Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XXVIII (Bonus)

Anak Nakal Season 2 BAB XXVIII (Bonus)

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XXVII (Tamat)

Bonus Chapter

NARASI FAIZ

Aku duduk di sebuah ruangan presiden direktur. Usiaku sudah empat puluh tahun sekarang ini. Memimpin perusahaan sebesar sekarang ini tidaklah mudah. Di hadapanku pemandangan ibukota dengan banyak gedung pencakar langitnya. Aku sekarang ini seperti raja berada di sebuah istana megah yang tak boleh siapapun sembarangan masuk.

Ada telepon masuk. Kupakai Google Glassku. Kupilih menu Hangout. Sepertinya Faiz junior sedang menghubungiku. Dia ada di luar negeri kuliah di sana. Bukan di Havard seperti aku, tapi di Oxford University. Itu pilihannya.

“Hi Dad?!” sapanya.

“Hello Junior, ada apa?” tanyaku.

“Maaf, mengganggu. Aku lulus!” katanya.

“Wow, Congratulations!”

“Makasih ayah, semua berkat ayah. Ayah selalu menyemangatiku dan memberikan nasehat-nasehat terbaik. Aku tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini ke ibu,” katanya.

“Iya, sampaikan saja.”

“Bagaimana kabar yang lain? Bunda Iskha? Bunda Vira?”

“Mereka baik-baik saja. Saudara-saudaramu juga baik-baik saja. Hiro baru saja ulang tahun kemarin.”

“Ah iya, Hiro ulang tahun. Oke, itu aja. Baik-baik ya yah. Aku akan pulang secepatnya.”

“Iya, hati-hati.”

Dia menutup hangoutnya. Aku kemudian meletakkan Google Glass ke meja, beranjak dari sana dan menuju ke luar ruangan. Di luar ruangan beberapa karyawan yang melintasi aku memberi hormat. Aku lalu masuk ke dalam lift menuju lantai satu. Hari ini aku akan meluncurkan produk baru bernama M-Tech. Sebuah alat kecil yang bisa dipakai sebagai telepon, video conference maupun digunakan untuk berbagai macam kebutuhan mengendalikan barang-barang elektronik portable lainnya. Cukup kecil sehingga bisa diletakkan ditelinga seperti headset. Google Glass adalah masa lalu. Dan kini perusahaanku mulai menguasai industri teknologi.

Setelah sampai di lantai satu, sudah banyak yang menyambutku. Orang-orang sudah berkumpul semua di sana. Aku menoleh di sebuah sudut ruangan. Kulihat ada kedua istriku. Mereka sedang bicara dengan Hiro, anak pertamaku dengan Iskha. Dia baru berusia 17 tahun kemarin. Kulihat ada seorang gadis yang asing sekali. Aku tak pernah tahu dia punya cewek. Wajahnya oriental, rambutnya panjang sebahu berwarna sangat hitam. Hiro saat itu memakai jas hitam kemeja biru dengan dasi berwarna perak, si cewek memakai sweater berwarna coklat dengan rok selutut.

Aku kemudian menghampiri mereka. Melihatku datang, Hiro langsung menyalamiku dan mencium tanganku. Kenapa anakku bernama Hiro. Ini gara-gara istriku ngefans berat ama Hiro Mizushina. Dia sampe mohon-mohon agar aku namain anak pertamaku Hiro. Whatever, baiklah. Saat itu aku setuju saja.

“Ayah!?” sapa Hiro.

“Siapa?” tanyaku sambil menoleh ke arah gadis itu.

“Oh, kenalkan ayah, temanku Jung Ji Moon,” kata Hiro. “Please interduce this is my father.”

“Bukan orang Indonesia?”

“Bukan, dia orang Korea.”

“Oh, pacar?”

“Bbb..Bukan ayah bukan. Cuma teman. Kebetulan ia ada di Indo, jadi aku ajak dia ke sini.”

“Glad to meet you, sir,” kata Moon. Dia tersenyum manis.

Bahuku dipukul oleh Iskha. “Nda, jangan langsung main tonjok aja ama Hiro, barangkali masih pedekate.”

“Biarin dek, dia aja waktu nembak aku langsung nyosor koq,” gurau Vira.

Kedua istriku tertawa bersama. Moon tak tahu apa yang dibicarakan.

“Yes, indeed,” gumamku. “So Moon, take your time. Take care Hiro. He is stubborn kid.”

“Oh…come on Dad,” kata Hiro.

Aku mengedipkan mata ke Hiro. Moon membungkukkan badan. Generasi telah berubah pikirku. Inilah era baru. Dunia baru. Aku naik ke podium dan seluruh orang bertepuk tangan kepadaku. Aku, Faiz Hendrajaya.

~ Selesai ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*