Home » Cerita Seks Mama Anak » Wild Love 3

Wild Love 3

Aku bangun lebih pagi dari biasanya entah karena apa aku pun tak tahu. Kulihat jam dinding yang berdetak mengikuti kegundahan hatiku menunjukan jam 4 pagi. Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi, ketika kakiku mendarat di pijakan terakhir kuarah kepalaku menoleh ke arah kamarorang tuaku. Sunyi senyap, membuat darahku membeku ketakutan. Secepatnya aku masuk kamar mandi, mencoba menghapus semua kejadian dimalam kemarin dengan guyuran air, Segaaaaaaar!.

Dengan hanya mengenakan handuk yang aku lilitkan pada pinggangku, aku keluar dari kamar mandi. Tak lupa aku mengarahkan kedua mata ini ke arah kamar orang tuaku lagi tapi tetap sunyi yang membuat aku semakin takut untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Segera aku naik untuk berganti pakaian, menata semua pakaianku, kumasukan dalam koper, ya aku harus pergi dari rumah ini, aku telah bertindak bodoh semalam, dan jujur saja aku malu bagaimana cara menatap Ibu.

Jam berdetak menunjukan 05.30, tak biasanya sesepi ini. Dihari-hari sebelumnya selalu terdengar kesibukan dibawah sana, kadang suara air mengalir ditempat cucian piring, kadang suara sesuatu yang digoreng tetapi hari ini hilang semua karena logikaku yang tertutup birahi. Bagaimana kalau Romo tahu apa yang aku lakukan? Mungkin sekarang aku sudah menjadi seonggok tulang berbalut daging. Kumerenung dan merenungi semua kesalahanku.
Tik tik tik tik tik kulihat jam dinding dikamarku, tepat jam setengah tujuh, aku langkahkan kakiku turun ke lantai bawah. Tak kulihat lagi wanita paruh baya nan cantik dan rupawan yang biasa menyapaku dengan senyuman dan parahnya tidak ada makanan yang tersedia di meja makan. Ibu dimana?Ibu….maafkan aku. Kulihat pintu kamar Ibuku masih tertutup kuangkat kakiku satu per satu menuju kamar Ibu.

Tok Tok Tok…..ku ketuk pintu kamar Ibuku.

ÔÇ£Bu……ÔÇØ

ÔÇ£Ibu……ÔÇØ suaraku lirih

ÔÇ£Bu, Arya berangkat kuliah dulu, sekalian Arya mau pamit mencari tempat kos. Maafin Arya bu….sekali lagi maafin Arya bu, Arya minta maaf hiksÔÇØ kataku dengan mata yang menggenang dan kemudian melncur deras.

Kleeeeek…..pintu kamar Ibu terbuka. Dan…..

Cantik sekali, sangat cantik seorang wanita dengan kebaya wanta putih dan jarit berwarna putih serasi dengan kulitnya. Riasan yang sederhana tapi tidak menor, dengan rambut yang digelung kebagian belakang tanpa sanggul. Kulit yang putih sangat serasi. Ku usap air mataku yang mengalir, dan ku perlihatkan senyum kepada ibu. Tapi tak kulihat senyuman itu. Hufttt……

ÔÇ£Kamu boleh ngekos, dan mulai besok kamu bisa temui Ibu kamu di Pemakaman terdekat siniÔÇØ jawab Ibuku dengan mata sembab , mungkin karena menangis semalaman. Ibu kemudian membuang pandangannya. Jawaban yang menakutkan, mengerikan, membekukan darahku, membuatku tertegun dan kebingungan.

ÔÇ£Bu, jangan bilang kaya gitu to….ÔÇØ

ÔÇ£Arya menyesal sudah melakukan hal bodoh terhadap Ibu dan…..ÔÇØ kataku terhenti

ÔÇ£kono mangkato ora usah balik maneh, tinggal sesuke nyekar ning kuburan, gampang to? (sana berangkat saja tidak perlu pulang lagi, tinggal besuk ziarah kekuburan, gampangkan?)ÔÇØ jawab ibu sambil tetap tidak memandangku. Aku hanya tertunduk dihadapan Ibu.

ÔÇ£apa yang bisa Arya lakukanagar Ibu benar-benar memaafkan Arya?ÔÇØ tanyaku lirih dengan tetap sambil menundukan kepala

ÔÇ£Ibu akan maafkan Arya asal Arya mau tetap dirumah tidak ngekos dan menemani Ibu, Ibu tahu itu adalah sebuah kesalahan tapi itu semua karena rasa sayang Arya ke IbuÔÇØ lanjut Ibu

ÔÇ£Dan Jika memang Arya sayang Ibu, dan Arya ingin Ibu memaafkan Arya…..ÔÇØ jawab Ibu berhenti suasana kembali hening. Ibu kemudian masuk kamar, terlihat ibu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu. Ibu kembali dihadapanku tapi tetap saja tidak memandangku padahal biasanya aku selalu mendapatkan senyuman darinya.

ÔÇ£disitu sudah Ibu tulis ukuran jari Ibu. Ibu ingin kamu belikan cincin itu saja tapi dengan uangmu sendiri, ukurannya harus pasÔÇØ ibu memotong perkataanku dengan penjang lebar sama dengan Luas. Sambil menyerahkan gambar cincin emas kepadaku.

ÔÇ£Bu….ta ta tapi untuk Apa?ÔÇØ jawabku heran

ÔÇ£Ibu kepengen saja, katanya pengen dimaafkanÔÇØ jawab Ibu ketus sekali, aku hanya mengangguk.

ÔÇ£sudah lama Ibu tidak mendapatkan hadiah dari orang yang sayang sama Ibu bahkan anak sendiri juga tidak pernah memberikannya ke IbuÔÇØ jawab Ibuku ketus yang membuat aku tertegun dan malu.

ÔÇ£Baik bu….ÔÇØ jawabku sambil menunduk.

ÔÇ£Ibu harap kamu benar-benar membelikannyaÔÇØ ucap Ibuku yang kujawab hanya dengan anggukan yang penuh dengan rasa takut. Aku bergegas pergi meninggalkan Ibu, tanpa kusadari koper yang aku pegang masih ditangan kananku.

ÔÇ£kamu mau letakan koper itu? Atau nanti malam meletakan Ibu didalam liang kuburÔÇØ ucap Ibuku, kulihat tanganku memegang koper bodohnya aku ini dan kemudian menoleh ke arah Ibu. Tetap dan masih saja Ibuku membuang mukanya. Huh andai saja aku bisa menangkap mukannya.
Kuletakan koper dan aku bergegas menuju garasi, mempersiapkan Revi dan melesat tanpa batas menuju kampus. Dasar ibu, oke aku tahu aku salah, tapi kalau disuruh beli cincin, uang darimana coba? Belum lagi harga cincin ini berapa? Ya sudahlah, aku tidak mau Ibuku kenapa-napa. Cuma ibu yang sering mendengar keluh kesahku selama ini. Romo? SIBUK!

Dalam perjalanan berangkat pun pikiranku terus terbayang-bayang kejadian semalam dan ketakutan. Ketakutan dengan kata kuburan, kenapa juga namanya kuburan mbok yaho diganti? Lha wong Kuburan band saja sudah ganti nama. Lamunanku terhenti ketika aku sudah sampai di tempat kuliah. Untungnya aku masih bisa mengendarai Revi sampai tempat kuliah.

ÔÇ£Woi……ÔÇØ teriak rahman melambaikan tangan, manusia berkulit gelap, yang selalu memotong rambutnya seperti bola sepak alias potong 1 cm dan hidung khas orang Arab-India seperti paruh burung kakak tua. Tinggi kira-kira 178 cm karena memang jika berdekatan denganku hampir sama walau tinggi aku sedikit. Jangan sekali-kali membandingkan aku dengan rahman karena jika didekatkan akan tampak seperti Zebra Cross, perlu dicatat kulitku lebih putih dari si Rahman (NO SARA-just for imagination).

ÔÇ£Sini Ar…….ÔÇØ

ÔÇ£Oh….ÔÇØ aku kaget mungkin karena banyak pikiran.

ÔÇ£Iya……. aku kesanaÔÇØ teriakku.

Kuhampiri Rahman dan tos tos tos biasalah tos persahabatan yang memang jarang aku lakukan. Perkuliahan dengan Rahman dimulai jam setengah sembilan, kali ini kuliah 5 SKS. 3 SKS dari jam setengah sembilan sampai jam 12 dan yang kedua 2 SKS dari jam setengah satu sampai jam dua lebih 10 menit. Aku mengambil tempat duduk paling belakang, tepatnya di belakang teman kuliahku yang memiliku postur yang lebih besar (baca : Gemuk NO SARA-just for imagination) dari aku. Perkuliahan kali ini aku benar-benar tidak konsen dengan apa yang diajarkan oleh dosenku. Bayanganku masih melayang dengan apa yang terjadi semalam. Putih bersih ah…..lamunanku hingga membuatku otakku menolak semua materi dari dosen. Dua setengah jam telah terlewati, terlampaui dengan berbagai bayang-bayang adegan kotor semalam. Dosen kok mboseni (membosankan), ya itulah dosenku yang sekarang sedang mengajar, Dosen yang hanya duduk dan membaca buku paket perkuliahan. Seperti orang yang mendongengkan cerita ke anak-anak TK agar lekas tidur.

ÔÇ£Ar….mbolos yuk Ar, ane males kuliah jam setengah satu, isinya Cuma ngantuk ngantuk dan ngaaaaaaaaaaaaaaaaaaantuk….ÔÇØ ajak Rahman ketika kita berjalan meninggalkan kelas.

ÔÇ£hmm….hoaaaaam….makan dulu lah sebelum bolos, memang mau bolos dimana kang?ÔÇØ jawabku sambil merenggangkan kedua tanganku.

ÔÇ£ya gak kemana-mana Ar, Cuma stay di warung aja, gimana menurut ente?ÔÇØ lanjut Rahman

ÔÇ£ayo…Markike (Mari Kita Kemon) ….dah lapar aku kang, tadi pagi Ibu bangun kesianganÔÇØ jawabku sambil beranjak dari tempat duduk.
Ibu?bangun kesiangan?gara-gara aku membuatnya menangis, melakukan hal bodoh yang seharusnya tidak aku lakukan. Tapi jika mengingat Ibu tadi pagi, Ibu tampak lebih cantik dari tadi malam, tumben-tumbenan Ibu berdandan seperti tadi pagi. Pikiran ini terus bergerak ke otak dan berputar-putar terus terus dan terus sepanjang aku berjalan bersama Rahman menuju warung di seberang kampus.

ÔÇ£Mbok… Nasi rames ayam goreng dua, es jeruk satu, jeruk adem satu, kasih sambel trasinya bu jangan lupaÔÇØ teriak Rahman ketika memasuki warung. Kami pun memilih bangku yang dekat dengan pintu keluar.

ÔÇ£Ora nganggo suwi Mbok, selak meh modar rasane (tidak pakai lama Mbok, hampir mau mati rasanya)ÔÇØ teriakku setelah Rahman. Kami langganan di warung si mbok, jad ya sudah biasa kalau kita selalu bercanda di warung.

ÔÇ£Koyo-koyo wong sing ora tahu mangan wae to le, yo kosek sedelok (seperti orang yang tidak pernah makan saja to nak, ya tunggu sebentar)ÔÇØ jawab Si Mbok Warung. Tempat kami duduk adalah tempat paling nyaman di warung ini, pojok dekat dengan pintu dan sangat privasi. Ya maksudnya tempatnya mojoklah enak dibuat ngobrol.

ÔÇ£Ssst….ane punya film bagus, ente mau lihat gak?ÔÇØ bisik Rahman

ÔÇ£apa kang?ÔÇØ jawabku

ÔÇ£nih…jangan lupa pake earphone-nya, sebelah aja biar kita tetep bisa ngobrolÔÇØ dia menyerahkan si KW super Korea selatan kepadaku. Langsung aku pasang satu earphone ke telingaku.

ÔÇ£File-nya apa kang?ÔÇØ tanyaku penasaran dengan film itu.

Rahman kemudian, membukakan file pada smartphonenya yang aku pegang, dan touch….filmpun dimulai. What the fuck?! ItÔÇÖs porn film again but i start to love it….uft. Ketika film itu diputar aku melihat ke arah samping kanan, kiri, belakang dan Huft…Aman Jaya Mengudara dan terkendali. Karena dibelakangku adalah tembok, samping kiriku tembok, samping kananku meja makan kosong. Gila kenapa aku sekarang jadi suka sekalii melihat film porno? Ini yang kedua bagiku, yang kedua ini sangat lain karena? sudahlah. Aku tidak merasa aneh, atau jijik, sekarang yang aku rasakan adalah menontonnya, meresapinya dan melupakannya. Mungkin lebih tepatnya hanya untuk kesenangan saja melihat seperti ini.

ÔÇ£Wooi serius amat sich ente…. ntar ane transferin yang banyak ke HP ente…. maaf yo, ane paling suka ngajakin jelek ente ha ha ha haÔÇØ kata Raman membuyarkan konsentrasiku.

ÔÇ£Memang masih pun……………..ÔÇØ ucapku terputus

ÔÇ£Ki segone karo ngombene, lek dang dipangan tapi eling piring karo gelase ojo dipangan (ini nasi dan minumannya, segera dimakan, tapi ingat piring dan gelasnya jangan dimakan)ÔÇØ tiba-tiba Si Mbok warung meletakan pesanan kami dan memotong perkataanku.

ÔÇ£Emange jaran eblek mangan koco mbok (memangnya kuda lumping makan kaca)ÔÇØ jawab kami serentak yang diikuti gelak tawa si mbok yang berjalan meninggalkan kami.

ÔÇ£Tadi ente mau ngomong apa Ar?ÔÇØ tanya Rahman

ÔÇ£Memang masih punya banyak Kang Rahman?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Huwahahahahahahahahahahah….. Ane kira ente alergi sama hal-hal yang berbau ÔÇ£busukÔÇØ Ternyata…..ÔÇØ

ÔÇ£Download to Ar Ar, entenya saja yang Bahlul (Bodoh) bin goblok bin dedhel, ga pernah manfaatin internet, makanya browsing…. berselancar di dunia maya ….hahahahahaha ….ÔÇØ jawabnya terbahak bahak

ÔÇ£Dah makan dulu….ÔÇØ lanjut Rahman

Aku hentikan kegiatanku nonton film itu, kusantap dan kulahap makan nasi rames ibu warung. Jika piringnya bisa aku makan mungkin akan aku makan sekalian he he he. Ah….lezatnya…..bagaimana tidak, tadi pagi aku tidak ÔÇ£kemasukanÔÇØ nasi sama sekali. Perut kosong apalagi pikiranku buyar karena Ibuku.

ÔÇ£Mana HP ente?ÔÇØ kata Rahman memcah konsentrasi makanku

ÔÇ£Hini mmmmm kangmmmm…ÔÇØ jawbku sambil sambil mengunyah makanan.

Sambil makan kulihat Rahman mengutak-atik smaartphone miliku dan miliknya. Makan makan makan….aku ingin kenyang…. wah ternyata ada lauk cumi osengnya, dipotong-potong kaya cincin. Wadiyah waduh …Cincin? Ah cincin titipan Ibu…. kenapa aku baru ingat, bagaimana ya? Aku harus beli dimana? Kenapa aku bisa lupa. Cepat aku selesaikan makanku, kemudian kurogoh saku celanaku.

ÔÇ£Untung masih adaÔÇØ kataku tiba-tiba

ÔÇ£Ni Ar, udah ane transfer, ane simpen di folder yang namanya SemprotkuÔÇØ kata Rahman kepadaku

ÔÇ£Oia…untung kenapa??ÔÇØ lanjut Rahman kaget aku mendengarnya.

ÔÇ£Apa aku harus cerita ke Rahman soal kejadian semalam? Ah tidak, bisa-bisa aku disangka orang Gila, Tapi aku bisa minta tolong ke rahman untuk cari cincin iniÔÇØ bathinku.

ÔÇ£Kang, tahu gak cari cincin seperti ini dimana?ÔÇØ sambil aku meyerahkan potongan gambar cincin dari Ibuku

ÔÇ£Hmmmm…. ni di Toko Gajah Emas ada, tapi model kaya gini bisa nyampe 6 gram Ar, harganya kira-kira…kalo disesuaikan dengan harga emas sekarang ya Ar, ya bisa nyampe 3,5 juta-an lebih ArÔÇØ jelas Rahman kepadaku

ÔÇ£HAH?! WEIDIAN! (Edan) duit opo godong iku Kang (uang apa daun itu kang)?ÔÇØ teriaku kaget.

ÔÇ£Ha ha ha ha ha emang ente, mau beli? Buat siapa? Pacar ente?ÔÇØ tanya Rahman yang masih tertawa sambil memegang perut

ÔÇ£Kanggo makÔÇÖe kang (Buat Ibu kang), dia pengen cincin seperti gambar iniÔÇØ jawabku pelan

ÔÇ£Owalaaaaaaah…. gampang itu ÔÇ£

ÔÇ£Tenang aja Ar, ane kan pernah punya hutang ama ente, waktu kecelakaan itu ente kan yang bayar uang perawatan di awal ane masuk RS?ÔÇØ tanya Rahman

ÔÇ£I…iya kang, kok tahu?ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Ya tahulah, punya mulut itu fungsinya buat tanyaÔÇØ

ÔÇ£Sudah tenang aja Ar, nah sekarang giliran ane bantuin ente Ar….. bentar ane transfer ke rekening ente pake i-bangking, nomor rekening ente masih
sama kan?ÔÇØ jelas Rahman

ÔÇ£ee….enggak usah kang…..ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Diem aje ente, ane tahu ente sayang banget ma Ibu ente, sekarang giliran ane yang bantu ente, coba aja waktu itu ente gak lewat mana mungkin ane bisa makan bareng ente sekarangÔÇØ kata Rahman sambil ngutak-atik telepon cerdasnya.

ÔÇ£Ketemu rekening ente ……ÔÇØ guman Rahman mengutak-atik telepon cerdasnya. Ya memang aku dan rahman memang pernah melakukan transfer ke rekening masing-masing, mungkin no.rekeningku masih tersimpan di riwayat transfernya.

ÔÇ£Dah masuk Ar…. semoga ente bisa dapetin tuh cincin, dan bisa bikin seneng Ibu enteÔÇØ lanjut Rahman

ÔÇ£Makasih kang, bukannya mau ngapa atau gimana lho kang…..ÔÇØ baru saja mau ngomong Rahman sudah memotongku perkataanku

ÔÇ£Udah Ar, ente sahabat terbaik ane jadi, well wewe gombel, apa yang ane lakukan ini gak sebanding sama pertolongan ente waktu itu, lagipula sudah kewajiban ane ngebalikin uang itu karena itu adalah uang kamuÔÇØ jelas Rahman

ÔÇ£Ato kurang? Perlu ane tambahin Ar? Tenang aja uang tambahan ini gak perlu kamu ganti ini masih kurang ngan bantuan yang ente berikan waktu ituÔÇØ lanjut Rahman

ÔÇ£Sudah kang sudah, ini sudah lebih dari cukup…ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Mending sekarang kamu ke Toko Emasnya Ar, dari pada nanti tutupÔÇØ nasihat Rahman kepadaku

Setelah perbincangan dengan Rahman di warung itu, kemudian aku bergegas ke pusat kota. Uang yang ditransfer Rahman lumayan banyak 5 juta. Padahal uang yang aku keluarkan untuk biaya rumah sakitnya waktu itu tidak sampai 5 juta. Tapi tak apalah daripada tidak punya uang buat beli cincin. Kuhentikan Revi si bodi montok di ATM pinggir jalan untuk mengambil uang sebesar 4 juta. Kulihat saldo ATM-ku tersisa sekitar 3 juta. Beruntung aku punya sahabat seperti Rahman selalu melewati suka duka bersama.

Kembali kupacu Revi montokku menuju toko Gajah Emas, Kurang lebih 1800 detik aku sampai di toko emas, tepat jam setengah tiga. Aku serahkan gambar cincin kepada penjaga toko. Penjaga toko memperlihatkan cincin yang sama dengan di gambar. Tinggal satu dan untunglah harganya tidak lebih dari 4 juta serta ukurannya cocok dengan pesanan ibu. Masih sisa 200rb lumayan. Tak lupa aku bungkus cincin itu dengan wadah cincin yang terbuat dari kaca, jadi tidak sisa.

Kuselesaikan semua urusan di toko kembali kupacu Revi, setelah Kurang lebih setengah jam lamanya aku di toko emas itu. Bergegas aku pulang kerumah, coba bayangkan dari rumah ke kampus 1 jam, dari kampus ke toko kurang lebih setengah jam, total perjalanan pulang memakan waktu 90 menit. Jam setengah lima aku sampai dirumah, kumasukan motorku ke garasi, garasi rumah tak terkunci bahkan tak tertutup mungkin sejak tadi pagi aku berangkat, kemudian kututup gerbang, dan masuk rumah melaui garasi sekalian mengunci pintu garasi.

ÔÇ£Sepi sekali, dimana Ibu? Kok wangi banget….ÔÇØ bathinku

ÔÇ£Buuu….. ÔÇ£ dan tak ada jawaban

Kulirik kamar ibu, tapi kelihatannya dikunci. Lebih baik aku mandi, dan segera mandi , istirahat. Rasa lelah perjalanan hari ini begitu meguras tenagaku. Hingga aku terlelap dan tidak ada satupun mimpi yang hinggap di dalam tidurku. Aku terbangun, kulihat jam dinding kamarku yang tampak buram menunjukan pukul 18.30. kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan bergegas kembali ke dalam kamarku. Kulihat telepon cerdasku berbunyi cicit cicit cuit cit cicit cuit. Kubaca sms yang masuk.

Dari : Ibu tercantik <3
Untuk : Arya
Pakai pakaian yang rapi, Ibu tunggu di bawah nak.

Dari : Arya
Untuk : Ibu tercantik <3
Inggih Bu siap, Mau kundangan ya bu?tunggu sebentar ya bu.
Tak ada balasan sms dari ibu, kupercepat berganti pakaianku. memakai baju rapi, dengan celana kain formal berwarna hitam. Bagian atas aku memakai baju berwana hitam dengan garis-garis vertikal tipis terukir dibajuku. Sambil berganti pakaian tak lupa aku menyulut rokok dunhill mild. Aku ambil parfum warna hitam bertuliskan ÔÇ£kapakÔÇØ. Ku semprotkan ke seluruh tubuh pakaian yang aku kenakan hingga kedalam mulutku. Wangi semerbak toko parfum membalut kegundahanku dan ketakutanku. Aku turun ke bawah menuju ke bawah, tak lupa kukantongi telepon pintarku dan cincin pesanan Ibu dengan penuh harapan kelakuanku dimaafkan olehnya. Hingga sampai dibawah aku tidak menemukan Ibuku.

ÔÇ£Bu….. Arya sudah siapÔÇØ teriakku sambil duduk di kursi ruang keluarga

ÔÇ£Ibu di kamar tamu nak, lagi nata kamar, sini sebentarÔÇØ teriak Ibu keras

ÔÇ£hah males banget! Masa mau kundangan suruh beres-beres? Sudah wangi lagiÔÇØ bathinku kesal

Kulangkahkan kakiku menuju kamar tamu, kubuka pintu kamar tamu. Dan ………………..

Kleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek………… Deg janntung serasa berhenti berdenyut, semua tempat tampak begitu gelap. Kenapa kamar tamu gelap sekali, dimana Ibu sebenarnya. Klik ….Kunyalakan lampu kamar tamu dan tak kutemukan keberadaan Ibu.

ÔÇ£Bu…… Ibu…….ÔÇØ

ÔÇ£Ibu dimana to?ÔÇØteriaku memanggil Ibu

ÔÇ£Di kamar tamu depan nak….ÔÇØ terdengar suara Ibu dari dalam kamar tamu depan

Hadeeeeeeeh, kenapa ini telinga tadi aku dengar Ibu teriak seakan-akan dikamar tamu belakang. Hantu? Hiiiiiii…….Mungkin telingaku yang kurang jelas dalam mendengar. Di rumahku ini ada dua kamar tamu, sebenarnya cuma satu kamar tamu dan yang satunya lagi adalah kamarku sampai umur 12 tahun. Baru kemudian aku meminta kepada orang tuaku untuk dibangunkan kamar dilantai yang lebih tinggi. Bekas kamarku pun dijadikan kamar tamu, sehingga terdapat dua kamar tamu, kamar tamu depan dan kamar tamu belakang. Ku melangkah ke sumber suara dimana Ibu berada, ketika sampai didepan kamar tamu.

Go go power rangers <melodi> ….Go go power rangers <melodi> …. Go go power rangers …. the mighty morphin power rangers…..bunyi telepon cerdasku berbunyi, kulihat sebuah nama yang tak asing lagi, Rahman.

ÔÇ£Bu bentar gih, mau angkat telepon duluÔÇØ teriakku, tak ada jawaban dari kamar tamu depan, aku melangkah ke ruang tamu.

ÔÇ£Tumben kang, Ada apa kang?ÔÇØ

ÔÇ£MMC punyamu rusak? Hahahahahahahaha…. tenang aja masih kang file-nya, memangnya tidak di simpan di komputer kang?ÔÇØ

ÔÇ£Kamu format ulang?lupa kamu pindah ke-D (baca Drive D)ÔÇØ

ÔÇ£Oke oke kang, besok ya aku mau mengantar Ibu kundangan duluÔÇØ klek… suara telepon cerdasku pertanda aku menutup telepon. Ada-ada saja kang Rahman, format ulang komputer sampai lupa pindahin semua file-file dari Drive C ke Drive yang lain. Membuat hatiku tertawa terpingkal-pingkal. Dengan masih menahan geli karena ulah kang Rahman yang ÔÇ£menangisÔÇØ sambil meneleponku hanya gara-gara file video panas, aku melangkah balik menuju kamar tamu depan. Dan…..

Kamar yang terang tampak beberapa poster Batman, Superman, Robo Cop masih tertempel di dinding kamar ini, kamarku ketika aku masih berusia belia. Susunan kamar masih tampak sama dengan yang dulu, hanya saja kesan anak kecil sudah disulap menjadi kamar untuk orang dewasa. Sinar lampu yang terang berwarna putih membuat seisi kamar ini tampak begitu jelas. Pandanganku yang semula menelusuri kamar ini tertahan, terhenti pada sebuah pemandangan. Kulihat seorang wanita paruh baya nan Ayu, cantik berpakaian kebaya warna putih, ya dia Ibuku. Wanita dengan tinggi tubuhnya kira-kira 155 cm. Aku bisa memperkirakan tinggi tubuh ibuku karena ketika aku berada disamping Ibu, tinggi Ibu hanya sebatas tengah-tengah leherku. Pandanganku semakin berkeliling, balutan jarit warna coklat bermotif batik tulis pada bagian bawahnya sangat serasi dengan kebaya putih yang membungkus tubuh wanita. Riasan yang sederhana, tanpa sanggul hanya rambut yang digelung kebelakang hingga membuat leher jenjang indah itu tak tertutup rambut. Tampak sedikit rambutnya terurai kedepan menutupi sedkit wajah putih cantiknya. Kulitnya yang putih serasi dengan apa yang dipakai oleh wanita yang berada dihadapanku. Payudara? Jujur saja aku belum bisa memastikan berapa ukurannya karena memang aku belum pernah memegang dan menanyakan kepada Ibuku. HEI HEI! kenapa pikiranku menjadi mesum seperti ini, tujuanku masuk ke kamar ini kan untuk membereskan kamar tamu membantu Ibu dan menunggu eksekusi amarah dari Ibu.

Wanita dengan wajah sendu itu kemudian berdiri, secara perlahan layaknya adegan slow motion wanita itu mendekat ke arahku. Dengan senyuman nan elok kepadaku, Ibu semakin dekat. Dengan jarak kurang dari 1000 milimeter, Ibu mengulurkan jari manis tangan kirinya. Tampak cahaya di wajahnya yang berbalutkan sinar kebahagiaan dan kasih sayang. Terpancar cinta seorang wanita kepada laki-laki.

ÔÇ£Ibu menunggumu terlalu lamaÔÇØ

ÔÇ£Sudah membeli cincin yang Ibu inginkan?ÔÇØ Suara yang lembuuuuuuuut sekali berbeda sekali dari yang pagi meluncur dari bibir indah bergincu tipis berwarna merah jambu.

Aku masih terdiam, melihatnya membuatku masih tertegun dengan apa yag aku lihat. Kecantikan khas dari daerah tempat tinggalku dengan sedikit tambahan kecantikan perpaduan dari negara lain.

ÔÇ£Naaaak….ÔÇØ suara lembut itu kembali mengalir dari bibir merah jambu itu.

ÔÇ£Ibu…. Ayu banget (cantik sekali) ÔÇØ kataku lirih, hanya dibalas dengan senyuman Ibu kepadaku.

ÔÇ£Mana?ÔÇØ lanjut Ibuku

Kuambil kotak kaca yang berisikan cincin yang diinginkan Ibuku, sama persis dengan gambar yang diberikan kepadaku. Ketika aku mengeluarkan cincin itu, ibu semakin mendekat dan mengulurkan jari manis tangan kirinya kepadaku. Terasa sedikit aroma wangi parfum yang khas dari bunga melati dengan sedikit wangi dari bunga yang lain, entah bunga apa itu.

ÔÇ£Coba nak kau pakaikan cincin itu kejari Ibu nakÔÇØ lembut suara itu kembali mengalir, suara yang seakan-akan telah di bubuhi pelembut pakaian.
Mendengar perintah Ibu aku langsung membuka kotak cincin pesanan Ibu. Kuambil dengan kedua jariku. Dengan sedikit gugup dan sisanya adalah sangat gugup, aku kemudian memakaikannya. Perasaan yang sangat gugup sekali hingga ketika aku memegang tangan itu serasa terpeleset berkali-kali walau pada akhirnya terpasang. Jelas saja, aku tidak pernah melihat Ibu secantik malam ini dan sangat berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Dan hap, cincin itu terpasang tapi dan dengan amat sangat tiba-tiba kulihat ada air yang keluar dari matanya turun deras seperti terpeleset karena mungkin sangat halusnya pipi Ibu .

ÔÇ£Hiks hiks… terima kasih nak ini kado terindah yang pernah Ibu dapatkanÔÇØ sambil memandangku dan memegang pipiku kananku dengan lembut.

ÔÇ£Sekarang Ibu menjadi milikmu sekarang…. Ibu akan menjadi wanitamu, dan akan menjadi wanita pertamamuÔÇØ ucap Ibu dengan wajah yang basah karena air matanya

ÔÇ£Ibu tahu ini salah, tapi Ibu sudah terlanjur terlalu sayang dengan kamu nak, kamu yang selama ini selalu memberi perhatian lebih kepada Ibu ketika ibu harus sendiri menanggung beban perih di hati IbuÔÇØ

ÔÇ£Ibu telah terjebak, di dalam hal yang tidak seharusnya, tetapi Ibu sudah memutuskanÔÇØ

ÔÇ£Kamu selalu berikan apa yang selama ini Ibu idam-idamkan dari seorang laki-laki yang sebelumnya belum pernah Ibu dapatkan dari laki-laki manapun, dan kamu benar-benar memberikan kado yang indah buat Ibu nakÔÇØ

ÔÇ£Sekarang …… dan ….selanjutnya Ibu akan selalu bersamamu… asalkan kamu selalu memgang janji kamu untuk selalu menyayangi Ibu…. Ibu milikmuÔÇØ lanjut Ibu dengan air mata yang menetes mengalir di pipinya.

Aku terdiam, aku peluk Ibuku. Kupeluk erat tubuh Ibuku serasa tak ingin melepaskannya.

ÔÇ£Bu semalam semestinya Arya tidak melakukannya…. Arya sayang banget sama IbuÔÇØ ucapku terpotong dengan posisi memeluk Ibuku, melingkarkan kedua tanganku dipinggangnya dan kepala Ibu bersandar tepat di dadaku.

ÔÇ£Semua telah terjadi, dan Ibu telah berbuat kesalahan karena menyayangimu berlebihan, melebihi rasa sayang seorang Ibu kepada anaknya, Ibu mohon sayangi Ibu seperti rasa sayang Ibu kepadamu nakÔÇØ potong Ibuku

ÔÇ£Semalam ya karena semalam Ibu yakin kamulah laki-laki yang bisa memberi kebahagiaan keapada IbuÔÇØ lanjut Ibu

ÔÇ£Bu bukankah seharusnya Arya, selalu menyayangi Ibu….ÔÇØ

ÔÇ£Ibu akan ceritakan semuanya asal kamu mau memperlakukan Ibu selayaknya kekasihmu, kasih sayang terhadap seorang wanita, Jika itu kamu benar-benar sayang Ibu, jika tidak segeralah tinggalkan kamar iniÔÇØ potong Ibuku

Aku jatuh cinta ke Ibuku? ya aku memang mencintainya sebagai seorang Ibu, tapi mendengar pernyataan itu, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku…. Aku….. ya aku terlalu sayang Ibu.

ÔÇ£Bu….ÔÇØ ucapku.

Kuberanikan menggerakan tanganku, ku angkat dagu Ibuku dengan tangan kananku dan kucium lembut, sangat lembut dan Ibu membalasnya dengan ciuman yang lebih lembut layaknya seorang wanita mencium kekasihnya dengan penuh rasa cinta. Ibu memejamkan matanya, tapi aku terus membuka mataku untuk selalu menatapnya. Semakin lama kurasakan semakin tak terkendali ciuman antara kami berdua. Aku sudah tidak peduli dengan pintu kamar tamu yang masih terbuka. Aku terus menciumnya dan menciumnya, menyedotnya begitupula dengan Ibu.

ÔÇ£Emmmmmmmmmm……….ÔÇØ desahan Ibuku mulai kudengar

Air mata itu kembali megalir deras, sangat deras membuat aku tidak tega untuk melanjutkan hal bodoh ini. Kuhentikan ciumanku, kelepaskan bibirku dari bibir Ibu, kutatap Ibuku yang terpejam matanya. Kemudian Ibu membuka matanya yang tergenang oleh air mata secara perlahan.

ÔÇ£Kenapa ibu menangis?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Air mata ini adalah cinta Ibu ke Romo kamu yang tak pernah terbalas, biar mengalir keluar semuanya nak, Ibu ingin menyayangi kamu seutuhnya, jangan pedulikan air mata ini, ketika air mata ini berhenti, cinta Ibu ke Romo kamu telah habis, dan akan tergantikan olehmuÔÇØ jelas Ibuku dengan suara yang parau

ÔÇ£tapi bu, Romo….ÔÇØ jawabku terputus

ÔÇ£Sekarang adalah Aku dan kamu ….Milikilah Ibu, Ibu sangat sayang kamu nakÔÇØ potong Ibuku, Romo? Ada apa dengan romo? Masa bodohlah, sekarang ya sekarang antara Ibu ……… dan…….. Aku, Arya.

ÔÇ£Arya juga sayang IbuÔÇØ jawabku sembari menatuhkan bibirku ke bibir Ibu, aku menciumnya kembali
Dedek arya mulai bangun, ÔÇ£kakak hoaaaaam, kenapa membangunkan aku?ÔÇØ mungkin itu yang akan dikatakan dedek arya kepadaku. Ciumanku berbalas ciumannya, Pagutan berbalas pagutan, hisapan berbalas hisapan. Indah rasanya seakan ini adalah mimpi. Tiba-tiba Ibu melepas ciumannya.

ÔÇ£Ibu sayang kamu, AryaÔÇØ ucap Ibuku, dan Aku menjawabnya dengan anggukan.

ÔÇ£Jadikan Ibu milikmu nak…… buat Ibu milikmu seutuhnya dan bukan untuk Romomu yang kurang ajar itu……….. sentuh ibu naaak mmm……..ÔÇØ paksa Ibuku dengan nada yang mengeras.

Mendengar ucapan ini seakan-akan membuat aku merasa tersakiti oleh Romo. Ya Ibu pasti merasakan sakit karena Romo. Apa yang sebenarnya terjadi antara ibu dan Romo aku tidak pernah tahu. Tetapi dari ucapan Ibu sangat tersirat rasa benci yang terpendam. Hmmmm…… Kembali kucium Ibuku, kuarahkan kedua tanganku ke arah kebayanya, kurobek kebaya. Breeet breeeeet breeeet kurobek hingga terlihat kutang ibuku. Kebaya yang Ibu pakai sekarang hanya menutupi lengannya dan menggantung di tangan kanan dan kirinya. Ciuman antara aku dan Ibuku semakin panas, karena nyawa muda yang menggebu-gebu dan belum pernah merasakan hal ini sebelumnya membuat aku Ibu mendorong hingga rebah di tempat tidur. Posisi pantatnya tepat dipinggir ranjang dengan kaki yang masih terjuntai dilantai. Aku yang berdiri melihat kearah Ibuku, kupandang seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang baru saja aku porak porandakan.

ÔÇ£Ayo nak ….. Ibu siapÔÇØ perintah halus ibuku dengan senyumnya seakan-akan memberikan lampu hijau terang benderang agar aku melanjutkan, melanjutkan apa yang harus dilanjutkan.

Aku sedikit merunduk dan menarik ujung jarik Ibu, mengetahui aku akan kesulitan menarik jariknya Ibu mengangkat pinggangnya, dan kutarik jarit itu hingga ke bagian pinggang Ibuku. Tampak pemandangan yangpernah aku lihat dan Aku melihatnya lagi, vagina yang tertutup kain putih berbetuk segitiga. Kutarik lembut, Ibu memudahkannya dengan sedikit mengangkat pinggang dan kakinya yang jenjang sehingga terlepas sudah celana dalamnya dan terlihatlah apa yang semalam aku masuki. Kusentuh-sentuh dengan jariku, sekejap itu aku mendengar ibu merintih merasakan nikmat. Dengan cepat aku melepas celanaku beserta celana dalamku sambil tanganku kiriku masih mengelus-elus vagina Ibuku. Toeeeeng eeeeeng eeeeng…. ÔÇ£Bebas bebas…. sangkar mana sangkar mana diiiiimanaaaaaaaaÔÇØ mungkin itu yang akan diteriakan oleh dedek Arya, dan akan aku jawab ÔÇ£ada didepan, sebentar yaÔÇØ

ÔÇ£Bu….. ÔÇØ tanyaku sambil kuelus-elus vagina Ibuku, Aku memang belum berpengalaman, semalam kejadian itu aku kesulitan memasukinya. Sekarang aku harus mencobanya seperti adegan film yang pernah aku tonton sebelumnya. Aku pastikan jalan masuknya dengan jempol dan jari telunjuk tangan kiriku untuk membukanya seperti adega-adegan dalam video. Mungkin pada kejadian awal aku tidak menceritakan secara detail apa yang aku tonton. Maklumlah semalam adalah kejadian yang tergesa-gesa dan pertama kali. Kali ini aku bisa sedikit tenang jadi aku bisa mengingat apa yang aku tonton secara detail.

ÔÇ£aaaaahhhhhhh….. nak…..ÔÇØ lenguh Ibuku ketika dua jariku mencoba membuka pintu vaginanya.
Setelah aku melihatnya, ku arahkan dedek arya dan kumasukan secara perlahan. Kini posisi kaki Ibu terangkat dan merenggang terbuka. Dan kedua tanganku memegang pinggang Ibuku.

ÔÇ£Aduh bu, sakit, sempit sekali…. kenapa tidak bis……sa mass…….suk……ÔÇØ ucapku, terus aku tancapkan dan kudorong dengan menahan rasa sakit. Kudorong dengan paksa tampak vagina ibuku sangan sempit dan keset. Kenapa di film bisa masuk dengan enaknya, kenapa ini malah seret sekali. Dengan usaha maksimal, Optimalku akhirnya dedek Arya hanya masuk setengahnya saja.

ÔÇ£Uftttttttttttt…..ahhhhhhhh…… besaaaaaaaaaaaaaar sekaaaaaaalllli……ÔÇØ

ÔÇ£Sakiiiiit nak pelaaaaaaan…. punyamu keb…..bes….sar….ran ….hufffffttt….. aaaahhhÔÇØ rintih kesakitan ibuku dengan kedua tangannya menahan tubuhku.

ÔÇ£Cobalah masukan setengah keluarkan, masukan lagi dan keluarkan nak, terus seperti itu, kalau hingga nyaman, setelah itu dorong sekuat tenaga kamu nak aaaaaisssshhÔÇØ perintah Ibuku dengan nada cepat dan dahi mengrenyit menahan sakit.

Kupegang kedua pinggul Ibu, kulakukan apa yang dikatakan Ibuku, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, setengah masuk, keluar, setengah masuk keluar, dan semakin lama aku melakukannya semakin licin, walau sedikit. Mula kurasakan kehangatan liang vagina Ibuku hangat sehangat sayangnya kepadaku. Tak pernah aku berpikir akan terjadi tapi ini pengalaman pertamaku. Bagai terkena Tsunami, dedek arya tenggelam di dalamnya.

ÔÇ£ufffftttt…..besar seka……li ….. naaaaak ……penuuuuuuuuh ÔÇØ rintih kesakitan Ibuku disertai kedua kakinya yang mengapit pinggangku, dan rintihan itu membuat aku menghentikan gaya dorong.

ÔÇ£maaf bu, aku baru kedua kalinya, dan semalam adalah yang pertama, haruskah aku hentikanÔÇØ ucapku sedikit menggoda.

ÔÇ£tidak nak, tidak ibu suka, ibu suka cepat nak cepat ….ahhhhhhhhhhhhh….terasa penuh naaakÔÇØ lanjut Ibuku

Air matanya semakin deras, semakin basah kedua pipi Ibuku. aku tidak mempedulikannya, aku harus menempatkan cintaku, biar air mata itu semakin keluar banyak, biar semakin Ibu mencintaiku. Ku lanjutkan gaya dorong tubuhku semakin cepat semakin cepat.

ÔÇ£Enak sekali nak, Ibu suuuuuuka, punyaaaaamu menyentuh rahim Ibuuuuuuu, setubuhi Ibu nak, setubuhi ibu setubuhi Ibu, jadikan Ibu milikmuuuuuaaaaaaashhhhÔÇØ racaunyaIbuku

ÔÇ£Ini untukmu Ibu, punyamu buÔÇØ ucapku sambil aku menggoyang pinggangku.

ÔÇ£ya punya Ibu, Ibu punyamu, milikmu nak….terus nak, terus…. buat Ibu semakin cinta kamuÔÇØ ucap Ibuku

ÔÇ£Ya bu pasti, ah ah ah ah ah ah bu aku tresno sliramu bu (aku cinta kamu bu) ÔÇØ ucapku sambil kupercepat gaya dorongku.

ÔÇ£Ibu juga nak,terus…. Terus nak, enak uftttt….. ah terus…….ÔÇØ racau Ibuku.

Teraasa vagina Ibu yang sempit menjadi semakin berlendir. Semakin memudahkan aku untuk memasukan dan mengeluarkan dedek arya. Kulihat wajah Ibu nan ayu dengan kebaya yang porak poranda akibat aku sobek. Payudara ibu masih terbungkus kutangnya, tapi aku bisa melihat susu Ibu seakan-akan hampir muntah kemungkinan karena ukuran kutang yang terlalu sesak. Pastinya payudara Ibu sangat besar dan menggairahkan. Tapi entah kenapa konsentrasiku saat ini hanya menggoyang dan terus menggoyangnya tanpa mempedulikan bagian tubuh Ibu yang lain. Selang beberapa menit aku menggoyang, tampak Ibuku gerakan Ibu semakin menggila. Semakin lama semakin tubuh Ibu mulai bergoyang semakin tak karuan. Kedua tangannya tampak menggenggam erat kain sprei. Bermenit-menit aku menggoyang hingga akhirnya …..

ÔÇ£Ibu mau keluar nak, Ibu meh methu(mau keluar)…..ÔÇØ racaunya yang membuat aku heran, kenapa coba lagi asyik-asyiknya malah mau keluar?

ÔÇ£Keluar kemana bu?ÔÇØ tanyaku keheranan yang membuat pikiranku beralih sehingga gesekan yang terjadi malah tidak membuatku merasakan rangsangan. Jujur aku tidak mengerti maksud Ibuku.

ÔÇ£Wis pokoke di goyang terus wae (dah, pokoknya di goyang terus saja)ÔÇØ racau Ibuku merasakan sesuatu yang tidak aku rasakan karena mungkin aku tidak berkonsentrasi pada kegiatanku.

Kukembalikan konsentrasi pada peningkatan gaya dorongku, kupercepat goyanganku. Kupindahkan kedua tangaku masing-masing disamping tubuh Ibuku. Kini kedua tanganku menopang tubuhku. Membuat Ibu semakin menggila karenanya, kuarahkan pandanganku ke Ibu kulihat wajahnya yang cantik tampak sedikit awut-awutan. Menggeleng kekanan dan kekiri, tubuhnya bergetar seakan-akan terkena gempa 10 skala ritcher dan tiba-tiba tubuh ibu melengking…

ÔÇ£Ibu keluar….. aaaaaaaaaaaaahhhhhh……… eeeeeeeeehmmmmmmmmmmmmmÔÇØ ibu merasakan seuatu yang membuatnya melemah, tapi aku tidak tahu apa itu karena tidak ada komando dari Ibu aku terus melakukan goyangan terus dan terus. Ibu yang terlihat ingin istirahat Ibu terkejut karena aku masih terus menggoyangnya. Terasa ada cairan yang membasahi dedek Arya tapi aku tidak peduli aku terus mempercepat goyanganku.

ÔÇ£aduh nak is….ti……ra…..hat du……lu aaaahhhh….. ah ah eeeeeeeeehÔÇØ racau Ibu, tapi tak jelas kudengar karena suaranya terlalu lirih, aku tetap menggoyang. Melihat paras ayunya membuatku semakin menggebu-gebu. Paras ayu nan pasrah membuat aku mendidih jika diteruskan mungkin aku akan menguap. Goyangan demi goyangan, hentakan demi hentakan aku lancarkan kedalam vagina Ibuku. Hingga aku merasakan sesuatu ingin keluar dari dedek arya, sama seperti yang aku rasakan saat mimpi basah. Kelihatanya aku merasakan apa yang dirasakan laki-laki dalam film itu. Sperma? Ya ini pasti sperma yang akan keluar, seperti kata guru biologiku waktu SMA.

ÔÇ£Ibu aku pengen pipis …. aduh ….. akkhhhh…. pipisku hampir keluar bu….. Ibu…. cintaku …… sayangku …..kekasihku….. ooooooohhhhhhÔÇØ racauku dengan suara yang keras

ÔÇ£Ke….luar…..kan sa…..ja nak, di… da….lam…..ÔÇØ racau Ibu
Semakin cepat aku menggoyang dan….
ÔÇ£Aku pipis buuuuu……. Ibuku cintaku….. AKu cinta IbuÔÇØ kuhjamkan sangat dalam hingga mentok di dalam vagina Ibuku.
ÔÇ£Tak trimo tresnomu le (ku terima cintamu le) aaaaaaaaaaaaaahÔÇØ racau Ibuku

Crot….crot…. Crot….crot…. Crot….crot…. Crot….crot…. Crot….

Sepuluh kali aku merasakan sperma itu keluar hingga aku tak kuat menahan beban tubuhku sendiri. Aku Ambruk dan langsung kerabahkan tubuhku di atas tubuh Ibuku yang berbalut kutang. Kupeluk Ibuku dan kuciumi leher Ibuku. Tampak kebahagiaan terpancar dari wajah Ibu yang kemudian memeluk erat tubuhku. Terasa terbang ke awan-awan putih nan indah. Oooooohh…..

Tubuhku yang masih berbalut baju yang aku pakai tadi, masih tercium parfum ÔÇ£kapakÔÇØ dari baju yang aku pakai. Terbujur lemas di atas tubuh Ibu, sedikit aku lirik wajah Ibu yang masih meresapi setiap kenikmatan yang baru saja terlewati. Terakhir kali aku melihat jam dinding pukul 18.30 dan sekarang sudah berubah menjadi 20.00 WIB. Lama sekali mungkin karena awal permainan yang lama.

ÔÇ£Bu enak banget bu…. Arya pengen gini terus buÔÇØ ucapku lirih kepada Ibuku, dengan dedek arya masih tertancap.

ÔÇ£Iya sayang, Ibu juga kepengen gini terusÔÇØ sambil mengelus-elus kepalaku

ÔÇ£Suka? kalo main mbok yaho jangan asal tusuk, pakai pemanasan toÔÇØ lanjut ibuku

ÔÇ£Lha harusnya gimana bu?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Ya pakai pemanasan, ya Ibu maklumi masih mudaÔÇØ

ÔÇ£oia kamu tadi itu aneh sekali waktu ibu bilang keluar kok malah nanya? Apa benar kamu baru pertama kali? kok bisa lama sekali?ÔÇØ ucap ibuku sambil membetet hidungku yang membuatku kepalaku terangkat tepat di atas wajah Ibuku

ÔÇ£Gih, kalo sampai lemes gini baru malam ini bu, kalo semalam itu masuk hitungan tidak lho buÔÇØ jawabku dengan suara agak cempreng karena hidungku di betet sama ibuku.

ÔÇ£Terus bu, tadi pas ibu bilang mau keluar, Arya ya bingung malah tidak konsen jadinya Arya tidak merasakan apa-apa,buÔÇØ lanjutku

ÔÇ£Kalau Ibu bilang mau keluar, berarti Ibu hampir sampai seperti yang kamu rasakan barusan nak, kalau wanita bisa berkali-kali tergantung sama lakinya kuat tidak, jadi kalau ibu sudah keluar seperti tadi kamu kasih istirahat Ibu sebentar jangan asal goyang to leÔÇØ jelas Ibuku, aku pun hanya tersenyum.

ÔÇ£Berarti kamu masih perjaka?ÔÇØ tanya Ibuku

ÔÇ£Sudah tidak bu, katanya kalau sudah berhubungan dengan wanita, perjaka jadi hilang, dan perjaka Arya buat IbuÔÇØ ucapku

ÔÇ£Terima kasih nak….ÔÇØ ucap Ibu sambil memberikan kecupan.

ÔÇ£Ibu akan selalu melayani kamu dan patuh sama kamu, sekarang kamu adalah Lelaki ibu selama Ibu sendirianÔÇØ ucap Ibu sembari mengecup lembut bibir Ibuku kembali

ÔÇ£Hmmm…. tapi tadi bisa lama, berarti selanjutnya lebih lama lagi…..ÔÇØ lanjut Ibu

ÔÇ£Pastinya… buat Ibu, aku pasti bisaÔÇØ ucapku dengan penuh semangat

Tak kulihat lagi air mata Ibuku, yang ada sekarang adalah senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.

ÔÇ£Bu, Ibu sudah tidak menangis lagi?ÔÇØ tanyaku polos

ÔÇ£Berarti Ibu sepenuhnya sudah terisi sama kamu nakÔÇØ ucap Ibuku sambil melumat bibirku, akupun tak mau kalah. Kini aku sudah sedikit berpengalaman, kubalas ciuman itu. Ciuman berlangsung beberapa menit yang semakin membakar gairahku.

ÔÇ£emmmmmm……. ahhhhhÔÇØ Ibu melepaskan ciuman.

Ketika ciuman itu terlepas, Kutarik dedek Arya, kurebahkan tubuhku disamping kanan Ibuku sambil memjamkan mataku menikmati sisa-sisa kenikmatan yang ingin aku rasakan kembali. Ibu kemudian mengangkat kepalanya dan di taruh di atas dadaku. Tatapan Ibu tepat menuju dedek Arya.

ÔÇ£hmmmm le, manukmu kok isih ngadek ae, opo isih kepingin? (hmmmm nak, burung kamu masih berdiri apa masih kepingin? ÔÇØ tanya Ibu kepadaku yang membuat aku membuka mataku dan kuangkat sedikit kepalaku.

ÔÇ£Boleh bu? Enak banget bu rasanya…. kata temenku ini yang namanya hubungan intim suami istri ya bu?ÔÇØ jawabku polos, tangan kiri Ibu mulai mengelus-elus dedek arya dengan jari-jarinya.

ÔÇ£kamu pengin tahu apa yang barusan kita lakukan nak?ÔÇØ tanya Ibuku

ÔÇ£heÔÇÖem….ÔÇØ jawabku sekadarnya seraya mengelus kepala Ibu bagian belakang.

ÔÇ£Ini namanya kenthu (ngentot), kamu pasti sudah tahu, normalnya dilakukan pada malam pertama setelah menikah….. ÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£Berarti Ibu sekarang jadi wanitaku, karena ini malam pertamaku buÔÇØ aku memotong perkataan Ibuku
Ibu beranjak duduk, dan memposisikan kepalanya tepat berada di atas wajahku. Kemudian Ibu mengecup bibirku.

ÔÇ£Iya nak, Ibu sekarang menjadi wanitamu, Ibu akan selalu siap kapanpun kamu mau, selama Romomu tidak ada nak, jadi kamu harus pinter-pinter belajar biar kuliah kamu cepet lulus dan pinter-pinter belajar nyenengin Ibu juga gihÔÇØ jelas Ibuku sambil memeluku, kini posisi kepala Ibuku tepat di bahu kananku dengan tatapan ke arahku. Aku masih menatap langit-langit kamar yang menjadi saksi bisu.

ÔÇ£Tapi ada syaratnya nak….ÔÇØ ucap Ibuku lirih, akupun menoleh kearah Ibu.

ÔÇ£Apa itu bu?ÔÇØ jawabku

ÔÇ£Kamu masih muda, gairahmu pasti masih besar-besarnya, Ibu tahu kamu memiliki banyak teman perempuan diluar sana na……ÔÇØ jawab Ibu

ÔÇ£Ya punya bu, tapi kan bukan pacarÔÇØ potongku

ÔÇ£Dengarkan, Ibu akan selalu melayanimu menjadi wanitamu, kekasihmu, tapi Ibu tahu tidak bisa menemani kamu diluar sanaÔÇØ

ÔÇ£Maka dari itu, yang Ibu harapkan kamu jujur sama Ibu dan menceritakan semuanya secara jelas jika kamu melakukan dengan wanita selain Ibu, Ibu butuh tahuÔÇØ sambil menghela nafas panjang Ibu melanjutkan ucapannya kembali

ÔÇ£Kamu tahu apa tujuan Ibu, agar Ibu bisa melayani kamu lebih dari yang diberikan oleh wanita-wanita diluar rumah ini dan juga biar kamu tambah sayang sama IbuÔÇØ sembari mengecup bahuku.

ÔÇ£Apa Ibu tidak cemburu? Nanti Ibu mengira Arya menghianati Ibu, cuma mau mainin Ibu, Arya tidak mau buÔÇØ jelasku

ÔÇ£Bukan begitu nak, Ibu sadar tidak selamanya kita bersama dan kamu harus mecari wanita selain Ibu sebagai pendamping kamu, kalau kamu sama Ibu terus apa kata orangÔÇØ

ÔÇ£jika suatu saat kamu menemukan wanita pendamping kamu, kamu masih boleh ÔÇ£mintaÔÇØ tapi jangan sampai istrimu tahu,….. ada baiknya ketika kamu sudah menikah nanti, kita bisa menghentikan ini semuaÔÇØ lanjut Ibuku

ÔÇ£Pokoknya kalau Arya kepingin ya Ibu harus mauÔÇØ suaraku agak keras dan parau karena emosi saat ini, dimana aku tidak ingin kehilangan Ibuku.

ÔÇ£Iya iya, Asal kamu terus sayang sama Ibumu ini,Ibu selalu ada buat kamu nakÔÇØ jawab Ibuku

ÔÇ£Hmmmmm….. nak, Ibu pengen kamu jangan asal nyoblos seperti tadiÔÇØ lanjut Ibuku

ÔÇ£Terus gimana bu? Arya kan juga tidak tahuÔÇØ jawabku polos

Sembari mengangkat tubuhnya, kemudian duduk sambil tangan kanannya mengelus-elus dedek Arya.

ÔÇ£Ya kamu sinau(belajar) to nak, katanya di enet atau apa itu banyak, biar Ibu juga tambah pinter, tapi kamu yang ngajari IbuÔÇØ jawab Ibuku, aku teringat akan film yang ditransfer ke smartphoneku, kemudian aku mempunyai Ide.

ÔÇ£Bagaimana kalau Ibu sama Arya lihat bareng bu, kelihatannya aku punya film buÔÇØ ucapku kepada Ibuku yang sedang mengelus-elus dedek Arya. Ibu menoleh kearahku dengan senyuman.

ÔÇ£Kamu itu ternyata suka nyimpen-nyimpen film kaya gitu toÔÇØ hardik Ibuku dengan senyuman nakal

ÔÇ£Mboten bu, niku kan….(tidak bu itukan…..) pemberiannya RahmanÔÇØ jawabku menghindar

ÔÇ£halah…. bilang saja kalau kamu itu pernah bayangin Ibu pas lihat filmnya, ya to? Nyatanya ibu kamu kenthu semalam hi hi hiÔÇØ jawab Ibuku dengan senyuman nakalnya

ÔÇ£Jujur bu kalau yang itu aku spontan bu, nyatanya Ibu sekarang juga mau he he heÔÇØ jawabku terkekeh-kekeh

ÔÇ£Iya… besar panjang, sangat lebih besar dari yang biasa masuk ke lubang Ibu ditambah lagi ganteng anak ibu iniÔÇØ jawab Ibuku

ÔÇ£he he he he…………oia bu, Ibu mau kan kalau nonton bareng AryaÔÇØ tanyaku lagi

ÔÇ£Kekasihku, Ibu patuh sama kamu, siap melayani kamu, jadi kamu tinggal ngomong saja ke Ibu, Ibu akan melakukannya, tapi Ibu tidak mau nonton, namanya juga wanita, maunya ya ditataÔÇØ jelas Ibu dengan senyumannya. Aku brpikir, benar juga apa yang dikatakan Ibuku. ya sudahlah, aku yang nonton nanti ibu yang mengikuti.

ÔÇ£Ibu mau bersih-bersih dulu nak, sekalian buatin minuman kamu, sebentar ya sayangÔÇØ ucap ibuku sambil mengecup bibirku. Ibu kemudian berdiri, akupun mengangkat tubuhku dan duduk sambil memandang Ibuku yang tersenyum kepadaku. Wanita yang terlihat kutangnya dengan kebaya yang sobek menggantung dilengan kanan dan kiri serta jarik yang masih tersingkap hingga pinggangnya.

ÔÇ£Aku ingin membukanyaÔÇØ bathinku

Ketika ibu mulai melangkah, dua langkah dariku kutarik tangan kiri Ibuku. Aku kemudian berdiri dan memeluk Ibuku. kukecup lehernya bagian kanann[ya.

ÔÇ£Aaahhhhh….. nak nanti nak, biarkan ibu bersih-bersih duluÔÇØ

ÔÇ£Bu… aku ingin ….ingin melihat Ibu seutuhnya untukkuÔÇØ jawabku.

Ibu memandangku kemudian mengelus pipiku kananku dengan tangan kanannya.

ÔÇ£heÔÇÖem….ÔÇØ ucap Ibuku dengan senyumannya

Dari belakang Ibuku Kulepaskan kebaya yang telah sobek sebelumnya itu, kucoba merobek kutang ibuku. Tapi apa dayaku, kutang pakaian daerah ini terlalu tebal, terlalu sulit untuk dirobek. Aku yang sempat berhenti dan kebingungan dengan posisi tangan masih mencoba merobek kutang Ibuku. Aku menoleh ke kiri hanya ada tempat tidur. Ketika aku menoleh kekanan ada gunting diatas meja, gunting besi besar, aku meraihnya setelah aku dapatkan ku gunting semua kutang Ibuku dari belakang, kutarik dan kugunting gunting lagi. Kemudian kendit yang dipakai Ibuku aku juga mengguntingnya. Hingga jarik yang masih tersingkap itupun ikut terpotong. Sakit tanganku? Jelas iya… itu kain yang tebal. Hingga akhirnya semua terlepas dari Ibu. Aku letakan gunting itu di meja kembali.

ÔÇ£Bu berbaliklah….ÔÇØ kataku sembari meletakan gunting itu dimeja lagi.

Ibu berbalik, dan aku terpana. Wanita dengan kulit putih, wajah yang sendu, rambut yang disanggul dan sedikit acak-acakan di hiasi senyum yang indah. Kedua susu besar yang masih terangkat ke atas berada di dada Ibuku. Tubunhya langsing sangat pas, sehingga jika dilihat susu Ibuku tampak besar. Susu Ibuku masih sekal, tidak menggelantung seperti film porno yang aku pernah aku lihat. Kenapa bagus sekali susu Ibu ya? Itulah yang menjadi pertanyaanku, masih kencang dan tidak kendor sedikit pun bahkan putingnya pun tampak kecil dan tidak melebar.

ÔÇ£HEH! kaya lihat setan saja….ÔÇØ hardik Ibuku sambil meletakan kedua tangan dipinggangnya.

Aku mendekat, dan ketika aku ingin memeluknya. Ibu mengindar mundur kebelakang.

ÔÇ£Yang ini nanti ya, ibu mau bersih bersih dulu hi hi hi ÔÇØ jawab Ibuku berjalan meninggalkan aku dikamar sendiri dengan senyuman kemenangan karena telah membuatku terangsang hebat.

ÔÇ£Ingat kamu tetap di kamar, tidak boleh keluar kamarÔÇØ suara Ibu dari dapur kudengar sedikit lirih. Apa yang sebenarnya mau Ibu lakukan di luar kamar? Masa bodoh lah.

Dan aku masih disini, didalam kamar ini, aku duduk ditepian ranjang dengan baju hitam dengan motif garis vertikal. Wangi bajuku masih tercium karena ÔÇ£1 literÔÇØ parfum telah aku semprotkan keseluruh tubuh dan pakaianku. Menerawang mantan kamarku dimana aku telah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan dengan istriku. Tapi ini dengan Ibuku sendiri. Ah masa bodohlah yang penting kami saling menyayangi…… Kuliahat sekeliling kamarku, atas bawah kuihat celanaku tergeletak di bawah.

ÔÇ£oia semartponku kan ada di saku celana, aku jadi ingatÔÇØbathinku

Aku meraihnya, kuambil smartphone itu, ku utak atik kucari folder semprot. Ya aku dapat, kubuka filenya. Aku mulai menontonya, terasa birahiku meledak-ledak. Tiba-tiba Ibu masuk dengan tubuh telanjangnya membawa waskom dengan handuk kecil, tapi aku tidak merasa kaget karena aku konsentrasi dengan film itu. Sedikit kulirik tubuh indahnya.Ibu kemudian berlutut tepat dihadapanku. Ibu mulai membasuh dedek Arya.

ÔÇ£pantes loro banget, gede lan gagahe koyo ngene iki (pantas sakit sekali, besar dan gagahnya seperti iniÔÇØ ucap Ibu sambil membersihkan dedek Arya. Aku tidak menjawab perkataan Ibu tadi, karena konsentrasiku terhadap film di smartphone-ku.

ÔÇ£Buka bajunya nakÔÇØ ucap Ibu sambil membuka kancing satu persatu membuyarkan konsentrasiku. Kuletakan smartphone itu di sampingku. Kulihat Ibu dengan telaten melepas bajuku. Ketika aku melihat susu Ibuku, aku menelan ludah, kuangkat tangan kananku untuk menyentuhnya.
Plak… tangan Ibu memukul tanganku agak keras.

ÔÇ£NANNNNNTI!ÔÇØ hardik Ibuku kemudian dia tersenyum. Aku pasang wajah cemberut.

ÔÇ£Owalah lagi belajar to, nanti ibu diajarin Ibu yaÔÇØ ucap ibu dengan senyuman nakal yang kemudian meninggalkan aku lagi. Sambil membawa waskom Ibu keluar kamar.

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku heran, kuambil smartphoneku dan kulanjutkan menonton film. Selama kurang lebih setengah jam aku menonton dan dipikranku wanta yang ada di film itu badannya kurang bagus, bagusan ibuku, susunya bagusan punya Ibu kulitnya putihan punya Ibu, dan cantiknya cantikan Ibu. Aku harus melakukan teori dari dosenku ATM (Amati Tiru Mempraktekan), tapi nanti setelah Ibu kembali. Setelah setengah jam terlewati, aku letakan samrtphone-ku di meja, kemudian duduk kembali. Ibu kemudian masuk membawa minuman salah satunya air putih. Ibu letakan air putih di meja. Ibu kemudian berjalan kearahku. Tubuh bugilnya menjadi fokus kedua mata ini.

ÔÇ£Sudah belajarnya, ini diminum duluÔÇØ sembari menyerahkan minuman dan duduk rapat disebelah kiriku. Aku menerima minuman itu, dengan tatapan beralih kewajah ayu nan manis ini. Aku tersenyum kepada Ibuku, Ibupun membalas senyumanku.

ÔÇ£Dah diminum nak, niar hangat tubuh kamuÔÇØ suruh Ibuku kepadaku

ÔÇ£inggih bu…..ÔÇØ jawabku

Aku meminum minuman hangat ini, langsung kuteguk habis. Setelah habis aku berdiri dan meletakannya di meja. Aku kembali duduk disamping Ibuku. kupandangi seluruh bagian tubuhnya.

ÔÇ£Ibu cantik….kok lama sekaliÔÇØ ucapku

ÔÇ£Ibu buat minuman kamu itu yang agak lama nakÔÇØ balas Ibu

ÔÇ£Mau praktek lagi?ÔÇØ lanjut ibu dengan senyuman cantik.

Aku tertegun dengan tawaran Ibuku, ya seharusnya memang secepatnya karena aku ingin menyentuh semua bagian tubuhnya. Masih teringat film porno bagaimana permainan antara cowok dan cewek tadi. Ditambah lagi tubuh halus terpampang di depan mataku.

ÔÇ£Bu, Arya pengen Ibu ngemut burung Arya seperti di film-film tadiÔÇØ ucapku kepada Ibuku

ÔÇ£HAH…ÔÇØ Ibu terkejut

ÔÇ£Itu jorok nakÔÇØ lanjut Ibuku dengan wajah yang agak sedikit heran.

Aku putar otak agar Ibu mau melakukannya. Dan aku teringat setiap ucapan yang ibu ucapkan tadi sebelum keluar kamar.

ÔÇ£Ibu kekasihku kan?ÔÇØ tanyaku dengan senyum jahat

ÔÇ£i….i….ya nakÔÇØ jawab Ibu kaget dan heran

ÔÇ£Kok Ibu tidak patuh to? Ya udah kalau begitu, Arya mau tidur saja, percumaÔÇØ jawabku yang kemudian memasang wajah cemberut dan memalingkan wajahku ke kanan.

ÔÇ£Nakal kamu ya… Ibu sendiri dimainin… hi hi hi ….ÔÇØ

ÔÇ£Iya Ibu mau, Arya sayangÔÇØ

ÔÇ£Bagaimana caranya? Ibu belum pernahÔÇØ lanjut Ibuku

ÔÇ£He heÔÇØ tawaku terkekeh sembari kembali menoleh ke arah Ibu, merasakan kemenangan terbesarku.

ÔÇ£Sekarang sudah saatnya kamu menata Ibu nakÔÇØ wajah ayu yang meminta untuk dimanja lagi.

Semua terjadi begitu saja, Ibu yang ayu kesetiap harinya sekarang telanjang dihadapanku. Wajahnya, senyumnya, manja. Bahkan bentakannya pun terasa lembut ketika didengar. Wanita yang kesehariannya anggun dan sangat menjaga sikap sesuai dengan darah ningrat yang mengalir didalamnya sekarang berada dalam lingkaran kenikmatan bersamaku.

ÔÇ£Bu, berlutut dihadapankuÔÇØ perintahku

Sekarang posisi Ibu berada di bawahku persis, kemudian aku menuntun Ibu untuk memulai. Kusuruh Ibu memegang dedek Arya dengan tangan kanannya.

ÔÇ£Bu, sekarang Ibu ikuti perintahku yaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya nakÔÇØ jawab Ibuku dengan senyum

Aku mulai menuntun Ibu untuk menjilat bagiian bawah zakar ke atas hingga ujung burungku. Pelan tapi pasti Ibu melakukannya, dengan agak sedkit jijik di awal. Lama Ibu menjilatinya. Ibu mulai tersbiasa. Kenikmatan yang aku rasakan membuat gairahku mulai terbakar. Apalagi pemandangan tubuh telanjang Ibu sedari awal yang terlebih dulu membakar gairahku ini. Terasa lidah hangatnya menjelajah di sekitar batang dedek Arya. Dijilatinya terus..

ÔÇ£Aaaaaahhhhhh…..enak bu, enak tidak bu burung Arya?ÔÇØ

ÔÇ£Burung itu namanya dedek Arya buÔÇØ lanjutku. Ibu kemudian menghentikan jilatannya.

ÔÇ£Dedek Arya, apa kontol Arya?ÔÇØ tanya Ibuku yang kemudian melanjutkan menjilatinya.

Aku yang mendengar Ibu mengatakan kata ÔÇ£kontolÔÇØ membuatku menjadi semakin bergairah. Aku hanya mampu memandangi Ibu yang sedang menjilati burungku itu.

ÔÇ£Bu… Ayo sekarang dimasukan ke mulut bu, di emut… Arya sudah kepinginÔÇØ racauku memohon kepada ibuku. Ibu kemudian mulai memasukan ujung dedek Arya kemulutnya. Perlahan perlahan sedikit demi sedikit dan….

ÔÇ£AHHHH…. sakit bu….. kena gigi IbuÔÇØ ucapku dengan nada sedikit membentak.

Ibu yang mendengar suara kesakitanku kemudian melepas kulumannya. Kedua tangannya menutupi mulutnya sambil menggelengkan kepalanya. Tampak raut wajah menyesal terpancar, baru kali ini melihat wajah penyesalan Ibu.

ÔÇ£Maafkan Ibu nak, Ibu tidak bisa….ÔÇØ sesal ibuku dengan suara yang parau hampir menangis

ÔÇ£Sudah bu, kita coba lagi ya bu… maafin Arya, pokoknya Ibu harus bisa…ÔÇØ ucapku menenangkan Ibu. Kutarik lembut tangan Ibu kuarahkan untuk memegang dedek Arya lagi.

ÔÇ£Pelan-pelan bu…. Ibu kan sudah janji akan melayaniku dengan lebihÔÇØ lanjutku. Ibu kembali tersenyum dan mulai mengulumnya lagi.

Perlahan nikmat, kemudian rasa sakit muncul kembali karena gigi Ibuku menyentuh dedek Arya. Aku mencoba menahannya kemudian lama kelamaan aku tidak bisa menahannya. Dan aku sedikit menjerti kesakitan, Ibuku kembali kaget dan langsung melepas kulumannya. Aku yang melihat wajah Ibu dihiasi penyesalan menundukan kepalaku dan menciumnya. Tangan kiriku kemudian mulai meraba bukit kiri Ibuku yang masih kencang, ranum dan bahkan tidak turun seperti punya wanita di film yang pernah aku lihat. Aku elus, remas dan tangan kananku menghapus air matanya. Tiba-tiba muncul ide di benakku. Kuangkat tubuhku dan duduk tegak sembari melepas ciuman.

ÔÇ£Bu coba emut jempol AryaÔÇØ perintahku

ÔÇ£HeÔÇÖem….ÔÇØ jawab Ibuku disertai dengan anggukannya dan memulai mengulumnya

ÔÇ£Pelan-pelan jangan kena gigi buÔÇØ perintahku. Selang beberapa menit aku menarik Ibu jariku dari mulut Ibuku..

ÔÇ£Bu…. sekarang dicoba lagi Bu… bayangkan Kontol Arya milik Ibu ini seperti jempol AryaÔÇØ ucapku

ÔÇ£Iya… nakÔÇØ kemudian Ibu mulai mengulumnya. Aku mulai bisa merasakan kenikmatan. Hangatnya rongga mulut Ibu terasa pada batang dedek arya. Lama Ibu mengulumnya. Ibu mulai bisa menikmati setiap nano meter dedek Arya. Mengulumnya, menjilatinya, menyedotnya, ibu seperti anak kecil yang sedang menikmati es krim kesukaannya. Rasanya Ibu sudah bisa mengembangkannya sendiri. Disetiap kulumannya terasa lidahnya menari-nari dihelm dedek Arya.

ÔÇ£Aaaaaaaaaahhhh….. nikmat bu, ya seperti itu….. enak…. mulut Ibu enak sekali…..ÔÇØ racauku

Ibu mulai mempercepat kuluman, memaju mundurkan kepalanya samblil menyedeotnya. Aku merasakan nikmat yang indah sekali. Aku ingin keluar, dan aku ingin keluar di mulut Ibuku.

ÔÇ£Ibu, aku aaahhhhh….. aku ingin keluar di mulut Ibu….. ufttttttttÔÇØ

ÔÇ£Ibu harus menelannya…..aaaaaaahhhh….. aku ingin keperwanan mulut Ibu…. aaaaahhhhh uftt ahhhhhÔÇØ racau kenikmatan yang aku rasakan.

ÔÇ£hmmmmm heÔÇÖmmmmmmm…..ÔÇØ jawab ibuku sambil mengulum kontolku.

Wanita ini yang biasanya anggun sekarang sedang bermain dengan dedek Aryaku. Apa ini mimpi? Ah masa bodohlah…. kenikmatan menjalar di setiap nano meter dedek Arya, aku hampir keluar. Kedua anganku memegang kepala Ibu, dan kudorong lebih kedalam lagi. Ibu tampak hanya pasrah dengan apa yang aku lakukan. Dan ……

ÔÇ£Aku keluar bu…. ditelan…. pokoknya di telan,,,, aku pengen keperawanan mulut IbuÔÇØ racauku.

Crooooot…..croooott….croooot….crooooot….. Crooooot…..croooott….croooot….crooooot…..

Keluar semua spermaku didalam mulut Ibu, ibu memundurkan kepalanya. Glek glek ditelan semua spermaku, bahkan sisa sedikit dibawah bibirnya dijilatinya dengan lidahnya. Dibersihkannya mulutnya dengan jari-jarinya, kemudian dijilatinya. Bayangan wanita paruh baya yang masih cantik dan anggun sekarang sedang menelan spermaku. Indah benar pemandangan ini. Slurrrpp…..

ÔÇ£Kamu itu nakal banget ya, masa ibumu suruh minum pejuh kamuÔÇØ ucapnya dengan senyuman menggoda serta masih membersihkan bibirnya. Ibu berdiri melangkah mengambil mengambil air putih di meja dan meminumnya, ku lihat bagian belakang Ibu. Seksi sekali.

ÔÇ£Karena aku pengen keperawanan mulut IbuÔÇØ ucapku dengan senyum. Kulihat Ibu membalikan tubuh, melangkah menuju ke arahku. Kutarik lembut tangan kanannya dan kupeluk erat. Ibu menundukan kepalanya, kedua tangannya melingkar di kepalaku.

ÔÇ£Itu kontol Arya, kok belum tidur-tidur?ÔÇØ ucap Ibuku sambil me-landing-kan ciuman kemlutku. Kubalas ciuman itu.

ÔÇ£Masih bu… Arya juga tidak tahu kok tegang terus, dan badan Arya kaya panas, pengen bersetubuh terusÔÇØ jawabku

ÔÇ£hi hi….ÔÇØ senyuman yang menjadi jawaban pertanyaanku.

Kami berciuman kembali, saling menyedot, saling bermain lidah diantara aku dan Ibuku. ciumanku kemudian turun kebawah, didagunya, dilehernya dan inilah yang aku tunggu. Susu yang besar, sekal, putih, dan seakan-akan menempel di dada Ibuku tak sedikitpun tampak susunya turun kebawah. Ku cium bagian tengah diantara susu ibu. Kudengar desahan nafas Ibu, lenguhnya. Kemudian aku menjilatinya meutar di sekitar susu kanannya tak lupa tangan kiriku mengelus-elus sekitar susu kiri Ibuku. jilatan memutar terus memutar hinggan mendekat keputing susunya, tangan kananku pun melakukan hal yang sirama dengan jilatanku. Dan hap lalu kusedot dan ku kenyot-kenyot ku sedot lagi, tangan kananku memainkan puting susunya. Beberapa menit kemudian susu kirinya mengalami perlakuan yang sama.

ÔÇ£Susu Ibu buat kamu nak, terus nak nikmatilah, enak tenanÔÇØ racau Ibuku

ÔÇ£terus, terus….. sedot nak seperti kamu minum susu Ibu duluÔÇØ lanjut Ibuku.

Setelah aku puas dengan kedua susu Ibuku, aku benamkan wajahku ditengah-tengah susu Ibuku. Kuputar tubuhku kubaringkan Ibu di tengah tempat tidur. Aku buka kaki Ibuku,kuposiskan tubuhku tepat ditengah. Aku berlutut di tengah-tengahnya. Kuelus-elus vagina Ibuku sedikit kubuka dengan kedua jariku. Kupegang dedek arya dan Kuarahkan penisku. Dan sleeeeep…. sedikit susah di awalnya, tampak sempit. Kutekan lagi, kali ini lebih mudah mungkin masih ada sisa puncak kenikmatan dipermainan sebelumnya.

ÔÇ£Ah…. hangat sekali bu, enak sekali….. kontol Arya serasa kecepitÔÇØ

ÔÇ£Vagina Ibu enak….ÔÇØ ucapku, ku hentakkan dedek arya lebih dalam terasa kenikmatan membasahi setiap nano meter batang dedek arya. Tubuh Ibuku melengking ke atas dengan mata terpejam ketika dedek Arya masuk ke sangkarnya lebih dalam.

ÔÇ£Itu tempik (vagina), buat ka…..mu….. nakÔÇØ rintih nikmat Ibuku

Aneh memang ketika mendengar kata-kata yang vulgar keluar dari bibir indah ibuku tapi setiap kata yang terucap membuatku panas panas panas. Kembali aku memandang Ibuku, sedikit demi sedikit aku menggoyang Ibuku. Tubuhku semakin panas, entah apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuhku. Seakan-akan nafsuku meledak-ledak layaknya nuklir yang dijatuhkan di nagasaki dan hirosima. Lama-kelamaan goyanganku semakin cepat.

ÔÇ£hufttt….. aaaahhhhh….. aaaaahhhhh….. terussss….. kontolmu lebih besar dari kontol RomomuÔÇØ

ÔÇ£Penuuuuh sekali nak, Ibu suka kon….. tol…. muÔÇØ racau Ibuku. Ketika aku mendengan apa yang dikatakan Ibuku, goyanganku semakin keras semakin cepat.

ÔÇ£Ayo bu, luapkan semua yang ada dipikiran Ibu, katakan semua bu…. ahhhhhÔÇØ

ÔÇ£Aku ingin mendengarnyaaaa…… tentang Romo aaahhhh….. tentang Arya jugaÔÇØ racauku

ÔÇ£Kontolmu en…..nak…. lebih enak dari kontol Romomu…..ÔÇØ

ÔÇ£Ibu benci Romomu…. Ibu sud…… ahh…. dah tidak mau lagi dengan Romo…. Ibu lebih suka kamu ….dengan kamu….. Ibu cinta Kamu, setubuhi Ibumu terus….. terus…ÔÇØ

ÔÇ£Setubuhi Ibu…. Ibu ingin jadi satu dengan Ka……muh….nakkÔÇØ Racau Ibu

ÔÇ£Pasti bu…. akan kuberikan nikamt yang tiada tara buat Ibu… kekasihku… cintaku….ÔÇØ

Terus menggoyang, menggenjot, memompa, memperbesar gaya dorong itulah yang aku lakukan. Susu ibu bergoyang seirama dengan genjotanku. Rintihan Ibu semakin keras, Kata-kata kebencian terhadap Romo, pujian terhadapku keluar dari bibir indah Ibuku. Ibu nampak sekali menikmati permainan demi permainan yang kita lakukan. Seperti musim kemarau yang diguyur oleh hujan. Setiap hujaman dedek arya di vagina Ibuku membuat gerakan Ibu semakin menggila, bergetar. Beberapa menit kami melakukan persetubuhan ini, kurasakan cengkraman pada otot vagina Ibuku.

ÔÇ£Ibu keluarr…… ahhhh…. kamu buat Ibu keluar lagi naaak….ÔÇØ kata-kata yang terlontar ketika Ibu mengalami puncak kenikmatannya. Kuhentikan aktifitasku, kupeluk dan kucium Ibuku dimulutnya, dilehernya, semua bagian kepala ibu aku ciumi tak lupa pada susu ibuku. kuberi waktu istiraha untuk Ibuku.

ÔÇ£Bu masih kuat, Arya belum keluarÔÇØ tanyaku penuh harap

ÔÇ£hassh….hashhh… mashh…..sih….nakÔÇØ jawab Ibuku

Setelah beberapa menit istirahat kuangkat tubuh Ibuku, kubalikan tubuh Ibu dan kuarahkan posisi Ibu agar menungging. Kupastikan lubang vagina Ibuku dengan tangan kiriku kemudian Kuarahkan dedek Arya ke vaginanya.

ÔÇ£Ini gaya apa nak? Gaya di film ya?ÔÇØ tanya Ibu

ÔÇ£Gaya anjing buÔÇØ jawabku. Gaya ini terlintas di pikiranku karena film yang aku tonton tadi. Kuarahkan dedek Arya ke vagina Ibuku. Agak sulit karena aku tidak bisa melihatnya dengan pasti. Tiba-tiba tangan kanan Ibuku meraihnya, mungkin Ibu tahu aku kesulitan memasukannya. Ibu kemudian mengarahkan dedek arya ke vagina Ibuku dan bles, masuk, GoooooL!

ÔÇ£Gaya anjing, Ibu jadi yag betina kamu jantannya…aaaaaaa…..aaaaahÔÇØ ucap Ibu membuka pembicaraan lagi.

ÔÇ£Iya bu… Arya adalah pejatan Ibu, ayo bu puasi akuÔÇØlanjutku dan mulai menekan tarik dedek Arya sambil memegang pingang Ibuku.

ÔÇ£Enak kontol kamu enak…. emmmmm…. Romomu tidak ada apa-apanya….ÔÇØ

ÔÇ£Terus lebih cepet nak…. kontolmu rasane tekan jero banget (rasanya sampai dalam sekali)… terus setubuhi wanitamu iniÔÇØ kata-kata vulgar mulai keluar dari bibi Indah Ibuku.

ÔÇ£Aku penjantanmu… dan aku pemuasmu bu…..ÔÇØ

ÔÇ£Ayo bu…. berikan kehangatan dari tempikmu itu bu…. Arya ingin merasakannya bu….ÔÇØ racauku

Aku menggoyang dan menggoyangnya terus hingga kepala Ibuku mendongak keatas. Desahan Ibuku muai terdengar semakin keras. Racau kenikmatan, dan pujian terhadap diriku terlontar vulgar. Kudekatkan tubuhku kepunggung Ibuku dan kucium punggungnya. Kedua tanganku memegang dan mereams susu ibuku. sekarang Ibu menahan beban tubuhku. Ibuku hanya bisa mendesah merintih atas kenikmatan yang Ibu rasakan. Keringat yang semakin mmengucur deras dari tubuh kami berdua menyatu, menetes dan jatuh ke tempat tidur.

ÔÇ£Bu susumu mau jatuh , Arya pegang bu…ÔÇØ sedikit canda dalam permainan ini

ÔÇ£peg….gang …..naaak…. remas… itu mil…..likmu nak…. remas yang kuat oooh….ÔÇØ jawab Ibuku

Terus kugoyang, kugoyang semakin cepat dan cepat. Tubuh ini semakin panas, butuh penuntasan semakin cepat goyangan pinggangku ini. Ibu hanya mendesah menikmati permainan ini.

ÔÇ£Kamu masuki tempik Ibu dengan kontolmu nak, ka…mu… nakal…. kontol kamu masuk lagi aaaaahÔÇØ racau Ibuku

ÔÇ£Ibu suka… Ibu suka dimasuki kontol Arya … oh oh ..ÔÇØ lanjut Ibuku

ÔÇ£Ibu ma….u kel…..luar lagi naaak….ÔÇØ racau Ibuku kembali

ÔÇ£Ibu keluaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrr……. Kang Mas, anakmu lebih hebat dari kamu….ah ah ah……kamu buat Ibumu keluar lagi…… kmu aaaaaaaahÔÇØ Tubuh ibu ambruk ke depan tak mampu menopang tubuhku lagi. Posisiku masih diatas Ibu, dengan dedek Arya menancap di Vagina Ibuku. Kurasakan kembali cengkraman vagina Ibuku. Nikmatnya……….. Aku sedikit menggoyangnya.

ÔÇ£Istirahat dulu nak hosh hosh hosh…… kamu belum keluar ya? Jangan digoyangÔÇØ ucap Ibuku kepadaku. Ibu mungkin tidak merasakan panas tubuh ini yang ingin segera dituntaskan.

ÔÇ£Tapi bu, tubuh Arya panas sekali pingin segera dikeluarkan….ÔÇØ paksaku

ÔÇ£Biarkan ibu istirahat sebentarÔÇØ

ÔÇ£hah hah hah…. panas ya?ÔÇØ tanya Ibuku, aku hanya mengangguk.

ÔÇ£Hi hi … hash hash hashÔÇØ masih sempat juga Ibu tersenyum nakal

ÔÇ£Itu tadi minuman kuat dan perangsang buat laki-laki, yang kamu minum tadi, Ibu tadi mengiranya tidak bakal selama ini nakÔÇØ jelas Ibuku. Sponan setelah mendengar penjelasan dari Ibuku,aku angkat tubuhku, kemudia aku balikan Ibuku. Ku buka kedua kaki Ibuku, dan kumasukan lagi dedek Arya. Kupegang pinggang Ibuku.

ÔÇ£Karena Ibu sudah meracuni Arya, ibu harus tanggung jawab hash hash hashÔÇØ kataku kepada Ibuku

ÔÇ£Hmmmm…. AaaaaaaaaaaÔÇØ ibu kaget dan berteriak ketika aku dedek arya memasuki vaginanya

ÔÇ£Nakal kamu….ish ish is hng….hhhhhhÔÇØ

ÔÇ£Ayo nak tuntaskan berikan peju cintam pada ibu, Ibu sudah siap…..ÔÇØ jawab ibuku

Perlahan aku goyang pinggulku secara perlahan, semakin lama semakin cepat. Kedua Susu ibuku mulai bergoyang seirama dengan goyangan pinggulku. Aku menggenjot membuat Ibuku berteriak nikmat. Meracau kembali. Kata-kata vulgar keluar dari mulutnya. Semakin cepat aku menggenjot Ibuku. kadang kala aku menekannya sekuat tenaga sehingga dedek arya masuk sangat dalam hingga menthok. Dalam posisi itu tubuh Ibu melengking ke atas, ketika aku tarik kembali tubuh Ibu kembali seperti semula.

ÔÇ£Oh… Oh… Anakku kamu setubuhi Ibumu nak…..ah ah ahÔÇØ racau Ibuku

ÔÇ£Kontolmu mlebu ning tempike Ibu le, kroso jeru banget ah ah ah ah ah ah ibu luih seneng kontolmu enaaaaaaaak……… (kontol kamu masuk ke vagina Ibu nak, terasa dalam sekali, ibu lebih suka kontolmu)ÔÇØ Ibu meraung-raung mengungkapan isi hatinya.

ÔÇ£Ibu, ayo bu, bilang kalo kontol Arya enak, dan Ibu tidak suka romo…ÔÇØ perintahku ke Ibu sambil menggoyang.

ÔÇ£…..Ibu suka kontol Aryaa….ah…. ah…. ah… Ibu tidak suka romo mu….. ÔÇ£ Ibu mengucapkan apa yang aku perintahkan.

ÔÇ£Bagus… sayangku pintar sekali… hah hah hah… mulai sekarang Ibu miliku….ÔÇØ lanjutku

ÔÇ£bu…. Arya mau keluar……hah hah hah hah hahÔÇØ kataku kepada Ibuku

ÔÇ£kel……luarkan nak…. berikan cairan cintamu kepada Ibu….. basahi rahim Ibu dengan cairan cintamu…. Ibu juga mau keluar lagiÔÇØ jawab Ibuku

Dan…………….

ÔÇ£Ibu aku keluaaaaaaaaaaaaar………………. tempik Ibu enak, tempik Ibu nikmat tempik Ibu punyaku, tidak boleh buat Romo… tempikmu kanggo (buat) aku bu…ÔÇØ jeritku keras.

ÔÇ£Iyaa nak tubuhku buat Arya….. Ibu Istrimu, kekasihmu…aahhh……Ibu juga kel….luarÔÇØ teriak Ibuku menjawab kata-kataku. Akhirnya kami berdua keluar secara bersamaan.

Crooooot…..croooott….croooot….crooooot….. Crooooot…..croooott….croooot….crooooot…..

Aku terjatuh ke tubuh Ibu, susu ibu mengganjal tubuhku. Kupeluk Ibu erat Ibuku selama spermaku keluar. Setelah semua keluar aku nikmati sisa-sisa kenikmatan. Terasa cairan kenikmatan kami bersatu. Kuangkat kepalaku dan kucium Ibuku. Kulumat bibirnya penuh dengan sisa-sisa nafsu dan tenagaku. Kurebahkan tubuhku disamping kanan Ibuku, Ibuku langsun ikut mengganti posisinya dan sekarang diatasku dan masih dalam posisi berciuman. Setelah puas berciuman.

ÔÇ£Ooh…Nak…. Ibu ingin dinikmati sama kamu terus, apapun yang kamu minta Ibu turuti nak, sama Ibu terus ya….ÔÇØ ucap Ibuku lirih

ÔÇ£Iya bu hah hah hah… ibu nikmat sekali….. yang penting Ibu keluarkan semua Emosi Ibu ya…ÔÇ£ jawabku.

Ibu masih dalam posisi tubuh di atas tubuhku, kulingkarkan kedua tanganku dan kupeluk ibu. Susu Ibu yang besar entah berapa ukurannya itu mengganjal di dadaku. Ibu mengecupi wajahku dan aku pun membalasnya. Sisa tenaga ini hanya bisa untuk bercumbu ala kadarnya saja. Sekalipun nafsu kami masih tersisa

ÔÇ£Bu pokoknya kalau Romo datang, Ibu tidak boleh kenthu sama romoÔÇØ kata-kata it tiba-tiba terlontar dari mulutku

ÔÇ£Ya tidak bisa begitu nak, nanti kita bisa ketahuan, kita mau tinggal dimana?ÔÇØ jawab ibuku

ÔÇ£Ya pokoknya bagaimana caranyaÔÇØ lanjutku cemburu

ÔÇ£Cemburu ya……sudah kamu tenag saja nak, paling Romo kamu itu pakai tangan juga sudah keluar, pokoknya kamu tenang saja tempik Ibumu khusus buat kamuÔÇØ jawab Ibuku menenangkan aku

ÔÇ£Janji lho bu…..ÔÇØ kataku meminta kepastian

ÔÇ£Iya…. tapi kalau kepepet tidak apa-apa ya?ÔÇØ jawab ibu manja dengan senyumannya. Diwajahnya tampak kenikmatan yang tiada tara. Aku hanya mengangguk mendengar jawaban Ibu. Ngos-ngosan itulah kata yang tepat untuk situasi malam ini.

ÔÇ£Bu….ÔÇØ kataku

ÔÇ£Hem…..ÔÇØ jawab ibuku

ÔÇ£Kalau Ibu hamil bagaimana?ÔÇØ tanyaku

ÔÇ£Sudah kamu tenag saja, Ibu rajin minum pil KB, karena Romomu itu belum ingin punya momongan lagiÔÇØ jelas Ibuku

ÔÇ£Tapi kalau semisal Arya pengen Ibu hamil?ÔÇØ tanyaku kembali

ÔÇ£Kalau kamu pengin ya Ibu ndak nolak, tapi nanti setelah kamu punya istri ya, biar Ibu ada kesibukanÔÇØ jelas Ibuku, aku hanya tersenyum. Ibu kemudian merebahkan tubuhnya disamping kananku. Diposisikannya tubuh Ibuku, sehingga sekarang kepala Ibu sejajar denganku.Dan terlepaslah dedek Arya yang mulai mengkerut.

ÔÇ£Akhirnya Kontol Arya sudah tidur ya.. hi hi hi ÔÇ£ ucap ibuku

ÔÇ£Besok kalau bangun lagi harus, langsung ditidurkan lho buÔÇØ jawabku sekenanya sembari memiringkan tubuh ku menghadap Ibuku

ÔÇ£Ya istirahat, dulu masa kok ya setiap hari to nakÔÇØ jawab Ibuku

ÔÇ£Seorang kekasih harus menuruti lelakinya, tidak boleh bantahÔÇ£ kataku mencoba mencari kebenaran

ÔÇ£Aduh duh duh…. kalah lagi sama sayangku….ÔÇØ jawab ibuku sambil mengecup bibirku, aku tidak membalasnya karena rasa kantuk mulai menggerogoti mataku.

ÔÇ£Iya…. pasti ditidurkan, mau gaya baru lagi Ibu juga sudah siapÔÇØ

ÔÇ£Tidur nak, peluk IbumuÔÇØ lanjut Ibuku

Kulirik jam dinding di mantan kamarku, terlihat pukul 21.55. Kupeluk Ibuku, dan kudekap Ibuku, Akhirnya ibu tertidur pulas. Rahman… Rahman kalau saja tadi siang kamu tidak mentransfer film-film kamu mungkin aku tidak akan bisa memuaskan Ibuku. Terima kasih Bro… Terima kasih….. kesadaranku mulai hilang, entah apa yang akan terjadi esok hari.

ÔÇ£Esok hari apa ya yang akan aku lakukan lagi?ÔÇØ bathinku

Aku pun tertidur, mendekap tubuh wanita yang putih kulitnya dan halus ketika disentuh. Wanita yang kesehariannya anggun dan penuh tata krama tapi malam ini takluk di dalam pelukanku. Aku sayang kamu bu. Dan kukecup kening Ibuku. dan zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*