Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 4

Wild Love 4

Bumi berputar pada porosnya, membuat belahan bumi yang sebelumnya tanpa cahaya matahari kini mulai tersentuh oleh sinarnya. Seharusnya cahhaya itu masuk melalui lubang ÔÇôlubang ventilasi kamar ini, apa daya cahaya matahari. Rumah ini menghadap ke arah utara, sedangkan kamar dimana aku terlelap berada di bagian yang jauh dari terbitnya sang raja siang.

Rumah yang aku tinggali bernuansakan rumah moderen tapi tak meninggalkan suasana adat daerahku, menghadap ke arah utara karena memang sesuai dengan kebiasaan leluhur kami rumah di usahakan untuk tidak menghadap ke arah barat ataupun timur. Supaya tidak kepanasan kata orang tua jaman dahulu.

Rumah ini terdiri dari garasi yang sangat luas, jika membuka pintu gerbang rumah langsung berhadapan dengan halaman garasi dan kemudian garasi rumah. Bagian kanan halaman garasi ada sebuah taman yang lumayan luas dengan jalan setapak menuju pintu masuk rumah. Ketika masuk kerumah akan didapatkan sebuah ang tamu berbentuk persegi panjang yang luas membujur dari timur ke barat (kiri ke kanan) dengan meja kursi di bagian kanan kirinya beserta hiasan dinding khas peninggalan leluhur kami dan juga pernak-pernniknya. Ditengah-tengahnya agak ke selatan sedikit ada sebuah jalan yang lumayan panjang berbentuk lorong. Dikiri lorong ada kamar Romo dan Ibuku yang tergolong luas dan memanjang dari utara ke selatan. Setelah kamar Romo dan Ibu adan sebuah pintu yang menghubungkan rumah ini dengan garasi disampin. Tepat disebelah pintu ada ruang keluarga untuk menonton TV dibelakang ruang ini ada tangga menuju kamarku yang kemudian disamping tangga ada kamar mandi. Di kanan lorong ada dua bawah kamar tamu, setelahnya dapur moderen yang digabung dengan ruang makan. Disamping ruang makan tepatnya di depan kamar mandi adalah tempat penyimpanan barang-barang berharga, sebuah ruang dengan banyak almari penyimpanan. Diantara ruang penyimpanan dan kamar mandi terdapat sebuah pintu keluar menuju pekarangan rumah dengan tembok setinggi 5 meter berhiaskan kolam ikan dan taman dengan pohon. Jemuran? Hanya akan dilihat ketika Ibu mulai menjemur saja, jika tidak maka akan dilipat dan disandarkan di dekat kolam ikan. Kembali pada diriku yang terlelap tidur semalam karena penyatuan tubuh dengan Ibuku.

ÔÇ£hmmmm…… hoaaaam…… uftttt……ÔÇØ aku mulai membuka mataku, aku merasa kelopak mata ini memiliki berat 1 ton. Terasa ada sesuatu nikmat yang menjalar dari dedek Arya, kubuka mata perlahan. Kulihat seoranng wanita cantik, berkulit putih dengan jarit yang dibalutkan ditubuhnya hanya menutupi sebagian susunya hingga sebagian pahanya. Susunya itu lho seakan-akan ditekan dan bagian atasnya seakan-akan mau melompat keluar. Rambutnya digelung kebelakang dengan senyum tergambar di bibirnya. Duduk bersimpuh dekat dengan pinggangku sambil membasuh dedek Arya lembut dengan handuk kecil yang sudah dibasahi sebelumnya. Beruntungnya dedek Arya ini, sudah mengalami MOREC (Morning Erection) di mandiin pula.

ÔÇ£Pagi nak……ÔÇØ sapa ibuku

Aku bangkit dan duduk kemudian aku peluk wanita ini. Kudaratkan ciumanku ke arah ke pipi kirinya dan merambat menuju ke bibirnya. Dan ….

ÔÇ£Eits…. Bau…. Mandi dulu gih…ÔÇØ Ibuku menghindar bibirnya dari bibirku. Aku yang gagal menciumnya, meletakkan kepalaku dipundak kirinya sambil tangan kiriku mengelus-elus bagian atas susu Ibuku yang ingin melompat.

ÔÇ£Tidak apa-apa…paling nanti juga mauÔÇØ jawabku dengan santai. Ibu kemudian menghentikan elusan pada dedek arya.

ÔÇ£Pokoknya mandi duluÔÇØ hardik Ibuku, sambil membetet hidungku.

ÔÇ£Tapi aku masih pengen pelukan bu….ÔÇØ jawabku manja dengan suara cempreng akibat hidungku dibetet Ibu.

ÔÇ£Apa kamu ndak kuliah nak?ÔÇØ tanya Ibu mengingatkan aku.

ÔÇ£Pengantin baru kok kuliah to bu bu…. besok saja bu, pengen sama Ibu dulu hari iniÔÇØ jawabku melas agar tetap bisa bersama Ibu.

ÔÇ£yo wes rak popo, kanggo dino iki wae lho (ya sudah tidak apa-apa buat hari ini saja lho)ÔÇØ perintah ibuku. Ku jawab dengan senyum cengengesan. Aku kemudian bangkit, kulepaskan pelukanku dan kuminta Ibu duduk di ujung tempat tidur. Kini Ibu duduk bersimpuh dan bersandar di ujung ranjang. Aku kemudian merebahkan tubuhku dan kepalaku aku letakkan di susu Ibuku.

ÔÇ£Bu besar bangetÔÇØ sambil aku mengelus-elus susunya.

ÔÇ£Kamu suka?ÔÇØ tanya Ibuku

ÔÇ£Iya bu… besar dan hmmmm……. ÔÇØ jawabku memuji

ÔÇ£Hi hi hi… dulu ibu itu pernah beli BH tapi tidak muat, karena Ibumu itu malas akhirnya ya Ibu tidak beli lagi tetap bertahan dengan kutang (BH tradisional)ÔÇØ jelas Ibuku.

ÔÇ£Oooo… pantes masih bulat dan tidak melorotÔÇØ jawabku

ÔÇ£Lho kamu kok tahu kalau kutang bisa membuat payudara tidak melorot?ÔÇØ tanya Ibuku heran

ÔÇ£He he he cuma tahu saja bu he he heÔÇØ kilahku

ÔÇ£Pasti gara si net-net (baca Internet) itu ya?ÔÇØ tanya Ibuku melanjutkan

ÔÇ£Ya iya bu… lha wong dulu itu ada tugas disuruh nyari pakaian adat daerah, setelah dapat eh ada penjelasannya jugaÔÇØ jawabku cengengesan sambil menjilat-jilat permukaan susu Ibuku.

ÔÇ£Kamu itu hmmm….. hi hi hi ÔÇØ senyum Ibuku nakal
Tiba-tiba aku teringat semua kejadian dari awal, banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku ini. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang hadir dan harus aku tanyakan kepada Ibu. Mau tidak mau harus aku tanyakan.

ÔÇ£Bu…. ÔÇ£

ÔÇ£Ada yan mau Arya tanyakanÔÇØ ucapku

ÔÇ£Apa?ÔÇØ jawab Ibu
ÔÇ£Sebenarnya ada apa to Ibu sama Romo?ÔÇØ tanyaku tiba-tiba

Hening sesaat…. kuarahkan tatapanku ke wajah Ibuku. Ah betapa bodohnya aku ini, kenapa aku menanyakan hal ini kepada ibu, benar-benar merusak suasana. Tiba-tiba Ibu menghela nafas yang panjang dan memulai pembicaraan.

ÔÇ£Ibu aka cerita kepadamu, tentang semua dari awal… ÔÇØ jelas ibu dan aku balas dengan anggukan kecil.

Ibu kemudian memulai cerita dari awal bagaimana Ibu bisa menikah deng Romo. Ibu bercerita mengenai masa mudanya, sahabat-sahabatnya dan juga keluarga besar Ibu yang berdarah ningrat. Dan semua itu dimulai dari ….

(Pada cerita ini, Aku adalah Diyah Ayu Pitaloka, karena cerita dibawah ini adalah cerita masa lalu Diyah Ayu Pitaloka)

Sejuk alam di kaki gunung yang menjulang tinggi di daerahku. Namaku Diyah Ayu Pitaloka, aku anak ke dua dari tiga bersaudara. Aku mempunyai seorang kakak bernama Andi Pitawarno Sucipto, dan seorang adik bernama Ratna Ayu Pitaloka. Ayahku bernama Warno Sucipto, seorang ningrat dengan darah Jerman mengalir ditubuhnya sedangkan Ibuku adalah orang jepang asli, beliau bernama Asasi Kutone, yang kemudian beralih nama menjadi Ayu Pitaloka. Semua anak dari Ayah dan Ibuku mempunyai nama Pita karena ini adalah permintaan Ibu yang sebenarnya ditolak oleh Kakekku tapi pada akhirnya kakekku menyetujuinya melihat begitu gigihnya Ayahku memaksa Kakek. Karena memang seharusnya yang tercantum di nama kami adalah nama dari Ayahku bukan Ibuku, sesuai dengan adat yang berlaku di daerah ini.

Aku dan kakakku mempunyai kesaamaan dengan ibu, mempunyai kemiripan seperti orang jepang sedangkan adikku Ratna lebih mirip Romo-ku yang terlihat ke-Jermanannya. Aku dan kakaku terpaut 4 tahun, dan dengan adikku hanya terpaut 2 tahun. Aku dibesarkan di keluarga yang sangat erat dengan kebudayaan didaerahku, dan harus selalu bisa menjaga tata krama di dalam maupun diluar rumah.

Ayahku merupakan orang yang sangat berpengaruh di daerahku tinggal. Beliau menjabat sebagai Kepala Daerah di Daerahku. Semua orang segan dan hormat terhadap Ayahku, ditambah lagi Ayah bukanlah orang yang sombong, beliau sesosok pemimpin yang rendah hati dan selalu bergaul dengan semua lapisan masyarakat. Ayah tidak pernah membeda-bedakan orang disekitarnya. Kembali lagi ke aku, Sekarang umurku 15 tahun sebentar lagi masuk 16 tahun, lebih tepatnya sekarang kelas 1 SMA. Aku bersekolah di sekolah negeri yang dekat dengan rumahku, sekolah ini aku pilih karena selain dekat dengan rumah di sekolah ini dikenal sebagai sekolah untuk rakyat. Ya, karena SMA-ku ini semua lapisan masyarakat bisa sekolah di tempat ini, dibandingkan dengan SMA-SMA yang lain yang selalu ada cap ÔÇ£Cuma buat orang kayaÔÇØ dan aku paling tidak suka dengan perbedaan. Kakakku kuliah di perguruan tinggi negeri mengambil Jurusan Kedokteran sedangkan adikku masih kelas 3 SMP yang berdekatan dengan SMA-ku sama sepertiku Adikku memiliki alasan yang sama denganku ketika memilih SMP-nya. Di sekolah aku selalu menempatkan diriku sebagai wanita biasa, sekalipun aku berdarah ningrat ataupun dari keluarga kaya karena aku ingin berteman dengan semua anak di sekolah ini, entah itu kaya-miskin, hitam-putih, sama seperti Ayahku semua ingin aku jadikan teman begitupun Adikku di Sekolahnya.

Dengan cara bergaulku, aku memiliki banyak teman-teman yang sangat sayang kepadaku. Bahkan aku merasa aku memiliki keluarga yang sangat besar di Sekolah ini. Yang aku suka adalah mereka semua menganggapku sebagai orang biasa ketika berada di sekolah sehingga untuk bisa menyatu dengan mereka itu adalah hal yang sangat mudah. Di SMA-ku, Aku memiliki seorang sahabat yang sejak SMP bersamaku, bernama Karima aku memanggilnya Ima, dia orang yang supel dan enak di ajak curhat. Disisi lain Aku sangat akrab dengan semua teman-temanku bahkan kami selalu berbagi dengan apa yang dimiliki. Tapi kalau masalah cowok gandengannya dia jarang cerita ke aku. Cowok? bagaimana denganku? Aku belum berpikir untuk pacaran.

Waktu itu adalah waktu ketika aku pulang sekolah, aku mendapati di depan rumahku berjajar-jajar mobil. Heran aku, ada acara apa? Masih berbaju sekolah aku masuk kerumah dengan merundukan badan, kulihat kanan-kiriku banyak sekali tamu dan mereka tersenyum kepadaku. Ketika aku sampai di ruang tamu kulihat romo sedang bercengkrama dengan seorang laki-laki muda beserta perempuan dan laki-laki lain yang sebaya dengan orang tuaku, mungkin bapak Ibunya. Tampak Ayah dan Ibuku juga….

ÔÇ£Nduk, kemariÔÇØ ucap Romoku, aku pun duduk diantara Ibu dan Ayahku.

ÔÇ£Perkenalkan ini namanya Mas Mahesa Wicaksono, dia melamarmu dan dia yang akan jadi suamimuÔÇØ lanjut romoku. Aku kaget setengah mati, kulihat wajah Ayahku masih santai ketika mengucapkan kata-kata itu.

ÔÇ£Tapi Romo, Diyah-kan masih sekolah, masa harus nikah mudaÔÇØ balasku

ÔÇ£Ya ndak secepat itu nduk, maksudnyaaaa….nanti setelah kamu lulus baru kamu menikahÔÇØ jelas Romoku

ÔÇ£Tapi aku masih ingin kuliah RomoÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Itu bisa di atur…ÔÇØ jawab Romoku tenang.

Aku masih tertegun, kaget dengan semua hal ini. Kulihat laki-laki itu tampak mencoba tersenyum manis kepadaku. Aku pun hanya tertunduk tak mau aku membalas senyumannya. Laki-laki itu, yang akhirnya aku tahu memiliki tinggi lebih pendek dari aku, sedangkan tinggiku di saat ini sudah 160 cm (ingat pada sambungan-sambungan sebelumnya, Arya hanya mengira-ira tinggi Ibunya). Umurnya 25 tahun, lebih tua 5 tahun dari kakakku. Kulitnya gelap menuju kehitam (NO SARA-just for imagination), wajahnya tidak terlalu ganteng, dibandingkan dengan Ayah, Kakakku dan teman-teman sekelas, JAUH!

Aku sebenarnya tidak tahu alasan Romo, menerima lamaran itu walaupun pada akhirnya aku tahu. Aku berada diantara mereka untuk bisa mendapatkan alasan utama kenapa Ayah menerima laki-laki itu. Dan akhirnya pembicaran antara kedua orang tua-ku dan kedua orang tua Mas Mahesa menjelaskan yang ternyata selama ini kakekku sudah membuat perjanjian dengan kakek Mas Mahesa untuk menikahkan cucunya. Aku tidak bisa mengelak dan aku harus menurutinya. Walaupun sebenarnya Ibuku tidak pernah setuju tapi apa mau dikata Ibu adalah wanita yang sangat patuh kepada Ayah. Dan akhirnya pada hari itu juga aku ditunangkan dengan Mas Mahesa.

Keesokan harinya aku bercerita kepada Retno, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia terus menyemangatiku, sudah menjadi kebiasaan retno membuat sebuah kata-kata semangat yang selalu membuatku tersenyum. Berita ini pun sampai ke teman-teman sekelasku, mereka bukannya meledekku tapi malah menyemangatiku. Aku bangga mempunyai mereka semua, semua teman-temanku selalu menjagaku. Bahkan ketika aku ditemui oleh Mas Mahesa di sekolah teman-temanku selalu berada di sampingku layaknya body guard.

Kini umurku sudah genap 16 tahun lebih satu bulan. Dua bulan setelah acara lamaran itu berlangsung dan selama itu pula aku selalu dan selalu mencoba untuk mencintai tunanganku ini. Hingga pada hari sabtu Mas Mahesa mengajakku kencan, aku sebenarnya bingung menerima atau tidak. Karena biasanya setiap kali aku ditemui Mas Mahesa aku selalu ditemani banyak temanku. Akhirnya aku menelepon teman-temanku untuk di temani tapi karena mendadak mereka tidak bisa, mau ndak mau ya aku akhirnya harus mau karena tahu sendirilah Ayahku, selalu memaksaku.
Dengan Kaos dan Rok sepanjang lututku sembari membawa tas kecil yang biasa aku isi dengan dompet dan botol air mineral, Aku diajak Mas Mahesa dengan menggunakan mobil kepantai katanya ya untuk mencari udara segar. Dipantai layaknya orang pacaran kami bergandengan tangan, berjalan menyusuri pantai hingga matahari mulai terbenam. Kami pun pulang.

Baru saja berjalan kurang lebih 1 km tiba-tiba duarrrrrrrrrrrrrr….. ban mobil layaknya suara letusan tembakan.

ÔÇ£Ada apa mas?ÔÇØ tanyaku kaget

ÔÇ£Oh ini bannya bocor dek, sudah tenagng sajaÔÇØ katanya, yang kemudian dia keluar melihat ban yang bocor tersebut.

ÔÇ£Dek ini lama, mungkin baru besok kita bisa pulang, bagaimana kalau kita menginap di losmen itu saja?ÔÇØ katanya dari kaca jendela mobil sambil menunjuk losmen yang berada tepat di sampingku. Kenapa juga ada losmen disini?

ÔÇ£Aduh mas, bagaimana bisa, aku tidak bisa mengabari kedua orang tuaku, aku naik angkot atau taksi kalau ada masÔÇØ balasku, hand phone pada saat itu langka yang punya.

ÔÇ£Mana ada angkot malam-malam begini apalagi taksi, tenang saja nanti aku yang bicara kepada orang tuamu, kita nginap dulu di losmenÔÇØ katanya.
Mau tidak mau akhirnya aku menuruti perkataan Mas Mahesa, dia mengajakku ke losmen tersebut. Mas Mahesa masuk menanyakan ke penjaga losmen itu. Losmen itu tampak bersih, layaknya hotel. Kulihat nama losmen tersebut, losmen MELATI. Dari losmen masih bisa aku melihat pantai dimana aku berada tadi.

ÔÇ£Dek….ÔÇØ panggil Mas Mahesa, akupun melangkah ke arahnya.

ÔÇ£Kamarnya tinggal satu, kita satu kamar berdua yaÔÇØ ucapnya

ÔÇ£Ya ndak bisa to mas, kita itu belum menikah, ndak boleh satu kamarÔÇØ jawabku sedikit kesal

ÔÇ£Lha mau bagaimana lagi, lha wong kamarnya tinggal satuÔÇØ balasnya

ÔÇ£Mase, memangnya sudah ndak ada kamar kosong lagi to?ÔÇØ tanyaku kepada penjaga losmen

ÔÇ£Su su sudah tidak ada lagi mbakÔÇØ jawabnya gugup.

ÔÇ£Itu kunci masih pada nggantung, aku lihat juga pengunjungnya sedikit!ÔÇØ bentakku

ÔÇ£I…i….i…itu sudah a…a…ada yang pesan mbakÔÇØ jawabnya tebata-bata, gugup.

ÔÇ£Sudahlah dek, ndak papa lha wong kita juga nggak ngapa-ngapainÔÇØ potong Mas Mahesa, menenangkan aku. Bagaimana bisa seorang wanita dan laki-laki satu kamar?Apa kata orang? Tapi aku percaya kepada Mas Mahesa akan menjagaku.

Ya akhirnya mau ndak mau, aku harus satu kamar dengannya. Tapi dengan syarat dia tidur di bawah sedangkan aku tidur di kasur dan dia menyanggupinya. Kulihat jam dinding di atas kepala penjaga menunjukan pukul 18.00. Karena penat dan lelah aku menuju kamar losmen, kunci kamar kudapatkan dari Mas Mahesa. Kulihat kunci kamar bertuliskan nomor 20. Aku memasuki kamarku, lumayan juga kamarnya bersih dan wangi, aku pun duduk di pinggiran kasur. Tak ku lihat Mas Mahesa masuk kamar kemana dia? sambil menunggunya aku beranjak dan kubuka jendela kamarku. Melihat pantai nan indah di malam hari, menghirup hembusan angin segar pantai. Lama aku menunggu mas Mahesa tak kunjung tiba, jam dinding menunjukan pukul 18.45, perasaan takut ditinggal sendirian pun muncul.

Kleeeeek…… pintu kamar terbuka, kulihat Mas Mahesa masuk dengan sempoyongan kemudian menutup pintu.

ÔÇ£Mas, Mas kenapa?ÔÇØ ucapku sembari melangkah menangkap badannya yang hampir jatuh. Kupapah Mas Mahesa menuju kasur, tercium bau alkohol dari mulutnya. Kududukan Mas Mahesa dipinggir kasur, tubuhnya yang sempoyongan bersandar ke tubuhku.

ÔÇ£Halooooo cantiiiiiik muah muah muuuuuuuuuuuuuuuuuuahÔÇØ ucap Mas Mahesa seperti orang mengigau sambil memajukan bibirnya ke arahku

ÔÇ£Mas Mabuk? Mas sadar masÔÇØ ucapku menyadarkan, kurebahkan tubuh mas mahessa ke tempat tidur, aku beranjak mengambil botol air mineral dari dalam tasku coba untuk aku berikan ke Mas Mahessa.

Tiba-tiba tangan kanan yang kekar menggenggam tangan kiriku, ditariknya tubuhku hingga rebah di tempa tidur. Kemudian…..

Kemudian …. ketakutan itu ketakutan yang sebenarnya telah datang yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Ketakutan yang aku rasakan ketika aku sendiri sebenarnya adalah ketakutan awal yang menuntunku menuju ke ktakutan yang sebenarnya. Hembusan angin pantai yang kencang mengalun dari jendela dan dinginnya suhu udara di pantai membuat semuanya tampak serasi dengan apa yang aku rasakan. Sekuat-kuatnya seorang wanita di dunia ini walaupun dia seorang Atlet hebat tetap akan kalah dengan seorang laki-laki dengan profesi yang sama. Sekuat-kuatnya aku terus meronta meminta untuk dilepaskan tetap saja aku tidak sanggup untuk lepas dari cengkraman lelaki yang telah di kuasai oleh nafsu dan birahinya ditambah dengan dukungan alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya.

Seharusnya aku bisa untuk melepaskan diri, tapi rasa lelahku tak mampu berbohong kepada diriku, aku tak mampu. Tangannya begitu kekar dan kuat menahan tubuhku hingga tak berkutik, kemudian kedua tangan itu mengikat kedua tanganku dengan tali, bibirnya terus memburu bibirku. Tangan kanannya memegang kasar daguku, kemudian bibirnya mengarah ke bibirku. Melumatnya hingga aku kesulitan berteriak, air mataku mengalir deras, memohon ampun kepadanya. Tapi harapan telah sirna semua usahaku untuk mendapatkan ampunan ditolak mentah-mentah olehnya. Tangan kirinya menyingkap rokku dengan kasar, ditariknya celana dalamku. Aku yang sudah merasakan lelah dan tak ada tenaga hanya menangis dan menangis. Tangan kanannya kini meremas-remas payudaraku sekaligus menekan tubuhku agar tidak bisa bangkit.

ÔÇ£TOLONG MAS HENTIKAN, SADAR MAS SADAR!ÔÇØ Teriakku
ÔÇ£DASAR KAMU BAJINGAN MASÔÇØ makiku kepada Mas Mahesa.

ÔÇ£DASAR … WANITA BODOH, DIBERI KENIKMATAN MALAH TIDAK MAUÔÇØ Bentak Mas Mahesa
Plak…. Plak….. Plak…. tiga tamparan pun mendarat di pipiku, aku hanya menangis , aku sudah tidak berdaya lagi menghadapinya, aku tak mampu. Tangisku semakin menjadi-jadi, meratapi kebodohanku menerima paksaan Ayah agar menerima ajakan Mas Mahesa.

ÔÇ£DIAM!ÔÇØ bentaknya kembali.

Tiba-tiba saja kain putih disumpalkan dimulutku, itu celana dalamku. Kini suara tangisku sudah tidak terdengar lagi, hanya erangan kesakitan atas perlakuannya. Cengkraman tangan kanan pada payudara kananku kurasakan semakin keras, rasa sakit yang kurasakan bukan kenikmatan. Kulihat dia sedang melepaskan celananya. Tiba-tiba benda tumpul terasa pada vaginaku, memaksa masuk ke dalamnya. Aku pun mencoba untuk meronta kembali agar benda itu tidak masuk.
Plak… tamparan aku dapatkan kembali

ÔÇ£AKU HARUS MENDAPATKANMU SECEPATNYAÔÇØ bentaknya dengan penuh makna, Aku tidak mengerti apa yang dia maksudkan, perkataannya hanya berlalu begitu saja.

ÔÇ£Ayah Ibu, maafkan anakmu tidak bisa menjaganyaÔÇØ bathinku dalam hati memohon ampun
Dan blesssss….. masuk sudah semua batang kemaluan Mas Mahesa, terasa sakit dan perih. Membuatku menangis sejadi-jadinya, membuatku menyesali usahaku untuk mencintainya.

ÔÇ£emmmmmmmmmmmmmmmm………………ÔÇØ suaraku yang terhalang oleh celana dalamku, disertai air mata yang mengucur deras

ÔÇ£Sempit sekali, memang perawan selalu sempit dan seret ha ha haÔÇØ ucapnya dengan tawa kemenangan.

ÔÇ£hiks hiks hiks hiks hiksÔÇØ aku hanya menangis dan menagis.

Digoyangnya pinggulnya ke arah pinggulku, terjadilah sebuah persetubuhan yang membuat aku semakin menangis. Sedikit aku rasakan nikmat tapi tak bisa aku nikmati malam ini. Tubuhku digoncang dan terus berguncang, membuat aku meronta, menggeleng-gelengkan kepalaku. Dengan tatapanku aku masih memohon belas kasihan darinya. Tapi semakin aku memohon dengan tangisanku semakin keras dia menggoyangnya semakin kencang pula dia menghentakkan pinggulnya.

ÔÇ£Ahhh Ahhh Ahhh Ahhh aku mau keluar aku mau keluar ya enaaaaaakÔÇØ teriaknya, sambil diikuti irama goyangan yang sangt cepat dan keras.

Crooot crooot crooot ….

Kurasakan cairan hangat masuk di rahimku, kulihat wajahnya terlukis senyum kemenangan. Tubuhnya rebah dan jatuh ke tubuhku, menindihku. Aku masih menangis dibawah tubuhnya, menangis sejadi-jadinya. Menangis karena masa depanku akan hancur, tak mampu lagi bersekolah dan memberikan malu terhadap keluargaku. Beberapa menit aku berada dibawahnya, tiba-tiba dia bangkit dengan benda tumpulnya masih menancap di vaginaku. Tersenyum manis kepadaku.

ÔÇ£Sudahlah jangan menangis lagi, aku khilaf maaf yaÔÇØ ucapnya, sembari melepaskan ikatan di tanganku dan mengambil sumpal dimulutku. Diapun berdiri dan telepaslah benda tumpulnya. Kemudian aku meringkuk di tempat tidur menangis sejadi-jadinya, kulorotkan kembali rok yang kupakai untuk menutupi bongkahan pantatku. Khilaf? Santai sekali dia berbicara seperti itu. Ingin rasanya aku membunuhnya tapi aku sudah tidak mempunyai daya sama sekali.

Lelaki itu kemudian berdiri memakai celananya sambil tersenyum manis kepadaku, aku membuang muka. Dia bergerak ke arahku dan mengelus-elus rambutku.

ÔÇ£Sudah tenang aku tanggung jawab kok, aku kan tunangan kamu jadi seharusnya kau tidak usah khawatirÔÇØ ucapnya menenangkan aku.

ÔÇ£Ya benar hiks hiks hiks kamu memang tunaganku, tapi bukan begini caranya hiks hiks hiks kamu kasar hiks hiks hiksÔÇØ ucapku disertai isak tangis. Aku pun mencoba beristirahat mengumpulkan kembali kekuatanku. Setelah beberapa menit aku beristirahat mencoba mengemebalikan kesadaranku.

ÔÇ£Sudahlah, rapikan bajumu aku antar pulang, kalau kamu tidak mau ya sudah aku akan bilang ke penjaga agar bisa menikmatimu juga ha ha haÔÇØ dengan tiba-tiba laki-laki itu berbicara yang seakan-akan aku bukan wanita yang berharga dimatanya kemudian meninggalkan aku dikamar sendirian.

Aku terkejut dan takut atas ucapannya dan tak mau kejadian ini terulang kembali, segera aku beranjak dari tempat tidurku dan duduk. Kulihat bercak merah disprei kasur itu, Aku sudah kehilangan keperawananku. Air mataku kembali menetes segera aku berdiri, seketika aku rasakan cairan menetes dari vaginaku. Kemudian ku lap dengan celana dalamku sekenanya, kumasukan celana dalamku ke dalam tas kecilku dan segera melangkah keluar. Kulirik jam dinding menunjukan pukul 20.00 dan ku banting pintu kamar ketika aku menutupnya. Dengan masih menangis aku berlari ke arah pintu keluar losmen, ku kuatkan untuk segera berlari keluar dan menuju ke mobil Mas Mahesa. Aku duduk di tempat duduk belakang, aku melihat Mas Mahesa sudah masuk dan tersenyum manis kepadaku. Bau amis masih tercium dari vaginaku.

ÔÇ£Jangan menangis lagi, nanti aku belikan permen ha ha haÔÇØ ucapnya lantang dengan tawa, aku yang mendengarnya kembali menangis tapi tak ku hiraukan dia. Aku membuang muka ke arah Losmen, Losmen dimana aku dihancurkan.

Dalam perjalanan pulang kulirik dia merasa bahagia atas apa yang telah dia lakukan kepadaku, dia menyanyikan lagu yang dia putar. Ingin aku memukulnya tapi bagaimana kalau dia menyeretku dan membuangku di tempat ini, kemudian memanggil preman-preman dan menyuruh mereka memperkosaku. Aku terdiam di bangku belakang mobilnya, nafasku masih tidak teratur, terisak-isak.

Sampailah di rumah, aku dipapah olehnya ke dalam rumah. Aku disambut dengan teriakan amarah Ayahku karena terlalu malam bermain. Tiba-tiba tubuh ini menjadi lemas dan tak berdaya, aku terjatuh ke arah Ayahku. Tas yang kubawapun terjatuh dan terjatuh pula celana dalam. Ayahku yang melihat isi tas yang keluar, tertegun dan terkejut apa lagi bau amis yang menyengat menusuk hidungnya.

Dengan sisa tenagaku, aku bersujud dihadapannya dan aku memohon ampun kepada Ayahku yang berdiri di hadapanku. Ku ceritakan semua hal yang terjadi, dan Mas Mahesa hanya terdiam dan tertunduk. Seketika itu pula, tangan ayah diangkat ….

ÔÇ£Teishi! Sore wa anata no seide wa arimasen, anata ga hirateuchi baai, watashi wa anata no menomaede jisatsu o shimasu! (Hentikan! itu bukan kesalahan anakmu dan jika kamu menamparnya aku akan bunuh diri di hadapanmu!)ÔÇØ teriak Ibuku dari belakang Ayahku sambil menahan tangan Ayahku. Terkadang Ibu menggunakan bahasa jepang dalam percakapannya walaupun beliau sangat mahir dalam bahasa Indonesia ataupun jawa.

Ayahku yang mendengar teriakan Ibu kemudian terhenti, dan kemudian mengarahkan amarahnya ke Mas Mahesa. Dan menuntut Mahesa untuk mengawiniku secepatnya. Mengawiniku? Itukan yang di inginkan lelaki ini? Kemudian Mas Mahesa menjelaskan semuanya, dia mengakui kesalahannya karena pengaruh minuman beralkohol yang diberikan oleh penjaga losmen. Tiba-tiba dari belakang Ayah muncul sebuah tinju mengarah ke arah Mas Mahesa, cepat dan keras membuatnya tersungkur. Ya Mas Andi, langsung melompat dan menindih tubuh Mas Mahesa dan didaratkan puluhan pukulan ke arah wajahnya. Ayah kemudian menarik tubuh Mas Andi, Mas Mahesa diam saja kemudian berdiri dan menunduk disertai senyuman kemenangan tersungging di bibirnya.

Semua telah terjadi dan semuanya tidak dapat dikembalikan. Aku disini di dalam kamarku, di tenangkan oleh Ibu, Mas Andi dan Ratna. Ayah, Ayah juga berada disampingku meminta maaf kepadaku karena telah memaksaku untuk kencan dengan Mas Mahesa. Mas Andi yang menyesal karena tidak berada di tempat kejadian itu pun meminta maaf kepadaku. Aku menagis, dan terus menangis hingga akhirnya aku terlelap dalam pelukan Ibuku. Ku rasakan Ratna memeluku dari belakang mencoba menenangkan aku.

Aku ingin mati, aku ingin mati, Aku ingin mati, itulah kata-kata yang terngiang di telingaku. Aku tidak berangkat sekolah selama 3 hari dan membuat semua teman-temanku khawatir, hingga akhirnya mereka tahu kejadian yang menimpaku. Aku mengira mereka akan mencemoohku, mencaciku tapi yang kudapat dari mereka adalah kasih sayang dan permintaan maaf karena tidak bisa menjagaku. Aku dipaksa oleh Ibu untuk berangkat sekolah tapi aku tetap bersikeukeuh untuk tidak berangkat.

Hingga pada minggu berikutnya, pada senin pagi seharusnya pada kisaran tanggal ini aku mendapatkan menstruasi tapi tak kudapatkan. Aku takut jika aku hamil, aku meminta Ibuku untuk membelikan test pack. Setelah kudapatkan aku cek ÔÇ£2 stripÔÇØ, aku jatuh pingsan. Ketika aku sadar yang bisa aku lakukan adalah menangis dan menangis. Seketika itu pula aku ambil pisau dan langsung di halangi oleh kakakku. Keluargaku mencoba menenangkan aku, aku pun hanya meringkuk dalam pelukan Ibuku.

Hampir satu minggu aku tidak masuk. Pada hari Senin, tepat pukul 15.00 semua teman-temanku datang menjengukku. Menanyakan kabar dan membujukku untuk sekolah kembali. Kemudian dengan penuh llinangan air mata, aku menceritakan bahwa aku hamil. Semua teman-temanku terkejut, dan …

ÔÇ£Berarti kita mau punya keponakan, Kamu harus menjaganya untuk kami, kami juga akan menjaganyaÔÇØ ucap seorang teman pria-ku mencoba menenangkan aku dan menyemangatiku dan dijawab dengan anggukan semua teman-teman yang lain.

ÔÇ£Diyah, kamu adalah wanita penyeimbang dalam persahabatan kita eh salah dalam kekeluargaan kelas kita, jadi anakmu adalah bintang untuk kita semuaÔÇØ ucap salah satu teman perempuanku, dibarengi dengan pelukan-pelukan kasih sayang dari teman-teman perempuanku

ÔÇ£Aku boleh ikut gak?ÔÇØ tanya seorang teman pria-ku

ÔÇ£Anata wa, onaji hahaoya o ukeireru kudasai (kamu pelukan sama Ibu saja)ÔÇØ celetuk Ibuku

ÔÇ£wah bu aku ki gak mudeng boso jepang je (wah bu aku itu tidak paham bahasa jepang)ÔÇØ jawab temaku membuat kegaduhan diruang kamarku. Dari semua teman-temanku tak kulihat Karima bersama mereka. Ketika aku tanyakan tentang Karima kepada teman-temanku. Dia menghilang sejak aku mulai tidak berangkat sekolah, di rumahnya pun tidak ada. Kemana Kau Karima? Sahabatku?

Selama masa kehamilanku dengan perut yang belum begitu buncit aku berangkat sekolah. Di sekolah semua teman-temanku menjagaku layaknya seorang Ratu dan jika ada yang menggunjingku dari kelas lain langsung ditebas oleh teman-teman pria-ku. Ya teman-temanku khususnya yang pria adalah atlet beladiri dengan tingkat tertinggi jadi tidak ada yang berani dengan mereka.

Genap 2 bulan kehamilanku, akhirnya aku menikah dengan Mas Mahesa. Setelah menjadi suamiku, Mas Mahesa berperilaku layaknya seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Teman-temanku? Mereka masih tetap merawatku. Dengan kedudukan Ayahku pada masa kehamilan dengan perut yang membesar aku tetap bisa bersekolah tetapi dirumah, dimana guru-ku datang kerumahku untuk memberikan pelajaran-pelajaran di sekolah.
Tepat 9 bulan 10 hari, dan umurku 17 kurang sedikit sekali bayi laki-laki kecil dan manis dengan kulit yang putih bersih lahir. Aku bersyukur karena dia menuruni neneknya yang asli orang jepang. Dan Kuberi Nama Arya Ksatria, tetapi Suamiku menolaknya dan mengganti namanya menjadi ARYA MAHESA WICAKSANA. Kadang kebencian terhadap anak ini muncul, ingin rasanya aku membuangnya tapi setiap kali aku melihatnya aku bertambah sayang kepada anakku ini. Setiap kali akan tidur selalu kudongengkan dongeng ksatria-ksatria yang selalu melindungi yang lemah. Agar kelak dia menjadi pelindungku dan yang selalu menyayangiku.

Aku lulus dari SMA ketika aku berumur 18 tahun, dengan nilai yang bagus pula. Dengan seijin Ayahku aku melanjutkan kuliah tapi dengan catatan aku tinggal dirumah sendiri karena aku sudah berkeluarga. Aku tinggal dirumah yang lumayan jauh dari Ayahku sekitar 90 menit perjalanan. Ibuku setiap pagi kerumahku untuk mengasuh Arya. Selama itu pula Mas Mahesa tidak memperlihatkan perlakuan buruk kepadaku. Dengan Aku jadi Istrinya, sekarang Mas Mahesa menjadi kepala di sebuah Dinas pemerintahan yang ada di daerahku.

Sekarang umurku 20 tahun, anakku Arya sudah 3 tahun. Sebuah kejadian terjadi ketika Arya dibawa oleh Ibuku kerumahnya dan ketika itu aku pulang kuliah lebih awal karena Dosen tidak hadir ada Rapat Universitas. Pulang dengan rasa lelah, aku masuk ke rumah. Ketika aku berada di dalam ruang tamu, kudengar desahan-desahan orang sedang bersetubuh. Di Ruang keluarga kudapati Mas Mahesa melakukan hubungan dengan teman kuliahku, Devi.

Seketika itu aku menangis, memarahi mereka berdua, membentak mereka. Devi tampak tertunduk tapi Mas Mahesa Bukannya merasa bersalah malah dia menyeretku kedalam kamar. Di maki-makinya aku, yang tidak bisa memuaskan suamilah, tidak patuh pada suamilah. Dia mengancamku jika aku mengadu pada Ayahnya, Arya akan dibunuh dihadapan mataku. Aku kaget setengah mati mendengar perkataanya, begitu tega ia terhadap anak sendiri.

Semenjak kejadian itu aku menjadi pendiam, bukan wanita riang yang selalu mengibur teman-teman kuliah ataupun teman-teman SMA-ku yang sering menjenguk Arya. Akupun tak berani jika harus mengatakan kejadian ini kepada orang tuaku. Aku terus meratapi nasibku, setiap tangisan yang keluar dari air mataku selalu hilang oleh senyuman anakku. Demi anakku aku terus berjuang dalam ketakutan yang diberikan Mas Mahesa.

Semenjak kejadian itu pula, Mas Mahesa lebih jarang pulang kerumah sekalipun pulang kerumah hanya tidur dan santai, minta dilayani. Tak pernah aku merasakan kasih sayang dari suamiku ini. Tiap kali pulang pun jarang sekali Mas Mahesa menyentuh tubuhku. Mungkin tubuhku kurang bagus, berbagai macam cara aku lakukan untuk merawat tubuhku dari minum jamu, vitamin dan lain sebagainya. Ibuku yang tak pernah tahu semua permasalahanku turut mendukungku. Sebenarnya Ibu menyarankan aku untuk memakai kebaya agar terlihat sepertinya dan katanya suami pasti akan menyukainya. Tapi aku menolaknya, karena pada saat itu umurku masih muda dan Ibu memakluminya. Akupun tetap bertahan dengan mode pakaian yang sopan pada saat itu dan lebih suka memakai rok pendek selutut. Dengan segala usahaku tetap saja tak mempan untuk Mas Mahesa, untuk melihat tubuhku saja dia tidak mau sama sekali. Kurang apa aku ini sebenarnya, banyak dari teman laki-laki di kampus mendekatiku katanya aku yang cantik, kelihatan semok, kelihatan montok inilah itulah. Padahal setiap kali aku berangkat kuliah aku selalu mengenakan pakaian yang sopan, dan longgar. Setiap kali pedih mendera ingin rasanya aku bercerita kepada sahaatku Karima, tapi sekarang entah dimana dia.

Semangatku hanya Arya, dia satu-satunya yang aku punya. Aku lulus kuliah, dan kemudian melanjutkan S2 dan lulus 2 tahun kemudian tepat ketika aku berumur 24 tahun. Berbagai macam godaan aku lewati dari digoda dosenku, teman mahasiswaku semua bisa aku acuhkan. Arya kini berumur 7 tahun dia kusediakan kamar sendiri agar dia tidak pernah tahu kekerasan-kekerasan yang sering dilakukan Ayahnya kepadaku. Diaselalu senang ketika aku bacakan cerita tentang kepahlawanan. Selalu aku ceritakan tentang pahlawan-pahlawan dari nusantara ini yang selalu melindungi yang lemah terutama perempuan.

ÔÇ£Ibu kalau aku besar nanti, aku ingin sekali jadi seorang pahlawan terutama buat Ibu, aku akan selalu meindungi Ibu dan menyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaayangi IbuÔÇØ begitu katanya ketika selesai aku bacakan cerita.

Kehidupanku terus berlanjut dengan berbagai macam cacian dan hinaan dari suamiku. Sebenarnya apa masalah suamiku terhadap diriku sehingga dia begitu membenciku. Aku mencoba bertahan hanya demi Arya. Kulihat Arya semakin besar dan terus kusembunyikan semua kesedihan hatiku dihadapannya. Hanya dia yang paling perhatian terhadap diriku, paling sayang terhadap diriku. Inilah yang membuat aku bertahan dan membuang semua pikiran untuk berpisah dengan suamiku. Kadang aku berpikir untuk selingkuh tapi ketika melihat Arya semua keinginanku sirna. Karena semakin dia bertambah besar semakin dia sangat perhatian dan bertambah rasa sayangnya kepadaku.

Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat, kini Arya sudah kelas 2 SMP. Kamarnya pun pindah ke lantai 2, karena dia ingin tempat yang lebih tinggi agar bisa melihat pemandangan diluar jendelanya. Dia sangat rajin mengikuti ekstra bela diri di sekolahnya. Ingin melindungi Ibu, katanya waktu pertama kali ikut ekstra beladiri ini. Aku hanya tersenyum bangga dengan anakku. Dia tumbuh menjadi laki-laki yang gagah, tinggi bahkan ketika itu dia sudah memiliki tinggi diatasku. Mas Mahesa? Ah aku tidak pernah tahu apa yang dikerjakan olehnya, jarang sekali aku ngobrol dengannya. Dalam satu minggu dia hanya pulang sekali atau duakali. Bahkan pernah 2 minggu sekali baru pulang.

Ada sebuah kejadian dimana ketika Arya kelas 2 SMP, dia pulang sekolah dengan wajah babak belur tapi tetap tersenyum. Aku marahi dia, dia hanya tetunduk kulihat dia mulai menangis. Kupeluk dia dan kukecup keningnya.

ÔÇ£Maafkan Ibu ya nakÔÇØ ucapku

ÔÇ£Arya yang minta maaf, karena Arya sok jagoan, Arya Cuma pengen melindungi perempuan seperti kata Ibu hiks ÔÇØ ucapnya diselingi isak tangis

ÔÇ£Memangnya kamu tadi habis ngapain?ÔÇØ tanyaku sambil terus memeluknya

ÔÇ£Tadi ada mbak yang di goda sama mas-masnya jumlahnya 3 orang, terus Arya dateng dan Arya pukul mereka semuaÔÇØ

ÔÇ£Arya jatuh hampir kalah, karena jumlah mereka banyak, terus Arya lihat ada kayu panjang disebelah Arya, Arya gunakan untuk menghajar merekaÔÇØ

ÔÇ£Kepala mereka ada yang bocor kemudian mereka kaburÔÇØ jelasnya

ÔÇ£Anak Ibu hebat, maafin Ibu ya nakÔÇØ jawabku sambil memeluknya.

Bangga memiliki anak yang tangguh dan hebat seperti Arya ditambah lagi dia sangat sayang kepadaku. Setiap kali aku merasa lelah dengan semua permasalahan hidupku, Arya selalu datang menghiburku. Dia anak yang rajin, sering sekali pekerjaan rumah dia yang membereskan. Ketika aku merasa lelah, dia yang selalu memijitku kemudian membasuh kakiku dengan air hangat, senang sekali rasanya. Mas Mahesa? Sudah dibilang aku tidak mau tahu urusan dia!

Ketika Arya masuk SMA, kelas 1 SMA, dia sudah memiliki tinggi yang jauh dari aku. Arya menjadi anak yang lebih gagah entah berapa tingginya. Dia juga sudah menjadi ahli bela diri dan sampai sekarangpun masih melanjutkan. Pada hari itu, sabtu malam minggu, Mas Mahesa mengajak teman-temannya untuk pesta dirumah. Kusediakan semua yang dibutuhkan. Mereka berpesta di pekarangan belakang rumah. Dari pukul 19.00 hingga tengah malam acara masih tetap berlangsung. Karena merasa lelah aku pun ijin kepada Mas Mahesa untuk tidur terlebih dahulu. Para tetangga mungkin terganggu dengan aktivitas mereka tapi tetanggaku tak ada yang berani menegurnya. Aku mulai terlelap dalam tidurku. Masih dalam keadaan setengah sadar aku rasakan ada tangan yang mengelus-elus tubuhku.

ÔÇ£Kang Mas?ÔÇØ panggilku lirih sembari mebuka mataku aku kaget, karena ternyata bukan Mas Mahesa melainkan temannya. Dia langsung membungkam mulutku dengan tangan kanannya.

ÔÇ£Ssssst…. aku bukan mahesa, tenang kita nikmati malam ini dik Diah, Mas mu itu sudah teler, dari dulu akupengen menikmati tubuhmu he he heÔÇØ jawabnya dengan wajah menakutkan. Dengan cepat dia menindihku membuka bajuku dan terpampanglah payudara yang masih berbalut BH.

ÔÇ£Wah wah wah… BH kamu kekecilan Diah sayang, gak usah pakai BH sajaÔÇØ ucapnya dengan tangan kananku masih membungkam mulutku. Ketika dia mencoba menarik kebawah BH-ku, ku gigit tangan kanannya.

ÔÇ£TOLOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONG!ÔÇØ teriakku

ÔÇ£AAAAAAAAAAA dasar wanita jalang!ÔÇØ teriaknya dan plak sebuah tamparan mendarat di pipiku. Aku kembali rebah di tempat tidurku, dan dijambaknya rambutku.

ÔÇ£MAU MAIN KASAR YA! OKE AKU BERIKAN! HA HA HA HAÔÇØ bentaknya diiringi tawa kesetanan

BRAAAAAK….. pintu kamarku terbuka

BUGH BUGH BUGH…. DAGH …. BUGH BUGH BUGH BUGH BUGH

Beberapa pukulan didaratkan kewajah laki-laki itu, dan ditariknya laki-laki itu hingga rebah di lantai. Di tindihnya laki-laki itu dan dihujami puluhan pukulan. Ya Arya datang menolongku, segera kurapikan kembali bajuku.

ÔÇ£AMPUUUN TOLONG TOLONG AMPUNÔÇØ teriak laki-laki itu, tampak darah mengalir dari dahi, hidung, pelipisnya, dan juga dari mulutnya.

ÔÇ£HENTIKAN ARYAÔÇØ teriak Mas Mahesa, Arya kemudian bangkit ditariknya tangan kiriku, sehingga sekarang posisiku berada tepat dibelakangnya. Kulihat laki-laki itu bangkit sambil memegangi kepalanya.

ÔÇ£Dia mencoba memperkosa Ibu, RomoÔÇØ jelas Arya, suaranya begitu datar, karena memang dia tidak pernah berbicara kasar kepada Mas Mahesa.

ÔÇ£Halah Cuma Ibumu saja kamu kok repot-repot sampai kebawah,paling Ibumu mengigauÔÇØ Ucap Mas Mahesa

ÔÇ£Dia itu mencoba memperkosaku mas dan Arya datangmenolongku hiksÔÇØ jelasku disertai isak tangis

ÔÇ£Ya aku melihat sendiri RomoÔÇØ jelas Arya
ÔÇ£Sudah-sudah, dasar anak kurang ajar, malam begini bukannya tidur malah bikin masalahÔÇØ ucap Mas Mahesa yang bukannya menyalahkan temannya tapi malah memaki anaknya sendiri. Mereka pun berjalan keluar menuju ke pekarangan belakang rumah. Aku dibimbing Arya menuju kamarnya.

ÔÇ£Ibu tidur kamar Arya saja, biar Arya tidur di belakang pintu kamar AryaÔÇØ ucapnya, aku hanya mengangguk. Tak ada pertanyaan dari Arya mengenai semua hal yang terjadi, tentang Ayahnya dan juga tentang permasalahan keluarga ini. Arya kemudian duduk membelakangiku, menghadap pintu kamarnya dengan sebilah belati, Kunci Inggris, disampingnya besi panjang.

ÔÇ£Nak, tidurlah bersama IbuÔÇØ pintaku

ÔÇ£Ibu tidur saja, jika ada yang masuk kemari, aku pasti akan membunuh mereka semua, Aku akan melindungi Ibu sekalipun nyawa taruhannyaÔÇØ katanya tegas, tak ada pembicaraan lebih lanjut antara Arya dan Aku. Akupun mulai terlelap dalam lelahku, sambil memandangi punggung Arya.

Pagi hari setelah kejadian itu, Arya tidak pernah mengungkit-ungkitnya lagi. Dia menjadi lebih sering di rumah ketimbang keluar bersama teman-temannya. Menjagaku katanya. Mas Mahesa? Dia menghilang lebih dari 2 minggu setelah kejadian itu hingga akhirnya pulang dengan wajah datar tanpa rasa bersalah. Arya masih menghormatinya sebagai seorang Ayah, setiap kali berangkat sekolah selalu mencium tangan Ayahnya, tak terlihat kebencian di raut wajah Arya ketika memandang Ayahnya. Kehidupan Ranjangku? Hambar… bahkan setelah kejadian itu Mas Mahesa lebih jarang lagi menyentuhku. Kasih sayang seorang laki-laki tak pernah aku dapatkan darinya.

Tepat ketika Arya mulai kuliah, Aku mencoba memakai pakaian berbeda, aku mengikuti Ibuku untu kmemakai kebaya. Mencoba untu klebih bisa menggoda suamiku, ya walau hasilnya nihil. Semenjak Arya kuliah, sikap Mas Mahesa sedikit melunak. Walaupun pernah aku memergokinya sedang bersetubuh dengan seorang wanita yang tak tahu siapa dia. Ketika itu aku meminta Arya untuk mengantarkan aku ke rumah Ayahku, karena lama aku tak pernah berjumpa dengannya. Ditengah perjalanan kurang lebih satu jam perjalanan, aku sadar kalau dompetku tertinggal dirumah, sehingga aku harus kembali kerumah. Dengan santai aku masuk kerumah, ketika sampai pada ruang tamu aku mendengar ocehan-ocehan orang bersetubuh di kamar tamu depan bekas kamar Arya. Aku mengintipnya dan memang benar Mas Mahesa sedang melakukannya dengan wanita lain. Aku hanya diam dan mulai menangis, kuusap air mataku dan keluar meminta Arya agar secepatnya mengantarku ke rumah Ayahku. Tak kuceritakan apapun kepada Arya sekalipun dia menanyakan mataku yang seperti orang habis menangis.

Tak pernah ada yang tahu bahwa aku adalah wanita yang jarang dibelai oleh suamiku. Perjalanan hidupku terus berlanjut, Arya yang semakin dewasa semakin bertambah perhatiannya kepadaku. Semakin lama aku melihat Arya semakin aku melihat seorang laki-laki yang selama ini aku harapkan. Aku hanyut dalam kasih sayangnya, hanyut dalam rasa sayangnya kepadaku. Hingga akhirnya aku jatuh dalam pelukannya, hal yang seharusnya tidak boleh terjadi. Aku jatuh dan terjebak dalam cinta anakku sendiri.
(Cerita Diyah Ayu pitaloka Selesai)

Setelah aku mendengar semua cerita tentang Ibuku, kukecup pipinya. Dengan senyumannya Ibu memelukku. Dibalasnya kecupanku di keningku. Tampak butir-butir air mata jatuh kepipinya.

ÔÇ£Bu…..ÔÇØ

ÔÇ£Apakah Ibu menyesal melakukan ini semua dengan Arya?ÔÇØ tanyaku kepada Ibu

ÔÇ£Tidak nak, kalau Arya?ÔÇØucap Ibuku sedikit parau

ÔÇ£Arya tidak menyesal bu, Arya senang akhirnya Ibu menemukan kebahagiaan, bersama AryaÔÇØ jelasku yang kemudian mengecup bibir Ibu.

ÔÇ£Terima kasih nak, mulai tadi malam, Ibu akan turuti semua permintaan AryaÔÇØ jawab Ibu yang kemudian membalas kecupanku. Dan Akhirnya kami berciuman. Tangan kiriku meraba bagian susunya dan turun hingga kebawah. Aku singkapkan jarit yang dipakai Ibu, kemudian tanganku mulaimengelus-elus vagina Ibuku. Ciuman aku turunkan dari bibir Ibu turun keleher, dan kemudian kebelahan susu Ibu bagian atas, aku jilat dan kecupi. Kuposisikan simpuhku tepat ditengah-tengah Ibu kemudian aku renggangkan kaki ibu dan ku angkat sedikit pinggangnya. Indah sekali vagina Ibu, langsung aku merundukan kepalaku dan mulai menjilatinya.

ÔÇ£Aaaahhh…. nak jangan, itu jorok nak…. aaahhh….ÔÇØ kata Ibuku kepadaku

ÔÇ£Slrup slrup slrup….. Ibu tidak suka?ÔÇØ akupun menghentikannya

ÔÇ£Itu jorok Ibu tidak ingin kamu kotor nakÔÇØ terang Ibuku

ÔÇ£Dinikmati saja bu, Arya pengen ibu seneng, Pokoknya Ibu harus senang dan nyaman ketika sama AryaÔÇØ

ÔÇ£Semalam Arya ingin mainin tempik Ibu kaya difilm tapi kelupaan he he heÔÇØ akupun melanjutkan jilatanku

ÔÇ£Terse….rah…..ka….mu uhhhffftttt…… en….nak…..terus itu buat kamu…..ÔÇØ rintih nikamt Ibuku sesaat setelah aku melanjutkan jilatanku

Aku menjilati vagina Ibuku seperti halnya menjilati es krim, kusapu vagina Ibu dari bagian bawah ke atas dengan lidahku. Terus aku lakukan seperti itu. Jilat jilat dan jilat. Kemudian jilatanku aku hentikan tepat pada bagian atas vagina Ibuku, tepat di klitoris Ibuku.

ÔÇ£Aduh! Itu Itil ibu……. itil Ibu huffffftttt…. mbok apake nang? (kamu apakan nak?) Aiiiiiihh uft uft…..ÔÇØ

ÔÇ£Aduh… enak nak…. itil krasa (terasa) enak….ah ah ah itile (klitoris) kamu apakan aaaaa…..ÔÇØ
ÔÇ£Ussssttttt ah ah ah ah jilati terus itil Ibumu enak…..ÔÇØ racaunya

Dengan sedikit variasi seperti yang aku tonton dari film porno, aku masukan jari tengahku. Kini aku masukan jari tengahku ke liang senggamanya dan aku kocok.

ÔÇ£Aaaaaaaaahhhh….. enak nak….. enaaaaaaaaak terus terus…..ÔÇØ racau Ibuku

Sebenarnya aku kurang begitu tahu mengenai permainan ini, ku kocok terus jariku di liang senggamanya. Kadang aku menekuk jariku ketika di dalam vagianku dan menyentuh bagian dalam atas vagina Ibuku dan Ibuku mengerang nikmat.

ÔÇ£Ah…. ya nak seperti itu enak…. arya enaaaaaaak….ÔÇØ racaunya

ÔÇ£Beneran enak bu kalo dimasuki jari Arya?ini belum kontol Arya lho buÔÇØ jawabku sambil melepas permainan lidahku di itilnya yang kemudian aku lanjutkan lagi permainan itu dengan sedikit kocokan jariku.

ÔÇ£Enaaaak enaaak, jari Arya enak , kontol arya juga enak, semuanya ssssshhhhh…. punya arya enakÔÇØ racaunya. Kembali aku mempercepat kocokan jariku, tak lupa aku menjilati klitoris Ibuku.

ÔÇ£Terus nak terus, Ibu mau keluar….ÔÇØ racaunya kembali

Aku percepat kocokanku di liang vagina Ibuku. semakin cepat dan semakin cepat. Sambil mengocok kadang aku menyedot-nyedot itil Ibuku.

ÔÇ£Ibu keluaaaaaaaaaaaar….. ah ah ah ah ahÔÇØ Ibu berteriak nikmat, tubuhnya sedikit melengking ke atas dan seketika itu pula akupun menhentikan kocokannku. Terlihat nafas Ibu tampak tersengal-sengal.

ÔÇ£Nuakal banget kamu le, ora driji ora kontol gawe kelojotan ibu (enggak jari enggak kontol buat kelojotan)ÔÇØ kata Ibuku sambil ngos-ngosan. Kuarahkan jariku kemulutnya dan hap dikulumnya jariku.

ÔÇ£Hah hah hah…huft…….haaaaaaaaaaaaassssssssssssshÔÇØ suara ibu ngos-ngosan.

ÔÇ£Mmmmmmmm……kalau Arya pengen masuk, dimasuki saja nak, Ibu juga pengenÔÇØ lanjut Ibuku sambil melepas kulumannya

ÔÇ£Nanti aja bu setelah Arya mandi he he heÔÇØ jawabku sambil tersenyum nakal

ÔÇ£Kamu nakal ya, sekarang pokoknyaÔÇØ paksa Ibuku

ÔÇ£Ibuku, kekasihku, harus nurut sama Arya nanti Arya kasih lebihÔÇØ janjiku

ÔÇ£Beneran lhoÔÇØ kata Ibuku sambil menaruh kepalanya di dadaku dibarengi dengan kecupan mesra di leherku. Tampak Ibu sedang mencoba mengumpulkan tenaganya untuk bisa beraktifitas kembali.

ÔÇ£Kita makan pagi dulu yuk sayangÔÇØ pintaku

ÔÇ£Iya sayangku cintakuÔÇØ jawab ibuku.

Ibu kemudian melepaskan pelukannya, kemudian beranjak dari tempat tidur untuk mempersiapkan makan pagi. Disusul aku dari belakang. Ketika berjalan aku peluk Ibuku dan aku tarik dan lepas jaritnya.

ÔÇ£Ih…. nakal banget anak Ibu sekarangÔÇØ ucap Ibuku manja sambil membalikan tubuh indahnya dan meremas dedek arya

ÔÇ£Arya pengen lihat Ibu telanjang terus hari iniÔÇØ jawabku nakal. Ibu kemudian berbalik dan mengecup bibirku.

ÔÇ£iya Iya sayaaaaang….ÔÇØ senyum Ibu sambil meninggalkan aku yang masih berdiri di kamar.

Gila?mungkin. aneh? Mungkin. Memang begitulah, dari dulu yang memanggilku sayang tidak pernah ada kecuali Ibuku, pacar saja belum punya. Tapi panggilan sayang kali ini berbeda sangat berbeda, bukan panggilan manja dari Ibu ke anak tapi dari seorang wanita kepada laki-laki.
Kulihat sekeliling kamar tamu ini, teringat akan semua kenangan yang dulu dan baru saja terjadi. Dengan berpinggang tangan kulihat atap kamar ini. Kupejamkan mata ini, mencoba meresapi semua yang telah terjadi dan mengingat cerita Ibu. Tiba-tiba terbesit sebuah pertanyaan dari dalam pikiranku.
ÔÇ£Tali? Ya darimana Ayah dapat tali ketika terjadi pemerkosaan itu. Jika tidak direncanakan seharusnya tidak ada tali ditempat itu. ÔÇ£

Pikiranku kembali melayang menlusuri kejanggalan-kejanggalan dalam cerita Ibu.

ÔÇ£Jika ayah mabuk, kenapa dia masih bisa menyetir mobil? Kenapa pula dia sangat menginginkan Ibu secepatnya? Kenapa Ayah tidak pernah pulang memberi jatah kepada Ibu?, tapi malah lebih suka dengan wanita lain, benar kata Ibu kurang apa Ibu?ÔÇØ

ÔÇ£terus laki-laki itu, laki-laki yang aku hajar ketika akan memperkosa Ibu, kenapa Ayah menanggapinya dengan datar begitu saja?kenapa pada waktu itu aku tidak mempunyai pemikiran seperti ini? Ayah …. Ya Ayah …. Aku harus lebih tahu lebih banyak, dan akan aku cari tahu tentangnyaÔÇØ

Kulangkahkan kakiku keluar kamar tempat dimana aku akan menemukan kesegaran dari air. Kamar mandi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*