Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 15

Wild Love 15

Di sebuah rumah di perumahan SAE, tempat dimana seorang saksi yag dibunuh secara keji. Aku berada di dalam sebuah rumah yang lumayan mewah mendekam didalam sebuah kamar. Di dalam kamar ini, kamar lantai dua tempat dimana aku sedang bersembunyi. Tepat disebuah almari yang sedang akan dibuka oleh lelaki yang selama ini telah menghancurkan hidup banyak orang. Aku ketakutan, sangat ketakutan, keringat bercucuran dan mengalir bagai sungai yang indah. Jika memang aku akan tertangkap kali ini. hanya satu yang bisa aku lakukan, melakukan sebuah perlawanan atau membunuhnya.Dan jika aku terbunuh, maka salahkan Down hill yang membuat cerita ini. Tapi tiba-tiba suara seorang wanita di depan pintu masuk kamar.

ÔÇ£Tuan tolong tuan berikan aku kontol tuan, aku ingin disodok kontol tuan, memekku mau di kontoli lagi tuan….ÔÇØ tiba-tiba terdengar suara tante wardani memohon dari luar pintu kamar.

Pintu kamar yang setengah terbuka terhenti, aku yang bersembunyi didalamnya sudah bersiap-siap untuk menubruk tubuhnya. Tetapi Om nico kemudian membalikan badan dan menuju ke arah suara itu, pintu almari tertutup kembali. Aku masih bisa bernafas dengan tenang, sejenak ketakutan itu hilang hanya sejenak entah setelah ini apa yang akan terjadi. Jika aku masih disini dan om nico bergerak ke almari lagi, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Kulihat tubuh lelaku itu keluar dari kamar.

ÔÇ£Dasar anjing! Kamu ingin kontol! Bukannya tadi kamu sudah dapat kontol!ÔÇØ bentak om nico diluar ruangan. Kesempatan ini tidak aku buang sia-sia, segera aku berpindah lagi ke almari sebelah yang memiliki model yang sama. Tapi sialnya almari sebelah ini malah banyak sekali pakaian yang tertumpuk tanpa dilipat dahulu. Tanpa pikir panjang aku masuk karena tidak ada tempat sembunyi yang lain lagi. Aku posisikan diriku duduk dan kututupi tubuhku dengan menggunakan pakaian-pakaian yang ada didalam almari. Aku copot baterai sematponku agar tidak terjadi lagi gangguan.

Dari dalam almari ini aku masih dapat menyaksikan adegan panas dari ekdua insan manusia ini. Terlihat om nico sedang menyeret tante dengan tali yang mengikat lehernya. Diseretnya dia masuk kedalam kamar hingga tubuhnya itu bergesekan dengan lantai kamar. Ditariknya tali itu hingga membuat tante wardani tercekik, kemudian om nico duduk bersandar pada sebuah bantal di tempat tidur itu.

ÔÇ£Ayo merangkak naik kesini!ÔÇØ bentak om nico. Wanita paruh baya yang sebenarnya sudah sangat berumur ini sangat terlihat elegan dan cantik sekali. Wajahnya tidak memperlihatkan dia berumur lebih, jika aku memandangnya berkali-kali aku bisa melihatnya dia seperti wanita berumur 25 tahunan keatas. Wajahnya dipermak dan terlihat lebih cantik, susunya dipoles terlihat sangat sekal dan besar, tubuhnya pun masih sangat halus dan putih bersih tak ada keriput di kulitnya. Memang jika dibandingkan dengan Ibu sedikit berbeda, tante wardani lebih muda. Ya jelas, karena semua tubuhnya telah diamplas dengan ÔÇ£plastikÔÇØ (operasi plastik-red).

ÔÇ£Tuan bolehkah saya ngemut kontol tuan?ÔÇØ Ucap tante warda

ÔÇ£Bagus… bagus kamu pintar sekali, ya aku perbolehkan nthe ha ha haÔÇØ ucap om nico

Tante kemudian merangkak naik ke atas ranjang, tepat diselangkangan om nico. Diraihnya batang yang telah lemas itu tadi dan dijilatinya perlahan. Jilatan demi jilatan di sapukan pada batang penis om nico yang lumayanlah (enggak enak kalau ngejek om nico ters he he he). Jilatan itu berhenti pada ujung penis om nico. Digerakannya lidah itu turun ke bawah menuju ke bagian zakar om nico.

ÔÇ£owghhhh…. argghhhh… jilatanmu hari ini argghhhh beda sekali nthe…. owugghhhhh..ÔÇØ

ÔÇ£bagus nthe, terus… edian lidahmu buat aku keenakan, dasar lonthe murahan arghhhhÔÇØrintih om nico

ÔÇ£Tuan bolehkah saya menjilati anus tuanÔÇØ ucap tante wardani

ÔÇ£Terserah kamu! Kamu itu lonthe tugas kamu ya memuaskan aku!ÔÇØ teriaknya

Tante kemudian sedikit mengangkat pinggul om nico, dijilatinya buah zakar om nico kemudian turun ke arah anusnya, dijilatinya anus om nico dan memaksa memasukan lidahnya ke dalam anus itu.

ÔÇ£Arrghhhh…. enakkhhhh lonthekuhhhhh……ÔÇØ ucap om nico. Jilatan itu terliht semakin menggila dan semakin cepat membuat om nico kelojotan setengah mati. Tiba-tiba om nico menjambak rambutnya, tubuh tante dilemparnya kesamping.

ÔÇ£Gila kamu nthe, baru kali ini kamu ketagihan kontolku ha ha ha biasanya kamu tidak cukup beringas seperti ini!ÔÇØ bentaknya. Diikatnya tangan tante dengan borgol ke ujung ranjang. Om nico kemudian menjilati vagina tante dengan buasnya.

ÔÇ£Arrghhhh tuaaannnn enaaakkkkhhh arggghhhh jilati memekku tuanhhhh arggghhh aku suka llidah tuanhhhh arghhhh owghhhh aku mohon….ÔÇØ

ÔÇ£Itilku diapakan tuanhhh arghhhhhh enakkhhhh lidah tuan enakkkhhhhhh arghhhhhh lebih dalam lagi tuannhhhh…. lidah tuanhh enakkkhhhhh arghhhhhh…..ÔÇØ racau tante wardani

Om nico kemudian menghentikan jilatannya dan kemudian mengacungkan penisnya ke arah vaginanya. Dan blesss masuklah penis itu kedalam vagina tante, om nico kemudian mulai menggoyang pinggulnya.

Plak… Plak… plak… tamparan om nico pada susu tanet wardani

ÔÇ£ouwghhh tuannnnhhh arggghhhh kontol tuannnhhh sangat enakkkhhhh lonthemu ingin sekali dikontoli tuannnhhhh argggghhhh teruusssshhhhh….ÔÇØ racau tante

ÔÇ£Ha ha ha ha tentu saja lonthe kamu itu lonthe harus suka sama kontolku ha ha haÔÇØ ucap om nico dengan tawanya

Baru beberapa menit menggoyang om nico, tubuh om nico tampak menegang. Kemudian rebah di atas tubuh tate wardani. Di remas-remasnya susu tante dan dia tampak sedikit menggigit-gigit susu tante wardani.

ÔÇ£Lonthe, kamu benar-benar hebat hari ini, aku puas ha ha haÔÇØ ucap om nico dan kemudian melepaskan ikatan tante wardani. Om nico kemudian mengambil flashdisknya kembali dari leptopnya. Om Nico baru saja akan melangkah keluar kemudian dia mengalihkan pandangannya ke almari yang aku tempati tadi, terlihat wajah tante wardani agak sedit ketakutan. Dibukanya almari pertama dan dia tidak menemukan apapun disana karena aku sudah berpindah. Tetapi sialnya dia melangkah menuju almari yang aku tempati. Kututupi tubuhku dengan pakaian-pakaian yan berada dalam almari tapi sialnya pada bagian kepala aku hanya bisa menutupi dengan beberapa baju yang apabila dibuka akan terlihat wajahku. Dengan keringat semakin mengucur karena kurangnya oksigen dalam almari ini, om nico membuka almari. Terasa tanganya mengambil pakaian yang ada diatasku dan…

ÔÇ£Tuan tolong saya tuan, biarkan saya bermain dengan kontol tuan, lonthemu ini memohon tuanÔÇØ ucap tante wardani. Wajahku yang sudah tidak tertutup oleh pakian itu dapat melihat jelas om nico yang seketika mendengar permintaan tante wardani mengalihkan pandangannya ke arah tante wardani tanpa melihat ke arahku. Pintu almari masih terbuka dan pakaian diatasku masih di tangan om nico.

ÔÇ£Dasar Lonthe, main saja dengan mainanmu itu!ÔÇØ bentak om nico yang seketika itu pula melempar kembali pakaian yang dipegangnya ke arah wajahku. Dibantingnya pintu almari itu dan selamatlah aku. Om nico kemudian mengambil sebuah penis mainan di balik bantal kasur itu.

ÔÇ£Buka tempikmu lonthe!ÔÇØ bentak om nico

ÔÇ£Oh tuan, saya mohon tuan masukan benada itu tuan, aku mau jadi mainanmu tuan, masukan tuanÔÇØ ucap tante wardani sambil membuka selangkangannya ke arah om nico. Dengan cepat dimasukan penis mainan itu kedalam vagian tante wardani dan dinyalakannya.

ÔÇ£ouwrghhhh tuannnhhh arghhh tuan enaaakkkkhhh arghhhh…ÔÇØ ucap tante wardani

ÔÇ£Dasar lonthe, kamu harus dimasuki beberapa kontol lagi biar jadi anjing pemuas ha ha haÔÇØ bentak omnico yang kemudian menyeret tante wardani dan melangkah keluar kamar. Layaknya anjing, tante merangkak dari tempat tidurnya megikuti om nico. Dengan desahan-desahan karena goyanga penis mainan di vaginanya. Masih didalam almari ini aku sangat bersyukur tidak terjadi apapun kepadaku.

ÔÇ£Fyuuuh hampir saja ketahuan…ÔÇØ bathinku

Beberapa saat kemudian terdengar suara om nico keluar dari rumah dan suara mobilnya pun bergerak menjauh. Aku kemudian keluar dari almari kamar dan menuju ke laptop om nico. Kulihat file-file om nico hanya sedikit di dalam laptop itu karena hanya menimpan video, foto dan beberapa dokumen-dokumen penting. Ku copy semua file yang ada dalam laptop tersebut ke dalam flashdisku yang selalu aku bawa dalam tas-ku. File yang aku copy cukup banyak hingga ke dalam memory sematponku pun penuh. Aku kemudian memasukan ke dalam tasku. Terdengar suara langkah orang naik tangga, ku coba mengintipnya dan ternyata tante wardani yang sudah mengenakan pakaian kembali mungkin karena tadi harus membuka tutup gerbang pintu rumah. Aku pun kemudian duduku di ranjang dan begitupula tante.

ÔÇ£Apakah tante selalu melakukan itu?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya, tapi untuk yang tadi tante hanya melakukannya karena tante takut kamu ketahuanÔÇØ

ÔÇ£Sebelumnya tante tidak pernah melakukan hal menjijikan seperti itu ArÔÇØ ucap tante. Aku kemudan rebah di atas kasur itu, kucium bau-bau sperma dari kasur itu. Tiba-tiba kedua tanganku ditarik oleh tante dan diborgol di ujung ranjang.

ÔÇ£Arya, maafkan tante, tapi tante benar-benar butuh, mereka tidak pernah memberi tante kepuasan sama sekali, tante juga tidak pernah puas dengan kontol-kontolan ituÔÇØ ucap tante yang kemudian perlahan membuka celanaku

ÔÇ£Tante, jangan, jika tante melakukan itu, aku akan sangat menyesalinya dan bersalah kepada pak kocoÔÇØ ucapku memohon sambil mencoba mengapitkan kedua buah pahaku

ÔÇ£Sudahlah Ar, asal kamu tidak mengatakannya dia tidak akan tahu, tante benar-benar butuh, dan kamu satu-satunya laki selain mereka yang masuk kedalam rumah iniÔÇØ ucap tante kemudian meremas dedek arya membuat pertahananku jebol. Dilorotkannya celanaku dan celana dalamku. Toeeeeeeengg…. AKU BEBAS AKU BEBAS! Teriak dedek arya.

ÔÇ£Ahh…. besar sekali ar… tante belum pernah mendapatkan seperti ini, ini lebih besar dari punya suamiku dulu, 9-11 lah, ehmmmmmmm, dibandingkan mereka berdua jauh sayangÔÇØ

ÔÇ£maafkan tante, tante tidak akan berlama-lama sayang, suamiku maafkan akuÔÇØ ucapnya sembari mengulum dedek arya

ÔÇ£Argghhh tanteehhhhhhh ouwhhhhhhhh jangannhhhhh arghhhhhhh….ÔÇØ rintihku memohon

Tante tidak mempedulikan lagi suaraku, dia tetap mengulum dan mnjilati dedek arya dengan sangat buas. Dijilatinya setiap bagian dari batang dedek arya dengan lidah manisnya itu, tak ada yang lepas dari lidahnya. Dikulumnya dedek arya, sangat terasa ketika kulumanya berhenti pada ujung dedek arya, di sedot-sedot lubang kencingku membuat aku tak tahan untuk mendesah.

ÔÇ£Arrrggghhh… tantehhhhh ufthhhhh… janganhhhhh arghhhhh…..ÔÇØ racauku, lama kuluman itu kemudian tante menghentikan kulumannya. Di pegangnya buah dada tante dan diapitnya dedek arya dengan susu tante itu. Diludahinya dedek arya untuk memepermudah laju dedek arya di antara susunya. Aku hanya bisa mengangkat kepalaku dan memandang kebawah melihat kegiatan tante, tanganku terikat sangat kuat oleh borgol besi ini.

ÔÇ£Aryahhh… susu tante nikmath kanhhh kontolmu besarhhhh tante ingin walau sekalihhh boleh ya sayanghhhÔÇØ ucapnya sambil timbul tenggelam menggoyang tubuhnya agar susunya mengocok dedek arya. Setiap kali dia tenggelam dimasukannya dedek arya kedalam mulutnya.

ÔÇ£clek celk slurp clek celk slurp clek celk slurp clek celk slurpÔÇØ bunyi ketika tante mengocok dedek arya dengan susunya serta mengulumnya. Aku hanya dapat menahan rintihan nikmatku. Beberapa menit setelah tante puas dengan mempermainkan dedek arya. Tante kemudian berdiri mencopot semua pakaiannya dan telanjang dihadapanku. Dia kemudian mengangkang di atas dedek arya. Aku sedikit tertegun melihat keindahan tubuhnya membuat aku tambah ON, Tubuhnya sangat indah, susunya sekal sempurna dan tidak tampak mengendur, wajahnya terlihat sendu dan menginginkan kepuasan, kulitnya putih bersih.

ÔÇ£Ini semua adalah hasil karya mereka, mengoperasiku berkali-kali agar tubuhku kembali menjadi muda lagi, aku sudah memperlihatkannya kepadamu, aku harap tubuh ini bisa memberimu kenikmatanÔÇØ ucap tante warda, sembari memegang dedek arya dan mencoba memasukannya

ÔÇ£Tante, aku mohon janganhhh aaarghhhhhhhh…..ÔÇØ ucapku tercekat ketika dedek arya memasuki lubang vaginanya. Sangat sempit dan sangat rapat berbeda dengan milik tante ima dan mbak maya. Dibandingkan dengan Ibu hampir sama tapi milik Ibu lebih rapat lagi.

ÔÇ£Maafkan tantehhh owrghhhhh kontol kamuhhhh besarrhhhh ar…. tanteehhh sukaaaahhhh arghhhhhhh….ÔÇØ rintih tante menahan nikmat, perlahan dedek arya mulai tenggelam dalam vaginanya. Dibenamkannya sejenak dengan mata terpejam menikmati sensasi dari dedek arya.

ÔÇ£owghhhh enaakkkkh sekali ar… tante… lihat susu tantehhh ar… lihatlah… dia bergoyang kegirangan… karenahhhh kontooolllllh arghhhhhhhmuuuhhhh….ÔÇØ ucap tante arya sembari menaik-turunkan pinggulnya

ÔÇ£ouwghh arya… kontolmu mengenai rahim tantehhh owghhh nikmathhh ar… aahhhh… tante tidak pernah menikmati seks ini yang paling nikmathhhh aryaaahhhh tante suka kontolmuhhhh owhhhh yaaahhhhh tante sukaaaahhhh…ÔÇØ ucapnya sembari membuka mulutnya terkadang mengeluarkan lidahnya.

ÔÇ£Argghh tantehhhh owghhhh…. lebih cepat tantehhhhh…. arghhhh…. cepathhhh….ÔÇØ ucapku agar segera bisa menuntaskan permainan ini. dengan sedikit menekuk lututku aku kemudian mulai menggoyang pinggulku, aku terhanyut dalam pemerkosaan ini. memang hidup seperti diperkosa, mau tidak mau harus dinikmati, tapi bagaimana jika kita benar-benar diperkosa? Mau tidak mau kita harus menikmatinya juga. Aku sedikit mengangkat pinggulku ketika tante menghentakan pinggulnya kebawah.

ÔÇ£owhhh aryyaaaaaaaaaaaaa… nikmathhhh sekaliiii arghhhhhhhh…. terus sayangkuhhh arghhhh beri tantehhh kenikmatannnhhh arghhhh enaakkkkkhhhhhb sekaliiihhhh owghhhhh… yahhhh kontolmu enak sangat enak, memekku keenakan… ini sangat enak…. arggghhhhÔÇØ teriaknya, sambil menggoyang pinggulnya sangat cepat dan …

ÔÇ£Tantehhh keluarrrgggghhhhhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaÔÇØ teriak tante seketika itu, Tubuhnya kemudian ambruk dan tampak nafasnya tersengal-sengal.

ÔÇ£Kamu belum keluar sayanng hash hash hash hash maafkan tante…ÔÇØ ucapnya kemudian memelukku dan menggoyang kembali pinggulnya. Membuat gesekan-gesekan antara dinding vagina mebuat aku kembali terhanyut dalam permainannya, aku kemudian ikut menggoyang pinggulku.

ÔÇ£Owghhh aryahhh kontol kamu nikmathhh sekalihhhh kamu suka kan vaginaahhhh tantehhhh owghhhhhh… rahim tante kenahhh sodokkhhhh akhhhhh banjiriihhh rahimmm tantehhh denganhhha arghhhh pejumuhhhh arggghhhh ÔÇØ rintih tante yang kemudian mengangkat tubuhnya dan membusungkan dadanya

ÔÇ£Tantehhh cepathhhh… aryahhh sudah tidakkhhhh kuathhhh arghhhhh… cepathhh tanthhhh arghhhhh….ÔÇØ ucapku

Goyangan kami semakin beradu dalam frekuensi yang sama, membuat tante semakin menggila. Semakin cepat dan semakin kuat cengkraman vaginanya membuat aku kelojotan sendiri. Dan…

ÔÇ£Aryahhh tante keluar lagi kontol kamuhhh enaaaaaaaaaaaakkkkkhhhh….ÔÇØ teriaknya

ÔÇ£Aku juga tantehhhh…..ÔÇØ teriakku

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Tubuhku melemas, tubuh tante ambruk. Dengan tenaganya dibukanya borgol ditanganku. Tante kemudian memelukku dan aku hanya meletakan tanganku diatas punggungnya. Terlihat jelas tante sangat puas hari ini. Aku sebenarnya sedikit marah kepada diriku, tapi sudahlah semua telah terjadi dan wanita ini memang membutuhkannya sedangkan aku sedikit menikmatinya.

Matahari telah terusir oleh sang bintang, terang telah meredup digantikan oleh gelap. Tubuh wanita setengah baya ini rebah tak berdaya di atas tubuhku. Lama sekali tubuh wanita ini berada diatas tubuhku, aku kemudian menyampingkan tubuh tante wardani kesamping dan duduk ditepian ranjang, kuambil dunhill mild-ku dan kusulut. Baru sebentar aku menyesali kejadian yang baru saja terjadi tiba-tiba saja Tante wardani bangkit dan duduk disampingku, kemudian di turunkannya kepalanya ke arah dedek arya.

ÔÇ£arhh tantehh sudahhhh…ÔÇØ ucapku sambil mencoba mengangkat kepalanya. Bibirnya sudah mengulum batang kemaluanku, dan kucoba lebih keras lagi tapi tante masih mengulumnya. Dikulumnya dan dibersihkannya dedek arya dari sisa-sisa cairan kenikmatan kami berdua yang telah bercampur. Setelah semua itu usai aku kembali mengenakan celanaku dan tante masih tetap telanjang di hadapanku. Aku kemudian mengambil pakaiannya dan memakaikannya kembali.

ÔÇ£Arya harap ini tidak terjadi lagi tante, karena saya telah berjanji pada pak kocoÔÇØ ucapku sedikit menyesali perkosaan tadi

ÔÇ£Maafkan tante, karena selama ini tante tidak pernah mengalami puncak dengan mereka berdua, bahkan beberapa wanita simpanan mereka yang mereka bawa kemari untuk pesta seks juga mengatakan hal sama kepada tanteÔÇØ ucap tante.

ÔÇ£Sudahlah tante, tapi tolong tante tidak menceritakannya kepada pak kocoÔÇØ ucapku lirih kemudian bangkit dan berdiri diikuti oleh tante wardani. Kami kemudian berjalan kebawah dengan tante menggandeng tanganku. Aku pun tetap kaku pada tanganku agar tidak menggenggamnya.

ÔÇ£Jika kamu bertemu kembali dengan suamiku, aku memohon kepadamu agar tidak menceritakan semua perlakuan mereka, aku takut menyakiti hatinyaÔÇØ ucapnya sembari duduk diruang tamu dan aku duduk didepannya

ÔÇ£Berarti Aku harus bercerita kepada pak koco mengenai pemerkosaan ini?ÔÇØ ucapku santai sambil memakai sepatuku

ÔÇ£Ya, tidak juga ar…ÔÇØ

ÔÇ£Ar, apakah kamu bisa mencari anakku juga?ÔÇØ ucap tante tiba-tiba

ÔÇ£Belum tahu tante, apakah tante tahu keberadaanya dimana?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Tidak aku tidak tahu, setahuku dia berada di luar kota, hanya itu yang aku tahu dari nicoÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Jika dia ditangan om nico mungkin saja…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Tidak, nico sudah berjanji kepadaku…ÔÇØ

ÔÇ£Tapi aku juga tidak tahu jika suatu hal terjadi padanya, terakhir ketika dia menghubungiku, dia hanya berkata padaku kalau nico tidak berani menyentuhnya dan dia ku suruh untuk menjauhiku agar dia tidak tahu tentang kesehariankuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Kelihatanya dia anak akan menjadi anak yang baik tanteÔÇØ

ÔÇ£Jika nanti ada informasi aku akan langsung menuju ke kota tempat dia tinggal tanteÔÇØ ucapku dengan senyuman dan asap dunhill yang keluar dari mulutku.

ÔÇ£Apakah dia sebelumnya tidak pernah tahu mengenai tante yang selalu dipermainkan oleh mereka?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak pernah, tidak pernah jika menyaksikannya secara langsung karena selama dia tinggal bersamaku, aku hanya mau melakukannya diluar rumah, di hotel atau dimanapun asal jauh dari putriku, jadi dia tidak pernah mengetahuinya, hanya saja ketika aku meminta nico untuk melepaskannya dia sudah aku beritahu sedikit mengenai semua yang terjadi, mungkin dia shock tapi dia bisa menerimanya, hingga saat ini yang membuatku tegar dan bertahan adalah dia putriku satu-satunyaÔÇØ jelas tante wardani

ÔÇ£Baik tante, aku juga akan mencari tentang anak tanteÔÇØ ucapku kepada tante

ÔÇ£Tante, jika suatu saat nanti tante mempunyai informasi, tolong kabari aku tanÔÇØ ucapku sembari berdiri dan melangkah keluar diikuti oleh tante

ÔÇ£Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi dari beberapa pembicaraan mereka, mereka melakukannya tidak hanya berdua, ada beberapa orang dari pemerintahan di daerah ini juga terlibat, mereka semua mengeruk keuntungan dari berbagai pihak swasta yang bonafit, sehingga sulit bagi pihak kepolisian dan intelejen untuk menangkap mereka karena sangat kuatnya koloni mereka yang terdiri dari para pejabatÔÇØ jelas tante wardani

ÔÇ£Hmmm… mungkin aku harus menyelidikinya dulu tante, terima kasih tante, taksinya sudah datangÔÇØ ucapku sembari memberi kecupan pada keningnya. Sebelum berpisah, Tante kemudian memberikan nomor teleponnya dan aku menyimpannya.

ÔÇ£Oia tante, Siapa nama anak tante?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Warda, warda sukoco awalnya tapi kemudian diganti oleh nico menjadi warda nicolaswatiÔÇØ ucap tante. Nama yang sangat asing ditelingaku, masa bodohlah aku tidak akan memaksakan diriku untuk mencari anaknya itu, terlalu sulit bagiku.

ÔÇ£Oke tante, aku pasti bisa menyatukan kembali tante dengan keluarga tanteÔÇØ ucapku sembari menutupkan jaket ke seluruh kepalaku. Aku kemudian berlari sembari menutupi wajahku dengan jaket, dan masuk kedalam taksi yang berada di seberang jalan. Tampak tante wardani kemudian menutup kembali pintu gerbang tampak jalan sangat sepi dari penghuni jalan yang biasanya melintasi jalan ini. Pak sopir kemudian mengendarai taksi ini menuju warung wongso.

ÔÇ£Mas, mas harus hati-hati lagi, tadi setelah mas masuk, mobil BMW itu masuk kedalam rumah itu lagi, mas tadi ketahuan tidak?ÔÇØ ucap pak sopir

ÔÇ£Tidak pak, aman saya sembunyiÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pokoknya harus hati-hati masÔÇØ ucap pak sopir

Sambil menikmati perjalananku, aku memasang kembali baterai sematponku. Kupasang dan kunyalakan nampak sms dari tante ima masuk. Kubuka sms itu dan kubalas.

From : Tante ima
Arya, bisakah kamu memberikan nomor pakdhemu kepada tante?
Tiba-tiba saja telepon dari tante ima masuk, kuangkat dan tante langsung berbicara.

ÔÇ£Ternyata tante salah mengira jika pakdhemu akan memilih tanteÔÇØ

ÔÇ£Tante, biarkan mereka hidup bahagia keinginan tante telah terwujud

ÔÇ£Bisakah…ÔÇØ

ÔÇ£Tidak tante, aku hanya ingin mereka bahagia itu saja tante, maaf tanteÔÇØ

ÔÇ£Hiks memang mungkin hidupku harus seperti ini, salam buat pakdhemuÔÇØ

ÔÇ£Tante, cinta memang harus memiliki tapi jika salah satunya telah memilih jalan lain dan jalan lain itu juga memberikan cinta, carilah cinta yang lainnya lagi tanteÔÇØ

ÔÇ£Ah… kamu itu Ar, mungkin memang harus begini keadaanya bersama dengan bajingan ituÔÇØ

ÔÇ£Tenang saja tante, suatu saat Arya akan merubah keadaan buruk iniÔÇØ

ÔÇ£semoga saja… berhati-hatilah, jika ada waktu main kerumah tanteÔÇØ

ÔÇ£Mungkin ya mungkin tidak tanteÔÇØ

ÔÇ£Ya sudah, terima kasih Arya, kamu telah menyadarkan tante bahwa cinta tidak seharusnya memaksaÔÇØ

ÔÇ£sama-sama tanteÔÇÖ dan klek tuuuuuut… tante menutup teleponya

Perjalanan ini membuatku sangat mengantuk dan lelah apalagi baru saja aku berada dalam adegan horor dan mencekam. Untung saja aku bisa lolos jika bukan karena permainan tante wardani tadi mungkin aku sekarang sudah berlari sebagai seorang pembubuh.

ÔÇ£Arya…ÔÇØ

ÔÇ£Arya Mahesa Wicaksono…ÔÇØ ucap pak sopir membuat aku tertegun dan terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa tahu nama lengkapku apakah budhe yang memberitahuku ketika dia memintanya untuk menjemputku di rumah kakek? Aku kemudian mendekatkan kepalaku di samping pak sopir.

ÔÇ£Bagaiman bapak tahu tentang nama lengkapku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Karena bapak selalu mengawasimu dari kejauhanÔÇØ ucap pak sopir

ÔÇ£Siapa bapak sebernarnya? Apa bapak suruhan mereka berdua?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£NAJIS! TIDAK AKAN AKU MENJADI SURUHAN BAJINGAN-BAJINGAN ITUÔÇØ teriak pak sopir membuatku sangat kaget

ÔÇ£Den, Aden Arya… Bapak adalah suruhan Pak Wicak dan Ibu Mahesawati untuk selalu mengawasimuÔÇØ ucap pak sopir membuat aku kaget dan sangat terkejut, aku langsung memosisikan tanganku keleher pak sopir itu

ÔÇ£Berhenti! Bapak jangan bohong, kakek dan nenek sudah meninggal, mana mungkin mereka menyuruh bapak, harta saja mereka sudah tidak punyaÔÇØ ucapku sedikit membentaknya

ÔÇ£Sudah lepaskan dulu bapak akan menjelaskan kepada den aryaÔÇØ ucap pak sopir. Aku lepaskan cekikan di lehernya, bapak itu kemudian menyulut rokok sampoerna dari sakunya.

ÔÇ£Nama Bapak adalah Wanadi, Bapak adalah Sopir dari Pak Wicak dan Ibu Mahesa dikala mereka jaya. Anak-anak bapak disekolahkannya oleh mereka hingga S2, hingga anak bapak mempunyai perusahaan taksi ini. Dulu ketika kamu lahir kakek dan nenekmu sangat khawatir akan keselamatanmu dan mereka menyuruh bapak untu mengawasimu sejak kamu lahir sampai sekarang. Waktu ada Ibu-Ibu menelepon ke admin perusahaan untuk menjemput aden, anak bapak yang merupakan pemilik perusahaan taksi ini mendengarnya dan langsung mengabari bapak untuk menjemput aden dan wajar jika bapak tahu nama aden, bahkan sebelum aden bisa menyebut nama aden sendiri bapak sudah tahuÔÇØ

ÔÇ£Aden, jangan kaget, setelah anak-anak bapak disekolahkan oleh kakek dan nenekmu, bapak berjanji kepada mereka untuk selalu mengabdi pada mereka, bahkan bapak tidak mau dibayar oleh mereka. Hingga mereka jatuh tersungkur dibawah pun anak-anak bapak juga sering mengirim uang dan makanan kepada kakek dan nenekmu. Sekalipun mereka miskin dengan rumah gubuknya, mereka tetap TUAN BESAR bapak. Dan kebahagiaan bapak adalah aden telah menemui mereka, dan itu adalah yang mereka inginkan den, bertemu dengan aden dan menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan adenÔÇØ jelas pak sopir, aku kemudian merebahkan tubuhku di kursi mobil ini kemudian menyulut sebatang dunhill

ÔÇ£Aden… aden harus hati-hati, jika nanti terjadi sesuatu pada aden, bapak akan sangat malu kepada Pak Wicak dan Ibu MahesawatiÔÇØ ucapnya kembali, yang kemudian menjalankan mobil itu

ÔÇ£Pak terima kasih, dan maafkan jika arya terlalu kasar tadi, karena jika teringat kakek dan nenek, Arya sangat terbakar emosinyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Semua orang yang dulu menjadi abdi dalem kakek dan nenek aden yang di kota ini, juga sangat emosi terhadap anaknya, dan mereka selalu mendoakan kejatuhan mereka berduaÔÇØ ucap pak Wan (Wanadi)

ÔÇ£Semua orang ?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya, banyak dari mereka ada di daerah ini, salah satunya karena jasa besar kakek dan nenek aden mereka disini untuk selalu mengawasi aden, jika si bajingan itu berani melukai aden, akan ada perang dunia, bapak jamin itu semuaÔÇØ ucap pak Wan

ÔÇ£Katakan pada mereka, jangan pak… biarkan aku yang membuat dia menyesali perbuatannya selama iniÔÇØ ucapku, terlihat senyum pak wan dari kaca tengah mobil. Mobil melaju semakin melambat menandakan tujuanku sudah semakin dekat. Taksipun berhenti, ketika aku mau membuka pintu tiba-tiba pak wan keluar dengan cepat dan membukakan pintu untukku. Aku yang terkejut dengan perlakuan pak wan kemudian keluar.

ÔÇ£Bapak tidak perlu seperti itu pak, saya juga tidak membayar bapak untuk melakukan hal ituÔÇØ ucapku

ÔÇ£Den…ÔÇØ ucap bapak sambil menunjuk didadanya

ÔÇ£Banyak hutang bapak kepada kakek aden yang belum bapak lunasi atau bahkan tidak bisa sama sekali bapak lunasi, jadi jika aden butuh bapak tinggal menelepon bapak, bapak akan datang dan siap mengantar aden kemanapunÔÇØ ucap pak wan, aku kemudian memeluk pak wan. Ketika aku mau membayar untuk taksi.

ÔÇ£Uang aden itu tidak laku untuk membayar taksi ini, mending buat makan diwarung teman aden ituÔÇØ ucap pak wan, kemudian kami berpisah dan aku melangkah menuju warung wongso yang sudah duduk didepan warung, aku kemudian duduk disampingnya

ÔÇ£Sudah tahu siapa pak wan, Cat?ÔÇØ ucap wongso (Cat tembok adalah panggilan akrab arya karena kulitnya yang putih)

ÔÇ£Eh… kamu sudah tahu?ÔÇØ ucapku dan dia hanya mengangguk

ÔÇ£Kenapa kamu tidak memberitahuku?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Karena dia yang meminta agar dia yang mengatakannya sendiri aden arya yang guanteng ha ha ha haÔÇØ ucap wongso yang kemudian dia sambung dengan cerita awal dimana ia pertama kali mengetahui pak wan. Pak wan hampir dibunuhnya karena mencari informasi mengenai diriku tapi ketika pak wan menjelaskan akhirnya wongso bisa mempercayainya.

ÔÇ£Kamu ndak nglanjutin kuliah kamu Wong?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidaklah cuti satu tahun dulu, kan kamu tahu Warung semakin rame dan bapak sedang banyak kerjaan bangun gedung walau jadi tukangnya he he he dan adikku juga sedang membutuhkan biaya banyak untuk kuliahnya jadi aku lebih baik mengalahÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kenapa kamu tidak…ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Bilang ke kamu gitu? Terlalu banyak yang sudah kamu berikan kepadaku Ar dan jangan sekali-kali kamu memaksaku atau aku akan lempar kamu ke tengah jalan ha ha haÔÇØ ucapnya sambil tertawa, aku benar-benar terdiam melihat tingkahnya tak bisa aku berkata-kata. Hingga suasana hening menemani kami dengan deru tembakan knalpot dan sorak-sorai mesin mobil saling menendang.

ÔÇ£Ar…ÔÇØ ucap wongso

ÔÇ£Hmmm….ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Terima kasih…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£buat apa?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£karena kamu telah menyelamatkan nyawa Ibuku waktu itu dan membiayai aku masuk kuliah, jika saja kamu tidak ada waktu itu, mungkin aku sudah tidak pernah melihat Ibuku lagiÔÇØ ucapnya dan langsung kupukul punggungnya dengan tamparan tangan, kulihat matanya kembali menggenang

ÔÇ£sudah lama aku ingin mengatakan ini, kamu bukan saudara kandungku dan bukan anak dari Ibu ataupun Bapakku, tapi malah kamu yang berlari melewati kobaran api yang membakar rumah kami bukan aku yang anak kandungnya hiks… ahhhhhÔÇØ ucapnya yang tersengal dan kemudian menghela nafas panjang

ÔÇ£aku benar-benar malu ar, apalagi selama ini kamu yang meminta kakekmu (kakek dari Ibunya) untuk membantu pembangunan rumah kami yang terbakar dan juga membiayai kulaihku diawal masukÔÇØ ucapnya dengan sedikit tersengal

ÔÇ£Kalau kamu bukan saudaraku terus kamu siapaku?ÔÇØ ucapku sambil tersenyum dan dia memandangku dengan tatapan berairnya itu

ÔÇ£Kamu itu bisa saja Ar, dasar CAT TEMBOK PUTIH ha ha ha haÔÇØ ucapnya sambil memelukku dan membawaku masuk kedalam warung

ÔÇ£Lho nak arya, masuk nak anggap saja warungnya sendiriÔÇØ

ÔÇ£Wongso, Arya dibuatkan minuman dulu to yaÔÇØ ucap Ibunya Wongso

ÔÇ£Lho lho lho katanya anggap warung sendiri ya aku buat sendiri to ya, masa dibuatkan kalau gitu aku tak pulang sajaÔÇØ ucapku yang ditimpali pukulan dikepalaku oleh wongso

Kemudian suasana kembali ramai walau banyak pelanggan disana, merekapun ikut tertawa melihat kami. Melihat kami yang berebut membuat minuman berebut memngambil makanan. Kadang pukulan serok masakpun mendarat di kepala kami berdua. Membuat pengunjung lain tampak tertawa melihat acara komedi dadakan ini. hingga kami makanpun selalu saja ada perkelahian antara kami. Waktu menjelang malam 21:00, akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan diantar oleh wongso sampai aku menunggangi REVIA sambil mengirim sms ke Ibu kalau aku akan pulang.

ÔÇ£Kamu hati-hati, jika kamu butuh pasukan kita sahabat-sahabatmu saudara-saudaramu akan mengawalmu, kami siap untuk melawa orang yang berada di dalam BMW ituÔÇØ ucapnya membuat aku terkejut

ÔÇ£Sudah tenang saja, aku sudah tahu banyak dari pak Wan, kamu pokoknya kalau bergerak jangan sendiri, Oke cat tembok putih ha ha haÔÇØ lanjutnya yang aku balas dengan senyuman dan acungan jempol. Kemudian wongso mengatakan kepadaku bahwa akan ada kumpul-kumpul dua bulan mendatang. Aku kemudian menyanggupinya jika tidak ada halangan.

Memang gila hidup ini, hingga kebusukan Ayahku sendiri saja banyak yang tahu, banyak yang mengetahuinya. Mungkin memang aku tidak boleh bergerak sendirian atau aku akan kewalahan. Lamunanku terus bergerak seiring motor yang membawaku menuju rumahku. Hingga motor berada di depan pintu gerbang rumah, pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya. Keluarlah seorang wanita cantik dengan pakaian pas dan cocok dengan usianya. baju warna hitam dengan lengan hingga pada sikunya, belahan dada yang tidak begitu turun menutupi tubuhnya menciut pada bagian pinggangnya dan menutupi sebagian pahanya. Celana hitam bukan jeans menutupi kakinya yang jenjang itu. Wanita itu kemudian keluar dan menutup pintu gerbang rumah dan berjalan ke arahku langsung membonceng di belakangku. Aku hanya bisa melongo melihat itu semua karena begitu cantiknya.

ÔÇ£Ayo, jalan….ÔÇØ ucap Ibu

Di depan rumahku sendiri, mucul sesosok wanita dengan pakaian serba hitamnya membuatnya terlihat sangat putih dibandingkan dengan pakaian yang berwarna lain. Wajahnya yang lembut dan bentuk tubuh layaknya seorang remaja. Tetapi kedewasaanya mulai terlihat ketika melihat rambut yang dikucir sanggul dibelakang kepalanya. Dengan helm tigaperempat warna hitam dia melangkah dan membonceng di belakangku. Sekarang berada di belakangku dan menepuk punggungku untuk menjalankan motorku. Kujalankan motorku dengan pelan, baru beberapa meter berjalan kemudian aku berhenti. Kuraih tanganya untuk memelukku tanpa ada perlawanan sama sekali darinya, terasa mulutnya mencium pundak kananku. Kujalankan motorku kembali hingga mencapai daerah perbukitan yang sepi dan kami berhenti di sebuah taman dipinggiran bukit. Taman itu sangat sepi sekali tak ada satupun orang berada disitu.

Kami kemudian duduk bersebelahan, wanita itu kemudian merebahkan tubuhnya didadaku sambil memelukku. Kupeluk pundaknya denga tangan kiriku dan tangan kananku memluk pinggangnya. Tubuhku ku geser semakin rapat hingga aku bisa mencium rambut wanginya. Tangan kananku memgang dagunya dan kudaratkan ciuman dibibirnya yang berlipstik tipis dengan warna merah jambu. Ciuman kami berbalas, saling menghisap dan melumat satu sama lain. Kuakhiri ciuman itu dengan mencium keningnya, dia kemudian berdiri memandang ke arah luasnya pemandangan itu. Aku kemudian berdiri dan memeluknya dari belakang. Disandarkannya tubuhnya ke tubuhku dan kepalanya bersandar di pundak kananku

ÔÇ£Indah ya… rembulan ituÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Iya, Indah…ÔÇØ ucapku membalasnya, aku semakin memeluknya erat dan tak ingin aku lepaskan dan kukecup pipinya

ÔÇ£Kenapa ingin jalan-jalan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Karena kamu terlalu sering keluar tanpa mengajakku, dan besok Mahesa pulangÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Maaf…ÔÇØ ucapku

Ibu maju ke depan lalu berbalik kearahku denga tersenyum, kedua tangannya terbuka sangat lebar. Aku melangkah maju dan memeluknya, dipeluknya leherku dengan kedua tangannya dan kupeluk tubuhnya erat.

ÔÇ£Bagaimana jika aku benar-benar tak ingin melepaskan Ibu?ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£For Now, i wonÔÇÖt but someday you must…ÔÇØ ucap Ibu.

ÔÇ£But… If i cannot let you go…ÔÇØ balasku

ÔÇ£You can, because someday we will be mother and son again not a lover…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£DonÔÇÖt make me cry dear…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kamu akan menangis jika kamu terlalu sering jauh dari Ibu, Ibu ingin kamu selalu disamping Ibu apapun yang terjadi hingga kamu menemukan cintamuÔÇØ

ÔÇ£before you find you love, please be my lover and i…ÔÇØ ucap Ibu terpotong

ÔÇ£And I will always loving you as lover…ÔÇØ ucapku. Terasa kebahagiaan dihatinya dengan pelukan erat pada tubuhku.

Kupeluk erat tubuhnya, hingga tubuhnya terangkat ke atas dan kuayun-ayunkan. Kadanng aku cium bibirnya sambil aku mengangkatnya. Kurubah posisinya menjadi tertidur di kedua tanganku, tanganya memluk leherku. Aku lalu berlari kesana kemari dengan menggendongnya. Dengan tawa dan candaku serta rasa ketakutan Ibu jika terjatuh aku terus berlari menggendongnya di depan.

ÔÇ£Arya, nanti jatuh nak hati-hati aaaa….ÔÇØ ucap ibu sembari berteriak ketakutan

ÔÇ£Ha ha ha ha tidak… aku ingin menikmati masa sekarang iniÔÇØ ucapku sambil terus berlari, hingga di sebuah taman yang berumput aku menjatuhkan diriku dan langsung memeluknya. Kuangkat wajahku dan kupandagi wajah cantik nan manis itu, senyumku pun dibalas dengan senyumannya. Kudaratkan ciuman di bibirnya dan dibalasnya. Kami berguling-guling tanpa mempedulikan sekitar kami. Ibu berada di atasku dan memandangku dengan penuh senyuman. Direbahkannya kepalanya didadaku. Lama kami berpelukan hingga gerak Ibu membuyarkan keheningan ini.

ÔÇ£Terima kasih…ÔÇØ ucap Ibu, dipandanginya wajahku dengan tatapan manisnya

ÔÇ£Apa aku sudah tidak menarik lagi?ÔÇØ ucap Ibu dan aku emnegerti maksdunya

ÔÇ£Apa harus disini? Dirumah saja, lebih amanÔÇØ ucapku kemudian mengencup bibirnya

Kemudian kupeluk tubuhnya erat hingga aku hampir saja terlelap karena lamanya pelukan. Ibu kemudian bangkit dan menarik tanganku. Aku bangkit, kami berdiri berhadapan dan saling berpandangan. Satu sama lain melempar senyum, diariknya tangan kiriku dan kami mulai berjalan bergandengan. Aku kemudian memeluk pinggangnya dan sedikit aku rebahkan kepalanya didadaku, dan kami berjalan menuju sepeda motor yang menjadi saksi bisu perjalanan kami.

Akhirnya kami pulang dengan kebahagiaan kami, kupelankan laju motor agar perjalanan ini menjadi lebih lama. Dipeluknya aku sangat erat, bibir manisnya menciumi bahu kananku. Kekenyalan aku rasakan di bagian punggungku, mungkin jika terlalu lama perjalanan ini punggungku akan berlubang he he he. Dalam perjalanan nan indah ini tak ada seorangpun mengetahui jika kami adalah Ibu dan Anak. Canda tawa dan gurauan saling kami lempar untuk menghangatkan suasana diantara kami berdua.

ÔÇ£Bagaimana dengan Ajeng? Ibu kok tidak kamu kasih tahuÔÇØ ucap Ibu dari belakang

ÔÇ£Eeee… itu….ÔÇØ ucapku sedikit kebingungan dalam memilih kata-kata

ÔÇ£Hayooo….ÔÇØ ucap Ibu

Akhirnya aku lebih melambatkan motorku dan mulai menceritakan kejadian demi kejadian. Dari awal aku melihat ayah berada dalam mobil BMW hingga rumah tante wardani dan apa yang mereka lakukan terhadap tante wardani selama ini. bahkan sampai kejadian dalam almari dan yang aku lihat beserta pemerkosaan terhadapku.

ÔÇ£Ha ha ha ha ha… Itu benar? Sayang ndak bohongkan sama Ibu? Atau malah sebenarnya yang kamu yang memperkosa?ÔÇØ tawa Ibu pecah dengan pertanyaan memberondong bagai peluru AK-47

ÔÇ£Beneran…ÔÇØ ucapku dengan wajah sedikit bersungut-sunggut

ÔÇ£Iya, iya percaya sama sayang, hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£Tapi lucu juga ya hi hi hiÔÇØ ucap Ibu. Begitulah Ibu selalu meledekku dalam perjalanan pulang ini. Tak henti-hentinya Ibu mengatakan ÔÇ£Tuan.. Tuan.. tolong sayaÔÇØ hanya untuk meledekku. Mungkin Ibu tahu aku sedikit merasa bersalah kepadanya sehingga dia tidak ingin aku larut didalamnya. Dia terus menghiburku, kadag mencium-ciumi bahuku. Hingga sebuah pelukan sangat erat mendekapku, sangat erat. Motorku pun semakin aku perlambat.

ÔÇ£Please… keep with me until that time arrives hiksÔÇØ

ÔÇ£Love me…ÔÇØ

ÔÇ£protect me…ÔÇØ

ÔÇ£hold me tight and save me…ÔÇØ ucap Ibuku lirih membuat aku menghentikan motorku

ÔÇ£Of course… and I promise …ÔÇØ

ÔÇ£until that time comes … ÔÇ£

ÔÇ£Love…ÔÇØ ucap ku membalas

Dengan tangan kiriku menggenggam tangannya yang memelukku, aku melanjutkan perjalanan hingga sampa dirumah. Ku suruh Ibu tetap diatas motor selama aku memasukan motor hingga sampai pada garasi. Setelah semua aku kunci dengan rapat, Kulepas jaketku dan aku langsung membopong Ibu ke dalam kamarku. Satu persatu sandal Ibu berjatuhan, dengan ciuman hangatnya aku membopong hingga dia rebah di atas tempat tidurku. Aku tindih tubuhnya dengan tubuhku, hanya ada suara tautan bibir kami. Ibu kemudian membalik posisinya, aku dibawah ditindih oleh tubuh Ibu. Perlahan ciuman Ibu semakin turun keleherku, tangannya mengangkat kaosku hingga putingkku terlihat, dijilatinya dan dimainkannya jarinya di masing-masing putingku. Kegelian dan membuat darahku semakin mendidih.

Lidah itu turun sampau pada perutku dan bermain-main disana, menunggu kedua tangannya melepas celana jeans dan celana dalamku. Toeeeng…..! ÔÇ£Nah yang ini aku mau kakak, oh Vaginawatiku, aku kangen kamulah yang terhebat vaginawatikuÔÇØ begitulah kata dedek arya. Mengeras dan menjulang tinggi bagai mocong tank yang siap untu digunakan menembak.

ÔÇ£hemm… boleh sayang?ÔÇØ ucap Ibuku, aku hanya mengangguk disertai senyum pada bibirku.

ÔÇ£Argghhh… ouwhh…. ehmmmmmm… nikmaaaaaaaathhh bu….ÔÇØ rintihku

Dihjilatinya setiap batang dedek arya dengan sapuan lidah hangatnya. Tampak sekali tubuh kami berdua sedang terbakar dan tak bisa dipadamkan hanya menggunakan air. Lidahnya mulai bermain-main diujung penisku, di lubang pipis dedek arya membuat aku semakin kelojotan merasakan hal ini. Baru aku merasakan nikmat akan sapuan dan permainan lidahnya, tiba-tiba saja dedek arya mulai masuk kedalam lubang hangat. Kuangkat kepalaku untuk menyaksikannya. Kuluman itu semakin membuat tubuhku menjadi sangat panas. Kepalanya maju mundur memompa dan menikmati setiap nano meter batang dedek arya.

ÔÇ£terussshhhh bu… enak sekali kulumanhhh Ibuhhh… ouwhhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Arya suka dikulum Ibuhhh… arghhh enakkkkh yahhhh begituhh….ÔÇØ rintihku keenakan

Aku merasakan nafsu membara dari Ibu, begitu semangatnya dia mengulum batang dedek arya. Tampak sekali dedek arya kesulitan untuk bernafas. Pertahananku semakin goyah, kuangkat tubuhku dan duduk sambil mengelus-elus kepalanya. Kutarik kepala Ibu dan langsung kuangkat, kudaratkan ciuman di bibirnya.

ÔÇ£ehmmm…. scluppp…. slurpppp… ehmmm….ÔÇØ desahan kami bercampur menjadi satu. Perlahan tanganku memnarik kaos yang dikenakan oleh Ibu.

ÔÇ£Bu, bolehkah arya membukanya…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Iya…ÔÇØ balas Ibu

ÔÇ£Ehmmm….ÔÇØ Desah Ibu

ÔÇ£Kenapa Bu?ÔÇØ ucapku yang baru saja akan mengangkat kaos yang dipakainya

ÔÇ£Tidak tahu, ketika kamu bilang mau membuka membuat Ibu semakin merasakan kehangatanmu…ÔÇØ ucap Ibu, aku hanya tersenyu kepadanya. Kembali kami berciuman dan ku buka kaosnya hingga terlepas. Perlahan aku buka BH yang menutupi susu itu dan pluup terlepaslah susu itu dari sarangnya. Dengan masih berciuman aku remas-remas susu besar itu dengan kedua tanganku. Jari pada kedua tangankupun tak luput untuk memainkan puting susunya.

ÔÇ£Arrgghhh…. Arya…. kamu janganhhh erghhhh mainanhh terussssÔÇØ rintih Ibu sambil melepaskan ciumannya

Aku langsung saja menurunkan kepalaku ke arah susunya. Kujilati satu persatu puting susu Ibu, tak lupa pula aku menjilati setia bagian dari susunya. Doronganku ke susu ibu, membuat Ibu duduk bersandar pada ujung ranjang dengan satu tangannya memelukku dan satu tangannya mengelus-elus dan menekan kepalaku agar semakin bergreliya di susunya. Dengan bibir yang masih mengulum puting susunya itu, aku berusaha untuk melepas celana dan celana dalam Ibu. Dengan bantuan Ibu yang sedikit mengangkat pinggulnya akhirnya terlepas semua pakaiannya. ÔÇ£Oh Vaginawati apa kabarmu disana? Sebentar lagi aku akan masuk sayangkuÔÇØ sapa dedek arya pada kekasihnya. Kukangkankan kedua kakinya dan kuturunkan kepalaku ke arah vagina Ibu tapi ditahannya.

ÔÇ£arggghhh…. Ibu sedang ingin dimasuki bukan dipermainkan itunyaÔÇØ ucap Ibu dengan senyum. Kuraih bantal dan aku letakan dibelakang tubuhnya. Dengan posisi siap menembak, dipegangnya batang dedek arya dengan tangannya. Kudaratkan ciumanku di bibir manisnya dan blesss…. masuklah dedel arya di dalam vaginanya. Kugoyang dengan perlahan dan kucoba menikmatinya.

ÔÇ£Arghhh… pelan nakk akittt… ufthhhh… besarr sekalliiihhhh arghhhh…ÔÇØ ucap Ibu. Tanpa mempedulikan rintihanya aku angkat tubuhnya untuk duduk dipahaku. Kupeluk tubuhnya, susunya menempel pada sebagian dada dan leherku. Ciuman didaratkannya di bibirku. Ibu kemudian menaik turunkan tubuhnya memompa dedek arya, tampak rasa sakit dirasakannya.

ÔÇ£Terussshhh bu… Ibu senangghhhh kanhhh arghhhh…ÔÇØ ucapku, sambil ikut menggoyangkan pinggul walau aku kesulitan

ÔÇ£senaghhh se…ka…lih ouwghhhh….masuk sam… pai kerahim Ibu arghhhh… tempik Ibu penuhhhh arhhhhh semua owghhhhh kontolhhhhmuhhhhh aishhhhh….a arghhhhhÔÇØ

ÔÇ£terus digoyaghhh sayangghhh enakkkkkhhhh tempik ibu keenakannhhhh arghhhhh….ÔÇØ ucap Ibu sambil menengadahkan kepalanya keatas

ÔÇ£Terus nakhhh bu…wathhhh argghhh temhhpikhhh Ibu keenaakkhhkannn orghhhhh…ÔÇØ rintihnya

ÔÇ£Iya buhh… ehmmm… terasa sempithh owhhh buuuhhhh…. hmmmm… Arya keenakan arghhh… tempikh Ibu njepith kontol aryahh… tubuh Ibu hangathhh arghhh… aryah sukaahhh…ÔÇØ ucapku sambil mencoba menggoyang pinggulku

ÔÇ£Iya nakhh Ehmmm… nikmathh sekali kontolmu nakhh ibuhh ibuhh arghhh sukaaahh…ÔÇØ racaunya

Lama kami memacu dalam birahi ciumanku semakin menjelajah diseluruh tubuhnya. Membuat Ibu menggelinjang geli dan kenikmatan. Usapan-usapan pada punggungnya membuat keadaan ini semakin panas.

ÔÇ£Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarghhhh…. .ÔÇØ

Tubuh Ibu ambruk dan bersandar pada tubuhku, cairan hangat mengalir di batang dedek arya yang masih gagah berani di dalam sana. Kuangkat tubuhnya yang penuh dengan kerungat, wajahnyapun tak luput dari aliran deras keringat itu. Kudaratkan ciuman pada bibir manisnya. Beberapa menit setelahnya Ibu kemudian bangkit dan menungging disampingku.

ÔÇ£Ayo sayang, ini kan kesukaanmuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ibuku sayang tahu sajaÔÇØ ucapku sambil tersenyum

ÔÇ£Cepetan, Ibu sudah tidak tahan susu Ibu mau jatuh ini lhoÔÇØ ucap Ibu sedikit bercanda. Tanpa berlama-lama bercakap aku langsung memposisikan tubuhku dibelakang tubuhnya. Kulepas kaos yang masih aku kenakan dan kupegang pinggul Ibu. Diarahkannya dedek arya oleh tangan Ibu ke vaginanya. Dan perlahan masuk akhirnya blesss….

ÔÇ£Ayo sayanghhh kuwhhh puaskan dirimuhhh argggh puaskanhh Ibuuhhh jugaahhhhhh…ÔÇØ

ÔÇ£kontolmuwh argghh dalam sekali nakkhh tempik Ibu jadi arghhh keenakan owghh lebih dalam nakhhh arghhh lebih kuat lagihh goyangnya… Ibu sukahhh setubuhi rahimm ibuh nakkhh aisshhhh arghhhhÔÇØrintih ibu

ÔÇ£tentu saja, akan arya berika kenikmatan padamu buÔÇØ ucap Ibu. Aku mulai menggoyang dan menggoyang pinggulku. Diawali dengan goyangan yang lambat, kemudian aku percepat sedikit demi sedikit.

ÔÇ£Aryaaaaaaaaaahhhh…. tempik Ibu keenakan sayaaanggkuwhhhh…. ehmmmmm aishhhhh aftthhhhhh terus sayangkuh terussshhh erghhhhh goyang lebih kerassshhh ibu mau kamu siram rahim ibu nakhhhh arghhhhhhhÔÇØ racau Ibu

ÔÇ£Iya bu, arya juga keenakanhhh arghhh… nikmat sekali bu… milik Ibu enak… sempithhh… ufthhhÔÇØ rintihku

Gesekan antara dinding vaginaya dan batang dedek arya semakin intens. Kutarik kedua tangan Ibu kebelakang agar bisa menambah penetrasi dedek arya ke dalam vaginanya.

ÔÇ£Arrghhh ehmmmm… terussshhhh masukan lebih dalam lagi… Ibu menyukainyaaahhhh arghhhh… lebih dalam lagi tanamkanhhhh kontolmu di tempikh ibu ya arghhh begituu arghhhhÔÇØ

ÔÇ£ibu sukaahhh aishhh… arghhhh… terusshhh sayang ehmmmm aarghhhhh…..ÔÇØ desahan dan rintihan keluar dari mulutnya. Aku semakin bersemangat menggoyang pingguulku dengan kedua tanganku masih memegang kedua tangan Ibu kebelakang dan..

ÔÇ£aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. ÔÇ£ ucap Ibu yang kemudian ambruk tersungkur kedepan. Aku kemudian memeluknya dan kedua tanganku tepat meremas susunya.

ÔÇ£Hash hash hash hash hash hash….ÔÇØ suara nafas Ibu

ÔÇ£kamu hash hash belum keluar hash hash sayang hash hash…ÔÇØ ucap ibu

ÔÇ£Pengen keluar dipelukan hash hash Ibu…ÔÇØ ucapku membalas ucapan Ibu

Ibu yang tahu maksudku kemudian membalikan tubuhnya dan terlepaslah dedek arya dari vagina Ibu. Dikangkan kedua kaki Ibu dihadapanku dan kuletakan di pinggulku. Perlahan aku memajukan dedek arya yang masih tegang dan tegang.

ÔÇ£erggghhhh…pelaaannnnn ufthhhh….ÔÇØ rintih Ibu yang mengrenyitkan dahinya

ÔÇ£iya sayangku…ÔÇØ ucapku yang kemudian memeluknya dan mencium bibir indahnya.

ÔÇ£AKU TENGGELAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAMÔÇØ teriak dedek arya

Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku, kurasakan dekapan kaki Ibu pada pinggulku sedikit erat. Aku kemudian bangkit dan ku letakan kedua tanganku di pinggulnya. Kedua tangan Ibu aku posisikan menyilang diperutnya sehingga susunya tampak sekali menyembul. Aku mulai menggoyang secara perlahan dan perlahan semakin cepat dan cepat. Gesekan dinding vagina dan kulit dedek arya semakin terasa kuat dan mantap. Susu Ibu tampak bergoyang naik turun menambah sensasi tersendiri bagiku.

ÔÇ£Argghh arya… janganhhh…arghhh jangan aishhhhh arghhhh owghhh berhenti… teruss sayang terushhh… kontol ka…mu bu…wat… tempik Ibu enaaaakkkkhhh arghhhhh… terussshhhh sayang….ÔÇØ

ÔÇ£Hentakan lebih kerashhhh arghhhh owhhhhhhh ehmmmm…. Ibu suka… Ibu kangenhhh kamuhhh… aryaku sayanghhhh…ÔÇØ rintih Ibu sambil kedua matanya terpejam

ÔÇ£Iya bu… tempik Ibu enakhhhh hash hash buat kontol arya keenakanhhh arya juga kangenhhh ibuhhh… owghhh… Ibu arya suka sekali tempik Ibu arghhhh…..ÔÇØ racauku

Aku kemuian menjatuhkan tubuhku dan memeluk Ibu, kuletakan wajahku di samping kepalanya. Jepitan kedua kakinya semakin erat dan pelukan tangan ibu pada tubuhku juga semakin erat. Goyanganku semakin liar dan semakin membuat aku merasakan gesekan-gesekan itu seperti mengamplas dedek arya.

ÔÇ£terusssh sayangkuh… arghhhhh sirami vagina ibu dengan cairanmuwhh owhhhh nak ibu… suka… ibu cinta kamu nakkhhh arghhhh…ÔÇØ ucap Ibu. aku mengangkat kepalaku dan hanya mampu memandangnya, terukir senyum kebahagiaan dari kami berdua.

ÔÇ£Ibu ingin kamu sirami, ibu ingin merasakn kehangatan pejumu nakkk arghhhh ibu cinta kamuwhhh owghhh…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Iya bu akan ku… siramih… vagina Ibu dengan pejukuh owghhh… arya mau kelaurhh bu…ÔÇØ racauku

ÔÇ£Keluarkan… keluarkan di dalam vaginah Ibu…. Ibu juga hampir sampai aryaahhhhh….ÔÇØ racaunya

ÔÇ£Aku keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarr buu….. cintakuuuuuuuwhhhhhhhÔÇØ teriakku dan langsung dipeluknya erat tubuhku, kedua kakinya mengapit erat pinggulku. Terasa cairan hangat dari vagina Ibu menyatu dengan cairanku.

Lama kami beristirahat dan Tak ada percakapan diantara kami berdua. Aku kemudian bangkit dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh kami berdua. Aku peluk tubuh Ibuku yang masuk dalam dekapanku. Aku peluk tubuhnya dan kudaratkan ciuman hangat pada keningnya.

ÔÇ£so warm…ÔÇØ ucap Ibu lirih

ÔÇ£for you….ÔÇØ jawabku

Akhirnya kami tertidur dan terlelap dalam mimpi. Terasa hangat tubuhnya dalam dekapan tubuhku. Jam berdetak menjadi saksi bisu persetubuhan kami. Malam pun mulai lelah dan menjabat tangan pagi untuk menggantikannya. Dua insan manusia masih berada di dalam sini, lelah dengan peluh kenikmatan.

Aku bangun dan tak kudapati Ibu di sampingku, Kulihat jam dinding di kamarku berdetak kencang. Jam dinding itu mengingatkan aku agar segera bangkit dan mengambil kesempatan untuk berkarya pagi itu. Aku kemudian turun hanya menggunakan celana kolor dengan dada tanpa penutup. Kuambil handuk dan segera kekamar mandi, ketika aku sampai dibawah aku terkejut dengan penampilan Ibu. Telanjang dan hanya menggunakan celemek yang menutupi bagian depannya saja.

ÔÇ£sudah mandi dulu sanaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ehh… kalau Ayah tahu bagaimana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Diakan pulangnya nanti sore…ÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£MANDI!ÔÇØ ucap Ibu seakan-akan tahu isi pikiranku, langkah kaki yang semula menuju kearahnya kemudan berbelok menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi aku kemudian mulai membersihkan tubuhku yang penuh dengan keringat ini dan bau dari asam asetat ini.

Tok tok tok… ketukan pintuk kamar mandi aku langsung membukanya

ÔÇ£Mau Ibu mandikan?ÔÇØ tanya Ibu yang tersenyum dengan tubuh telanjangnya. Aku terkejut tapi langsung sadar dan mengangguk sekencang-kencangnya dengan senyum lebar. Ibu kemudian masuk lalu menyalakan shower dan berdiri dibelakangku. Aku sedikit mundur agar tidak terkena ir dari shower. Disabuninya punggungku dengan kedua tanganya, ketika usapan sampai pada pinggulku tangan Ibu kemudian bergerak maju mengelus dan mengocok dedek arya dengan lembut. Terasa kehangatan susunya menempel pada punggungku.

ÔÇ£Arghhhmmmm… enak sekali bu… ehmmmmÔÇØ ucapku yang berdiri tegap didepan Ibu sambil merasakan nikmat elusan dan gesekan susunya pada punggungku

ÔÇ£hmmm… ternyata enakan tangan ya daripada empik Ibu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£argghh… ya enggak gitu bu, enak semua, malah empik Ibu yang paling enak arhhhmm…ÔÇØ ucapku dengan mata terpejam menikmat sensasi mandi sabun ini

Didorongnya maju tubuhku hingga terguyur oleh air shower, dipeluknya tubuhku deng usapan-usapan pada dadaku. Ku arahkan kedua tanganku ke belakang dan memeluknya. Aku akhirnya berbalik dan diusapnya seluruh tubuhku hingga tak ada sabun lagi yang tersisa. Ibu kemudian turun dan semakin turun, diciumnya ujung dedek arya dengan bibir manis yang dihiasi oleh senyumanya. Dijilatinya ujung dedek arya hingga ke pangkal dedek arya, dikulum-kulumnya zakar dedek arya. Aku semakin tidak tahan dengan permainan Ibu, kuangkat tubuhnya dan ku posisikan menungging dengan kedua tangannya bertumpu pada pinggir bak mandi. Kuarahkan dengan tepat dedek arya dan sleebbb masuklah dedek arya ke dalam vaginanya. Aku mulai menggoyang pinggulku secara perlahan.

ÔÇ£Pelan-pelan saja sayang erghhh sabuni tubuh Ibu sekalian arghhhÔÇØ ucap Ibu, segera kuraih sabun mandi cair dan kutumpahkan kepunggungnya sambil masih menggoyang pelan pinggul.

ÔÇ£Tubuh Ibu bagus… jagan dikasihkan ayah lagi ya buÔÇØ ucapku sambil mengusap-usap punggungnya, kemudian tubuhku sedikit membungkuk dan kedua tanganku mengusap serta meremas susu Ibu.

ÔÇ£Kamu suka susu Ibu ya?ÔÇØ ucapnya sambil kepalanya menoleh mencoba melihatku yang ada dibelakangnya

ÔÇ£Iya bu, besar dan kencangÔÇØ ucapku sambil memainkan puting susunya

ÔÇ£besok istri kamu, Ibu kasih ramuannya biar kamu betah dirumahÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Jangan bilang masalah istri dulu bu, sekarang aku dan IbuÔÇØ ucapku tampak senyuman diwajahnya, senyum bahagia atas ucapanku. Setelah semua tubuh Ibu aku sabuni aku arahkan tubuhnya untuk bertumpu pada tembok dibawa shower. Rambut yang di kucir sanggulpun akhirnya terurai. Pemandangan yang jarang sekali aku lihat, karena selama ini rambutnya selalu dalam keadaan digelung kebelakang. Kupegang pinggang Ibu dan aku mulai menggoyang dengan cepat.

ÔÇ£Arrghhh… Ibu aku ingin melihat rambut panjang Ibu, aku suka bu… catikhhh arghhhhh… bu tempik Ibu nyepit aryaÔÇØ ucapku

ÔÇ£iyah nakh erhmmmm… terus goyang nakkhhhh arghhh… buat Ibu keluar nakhhhÔÇØ

ÔÇ£Buat ibu keluar dengan kontolhh arghhh kamuhhh…aishhhhhh arghhhhh ah ah ah ah ahÔÇØ racaunya

Akupun semakin mempercepat goyanganku dengan memgang pinggulnya. Ku percepat laju dedek arya dalam vaginanya hingga tubuh ibu melengking bergoyang tak tentu arah. Aku semakin menikmati sensasi ini kubungkukan tubuhku dan kuremas susunya yang menggantung itu.

ÔÇ£Owgghhh bu, aku ingin menyetubuhi ibu selalu arghhhh enakkhhh sekali bu… aku ingin begini terusssh arhhhhh aku ingin keluar dirahim ibu arghhhh… cumahhh Ibu yang bisahhh bikinhh aryah cepathh keluarhhhh arghhhhhhÔÇØ racauku

ÔÇ£Keluarkanhh keluarkan nakhhh owgh buat ibu juga keluar sirami rahim Ibu dengan pejumu nakhhh owghhh….ÔÇØ

ÔÇ£kontolmuwhh… Ibu suka kontolmuwhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhÔÇØ

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Bersamaan dengan keluarnya cairan hangat ibu keluar pula cairan hangatku dan bersatu. Segera ibu melepaskan dedek arya di dalam vaginanya dan berbalik ke arahku. Dipeluknya aku, wajahnya menengadah keatas, bibirnya terbuka mengharap sebuah ciuman hangat dari bibirku. Kuhempaskan bibirku di bibirnya hingga lidah kami bertautan. Pelukan hangatnya membuat dinginnya air yang berjatuhan dari shower tak terasa. Akhirnya kami saling memandikan tubuh kami dan mengakhiri permainan kami. Kamar mandi ini menjadi saksi bisu permainan kami.

Aku duduk termenung di pinggir kamarku, pandanganku menyapu seluruh ruang kamarku. Memikirkan tentang semua yang terjadi, hingga kudengar sura yang sudah tak asing lagi membuyarkan lamunanku, Ayah. Aku kemudian turun menyambut kedatangannya, melempar senyum yang tak terbalas olehnya. Ayah langsung berganti pakaian dan duduk santai dipekarangan, kudengar percakapan-percakapanya di sematponnya, tak ada yang menarik. Ibu menyuruhku naik keatas agar tidak kena marah jika saja nanti secara tiba-tiba ayah marah-marah lagi. Aku kemudian melangkah ke atas, Ibu hanya duduk bersantai di depan TV, dilemparnya cium jauhnya kepadaku dan aku langsung menangkapnya.

Berada di dalam kamar, kukunci pintu kamarku. Segera aku menyalakan komputerku, kuhubungkan sematponku dan Flashdiskku. Kupindahkan semua file dokumen-dokumen yang telah aku salin dari laptop om nico. Ku lihat satu persatu dokumen-dokumen hasil pemindaian (scanning) ini, semua mengenai bukti transfer dan beberapa dokumen yang menunjukan penggelapan uang pemerintah. Dari semua dokumen yang aku lihat ternyata semua instansi pemerintah ikut di dalamnya. Dilihat dari tahun dokumen-dokumen ini, sudah sangat lama sejak aku berumur dua tahun. Kemudian aku cocokan dengan tahun dimana kakek warno (kakek Ibuku) menjabat kepala daerah. Dan ternyata semua dokumen-dokumen ini paling lama adalah ketika 3 tahun sebelum kakek pensiun dari kepala daerah. Yang berarti 3 tahun sebelum kakek warno berhenti dari jabatanya, Ayah dan Om nico berserta kroni-kroninya sudah mulai mengambil sesuatu yang bukan haknya. Yang menjadi pertanyaanku, Apakah kakek warno juga terlibat dengan kejadian ini? atau adakah sesuatu yang lainnya?

Kuambil dan Kunyalakan sematpon temuanku milik KS. Beberapa pesan BBM masuk dan beberapa ada yang berasal dari Ayahku. Tapi hanya berupa ancaman-ancaman saja yang tidak aku gubris sama sekali. Aku kemudian membuka grup yang diikuti oleh KS yang sebelumnya belum pernah aku buka. Grup Wonge Dewe, beberapa pesan aku baca dengan seksama, semuanya hanya berisi banyolan dan gurauan dari mereka. Beberapa dari nama anggota grup menggunakan nama samaran. Pesan-pesan itu adalah pesan yang baru, dimuali dari bulan kedua, mungkin mereka sudah membicarakan ini semua sehingga mereka sudah mulai berkomunikasi via BBM lagi. Kuamati beberapa foto yang ada di kontak grup tersebut, tampak begitu familiar. Aku kembali lagi pada komputerku dan ku browsing dan mencari tahu siapa saja kepala instansi didaerahku. Dan setelah semua aku temukan dan kusamakan dengan foto yang berada di grup, sama. Jadi semua kepala instansi pemerintah disini adalah PK (Pelaku Korupsi).

Jantungku berdegup sangat kencang, keringat berkucuran menyaksikan semua foto yang tertampang di komputerku adalah sama dengan foto pada Display Picture anggota gru tersebut. Bagaimana ini? mana mungkin aku bisa menjatuhkan mereka semua? Menjatuhkan dua orang yang sangat dekat denganku saja aku kesulitan. Walaupun ada Pak Wan dan beberapa abdi kakek yang dikota ini, ditambah dengan ucapan wongso saat itu, mustahil bisa menghancurkan kepala-kepala instansi ini. sedikit iseng aku buka file video yang ikut tersalin itu, hadeeeeeh video anjing dan tuan lagi, dan langsung aku tutup.

Aku kemudian membuka email, om nico yang aku ketahui sebelumnya dari permainan seks dengan tante ima. Ku buka satu persatu email yang masuk, dimulai dari bulan kesatu, kemungkinan ini adalah waktu setelah surat Ayah sampai pada om nico. Beberapa email lama tidak ada yang menarik hanya percakapan akan ketakutan mereka mengenai semoatpon KS yang ditemukan oleh seseorang. Hingga pada terbaru, yang baru saja terkirim ada sebuah pesan yang penuh dengan teka-teki.

To : Nicolas rahma <[email protected]>

Aku sudah berbicara kepada Si buku, si aspal, dan si tukang
Mereka mau ketemu, tapi Mereka sekarang sedang di luar negeri selama 9 bulan
Sebisa mungkin kita bertemu denga mereka di buat jarang
Agar tidak mencurigakan, info dari mereka kita sedang di awasi
Agar lebih aman, kita gunakan kode
Ini pesan dari mereka :
Pada saat langit berwarna pelangi
Seribu doa terucap
Di cermin darat untuk sang rembulan
Sial, kenapa juga mereka beremail penuh dengan teka-teki seperti ini. aku benar-benar bingung sekali. Padahal jika mereka diawasi kenapa percakapan mereka tidak menggunakan kode semua, kenapa pada awal sebelum pesan dari si buku, si aspal dan si tukang itu tidak menggunakan kode. Sebenarnya mereka penjahat kelas kakap atau kelas teri sich? Dan siapa mereka?

Ada kabar gembira untuk kita semua, kulit durian sekarang ada ekstraknya… bunyi ringtone sms sematponku. Ajeng

Deg… ajeng? Kenapa dia sms aku? Padahal aku yang ingin menemuinya? Ada apa sebenarnya? Apakah dia sudah mengetahui aku sedang dalam misi?

From : Ajeng
Ar, bisa ketemu sebentar
Di tempat pertama kali kita jalan-jalan,
Aku harap kamu bisa datang
To : Ajeng
Ada apa jeng?
Apakah ada yang serius?
Apa Rahman tahu?
From : Ajeng
Tidak, aku cuma ingin bertemu denganmu saja Ar
Rahman masih camping
Aku pun menyanggupinya, ku simpan file-file itu dalam folder tertentu dan aku hidden. Sematponku KS aku simpan di tempat yang teraman. Segera aku persiapkan diriku dan turun kebawah. Aku kemudian pamit kepada Ayahku, dan Ibuku, sedikit aku ceritakan dengan berbisik di dalam garasi tentang semua yang baru saja aku dapatkan. Ibu menyarankan kepadaku agar berhati-hati pada Ajeng. Wushhhh…. REVIA aku kendarai dengan cepat, karena pertemuan dengan ajeng pukul 16:30. Segera aku pacu lebih cepat lagi menuju tempat yang memang enak untuk nongkrong. Sebuah bibir pantai yang dinormalisasi dengan dinding pembatas. Ku parkir REVIA dan segera aku menuju ke tempat itu. Tampak seorang perempuan berkulit putih, perempuan yang dulu aku dambakan untuk menjadi kekasihku sedang bersandar pada pagar pembatas menungguk kehadiranku. Aku melangkah semakin dekat denganya, jarak antara aku dan dia hanya 5 meter saja. Perempuan yang dulu pertama kali aku mengenalnya tampak begitu culun tetapi sekarang sangat berbeda. Perempuan berdarah tiong hua itu kemudian menoleh ke arahku.

ÔÇ£Masih ingat tempat ini Ar?ÔÇØ ucap perempuan itu, Ajeng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*