Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love

Wild Love

Sebuah Cerita Cinta dan Sex Ibu Anak : Wild Love

Episode 1

Pagi yang cerah di kota yang masih kental dengan adat dan budaya daerahya. Sesosok wanita lemah gemulai nan lembut menaiki tangga rumah menuju lantai dua. Ya wanita dengan menggunakan kebaya biru dengan jarit berwarna coklat bermotif batik keris.

Tok tok tok tok….

ÔÇ£Nak, udah selesai apa belum?ÔÇØ, tanya ibu kepadaku.

ÔÇ£udah bu, sebentar sedang ganti pakaian, sebentar gih buÔÇØ, balas ku dari dalam kamar.

ÔÇ£ya udah cepat gih, sarapan sudah siap, segera sarapan sudah jam setengan tujuh dan ditunggu romo kamu di bawahÔÇØ, balas ibuku.

ÔÇ£inggih buÔÇØ, balasku.

Segera ibuku kembali ke bawah menuju ruang makan yang tentunya sudah ada romo di bawah. Aku mempercepat ganti pakaianku , dan jebret jebret langsung turun ke bawah dengan sedikit tergesa-gesa. Jujur romo merupakan termasuk orang terhormat di wilayah kota ini, dan hmmm aku takut juga jika ntar romo menasehatiku panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

ÔÇ£Pagi RomoÔÇØ, sapaku kemudian mencium tangan romoku

ÔÇ£Pagi nangÔÇØ, balas romoku, Romo ku mengenakan pakaian putih dengan bawahan hitam layaknya seorang sales tapi bisanya kalau sudah di kantor
beliau menggunakan Jas hitam kebanggaannya.

ÔÇ£kamu itu harusnya bangun lebih pagi lagi dan cepat beres-beresnya, jangan merepotkan Ibumu, tiap hari harus naik ke kamarmu Cuma untuk ingatkan kamuÔÇØ, nasehat romo kepadaku.

ÔÇ£Inggih romoÔÇØ, jawabku sambil tertunduk, takut? Jelas aku emang paling takut ama romoku, walaupun kalo di ajak berkelahi aku yang menang tapi ya begitulah seorang anak yang patuh pada orang tua.

ÔÇ£pagi buÔÇØ, sambil melangkah ke arah ibuku kemudian mencium tangan ibuku.

ÔÇ£iya pagi, dah cepet sana segera makan gihÔÇØ, jawab ibuku, Ahhh Ibuku cantik, tampak seperti wanita berumur 27 Tahun, sangat cocok dengan kebaya birunya. Segera aku makan pagi bersama mereka tanpa sepatah kata keluar dari mulut kami. Tepat jam 7.00 aku pamitan kepada romo dan ibu untuk berangkat kuliah.

ÔÇ£romo saya berangkat duluÔÇØ, sambil mencium tangan romo yangkemudian aku ke arah ibuku

ÔÇ£saya berangkat dulu buÔÇØ, sambil mencium tangan ibuku dan sun pipi kanan dan kiriku dari ibuku.

Aku langsung melangkah menuju garasi rumah untuk menemui Revi motorku yang paling cantik dan aduhai. Tapi Ada yang aneh dengan pagi ini, motorku agak sedikit rewel aku starter bolak balik tapi tetap saja tidak mau menyala, mungkin harus utak atik sebentar. Aku menuju pintu garasi dan kubuka pintu garasi suapaya ada cahaya yang masuk, masak ngutak-atik Reva di tempat yang gelap, apa kata orang nanti. Aku buka bagian busi dan coba aku bersihkan. Selama utak atik di garasi aku mendengan percakapan Romo dan Ibuku. Jarak antara garasi dengan ruang makan memang agak sedikit jauh, hanya kedengaran suara mereka saja.

ÔÇ£Di-mas, nanti kang mas pulang agak larut malam ya mungkin pulang besok pagi mungkin juga pulang lusaÔÇØ, ucap romoku membuka pembicaraan

ÔÇ£Ada acara apa to kang mas?kok sekarang banyak sekali acara, acara kantor apa acara buatan sendiriÔÇØ jawab ibuku dengan nada agak sedikit marah

ÔÇ£ini acara kantor, ya mas berharap kamu mengerti, sekarang ini banyak audit dari pemerintah pusat, karena sekarang lagi marak-maraknya korupsi, ini kantor daerah kita mau di auditÔÇØ jawab Romoku

ÔÇ£halah paling juga kang mas mau main saja, bilang saja sudah tidak betah dirumahÔÇØ jawab Ibuku ketus

ÔÇ£aduh duh duh kok tambah cantik ini dimas-ku kalo lagi marah, begini lho untuk mempersiapkan dokumen-dokumen itu dibutuhkan waktu lama maka dari itu semua pegawai kantor dikumpulkan untuk mempersiapkan ditambah lagi juga ada penyamaan persepsi untuk semua jajaran pegawai biar nanti kalo ditanya auditor jawabannya serempak sama maka dari itu ada kemungkinan menginap bersama, kan kang mas kerja juga buat dimas dan anak lanang toÔÇØ jawab Romoku dengan penjelasan yang sangat detail.

ÔÇ£Ya udah pulang seminggu lagi juga tidak apa-apa Mas, terserah mas saja, kalo memang itu alasan Mas, diajeng Cuma berharap semua itu benar yang diucapkan sama Mas, ndak maen kemana-manaÔÇØ jawab ibuku sedikit ketus

ÔÇ£ha ha ha ha ya udah dimas, Kang Mas berangkat duluÔÇØ, jawab Romoku

Breeeeng breeeeng breeeeeeng….akhirnya si Revi udah bisa nyala, ah ternyata businya untung saja aku langsung bersihkan businya. Dengan sigap aku naiki tubuh Reva, dan siap untuk berangkat.

ÔÇ£ Romo, Ibuku sayang, anakmu paling ganteng berangkat dulu gihÔÇØ teriakku dari garasi

ÔÇ£iyo, ati-ati leÔÇØ jawab ibuku (ÔÇ£iya hati-hati nakÔÇØ)

Aku berangkat menuju Universitasku, Universitas yang terkenal di daerahku, ya Universitas Saberbari yang kepanjanganya adalah Universitas Satu Februari Baru Berdiri.

Apa sebenarnya percakapan tadi pagi itu, ah aneh sekali, tidak biasanya Ibu menjawab ketus setiap perkataan romo. Adakah masalah? Hmmm…..masa bodoh lah, sekarang aku harus sampai kampus dulu. Perjalanan ke kampus paling tidak memakan waktu 60 menit, aku tidak mau terlambat karena hari ini ada mata kuliah yang dosennya mempunyai insting membunuh. Akhirnya sampai juga aku di fakultas sains tempat dimana aku kuliah, tepatnya ditempat parkir. Ooops lupa….perkenalkan namaku Arya Mahesa Wicaksono seorang mahasiswa semester 5, umurku sekarang 20 tahun lebih sedikit, Jangan banyak-banyak ntar dikira mahasiswa semester dinosaurus. Seorang mahasiswa biasa dengan tampang yang biasa gantenng dan motor yang biasa kinclong setiap harinya. Tambahan lagi akademikku juga biasa dapat IP 3,5 yang paling parah aku adalah laki-laki biasa yang biasa jomblo sejak lahir. Mungkin biasa tidak punya daya tarik he he he he. Ibuku bernama Ayu Diah Pitaloka merupakan wanita keturunan karena Kakek dari Ibuku berasal dari Jerman dan Ibuku orang daerah asli. Romoku bernama Mahesa Wicaksono, ya itu memang nama belakangku tapi itu juga nama Romoku. Terus siapa yang berhak dengan nama itu? Ya jelas romoku lah, karena beliau lebih dulu lahir sebelum aku. Dan Revi? Penasaran ya? Dia sibodi montok dan menggariahkan, Revo Ireng (hitam) yang kemudian aku singkat Revi.
Kulepas Helm dan kutaruh pada spion kanan Revi. Dan tiba-tiba…..

Buuuuuuuuuk buk buk buk……………….

ÔÇ£Aduh….ÔÇØ akupun menoleh ke belakang

ÔÇ£Gila kamu kang, bisa-bisa patah ini lengan akuÔÇØ kataku.

ÔÇ£Ha ha ha ha….ente juga sich, tadi waktu ane panggil pas di gerbang masuk, main ngeloyor ajaÔÇØ jawab Rahman. Ya Rahman Kapoor, anak keturunan Indonesia-Arab-India, susah juga jelasinnya. Yang jelas Kakeknya orang Arab menikah dengan neneknya orang daerah asli, Kemudian Ayahnya menikah dengan wanita keturunan India, jadi ya namanya ada India-Indianya gitu. Rahman adalah sahabatku sejak pertama kali aku kuliah disini. Aku biasa memanggilnya Kang, karena dia 3 bulan lebih tua dari aku.

ÔÇ£ha ha ha…..biasa kang fokus sama jalan, biar tidak menabrak kangÔÇØ jawabku.

ÔÇØyaelah emangnya enten orang yang tertib ma lalu lintas? Helm aja ga SNI gitu ha ha ha haÔÇØ ejek rahman

ÔÇ£wah ini anak, apa tidak lihat tulisan segede ini di Helm aku?ÔÇØ sambil menunjukan stiker SNI berukuran hampir setengah helm yang ada di bagian belakang, helmku.

ÔÇ£Itu akal-akalan ente, ya udah ayo kuliah, udah hampir jam setengah sembilan, dosennya killer, ntar ditelan mentah-mentah kallo kita telatÔÇØ sambil merangkul bahuku dan mengajakku ke gedung kuliah tercinta.

Awalnya aku tidak begitu mengenal rahman, tapi sejak dia mengalami kecelakaan dan aku menolongnya dia semakin akrab dengan aku. Aku juga sering menginap di rumahnya, tapi beberapa kali aku menginap aku merasa pekewuh (sungkan) dengan keluarganya karena ada sesuatu yang selalu jadi pertanyaan dalam hatiku. Apa itu? Suatu saat pasti akan aku ceritakan.

Tapi ada yang sedikit membuatku agak sedikit kaku ketika di depan Rahman, Dia penyerobot cewek yang sebenernya menjadi targetku. Jengkel iya, marah iya, tapi dia sahabatku suka dan duka. Tak apalah lagian setelah si cewek itu setelah jadian dengan Rahman aku jadi tahu siapa cewek itu sebenarnya. Cewek Rahman matrenya minta ampun gan!, untung bukan aku yang nembak bisa berabe. Menghidupi si Revi aja ngos-ngosan. Perlu catatan aku memang dari keluarga yang lebih dari cukup tapi aku bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang, bahkan sebisa mungkin aku sedikit jajan agar uang sakuku bisa aku tabung, ya buat menghidupi si Revi kesayanganku itu.

Kembali ke masalah kuliah, permasalahan utama mahasiswa adalah kuliah dan berhadapan dengan dosen cantik tapi killer-nya minta ampun. Dosen itu bernama Ibu Dian, Dian Rahmwati. Dosen muda cantik dan hmmmm……..indah benar-benar Indah. Selama perkuliahan dengan Bu Dian, suasana kelas selalu tegang dan tahu sendiri bagaimana rasanya kuliah jika suasana tegang. Sialnya aku terlambat masuk ke kelas dan harus duduk di bangku terdepan. Nasib oh nasib. Bu Dian masuk ke ruang kelas kami. Da perkuliahan pun dimulai.

ÔÇ£Selamat pagi…ÔÇØ sapa bu Dian dengan senyum manis bak kedondong. Kecut dong? Iya memang ini dosen satu-satunya dosen yang tidak pernah senyum lepas ke mahasiswanya.

ÔÇ£SE…LA…MAT….PA…GI….BU….ÔÇØ jawab mahasiswa dalam kelas tersebut, mirip banget seperti anak TK.

ÔÇ£oke, kita mulai perkuliahan kitaÔÇØ lanjut Bu Dian.

Aku baru saja di ajar oleh Bu Dian ini mulai semester 5. Pertama kali melihat wajahnya aku cukup terkesima tapi setelah tahu judesnya minta ampun sama temen-temen yang lain. Jadi Hiiiii takut. Ada yang aneh? Pastinya ada, kalo enggak cerita ini cukup sampai disini dan tidak akan aku lanjutkan ha ha haha. Yang aneh, Selama perkuliahan dengan Bu Dian, kadang aku merasa ada yang memperhatikan, dan ketika aku melihat ke arah Bu Dian ya Bu Dian-lah yang selama ini memperhatikan aku. Takut? Iyalah takut…takut dapat nilai E. Kapan lulusnya coba kalo dapat nilai E, ngulang tahun depan? Semoga saja tidak. ketika kuliah berlangsung, Pernah Tatapan mata kami beradu ketika anak-anak sedang sibuk mengerjakan soal dari Bu Dian, aku kira Bu Dian akan memandangku dengan sinis atau dengan tatapan ala Batosai yang membunuh hanya dengan tatapan matanya saja, tapi yang aku dapatkan adalah senyuman lepas, senyuma ikhlas dari bibirnya, Indah sekali. Akupun membalas senyumannya dan kemudian kembali mengerjakan soal.
Dua setengah jam mata kuliah Bu Dian telah terlewati.

ÔÇ£Akhirnya selesai juga, kuliah neraka ini, neraka?ah untuk hari ini mungkin tidak senyuman tadi senyuman dari surga, andai aku bisa menyentuhnya, hmmmm…….ÔÇØ batinku

ÔÇ£Selamat siang, kuliah sampai disini dulu, tugas yang saya berikan saya harap kalian kerjakan dan dikumpulkan, bagi yang tidak mengerjakan, tidak perlu lagi mengikuti perkuliahan saya lagi mulai minggu depanÔÇØ Suara yang keras dari mulut Bu Dian.

ÔÇ£iya Bu….ÔÇØ jawab satu ruangan.

Kemudian Bu Dian berjalan menuju arah pintu, tapi dia menyempatkan untuk melirikku dan tersenyum. Oh….Apakah Dia tersenyum padaku? Aku hanya menunduk. Setelah kepergian Bu Dian dari kelas, ku di ajak oleh Rahman makan siang. Coba bayangin, tegang banget tadi waktu di kelas hampir mirip ketika aku nonton film porno sama-sama tegang. Ha ha ha……

ÔÇ£Ar…makan yuk, laperÔÇØ ajak Rahman kepadaku

ÔÇ£Oke Kang, tapi apa kamu tidak makan siang bareng pacar kamu kang?ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Dia kuliah Jam Sebelas tadi, Selesai jam setengah Dua, sama-sama kuliah 3 sksÔÇØ Jawab Kang Rahman.

ÔÇ£oooooo…….ÔÇØ selorohku

Kami makan siang di emperan jalan dekat dengan kampusku. Makan siang yang murah meriah euy keplok-keplok. Kami pun terlibat percakapan panjang mengenai tugas kuliah yang diberikan oleh Bu Dian.

ÔÇ£Gimana kalo malem sabtu ente tidur di rumah ane aja Ar, sekalian bikin tugas, ente kan pinterÔÇØ Rahman memulai percakapan.

ÔÇ£Oke Kang , tapi…..ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Ayolah ane kagak bisa ngerjain soal itu, kagak ada tapi-tapian ente harus menginap di rumah aneÔÇØ paksa Rahman kepadaku.

ÔÇ£Iya….ÔÇØ jawabku, kemudian memandang ke arah tak jelas (melamun).
Dirumahnya?, jujur saja ada perasaan aneh, rikuh (sungkan) ketika di rumah Rahman. Bukan masalah hantu atau setan yang bergentayangan dirumah Rahman tapi lebih ke seseorang yang berada di rumahnya.

ÔÇ£Ente masih ada kuliah Ar?ÔÇØ tanya Rahman membuyarkan lamunanku.

ÔÇ£Enggak Kang, kamu tahu sendiri aku ambil kuliah sama dengan kamuÔÇØ jawabku

ÔÇ£Oh Iya ya ha ha ha ha……Rokok ArÔÇØ menawariku rokok sambil menyulut rokok yang sudah ada di mulutnya

ÔÇ£Makasih Kang…..Hmmmm…..Dunhill Mild mantap kangÔÇØ jawabku

ÔÇ£Mending yang ini Ar, dari pada rokok filter, sehari bisa satu bungkus, kalo Dunhill lumayan Ar bisa mpe 2 hari, biasa Ngirit Ar…..Ha ha ha haÔÇØ jawab Rahman dengan tawa keras.

Sudah hampir satu jam aku ngobrol panjang kali lebar sama dengan volume dengan rahman, berbatang-batang “batang putih” ini pun aku sulut berkali-kali. rasa lelah menghinggapi kami berdua hingga akhirnya kita memutuskan pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*