Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XXI

Anak Nakal Season 2 BAB XXI

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XX

BAB XXI

Engkau adalah Hidupku

NARASI FAIZ

Kuliah di luar negeri, sebenarnya nggak beda jauh sih ama di Indonesia. Hanya saja di sini lebih terstruktur dan memang budayanya beda. Aku sendiri sudah menyesuaikan diri. Mulai banyak teman, nggak cuma dari Amrik saja tapi juga dari negara-negara lain. Dari Indonesia sendiri sebenarnya ada tiga orang, dari India ada banyak. Dengan beasiswa yang aku punya ini aku bisa menghemat uang saku, bahkan aku nyoba-nyoba juga kerja sambilan di kota Cambridge ini.

Sebenarnya tak sedikit cewek yang naksir aku di Havard University ini. Mereka kebanyakan searching google tentang diriku dan mendapati kalau aku putra dari konglomerat yang termasuk dua puluh orang terkaya di dunia. Tentu saja mereka mulai mendekatiku. Aku biasa diajak pesta, tapi aku selalu menolak. Aku benar-benar tak mau terlibat dengan pesta dan hura-hura seperti itu. Aku benar-benar fokus kuliah dan ingin tepat waktu menyelesaikan kuliahku.

Aku kerja sambilan di sebuah restoran fast food. Gajinya lumayanlah untuk menyambung hidup di negeri orang. Membagi waktu antara pekerjaan dan kuliah sudah terbiasa aku lakukan. Belajar dan belajar, setiap hari membawa buku, ke mana-mana berdiskusi dengan para mahasiswa yang lainnya. Aku pun menjadi asisten dosen di sekolah ini dan punya email [email protected] Salah satu kebanggaan anak Indonesia adalah punya email dari kampusnya Bill Gates ini.

Hari Minggu waktunya liburan. Aku bersama Josh salah seorang teman yang tinggal satu apartemen denganku.

“Hello Faiz, wanna commin?” tanyanya.

“To where?” tanyaku balik.

“I wanna buy some movie, CD and Cassetes,” jawabnya.

“Sure, I’m free right now,” ujarku.

“Okay then,” katanya.

Kami pun pergi ke sebuah toko kaset dvd, cd. Di sini dijual banyak macam kaset seperti film dan lagu-lagu mp3. Aku melihat banyak sekali album-album dari para artis seluruh dunia. Semuanya ada di sini bahkan aku tertarik dengan sebuah rak yang dipajang di sana. Sebuah Genre musik POP. Ada sebuah DVD yang terpampang di sana bertuliskan nama yang tidak asing bagiku. ISKHA, judulnya THE FIRST LOVE. Aku juga tak asing dengan foto yang ada di sampul album itu. Iskha!

Segera aku ambil. Di pojok ruangan itu ada tempat untuk mengetes dvdnya. Tak kusangka Iskha sudah bikin album. Kenapa dia tak cerita? Kenapa dia diam saja di email?? Aku pun mencoba menyetelnya. Kupasang headset. Lagu pertama.

Wahai Kasih, dengarkan diriku
Kutakkan mengulangi lagi
Wahai Kasih, peluklah aku
Karena ku takkan melepasmu lagi

Hati ini pun lelah tuk bersandar
Apa yang bisa aku lakukan
Kala jiwa ini membutuhkan kerinduan
Dari dirimu yang nun jauh di sana

[Reff:] Wahai kasihku
Dengarkanlah kata rindu di hatiku
Kuingin kau rasakan rasa cintaku
Bahwa hati ini adalah untukmu….

Wahai kasih, maafkan aku
Yang tak bisa menahan rindu ini
Wahai kasih, ciumlah aku
Karena ciumanmu pelepas dahaga ini

Akankah aku bertemu lagi denganmu
Akankah aku mencintai dirimu lagi
Aku pun berjanji kau tak kan kulepas lagi
Hingga sampai akhir nanti

[back to reff 2x]

Aku tersentuh dengan lagu ini. Iskha, dia merindukanku. Tiba-tiba air mataku mengalir. Josh yang melihatku segera menepuk pundakku. Aku melepaskan headsetku.

“You’re Okay man?” tanyanya. “What’s up?”

“I..just…missing her,” jawabku sambil menunjuk foto Iskha.

“Did you know her?” tanyanya.

“Sure, she is my girlfriend,” jawabku.

“Bullshit, no way. You had a girlfriend? And she is a singer?”

“Is there any problem?”

“No, just I thought you’re single man.”

“No, I’m not. And I never mention it.”

“So that the reason why you never hit any girl in here.”

“You know it now.”

“She is famous you know. Many people love her song. I just don’t know the language, but I’m sure her voice was wonderfull.”

“Thank’s.”

Ia menepuk pundakku lagi. “You’re lucky man.”

Setelah kejadian hari minggu itu, satu kampus langsung heboh. Josh ternyata juga penyebar gosip. Sampai-sampai dosen yang sering dekat denganku seperti Mr. Marcuss bertanya kepadaku, “Is that true that you had a girlfriend and she is a singer?”

“Yes, sir,” jawabku tentu saja.

Bahkan lucu sekali media lokal sampai mewawancaraiku. Dalam sekejap aku sudah masuk koran. Jadi mahasiswa yang terkenal. Bahkan di media internet foto Iskha pun disandingkan denganku. Masuk lagi bahan gosip. Dasar infotainment. Sampai kemudian salah media massa Indonesia salah satu stasiun tv datang sendiri ke Havard untuk mencariku. Dan mereka mewawancaraiku langsung. Sebegitu hebohnya kah? Ternyata ini semua tak lain karena Iskha. Videonya di youtube ditonton lebih dari lima juga views. Wow tentu saja. Dia jadi artis terkenal sekarang. Aku pun makin tak sabar ingin kembali ke Indonesia. Aku sudah menangkap seluruh pesannya dalam lagu-lagunya itu.

NARASI ISKHA

Baru beberapa bulan meluncurkan album aku langsung jadi bahan gosip. Sampai-sampai di tv fotoku disandingkan ama Mas Faiz. Duh, malunyaaaa…. Mas Faiz, aku kangen ama kamu. Semoga kamu menangkap pesan-pesanku. Itulah perasaanku sekarang Mas.

Semakin terkenal semakin berubah kehidupan keluarga kami. Rumah kami makin besar. Semuanya dari hasilku manggung dan penjualan album. Makin banyak juga yang jahil kepadaku, curi-curi foto, minta tanda tangan dan lain-lain. Ngisi acara talkshow. Dah, pokoknya capek deh. Tapi aku dan bandku pun nggak kalah, kami juga baru saja meluncurkan album. Dan penjualannya pun tak kalah banyak. Bersaing malah. Kerjaku dua kali sekarang. Show dengan The Zombie Girls juga show karir soloku. Tapi untungnya teman-temanku sadar kalau aku nggak boleh capek-capek kerja. Kami mengeluarkan album di bawah label yang sama. Jadi semua kepengurusan terasa mudah.

Hampir setiap hari ada surat dari para penggemar. Dan hampir tiap hari juga ada wartawan yang singgah. Sekedar tanya koleksi sepatu, koleksi baju, (padahal nggak penting banget tanyanya) dan yang terakhir tanya hubunganku ama Mas Faiz. Ya aku jawab aja kalau aku dan Mas Faiz masih komunikasi walaupun jauh. Lalu gosip-gosip pun beredar kalau aku mulai dekat dengan lelaki lain. Hadeeeh…siapa coba? Nggak ada. Moga aja Mas Faiz nggak cemburu ama berita-berita miring itu.

Seperti hari itu aku diundang ke acara BUKAN EMPAT MATA tahu bukan dengan Tukul Arwana sebagai hostnya itu di Trans 7? Yup, dia mulai tanya yang aneh-aneh. Seperti aksi panggungku dengan The Zombie Girls yang heboh. Trus kemudian tanya tentang albumku itu.

“Oh ya mbak, ngomong-ngomong. Denger-denger katanya album itu dibuat dari curahan hati ya? Monggo,” tanya Mas Tukul.

“Iya Mas, sebenarnya itu curahan hatiku, soalnya lagi kangen dengan someone,” jawabku. Langsung disambut sorak-sorai penonton.

“Lho lho lho, someone itu apa yang sedang kuliah di luar negeri itu? Monggo cerita,” tanyanya.

“Iya, kami sudah deket sejak SMA. Masih sering komunikasi juga sih walau lewat chatt atau email,” jawabku.

“Nah ini, gini ini, cewek yang setia. Emangnya kuliah dimana itu someonenya?”

“Di Havard University.”

“Whoaaa….aplause!” kata Mas Tukul. “Hebat ada orang Indonesia bisa kuliah di sana. Saya dulu waah…mau kuliah di sana, tapi karena ….Eaaa eeaaa eaaa eeaaaa,”

Gaya bercandanya Mas Tukul yang khas membuatku tertawa. Setelah itu aku diberikan kejutan.

“Sebentar ini kita sedang ada kejutan buat Mbak Iskha. Kita akan mencoba menghubungi kekasihnya,” kata Mas Tukul.

“Hah?” aku terbengong tentu saja ini kejutan yang tak terduga.

“Monggo ini udah masuk. Hallo?” sapa Mas Tukul.

“Halo??” terdengar suara. Suara yang aku ingat. Itu suara Mas Faiz.

“Halo, ini Mas Faiz ya?” tanya Mas Tukul.

“OH iya, dengan saya sendiri,” jawabnya.

Mataku langsung berkaca-kaca. Aku bisa melihat wajahku dilayar kaca dishoot close up. Mungkin sang kameramen tahu aku sedang terharu.

“Mas ini saya Tukul Arwana dengan acara Bukan Empat Mata. Ini di studio ada Iskha yang katanya emang kekasihnya,” kata Mas Tukul.

“Oh,benarkah? Ada Iskha?” suara Mas Faiz tampak gembira.

“Mas Faiz?” sapaku.

“Iskha?? Hai.”

“Apa kabar mas?” tanyaku sedikit terisak.

“Baik, kamu bagaimana?”

“Baik juga. Gimana kuliahnya?”

“Kuliahku alhamdulillah lancar.”

“Mas jaga diri ya di sana, maem yang banyak. Jangan sampai kecapekan!”

“Iya, kamu juga.”

“Makasih ya Mas Tukul sudah menghubungkan aku dengan Iskha. Saya dengan ngajar di sini, dapat panggilan yang katanya ada Iskha saya langsung keluar kelas sebentar.”

“Oh..lagi ngajar ya?” tanya mas Tukul.

“Iya, saya jadi asisten dosen di sini. Kebetulan dosennya berhalangan hadir. Tapi nggak apa-apa,” jawab Mas Faiz.

“Mas Faiz, aku kangen ama mas,” kataku.

Langsung tiba-tiba semuanya hening. Hanya lantunan piano saja yang terdengar.

“Aku juga. Do’ain aja ya, biar segera selesai,” katanya.

Setelah acara malam itu, besoknya langsung menjadi headline di acara gosip. Yah, nggak bisa apa-apa. Mau gimana lagi coba? Dan dalam waktu yang relatif singkat, kami pun dinobatkan jadi pasangan selebritis terbaik beberapa hari kemudian. Dan menurutku itu terlalu lebay. Dasar media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*