Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XXV

Anak Nakal Season 2 BAB XXV

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XXIV

BAB XXV

Wasiat

Bicara mengenai menggebu-gebu dalam berhubungan, yup, kami benar-benar menggebu-gebu. Hampir tiap bahkan tak mengennal tempat. Hingga tak heran kalau dua bulan kemudian Iskha dinyatakan hamil. Aku senang sekali. Begitu tahu hamil aku langsung melompat-lompat, pokoknya senang banget. Mendapatkan anugrah yang tak terkira ini benar-benar membuatku bahagia. Iskha juga sangat senang, cinta kami akan bertambah lagi dengan kedatangan buah hati. Heran aja sih, begitu tahu kabar istriku hamil, eh media langsung minta konfirmasi. Dari mana juga tahu???

“Iya, aku sedang hamil 2 bulan pemirsa,” ujar Iskha saat diwawancarai sebuah stasiun tv. “Do’ain aja agar kandunganku sehat dan lahir dengan selamat.”

“Bapaknya seneng dong mbak pastinya?” tanya sang reporter.

“Ya iyalah, tahu aku hamil langsung melompat-lompat kaya’ anak kecil dia,” katanya sambil tertawa.

Sayangnya aku nggak diwawancarai. Ah, whateverlah. Yang penting aku senang banget. Kabar tentang hamilnya istriku mendapatkan sambutan yang baik dari keluargaku dan keluarga Iskha. Yang datang ke rumahku bergantian. Pertama ayahku, beliau mengucapkan selamat. Kemudian bunda. Ia sangat senang sekali. Bahkan mulai mengatur-ngatur agar istriku makan makanan yang sehat. Lalu mertuaku, sama aja sih. Lebih khawatir calon jabang bayinya daripada orang tuanya. Hihihi…aku bisa menyadari koq. Maklum cucu pertama.

Setelah lulus dari Havard aku mendirikan perusahaan sendiri di bidang Teknologi Informasi, khususnya di bidang mobile. Aku masih punya sisa uang di tabungan sekitar 200jt. Dengan modal segitu akun pun mendirikan software house kecil-kecilan. Yah, lumayanlah dapat penghasilan yang tak sedikit juga. Paling tidak aku sekarang sudah mandiri. Nggak butuh bantuan keluargaku lagi. Penghasilan Iskha juga banyak. Dan ia malah berinisiatif untuk gabungin saja penghasilannya. Tapi aku melarangnya. Uangku adalah untuk kita berdua, sedangkan uangmu untuk dirimu. Itulah prinsipku. Well, dia setuju aja sih. Aku hanya ingin bisa bertanggung jawab terhadap keluargaku.

Aku sudah lama tak melihat Mas Pandu. Bahkan setelah hari pernikahan pun tidak melihatnya. Aku tak tahu kabarnya. Hingga ayah menelponku untuk segera ke rumah sakit. Aku tiba di rumah sakit bersama Iskha. Dan di sana semua keluarga berkumpul. Dan…ada Vira. Ia menangis. Beberapa anggota keluarga juga menangis. Aku masuk ke kamar dan mendapati seseorang sudah terbujur kaku dengan ditutupi selimut di sekujur tubuhnya.

“Mas Pandu?” panggilku.

Aku sibakkan selimutnya. Tampaklah wajah Pandu yang sudah terbujur kaku. Tubuhnya sudah dingin. Ia sudah tak bergerak lagi untuk selama-lamanya. Aku pun menangis saat itu, tiba-tiba tubuhku lemas.

“Mas Pandu, bangun! Ini nggak lucu, bangun mas! Ayah, tolong jangan bercanda. Bangunin Mas Pandu! Bangunin yah!” kataku sambil menarik tangan ayahku. “Ayo yah, bangunin! Ayah bisa melakukan apa saja. Ayah punya banyak uang, punya banyak kekayaan, gedung ayah ada di mana-mana. Kenapa ayah tak bisa membangunkan Mas Pandu? Ayaah, bangunin Mas Pandu yaaahh….”

Iskha lalu mendekapku dan mencoba menenangkan aku. Aku pegang tangan Mas Pandu. Tangannya dingin.

“Mas Pandu sudah tak bisa menulis lagi sejak lama Kanda. Dia sudah lumpuh, tak bisa apa-apa. Hanya bisa bicara,” kata Iskha.

“Ini sudah terjadi Faiz, relakanlah!” kata ayahku.

“Mas Pandu….!” panggilku lagi.

“Awalnya kakinya, lalu organ-organ tubuh yang lain, kemudian tangan, saraf-saraf motoriknya mulai tak bekerja dengan normal, kelumpuhan total lalu inilah saatnya,” kata ayahku. “Berterima kasihlah kepada Vira. Ia menjaga kakakmu sampai akhir hayatnya.”

Kemudian ayah meninggalkanku. Bunda datang langsung memelukku. Ia sangat faham akan kesedihanku. Pandu yang selalu bersama denganku, bermain bersama, tumbuh bersama, sekarang sudah pergi duluan. Setelah semua anggota keluargaku pergi, kemudian Vira masuk ke ruangan. Ia tampak menangis. Iskha menghampiri Vira dan memeluknya.

“Aku sekarang tak ada tempat lagi untuk kembali Iskha, Pandu sudah pergi, huuhuuuu….,” Vira menangis tersedu-sedu.

“Katanya di telepon ada sesuatu yang ingin kau tunjukkan kepadaku?! Mana?” tanya Iskha.

“Aku tak jadi. Aku tak mau menunjukkannya,” ujar Vira.

“Tidak, ayo tunjukan. Itu pesan terakhir Mas Pandu bukan?” kata Iskha.

Vira menyembunyikan sesuatu sepertinya.

“Tidak Iskha, jangan paksa aku. Aku bahkan ingin menghapus ini. Kau tak boleh, kalian tak boleh melihatnya!” kata Vira.

“Apa? Apa yang kau sembunyikan dariku?” tanyaku.

“Kumohon jangan paksa aku. Aku lebih baik mati daripada kalian melihatnya,” kata Vira.

Ia sepertinya melindungi tas yang ia bawa.

“Itu wasiat terakhir Pandu bukan? Tunjukkan kepada kami mbak, AYolah!” bujuk Iskha.

“Aku tak mau, aku akan membuangnya,” kata Vira.

Aku lalu merebut tasnya. Kami terjadi aksi saling menarik. Tapi tenagaku lebih kuat. Di dalam tas itu ada sebuah ponsel. Ponsel milik Pandu. Aku masih ingat ponselnya. Inikah yang ingin disembunyikan oleh Vira. Aku lalu melihat folder Video. Ada sebuah file yang sepertinya baru dibuat beberapa waktu yang lalu.

“Kumohon jangan diputar! Kumohon. Kalian sudah bahagia aku tak mau merusaknya. Faiz, jangan lakukan itu kumohon! Jangan diputar! Kumohon!” Vira tiba-tiba bersimpuh di hadapanku.

Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pun memutar video itu. Ada wajah Pandu. Vira pun menangis meraung-raung. Iskha mencoba menenangkannya.

“Tenanglah mbak, semuanya akan baik-baik saja,” hibur Iskha.

“Kalian tidak mengerti, kau tidak mengerti. Faiz, buang ponsel itu, kumohoonnn!”

“Hai Faiz, gimana kabarmu? Kamu sudah menikah ya? Selamat deh. Sayang aku nggak bisa datang bro, lu tahu sendirikan gimana keadaan gue,” aku melihat Pandu terbaring lemah. Yang merekam pasti Vira. “Vira merekam video ini. Vira, ingat ya, apapun yang aku ucapkan kau tak boleh menangis, kau harus tegar dan ini sudah menjadi keputusanku. Dan bro, aku membuat video wasiat ini tanpa paksaan siapapun, Vira tolong sorot Pak Dokter! Dan orang-orang yang ada di sini!”

Vira lalu mengarahkan ponsel ke semua orang yang ada di ruangan itu. Aku melihat dokter, suster, ayah, dan dua orang yang aku tak kenal.

“Ada dokter rumah sakit, ia sudah memeriksaku bahwa aku nggak gila bro, tenang aja. Ada ayah, ada ibu, dan kedua orang tuanya Vira. Well, aku bangga punya saudara kuliah di Havard. Bangga sekali. Berharap kamu jadi Bill Gatesnya Indonesia. Hahahaha. Duh, sekarang buat tertawa saja aku susah. Andainya kaki ini masih bisa gerak, aku akan main futsal ama kamu. Kalau tanganku ini bisa gerak, aku akan meninjumu bro. Ya, aku akan tinju kamu sekuat tenaga sampai pingsan. Tahu kenapa? Karena kau membohongiku. Aku sebenarnya mendengarkan percakapanmu dengan Vira di ruang UKS itu. Kau mengalah demi aku, itu bukan tindakan ksatria. Bukankah kita sama-sama sudah sepakat kalau siapapun yang dipilih Vira pasti harus menerimanya? Kenapa kau tak lakukan itu? Kenapa Vira juga tak jujur kepadaku?

“Tapi tenang bro. Vira sudah mengakui koq. Akulah yang salah. Aku memanfaatkan keadaan ini. Sehingga aku merebut Vira darimu, aku tak tahu kalau kamu susah untuk move on, aku sedih bro. Apalagi Vira tak pernah mencintaiku selama ini. Di hatinya hanya ada kamu dan kamu. Faiz, Faiz, Faiz. Bagaimana kabar Faiz? Faiz baik-baik saja? Bagaimana Faiz ketika kecil? Suka apa dia? Dia selalu tanyakan itu kepadamu bro. Itu sakit bro, sakit! Vira…viraaa…kumohon jangan nangis. Aku tak mau videoku goyang-goyang! Oke, begitu….lanjut bro. Aku sakit bro. Sudah deh, daripada aku juga sakit hati. Mending Vira aku putusin aja. Aku suruh dia kembali ke elu. Tapi…..sayang sekali elu sudah punya Iskha.

“Jujur aku iri kepada kalian. Kalian mesra banget, pake pamer gandengan tangan segala. Aku saja tak pernah nyentuh VIra. Tenang aja, onderdilnya masih bagus, masih kinclong aku tak pernah menyentuhnya. Yeee…malah ketawa. Vira, jangan digoyangin. Sorry bro, gangguan teknis. Ini aku ingin ngasih wasiat terkahir buat lo. Dan elo harus melakukannya. Lo suka atau tidak, lo terima atau tidak. Di sana ada Iskha? Kalau ada bagus deh. Aku ingin dia dengar juga…”

VIra tiba-tiba berteriak, “Jangaaaannn! JAngaaan…! FAizzz matikaaan..kumohoooonn…!” Iskha memeluk Vira agar tenang.

“Ingat ya, lakukan wasiat terakhirku, kalau tidak aku akan bangkit dari kubur dan kumakan daging lo. Aku sumpahin sampe anak cucu lo hidup menderita tujuh turunan kala kamu nggak melakukan apa yang ingin aku sampaikan ini. OKe, sudah siap? Nah, aku ingin kamu nikahi Vira…”

Tiba-tiba ada suara Vira, “Pandu apa-apaan ini, sudah aah..ngaco kamu!”

Pandu melanjutkan, “Vira, ingat kamu sudah janji apapun yang aku sampaikan kau tetap merekam!”

“Pandu kamu ini mau apa?” tanya ayahku di rekaman itu.

“Ayah tenang aja, nggak usah ikut campur! Oke lanjut lagi. Kamu dengar Faiz? Nikahi Vira. Sebab ia tak punya tempat untuk kembali. Cintanya terlalu besar untukmu. Cintanya bukan untukku. Aku tahu kedengarannya ini konyol, tapi ini keputusanku. Dan…Iskha, maafkan kakak iparmu ini ya. Ini semua demi orang-orang yang aku cintai. Demi Faiz, demi Vira. Aku tak bisa hidup tanpa mereka. Kamu sudah mengambil Faizku, dan sekarang aku menyerahkan Vira kepada suamimu. Aku akan tidur tenang setelah ini. Kumohon ijinkan Faiz menikahi Vira, demi aku…demi aku……”

Video itu berakhir. Vira menangis dengan keras sekali. “Jangan lakukan itu! Aku mohon itu wasiat terbodoh yang pernah aku dengar. Aku tak mau melukai kalian. Aku hanya duri bagi hubungan kalian. Aku tak mau melakukannya.”

NARASI ISKHA

Video itu benar-benar menggetarkan hatiku. Sampai segitunya Mas Pandu memikirkan Faiz dan Vira. Aku pun ikut menangis. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi Vira. Menjadi perusak hubungan rumah tangga seseorang. Apa keputusan suamiku? Dadaku bergemuruh. Vira terus memelukku dan berkata “Jangan kalian dengarkan wasiat itu, aku mohon!”

Kenapa, kenapa suamiku tak bisa bicara sekarang? Bicaralah kumohon kandaa….Tidak,…ia tentu saja tak bisa bicara. Sebab Mas Pandu memohon kepadaku. Mas Pandu…Vira…, iya, Vira selama ini selalu menemani Mas Pandu, mengurusi mas Pandu. Padahal ia sama sekali tak mencintainya. Ia lakukan itu dengan tulus. Vira juga yang seharusnya selama ini jalan dengan Mas Faiz. Bukan diriku. Seharusnya dia sekarang sudah menikah dengan Mas Faiz, bukan diriku. Akulah duri terbesar dalam hubungan mereka.

Tapi….mas Faiz sudah memilihku. Memilih sesuatu yang menghalangi cinta Vira kepadanya. Oh Tuhaan…cobaanmu sungguh berat. Aku mencium kening Mbak Vira.

“Ayo berdiri mbak!” ajakku.

“TIdaak…aku tak mau berdiri! Aku memohon kepada kalian tolong jangan dengarkan Pandu, kumohon!” kata Vira dengan histeris.

Aku memaksanya untuk berdiri.

“Sudah, sudah! jangan menangis lagi! Baiklah kami tak akan melaksanakan wasiat Mas Pandu!” kataku.

“Sungguh?” katanya sambil menghentikan isak tangisnya. Matanya sembab, air matanya entah berapa banyak yang keluar.

“Tapi, ada wasiat Mas Pandu ataupun tidak aku inginkan hal yang sama seperti apa yang diinginkan oleh Mas Pandu,” jawabku.

“Dinda, apa-apaan ini?!” kata suamiku.

“Iskha, tidak. Aku tidak mau menjadi penghancur rumah tangga kalian!” kata Vira.

“Mbak Vira, aku tahu mbak sangat mencintai Mas Faiz lebih dari siapapun. Lebih dari apapun. Hal ini cukup menjadi bukti betapa orang lain bisa tahu rasa cinta mbak kepada Mas Faiz sangat besar. Dan mungkin tak sebanding cintaku kepada Mas Faiz. Mbak cinta pertamanya, dan aku yakin dia cinta pertama mbak. Aku hanyalah sebuah taman bunga di antara pertemuan kalian. Aku tak menyesal kalau seandainya kalian bisa bersama. Aku ikhlas mbak, aku rela. Aku mendengarkan semua yang Mbak Vira dan Mas Pandu bicarakan di taman itu, aku tak sengaja ada di sana. Aku tahu bagaimana perasaan Mbak Vira kepada Mas Faiz. Sungguh aku tak akan bisa dan tak akan kuat seperti Mbak Vira. Mampu menahan cintanya sampai sebegitu dalamnya sampai sekarang. Mbak Vira….Kanda!”

Aku memegang tangan mereka berdua, lalu perlahan-lahan menyatukannya.

“Kanda,…nikahilah Mbak Vira, aku mengijinkannya. Aku bisa menjadi saudaranya,” kataku.

Tiba-tiba mas Faiz merangkulku. “Kau tak perlu melakukan ini Dinda…..tak perlu…”

“Tapi aku perlu melakukannya. Karena aku mencintaimu,” kataku.

(bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*