagaikan kayu bakar yang baru saja diambil dari hutan. Wongso berdiri diatas 2 tubuh lelaki, Dewo berjongkok dengan kedua kakinya beralaskan dua kepala lelaki suruhan Lucas. Aris dan Anton menumpuk 4 orang dan didudukinya mereka, sedangkan Dira mengunci seorang lelaki yang sudah tidak berdaya dan meremas-remas selangkangan lelaki tersebut. Aku berdiri di atas tubuh seorang lelaki.

Aku melihat Bu Dian meronta dan melepaskan genggaman Lucas, yang terbelalak terkejut dengan aksi kami. 10 orang suruhan dia hancur di hadapan kami. Bu Dian berlari ke arahku sambil menangis dia memegang kedua pipiku.

ÔÇ£Kamu ndak papa kan Ar?ÔÇØ ucap bu Dian

ÔÇ£Ndak papa bu, sudah biasaÔÇØ ucapku, kulihat Bu Dian akan memelukku tapi terkejut dengan teriakan Lucas

ÔÇ£wah kontole masÔÇÖe cilik owk bro, ora doyan aku (Wah kontol mas-nya kecil, aku tidak doyan bro)ÔÇØ ucap Dira yang tiba-tiba menghajar mainan itu lagi hingga tersungkur dilantai parkir

ÔÇ£Dian, kembali kesini atau mereka semua aku tembak!ÔÇØ teriak lucas yang menodongkan pistol, membuat kami sedikit terkejut. Bu Dian nampak terkejut pula menyaksikan Lucas menodongkan pistol kearah kami

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…..

2 motor berhenti di depan cafe diluar tempat parkir. 4 orang turun dari motor itu berjalan ke arah kami, ya mereka adalah Karyo alias Kekar tidak Loyo, joko alias Ojo kondo-kondo nek aku joko (jangan bilang-bilang kalau aku perjaka), Parjo alias Paringino Kejo (Berikanlah kerja), Tugiyo alias Untu gingsul marake loyo (gigi gingsul membuat loyo, ada kaitanya sama ML). Pandangan kami semua tertuju pada mereka.

ÔÇ£Pelurumu itu hanya berisi 6 peluru, jika kamu bisa membunuh 6 orang diantara kami, masih tersisa 4 orang. Dan 4 orang inilah yang akan menyiksamu dengan mencabuti semua kukumu, memotong kemaluanmu, mencukil matamu, dan tak akan kami biarkan kamu mati dengan mudah. Kami akan menyekapmu hingga kamu kelaparan dan akan aku buat kamu gila dan seterusya dan seterusyaaaaaaaa capek kalau aku ngomongÔÇØ ucap seseorang dengan tubuh gemuknya merupakan atlit Gulat kelas 120 Kg, Ya dia Karyo yang berdiri jauh di samping Lucas. Lucas tampak kebingungan menodongkan pistolnya, didepannya ada yang siap menghajarnya jika dia lengah, disampingnya ada 4 orang sahabat kami yang siap menghajarnya pula.

ÔÇ£Maafnya Bro, yang tiga lagi sibuk bantu mama-mamanya jualanÔÇØ ucap seorang laki-laki paling pendek diantara kami dengan tinggi 155 cm, tugiyo, seorang atlit gulat kelas 60Kg. Kulihat Joko dan Parjo yang sama-sama ahli pencak sila dari satuperguruan ini mengacungkan jari tengahnya kearah kami, dibalasnya dengan acungan jempol dijepit oleh Dewo.

BUGH…DAGH….

ÔÇ£ARGGGGGGGGGHHHH…ÔÇØ teriak lucas tiba-tiba. Ternyata Dira mengendap-endap dari samping untuk melumpuhkan lucas yang sedang dalam kondisi kebingungan. Lucas jatuh meringkuk, pistolnya kemudian diambil oleh Dira.

ÔÇ£Walah ini sich mainanÔÇØ ucap Dira yang menendang kepala Lucas, kami semua hanya melongo atas aksi Dira. Dira lalu berjalan berlenggak-lenggok menuju ke arah karyo, Tugiyo, Parjo dan Joko.

ÔÇ£halo karyo sayang-sayangku, muachhh…ÔÇØ ucap dira kepada 4 orang yang baru datang

ÔÇ£Hueeeeeeeeeeek….ÔÇØ jawaban mereka serentak

ÔÇ£Ampuni aku… tolong ampuni aku…ÔÇØ ucap lucas yang tiba-tiba bersujud memohon ampun kepada kami. Kami hanya melongo atas tingkah laku laki-laki ini, yang semula sangar menjadi melempem kaya krupuk nyemplung di kali.

Dengan lagak sok jagonya, kami menendangi suruhan-suruhan Lucas untuk pergi dari tempat ini. Ya, Kami akhirnya melepaskan mereka semua, terlihat mereka berlari dengan memegang perut, wajah, tangan dan bagian-bagian tubuh lainnya yang babak belur. 10 orang itu kemudian lari tunggang langgang dengan menggunakan mobil, beberapa dari mereka ada yang menggunakan motor. Tertinggal lucas dihadapan kami, aku papah dia untuk berdiri. Dengan tenang aku memberikan senyum pada Lucas, Sahabat-sahabatku berada dibelakangku dengan wajah garangnya. Bu Dian namapak dibelakangku dan memegang lengan kananku

ÔÇ£Perkenalkan nama saya Arya, saya tidak ada maksud apa-apa dengan Bu Dian, saya hanya mendapatkan hadiah sebagai hasil kerja keras saya selama membantu Bu Dian. Mohon maaf jika makan malam saya dengan Bu Dian mengganggu perasaan Bapak Lu Lu… Lucas ya?ÔÇØ ucapku dihadapanya yang tingginya hampir sama denganku tapi lebih pendek sedikit, dia hanya diam saja dan menunduk tanpa memandangku

ÔÇ£Cuih… aku tidak percaya, kamu perusak hubungan orang, beraninya main keroyokÔÇØucap lucas, namun aku masih bisa mengontorl emosiku

ÔÇ£Woi ASU YA KOWE! SING NGROYOK KAN KOWE SEK TO SU! (Wo Anjing ya kamu! Yang Mengeroyok kan kamu dulu to Njing!)ÔÇØ Teriak Parjo dibelakangku, aku kemudian menoleh kebelakang dan membuat gerakan tanganku naik turun untuk menenangkannya

ÔÇ£Sudah Ar, Kamu jangan dengarkan dia, dia hanya temanku saja, bukan pacarkuÔÇØ ucap Bu Dian dibelakangku

ÔÇ£Saya mohon maaf pak atas perkataan sahabat-sahabat saya, hanya saja semua ini pasti bisa dibicarakanÔÇØ ucapku tenang kepada Lucas

ÔÇ£DIAN! Kamu seharusnya membela aku bukan merekaÔÇØ ucap lucas yang menatap Bu Dian di belakangku

ÔÇ£Kamu yang memulai dan kamu juga yang membuat keramaian disini, lebih baik kamu pergi dari sini, kamu laki-laki kasar!ÔÇØ bentak Bu Dian dari belakangku. Aku menoleh kebelakang dan kusilangkan jariku di bibirku agar bu Dian tidak lagi membentak-bentak

ÔÇ£Maaf pak, jika memang saya sudah mengganggu hubungan bapak, saya bersedia menemani bapak untuk mengantar Bu Dian sampai kerumah, bukan apa-apa pak hanya saja saya tadi yan gmenjemputnyaÔÇØ ucapku tenang

ÔÇ£Aku ndak mau, suruh Lucas pulang!ÔÇØ bentak bu Dian dari belakangku

ÔÇ£Cuiiiih… kamu pasti akan menyesal Dian, karena telah mencampakan aku!ÔÇØ ucap Lucas yang kemudian berjalan ke arah mobilnya dan dengan cepat dia pergi.

Kini aku dihadapan mereka semua,Sahabat sejatiku. Kulihat kembali mereka setelah kesibukan-kesibukan yang kami alami. Lama kami tidak pernah berjumpa kecuali Wongso yang satu Universitas denganku. Beberapa dari mereka ada yang kuliah diluar daerah yang tidak begitu karena mencari ingin pengalaman Baru. Sebenarnya kami bisa saja selalu berkumpul setiap saat namun karena lelahnya perjalanan yang mereka jalani, hanya istirahat yang mereka butuhkan ketika di rumah. Sebuah Geng yang terbentuk karena keegoisan masing-masing dari kami, merasa masing-masing paling hebat dengan keahlian beladirinya. Namun semua perbedaan itu sirna setelah pertempuran melawan Geng Tato, sebuah geng dari gabungan beberapa sekolah yang selalu mengintimidasi SMA kami. Kami akhirnya bersatu dan terbentuklah GENG KOPLAK, yang dengan cepat menghantam dan menguasai daerah tempat tinggalku. 13 orang pentolan Geng Koplak, masih ada 3 yang belum hadir.

ÔÇ£Edan kamu itu Ar, Berkelahi ndak ngajak-ngajak!ÔÇØ ucap keras Wongso

ÔÇ£Lha kalau aku tahu mau berkelahi, kalian tak calling broÔÇØ ucapkku

ÔÇ£Wah, pasti gara-gara mbaknya ya, tumben arya nggandeng cewekÔÇØ ucap Dewo

ÔÇ£Iya ya, dari SMA sampai sekarang ndak pernah lho aku lihat arya bawa cewekÔÇØ ucap Tugiyo

ÔÇ£Berarti dah normal dia bro ha ha ha haÔÇØ ucap karyo yang diikuti gelak tawa semua sahabatku ini

ÔÇ£Oh ya, kenalkan ini Bu Dian Do…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Teman dekatnya Arya, lebih dekat dari temanÔÇØ ucap Bu Dian yang berada dibelakangku dan hanya memperlihatkan kepalanya seperti orang mengintip

ÔÇ£Eh… Arya sudah laku, uuuuuhhh… Arya jahaaaaaaaaaaaaatÔÇØ ucap Dira sambil kakinya menghentak-hentakan ke bawah, kemudian bersedekap dan membuang muka

ÔÇ£Diem kamu DirÔÇØ ucap aris

ÔÇ£Dasar jeruk suka jerukÔÇØ ucap Aris, Joko, Parjo secara bersamaan diikuti gelak tawa kami semua

ÔÇ£Eeehhh… enak saja, aku cewek ya, nih coba diraba dah gak ada batangnya yaÔÇØ ucap Dira membela, yang kemudian diraba oleh Parjo yang ada didekatnya

ÔÇ£Wah iya, dah ndak punya batangÔÇØ teriak karyo yang membuat kami terkejut

ÔÇ£HAAAAAAAAAH!ÔÇØ keterkejutan kami serentak

ÔÇ£Aku dah operasi kali, aku kan sudah punya pacar, tinggal besok operasi susu aja, biar montok kaya mbaknyaÔÇØ ucap dira santai yang kemudian berlenggak-lenggok ke arah cafe menghampiri Orang Tua yang tadi dia bentak. Kami semua hanya melongo dengan tingkah laku Dira.

ÔÇ£Koko maafin dira ya tadi membentak koko, koko jangan marah, nanti dira bobo ditempat koko deh…ÔÇØ ucap dira sambil memeluk lelaki tua itu

ÔÇ£Iya Dira sayang, nanti rumah koko ya muach…ÔÇØ ucap koko yang mendaratkan ciuman di keningnya

Semua penghuni nampaknya tidak terkejut dengan hal itu, tapi kami sahabat-sahabatnya sangat terkejut dengan apa yang terjadi dihadapan kami. Memang dira sejak SMA suka berdandan ala cewek, kami mengira itu hanya sebuah hal biasa tapi ternyata kenyataannya dia benar-benar jadi Waria.

ÔÇ£EDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!ÔÇØ teriak kami secara bersamaan, dira dengan santai hanya melempar senyum kearah kami yang Cuma bisa geleng-geleng kepala. Ada sebuah pertemuan ada sebuah perpisahan, akhirnya kami berpisah dengan sedikit bercakap-cakap menunggu bu Dian membayar makanan di cafe beserta ganti rugi yang tidak mau di terima oleh si eko (lelaki setengah baya pacar Dian). Bu Dian kembali dan berjalan dibelakangku dengan menggenggam erat tangan kiriku menuju motor kami semua parkir. Hanya dira yang ditinggal di cafe tersebut katanya mau bobo sama pacarnya itu.

ÔÇ£Oh ya, kalian kok bisa tahu kalau aku ada disini?ÔÇØ ucapku sambil mengenakan helam dan naik ke REVIA

ÔÇ£Dari UdinÔÇØ ucap Dewo yang sudah berada di atas motornya

ÔÇ£Tadi dia telepon aku, katanya tadi ada pria putih yang membeli rokok dikiosnya, sedang telepon ke seseorang, pria itu beteriak, Pokoknya kalian semua ke cafe itu, biar aku nanti yan menyeret lelaki itu, kumpulkan orang-oranngmu, begituÔÇØ ucap wongso yang membonceng Dewo

ÔÇ£kok udin bisa tahu kalau itu aku?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Ya jelas saja udin tahu, kata udin pria itu menyebut motor Revo plus plat nomernya, kamu tahu sendiri siapa yang sering make motor kamu dan sering kena tilang? Kan udin, jelas dia hafal motor kamuÔÇØ ucap wongso, aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala melihat bagaimana sahabat-sahabatku mengenalku dengan teliti.

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT….

4 motor yang secara bersamaan berhenti, semuanya 8 perempuan. Dan turun dengan wajah garangnya.

ÔÇ£MAAAAAAAAAAAAAAAASSSSS!ÔÇØ teriak mereka secara bersamaan sambil menuju ke arah masing-masing sahabatku

ÔÇ£Pasti habis berkelahi lagi iya?! Berkelahi terus saja sana! Iiiih iiiiiiiiiiiih iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihÔÇØ ucap seorang wanita yang aku tahu namanya asmi, pacar wongso. Kulihat semua perempuan-perempuan itu mencubiti pacar-pacar mereka, aku tertawa geli melihat mereka semua. Preman takut istri, ya begitulah mereka walau garang tapi kalau sudah dihadapan pacarnya selalu mencoba untuk hormat ke pacar-pacarnya. Ku sapa mereka satu persatu dan sedikitnya mereka juga menghujamiku dengan cubitan, gelan canda dan tawa kami tak terelakan.

Akhirnya pertemuan yang tidak sengaja itu kami akhiri, masing-masing dari kami pulang dengan pasangan masing-masing. Aku pulang bersama Bu Dian yang dari tadi hanya tersenyum dan geli melihat tingkah kami semua. Ku antar Bu Dian kembali kerumahnya, selama perjalanan setelah berpisah dengan semua sahabt-sahabatku.

ÔÇ£Aduuuuuuuuuuuuuuuh… sakit BuÔÇØ teriakku yang dicubit keras oleh Bu Dian

ÔÇ£Besok jangan berkelahi lagiÔÇØ ucap Bu Dian lembut

ÔÇ£Eh…ÔÇØ kagetku, kenapa Bu Dian malah mencubitku ya? Adakah sesuatu didalam pikirannya dan hatinya. Tiba-tiba tangan hangat melingkar di perutku, kepalanya berada di bahu kananku

ÔÇ£pelan-pelan saja bawa motornya, 20 KM saja kalau bisaÔÇØ ucap bu dian lembut

ÔÇ£Kalau begitu sampai rumah Bu Dian besok pagi buÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ndak papa…ÔÇØ ucap Bu Dian yang selalu memberikan pelukan erat kepadaku setiap kali selesai berbicara. Laju Revia pun melambat seiring dengan pelukan erat Bu Dian.

ÔÇ£Bu, Lucas itu siapa?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Dian atau mbak saja tidak usah pakai Bu kalau diluar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£maaf belum terbiasaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Mbak, Lucas itu siapa?ÔÇØ

ÔÇ£Dia temanku kuliah di Jerman tapi berbeda jurusan, Dia mengejarku tapi aku tidak mauÔÇØ jawabnya singkat

ÔÇ£Eh… Berarti Ibu eh mbak Dian benar-benar tidak punya pacar?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak akan pernah punya, sebelum…ÔÇØ ucapnya tercekat

ÔÇ£Sebelum apa Bu?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Lupakan saja, nanti kamu pasti akan mengetahui kalima selanjutnyaÔÇØ ucapnya. Kurasakan bibir indahnya menciumi bahuku

Dalam perjalanan pulang itu, percakapan kami kembali kepada sahabat-sahabtku yang selalu kompak. Bu Dian merasa iri karena aku memiliki mereka semua. Kadang kami juga membicarakan kekonyolan-kekonyolan Dira yang memang terlihat benar-benar akan mengubah dirinya menjadi seorang wanita. Gelak tawa, canda dan gurau menemani laju Revia menuju Rumah Bu Dian. Hingga sampailah aku dirumah Bu Dian, di depan pintu gerbang rumahnya. Bu dian kemudian turun dan berdiri di depan gerbang rumahnya dengan menenteng helm di tangan kanannya. Dengan sedikit salam akhirnya aku pamit, sewaktu memutar motorku didepan pintu rumahnya.

ÔÇ£Arya, bisa bantu aku, kuncinya susah dibukaÔÇØ ucap Bu Dian yang kemudian menoleh kearahku dengan helm yang diletakan di kananya. Aku lepas helmku dan turun dari Revia menuju motorku, segera aku membantu Bu Dian membuka pintu gerbangnya. Klek… Ngiiiiiiiiiiiik akhirnya terbuka.

ÔÇ£Bu Sudah Bis…. hegghhhh…ÔÇØ ucapku terpotong. Sebuah pelukan dari Bu Dian yang sangat lembut dan hangat. Kedua tangannya merengkuh tubuhku dari sela-sela tubuh dan tanganku. Pelukan erat dan hangat.

ÔÇ£Terima kasih untuk malam ini…ÔÇØ ucapnya sembi mendaratkan ciuman di pipi kananku. Aku hanya bisa melongo, menatapnya kemudian mengalihkan pandanganku ke depan. Pelukan hangat dan erat itu kemudian terlepas, dan tubuhku masih kaku. Lama aku berdiri hingga suara lembutnya menyadarkan aku.

ÔÇ£Kamu mau berdiri di situ terus? ndak pulang?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£oh i… i… iya bu…eh em embak.. pu… pu… pulang… pulang mbak, saya pu pu pulang du dulu mbakÔÇØ ucapku bingung sambil kepalaku mengangguk-angguk dan melangkah pulang

ÔÇ£Aryaaaaaaaaaa….ÔÇØ panggil Bu Dian

ÔÇ£Motornya mau ditinggal di sini? Aku Jual LhoÔÇØ ucap Bu Dian, tanpa sadar aku berjalan pulang tanpa megendarai motorku

ÔÇ£eh i.. i… ya bu eh mbak, motor iya motor he he heÔÇØ ucapku kemudian berjalan ke arah motor dan menaikinya dan kutuntun dengan kedua kakiku, Helm pun masih menggantung di spion kanan

ÔÇ£Mau didorong terus? Apa ndak capek Ar?ÔÇØ ucap Bu Dian santa dengan senyuman khas

ÔÇ£oh iya dinyalakan mbak he he heÔÇØ

ÔÇ£Kunci.. kunci dimana kunciÔÇØ ucapku gelagapan mencari kunci

ÔÇ£itu masih menggantung hi hi hi…ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Oh iya, menggantungÔÇØ ucapku segera aku nyalakan motorku

ÔÇ£Helmnya ndak dipakai arya?ÔÇØ ucap Bu Dian, benar-benar gila aku, cara naik motor saja bisa sampai lupa. Bu Dian melangkah ke arahku

ÔÇ£Oh iya helm iya heleeeeeeemmmmmÔÇØ ucapku terngangah. Helmku diambil oleh Bu Dian dan Dipakaikan di kepalaku. Sebelum Helm itu dipakaian sebuah kecupan di pipi kiriku kudapatkan dari bibir bu Dian.

ÔÇ£Dah, pulangnya hati-hati ya ehmmmmmÔÇØ ucapnya sambil tersenyum

Aku pulang dengan hati layaknya taman bunga, sebelum aku membelok aku selalu memperhatikan spion kiriku. Kulihat bu dian masih berdiri di depan gerbangnya memperhatikan lajuku. Hingga akhirnya aku keluar dari perumahan ELITE. Indah benar-benar indah malam ini, inikah yang dirasakan kawula muda? Rasanya ingin momen yang baru saja terjadi terulang kembali. Aku mengingat momen indah bersama Bu Dian, teringat pula momen indah bersama Ibu. Kedua wanita itu memberikan momen yang benar-benar indah kepadaku. Dua wanita yang umurnya berbeda jauh namun bisa memberikan kebahagiaan kepadaku seorang lelaki yang masih muda yang tidak pernah laku sejak SMA, SMP?SD? sama saja belum laku. Perjalanan pulang aku nikmati, ku arahkan motorku mengelilingi Rektorat Universitasku agar aku bisa lebih lama lagi menikmati kebahagiaan ini.

ÔÇ£Lho itu kan motor Rahman?ÔÇØ bathinku dalam hati.

Aku melihat sebuah motor yang sudah tidak asing lagi di dekat sebuah taman di rektorat universitasku. Aku kemudian berhenti tepat disampingnya, layaknya maling aku celingukan kesana kesini mencari Rahman. Perhatianku kemudian tertuju kesuatu tempat yang rimbun oleh pagar tanamannya. Suara desah tertahann seorang wanita aku dengar dari tempat itu. Dengan mengendap-endap aku mengintip. Aku terkejut melihat peristiwa itu, Rahman sedang mendoggie style seorang perempuan entah siapa dia tidak jelas. Dikarenakan pandanganku terhalang oleh daun-daun dari tempatku mengintip. Kulihat Rahman sedang mendoggie dengan memegang Sematpon di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang pinggul perempuan tersebut. Pemandangan tersebut membuat aku horny, tapi dapat kutahan. Kutinggalkan dia bersama wanita tersebut dan merokok di atas REVIA. Sedang asyik-asyiknya merokok kulihat satpam kampus sedang patroli. Segera aku menelepon rahman karena aku yakin dia pasti akan mengangkatnya.

ÔÇ£Halo Ar, adahh apahhh?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu merunduk dulu Kang, ada satpam patroliÔÇØ

ÔÇ£He? Kamu tahu aku sedangÔÇØ

ÔÇ£Iya cepetan daripada ketahuanÔÇØ tuuuuuuut…

Satpam itu menghampiriku dan kemudian menerangi tempat-tempat gelap itu dengan menggunakan senternya. Aku sedikit mengobrol dengan mereka, hingga akhirnya mereka pergi semua. Sms masuk kulihat Ibu menyuruhku untuk segera pulang, segera kutelepon rahman kembali bahwa suasana sudah aman dan aku akan pulang terlebih dahulu. Kami berpisah walau tidak bertatap muka.

Aku pulang dengan segera dengan kecepatan maksimum aku pacu laju Revia. Sampailah aku di ruhku dan dibukakan pintu oleh Ibu. Kupeluk Ibu dengan sangat erat, ibu hanya tersenyum melihat tingkahku ini. Mungkin Ibu tahu apa yang aku alami malam ini, sebuah kebahagiaan. Ibu kemudian menyuruhku segera beristirahat karena besok adalah hari pertama aku kulaih di semester 6. Sebelum aku tidur aku membuat sebuah status di BBM-ku.

ÔÇ£I Think I Fell in LoveÔÇØ
Kubuka pada update status kontak BBM-ku, Bu Dian pun ternyata membuat sebuah status.

ÔÇ£Me TooÔÇØ
Me too? Apakah dia membalas statusku? Ah Ke-GeEr-ran aku. Kubuat sebuah status kembali.
ÔÇ£This is may be just my hallucinationsÔÇØ
Status bu Dian Berubah

ÔÇ£ItÔÇÖs real and fact, face itÔÇØ
Aku tertegun dengan status bu Dian yang berubah setiap kali aku mengubah statusku

ÔÇ£Thank you for your k**sÔÇØ
Status Bu Dian berubah

ÔÇ£you are welcome, i hope you are serious person, thank you for this beautiful night :*ÔÇØ
ÔÇ£Bu Diaaaaaaaaaaaaan… I Love YouÔÇØ teriak hatiku, ku ubah statusku

ÔÇ£You are welcome :*ÔÇØ
Tak ada perubahan status Bu Dian, ku tarik selimut malamku, kurebahkan kepalaku di bantal empuk ini. Ah, kenapa juga aku harus ke-GeEr-ran dengan status bu Dian, mungkin saja itu untuk seseorang yang lain lagi. Aku harus bisa jaga perasaanku. Centung…

From : Diyah Ayu Pitaloka
Ibu tahu lho status kamu, cemburu ah hi hi hi
ÔÇ£eh? Kapan ibu punya PIN BB-ku? Kapan pula Ibu beli sematpon?ÔÇØ bathinku
To : Diyah Ayu Pitaloka
Kok, Ibu punya BBM?
From : Diyah Ayu Pitaloka
Rahasia, Dah bobo! :*
Aku turuti kemauan Ibu dan mulai tertidur dalam lelapnya malam. Kunyalakan radio kuno pemberian Ibu ketika aku masih SMP. Sebuah stasiun radio memutar sebuah lagu, dengan iringan sebuah lagu itu mengantarkanku dalam tidur lelapku..

At the mirror you fix your hair
And put your makeup on
You’re insecure about what clothes to wear
I can’t see nothing wrong
To me, you look so beautiful
When you can’t make up your mind
It’s half past eight, it’s getting late
It’s okay, take your time

Standing here, my hands in my pockets
Like I have a thousand times
Thinking back, it took one breath
One word to change my life
The first time I saw you, it felt like coming home
If I never told you, I just want you to know
You had me from hello

When we walk into a crowded room
It’s like we’re all alone
Everybody tries to kidnap your attention
You just smile and steal the show
You come to me and take my hand
We start dancin’ slow
You put your lips up to my ear
And whisper way down low
From the first time I saw you, it felt like coming home
If I never told you, I just want you to know

You had me from hello
And when you’re laying down beside me
I feel your heartbeat to remind me
The first time I saw you, it felt like coming home
If I never told you, I just want you to know
You had me from hello
From hello

Ya, kamu memilikiku sejak pertama kali kita berjumpa, Dian rahmawati…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*