Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XXII

Anak Nakal Season 2 BAB XXII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XXI

BAB XXII

What The Fuck???

NARASI HANI

Aku senang sekali, ketika Pak Hendrajaya menawariku kerja di kantornya setelah aku lulus kuliah D2 Sekretaris. Beliau benar-benar memberikan posisi yang sangat penting bagiku. Selain aku senang karena aku bisa dekat dengan beliau yang notabenenya adalah ayah biologisku, aku juga senang karena gajinya cukup besar untuk seorang sekretaris. Terlebih beliau menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Dia juga menghormatiku sebagai temannya Mas Faiz.

Pekerjaanku mulai dari mengatur jadwal meeting, mengatur siapa saja yang boleh menghubungi beliau, bahkan sampai laporan-laporan dari semua manajer pun ke akulah semuanya diserahkan. AKu pun memesan tiket untuk dia ketika ingin keluar kota. AKu juga yang mengatur presentasinya. Ke mana-mana aku pasti bersama beliau. Senang sekali menjadi orang yang sangat dekat dengan beliau. Bahkan aku pun jadi dekat dengan Ibu Aula istrinya. Melihat ketekunanku bekerja beliau pun sampai menjadi mata-mataku, kalau-kalau suaminya selingkuh. Hihihihi. Lucu memang, tapi ayahku ini tak pernah aku lihat jalan dengan wanita lain. Semuanya adalah mengurus pekerjaan dan keluarga.

Aku cuma heran bagaimana dia bisa mengenal ibuku dan selingkuh. Itulah yang aku tak habis pikir. Seperti apakah pesona dari Tuan Hendrajaya ini. Aku pun mulai mengerti pesonanya setelah kami harus bertemu dengan klien besar yang ingin mendirikan sebuah menara pencakar langit di Jakarta. Mega Projek ini akan membangun sebuah bangunan tinggi 75 lantai. Konsepnya adalah menara ini berisi apartemen, mall dan perkantoran. Juga ada tempat fitness, kolam renang, dan lain-lain. Karena nilai projek ini besar maka investornya pun lumayan besar juga.

Ada tiga perusahaan yang bekerja sama untuk membuatnya. Dan untuk itulah kami berdua harus ke Singapura. Aku mendampingi beliau untuk bertemu dengan orang-orang penting ini. Sejujurnya ini adalah untuk pertama kalinya aku keluar negeri, walaupun cuma ke Singapura saja sih. Tapi aku sungguh bersemangat. Andai ibu sekarang melihatku, tentu beliau akan sangat bangga kepadaku.

Kami pun bertemu dengan para klien itu. Pembahasannya cukup alot, terutama tentang kondisi Indonesia yang sedang tidak menentu akhir-akhir ini. Tapi ayah meyakinkan semua klien bahwa berinvestasi di sana bukanlah hal yang salah. Ayah bahkan menjamin dalam sepuluh tahun keuntungan yang didapat bisa sepuluh kali lipat dari modal awal. Tentunya dengan tingkat inflasi yang aman. Apa pula itu aku nggak faham, tapi paling tidak para klien itu cukup puas dan mau berinvestasi.

Aku tidak suka ketika ayah sudah mulai mabuk-mabukan. Ia terlalu banyak minum wishky dan tequila. Entah berapa gelas yang ia tenggak. Ia kemudian karaokean bersama para klien hingga larut. Setelah benar-benar mabuk, aku pun memapah ayahku ke kamarnya.

“Pak hati-hati!” kataku.

Bau alkohol dari mulutnya membuatku ingin muntah rasanya. Agak susah juga memapah beliau. Tapi meskipun sudah tua tubuh beliau masih tegap. Hanya ada sedikit lemak diperutnya, tapi tidak gemuk. Proporsional menurutku. Juga yang wajahnya juga masih berwibawa. Aku senang sekali bisa menolong ayahku sekarang ini. Inilah kesalahanku. Aku sudah menganggap dia ayahku, tapi dia tidak tahu kalau aku adalah anaknya.

“Aula…jangan tinggalin aku ya, temani!” ia mengigau memanggil nama istrinya.

Aku membukakan pintu kamarnya, lalu kami berdua pun masuk. Aku pun memapahnya sampai dia ambruk di atas ranjang. Setelah itu aku buka sepatunya dan menatanya hingga ia berbaring di atas ranjang. Lelah juga memapahnya. Aku baru saja mau beranjak, tiba-tiba dia mencengkramku.

“Aulaaa…jangan pergi!” katanya.

Tu…tunggu dulu, dia mendekapku dari belakang, ia meremas payudaraku. Aku agak meronta, tapi ia sangat kuat. Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Ia terus mendekapku sehingga ku tak bisa bergerak. Akhirnya aku mencoba membiarkannya aku ingin tahu apa yang ia lakukan.

Oh tidak, ini diluar kendaliku. Dia menciumi pantatku dari balik rok. Jangan, dia akan memperkosaku. Aku ingin pergi tapi dia terlalu kuat bahkan kemudian membantingku di atas ranjang, aku pun pusing. Bantingannya terlalu kuat. Untuk beberapa detik aku tak bisa apa-apa. Ia sudah berhasil menggeranyangi tubuhku. Aku baru sadar ia sudah membuka kemeja dan menghisap tetekku. Ohh…ayahh….

“Paak,..jangan!” aku mendorongnya.

“Aulaa…kamu ranum sekali,” gumamnya. Ia tak sadar. Oh celaka, apa yang harus aku lakukan?

Pak Hendrajaya mencupangi buah dadaku. Dia mengenyotnya, meremasnya dan memberikan stimulus kepadaku. Tenaganya terlalu kuat. Aku bertubuh kecil, sehingga ia dengan mudah bisa menguasaiku. Ia kemudian melumat bibirku. Ia hisap salivaku. Ouuhh…bau alkoholnya membuatku pusing. Seketika itu aku pusing sekali. Baru kali ini aku mencium laki-laki dan ini ayah kandungku sendiri. Dan baru kali ini buah dadaku dicupangi dan ini oleh ayah kandungku sendiri.

Aku sesaat tak sadar karena pusing. Bau nafasnya benar-benar membuatku mabuk. Aku mencoba bangkit. Ingin pergi dari tempat ini sebelum terlambat, tapi dia sudah ada di depanku tanpa sehelai benang pun. Celaka. Mati aku. Penisnya sudah ada di depan wajahku. Dia menjambak rambutku sehingga mulutku terbuka dan penisnya dimasukkan ke mulutku yang kecil. Oh tidaaakk…HAP. Dia lalu memaju mundurkan pantatnya.Penisnya yang besar itu melesak masuk sampai menyentuh kerongkonganku. Aku tersedak. Hampir saja muntah.

“Ohh…Aula…nikmat banget,” rancaunya. Aku terpaksa memblowjob ayahku sendiri. Ia memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa apa-apa selain membiarkan dia memperkosa mulutku. Hingga kemudian ia menghenikan aktivitasnya disusul kedutan dari penisnya. Ia orgasme!

CRUUUTTT CRUUUTTT! Sebagian besar spermanya meledak di mulutku. Ahhkk…tertelan. Aku ingin muntah rasanya. Ia lalu melepaskanku. Aku ambruk di kasur. Badanku rasanya sakit semua. Ternyata belum selesai. Beberapa sperma yang meleleh di mulutku aku ludahkan ke lantai. Rasanya amis dan asin.

Belum sempat aku mengumpulkan tenaga, ia sudah memelorotkan rokku dan celana dalamku. Oh tidak…jangan!

“Pak, sudah pak. Sadar! Aku Hani!” jeritku.

Tapi Pak Hendrajaya sudah terlanjur mabuk. Ia tak ingat lagi siapa aku. Di depan wajahnya terpampang memekku dengan bulu halus rapi di atasnya. Pak Hendrajaya langsung melahap tonjolan kacang yang ada di pucuknya. Aku pun mengejang. Lidahnya menari-nari di sana dan menjilat seluruh bagian bibir memekku. AAarrgh…rasanya geli, nikmat bercampur jadi satu. Aku pun tak kuasa hanya bisa menggeliat di atas kasur sambil meremas sprei. “Ayah….kumohon!” rintihku.

“Aulaa..hhmm…memekmu nikmat banget,…!” gumamnya lagi. Dia masih mengira aku istrinya.

Aku pun jadi ragu. Ingin mendorongnya ataukah membiarkan dia memberikan kenikmatan ini padaku. Keputusan terakhirlah yang aku pilih. Membiarkan dia. Memekku dijamah oleh ayahku sendiri. Dia mengobok-obok memekku. Entah diapakan pokoknya nikmat sekali hingga aku pun orgasme dahsyat untuk pertama kali. Dan ini adalah pertama kalinya aku orgasme seumur hidupku. Setelah gelombang dahsyat itu pergi aku lemas. Pasrah….entah apa yang akan dilakukannya lagi. Aku cuma bergumam, “Jangan ayah…jangan!”

Pak Hendrajaya tiba-tiba menggesek-gesekkan kemaluannya yang besar tadi ke memekku. Ouuuhh…aku baru kali ini merasakan penis laki-laki menyentuhku. Tapi kenapa harus ayahku kandungku sendiri? Air mataku pun berderai. Aku tak bisa lari lagi. Dan dengan hentakan ia pun menerobos liang senggamaku. Aku pun robek. Aku menjerit. Ia memelukku.

“Ohhh…nikmat sekali Aula. Hhmmmmmhhh…memekmu sepit sekali malam ini!” katanya.

Dia memelukku sambil bergoyang naik turun. Memekku benar-benar menjepit kuat penisnya. Aku kesakitan. Perih, pedih. Tapi lambat laun, rasa itu hilang, hanya kurasakan geli dan nikmat. Pak Hendrajaya ini ternyata sangat terampil dalam bercinta. Ia menciumku saat aku merasakan sakit. Hal itu mengurangi rasa sakit ketika ia merobek memekku. Goyangannya pun makin cepat dan ia menyusu lagi kepadaku. Mungkin ia sangat terpesona dengan payudaraku yang naik turun seiring goyangannya. Dan akhirnya benar, ia akan orgasme. Aku juga sudah ingin nyampe.

Ajaibnya adalah kami bersama-sama keluar. Spermanya membasahi rahimku. Rahim yang seharusnya mengisi adalah suamiku sekarang diisi oleh ayah kandungku. Aku sesaat lupa akan sosok Pak Hendrajaya. Setelah puas mengeluarkan spermanya. Ia mencabut penisnya dan ambruk di sampingku. Aku rasanya tak bisa berjalan lagi. Tubuhku sepertinya remuk, sakit semua. Aku juga lelah. Dan akhirnya kami pun terlelap malam itu.

****

Hari sudah pagi. Dan aku mendapati Pak Hendrajaya sudah tak memelukku lagi. Dia ada di pinggir ranjang memakai pakaiannya. Aku terbangun dan duduk. Aku agak malu dan menutupi tubuhku dengan selimut.

“Maafkan aku,” kata Pak Hendrajaya.

Aku hanya diam.

“Aku terkejut ketika bangun mendapatimu. Aku pasti melakukan hal-hal yang jelek tadi malam. Aku lihat bercak arah di kasur. Maafkan aku Hani. Aku seharusnya tak melakukan ini. Ini pasti gara-gara aku mabuk tadi malam,” kata Pak Hendrajaya.

“Tidak apa-apa pak. Ini sudah terlanjur. Hani juga nggak tahu harus berbuat apa tadi malam,” kataku.

“Itu tidak bisa! Harusnya kamu pukul aku tadi malam biar aku tak melakukan ini. Ohh..apa yang harus aku lakukan sekarang??” Pak Hendrajaya tampaknya merasa bersalah.

Aku menundukkan kepalaku. Aku pun malu sendiri melihat diriku.

“Aku tahu siapa kamu. Kamu anaknya Dian bukan? Aku menyelidiki kamu selama ini dan aku sekarang ingat siapa kamu. Engkau sudah lama aku cari. Dan sekarang aku malah melakukan hal ini kepadamu,” jelasnya.

Jadi….dia sudah tahu kalau aku anaknya? Aku sangat senang sekali.

“Aku sudah tahu kamu adalah anakku, maka dari itulah aku memberikan kekhususan kepadamu. Beasiswa, pekerjaan, tempat tinggal, semuanya. Apa yang sudah aku lakukan sekarang ini?” Pak Hendrajaya pun menangis.

“Ayah, boleh aku panggil bapak sebagai ayah sekarang?” tanyaku.

“Aku tak pantas dipanggil ayah, ayah yang seharusnya melindungi putrinya malah berbuat tidak senonoh terhadap putri sendiri,” ujarnya.

Aku langsung memeluknya.

“Aku minta maaf ayah, seharusnya ku sejak dari dulu berkata jujur. Tapi aku tak berani….akulah yang salah,” kataku. Aku pun juga menangis. Kami berdua menangis di hotel itu. Menyesali apa yang sudah terjadi barusan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*