Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XXIII

Anak Nakal Season 2 BAB XXIII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XXII

BAB XXIII

Return of the Prince

NARASI ISKHA

Aku hari ini ada konser di Srikandi Hall. Bukan aku saja sih yang mengisi. Banyak. Dan semuanya artis-artis papan atas. Kalau dulu aku yang menyanyi menjadi pembuka panggung, sekarang aku jadi main character. Panggung sudah ditata sedemikian rupa. Bentunya seperti tanda X. Aku ada di tengah dan bisa berjalan ke sana kemari. Pagi harinya ada gladi resik. Event organizernya cukup keren mengarahkan. Aku suka sekali.

Ini termasuk rangkaian terakhir dari turku selama ini. Tawaranku manggung dan mengisi acara di stasiun tv bejibun. Sampai-sampai aku kewalahan. Aku pun terpaksa mencari manajer. Manajerku ini adalah teman sekelasku dulu. Siapa lagi kalau bukan Nailul. Hihihi. Kami emang kompak. Dia juga telaten mengurus semua jadwalku, sehingga tak berantakan. Kontrak demi kontrak selesaikan. Capek rasanya emang. Sehari aku bisa ngisi di tiga stasiun tv berbeda. Kadang juga jadi bintang tamu di acara komedi.

Mulai dari iklan kosmetik, sabun, minuman semua sekarang ngantri. Walaupun sekarang kehidupanku berubah, tapi aku selalu ada yang kurang. Yaitu Mas Faiz. Karena terlalu sibuk, aku sekarang jarang kontak dia lagi. Sudah setahun lamanya semenjak acara Bukan Empat Mata itu. Aku tak pernah kontak dia lagi. Aku pun tak ingat kapan ia akan pulang. Apakah dia sudah selesai kuliah atu belum?

Hari ini sebelum konser dimulai aku mencoba mengontak dia. Tapi tak aktif. BBM juga nggak dibales. Aneh. Aku pun mulai khawatir, jangan-jangan dia kenapa-napa lagi? Di ruang rias pun aku sempat bengong.

Nailul pun menyeletuk, “Kamu kenapa sih, bengong melulu? Nggak biasanya deh.”

Lamunanku pun buyar, “Ah, nggak apa-apa koq. Cuma keingat ama Mas Faiz aja.”

“Cieeeh…yang ditinggal jauh. Gimana kabarnya sekarang?”

“Entahlah. Udah lama nggak kabar-kabar. Aku sibuk, jadi jarang banget menghubungi,” jelasku.

“Yah, nggak bisa gitu dong. Coba say HI gitu!”

“Udah, tapi nggak dibales. Aku mulai takut kenapa-napa ama dia.”

“Sudah berpikir positif saja. Mungkin ponselnya hilang atau mungkin dia sedang ada di tempat yang tak bisa dihubungi. Apalagi di Amrik non, udah deh!”

“Hmm…yah, positif thinking.”

“Ya udah, sana. Siap-siap! Habis artis-artis itu ngisi giliranmu lho,” kata Nailul.

“Iya, iya,” aku pun bergegas menuju ke back stage. Hari ini aku memakai baju gaun putih panjang seperti putri raja. Rambutku kubiarkan panjang sampai sepinggang sekarang. Aku sudah mencoba untuk feminim. Meninggalkan baju-bajuku yang tomboy. Mulai belajar menata rambut, merawat diri. Intinya aku sadar kalau aku cantik.

Setelah artis-artis itu selesai mengisi. Kini giliranku. Lampu pun dimatikan. Aku langsung masuk ke panggung. Skenarionya adalah ketika lampu nyala aku sudah di tengah panggung dengan piano. Aku masuk ke panggung dan penonton tak bisa melihatnya. Bagaimana aku bisa bejalan di dalam gelap? Sebenarnya di atas lantai panggung ada lampu-lampu yang menuntunku untuk menuju ke tengah panggung yang kalau dari atas berbentuk huruf X.

Aku kemudian duduk di atas kursi yang disediakan di depan piano. Aku lalu memainkan piano itu. Seluruh penonton langsung bersorak. Karena tahu aku sudah ada di tengah panggung. Lampu sorot pun menyala dan langsung memperlihatkan aku sudah ada di tengah panggung dengan pianoku. Para penonton histeris. Ada yang bilang, “Iskhaaa I Love You!”

Aku pun menyanyikan laguku. Lagu pertama yang disukai oleh semua penggemarku. Lagu yang paling banyak ditonton oleh orang-orang di youtube. Judulnya Rindu.

Wahai Kasih, dengarkan diriku
Kutakkan mengulangi lagi
Wahai Kasih, peluklah aku
Karena ku takkan melepasmu lagi

Hati ini pun lelah tuk bersandar
Apa yang bisa aku lakukan
Kala jiwa ini membutuhkan kerinduan
Dari dirimu yang nun jauh di sana

[Reff:] Wahai kasihku
Dengarkanlah kata rindu di hatiku
Kuingin kau rasakan rasa cintaku
Bahwa hati ini adalah untukmu….

Wahai kasih, maafkan aku
Yang tak bisa menahan rindu ini
Wahai kasih, ciumlah aku
Karena ciumanmu pelepas dahaga ini

Akankah aku bertemu lagi denganmu
Akankah aku mencintai dirimu lagi
Aku pun berjanji kau tak kan kulepas lagi
Hingga sampai akhir nanti

[back to reff 2x]

Setelah aku selesai memainkannya para penonton bersorak. Tapi tunggu dulu. Ada yang aneh. Skenarionya seharusnya lampu sorotnya mati. Tapi kenapa masih nyala? Dan tiba-tiba dari ujung panggung aku mendengar sesuatu. Sebuah piano yang dimainkan. Tunggu dulu. Lagu ini….aku ingat….ini….Cage Bird. Dan suara itu….Mas FAIZ! Lampu sorot pun menyorot di ujung panggung. Seorang laki-laki yang aku kenal sedang memainkan piano dan bernyanyi. Dia mas Faiz!

Takaku dono kurai tonde ittara
Haruka tooku no kimi ga mienaku naru no?

Hitomi soraseba raku ni naru no kamo shirenai
Demo itsumo dokoka de mitsumete itai

Wasureru koto nante deki wa shinai kara
Nasu sube mo naku, sora wo miageteru dake.
Maru de kago no naka no chiisana tori no you ni
Mado wo sagashite atemo naku, samayotte iru.

Ima sugu ni aitai kimi ga suki dakara
Kizutsuku koto ga kowakute nigetai kedo
Mienai shigarami ni tsubasa torawaretemo
Soredemo kimi wa kanashii hodo taisetsu na hito.

Aku terharu. Aku menitikkan air mata. Ini pasti ulah EO. Aku diberi kejutan seperti ini. Wajahku yang terharu terpampang close up di layar besar. Sang kameramen memanfaatkan momen ini. Para penonton bersorak ketika Mas Faiz selesai menyanyikan lagu itu.

Mas Faiz mengambil mic. Kemudian ia berdiri. Berjalan dengan santai menuju ke arahku. Aku menutup mulut dan hidungku. Aku gembira, haru, semuanya jadi satu.

“Iskha, bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Baik,” jawabku.

“Aku mohon maaf memberikanmu kejutan ini. Aku paksa EO-nya agar aku bisa naik ke sini. Ini diluar skenario. Kuharap kau tak keberatan,” katanya.

“Aku keberatan!” kataku dengan menampilkan mimik ngambek. Disusul tawa seluruh penonton. Gila apa? Aku malu sekali.

“Kamu tahu, ketika di Amerika aku pergi ke toko kaset dan kudapati fotomu di sana. Aku dengarkan lagumu dan aku kemudian menangkap semua pesan kerinduanmu. Dan karena itulah aku berusaha dengan keras untuk bisa lulus tepat waktu dan akhirnya aku pun lulus,” kini Mas Faiz sudah mendekat kepadaku. Ia ada di hadapanku. Ia makin tampan saja. Ada jenggot tipis yang tumbuh di pipi dan dagunya, ohh…itu makin bikin dia tampan.

“Kenapa kamu kembali?” tanyaku dengan nada ngambek.

“Karena aku harus kembali,” katanya. “Di sini ada kehidupanku, di sini ada rumahku.”

“Kamu jahat, kenapa lama sekali? Aku kangen kamu di sini,” kataku.

Para penonton langsung menyorakiku. Tiba-tiba Mas Faiz berlutut di hadapanku. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya. Sebuah kotak merah kecil. Ia buka kotak itu. Tampaklah sebuah cincin dengan berlian yang berkilauan berbentuk hati. Seluruh penonton langsung gaduh. Terlebih kameramen menyorot kotak itu dan ekspresiku. Hei, ini nggak disiarkan live kan? Bisa malu aku.

“Aku penuhi janjiku. Aku melamarmu sekarang. Untuk menjadi bidadariku. Sekarang dan selamanya. Maukah kamu menikah denganku? Menjadi istriku dalam kehidupan susah dan senang. Menjadi ibu dari anak-anak kita nantinya?” tanya Mas Faiz dengan wajah mengiba. Oh Mas Faiz….romantis sekali …sooo…sweeeetttt….

“Terima! terima! terima!” entah kenapa para penonton bisa sekompak ini. Ini sungguh cara melamar yang sangat tidak biasa. Di depan umum, saat pentas, dan dilihat oleh ribuan mata. Bahkan mungkin saja sekarang ini acaranya live.

Aku terharu sekali. Tolong siapapun pegangi aku. Aku ingin pingsan. Aku belum bisa menjawab. Aku ingin penonton tenang dulu. Jantungku berdebar-debar. Mas Faiz memberi aba-aba agar para penonton tenang. Akhirnya semuanya pun tenang.

“Bagaimana?” tanyanya.

Aku mengangguk mantab. “Aku terima. Aku setuju. Jawabnya iya!”

Langsung para penonton gaduh semuanya. Aku jadi teringat pertandingan sepak bola ketika tim kesebelasan mereka baru saja menjebol gawang lawan. Seperti itulah suasananya sekarang. Aku bahagia sekali hari itu dilamar oleh Mas Faiz. Ia memilihku. Ia lebih memilihku. Terima kasih Mas Faiz. Pangeranku yang telah kembali.

NARASI VIRA

Aku melihat acara itu. Bagaimana Faiz melamar Iskha. Sakit rasanya. Aku pun menangis dan tak sanggup melihat acara itu. Seharusnya aku yang dilamar Faiz….seharusnya itu aku. Malam itu aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Ternyata memang benar. Aku tak ditakdirkan bersama Faiz. Cintaku dengan Faiz cukup sampai di sini.

Selamat Iskha. Semoga kalian bahagia. Aku rela koq. Mas Faiz memang pantas dan cocok untukmu.

NARASI PUTRI

Aku baru saja menidurkan Faiz kecil di kamar. Ia capek sekali mungkin karena seharian main melulu dengan teman-temannya. Malam itu aku melihat acara tv. Aku melihat wanita yang dulu aku benci. Iskha. Aku sekarang jadi tidak bisa membencinya. Aku justru merasa sangat bersalah kepadanya. Dia sekarang sudah jadi artis terkenal. Sering muncul di tv. Gosipnya dengan Faiz pun berseliweran di berita gosip. Dan malam ini aku melihat sesuatu yang tidak biasa.

Faiz ada di layar kaca, dia berlutut dan melamar Iskha di depan umum. Sungguh itu sesuatu yang sangat romantis. Mataku berkaca-kaca. Aku menangis. Aku melihat adikku yang aku cintai melamar Iskha. Hancur hatiku. Sakiiiitt sekali. Faiz, maafkan aku ya. Maafkan aku Iskha. Faiz, ini anakmu. Aku akan berjanji merawatnya untukmu. Faizku…Aku pun menangis dan tak sanggup melihat tv. Aku pun mematikannya. Akhirnya aku pun tidur sambil mendekap Faiz kecilku. Aku menciumi dia hingga aku pun ikut terlelap.

(bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*