Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XXIV

Anak Nakal Season 2 BAB XXIV

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XXIII

BAB XXIV

Malam Pertama

NARASI FAIZ

KEMBALINYA SANG PANGERAN, itulah judul headline surat kabar. Sehari setelah aku melamar Iskha di depan umum dan disiarkan secara live sebuah stasiun tv swasta itu, langsung media masa heboh. Aku dan Iskha dinobatkan sebagai pasangan selebritis yang paling romantis. Aku pun serius dengan lamaran itu. Nggak usah ditanya deh, ayahnya Iskha sangat setuju pasti.

Setelah itu adalah minggu-minggu yang sibuk. Aku mencetak undangan, menyewa tempat untuk acara resepsi pernikahan, memilih baju pengantin, sewa catering dan lain-lain. Satu yang aku sukai dari Iskha adalah ia tak ingin muluk-muluk. Ia hanya ingin acaranya sederhana saja, nggak usah terlalu mewah. Dan ia lebih ingin mengundang orang-orang kecil. Biarkan mereka berbaur dngan para undangan lainnya, agar mereka tidak merasa kecil. Intinya ia ingin para tamu undangan itu orang-orangnya sejajar tak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

Tentunya ini konsep yang luar biasa. Undangan aku sebar ke beberapa panti asuhan. Dan juga para tetangga yang kurang mampu aku undang. Sedikit aku undang dari orang-orang kaya, terkecuali teman-teman sekolahku sewaktu SMA. Iskha sangat senang sekali. Ia bahkan menjadi seksi sibuk sekali. Sempat marah-marah juga ketika contoh undangannya salah. Aku pun menenangkannya.

“Udah dong, masa’ salah dikit aja marah?” tanyaku.

“Gimana nggak marah coba Mas. ini udah ketiga kalinya lho,” jawabnya.

“Iya, mbak. Maaf, orangnya soalnya baru. Setelah ini saya aja yang akan menghandle,” ujar salah seorang karyawan yang mencetak undangan itu.

“Ya sudah, mohon segera ya mas. Kan kita juga butuh waktu untuk sebar undangan,” ujarku.

Pemuda itu pun pergi. Iskha memegang kepalanya.

“Sudah dong, kamu pasti lagi capek, lagi PMS?” tanyaku.

“Iya kaya’nya,” jawab Iskha. Ia lalu merebahkan diri di sofa.

Aku lalu mengambil ponselku dan menceklist sesuatu yang sudah aku lakukan. “Oke, gaun sudah, catering sudah, tempat resepsi sudah, penghulu sudah, tinggal undangan aja berarti.”

“Mas Faiz,” panggilnya.

“Ya? Ada apa?” tanyaku.

“Mas yakin nggak mau mengundang Pak Hendrajaya? Kan dia ayah mas??”

Aku terdiam. Aku sudah berjanji tak akan kembali ke sana lagi sebenarnya.

“Ayolah mas, kan cuma mengundang. Mas sudah berjanji tidak pergi ke rumah. Tapi bukan berarti mas janji tidak mengundang mereka, kan?” tanyanya.

Aku mendesah. Benar sih, bukan berarti aku tidak mau mengundang mereka. Baiklah. “Iya, aku akan megundang mereka.”

“Sungguh?” tanyanya. Entah kenapa ia sangat gembira. Ia langsung bangkit dan memelukku. “Makasih ya mas.”

****

“Saya terima nikahnya Iskha Kusumaningrum binti Sulaiman dengan mas kawin cincin emas 7 gram dan uang tunai sebesar Rp. 2.009.000,- dibayar tunai,” kataku ketika ijab qabul.

“Gimana semuanya? Sah?” tanya pak penghulu.

“Saah…” seru semuanya.

“Alhamdulilah,” jawabnya.

Akhirnya aku dan Iskha hari itu sah menjadi suami istri. Pesta pernikahan yang digelar cukup meriah. Tamu-tamu berdatangan mengucapkan selamat. Tamunya baik dari kalangan selebritis juga dari kalangan umum. Dari orang kaya sampai orang miskin. Yang membuatku takjub adalah mereka semua berbaur menjadi satu. Tertawa bersama, makan bersama. Iskha memang luar biasa membuat ide ini. Aku makin cinta ama dia. Dan dia sangat cantik hari itu. Memakai baju pengantin berwarna putih. Adatnya campuran adat sunda dan betawi.

Dan aku akhirnya melihat seseorang dengan rombongan keluarga mereka. Aku mengenali mereka. Ayahku, bunda, Icha, Rendi, dan juga bunda-bundaku yang lain. Bunda Vidia, Bunda Nur, Bunda Laura dan anak-anak mereka, minus Mas Pandu. Agak aneh memang, mereka menjadi tamu dalam acara ini, ini emang ideku. Aku memang tak akan kembali ke rumah mereka, tapi bukan berarti aku tidak mengijinkan mereka juga ke tempatku.

Yang paling pertama menyelamatiku adalah ayah. Ia memelukku dan menepuk pundaku.

“Selamat nak, semoga kalian langgeng, jaga istrimu baik-baik!” ujarnya. “Pandu berada di rumah sakit, maka dari itu dia tak bisa menemui kalian. Ia hanya titip salam”

Aku mengangguk. “Makasih ayah.”

Kemudian ayah pindah ke Iskha. “Iskha?!”

“Pak Hendrajaya,” sapa Iskha.

“Selamat ya nak, jaga Faiz. Jadi istri yang baik,” kata ayahku.

Kemudian bunda. Aku mencium tangannya. Bunda mencium keningku. Ia lalu memelukku sambil menangis. “Faiz,…kamu sudah besar nak. Bunda bangga ama kamu. Jaga istrimu baik-baik yah??!”

“Iya bunda,” jawabku.

“Iskha….kamu cantik sekali. Jadi istri yang baik ya!” kata bunda.

Iskha mengangguk.

“Ke mana Mas Pandu?” tanyaku.

Setelah salam-salaman dan ucapan selamat, acara pun selesai. Para tamu sudah pulang semua. Aku tak melihat Vira hadir. Ah tapi tak masalah. Hari itu aku berencana menginap di sebuah vila yang sudah aku sewa sebagai bulan madu kami. Dengan mobil yang aku pinjam dari Erik, aku pun berbulan madu dengan Iskha.

****

“Heh, bengong aja!” kata-kata Iskha membuyarkan lamunanku.

“Hihihi, aku bingung apa ini mimpi ya?” tanyaku.

“Enaknya mimpi atau nggak?” tanya Iskha.

Aku sudah berada di kamar villa. Hari sudah mulai sore. Iskha sudah menghapus make upnya. Cukup gerah kami hari itu sehingga kami sudah mandi. Sudah memakai baju santai. Iskha tiduran santai di atas ranjang pengantin kami. Total aku sewa villa ini seminggu penuh. Ini termasuk villa ayahku sih. Sebenarnya bisa saja aku dengan gratis menempatinya, tapi aku tetap berprinsip tak mau menerima bantuan ayahku. Aku ya merogoh kocek sendiri tentunya. Patungan ama Iskha.

Iskha tampak sibuk bermain ponselnya. Bermain facebook, twitter, instagram. Ia bahkan foto selfie dengan diriku.

“Mas, mas sini deh!” ia menarikku lalu selfie JEPRET!

“Buat apa?” tanyaku.

“Buat status ‘Before first Night’!” guraunya. Aku ketawa.

“Ah, ada-ada saja!” kataku.

Dia menguploadnya ke facebook, twitter dan isntagram. Aku lalu duduk di sebelahnya.

“Eh, kayaknya aku mulai hari ini akan manggil kamu Dinda deh,” kataku.

Iskha menoleh ke aku, ia tertawa, “Issh…dinda? Trus aku harus manggil kanda gitu?”

“Yah…terserah situ sih,” kataku.

“Oke, kanda,” katanya.

Aku terdiam lagi. Menatapnya. Inilah istriku. Wajahnya sekarang adalah wajah wanita yang paling cantik. Aku tak jemu-jemu memandangnya. Ia masih sibuk bermain ponsel. Setelah itu ia menoleh ke arahku. Ia memonyongkan bibirnya.

“Apaan sih? Ngelihat melulu,” katanya.

“Nggak apa-apa kan? Melihat wajahmu saja adalah ketentraman bagiku,” jawabku.

“Ih…lebay,” ujarnya.

Aku lalu merebut ponselnya. Ia mencoba merebutnya.

“Eit,…nggak kena,” kataku.

“Ihh…kanda…kasih dong!” pintanya.

Ia lalu ambruk di atas tubuhku saat merebut ponselnya. Wajah kami pun bertemu. Aku bisa rasakan detak jantungnya di dadaku. Perlahan lahan aku letakkan ponselnya di meja dekat ranjang. Aku lalu menciumnya. Ia mendorongku.

“Ini belum malam lho, ntar nggak bisa dong disebut malam pengantin,” katanya.

“Peduli amat,” jawabku.

Aku menciumnya, satu, dua, tiga. Bau tubuh kami sudah wangi karena barusan mandi. Bau sabunnya membuatku terangsang. Kuhisap salivanya. Iskha memelukku erat. Ia menggeliat. Aku ingin melampiaskan kerinduanku selama ini kepada dia. Dan aku bisa merasakannya bagaimana kerinduan yang dia rasakan kepadaku.

“Kanda…,” bisiknya lirih saat aku memasukkan tanganku ke balik kaosnya dan menggelitik punggungnya. Ia tak pakai bra. Aku sudah tahu itu. Karena itulah aku bisa merasakan detak jantungnya. Aku pun menaikkan kaosnya ke atas. Kini tubuhnya bagian atas terlihat jelas. Putingnya berwarna pink kecoklatan terpampang dihadapanku.

Aku menciumnya lagi. Kini dialah yang menarik kaosku ke atas. Kami berdua sudah telanjang dada sekarang. Aku pun memasukkan tanganku ke baik celana pendeknya. Pantatnya sudah aku sentuh. Bongkahan pantatnya kuremas-remas. Dia menciumku lagi. Lalu dengan sedikit gerakan aku menurunkan celana pendeknya. Ia membantuku untuk melepaskannya. Aku kemudian berguling. Kini ia membantuku menurunkan celana pendekku. Dan saudara-saudara kita sudah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

“Ohh…Dinda,” aku menciumi pipinya, bergeser ke leher, telinga dan dada. Kuhirup aroma tubuhnya yang menggoda. Sensasional sekali rasanya. Aku baru kali ini melihat tubuh Iskha seutuhnya. Kuciumi puting susunya dan kujilati. Kuhisap.

“Kandaaaa….aahhckk..,” lenguhnya.

Aku lalu menjilati ketiaknya yang putih. Sungguh tubuh yang sempurna. Iskha menggelinjang. Aku lalu bergeser ke bawah, ke pinggang, ke pinggul lalu ke pantatnya. Ke pahanya. Pahanya lalu aku peluk dan kujilati. Hisap, hisap. kecup, kecup. Buah adanya aku belai lagi,kuremas. Kedua tangannya memegang tanganku.

Wajahku sekarang sudah berada di depan liang surgawinya. Baunya sangat khas. Aku tak pernah melihat miliknya sebelumnya. Walaupun ia pernah mengoralku. Iskha melebarkan kakinya. Ia seolah-olah tahu bahwa aku sudah berada di depan miliknya yang paling berharga. Inikah milik istriku? Ada sedikit rambut di atasnya. Aku ciumi bibir memeknya.

“Aaaahh,….kandaaa!” panggilnya.

Aku mencolok-coloknya dengan bibirku. Lidahku lalu berbicara. Kusibakkan memeknya dengan tanganku, lalu lidaku menyapunya.

“Aaaaaaahhhhhhhkkk…..!” jeritnya.

Lalu lidahku sudah menari-nari di belahan memeknya. Iskha mengerang , menjambak dan mengapitku. Ia menggeliat seperti cacing di atas wajan penggorengan. Iya aku sedang menggoreng. Menggoreng nafsunya. Saat aku sibuk mengoral memeknya, tanganku mencubiti puting susunya. Kedua tangannya memegang tanganku.

“Kandaaa……aaahhhh….ahhh…sudah…dinda mau pipiss..,” katanya dengan suara agak imut. Ia menggeliat makin menjadi dan badannya naik melengkung ke atas. Mulutnya menganga, matanya memutih. Ini orgasme pertamanya. Cairan asin yang keluar dari memeknya itu aku hisap.

Ia segera bangkit. Aku berbaring. Ia berinisiatif sekarang. Batangku sekarang digenggamnya. Dipijat-pijat, dikocoknya. Mulutnya sekarang menari-nari di pusarku. Ohhh…nikmatnya. Ia menstimulus libidoku sekarang. Lalu turun ke bawah. Dan lidahnya sekarang berputar-putar di kepala penisku. Dia melihat ke arahku sambil menjilati pusakaku itu. Membuatku benar-benar bernafsu. Mulutnya terbuka lebar dan memasukkan kepala penisku ke dalamnya. Dikulumnya benda lunak-lunak keras itu. Kepalanya kini naik turun.

“Aahhkkk…dinda…enak sekali…nikmaat….,” kataku.

Tangan Iskha sekarang memijat-mijat buah pelerku. Yang satunya mengocok lembut. Diimbangi dengan permainan mulutnya yang maut. Ia benar-benar belajar banyak. Aku sekarang dioral lagi olehnya. Tapi kini rasanya lebih mantab. Lidahnya seperti biasa menggelitikku. Sedangkan kepala penisku sudah ada di dalam mulutnya. ENtah ia apakan itu sampai penisku serasa geli sekali. Bahkan kalau aku tidak mendorongnya mungkin aku bisa ejakulasi saat itu juga.

Kemaluanku sudah berkedut-kedut, ketika aku baringkan tubuhnya di bawahku. Ia sudah mengerti arah dari gerakan ini. Mengambil keperawanannya.

“Dinda siap?” tanyaku.

Sambil menganggukkan kepala ia memejamkan matanya. “Pelan-pelan kanda sayang!”

“Pasti dinda,” kataku.

Penisku sudah ada di depan lubangnya. Aku gesek perlahan. Iskha memejamkan matanya meresapi seluruh sensasi penisku secara langsung. Ia selama ini merasakannya dari balik kain. Kini, ia menyentunya langsung. Punyaku benar-benar sudah tegang. Kaki Iskha makin melebar, ia memasrahkan mahkotanya kepadaku sekarang. Ia sudah rela. Tangannya diapitkan ke leherku, kedua tanganku berada di bawah punggungnya. Aku sudah menemukan lubangnya, karena ia sangat licin sekarang ini.

“Aku datang dinda,” kataku.

BLESSS SREETT! Sempit, penisku seperti ditarik-tarik. Kepalanya seperti disedot-sedot dan diremas-remas.

“Aaaahhkkk….kandaaaa…sakiiit!” katanya.

Aku menciumi dia. Kuhisap lidahnya. Aku terus menciumnya tanpa menggoyangkan pantatku. Kubiarkan penisku menyesuaikan diri. Aku tarik perlahan dan kudorong lagi dengan tekanan. SREETTT! Aku bisa merasakan penisku mulai menerobos. Mungkin karena ukuran penisku yang panjang membuat dia sedikit kesakitan.

“Teruskan kanda, aku akan menahan rasa sakit ini. Semua ini untukmu!” Iskha menatapku lekat-lekat. Mata kami sudah beradu. Aku mencium dia. Aku tekan lagi pinggangku ke bawah. Batangku mulai masuk. Ia mencengkram punggungku, kakinya mengapit pinggulku.

“Ohh…Iskhaa….aaahaakk…nikmat sekali,” kataku.

“Kandaa…ohhh…sakit kanda, tapi nikmat….,” ujarnya.

Aku teruskan dorong hingga mentok. Kemaluan istriku berkedut-kedut sekarang. Ku sudah mentok. Tak bisa maju lagi. Aku pun merasakan menerobos sesuat yang sangat rapat, lalu setelah di dalam rasanya longgar. Tapi batangku masih serasa diremas-remas. Iskha menggigit bibirnya. Kami berciuman lagi. Setelah beberapa saat kemudian. Aku mulai menaik turunkan pinggangku. CLEK! CLEK! CLEK! Suara kemaluan kami benar-benar becek dan basah.

“Kanda! Terus kanda!” katanya. “Nikmat banget…! Oh,…aahh….!”

“Dinda….enak banget memekmu,” kataku.

Aku bergerak naik turun. Begitu aku sudah ingin keluar aku berhenti, menahannya agar jangan keluar dulu. Saat itulah Iskha menjerit. Ia orgasme lagi.

“Aku barusan keluar kanda. Kanda belum?” tanyanya.

“Belum dinda. Kanda ingin merasakan dinda dulu. Kanda belum puas,” jawabku.

“Iya kanda, teruskan…ohhh…..!” katanya.

Aku bergoyang lagi. Cukup gaya misionari saja menurutku. Ini saja sudah nikmat bukan kepalang. Orang yang ku cintai sekarang bercinta denganku. Kupeluk dia. Kuciumi. Aku juga menyusu kepadanya lagi. Paling tidak pertahananku tak jebol hingga ia sudah keluar sampai tiga kali. Aku pun akhirnya sudah mentok. Penisku serasa gatal sekali ingin keluar. Entah berapa banyak pejuku yang akan muncrat. Tapi aku bisa rasakan sangat banyak.

“Dinda, jadilah ibu dari anak-anakku!” kataku.

“Tentu kanda, semburkanlah manimu. Tanamkan benih-benihmu di rahimku. Aku akan menjadi ibu dari semua anak-anakmu,” katanya.

Gerakanku makin cepat. Penisku sudah gatal sekali. Rasanya geli-geli di ujung.

“Kandaaa…aku bisa merasakannya, penis kanda keras banget!” katanya.

“Dinda, aku keluuuaaaaaaarrrr! AArrgghh…! Banyak dinda!” seruku.

Iya, aku keluar banyak sekali. Sperma hangatku membasahi rahim istriku. Kami berpelukan erat sekali. Orgasme itu serasa sangat panjang dan lama. Aku lalu ambruk di samping tubuhnya. Nafas kami terengah-engah. Penisku masih menancap, perlahan-lahan setelah tenang aku mencabutnya. Belum, pusaku belum tidur, baru setengah tidur.

Aku melihat banyak sekali lendir yang keluar di bawah sana. Bahkan aku bisa melihat bibir memeknya dipenuhi cairan berwarna putih pekat kental dengan bercak darah. Penisku juga ada bercak darahnya. Ia benar-benar menyerahkan keperawanannya kepadaku. Iskha terkapar penuh kepuasan. Aku lalu mengambil selimut dan menutupi tubuh kami berdua. Kurangkul dirinya yang kelelahan itu.

“Makasih dinda, telah memberikan apa yang paling berharga untukku,” kataku.

“Iya kanda. Dinda senang sekali,” ujarnya. Aku memeluknya.

Oke itu baru ronde pertama. Setelah Iskha pulih dari rasa lelahnya. Kami mengulanginya lagi. Kini dengan gaya berbeda. Hampir seluruh gaya kami lakukan. Seharian eh, semalaman itu kami gunakan hanya untuk bercinta dan bercinta. Sampai aku kering. Kami pun tertidur karena kelelahan hingga mentari suda naik.

****

Bangun tidur aku tak mendapati Iskha. Setelah aku bangkit aku melihat dia tampak sedang membawakan aku sesuatu di nampan. Ia tak memakai baju sama sekali.

“Sarapan,” katanya.

“Hmm…kalau tiap hari dimasakin chef seksi seperti ini, mana tahan!” kataku.

“Huuu maunya,” katanya.

Aku dan dia lalu makan roti bakar sandwich dan pancake yang ia barusan buat. Tubuh Iskha sangat cantik. Mulus, tak ada cacat. Bagai sang dewi turun dari kayangan. Terlebih ketika tersenyum. Kami lalu minum susu di gelas yang sama. Aku setengah gelas. Ia setengah gelas. Baiklah saudara-saudara, karena aku sudah kenyang, dan barusan minum susu. Melihat ia telanjang tanpa sehelai benang pun tahulah apa yang terjadi berikutnya. Aku nyosor aja. Toh kami sudah resmi jadi suami istri siapa yang ngelarang?

Seminggu di villa itu pikiran kami cuma sex dan sex. Semua dahaga terpuaskan di sana. Aku dan Iskha tak pernah pakai pakaian dalam. Semua itu agar untuk mempermudah, hehehe…. Tapi nggak melulu di kamar lho. Kami juga jalan-jalan di kebun dan melihat pemangan sekitar villa. Karena memang pemandangannya sangat indah. Kami sangat senang sekali. Bahkan mungkin saat itu dunia serasa milik kita berdua, yang lain ngontrak aje ye.

NARASI ISKHA

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaa!

Mungkin itulah komentar kalau kamu bercinta dengan orang yang kamu cinta. Sekali ML akan ketagihan, pengennya gituuuuuu mulu. Huft. Lihat aja Mas Faiz. Di villa kemarin tempat kita bulan madu …hhmm…mungkin nggak tepat ya disebut bulan madu, kita cuma seminggu koq. Soalnya Mas Faiz harus segera kerja. Jadi yaahh…kan bisa disambung di rumah. Hihihihi…. Dan yah begitulah, kepengeeeennnnn terus. Baru berhenti kalo udah bener-bener capek. Ngelayanin suamiku sampe hampir semua tulang-tulangku rontok. Selalu di KO ama dia. Dan kalau aku lagi capek, pasrah aja deh, terserah deh kanda, kamu apain aku. Eh tapi aku suka koq.

Lagian kami juga baru beli rumah. Patungan uangku ama uangnya Mas Faiz. Kerja jadi artis dengan job banyak boleh juga ya ternyata, tapi….aku suka deh ama prinsipnya Mas Faiz. Dia bener-bener nggak mau nguta-atik uangku kalau bukan aku yang ngasih. Hihihi, ibaratnya uang suami adalah uangku, uangku ya uangku sendiri

Oke kembali ke kehidupan kami. Semenjak kami menikah aku jadi tahu banyak tentang kebiasaan Mas Faiz. Dia itu kalau tidur, kalau capeeek banget pasti mendengkur. Trus orangnya sering berantakin lemari, jadinya aku yang harus ngerapiin, trus kalau sudah kepengen lupa segala-galanya. COntohnya waktu itu aku sedang sibuk di dapur nyiapin bekalnya atau sedang bersih-bersih rumah, awalnya dia peluk aku dari belakang, ciumin leherku. Naaah…kalau sudah begini lanjut deh. Aku emang orangnya gampangan horni kalau diciumi leherku.

Tapi meskipun begitu dia pinter masak lho. Aku aja ternyata kalah jago. Dia juga paling sebel kalau ada baju kotor. Pasti kerjanya laundry mulu. Satu hal yang baru aku tahu dari cowok adalah kalau di kamar mandi ada cermin dia pasti ngaca, bergaya gitu. Aneh kan??? Kadang aku heran ketika dia keramas. Eh rambutnya dibentuk mohawk gitu sambil ngaca. Pas aku lihatin dia salah tingkah. Hihihihi…Kadang juga begaya nyanyi-nyanyi gitu sambil pake gayung. Heran deh. Apa semua cowok gitu ya??

Nah, karena sering gituan, jadi ya wajarlah kalau setelah itu aku hamil. Sebulan pertama nggak kerasa. Nah, bulan kedua aku telat haidh. Trus aku test deh dan hasilnya positif. Aku elus-elus perutku pagi itu.

Tampak Mas Faiz sedang sarapan pagi itu. Hari itu aku mual banget, mau bikin sarapan pancake aja rasanya eneg lihat minyak goreng. Akhirnya Mas Faiz masak sendiri. Habis dari kamar mandi karena mual aku menemaninya di meja makan.

“Kenapa? Masuk angin?” tanyanya.

“Masa’ masuk angin gara-gara lihat minyak goreng sih, nda?” kataku.

“Hmm??” ia menegakkan alisnya. “Positif?”

AKu mengangguk. Wajahnya langsung berubah.

“Serius?” tanyanya lagi.

Aku melemparkan hasil testpack dua strip yang aku cek tadi pagi setelah bangun tidur.

“YEEEESSSSSSSSSSSSSS!” tiba-tiba ia melompat sampai kursi meja makan jatuh. Kaget aku. [-_-]

“Mas, mas, udah. Biasa aja dong. Kaget aku,” kataku. Lucu juga melihat suamiku seneng gitu.

“Aku jadi ayah, aku jadi ayah!” Mas Faiz muter-muter gak jelas gitu. Trus ia langsung berlutut di hadapanku sambil menciumi perutku. “Muuuachh….mmmuuuacchh! Cepet keluar ya dede kecil, biar ntar ayah gendongin siang malem.”

Aku bahagia dan tambah bahagia dengan benih cinta yang dia tanam ini. Namun ternyata ujian cinta kami tidak berhenti sampai di sini. Dan yang ini aku harus mengalah demi Mas Faiz dan orang yang sangat mencintainya.

(to be continue…..)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*