Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 13

Wild Love 13

Di hotel ini, hotel mawar aku mengantar kekasihi yang telah lama terpisah oeh jarak dan waktu tanpa ucapan selamat tinggal atau apapun itu. Ditempat ini sepasang kekasih itu akan bertemu di kamar nomor 76 dimana kekasih perempuan yang dulu menghilang telah kembali untuk menemui kekasih lelakinya. Walau sepasang kekasih ini sudah mempunyai tambatan hati masing-masing nampaknya masih ada rasa penasaran dari kedua insan ini untuk bisa bencengkrama di dalam kamar. Memang tampak aneh ketika harus mengetahui pertemuan ini didalam kamar dengan sebuah alasan yang tidak masuk akal. Langkahku tertarik dan terseret kedalam sebuah kamar dengan nomor 75.

ÔÇ£Budhee????!ÔÇØ ucapku setengah berteriak

ÔÇ£Ssssst diam napa gak usah teriak-teriak gitu mblo, kaya lihat hantu saja!ÔÇØ ucapnya sedikit menghardikku. Tubuh itu kemudian berbalik dan mendekatkan dirinya di sebelah tembok pembatas antara dua kamar, kamar no 76 dan 75. Dengan lagak seakan tahu pembicaraan mereka. Wanita dengan dress tanpa lengan dengan belahan tertutup yang mana dimasukan ke dalam rok yang menutupi hingga lutut bagian bawah.

ÔÇ£Yaelah budhe budhe emang bisa denger?! Ya tidak mungkinlah, kontraktor yang bangun ini gedung juga pastinya sudah memperkirakanÔÇØ ucapku santai sambil melangkah masuk kedalam kamar hotel ini. ruangan yang cukup luas dengan SpringBed mewah untuk 2 orang disampinya terdapat sofa lengkap dengan Tvnya. Aku membuka pintu disebelah kananku terdapat, kamar mandi ala eropa dengan tempat berendam.

ÔÇ£Diam aja mblo! Tuh minuman sama cemilan ada makanan berat juga, kalau capek istirahat sana!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak dengan nada amarah. Entah apakah budhe memang mendengar percakapan mereka atau hanya menyesali perbuatannya karena mempertemukan mereka. Budhe duduk bersandar dengan kedua kakinya dilipat dan dipeluknya kaki itu dengan kedua tangannya.

ÔÇ£Makanan berat? Emang berapa kilo?ÔÇØ candaku kepada budhe. Kulihat dia sambil aku melangkah, Dia terdiam dengan pandangan kosong kedepan. Tanpa menjawabku sama sekali aku kemudian duduk dan mengambil makanan di meja depan sofa.

ÔÇ£Ya sudah, arya mau makan dulu ya budhe?ÔÇØ ucapku kemudian menyantapnya sambil menyalakan televisi dengan suara yang pelan. Karena pasti jika volumenya terlalu keras pasti akan kena marah budhe. Kumakan dengan lahapnya hingga aku duduk bersandar tak kuat lagi, rasa kantuk menyelimutiku. Ku buka jendela kamar ini dan kemudan aku menyulut dunhill mild-ku.

Sebatang dunhill telahmenjadi asap dengan batang filter yang mencoklat karena beberapa nikotin-nikotin yang terperangkap didalamnya. Aku melangkah kembali menuju sofa, kulihat wajah budhe semakin menunjukan sebuah kegelisahan, kegalauan, dan kecemasan. Aku kemudian merebahkan diriku di sofa dan tidur miring menghadap ke budhe.

ÔÇ£Budhe, istirahat saja? Kan nanti juga bisa ditanya kalau mereka sudah selesai bercakap-cakap?ÔÇØ ucapku tanpa ada balasan seakan-akan suara dari mulutku ini hanya angin yang berlalu tanpa bisa didengarnya. Wajahnya semakin menunjukan kegelisahan, kecemasan semakin lama matanya hampir tergenang. Hati sebenarnya tidak tega ketika harus melihat wanita yang periang ini menangis.

ÔÇ£Yee ditanya malah diem?! Ya sudah, Arya bobo duluÔÇØ ucapku sambil membalikan tubuhku terlentang disofa dengan kedua tangan aku jadikan bantal kepalaku.
Tak ada jawaban darinya, sebenarnya apa memang benar dari tembok itu budhe bisa mendengar semua percakapan mereka yang sedang dimabuk asmara. Otakku tak bisa berpikir terlalu jauh, tak bisa berpikir terlalu mendalam tentang semua yang terjadi malam ini. Ajeng, Rahman, Nico, Mahesa, Ika, Andi, dan Ima mereka terus berputar dalam pikiranku. Otakku akhirnya berhenti berpikir membuat aku terlelap dalam tidurku, ke dalam sebuah mimpi yang tak pernah aku harapkan kehadirannya.

Tiba-tiba aku berada disebuah padang rumput yang hijau, rumput yang bergoyang diterpa oleh angin yang bertiup dengan riangnya. Kupu-kupu berterbangan bermain dengan para sahabatnya menari di atas angin ditemani oleh awan-awan yang sedang bercengkrama di atas langit yang berwarna seperti gunung itu. Aku melangkah dengan sangat pelan kulihat sekelilingku tampak kebahagiaan akan sepasang kekasih yang sedang berpelukan karena kelahiran sang anak. Langit kemudian bergerak sangat cepat kupu-kupu kemudian berlarian dengan rasa takut yang sangat mencekam. Anak itu tumbuh menjadi seorang lelaki gagah yang kemudian mulai menghancurkan sekitarnya. Langit menjadi kelam, rumput menguning dan tunduk ketakutan akhirnya mati. Sepasang kekasih itu berlumurkan darah didepan lelaki gagah yang tertawa keras menggelegar menghancurkan suasana indah itu. Laki-laki itu kemudian berjalan kearah sepasang kekasih renta yang disekitarnya bersimpuh seorang lelaki dengan pasangannya, perempuan dengan anaknya yang kecil dan seorang perempuan pasangannya sedanga memeluk sepasang kekasih renta itu. Dikeluarkannya pedang panjang oleh lelaki yang gagah diangkatnya pedang itu. Pandanganku menjadi buram menghilang dan kini aku berada tepat di depan lelaki gagah itu, aku menjadi sangat takut, takut sekali. Aku berdiri dan mendorong lelaki itu dan hingga aku terjatuh dalam sebuah dunia gelap dengan seorang lelaki tua yang tersenyum kepadaku sedang duduk santai dengan rokoknya.

ÔÇ£Ingat, jika kamu terlalu lama tertidur dan tidak bangkit dari ketakutanmu, kamu akan binasa, selamatkan apa yang bisa kamu selamatkanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Haaaaaaaaaaaahh hah hah hah hah….ÔÇØ aku terbangun dengan keringat berkucuran

ÔÇ£Apa itu tadi? Sial kenapa mimpiku selalu buruk dan tak pernah baik sama sekaliÔÇØ bathinku

Kulihat jam pada sematponku 23:55 hampir tengah malam, aku telah tertidur 1,5 jam lamanya. Kutolehkan pandanganku kearah budhe, wanita itu kini duduk dengan kaki ditekuk kebelakang dan kedua telapak tangannya menutupi wajahnya yang dihiasi air mata yang mengalir dari sela-sela telpak tangan itu. Aku tertegun dan segera bangkit ke arahnya dan duduk didepannya.

ÔÇ£hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks….ÔÇØ tangisnya

ÔÇ£Budhe, kenapa menangis? Ayolah budhe santai sedikit kenapa hoaaaaammm…..ÔÇØ ucapku sambil menguap. Tiba-tiba saja dia menamparku dengan sangat keras pada pipi kiriku dengan tangan kanannya.

ÔÇ£SANTAI?! Kamu dengar tidak mereka sedang apa?ÔÇØ ucap budhe, aku sedikit ketakutan dengan wajahnya yang berlinang air mata

ÔÇ£A.. A… Arya tidak tahu, mana mungkin ki kita bisa mendengarkan merekaÔÇØ ucapku kepada budhe dengan nada ketakutanku

ÔÇ£ini… hiks ini…! hiksÔÇØ sambil menunjuka sebuah earphone kepadaku, aku jadi bingung

ÔÇ£budhe memasang microphone hiks di jas pakdhemu tanpa sepengatuhannya, budhe bisa mendengar apa yang mereka katakan hiks hiks…ÔÇØ

ÔÇ£mereka sedang, sedang hiks hiks dan pakdhemu masih sangat hiks hiks hiks cinta wanita gatel itu hiks hiksÔÇØ ucap budhe kepadaku. Aku sebenarnya bingung dengan sikap budhe, dia yang menginginkan pertemuan ini terjadi ditambah lagi bertemu di sebuah hotel.

ÔÇ£Kan budhe sendiri yang minta mereka bertemu dan ingin mereka bertemu di hotel, jadi jangan salahkan Arya jika mereka terlibat sesuatu yang jauh, karena Arya berpikir ini keinginan budhe, jadi jangan salahkan AryaÔÇØ ucapku yang kemudian bangkit dan merebahkan diri kembali disofa sembari menyulut dunhill mild.

ÔÇ£bukan… bukan….ÔÇØ

ÔÇ£bukan budhe yang menginginkan mereka bertemu di hotel tapi pakdhe kamu, hiks hiks hiks… budhe ingin mereka bertemu diluar dan budhe ada disitu tapi pakdhemu… pakdhemu itu yang menginginkan ini semua, bahkan hiks hiks dengan memohon kepada budhe untuk huaaaaaaaaaaaaa hiks hiks hiks hiks….ÔÇØ ucapnya yang terpotong dengan tangisnya semakin keras dan mengeras membuat isi ruangan yang tenang ini menjadi gaduh dengan tangisannya. Aku tekejut bukan kepalang hingga rokokku yang menempel dimulutku tejatuh kelantai dengan tatapan melongo kearah budhe yang sedang meringkuk menangis. Aku tidak habis pikir kenapa pakdhe bisa secara terang-terangan mengatakan itu kepada budhe.

ÔÇ£Ah tidak mungkin, tidak mungkin aku penyebab ini semua, bagaimana ini?ÔÇØ bathinku mulai berteriak

Sambil mengambil rokok yang terjatuh, Aku berdiri dan kemudian melangkah kearah budhe, aku kemudian jongkok dihadapannya. Kupasang sebuah wajah ketenangan dengan senyuman. Aku kemudian meraih tangan kanannya dan menggenggamnya.

ÔÇ£Maafkan Arya, samapai semua ini terjadi budhe?ÔÇØ ucapku tanpa balasan wajahya masih terbenam didalam paha yang mengapit itu.

ÔÇ£Hmmm… cewek, mau ndak nemeni aku jalan-jalan?ÔÇØ ucapku secara tiba-tiba menggoda budhe. Budhe kemudian menatapku dan sedikit tersenyum dengan godaanku. Earphon itu kemudian dia lepas lalu tangan kirinya mengucek-ucek rambutku.

ÔÇ£Dasar jomblo….hiiiiihhhhhh….ÔÇØ ucapnya sambil menjambak rambutku, yang kemudian berdiri dan meninggalkan aku. Dia mengambil tas dan digantungkannya di bahu kanannya lalu memakai sepatu hak tinggi itu.

ÔÇ£Ayo mblo, malam ini budhe akan menemani jomblo muda biar merasakan jalan bareng cewekÔÇØ ucapnya.

ÔÇ£Ah gila ini budhe, dari nangis langsung menghujamku dengan cercaan dengan penuh kebanggaanÔÇØ bathinkku

Aku kemudian bangkit dan berjalan disampingnya, Kami berjaln tanpa suara dari bibir kami selama didalam hotel. Tante kemudian mengajakku ke sebuah taman yang masih disekitar hotel ini walau agak jauh tempat ini nyaman. Taman yang dibawahnya sebuah pemandangan sawah dan perbukitan yang indah, dengan sinar rembulan bersinar terang seterang senyuman budheku. Aku kemudian membeli minuman ionic yang dijual oleh pedagang keliling yang tampak mengantuk di gerobak dorongnya itu. Aku kemudian duduk disebuah bangku taman, kulihat budhe tampak menikmati udara malam ini. Bersandar pada sebuah pembatas dia melempar tas mungil itu kearahku kemudian membuka lebar kedua tangannya menikmati semilir angin yang menerpanya.

ÔÇ£Do you know mblo, if some part of love is lust?ÔÇØ ucapna kepadaku

ÔÇ£Yeah, I Know it, but i donÔÇÖt know what it is forÔÇØ jawabku kepada budhe

ÔÇ£sebagian dari cinta adalah sebuah nafsu yang membuat hangat hubungan dari sepasang kekasih yang saling jatuh cinta dan sebagian yang lainnya adalah logika, untuk mengendalikan nafsu agar tidak lepas kendaliÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Lepas kendali? Apakah itu yang terjadi padaku, nafsuku lepas kendali?ÔÇØ bathinku

ÔÇ£but….ÔÇØ ucapku terhenti

ÔÇ£But what mblo…ÔÇØ ucapnya sambil membalikan tubuh dan bersandar pada pembatas itu dan menoleh ke kekanan agar dia masih bisa melihat pemandangan di belakangnya. Aku masih terdiam dalam kebisuanku tanpa bisa berkata-kata.

ÔÇ£hi hi hi… cinta itu murni dan suci kecuali jika kamu mengotorinya dengan sebuah kesalahan-kesalahan yang seharusnya tidak dilakukanÔÇØ ucap budheku sambil berjalan kearahku dan mengambil minuman ionic itu lalu kembali ke pembatas itu dan bersandar kembali pada posisinya

ÔÇ£Kesalahan… What does that mean?ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Kadang kita mencintai orang dengan salah dalam memperlakukannya, kadang pula kita mencintai orang yang seharusnya tidak kita cintai dan itu adalah sebuah kesalahan… glek glek ahhhhhÔÇØ ucapnya. Aku masih terdiam memandang bulan, terlintas sebuah wajah Ibu disana.

ÔÇ£Tapi semua kesalahan bisa dihentikan atas kemauan dari kekasih itu, karena pasti ada waktunya kesalahan itu berhenti dan menghilang digantikan oleh sebuah kebenaran, dan itu ada waktunya tersendiriÔÇØ

ÔÇ£Jika memang salah, jalanilah walau hatimu menolak karena suatu saat nanti kedewasaanlah yang akan memberitahumu tentang kebenaranÔÇØ

ÔÇ£Menyayangi seseorang adalah sebuah keharusan karena memang kita memiliki orang yang akan selalu kita sayangi, sayangilah dia selagi bisa menyayangi, cintailah dia selagi bisa mencintainyaÔÇØ

ÔÇ£Sayangilah sesuai apa yang ÔÇ£sayang ÔÇ£ harus lakukan, dan cintailah sesuai apa yang ÔÇ£cintaÔÇØ harus lakukanÔÇØ ucapnya sambil tersenyum kepadaku

ÔÇ£Ya memang aku telah melakukan kesalahan, dan aku masih menjalaninya… maafkan aku budhe dan terima kasih atas apa yang kamu katakan kepadaku tapi aku masih ingin menjalani hingga waktu untuk berhenti telah tibaÔÇØ bathinku menjawab semua pernyataan-pernyataannya

ÔÇ£Walau budhe harus merasakan sakit, budhe akan selalu mencintainya, mencintai pakdhemu, karena hanya dia yang sekarang menjadi harapanku dan anak-anakkuÔÇØ ucapnya kembali kepadaku yang masih terdiam membisu melihatnya

Deburan angin malam kembali menerpa tubuh kami. Dinginnya malam mengingatkan kami agar segera merebah di dalam selimut malam. Ku pandangi bulan itu lagi, ingatanku kembali ketika aku mengatakan cinta kepada seorang wanita yang salah, yang seharusnya aku sayangi bukan sebagai seorang wanita. Ingatan kembali di saat kami saling memadu kasih.

ÔÇ£Are you thinking about something?ÔÇØ ucap budhe kembali

ÔÇ£jika dia memilih yang salah aku akan mengembalikannya kepadamu, karena semua berawal dari kesalahankuÔÇØ ucapku dengan tetap memandang bulan lalu kuambil dunhill mild dari saku kusulut satu batang

ÔÇ£Thank you Arya, kamu terlihat sangat manis malam ini…ÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Setiap hal pasti ada yang salah, dan kita dituntut untuk memperbaikinya hingga waktu dimana yang salah telah kita benarkan kembali, aku sudah tidak peduli jika dia memilihnya, aku akan sangat bahagia jika melihatnya bahagiaÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Cinta harus memiliki, jika tidak memiliki itu adalah rasa sakitÔÇØ

ÔÇ£jika Cinta harus diperjuangkan, kehidupan pun akan dikorbankan hingga cinta itu tahu bahwa itu ada sebuah kesalahan pada dirinya dan tahu bahwa ada cinta yang selalu mengharapkannyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£eh….ÔÇØ pandangannya sedikit terbelalak kemudian tersenyum dan menyipitkan matanya sambil berjalan kearahku. Cuuupppp…. kecupan didaratkannya di bibirku

ÔÇ£Mungkin aku memang harus lebih banyak berbicara denganmu…ÔÇØ ucapnya lalu duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya dibahuku. Kumatikan dunhill yang telah terbakar filternya.

ÔÇ£Apapun yang terjadi ini adalah kesepakatan kita ketika itu, jadi kita harus menanggung resikonya secara bersama-sama…ÔÇØ

ÔÇ£Dan Arya tidak akan membiarkan budhe menanggung resiko itu sendiri, Arya sayang budhe karena budhe adalah bagian dari keluargakuÔÇØ ucapku yang kemudian mendapatkan sentuhan halus dipipiku, aku kemudian menoleh dan memandangnya

ÔÇ£Budhe tenang saja yaÔÇØ ucapku sambil tersenyum dan tiba-tiba saja budhe menciumku, kurasakan ciumannya sedikit menyedot bibirku langsung saja dia lari sembari mengambil tasnya

ÔÇ£Ayo kejar aku Arya kalau kau bisa menangkapku, aku belikan es krim…ÔÇØ teriaknya sambil berlari dan mencopot sepatu hak tingginya itu. Aku sedikit melongo dengan tingkah lakunya, aku kemudian bangkit dan mengejar budhe hingga aku menangkapnya. Terlihat wajahnya kembali riang seakan-akan tak ada masalah didalam hatinya. Senyum dan tawanya sangat lepas seakan dia kembali menjadi seorang gadis yang sedang menari di atas panggung kebahagiaan. Tak ada yang salah dengan dirinya jika dia memperlihatkan kebahagiaan itu, kebahagiaan dimana cintanya bertepuk sebelah tangan. Setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya sedikit menyadarkan aku walau aku tetap ingin seperti ini.

Akhirnya kami sampai dihotel dengan canda tawa yang riang, penjaga lobi hotel tampak terkejut dengan kedatangan kami yang sebelumnya tertidur di meja lobi itu. Sebentar kami bergurau dengan para karyawan hotel tersebut, tampak kekaguman mereka terhadap sikap budhe yang periang ini. Kami kemudian menuju kamar dan ketika masuk kedalam kamar.

ÔÇ£Budhe tidak menyangka akan sebahagia ini dimalam ini walau sebenarnya dia sedang disamping entah apa yang mereka lakukan ÔÇØ ucapnya lirih, kemudian merebahkan tubuhnya terlentang di atas kasur aku kemudian berjalan melewatinya mengambil minuman kaleng yang ada diatas meja TV. aku kemudian membuka jendela duduk menghadap keluar dengan asap dunhill yang bertebaran

ÔÇ£Ar…ÔÇØ panggilnya, aku kemudian memiringkan tubuhku dan bersandar pada jendela

ÔÇ£beruntung sekali diah mempunyai anak yang perhatian seperti kamuÔÇØ ucapnya membuatku memandang budhe dan tersenyum

ÔÇ£Diah selalu bercerita kepadaku mengenai kamu yang selalu membantu hidupnya terus berjalan hingga kini, padahal….ÔÇØ ucapnya terpotong. Aku kembali menoleh kearahnya melihat budhe yang tidur menyamping menghadapku

ÔÇ£Dulu, kamu hampir dibunuhnya…ÔÇØ ucapnya tegas dengan kepala disangga oleh tangan kirinya

ÔÇ£Hah…ÔÇØ bathinku terkejut. Aku kembali tersenyu tanpa menjawb pertanyaan budhe, terlihat ribuan kata dimulutnya akan kembali terucap

ÔÇ£Do you know Ar?… ketika umur kamu 1 tahun, Diah hampir membunuhmu dengan membawa sebilah pisau yang ingin ditusukan kepadamu. Haaaaaaahhh… itu karena perlakuan Ayahmu yang terlalu keras kepada Ibumu, padahal Ibumu saat itu baru berumur 18 tahunÔÇØ ucap budhe

ÔÇ£Aku tidak tahu soal itu budhe, yang aku tahu dia Ibuku dan aku harus selalu menjaganya…ÔÇØ ucapku membalas pernyataan budhe. Budhe kembali melihatku dengan senyuman yang manis.

ÔÇ£Budhe tahu…ÔÇØ

ÔÇ£Dia juga sempat hampir gila ketika kamu disembunyikan kakek dan nenek hampir 1 bulan, karena mereka takut jika terjadi apa-apa ketika Diah bersamamu. Diah menjadi orang linglung, menggendong boneka seperti orang hampir kehilangan kendali atas jiwanya. Tapi ketika kamu dikembalikan, dipeluknya kamu sangat erat olehnya dan menangis sejadi-jadinya dan berkata ÔÇ£mulai sekarang Ibu akan selalu ada dan menyayangimu selaluÔÇØ….ÔÇØ ucap budhe. Aku kembali teringat masa-masa dimana Ibu memelukku denga sangat erat, menangis karena tingkahku yang semakin liar ini.

ÔÇ£Berhati-hatilah dengan Ayahmu…ÔÇØ ucap budhe kembali

ÔÇ£Apa maksud budhe?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Dia adalah orang kedua yang memiliki hasrat untuk membunuhmua, tapi semua itu digagalkan oleh Ibumu. Bahkan ketika itu Ibumu menjadi sangat marah ketika melihat Ayahmu. Itulah kenapa Ayahmu sampai sekarang masih sedikit takut kepada Ibumu, walau pada kenyataanya Ibumu yang selalu tersakiti oleh tingkah Ayahmu. Padahal Diah selalu mencoba untuk menjadi istri yang baik dan mencoba memperbaiki semuanya, tapi Ayahmu terlalu liar untuk di kendalikanÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apakah sifat liarku ini menurun darinya?ÔÇØ bathinku sambil menerawang jauh ke luar jendela

ÔÇ£Bagaimana budhe tahu semua itu?ÔÇØ ucapku yang menoleh kearahnya

ÔÇ£Karena ketika kamu masih dalam kandungan, tepatnya 7 bulan, pakdhemu berpacaran dengan budhe, dan budhe sangat bahagia keluarganya menerima budhe dan budhelah yang menjadi tempat curhat Ibu dan nenekmu…ÔÇØ ucapnya. Kusulut kembali dunhill menggantikan batang yang telah terbakar habis. Aku menoleh ke arah luar jendela, lamunanku seakan kembali ke setiap persoalan-persoalan hidupku

ÔÇ£Ar… budhe mau tanya kepadamu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ya budhe…ÔÇØ jawabku kepada budhe sambil duduk dijendela menghadap kedalam

ÔÇ£Apakah Dia harus aku pertahankan?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apakah budhe masih mencntainya?ÔÇØ ucapku, dan dijawab dengan anggukan

ÔÇ£Apakh dia orang yang salah untuk dicintai?ÔÇØ tanyaku kembali

ÔÇ£Tidak…ÔÇØ ucap budhe menjawabnya

ÔÇ£Apakah ada keraguan dalam cinta budhe? Sssshhhhhh aaaaaahhhh fyuuuuuuuhhÔÇØ tanyaku kembali, sembari menghisap dunhill dan kubuang asapnya kearah luar

ÔÇ£Tidak ada sama sekali…ÔÇØ jawab budhe

ÔÇ£perjuangkan. Arya akan membantu…ÔÇØ ucapku tersenyum kepadanya. Tatapan matanya kembali terlihat sipit karena seyumnya terukir di bibir indahnya. Hisapan demi hisapan aku rasakan dalam diam, kami saling berpandangan dan melempar senyum satu sama lain. Ku buang dunhill yang tingga batang filternya itu.

Kututup jendela kamar dan menyalakan pendingin ruangan. Kurebahkan tubuhku di atas sofa yang penuh dengan kenyamanan dengan bantalan dua tanganku. Pandanganku melayang menerawang kearah langit kamar ini walau tak tampak seindah lautan langit diluar aku masih bisa merasakan keindahanya, dalam lamunanku.

ÔÇ£Kemarilah, Budhe ingin ditemani tidur…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Tidak dhe, bahaya he he he…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£budhe mohon mbloooooo, budhe ndak bisa tidur nanti, besok budhe bawa mobil, kalau budhe mengantuk bagaimana? Aaaaaayo mblooooÔÇØ ucapnya manja. Panggilan yang sebenarnya aku benci kembali aku dengar. Aku meringkukan tubuhku di sofa tanpa menghiraukan ucapan budhe.

ÔÇ£hiks hiks hiks hiks…. jahat kamu mblo hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya tersengal dan menangis membuat aku tidak tega mendengarnya

ÔÇ£Iya deh… tapi jangan nangis gitu ÔÇ£ ucapku sembari bangkit dan menuju kasur dimana budhe berada. Tampak budhe tersenyum cengengesan karena telah berhasil merayuku. Aku kemudian tidur dipinggir kasur disebelah kiri budhe. Tiba-tiba budhe merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan menarik tangan kiriku untuk memeluknya.

ÔÇ£peluk budhe ar…ÔÇØ ucapnya lirih. Tangan kananku menelusup diantara bantal dan lehernya sedang tangan kiriku memeluk tubuh budhe.

ÔÇ£hangat….ÔÇØ ucapnya lirih, aku sendiri merasakan kehangat tubuh budhe

ÔÇ£Ar, bagaimana jika budhe jatuh cinta kepadamu?ÔÇØ tanya budhe dengan lebih mendekatkan tubuhnya kearah tubuhku

ÔÇ£itu salah, budhe…ÔÇØ jawabku. Pandangannya menengadah kearahku dan sedikit mendorong tubuhnya keatas budhe mengecup bibirku dan kembali lagi dalam pelukanku

ÔÇ£hehemm… andai saja aku seumuran denganmu mungkin budhe akan memacarimuÔÇØ ucapnya kembali

ÔÇ£itu tidak akan terjadi dan Jika itu terjadi, aku akan memilih orang lain budheÔÇØ ucapku, yang didalam benakku ada seorang wanita tersenyum manis kepadaku, Ibu.

ÔÇ£jika kamu memilih orang lain, Aku akan memperjuangkannya agar mendapatkanmuÔÇØ ucapnya kembali menekanku

ÔÇ£Dan aku akan tetap memilih yang lain budheÔÇØ ucapku lirih dengan bayang-bayang Ibu dalam pikiranku

ÔÇ£Kenapa kamu setega itu menjawab mimpi indahku ini?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£karena budhe adalah budheku maka semua ini terjadi, jika budhe bukan budheku aku tak akan pernah mengenal budhe dan ini semua tidak akan pernah terjadiÔÇØ ucapku sembari aku memeluk kaku tubuhnya

ÔÇ£tetapi kenapa aku merasakan hal lain ketika aku bersamamu…ÔÇØ ucapnya lirih

Kami terdiam dan membisu dengan iringan nyayian angin malam yang bertiup diluar. Dinginya pendingin ruangan membuat aku sedikit merasakan hawa dingin. Tapi tubuh hangatnya seakan melupakan semua kedinginan itu. Tiba-tiba budhe melepaskan pelukan itu, melepas semua pakaiannya dan juga roknya, aku yang melihat itu bangkit untuk berpindah tempat tapi dengan cepat budhe mendorongku hiingga rebah. Tubuhnya kemabali masuk kedalam dekapanku.

ÔÇ£Aku ingin dipeluk lagi…ÔÇØ ucap budhe lirih.

ÔÇ£Aku? Kenapa budhe menyebut dirinya sebagai Aku?ÔÇØbathinku. tubuhnya semakin masuk membuat aku semakin tidak berdaya, posisiku sekarang sama dengan di awal mendekap tubuhnya. Seorang wanit dengan hanya menggunakan BH berenda dibagian atasnya dan celana dalam berwarna putih dalam pelukanku. Dedek arya kemudian bangkit dari tidurnya dan mengerars seketika itu pula. Terasa tangan halus mengelus dedek arya.

ÔÇ£Keras, Arya…ÔÇØ ucapnya lirih. Dengan pandangan kearahku, aku tertegun dengan semua yang terjadi. Tiba-tiba tubuhnya sedikit terangkat kepalanya menggeser ke atas dan didaratkannya ciuman di bibirku dengan sedikit sedotan pada bibirku yang aku pertahankan untuk tertutup.

Seketika itu aku sadar, aku kemudian menurunkan tubuh budhe agar kembali pada posisinya. Aku peluk dengan erat tubuhnya sehingga dia tidak bisa bergerak lagi. Kedua tangannya aku posisikan memeluk punggungku. Kupeluk sangat erat, terasa susu besarnya menempel pada dadaku yang berlapis kaos ini.

ÔÇ£Arya mohon, budhe tidur ini sudah malam…ÔÇØ

ÔÇ£Jangan buat arya menangis…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£hehemm… maafkan budhe…ÔÇØ

ÔÇ£Peluk budhe lebih erat lagi ar…ÔÇØ lanjutnya

Pelukan erat antara aku dan budhe membuat kami bersatu dalam dingin malam. Desahan nafas kami bersatu dengan mencoba memepertahankan diri masing-masing. Kurasakan pelukan budhe melemah di punggungku, kugeser bola mataku kebawah terlihat budhe terlelap dalam tidurnya. Mataku semakin pegal, tubuh ini semakin berat untuk bergerak, aku pun tertidur.

Pagi menjelang, sudah tak kurasakan lagi tubuh hangat yang berada dalam dekapanku malam itu. Aku kemudian duduk kulihat seorang wanita paruh baya membelakangiku sedang mengenakan BH-nya, satu persatu pakaian malam tadi dikenakannya kembali. Aku masih melihat dan mencoba mencair tahu apakah ini mimpi atau hanya sekedar halusianasi. Dengan pakaian lengkapnya Budhe mebalikan tubuhnya.

ÔÇ£Hmmm ngintip ya? Awas kamu, budhe bilangin ke Ibu kamu nanti ya hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Yeee sapa yang ngintip, budhe sendiri yang ganti pakaian disitu, dikamar mandi gitu atau dimana, yang arya ndak lihat, sudah tahu disini ada cowok masih saja ganti pakaian sembaranganÔÇØ ucapku dengan nada nyeleneh

ÔÇ£ha ha ha iya iya, ya kali aja bisa ngegoda kamu gitu, tapi ya aneh kalau kamu tergoda dengan cewek tua ini hi hi hiÔÇØ

ÔÇ£sudah sana mandi terus makanÔÇØ ucapnya sedikit membentak. Aku bangkit mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi melewati budhe.

ÔÇ£Iya tua kaya umur 29 tahun…ÔÇØ ucapku nyeleneh

Ketika aku melewatinya Budhe tampak tertegun mendengar ucapanku. Aku kemudian mandi dan berpakaian rapi ala kadarnya sama seperti tadi malam. Kami kemudian makan bersama dengan sedikit bercanda. Kami kemudian check out dan menunggu pakdhe didalam mobil yang ada di tempat parkir. Memang budhe mengantar pakdhe ke hotel ini dan kemudian budhe izin untuk pulang tapi budhe memarkir kembali tempat mobilnya dan menyewa satu kamar lagi di no 75. Mobilnya diparkir ditempat parkir hotel satunya lagi jadi kami harus ke tempat parkir mobil budhe dahulu yang jaraknya lumayan jauh dari hotel. Didalam mobil kami terdiam, kepalaku kugantungkan di pintu mobil sambil menghisap dunhill.

ÔÇ£terima kasih ya Ar, sudah menemanni budhe, dan terima kasih atas pujiannyaÔÇØ ucap budhe

ÔÇ£pujian apa? Emang arya pernah memuji budhe? Kalau iya berarti arya lagi tidak sadarkan diri ha ha haÔÇØ jawabku dengan tawa, tapi budhe masih dengan wajah seriusnya

ÔÇ£terima kasih, karena kamulah yang pertama kali mengucapkan kalau budhe ini seperti anak muda 29 tahun he he he heÔÇØ ucapnya yang diawali dengan wajah serius kemudian beralih menjadi candaan. Kulihat jam disematponku menunjukan pukul 09:00, sebuah pesan dari Ibu aku buka yang mengatakan kalau Ibu sudah pulang kerumah dan menyuruhku untuk pulang kerumah. Sms kedua masuk dari tante ima, dia mengabari jika dia sudah dalam perjalanan pulang.

Kulihat pakdhe berjalan kearah mobil dan aku pindah ke tempat duduk belakang. Tak ada percakapan diantara pakdhe dan budhe, hanya sapaan kepadaku dan ucapan terima kasih terlontar dari mulutnya. Kami kemudian pulang dengan budhe sebagai pengemudinya.

ÔÇ£Apakah mas sudah putuskan?ÔÇØ tanya budhe

ÔÇ£belum, jangan dibahas disini ada Arya…ÔÇØ jawab pakdhe. Tampak mata budhe sedikit berkaca-kaca walau ditutupi dengan kaca mata hitamnya. Perjalanan melewati kampusku dan aku meminta berhenti di kampus agar aku naik taksi, awalnya mereka tidak setuju tapi aku memaksanya. Ketika aku keluar dari mobil, aku membuka pintu depan mobil dan meminta pakdhe menemaniku hingga mendapatkan taksi. Kami duduk berdua di pinggir jalan dekat dengan kampusku dengan dunhill tersulut di tanganku dan sebuah Djarum tersulut di tangan pakdheku.

ÔÇ£Pak dhe…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£iya…ÔÇØ jawabnya

ÔÇ£Arya berharap pakdhe tidak salah memilihÔÇØ ucapku sedikit membuat kaget pakdhe

ÔÇ£Kamu jangan sok tahu dan menggurui pakdhe, kamu cukup diam saja karena ini semua adalah privasi pakdheÔÇØ ucapnya dengan asap keluar dari hidungnya

ÔÇ£Dulu ada seorang lelaki yang selalu aku anggap sebagai seorang ksatria, bahkan dia aku pandang lebih hebat dari Ayahku sendiri dan aku selalu ingin sepertinya, bahkan hingga sekarang dia adalah ksatria yang selalu aku banggakan, ada sebuah cerita menarik antara aku dan ksatria ituÔÇØ


Dulu aku pernah bertanya pada ksatria itu…
ÔÇ£Wahai ksatria kenapa kamu masih menunggangi kuda besimu yang sudah tua itu? Gantilah dengan yang lebih gagah dan lebih kuat?ÔÇØ

kemudian dia menjawab :
ÔÇ£Wahai prajuritku, Bukan masalah baru atau lebih kuat, tapi kesetiaanya menemaniku, dan membawaku menjadi seorang kesatriaÔÇØ,

Aku kemudian bertanya kepadanya kembali :
ÔÇ£Tapi dia kelihatan akan rusak dan akan hancurÔÇØ

Ksatria itu menjawab :
ÔÇ£Itu yang kamu lihat cobalah kemari dan lilhatlahÔÇØ

Aku kemudian bergerak menuju kuda besinya itu, aku melihat bagaimana bersih dan kokohnya kuda besi itu. Benar-benar sangat terawat dan membuat orang yang melihatnya pasti ingin memilikinya.

Ksatria itu berkata kepadaku :
ÔÇ£Kuda besi ini memang tua, tapi jika mu tahu banyak sekali orang yang menginginkannya bahkan rela mengeluarkan puluhan juta untuk memilikinya tapi aku tidak memberikannyaÔÇØ

Aku bertanya :
ÔÇ£Kenapa? Padahal engkau bisa mencari penggantinya yang lebih indah, lebih bagus dan lebih kuatÔÇØ

Ksatria itu menjawab :
ÔÇ£Aku sudah mengatakan kepadamu bukan masalah yang baru lebih kuat, lebih bagus ataupun lebih kuat, tapi kesetiaanya menemaniku dalam suka dan duka, menerimaku apa adanya dan mengantarkan aku ke puncak tertinggi seperti sekarang ini, bahkan dia adalah kuda terhebatku walau aku bisa memiliki kuda yang lainnyaÔÇØ

Aku berkata :
ÔÇ£Tetap saja ini kuda tua dan pasti akan hancurÔÇØ

Ksatria itu menjawab :
ÔÇ£Jika suatu saat dia hancur dan mati, aku akan menemaninya… itulah janji seorang ksatria…
Kuda ini seharusnya sudah mati bertahun-bertahun yang lalu, maka dari itulah aku selalu merawatnya, menyayanginya dan mencintainya karena dia juga telah banyak berkorban untukkuÔÇØ

Aku bertanya :
ÔÇ£Kenapa? Kenapa engkau tidak memilih yang lainnya?ÔÇØ

Kstaria itu menjawab :
ÔÇ£Dalam hidup kita harus bisa memilih, Baik dan buruknya pilihan itu adalah sebuah rasa yang harus kita rasakan. Jika dalam pilihan itu ada rasa sakit maka ubahlah rasa itu menjadi rasa bahagia, ketika rasa itu adalah rasa bahagia maka pertahankanlah dan buat rasa bahagia itu semakin bertambah. Dengannya aku merasakan pahit dan manis hidup tapi dia tidak pernah mengeluh ketika menemaniku, ketika aku marah dia tetap tersenyum menemaniku, ketika aku bahagia dia hanya akan meminta sedikit dari kebahagiaan itu. Itulah kuda besikuÔÇØ
….
ÔÇ£begitulah ceritaku tentang ksatria itu pakdhe…ÔÇØ

ÔÇ£Bagaimana dengan kuda besi itu sekarang ya? Apakah ksatria itu masih memakainya?ÔÇØ tanyaku menerawang ke langit

ÔÇ£Ssshhhhh aaaahhhh… Masih dan dia masih menemani ksatria ituÔÇØ jawabnya aku tersenyum mendengarnya

ÔÇ£Apakah wanita di dalam mobil itu pernah mengeluh kepada ksatria itu ya?ÔÇØ ucapku. Tiba-tiba pakdhe memandangku dengan tatapan tajam kemudian menunduk

ÔÇ£Tidak, tidak pernah…ÔÇØ ucap pakdhe sembari menyulut sebatang Djarum kembali. Aku melirik kearahnya kluihat sebuah pandangan dengan sedikit penyesalan terarah kebawa dari matanya. Terlihat taksi melintas tak jauh dari tempat kami berada.

ÔÇ£TAKSIIIIII! WOIIIIII!….ÔÇØ Teriakku memanggil taksi, taksi kemudian merapat, aku kemudian mendekati taksi itu dan ternyata bapaknya yang kemarin mengantarku. Lalu aku kearah mobil budhe.

ÔÇ£Budhe, Arya pulang dulu yaÔÇØ

ÔÇ£Dadah budhe jeleeeeeeeekk weeeeeeeeeeeeeekk….ÔÇØ pamitku kepada budhe sambil meledeknya. Budhe langsung mengeluarkan kepalanya melalui pintu depan kemudian masuk lagi.

ÔÇ£Awas ya nanti kalau ketemu lagi aku pukul kamu Arya berani sekali bilang budhe jelek..HUH!ÔÇØ ucap budhe. Aku hanya tertawa dan kuhampiri pakdhe kemudian salim kepadanya, tatapan matanya kepadaku menjadi tatapan mata dengan rasa malu. Aku kemudian melangkah menuju taksi.

ÔÇ£Pak dhe…ÔÇØ panggilku sembari berdiri membelakanginya

ÔÇ£Bukan masalah yang baru lebih kuat, lebih bagus ataupun lebih kuat, tapi kesetiaanya menemaniku dalam suka dan duka, menerimaku apa adanya, maka dari itulah aku selalu merawatnya, menyayanginya dan mencintainya karena dia juga telah banyak berkorban untukkuÔÇØ ucapku dengan mencuplik kata-kata ksatria yang aku ceritakan tadi. Aku kemudian masuk kedalam taksi, kubuka kaca jendela dan men-dadah-i mereka semua. Kuketika sebuah sms kepada pakdhe.

To : Pakdhe Andi
Aku berharap dan sangat berharap sekali
Ksatria itu tidak menghancurkan harapanku
Karena aku ingin sekali sepertinya
Dan Aku yakin Ksatria itu akan selalu
Mencintai yang telah menemaninya dengan cintanya
Mobil taksi melaju dengan sangat nyaman, membuat aku sedikit mengantuk. Ku hilangkan kantukku dengan bercengkrama dengan pak sopir taksi. Dengan sedikit basa-basi aku meminta nomornya untuk berjaga-jaga mungkin suatu saat nanti aku akan membutuhkannya. Taksi melintas dengan sangat lihai, mendahului para pengendara motor dan pengendara mobil lainnya. Sinar matahari menemaniku dalam perjalanan itu, hembusan angin dari kaca jendela yang aku buka ikut menghabiskan batang dunhill yang sulut. Tawa canda kami beriringan dengan deru suara mobil. Rasa kantuk kemudian menyelimutiku, kupasang earphone ditelingaku dan kuputar lagu. Hingga sampailah aku dirumahku dan dibangunkan oleh pak sopir. Kumasukan telepon cerdasku ke dalam kantong lalu Ku bayar taksi, kemudian aku masuk kerumah yang tampak sepi ini. Aku kemudian berjalan menuju pintu utama rumah. Kleeeeekk….

ÔÇ£Baru sampai ya?ÔÇØ ucap Ibu. Wanita ini entah kenapa selalu membuatku rindu akan belaian kasih sayangnya. Kupeluk Ibu yang berada tepat didepanku, Ibupun membalas pelukanku. Aku kemudian ditariknya kedalam secara perlahan, dengan menggunakan kakinya dia menutup pintu rumah.

ÔÇ£Mom, itÔÇÖs Lust or Love?ÔÇØ tanyaku lirih dan masih dalam dekapan pelukannya

ÔÇ£Love….ÔÇØ

ÔÇ£meskipun ini hanya sementaraÔÇØ jawabnya lirih. Aku semakin erat memeluknya dan mendekapnya dalam pelukanku, kedua tangan Ibu beralih kebelakang kepalaku. Kepalanya menengadah kearahku dan kudaratkan ciuman dibibirnya.

Layaknya sepasang kekasih kami berciuman dan saling memuaskan bibir kami. Mata kami terpejam mencoba menikmati ciuman ini. kupeluk tubuhnya semakin erat, pelukan dikepalaku pun semakin erat. Serasa tak ingin melepaskannya, telepon cerdasku yang aku kantongipun jatuh . Terlepaslah earphone-nya dan suara lagu mulai muncul dari sematpon-ku. Ciuman ini pun masih berlanjut dengan iringan lagu dari telepon cerdasku, lagu yang indah.

Kaze ga yoseta kotoba ni
Oyoida kokoro
Kumo ga hakobu ashita ni
Hazunda koe

Tsuki ga yureru kagami ni
Furueta kokoro
Hoshi ga nagare, koboreta
Yawarakai namida

Suteki da ne
Futari te o tori aruketa nara
Ikitai yo
Kimi no machi, ie, ude no naka

Sono mune
Karada azuke
Yoi ni magire
Yume miru

Kaze wa tomari; kotoba wa
Yasashii maboroshi
Kumo wa yabure; ashita wa
Tooku no koe

Tsuki ga nijimu kagami o
Nagareta kokoro
Hoshi ga yurete, koboreta
Kakusenai namida

Suteki da ne
Futari te o tori aruketa nara
Ikitai yo
Kimi no machi, ie, ude no naka

Sono kao
Sotto furete
Asa ni tokeru
Yume miru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*