Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 16

Wild Love 16

Perempuan berparas cantik ini menoleh kearahku yang berada di kanannya dengan senyum yang menawan. Matanya yang tampak sipit itu dihiasi dengan ukiran dari kontak lens yang berwarna biru muda. Langkahku terhenti dan tak dapat aku berkata melihat sesosok perempuan dengan rok berumbai selutut dengan dress tanpa lengan berwarna putih bersih semua selaras dengan kulitnya. Tas kecil seukuran sematpon berukuran 5 inch itu digantungkannya pada bahu kananya. Perempuan itu kemudian menoleh kembali ke arah laut luas.

ÔÇ£Masih ingat tidak Ar?ÔÇØ tanyanya yang kembali membuyarkan lamunanku

ÔÇ£Masih…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tempat apa ini?ÔÇØ tanyanya kembali

ÔÇ£Haaaaah… Tempat pertama kali aku mengajakmu jalan-jalan untuk menunjukan keindahan daerah tempatku tinggal. Ya kan karena kamu bukan orang asli sini he he he…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£terima kasih sudah mengingatkan, tapi bagiku… sssssh aaaaaaaaahhhÔÇØ ucapnya diakhiri helaan nafas panjang

ÔÇ£ini adalah tempat paling indah bagiku, paling romantis yang pernah aku datangiÔÇØ ucapnya, Aku hanya diam sambil bersandar pada dinding pembatas pantai itu.

ÔÇ£Dua minggu lagi aku akan menikah Ar dan aku akan cuti selama satu tahun, hanya itu yang ingin aku katakan kepadamuÔÇØ lanjutnya dengan senyum yang tersungginng di bibirnya, sebuah kenyataan yang membuat aku lebih tambah terkejut

ÔÇ£tapi jika kamu menikah bagaimana dengan Rahman?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Rahman? aku sudah tidak mempedulikannyaÔÇØ ucapnya seketika itu membuatku terbakar emosi

ÔÇØApa maksudmu berkata seperti itu?ÔÇØ Tanyaku

ÔÇ£Apa kurang jelas? aku tidak mempedulikannya dan aku tidak akan pernah peduli lagi dengannyaÔÇØ ucapnya santai

ÔÇ£bagaimana mungkin kamu bisa berkata seperti itu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£karena aku tidak pernah memiliki perasaan kepada diaÔÇØ ucapnya dengan santai

ÔÇ£BAGAIMANA MUNGKIN KAMU MENJALIN HUBUNGAN DENGAN RAHMAN SEJAK SEMESTER 2 HINGGA SEKARANG DAN KAMU TINGGALKAN BEGITU SAJA? SETELAH SEMUA DIBERIKAN RAHMAN KEPADAMU DAN KAMU MENGHIANATINYA DENGAN SEPERTI INI!ÔÇØ bentakku sambil merubah posisi tubuhku ke arahnya

ÔÇ£Aku menghianatinya? Dia yang sudah menghianatiku selama ini, tapi aku tetap diam! Kamu! Kamuu yag selama ini tidak pernah mengerti perasaanku selama bersama dia!ÔÇØ bentaknya yang sekarang menghadapku

ÔÇ£OH YA, AKU TIDAK MENGERTI??? HA HA HA BAGAIMANA KAMU MENJELASKAN TENTANG MEMATA-MATAI DIA DAN MENJADI PESEURUH AYAHNYA, DAN MENGERUK SEMUA KEUNTUNGAN, APAKAH ITU SUATU KEJUJURAN DALAM SEBUAH HUBUNGAN!ÔÇØ bentakku lagi

ÔÇ£Kamu tidak pernah bisa tahu dan mengerti! Aku selama ini yang menyaksikannya bermain dengan teman-teman kosku, aku melihatnya sendiri Ar hiks hiks hiks dia bermain cinta dengan teman-teman kosku hiks hiksÔÇØ ucapnya dengan tersengal-sengal, nada suaranya semakin menurun, aku tertegun

ÔÇ£Aku bukan hiks hiks hiks pesuruh ayahnya, om nico hanya memintaku untuk mengetahui jumlah tabungannya hanya itu saja tidak lebih, dan aku baru berkomunikasi dengannya juga baru satu kali saja tidak lebih ar hiks hiks hiks aku tidak pernah meminta sepeser pun dari rahman aryaaaa hiks hiks hiksÔÇØ jelasnya, sebuah pernyataan yang menusuk di dalam hatiku. Perkiraanku selama ini salah kaprah, tidak ada yang benar, ajeng bukan salah satu anggota dari kumpulan ayah dan om nico.

ÔÇ£Ta… ta… tapi kamu juga ikut bermain kan? Rahman selalu cerita seperti itu kepadakuÔÇØ ucapku tertatih-tatih

ÔÇ£Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu kira Ar! Aku masih punya harga diri, dan aku masih punya cinta untuk seseorang yang selama ini hanya mampu aku pandang tanpa bisa aku genggam hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya sedikit membentakku. Aku bingung, semua cerita rahman mengenai dia sudah bermain cinta dengan ajeng adalah kebohongan, ajeng pesuruh om nico juga salah.

ÔÇ£Aku tidak mencintainya sama sekali, dia terlalu sering menyakitiku! Bermain cinta dengan teman kosku! Aku memutuskan menikah karena dia tidak pernah serius menjalin hubungan denganku!ÔÇØ bentaknya

ÔÇ£Ta… ta… pi kan bisaaaa dibicarakan ter..lebih dahulu jeng?ÔÇØ ucapku yang masih kebingungan

ÔÇ£AKU TIDAK PERNAH MENCINTAINYA AR, AKU TIDAK PERNAH, SAMA SEKALI TAK ADA CINTA UNTUKNYA, DAN AKU TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN UANGNYA SEPSERPUN, AKU BUKAN PEREMPUAN MATERIALISTIS!ÔÇØ bentaknya kepadaku. Aku semakin terkejut dengan pernyataan-pernytaannya membuatku semakinmarah karena dia telah membohongi rahman, walau rahman juga membohongiku

ÔÇ£Ta… ta… ta… pi Kenapa kamu menjalin hubungan dengannya? PADA AKHIRNYA KAMU MENINGGALKANNYA, AKU YAKIN RAHMAN BISA BERUBAH!ÔÇØ ucapku kemudian menjadi sebuah bentakan

ÔÇ£Karena aku hiks hiks hiks hiks ingin selalu memandangmu dan dekat denganmu hiks hiks hiks… Aku…ÔÇØ ucapnya tersengal dengan kedua tangan menggenggam dan lurus degan tubuhnya,

ÔÇ£Aku… Aku… Aku mencintaimu ar, aku mencintaimu, AKU MENCINTAIMU ARYA!ÔÇØ teriaknya keras.

Tubuh ini serasa lemas mendengar teriakan itu, bagai gempuran ombak yang menghantam benteng pasir hingga roboh. Bagai sebuah anak panah yang menembus jantungku. Suara deburan ombak dan hembusan angin tak lagi terdengar ditelingaku, seakan-akan semua menjadi bisu dan membisu. Tak ada suara lagi yang aku dengar hanya sebuah tangisan dari seorang perempuan yang selama ini aku nilai keburukannya saja.

ÔÇ£aku menerima rahman karena kamu selama ini tidak pernah peka terhadap perhatianku hiks hiks hiks, kita berbeda jurusan membuat aku semakin rindu bertemu denganmu hiks hiks hiks, aku mencoba dan selalu mencoba untuk main ke kampus kamu hanya untuk melihatmu dan menyapamu tapi tanggapanmu biasa-biasa saja hiks hiks hiksÔÇØ jelasnya

ÔÇ£Itu karena rahman mengatakan kepadaku dia suka kepadamu, ma…ka…nya a…ku mun…durÔÇØ ucapku semakin lama nada suaraku semakin turun dan mengecil

ÔÇ£Alasanku, agar aku bisa melihatmu, sebatas melihatmu saja AKU SUDAH BAHAGIA!ÔÇØ ucapnya diakhiri sebuah bentakan kepadaku, jarakku dan dia masih jauh walau kami berhadap-hadapan satu sama lain

ÔÇ£Maaf…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Maaf Ar? Hanya itu Ar yang kamu ucapkan kepadaku?!ÔÇØ bentaknya

ÔÇ£Ajeng! Seandainya saja kamu menolak rahman mungkin…ÔÇØ lidahku mulai kelu untuk mengucapkan kata-kata berikutnya, kepalaku kembali tertunduk menyesali semua yang telah terjadi

ÔÇ£Mungkin apa? Aku tahu kamu Ar, aku tahu segalanya tentang kamu! Kamu tidak akan pernah tega terhadap sahabatmu! Jika aku menolaknya sekalipun kamu tetap akan diam dan diam! Dan itu… hiks hiks hiks yang akan membuatku semakin jauh darimu, aku tidak ingin jauh darimu aryaaaa hiks hiks hiks hiskÔÇØ ucapnya dengan tangis yang menjadi-jadi dia kemudian duduk dengan kaki dilipat didepan dadanya membelakangi pantai. Tangannya memeluk kedua kakinya itu, hembusan angin dari pantai membuat rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya. Ku beranikan diriku untuk memandangnya.

ÔÇ£Kenapa kamu bisa mencintaiku seperti ini?ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Karena kamu ksatriaku… ksatria yang melindungiku ketika pertama kali aku melihatmu dengan tatapan yang selalu melindungi yang lemah, ketika…ÔÇ£ ucapnya lirih yang kemudian menginngatkanku kepada sebuah kejadian dimasa Orientasi Mahasiswa

………………….
Ketika itu , Matahari sudah mulai tenggelam. Disebuah salah satu sudut ruang kelas kuliah, seorang mahasiswi baru dengan rambut dikuncir dua, dan kacamata lebar berbentuk lingkaran sedang menangis dihadapan 3 orang kakak tingkatnya.

ÔÇ£HA HA HA ini cewek udah putih, cantik lagi tapi sayang culun ha ha haÔÇØ ucap mahasiswa 1 kepada kedua temannya

ÔÇ£culun-culun ndak masalah-lah, yang penting tempike itu kok, tul ga?ÔÇØ ucap seorang mahasiswa 2 lagi

ÔÇ£Yoi, hompimpa saja dah, yang menang dapet perawanya, yang menang kedua dapat perawan anusnya, yang ketiga sepongannya asyik tuh ha ha haÔÇØ ucap mahasiswa 3

ÔÇ£Kakak, aku mohon lepaskan saya, saya sudah mendapat hukuman dan ijinkan saya pulang kak aku mohonÔÇØ ucap perempuan itu yang tak lain bernama ajeng

ÔÇ£Pulang? Tempik kamu dulu sayang baru kamu boleh pulang ha ha haÔÇØ ucap mahasiswa 2 diikuti tawa kedua mahasiswa lain

ÔÇ£Jika kakak berani maju, aku akan teriak!ÔÇØ bentak ajeng

ÔÇ£teriak saja sayang tidak akan ada yang mendengarÔÇØ ucap mahasiswa 1

Dipegangnya kedua tangan ajeng oleh mahasiswa 1 dan 3 hingga terangkat dengan paksaan, mahasiswa 2 memegang kedua kakinya dan menyingkap roknya hingga terbuka. Dielus-elusnya vagina gadis itu yang masih terbungkus oleh celana dalam dengan kasarnya.

ÔÇ£TOLOOOOOOOOOOOOOOOOONG! HMPMMMMMMM!ÔÇØ teriak ajeng yang kemudian di bekap oleh mahasiswa 3 dengan tangan kanannya

Dibukanya kancing baju putih itu satu persatu oleh mahasiswa 2, sambil meremas-remas susu ajeng. Ajeng terus meronta dan meronta mencoba lari dari semua ini. kakinya sudan tidak bisa berbuat apa-apa karena mahasiswa 2 sudah berada di tengah-tengah selangkanganya. Tiba-tiba…

ÔÇ£WOI BAJINGAN!…ÔÇØ

ÔÇ£BERANINYA SAMA CEWEK, DASAR LAKI-LAKI TAK PUNYA KONTOL KAMU!ÔÇØ ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dari arah belakang mereka yang tak lain adalah Arya, Arya Mahesa Wicaksono

ÔÇ£paling mereka punyanya cabai rawit catÔÇØ ucap seorang lagi muncul dibelakang arya, yang kemudian menaruh tangannya di pundak arya, Wongso

ÔÇ£Woi jangan sok jago kalian, mau mati?ÔÇØ ucap mahasiswa 1, mereka bertiga mengikat tangan dan kaki ajeng serta membekap mulutnya dengan dasi yang dipakai ajenng. Dan kemudian berdiri berjajar berhadapan dengan Arya dan Wongso.

ÔÇ£Seharusnya itu, kita yang tanya, situ masih mau hidup atau malah mati?ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Paling milih jadi babi wongÔÇØ ucap arya

ÔÇ£Lebih baik kalian pergi atau, Orientasi mahasiswa kalian kami batalkan dan kami laporkan ke jurusan agar kalian dikeluarkan karena membuat onarÔÇØ ucap mahasiswa 1

ÔÇ£Prek! Sing penting pecah ndase! (Bodoh! Yang penitng pecah kepalanya!)ÔÇØ bentak arya, yang kemudian maju dan mendaratkan sebuah tinju di wajah mahasiswa 2 yang berada di tengah

ÔÇ£Yoi cat tembokÔÇØ ucap wongso yang kemudian maju dan menendang mahasiswa 3.

Ketiga mahasiswa itu tampaknya memang bukan tandingan bagi dua berandal ini. setiap pukulan dari mereka dengan mudah di hindari oleh keduanya tapi pukulan dari arya dan wongso tidak pernah sama sekali luput. Perkelahian berlangsung tidak seimbang walaupun jumlah mereka lebih banyak tapi mereka malah tersungkur. Seorang mahasiswa bangkit, wongso mengambil sebuah kursi dikelas itu dan buk dihantamkannya kursi itu dipunggung mahasiswa tersebut.

ÔÇ£Kalau babi itu harusnya merangkak bukan berdiri!ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£kalau ada yang keluar ruangan ini sambil berjalan, aku patahkan kaki kalian, tul gak cat?ÔÇØ bentak wongso

ÔÇ£yoi bro, dikon ndlosor koyo ulo wae piye wong? (Disuruh melata seperti ular saja bagaimana wong?)ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£Ojo mesake, ben dadi babi ae (jangan kasihan biar jadi babi saja mereka)ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Kalian akan terima akibatnya karena berani melawan kakak tingkat kalian!ÔÇØbentak seorang mahasiswa. Kemudian arya dan wongso jongkok berjinjit dan menjambak kepala mereka semua.

ÔÇ£DENGER YA MAS, KALAU SAMPAI AKU KELUAR DARI KAMPUS INI TAK JAMIN KONTOL KAMU TAK PAJANG DI DEPAN GERBANG UNIVERSITAS!ÔÇØ bentak arya dan wongso bersamaan

Akhirnya mereka semua keluar dari kelas dengan merangkak dan kemudian lari terbirit-birit. Wongso kemudian keluar ruangan dan menyuruh arya untuk menolong gadis itu. Gadis itu sangat berterima kasih kepada mereka berdua, terjadi sebuah percakapan antara mereka.

ÔÇ£Siapa nama kamu? Fakultas apa? Kamu baik-baik saja kan?ÔÇØ ucap arya

ÔÇ£Ajeng aku dari Fakultas bahasa, terima kasih sudah menolongmu, namamu siapa?ÔÇØ ucap ajeng

ÔÇ£Aku Arya dan dia wongso, kita dari fakultas MIPAÔÇØ ucap arya

Setelah gadis itu terlepas diajaknya gadis itu berjalan bersama mereka keluar ruangan. Hingga didepan kampus, tampak banyak orang di tempat parkir. Ketika sampai ditempat parkir tampak ketiga mahasiswa itu bersama segerombolan orang bertato duduk membelakangi arya, wongso, dan ajeng.

ÔÇ£ITU ITU MAS, YANG MENGHAJARKU!ÔÇØ ucap mahasiswa 2, kemudian para lelaki bertato itu bangkit dan membalikan badanya. Lelaki itu malah kaget setengah mati melihat mereka berdua, bukannya arya dan wongso tapi mereka yang terkejut.

ÔÇ£Lho bos kok disiniÔÇØ ucap lelaki bertato itu

ÔÇ£Lha ngopo ora oleh po? Lha kowe nggoleki sopo? Sing njotosi bajingan-bajingan iku? HeÔÇÖe (lha kenapa tidak boleh? Lha kamu cari siapa? Yang mukuli bajingan-bajingan itu? iyaÔÇØ ucap wongso. Mereka pun mengiyakan perkataan wongso, dengan rasa takut mereka minta ijin meninggalkan tempat parkir itu. Dan pasti tahu sendiri apa yang terjadi kepada ketiga kakak tingkat itu, mereka mendapatkan bogem mentah dari para lelaki bertato itu yang tidak lain adalah geng yang sudah di hancurkan oleh geng bentukan teman-teman SMA Arya, Geng Koplak.

Perkenalan itu akhirnya membuat ajeng jatuh hati kepada Arya. Apalagi arya yang selalu mengajak ajeng berjalan-jalan mengelilingi daerah tempat tinggalnya. Dandanan ajeng pun berubah dengan pengarahan dari arya agar tidak terlihat culun lagi, bukan berarti arya mengubah ajeng seperti yang dia inginkan hanya menawarkan untuk mengganti kacamatanya dengan kontak lens. Rambutnya di ubah menjadi terurai.

ÔÇ£Jeng, coba kamu pakai kontaks lens ini, biar kamu tidak terlalu kesulitan memakai kacamata besarmu ituÔÇØ ucap arya ketika mengajak ajeng ke pantai yang sekarang ini menjadi pertemuan antara mereka berdua

ÔÇ£terus, rambutnya diginikan, nah bagus kan… biar kamu tidak di ejek lagi sama teman-teman kamu jengÔÇØ ucap arya yang menguraikan rambut ajeng, ajeng hanya menunduk malu dan merasa sangat bahagia atas perlakuan arya. Itulah yang membuat ajeng tambah tergila-gila pada lelaki ini.

Arya sebenarnya mempunyai hati pula terhadap ajeng, namun perjalanan cinta itu terhambat dengan pengakuan sahabat arya yang dia kenal ketika perkuliahan dimulai, Rahman, ya rahman mengatakan kepada arya kalai dia menyukai ajeng. Arya pun mundur.
…….

ÔÇ£mungkin kamu sudah tidak ingat lagiÔÇØ ucap ajeng

ÔÇ£Aku masih ingat jeng, dan masih tersimpan dalam memori ingatankuÔÇØ ucapku sambil melangkah dan duduk disampingnya. Disandarkannya kepalanya pada pundakku

ÔÇ£Maaf… jika selama ini aku tidak bisa melihat itu semuaÔÇØ ucapku

ÔÇ£hiks hiks hiks, ndak papa ar, semua sudah terjadi dan tidak bisa diulangi lagiÔÇØ ucap ajeng yang kemudian memeluk tubuhku dari samping, aku pun merangkulkan tangan kiriku di pundaknya kaki kananku selonjor kedepan.

ÔÇ£Aku sangat mencintaimu Ar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apakah kamu mempunyai perasaan yang sama kepadaku Ar?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£Ya, tapi dulu jeng, maaf sekarang aku sayang kepadamu sebagai seorang sahabatÔÇØ ucapku

ÔÇ£Terima kasih, itu sudah membuatku bahagia Ar, sangat bahagia walaupun perasaan itu sudah berlaluÔÇØ ucapnya sedikit tersengal

ÔÇ£Kamu tahu, Ar, hal inilah yan ingin aku lakukan selama ini, memelukmu dengan sangat eratÔÇØ ucapnya sembari memelukku erat

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selama ini, kenyataan demi kenyataan pahit hadir didepan kedua mataku. Membuat aku terjebak didalamnya, bagaimana mungkin aku bisa keluar dari semua ini jika semua yang aku prediksikan selalu meleset. Rasanya ingin sekali aku menyuruh Down hill menghentikan cerita ini, dasar penulis cerita selalu menempatkan tokohnya di tengah-tengah kegelisahan ini.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap Ajeng

ÔÇ£ya…ÔÇØ balasku

ÔÇ£aku punya satu permintaan terakhir, aku berharap kamu mau memenuhinya…ÔÇØ ucap ajeng

ÔÇ£jika memang bisa, aku akan memenuhi semua permintaanmuÔÇØ ucapku dengan tegas, dia tersenyum kepadaku

ÔÇ£Aku ingin…ÔÇØ ucapnya terpotong

ÔÇ£ya…ÔÇØ jawabku santai

ÔÇ£Aku ingin, kamulah yang menyentuh tubuhku untuk pertama kalinya dan bukan yang akan menjadi suamikuÔÇØ ucap ajeng membuatku melongo dan bertingkah amburadul ketika mendengar itu tapi pelukan ajeng tak bisa membuatku lepas darinya. Aku mencoba menenangkan diriku lagi.

ÔÇ£Jeng, kamu sudah menjaganya selama ini. dan aku berharap kamu memberikan mahkotamu kepada suamimuÔÇØ ucapku mencoba bijaksana dan berwibawa

ÔÇ£Aku sudah mengatakan kepada calonku jika aku sudah tidak perawan lagi, dan dia mau menerimanyaÔÇØ ucap ajeng santai sambil meletakan kepalanya didadaku dan memelukku erat semakin erat

ÔÇ£Aku tidak bisa jengÔÇØ ucapku lirih, tiba-tiba saja ajeng melepaskan pelukankku. Wajahnya penuh dengan kekecewaan. Kupeluk tubuh erat sembari aku daratkan kecupan pada keningnya.

ÔÇ£Jeng, walau ada cinta diantara kita bukan berarti kamu harus menyerahkannya kepadaku, biarkan dia yang akan menjadi penjagamu yang mendapatkannya, dialah yang akan bersamamu hingga akhir hayatmu, bukan akuÔÇØ

ÔÇ£Perjalanan hidupmu masih panjang, pastinya dia juga akan memberikan kebahagiaan untukmu bahkan lebih bisa membuatmu bahagia daripada aku yang ada disini sekarang, kebahagiaanya adalah ketika kamu memberikan mahkotamu dan setelahnya dia juga akan memberikan kebahagiaan kepadamu, walau terkadang dalam perjalanan hidup ada manis dan pahitÔÇØ

ÔÇ£Jangan kamu berpikir hanya denganku kamu bisa bahagia, Dia disana juga memiliki rencana tersendiri untuk kebahagiaanmu, jika dia adalah nadimu maka dihari pernikahanmu hingga matimu dia akan bersamamu, jika bukan, pasti akan ada sebuah kebenaran yang ditunjukan kepadamuÔÇØucapku

ÔÇ£Begitulah kamu Ar…ÔÇØ

ÔÇ£Selalu saja bisa membuat pikiran seseorang berubah-ubah, kamu bisa membuat keyakinan menjadi keraguan dan membuat semua keraguan menjadi sebuah keyakinanÔÇØ ucapnya kemudian Ajeng melepas pelukanku dan berdiri

ÔÇ£AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….ÔÇØ teriaknya sambil menghadap ke pantai

ÔÇ£Arya… Arya… Hmmmm… terima kasihÔÇØ

ÔÇ£terima kasih sudah mengingatkan aku…ÔÇØ ucapnya kemudian aku berdiri disampingnya

Aku kemudian berdiri dan kupeluk ajeng dengan sangat erat, balasan pelukan pun aku dapatkan darinya. Memang terpancar dari wajahnya sebuah kekecewaan namun senyuman dari biibrnya menghapus itu semua. Harapaku kepadanya adalah agar dia tidak melakukan tindakan gila atau apapun itu. Akhirnya matahari terbenam, malam telah menggeser sinar mentari. Aku dan ajeng kemudian berpisah dengan sebuah perpisahan yang penuh dengan haru dan senyuman. Aku berpesan kepada ajeng agar tidak memberitahukan kepada Rahman. Kucoba menghubungi Rahman pada saat itu, dia sedang berlibur menenangkan pikirannya. Entah ada apa dengan dia. Aku arahkan motorku ke arah rumahku dan pulang dengan perasaan gelisah.

Akhirnya aku sampai di rumahku, kulihat Ayah sedang bercengkrama dengan telepon genggamnya didepan rumah. Aku salim kepada Ayahku dan masuk ke dalam rumah. Terlihat Ibu yang sedang asyik menonton acara televisi. Kulihat senyumannya tapi tetap saja tidak membuat hatiku kembali bergembira. Ibu seakan tahu perasaanku dan menepuk sofa disampingnya. Aku duduk disamping Ibu, dipeluknya kepalaku di dadanya dan dielus-elus. Ibu kemudian memintaku bercerita mengenai apa yang terjadi. Dan kuceritakan secara detail semua yang terjadi di pantai itu, dan semua tentang penilaianku yang salah.

ÔÇ£Berarti dia orang baikÔÇØ

ÔÇ£Hmmm… kalau yang terakhir itu kelihatannya Ibu harus cemburu dech hi hi hiÔÇØ ucap Ibu ku menggodaku

ÔÇ£Tidak tahu buÔÇØ ucapku sembari memasukan kepalaku dalam pelukannya

ÔÇ£Laki-laki harus bertanggung jawabÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Aku seperti seorang penjahat bu, ndak ada bedanya dengan yang didepanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Beda, sangat berbeda.. kamu dan dia bagai bumi dan langit, dia pemaksa dan rakus, sedangkan kamu dipaksa dan kalem, baik lagi hi hi hiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Bu..ÔÇØ ucapku

ÔÇ£ingatlah jangan pernah kamu membuat sakit hati seorang perempuan karena itu berarti kamu juga membuat sakit hati Ibu,ÔÇØ

ÔÇ£Sudah sana istirahat duluÔÇØ ucap Ibu, aku kemudian bangkit dan menuju kamarku

ÔÇ£beberapa hari kedepan puasa dulu ya sayang hi hi hiÔÇØ ucap Ibu menggodaku, sambil menunjuk kearah depan dimana Ayahku berada. Aku hanya mengangguk dengan senyuman dan kembali melangkah menuju kamarku.

Aku hempaskan tubuhku di kasur, tempat tidurku. Melayang pandanganku, menyapu semua sudut langit kamarku. Aku linlung dan bimbang dengan semua keadaan ini, belum lagi misteri dari email itu belum juga terpecahkan. Apakah aku harus menyerah sampai disini?

Tak gendong kemana-mana tak gendong kemana-mana… bunyi ringtone sematponku. Bu Dian.

ÔÇ£Halo, selamat malam bu dianÔÇØ

ÔÇ£Haloooooo, apa kabar arya?ÔÇØ

ÔÇ£B… Ba… Baik bu, Apa kabar bu? Kok kelihatanya gembira sekali bu? Ada yang bisa saya bantuÔÇØ

Tiba-tiba Ibu masuk dan duduk disebelah kiriku dan menempelkan telinganya di sematpon yang aku tempelkan ditelingaku

ÔÇ£Kabar baik dan tentunya bahagia dong, kan KTI yang kita buat juara satu, oh ya sesuai janjiku aku ajak kamu makan-makan, mau tidak?ÔÇØ

ÔÇ£Eeeee… apa tidak merepotkan?ÔÇØ

Tiba-tiba ibu, dengan gerak bibirnya dan pukulan dikepalakku menyuruhku untuk meng-iyakanya

ÔÇ£Tidak merepotkan, tapi kamu harus memberi saya hadiah dulu, baru nanti saya traktir bagaimana?ÔÇØ

ÔÇ£wah kok begitu bu, kan yang dapat juara Bu Dian, ya seharusnya bu dian yang beri saya hadiah dongÔÇØ

ÔÇ£Ya tidak bisa, saya maunya ucapan selamat kamu berupa hadiah, gitu ya? Besok minggu kamu kerumah saya nanti kita keluar makan bersamaÔÇØ

ÔÇ£Eh… iya bu iya, tapi apa sebaiknya kita langsung ketemu di tempat makan saja gitu bu, takutnya nanti pacar Ibu tahu terus marahÔÇØ

ÔÇ£saya tidak punya pacar, saya tunggu kamu besok minggu beserta hadiahnya titik, dah dulu ya ini taksinya sudah sampai rumah. DaaaaaaaaaaaaaagghhhhÔÇØ tuuuuuuuuut

Aku memandang telepon cerdasku seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. Setiap kata-kata dari Bu dian mulai aku cerna, baru saja ada kegelisahan ini malah ditambah lagi kegelisahan lain. Banyak pertanyaan belum terjawab eh dapat pertanyaan lagi. Beberapa saat aku sadar bahwa Ibu tiba-tiba melangkah keluar, aku takut jika ibu marah kepadaku. Tapi selang beberapa saat Ibu masuk kedalam membawa sebuah kotak.

ÔÇ£Ini buat Bu Dian, sebuah gelang terbuat dari campuran emas kuning dan platina, ini pemberian Nenek MahesawatiÔÇØ

ÔÇ£Berikan pada dia, dan katakan ini pemberian dari Ibu karena kamu lagi kanker alias kantong kering hi hi hiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Eh… apa tidak sayang bu? Kan ini milik IbuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ibu suka sama itu siapa?Dian ya, Ibu mau kamu sama dia walaupun itu mustahul siiiich….ÔÇØ

ÔÇ£tapi ingat sebelum kamu sama dia kamu harus selesaikan dulu masalah kamu, okay? Are you understand honey?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£IÔÇÖm Understand Mom, but…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak ada tapi-tapian… Ibu tidak akan cemburu, karena kamu kalau dirumah milik Ibu hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£Sudah tidur sana, bobo cantik cintaku cup…ÔÇØ ucap Ibu sambil mendaratkan kecupan di keningku

Ibu kemudian meninggalkan kamarku, Aku lepas semua pakaianku dan berganti dengan kaos dan celana pendek. Aku pun merebahkan tubuh dan kutarik selimut menutupi tubuhku. Tubuh yang selama ini tenggelam ke dalam dekapan beberapa wanita.

Pelangi pelangi alangkah indahmu merah kuning hijau dilangit yang biru… ringtone sms. Budhe

From : Budhe
Mblooo, kapan-kapan main kerumah budhe
Budhe pengen curhat ma kamu
To : Budhe
Iya dhe, tapi ndak tahu kapan
Banyak kegiatan
From : Budhe
Iya mblo,
Pokoknya kamu harus main kerumah ya mblo
Budhe kangen ma kamu pemgen cerita-cerita lagi he he
To : Budhe
Yaelah, pake cerita-cerita segala, sms aja dhe
Arya mau tidur dulu dhe
From : Budhe
Nggak, kamu main saja
Dasar Jomblo nggak pernah ma cewek
Met bubu arya sayang
Lho, tadi dia bilang mblo sekarang arya pake sayang lagi. Masa bodohlah, yang penting sekarang saatnya tidur pulas.

Aku pun akhirnya terlelap dalam tidurku hingga pagi menjelang. Tak ada yang istimewa selama aku berada dirumah dengan kehadiran Ayahku disini. Aku pun berakting layaknya anak yang baik baginya, setiap pembicaraanya ditelepon selalu aku mencoba untuk menguping. Tetapi semuanya sia-sia tak pernah ada percakapan penting yang aku dengan darinya. Hingga hari minggu pun tiba, tepat pukul 17:00 aku pamit kepada kedua orang tuaku untuk keluar main. Ayah Ibuku mengijinkan aku untu kkeluar. Kukendarai REVIA dengan laju kencang sekencang angin hingga sampailah aku di tempat dimana seorang bidadari tinggal, Rumah bu Dian. Kupencet bel dan keluarlah seorang wanita cantik dengan meneteng Helm dari dalam rumahnya. Menggunakan kaos ketat seperti tank-top dan di lengkapi dengan jaket kain yang menutupi lenganya, belahan dada pada kaos ketatnya pun tidak rendah, menutupi semua bagian dadanya. Celana kain longgar menutupi kaki jenjangnya yang dihiasi sandal berhak 3 cm, mungkin. Dia kemudian keluar dari gerbang rumah dan berdiri dihadapanku. Aku terkesima dengan kecantikan wanita ini, ah seandainya saja dia pacarku.

ÔÇ£Okay, IÔÇÖm ready but…mmmmÔÇØ

ÔÇ£My gift?ÔÇØ ucap bu Dian, aku kemudian mengeluarkan kotak yang sudah aku bungkus kado dan langsung dibukanya

ÔÇ£Oh ya saya lupa, ini buÔÇØ ucapku seraya memberikan hadiah pemberian Ibu. Bu Dian langsung membukanya dan takjub dengan gelang itu.

ÔÇ£Hmm… bagus juga, mahal ya ini? padahal saya kan Cuma bercanda hi hi hiÔÇØ ucap bu dian

ÔÇ£itu pemberian Ibu buat Bu DianÔÇØ ucapku santai

ÔÇ£Eh…ÔÇØ bu dian tampak kaget dengan kata-kataku

ÔÇ£Beneran dari Ibu kamu? Apa tidak sayang?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Lha Bu Dian mau tidak? Kalau tidak akan saya gantiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Mau kokÔÇØ ucapnya dengan wajah memerah, entah kenapa dia merasa malu

ÔÇ£Terima kasih yaÔÇØ ucapnya dengan senyuman

Akhirnya kami berboncengan menuju jalan sebuah cafe sederhana di daerah ini. Dalam perjalanan tiba-tiba saja kedua tangan Bu Dian memeluk perutku, aku hanya mendiamkannya. Namun semakin lama tubuh Bu Dian semakin melekat pada tubuhku dan pelukannya semakin erat. Aku sebenarnya agak sedikit frogi dengan perlakuan Bu Dian kali ini. Kurang lebih setengah jam perjalanan kita sampai pada tujuan. Kami duduk berhadapan satu sama lain di tempat yang lumayan romantis, karena tempat makan kami terletak di dekat taman yang berada di dalam cafe tersebut. Akhirnya kami memesan makanan, dan yang kami pesan adalah sama.

ÔÇ£Kamu tidak apa-apakan aku ajak makan kesini?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Tidak Bu, memangnya kenapa?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Mungkin saja cewek kamu marah begituÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Saya belum punya Bu, ya mungkin saja Pacarnya Bu Dian yang marahÔÇØ ucapku

ÔÇ£Saya juga sama belum ada…ÔÇØ ucapnya penuh senyuman manis

ÔÇ£Ya ini sebagai tanda terima kasihku karena kamu telah membantuku selama inÔÇØ

ÔÇ£Oia kalau diluar panggil nama saja ndak papa, lagian palingan jarak umur kita tidak begitu jauhÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Wah ndak terbiasa bu he he heÔÇØ

ÔÇ£Kalau mbak saja bagaimana Bu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Okay, ndak masalah, tapi usahakan untuk memanggil namaku ketika diluar ya, kalau bisaÔÇØ ucap Bu Dian

Akhirnya makanan datang, kami pun segera melahap makanan yang sudah ada di meja. Aku yang berada didepannya selalu mencuri-curi pandang wajah manis Bu Dian. Walau terkadang aku juga merasa diamati oleh Bu Dian sendiri. Ditengan-tengah acara makan malam ini kami pun sedikit berbincang-bincang mengenai keseharian masing-masing.

Braaaak…. tiba-tiba seorang lelaki menggebrak meja makan kami

Cepraaaaaaaaaat… minumanku di siramkannya di wajahku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*