Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 14

Wild Love 14

Dalam dekapan dan ciuman mesra ini, aku terus berpikir apakah semua ini harus terus berjalan. Bagaimana dengan hati yang aku cintai sekarang ketika aku akan meninggalkannya suatu hari nanti jika aku memang harus pergi. More I love you, more i must let you go. Tapi aku tidak ingin melepaskannya sekarang, bahkan rasa cinta ini tumbuh dengan sendirinya walau aku merasakan sekarang sedikit terhambat lajunya. Pelukan dan ciuman ini aku hanya berharap bukan merupakan suatu akhir, aku belum ingin mengakhirinya. Kulepaskan ciumanku dan kupeluk dengan erat Ibu.

ÔÇ£Sudah sana istirahat duluÔÇØ ucap Ibuku mengakhiri dekapan ini

ÔÇ£Iya bu… cupÔÇØ ucapku seraya memeberikan kecupan pada bibirnya. Aku kemudian melangkah meninggalkan Ibu yang masih berdiri menghadap ke pintu. Tak lupa aku mengambil sematponku dan mematikan lagunya. Hingga di setengah lorong rumah.

ÔÇ£Please, DonÔÇÖt let me go right now…ÔÇØ

ÔÇ£IÔÇÖm not ready yetÔÇØ ucap Ibuku

Aku kemudian membalikan badanku dan melangkah menuju tubuhnya berdiri. Kupeluk erat tubuhnya dengan sangat erat. Kukecup leher jenjagnya dengan aliran nafas.

ÔÇ£sshhhhhh…..ÔÇØ rintihnya

ÔÇ£I promise, until you and I are ready, we will become what it should beÔÇØ ucapku. Kupeluk semakin erat tubuhnya, kedua tangannya pun semakin menggenggam tanganku semakin erat.

ÔÇ£Bu….ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Hmmm…..ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£IBU JELEK WEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK….ÔÇØ ucapku dengan seketika dan melepaskan pelukanku. Aku langsung berlari menuju tangga.

ÔÇ£AWAS YA!ÔÇØ ucap Ibuku yang terlihat kembali riang dan terenyum manis. Aku hanya membalasnya dengan tawa ketika aku menaiki tangga. Ya begitulah semua terjadi dengan begitu saja semua terhanyut dalam lautan asmara ini.

Aku masuk kedalam kamar, duduk termangu di pinggir tempat tidurku. Tubuhku merasaka lelah yang berlebihan. Ingatanku memutar balikan kembali semua ingatanku dari awal hingga sekarang ini. sebuah kenyataan pahit tentang orang tuaku, sebuah pengorbanan Ibuku dan sebuah kisah cinta diantara kami.

Iwak peyek iwak peyek iwak peyek nasi jagung… bunyi ringtone sematponku. Tante Ima.

ÔÇ£Halo tan…ÔÇØ

ÔÇ£Hai…ÔÇØ

ÔÇ£Ada apa tan?ÔÇØ

ÔÇ£hmm… Arya, kamu masih ingat percakapan kita saat kita berangkat ke hotel bersama?ÔÇØ

Ingatanku kembali ke waktu dimana kita sedang bercengkrama di dalam mobil yang menuju ke hotel

ÔÇ£Tan, aku harap pertemuan ini adalah pertemuan terakhir tante dengan pakdheÔÇØ

ÔÇ£Ya, tante akan pegang janji, ini adalah pertemuan terakhir untuk mengakhiri kisah cinta kami yang tertundaÔÇØ

ÔÇ£Ya baguslah tan kalau begitu, aku harap tante tidak merusak rumah tangga merekaÔÇØ

ÔÇ£Pastinya, oia terima kasih ya sudah mau mengusahakan pertemuan iniÔÇØ

ÔÇ£Sama-sama tan, eh tan itu hotelnya sudah kelihatanÔÇØ

ÔÇ£Oh ya…ÔÇØ

Setelah percakapan itu, aku langsung mengantar tante ke dalam hotel.
ÔÇ£Iya tan aku ingat, ada apa?ÔÇØ

ÔÇ£Maaf, tante terlalu sayang pakdhemu, dan tante tidak bisa melepaskannya, hanya itu sajaÔÇØ

Aku terkejut setengah mati dengan apa yang diungkapkan tante ima.

ÔÇ£TANTE TIDAK BISA BEGITU, TANTE SUDAH BERJANJI KEPADA ARYA!ÔÇØ

ÔÇ£Maaf, Tante tidak bisa, terima kasih telah mengembalikan cinta tante kembaliÔÇØ tuuuuut

ÔÇ£TANTE TANTE TANTEÔÇØ

Aku mencoba menghubungi kembali nomor tante tapi tetap saja tidak di angka oleh tante. Hatiku semakin ling-lung, pikiranku kacau. Keringatku turun layaknya hujan yang berhamburan menghiasi langit wajahku.

ÔÇ£AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAÔÇØ aku berteriak sekencang mungkin di kamarku hingga berlutut dan ambruk bersujud di lantai kamar. Terdenganr langkah kaki di tangga dan masuk ke dalam kamarku. Ibu, Ibu langsung bersimpuh dan membangkitkan tubuhku dipeluknya aku.

ÔÇ£Ada apa nak?ÔÇØ ucap Ibuku

ÔÇ£Hiks hiks hiks Tante ingkar Ibu hiks hiks tante ingkar hiks hiks…ÔÇØ ucapku tersengal-sengal

ÔÇ£Sudah sudah, nanti kita bicarakan lagi, sekarnag istirahat dulu yaÔÇØ ucpa Ibu menenangkan aku. Aku di papahnya bangkit dan rebah di tempat tidurku. Bersama rebahnya aku, Ibu pun rebah di sampingku dan dipeluknya aku dengan sangat erat. Dipeluknya kepalaku di susunya yang kenyal itu.

ÔÇ£Bu… temani AryaÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Iya, dah yuk boboÔÇÖ…ÔÇØ ucap Ibu lirih. Elusan lembut dikepalaku membuat aku terlelap dalam tidurku. Membuat aku semakin nyenyak dalam mimpiku.

Aku terbangun di siang hari kulihat jam dinding memberitahuku bahwa sekarang sudah tepat pukul 14:00. Tak kudapati Ibu yang ada di sampingku sebelumnya. Kulihat sematponku tergeletak di lantai, kupungut dan kubuka sebuah sms dari sebuah nomor yang tak aku kenal. Kubuka sms itu.

From : Pakdhe
Wahai prajuritku,
Terima kasih telah mengingatkanku
Aku memang sangat bahagia ketika bertemu dengan ratuku yang hilang
Tapi itu ternyata bukan yang aku inginkan selama ini
Wahai prajuritku mungkin engkau bertanya
apa yang harus akan dipilih ksatria pujaanmu ini?
Ksatria itu memilih yang menemaninya dan mencintainya
Sampai sekarang ini, Terima kasih

PAKDHE,
JANGAN PERNAH KAMU BERITAHUKAN NOMOR INI KEPADA SIAPAPUN
KECUALI KELUARGA KITA, NOMOR&HP YANG LAMA TELAH DIBUANG
PIN BB BARU : 09876543
Senyum kembali tergurat dibibirku, begitu manis ksatria ini ketika mengucapkan sebuah kata-kata indah untuk menenangkan hatiku. Hatiku bersorak dan gembira, ku balas sms itu dengan ucapan kekaguman atas apa yang dia pilih. Pintuk kamarku terbuka, masuklah wanita yang selalu menemaniku selama ini. Kupandang lembut wajahnya dan ku lempar sebuah senyum kearahnya.

ÔÇ£Ada apa kok bahagia sekali?ÔÇØ tanya Ibu sambil duduk disebelahku

ÔÇ£Pak dhe memilih budheÔÇØ ucapku, langsung dipeluknya aku dan dikecupnya pipi kananku.

ÔÇ£Bagus dong kalau begitu, kamu tidak perlu sedih lagiÔÇØ

ÔÇ£Oia, kamu tidak perlu memberitahu ima masalah ini, biar dia yang menghubungi kamuÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Kenapa?ÔÇØtanyaku

ÔÇ£Ya karena… pasti dia akan terus mengejar pakdhemu dan tidak akan menerima semua yang telah terjadi dan jika kamu mengabarinya dia akan terus mengejarmu untuk mempertemukannya kembali dengan pakdhe, Ibu lebih tahu ima dari pada kamu, okay?ÔÇØ ucap Ibu

Aku mengangguk dan mengiyakan perintah Ibuku. Ibu kemudian berdiri dan mengajakku makan siang. Semua kembali ke kondisi normal kembali tapi untuk kondisi dengan Ayah kelihatannya belum bisa kembali seperti semula. Pikiranku kemudian tertuju kepada Ayah dan Om Nico. Segera ku selesaikan makanku dan segera kembali ke kamarku. Ku sulut dunhill dengan membuka-buka sematponku, AJENG!. Ya aku harus menemuinya untuk memastikan hubungan dia dengan om nico. Aku kemudian turun ke bawah dan pamit kepada Ibuku sembari mengutarakan niatku sore ini tak lupa mengambil uang sebagai peganganku.

ÔÇ£Kamu yakin? Bagaimana jika Ajeng tidak bisa dipercaya kemudian dia malah memberitahukan jika kamu mengetahui segalanya?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Aku tidak akan menceritakan semuanya bu, hanya ingin menanyakan kenapa dia memata-matai RahmanÔÇØ ucapku, Ibu menjawabnya dengan anggukan dan senyuman kemudian melangkah ke arahku.

ÔÇ£Ingat, kamu harus berhati… cup…ÔÇØ ucap Ibu sembari mendaratkan ciuman di bibirku dan memelukku sangat erat. Kubalas ciuman itu dan pelukannya.

ÔÇ£Arya berangkat dulu Ibuku sayangÔÇØ ucapku dengan senyuman. Ibu membalasnya dengan anggukan.

Aku kemudian berangkat menuju kos Ajeng, sebelumnya aku mengirimkan pesan ke Rahman kapan dia pulang. Rahman membalas dia pulang besok senin dan di hari pertama kuliah dia akan bolos terlebih dahulu. Situasi aman dan terkendali jika aku harus bertemu dengan Ajeng saat ini. Dan tidak perlu takut jika Rahman mengetahuinya. Aku memacu motorku hingga aku sampai di daerah kampusku. Aku terjebak di lampu merah dibelakang barisan motor yang mengantri lampu hijau. Lama aku menunggu antrian lampu hijau ini hingga sebuah mobil melintas dari arah kananku menuju arah kiriku. Melintas sebuah mobil sedan merek Bebek Merah Warnanya (BMW) dengan kaca depan terbuka. Kulihat seorang dengan wajah yang kukenal selama ini.

ÔÇ£Ayah…ÔÇØ

ÔÇ£Kenapa dia ada disini, dia pamit untuk perjalanan dinas selama beberapa bulan ini, kenapa dia ada disini?ÔÇØ bathinku

Lampu hijau menyala, segerombolan pengembudi sepeda motor dan mobil berhamburan layaknya bebek yang dibukakan pintu kandangnya. Aku alihkan arah REVIA menuju arah BMW itu bergerak. Ku ikuti dengan jarak yang jauh agar tidak ketahuan dan terus bergerak di belakangnya. Keuntunganku adalah mobil itu berjalan pelan sehingga dalam membuntutinyapun memperkecil peluangku untuk kehilangan target. Aku terus membuntutinya hingga mobil itu berbelok ke arah market, In-Mart, kuhentikan motorku tepat di depan sebuah warung makan yang didepannya berderet-deret mobil taksi yang sedang beristirahat dan beberapa mobil serta sepeda motor.

ÔÇ£Woi Ndes! Ngopo ngadeg neng kono? (Woi Ndes, mengapa berdiri di situ?ÔÇØ teriak seseorang ke arahku, aku kemudian menoleh. (Ndes adalah panggilan keakraban seperti hal-nya Bro)

ÔÇ£Woi bro, wah lama ndak ketemuÔÇØ ucapku sembari memasukan motorku ke tempat parkir warung makan. Ya dia adalah Wangso, temanku semasa SMA dulu yang jarang sekali aku temui

ÔÇ£mampir dulu to bro, makan, gratis pokoknyaÔÇØ ucapnya, pandanganku masih tetap ke arah mobil BMW itu. Kulihat mobil BMW itu akan keluar dari market tetapi menunggu mobil yang berada di belakangnya untuk masuk ketempat parkir. Kulihat seorang supri taksi masuk kedalm taksinya.

ÔÇ£Bro, ngobrolnya nanti saja yo, aku masih ada urusan, aku nitip motorku, ni kuncinyaÔÇØ ucapku sambil meleparkan kunci motorku

ÔÇ£Weitssss…. tapi nanti mampir lho, gak mampir tak obong (Bakar) motormu ha ha haÔÇØ ucapnya dengan tertawa terbahak-bahak yang kemudian melangkah masuk ke dalam warung sambil geleng-geleng melihat tingkahku

ÔÇ£Iyo iyo, tapi gratis lho, yen ora gratis tak obong warungmu ha ha ha (iya iya, tapi gratis lho, kalau tidak gratis aku bakar warung kamu)ÔÇØ ucapku sambil menuju taksi hanya dibalas dengan jari tengah wangso. Aku kemudian berjalan kearah supir taksi itu dan menepuk pundak supir taksi itu, ketika sopir taksi itu menoleh.

ÔÇ£Lho bapak to, pak saya minta diantar sekarang bisa?ÔÇØ ucapku kepada bapak sopir yang sudah sering bertemu dengannya

ÔÇ£Weee masnya, bisa mas, monggo masukÔÇØ ucap bapaknya, aku kemudian masuk kedalam taksi.

ÔÇ£Pak, bapak lihat mobil BMW ituÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya mas…ÔÇØ jawab pak sopir

ÔÇ£pokoknya bapak ikuti mobil itu ya pak kemanapunÔÇØ ucapku dan pak sopir mengiyakannya

Mobil itu kemudian berjalan dengan perlahan diikuti oleh taksi yang aku tumpangi. Semakin lama arah dan tujuan dari mobil BMW itu semakin membuat aku mengrenyitkan dahi. Arah dan tujuan ini seperti pernah aku lewati sebelumnya. Dan jika aku melihat kanan dan kiriku aku mulai mengingat jalan ini. dan sampailah aku didepan pintu perumahan, PERUMAHAN SAE. Mobil itu kemudian melintas gerbang dan masuk lalu menghilang. Mobil taksi pun melaju lambat menuju ke arah gerbang pemahan.

ÔÇ£Perumahan SAE, ini adalah perumahan tempat terjadinya pembunuhan KS. Kenapa mereka kesini lagi?ÔÇØ bathinku

ÔÇ£mas, tutup wajah mas pakai jaketÔÇØ ucap pak sopir tiba-tiba menyadarkan lamunanku

ÔÇ£Cepat masÔÇØ ucapnya dengan nada menghardik

ÔÇ£Pak, mau ketempat siapa?ÔÇØ ucap pak satpam

ÔÇ£Mau ketemu sama pak eliÔÇØ ucap pak sopir tiba-tiba

ÔÇ£Ouwh pak elli, lurus saja pak, dah tahu kan…ÔÇØ kata pak satpam

ÔÇ£iya pak… Oia Perlu niggalin KTP ndak pak? Ini saya kelihatannya agak lama dan masnya ini belum punya KTP, kalau KTP saya bagaimanaÔÇØ ucap pak sopir

ÔÇ£ouwh ndak usah saja ndak papa pak, yang penting kalau mau pulang lapor ya pakÔÇØ ucap pak satpam. Setelahnya mobil melaju dengan sangat pelan.

ÔÇ£Sudah mas tenang saja, saya juga sering nganter orang kesini jadi tadi satpamnya sudah kenal sayaÔÇØ

ÔÇ£Kelihatannya mas sedang mencari sesuatu ya mas?ÔÇØ ucap pak sopir melanjutkan

ÔÇ£Eh….ÔÇØ aku sedikit terkejut dengan ucapan pak sopir

ÔÇ£Tenang saja mas, saya bisa jaga rahasia yang penting mas jangan sampai ketahuan sama orang di mobil BMW itu, bahaya mas…ÔÇØ ucap pak sopir

ÔÇ£Darimana bapak bisa tahu kalau orang itu berbahaya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Saya sudah sering mengantar beberapa orang rekanan kedua orang itu, sedikit banyaknya mereka mengeluh kepada saya karena mereka di peras habis-habisanÔÇØ

ÔÇ£Ingat ya mas, hati-hati, saya tidak tahu hubungann antara mas dengan kedua orang itu tapi saya akan bantu mas selama mas melakukan kebenaran, jika bapak melihat mas, mas adalah orang yang baikÔÇØucap pak sopir sembari tersenyum

ÔÇ£Terima kasih pak, saya akan pegang kepercayaan bapakÔÇØ ucapku

Taksi kemudian melaju dengan pelan, tampak di depan sana sebuah mobil BMW sedang diparkir didepan pintu gerbang sebuah rumah. Aku meminta pak sopir untuk melewatinya dengan sedikit cepat, setelah melewatinya kulihat mobil itu masuk kedalam rumah tersebut. Tampak seorang wanita berkulit putih dengan baju putih tanpa lengan dan rok hitam yang menutupi hingga di lututnya. Setelah mobil itu masuk aku meminta pak sopir untuk memutar balik melewati median jalan, kusuruh pak sopir berhenti tepat didepan rumah tersebut.

ÔÇ£Pak, ini uangnya nanti bapak kesini lagi jika saya sudah telepon bapakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Dah, mas tenang saja, nanti saja kalau mas sudah selesai urusan disini, jujur saja saya takut jika mas kenapa-napaÔÇØ ucap pak sopir

ÔÇ£Tenang pak, semuanya pasti bisa saya kendalikanÔÇØ ucapku. Kemudian pak sopir meninggalkan aku yang duduk sendiri diseberang rumah itu. Dengan jaket yang aku tutupkan di seluruh kepalaku.

Berbatang-batang dunhill mulai habis dibakar oleh api, hangus menjadi abu. Ku menunggu dan menunggu kulihat jam pada sematponku menunjukan pukul 16:30. Kuperhatikan lingkungan ini tampak asri dan nyaman. Para pengemudi mobil nampak acuh dengan kehadiranku di pinggir jalan ini mungkin karena mereka adalah orang-orang perlente yang hidup disini. Kumainkan sematponku dengan wajah masih tertutup dengan jaket. Ngiiiiik…. suara pintu gerbang dibuka, tampak seorang wanita yang tadi membukakan pintu kini sedang membukakan pintu gerbang rumah itu kembali. Terlihat dua orang masuk kedalam mobil, ya itu Ayah dan Om Nico. Mereka mengeluarkan mobil kemudian melaju hingga sampai pada median yang terputus mereka memutar balikan mobilnya. Aku masih tertunduk ketika mereka melewatiku, tampak acuh mereka dengan situasi disekitarnya. Kulirik mobil BMW itu yang kemudian menghilang di kejauhan. Aku langsung bangkit dan berlari kearah rumah itu dimana wanita tersebut masih mencoba untuk menutup pintu. Segera aku bergerak cepat dan kuhentikan wanita itu untuk menutup pintunya.

ÔÇ£Tunggu!ÔÇØ ucapku sembari memegang pintu gerbang tersebut dan membuka jaket yang menutupi wajahku. Wanita tersebut tampak terkejut dengan kedatanganku

ÔÇ£Si… si… siapa kamu?ÔÇØ tanya wanita itu sedikit ketakutan

ÔÇ£Arya….ÔÇØ

ÔÇ£Arya Mahesa WicaksonoÔÇØ ucapku dengan tatapan mata tajam kearahnya

Didepan sebuah rumah yang lumayan mewah ini, aku sedang beradu kekuatan dengan seorang wanita paruh baya. Dimana wanita tersebut sedang mencoba menutup pintu dan aku menahannya agar dia tidak menutupnya. Wanita itu tampak terkejut ketika mengetahui namaku sebenarnya. Aku merasakan tekanan pada pintu itu melemah dengan tatapan mata yang tajam kemudian sedikit melemah lalu tangannya membuka pintu gerbang itu.

ÔÇ£Cepat masuk!ÔÇØ ucapnya sedikit keras. Aku kemudian masuk dan tepat berada di belakang wanita tersebut. Wanita itu kemudian sedikit melongok ke kanan dan kekiri melihat situasi. Ditutupnya pintu itu dan kemudian menarik aku agar segera masuk kedalam rumah. Wanita yang anggun dengan kulit putihnya, berpakaian putih tanpa lengan dan rok yang masih sama seperti yang pertama kali aku melihatnya ketika membukakan gerbang rumah.

ÔÇ£Jangan kamu tinggalkan sepatu kamu, bawa bersamamuÔÇØ ucap wanita itu. Aku kemudian membawa sepatuku yang sebelumnya sudah aku lepas. Aku kemudian masuk kedalam rumah mewah ini, rumah yang tatanannya mirip sekali dengan rumah rahman tapi lebih sempit.

ÔÇ£Duduklah, akku buatkan minuman sebentarÔÇØ ucap wanita tersebut

ÔÇ£Tidak usah tante, jika nanti tante lupa membawa masuk gelasnya bisa-bisa mereka curiga ketika masuk kerumah ini, aku sudah membawa minuman botol sendiri dari rumahÔÇØ ucapku, dan diiyakan oleh wanita tersebut

Dari ruang tamu aku bisa melihat sebuah pemandangan aneh di ruang keluarga yang bersatu dengan ruang makan itu. Kulihat benda-benda aneh yang terselebar di ruangan itu, ikat anjing, pecut dan juga tali-tali yang entah digunakan untuk apa. Wanita tersebut kemudian duduk dan menghadap kearahku. Asbak yang penuh dengan batang rokok dunhill dan juga minuman yang masih tersisa walau sedikit menghiasi meja ruang tamu ini serta sebungkus dunhill di meja itu.

ÔÇ£Kenapa kamu bisa sampai disini? Dan apa yang kamu inginkan?ÔÇØ tanyanya kepadaku

ÔÇ£Seharusnya saya yang bertanya, siapa tante sebenarnya?ÔÇØ tanyaku kembali

ÔÇ£Haaaahhhhh…ÔÇØ desahnya sambil merebahkan tubuhnya di tempat duduknya sekarang

ÔÇ£Kamu adalah anak mahesa, si bajingan itu kan? Apakah kamu ingin menyiksaku seperti halnya Bajingan ituÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Maaf saya tidak seperti diaÔÇØ

ÔÇ£Saya kesini hanya ingin tahu kenapa mereka kemari dan siapa tante?ÔÇØ tanyaku. Kemudian dia bangkit dan melihatku dengan seksama, menatapku dengan tajam. Kemudian dia tersenyum kepadaku.

ÔÇ£Iya kamu tidak seperti bajingan itu, aku yakin kamu adalah orang baik yang bisa dipercayaÔÇØ

ÔÇ£Ceritanya panjang dan lebih baik kamu segera pulang sekarang sebelum mereka datang lagiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku tidak akan pulang sebelum tante menceritakan kepadaku, siapa tante dan kenapa mereka kemari?ÔÇØ

ÔÇ£Apakah tante yang menyebabkan Ayah jadi jarang pulang?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£HA HA HA HA… Dia jarang pulang HA HA HA itu karena dia menikmati setiap waktunya disini HA HA HA HA hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya kemudian menitikan air matanya, diambilnya sebuah batang dunhill dari meja itu dan dicobanya disulut. Aku kemudian bangkit dan memegang tangan wanita ini.

ÔÇ£Tante, aku paling tidak suka dengan perempuan yang merokokÔÇØ ucapku dengan tatapan mata setajam silet. Wanita itu kemudian meletekan kembali korek dan batang dunhill itu. Kuambil batang dunhill itu dan aku menyulutnya, lumaya gratisan.

ÔÇ£Kamu tidak perlu ikut didalam permainan mereka, segeralah pulang, jika mereka mengetahui kamu ada disini, kamu akan….ÔÇØ ucapnya terpotong sembari berdiri disampinku menatap keluar jendela ruang tamu

ÔÇ£Dibunuhnya tante? Tidak, tidak semudah itu mereka membunuhku. Aku akan membunuh mereka terlebih dahulu jika mereka melakukan ituÔÇØ ucapku, dia kemudian menoleh kearahku dan melihatku dengan senyuman

ÔÇ£Apakah kamu mau menghentikan mereka? Apa kamu mampu?ÔÇØ ucap wanita itu dan kembali duduk dihadapanku

ÔÇ£Jika tante bisa berkerja sama denganku, aku pasti bisaÔÇØ ucapku lirih sembari membuang asap dari paru-paruku

ÔÇ£HA HA HA HA HA… Apa yang kamu bisa heh??? Melawan bajingan yang dilindungi oleh semua orang-orang hebat dikota ini? kamu itu hanya kunyuk dan kamu sendiriÔÇØ ucapnya tertawa keras dihadapanku

ÔÇ£Aku akan melindungi orang-orang yang aku sayangi, cintai dan juga membalas perlakuan ayahku terhadap kedua orang tuanya dan juga mengembalikan cinta seorang penjaga losmenÔÇØ ucapku kepada tante tegas dengan tatapan tajamku kearah tante.

ÔÇ£Pen.. Pen… Penjaga Losmen? Ka… Ka…Kamu bertemu dengannya? Ba… Ba… Ba… gaiamana kabarnya? Cepat katakan kepadakuÔÇØ tanyanya yang bangkit, tatapan matanya menjadi tatapan mata penuh harap. Aku terkejut ketika wanita ini mengatakan penjaga losmen, apakah dia mengenal penjaga losmen itu.

ÔÇ£Tante tidak perlu tahu penjaga losmen itu, karena dia aku bisa mengetahui semuanya, yang terpenting tant….ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£KATAKAN PADAKU BAGAIMANA KEADAANNYA?!ÔÇØ Bentaknya kepadaku. Aku terkejut melihat raut wajah wanita ini yang kemudian menjadi penuh dengan air mata ini. aku hanya bisa bungkam tak tahu apa yang harus dikatakan kepadanya. Aku takut jika dia membocorkan rahasiaku. Aku hanya diam dan diam dengan tetap menghisap asap tembakau ini.

ÔÇ£Hiks hiks hiks hiks aku mohon katakan kepadaku hiks hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya sambil memohon berlutut dihadapanku

ÔÇ£Maaf tante, aku tidak bisa membahayakan identitasnya, jika tante tidak bisa diajak berkerja sama, maaf mungkin aku akan membunuh tante malam iniÔÇØ ucapku membuat tante terkejut dengan perkataanku. Dia kemudian bersandar pada meja ruang tamu itu dan menerawang keatas. Aku masih duduk di kursi ruang tamu dan melihat kebawah kearahnya.

ÔÇ£Namaku Wardani, Akulah cinta dari penjaga losmen itu, dan aku masih selalu berharap bisa bersamanya lagiÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Jadi tante adalah….ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Iya, aku adalah istrinya, dan aku hiks hiks hiks hiks….ÔÇØ ucapnya terpotong karena tangisannya

ÔÇ£Maafkan aku tante jika aku tadi mengancam tante…ÔÇØ

ÔÇ£Aku hanya berharap tante bisa kembali lagi dengan pak koco, apapun yang terjadiÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Tidak bisa, jika mereka kehilangan aku, mereka bisa saja membabi buta, itu berbahaya untuk keluarga, dan orang-orang disekitarmuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Suamiku pasti sudah bercerita banyak kepadamu, karena melihatmu bisa sampai disiniÔÇØ ucapnya sembari menoleh kearahku. Kemudian wanita itu duduk bersimpuh dan bersandar pada kursi didepanku.

ÔÇ£Kamu tahu pasti sudah mendengar cerita dari suamiku, bukan? Tentang apa yang terjadi?ÔÇØ ucapnya sembari mengambil minuman sisa dari Ayah dan Om Nico

ÔÇ£Iya tante, kenapa tante tidak melarikan diri dari tempat ini?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lari? Seberapa jauh aku bisa lari? Kamu pasti tahu aku mempunyai anak, jika aku lari bagaimana nasib anakku? Mereka bisa menjadikannya binatang peliharaanyaÔÇØ

ÔÇ£Bahkan keluargamu bisa juga dihancurkannyaÔÇØ ucapnya sedikit membentak. Jujur saja aku tidak mengerti apa perkataan tante wardani ini. Dia tampak tertekan ketika membicarakannya. Kemudian tante wardani berdiri dan membuka semua pakaiannya, aku sedikit terkesima dengan bentuk tubuh tante wardani ini. Susu yang besar dan sekal, vagina yang rapi tanpa bulu, wajahnya pun tampak awet muda.

ÔÇ£Lihatlah tubuh ini?! ini bukan tubuhku yang sebenarnya!ÔÇØ ucap tante wardani yang kemudian memakai pakaiannya lagi tanpa rasa malu dihadapanku. Jujur saja dedek arya sempat ON walau sekarang sudah OFF lagi

ÔÇ£Kamu bernafsu? Kamu ingin menikmatinya juga? Kalau kamu ingin, silahkan saja aku tidak akan menolakmuÔÇØ ucapnya begitu santai

ÔÇ£Hassssssssshhhhhhh… dan kemudian tante akan menjadikanku seperti mereka begitu tante? Dan kemudian aku membunuh pak koco agar aku lebih bebas lagi menikmati tubuh tante, begitu tante?ÔÇØ ucapku dengan santai membuat tante sedikit terkejut ketika aku mendengar perkataanku. Dia kemudian tertunduk dan mulai menceritakan semuanya.

ÔÇ£Sejak aku dibawa oleh bajingan nico itu, aku kemudian dijadikan sarana pelampisan hasratnya. Dari menjadikannya aku binatang, ya dia sangat suka melakukan seks dengan memperlakukanku seperti binatang peliharaanya. Aku sebenarnya tidak begitu menikmatinya karena dia memperlakukanku dengan sangat kasar. Perlakuan itu aku dapatkan hingga anak perempuanku tumbuh dewasa, aku memberinya pengertian kepadanya. Aku kemudian memohon kepada nico agar dia melepaskan anak perempuanku pertama dia menolaknya tapi dengan berbagai macam paksaan akhirnya dia mau. Entah sekarang dia ada dimana, aku hanya bisa menghubunginya lewat teleponÔÇØ

ÔÇ£Semakin aku bertambah umur, semakin aku tidak menarik bagi mereka berdua. Mereka bermaksud menggantikan aku dengan anakku tapi aku terus mencegah mereka tapi tetap saja mereka bersikukuh pada pendirian mereka. Aku kemudian mencari cara agar aku tetap menadi mainan mereka, hingga suatu hari aku mendapatkan sebuah tayangan mengenai operasi plastik. Dan aku menawarkan diriku untuk menjalani operasi plastik di wajah dan organ kewanitaanku dan seperti yang kamu lihat barusan tadi. Merekapun setuju dan Aku diubah mereka menjadi wanita yang lebih muda dan lebih menarik lagi agar bisa dijadikan mainan oleh mereka. Setiap mereka berada dirumah ini aku selalu disuruhnya menjadi seekor anjing yang memohon untuk disetubuhiÔÇØ

ÔÇ£jika suatu saat nanti kamu bertemu dengan anakku, lindungilah dia dari bajingan-bajingan itu dan aku meminta maaf kepadamu dan Ibumu, jika Ayahmu tidak pernah menyenth IbuÔÇØ jelas tante

ÔÇ£Bagaimana tante tahu jika Ayahku tidak pernah menyentuh Ibu?ÔÇØ tanyaku heran

ÔÇ£Karena, karena dia selalu bercerita tentang sok alimnya Ibu kamu diranjang, dan dia tidak bisa menikmatinyaÔÇØ jelas tante

TIIIIIIIIIIIIIIIIN TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN… bunyi klakson sebuah mobil dari luar rumah

ÔÇ£Cepat bawa sepatumu dan bersembunyilah di lantai dua, mereka datangÔÇØ perintah tante.

Aku kemudian menuruti perintahnya dengan sedikit merunduk aku kemudian membawa sepatuku dan naik ke lantai dua rumah ini. Aku masuk kedalam sebuah ruang kamar, dimana diruang kamar itu aku ada sebuah laptop yang menyala, spring-bed dengan ranjang yang ada sedikit ruang dibawahnya, serta sebuah dua buah almari. Kudengar tante membukakan pintu gerbang rumah, dan segera aku mengutak-atik laptop yang menyala itu. Terdapat dokumen-dokumen penting bukti penyelewengan dana pemerintah oleh mereka berdua. Kukembalikan posisi laptop pada tempatnya. Tiba-tiba terdengar suara dari lantai bawah, dari lantai dua ini aku masih bisa mengintip apa yang mereka lakukan.

ÔÇ£Dasar jalang, ayo lepas pakaianmu! Pakai rantai itu!ÔÇØ ucap om nico sembari duduk di sofa depan TV

ÔÇ£Baik tuan…ÔÇØ tante wardani kemudian melepas pakaiannya dan menggunakan sabuk anjing di lehernya. Ditariknya tali itu oleh om nico, om nico kemudian menarik dan mengarahkan

ÔÇ£Ayo buka! Kamu mau kontol kan?!ÔÇØ bentak om nico

ÔÇ£Iya tuan, aku mau kontol tuan, mau sekali, tempikku mau sekali dimasuki kontol tuanÔÇØ ucap tante wardani yang mendekat seperti orag diseret karena tali yang mengikat lehernya diseret dengan keras. Wanita itu kemudian dengan cepat membuka resleting celana om nico dan tersembulah penisnya. Aku sedikit menahan tawa sebenarnya, itu penis atau jempol tangan he he he. Dengn perlahan tante wardani mengulum batang penis itu.

ÔÇ£Ah enak sekali lonthe mulutmu itu, ayo jilati dan emut! Sedot yang kuat!ÔÇØ

ÔÇ£Gila… sedotanmu semakin hari semakin arrggghhh mantaphhhh ouwhhhgggg….ÔÇØ rintih om nico

ÔÇ£Ahh… aku sebenarnya juga tidak tahan ketika harus melihat live streaming seperti iniÔÇØ bathinku

Perlahan kulihat om nico mulai memegang kepala tante wardani dan menggoyang kepala tante wardani dengan sangat cepat. Kemudian kedua tangan om nico menahan kepala tante wardani.

ÔÇ£Dasar Lontheeeee aku keluar! Minum spermaku lonthe!ÔÇØ teriak om nico.

Lama setelah setelah sperma itu keluar, om nico melepaskan kepala tante wardani. Kulihat tante wardani masih terus menjilati ibu jari eh penis om nico dengan lidahnya, dibersihkannya penis itu. Tampak om nico mengelus-elus kepala tante wardani.

ÔÇ£Bagus bagus, kamu memang lonthe yang paling hebat dibanding lonthe-lontheku yang lain, tidak rugi aku mendandani kamu hingga bisa secantik ini ha ha haÔÇØ ucapnya dengan tertawa sangat keras. Lama sekali tante wardani mengulum dan membersihkan penis om nico hingga aku sebenarnya horny sendiri ketika melihatnya.

ÔÇ£Sudah… plak….ÔÇØ ucap om nico sembari memberi tamparan dipipi tante wardani

ÔÇ£Aku mai naik dulu, ada yang harus aku ambilÔÇØ ucap om nico, kulihat tante wardani sedikit ketakutan mungkin karena aku berada di lantai dua. Aku yang mendengar itu pun sedikitnya juga merasa takut, aku kemudian beranjak dari tempatku mengintip kulihat sekeliling kamar ini.

Kulihat almari pakaian, itu dan aku kemudian masuk kedalmnya. Almari yang terbuat dari kayu dan pada bagian pintunya dibuat seperti sebua ventilasi jadi masih ada sedikit celah untu bisa melihat dari dalam. Kulhat om nico masuk dengan masih menggunakan baju tanpa bawahan. Ibu jari he he he. Sedikit tertawa aku melihatnya, pantas jika tante ima tidak pernah puas dengan permainannya dan pantas pula jika selama ini tante ima mendapat siksaan. Lha wong mainnya saja keras seperti itu. Dia melangkah menuju ke laptopnya dan memasukan flashdisk kedalamnya. Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt…. Hpku yang sebelumnya aku sunyikan tiba-tiba bergetar dengan sendirinya.

ÔÇ£SIAL! ADA SMS MASUK!ÔÇØ bathinku

Om nico yang curiga dengan bunyi itu kemudian melangkah menuju almari tempat aku bersembunyi. Ketika dibuka pintu almari itu sebagian…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*