Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 6

Wild Love 6

Pagi cerah di hari kamis tampak sinar matahari belum begitu terlihat. Kuangkat tubuhku, kurenggangkan tanganku terasa sangat segar sekali tubuhku. Kulirik jam dinding menunjukan pukul 05.30. Segera aku bangkit, menuju kamar mandi dan byuuuur ….mulailah aku kembali beraktifitas seperti sedia kala ya seperti ketika mau kuliahsebelum-sebelumnya. Setelah semua beres dalam kamarku, dengan sedikit berlari akku menuju ke ruang makan. Deg deg deg entah kenapa kali ini, ketika aku melihat wajah Ayahku seakan-akan aku melihat sosok yang berbeda. Kulihat Ayah sedang duduk membaca koran ditemani dengan kopi dan musik dangdut yang diputar di HP-nya. Kusalami Ayahku, walau pandanganku sekarang kepada Ayahku ini sedikit berbeda.

ÔÇ£Selamat pagi Romo…ÔÇØ sapaku sembari mengulurkan tangan kananku untuk mencium tangannya.

ÔÇ£Oh iya selamat pagi, tumben nak sudah siapÔÇØ sambil mengulurkan tangannya kemudian aku cium tangannya

ÔÇ£Inggih Romo, padahal tadi bangunnya telatÔÇØ jawabku sekenanya,

ÔÇ£ehem… ÔÇ£ suara tiba-tiba dari belakang dengan elusan halus dipunggungku, seakan-akan tahu perassanku saat ini, ya Ibuku.

ÔÇ£Kok ndak salim sama Ibu?Lupa ya kalau ada Ibu di sini?ÔÇØtanya Ibu

ÔÇ£eh iya…ÔÇØ jawabku sembari aku menoleh kebelakang dan mencium tangan Ibuku, kecupan di pipi kanan kiri dan keningpun aku dapatkan. Dengan kedipan mata mengisyaratkan bahwa aku harus bersikap seperti biasanya agar Ayahku tidak curiga. Kami jaga sikap kami agar semuanya tampak normal.

ÔÇ£Ya enggak to bu buÔÇØ jawabku yang kemudian duduk di barengi Ibu yang juga duduk di kursi sebelah Ayahku. Kupandangi sejenak Ibu, ada yang berbeda kali ini Ibu memakai kaos longgar warna merah terbuat dari kain yang lemas, dengan panjang lengan kaos menutupi hingga pada sikunya. Kuamati dengan sedikit nakal tampak sekali susu Ibu membuat bagian atas kaosnya agak sedikit ketat, di bagian bawah Ibu mengenakan Rok warna krem yang menutupi hingga lututnya. Tampak cantik dan anggun seperti Ibu-Ibu masa kini, tapi kalau pas kebaya lebih seksi lagi ouuuuuh. Kenapa susu Ibu tampak membusung sekali ya?he he he
ÔÇ£Di makan dulu, malah celingukanÔÇØ ucap Ibuku seakan-akan tahu apa yang aku lihat dan inginkan
ÔÇ£Inggih bu…ÔÇØ jawabku sopan, suasana yang agak sedikit tegang dengan kehadiran ayah mencoba aku cairkan.
ÔÇ£Romo, coba lihat Ibu, beda sekali gih?ÔÇØ ucapku sembari tersenyum

ÔÇ£Ouwh… iya, kata Ibumu tadi kebayanya banyak yang sobek kesangkut paku waktu bersih-bersih gundangÔÇØ ucap Ayahku diiringi oleh senyuman. Ya paling tidak suasananya tidak sehening ini walau ada suara musik dangdut dari HP Ayahku.

ÔÇ£Apa to kamu itu nak, kemarin kan juga tahu dua kebaya Ibu sobekÔÇØ ucap Ibu dengan hiasan senyuman dan menendangkan kaki ke kakiku dari bawah meja.

ÔÇ£he he he…. uftÔÇ£ jawabku dengan senyuman selengekan dengan dahi yang mengrenyit karena kakiku di tendang oleh Ibu.

ÔÇ£lho kenapa kamu?kok kaya kesakitanÔÇØ tanya Romo

ÔÇ£ini Romo, lututku nyodok mejaÔÇØ

ÔÇ£Oia Romo, maaf gih, coba Romo ketika mendengarkan musik pakai earphone Arya suaranya pasti lebih mantapÔÇØ jawabku sembari menyerahkan earphone yang kuambil dari dalam tas. Jujur saja aku memang tidak begitu suka lagu dangdut, jadi ya bagaimana caranya agar Romo bisa mendengarkan lewat earphone saja.

ÔÇ£Romo tahu, kalian tidak suka ya sama musik dangdut ya?ha ha ha haÔÇØ ucap Romo dibarengi tawanya, aku dan Ibu menjawab dengan anggukan dan senyuman

ÔÇ£Ya sudah, Romo PakaiÔÇØ lanjut Romo sambil memakai earphone di telinganya

Pagi itu berjalan seperti biasa, walaupun sedikitnya aku sedikit dongkol, marah dengan Ayahku setelah mendengar cerita dari Ibu. Ku selesaikan makanku dengan cepat, walaupun hari ini kuliah dimulai pukul 10.00 aku tetap berangkat pagi. Sudah menjadi kebiasaanku, karena aku tidak ingin terjebak macet apa lagi panas matahari bisa membuatku tambah malas berangkat kuliah. Selesai makan aku langsung pamitan kepada Romo dan Ibu, menuju pintu dalam garasi (Pintu bagian dalam ÔÇô red). Pintu garasi memang menghadap langsung ke ruang makan. Kulihat Revi berada di samping mobil Ayahku, kudekati revi untuk menaruh tas bawaanku. Dan ….

ÔÇ£Ibu masih kangen nak…..ÔÇØ bisik Ibu pelan secara tiba-tiba dari belakang Ibu memelukku

ÔÇ£eits…. Ibu itu mengagetkan aku sajaÔÇØ jawabku pelan

ÔÇ£Ssssst jangan keras-keras nanti Romo dengarÔÇØ ucap Ibu pelan. Kulepaskan pelukan Ibu kemudian aku berjalan ke arah pintu dalam garasi. Kutengok ke arah ruang makan dan ternyata Ayahku masih asyik mendengarkan musik sambil membaca koran. Posisi duduk Ayahku membelakangiku. Kutarik Ibuku tepat disamping pintu dalam garasi sehingga aku masih bisa menengok Ayahku jika ada pergerakan mencurigakan.

ÔÇ£Arya juga kangen, Ibu tambah cantik pakai pakaian ini, tampak lebih mudaÔÇØ

ÔÇ£Kayaknya ABG saja…ÔÇØ bisikku

ÔÇ£Kan Kekasihnya juga ABG… CUPÔÇØ jawab Ibu dan langsung mengecup bibirku

Aku berciuman dengan Ibu disamping pintu dalam garasi, sambil menciumnya aku meremas susu Ibu. Kuciumi leher Ibu sambil kupeluk erat tubuh Ibu. Seperti hal orang pacaran, Ibu yang bersandar di dinding tak lupa kukecupi bagian keningnya.

ÔÇ£Ibu bahagia sekali….ÔÇØ ucapnya

Dengan sedikit nakal, karena memang aku sedikit emosi kepada Ayahku. Kutarik Ibu tepat dipintu dan jika Ayah membalikan tubuh, Ayah akan tahu bahwa istrinya sedang aku nikmati bibir manisnya. Ibu yang ketakutan jika ketahuan Ayah nampak tidak bisa menikmatinya, tapi aku tetap melancarkan ciuman dan pelukan ke arahnya.

ÔÇ£Disamping pintu saja…ÔÇØ bisik Ibu

ÔÇ£Biar Romo tahu sekalian… he he heÔÇØ jawabku berbisik

ÔÇ£Hush… nanti kita tidak bisa melakukannya lagiÔÇØ balas Ibu dengan bisikan, tanpa menghiraukan jawaban Ibu. Ibu kutarik lebih tepat di depan pintu dalam garasi. Kupeluk erat Ibu dan…

ÔÇ£Hei Mahesa, Istrimu ini milikku jangan sekali-kali kamu menyentuhnya…. he he heÔÇØ ucapku ke arah ayah dengan nada yang sangat pelan. Ibu yang masih dalam pelukanku seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan karena sangat takut dengan ulahku.

ÔÇ£Sudah tenang saja bu, Ayahkan pakai Earphone, tidak bakal dengar kok buÔÇØ bisikku

ÔÇ£Tapi kalau Ayahmu menoleh kita bisa terkene bencanaÔÇØ bisik Ibu dengan sedikit memperlihatkan wajah marahnya. Tanpa menghiraukan Ibuku, kembali aku cium Ibu tapi Ibu menolaknya dan mencoba melepaskan pelukannya.

ÔÇ£Kalau Ibu tidak mau ini jadi yan terakhir … weeeeekÔÇØ bisikku sambil melet-melet. Ternyata Ibu lebih takut dengan candaanku.

ÔÇ£Ouwh begitu… ÔÇ£

ÔÇ£Kang Mas, Dimas mau melayani anakmu dulu yaÔÇØ

ÔÇ£Jatah kamu sama pacar-pacar jalananmu saja, aku cukup buat Arya hi hi hiÔÇØ Bisik Ibu disertai tawa kekeh yang pelan, yang kemudian menghadap ke arahku dan menciumnya. Aku sebenarnya takut, dan hanya ingin menakut-nakuti Ibu tapi Ibu malah tambah berani dengan keadaan seperti ini.

ÔÇ£Mmmm…. mmmmmm….. mmmmm…. slurp cup slurp cup slurpÔÇØ suara ciuman kami.

Selesai kami berciuman Kuarahkan kepalaku ke susu Ibuku yang masih terbungkus Kaos longgarnya. Hanya sekedar menciuminya, sedikit aku tarik posisi Ibu kembali kedalam garasi tetapi masih di tengah-tengah pintu. Kucium kembali Ibu dan balasan dari Ibu lebih panas lagi.

ÔÇ£Dimaaaaaas, Dimaaaaas, Kang Mas buatkan minuman lagi ini sudah habisÔÇØ teriak Ayahku yang mengagetkan kami berdua. Langsung dengan sigap aku dan Ibu melepaskan pelukan, aku kembali ke dalam garasi dan Ibu ke dapur. Tak lupa aku meremas susu Ibu dan pantat Ibu.

ÔÇ£Nakal ya….ÔÇØbisik Ibu

ÔÇ£Iya kang mas, sebentar ini lagi nemani Arya…ÔÇØ teriak pura-pura Ibu kemudian Ibu melangkah ke dapur.

Kulihat Ibu menoleh ke arahku dan melemparkan bibir monyongnya ke arahku dan pastinya aku membalasnya. Kubuka pintu garasi selanjutnya pintu gerbang rumah, segera aku menunggangi si REVI montok semok untuk pergi kuliah. Aku pun kemudian berteriak pamit kepada kedu Orang tualku, terdengar balasan dari mereka berdua. Wusssssshhhh….. ku pacu Revi dengan sekuat tenaga bahakan motor merek AsPaNam (Astrea Delapan Enam) bisa aku salip dengan begitu mudahnya, para pengendara sepeda onthel dapat aku lalui dengan gampang, itulah kehebatan REVI the number one. Dengan gaya sepengalaman Mrs. Valentino Rossi dengan jiwa muda Marc Marquez ku lalui jalan-jalan pagi menuju Universitas tercinta dengan bayang-bayang tubuh wanita yang selalu melintas di pikiranku. Dan ditambah lagi pertanyaan yang menusuk jantung hatiku,

ÔÇ£Ibu pakai kutang apa BH? Kelihatan menonjol sekali?ÔÇØbathinku.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit

ÔÇ£hamppir saja nabrak mini Bis hufh…. gara-gara kutang dan BH ini hadeeeeeehÔÇØ bathinku kembali.
Sesampainya aku ditempat parkir kampus, ku celingukan biasanya Rahman sudah datang lebih dahulu dibandingkan dengan aku. Kulihat jam di telepon cerdasku menunjukan pukul 07.30 dan masih sangat lama untuk menuju jam kuliah di jam 10.00. Sambil nongkrong di tempat parkir dan membantu tukang parkir menata motor-motor yang parkir tidak benar kunyalakan Dunhill Mild isi 20 batang.

Melintaslah seorang wanita anggun nan seksi, dengan kulit putih dan dandanan selayaknya seorang wanita dewasa. Dengan rambut panjang yang terurai, tubuh yang dibalit dengan kaos ketat warna putih dipadukan dengan blazer warna krem dan bagian bawah mengenakan celana dengan sedikit Cutbray dihiasi sepatu warna hitam dibagian kakinya. Cantik, seksi dan menggariahkan. Tiba-tiba wanita itu menoleh ke arahku dan tersenyum manis kepadaku. Bu Dian Rahmawati, Dosenku yang jutek sifatnya minta ampun tapi selalu cantik secara jasmani. ÔÇ£Kakak, apa itu target kita selanjutnya? Kalau Iya aku mau kak, PleaseÔÇØ ucap dedek arya dan ku jawab ÔÇ£Gundulmu, bisa-bisa dihajar oleh massa universitasÔÇØ, perang batinku dengan batin dedek arya he he he.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit…. greng greeeng greng greeeng greng greeeng klek… suara motor mati

ÔÇ£Woi, kalau parkir yang benarÔÇØ

ÔÇ£Tempat parkir kamu di Kuburan sebelahÔÇØ teriakku, pengedara itu membuka helm yang dibelakangnya membonceng seorang perempuan cantik-LAH!

ÔÇ£Gundulmu Ar, lha emange aku wis modar isa-isane ning kuburan (Gundulmu Ar, memangnya aku sudah mati bisa-bisanya di kuburan)ÔÇØ teriak Rahman, yang kemudian memparkir motornya. Digandengnya perempuan itu, menuju kearahku yang sedang nongkrong di salah satu tempat teduh dekat dengan tempat parkir. Plak..plak…plak…bugh…bugh… jesssss biasa cara salaman kami kalau pas bertemu.

ÔÇ£Kemarin kenapa ente kagak berangkat?ÔÇØ ucap Rahman

ÔÇ£Kecapekan, Pala pusing barbie he he heÔÇØ jawabku

ÔÇ£Ya elah Ar Ar….. kecapekan ngapain?nyabun ha ha ha haÔÇØ

ÔÇ£Oh ya sarapan duluÔÇØ lanjutnya kepadaku

ÔÇ£Gundulmu nyabun Kang kang, dilarang keras oleh UU persabunan he he heÔÇØ

ÔÇ£Aku temani tapi aku ngopi sajaÔÇØ jawabku sambil memandang mereka berdua

ÔÇ£Gimana say, sarapan yukÔÇØ ucap rahman ke pacarnya itu

ÔÇ£Iya…ÔÇØ Jawab pacar Rahman yang bernama Ajeng kusumawardani

Ketika kami berjalan menuju warung, aku berada di samping kanan Rahman dan Ajeng disamping kiri Rahman. Sesekali Ajeng memandangku dengan tatapan penuh Arti kepadaku. Aku tak menghiraukan Ajeng sama sekali, karena dia milik sahabatku.

ÔÇ£Eh kang tumben berangkat siang, biasanya hari kamis gini duluan kamuÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Biasa….ÔÇØ jawabnya
ÔÇ£Tadi pagi habis 2 Ronde Ar…ÔÇØ jelas rahman sambil berbisik, hanya menggeleng-gelengkan kepala tapi apa mau dikata aku saja kemarin hampir beronde-ronde.

ÔÇ£Ada tugas kemarin kang?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Tidak yang ada malah Bu Dian masuk nambahin tugas buat kita, katanya tugas hari senin kemarin ada yang kurangÔÇØ jawab Rahman, tepuk jidatlah aku mendengar jawaban Rahman, bisa-bisa aku CENGGUR (Ngaceng Nganggur) gara-gara tugas.

Setelah makan di warung selama kurang lebih 1,5 jam, kemudian aku menunggu Rahman di depan ruang kuliah sambil mengepulkan asap. Kebiasaan Rahman setiap pagi adalah mengantar Ajeng ke gedung kuliahnya. Rahman datang dan kita masuk bersama, perkuliahan membosankan bagi yang baru mengalami Malam Pertama seperti aku hanya melamun dan melamun. Pekuliahan dari jam 10.00 hingga jam 12.30 akhirnya selesai. Kami makan siang diwarung dan seperti permintaan Rahma, rahman meminta kembali file yang telah hilang dari komputernya. Dia copy dari telepon cerdasku. Satu jam bersama Rahman, aku pun pulang.

Perjalanan pulang aku tidak langsung kerumah, karena tiba-tiba aku melihat sebuah toko pakaian. Disana dipampang kebaya dan baju-baju modern saat ini. Akhirnya aku mampir untuk membeli, tak lupa aku mengambil uang terlebih dahulu di ATM-ku. Aku membeli dua buah kebaya sebagai ganti kebaya Ibu yang aku sobek, tak lupa pula aku membelikan baju beserta pakaian dalam untuk Ibu, ukuran? Aku beli semua model yang seksi dengan semua ukuran. Untuk menghilangkan keheranan dari penjaga toko, sebelum masuk toko aku menuliskan beberapa apa yang akan aku beli pada secarik kertas dan aku remat-remat, tujuannya agar penjaga toko yakin bahwa barang yang aku beli adalah pesanan dan aku adalah pesuruh untuk membeli pesanan itu.

ÔÇ£Kok beli banyak sekali, buat siapa mas?ÔÇØ tanya suara wanita dari belakangku

ÔÇ£Pesanan Ibu mbak, dan juga pesanan tetanggaÔÇØ jawabku sekenanya tanpa menoleh kebelakang

ÔÇ£Ibunya usaha jualan pakaian ya?ÔÇØ tanyanya kembali

ÔÇ£Iya mbak, ya maklumlah mbak Ibu Rumah Tangga, cari kesibukan selain mengurusi rumahÔÇØ jawabku kembali dan tetap tidak menoleh kebelakang karena masih fokus dengan mbak-mbaknya yang sedang membungkus pesanan

ÔÇ£Apa tidak malu mas beli pakaian wanita? Apalagi ada pakaian dalamnya?ÔÇØ tanya wanita itu lagi

ÔÇ£Itu pesanan mbak, lagian aku tidak makai pakaian itu mbak….ÔÇØ jawabku yang semakin kesal dengan pertanyaan-pertanyaan dari wanita itu

ÔÇ£…Mbak itu sebenarnya mau beli pakaian atau wartawan to, dari tadi nanya-nanya mulu kaya kurang….ÔÇØ jawabku dengan nada sedikit emosi sembari menoleh kebelakang dan ternyata yang dari tadi berbicara kepadaku adalah Bu Dian Rahmawati.

ÔÇ£eh bub bu bu Dian….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Maaf bu tidak tahu kalau tadi itu bu Dian…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Kalau semisal tadi bukan aku, kamu tetep mau marah-marah ya?kelihatan banget dari nada suara kamuÔÇØ jawab bu Dian dengan senyuman manis di wajahnya.
ÔÇ£Bisa jadi bu, tinggal saya masih bisa mengendalikan emosi atau tidak, ketika saya berbalik tadi pastinya tidak akan langsung membentak atau berbicara kasar dengan yang dibelakang saya walaupun saya tahu saya emosi dengan berbagai macam pertanyaan tadi, dan saya akan meminta baik-baik agar tidak lagi ditanya-tanya lagi sekalipun saya dongkol bu, sekali lagi saya minta maaf jika tadi membuat Ibu tersinggung dan marah, sekalipun saya dalam keadaan emosi akan saya usahakan selalu untuk bisa mengendalikan emosiÔÇØ jelasku sambil sedikit menundukan badan

ÔÇ£Iya… iya percaya sama kamuÔÇØ jawab Bu Dian tersenyum

Kami terlibat sedikit obrolan hangat, hingga aku terlupa dengan pulang. Kami berbincang-bincang sambil Bu Dian mencari pakaian yang akan dibeli dengan memutari toko pakaian tersebut. Ini juga karena kebodohanku yang sok jadi pengusaha pakaian di rumah bersama Ibuku, yang akhirnya membuat Bu Dian meminta pendapatku mengenai pakaian-pakaian yang akan dibelinya. Pertanyaan-pertanyaan bu Dian membuat aku menceritakan masa kecil hingga masa sekarang tetapi secara garis besar yang membuat kami tampak semakin akrab. Dari aku lahir hingga aku kuliah, bahkan aku juga bercerita mengenai aku yang ikut beladiri (dengan nada sedikit sombong), menghajar cowok SMA yang menggoda cewek SMA ketika aku kelas 2 SMP, Aku yang selalu disayang Ibuku, dan aku yang selalu gagal dalam masalah percintaan dengan cewek-cewek yang aku kenal.

ÔÇ£Kamunya saja mungkin yang tidak berani mengungkapkan, makanya cewek-cewek pada ngilangÔÇØ ucap Bu Dian yang aku jawab dengan wajah cengengesan dan sambil garuk-garuk kepala.

ÔÇ£Kamu ahli beladiri ternyata, terus cewek yang kamu selamatkan itu bagaimana kabarnya sekarang?ÔÇØ tanya bu Dian

ÔÇ£Mene ketehek bu, dia itu dari kota sebelah, ditambah lagi aku tidak pernah tahu namanya, lupa nanya ha ha ha haÔÇØ jawabku dengan nada bercanda sedikit

ÔÇ£Kamu itu payah sekali, menurut bu Dian kamu perbaiki sikap kamu dulu baru nembak cewek, dari tadi selengekan terus kalau ditanyaÔÇØ nasihat Bu Dian

Kami akhirnya mengakhiri kebersamaan kami, aku pulang dari toko tepat jam 16.30 aku sampai rumah. Kumasukan motor hanya di depan pintu garasi, kemudian aku masuk lewatpintu depan rumah. Pintu langsung terbuka dan tanganku ditarik oleh Ibu, kututup pintu segera kuletakan barang bawaanku. Ditariknya aku kearah meja tamu sebelah timur.

ÔÇ£Ibu benar-benar kangen…. slurp slurp slurpÔÇØ Ibu menciumku dengan ganas, seganas itu pula aku mebalasnya. Ibu memakai Kaos dan Rok selutut berbeda dengan tadi pagi, lama kami berciuman dan saling meraba-meremas kepunyaan lawan.

ÔÇ£Mahesa kemana bu?ÔÇØ tanyaku, percakapan antara aku dan Ibu sudah tidak lagi menggunakan kata Ayah lagi karena memang dalam diriku sudah tidak lagi mempercayai Ayah, walaupun masih ada sedikit hanya sedikit rasa kasihan terhadap Ayah

ÔÇ£Tenang saja orang itu sedang tidur di ruang keluarga, Ibu taruh gelas di atasnya jadi kalau dia bangun pasti gelasnya jatuhÔÇØ jelas Ibuku,

Langsung aku lumat bibir Ibuku dengan penuh nafsu, kuremas susu Ibu yang masih terbungkus kaos dan apa ini kutang apa BH? Dengan penuh nafsu ku angkat kaos Ibu dan terjawab sudah pertanyaanku selama ini.

ÔÇ£Ibu, BH Ibu kekecilan ya?ÔÇØ tanyaku sambil mengendus-endus dan menciumi Susunya.

ÔÇ£Ini BH sudah dari dulu sejak pertama kali Ibu pakai Kebaya dan tidak pernah Ibu pakai lagiÔÇØ jawab Ibu sambil tersenyum bangga

ÔÇ£Tampak seksi…. ehmmmm…. ehmmmm… slurp slurpÔÇØ kuciumi dan kuremasi susu Ibu, dengan segera aku lingkarkan tanganku ke punggung Ibu dan set set klek terlepaslah kancing BH Ibu. Kutarik ke atas BH Ibu, Indah dan sangat indah, setiap nano meter susu Ibu tak lepas dari jilatan lidahku. Kujilat, kuhisap dan kuremas susu yang kenyal ini, bahkan mungkinsusu wanita setengah baya ini tidak kalah dengan susu-susu teman kuliahku.

ÔÇ£Teruuus nak… susu ibu sudah kangen sama lidah Arya…ÔÇØ

ÔÇ£Remas… susu Ib…ah ah ah ah bu nak, nikmat… aish aish ti sepuas… muhhhhhÔÇØ rintih Ibu pelan

Setelah puas dengan susu Ibu ku arahkan Ibu untuk duduk dikursi. Kusingkapkan rok Ibu ke atas, apa? Tidak ada celana dalam? Sebegitu nafsukah Ibu?Kuangkat kaki Ibu dan kurenggangkan. Mulai kujilat melingkar di sekitar pintu vagina Ibu, terlihat tampak Ibu menikmati sensasinya. Jilatanku semakin masuk kedalam, kedalam dan kusedot sedot buah kecil milik ibu.

ÔÇ£uffth itil Ibu… nah ituh nakh… disedoth yangh.. kenceng eeeehÔÇØ racau Ibu memintaku

Semakin aku mendengar rintihan ibu semakin aku bersemangat, kusedot itilnya sekuat tenagaku membuat tubuhnya bergetar, kadang melengking ke atas kebawah. Kuvariasikan sedotan pada itil Ibu dengan jariku yang mulai masuk kedalam vagina Ibu. Kutekuk jari ku ketika berada di dalam vaginanya, sambil kukocok pelan lidahku tidak berhenti memainkan itil Ibu. Semakin cepat jariku keluar masuk, semakin kuat sedotanku pada itil Ibu.

ÔÇ£Aaaaah aaaah aaaah Ibu mau keluaaaaarÔÇØ

ÔÇ£Minum naaaaaak….aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaÔÇØ jeritnya tertahan agar tidak didengar Ayahku dari dalam rumah, tubuhnya melengking ke atas dan keluarlah cairan-cairan dari liang senggamanya. Membasahi semua jariku dan mulutku tanpa babibu aku langsung menyedot dan membersihkan liang vaginanya dengan mulutku. Kucoba memasukan semua cairan itu kemulutku. Setelah semua tampak bersih walau tetap saja kelhatan belepotan, aku pandangi Ibu yang matanya terpejam merasakan puncak kenikmatannya. Aku berdiri, kulolosi celanaku hingga bagian bawah telanjang. Toeeeeng…. dedek arya berdiri tegak siap menerka mangsa. Ibu membuka matanya, kemudian memperbaiki duduknya dan meraih batangku.

ÔÇ£Bu… tidak usah dikulum duluÔÇØ

ÔÇ£Arya bener-bener kangen sama tempik Ibu, pengen masukÔÇØ ucapku dengan tangan kanan menahan bahu Ibu yang sudah hampir mengulum dedek arya. Ibu tersenyum kemudian hanya mengecup ujung dedek arya dan kembali duduk bersandar di kursi. Dengan sedikit susah dan payah ku arahkan dedek arya ke vagina Ibu.

ÔÇ£Aaaah… ini tempik ufth… sempiiiiit sekali….ÔÇØ ucapku, karena memang rasa dari tempik Ibu selalu sempit mungkin karena rajin minum jamu.

ÔÇ£Kontol Arya yang besaaaarhhh….ÔÇØ jawab ibu merintih kesakitan ketika dedek arya ÔÇ£the kontolÔÇØ masuk. Semakin kedalam terasa semakin linu, kubenamkan sejenak agar vaginanya merasakan nyaman. Mulai kugoyang sedikit demi sedikit, pelan demi pelan, cepat demi cepat, semakin cepat semakin cepat. Ya kurasakan beceknya vagina Ibuku, dan sempitnya lubang itu. Lama aku menggoyang, kemudian berhenti karena lelah dengan posisi ini ditambah lagi Ibu tampak sedikit tidak nyaman dengan posisinya sekarang.

ÔÇ£Nak nungging saja ya… ÔÇ£ pinta Ibu

ÔÇ£… punggung Ibu sakit… ndak bisa menikmatiÔÇØ kata Ibu yang tampak kesakitan, akhirnya kutarik dedek arya keluar dari vaginanya dan sedikit mundur memberi ruang berdiri untuk Ibu, Ibu Kemudian berdiri dan menungging. Kedua tangannya menjadi tumpuan dikursi yang dekat dengan lorong/ jalan menuju ke dapur dan ruang keluarga. Jika dilihat dari ruang keluarga ataupun dapur akan terlihat kepala Ibu.

Kumajukan tubuhku mendekati tubuh Ibu, tanpa panjang kali lebar diraihnya dedek arya dengan tangan kirinya. Sleeeeb… maknyusss…. masuk dedek arya ke dalam vagina Ibu. Kupegang pinggul ibu dan kemudian kugoyang perlahan, semakin cepat, semakin cepat. Tampak Ibu menggelinjang merasakan nikmat, kepalanya menengadah ke atas sambil mata terpejam. Ku peluk tubuh Ibu dan kuremas payudaranya. Kepala Ibu nampak bergoyang, jika saja Ayah melihat dari ruang keluarga tampak sekali kepala Ibu seperti keluar masuk dinding.

ÔÇ£sssshhhhhh…. teryuussss… kontol arya enaaaaaakÔÇØ rintih pelan Ibu

Kembali kugoyang semakin cepat pinggulku, untuk bisa langsung mendapatkan nikmat. Semakin cepat kugoyang semakin terasa kesensitifan dari batang dedek arya. Membuat aku juga merasakan kelojotan.

ÔÇ£Ibu Arya mau kel… lu…. arÔÇØ bisiku kepada Ibu

ÔÇ£Ibu jugha… ah ah ahÔÇØ bisik Ibu kepadaku

Croooot croooot crooot crooot crooaoot crooot crooot croooot crooot crooot

Kupeluk erat tubuh Ibu yang menggelinjang karena mengalami puncak kenikmatan juga. Kutarik kebelakag tubuh Ibu, kemudian aku beringsut turun kebawa. Kini posisi Ibu berada tepat dipanguanku dengan dedek arya masih menancap di dalam vaginanya. Ibu bersandar ke tubuhku mengumpulkan tenaga kembali. Ibu menoleh ke belakang dan kami berciuman layaknya seorang kekasih, sambil mencium aku remas-remas susu ibu.

Glodak…. duk duk duk…..

Terdengar suara gelas jatuh ke lantai yang beralaskan kasur lantai. Aku dan Ibu yang mendengar itu langsung merapikan baju, tampak spermaku mengalir dari vagina Ibu kemudian di lap dengan tisu yang berada di ruang tamu.

ÔÇ£Dimaaaaas…. dimana?ÔÇØ teriak ayahku dari ruang keluarga, dengan nada sedikit-sedikit ngantuk

ÔÇ£Ya kang mas, ini lho arya sedang curhat diruang tamuÔÇØ balas Ibu dengan teriakan

ÔÇ£Oiya sudah, Kang mas masih capek mau tidur lagi di kamarÔÇØ tampak terdengar suara langkah Ayah menuju kamar. Dan klek…. klek…. pintu kamar tertutup, aku dan Ibu kemudian mengintip dari ruang tamu sambil tertawa cekikikan.
ÔÇ£Itu apa nak?ÔÇØ tanya Ibu melihat tas plastik bertuliskan TOKO PAKIAN MANUNGGAL

ÔÇ£Hmmm he he he Arya belikan Ibu pakaian kebaya dua buah dan pakaian yang sedang ngetrend sekarangÔÇØ jawabku sambil cengengesan

ÔÇ£sssssst…. jangan keras-keras disimpan di kamar Arya saja, nanti Ibu lihat ya, sekarang kamu segera ke atas, Ibu mau mandi duluÔÇØ ucap kepadaku.

Kami pun bergegas meninggalkan ruang tamu, segera Ibu masuk kamar mandi sedangkan aku naik ke kamarku. Sambil tiduran aku mendengar Ibu memanggilku untuk segera mandi, aku pun turun dan melihat Ibu melintas hanya menggunakan handuk yan menutupi tubuhnya. Ibu menengok ke arahku sambil melempar bibir monyongnya ke aku dan ku balas dengan bibir monyongku. Ku langkahkan kakiku menuju ke kamar mandi, dan Ibu masuk ke kamar.

Tak terasa waktu berjalan cepat, teriakan Ibu kembali aku dengar untuk makan malam bersama. Tampak Ibu tampil lebih cantik dengan pakaian lengan sesiku dan pakaian longgar berwarna hitam bagian bawah mengenakan celana selutut warna putih dengan rambut dikucir sanggul dibelakang. Tak ada yang menarik selain Ibu di makan malam ini, Ayahku pun sibuk dengan HP-nya sendiri. Katanya lagi BBM-an dengan temannya. Makan malam selesai, dan aku membantu Ibu mencuci piring.

ÔÇ£Oia besok jumat sampai minggu Ayah ada acara, sedangkan Ibumu akan pergi ke rumah kakek kamu jadi nanti kamu dirumah sendiri, nggak papa to nak?ÔÇØ kata Ayah membuka pembicaraan

ÔÇ£Tidak apa-apa Romo, nanti sabtu saya juga mau izin menginap di rumah teman saya, mengerjakan tugasÔÇØ balasku sambil mencuci piring

ÔÇ£Oya sudah besok pagi Romo akan mengantar Ibu kamu, berarti jumat kamu dirumah sendiriÔÇØ balas Romo

ÔÇ£Iya nanti kabari Ibu kalau sudah sampai di rumah temen kamu itu, mbok yaho kapan-kapan di ajak maen kesiniÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ah malas bu, nanti Arya tidak bisa curhat sama IbuÔÇØ jawabku dengan senyuman nakal ke arah Ibu, Ibu menjawab dengan sontekan kakinya ke arah kakiku.

Semua sudah bersih, romo beranjak ke ruang keluarga aku pun menuju kekamar. Sebelum pergi ke kamar Ibu, berbisik kepadaku nanti malam akan ke kamarku. Aku tersenyum dan merasa senang sekali. Ibu kemudian minta izin ke Ayah untuk tidur lebih dahulu, aku pun naik ke atas. Ketika ditengah-tengah tangga tampak di televisi sedang menampilkan sebuah berita tentang terungkapnya kasus korupsi di Instansi pemerintahan. Tampak penyiar memberitakan bahwa ada saksi dari pihak dalam kementrian yang siap membeberkan semua orang-orang yang terlibat dalam kasusu korupsi tersebut dengan inisial KS. Saksi ahli ini sedang dalam pengajuan perlindungan ke Lembaga Tembok Pelindung Saksi. Kuamati berita tersebut dan kemudian kulanjutkan melangkah menuju kamarku, aku masuk dengan hanya menutup sedikit pintuku, posisi pintu masih terbuka sedikit. Jam dinding di kamarku menunjukan pukul 20.00, kurebahkan tubuhku sekilas aku mulai mengingat berita tadi yang baru saja aku lihat.

ÔÇ£itu adalah instansi tempat Ayah bekerja, masa bodohlah yang penting malam ini, aiiiih he he he hmmmm mungkin tidak malam ini, bisa bahaya jika nanti Ibu berteriak terlalu kerasÔÇØbathinku

Aku kemudian tertidur dalam lamunan akan tubuh indah Ibu membuatku tidur dengan posisi cenggur. Aku bermimpi aneh, kulihat sepasang kerbau sedang bertarung mati-matian dengan mata tertutup, keduanya saling menyeruduk dan saling membunuh tanpa mengetahui siapa lawan mereka. Hingga akhirnya satu dari kerbau itu pada penutup matanya terbuka sedangkan kerbau satunya lagi masih tertutup pada kedua matanya. Hingga akhirnya seorang laki-laki tua berjubah putih dengan ikat kepala yang sedikit memperlihatkan rambut putihnya mendatangiku yang melihat pertandingan tersebut.

ÔÇ£Kaulah yang bisa menentukan kemenangan dari pertarungan kerbau ituÔÇØ kata lelaki tua, kemudian tanah seakan-akan bergejolak. Haaaaaaaaaaaah…. aku terbangun kaget setengah mati.

ÔÇ£Hah hah hah hah… apa akan ada gempa bumi? Mimpi yang anehÔÇØ bathinku

Kulihat jam dinding menunjukan pukul 22.00 aku terjaga aku melangkah menuju lantai bawah dengan maksud untuk mencuci muka sesampainya aku di pintu kamar kudengar Ayahku sedang bercakap-cakap dengan seseorang di telepon genggamnya. Tak jelas apa yang dibicarakan oleh Ayahku karena gangguan dari suara TV yang sedang menyiarkan sebuah pertandngan sepak bola.

ÔÇ£Bereskan tanpa cela dan …ÔÇØ kata Ayah pada seseorang ditelepon.

Hanya itu yang aku dengar, aku kemudian mengurungkan niatku untuk turun ke bawah. Kembali ke tempat tidur dan memikirkan apa yang sebenarnya sedang Ayah lakukan dan rencanakan. Aku dan Ayah memang tak pernah berbicara dari hati ke hati jadi aku tidak pernah tahu apa yang Ayah kerjakan selama ini di luar sana. Apalagi setelah kejadian dimana temannya hampir memperkosa Ibu aku juga semakin menjaga jarak dengan Ayah.

Kudengar suara kaki Ayah melangkah menuju kamarnya tak ada lagi suara televisi lagi. Semua menjadii hening dan akupun kembali tidur dengan berjuta-juta pertanyaan dalam pikiranku. Kembali aku bermimpi kedua kerbau yang bertarung itu dan mimpi itu terulang dari kejadian awal hingga lelaki tua itu berbicara kepadaku dan diakhiri dengan goncangan yang mebuatku terbangun.

Ketika aku terbangun dengan kekagetan yang sangat amat membuatku berolah raga jantung dengan keringat yang mengucur dari kepalaku. Ternyata Ibu sudah berada di sampingku dan ketika aku bangun dan duduk Ibu langsung memelukku. Mengelus-elus kepalaku, kemudian memegang kedua pipiku dengan kedua tanganya dan mengecup keningku.

ÔÇ£Ada apa nak?kamu mimpi buruk?ÔÇØ tanya Ibuku

ÔÇ£Hah Hah hah… tidak bu hanya mimpi ada kerbau yang bertarung saling membunuhÔÇØ jawabku, kemudian ku pegang tangan Ibu dan kuturunkan dan cup kukecup bibir Ibu. Kulihat Ibu mengenakan kebaya yang aku beli tadi siang, kebaya yang sangat seksi dengan belahan dada sangat rendah sehingga dapat terlihat belahan dada Ibu yang sangat menggairahkan.

ÔÇ£Ibu sangat cantik….ÔÇØ ucapku pelan sembari mengalihkan pembicaraan tentang mimpiku barusan.

ÔÇ£Sebenarnya Ibu kesini ingin mencoba pakaia-pakaian yang kamu beli tadi… ini baru nyoba satu, pas mau ngebangunin kamu malah kamunya mimpi burukÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£Bagus ya…ÔÇØ ucap Ibu yang beranjak dan berdiri sambil memutar tubuhnya dihadapanku. Kebaya belahan dada rendah warna hitam dan jarit berwarna coklat gelap dengan motif batik khas daerah. Sangat indah, terlihat setiap lekuk tubuh Ibu yang masih langsing apa lagi dipadukan dengan susu Ibu yang tampak sangat membusung ke depan sebenarnya tidak proporsi jika dilihat dengan tubuh Ibu yang sangat langsing tetapi susu Ibu sangat besar.

ÔÇ£Bagus sayangku, apalagi kalau di buka…ÔÇØ ucapku yang kemudian melangkah menuju ke arahnya untuk memeluknya, tapi Ibu tiba-tiba mendorongku sehingga aku terjatuh kembali ke kasurku dan rebahan. Ibu kemudian telengkup di atasku.

ÔÇ£Sssssst…. malam ini kalau mau ya pakai ini saja ya hi hi hiÔÇØ jawab Ibu sambil menunjukan bibir manisnya.

ÔÇ£Ya pengen semuanya bu….ÔÇØ jawabku manja meminta lebih

ÔÇ£Ibu sedang di datangi bulan sayangku kekasihku alias menstruasi…. hi hi hi ini barusan Ibu pakai ÔÇ£roti tawarÔÇØ hi hi hi… ÔÇØ ucap Ibu dan membuatku menepuk keningku.

ÔÇ£Makanya Ibu tadi kasih jatah kamu, karena perut Ibu teras mual seperti akan datang bulanÔÇØ lanjut Ibu

ÔÇ£Ya sudah bu, akan Arya tahan walau sebenarnya tidak tahan….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pakai ini tidak mau? Beneran?ÔÇØ goda Ibu

ÔÇ£Tidak bu, tapi dengan syarat Ibu harus coba semua pakaian yang Arya beli dihadapan AryaÔÇØ jawabku

ÔÇ£Iya memang tujuan Ibu kesini mau coba baju yang dibelikan AryaÔÇØ balas Ibu, yang kemudian berdiri dan melepas kebaya yang dipakai.

ÔÇ£Ayah kemana bu?ÔÇØ ucapku sambil mengangkat tubuhku dan duduk mengamati wanita setengah baya yang mulai terlihat kulit putihnya.

ÔÇ£Apa ndak denger ngoroknya Ayahmu dari sini?ÔÇØ ucap Ibu yang sedang melipat kebaya warna hitam dan kemudian mulai memakai kebaya warna putih. Aku kemudian menundukan wajahku dan mulai mencoba berkonmsentrasi untuk bisa mendengar suara ngoroknya Ayah. Ya memang terdengar sangat jelas.

ÔÇ£Kok keras sekali ngoroknya?ÔÇØ ucapku kemudian aku mengarahkan pandanganku ke Ibu, aku sangat tertegun untuk kedua kalinya.

ÔÇ£Bagus tidak?ÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Malah bengong….ÔÇØ lanjut Ibu

ÔÇ£Cantik bu, kapan-kapan pakai ini ya? Tapi jangan disobek karena ini hadiah dari kekasihkuÔÇØ ucapnya kepadaku.

ÔÇ£Ya ndak lah bu… ibu kekasihku tersayangÔÇØ jawabku, terlihat seorang wanita menggunakan kebaya putih yang sama seksinya dengan sebelumnya walau kutang yang dipakai tidak diganti dengan pasangan kebaya putih ini. Seharusnya Ibu memakai kutang warna putih juga tapi mungkin untuk mempercepat ganti pakaiannya. Ibu kemudian melangkah ke arahku dan memelukku diringi kecupan pada pipiku.

ÔÇ£Besok entah kapan, Ibu diajak jalan-jalan keluar kota ya, dimana tidak ada yang mengenal kitaÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ibu ingin memberikan semuanya ke kamu…. karena Ibu ingin sekali merasakan masa muda Ibu yang terbuang karena AyahmuÔÇØ lanjut Ibu, aku tertegun dan memandang Ibu, kemudian kukulum bibir Ibu dengan penuh semangat. Ibu melepaskan ciumannya dan beranjak melangkah untuk mencoba memakai pakaian yang lainnya lagi.

Satu persatu Ibu mencoba memakai pakaian yang aku belikan. Tampak seorang wanita sedang memilih-milih BH yang akan dipakai, dan mengesampingkan BH yang kekecailan dan kebesaran. Kemudian mulai mencoba pakaiannya satu persatu. Suatu eksotisme sendiri dihadapanku, melihat Ibu telanjang kemudian tertutupi pakaian lagi. Pakaian pertama berwarna hitam, sebuah kaos ketat yang terbuat dari kain tipis dengan lebih tepatnya itu adalah tank-top kemudian dipakainya jaket sport hitam dari kain (bukan dari jeans) yang tidak ditutupnya pada bagian depan bertuliskan sebuah kesebelasan kesayanganku. Bagian bawah Ibu memakai celana kain warna hitam yang sedikit cutbray, ketat hingga bagian lutut dan melebar sedikit dari lutut kebawah. Sangat kontras jika saja jaketnya tidak dipakai akan sangat terlihat kulit putih Ibu. Jujur Ibu tampak seperti berumur 28-an.

Pada pakaian kedua Ibu masih mengenakan celana jeans itu tapi sekarang memakai kaos ketat dengan belahan dada sangat rendah tetapi longgar pada bagian perutnya kebawah berwarna putih dengan lengan yang tertutupi hingga sikunya. Ibu tampak lebih seksi kali ini. Ibu tampak berjalan mondar-mandir ke kanan dan kekiriku memamerkan tubuhnya yang diselingi dengan canda gurau tapi pelan-pelan agar Ayah tidak bangun. Lama sekali kami bersama, hingga Ibu melepas semua pakaian dan mentanya di dalam almari kemudian memakai pakaiann ya kembali. Kami akhiri kebersamaan kami dengan pelukan, remasan, ciuman hingga akhirnya aku rebah di pangkuan Ibu. Ibu mengelus-elus kepalaku hingga akhirnya aku tertidur. Dalam tidur aku bermimpi tapi berbeda, tak tampak apapun hanya darah yang mengalir dari salah satu hewan yang sudah tak jelas lagi bentuk dan rupa dari hewan itu. Karena yang kulihat hanya bayangan hitam berbentuk hewan entah itu kerbau, sapi, atau bison. Mungkin kerbau tapi kali ini sangat terlihat lebih berbeda karena bentuknya lebih besar. Dan kemudian tampak gelap.

Aku terbangung pada 05.30, beraktifitas seperti sedia kala. Dan berkumpu dengan keluargaku pada pukul 06.30 untuk makan pagi. Aktifitas pagi yang selalu sama dengan yang sebelum-sebelumnya tapi sekarang Ayah dan Ibu yang terlebih dahulu berangkat sedangkan aku berangkat ke kampus setelahnya. Ayah kemudian menyuruhku membuka pintu gerbang rumah dan pintu depan garasi. Ayah kemudian mengeluarkan mobilnya hingga di jalan. Ibu yang masih berada dalam rumah memanggilku, dan ciuman, remasan serta pelukan aku dapatkan. Nikmat……

Sepeninggalan Ayah dan Ibuku, Aku tutupi semua pintu rumah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus. Ketika hendak berangkat aku mendapat telepon dari Rahman bahwa hari ini kuliah ditiadakan karena dosen yang mengajar sedang sakit cenggur eh salah meriang biasa katanya. Aku kemudian memutuskan untuk berangkat jam 08.00 dengan perkiraan sampai dikampus pukul 09.00. Ya mau bagaimana lagi kuliah ditiadakan, daripada dirumah mending ngampus saja lagipula Rahman juga bilang kepadaku dia berada dikampus hari ini. Ku buat teh tarik kesukaanku, sambil menyulut Dunhill Mild kesukaanku aku duduk di ruang TV/Keluarga dan menyetel TV, seketika itu pula muncul sekilas berita dari salah satu stasiun televisi lokal daerahku yang menayangkan sebuah berita secara langsung. Berita tentang kematian KS saksi ahli dari kasus korupsi di Instansi pemerintah tempat Ayahku bekerja yang dibunuh secara mengenaskan di jalan daerah rumahnya dan pelaku tidak diketemukan. Aku tersedak dan rokokku jatuh tepat di kaki kiriku.

ÔÇ£WADAAAAAAAAAOOOOOW….ÔÇØ teriakku, kemudian meletakan teh tarikku, ku ambil rokok aku mengelus-elus kakiku.

Aneh benar-benar aneh, semalam baru saja berita ini diturunkan dan KS sedang meminta bantuan perlindungan saksi tapi pagi ini dia sudah ditemukan mati terbunuh prakiraan waktu pembunuhan adalah malam hari tapi tepatnya tidak di sebutkan di berita. Aku mulai teringat percakapan ayah di telepon malam tadi, Ku ikuti berita itu, ternyata kejadian pembunuhan berada di sebelah timur laut universitasku sekitar 10 Km jaraknya. Tak kuhiraukan lagi jam dinding yang berdetak, langsung ku siapkan diriku untuk menuju ke tempat kejadian, dan bret bret bret…. ceklek ceklek. Setelah semua pintu rumah terkunci dan semua aman, kupacu lansung REVI montok semokku menuju tempat kejadian tak lupa kupasang earphone dari HP-ku di telingaku dan ku stel lagu DEEP PURPLE-HIGHWAY STAR. Dalam perjalanan musik yang sama terus berputar dan selama itu pula aku terus berpikir, alangkah lebih baiknya aku menemui Rahman terlebih dahulu di kampus agar dia tidak menunggu terlalu lama. Hingga akhirnya sampai di kampus terlebih dahulu, kutemui Rahman kami berbicang sebentar tanpa menjelaskan maksud dan tujuanku aku kemudian cabut dari kampus. Tapi sialnya motorku tidak dapat keluar dari tempat parkir, akhirnya aku meminjam motor Rahman plus jaket plus helm cakil-nya (helm yang menutup seluruh kepala). Dan Rahman menyuruhkku mengembalikan motornya di kos Ajeng karena dia mau indehoy disana. Dengan style yang berbeda aku menuju tempat kejadian.

Selama perjalanan dari kampus menuju ke tempat kejadian, sekilas tampak bayangan Ayah di pikiranku. Apa ada hubungannya dengan Ayahku? Ah sial kenapa juga aku semalam mendengar percakapan Ayah, seandainya aku tidak mendengar mungkin aku tidak akan sepenasaran ini. Inilah yan gmembuat aku penasaran sehingga membuatku ingin kelokasi kejadian. Ku pacu motor Rahman dengan sangat brutal, hingga aku sampai di sebuah gerbang bertuliskan ÔÇ£PERUMAHAN SEJUK ASRI ENAK (SAE)ÔÇØ (sae dalam bahasa indonesia memiliki arti ÔÇ£bagusÔÇØ). Ketika masuk gerbang perumahan ini tak tampak satpam berjaga, aku masuk dan berjalan lurus kedepan. Didepan kutemukan sebuah taman berbentuk persegi panjang dengan lapangan badminton dan basket kemudian disampingya terdapat sebuah kolam ikan yang kelihatannya dangkal, taman tersebut berjarak kurang lebih 200 meter dari pintu gerbang. Ketika aku akan membelok ke kenan terlihat sekali keramaian karena ada rekonstruksi kejadian. Aku parkirkan motor dekat dengan kolam ikan dan dengan masih mengenakan jaket dan helm cakil aku berjalan ke arah keramaian itu. Jaraknya kurang lebih 50 meter. Sesampainya di sana, aku berada di belakang barisan orang-orang yang menonton tampak pula para reporter televisi sedang meliput kejadian. Di depanku berdiri 2 orang yang berpenampilan rapi berbaju hitam.

ÔÇ£Ada apa to mas?ÔÇØ tanyaku kepada orang yang berada di sebelah kiriku, dengan hanya membuka kaca helm saja.

ÔÇ£Pembunuhan jare mas, tapi aku rak ngerti sapa sing mateni, jare ora ketemu(pembunuhan katanya mas, tapi aku tidak tahu siapa yang membunuh, katanya pembunuhnya tidak ketemu)ÔÇØ ucap orang tersebut. Aku hanya mengangguk dan tiba-tiba kedua orang berpakaian hitam itu bergerak mundur dan menabrakku hingga aku terjatuh terlentang membuat kaca helmku tertutup. Mereka hanya diam dan menoleh sebentar ke arahku serta mengacungkan jari tengahnya. Aku tidak ingin mencari masalah, aku kemudian berdiri dan membungkuk-bungkukan tubuhku meminta maaf kepada mereka. Kulihat mereka berjalan acuh kepadaku, masuk ke mobil dan brrrrmmmm mereka pun pergi.

Aku kemudian kembali ke motorku, aku duduk di pinggir kolam ikan, tampak pula seorang reporter wanita dan kameramen televisi dari stasiun televisi sedang mengobrol. Kutarik keatas helm cakilku, kusulut rokok Dunhill mild sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
ÔÇ£Wah kasihan sekali, padahal orang baik diaÔÇØ ucap reporter wanita

ÔÇ£iya sih, mungkin konspirasi terasi di dalamnyaÔÇØ jawab kameramen

ÔÇ£Hmmm… sebentar ini waktu kejadiannya jam berapa tadi? Aku belum mencatatnyaÔÇØ sambung reporter wanita tersebut

ÔÇ£Wah kamu itu bagaiman kok tidak dicatat, Bukannya dini hari tadi sekitar 22.30?ÔÇØ jawab kameramen

ÔÇ£Oh iya he he heÔÇØ jawab reporter wanita tersebut sambil terkekeh-kekeh

ÔÇ£Ah kamu itu selalu lupa ha ha haÔÇØ jawab kameramen dibarengi dengan tawa mereka bersama

Dari percakapan mereka akhirnya aku tahu, ternyata waktu kejadian adalah sekitar pukul setengah sebelas malam dan itu adalah waktu setelah aku mendengar perkataan Ayahku. Kuletakan rokok beserta korekku di pinngir kananku, sambil aku masih menikmati rokok dunhill, tiba-tiba bara api jatuh dari rokokku mengenai paha kiriku. Aku gelagapan langsung menyapu bara itu apesnya sebungkus rokok dunhill terjatuh untung kolam ikan tidak dangkal dan rokoku masih mengambang.

ÔÇ£Mas Rokok sama koreknya jatuh ituÔÇØ ucap kameramen telesvisi tersebut kepadaku

ÔÇ£Oh iya mas…ÔÇØ langsung aku ambil tanpa mempedulikan lengan jaketku.

ÔÇ£Lha HP-nya tidak diambil, rusak lho mas kalau tenggelam kelamaanÔÇØ ucap kembali repoter wanita tersebut

Sebenarnya aku kebingungan ketika mereka mengatakan itu, karena HP ku berada di kantong bajuku yang tertutup oleh jaket. Segera aku melihat ke kolam tampak sebuah telepon cerdas merek asia dengan segera aku ambil HP itu walau jaket rahman menjadi korban. HP? HP siapa? Saat itu pula aku ingin menyatakan kepada repoter dan kamera bahwa itu bukan HP-ku tapi mereka sudah keburu pergi. Ku lap HP tersebut dan kumasukan kedalam jaketku, tak ada seorang pun disini hanya aku sendiri, dari pada nantinya aku di takuti oleh hantu KS mending cabutlah.

Dalam perjalanan kembali ke kampus, tak ada pikiran apapun di dalam benakku. Kurang lihnya aku bahagia karena aku menemukan HP, ya semoga saja HP-nya masih bisa fungsi jika di perbaiki. Kupacu dan Ku arahkan motorku menuju ke konter langgananku di dekat kampus. Pemilik konter ini adalah temanku, biasa dia cari pekerjaan sampingan. Sampailah aku di konter HP temanku itu.

ÔÇ£Lagi sibuk Bro?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Ya lumayanlah….ÔÇØ jawab Ronald, teman kuliahku

ÔÇ£Bro, bisa benerin HP yang kecelup dalam kolam?ÔÇØ tanyaku kepada ronald

ÔÇ£Waduh lagi banyak servisan HP ni, maafnya bro sibuk bangetÔÇØ jawab ronald

ÔÇ£Ayolah kawan, bantulah aku, Cuma konter ini kepercayaankuÔÇØ jawabku memelas

ÔÇ£Dah gini, aja bro aku ajarin cara buka itu HP tak pinjami obeng khususÔÇØ ucap Ronald sembari menyerahkan satu set obeng khusus kepadaku

ÔÇ£setelah kamu buka kemudian kamu jemur saja sampe kering, kalau nanti bisa jalan lagi ya untung kamu, kalau tidak bisa jalan bawa kesini nanti aku perbaiki, tapi ya nunggu lama bro, Oke?ÔÇØ jawab Ronald. Ronald kemudian mengajariku membuka HP yang aku temukan tadi, dengan menggunakan obeng-obeng tersebut. Setelah aku yakin aku bisa, aku tinggalkan konter menuju ke kos-an Ajeng.

ÔÇ£Selamat SiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaangÔÇØ teriakku, selang beberapa menit keluarlah seseorang.

ÔÇ£WOI! Kaya tamu penting aja ente!ÔÇØ teriak Rahman dari dalam kos, kos Ajeng berbentuk sebenarnya Rumah kontrakan, lengkap dengan pintu gerbang rumah, garasi. Tampak Rahman membukakan pintu gerbang rumah.

Aku masuk tanpa banyak basa-basi aku langsung meminta motorku kembali. Dengan sedikit memaksa Rahman mengajakku masuk, sekalian mengenalkan aku ke penghuni kos tersebut mungkin saja ada yang aku minati. Kucoba menolak, tapi apa mau dikata aku gagal menolak.

ÔÇ£Woi ladies, kenalin nih cowok keturunan jepang, ganteng minta ampun, masih jomblo, Arya!ÔÇØ teriak Rahman ketika memasuki pintu rumah, tampak 6 orang cewek yang sedang nonton TV salah satunya Ajeng.

Mereka kemudian menoleh kearahku, tapi namanya cewek sedikit jual mahal kepadaku. Ku dekati mereka dan memperkenalkan diriku ke mereka satu-satu. Ana, Dwi, Lestari, Septiani, Ina dan terakhir Ajeng. Kamu terlibat percakapan, sekedar gurauan-gurauan dan candaan. Tak ada satupun yang memikat hatiku walau dari mereka ada yang memandangku dengan something. Hingga semua merasa lelah akhirnya aku memutuskan pulang. Ajeng… dia menatapku aneh sekali sejak dia jadian dengan Rahman.

Aku pulang kerumah, aku menuju kekarku, tak perlu istirahat aku langsung membuka HP yang aku temukan tadi. HP Original asyiiiiiik merek dari ASIA SUNGSANG, yes! HP Baru HP baru. Kenapa aku tahu ini HP asli, karena tadi temanku konter yang mengatakan kepadaku. Tapi tunggu bisa jalan tidak ini HP? He he he. Aku buka bagian belakang HP, kulihat MMC dan SIM CARD Masih menempel di HP itu. Kusisihkan MMC dan SIM CARD HP tersebut. Kubuka satu persatu layaknya seorang ahli perHP-an. Kujemur di perkarangan rumah, kuletakan bagian-bagian HP tersebut pada sebuah nampan dan aku letakan di atas rumput yang terkena sinar matahari.

Kembali aku masuk ke dalam kamarku, kulhat waktu menunjukan 13.00. Penasaran juga dengan isi SIM CARD, kuambil FiturPon-ku (HP jadul) dengan merek NANIA 3150 dan kupasangkan SIM CARD di dalamnya. Ku charge terlebih dahulu dan kunyalakan Hpnya. Sambil menunggu HP aktif sempurna, aku berandai-andai semoga saja isi smsnya, berisi sms dari wanita-wanita semok dan cantik he he he. Kubuka message HP walau sebenarnya belum aktif secara sempurna, sehingga tak tampak nama pengirimnya yang tampak hanya sebagian isi pesan, kucoba buka pesan pertama, agak sedikit lemot mungkin sedang melakukan sinkronisasi nomor kontak. Dan terbukalah isi smsnya

<some text missing> Antarkan sesuai perintahku
x/+-
ÔÇ£Yaelah ada text yang hilang nasib-nasib, apa maksudnya iniÔÇØ bathinku, kemudian aku tekan kebawah.

Sender:
Romo Mahesa
Date :
Wednesday,1/03/20xx

DEG… DEG… DEG… DEG….

DEG… DEG… DEG…

Jantungku berdetak sangat cepat, keringat mulai bercucuran. Kenapa nama Romo yang muncul di Hpku? Ya aku memang menyimpan nomor Romo di HP lama ataupun baru dengan nama Romo Mahesa. Di awal tadi tidak terlihat karena mungkin sinkronisasi kontak HP yang memakan waktu cukup lama.

ÔÇ£Apa? Apa ini? ada kaitan apa Romo dengan si empunya HP ini? Apakah HP ini milik KS yang tercelup?ÔÇØ bathinku

Ku raih telepon cerdaskku, kubuka website berita www.menitankoreng.com, kuilhat sebuah berita tentang kematian KS. Disitu tertuliskan,

ÔÇ£KS mati terbunuh dengan perkiraan pembunuhan di taman perumahan SAE, Mayat KS kemungkinan sempat diseret dari taman menuju depan rumahnya. Terlihat bercak darah yang menuju dari taman menuju ke rumahnya. Kemungkinan KS mati ditusuk terlebih dahulu kemudian di tembak di bagian keningnyaÔÇØ

Keanehan terjadi, kenapa tadi tidak ada garis polisi di taman tepat di kolam ikan yang aku duduki? Padahal itu tempat terjadi pembunuhan. Kucoba kuingat-ingat lagi dan ternyata memang ada garis polisi di taman tetapi tidak pada bagian kolam ikan. Aku rebahkan tubuhku di kasur kulihat jam dinding menunjukan pukul 14.00. Semua tampak buram, siapa sebenarnya Ayah?Apa yang telah dilakukannya selama ini? membuatku menjadi pusing tujuh keliling, apa lagi ada sms yang tersimpan di dalam SIM CARD ini menunjukan pengirimnya adalah Ayah. Kuletakan HP jadul-ku di kasur dan kutinggalkan.

Aku bangkit dari tempat tidurku, kemudian kulangkahkan kakiku menuju pekarangang rumah. Dengan asap yang mengepul dari mulutku layaknya sebua Lokomotoif, ditangan kiriku menggenggam telepon cerdasku. Aku duduk di tempat duduk santai, ku amati Telepon cerdas yang aku jemur tampak sudah kering karena teriknya matahari yang menyengat ini. kepulan demi kepulan asap memngandung beribu-ribu pertanyaan yang membuat pikranku seolah-olah ditekan oleh batu 1 ton. Masa bodohlah… itu bukan urusanku. Ku mainkan sebuah lagu dari Band beraliran Galm Rock yang mendunia saat itu. Gun nÔÇÖ Roses – Welcome To The Jungle. Setiap lirik aku coba dengarkan dan resapi, hingga pada sebuah lirik…

ÔÇ£Ya learn to live like an animal in the jungle where we playÔÇØ

Benarkah? Benarkah kita manusia tetapi hidup layaknya seekor binatang? Berebut kekuasaan, menindas yang lemah, bahkan membunuh mereka yang tidak sepaham dengan kita. Layaknya rimba hutan, dibutuhkan penguasa yang mampu memberi rasa takut kepada penduduk rimba. Bedanya, hewan lebih hebat seekor hewan dapat berkuasa dengan kekuatannya sendiri tetapi manusia memanfaatkan uang untuk menghancurkan pesaingnya. Ahhhh… jika dipikir tidak akan ada habisnya. Yang aku tahu seperti kata Ibuku, manusia adalah tempat untuk berbagi, saling menyayangi dan menghormati tanpa harus meliha perbedaan. Ahhh kenapa aku risau akan semua ini? yang terpenting aku harus bisa memposisikan diriku untuk bisa selalu diterima oleh masyarakat sekitar, tak akan kupedulikan apa kata orang. Intinya adalah aku harus bisa bersosialisasi dengan semua lapisan masyarakat. Hei? Kenapa aku seperti negarawan saja ha ha ha.

Pull me under pull me under pull me under iÔÇÖm not afraid… bunyi panggilan pada telepon cerdasku. Kulihat nama Ibu tertera pada layar telepon cerdasku, segera ku angkat.

ÔÇ£Sugeng Siang Ibu, bagaimana kabarnya?ÔÇØ ucapku kepada Ibu di telepon

ÔÇ£Iya… Arya sayang… kamu tidur dirumah kakek saja ya, Rumah kamu kunci semua saja daripada kamu tidur sendirian di rumahÔÇØ

ÔÇ£Bawa juga pakaian secukupnya ya, biar nanti kalau mau ke rumah teman kamu itu bisa langsung dari siniÔÇØ ucap Ibu dari dalam telepon cerdasku

ÔÇ£Arya tidur di rumah saja buÔÇØ jawabku pendek

ÔÇ£Apa ndak kangen Ibu to? Pokoknya ya kamu kesini titikÔÇØ jawab Ibu sedikit membentak dari dalam telepon

ÔÇ£Kangen iya kangen, Ibunya kangen tidak sama AryaÔÇØ ledekku kepada Ibu

ÔÇ£Iya kangen to, masa sama anak sendiri ndak kangenÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£Kangen yang mana? He he heÔÇØ ledekku kembali

ÔÇ£Hmm…. mau tidak?!ÔÇØ terdengar bentak Ibu lagi

ÔÇ£Iya bu iya… nanti jam empat sore, Arya berangkat dari rumahÔÇØ ucapku, kembali Ibu menjawab dengan sedikir obrolan-obrolan mengenai apa yang aku lakukan seharian. Kemudian Ib mengakhiri pembicaraan kami, dan dia menunggu aku di rumah kakek.

Kembali musik mp3 yang berada dalam telepon cerdasku berputar walau sempat berhenti karena panggilan telepon dari Ibu. Lagu kembali aku dengarkan sebuah lagu dari seorang solois bernama Bryan Adams ÔÇô Never give up. Ya aku tidak boleh menyerah dengan keadaan ini, tidak boleh aku harus menemukan jawabanku. Lama aku melamun, lama pula aku mendengar lagu yang berputar. Kulihat jam pada telepon cerdasku menunjukan pukul 15.00, aku bangkit dan ku angkat telepon cerdas temuanku. Tampak sudah kering dan kerontang. Kubawa ke dalam kamar, kemudian aku pasangkan kembali MMC dan SIM cardnya. Kunyalakan, YES BISA!

Sambil menunggu Telepon cerdas menyala sempurna, kutinggalkan telepon cerdas itu diatas kasur. Kemudian aku menata semua keperluanku untuk menginap di rumah kakek. Setelah semua pakaianku beres, kuraih telepon cerdas temuan itu dan ternyata masih bisa berjalan dengan normal. Kubuka pada bagian galeri foto, tampak foto-foto KS dengan keluarganya sedang tersenyum bahagia. Tapi apa benar ini foto KS? Ku coba browsing dengan menggunakan telepon cerdasku dan tuing memang benar HP ini adalah telepon cerdas KS. Aku menunduk dan merasa terpukul, bagaimana bisa seorang kepala keluarga yang bahagia dibunuh hanya karena ingin membongkar kasus korupsi. Tampak telepon cerdas itu masih menyambung dengan koneksi datanya.

Kucoba buka pada menu SMSnya, tampak sebuah nama yang tidak asing lagi Mahesa. Ku sentuh bagian nama itu dan terlihat deretan text sms. Hanya terlihat 5 pesan berurutan yang tampak dari telepon cerdas yang ku temukan. Mungkin sms yang tadi aku baca berada pada bagian atas dan perlu ku scroll ke atas dulu. Tapi 5 pesan yang tampil ini sangat membuatku deg-degan.

Kenapa Bapak mengkambing hitamkan adik saya?
Padahal Bapak sendiri pelakunya
Monday, 28/8/20xx
Diam saja kamu
Jika kamu berani bicara di publik
Aku akan membunuhmu
Monday, 28/8/20xx

Tidak, akan saya akui kesalahan saya
Dan saya siap menerima hukuman dari pihak berwajib
Begitu pula dengan bapak
Monday, 28/8/20xx

DASAR BAJINGAN!
AKAN KU BUNUH KAMU!
Monday, 28/8/20xx
SAYA TIDAK TAKUT!
SAYAMEMINTA PERLINDUNGAN HUKUM!
Monday, 28/8/20xx
Apa maksdunya ini? Pull me under pull me under pull me under iÔÇÖm not afraid… bunyi panggilan pada telepon cerdasku. Kulihat nama Ibu tertera pada layar telepon cerdasku lagi, segera ku angkat. Nampak Ibu memastikan aku untuk segera berangkat karena khawatir akan hujan deras, kulihat dari dalam kamar melewati jendela awan sangat gelap. Segera aku mempersiapkan diriku, ku matikan telepon dari Ibu. Tak lupa pula aku matikan telepon cerdas temuanku, ketika hendak mematikan telepon cerdas terdengar bunyi tung… sebuah notifikasi dari Bau Badan Messenger (BBM), muncul sebuah nama MAHESA diikuti isi pesan ÔÇ£MATI KAU HAHAHA!ÔÇØ

Aku benar-benar kaget, ketika melihat notifikasi tersebut. Kucoba membuka aplikasi BBM melalui menu agar tidak membuka langsung pesan BBM tersebut karena jika aku buka pengirim akan tahu bahwa pesan itu telah di ÔÇ£RÔÇØ. Dan kulihat kontak BBM tersebut dan benar itu kontak itu bernama MAHESA kusamakan dengan foto yang berada di BBM telepon cerdasku, ya itu sama persis. Segera aku matikan telepon cerdas temuanku itu agar tidak dihubungi atau tidak diketahui oleh orang yang mencarinya. Setelah kupastikan mati total, aku sembunyikan di dalam kamarku yang bahkan semua orang tidak akan pernah tahu keberadaanya. Segera aku angkat semua kebutuhanku yang berada dalam tas untuk menuju kerumah kakek, karena aku juga sangat kangen dengan Ibuku, kekasihku. Setelah semua kupastikan terkunci aku kemudian tunggangi REVI MONTOK SEMOK-ku.

Dalam perjalanan aku menuju rumah kakekku, aku memutuskan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun atas apa yang aku alami dalam minggu ini. Minggu yang penuh dengan bermiliyar-miliyar pertanyaan dalam otakku. Kupacu dengan penuh semangat…… saatnya menuju ke barat menuju kerumah kakekku. Nguuuuuuuuuuuuuuuuuuueeeeeeeeeeeeeeeengg………. ……..

Setelah mendapatkan satu jam perjalanan, sejenak aku beristirahat di sebuah kedai nasi harimau. Makan secukupnya dan mulai berbaur dengan orang-orang yang berada di tempat itu. Bersendau gurau dan bercanda. Ya inilah bangsaku, bangsa yang benar-benar menghargai perbedaan. Setelah dua bang dunhill hilang menjadi asap aku melanjutkan kembali perjalanan, tepat pukul 19.00 aku sampai dirumah kakek.

Ibu menyambutku dengan penuh kebahagiaan seakan-akan sudah lama tak jumpa, Tante Ratna, Pak dhe (Paman) Andi semua berkumpul terlihat juga nenek Ayu dan Kakek Warno yang sedang bersendau gurau dengan adik-adikku dari tante ratna dan pak dhe Andi. Tante Ratna memiliki 2 orang anak, cowok berumur 10 tahun dan yang cewek berumur 7 tahun sedangkan Pak Dheku memiliki Tiga orang anak, anak pertama berumur 11 tahun, anak kedua berumur 9 tahun dan anak ketiga berumur 5 tahun. Ketika semua berkumpul tampak dari semuanya terlihat bahagia. Sedikit cerita, Ketika Pak dhe menikah dengan bu dhe bertemulah tanter ratna dengan Adik dari istri pak dhe, mereka saling jatuh cinta dan akhirnya mereka menikah juga. Jadi, Istri Pak dhe dan Suami Tante Ratna adalah kakak beradik.

Di sela-sela kebahagiaan itu muncul sebuah tanda tanya besar ÔÇ£Kenapa aku tidak pernah bertemu dengan kakek dan nenek dari Ayah?ÔÇØ. Pertanyaan muncul dan aku simpan dalam hati, pertanyaan yan muncul karena berbagai hal aneh yang terjadi di minggu ini. Kami berkumpul bercerita mengenai berbagai macam hal dari A hingga Z dai 0 hingga 9.

ÔÇ£Arya, dah punya pacar belum?ÔÇØ tanya tante ratna yang disampingnya duduk suaminya Om Andra Dwi Kuncoro dengan wajah yang ramah.

ÔÇ£Iya nih, dah punya belum masa 20 tahun masih Jomblo?ÔÇØ sambung pamanku yang di dadanya rebah kepala dari istrinya Ika Ana Kuncoro nan cantik yang juga tersenyum kepadaku.

ÔÇ£Eeeeeeeeeee… Mas sama dik ratna itu bagaiman to biarkan Arya kuliah dulu baru nanti mencari pacarÔÇØ jawab Ibuku dari belakang sambil membawa senampan minuman hangat.

ÔÇ£Belum Pak dhe, tante tidak laku aku ini… he he heÔÇØ ucapku yang dibarengi dengann tawa mereka semua.

ÔÇ£Masa cowok seganteng kamu belum laku? Jangan-jangan…..ÔÇØ ledek tante Ratna

ÔÇ£Bener juga ya Rat, ada yang tidak beres sama AryaÔÇØ ucap Tante Ika menimpali Tante Ratna, belum juga aku menjawab giliran pak dhe dan Om Andra yang menimpali secara bersamaan.

ÔÇ£Wah iya ini jangan-jangan Arya….ÔÇØ ledek kedua laki-laki di depanku

ÔÇ£APAN SICH TANTE, OM SAMA PAK DHE ITU? AKU MASIH NORMAL YA…..ÔÇØ

ÔÇ£Ibu, belain aku to ya…ÔÇØ ucap ku kepada Ibu

ÔÇ£iiiih kakak udah gede masa minta di belain sama bu dheÔÇØ ucap anak tante ratna

ÔÇ£Sudah-sudah kaya kalian umur 20-an sudah punya pacar saja…ÔÇØ bela Ibu

ÔÇ£Yeee… tapi kan punya banyak fans dari lawan jenis, weeeek ketimbang Arya, emang punya fans?ÔÇØ celetuk pak dhe-ku, belum sempat aku menimpali

ÔÇ£Ooooo jadi bangga ya punya banyak fans?ÔÇØ ucap Bu dhe Ika dengan tangan bersedekap memandang tajam ke arah pak dhe. Aku melihat itu semua kemudian tertawa terbahak-bahak, semua orang yang berada di situ awalnya heran dengan tingkahku kemudian mereka pun ikut menertawakan Pak dhe. Kakek dan Nenek hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah laku anak dan cucu-cucunya.

ÔÇ£EEEE AAAA EEEE AAAA EEEE AAAA…. ada yang marah tuh….ÔÇØ ledekku ke pak dhe.

Suasana tetap riang walaupun saling lempar ejekan dan gurauan. Hingga pukul 21.30 tampak wajah mereka sudah mengantuk dan mulai menguap satu per satu. Satu per satu mereka minta ijin untuk berangkat menuju ke kamar masing-masing.

ÔÇ£Arya kamu tidur sama Ibu kamu saja, karena disini kamarnya cuma tigaÔÇØ ucap nenek kepadaku

ÔÇ£Tidak mau nek, kan Arya sudah besar masa tidur sama Ibu, Arya tidur di ruang tamu sajaÔÇØ jawabku

ÔÇ£Hush, tidak boleh membantah nenekÔÇØ ucap pak dhe meniru aksen Kakekku, di iringi gelak tawa dari mereka semua. Kakekku hanya geleng-geleng kepala ketika melihat ulah pak dhe. Akhirnya aku menuruti perkataan nenekku, semua akhirnya masuk ke dalam kamar. Aku kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil air putih.

Minggu ini benar-benar aneh, belum juga aku mengakhiri meinggu ini sudah banyak pertanyaan dari dalam otakku. Ah masa bodohlah… aku tak mau tahu. Kuhabiskan dua batang dunhill mild dan kuhabiskan pula segelas teh hangat. Pintu belakang rumah kakek pintu tradiisional, mirip dengan pintu gerbang tapi ukuran lebar hanya sekitar 2 meter kurang, disetiap pintu terdapat kaca-kaca yang berada dibagian tengahnya. Ketika aku hendak masuk tepat di depan pint itu aku melihat bayangan putih, ya itu adalah kakek dalam mimpiku.

ÔÇ£Sampeyan kudu iso nglakoni kabeh, kabeh tergantung karo sampeyanÔÇØ ucap kakek tua itu.

Aku kaget setengah mati, aku menengok kebelakang dan tak ada satu orang pun di sana. Segera aku masuk mencuci muka dan masuk ke kamar Ibu. Ku kunci kamar Ibu dan langsung tengkurap di sebelah Ibu. Jujur aku takut setengah mati, apalagi ucapan pak dhe dan kakek memberiku seribu pertanyaan. Ibu yang kaget bangkit kemudian mengelus-elus kepalaku.

ÔÇ£Ada apa to nak?ÔÇØ tanya Ibuku, mendengar ucapan Ibu kemudian aku bangkit dari dan duduk menghadap ke Ibu. Kamar Ibu cukup luas dengan kamar mandi didalamnya. Kemudian kuceritakan semua kejadian yang menimpaku tadi ketika dipekarangan rumah.

ÔÇ£Sudah-sudah, ndak papa, itu tandanya kamu adalah lelaki hebatÔÇØ ucap Ibu sambil tersenyum kepadaku,mencoba untuk menenangkan pikiranku. Aku kemudian memeluk Ibuku, kurebahkan kepalaku di susu Ibu.

ÔÇ£Bu, Arya takut…ÔÇØ ucapku,

ÔÇ£Nak, seharusnya Ibu yang takut, kenapa malah kamu?ÔÇØ

ÔÇ£Bukannya, Arya yang selalu berjanji untuk melindungi Ibu?ÔÇØ ucap Ibu kepadaku.

Malu, aku benar-benar malu ketika mendengar itu terucap dari mulut Ibu. Aku kemudian bangkit dari susu Ibu, dan tetap menundukan kepalaku sembari meminta maaf kepada Ibuku. diangkatnya kepalaku dengan kedua tangan Ibu, dan lidah lembutnya memaksa masuk ke dalam mulutku. Kubuka sedikit dan kamipun berciuman selayaknya sepasang kekasih. Aku kemudian mengarahkan kedua tanganku meremas susu Ibu, dan Ibu mulai mendesah sangat pelan menikmati sensasinya.

ÔÇ£Bu Arya pengen….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Pakai ini saja ya… ÔÇ£balas Ibu sambil menunjukan bibirnya dan kubalas dengan anggukan.

Aku kemudian melepas kaos Ibu, dengan penuh semangat dan juga BH Ibu. Tampak susu Ibu yang sekal dan besar kembali aku lihat, sungguh indah. Tanpa babibu Ibu menarikkku kepinggir ranjang dan dia berlutut dihadapanku.

ÔÇ£Ingat, No Sound, keep silent….ÔÇØ ucap Ibu kubalas dengan anggukan dan kecupan dikeningnya. Ya wajarlah seorang lulusan S2 berbicara dengan logat inggris yang fasih. Dan sleeeb….

Kuluman Ibu membuat aku kelojotan, setiap kuluman terdapat sapuan lidah. Dimasukan dedek arya kesamping kanan rongga mulutnya seakan-akan seperti orang yang sedang menggosok gigi. Dikembalikannya lagi ditengah kemudian disedotnya kuat-kuat. Digesernya lagi dedek arya kekiri rongga mulutnya dimaju mundurkan kemudian dikembalikan ke tengah dan di sedotnya kuat-kuat. Lama ibu melakukan kuluman itu tapi sama sekali tidak membuatku merasa akan mengalami puncak.

ÔÇ£Bu…ÔÇØ bisiku sambil kulepaskan kuluman Ibu dari dedek Arya

ÔÇ£Pakai susu Ibu saja….ÔÇØ lanjutku berbisik

ÔÇ£Bagaimana caranya? Ibu belum pernah… di ajari ya sayangÔÇØ bisik Ibu sambil mengelus-elus dedek arya

Kemudian kumajukan sedikit duduku kutarik Ibu hingga mendekatiku dan kusuruh Ibu mengapit dedek arya dengan menggunakan susunya. Kusuruh Ibu menaik turunkan tubuhnya ah senasi yang benar-benar berbeda dari biasanya. Kulihat setiap Ibu menurunkan tubuhnya tampak dedeka rya menyentuh mulut Ibu. Susu Ibu yang besar tampak dengan mudah melahap dedek arya. Setiap kali Ibu menurunkan tubuhnya, dedek arya mendapat sensasi kuluman pada helmnya.

ÔÇ£Bu, kassssih… lud… dah biar lancaarr…ah aha hÔÇØ rintih nikmatku yang sangat pelan, Ibu tersenyum kemudian meludahi dedek arya.

Tampak perjalanan dedek arya melewati lembah susu ibu semakin lancar. Semakin cepat Ibu melakukan permainan ini, semakin terasa sensitifitas pada dedek arya. Semakin lama aku semakin tidak kuat menahan lahar yang akan muntah dari mulut dedek arya. Dengan memajukan tubuhnya ibu memberi sedikit tekanan pada dedek arya.

ÔÇ£Bu… Arya mah….hu kel…luhar….ÔÇØ bisiku, selang beberapa menit kemudian.

ÔÇ£Bu Arya…. Keluaaaaaaaaaaaar…..ÔÇØ rintihku tertahan, Dengan sigap, Ibu langsung mengulum dedek arya.

Croooot croooot croooot crooot croooot crooot crooot

Keluarlah semua cairan hangat itu di mulut Ibuku, setiap crootan dari dedek arya tampak langsung ditelan oleh Ibu. Setelah beberapa menit dan klimaksku telah berlalu, aku langsung angkat Ibu dan mencium bibirnya. Kupeluk erat tubuhnya dan akhirnya kami rebah di kasur. Permainan lidah kami berlangsung cukup lama.

ÔÇ£Sudah istirahat ya…ÔÇØ ucap Ibu, sembari mengecup bibirku

ÔÇ£Iya bu…ÔÇØ balasku sembari mengecup bibirnya

Ibu melangkah ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri, dipakainya kembali kaosnya. Kemudian membersihkan dedek arya dengan menggunakan handuk basah dan dipakaikannya lagi celanaku. Aku yang terlalu lelah dengan berbagai macam perjalanan hari ini mulai mengantuk. Kuposisikan diriku agar lebih nyaman untuk tidur, Ibu kemudian berbaring disampingku dan memeluk kepalaku di dadanya.

ÔÇ£Ibu hebat kan nak?ÔÇØ tanya Ibu

ÔÇ£Pasti Bu… yang terhebatÔÇØ jawabku sambil memejamkan mata

ÔÇ£Lindungi Ibu, dan jagalah keluarga ini… Ibu sangat menyayangimuÔÇØ ucap Ibu kemudian

ÔÇ£Pasti bu, aku pasti melindung…. ngi…. mu….zzzzzzzzÔÇØ ucapku terputus dan tertidur

Tampak seorang Ibu yang sangat menyayangi anaknya, memluknya dengan erat. Dielus-elusnya kepala anak itu. Hingga anak itu terlelap dalam buaian kasih sayang dan mimpinya.

Pagi menjelang, tampak sinar matahari masuk melalui celah-celah ventilasi kamar Ibu, ya kamar ketika Ibu masih muda dulu. Ibu sudah bangun terlebih dahulu tanpa membangunkan aku. Ku bangung tepat pukul 05.30, beranjak dari tempat tidur kemudian aku mandi dan berberes kamar sebentar. Tampak suara panggilan kakek dari luar kamarku mengajakku untuk makan pagi di pukul 06.00. Suasana kekluargaan dan kebersamaan memang selalu terpancar dari keluarga Ibu, memnag benar-benar lengkap walau tak ada Ayah disini aku tetap merasa bahagia.

Setelah selesai makan pagi, semua kembali ke ruang keluarga sedangkan aku membantu Bu dhe Ika dan Tante Ratna membersihkan piring. Terlihat Ibu masuk kamar karena perutnya sakit. Selama mencuci piring aku dan ke dua saudara Ibuku ini saling bercanda bahkan selalu mengejekku mengen pacar, pacar dan pacar. Tapi selalu bisa aku balas dengan ledekanku.

ÔÇ£iiiiiiiiiiiih bikin gemes tante saja kamu itu…..ÔÇØ ucap tante sambil mencubit pipi kiriku

ÔÇ£iya nih bikin gemes saja….ÔÇØ ucap tanteku sambil mencubit pipi kananku

ÔÇ£Eh apa-apan ini, anakku kalian apakan?!ÔÇØ hardik Ibu dari belakang

ÔÇ£Iiiiibuuuuuu…. aku tadi di pukuli sama bu dhe sama tante hiks hiks hiks aku di aniayaÔÇØ ucapku dengan nada memelas dan pura-pura menangis sembari melangkah ke belakang Ibu

ÔÇ£Yeeee…. LebayÔÇØ ucap mereka berdua secara bersamaan, yang kemudian tante dan bu dhe berlari ke arahku mencoba mencubit aku lagi, tapi aku masih bisa menghindar walaupun berikutnya tidak sama sekali. Suasana menjadi ramai di dalam dapur, Ibu nampak kewalahan mengahdangi tante dan bu dhe ku. Hingga semua telah selesai dan kami kembali menuju dapur. Ibu kembali ke ruang keluarga terlebih dahulu, di susul tante dan bu dhe yang berjalan melewatiku.

ÔÇ£Seneng deh punya keponakan ganteng kaya kamu…ÔÇØ bisik tante sambil mencubit pipiku

ÔÇ£Gemesssss….ÔÇØ ucap bu dhe sambil mencubit pipiku juga

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika mereka melakukan hal itu, wajar juga Tante dan Bu dhe masih terlihat muda jadi ya suka sok gaul kalau sama aku, gitu deh. Ku jalani hari ini dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan terutama adalah bermain dengan adik-adikku ya karena aku memang selalu membayangkan mempunyai seorang adik tapi dari penuturan Ibu, Ayah tidak ingin menambah momongan. Waktu tak terasa sudah pukul 12.30, aku pamit izin ke pada kakek dan nenek tak lupa pula kepada Pak dhe, Ibu, dan tante untuk menginap di rumah teman sekaligus sahabatku, Rahman. Perjalanan cukup jauh aku tempuh, dan sudah hal biasa bagiku karena memang keseharian aku kuliah dengan jarak yang cukup jauh pula. Hingga akhirnya aku sampai di rumah Rahman. Ku tekan bel pintu gerbang rumah Rahman. Keluarlah seorang wanita keturunan India yang cantik dan berkulit putih,Ibu Rahman yang selalu aku panggil Tante karena selama ini aku tidak pernah tahu nama Ibu Rahman walaupun aku sering bermain atau bahkan menginap di Rumah Rahman semenjak semester 3 lalu.

ÔÇ£Oh nak Arya, masuk nakÔÇØ ucap Ibu Rahman sembari membukakan pintu gerbang. Ku papah REVI sibodi montok dengan perlahan, ya aku tahu dia kelelahan karena telah melayaniku selama perjalanan menuju Rumah Rahman. Setelah aku parkir di dalam garasi rumah Rahman, kemudian aku berjalan berdampingan dengan Ibu Rahman menuju ke dalam rumah.

ÔÇ£Ada acara apa ini?ÔÇØ tanya Ibu Rahman

ÔÇ£Ini tante, mau mengerjakan tugas, kemarin Rahman memaksa aku untuk main kesini tanteÔÇØ jelasku kepada Ibu Rahman

ÔÇ£Pasti, Rahman mendapat kesulitan ya dengan tugas kuliahnya? Anak itu memang jarang mau belajar, padahal Ibunya dulu waktu kuliah selalu mendapat IP di atas 3,5. Mungkin nurun dari AyahnyaÔÇØ jelas tante sembari membukakan pintu dan kami masuk

ÔÇ£Ah ya enggak tante, Rahman Rajin kok belajarnyaÔÇØ ucapku sedikit membela Rahman

ÔÇ£Rajin???? Rajin memerawani cewek-cewek kampus iya tanteÔÇØ Bathinku

ÔÇ£Tante itu lebih tahu daripada kamu, kalau dia sudah dirumah ngegaaaame mulu, tante mpai menyerah kasih tahu dia, Huft!ÔÇØ ucap tante dengan sedikit emosi sembar berjalan menuju ruang tengah.

ÔÇ£Mami itu apaan sich, aku kan anak Rajin, tul gak Ar?ÔÇØ ucap Rahman dari atas yang sedang menuruni tangga menyambutku

ÔÇ£Yoi kang!ÔÇØ jawabku sederhana

ÔÇ£Ayo langsung masuk aja ente ke kamar kita belajarÔÇØ ucap Rahman dengan gaya sok pintarnya.

ÔÇ£Ya biar istirahat dulu si Aryanya kan kasihan baru saja sampaiÔÇØ ucap Ibu

ÔÇ£Ya deh… Arya sahabatku, silahkan istirat dulu, bubu dulu di kamarku tidak apa-apa kokÔÇØ ucap Rahman sok manis

ÔÇ£Naaaah ini tante, kelihatan sekarang batang hidungnya… ini Rahman kalau di kampus suka goda cewek dengan nada sok imut ini tanteÔÇØ balasku meledek Rahman

ÔÇ£oooo…. lebih mentingin cewek daripada kuliah ya?ÔÇØ ucap tante dengan tangan berpinggang dan mata mendelik ke arah kami.

ÔÇ£Lari Broo… Akan ada bom nuklirÔÇ£ ucap rahman yang kemudian menarikku ke atas menuju kamarnya, kulihat Ibu Rahman hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada. Ya walaupun sedikit marah Ibu Rahman ini tetap kelihatan guratan-guratan kecantikannya. Wanita keturunan India, dengan kulit putih tinggi hampir sama dengan Ibu dan ukuran susunya ah aku tidak tahu, megang saja belum he he he.

Rumah Arya termasuk luas dengan dua lantai di dalamnya. Ketika masuk akan langsung berada di ruang tamu yang kemudian hanya di batasi bifet saja sudah ada ruangkeluarga yang sangat luas. Di samping kananku ketika aku berbincang dengan Ibu Rahman terdapat pintu kamar tante kemudian di lanjutkan tangga menuju lantai dua tempat kamar Rahman berada. Ruang keluarga yang cukup luas yang bersatu dengan ruang makan, agak kebelakang ada dapur dan pekarangan rumah.
Kini aku berada dalam kamar, kulhat jam dinding menunjukan pukul 15.30. aku kemudian tiduran di kamar rahman yang sangat luas, ada area santainya dengan dua kursi meghadap ke jendela, area main game beralaskan kasur lantai ada juga tempat tidur ukuran 2 x 2 meter. Aku tertidur di kasur sedangkan Rahman? Terakhir kali mataku terbuka dia sedang main game online dengan komputernya.

Pada malam 06.30 aku diajak makan malam bersama dengan Rahman dan keluarganya, tampak tante dan suaminya (Ayah Rahman). Kami makan malam sambil berbincang-bincang mengenai kuliah, dimana Rahman selalu di jadikan sasaran kemarahan Ibunya karena jarang sekali belajar. Walaupun begitu Rahman menanggapinya dengan santai karena sudah menjadi hal biasa ketika Rahman dibully ketika makan malam. Makan malam selesai dan kemudian kami beruda naik ke atas, kami mulai belajar. Kami? Oh tidak hanya aku saja, Rahman? Main game.

ÔÇ£Ar, ane selalu dukung ente apapun yang terjadi…ÔÇØ

ÔÇ£Dan ku dukung belajarmu semoga kamu bisa selesai dalam mengerjakan tugas kuliah kitaÔÇØ ucapnya dengan wajah penuh motivasi dan semangat tapi dia kembali main game dan aku yang sibuk mengerjakannya.

Satu setengah jam terlewati, tepatnya pukul 21.30 aku selesai mengerjakan tugas. Rahman kemudian mengabadikan tugasku dalam kameranya, biar bisa dicontek nantinya. Aku dan Rahman kemudian main game Winning The Pooh-PleSetan 4. Kuambil posisi duduk di sebelah Rahman yang dengan tidur tengkurap sambil main game.

Tok tok tok…. suara ketukan pintu dan masuklah bidadari di rumah ini melewati pintu kamar rahman yang jarang sekali di tutup, ya itu Ibu Rahman.

ÔÇ£Sudah selesa tugasnya?ÔÇØ tanya Ibu Rahman sembari meletakan minuman hangat di depan kami

ÔÇ£Sudah tante… ÔÇ£ jawabku sambil tersenyum

ÔÇ£Jelas sudah dong. Siapa dulu gitu mam, Rahman….ÔÇØ ucap rahman dengan nada kesombongannya

ÔÇ£Iya sudah nyontek Arya…ÔÇØ jawab Ibu Rahman Judes

Aku hanya bisa tertawa ketika Ibu dan anak ini saling meledek apalagi kalau sudah ada pertengkaran kecil. Ibu Rahman kemudian meninggalkan kamar kami, ku minum teguk demi teguk minuman dari Ibu Rahman, begitu pula dengan Rahman selama permainan. Lama kami bermain, Hingga minuman habis, dan berbatang-batang rokok menumpuk di asbak. Kurasakan dalam tubuh ini terasa panas, kulihat Rahman sudah tengkurap dan tertidur pulas. Aku masih bingung dengan keadaanku, sama sekali tidak mengantuk tetapi kenapa Rahman dengan mudah tidur. Kulihat jam dinding menunjukan pukul 23.30

ÔÇ£Nak Arya…..ÔÇØ teriak Ibu Rahman dari lantai bawah

ÔÇ£Tolong Tante sebentar, ini TV bawah kok tidak bisa menyala…ÔÇØ teriaknya kembali, malam sekali tante tidur biasanya jam segini sudah tidur. (berdasarkan pengalaman menginap sebelumnya)

ÔÇ£Iya tante…. Aku turun kebawahÔÇØ ucapku, kemudian melangkah ke bawah dengan menahan panas dalam tubuh ini. Ketika di bawah aku melihat tante dengan pandangan berbeda, padahal pakaian yang dikenakannya adalah pakaian yang sama ketika aku datang tadi. Pikiran ÔÇ£ngeresÔÇØ sering muncul ketika aku berhadapan dengan tante malam ini. Ku dekati televisi kemudian aku cari penyebab kenapa Televisi ini tidak mau menyala, sepele kabel belum di colokan ke dalam stop kontak.

ÔÇ£Tante… ini sudah…ÔÇØ

ÔÇ£Cuma kabelnya saja belum nyolok ke stop kontak, mungkin ke cabut tanteÔÇØ jelasku kepada tante

ÔÇ£Masa iya?ÔÇØ Ucap tante sembari mendekatkan tubuhnya, kedua susu tante menempel pada lengan kananku, semakin berdesir darah ini dan ÔÇ£Hoooooooooooammm… Aku bangun kakakÔÇØ, sial bagaimana bisa aku berpikir ngeres ke Ibu temanku sendiri.

ÔÇ£Oya sudah terima kasih ya, ni Tante buatin minuman hangat diminum duluÔÇØ ucap tante

ÔÇ£Iya tante…ÔÇØ ucapku tak kuasa aku menolak, kami berdua duduk bersebelahan di depan televisi.

Tampak tante membuka percakapan untuk mengobrol denganku tapi panasnya tubuh ini membuat aku tidak bisa berkonsentrasi dengan apa yang Ibu Rahman bicarakan. Aku menoleh kearah Ibu Rahman mencoba untuk mendengarkan yang tante bicarakan, Semakin lama semakin menjadi semakin lama aku hanya fokusku bukan pada wajah tante melainkan pada susu tante.

ÔÇ£Arya…. Tante ingin kamu… ÔÇ£ tiba-tiba tante berbisik di telingaku, aku tidak mengira akan mendengar hal seperti itu dan…

Tante memelukku kemudian di daratkannya bibir indahnya ke bibirku, lidahnya mula memaksa masuk ke dalam mulutku. Aku yang sudah panas sejak tadi juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kubuka mulutku dan kami berciuman layaknya sepasang kekasih yang hasu akan belaian. Kupeluk tante dengan erat, dan kukulum bibir tante dengan penuh nafsu. Walaupun bayangan Rahman hinggap dalam pikiranku tapi tubuhku tak bisa berhenti untuk menolak semua ini.

ÔÇ£Kang Rahman sahabtku, maafkan akuÔÇØ bathinku

Ciuman tante kemudian turun keleherku aku yang duduk di sofa depan di TV hanya bisa mendesah atas perlakuan tante. Kuarahkan kedua telapak tanganku menuju ke susu tante kuremas dan kuremas, ah tampak besar, posisi tante sekarang adalah berlutut dihadapanku dengan masih menciumi leherku. Tiba-tiba tante melepaskan kaos yang aku kenakan, poloslah dadaku yang bidang ini. Tane menjilati ke dua pentil di dadaku dengan penuh nafsu secara bergantian. Jilatannya kemudian berpindah ditengah-tengah dada turun-turun dan kemudian tepat dipusarku tante mencoba melepaskan celanaku dengan kedua tangannya. Dengan sedikit bantuanku akhirnya lepaslah celana dan celana dalamku. Toeeeeeeeeeng ÔÇ£mangsa baru ya kakak, yaelah STW lagi, gak ada yang perawan kakakÔÇØ ucap dedek arya, ÔÇ£diem lo! Tinggal nikmati sajaÔÇØ mungkin itu pertengkaran yang akan terjadi antara aku dan dedek arya.

ÔÇ£Kenapa tante?ÔÇØ ucapku dengan nafas yang tidak beraturan karena panas tubu ini

ÔÇ£Besar sekali sayang bahkan lebih besar dari punya om…mmmm…..ÔÇØ ucap Ibu Rahman yang kemudian mengulum dedek arya. Menyedotnya dengan sangat kuat bahkan jika dibandingkan dengan Ibu, Ibu masih kalah jauh mungkin karena Ibu Rahman sudah sering melakukannya dengan om.

Kuluman dan jilatan tante sangat terasa di kemaluanku, membuat aku belingsatan. Tante kemudian memaju mundurkan kepalanya, darahku yang semakin panas membuat aku tidak tahan dengan kondisi ini. kupegang kepala Ibu Rahman ini dengan kedua tanganku dan ku maju mundurkan dengan sedikit kasar. Tak ada perlawanan sama sekali dari Ibu Rahman, dia terus mengikuti gerakan tanganku. Terus dan terus membuatku semakin belingsatan dan tak karuan. Ku tarik kepala Ibu Rahman dan kemudian aku ciumi dan aku lumat dengan penuh nafsu. Dengan sepenuhnya memaksa aku berdirikan Ibu Rahman, aku buka pakaian Ibu Rahman yang berupa dress terusan hingga lutunya ini. Ku singkap ke atas hingga kepalanya dan terlepaslah, terliha tubuh indah tante dengan balutan BH dan CD tipis G-String. Langsung aku tubruk tubuh tante hingga tante rebah dilantai yang beralaskan karpet ini. Didepan TV sebagai saksi bisu persetubuhanku dengan Ibu sahabatku sendiri. Ku cuka BH Ibu Rahman tersembulah sebuah Susu indah kencang tapi sedikit kendur, jika dibandingkan dengan Ibu lebih indah Susu Ibu dan lebih besar susu Ibu sedikit. Kukulum dan kujilati setiap nano meter susu Ibu Rahman ini. Ku jilati memutar pada salah satu susu dan satu tanganku mengelus memutar pada susu yang lain secara bergantian. Dan cruuup kukulum pentil tante yang hitam dan sedikit lebar ini,ku jilati dan kumainkan secara bergantian dari satu susu ke susu lain.

Entah kenapa tak ada perlawanan sama sekali dari tante, tante hanya mampu mendesah dan mendesah. Kujilati semakin ke bawah, kutarik G-string milik tante dan terlepaslah G-Stringnya. Kumasukan jariku kedalam vagina tante.

ÔÇ£Ah Ah Ah ya sayang begitu… enakk nikmaaaat aaaaahÔÇØ rintih kenikmatan tante, aku semakin buas dalam keadaan ini hanya sebentar mengocok dengan jari kemudian aku posisikan tubuhku di tengah-tengah selangkanagn Ibu Rahman. Sekejap bayangan Rahman muncul, khentikan aksiku.

ÔÇ£Kenapa sayang, tante sudah siap….ÔÇØ ucap Tante kepadaku

ÔÇ£Tidak tante ini salah, Tante adalah Ibu Rahman, sahabatku…ÔÇØ

ÔÇ£Aku takut jika da bangun….ÔÇØ ucapku penuh ketakutan dan memundurkan tubuhku hingga duduk bersandar pada kaki sofa. Tante kemudian berdiri dan mengakangi tubuhku dan diarahkannya dedek arya ke dalam vaginanya. Dan blesss perlahan… ketika baru masuk setengah ku tahan tubuh tante untuk tidak melanjutkannya.

ÔÇ£Kenapa….? mereka tidak akan bangun Arya, mereka tante kasih obat tidur dosisi tinggi, sekalipun kita berteriak mereka tidak akan bangunÔÇØ ucap tante sembari melepaskan tanganku yang menahannya, aku hanya bisa diam dan melihat vagian Ibu Rahman menelan dedek arya hingga tak terlihat. Kurasakan sedikit longgar vagina Ibu Rahman, dan becek tak seperti vagina Ibuku yang sempit dan kesat. Aku jadi kangen dengan Ibu.

ÔÇ£Aaaaaaaaaaahhh…. besar sekali…. penuh memek tanteeeeeeeeÔÇØ

ÔÇ£Kontolmu menyentuh rahiiiim…. tannn…. teh…. uhhhhÔÇØ teriak kenikmatan tante, aku masih diam dan tidak percaya dengan apa yang baru aku lihat. Tante mulai menggoyang perlahan dan perlahan kulihat susu tante yang sedikit kendor itu mulai berayun ke atas dan ke bawah. Panasnya tubuh ini menghilangka rasa bersalahku terhadap rahman. Ku remas susu tante dengan sedikit kasar dan kemudian kukulumi satu persatu selama tante menggoyang tubuhnya.

ÔÇ£Seperti itu sayang…. uftttt… remas yang ku…. hat…ÔÇØ

ÔÇ£Kon… tol kamyuh…. bes…sarhhh dan nikmathhhh… uftttt…..ÔÇØ rintih tante

ÔÇ£Slurp slurp… mmm…. mmmmÔÇØ ucapku sembari mengulumi susu Ibu Rahman

Semakin cepat Ibu Rahman menggoyang semakin aku bernafsu, sedikit aku goyangkan pinggulku keatas walau aku kesulitan. Dan ekspresi tante semakin menggila.

ÔÇ£Aiiiiih auuuuuuuhh… kontol kontol… kontol kamu nikmaaaaaattttttÔÇØ racaunya

ÔÇ£Tante sampai… tante mau sampai… aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaÔÇØ teriaknya, diikuti ambruk tubuhnya ke arahku yang kemudian memelukku kepalaku erat tepat di susunya.

ÔÇ£Kamu hebat hah hah hah sayangkuÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Tante… maaf….ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apa? Kenapa minta maafÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£aaaaaa…..ÔÇØ dilanjutkan teriakan kecil karena kaget tubuhnya aku angkat dan aku baringkan di karpet lantai lagi.

ÔÇ£Rahman, aku minta maaf tapi tampaknya Ibumu butuh kepuasan kawanÔÇØ ucapku sambil mengarahkan pandanganku ke kamar Rahman

ÔÇ£Nakal hash hash hash hash kamu ya, Ibu teman kamu, kamu setubuhiÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Mau lanjut atau tidak tante?ÔÇØ ucapku tanpa menghiraukan ledekkannya, dijawab dengan anggukan oleh Ibu Rahman.

Perlahan aku mulai menggoyang pinggulku, pelan-pelan dan semakin cepat cepat dan cepat. Membuat Ibu Rahman tampak belingsatan dan tak karuan.

ÔÇ£Aiiish aissssshssshshshs… ouwhhh…. pelan… pelan….ÔÇØ

ÔÇ£Kontolmu ter…. la…. lu bes…sarhhhÔÇØ rintih Ibu Rahman

ÔÇ£Tapi suka kan….?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£eeeh eeeh eeeh iya ahhh… lebih kerassssh sayang….ÔÇØ ucap tante, Ku goyang semakin keras tampak bergoyang susu Ibu Rahman seakan-akan terkena gempa. Kupegang erat susu Ibu Rahman dan kuremas, kadang aku bungkukukan tubuhku untu kmenjilati susunya. Semakin keras aku menggoyang semakin kurasakan sensitifitas pada dedek arya. Kupindahkan kedua tanganku ke pinggang Ibu Rahman dan kugoyang semakin keras.

ÔÇ£Ah terlalu longgar vagina Ibu Rahman, aku kangen dengan vagina Ibu… Ibu…ÔÇØ bathinku yang teringat akan Ibu

ÔÇ£Tante mau sampai sayangh… lebih kerashhh… uftth….ÔÇØ racau Ibu Rahman

ÔÇ£aku juga tantehhhh… ahhhhhÔÇØ racauku

ÔÇ£Tante keluaaaaaaaaaaaaarrrrrr……ÔÇØ teriak tante

Croot Croot Croot Croot Croot Croot Croot Croot

Keluarlah spermaku ke dalam vagina Ibu Rahman, kurebahkan tubuhku ke tubuh Ibu Rahman ini. kuciumi dan ku jilati setiap bagian wajahnya.

ÔÇ£mmmm…. terima kasih arya…. tante merasa sangat puas….ÔÇØ ucapnya

ÔÇ£iya tante… arya juga….ÔÇØ ucapku, kemudian kami saling berciuman dan saling mengulum bibir. Kemudian aku bangkit dan bersandar pada kaki sofa diikuti tante yang kemudian bangkit dan merebahkan kepalanya di dadaku. Terlepaslah dedek arya yang masih sangat tegang.

ÔÇ£Masih mau nambah lagi?ÔÇØ ucap tante, sambil mengelus-elus dedek arya yang masih lengket dengan cairan kenikmatan kami berdua yang bercampur menjadi satu, kujawab dengan senyuman dan anggukan

ÔÇ£Kamu hebat, selama ini tante belum pernah merasakan puncakÔÇØ

ÔÇ£Hanya dengan kamu dan untuk kedua kalinya hash hash hashÔÇØ ucap tante dengan nafas tersengal-sengal

ÔÇ£Tante… kenapa tante memilihku?ÔÇØ tanyaku tiba-tiba

ÔÇ£Karena kamu mirip dengan pacar tante, pacar pertama tante yang pertama kali mengambil perawan tante dan memberikan puncak kenikmatan kepada tanteÔÇØ

ÔÇ£Bahkan selama ini tante selalu merindukannyaÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Tante minta maaf jika tante melampiaskannya kepadamu, sahabat anakku sendiriÔÇØ

ÔÇ£Bagaimana bisa tante melakukan ini semua?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Tante memberi obat tidur pada Rahman dan om, sedangkan pada minumanmu tante beri obat perangsangÔÇØ

ÔÇ£Jujur sayang, sejak pertama kali kamu main kerumah ini, tante seakan-akan kembali ke masa muda tante dimana tante melihat jatidiri pacar tante di dalam dirimu, yang selalu mengayomi, melindungi dan menyayangiÔÇØ

ÔÇ£Maafkan tante…. hiks hiks hiks….ÔÇØ ucap Ibu Rahman yang kemudian terisak-isak menangis di dadaku yang kemdudian memeluku erat.

ÔÇ£Jangan menangis tanteÔÇØ ucapku sembari mengakat kepalanya dan kudaratkan ciuman mesra ke bibirnya.

ÔÇ£Arya tahu tante rindu sama kekasih tante, tapi apa tidak kasihan om dan Rahman?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Tante sudah tidak peduli dengan Om kamu itu, benar-benar tidak peduli, dia hanya memntingkan dirinya sendiri, memerangkap tante di dalam rumah ini melarang tante keluar rumah hiks hiks hiks hiksÔÇØ ucapnya disertai isak tangis

ÔÇ£Sudah tante tidak usah menangis, selama obat tidurnya masih bekerja Arya siap jadi kekasih tanteÔÇØ jawabku menenangkan Ibu Rahman, jujur saja aku tak tega melihat wanita menangis dihadapanku walau hatiku berteriak untu kmenghentikan semua ini. Ku peluk kepala tante didadaku, ku elus dan kuciumi ubun-ubunya. Ibu Rahman membalasnya denga pelukan erat pada tubuhku.

ÔÇ£Kontol kamu belum tidur sayang, mau nambah lagi?ÔÇØ ucapya disertai linangan air mata, kujawab dengan senyuman dan anggukan

ÔÇ£Tante bersihin dulu ya, biar kamu makin nikmatÔÇØ ucapnya sembari tangaku menghapus air matanya

Tante kemudian berdiri dan mengabil tisu yang dibasahi oleh air dan dilapkannya ke vaginanya. Kulihat tubuh seksi tante membuat dedek arya selalu ON. Inginku segera menghentikan ini tapi tubuh ini selalu menjawab ajakan Ibu Rahman dengan jawaban ÔÇ£iyaÔÇØ. Setelah membersihkan vagiananya Ibu Rahman mengambil dua gelas air putih. Aku kemudian bangkit dan duduk di sofa, diberikannya kepadaku satu gelas. Kuminum, aaaaaaaaaahhh segarnya…..Terasa elusan hangat dari tangan tante mengelus-elus pipiku.

ÔÇ£Kamu benar-benar hampir mirip dengan pacar tante hanya saja, kamu lebih tinggi darinyaÔÇØ ucapnya sembari menyambut gelas yang aku berikan kepadanya, kemudian Ibu Rahman beranjak ke dapur untuk mengambil air putih kembali

ÔÇ£Nambah?ÔÇØ ucapnya, ku jawab dengan anggukan

ÔÇ£Dulu tante pernah sekolah di daerah ini sewaktu masih muda hanya saja, ada sebuah kejadian yang membuat tante malu dan merasa bersalah, hingga akhirnya tante dinikahkan dengan om kamu diawaktu masih sangat muda itu, dan dibawa pergi dari daerah ini bersama om-kamu ituÔÇØ

ÔÇ£Kejadian apa tante?ÔÇØ tanyaku ketika tante masih berjalan menuju dapur, di dapur tante bersandar pada meja dapur modern yang disampingnya terdapat tempat air minum (jujur saja penulis agak sedikit bingung dengan nama meja dapur modern ini).

ÔÇ£Akan tante ceritakan asal kamu janji tidak bilang ke RahmanÔÇØ ucapnya, aku mengangguk dan memandangi tubuh indah tante ini.

ÔÇ£Ketika tante masih SMA kelas satu, tante sudah kehilangan keperawanan dengan orang yang paliiiing tante cintai, tapi pada waktu itu di hari sabtu malam tante mengalami pemerkosaan hingga akhirnya tante hamil RahmanÔÇØ

ÔÇ£Jika merasa malu tentunya tante merasa malu, tapi disisi lain ada rasa bersalah tante kepada sahabat tante, yang hingga sekarang tante sesaliÔÇØ jelasnya sembari mengambilkan air putih kembali

ÔÇ£Kenapa dengan sahabat tante?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£hufffffft…..ÔÇØ Ibu Rahman menghelas nafas panjang, sambil menekan tomob alir pada tempat minum tersebut

ÔÇ£Waktu itu di Losmen yang bernama melati, tante diajak oleh om kamu (Ayah Rahman) untuk menginap dikarenakan ban mobilnya bocor, ditempat itu tempat dimana tante diperkosa, sebelum pemerkosaan itu tante sempat bertemu dengan sahabat om kamu, dia adalah pacar dari sahabat tante…ÔÇØucap tante menjelaskan

ÔÇ£Losmen melati? Ibu?ÔÇØ bathinku, tapi aku tetap diam dalam pendengaranku atas cerita tante

ÔÇ£Dia tampak meminjam tali kepada penjaga losmen tetapi penjaga losmen tidak mempunyainya, tante kemudian meminjaminya ikat pinggang tante, karena ikat pinggang tante terbuat dari tali tambang kecil yang tante ayam sendiri….ÔÇØ

ÔÇ£Pacar dari teman tante itu kemudian seperti minum minuman keras tapi kelihatannya tidak ditelan atau bagaiman gitu, tidak jelas karena tante langsung di ajak om-kamu untuk istirahat di kamarÔÇØ

ÔÇ£Akhirnya om-kamu perkosa tante hingga hamil, Setelah pemerkosaan kepada tante, tante merasa malu ditambah lagi tante hamil dan akhirnya mau tidak mau tante menikah dengan om-kamu dan meniggalkan pacar tante tanpa kabar…hiks hiks hiksÔÇØ ucap tante sembari meletakan gelas yang berisi air di meja dapur kemudian berdiri bersedekap dan bersandar di sampingnya. Linangan air mata kembali terurai dari matanya

ÔÇ£Yang aneh dari pemerkosaan itu adalah ban mobil yang semula bocor, yang katanya tidak ada yang bisa mebenarkan tiba-tiba setelah pemerkosaan itu sudah bisa dipakaiÔÇØ ucap tante sembari memandangku dengan senyuman yang dihiasi

ÔÇ£Terus kenapa tante merasa bersalah kepada sahabat tante?ÔÇØ tanyaku pelan dengan rasa penasaran

ÔÇ£Ah sudahlah…ÔÇØ sembari tante mengusap air matanya kemudian diarahkannya pandangannya ke langit-langit dapur

ÔÇ£…. tali yang berikan kepada pacar tante itu digunakan oleh pacar dari sahabat tante untuk memperkosa sahabat tante yang terbaik, tante… tante… merasa bersalah hiks hiks hiks…ÔÇØ ucapnya, terlihat jelas uraian air mata dari mata tante, kemudian di usapnya air mata itu dan mengambil dua gelas air putih.

ÔÇ£Tante….ÔÇØ panggilku kepada Ibu rahman, tante kemudian berbalik dan tersenyum kepadaku

ÔÇ£Sahabat tante itu….ÔÇØ ucapku terputus, kulihat tante mulai berjalan dengan dua buah gelas dan buah dada yang terayun

ÔÇ£bernama DIYAH AYU PITALOKA…..ÔÇØ ucapku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*