Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 8

Wild Love 8

Rumah ini adalah rumahku, rumah pemberian Kakekku kepada kedua orang tuaku. seorang wanita paruh baya sedang duduk termangu di ruang TV dengan seorang laki-laki yang mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Diarahkan cacian itu kepada orang yang berada di telepon. Wanita itu adalah Ibuku dan lelaki itu adalah Ayahku, Ayah yang memiliku fisik berbeda dengank. Tubuhnya tidak tinggi dan tidak pendek jika dibandingkan dengan Ibu tinggi Ibu sedikit. Kulitnya gelap dengan rambut lurus di kepalanya. Aku memang sedkit beruntung karena aku menuruni Ibuku. Ibu yang melihatku muncul dari lorong kemudian bangkit dan menyambutku dengan senyuman manisnya, aku pun tersenyum kepadanya. Tak lupa aku salim kepada Ibuku kemudian aku berjalan ke arah Ayahku, dengan sangat dingin dia hanya menjulurkan tangannya kepadaku dengan hanya sebentar memandangku. Aku kemudian melangkah naik ke kamarku, kamar yang aku tinggalkan hampir 3 hari ini dari hari jumat. Beribu kejadian dalam minggu ini membuatku merasakan beban pikiran berlebih ditambah lagi hari ini tampak Ayah sedang marah-marah tidak jelas.

ÔÇ£Kang Mas, Dimas mau menemani Arya sebentar, katanya mau curhat…ÔÇØ terdengar ucapan Ibu

ÔÇ£Iya, tinggal naik saja susah, minta ijin segala…ÔÇØ terdengar bentak Ayah kepada Ibu.

Aku yang berada dalam kamar ini duduk termangu dipinggir tempat tidurku, kemudian pintu terbuka masuklah sesosok wanita yang selama ini aku rindukan, Ibu. Ibu masuk kemudian menutup dan mengunci pintu, melihat ke arahku dengan sedikit raut sedih tergurat di wajahnya. Aku kemudian berdiri melangkah ke arah Ibu kemdian ku peluk Ibu, kucium ubun-ubun Ibu dan Untung saja Ibu tidak menangis. Kupeluk erat tubuhnya terasa hangat dan tentunya terasa dorongan susu Ibu di dadaku.

ÔÇ£Sudah tidak perlu sedih buÔÇØ ucapku menenagkan Ibu

ÔÇ£Iya… nggak kangen sama Ibu nak?ÔÇØ ucapnya kepadaku, tanpa diberi komando apapun aku langsung melumat bibirnya terdengar desahan Ibu yang masih kalah dengan teriakan-teriakan amarah Ayahku kepada benda mati yang ada di tangannya. Kulumat dan lidah kami saling beradu, daling menghisap, saling melumat seperti seorang kekasih yang lama tak bertemu. Sambil berciuman ku arahkan langkah Ibu ke tempat tidurku, kami rebahan dan saling pandang melepas rindu yang tersumbat selama 1 hari kemarin.

ÔÇ£Dimaaaa… DIMAAAAAAAAAAAASSSSSSSSSSS!ÔÇØ teriak Ayahku, kami berdua kaget dan Ibu langsung berdiri dan membuka pintu yang terkunci itu menuju kebawah.

ÔÇ£Dipanggil lama sekali, apa sudah mulai budek?!ÔÇØ marah Ayah, kuliha Ibu dari pintu kamarku hanya menunduk di hadapan Ayahku tanpa rasa takut mungkin karena aku ada di rumah ini

ÔÇ£Aku mau keluar, jaga rumah bersama Arya, tak tahu pulang kapan?ÔÇØ

ÔÇ£Arya! Jaga rumah!ÔÇØ bentak ayah kepada kami berdua

ÔÇ£Inggih Romo…ÔÇØ ucapku dari kamar

Sektika itu terdengar langkah cepat ayah menuju garasi, kemudian terdengar suara mobil yang lambat laun menghilang. Aku melangkah menuju ke bawah, Ibu memandangku dengan senyuman indah di bibirnya, senyuman yang membuatku hanyut.

ÔÇ£Mandi dulu sana, Ibu mau menyiapkan makan malam dan tidak ada nanti-natian, Ingat LIBURÔÇØ Ucapnya kepadaku dengan senyuman manisnya, aku pun menuruti semua permintaannya karena aku tidak menolaknya.

Aktifitas sore, mandi ganti pakaian dan tiduran di dalam kamar menunggu panggilan Ibu. Tepat pukul 18.30 Ibu memanggilku dan menyuruhku makan malam. Makan malam sepasang kekasih yang dimabuk cinta, kami saling mnyuapi bahkan kadang Ibu mengunyahkan makananku dan menyuapiku dengan mulutnya yang manis. Ah wanita ini tetapi anggun dengan balutan drees longgar putih sepaha yang menutupi lengan dan disambung dengan celana hitam selutut. Lama kami mamdu kasih di meja makan.

ÔÇ£Ibu tidur dikamar kamu ya nak?ÔÇØ ucap ibu dengan senyuman

ÔÇ£Romo bagaiman bu?ÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Dia tadi telepon Ibu, kalau pulang besok atau lusa, sudah biasa seperti itu…ÔÇØ ucapnya

Ibu menceritakan kepadaku, Ayah ketika menjemput tadi tampak seperti orang yang ketakutan sangat ketakutan. Menyetir mobil saja sangat ugal-ugalan hingga dirumah Ayah marah-marah terus dengan orang yang berada di telepon, setiap kali telepon dimatikan oleh Ayah, Ayah menelepon orang lain lagi dan marah-marah kembali. Dalam benakku aku hanya berpikir, Apakah ada sangkut pautnya dengan Telepon Cerdas KS?

Malam berganti, aku dan Ibu berada di dalam kamarku bercanda dan bergurau layaknya sepasanga adik kakak. Ibu selalu menggodaku dengan kata-kata ÔÇ£Kapan punya pacar?ÔÇØ dan selalu aku balas dengan kecupan di pipinya ÔÇ£Ini pacarkuÔÇØ. Permainan kamu berlangsung hingga pukul 21.50 ketika aku melihat jam dinding. Hingga akhrinya aku lelah dan rebah di lantai kamarku, Ibu duduk di pinggir tempat tidurku tepat di atas kepalaku, memandang kebawah ke wajah anaknya.

ÔÇ£Ibu….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmm…..ÔÇØ jawabnya sambil tersenyum manis dengan menyipitkan matanya ke arahku, antara dilema dan galau alias andilau aku beranikan menanyakan tentang tante ima.

ÔÇ£Sahabat Ibu yang bernama Karima itu….ÔÇØ ucapku terhenti

ÔÇ£Iya, ada apa? Ibu tidak pernah bertemu dengannya selama ini, jadi kangen kalau kamu bilang seperti itu….ÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Apakah dia bernama Karima Kapoor, seorang wanita keturunan IndiaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hhh… Bagaimana kamu bisa tahu? Ibu tdak pernah menceritakan detail tentang sahabat Ibu ituÔÇØ tanya Ibu mulai terkejut dengan pernyataanku

ÔÇ£Dia sering memanggil Ibu dengan sebutan Pita?ÔÇØ lanjutku, Ibu kemudian turun dan memegang ke dua bahuku wajahnya tepat di atasku.

ÔÇ£Darimana kamu tahu, ceritakan!ÔÇØ ucap Ibu sedikit membentak

ÔÇ£Ibu kok jadi galak sama Arya, Arya kan pasti cerita, tapi Ibu jangan mar….rahÔÇØ ucapku sedikit ketakutan

ÔÇ£oh.. maaf maaf sayang Ibu terbawa emosi, karena jujur Ibu kangen sekali dengan tante ImaÔÇØ ucapnya yang kemudian duduk bersimpuh disampingku, aku bangkit dan duduk bersila di sampingnya.

ÔÇ£Tapi janji Ibu tidak marah ya….ÔÇØucapku

ÔÇ£Kenapa harus marah sama kamu sayang?ÔÇØ jawab Ibu manja

Aku kemudian berdiri dan duduk di pinggiran kasur, diikuti oleh Ibu yang kemudian duduk disampingku. Kemudian aku ceritakan dari awal aku menginap di rumah Rahman sahabatku yang sering aku ceritakan kepada Ibu. Hingga ku bercerita tentang bagaimana aku bersetubuh dengan sahabatnya? Dan tentunya membuat Ibu sangat terkejut sekali mendengar itu semua… Ibu mengalihkan pandangannya dariku dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sepasang pahanya. Terlihat linangan air mata yang mengalir dari mata Ibu melewati sela-sela antara pipi dan telapak tangannya. Aku mendekat kemudian memeluk Ibu, secara spontan Ibu menampiknya dan berdiri meninggalkan aku. Aku langsung berlari mengejarnya hingga di depan pintu kamarnya yang akan ditutup tapi cepat aku tahan.

ÔÇ£IBU AKU MOHON JANGAN SEPERTI INI, ARYA TAHU ARYA SALAH TAPI ARYA JUGA DALAM PENGARUH OBATÔÇØ Teriakku membela dan memohon kepada Ibu, yang kemudian Ibu melangkah ke arah tempat tidurnya dan duduk termangu dan melamun. Aku kemudian melangkah dan duduk di samping Ibu dan hanya diam.

ÔÇ£Kamu sukakan sama Tante Ima?ÔÇØ tanyanya tiba-tiba dengan nada ketus dan judes

ÔÇ£Terpaksa…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Seandainya dia meminta lagi, apa kamu akan memberikannya?ÔÇØ tanya Ibu

ÔÇ£Atas seijin Ibu… ÔÇ£jawabku

ÔÇ£Jika Ibu bilang tidak, kamu pasti akan sembunyi-sembunyi di belakang Ibu kan?ÔÇØ tanyanya lagi

ÔÇ£Tidak… ÔÇ£ jawabku

ÔÇ£Bohong…ÔÇØ ucapnya, tanpa pikir panjang kemudian aku berdiri mengambil gunting di meja rias Ibu dan aku goreskan tepat di kulitku, dan untungnya tidak memotong nadiku.

ÔÇ£Apa perlu bu Arya menyayat nadi arya dihadapan Ibu seperti sekarang agar Ibu percaya?ÔÇØ dengan menunjukan darah yang mengalir dari tanganku.

ÔÇ£JANGAAAN!ÔÇØ teriak histeris Ibu kemudian mengambil kain dan menutupi pergelangan tanganku. Tampak raut wajah kebingungan Ibu dan aku hanya diam mematung. Untungnya saja Ibu selalu sedia plester di rumah, sehingga Ibu bisa langsung menutupi darah yang mengucur. Aku hanya terdiam dan kemudian duduk di pinggir kasur kembali. Ibu menangis sejadi-jadinya sambil memeluku.

ÔÇ£Iya, Ibu hiks hiks hiks ijinkan kamu nak…. tapi tolong jangan seperti ini hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£Terserah kamu mau sama siapa asalkan jangan tinggalkan Ibu hiks hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya terisak-isak

Aku kemudian memeluk Ibu, Ibu membalas pelukanku. Lama kami berpelukan hingga suara tangis Ibu reda dan Ibu kembali bangkit memandangku dengan penuh harap agar aku tidak meninggalkannya.

ÔÇ£Pokoknya kalau siapapun ingin denganmu, Ibu relakan asal kamu ceritaÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Tidak Bu, Arya tidak mau lagi selain dengan Ibu… Jikalau nanti Tante Ima atau ada wanita lain yang mengajak dan memaksa akan Arya tolak… Kar…ÔÇØ ucapku terpotong karena jari telunjuknya menyilang dibibirku. Tampak Ibu menghela nafas panjang.

ÔÇ£Begini, Memang pada awalnya Ibu merasa kamu khianati padahal Ibu yang mengijinkan kamu waktu pertama kali kita melakukannya. Maksud Ibu sebenarnya adalah kamu boleh menjalin hubungan dengan wanita yang kelak akan menjadi istri kamuÔÇØ

ÔÇ£Tapi kamu malah sama sahabat Ibu…ÔÇØ ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya

ÔÇ£Maaf bu, besok-besok tidak lagi…ÔÇØ

ÔÇ£Ketika melakukannya sama tante ima itu pikiran Arya cuma ke Ibu terus, itu murni nafsu beda ketika dengan IbuÔÇØucapku

Hening sesaat suasana kamar ini, tampak suara hewan malam mulai terdengar dari luar rumah ini. Ibu mulai menghela nafas panjang, dan memandangku dengan penuh kasih sayang. Tangannya yang satu memegag pergelangan tanganku dan yang satunya lagi memegang pipiku disertai elusan-elusan halus.

ÔÇ£Nak, Maafkan Ibu…ÔÇØ

ÔÇ£Ibu cemburu ketika kamu bilang kamu melakukannya dengan sahabat Ibu, dan Ibu tidak marah mengenai tali itu ataupun masalah tante ima punya hubungan dengan pamanmuÔÇØ

ÔÇ£Yang Ibu takutkan adalah Ima mengambil kamu dari IbuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Tidak bu, tidak akan, kan Arya lebih sering bareng Ibu bukan sama tante ima…ÔÇØ ucapku dengan senyuman nakal

ÔÇ£Iya deh, besok lagi kalau mau gituan sama tante ima harus seijin Ibu, gak boleh terusan…ÔÇØ

ÔÇ£Ibu perbolehkan tapi dengan syarat… kamu harus cerita penuh dari awal hingga akhirÔÇØ ucapnya kemudian memelukku dan menyandarkan kepalanya didadaku dengan sedikit senyuman terukir di bibirnya

ÔÇ£Walau sebenarnya Ibu sangat cemburu… kecuali jika kamu jalan dengan calon istri kamu, Ibu mungkin akan ikhlas…ÔÇØ lanjutnya lirih

ÔÇ£Apa saja yang diceritakan Ima kepadamu? Dan juga tentang hidupnya ketika berada di luar daerahÔÇØ tanya Ibu kemudian

Dengan memeluk Ibuku, dan mengelus-elus kepalanya disertai kecupan-kecupa mesra di ubun-ubunnya. Aku mulai menceritakan semua tentang tante ima, dari kehidupannya yang terkekang dan perjalanan kelam mengenai kehidupannya. Dari suaminya yang membawa wanita lain hingga persahabatan menakutkan antara Ayah dan Om Nico. Ibu mendengarnya dengan seksama dan tampak pelukan erat Ibu pada tubuhku mengisyaratkan kekhawatirannya terhadap sahabatnya.

ÔÇ£Mungkin Ibu harus bicara dengan Ima? Dan Mungkin Ibu juga harus berbagi Kekasih dengan ImaÔÇØ

ÔÇ£Tapi bagian Ibu 99,99%!ÔÇØ ucap Ibu dengan senyumannya sembari bangkit dari pelukan dan berpinggang kearahku. Aku hanya tersenyum dan mengiyakan. Aku bangkit dan ku ambil telepon cerdasku di dalam tas yang berada dikamarku serta mengambil nomor tante ima, kemudian aku sms tante ima. Kutanyakan kepadanya apakah rahman sudah tidur dan keberadaan om Nico. Tante Ima menjelaskan kalau om nico pergi keluar dan Rahman juga sedang nongkrong di nasi kucing tidak jauh dari rumahnya. Kemudian aku telepon tante ima ketika aku sudah berada di samping Ibu, di dalam kamarnya.

ÔÇ£Halo…ÔÇØ terdengar suara wanita dari telepon cerdasku

ÔÇ£Halo tante, langsung saja tante, ada yang mau bicara dengan tante…ÔÇØ ucapku, kuberikan telepon cerdasku kepada Ibu. Dan terlihatlah guratan kebahagiaan di wajah Ibu, dan setiap tutur kata yang terlontar dari mulut Ibu kembali menjad kata-kata gaul pada masanya. Mereka kelihatan bersendau gurau dan aku hanya melihat Ibu dengan senyuman karena mungkin Ibu sangat merindukan sahabatnya. Ibu kemudian menceritakan setiap detail kehidupannya dari awal hingga akhir, tampak pula tante ima bercerita mengenai dirinya dari awal hingga akhir. Ketika Ibu bercerita dengan tante ima dengan sangat manja Ibu bersandar di tubuhku, sambil berbicara aku hanya mampu menciumi kepalanya dan memeluknya dengan hangat. Ibu masih terus mengobrol dengan tante ima dan tidak lupa Ibu memberikan kecupan-kecupan mesra kepadaku setiap kali ada jeda pembicaraan. Dan itu memang berlangsung sangat lama kurang lebih satu jam, untung saja nomor tante ima sama operatornya dan nomorku sudah aku paketkan untuk telepon hemat. (Yang bertuliskan miring/ italic adalah ucapan dari tante ima)

ÔÇ£Apakah kita bisa bertemu ma?ÔÇØ ucap Ibuku

ÔÇ£Jangan, jangan sekarang, kelihatanya mereka berdua sedang dalam kondisi buruk, aku tadi mendengar percakapan mereka, nico berbicara di telepon mengenai pembunuhan, tapi tidak jelas, kalau suasana sudah reda, kita pasti akan bertemu pitÔÇØ ucap tante Ima

ÔÇ£Berarti apa yang kamu dengar sama dengan yang aku dengar ma, tadi mahesa juga berbicara seperti itu, kelihatanya kita tidak akan bebas jika mereka masih hidupÔÇØ

ÔÇ£bilangkan ke arya untuk tidak mendekati ayahnya walau sejengkal masalah antara mereka, itu berbahaya karena takutnya Arya terbawa emosi dari cerita yang dia dengar darikuÔÇØ

ÔÇ£Iya ma, ntar aku akan bilangkan ke arya, aku sebenere kangen ma kamu, kangen buangetÔÇØ

ÔÇ£Aku juga pit, kangen banget sama kamuÔÇØ

ÔÇ£Kangen sama aku apa sama mas andiÔÇØ

ÔÇ£Ya kamu to pit masa sama mas kamuÔÇØ

ÔÇ£Udahlah Arya dah cerita semua tentang kamu ma mas andi kokÔÇØ

ÔÇ£Semua?ÔÇØ

ÔÇ£Ya semua, tentang kehidupan kamu, pacaran ma mas andi, emangnya ada lagi?ÔÇØ

ÔÇ£Enggak… ya itu saja sich…mmmm maaf ya pit kalau aku dulu pacaran ma kakakmu, nggak ngomong ma kamu lagi, backstreet lagi, karena takutnya kamu ndak setujuÔÇØ

ÔÇ£Sebenarnya nggak papa seandainya aku dulu tahu, kamunya aja yang terlalu takutÔÇØ

Percakapan mereka nampaknya mulai serius membahas paman, ini dapat aku ketahui karena Ibu kemudian beranjak pergi meninggalkan aku di kamar. Hingga percakapan itu akhirnya menuju ujung waktu, percakapan yang jika tidak dihentikan oleh baterai hampir habis mungkin tak akan ada habisnya. Setelah mengucapkan salam perpisahan mereka menutup telepon masing. Ibu meberikan telepon cerdasnya kepadaku.

ÔÇ£Kalau kamu mau mempertemukan Pak dhe dengan tante ima, bagaimana dengan budhe?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu harusnya memikirkan perasaan bu dhe kamu, secara pribadi Ibu tidak setuju dengan langkah kamu mempertemukan mereka, Bu dhe kamu itu orang yang baik dan sangat pengertian kepada Ibu dan tante ratnaÔÇØ

ÔÇ£Jika kamu mempertemukan mereka, itu hanya akan mengulang kesalahan dan memperpanjangnya, Sekali lagi Ibu tidak setuju karena kamu akan menghancurkan bu dheÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Tapi semua berada di tanganmu, jikapun mereka bertemu secara sendirinya usahakan agar bu dhe tidak pernah mengetahuinyaÔÇØ ucap Ibu kepadaku

ÔÇ£Benar kata Ibu, Bu dhe adalah wanita terbaik untuk paman dan keluarga kami, mempertemukan masa lalu hanya akan menghancurkan masa depanÔÇØ bathinku dalam hati sembari mengangguk menjawab pernyataan-pernyataan Ibu.

ÔÇ£Bopong Ibu ke kamar kekasih Ibu, Ibu mau memanjakan kekasih IbuÔÇØ ucap Ibu manja dan tidak memandangku sama sekali, aku hanya tersenyum denga lembut. Kubopong Ibu menuju kamarku dan kududukan Ibu kemudian aku rebah dan tidur di kasur itu. Ibu kemudian beringsut mendekatiku dan memelukku.

ÔÇ£Ceritakan… ceritakan apa saja yang Ima berikan kepadamu ketika malam ituÔÇØ

ÔÇ£Tenang saja, tantemu itu tidak tahu jika Ibu mengetahui semua yang kalian lakukanÔÇØ ucap Ibu

Kemudian aku menceritakan secara detail satu-persatu dari awal persetubuhan hingga anal seks yang aku lakukan di ruang tamu. Ibu nampak terkejut hingga mengangkat kepalanya dan memandangku tapi aku tetap melanjutkan itu semua.

ÔÇ£Kamu pengen begitu sama Ibu?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Enggak bu, lha wong itu tante ima yang maksaÔÇØ jawabku

ÔÇ£Hmmm… nakal kamu hi hi hi… mungkin Ibu harus selalu telepon kamu setiap saatÔÇØ

ÔÇ£Karena setiap saat adalah saat buat Ibu untuk cemburu dengan kekasih Ibu ini hi hi hiÔÇØ ucap Ibuku, kami pun tertawa di tengah malam itu.

ÔÇ£Bu…ÔÇØ

ÔÇ£Maafkan Arya….ÔÇØ ucapku lirih dan kupeluk erat Ibu

ÔÇ£Iya nak…ÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£Jika suatu saat Arya cerita mengenai persetubuhan Arya dengan wanita lain, apakah Ibu akan marah?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Cemburu nak… Ibu tidak akan cemburu jika kamu menjalin hubungan dengan wanita yang akan dijadikan istrimu dengan catatan kamu menyayanginya selalu, tapi jika dengan wanita-wanita lain yang bukan akan menjadi istri kamu, Ibu akan hukum kamu…ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Apa bu hukumannya?ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Nanti Ibu pikirkan, tapi mulai sekarang….ÔÇØ ucap Ibu terhenti sesaat

ÔÇ£Jadikan Ibu sebagai istrimu, hingga kamu menemukan istri yang sebenarnyaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Kan sudah Bu he he heÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tapi suka main sama yang lain, sama kayak ayah kamuÔÇØ ledek Ibu

ÔÇ£BUUUUUUU…. Jangan samakan aku dengan Ayah, Ayah melakukannya dengan membuat keadaan seperti yang di inginkan sedangkan aku terjebak dalam keadaan ituÔÇØ belaku sedikit mengangkat tubuhku dan memandang tajam ke arah Ibu

ÔÇ£Sayang jangan marah, kan sayang Cuma bercanda sama sayang hi hi hi ÔÇØ candanya

ÔÇ£Iya, kamu sangat berbeda, sangat berbeda…..ÔÇØ

ÔÇ£Kamu banyak disukai perempuan-perempuan disekitar kamu sejak kamu SD dulu, banyak sebenarnya teman cewek kamu yang mengirim surat cinta ke kamu dan Ibu selalu membacanya, lucu-lucu…ÔÇØ

ÔÇ£Hingga kamu SMP makin banyak yang mengirimkan surat cinta kaleng kerumah ini, yang bilang cinta, sayang semua Ibu baca, yang paling parah ketika kamu SMA setiap pagi di kotak surat palilng tidak ada 3 surat cinta buat kamu, apalagi kuliah Ibu sering menerima telepon dari teman-teman kuliahmu yang bilang suka ma kamu, sayang, cinta tapi Ibu yakin mereka tidak akan berani menunjukan rasa suka mereka ke kamu dikampusÔÇØ jelas Ibu

ÔÇ£Kenapa bu?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Karena Ibu selalu berpura-pura jadi tunangan kamu yang sudah direstui oleh orang tuamu hi hi hiÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£Yah Ibu, membunuh pasar Arya saja he he he tapi ndak papalah Arya dah punya IbuÔÇØ jawabku

ÔÇ£Suatu saat nanti pasti ada perempuan yang akan datang menemui Ibu dan mengatakan bahwa dia mencintai kamu dengan sangat tulus, dan di saat itulah Ibu akan benar melepasmu, dan Ibu tidak akan pernah melepaskanmu kepada perempuan yang tidak jelas hanya melalui surat dan telepon Untuk sekarang Ibulah yang akan menjagamuÔÇØ jelas Ibu

ÔÇ£Terima kasih sayangku… aku harap Ibu masih mau menerimaku hingga akhir waktuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya pasti Ibu akan menerimamu tapi bukan lagi sebagai kekasih melainkan seorang anak, jika kamu sudah bersama kekasihmu yang benar-benar sudah Ibu pastikan ketulusannya kepadamuÔÇØ ucap Ibu kemudian memlukku dengan erat, aku hanya tersenyum dan memeluknya dengan erat pula. Ya mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Ibu, semua memang harus berakhir tapi bukan pada saaat ini. sebuah kenyataan yang sangat menjengkelkan sebenarnya ketika aku juga harus mengetahui bagaimana tenarnya diriku ketika masih kecil.

ÔÇ£Budhe, maafkan aku, sebisa mungkun aku tidak akan mempertemukan merekaÔÇØ bathinku dan berat mata ini hingga akhirnya kami terlelap dalam pelukan sampai pagi menjelang.

Pukul 04.30 aku seakan di guncang oleh tangan halus membangunkan aku. Dengat mata yang sangat berat terbuka, aku mencoba untuk membukanya. Aku bangkit dan duduk di tempat tidurku ketika aku menoleh ke arah tangan yang menggoncangku. Kulihat seorang wanita paruh baya dengan kebaya warna putihyang menutupi bahunya dan belahan dada yang sangat memperlihatkan lipatan susunya. Ditambah dengan kutang berwarna putih dan balutan jarit berwarna coklat dengan motif batiki tulis. Ya itu Ibu, memandangku dengan senyumannya tanpa menunggu sadar sepenuhnya, Ibu kemudian mencium dan melumat bibirku hingga aku gelagapan dalam menghadapinya. Dipeluknya tubuhku dan aku kemudia spontan memeluknya. Kami saling melumat, menyedot dan menjilat masing-masing bibir lawan kami. Membuat dedek arya yang sebenarnya sudah tegak karena MOREC akhirnya harus lebih tegak lagi karena serangan Ibu.

ÔÇ£Hmmm… sayang, Ibu pengen kasih sesuatu buat kamu?ÔÇØ ucap Ibu kepadaku

ÔÇ£Apa to bu? HoaaaaamÔÇØ ucapku kepada Ibu

ÔÇ£Anus Ibu…ÔÇØ bisiknya di telingaku, aku terbelalak kaget.

ÔÇ£Tidak bu, Arya tidak mau… itu akan buat sayang sakitÔÇØ ucapku, kemudian Ibu memajukan jarinya menyilang di bibirku

ÔÇ£Ini pertama dan terakhir, biar kamu tahu mana yang lebih enak, Ibu atau tante ima…ÔÇØ ucap Ibu, aku hanya menggeleng dan menggeleng

ÔÇ£Atau Ibu harus melakukan apa yang kamu lakukan semalam?ÔÇØ lanjutnya mengancamku, kuingat kejadian semalam, sial aku kemakan caraku sendiri. Dan akhirnya aku menurut dan mengangguk dibalasnya dengan senyuman Ibu.

ÔÇ£Nah Sekara….ÔÇØ ucap Ibu terpotong karena aku langsung memeluknya dan menciumnya. Aku mempercepat ini semua karena hari ini adalah hari senin dimana dosen killer menantiku. Segera aku singkap jarit Ibu, Ibu mempermudahkan aku dengan dia naik ke ranjang tempat tidurku, Ibu tidak memakai celana dalam.

ÔÇ£Keluarnya sedikit, jadi ya kamu jangan jijik ya…ÔÇØ ucap Ibu manja, memperingatkan aku tentang darah menstruasinya

Aku segera memposisikan tubuh Ibu nungging, dan kubuka lebar pantat Ibu. Memang terlihat sedikit bercak merah di vagina Ibu, sebenarnya jijik juga ketika mengetahui itu tapi mau bagaimana lagi aku harus menuruti permintaan Ibu untuk menyetubuhinya lewat anusnya. Ku buka lebar pantat Ibu, kemudian aku jilati anus Ibu, jilatan demi jilatan aku lakukan tak lupa aku memasukan lidahku ke dalam anus Ibu walau sebenarnya tidak masuk.

ÔÇ£Ah… enak sayangku… Ibu kangen lidah kamu sayangkuhhh… ah ah aaaaaÔÇØ rintih Ibu, sejurus kemudian aku ludahi anus Ibu. Ku buka celanaku dan ku arahkan dedek arya ke anus Ibu, ku ludahi lagi dedek arya. Nampak Ibu memperlihatkan wajah yang penuh nafsu ketika menoleh ke belakang, ke arahku. Dan ku masukan secara perlahan, perlahan perlahan dan perlahan. Sangat sulit masuk dan sangat sempit sekali hingga akhirnya usahaku membuahkan hasil dedek arya bisa masuk seutuhnya.

ÔÇ£Ouwhhh…. penuh… Ibu kangen….ÔÇØ

ÔÇ£Kontolhmuh sayangku….ÔÇØ ucap Ibu kepaku ketika aku benamkan dan diamkan dedek arya

ÔÇ£Bu, maaf jika menyakitkan, Arya akan buat Ibu senang asal tidak meminta ini lagi…ÔÇØ jawabku, Ibu hanya mengangguk dengan wajah memerahnya menahan nikmat

Kugoyang perlahan, perlahan dan perlahan. Di awal goyangan memang terasa sangat sempit dan seret hingga aku kewalahan dalam menggoyang. Lama kelamaan, anus Ibu semakin licin dan dedek arya bisa masuk-keluar dengan nyaman dan lancar.

ÔÇ£Ahhh sayangku… nikmaaaaaaaaaaat… Ibu benar-benar kangen sayang…ÔÇØ

ÔÇ£Ah ah ah asih afth…. terus goyang, setubuhi Ibumu nak, Ibu sudah kang…. ngen sekhlih…ÔÇØ

ÔÇ£Kenthu Ibuh… terus kenthu anus Ib… buh ouwhhhh aaaahhhhÔÇØ racaunya

ÔÇ£Arya juga, sangat kangen Ibu… Arya kangen, sayang, cinta Ibu aaaaahÔÇØ ucapku sembari menggoyang pinggulku. Goyanganku semakin lama semakin cepat dan semakin brutal. Kulihat di cermin sebelah pintu masuk kamarku, yang berukuran 1 x 2 meter tampak seorang wanita paruh baya sedang menungging dengan kebaya putih dan jarit yang tersingkap hingga pinggangnya sedang ditusuk pada bagian anusnya dengan dedek arya. Sebuah pemandangan yang Seksotis.

ÔÇ£Oh Sayangku… setubuhi Ibu lebih dalam lagi naaaaak….ÔÇØ

ÔÇ£Nikmaaaaat…. assghhh…. aiiiissshhh…. ter…. rus… say…yangh…. kuwh…. aaaahhÔÇØ

ÔÇ£Ah ah ah ah setubuhi Ibu, masukan kontol kamu lebih dalam naaaakÔÇØ racau Ibu

ÔÇ£Ibu sempiiiit…. kontol arya tidak taha…n pengennn keluaaaaaaarÔÇØ racauku sembari membungkukan tubuhku dan memeluknya, ku dekap tubuh Ibu dan ku tangkap kedua buah susunya yang terbungkus kebaya itu

ÔÇ£Ibu juga nak… keluar bareng-bareng….ÔÇØucap Ibu

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Keluarlah spermaku di anus Ibu, dibarengi dengan keluarnya cairan puncak kenikmatan Ibu yang bercampur dengan warna merah dari vaginanya. Kemudian aku jatuhkan Ibu ke samping dan kupeluk erat. Tak lama kami berpelukan Ibu kemudian berdiri dan tersenyum kepadaku mengecup bibirku.

ÔÇ£Ibu mau kemana?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Nyiapin sarapan, kan kamu kuliah?ÔÇØ ucap Ibu, sembari membetet sebentar hidungku

ÔÇ£Bu… besok lagi jangan begini, Arya tidak tega jika sama Ibu, Arya merasa bersalah dan Arya tidak sukaÔÇØ ucapku, Ibu kemudian melihatku dengan tatapan sayangnya,

ÔÇ£Iya maafkan Ibu ya, buat kamu merasa seperti itu, Ibu Cuma pengen buat kamu seneng saja tidak ada yang lain, kan Ibu suda janji akan memberikan lebihÔÇØ ucap Ibu, ku anggukan kepalaku dengan sedikit mengangkat tubuhku ku kecup bibirnya

ÔÇ£Bu, Arya pengen nyusu… Kebayanya dilepas semuaÔÇØ pintaku, yang kemudian dituruti Ibu. Ibu kemudian melepaskan semua pakaiannya dan melap spermaku yang masih menetes serta cairan dari vaginanya dengan jaritnya. Terpampanglah tubuh telanjang wanita yang selalu aku sayangi, putih bersih, susu kencang dan sekal, rambut dikucir gelung, tubuh yang langsing dan wajah ayu nan menentramkan. Segera aku majukan kepalaku dan duduk di pinggir tempat tidurku, langsung kupeluk Ibu yang berdiri itu dan ku kulum bergantian puting susunya.

ÔÇ£Mulai besokhhh ehhhhhhh kalau tidak ada Mahesa panggil Ibu, cintaÔÇØ ucapnya manja sambil memelukku dan mengelus kepalaku

ÔÇ£Iya buÔÇØ jawabku yang kemudian melanjutkan kembali menyusu kedapa Ibuku

Lama kami melakukannya hingga akhirnya kami sudahi, aku mandi dan Ibu mulai menyiapkan makan pagi. Aku kemudian segera menyiapkan semua keperluan kuliahku dengan secepatnya karena waktu menunjukan pukul 06.15. Aku turun dan sudah kutemukan Ibu dalam keadaan rapi dengan t-shirt ketat sesiku dan rok selututnya. Kami sedikit bercengkrama, hingga aku pamit untuk berangkat kuliah dengan ÔÇ£uang sakuÔÇØ ciuman mesra darinya.

Sepeti biasa aku sampai dikampus, bertemu rahman mengobrol sebentar dengan berjuta pertanyaan kusimpan dalam hatiku. Aku kemudian melangkah bersama Rahman menuju ke ruang kuliah. Yupz 08.30 kuliah dimulai, Ibu dian masuk dan memulai kuliah, seperti biasa suasana yang ramai kini berubah menjadi suasana layaknya sebuah kuburan kuno dalam cerita yoko dan bibi lung. Bu Dian kemudian meminta semua mahasiswa untuk mengumpulkan tugas, semua mahasiswa mengumpulkan tugasnya kecuali aku. Aku mengobrak-abrik semua isi tasku dan tak ada tugasku, kuingat dan kuingat kembali. Sial ternyata ketika aku mengambil telepon cerdasku semalam aku mengeluarkan isi tasku dan aku lupa memasukan isinya ketika aku berangkat tadi. Rahman yang tahu itu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan menggerakan bahunya ke atas. Ibu, Ibu haduuuuuuuh. Aku kemudian menuju ke meja dosen dan mengatakan bahwa tugasku tertinggal. Dengan tatapan yang sangat tajam dan judesnya yang keluar akhirnya aku disuruh keluar ruangan, tidak diperbolehkan untuk mengikuti kuliahnya. E E E E E E E E E huruf itu seakan-akan berputar-putar di sekitar kepalaku yang berjongkok di samping pintu masuk ruang kuliahku. Sial sial….. Hingga perkuliahan usai, Bu Dian keluar ruang kuliahku dan mengacuhkan aku. Aku terus mengejarnya dan memohon kepadanya agar aku bisa menebus kesalahhanku.

ÔÇ£Maaf saya sibuk jika harus menunggu tugas kamu sampai nanti soreÔÇØ ucapnya sambil berlalu, aku tidak menyerah tanpa berpikir panjang aku langsung mengejarnya.

ÔÇ£Bu, akan saya kumpulkan ke rumah Ibu, saya mohon bu…ÔÇØ ucapku sambil membungkukan tubuhku dihadapannya, Bu Dian hanya berlalu melewatiku, aku terus mengejarnya dan mengejarnya, hingga…

ÔÇ£Oke saya tunggu nanti malam jam 7 malam, ingat jam 7 malam, lebih 1 detik saya tidak akan menerima tugasmu dan nilai kamu EÔÇØ ucap Bu Dian dengan nada judesnya, aku mengiyakannya

ÔÇ£Maaf sebelumnya bu, Boleh saya meminta nomor HP Ibu, jika nanti saya kesasar Bu?ÔÇØ ucapku,

ÔÇ£Kamu lihat alamat saya di data jurusan, memangnya kamu tidak punya mata?ÔÇØ kata-kata pedas sepedas cabai setan menhujam mukaku

ÔÇ£Iya bu, maaf, jika Ibu tidak keberatan memberikan nomor HP Ibu langsungÔÇØ ucapku dengan wajah takutku dan menunduk kebawah

ÔÇ£Dasar mahasiswa tidak tahu etikaÔÇØ kata-kata pedas yang aku dapatkan sekarang menusuk jantungku.

ÔÇ£andai saja dia bukan dosenku mungkin sudah aku gampar itu mulut, dosen judes buuangetÔÇØ bathinku

Kemudian Bu dian memberikan nomornya kepadaku dan aku pun membungkukan badanku serta mengucapkan kata-kata terima kasih berulang-ulang yang sama sekali tidak digubrisnya. Aku kemudian menemui Rahman, Rahman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menyemangatiku.

Akhirnya dengan cepat aku pulang ke rumah, tampak mobil Ayah berada di rumah. Aku masuk kerumah, suasana rumah kembali mencekam Ayah yang biasanya jarang pulang sekarang pulang lebih awal. Ibu kemudian menyambutku dan memberitahukan kepadaku tentang pembicaraan-pembicaraan tentang seseorang berinisial KS. Aku terkejut mendengar itu, berarti memang Ayah adalah dalang dari semua itu, tapi bagaimana caraku membuktikannya. Di hari ini pun Ibu tidak berani menemaniku di dalam kamar karena Ayah sedang berwajah garang dan menakutkan. Aku kemudian masuk ke kamar, mencari tugas dari Bu Dian yang tertinggal dan ketemu.

Ku kunci pintu kamarku, kemudian ku ambil telepon cerdas temuanku. Kunyalakan, tak lama setelah kunyalakan telepon cerdas itu.Tung… bunyi notifikasi dari BBM. Terlihat notifikasi pesan di bagiam atas ÔÇ£MahesaÔÇØ di ikuti sebuah pesan ÔÇ£Siapapun kamu segeralah serahkan telepon cerdas ini kepadaku, akan aku ku beri hadiah uang sesuai keinginankuÔÇØ. Segera aku matikan telepon itu dan aku simpan kembali.

Balonku ada lima rupa-rupa warnanya merah kuning kelabu… bunyi notifikasi sms-ku. Maklumlah setiap hari aku selalu menyempatkan mengganti ringtone he he he. Sms dari Ibu, Ibu mengatakan kepdaku bahwa untuk saat ini sampai waktu yang tidak ditentukan aku tidak boleh mendekati Ibu seperti pada hari-hari sebelumnya karena Ayah sedang dalam kondisi puncak kemarahannya, dan menyuruhku menunggu agar Ibu yang mencari situasi terbaik untuk berdua denganku. Ibu takut jika nantinya Ayah mengetahui hubunganku dengan Ibu, Ayah akan membunuh kami berdua dikarenakan sejak Ayah pulang pembicaraan Ayah hanya tentang membunuh dan membunuh.

Aku kemudian membalas sms Ibu dengan senyuman dan kata ÔÇ£tenang bu, Arya bisa tahan dan Arya tidak akan melakukan dengan orang lain tanpa seizin Ibu, hapus semua sms Arya yang cintakuÔÇØ. Akupun akhirnya menghapus semua sms dari Ibu, aku kemudian keluar kamar menuju kamar mandi Ayah berada di pekarangan rumah. Aku memberi kode kepada Ibu apakan sms sudah di hapus semaua atau belum? dan Ibu menjawab sudah dengan gerakan bibirnya.

Akupun beristirahat sejenak, kupikirkan semua hal yang aku lalui. Dari kejadian awal hingga mulai terungkapnya serpihan-serpihan kejahatan Ayah, aku mulai menggabungkan itu semua. NEXT TARGET : LOSMEN MELATI, kutuliskan kata-kata itu dan kuterlelap dalam istirahatku. Mimpi tentang kerbau itu pun muncul lagi hanya sebentar yang kemudian membuatku terbangun. Ku lihat jam dinding menunjukan pukul 16:00, segera ku raih telepon cerdasku dan ku sms Bu Dian untuk menanyakan alamat rumahnya. Tak perlu menunggu lama, aku dapatkan sms dari bu dian, rumah bu dian berada di perumahan elit yang terletak di sebelah timur universitasku. Jaraknya kira-kira 8 km dari universitasku. Segera aku bangkit dari tempat tidurku dan mempersiapkan diri. Tepat pukul 17:00 aku pamitan dengan Ibu sambil berpesan kepada Ibu jika Ayah macam-macam segera sms aku, aku pasti akan langsung membunuhnya. Ibuku hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah manisnya, kulihat Ayah sedang tertidur di pekarangan rumah.

Aku kemudian berangkat dan langsung menuju ke perumahan elit itu, selama perjalanan pikiranku adalah Ibu karena takur jika Ayah berlaku kasar dengan Ibu. Sampailah aku di perumahan Elit tersebut,digerbang tertulis ENAK LUAS INDAH TERJAMIN (ELITE), kulihat pos satpam dan berhenti sejenak memberikan KTP ke satpam agar aku bisa masuk. Agak bingung juga dengan perumahan ini, terdapat pos satpam tapi tak ada tembok yang menghalangi di kiri dan kanan gerbang jika saja ada pencuri pastilah mereka masuk lewat sebelah gerbang itu ditambah lagi kawasan perumahan dan jalan umum hanya dibatasi parit dengan lebar kurang dari 2 meter. Iya memang benar Perumahan elit tapi mbok yaho dibuat tembok tinggi agar kelihatan elit-nya, kalau seperti ini apa fungsi pos satpam. Aku jalankan Revia dengan perlahan di jalan satu arah ini, lurus kedepan tampak taman kecil, ku belokan ke kiri revia dan berjalan lurus ke depan terdapat 3 gang di kiriku serta di kananku ada median jalan yagng diseberangnya lagi ada 3 gang pula. Di setiap gang yang berhadapan (membentuk perempatan jalan) median jalan terpotong sekitar 1,5 meter. Setelah melewati 3 gang, aku menemukan danau yang berada di kiriku. Pemandangan ini membuat aku terpukau karena danau dsini tampak sangat luas. Aku berhenti sejenak kulihat sekelilingku, tampak di kananku terdapat semak-semak dengan taman dan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dihiasi bangku-bangku taman. Aku berhenti sejenak kemudian sms Ibu dan dibalasnya bahwa Ibu baik-baik saja. Aku kemudian sms Bu Dian memastikan di mana rumahnya, dibalasnya dan ternyata aku kebablasan. Kuputar balik motorku dan ke arah gang ke 3 atau terakhir dari arahku berangkat. Gang ke 3 adalah gang buntu diujungnya tampak kebun yang masih ditanami oleh tanaman singkong. Elit apanya ini? ha ha ha… Rumah Bu Dian berada di kanan jalan, Rumah nomor dua dari gang masuk. Kupencet bel, dan di teleponnya aku, disuruh langsung masuk saja. Aku buka pintu gerbang rumah (yang juga merupakan pintu garasi) kemudian aku masukan Revia, ku langkahkan kakiku menuju pintu masuk rumah yang berada di kanan garasi, kuketuk pintu.

Kulihat seorang wanita muda dengan baju tank top warna putih terlihat sedikit belahan dadanya membukakan aku pintu. Wanita dewasa yang mungkin berjarak 5-6 tahun dariku ini mengenakan celana ketat hingga menutupi lututnya. Aku dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamunya. Rumah yang lumayan elite menurutku karena perabotannya kelihatan sangat mahal-mahal. Ruang tamu yang disekat dengan tembok dan di belakang tembok tak tahulah. Aku duduk dan berhadapan dengan Bu Dian. Konsentrasi bisa saja terpecah karena tank top itu tidak menutupi belahan dadanya dan sangat ketat. Aku akhirnya terus menunduk selama berbicara dengannya.

ÔÇ£Maaf, jika kedatangan saya mengganggu waktu istirahat Ibu, saya kesini dengan maksud mengumpulkan tugas dari Bu Dian dan saya sangat memohon kemurahan hati bu dian untuk menerimanya, tolong saya bu jangan diberi nilai E, saya akan lebih rajin lagiÔÇØ ucapku dengan kepala menunduk ke bawah dan memohon kepadanya

ÔÇ£Ya, saya terima…ÔÇØ

ÔÇ£Tapi saya hanya menerima tugas mahasiswa saya yang menghormati orang lain ketika berbicara…ÔÇØ ucapnya kepadaku dengan nada judes tentunya

ÔÇ£Maaf saya mohon maaf, bukannya saya tidak ingin mengangkat kepala saya, saya….ÔÇØ ucapku terpotong

ÔÇ£Saya… saya apa?ÔÇØ potongnya

ÔÇ£Saya hanya tidak berani bu…ÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Tidak berani kenapa? Karena saya memakai pakaian seperti ini? ternyata pikiran kamu itu ngeres ya, kamu memang pantas diberi nilai EÔÇØ ucapnya dengan nada judes

ÔÇ£Tidak bu, saya hanya menghormati Ibu dengan pakaian Ibu, saya hanya tidak berani memandang Ibu terlalu lama, saya hanya takut jika pandangan saya nanti di salah artikan IbuÔÇØ ucapku kemudian memandang wajah Ayunya yang JUDES!

ÔÇ£Hmmmm… hebat juga kamu, jarang ada laki-laki yang bilang seperti itu ke saya, terus kamu mau menunduk terus dengan tidak menghargai keberadaan saya disini?ÔÇØ ucapnya kepadaku,

ÔÇ£Benar-benar gila ini dosen kalau saja dia pacarku mungkin aku sudah… sudah… ah masa bodolahÔÇØ bathinku

ÔÇ£Bukan begitu bu, jika Ibu berkenan, maukah Ibu memakai kaos lengan panjang saya agar nanti pandangan saya tidak disalah artikanÔÇØ ucapku sembari menyerahkan kaos lengan panjangku yang sebelumnya aku lepas sebelum mengetuk pintu tadi. Sok pahlawan dan sok jago, memang inilah aku tanpa pikir panjang dan lebar, jika aku telaah lebih kedalam lagi sebenarnya kata-kataku adalah kata-kata yang sedikitnya merendahkan

ÔÇ£Kamu benar-benar melecehkan saya dengan kamu berbicara seperti ini kepada sayaÔÇØ

ÔÇ£Lebih baik kamu pulang dan ulangi mata kuliah saya tahun depan!ÔÇØ ucapnya sedikit membentak, yang akhirnya membuatku berpikir daripada mataku jelalatan, kenapa? karena aku pernah melihat isi dari BH wanita secara langsung yang membuat aku kadang melihat bagian kepunyaan wanita. Aku tidak ingin di anggap melecehkan siapapun karena pada dasarnya aku bukanlah seorang maniak seperti Rahman yang kadang terang-terangan menikmati tonjolan dada seorang wanita, ingat aku bukan seorang yang suka melecehkan wanita. Aku hanya berpegang pada prinsipku untuk menghargai seorang wanita karena kadang ketika aku pinjam tugas ke kos temanku yang cewek, aku selalu menyuruh mereka memakai baju tertutup ketika bertemu.

ÔÇ£Baik bu, saya akan mengulangi tahun depan, saya mohon maaf atas kelancangan saya malam ini, semoga tahun depan saya bisa lebih rajin dan tekun dalam mengikuti kuliah bu dianÔÇØ

ÔÇ£Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan dari kata-kata saya dan saya mohon pamit buÔÇØ ucapku yang kemudian bangkit dan mengulurkan tangaku untuk bersalaman tanda perpisahan. Bu Dian kemudian menjabat tanganku dan menarikku untuk duduk kembali

ÔÇ£Duduk…ÔÇØ

ÔÇ£Aku tidak menyangka kamu bisa mengorbankan kuliah kamu hanya permasalahan pakaian seperti ini, bukannya semua laki-laki itu sama kan? Suka dengan cewek yang berpakaian minim seperti ini, apalagi telanjang di hadapannya?ÔÇØ ucapnya, yan kemudian aku duduk dengan kepala masih tertunduk

ÔÇ£Saya bukan bagian dari merekaÔÇØ ucapku singkat

ÔÇ£Aku hargai itu semua, berika kaos lengan panjang kamu!ÔÇØ ucap Ibu dian, kemudian aku menyerahkannya, Bu Dian kemudian memakainya di hadapanku walau aku tak melihatnya.

ÔÇ£Sudah kamu boleh mengangkat kepalamuÔÇØ ucap bu dian, aku pun kemudian mengangkat kepalaku dan memandangnya. Seorang wanita dengan pakian kedodoran dan rambut hitam panjang yang letakan di bahu kanannya

ÔÇ£Cantik sekali….ÔÇØ ucapku lirih dan ternyata Bu Dian mendengarnya

ÔÇ£Apa kamu bilang apa?ÔÇØ ucap Bu Dian

ÔÇ£Tidak bu tidak…ÔÇØ jawabku sambil tersenyum

ÔÇ£Kamu mencoba merayuku?ÔÇØ ucapnya masih dengan wajah judes

ÔÇ£Tidak bu tidak tidak saya tidak beraniiii, maafkan saya jika saya salah bicaraÔÇØ ucapku memohon maaf

ÔÇ£Jadi saya jelek gitu?ÔÇØucapnya kembali

ÔÇ£Tidak bu tidaaaaaak, Ibu cantik…ÔÇØucapku kembali

ÔÇ£Ooooo merayuku lagi, mau nilai E…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Bu saya harus menjawab apa bu? Tolonglah saya…ÔÇØ ucapku dengan wajah memelas

ÔÇ£Ha ha ha ha kamu itu lucu sekali….ÔÇØ tawanya dengan salah satu tangannya menutupi mulutnya hingga kepalanya menunduk

Akhirnya kami terlibat sebuah percakapan hangat hingga pukul 20:30, Bu Dian pun menerima tugasku dan berjanji akan mengembalikan kaos lengan panjangku jikalau ingat. Ya walaupun tidak ingat aku tetap tidak akan memintanya kembali dan akhirnya aku pamitan pulang dengan diantar Bu Dian hingga di depan gerbang rumahnya beserta senyuman manisnya. Perjalanan jauh aku tempuh hingga dirumah kembali, kutemukan Ibu yang tampak santai menghadapi kemarahan Ayah. Dan Ayah yang seperti orang kebingungan terlihat Ayah mengetik pesan.

ÔÇ£Arya, kalau BBM sudah D itu berarti terkirim kan? Hlha nek (Kalau) centang?ÔÇØ tanya Ayah

ÔÇ£Iya Romo, kalau centang kemungkinan BBM orang itu mati tapi bisa juga tidak ada paket datanyaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya ya ya…ÔÇØ ucap Ayahku

ÔÇ£Sudah ketemu dosennya? Diterima tugasnya nak?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Diterima BuÔÇØ jawabku dengan senyuman

Ibu kemudian mengantarkan aku sampai di kamar, kemudian aku ditanyai mengenai tugas-tugas kuliahku. Ibu juga menanyakan dosen yang aku temui barusan, Ibu kagum dengan ceritaku walau aku sudah melakukannya dengan Ibu dan Tante Ima aku masih bisa menjaga pandanganku terhadap wanita lain. Ibu kemudian memintaku untuk memperlihatkan dosenku seperti apa. Aku kemudian mencoba mencarinya via Fish Boat (FB) dan untungnya ketemu. Aku perlihatkan foto Bu Dian.

ÔÇ£Seandainya saja, Ibu punya mantu seperti ini, Ibu akan bahagia, jomblo kan dia?ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ibu itu ada-ada saja, tidak mungkinlah dia mau sama aku, lagian aku kan mahasiswanyaÔÇØ jawabku

ÔÇ£Cinta tidak memandang status dan cinta tidak memandang usia, kamukan sudah membuktikannyaÔÇØ jelas Ibu, aku hanya mengangguk dan tersenyum kepada Ibu kudaratkan ciuman di bibir Ibu dibalasnya ciumanku. Pelukan mesra dan remasan pun aku dapatkan. Kami pun menyudahinya karena Ayah memanggil Ibu. Aku kemudian mempersiapkan diri untuk tidur, dan mama bolo bolo papa bolo bolo nenek bolo bolo kakek bolo bolo…. bunyi notifikasi smsku, dari Bu Dian dan ku balas tanpa pikir panjang demi menyelamatkan nilai kuliahku

Dari : Bu Dian
Kaosnya buat saya saja ya sebagai
Konsekuesi kamu terlambat mengumpulkan tugas
To : Bu Dian
Iya Bu,
Saya juga berterima kasih tugas saya sudah diterima
Dari : Bu Dian
Oke, sama-sam
To : Bu Dian
Maaf Bu, Bolehkah saya minta Pin BB bu Dian
Karena saya jarang isi pulsa bu
jika nanti saya terlambat lagi, bolehkah saya BBM bu Dian
mohon maaf jika saya sangat lancang bu
Dari : Bu Dian
12345678
Tidak menyangka jika aku langsung mendapatkan pin BB dari Dosen Judesku ini. Padahal Cuma ing doang ha ha ha. Lumayanlah daripada setiap hari sms terus bikin pulsa kering mending BBM saja lah. Segera aku invite bu dian dan langsun di confirm olehnya, kutuliskan pesan terima kasih kepadanya dan dibalasnya dengan ÔÇ£Lekas tidur sudah malamÔÇØ. Aku pun mengirimkan pesan meminta maaf kembali kepadanya dan tak ada balasan dari Bu Dian, langsung kutarik selimut. Tak lupak ku kirim sms ke Ibu walau aku masih mendengar Ayah yang kembali marah-marah di telepon. ÔÇ£Selamat tidur cinta (dihapus ya)ÔÇØ dan di jawab dengan ÔÇ£Iya cintaÔÇØ. Akhirnya ku terlelap dalam tidurku, walau di tengah malam aku bermimpi tentang kerbau itu lagi dan membuatku terjaga. Tanpa mempedulikan mimpi itu aku kembali tidur hingga pagi menendangku untuk bangun.

Aktifitasku di pagi hari seperti biasa, mandi, makan pagi, pamitan kuliah tak lupa aku pamit bahwa nanti aku akan pulang malam karena ada acara dadakan dan akhirnya berangkat kuliah. Dan biasanya ciuman di bibirku aku dapatkan dari Ibu walau sebentar di dalam garasi. Aku berangkat dengan semangat karena kemarin tugasku sudah tuntas dan tidak ada hutang lagi. Kuliah aku lalui dan biasa selalu dengan canda tawa bersama Rahman. Kuliah 5 sks membuat aku sedikit suntuk. Setelah semua selesai aku arahkan motorku Revia ke arah timur, 15 Km dari kampus menuju tempat dimana aku dibuat, di Losmen melati. Kupacu dengan sangat cepat agar tidak kalah dengan matahari yang terbenam.

Setelah sampai aku kemudian mencari losmen tersebut dengan maksud untuk mengetahui keberadaan si penjaga. Tak kutemukan losmen itu tapi yang aku temukan adalah sebuah hotel besar bertuliskan HOTEL MELATI. Aku labuhkan REVIA di sebuh warung nasi kucing yang berjarak agak jauh dari HOTEL MELATI, dengan gaya orang pendatang aku mulai beradaptasi dengan mereka. Setelah suasana mulai hangat , mulaulah aku bertanya-tanya kepada mereka yang berada di nasi kucing tersebut. Tak perlu susah-susah karena pada dasarnya aku orang yang mudah bergaul mungkin karena menuruni Ibu. Aku pun mengatakan kepada mereka kalau aku hanya mencari angin segar saja, sebuah alibi yang tidak mencurigakan bukan. Hingga ada beberapa orang yang menceritakan mengenai losmen itu.

ÔÇ£Lho pak Hotel itu dulu Losmen to?ÔÇØtanyaku kepada penjual nasi kucing dengan pura-pura tidak pernah mendengar Losmen Melati

ÔÇ£Iyo mas, dulu itu losmen terus dibeli pengusaha luar kota dan diperbesar, ya jadi hotel toÔÇØ jawabnya

ÔÇ£Wah kasihan yang dulu kerja di situ yo pak yo, kena pecat toÔÇØ ucapku kepada penjual itu, mencoba mengorek kedalaman informasi dari mereka. Istilah keren saat ini adalah KEPO, entah apa sebenarnya kepanjangan KEPO

ÔÇ£Walah lha iyo mas, beberapa ada yang dipertahankan ada juga yang dipecat, yang paling jelas to mas itu penjaganya, 5 tahun lalu penjaganya itu dipecat sekarang dia kerja jadi buruh pabrik, kasihan masÔÇØ

ÔÇ£Wong dia itu sudah kerja hampir 20 tahun lebih, dia juga sering makan disini mas, orangnya sich dulu baikÔÇØ ucap salah satu orang di nasik kucing itu

ÔÇ£Wah ya ndak papa to mas, kan sudah dapat ganti di pabrikÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya ndak gitu mas, habis dipecat dia habis-habisan mas, dulu dari losmen saja dia sering dapat upah dari orang-orang besar yang mampir kesitu, dia bisa beli ini itu, ndilalahnya mas setelah dipecat hutang dia menumpuk sempat hampir stress, sekarang dia saja tinggal rumah kontrakan di desa pantai-pantaianÔÇØ jelas orang itu lagi

ÔÇ£Lha siapa to mas namanya? Kok penasaran aku, sampai bisa-bisanya bangkrutÔÇØ tanyaku kembali

ÔÇ£Namane Sukoco, dia itu pas kerja di losmen, hutang sana-sini, sok perlente akhire yo kere (miskin)ÔÇØ jawabnya

Setelah mendapat informasi cukup, aku tetap melanjutkan percakapan kami walau sebentar agar tidak memperlihatkan tujuanku sebenarnya. Akhirnya aku pamit diri kepada mereka untuk pulang. Dalam perjalanan pulang aku mencari desa pantai-pantaian, setelah aku mendarat di desa itu kutanyakan sana-sini nama seseorang bernama sukoco. Beberapa orang tampak tidak familiar dengan nama ini yang membuat aku kesulitan mencarinya. Aku terus mencari dan mencari hingga aku menemukannya sebuah rumah sederhana berukuran kecil. Tepat pukul 18:00.

ÔÇ£Selamat malam…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ya, sebentar….ÔÇØ ucap seorang laki-laki dari dalam rumah

Klek pintu rumah dibuka…

ÔÇ£Hah?!ÔÇØ ucap laki-laki tersebut tampak terkejut melihatku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*