Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 10

Wild Love 10

Di gubuk ini, gubuk yang sebenarnya tidak layak huni ini terbaring seorang wanita tua renta dan laki-laki tua yang sedang menyuapinya. Aku melangkah dan memeluk laki-laki itu sambil berlutut, kugenggam tangan kiri wanita itu dengan eratnya. Tak bisa aku menahan air mata ini, tak bisa pula aku menahan isak tangisku. Ya meraka adalah nenekku yang melahirkan ayahku dan kakekku yang ikut membesarkan Ayahku.

ÔÇ£Kamu siapa nang (nak)?ÔÇØ ucap kakek wicak (kakekku)

ÔÇ£Siapa kamu le (nak), sudah jangan menangisÔÇØ ucap nenek mahesawati (nenekku)

Aku mash menangis dan menangis melihat keadaan mereka, tak menyangka jika kehidupan mereka seburuk ini. Tidak menyangka jika Ayahku, anak mereka membuat semua ini terjadi. Tidak menyangka jika mereka harus merasakan pahitnya hidup karena Ayahku.

ÔÇ£Arya, hiks hiks hiks Arya Mahesa Wicaksono, anak dari Mahesa WicaksonoÔÇØ

ÔÇ£Arya kesini untuk menemui kakek dan nenekÔÇØ ucapku tersengal sengal dengan kucuran air mata yang mengalir di pipiku. Jeritan kerasku membuat semua orang yang cerada di desa itu berkumpul di gubuk ini untu kmelihatnya. Tampak air mata juga ikut menetes dari pipi lelaki setengah baya ini. seorang nenek dari luar kemudian masuk membuatkan aku minuman, dan aku masih dalam memeluk kakek dan menggenggam tangan neneku.

ÔÇ£Benarkah kamu Arya, anak mahesaÔÇØ ucap neneku, yang kemudian mencoba bangkit aku yang tahu itu kemudian membantunya dan kemudian bersandar di dada kakekku. Kini kakek dan nenekku berada dihadapanku dan aku masih berlutut di atas tanah memandang mereka. Kupeluk mereka berdua, kata-kata kangen selalu keluar dari mulutku, kata-kata rindu dan sayang menggelontor selalu dari bibirku untuk mereka. Lama sekali aku memeluk lama pula aku menangis.

ÔÇ£Iya nek, kek, Arya kesini karena dari dulu Arya tidak pernah bertemu kakek dan nenekÔÇØ ucapku dengan langan air mata yang tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Kedua tangan nenek kemudian memegang kedua pipiku dan melihat wajahku.

ÔÇ£Duh gusti, akhire kowe goleki aku karo mbah kakungmu leeeeee…..(Ya Tuhan, akhirnya kamu mencari aku dan kakekmu naaaaaak)ÔÇØ ucap nenek sembari air matanya keluar

ÔÇ£Ganteng yo pakÔÇÖe putune dewe iki (ganteng ya pak, cucu kita ini)ÔÇØ ucap nenek sembari memandang kakekku

ÔÇ£Wah iyo, ganteng untung kowe ki koyo Ibumu (wah iya, ganten, untung kamu seperti ibumu)ÔÇØ ucap kakek dengan senyum mengembang yang kemudian mereka berdua memeluku dengan sangat erat. Momen indah ini aku rasakan dengan sangat memilukan, akhirnya aku bisa bertemu dengan mereka. Elusan dari tangan yang sudah mulai kasar karena kulit yang mulai menggelambir terasa sangat lembut aku rasakan di kepalaku. Terasa linangan air mata mereka membasahi kepalaku. Lama kami berpelukan tampak semua orang yang melihat kemudian ikut menangis.

ÔÇ£Ini minumnya denÔÇØ ucap seorang nenek yang menyediakan minuman kepadaku dan kakek yang dibawanya dari arah luar, memang dalam gubuk ini hanya ada ranjang ini saja. Aku mengucapkan terima kasih kepada nenek itu, nenek itu kemudian duduk di atas tanah tak jauh dari tempatku berlutut.

ÔÇ£Kakek dan nenek ikut Arya pulang kerumah ya?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak, nenek dan kakek tidak akan ikut arya, tidak, sekalipun arya memaksa, kami tidak ingin bertemu mahesa lagiÔÇØ ucap kakek yang kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi wajah kebencian

ÔÇ£Kenapa kek? Daripada kakek tinggal ditempat ini, nanti kakek dan nenek tambah sakit, Akan arya buatkan rumah sendiri untu kakek dan nenek nanti biar Arya bisa sering ketemu dengan kakek dan nenekÔÇØ ucapku

ÔÇ£Tidak Arya, kakek dan nenek tidak bisaÔÇØ ucap kakekku

ÔÇ£Kata Pak roto, Kakek dulu orang berpunya kenapa sekarang tinggaldi tempat seperti ini. kakek dan nenek harus ikut arya!ÔÇØ paksaku

ÔÇ£Tidak Arya, kakek dan nenek tidak bisaÔÇØ ucap kakekku kembali

ÔÇ£Adakah sesuatu antara kakek dan nenek dengan Ayah?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Banyak….ÔÇØ ucap kakek

ÔÇ£Ceritakan kepada Arya semuanya, kenapa kakek tidak inginbertemu ayah?agar arya tahu siapa sebenarnya ayahÔÇØ ucapku sambil memandang mereka berdua. Mereka kemudian saling memandang dan mengarahkan pandangan ke arahku

ÔÇ£Biarkan kakekmu yang bercerita, kemarilah nenek masih kangen sama kamu aryaÔÇØ ucap nenek, aku sedikit menggeser tubuhku dan kuletakan kepalaku di pangkuan nenekku.

ÔÇ£Akan kakek ceritakan semuanya….ÔÇØ

ÔÇ£Surti, kamu tidak perlu duduk dibawah seperti itu, kamu bukanlah pelayanku lagi bangkitlah jangan kau rendahkan dirimu dihadapankuÔÇØ ucap kakek kepada nenek tua yang duduk tidak jauh dariku

ÔÇ£Tidak ndoro, sekalipun ndoro bukan ndoro saya lagi, tapi dalam hati kami, di hati masyarakat desa banyu biru dan desa bayu abang, ndorolah yang telah menjadi penolong kami, kami tidak bisa melupakan itu semua ndoro, apapun yang terjadi, kami semua adalah abdi ndoroÔÇØ jelas nenek surti, yang kemudian di iyakan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya, tampak mereka masih menaruh hormat kepada kakekku. Kakek dan Nenek hanya tersenyum meliat mereka semua.

Secara perlahan kakek menceritakan semua dari awal, tentang seorang juragan paling kaya di daerahnya memilik istri bernama mahesawati. Dialah kakekku bernama Wicaksono. Kehidupan mereka dikatakan lebih dari cukup, hidup bergelimangan harta tapi tak membuat kakek dan nenek takabur. Hingga lahirlah seorang anak yang kemudian di beri nama mahesa wicaksono.

ÔÇ£Dulu itu uhuk uhuk… nenek memberi nama itu kepada Ayahmu dengan tujuan, dia menjadi seekor kerbau yang kuat,hebat dan bijaksana serta tidak bodoh tapi uhuk uhuk uhuk….ÔÇØ ucap nenekku menyela

ÔÇ£Sudah, nek biar kakek yang bercerita…ÔÇØ ucap kakek yang kemudian kakek melanjutkan ceritanya itu

ÔÇ£Mahesa adalah kerbau? Mimpi itu….ÔÇØ bathinku dalam hati

Mahesa tumbuh menjadi laki-laki yang pintar, pintar dalam berbicara dan pintar dalam ilmu pengetahuan. Dia bersahabat dengan seorang tetangga kakek bernama Nicolas Rahman, ketika berumur 13 tahun Nico ditinggal oleh Ayah Ibunya karena kecelakaan dan kemudian di asuh oleh Kakek dan nenek. Waktu berjalan umur mereka pun bertambah, bukan menjadi laki-laki bijaksan yang disiapkan untuk menjadi penerus kakek tapi Ayah menjadi seorang pemuda yang ugal-ugalan, bengal, mabok-mabokan, pecandu narkoba, dan suka main perempuan. Itu dikarenakan Ayah dan Om Nico salah dalam pergaulan hingga membuat kakek dan nenek kelimpungan dan sering berurusan dengan polisi.

Kelakuan Ayah dan Om Nico berlanjut dengan suka main judi, hingga semua harta kakek dan nenek ludes. Bahkan ketika itu kakek dan nenek diancam dibunuhnya jika mereka tidak melunasi hutang-hutangnya. Dengan terpaksa kakek dan nenek menjual semua kekayaan merekatapi tetap tidak cukup. Kemudian Ayah mendengar kabar jika dulu kakek Ayah (Ayah dari Kakek Wicak) pernah bercengkrama mengenai menikahkan cucunya.

ÔÇ£Pada dasarnya itu bukanlah janji, melainkan hanya candaan kakek buyutmu seandainya tidak dilaksanakannya pun itu tidak melanggar janji kakek buyutmuÔÇØ ucap kakekku, aku hanya memandang kakek dan masih setia mendengarkan cerita dari mereka

Ayah kemudian memaksa kakek dan nenek agar membuat pernikahan antara Ayah dan Ibu terlaksana. Kakek dan nenek menolak tapi ancaman dibunuh membuat mereka akhirnya tunduk pada kemauan Ayah. Ayah memaksa Kakek dan Nenek untuk berbohong kepada kakek Warno dan nenek Ayu jika itu adalah janji yang harus di lunasi. Karena pada dasarnya kakek warno dan nenek ayu tidak tahu menahu soal itu, mereka akhirnya menyetujuinya.

ÔÇ£Tujuan Ayahmu adalah bisa menjadi pejabat di daerahmu, dan mengeruk semua uang di daerahmu itu. Arya tahukan jika dulu kakek warno adalah seorang kepala daerahÔÇØ ucap kakek, dan aku hanya menganggukan kepala

Setelah pertunangan itu, karena terbelit hutang yang sangat besar mau tidak mau Ayah harus segera mendapatkan Ibu dan terjadilah pemerkosaan itu. Semua rencana itu dibicarakan di rumah kakek, kakek yang mengetahuinya kemudian mencegah mereka tapi yang didapatkan adalah pukulan dan cacian dari mereka berdua. Hingga pernikahan selesai dilangsungkan, Ayah tidak pernah lagi menjenguk Kakek dan nenek. Kakek dan nenek dilarang menjenguk cucunya yang ketika itu lahir, ya menjengukku. Kakek dan nenek terus memaksa ingin bertemu denganku tapi yang didapat oleh kake dan nenek adalah sebuah balasan yang selama ini tidak diharapkan orang tua dari anaknya. Kakek dan nenek kemudian di miskinkan kembali oleh Ayah, dengan cara menjual satu-satunya rumah milik mereka. Pada saat itu kakek dan nenk tinggal di gubuk kecil di desa banyu abang.

ÔÇ£Pernah saat itu, kakek dikirimi uang oleh Ayahmu, ketika kakek bertanya ini uang dari hasil kerjanya atau mengambil hak orang lain. Ayahmu langsung marah-marah tak tentu dia menyeret kakek dan nenek di tengah jalan mencaci maki dan bahkan meludahiÔÇØ

ÔÇ£Di bilangnya kakek dan nenek adalah orang tua tidak tahu diuntung….ÔÇØ ucap kakekku, mendengar itu hatiku terasa berdetak semakin kencang, semakin panas terbakar oleh api kebencianku

Hingga suatu hari kakek dan nenek memutuskan untuk pindah ke desa banyu biru dengan tujuan menghidnari anaknya. Pernah sesekali Ayah mencari kakek dan nenek, tapi penduduk desa bungkam akan keberadaan kakek dan nenek. Karena mereka tahu Ayah akan menyiksanya lagi. Hingga sekarang di desa banyu biru ini kakek masih mendapatkan pelayanan layaknya seorang juragan dari penduduk desa, karena kebaikan-kebaikan yang dilakukan dari masa lampau. Ya, kakek selalu mencoba untu berbagi ketika masa jayanya, menyekolahkan anak tetangga, menikahkan mereka yang kekurangan biaya, membangunkan rumah-rumah penduduk dan masih banyak lagi kebaikanb-kebaikan yang tidak bisa dilupakan oleh mereka semua.

ÔÇ£PakÔÇÖe kayane wes cukup wektune (pak, kelihatanya sudah cukup waktunya)ÔÇØ ucap nenek kepada kakek yang tidak pernah aku pahami dan mengerti. Kemudian nenek mengambil sebuah kalung dari dalam kenditnya.

ÔÇ£Jika suatu saat nanti, Mahesa terjatuh dan tersungkur perlihatkanlah kalung iniÔÇØ ucap nenek kemudian mereka berdua memelukku

ÔÇ£Kakek sayang kamu AryaÔÇØ

ÔÇ£Nenek sayang kamu AryaÔÇØ ucap mereka berdua

ÔÇ£Jadilah laki-laki yang disegani kawan maupun lawan , bersikaplah bijaksana, tanggung jawab dan jadi orang yang selalu bisa mengayomi orang kecil…….ÔÇØ ucap kakekku yang kemudian erat memelukku begitupal nenekku

ÔÇ£Kakek dan nenek sangat bahagia, Arya mencari kakek dan nenek, ini kebahagiaan kami yang kedua… setelah melihat Ayah kamu lahir dulu…ÔÇØ ucap nenekku, pelukan mereka begitu erat posisiku masih dibawah mereka, sambil berlutut akupun memeluk kakek dengan sangat erat. Kurasakan hangat tubuh mereka dalam dekapanku aroma wangi tubuh mereka tercium disela-sela udara yang masuk dalam hidungku.

Lama kami berpelukan karena memang aku sangat rindu dengan mereka, mungkin bukan rindu tapi rasa ingin bersama mereka selalu, jika rindu kan sudah pernah ketemu kemudian tak pernah bertemu lagi dalam waktu yang lama. Kepala Kakek dan nenekku berada di kedua bahuku terasa ciuman hangat di kedua bahuku begitupula aku secara bergantian aku menciumi bahu mereka.Lama kami berpelukan hingga akhirnya aku merasakan hal yang aneh pelukan yang semula erat menjadi sangat lemah, deru nafas yang mengalir di bahuku menjadi sangat pelan hingga tidak terasa. Tiba-tiba tubuh mereka yang semula mereka sendiri yang menahan beban tubuhnya kini roboh ke arah tubuhku . Kurasakan tak ada lagi nafas yang di bahuku…. Mataku mendelik kutolehkan ke arah kanan dan kiriku kulihat mata mereka berdua terpejam dengan senyuman indah di bibir mereka. Air mata ini mengucur deras, bibirku yang semula tersungging ke atas karena bertemu mereka sekarang menjadi sebuah kubah.

ÔÇ£KAKEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE KÔÇØ

ÔÇ£NENEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE KÔÇØ

ÔÇ£HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAÔÇØ

Senyuman mereka ketika bertemu tidak akan pernah aku lupakan, kupeluk tubuh mereka erat hingga aku tidak ingin melepaskannya. Baru pertama kali ini bertemu, baru pertama kali in melihat mereka, baru pertama kali ini bercengkrama dengan mereka tapi kenapa…Ya mereka telah menghembuskan nafas terakhirnya, aku masih memeluknya dan memeluknya. Mendapati takdir yang dialami mereka sangat pahit, sangat pahit dan sangat pahit. Tubuh mereka kini aku rebahkan berdampingan dalam pelukanku yang terduduk di belakang tubuh kakek dan nenek, tubuh sepasang manusia yang selalu bersama sehidup-semati. Kudaratkan pelukan dan ciuman di kening mereka dan pipi mereka secara bergantian. Tetes air mata ini tak tertahankan membuatnya seperti air terjun yang tak pernah kering. Warga semua berdatangan, melihat seorang lelaki dan perempuan yang dulu mengayomi, menghidupi mereka kini telah terbaring kaku. Setuap warga bergantian memeluk dan mencium tangan kanan kakek dan nenek. Aku seperti orang gila yang tak ingin melepas tubuh mereka dari dekapanku andai saja warga tidak menyadarkan aku mungkin aku akan menjadi patung yang terus memeluk tubuh kakek dan nenekku.

Pada hari itu juga warga dari desa banyu abang juga berdatangan semua warga, tidak tua tidak muda semua berdatangan. Dibantu dengan warga aku memnguburkan kakek dan nenek dari Ayahku ini. tampak Pak roto dan keluarganya beserta penduduk desa juga hadir. Tangis menderu, air mata berjatuhan layaknya hujan dari langit. Doa telah dipanjatkan dan Warga mulai berdiri meninggalkan makam untuk melanjutkan aktifitas kembali dengan rasa haru dan sedih dalam hati mereka. Di antara makam mereka yang berdampingan, aku yang berlutut kemudian bangkit dan memandang langit biru yang mulai tercoret oleh kegelapan. Seakan-akan langit tahu kesedihanku, butiran air turun dari langit mencoba menghapus air mataku.

ÔÇ£HEI MAHESA WICAKSONO, KAMU HARUS MEMBAYAR INI SEMUA!ÔÇØ teriakku lantang, semua orang yang berada disitu memandangku. Dalam rintik hujan itu warga mulai meninggalkan makam, aku masih berdiri disitu menikmati hujan yang meghilangkan tangisku.

ÔÇ£Sudahlah den, cita-cita mereka sudah terwujud yaitu bertemu dengan den aryaÔÇØ ucap nenek surti sembari memayungiku, aku terhanyut dan memeluknya sambil menangis. Di tenangkannya diriku dengan elusan lembut di punggungku. Ditemaninya aku pulang dan Diceritakannya kepadaku berbagai penderitaan kakek dan nenek karena Ayah, ya kakek dan nenek menderita bahkan di hari tuanya mereka memilih tinggal di gubuk tua walau banyak warga yang menawari untuk merawat mereka.

Pada hari kedua kepergiaanku, aku tinggal di desa bayu biru untuk melakukan doa selama 7 hari atas kepergian kakek wicaksono dan nenek mahesawati. Banyak cerita indah mengenai kakek dan neneku, warga secara bergantian menceritakan bagaimana kehidupan kakek dan nenek selama masih menjadi orang terpandang. Mereka bahkan tak mengenal waktu ketika menceritakan apa yang mereka dapatkan dari kakek dan nenek. Cerita-cerita mereka membuat aku tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala bagaiamana kakek sehebat itu memiliki anaka seperti Ayah. 7 hari berlalu, hingga akhirnya aku harus meninggalkan tempat ini.

Aku kemudian berpamitan kepada seluruh warga di desa banyu biru dan berterima kasih kepada mereka kutinggalkan uang sebesar 30 juta kepada kepala desa mereka. Nenek Surti mengantar kepergianku hingga di mulut jalan setapak. Dia juga menambahi sedikit cerita bagaimana perlakuan Ayah terhadap warga sekitar. Warga sebenarnya berani melawan hanya saja karena menghormati Kakek mereka mengurungkan niat mereka. Aku berpisah dengan nenek surti, aku kemudian melewati jalan berangkatku dengan penuh rasa sakit di hatiku. Memang aneh dimana-mana perjalan pulang selalu lebi cepat dari perjalanan berangkat.

Aku telah sampai di desa banyu abang langsung aku menuju ke rumah pak roto dengan membawa kesedihan dalam hatiku walaupun begitu aku harus tetap mup-on. Aku tiba di rumah pak roto mereka menyambutku dengan senyuman. Kucoba menghilangkan duka dalam hatiku dan kembali ke kehidupan semula.
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo ooooooooooooooooooooooooo

Di hari kedatanganku aku mencoba melakukan semua aktifitas seperti biasa di keluarga pak roto. Ya beres-bereslah atau mungkin membantu pak roto bertani, mbak maya berjualan. Semua kegitan itu akhirnya membuatku bisa kembali tegar dan hatiku kuat kembali . pada hari ke-12 Tubuh ini terasa sangat letih dan tiba-tiba saja badanku panas pada malam harinya, yang mampu aku lakukan hanya tidur. Padahal besok aku harus pulang. Pada pagi harinya di hari ke13 kepergianku pak roto mengetahui aku sakit ketika pak roto tidak mendapatiku makan pagi, dan mbak maya disuruhnya untuk merawatku.

ÔÇ£Mbak Maya….ÔÇØ ucapku lirih, kemudian aku bangkit menatapnya yang sedang menyeka tubuhku.

ÔÇ£Sudah mas, tiduran saja biar saya yang merawat mas, mas tidak udah khwatir…ÔÇØ ucap mbak maya dengan senyumannya

Kami kemudian berbincang-bincang kembali membahas yang tidak perlu dibahas. Kepalaku kemudian menengadah keatas melihat langit-langit kamar. Tiba-tiba mbak maya mengecup leherku.
Aku jadi kaget ketika mbak maya mengecup leherku.

ÔÇ£Eh… mbak bikin kaget saja…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Mas arya yang bikin kaget mbak…ÔÇØbalasnya kepadaku

ÔÇ£Yeee… kok bisa aku mbak…?ÔÇØ belaku

ÔÇ£Ya bisa, itu nyatanya batang tiba-tiba berdiri, mau keluar dari celana dalam mas…ÔÇØ ucapnya sedikit melirik dedek arya

ÔÇ£HEEEEH! Maaf-maaf mbak, tidak tahu aku mbak….ÔÇØ ucapku kemudian di balas dengan tawa cekikikan dari mbak maya. Kemudian mbak maya bangkit hendak meninggalkan aku sendiri di kamar, tapi ternyata hanya mengunci pintu dan duduk kembali di tepi kasur yang tak beranjang ini. Aku jadi bingung dengan kelakuan mbak maya, melihatnya dengan wajah yang sayu kepdaku. Direbahkannya kepalanya di dadaku, dan memluk erat diriku.

ÔÇ£Mbak… ada apa?ÔÇØ ucapku kepadanya, kemudian mbak maya bangkit dan mendaratkan bibir tipisnya ke bibirku. Bathinku menolak tapi tubuhku tidak sama sekali, ditambah hampir beberapa bulan ini Ibu sibuk dengan urusannya. Aku membalas ciuman dari mbak maya, tanganku turun ke dada mbak maya yang ditutupi kaos ketat dengan belahan dada yang lumayan memerlihatkan belahan dadanya dan lengat sedikit tertutup kaosnya. Kuremasi tonjolan itu, ciumanku tetap berjalan lebih ganas dari sebelumnya. Kusedot dengan penuh nafsu dan ku jilati bibir mbak maya dengan penuh birahi, mbak maya pun membalasnya dengan sangat galak. Remasan tanganku kemudian mencoba membuka kaos yang dikenakannya. Kuloloskan bajunya hingga tersembulah susu yang terbungkus BH berpenyangga. Kuremas susu itu dengan kedua telapak tanganku serta kuciumi bagian lembah susunya.

ÔÇ£Aaaaahhh… mas Aryiaaaaahhhh…. enak mas, teruuuusssshhhhÔÇØ ucapnya

ÔÇ£hmmm…. mmm…. mmmm….ÔÇØ ucapku tersumbat oleh lembah susunya

Kuhentikan ciuman itu, kemudian aku lepas BH mbak maya. Dan Bullll….. terpampanglah susu mbak maya yang montok dan lumayan besar, paling tidak lebih besar punya mbak maya ketimbang punya tante ima, dibandingkan dengan Ibuku? jelas punya Ibu number one. Kuremasi kedua susu itu dengan lembut, dan sesekali aku melumat bibir mbak maya. Semakin gemas aku dengan susunya yang telah lama aku tidak pernah merasakannya. Aku jilati dengan caraku, jilati melingkar pada susu kirinya memutar semakin lama semakin mendekati putingnya pada susu bagian kirinya aku elus dengan jari-jariku memutar seirama dengan jilatan lidahku pada susu kanannya dan ketika sampai pada putingnya aku mainkan putingnya dengan jariku.

ÔÇ£Ahhh… mas… nikmaaathhh mashh… ssssshhhhh…ÔÇØ

ÔÇ£Terushhh mash… mashhh aaaahhhhh…. ufthhh…..ÔÇØ racaunya.

Secara bergantian susu mbak maya yang sedikit kendor kebawah ini aku nikamti. Desahan dan racauan semakin keras terdengar. Aku jadi semakin bersemangat menggarap susu mbak maya ini, kemarin dapat kopinya sekarang dapat susunya.

ÔÇ£Mbak…ÔÇØ ucapku sambil memandangnya, kedua tanganku masih meremas susu mbak maya. Mbak maya yan melihatku kemudian menciumku dengan penuh hasrat ingin dipuaskan.

Kurebahkan tubuh mbak maya di kasur itu dan kulorotkan hingga terlepas. Kucium susu mbak maya semakin lama semakin turun keperutnya. Terlihat goyangan tubuh mbak maya yang kegelian. Ciumanku turun semakin turun dan ahhh aroma wangi segar vagina yang tidak pernah aku rasakan. Sedikit aku angkat pinggang mbak maya, langsung aku jilati dari bagian bawah antara anus dan vagina ke atas, begitu berulang-ulang hingga mbak maya kelojotan merasakan jilatanku. Jilatanku kemudian aku variasikan dengan sedotan-sedotan halus pada klitorisnya. HEI! DIMANA AKU MENDPATKAN TENAGA INI?! AKU KAN SAKIT! Masa bodohlah….

ÔÇ£ahh… mas… tempekku mbok apakno… (Vaginaku di apakan)ÔÇØ

ÔÇ£suamiku tidak pernah mashhhh…. aiiiiih nikmat mas… terus… terusssh mash….ÔÇØ racaunya

Aku kemudian menaruh sebatang jari tengahku ke dalam vagina mbak maya, kutanamkan di dalamnya. Kemudian dengan menekuknya aku kocok vagina mbak maya secara kasar dan keras.

ÔÇ£AAAH AAAAH AAAH…. aish auh ouwh….ÔÇØ

ÔÇ£ah.. ah.. ah.. ah.. ah.. enaaaaak… terus mash… ÔÇ£racaunya menerima setiap kocokan jariku didalamnya. Lama aku melakukan hal itu disertai sedotan-sedotan kasar pada klitorisnya.

ÔÇ£aissssh… aissssh…. efthhhh ah ah haaaaaaaaaaaahhhhhhhhhÔÇØ

ÔÇ£aku mau pipis… ouwh aish ah ahÔÇØ racaunya. Semakin mendengar racaunya semakin keras aku mengocok vagina mbak maya.

ÔÇ£aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaÔÇØ teriak mbak maya, terasa cairan hangat keluar dari dalam vaginanya membasahi jari-jariku. Kulihat wajah mbak maya nampak puas menerima pelayananku, aku yang tidak dalam kondisi fit kemudian duduk bersandar mengumpulkan tenaga. Tiba-tiba mbak maya bangkit dan dilorotkannya celanaku dengan paksa maka berdiri tegaklah dedek arya ÔÇ£TOEEEENG… AKU BEBAS! YAELAH…. MASA GAK ADA YANG PERAWAN KAKAK??!ÔÇØ. Cerewet sekali ini dedek aryaku, sudah puasa lama masih saja mencari perawan.

ÔÇ£Aaaaaa…. besar banget massssss….ÔÇØ ucap mbak maya kaget, dengan lembut mbak maya kemudian mengocok dedek arya

ÔÇ£Aku capek, mbak masih belum fit, terserahhhhhhhhhhhÔÇØ ucapku terpotong dan merintih merasakan dedek arya yang masuk dalam rongga mulut mbak maya. Dikulumnya dedek arya dengan sangat buas, tanpa memegangnya mbak maya menjilati setiap bagian dari dedek arya layaknya seekor anjing yang mengendus-endus dengan posisi mbak maya yang sedikit menungging. Dijilatinya dan dikulumnya setiap nano meter dedek arya.

ÔÇ£Terus mbahhhk oufth kulum sedot mbak, sedot kontolku… aiiiih ufth enaaaak mbakÔÇØ rintih nikmatku

Disedotnya dedek arya dengan ganas dan dengan sangat bernfsu. Melihat pemandangan itu membuat aku semakin menggebu-gebu, posisi mbak maya yang menungging dan mengulumi dedek arya. Dengan segenap kekuatan bulan eh dengan segenap kekuatanku aku kemudian bangkit dan menarik mbak maya untuk rebah kembali. Kuarahkan dedek arya menuju liang senggamanya. Perlahan aku memasukannya, perlahan pula aku mendorongnya.

ÔÇ£Ufthhhhhhhhhhhhhhhhh…. pelan mashhhh… besaarhhhh sakithhhh massshhhhÔÇØ

ÔÇ£Teruuuusssh masssshhh lebih dhalammmhhhh ehhhhÔÇØ racaunya

ÔÇ£Pelan apa terus mbakÔÇØ ucapku sambil menghentikan aksiku

ÔÇ£Pelan mas tapi terus, burung mas itu beshhhhharÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Burung?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Cepetan masukin kontol, KONTOL mas… KONTOL MAS ARYA KE MEMEKKU!ÔÇØ pinta mbak maya sedikit membentak. Aku tersenyum kemudian aku masukan dedek arya ke dalam memek mbak maya dan bless vagina mbak may telah menelan semua dedek arya. Tenggelamlah sudah kapal dedek arya yang selama ini berlayar dengan gagahnya dan kini harus tenggelam dan hanyut dalam pusaran vagina mbak maya.

ÔÇ£Aissssssssssh besaaaaaar penuh bangetttttttttt….ÔÇØ

ÔÇ£Kontolmu mas, kontolmu mentok didalammmmmhhhhhhÔÇØ

ÔÇ£kenthu aku… kenthu tempekku mas… kenthu yang dalammmhhh ouewhhhÔÇØracau mbak maya

Kembali aku menggoyang dan menggoyang pinggulku semakin lama semakin cepat. Susu mbak maya tampak berguncang seirama dengan goyangan pinggulku. Dengan cepat langsung aku tangkap kedua buah susu itu dengan kedua tanganku, aku remas sangat keras. Semakin keras aku menggoyang semakin keras aku meremas susu mbak maya.

ÔÇ£Remas….aissshh ufth…. goyang teruuussssshshhh nikmat massshhh…..ÔÇØ

ÔÇ£sedikit lagi mas, sedikit lagi aaaaaaaaahhhhh….ÔÇØ racaunya

Kugoyang pinggulku dengan keras dan cepat membuat mbak maya belingsatan tubuhnya bergerak ke kanan dan keiri, kadang tubuhnya melengking ke atas ketika aku hujamkan sedalam mungkin dedek arya.

ÔÇ£mashhh… aku keluarrrr….. mau keluarrrhhhh aaaahhhÔÇØ ucap mbak maya

ÔÇ£kelauaaaarrrr…. aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhÔÇØ teriak mbak maya ketika di puncak kenikmatan. Aku yang sebentar lagi merasakan muntahnya lahar, terus menggoyang tanpa mempedulikan mbak maya.

ÔÇ£aduh mas, aduh mas…. berhenti dulu….ÔÇØ ucapnya sambil kedua tangannya memegang kedua tanganku yang masih meremas dua buah susunya. Dan…

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Tanpa pikir panjang kukeluarkan sperma itu ke dalam vagian mbak maya. Aku rebah di atas tubuh mbak maya, yang kemudian memelukku erat. Aku kelelahan sangat kelelaha karena tubuh ini masih belum fit. Kuciumi tubuh indahnya dan kemudian kukecup keningnya. Kupeluk erat tubuh mbak maya, hingga aku tertidur di atasnya.

Suara ayam yang petok-petok di siang hari membangunkan aku kudapati diriku terbaring disamping mbak maya. Kulihat mbak maya ikut terbangun kemudian tersenyum kepadaku. Dipeluknya aku kembali dan diciumnya bibirku kami saling melumat dan saling menyedot.

ÔÇ£Sudah ya mas, sudah sembuh belum sakitnya?ÔÇØ ucap mbak maya kepadaku. Memang setelah persetubuhan pagi tadi tubuhk tampak ringan. Kulihat mbak maya kemudian bangkit dan memakai satu per satu bajunya.

ÔÇ£Iya mbak, sudah agak mendinganÔÇØ ucapku kepada mbak maya, kulihat dari wajahnya dengan taapan sedikit melamun itu tersirat suatu kepuasan tersendiri tetapi ada sesuatu yang tampaknya mengganjal dalam hatinya

ÔÇ£Mbak….ÔÇØ ucapku lirih memanggilnya

ÔÇ£Ada apa mas?ÔÇØ jawabnya, dengan sedikit tersenyum mencoba menyembunyikan sebuah teka-teki dalam hidupnya

ÔÇ£Cuma pengen manggil saja mbak, karena… tidak apa-apa… tidak jadi he he heÔÇØ ucapku cengengesan

ÔÇ£Terima kasih mbak…ÔÇØ lanjutku, dijawabnya hanya dengan seyum dan anggukan yang kemudian memandang entah kemana.

Kulihat wajah ayunya yang telah mendapat kepuasan itu kembali memandang tembok di samping kasur. Tatapan yang kosong membuat aku merasa bersalah kepadanya. Dengan lembut dan tubuh telanjangku, aku beranjak dari tempatku kemudian memeluknya dari belakang. Mbak maya yang menyadari hal itu hanya tersenyum dan mendorong sedikit tubuhnya ke arahku.

ÔÇ£Mas…ÔÇØ ucapnya lirih yang hanya terdengar olehku

ÔÇ£Iya mbak…mmmm…. aku minta maaf jika semuanya terjadi sejauh iniÔÇØ ucapku lirih tepat ditelinga kanannya

ÔÇ£Ndak papa owk mas, Cuma…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£Cuma apa mbak?ÔÇØ tanyaku kembali kepadanya

ÔÇ£Jangan sampai Ibu dan Isti tahu ya, kalau masih ingin lagi mbak siapÔÇØ ucapnya lirih kepadaku, aneh bagiku kenapa yang disebutkan hanya Ibu Roto dan Anaknya, kenapa Pak Roto tidak disebutkan?

ÔÇ£Bingung ya mas? Hi hi hi…ÔÇØ ucapnya tiba-tiba dengan senyuman nakal

ÔÇ£Hm… mungkin mbak…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Sebenarnya… ÔÇ£ucapnya lirih, membuat aku bertanya-tanya dalam diamku aku masih tetap memeluknya. Seakan-akan tahu rasa penasaranku, mbak maya kemudian melanjutkan kalimat yang terpotong itu

ÔÇ£Sebenarnya, mbak maya disuruh sama bapak untuk merawat mas aryaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£saya tahu mbak…ÔÇØ jawabku lirih

ÔÇ£Kalau semisal sampai sejauh ini, mas Arya jangan marah ya mas, mbak cuma menjalankan perintah bapak sajaÔÇØ lanjutnya, aneh sangat aneh.

ÔÇ£Berarti kejadian tadi itu juga perintah pak roto? Dan pak roto juga sudah tahu?ÔÇØ tanyaku memburu kepadanya

ÔÇ£Jangan marah gitu mas, mbak maya jelasin ya tapi mas jangan marah-marah nantinya karena kontol mas jadi sasaran tempikku, habis mas ganteng sich… hi hi hiÔÇØ jawabnya yang semakin aku tidak mengerti, dari kata-katanya terlihat bagaimana dia membutuhkan dedek arya

ÔÇ£Jadi bingung mbak, sebenarnya aku juga seneng kok mbak, kenapa harus marah-marah sama mbak? Kan dapat durian runtuh mbakÔÇØ ucapku sambil melepaskan pelukanku dan merebah di tempat tidur

ÔÇ£Syukur kalau gitu, takutnya mas arya itu marah kalau dapet lawan wong ndeso…ÔÇØ ucapnya yang benar-benar tidak masuk akal, ndeso sich ndeso tapi bodi kamu, wajah kamu KOTA!

ÔÇ£Ya sudah mas kalau begitu, mbak maya mau beres-beres rumah dulu ya, nanti malam lanjut lagiÔÇØ

ÔÇ£kalau sudah sepi hi hi hiÔÇØ lanjutnya sambil berbalik dan mencium bibirku, aku tidak membalasnya

ÔÇ£kenapa mas?ÔÇØ tanya mbak maya

ÔÇ£Karena mbak memikirkan hal lain… aku ingin tahu yang mbak pikirkanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Hmmm… ÔÇ£ gumamnya

ÔÇ£Ini hanya rahasia kecil, dan sampai sekarang membuat mbak merasa bersalah kepada suami mbak yang amat mbak cintai, ketika mbak melakukannya dengan mas Arya, mbak teringat suami mbak yang sekarang jualan di daerah mas aryaÔÇØ

ÔÇ£Dia orang yang baik mas, juga pengertian dan sayang sekali dengan mbak dan isti…ÔÇØ

ÔÇ£Hingga mbak menemukan suatu kenyataan pahit kalau suami mbak tidak bisa menghamili mbakÔÇØ jelasnya yang seakan-akan memutar ingatannya kembali ke masa lalu. Mbak maya kembali merebahkan tubuhnya di atas tubuhku yang sedang rebahan di tempat tidur.

ÔÇ£Mbak Cuma pengen curhat, karena jika curhat sama tetangga bisa-bisa di usir dari desaÔÇØ lanjutnya

ÔÇ£Memangnya kenapa mbak?apakah karena ini?ÔÇØ tanyaku kepada mbak maya

ÔÇ£Bukan mas, kalau yang barusan kita lakukan mbak rasa, mas arya bisa jaga rahasia, bisa kan?ÔÇØ tanyanya kepadaku

ÔÇ£Bisa mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Sebenarnya ini tentang isti, setelah mbak tahu suami mbak tidak bisa menghamili mbak, mbak sempat stress bener-bener stress. Hingga pada saat itu muncul hal gilaÔÇØ jelasnya terpotong

ÔÇ£Hal gila?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Iya, hal gila, hal gila dengan merayu bapak untuk menghamiliku mas…ÔÇØ jelasnya yang membuat aku bangkit dari rebahanku dan begitupun dengan mbak maya.

ÔÇ£Sudah mas jangan kaget gitu, ya mau bagaimana lagi mas, mbak terlalu sayang sama suami mbak, tapi tenang saja mas mbak juga sudah jarang gituan sama bapak setelah isti lahir…ÔÇØ

ÔÇ£Setelah isti lahir, akhirnya suami mbak merasa hebat dan itu membuat mbak bahagia begitu pula bapak, walau setelah isti lahir bapak tidak pernah meminta kadang malah mbak yang minta hi hi hiÔÇØ ucapnya dengan senyum nakal. Dan aku hanya memandangnya dengan senyuman.

ÔÇ£Ah aku kira, dia menyesal melakukannya denganku ternyata dia butuh juga, aku? Sangat butuh he he he heÔÇØ bathinku

ÔÇ£Mas jangan bilang sama Ibu lho mas, apalagi sama isti hi hi hiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Iya mbak, tidak mungkinlah aku bilang sama merekaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ini semua juga perintah bapak, karena dari kemarin mbak merayu bapak tapi bapak tidak mau, terus waktu mas sampai disini eh mas malah sakit…ÔÇØ

ÔÇ£Ya bapak nyuruh saya merawat mas dan… sekalian saja bapak nyuruh aku sama mas, sekalian mau balas jasa katanyaÔÇØ jelas mbak maya

ÔÇ£Balas jasa?ÔÇØ tanyaku heran

ÔÇ£Iya balas jasa, karena dulu sekali sewaktu bapak masih nol, makan saja susa, kakek mas arya yang membiayai semua kebutuhan dari makan, rumah, menikah dengan ibu sampai persalinan ketika mbak lahirÔÇØ jelasnya

ÔÇ£Sudah ya mas, nanti lagi ngobrolnya… hi hi hiÔÇØ jelasnya kemudian mencium bibirku dan kali ini aku membalasnya

ÔÇ£Pokoknya selama mas disini, mas boleh make kapanpun tapi jangan sampai ketahuan Ibu sama Isti ya mas hi hi hiÔÇØ ucapnya dengan senyuman nakal. Aku hanya mengiyakan saja apa yang dikatakan sama mbak maya kemudian mba maya memberesi kamar.

ÔÇ£Nanti malam lanjut lagi ya mas, mbak maya pengen lagi, biasanya orang kota pinter gaya-gaya gitu. Pokoknya terserah mas arya hi hi hi ÔÇØ

ÔÇ£Dadah mas arya ganteng…ÔÇØ ucapnya sambil mengecup keningku yang kemudian mbak maya berlalu meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Bener-bener aneh, sayang sama suaminya tapi kenapa minta tambah ya? Perlukah aku selidiki?. Dan tiba-tiba mbak maya masuk lagi ke dalam kamar seakan-akan tahu pertanyaan dalam pikiranku.

ÔÇ£Jangan mikir macam-macam ya mas, mbak maya cuma melaksanakan tugas hi hi hi dn satu lagi mas jangan bikin mbak jatuh cinta sama mas arya lho, karena mbak cintanya cuma sama suami mbak hi hi hiÔÇØ ucapnya, kemudian aku pegang tangganya

ÔÇ£Mbak, mending tidak usah kita lakukan lagi mbak, ini yang pertama dan terakhir, kasihan suami mbak mayaÔÇØ ucapku dengan tatapan mata yang tajam

ÔÇ£Sssst… jangan keras-keras, mbak sama suami mbak memang saling mencintai, tapi…ÔÇØ

ÔÇ£Mbak pernah menemukan sekali dalam sematpon-nya itu foto dia sama cewek lagi selpi gitu mas, kalau selpi-nya kaya di tipi-tipi itu tidak apa-apa mas, lha wong selpi-nya sambil telanjang masÔÇØ jelasnya kepadaku

ÔÇ£Berarti mbak mau balas dendam ceritanya?katanaya cinta banget sama suaminya?ÔÇØ tanyaku dengan nada sedikit bercanda

ÔÇ£Ya bukan balas dendam mas, sekali-kali nyoba yang lain mas hi hi hi….ÔÇØ ucapnya kepadaku, yang kemudian melepaskan genggaman tanganku

ÔÇ£dah cowonk ganteng,hmmm… KONTOL-nya gede hihihiÔÇØ ucapnya dengan santainya langsung keluar dari kamarku. Hadeeeeh… tepuk jidat dah aku dan langsung rebah di kasur ini. kemudian aku tertidur kembali, ketika siang menjelang aku terbangun karena mbak maya masuk ke dalam kamar membawakan makanan. Aku disuapinya walaupun setelah istirahat ini badanku seudah merasa sehat kembali.

Hari ini kulalaui dengan berbaring saja, sore hari mbak maya hadir untuk menyeka tubuhku tapi aku menolaknya karena aku sudah agak mendingan dan kuputskan untuk mandi. Sedikit kekecewaan di wajah mbak maya tapi tak kuhiraukan, aku tidak mau mengambil resiko karena Ibu dan Isti sudah berada di rumah. Sinar mentari mulai larut dalam kegelapan malam. Ketika malam menjelang setelah aku membereskan kamar aku diajak untuk makan malam bersama mereka. Tampak kegembiraan di rumah ini, andai saja Ayah dan Ibu bisa seperti ini. Ayah? Tiba-tiba darah ini mendidih bagaikan petir inging mencabik-cabik lelaki itu. Segera kuselesaikan makan malam itu dan kembali ke dalam kamar. Aku kemudian melihat kembali kalung pemberian nenek, sebuah kalung dengan bandul yan terbuat dari batu entah itu batu permata atau batu giok yang tembus pandang didalamnya ada sebuah motif berbentuk seekor kerbau yang jika diputarkan bandul kalung itu akan tampak kerbau yang sedang berjalan. Kusimpan kembali kalung itu didalam tas. Sejenak aku keluar dan duduk-duduk di teras kamarku dengan asap dunhill yang menemaniku.

ÔÇ£Ah, tinggal setengah bungkusÔÇØ bathinku,

Kumasukan korek gas kedalam bungkus dunhill dan kuletakan di teras rumah untuk mengambil minuman di kamar tapi sialnya aku malah mengantuk. Tanpa mengambil dunhill kesayangan kukunci pintu dan tertidur pulas. Ditengah malam, aku terbangun karena ada suara ketukan dipintu kamarku. Ketika aku membuka pintu kamarku….

Dimalam ini, di desa banyu abang yang sangat dingin dan membuat semua bulu kuduk berdiri. Lelap tidurku dengan gangguan pada ketukan pintu, membuatku tersadar dan terbangun dari mimpi basahku eh mimpi indahku. Perlahan dengan perasaan yang sangat malas dengan mata yang enggan untuk terbuka ku angkat tubuhku yang sangat berat ini dari tempat ternyamanku. Terasa beban tubuh in imenjadi 1 ton, sangat berat. Ku letakan satu tanganku di daun telinga eh daun pintu.

Kleeeeek….. suara daun pintu dan terbukalah pintu itu

ÔÇ£AAAAAÔÇØ aku sedikit berteriak terkejut yang tertahan dengan apa yang didepanku

Tampak seorang wanita dengan kulit putihnya memakai jarit yang hanya dililitkannya di sebagian tubuhnya hingga menutupi pahanya. Rambutnya digelungnya ke belakang, tampak senyuman seorang wanita yang manis dan menentramkan. Sekilas tampak bayangan Ibu terlukis di wajah wanita ini. membuat aku tersentak dan terhenyak kaget seketika itu. Tapi bayangan itu mulai pudar seperti tinta spidol yang terkena oleh air, bayangan itu menghilang dan berganti dengan wajah seorang waria eh wanita desa, Mbak Maya.

ÔÇ£Mbak….ÔÇØ ucapku terheran-heran dengan kedatangannya di malam hari ini

ÔÇ£Sssst hi hi hi… udah mbak kunci semua pintu rumah, dari yang depan sampai belakang ini kuncinyaÔÇØ ucapnya sambil menunjukan kunci pintu rumah.

ÔÇ£Maksudnya mbak? ÔÇ£ tanyaku pura-pura bodoh, ya sebenarnya posisi saat itu belum bisa membuat otakku berpikir jernih karena rasa kantuk yang menusuk di mataku.

ÔÇ£Eh… sepi tuh di depan kamar mas, asyik tuh kalau main di depanÔÇØ ucapnya tiba-tiba membangkitkan gairah dedek arya. Sekejap dedek arya menangkap sebuah sinyal permainan, perlahan bangkit seperti halnya zombie yang bangkit secara perlahan-lahan tapi pasti. Nafsuku yang sudah mulai bangkit dan menyelubungi tubuhku ini, aku kemudian menarik mbak maya ke depan teras yang tak berlampu.

ÔÇ£Eh… mas mau kemana? Di dalam saja, mbak kan cuma bercandaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Salah siapa tadi mengajakku ke teras kamarÔÇØ ucapku

Dalam posisi duduk di depan teras kamar, langsung aku peluk mbak maya, ku hujamkan ciumanku di bibir manisnya. Mulutnya tertutup, wajahnya ketakutan karena aksiku bisa saja diketahui oleh orang sekitar. Tapi masa bodohlah, aku sudah tidak bisa menahan apa yang namanya keinginan dedek arya.

ÔÇ£Mbak kok ditutup mulutnya?ÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Di dalam saja mas, takut ada orangÔÇØ jawabnya sembari mencoba melepaskan pelukan dariku

ÔÇ£Tadi katanya minta diluar, tadi katanya orang kota bisa gaya-gaya, pengen tidak? Kalau tidak sudahan sajaÔÇØ jawabku, entah kenapa jiwaku seakan-akan berubah menjadi seorang pecinta seks, semoga saja hanya hari ini karena memang sudah berbulan-bulan aku tidak memegang namanya wanita.

Mbak maya kemudian dengan sedikit malu mengangguk dan membuka sedikit mulutnya. Ku hujamkan kembali bibirku ke mulut mbak maya, kumasukan lidahku ke dalam mulut mbak maya dengan perlahan. Kusapu tiap nano meter bibirnya dengan lidahku, mbak maya hanya membukan mulutnya tanpa bisa memberi perlawanan. Udara dingin membuatku, memaksaku untuk segera mendapatkan kehangatan dari tubuhmbak maya. Perlahan mbak maya mulai mengimbangi ciuman di bibirku, disedotnya lidahku dengan bibirnya. Membuat nafsu ini semakin meledak-ledak. Dengan tetap menium bibirnya, kurebahkan tubuh mbak maya di atas lantai yang keras ini. Perlahan ciumanku turun ke lehernya dan kusapu habis dengan jilatan-jilatan pada bagian leher jenjangnya itu.

ÔÇ£eehh…. ehhh…. esssssshhhhhh… pel… lan mashhh gelihhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Geliiihh… mashhh…. ouwhhh…. essshhhhh aaahhhhhhÔÇØ rintihnya

Aku tak menghiraukan lagi apa yang dia katakan, jilatan dan ciumanku kemudian turun ke bagian atas dadanya. Kujilati setiap bagian itu layaknya aku menjilati es krim. Jilatan semakin turun hingga belahan susu mbak maya yang indah ini. pelan tapi pasti ciuman dan jilatanku di sela-sela belahan itu membuat mbak maya menggelinjang geli dan nikmat. Tangan kiriku menelusup di balik punggung mbak maya, tangan kananku kemudian menarik dan melepas secara perlahan jarit mbak maya. Secara bergantian tangan kanan dan kiriku menahan tubuh maya, karena jarit itu dipakai dengan cara membungkus tubuhnya jadi ketika tangan kananku sudah mulai melepasnya dan aku putar kebelakang tangan kananku langsung menahan tubuh mbak maya dan giliran tangan kiriku menarik jarit itu. Secara perlahan dan bergantian akhirnya jarit itu terlepas dari tubuhnya, aku langsung buang jarit itu ke depan kamar yang aku tempati. Terpampanglah tubuh montok dengan payudara yang lumayan besar dihadapanku.

ÔÇ£Mas, jangan cuma dilihat dicicipi juga mas….ÔÇØ

ÔÇ£Apa perlu pakai kopi hitam biar tambah nikmat?ÔÇØtanya mbak maya menggoda, godaan ini lebih dahsyat dari pada godaan Tante Ima apa lagi wajah lugu desanya itu yang membuatku semakin bernafsu.

ÔÇ£Tidak perlu mbak, susu mentahnya juga enak…ÔÇØ ucapku yang langsung memajukan kepalaku

Dengan penuh gairah aku mainkan susu mbak maya dengan menggunakan metode yang sama. Aku elus-elus sekitar puting mbak maya dengan lidahku dan susu satunya aku elus-elus dengan menggunakan jari-jariku. Lama aku melakukannya dengan memutari setiap puting susunya dengan lidahku dan jari-jariku secara bergantian.

ÔÇ£Mashhh, di susuhhh mashhh susuhkuuhhhh aehhhh, cepetanhh…ÔÇØ rintihnya penuh nafsu. Aku tidak langsung mengikuti arahan mbak maya tapi aku menggigit kecil pada susu kanannya. Tercupanglah susu kanan mbak maya, kupindahkan bibirku ke susu kirinya dan kucupang kembali.

ÔÇ£Aashhhhhh sakit mashhhh enakkkkhhhh… lagih mash oiwh lagihhh….ÔÇØ rintihnya kembali sambil memandang ke arah aksiku

Setelah aku mendapatkan dua cupangan yang sangat merah, langsung aku lahap pentil susu kirinya. Kumainkan lidahku di susu kirinya dan jari tanngan kananku mempermainkan pentil susu kanannya. Tangan kiriku tak cuma diam saja, tangan kiriku meremas-remas daerah di sekitar susu kirinya. Seecara bergantian aku melakukan hal itu dan membuat mbak maya merintih-rintih dengan sedikit berteriak yang tertahan

ÔÇ£aaaaaahhhhhhhfffftttt…….ÔÇØ

ÔÇ£Enak mashhhh ter…..rushh….. ashhhhhh…..ÔÇØ

ÔÇ£Di mimikhhh mashh….. ahhhhhhhhhhhÔÇØ hanya rintihan dan desahan yang aku dengar dari mulutunya.

Segenap kekutan aku lakukan tapi aku sudah tidak tahan lagi aku ingin menuju ke arah selangkangan yang indah itu. Jilatanku ku arahkan di lebah susu mbak maya turun…. turun…. dan turuuuunnn…. kurenggangkan kedua paha indah nan putih itu dan terbukalah sebuah liang kenikmatannya. Perlhan aku majukan bibirku dan kujulurkan lidahku. Llidahku menyapu bagian bawah vagina mbak maya hingga keatas bibir vaginanya. Dengan perlahan aku bolak-balik menyapu vagina mbak maya.

ÔÇ£Aaaaaah…. mashhhh…. ÔÇ£

ÔÇ£emmmmhhhhh…. teruuuuussssssshhhhh….ÔÇØ

ÔÇ£dijilat yang dalem mashhhhh aisssshhhhh……ÔÇØrintihnya

Lidahku ini kemudian menyeruak ke dalam vagina mbak maya dan kupermainkan di dalam vaginanya. Pinggul mbak maya terangkat keatas membuat aku semakin bersemangat memainkan lidahku di dalam vaginanya.

ÔÇ£Ahhh… mash… kok tambah enak gini… ahhh… tempikku keenakan mashhh ouwhh… jilatiiiihh yanggg kerassssh… anget bangethhhh masshhh lidahh muwhh ouwhhh aisssshhhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Terus mashh…. ash ah ah ah aaaaaaahhhhhÔÇØ Rintihnya kembali

Aku kemudian memasukan jariku, dan bibirku ku alihkan ke klitorisnya. Kusedot-sedot dan kumainkan klitorisnya dengan bibir dan lidahku. Jariku masuk menyeruak dan mengocok vaginanya. Paha kiri mbak maya aku letakan di atas bahu kiriku jadi aku lebih leluasa dalam menikmati vaginanya. Lama aku bermain disitu membuat mbak maya tidak tahan dengan kenikmatan itu.

ÔÇ£ter….rushhh.. masshh….tempikku enak mas…. jilati terussh mashh… aku suka kamu jilatih ouwhhh … jilatanmu enaaaakkkhhh…. itilku… itilku aissshhhhh sedoooth terusss mashhhh….. enaaakhh bangeettthhhh aah eeeeh oooogggh aaah aaisssssssssssssssshh… kocok kerrrrrassss mashhh… ouwhhh enakkhhh essshhhhh….. ediaaaan enaaak mashhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Akuhh… mauhhh kel…. luarhhhh aaaahhhhhÔÇØ

ÔÇ£aku keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarr….. ahhhhh…. kontol kontooooooool aku pengen kontolmuhhhhhhhhh massshh aryaaaaaaaaaaaahhhh….ÔÇØ teriak mbak maya sembari mengangkat pinggulnya keatas, menggelinjang. Kurasakan cairan kenikmatan itu mengalir melalui jariku segera aku menangkap pinggul mbak maya dan kusodorkan bibirku ke vaginanya serta kuhisap cairan kenikmatan itu. Setelah mbak maya terlihat lebih tenang akhirnya aku memberinya waktu beristirahat.

ÔÇ£Hash hash hash hash… enak mas hash hashÔÇØ

ÔÇ£Belum pernah mbak maya merasakan sehebat ini, tadi siang hash hash hash juga sama….ÔÇØ

ÔÇ£Istirahat dulu masÔÇØ ucapnya dengan tubuh telanjang yang tergeletak lemas di depan kamar, aku hanya tersenyum kepadanya. Kulihat dunhill masih tergeletak di depan kamarku. Kuraih dan kuhisap sebatang dengan posisi menyamping mbak maya. Kulirik dia masih terpejam dengan nafas yang sangat kelelahan. Kujulurkan kakiku kebawah teras kamar ini, karena kamar ini memang di buat aga sedikit meninggi dari area sekitarnya. Lama aku menikmati dunhill mild hingga setengah batang telah menjadi abu.

Mbak maya bangkit dan jongkok di depanku, dilepasnya celana kolorku. Toeeeeeennnggg….ÔÇØAku bebaaaaaaaaaaaaaasÔÇØ dedek arya. Aku melihat tingkah mbak maya hanya tersenyum. Elusnya secara perlahan dan tenang dipandanginya dedek arya dengan seksama.

ÔÇ£Gede ya mas, pasti banyak yang suka ini mestiÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Dari sananya mbak, kalau banyak ya saya tidak bakalan sama mbak mayaÔÇØ ucapku sedikit cengengesan

ÔÇ£jadi yang suka sedikit ya mas?hi hi hi untung saja sedikit kalau banyak mbak tidak kebagianÔÇØ

ÔÇ£Hmmm…. Kemarin mbak maya sudah kasih kopi, hari ini susu, sekarang mbak maya mau permennya mas AryaÔÇØ ucapnya sedikit nakal dengan meliriku yang sedang menikmati batang dunhill di tangan kananku

Tak main-main, bibir tipis mungil mbak maya langsung melahap dedek arya dengan perjuangan yang sangat berat. Terlihat mbak maya mencoba memasukan semua batang dede arya tapi tak mampu, dengan masih menyisakan sedikit batang yang tidak terkulum mbak maya memaju-mundurkan kepalanya dengan sapuan lidah disetiap batang dedek arya. Dengan bertumpu pada tangan kananku, tangan kiriku megelus rambut mbak maya dengan lembut. Terlihat sosok wanita berumur 30 tahun dengan tubuh telanjang sedang menikmati batang permenku, batang dedek arya Sesekali aku menekan kepala mbak maya lebih dalam ke arah dedek arya.

ÔÇ£Hah hah hah hah hah… mas jangan ditekan, kontolnya itu panjang besar, bisa tersedak mbakÔÇØ protesnya yang ketika aku menekan kepalanya kemudian meronta dan melepaskan kulumannya

ÔÇ£Sabar kenapa… nanti juga dapat yang lain hi hi hiÔÇØ lanjutnya dan kembali mengulum batang dedek arya kembali

ÔÇ£Ehmmmm…. iya mbak…. oufthhhh…. terus mbak…. nikmatihhhh…. emuthh mbak essshhh ehmmmm… ayohh mbak emuttthhh kontolku, kulum emuthhhhhhÔÇØ rintihku, kemudian aku angkat tangan kananku dan aku hisap dunhill yang tersisa kemudian aku membuangnya. Dan kupegang kepala mbak maya dengan kedua tanganku. Lama dia mengulum dan menikmati sensasi permainan di alam terbuka. Aku kemudian menarik kepalanya

ÔÇ£Mbak dijilati mbak kontol aryaÔÇØ ucapku, langsung dia memegang batang dedek arya di tekan ke atas perutku dan di jilatinya dari bawah. Membuatku merebah dengan bertumbu pada kedua siku tanganku.

ÔÇ£Mbakhh…. dijilat dibawah telurku mbakkhhh akkhhhhÔÇØ rintihku, dengan sigap mbak maya menjilati bagian bawah akarku kadang mengulum-ulum zakarku dengan bibir manisnya itu. Kepalaku menengadah keatas dan membuat sensasi yang lebih dahsyat lagi. Beberapa menit setelah itu mbak maya bangkit dan berdiri dihadapanku, kupandang tubuhnya dengan senyum nakalku.

ÔÇ£Mas, ayo dimasukin mbak sudah pengen…ÔÇØ ucapnya kepadaku

ÔÇ£Ya dimasukan to mbakÔÇØ jawabku

ÔÇ£Lho, ya mas yang masukin kok malah saya itu bagaimana?ÔÇØ balasnya memelas kepadaku

ÔÇ£Sini, mbak sekarang mbak jongkok di atas kontolku dan dimasukanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Lho kok malah saya yang diatas mas?ÔÇØ tanyanya

ÔÇ£Katanya pengen gaya-gaya…ÔÇØucapku dengan senyuman nakal yang kemudian menarik tubuhnya ke arahku. Kukulumi kedua susunya dan kemudian aku arahkan dia untuk jongkok di atas dedek arya.

ÔÇ£Mbak, kontolku di pegangi mbak biar pas masuk ke tempik mbak mayaÔÇØ ucapku, mbak maya yang sekarang dalam posisi jongkok kemudian dengan tangan kanannya memegang dedek arya. Diarahkannya dedek arya ke dalam liang senggamanya. Perlahan secara perlahan sensai kejepit aku rasakan dari seiap nano meter batang dedek arya.

ÔÇ£Oefthhhhh…. besar mas, susssaaaahhhhhhh…. kontol kontolmu geddddehhhh ouwhhhh… tempikku gak muathhhhhh asssshhh ehmmm aduuuuhhhh aaaahhhhhÔÇØ

ÔÇ£Oufth… mas mbak ndak khuuuuaaaathhhh… ni kontolh apa teroooongghhhh aaahhh… sobek vaginaaakuuuhh masssshhhh ouwhhhh…ÔÇØ rintihnya yang kemudian dia memeluk kepalaku. Terlihat wajahnya meringis kesakitan dan batang dedek arya sangat pelan sekali masuk ke dalam vagina mbak maya.

ÔÇ£Aduh mash… ini kontol apa terong mashhhh aufthhh….ÔÇØ

ÔÇ£sakiiith masssshhhh…. ahhhhh…..ÔÇØ setiap rintihan dari mulutnya beriringan dengan tenggelamnya dedek arya dalam vaginanya

ÔÇ£Tapi sukakan mbakhhh…aaaaahhhhh?ÔÇØ ucapku kepada mbak maya, mbak maya hanya mengangguk dan terus mencoba menekan masuk dedek arya ke dalam vaginanya yang sempit dan sedikit agak keset, mungkin karena cairannya sudah mulai mengering. Dan bleessssss…..

ÔÇ£Uedian tenan mas hah hah hah hah…. kontol mas arya dalem banget terasa… nyampe rahimku mashh… ehmm … kamu yang pertama mas nyampeh situh aaaaah….ÔÇØ ucapnya tersengal-sengal sambil sedikit melonggarkan pelukannya dan memandangku dengan wajah ngos-ngosannya.

ÔÇ£Ayo mbak digoyang…ÔÇØ ucapku menggodanya

ÔÇ£Digoyang gimana mas, goyang kontol ndak papa mas, ini terong mas… gede, ndower tempikku mash hash hash hash…ÔÇØ balasnya

ÔÇ£Ya sudah, mending selesai sekarang saja mbak…ÔÇØ godaku kepada mbak maya

ÔÇ£Jangaaaaaaaaan maaaaaaaas, biar didalem dulu, enak ini… mas ndak punya tempik jadi ndak bisa ngrasain enaknya dimasuki kontol terong hihihihhhhÔÇØ ucapnya sedikit tersengal-sengal

Aku masih menunggunya untuk beraksi, lama aku menunggu tapi tak ada aksi dari mbak maya. Dengan sedikit memaksa aku angkat tubuh mbak maya dan aku turunkan kembali. Mbak maya kaget dengan aksiku kemudian meyuruhku diam. Mbak maya mulai memompa perlahan tubuhnya, perlahan dan perlahan. Goyangan itu semakin lama semakin cepat dan menggila. Aku hanya tetap duduk dan bersandar pada kedua tanganku. Pandanganku terhalang oleh kedua susu besar mbak maya ini yang terguncang naik turun seperti piston pada iklan motor.

ÔÇ£Aduuuhh…. kontol… kontoollll mu enak mas…. nyampe daleeemmhhh ouwhhh… kontolh ah terongggh aissshhh… dalem bangethhh… ooooh…. duh makÔÇÖe pakÔÇÖe… aaaahhhh…. tempikku sobeeekkkk aaaahhhhhhÔÇØ

ÔÇ£Kontolmu enak tenaaaaaaaaaaaaannnhhhh aaaah aaaaaaisssshhh oufthhhh… enak banget ouwh enak banget… ouwhhhhh yakin msh enake puolhhh mass….. aaaaaahÔÇØ

Semakin cepat dia menggotang, erangan kenikmatan semakin keras terdengar. Semakin erat pula pelukannya di kepalaku membuat aku sulit bernafas karena tersumpal oleh susu indahnya ini.

ÔÇ£Haduh mash mash….ahhhhhh…. baru inighhhh…. ahhhhh… tempikku keenakan mashhh…ÔÇØ

ÔÇ£enaakhhh tenaaaaaaanhh rassanyaaahhh… aaahh… uenakkee puoollllll aishhh…. ouwhh oggghhhh… edan aku kedanan kontolhhh mashhh aryahhhhh aaaaaaahÔÇØ (Kedanan=tergila-gila)

ÔÇ£Terus mbak, enakh TEMPIKMU ENAK MBAK! Ouwhhh… tempikmu nyepit kontolku… aaahhhhh… enak mbakkhhh…ÔÇØ teriakku yang terhalang oleh susunya, membuat mbak maya semakin mempercepat goyangannya.

ÔÇ£Aku lonthemu mashhh aaahhh… aku mau kamu kenthuuuu setiaphhh hariiiih ahhhh…. enakhhh tenanhhhh aishhhh ouwhhhh…. dalem banget… tempiikku dag gak kuatttthhhhh aaaaahhhh…ÔÇØ

ÔÇ£Mas, aku mau keluarhhh….. ooouwwwwwhhhhh… aku mau keluarhhhh… kontolmu buat aku keluarhhhh aaaaaahhhhhhhÔÇØ

ÔÇ£Aisssh… ah ah aaaaaaaaaaaahhh……ÔÇØ

ÔÇ£KONTOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOLLLLLMU ENAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKÔÇØ teriak mbak maya seakan-akan tidak mempedulikan lagi sekitarnya. Bersama dengan teriakkannya terasa air hangat mengalir di sela-sela vaginanya membasahi batang dedek arya. Mbak maya kemudian memelukku dengan sangat erat membuat aku semakin gelagapan untuk bernafas, bagaimana tidak? susu gan susu suhu nempel di wajah kamu menyumbat hidung kamu. Aku mencoba untuk bertahan dengan tidak bernafas cukup lama dan akhirnya longgar juga pelukan mbak maya. Butiran-butiran debu ehb butiran keringat mengalir di sekujur tubuhnya seakan-akan habis lari berkilo-kilo jauhnya. Aku melihat mbak maya sedikit ngos-ngosan tidak membuat aku merasa iba terhadap dirinya. Segra aku turunkan dari pangkuanku dan aku arahkan mbak maya untuk menungging sambil berdiri. Ketika aku mengarahkan tubuh mbak maya tangaku menyenggol dan memukul dunhil yang didalamnya ada koreknya aku tidak begitu mempedulikannya. Kemudian Kedua tanganya memegang tiang di depan kamar ini (kamar belakang mempunyai teras sehingga ada sedikit atap yang mempunyai tiang). Aku dan mbak maya sekarang sama-sama berdiri di atas tanah.

ÔÇ£Mas, hash hash hash hash ini apa laghi? Aku ndak kuat hash hash hashÔÇØ ucapnya sedikit tersengal

ÔÇ£Katanya pengen gaya? Atau udahan saja mbak?ÔÇØ ucapku dengan senyuman nakal, entah sekarang aku menjadi sedikit berani dalam berkata-kata. Mbak maya menggelengkan kepalanya.

ÔÇ£Terserah mash aryah hash hash pokoknya aku nurut mash mau diapakan sajah hash hash hash.. jadi lonthemu aku juga mauh mashhh… enak owk… hash hash hash….ÔÇØ ucapnya tersengal-sengal

ÔÇ£Kalau lonthe enggak mbak, aku pengennya mbak maya jadi wanita lemah lembut yang nurut sama akuÔÇØ ucapku sedikit nakal ke mbak maya

ÔÇ£Iya… mashhh terserah mash aryahhhh….ÔÇØ balasnya

Perlahan aku pegang pantat indah mbak maya dengan perlahan dan lembut. Kubuka sedikit dan kumasukan dedek arya ke dalam vaginanya. Tiba-tiba tangan kanan mbak maya memegang dedek arya dan mengarahkannya. Dan blesss… masuklah dedek arya kedalam rongga kenikmatan mbak maya. Perlahan aku tekan dedek arya ke dalam dan lebih dalam membuat kepala mbak maya terdongak keatas dengan mata terpejam. Akupun mulai menggoyang dengan penuh semangat dengan kedua tanganku berpegang pada pinggang mbak maya.

ÔÇ£Aiiishhh ah ah ah ahaffttttttthhhhh oueh ouoh ouh ouwwwhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Terushh mas enak…. kontol mas enak…. dalemmmhh bangethhhhh oufthfttffffffhhhhhhh… kenthu aku mash…. ouwhh… kenthu aku… ouwhhggghhh yang dalemmm massshhhh….ÔÇØ rintihnya

ÔÇ£Tempik mbak maya juga enakhhhh ahhhhhhhhhhh tambah sempithhh aaaaahhhÔÇØ ucapku

Tiba-tiba terbesit rasa kangen terhadap Ibuku, bu dimana Ibu sekarang, aku benar-benar kangen. Setiap aku melakukannya dengan wanita selain Ibu aku kurang bisa menikmatinya walaupun sebenarnya aku butuh. Kucoba melupakan apa yang terbesit di dalam pikiranku, kucoba konsentrasi untuk memuaskan wanita yang sedikit berubah menjadi liar ini. kugoyang semakin keras dan semakin cepat, membuat mbak maya semakin merintih kenikmatan karena dedek aryaku.

ÔÇ£Aaah aaah mashhh…. terussshhh mashhh…. kocok tempikkuhhhh enaaaaakkkhhhh ouwwwhhhh… ya gitu mashhh teruuussssshhhhh…. tempikku keenakannnnhhh ahhhhh… ÔÇØ

ÔÇ£Kontol mash Arya enak… ouwwwwwwwwwhhhhh…. nusuk dalem banget tempikku uwenaaakkk aaaakkkhhhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Tempiku enak di goyang mas Aryyaaaaaaahhhhh….ouefth… aisshhhhh…. aku pengen dikenthu teruusssshh….ouuwwhhh… kenthu… enakk kenthu sama mas aryyaaaaaaaaahhhh….ÔÇØ

Aku hanya terdiam dengan nafasku semakin tersengal-sengal. Mendengar rintihan mbak maya semakin meracau, dengan sigap aku membungkuk dan memeluk mbak maya dengan kedua tanganku meremas susu mbak maya. Memang ketika dalam posisi ini hentakanku kurang begitu keras tapi aku tak tahan melihat susu mbak maya yang terlihat dari samping walaupun terlihat sedikit itu hampir jatuh. Kupeluk erat tubuhnya dengan kedua tangan meremas kedua susunya.

ÔÇ£Ayo mashh ter….rushh…. ahhhhhÔÇØ

ÔÇ£Kenthu…. kenthuuuuhhhh… tempikkuhhh mashhhh….ÔÇØ

ÔÇ£Aku pengenhhh mbokhhh kenthuhhhhh ter…russsshhh aahhhhhhhÔÇØ

Lama aku menggoyang tampak tubuh mbak maya semakinliar bergoyang ke kanan dan kiri. Kulepaskan pelukanku. Kupegang pinggang mbak maya, ku hentakan lebih dalam dan lebih keras lagi. Mbak maya hanya menjerit nikmat.

ÔÇ£aaaaaaaaaaaaaahh aaaaaaaaaaahhh……ÔÇØ

ÔÇ£kontol enaaaaaaaakkkkhh…..ÔÇØ rintihnya semakin gila dan liar

ÔÇ£aa…..akkkk…kuh…. maa…..auh….kel…ah ah ahha… luar mashhh…..ÔÇØ

ÔÇ£lebihhh kencenghhhh aaaaaahhh……ÔÇØ rintihnya menuju puncak, aku hanya mampu menengadah keatas sambil terus menggoyang menikmati setiap sensasi yang diberikan oleh vagina mbak maya.

ÔÇ£aaaaaaaaaaa……aaaaaaaaaaaaa……ufthhhhhhhhhh hhhhhhÔÇØ

Terasa lilnangan air hangat dari vagina mbak maya, tampak mbak maya kemudian menghela nafas yang panjang. Aku berhenti sejenak, mbak maya kini mencoba berdiri aku memeluknya dengan sedikit membungkuk dengan posisi dedek arya masih tertancap didalam vaginanya. Mbak maya kemudian menoleh kebelakang dengan mulut terbuka langsung aku daratkan ciuman pada bibir manisnya.

ÔÇ£hmmmm….mmmmm… mas enak…. mas, bapak ma suamiku ndak pernah bisa buat aku gila seperti iniÔÇØ ucapnya lirih

ÔÇ£Mbak, lagi ya….ÔÇØ ucapku penuh harap agar aku bisa segera selesai, mbak maya hanya menganggukan kepalanya saja. Kutarik tubuh mbak maya ke tengah-tengah diantara kamar dan kamar mandi secara perlahan dan tetap aku cium bibirnya tanpa harus melepas dedek arya. Kuarahkan pandangan mbak maya menuju sawah dan bebukitan yang pernah aku lihat ketika aku pertama kali berada di belakang rumah pak roto ini. Dengan segera karena aku sudah sedikit merasakan sensitif pada ujung dedek arya, aku posisikan mbak maya agak sedikit menungging dan kedua lengannya aku pegang dengan kedua tanganku.

ÔÇ£Mbak, belum pernah main sambil lihat pemandangan kan?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Belum mas, mas arya bener-bener buat mbak gila, ini pertama kalinya masÔÇØ jawabnya

Tanpa babibu langsung aku menggoyang tubuh mbak maya dengan sangat keras. Pada goyangan pertama aku hentakan dedek arya dengan sangat keras kemudian aku memaju mundurkan pinggulku dengan secepatnya agar aku bisa mendapatkan puncak kenikmatan.

ÔÇ£Aisshhhh… teruuusssshhhhhh terusssshhhh mas…..ÔÇØ

ÔÇ£Enakkhhhh aish ufthh…. tempiku keenakkkkkhhhhaaaannn aaaahhhh… kontolmuwh aahh aahh aahh aku cinta kontolmuwh massshhhhh…ÔÇØ

ÔÇ£Kontolmu bikin ngilu tempekkkuuuuhhh masshhhh aaaaaaaaaaaaahhhhhhÔÇØ

ÔÇ£Aku meh methu maneh mashhhhh (Aku mau keluar lagi)…. aduhhhh aishhhhh aftttthhhh aaaaaaaahhhhhhÔÇØ

Aku semakin menggila kurasakan denyut nadi dedek arya berdetak semakin keras. Kupercepat goyangan pada pinggulku, semakin cepat dan cepaaaaattt! Ya harus cepat, aku sudah tidak tahan, aku ingin segera mengeluarkannya di tempik wanita ini, wanita pemuasku ya aku harus segera mengeluarkannya! Ibu aku kaengeeeeeeeeeeeeen banget sama Ibu…..

ÔÇ£Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh………….ÔÇØ teriak mbak maya

Crooot crooot crooot croooot crooot crooot croooot crooot crooot croooot crooot crooot croooot

Dan keluarlah lahar panas dari dedek arya meledak membasahi vaginanya, mebasahi rahim mbak maya. Aku kemudian kembali memeluknya dan kuposisikan mbak maya sedikit berdiri. Kedua tanganku meremas susu mbak maya dan aku menciumnya. Mbak maya yang tidak kuat lagi akhirnya roboh jatuh ke bawah dengan posisi seperti orang merangkak.

ÔÇ£Hah Hah Hah mas… baru kali ini enak banget hash hash has….ÔÇØ ucapnya lirih, kulihat dedek arya masih menegang dengan sisa cairan yang mengalir di batangnya dan sedikit dari lubang kencingnya

ÔÇ£Mbak dibersihkan pakai mulut mbak…ÔÇØ ucapku kepada mbak maya, tanpa menjawab mbak maya kemudian bangkit dan berlutut dihadapanku. Kemudian dia mulai menjilati sisa-sisa cairan kenikmatan kami di batang dedek arya, aku masih berdiri dan menyaksikan itu seakan-akan tak percaya bahwa selama ini sudah ada 3 wanitab takluk olehku tanpa aku meminta mereka melayaniku.

ÔÇ£Mbak, tadi keluar di dalam, mbak ndak takut hamil hash hash hassÔÇØ ucapku sedikit tersengal

ÔÇ£Malah aku pengen dihamili mas arya hi hi hiÔÇØ ucapnya sambil menghentikan sejenak jilatannya

ÔÇ£Waduuuuuuuhhhhh…..ÔÇØ ucapku, memang sudah tergila-gila sama dedek arya mungkin mbak maya sampai bisa bilang seperti itu.

ÔÇ£mbak… ndak takut ketahuan tadi teriak keras-keras…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Dah terlanjur mas, kalau ketahuan ya mau gimana lagi mas, lagian ini malam hari tadi mbak maya kesini juga sudah jam 12 malam, orang sudah pada tidur sekalipun dengar ya paling mereka anggapnya tetangga lagi main hi hi hi hi hash hash hash hasÔÇØ ucapnya kemudian mengulum batang dedek arya

Aku masih berdiri dan kulihat dunhill tergeletak, dengan sedikit membungkuk aku kemudian ambil dubhill yang didalamnya sudah ada korek itu. Kusulut satu dan ku jatuhkan lagi. Sambil berdiri dan merokok dunhill kupandangi sawah, bukit dan bulan yang bersinar terang itu. Dengan posisi itiu aku merasa semakin gagah karena ada seorang wanita yang sedang mengulumi, menjilati dan membersihkan dedek arya hingga dedek arya tertidur dalam lelapnya. Aku gagah dengan sinar rembulan menyinari kami berdua.

Mbak maya kemudian bangkit dari berlututnya, rokok dunhill telah habis. Dia kemudian memelukku dengan wajah manjanya dia minta bibirnya dipuaskan oleh bibirku. Lama kami berciuman lama kami berpelukan, kami pun menyudahinya. Kugendiong mbak maya untuk aku kembalikan ke dalam rumah tak lupa mengambil jarit yang dia pakai sebelumnya. Aku berjalan dengan menggendong mbak maya ke pintu belakang. Kemudian mbak maya membuka pintu dengan posisi masih aku gendong

ÔÇ£Mas, aku diantar sampai kamar ya?ÔÇØ ucapnya dengan kecupan, aku hanya mengangguk dan kuantar sampai kamarnya

ÔÇ£Mbak, lha isti kemana?ÔÇØ bisikku

ÔÇ£Aku titipin sama mertua masÔÇØ ucapnya sambil aku merebahkan tubuhnya

ÔÇ£makasih ya mas, kalau mas mau lagi tinggal bilang mas, biar mbak maya semakin rajin merawat tubuh hihihiÔÇØ ucapnya lirih, aku kemudian bangkit untuk meninggalkan mbak maya

ÔÇ£Mas salam perpisahan dulu sama kontol masÔÇØ ucapnya, dan sedikit menarik pinggangku, mbak maya mengulum dedek arya yang sedang tertidur

ÔÇ£Sudah mbak jangan lama-lama nanti bangun lagi he he heÔÇØ ucapku, ternyata mbak maya tidak melepaskannya dan masih mengulumnya

ÔÇ£Kalau bangun bisa pingsan aku mas hi hi hiÔÇØ ucapnya, tanpa dia sadari dedek arya bangun kembali

ÔÇ£Aduuuhhh mash kok bangun???ÔÇØ ucap mbak maya

ÔÇ£Sudah dibilang jangan lama-lama, sekarang tanggung jawab lagi mbakÔÇØ ucapku sembari naik ke tempat tidur dan memposisikan diriku di tengah-tengah selangkangannya

ÔÇ£Mas, sudah mashhh mbak maya ndak kuat hash hash hash…ÔÇØ ucapnya dengan nafas sedikit tersengal-sengal dan tangannya menutupi vaginanya

ÔÇ£Ssssttt… katanya mau jadi lontheku, ya nurut sama aku to ya…ÔÇØ ucapku sedikit nakal, mbak maya kemudian tersenyum nakal dan membuka kedua tangannya ditaruhnya kedua tangan itu di atas kepalanya.

ÔÇ£Pasrah aku mash… dah ndak kuatt…ÔÇØ ucap mbak maya, aku kemudian memasukan dedek arya, kedua kakinya aku letakan di atas bahuku

ÔÇ£eeeehhhhhhhhhmmmm……….ÔÇØ rintih mbak maya sambil satu tanganya menutupi mulutnya

ÔÇ£Siap mbak?ÔÇØ ucapku berbisik dengan senyuman nakal

ÔÇ£Siap ndak siap kudu siap mas, lha wong sudah masuk ditu terongnyaÔÇØ bisik mbak maya dengan wajah sayu penuh kelelahan, tubuhnya tampak layu dengan butir-butir keringat yang masih tersisa membasahi seluruh tubuhnya.

Aku kemudian mulai menggoyang secara perlahan di vagina mbak maya. Melihat mbak maya yang tampak kelelahan aku memepercepat goyanganku, tangan mbak maya kemudian beralih keselangkanagnya. Mencoba menahan gempuran pinggulku yang memaju mundurkan dedek arya. Buah dadanya tercepi kedua lengannya tampak semakin membusung indah dengan goyangan naik turun yang dia dapatkan dari dedek arya. Wajahnya tampak seperti orang kesakitan, terpejam dan menggeleng ke kanan dan kekiri. Kenikmatan birahi yang dia dapatkan membuatnya menggigit bibir bawahnya. Aku masih menggoyang dengan keringat semakin mengucur, suara decit ranjang mbak maya tidak membuatku menghentikan goyanganku. Aku sudah tidak peduli lagi dengan pak roto yang ada di kamar sebelah, sekalipun aku tidak peduli aku tetap menahan setiap desahan-desahan dari mulutku. Mulut mbak maya terus menggigit bibir bawahnya sambil menahan setiap desahan ingin keluar dari mulutnya.

ÔÇ£ehhhhmmmmmm…. erggghhhhhh…. erggghhhhhh…. erggghhhhhh…. erggghhhhhh….ÔÇØ rintihnya tertahan dengan kepala yang terus bergerak menoleh kekanan kekiri kadang menengadah ke atas

Melihat posisi mbak maya yan hanya bisa memjamkan mata dengan kedua tangan yang seakan-akan menahan laju goyangan pinggulku (walau sebenarnya tidak menahan) dan susu mbak maya yang membusung itu membuat nafasku bertambah terengah-engah. Aku turunkan kaki mbak maya tepat di pinggangku lalu aku memeluk tubuhnya kedua tangan mbak maya kemudian menelusup diantara ketiakku dan memelukku erat. Kepalanya tepat pada bahu kananku, wajahnya sekilas masih tampak menahan jeritan nikmat.

ÔÇ£massshh… mbak dah ndak kuathhhh urggggghhhh….ÔÇØ bisiknya pelan di telinga kananku

ÔÇ£sebentar lagi mbakÔÇØ ucapku di telinga kanannya sembari menciumnya

Aku tak menghentikan goyangan tubuhku, aku masih memompanya sumur mbak maya ini. aku terus memompa berharap menemukan sumber air yang segera mengucur keluar dari sumurnya. Jepitan kaki mbak maya semakin kencang pada pinggangku, kucuran keringat berjatuhan dari tubuhku dan bersatu dengan keringat mbak maya. Hawa panas tubuh mbak maya sangat terasa dengan bumbu kekenyalan susunya yang menyentuh pada bagian dadaku. Gesekan antar kulit dedek arya dan liang senggamanya sangat terasa llicin dan semakin hangat, otot vagiananya tampak seperti menjepit secara perlahan seakan-akan memberi tanda bahwa sumber mata air itu akan segera muncul dengan usaha memompaku. Desahan tertahan tampak terdenganr ditelinga kananku membuat. Aku menciumi pipi kanan mbak maya yang masih terpejam karena kelakuan nakal dari dedek arya.

ÔÇ£Mashh… sudahhhh aku ndak kuathhh… mauh keluarhhh….ÔÇØ bisikan rintih kenikmatan, kemudian aku menoleh sedikit kerahnya yang masih terpejam karena kenikmatan ini.

ÔÇ£Sama mbak, sebentar lagihhh… hmmmmmerrrrggghhhhh…..ÔÇØ ucapku sambil terus menggoyang. Sementara aku masih menggenjot, tiba-tiba tubuh mbak maya bergerak tak terkontrol, melengking membuatku menghentikan sebentar goyangan pada pinggulku. Kedua kakinya mengapit dan menekan pinggulku sangat keras.

ÔÇ£Aku keluarrhhhhhhhhh… enakkkh mashhh…. aahhhhhhhhhhhhÔÇØ bisiknya lirih ditelinga kananku

Akhirnya keluar juga sumber mata air itu, Aku yang hampir menuju puncak gemilang cahaya eh menuju puncak kenikmatan itu kembali menggenjot, memompa, menggoyang pinggulku kembali.

ÔÇ£aduuuhhh mashhh sudaaahhhhhh aku ndak kuathhh…..ÔÇØ ucapnya sangat lirih untuk didengar

ÔÇ£Ini sebentar lagihhh………..ÔÇØ

ÔÇ£Aku keluar mbakkkkhhhhh…….ÔÇØ bisikku lirih ditelinganya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Semburan kenikmatan itu aku keluarkan dalam posisi konvensional yang sangat menggairahkan. kupeluk tubuh mbak maya dengan sangar erat, mbak maya membalasnya dengan sangat erat pula. Aliran nafas kami yang berlomba-lomba mendapatkan oksigen seakan-akan bersatu untuk saling memberi kehangatan. Kupeluk tubuhnya erat, aliran butir-butir keringatk mengalir dan bersatu dengan tubuh mbak maya. Nafas ku dan mbak maya masih belum teratur dan masih terus berpelukan. Lama kami berpelukan menunggu kekuatan pada tubuhku kembali.

Aku kemudian bangkit dari pelukan itu, kutatap mbak maya yang wajahnya masih terbungkus keringat. Matanya terpejam seakan-akan ingin segera terlelap dalam tidurnya. Aku kemudian menyeka keringat pada bagian keningnya lalu wajahnya. Ku turunkan kepalaku dan kucium bibir indahnya itu. Dedek arya masih dalam penguasaan liang senggamanya. Lama kami berciuman dan kulihat mbak maya tetap tidak membuka matanya, karena mungkin terlalu lelah. Aku kemudian bangkit, kuposisikan diriku diatas tubuh mbak maya kemudian aku kangkangkan pahaku tepat diatas dadanya.

ÔÇ£Mbak, arya pengen mbak bersihin ini?ÔÇØ ucapku sambil menyodorkan dedek arya ke mulutnya

ÔÇ£Hash hash hash hash hash hash… emmmmmm slurppp… emmmm…ÔÇØ tanpa berkata-kata dan sedikit membuka matanyambak maya kemudian mengulum batang penisku sebisanya dengan sisa tenaga yang tersisa dari tubuhnya. Setelah semuanya berakhir aku kemudian bangkit dari dada mbak maya, dan duduk sebentar di sebelahnya. Kupandangi mbak maya dengan wajah kemenangan lalu aku kecup bibir indahnya.

ÔÇ£Makasih ya mbak….ÔÇØ ucapku kepda mbak maya di telingan kanannya

ÔÇ£Hash… hash… hash… samahh ÔÇôsamahhh mashhhh….ÔÇØ ucap mbak maya sembari membuka matanya dan melihatku. Tergurat senyum indah dari bibirnya. Aku kemudian bangkit mengecup sebentar keningnya dan melangkah keluar dengan ketelanjanganku ini.

ÔÇ£Dadah mashhh hash hash arya ganteng, dadahh jugahhh kontol aryahhh gantenghhh heh hash hash…ÔÇØ ucapnya sambil membusungkan susunya dengan segenap kekuatanya

ÔÇ£Dadah mbak maya montok semok ÔÇ£ ucapku sambil meremas kedua susunya

Aku kemudian meninggalkan mbak maya di dalam kamar, terlihat kamar pak roto tertutup rapat dan hanya ada suara dengkuran saja. Kututup pintu dan ku melangkah mengambil dunhillku yang berada di tanah. Aku menuju kamar kututup pintu dan kurebahkan tubuhku. Sial besok sudah hari ke-14 dan aku harus pulang, ah parah padahal lagi enak-enaknya begitu bathinku berkata. Tapi mau apa lagi kalau harus lama disini aku juga tidak bisa karena aku masih punya misi dan aku kangen sama Ibu. Ibu apa kabarmu disana? Aku kemudian terlelap dalam tidur telanjangku hingga pagi meng-upper cut kepalaku.

Aku terbangun, kupakai pakaianku kulihat jam pada telepon cerdasku menunjukan pukul 08:00, gila aku kesiangan. Aku kemudian bangkit dan segera aku mandi, ketika aku membuka pintu mbak maya sudah berada di depanku membawa sarapan. Aku pun tertahan disana, kami berbincang-bincang dan kukatakan kepadanya kalau aku akan pulang hari ini karena badanku sudah mendingan karena mbak maya yang merawatnya. Mbak maya pun tersenyum dan bilang kepadaku agar nanti waktu pulang hati-hati. Mbak maya menemaniku sarapan dikatakannya bapak dan ibu akan pulang nanti pas jam setengah sebelas, jadi kalau mau pamit aku harus menunggunya. Setelah makan pagi aku kemudian beranjak ke kamar mandi.

Ketika berada dalam kamar mandi aku teringat jika hari ini aku akan pulang, dengan menggunakan handuk yang masih melilit pinggangku aku keluar. Aku mencari mbak maya di dalam rumah, kutemukan dia ada di dapur sedang mencuci piring. Aku kemudian menariknya dengan memaksa untuk mengikutiku. Kutarik menuju dalam kamar mandi.

ÔÇ£Eh eh eh…. mau ngapain mas?ÔÇØ ucapnya ketika sudah berada dalam kamar mandi

ÔÇ£Mau ini….ÔÇØ ucapkku yang dengan kasar langsung melolosi pakaian mbak maya. Mbak maya tampak tidak meolaknya

ÔÇ£Mbak maaf kalau lama-lama nanti bapak sama Ibu keburu pulangÔÇØ ucapku yang disambut ciuman pada bibirku. Kami berciuman sebentar dan langsung aku posisikan mbak maya menungging dengan berpegangan pada pinggir bak mandi. Tanpa basa-basi aku langsung menusuk vagina mbak maya tentunya dengan bantuan tangan mbak maya dan sleeep…. ah hangat.

ÔÇ£Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhh…. .. sakit mas pelanÔÇØ

ÔÇ£maaf mbak, keburu bapak ibu pulang….ÔÇØ dan aku menggoyangnya dengan kasar

ÔÇ£Aduuuuuh…. mashhhh……ÔÇØ

Aku semakin cepat menggoyang karena waktuku tidak banyak, semakin cepat menggoyang untnuk meraih kenikmatan. Lama aku menggoyang tubuhnya, lama pula aku meremasi kedua susunya itu dalam posisi membungkuk dan memeluknya

ÔÇ£ouftthhhh…. terus mash…. kontolmuhhh…. bikin aku gilaaahh mashh… ahhh aku suka kontolhhh ouwhhhh mashhh aryaaahhhh…. ooooooohhhhhhhÔÇØ

ÔÇ£bikin aku cepeth keluarhhhh…..ÔÇØ rintihnya

ÔÇ£Iya mbak, aku juga sudah kerasa ngilu mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£keluar mbak… aku keluaaaaaaaaaaaarrrr…..ÔÇØ jertku tertahan

ÔÇ£Aku juga massshhhh aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhÔÇØ rintihnya

Dan dalam waktu dan tempo cepat akhirnya aku bobol dan muncrat ke dalam vagina mbak maya, kurasakan aliran cairan hangat kami. Kutarik tubuh mbak maya dan aku kemudian berpelukan kucium bibirnya. Dengan mengambil gayung dibelakang tubuh mbak maya, aku siram tubuh kami berdua dengan air. Mbak maya dengan telaten memandikan aku, setiap bagian tubuhku disabuninya tak lupa pada bagian dedek arya dikulumnya. Aku juga melakuakn hal yang sama setiap tubuhnya aku sabuni dan pada bagian memeknya aku jilati. Acara mandi selesai dan aku kembali kekamar begitu pula mbak maya. Aku berberes kamar dan kembali kedalam rumah lalu duduk sambil menunggu kedatangan pak roto. Mbak maya tampak menyuguhkan aku teh dan susunya yan menepel didadanya walau terbungkus, tapi bungkusnya terlalu ketat dan sempit.

ÔÇ£makasih mbak…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£sama-sama mas arya ganteng…ÔÇØ jawab mbak maya

ÔÇ£ini tehnya boleh dicampur sama susu ndak mbak?ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Boleh sich, tapi tuh yang dibawah sana… haloooo… nanti pasti minta masuk ke sarang hi hi hiÔÇØ jawabnya

ÔÇ£Beneran nich…ÔÇØ ucapku

ÔÇ£Jangan mas ah… besok-besok saja, bisa patah tulangku mas….ÔÇØ

ÔÇ£semalam saja aku dah mau pingsan tapi enak hi hi hi…ÔÇØ ucapnya sedikit nakal, wajahnya masih tampak lelah tapi senyumannya seakan-akan tak pudar kemanisannya

ÔÇ£makanya jangan nggoda gitu he he he….ÔÇØ ucapku

Lama kami mengobrol yang nakal-nakal akhirnya kulihat pak roto dan bu roto baru saja masuk dalam rumah. Aku kemudian menyampaikan rasa terima kasihku dan kuserahkan bungkusan berisi uang sisa dari uang yang aku serahkan kepada penduduk desa banyu biru. Pak Roto sangat berterima kasih dengan bingkisan itu kemudian memelukku dengan erat. Setelah aku berpamitan dengan mereka aku menaiki REVIA disaat itu mbak maya menghampiriku.

ÔÇ£Mas, ini jangan jadi yang terakhir ya?ÔÇØ ucapnya berbisik kepadaku

ÔÇ£Ya kalau bisa ya mbak… makanya mbak maya main ke daerahku nemenin suaminya biar ketemu aku mbakÔÇØ ucapku berbisik kepadanya

ÔÇ£Iya kapan-kapan, pokoknya yang terakhir, aku dibuatkan momongan ya mas hi hi hiÔÇØ bisiknya kepadaku sembari meninggalkan aku dan berdiri di samping Pak dan Bu Roto.

ÔÇ£Heeeeh!????ÔÇØ ucapku, yang kemudian mbak manya memberi secarik kertas berisi nomor Hpnya. Aku kemudian mengantonginya dan kulepaskan tanganku ke atas sebagai salam perpisahan kepada mereka.

Aku pulang… aku pulang…. dalam perjalanan pulang pikiranku kembali kalut dari kakek nenek yang sudah tiada ditambah dengan perlakuan Ayah. Dalam perjalanan pulang yang menempuh waktu yang cukup lama itu akhirnya aku sampai pada daerah perkotaan tempat aku tinggal. Sebentar aku mampir ke sebuah warung nasi kucing didekat daerah rumahku yang mana menjadi langgananku ketika aku sedang sendiri di rumah. Perbicangan dengan mereka orang-orang yang aku kenal membuat rasa lelahku sedikit hilang. Disela-sela obrolan aku kemudian sms mbak maya, untuk memberitahukan ini adalah nomorku. Dan mbak maya langsung menanggapinya, cukup sebentar sms-an kami karena aku mengakhirinya dan kemudian pulang menuju rumah. Dan kutemukan rumah, sebuah rumah dimana aku tinggal. Ketika aku masuk kerumah…

ÔÇ£KAMU INI DARI MANA SAJA! PERGI TIDAK BILANG-BILANG! LIHAT DARI KEMARIN SAMPAI DIRUMAH IBU KAMU KHAWATIR!ÔÇØ bentak Ayahku, aku hanya tertunduk dan membisu. Tumben ayah mau menanyakan kabarku?? Tapi kenapa marah-marah, biasanya aku pergi tak pamit juga dia tidak memarahiku.

ÔÇ£JAWAB!ÔÇØ bentak ayahku kembali

ÔÇ£Arya, jalan-jalan Romo…ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£DASAR BAJINGAN KAMU INI!ÔÇØ Bentaknya sembari meninggalkan aku

Aku kemudian melangkah masuk, tak kudapati Ibu. Aku kemudian naik keatas menuju kamarku. Kulihat Ibu memakai Kaos longgar mirip dengan baby doll dengan belahan dada yang tidak begitu kebawah, lenganya hanya tertutupi sedikit. Bagian bawah mengenakan celana ketat selutut. Ibu kemudian menghampiriku, rasanya aku sudah kangen sama Ibu dan Ibu sekaran sedang menyambutku.

PLAK….

Aku ditampar oleh Ibu dan aku tertunduk diam di hadapannya. Kudengar Ayah sedang berteriak-teriak tidak karuan dengan orang yang berada dalam telepon genggamnya dan dia melangkah menuju ke pekarangan rumah. Kurasakan Ibu masih berdiri di hadapanku dengan hawa kemarahan yang sangat besar. Aku masih terdiam dan tertunduk.

ÔÇ£Bu…. Maaf….ÔÇØ ucapku lirih

ÔÇ£Pergi terus saja, tidak usah pulang sekalian, sekalian saja main sama perempuan-perempuan diluar sanaÔÇØ ucapnya sedikit meninggi. Aku hanya terdiam dan tertunduk, aku kemudian mencoba menggenggam lengan tangan Ibu tapi ditepisnya.

ÔÇ£Urus diri kamu sendiri…ÔÇØ ucapnya sambil meninggalkan aku, Ibu kemudian keluar dan ketika Ibu sudah berada didepan pintu kamarku.

ÔÇ£Ibu tidak tahu selama ini aku mengalami apa, dan Ibu hanya marah karena tidak ada kabar dariku, apakah Ibu juga pernah menanyakan kabarku ketika Ibu berada dirumah tante ratna dan rumah kakek? Aku selalu tanya kabar Ibu tapi Ibu jarang membalasnya, Ibu kalau sudah punya yang baru bilang saja ke Arya, Arya terima!ÔÇØ ucapku kemudian menutup dan mengunci pintu

Dok Dok Dok Dok….

ÔÇ£Naaaak…. maafin Ibu naaaak…. buka pintunya…..ÔÇØ ucap Ibu di balik pintu

Aku masih kesal dengan sambutan Ibu kemudian berbaring dan merebahkan tubuh. Aku tidak menghiraukan ketuka pintu itu lagi, aku rasanya sudah benar-benar sangat kesal. Memang aku salah ketika aku pergi dan tidak mengabari Ibu dan Ayah, tapi kenapa mereka tidak menanyakan kabar aku ketika mereka sedang sibuk-sibuknya. Aku kemudian tertidur dalam mimpiku.

Tengah malam aku terbangun, kubuka buku-buku mata kuliahku dan aku belajar walaupun sedikit. Karena esok pagi adalah Ujian Akhir Semester aku mempelajari sesuai dengan apa yang harus aku pelari hingga mata ini tak mampu terbuka. Pagi hari aku terbangun, ketika aku keluar dari pintu kamar aku disambut oleh Ibu dengan senyumannya. Aku hanya melewati Ibu tanpa menggubrisnya, ibu mencoba menahan tapi tak kuhiraukan. Apakah dia tidak tahu betapa aku rindu kepadanya selama ini? Aktifitasku kembali seperti semula, makan pagi bersama keluarga dan berangkat menuju kampus. Ketika di dalam garasipun aku mengacuhkan Ibu tanpa memandangnya sedikitpun aku berangkat kuliah.

Selama 2 minggu aku manjalani Ujian Akhir semester dengan baik dan rasa kesal kepada Ibu. Tapi sebenarnya apa salah Ibu? Kenapa aku marah? Ya mungkin karena rasa kangenku selama ini kepada Ibu membuatku terasa sentimentil ketika harus mendapat perlakuan tidak menyenangkan ketika aku pulang. Padahal jika ditilik lebih dalam lagi sebenarnya kesalahan ada padaku. Tapi mau bagaimana lagi, aku tidak mau minta maaf sebelum Ibu yang meminta maaf, pokoknya harus seperti itu titik. Setelah dua minggu berlalu aku kemudian masih dalam posisi minggu santai menunggu yudisiumku (terima raport di kuliahan). Dan Yes! IP 3,75 aku dapatkan. Di sela-sela aku berada dikampus bersama teman-teman kampusku termasuk Rahman.

Kutakut mamaku marah… ku takut papaku marah… ku takut mereka marah karena terlambat sekolah… bunyi telepon dari BU DIAN! (percakapan di bawah ini yang bercetak miring adalah Bu Dian) aku langsung lari menjauhi teman-temanku dan bersembunyi di balik gedunng kuliah. Sambil menyalakan pasti tahulah apa rokokku, kuangkat telepon dari Bu Dian.

ÔÇ£Ya, halo selamat siang BuÔÇØ

ÔÇ£halooo… bagaimana kabarnya Ar?ÔÇØ

ÔÇ£Baik bu, bagaimana dengan bu dian?ÔÇØ

ÔÇ£Saya juga baik, Oh ya ini saya mau mengabari kalau KTI kita bakan dilombakan lagi ditingkat nasional karena kemarin kita masuk ke tiga besar, jadi ya mungkin kita harus bekerja ekstra keras lagi, bagaimana masih mau membantu?ÔÇØ

ÔÇ£Ohh… Siap Bu, sekarang Bu Dian dimana?ÔÇØ

ÔÇ£Sekarang saya masih di provinsi di luar pulau, jadi nanti kita saling email saja ya?ÔÇØ

ÔÇ£Oke bu siap, nanti di email saja bu, akan saya bantu kekurangan-kekuranganya dan saya mohon maaf tidak bisa membantu Bu Dian dalam presentasiÔÇØ

ÔÇ£Iya, tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf Ar, nanti kirimi email kamu yaÔÇØ

ÔÇ£Siap Ibu Dosenku…ÔÇØ

ÔÇ£Kamu itu apaan sich, ya sudah, dah dulu yaÔÇØ tuuuuuut…

Bu Dian.. Oh Bu Dian andai saja kamu seumuran denganku pasti langsung aku tembak dirimu dengan M-16ku. Kuselesaikan hisapan-hisapan rokokku di belakang gedung, memang sich aga berbau pesing mau bagaimana lagi pada ujung gedung ada kamar mandi dan sekarang aku tepat di belakang gedung yang dibelakangku persis adalah kamar mandi. Kunikmati hisapan demi hisapan sambil duduk merenungkan masalah demi masalah yang menghujaniku. Kukirim emailku melalui BBM ke Bu Dian

To : Bu Dian
Email saya Bu, [email protected]
Dari :
Lebay….
Terima kasih
Kubalas dengan ucapan sama-sama ke BBM bu Dian dan tak ada balasan lagi darinya. Tumben pakai emoticon senyum yang berkedip ada apa dengan Bu Dian?huoooooooo…… aku masih terduduk selonjor dengan bau pesing yan mengitari hidungku. Tiba-tiba aku mendengar suara perempuan yang aku kenal.

ÔÇ£Halo Om Nico, apa kabar? Ada apa ya om?ÔÇØ

ÔÇ£Tidak Om, dia sedang sama teman-temannyaÔÇØ

ÔÇ£Kurang tahu om, memangnya kenapa om?ÔÇØ

ÔÇ£APA?! Sebentar om akan saya cek terlebih dahulu karena I-Bankingnya saya tahu passwordnya, nanti saya telepon lagi omÔÇØ

Ku dengar suara perempuan yang aku kenal di samping gedung tepat di depan kamar mandi, om nico? Apakah om nico-nya Rahman? sebenarnya aku penasaran dengan suara perempuan ini tapi siapa jika sekarang aku memunculkan diriku, bisa gasssssswat ini. Aku tetap menahan keinginanku untuk mengintip siapa wanita tersebut. Bayanganku terus merangkai setiap serpihan-serpihan wajah dalam ingatanku. Kudengar lagi suara perempuan itu lagi.

ÔÇ£Hal Om NicoÔÇØ

ÔÇ£setelah saya cek ternyata tabungannya hanya berkisar di angka 20 juta omÔÇØ

ÔÇ£Kelihatannya Rahman tidak memiliki tabungan selain yang ini om, karena yang saya tahu Cuma tabungan ini saja dan selama ini dia hanya mengambil uang lewat ATM yang saya pegang omÔÇØ

ÔÇ£iya om siap, kalau nanti ada kabar lagi akan saya kabariÔÇØ

Kudengar langkah menghilang dari tempat suara tadi. Segera aku mengintip ke arah Kamar mandi tadi untuk melihat siapa sebenarnya wanita tadi.

ÔÇ£AJENG! WHAT HELL IS GOING ON IN HERE!??? WHAT THE FUCK!ÔÇØ bathinku berteriak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*