Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 7

Wild Love 7

Rumah ini adalaha Rumah sahabtku dimana aku menginap malam ini. Malam penuh dengan desahan dan juga kebenaran-kebenaran yang mulai menyambung menjadi satu bagian. Wanita berkulit putih dengan hidung yang seperti burung kakak tua dengan senyum menawan tertegun dan berdiri mematung. Wanita dengan darah india yang mengalir di dalam pembuluh nadinya ini sangat terkejut atas apa yang di katakan oleh seorang pemuda keturunan Jepang dengan ketelanjangannya menatap ke arah tubuh telanjang wanita india tersebut. Wanita? Jelas karena dia adalah seorang Ibu dari sahabat pemuda tersebut.

Aku masih memandangi wajahnya yang tampak sedikit terkejut atas apa yang baru saja aku ucapkan. Langkahnya terhenti dan matanya menatapku dengan tajam seakan dia mengenali aku sebelumnya. Alis matanya menyatu satu sama lain seakan-akan mencoba menyamakan wajahku dengan ingatannya yang telah lama tertidur. Lututnta menjadi linu tak mampu menahan beban tubuhnya kembali, dia terjatuh duduk perlahan dengan kedua lututnya tertekuk kebelakang. Nampak da melihat sesosok wajah wanita yang dia kenal di dalam diriku. Wajah yang dahulu selalu menghiasi harinya dengan senyum kebersamaan, kebersamaan dalam suka dan duka. Diletakannya kedua gelas yang berada ditangannya dan diletakannya di lantai. Wajahnya menunduk kedua telapak tangannya mulai menutupi wajahnya. Air matanya pun mengalir tertutup oleh kedua telapak tangannya walau aku tidak melihatnya tapi aku tahu dari suara isak tangis yang kemudian terdengar walaupun sangat lirih. Betapa bodohnya aku ini membuat suasana harmonis ini menjadi suasana kesedihan, aku kemudian bangkit dan melangkah ke arahnya. Aku duduk berselonjor dan Langsung ku dekap lembut tubuhnya walau hati ini sebenarnya tak ingin merasakannya karena di luar sana ada wanita yang sangat aku sayangi melebihi wanita di depanku. Aku peluk erat tubuhnya dari samping tubuhnya, kusandarkan kepalanya di dadaku.

ÔÇ£hiks.. hiks… hiks… hiks… hiks…ÔÇØisak tangis yang terdengar dari Ibu Rahman

ÔÇ£Apa kamu adalah… hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£Anak dari Pita? Hiks hiks hiks… ÔÇ£ tanya Ibu rahman dengan suara terisak dengan kedua tangan mulai terbuka perlahan mencoba memandangku dengan air yang mengembang di matanya. Aku hanya mengangguk, kembali semakin keras suara isak tangisnya.

ÔÇ£Tante… aku mohon jangan menangis…ÔÇØ ucapku sambil memeluk erat kepalanya dan mencium ubun-ubun di kepalanya

ÔÇ£Ya, tante aku memang anak dari Pita, Diyah Ayu Pitaloka…ÔÇØ jawabku dengan suara lirih tepat di atas ubun-ubunnya. Terdengar sura tangisnya semakin keras dan semakin menjadi-jadi. Ku angkat wajahnya dengan tangan kiriku tepat di dagunya. Aku pun tersenyum, kemudian aku cium keningnya dan kemudian aku cium bibir manisnya dengan maksud menenangkannya.

ÔÇ£Ini salah.. salah… hiks hiks hiks….ÔÇØ ucapnya sembari memundurkan tubuhnya untuk lepas dari pelukanku.

ÔÇ£Aku dulu yang membuat Ibumu hancur, sekarang aku menghancurkanmu dengan persetubuhan iniÔÇØ ucap Ibu Rahman dengan isak tangis yang tak henti-hentinya mengucurkan air mata.

ÔÇ£Aku tak pantas menjadi sahanat Ibumu lagi….hiks hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya dengan tangis semakin keras, kutarik tubuhnya dan kupeluk lebih erat lagi.

ÔÇ£Tante… Sebenarnya Ibu sangat mrindukan tante, hanya saja tante tidak pernah mengabari IbuÔÇØ

ÔÇ£Sampai sekarang pun, Ibu masih mengharapkan kehadiran tanteÔÇØ ucapku menenangkannya

ÔÇ£Benarkah?ÔÇØ tanyanya kepadaku sembari mengangkat kepalanya kepadaku dengan mata penuh linangan air mata

ÔÇ£Iya tante… percayalah pada AryaÔÇØ tegasku

ÔÇ£Tapi aku dulu pernah membantu Ayahmu untuk memperkosa Ibumu, sekarang aku menyetubuhi anak dari sahabatku, kesalahan ini tak bisa di ampuni hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya kepadaku, aku memandangnya dengan senyuman manisku untuk menenangkan hati tante.

ÔÇ£Aku harap kamu tidak memberitahukan hal ini kepada Ibumu?ÔÇØ sambil bangkit dari tubuhku dan duduk tante mengusap air matanya.

ÔÇ£Iya Tanteeee….ÔÇØ jawabku sedikit manja kepda tante, tante kemudian memandangku dengan penuh perasaan sayangnya. Di angkatnya tangan krinya dan mengusap lembut pipiku.

ÔÇ£Tante…ÔÇØ

ÔÇ£Apakah tante adalah sahabat Ibu yang bernama Karima, Ima?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Iya, dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama Ima, itu adalah panggilan sayang Ibumu kepadaku dan aku memanggilnya dengan nama PitaÔÇØ jawab tante sedikit sesengukan

ÔÇ£Bolehkah aku memanggil Tante dengan nama Tante ImaÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Tentu saja boleh… tak ada yang tahu nama kecil itu kecuali Ibu kamu dan kamu… Om saja memanggil tante dengan nama arimaÔÇØ jawab tante yang kemudian tersenyum kepadaku, huft… akhirnya tersenyum juga tante Ima.

ÔÇ£Mungkin akan sampai pagi kita akan berbicaraÔÇØ ucapnya sambil menoleh ke arahku dengan senyumannya dan sisa-sisa air mata yang mengalir dari matanya

ÔÇ£Bagaimana kabar Ibumu? Tante kangenÔÇØ tanya tante

ÔÇ£Baik tante….Ibu juga kangen tanteÔÇØ jawabku, kami berbincang-bincang banyak walaupun dengan tubuh telanjang, kami aku masih bisa mengikuti setiap percakapan-percakapan dengan tante.

ÔÇ£Kamu mirip sekali dengannya, dengan pacar tante…ÔÇØ ucapnya tiba-tiba, kemudian dia ambil kembali dua gelas air putih itu dan diberikannya salah satunya kepadaku.

ÔÇ£Memang pacar tante siapa duluÔÇØ jawabku sambil Ku teguk segelas air putih itu

ÔÇ£Andi, Andi Pitawarno Sucipto, Paman kamuÔÇØ ucapnya setelah setengah isi gelas dia teguk

ÔÇ£uhuk uhuk uhuk uhuuk…. Paman???ÔÇØ jawabku yang tersedak karena kaget

ÔÇ£Iya… Tante diam-diam menjalin hubungan dengan paman kamu tanpa sepengetahuan IbumuÔÇØ

ÔÇ£Sebenarnya Paman dan tante sudah memutuskan untuk menikah ketika tante lulus, tapi… itulah yang terjadiÔÇØ
ÔÇ£Oia jujur saja, dimasa mudanya paman kamu masih kalah ganteng dan perkasa ketimbang kamu ArÔÇØ ucapnya sedikit mengalihkan pembicaraan

Aku melihat tante terlihat lebih bahagia ketika menceritakan tentang Ibu dan Paman. Bagaimana kehidupan tante yang sebenarnya akupun tak pernah mengetahuinya. Ingin rasanya aku mengorek lebih dalam lagi. Aku kemudian bangkit dari dudukku, kudekati tante dan ku gendong.

ÔÇ£Aaaaa…. apaan sich kamu Ar?ÔÇØ teriak tante yang terkejut dengan perlakuanku. Ku dudukan tante di sofa dan aku duduk disampingnya dan menghadap ke arahnya

ÔÇ£Kamu masih ingin lagi Ar? Tante harap kita cukup sampai disini sajaÔÇØucapnya

ÔÇ£Iya terserah tante… tapi tante jangan melirik ke arah dedek arya terus dong…ÔÇØ ucapku menggodanya

ÔÇ£Kamu pernah melakukannya kan sebelum ini?ÔÇØ ucap tante dengan tangan kirinya mengelus lembut dedek arya yang sedari tadi sebenarnya selalu ON FIRE!

ÔÇ£Aduh gila, kalau aku bilang aku pernah melakukan dengan Ibu bisa celaka 1 jutaÔÇØ bathinku

ÔÇ£Pernah tan, dengan ada lah pokoknya….ÔÇØ jawabku singkat

ÔÇ£Mulai besok jangan main dengan sembarang cewek Ar, tante siap kapanpun kamu mau, tante takut kamu nanti kena penyakit…ÔÇØ jawab tante

ÔÇ£Katanya tadi cukup… kok nawari tan?ÔÇØ ucapku nakal

ÔÇ£hi hi hi tante bisa menahan tapi karena kamu mirip sama paman kamu yang buat tante tidak bisa tahan Arya sayangÔÇØ ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya

ÔÇ£Iya tante… ku sayaaaaangÔÇØ jawabku, kemudian tante mengecup bibirku dan kupeluk erat tante. Hati ini seakan-akan menolak semua kasih sayang tante, ya karena rasa bersalahku terhadap Ibu. Dekapan tante, ciuman tante membuat aku semakin rindu kepada Ibuku.

ÔÇ£Ar, tante ingin dipeluk dulu yang lama… tante benar-benar merasa nyaman ketika kamu peluk…ÔÇØ

ÔÇ£Terasa sangat nyaman… belum pernah sama sekali tante merasakan laki-laki penuh kasih sayang sepertimu Ar, kecuali paman kamuÔÇØ ucapnya lembut, kemudian kupeluk tubuhnya dan kudekap. Kepalanya bersandar di dadaku.

ÔÇ£Memangnya Om….ÔÇØ ucapku yang terpotong

ÔÇ£Om… kamu itu bajingan Ar…ÔÇØ ucapnya sembari mendekap erat tubuhku dan memejamkan matanya di dadaku.

ÔÇ£Semenjak kejadian itu, Tante di ajak keluar kota tinggal disebuah daerah di provinsi bagian barat. Tante selalu di kekang oleh om kamu, Om Nicolas Rahman, tak pernah bisa keluar rumah hanya boleh keluar rumah kecuali sekolah dan kuliah. Hari yang paling indah adalah ketika tante keluar rumah yaitu kuliah hingga S2, dan juga merawat anak semata wayang tante rahman tapi selain 2 hal itu suram. Tante selalu berharap bisa kembali ke daerah ini, tapi om selalu menentangnya. Entah sebenarnya ada apa dengan om kamu ituÔÇØ

ÔÇ£Ketika tante kembali ke daerah ini, kekangan om terhadap tante semakin keras. Padahal harapan tante ketika bisa sampai di daerah tempat tinggal tante adalah bisa bertemu denga paman kamu dan juga Ibu kamu. Tapi semua itu tidak bisa, om kamu selalu kasar dengan tante jika tante mulai berbicara mengenai jalan-jalan atau bahkan tamasya. Tante bisa keluar sewaktu Ayah dan Ibu tante menjenguk, dulu mereka berada di daerah ini dari tante kecil karena dipindah tugaskan akhirnya mereka pindah keluar kota tepat ketika tante mulai kembali ke daerah ini.ÔÇØ

ÔÇ£Om selalu kasar dan kasar, walaupun hal itu tidak pernah diperlihatkannya di depan Rahman. Seandainya kamu tahu, Selama tante berada di luar kota tante selalu berusaha mencari nomor kontak dari Ibu kamu dan paman kamu tapi semuanya sia-sia memegang HP saja baru 4 tahun ini ArÔÇØ

ÔÇ£Dan… Tante tahu Ayahmu memperkosa Ibumu, itu dari percakapan om kamu yang tak sengaja tante dengar. Mereka berdua adalah sepasang penjahat yang bersahabat dan menghancurkan hidup Ibumu dan tante. Kadang pula tante mendengar jika Ibumu juga terkekang dari percakapan om dengan ayahmu di telepon. Tante kangen Ibu kamu Ar… Kangen sekali…. ditambah lagi paman kamu, tante ingin sekali bertemu dengannya dan meminta maaf walau hanya sekali dalam seumur hidup tante hiks hiks hiks hiksÔÇØ

ÔÇ£Semenjak kehadiranmu tante merasa nyaman ketika melihatmu, jujur saja tante tidak pernah tahu jika kamu anak dari Pita, apalagi keponakan Mas ,Andi. Om juga tidak pernah cerita mengenai anak dari Mahesa sahabatnya itu. Jujur saja banyak keanehan dari persahabatan mereka berdua…ÔÇØ Ucap tante yang kemudian membuka matanya memandang ke arah yang tak tentu

ÔÇ£kenapa tante?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Entah mengapa setiap kali melihat gelagat mereka, sepertinya mereka melakukan hal buruk….ÔÇØ

ÔÇ£Jika kamu berada dalam lingkaran mereka, kamu harus hati-hati, diam dan ikuti arus saja walaupun harus terinjak-injak seperti tanteÔÇØ ucap tante dengan penuh makna

ÔÇ£Tidak tante tidak, aku ingin tahu lebih mengenai semua hal tentang Ayah dan Om…ÔÇØBathinku

ÔÇ£Iya tante… ÔÇ£ jawabku sambil mengangguk mengiyakan ucapan tante walau dalam hatiku berkata lain.

Pelukan tante semakin lama semakin kencang, erat sekali tampak terasa bulatan susu tante membuat darahku kembali berdesir. Ku kecup-kecup ubun-ubun tante dengan mesra, kemudian tante mendongakan kepala ke atas. Kami berciuman dengan sangat liar, lidah kami bergantian saling menyapu. Lama kelamaan tante beranjak menggese tubuhnya kesampingku, dengan posisi sedikit menungging dia kemudian mengocok dedek arya dengan lembut. Aku hanya duduk bersandar dan pasrah mendapat perlakuan dari tante. Tante ima kemudian mengulum batang penisku dengan sangat lembut walau terkadang sangat kasar. Entah apa yang dipikirkan tante, tiba-tiba tante kembali menitihkan air matanya ketika mengullum dedek arya. Ada sensasi tersendiri dalam diriku tapi aku tidak tega, kemudian menarik kepala tante hingga duduk bersimpuh disampingku.

ÔÇ£Tante, kenapa?ÔÇØ tanyaku lembut sembari mengelus-elus kepalanya

ÔÇ£Tante, keinget om kamu dan jengkel hiks hiks hiks…ÔÇØ

ÔÇ£Dia bukan hanya kasar, kadang kalau Rahman sedang ada acara menginap di kos temannya, dia mengajak perempuan lain kerumah ini dan melakukan hubungan seks…ÔÇØ
ÔÇ£Dia mengunci tante di kamar Rahman sendirian hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya kepadaku

Gila… benar-benar gila Om Nico, dia lebih berani ketimbang Ayahku. Ibuku saja yang tahu Ayahku melakukan hubungan dengan wanita lain diluar rumah saja sangat terpukul apalagi yang berada dalam rumah.

ÔÇ£Arya tante minta tolong….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Apa tante?ÔÇØ jawabku heran

ÔÇ£Tante ingin membalas, bajingan itu…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Setubuhi tante di sampingnya, tante sudah tidak peduli lagi jika ketahuan, biar dia tahu rasa…ÔÇØ ucapnya tersengal-sengal

ÔÇ£waduh tante, kalau om bangun, aku bisa dibunuhnya…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£tidak dia tidak bakalan bangun, dosis obat tidurnya sangat tinggi, dia tidak mungkin bangun sekalipun ada gempa begitu pula Rahman…ÔÇØ

ÔÇ£Tante mohon…ÔÇØ ucapnya, hal gila apa ini? bersetubuh dengannya di ruang keluarga saja sudah membuatku jantungan apa lagi di dekatnya. Tante ima, kemudian bangkit dari sofa menuju kamarnya.

ÔÇ£Tante tunggu….ÔÇØ dengan senyuman penuh harap dia berkata padaku, aku bingung menghadapi ini semua. Jika memang aku harus mati hari ini, aku benar-benar tidak ingin. Aku masih terlalu kangen dengan Ibu. Lama aku merenung ku dengar panggilan tante ima dari dalam kamarnya. Aku melangkah menuju kamarnya dengan tubuh telanjangku, samar-samar aku mendengar dengkuran keras dari mulut om Nico. Deg… deg… deg….

Kulihat seorang wanita ayu dengan kebaya warna hitam melekat di tubuhnya. Kebaya bagian atasnya tidak menutupi bagian pundak dan bahunya sehingga terlihatlah gundukan susunya yang terlipat. Kebaya hitam nan seksi dengan balutan jarik berwarna coklat bermotif batik tulis. Rambut yang dikucir sanggul kebelakang kepalanya. Wanita itu sedang duduk dengan anggunya di pinggir kasurnya, tampak seorang laki-laki setengah baya tertidur pulas di sampingnya. Pandangan ini membuatku terbuai, kembali ke masa dimana Ibu menyambutku dengan keanggunan akan kekhasan daerah ini.

ÔÇ£Tante….ÔÇØ ucapku berdiri tertegun melihat kecantikan tante

ÔÇ£Ini adalah pemberian paman kamu, dan tante menyimpannya sampai sekarang. Tante ingin kamu melakukannya seperti apa yang dilakukan pamanmu kepada tante…ÔÇØ kata tante kepadaku, kemudian tante ima menoleh kebelakang dan berteriak-teriak tak karuan. Berteriak sangat keras hingga membuat kuping telingaku berdengung.

ÔÇ£Lihatkan, dia tidak bangun…?ÔÇØ ucap tante, segera aku keluar menoleh sebentar ke arah kamar Rahman dan berteriak memanggilnya. Samar-samar hanya dengkuran Rahman yang aku dengar sma seperti yang aku dengar selama aku bersetubuh dengan Tante Ima. Kembali aku ke dalam kamar, tante dan aku yakin ini akan baik-baik saja.

Kudekati tante, kemudian dengan cepat tante berdiri dan menariku dalam dekapannya. Kepalanya menengadah ke arahku dan cup… lidah kami kembali bersatu. Menari-nari bagaiakn penari balet. Bibir tante terasa sangat hangat berbagai sedotan aku rasakan di sekitar bibirku. Tangaku kemudian muali mengelus-elus gundukan dada tante ima. Kulihat om nico, sedang mendengkur keras tak tahu jika istrinya akan kusetubuhi disampingnya. Ciuman tante berhenti, kemudian mulai menjilati leherku turun ke dadaku. Disedotinya puting dadaku dengan lembut secara bergantian, kadang jilatan-jilatan diberikannya pada puting dadaku. Membuat aku tak kuasa menahan nafsu. Dengan sedikit memaksa kudorong tubuh tante hingga terduduk di pinggir kasur. Diraihnya dedek arya mendekat di mulutnya.

ÔÇ£HEH NICO, MULAI SEKARANG JANGAN SENTUH AKU LAGI, AKU HANYA INGIN DISENTUH OLEH ARYA…ÔÇØ Bentak tante ima sambil menoleh ke arah jasad bernyawa yang tak sadarkan diri itu entah sampai kapan.

ÔÇ£Besar… Aku suka….ÔÇØ ucap tante lirih

Dijilatinya dedek arya dari buah zakar perlahan dengan sedikit menggoyangkan lidahnya hingga ujung kepala dedek arya, tepat di lubang kencing di goyangkan kanan kekiri lidahnya dan dijilatinya layaknya eskrim. Diulangi kembali perlakuan itu hingga aku hanya bisa menahan nikmant tak terkira. Wanita yang anggun ini dengan kebaya dari paman, sangat serasi kulitnya lumayan putih jika dibandingkan dengan Ibu kalah Jauh. Oh Ibu aku kangen….

Mualialh penindasan terhadap dedek arya, dikulumnya helm itu dan disedot sangat kuat. Dimaju mundurkan kepalanya memberi sensasi tersendiri. Perlahan kepalanya mulai maju, bibirnya mulai melahap sedikit demi sedikit batang dedek Arya. Aku yang tidak dapat menahan nafsu kemudian memegang kepala tante dan mencoba menekannya lebih dalam. Tapi tiba-tiba tante berontak dan memundurkan kepalanya.

ÔÇ£uhuk uhuk uhk… jangan ditekan terlalu dalam…ÔÇØ

ÔÇ£Kontol kamu besar sayaaaang… yang pertama tadi saja tante hampir muntah hanya tante tahan…ÔÇØ

ÔÇ£Sabar ya sayang… nikmatilah, akan tante berikan yang terbaik untukmu…ÔÇØ ucap tante sembari mengulum dedek arya kembali.

ÔÇ£Maaf tante, habis tante cantik banget pakai kebaya…ÔÇØ

ÔÇ£Pengens segera masuk…ÔÇØ ucapku sambil melihat tante mengulum dedek arya.

ÔÇ£Hmmm… Hmmmm…. HmmmmÔÇØ ucap tante dengan mulut tersumpal oleh dedek Arya.

Perlahan tapi pasti kemudian Tante ima mengulum dengan penuh semangat. Membuat aku kelojotan apalagi pengaruh obat perangsang itu masih ada di dalam tubuhku. Semakin lama jilatan dan kuluman tante semakin menggila ditambah lagi kepalanya yang maju mundur membuat sensasi tersendiri, ya kepala seorang wanita berkebaya hitam nan cantik.

ÔÇ£Ah… tante Arya mau keluar…. ah ah ah …ÔÇØ rintihku yang sudah tidak bisa menahan lagi

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Kukeluarkan semua spermaku kedalam mulut tante ima, tampak tante ima terdiam mencoba menelam semua spermaku yang masuk kedalam mulutnya. Tante Ima kemudian melepaskan kulumannya, terlihat sedikit aliran sperma mengalir dari bibirnya yang kemudian dengan cepat dia lap dengan jarinya dan dimasukan lagi ke dalam mulutnya. Sensasi yang luar biasa….

ÔÇ£Kamu dapat perawan mulut tante, baru kali ini tante nelen sperma sayang…ÔÇØ

ÔÇ£Sekarang tante milikmu, setubuhi tante sayangku…ÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Lebih baik minta izin dulu ke om nico tan he he…ÔÇØ jawabku cengengesan, tante tersenyum kemudian menoleh kebelakang melihat tubuh laki-laki setengah baya itu.

ÔÇ£Nicoooo… Aku minta izin ya, aku ingin bersetubuh dengan Ary….aaaaaaaÔÇØ ucap tante kepada om nico yang kemudian berteriak kaget karena aku sudah memeluknya.

Kubalikan tubuh tante, kulumat bibirnya dengan penuh semangat. Ciumanku turun ke leher tante, ku sapu semua bagian leher tante dengan lidahku. Semakin turun jilatanku semakin ke bawah tepat di lipatan susu tante.

ÔÇ£oouwwwhhhh nico… Arya hebat… arya lebih hebat dari kamu….ÔÇØ rintihnya menikmati jilatan-jilatanku dilipatan susunya. Aku semakin bernafsu, kedua tangaku memegang kebaya tante, ingin rasanya aku robek.

ÔÇ£Jangan dirobek, resletingnya dibelakang…ÔÇØmohonnya kepadaku, ya wajar saja ini kebaya dari paman seandainya saja bukan, mungkin dia akan memperbolehkan aku merobeknya. Dengan tetap menjilati bagian lipatan susunya tangan kananku mencari resleting kebaya tante ima. Kutemukan dan kubuka, tampak semakin longgar kebaya yang dipakai tante, dengan segera aku lepas kebaya tante ke atas hingga tersangkut pada pergelangan tangan. Posisi tangan tante tetap di atas kepalanya dan mulailah aku menelusuri dada tante. Kubuka kutang tante secara perlahan dan kulepaskan tersembulah susu indah tante walau tak seindah milik Ibu aku tetap masih bisa menikmatinya.

Kuelus-elus susunya, kuremas secara perlahan hingga tante mendesah-desah tak karuan. Kujilati setiap nano meter gundukan itu, memutar hingga mendekati putingnya. Perlakuan yang sama aku lakukan ke susunya tante ima yang satunya lagi. Dan Cup… kukulum dengan lembut dan kusedot-sedot dengan perlahan. Tubuh tante yang tidak kuat menahan nikmat kuluman pada susunya akhirnya ambruk kebelakang dengan tangan masih di atas kepalanya. Tangan tante ima tepat bersandar di perut om nico.

ÔÇ£Remas… oush… remas yang kuaathhhÔÇØ

ÔÇ£Tante milikmu… sedot lagi sedoooot teruuuuusÔÇØ rintih tante

Tanganku kemudian menyingkap jaritnya, kusingkap dengan sedikit memaksa hingga pinggang, kutarik celana dalam tante hingga terlepas. Kumajukan kepalaku mendekati vagina Tante Ima, perlahan kujulurkan lidahku. Kusapu dari dari bawah ke atas perlahan layaknya es krim dengan rasa amis strawberry. Sapuanku berhenti di klitorisnya dan kusedot layaknya permen rasa mint.

ÔÇ£ah ah ah…tante tidak pernah di jilati… ouwh…. ah ah aisssh auuufttttthÔÇØ

ÔÇ£itil tante kamu apain? Enak banget arya…. ah ehmmmm….ÔÇØ rintihnya dengan kedua tangan memegang kepalaku, menjambaknya memaksa meminta perlakuan lebih dari lidahku.

ÔÇ£masukan… masukan lidahmuuuu…. uuuhhfthhhÔÇØ ucap tante yang langsung aku jalankan. Perlahan lidahku yang hangat aku masukan ke dalam liang vaginanya dan ku goyang perlahan perlahan kemudian dengan kasar aku menggoyang lidahku. Ku kembalikan lidahku dan bibirku bermain di itil tante aku sedot, aku jilati bersamaan dengan itu aku masukan jari tengahku ke dalam vagina tante ima dan kukocok dengan keras.

ÔÇ£Oufthhh… Nicoooohft… maafkan istrimu ini….ÔÇØ

ÔÇ£Aissshhhh…. Kamu tidak pernah memperlakukanku seperti iniÔÇØ

ÔÇ£Arya lebih… aaaaaaaaaaahhhhh……ÔÇØ rintih tante ima seketika itu dia mencapai puncaknya, dengan cairan hangat mengalir dari vaginanya membasahi jariku dan sedikit bibirku. Langsup ku lahap semua cairan itu dengan penuh nafsu.

ÔÇ£ehmmm… ahhhhh…. sedot semua sayangkuÔÇØ ucap tante ima, setelah semua aku hisap, aku berdiri.

ÔÇ£Arya lebih apa tante? Kok tidak dilanjutkan, kan kasihan om nico, penasaran tuh?ÔÇØ ucapku nakal, entah kenapa sekarang aku berkata-kata lebih nakal dan lebih kasar kepadanya, mungkin terbawa oleh nafsuku. Apalagi aku kurang bisa menikmatinya karena pikiranku selalu ke Ibuku.

ÔÇ£Lebih hebat Arya sayang, Pamanmu juga pernah melakukannya…ÔÇØ

ÔÇ£Bolehkah, Tante memanggilmu Mas Andi? Tante kangen permainan pamanmuÔÇØ mohonnya kepadaku

ÔÇ£Boleh saja tante, tidak masalah, sekarang aku adalah Andi Pitawarno Sucipto…ÔÇØ ucapku dengan gagah dihadapannya

ÔÇ£Sayang, bolehkan aku memasukan kontolku ke vaginamu?ÔÇØ tanyaku dengan senyuman nakal yang mengembang. Dibalasnya pertanyaanku dengan senyuman dan anggukan tante ima.

Perlahan kusibak vaginanya dengan kedua jarik, dan dedek arya dipegang oleh kedua tangan tante ima dan di arahkannya ke vaginanya. Jelas saja, tangan tante ima seakan terikat oleh kebaya yang belum terlepas dan masih tersangkut di kedua tangannya itu, memberi sensai lebih. Ibu… Aku kangen Ibu.

ÔÇ£Aissssh…. Mas… kontolmu besaaaaaar… pelan sayangku annndddddddihhhhÔÇØ ucapnya kepadaku

Perlajan demi perlahan dedek arya akhirnya bisa masuk, sedikit sempit tapi tidak sesempit punya Ibu. Perlahan masuk dan masuk, mulai kugoyang perlahan perlahan dan semakin cepat. Kulihat tante ima dengan kedua tangannya yang seakan-akan terikat sedikit menahan perutku. Kutarik kedua tangan tante ima ke atas dan langsung kudaratkan ciuman di mulutnya dengan satu tanganku bertumpu pada salah satu susunya.

ÔÇ£Asshh… teryus mashmmm…. teyruss…. Imahm sahyang Andih, sahyang kontyol andihh…ÔÇØ ucapnya dengan mata terpejam dan mulut yang sedikit tersumpal oleh mulutku. Goyanganku semakin lama semakin cepat dan semakin brutal membuat tante ima kelojotan, kepalanya menggeleng-geleng ke arah kanan dan kiri. Rambutnya yang sebelumnya tertata rapi akhirnya terurai berantakan, wajahnya memperlihatkan kepuasan. Tante terus menyebut nama paman, bagiku itu adalah bagus, karena aku juga sedang membayangkan Ibuku yang berada di bawah sana, dibawah kekuasaan dedek arya.

ÔÇ£Ahh… kontol andi nikmat… ima sukaaaa….ÔÇØ

ÔÇ£Rahim Ima kesentuh kontol andi….ÔÇØ

ÔÇ£Mas Andi, Ima Cinta mas andi….ÔÇØ rintihnya disertai air mata kangen kepada Paman Andi. Setelah lama aku menggoyang dengan posisi di atas, ku hentikan goyanganku.

ÔÇ£Kenapa berhenti Andi?ÔÇØ ucap tante Ima dengan wajah sedikit kecewa.

ÔÇ£Nungging…ÔÇØucapku, dengan cepat tante ima beranjak dari posisi enaknya yang kemudian nungging dengan posisi ke arah om nico.

ÔÇ£Seperti ini mas?ÔÇØ ucapnya sambil menenggok kebelakang

ÔÇ£Kasihan nanti suamimu sayangku imaÔÇØ ucapku

ÔÇ£ndak papa mas, dia juga sudah sering main ma cewek lain, biar dia mimpi ima disetubuhi ma mas andiÔÇØ ucapnya dengan logat manja ABG disertai senyuman. Dengan sigap aku cari lubang vagina tante ima, kutemukan dan blesss…. masuk.

ÔÇ£kontol andi masuk, mentoohk sahyaaaang, besaaaar dan kuat, ima cintaaah…. aaaaaaaaÔÇØ ucapnya yang kemudian menjerit kecil ketika aku mulai menggoyangnya.

Punggung indah, dengan balutan jarit yang tersingkap sampai pada pinggangnya, ditambah lagi rambutnya yang sedikit awut-awutan itu membuat aku semakin bernafsu walau dalam hatiku selalu menyebut Ibu. Setiap goyangan dan hentakan yang aku berikan kepada tante ima, dia selalu menjerit dan merintih kenikmatan. Setiap rintihan dan racaunya selalu menyebut nama paman dan paman. Kugoyang semakin kuat dan semakin cepat membuat tante tersungkur, kepalanya tepat berada di samping kepala suaminya.

ÔÇ£Nico, Ima cinta Andi, biarkan Ima sama Andi…. IMA CINTA ANDIIIIIII….ÔÇØ ucap tante ima yang diakhiri dengan teriakan kangen kepada paman Andi.

ÔÇ£Andi, ima mau keluar…. ah ah ah ah ah….ÔÇØ

ÔÇ£Ima pengen hamil dari Andiiiiiiii……………..ÔÇØ teriaknya, rasa yang kurasakan sama dengan apa yang dirasakan tante ima, dedek arya pun juga merasa akan mengeluarkan laharnya.

ÔÇ£Ima keluaaaaaaaarrrrrrrrr……..ÔÇØ teriaknya

ÔÇ£Sama-sama sayangku ima….. aku juga mau keluar….ÔÇØ ucapku, dan…

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot….

Lahar panas dedek arya akhirnya keluar dalam liang vagina tante ima bersamaan dengan cairan hangat kenikmatan dari tante ima. Kepala tante ima tampak menoleh ke arahku dengan senyum kepuasan. Ku dekatkan kepalaku dan kuciumi pipi tante ima, kemudian aku angkat sedikit tubuhnya agar aku bisa mencium bibir manisnya.
ÔÇ£Ima puas tidak sama andi…hah hah hahÔÇØ ucapku dengan lembut

ÔÇ£Puas, Mas, Ima Cinnta Mas Andi….has has hash hash…ÔÇØ ucapnya sedikit tersengal-sengal

Kami berciuman lama, kemudian Tante ima berbalik tepat disamping om nico. Ku daratkan kembali ciumanku di keningnya, pipinya dan bibirnya lama kami saling melumat dan kuberikan kehangatan layaknya seoranng kekasih. Kulihat tante ima kemudian tampak lelah, matanya terpejam. Kulangkahkan kakiku ke arah ruang keluarga dan dudu di sofa dengan kaki selonjor. Ku redupkan mata ini yang sudah nampak lelah, tak peduli lagi jika aku terbangun dan rahman beserta om mengetahui ketelanjanganku. Maafkan aku sobat, maafkan aku…. Kulihat jam dinding menunjukan 01.00…. Kuterlelap.

Lama aku terhanyut dalam tidurku kurasakan sesuatu yang lembut sedang menyapu-nyapu dedek arya. Kubuka mataku yang masih terasa sangat berat, perlahan kulihat pada bagian selangkanganku tampak seorang wanita separuh baya dengan kulit putih agak sedikit gelap sedang mengulum dedek arya. Ya seorang pemuda yang sedang duduk selonjor dengan seorang wanita yang bersimpuh di selangkangannya, wanita itu mengulumi dan menjilati setiap nano meter kemaluan laki-laki tersebut. Ingat wanita itu telanjang tanpa sehelai benang pun pada tubuhnya.

Berasa seperti seorang raja dengan seorang ratu yang selalu patuh, ratu yang selalu patuh? Atau seorang budak yang harus menuruti kemauan rajanya? Ah tidak, aku tidak suka jika wanita dihadapanku ini aku jadikan budakku, aku hanya ingin take and give, jika dia memberi akan aku terima dan jika aku memberinya diapun harus menerimanya. Bukan seperti tuan dan budaknya, terlalu liar bagiku apalagi aku selalu mendapatkan hubungan yang mesra dari mereka. Aku bukan orang yang suka memanfaatkan situasi, hanya mengikuti apa yang dia inginkan… toh aku juga mendapatkan kepuasan dari imajinasinya. Kulihat jam dinding di ruang keluarga ini menunjukan pukul 02.30.

ÔÇ£Tante….ÔÇØ ucapku, sambil menikmati kulumannya

ÔÇ£Hmmmm…..ÔÇØ jawabnya dengan mulut yang tersumpal oleh dedek arya

ÔÇ£Arya, capek…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sayang…ÔÇØ ucapnya setelah melepaskan kulumannya

ÔÇ£Tante juga capek, tapi tante masih ingin memberikan pelayanan kepada kamu, terserah kamu mau menyurug tante ngapain…ÔÇØ

ÔÇ£Asal kamu senang, tante akan melakukannyaÔÇØ

ÔÇ£Tadi Arya sudah mengabulkan permintaan tante, sekarang tante akan mengabulkan permintaanmu…ÔÇØ ucap tante sambil mengocok dedek arya dengan lembut, tergurat sebuah senyum dari bibir manisnya yang indah. Perkataan yang meluncur dari bibir tante tidak sedikitpun membuat aku memikirkan apa yang harus tante lakukan, tubuhku terlalu lelah untuk melanjutkannya lagi tapi dedek arya masih bangun dan tegak.

ÔÇ£Tante…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya…ÔÇØ jawab tante

ÔÇ£Kulumin kontol Arya pakai mulut dan susu tante…ÔÇØ

ÔÇ£Sampe keluar dan Arya pengen lihat sperma Arya di wajah tante…ÔÇØ ucapku tiba-tiba, karena memang aku merasa capek dan aku hanya bisa duduk saja.

ÔÇ£Iya… sayangku… tante juga pengen ke semprot sperma kamu hi hi hiÔÇØ jawabnya sedikit nakal, sebuah jawaban yang terasa bagaimana gitu, mulai dari Ibuku sendiri dan sekarang Ibu sahabatku, hadeeeeeeeeeeeeh…

Perlahan tante ima mulai mengulum dedek arya, dan mulailah tante ima memaju mundurkan kepalanya. Kuluman disertai jilatan membuat aku sedikit belingsatan. Semakin lama semakin cepat gerakan kepala tante ima membuatku merasakan kenikmatan yang lebih hebat dan aku bangkit dari bersandarku, tangan kananku mulai mengelus-elus kepalanya. Tampak senyuman dari bibirnya yang tersumpal oleh dedek arya, terlihat sedikit air liurnya mengalir dari bibir indahnya. Lama tante ima mengulum dedek arya yang tak kunjung-kunjung mengeluarkan laharnya, tante ima merubah posisi simpuhnya dengan agak sedikit tegak. Di apitnya dedek arya dengan kedua susunya yang lumayan besar itu dengan sedikit air liur yang dia teteskan ke arah dedek arya membuat gerakan dedek arya di antara dua susunya itu menjadi lebih mudah.

ÔÇ£Ahh… tante ima hebat…ÔÇØ pujiku

ÔÇ£Ah ah ah ah untukmu akan tanteh… hah hah hah berikan yang terbaikh… ah ah ahÔÇØ ucapnya sambil memandangku sebentar. Kulihat kepala dedek arya tenggelam muncul dari susu tante ima tapi aku sendiri belum juga merasakan dedek arya akan muntah.

ÔÇ£Tante… Kalau tante tidak mengeluarkan isi kontol aryaÔÇØ ucapku

ÔÇ£hah hah hah… kenapa arya?ÔÇØ tanya tante ima

ÔÇ£Tidak aku kasih jatah lagi lho….ÔÇØucapku sedikit mengancam walau sebenarnya itu hanya candaan saja, karena aku cukup lelah dan ingin segera mengakhirinya.

ÔÇ£Jangan sayang… jangan… iya tante akan keluarkan…ÔÇØ ucap tante ima dengan wajah memohon dan memelasnya. Tiba-tiba tante berdiri dan duduk membelakangiku tepat di dedek arya, kemudian tante memegan dedek arya dan memasukannya ke liang vaginanya.

ÔÇ£afth… maaf sayang, tante kesulitan kalau pakai mulut dan susu tante, pakai memek tante saja ya sayang…ÔÇØ ucapnya memohon sambil menoleh sedikit kearahku. Perlahan tante mulai menggoyang, goyangan tante memperlihatkan jika tante sebenarnya sudah merasakan kelelahan.

ÔÇ£Tante curang ya, tidak mau menuruti perkataan Arya…ÔÇØ ucapku dengan candaan yang berisi ancaman

ÔÇ£Maaf, Arya… tante masih pengen dijatah kamu… pokoknya tante harus dapat jatah dari kamu…ÔÇØ

ÔÇ£Pukul bokong tante jika kamu merasakan tidak nikmat sayang…ÔÇØ ucapnya, seketika itu pula ketika aku mendengar pintanya, aku langsung memukul bokongnya yang semok itu.

ÔÇ£aahhhh..ÔÇØ teriak tante yang seakan-akan mendapat aba-aba untuk mempercepat goyangannya. Semakin aku sering menampar bokong tante semakin cepat pula tante menggoyang.

ÔÇ£Ahh arya, tante keluaaaaaaaaaaaaaaaaar….ÔÇØ tante menjerit keenakan dan jatuh bersanda kebelakangku, padahal sedikit lagi aku keluar. Dan kupeluk tubuh tante.

ÔÇ£maaf sayang…ÔÇØ ucap tante

ÔÇ£cepat kulum tante, aryan sudah mau keluar… atau….ÔÇØ ucapku, tante kemudian bangkit dari rebahannya dan langsung bersimpuh diantara kedua pahaku dan clup.. dikulumnya dedek arya.

ÔÇ£terusss tante… teruuuus… sebentar lagiiiih….ÔÇØ

ÔÇ£Aku ingin keluar di wajah tanteeeeeh ah ah ah ah….ÔÇØ

ÔÇ£aku keluar tanteeeeeeeeee……ÔÇØ teriakku dengan sekejap tante keluarkan dedek arya dan mengarahkannya ke wajahnya.

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot…..

Muncratlah spermaku di seluruh wajah tante, wajah yang selalu ramah kepadaku setiap kali aku berkunjung kerumahnya. Wajah yang selama ini selalu tersenyum kepadaku dengan sangat lembut, yang selalu menemani aku dan rahman mengobrol walaupun sebentar. Wajahnya yang sekarang penuh dengan spermaku, pandangannya melihat ke arahku dengan senyumannya. Perlahan lidahnya dikeluarkan menjilati sperma yang berada dekat bibirnya. Mulailah jari-jarinya membersihkan wajahnya dan dimasukan setiap sperma yang berada di tanganya.

Ku lihat tante dengan nafasku yang sedikit tidak teratur, ketika kulihat wajahnya bersih aku pegang kepalanya dan kemudian aku cium bibir manisnya. Ku ucapkan terima kasihku kepadanya, dan kulumat kembali bibir manisnya.

ÔÇ£Masih bolehkah tante merasakan ini semua sayang?ÔÇØ tanyanya ketika ciuman kami terlepas, kujawab dengan anggukan kecil. Tampak senyuman terlukis dari wajahnya dan langsung didaratkannya ciuman ke bibirku kembali.

ÔÇ£Terima kasih sayangku, sudah menjadi kekasihku dan kesayangakku…ÔÇØ ucap tante ima kepadaku. Terlukis kebahagiaan di wajahnya, kemudian dengan sisa tenaganya dia bangkit.

ÔÇ£Bersih-bersih yuk… takut mereka bangun…ÔÇØ ajaknya, kemudian tante mengajakku mandi bersama. Karena lelahku aku menolaknya, karena takut akan ada ronde selanjutnya sedangkan tubuhku sudah tidak kuat lagi. Dedek arya pun sudah mengeluh untuk minta beristirahat.

Akhirnya aku memunguti pakaianku dan ku bawa ke kamar Rahman, dan tante kembali ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Aku mandi di kamar mandi Rahman sekilas kulihat Rahman dengan posisi yang tidur tengkurap sejak awal aku tinggalkan nyenyak dalam tidurnya. Setelah bersih aku mendekat Rahman.

ÔÇ£Kang. Maafkan aku…. ÔÇ£ucapku lirih di telinganya. Aku kemudian terlelap dalam tidurku dan mimpiku. Mimpi dimana aku berharap aku bisa melakukannya dengan Ibuku. aku benar-benar kangen dengan Ibuku. ah ibu apa kabarmu disana.

oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo ooooooooooooooooooooooooo

Di suatu Rumah mantan kepala daerah, di dalam sebuah kamar yang dulu menadi kamar seorang gadis nan ayu. Gadis itu kini telah tumbuh dewasa menjadi wanita yang mempunyai anak laki-laki gagah. Di dalam kamar itu tampak wanita rebah di atas kasurnya belum bisa memjamkan matanya. Mungkin karena panggilan hati dari anaknya yang selalu rindu dengannya.

ÔÇ£Arya….ÔÇØ ucapnya lirih dalam tidurnya

ÔÇ£Ibu kangen….ÔÇØ lanjutnya, yang kemudian dicobanya untuk memejamkan mata berharap akan bertemu dengan lelakinya itu.

Oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo ooooooooooooooooooooooooo

Pagi menjelang aku pun terbangun dengan badanku serasa pegal semua. Kulihat Rahman masih asyik dalam tidurnya, sebenarnya berapa dosis yang diberikan oleh tante ima kepadanya. Ingin aku berjalan kebawah tapi takutnya akan ada ronde selanjutnya dan ini yang membuat aku merasa bersalah kepada Ibu. Aku hanya duduk di kamar, kulihat jam menunjukan pukul 10.00 dan Rahman belum bangun. Kusulut dunhill-ku dan kuminum minuman yang berada di meja belajar Rahman Minuman? Ah berarti tante ima sudah bangun. Akhirnya aku melangkah kebawah, kulihat tante ima dengan wajah bahagianya walau ada sedikit guratan kantuk di wajahnya menyambutku dengan senyumannya. Langsung dipelukanya aku dan dikecupnya bibirku. Dipeluknya erat tubuhku dan kubalas dengan pelukanku, walau agak sulit karena satu tanganku memegang dunhillku.

Wajah khas indianya dengan dress terusan hingga lutut yang juga menutupi sepanjang lengan tanganya. Drees yang tertutup tak menampakan belahan dadanya. Kami mengobrol secukupnya dan aku kembali kamar, kubangunkan Rahman. Akhirnya dia bangun dan tampak kudengar om juga bangun. Apakah mereka curiga? Ternyata rahman sendiri mengaku kepadaku kalau dia habis 4 ronde dengan cewek-cewek kampus dan pacarnya. Jadi dia sendiri yang membenarkan dirinya jika terlalu lelah padahal dia diracun oleh Ibunya. Ketika kita semua berkumpul di bawah tak nampak makan pagi, Tante ima beralasan karena bangun kesiangan jadi belum masak apapun. Aku berjalan ke arah dapur yang dekat dengan pekarangan rumah tampak tersengar percakapan om nico dan seseorang di telepon.

ÔÇ£Gila… aku kecapekan bro, gara-gara kemarin party kita dengan para wanita-wanita itu ha ha haÔÇØ

Ternyata bapak sama anak sama saja, aku? Hei aku tidak maniak jika tidak di ajak, ayolah jangan kalian menilaiku dengan maniak seks. Aku tidak seperti itu kawan, aku harap kalian bisa mengerti posisiku, oke reader? Please . Tak lama kemudian Om Nico mengajak Rahman untu membeli makanan di luar, untuk sarapan plus makan siang. Setelah mereka berdua pergi tinggalah aku dan tante dirumah ini sendiri. Tampak tante yang tadi baru saja mengantar om dan rahman keluar masuk kerumah dengan senyuman di wajahnya sambil membentangkan tangannya kearahku. Akupun langsung menuju ke arahnya dan memeluknya. Kucium bibirnya dengan remasan pada susunya, tantepun mengelus-elus dedek arya.

ÔÇ£anus tante masih perawa Ar…ÔÇØ ucapnya tiba-tiba, benar-benar gila ini tante ima masa mengaku seperti itu.

ÔÇ£Tante ingin kasih kamu itu, kalau kamu mau dan tante harap kamu mau…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Aku tidak suka lewat belakang tante…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sekali ini saja Ar, agar tante merasa bahwa tante telah memberikan semuanya kepadamu… daripada…om….muÔÇØ ucapnya memohon kepadaku. Daripada kelamaan kutarik tante keruang tamu kusuruh tante menungging di atas kursi tamu. Ku singkap dressnya dan ternyata tante tidak mengenakan celana dalam.

ÔÇ£Dijilat dan diludahi dulu sayang biar tidak terlalu seret….ÔÇØ ucapnya kepadaku, Tanpa basa-basi aku jilati anus tante dan kuludahi sebanyak mungkin membuat tante merintih kenikmatan. Dan kucoba masukan secara perlahan, tampak lebih seret sangat seret…. buanget.

ÔÇ£terus tekan sayang, tante berikan perawan anus tantehhh aaaaah…ÔÇØ ucapnya yang sedang menungging menghadap ke kaca ruang tamu, jadi tante bisa melihat langsung ke garasi kalau-kalau om sama rahman datang.

Mulai aku masukan secara perlahan dan akhirnya bisa masuk semua, terasa sangat seret sekali. Aku mulai menggoyang secara perlahan, semakin lama goyanganku semakin cepat dan cepat membuat tante mendesah dan kadang menjerit kecil. Sempitnya lubang anus tante membuat dedek arya tertekan dan membuat dedek arya menjadi lebih mudah merasakan sensitifitas.

ÔÇ£Ah ah ah ah…. aishhhh uft… enaaaaaak terusssss arya sayangku….ÔÇØ rintihnya, Lama aku menggoyang, akhirnya aku merasakan dedek arya akan meledak. Tante pun semakin mengerang tidak karuan.

Plak suara tamparan tangaku ke arah bokong tante ima.

ÔÇ£aaaaah… tampar sayangku , tampar bokong tante…. tante suka….ÔÇØ ucapnya, aku hanya tersenyum dalam batinku aku hanya terheran-heran dengan perubahan drastis sikap tante ini. ku goyang pinggulku semakin cepat.

ÔÇ£Tante mau keluar…ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£bareng tanteku sahyang….ÔÇØ jawabku

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot…..

Keluarlah spermaku di dalam anusnya, tante akhirnya sedikit terdorong ke depan sehingga kepalanya menempel pada kaca ruang tamu yang mengarah ke garasi karena dorongan kuat dariku. Jika saja ada orang yang melintas mungkin akan terlihat wajah tante. Sebentar kami beristirahat kemudian aku cabut dedek arya, dengan posisiku masih berdiri tante turun kebawah dan langsung dilahapnya dedek arya dengan bibirnya. Tangan kirinya memegang dedek arya dan tangan kanannya menengadah dibawah anusnya untuk menegumpulkan tetesan-tetesan sperma dari anusnya. Lama tante mengulum dedek arya hingga dedek arya tertidur dalam mimpinya mungkin karena rasa lelahku yang belum sepenuhnya terobati. Kulihat tante ima, mengangkat tangan kananya tampak sperma encer terkumpul di tangannya dan langsung dimasukan ke dalam mulutnya. Pemandangan yang mengejutkan sebenarnya, apa lagi keseharian tante tampak anggun dan ramah sekarang tampak nakal sekali, takluk di depan dedek arya dan Arya.

ÔÇ£Apa tidak jijik tante?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Kalau ini milik om kamu tante akan jijik tapi kalau milik kamu tidak, tidak sama sekali, tante suka…ÔÇØ ucapnya dengan senyuman dan bangkit memelukku. Akhirnya kami mengakhiri permainan ini, aku mandi lagi dan begitupula tante. Setelah selesai mandi tante memanggilku, mengajakku menunggu om dan rahman di ruang tamu. Di situ pun kamu masih bercumbu dan saling meremas kepunyaan pasangan. Benar-benar tante ima tak ada puasnya.

Om dan Rahman datang, kami menyudahi aktifitas kami dan berakting layaknya orang yang saling acuh. Kami makan bersama, obrolan santai antara kami semua membuat suasana rumah menjadi hangat Hingga selesai makan, aku pun pamitan pulang. Om nico pun berjalan ke arah pekarangan untuk bersantai. Ku ambil barang-barangku di kamar Rahman, kubereskan semuanya termasuk kamar Rahman yang tampak berantakan.

ÔÇ£Makasih ya Ar, ha ha ha ha…. emang ente orang juozzzz!ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£biasanya juga bagaiman Kang he he he ÔÇ£ jawabku, aku pun pamit ke rahman dan kedua orang tuanya di antarnya aku oleh Rahman menuju ke garasi tampak tante juga mengantarku tapi dengan wajah yang acuh gitu biar tidak memperlihatkan kalau kita sudah hmmmm. Sampai di garasi aku mengeluarkan motorku, nampak telepon cerdas Rahman berdering dan dia berjalan ke depan terlebih dahulu.

ÔÇ£Ar, terima kasih… jika ada kesempatan bicaralah pada pamanmu dan IbumuÔÇØ

ÔÇ£Seandainya bisa tante ingin bertemu dengan paman dan Ibumu, tapi tante ingin bertemu dengan pamanmu terlebih dahulu, ini nome tanteÔÇØ ucapnya dengan wajah sedikit memelas dan memasukan kertas yang dilipat kedalam saku jaketku

Aku hanya mengangguk tersenyum dan membisikan kata-kata supaya tante bersabar serta tante berusaha untuk bisa keluar rumah dulu baru semuanya bisa di atur. Bisikan itu meluncur begitu saja, seakan-akan aku bisa mengusahakan semuanya. Akhirnya aku pulang dengan tubuh sedikit lelah.

Ngueeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng…..

Dalam perjalanan kulihat tukang psang stiker dipinggir jalan, ku berhenti dan memasangkan SCOTLET merah di REVI. Sambil menunggung si e-masnya memasang scotlet aku menunggu di bawah pohon yang ditemani dunhill, teringat semua kejadian di dalam rumah rahman yang membuat aku geleng-geleng kepala hingga bisikanku kepada tante ketika hendak pulang. Tiba-tiba aku teringat akan seseorang, BUDHE???? Aduh bagaimana ini pamankan punya budhe, kenapa aku menyanggupinya? Ah parah aku….

Scotlet telah terpasang sekarang, dan nama sibodi montokku menjadi REVIA (REVO IRENG ABANG). Kutunggangi Revia menuju jalan rumah dengan beban pikiran yang sangat banyak. Hingga aku berada di rumah tepat pukul 17.00, aku masuk ke dalam rumah tanpa ada yang membukakan pintu tampak suasana rumah yang kacau balau. Kulihat Ibu hanya terdiam duduk dengan raut wajah takut di kursi ruang TV dengan Ayah yang seperti kebingungan memaki-maki orang yang berada di telepon. Ada apa ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*