Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XX

Anak Nakal Season 2 BAB XX

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XIX

BAB XX

Rindu

NARASI ISKHA

Sudah tiga tahun ini Mas Faiz pergi keluar negeri. Ayahnya beberapa kali menemuiku. Aku menceritakan kalau Faiz sekarang berada di Havard atas usaha dan kerja kerasnya sendiri. Dia sangat bangga sekali. Terus terang hubunganku dengan ayahnya sangat dekat sekarang. Dia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Ayahku pun mulai menjalin hubungan baik dengan Pak Hendrajaya. Kadang Pak Hendrajaya datang hanya untuk sekedar mampir minum. Beliau juga menawarkan diriku untuk membiayai kuliahku, tapi aku tolak. Bahkan uang 700 juta pemberian Kak Putri dulu aku kembalikan ke beliau. Tapi kata beliau itu untukku saja.

Karena aku juga menolak, akhirnya beliau berikan uang itu untuk orang-orang yang membutuhkan. Beliau pun menawarkan diri untuk menjadi orang tua asuhku. Bahkan karena saking terlalu baik, beliau tiba-tiba memberikanku kebebasan biaya kuliah. Padahal sudah mati-matian aku tolak. Aku hanya bisa menerima.

Di sini aku makin dekat dengan keluarga Hendrajaya. Aku pun terkadang pergi ke rumah mereka. Karena memang diminta Pak Hendrajaya untuk datang. Kadang diundang makan malam. Aku sekeluarga diundang makan malam.

“Oh ini Iskha ya??” sapa Bu Hendrajaya, suaminya Pak Hendrajaya. “Masuk nak!”

Aku hari itu memakai baju terbaik sih menurutku, gaun panjang berwarna gelap. Aku sebenarnya nggak suka pakai gaun. Aku cenderung tomboy. Menurutku celana panjang itu lebih aku sukai daripada rok ataupun gaun. Ayah dan ibuku menyalami Bu Hendrajaya dan juga suaminya. Aku melihat adik-adiknya Faiz di sana. Ada Icha dan Rendi. Di meja makan sudah menunggu dua orang. Ada Pandu dan Mbak Vira di sana.

“Silakan, silakan duduk!” perintah Pak Hendrajaya.

Kami pun segera duduk. Kami pun kemudian bicara banyak hal. Pak Hendrajaya orangnya ramah. Ayah dan ibuku senang bicara dengannya. Mas Pandu dan Mbak Vira hanya diam saja. Acara ramah tamah itu berlangsung agak kaku sebenarnya, tapi Pak Hendrajaya selalu memancing untuk bicara sehingga keadaannya sedikit lumer. Ada yang aneh sebenarnya, aku tak melihat Kak Putri. Di mana dia sekarang? Apa ia sudah tak tinggal di rumah ini lagi?

“Bagaimana kuliahmu Iskha?” tanya Pak Hendrajaya.

“Baik saja Pak, sudah mulai semester lima, semoga aja tepat waktu lulusnya,” jawabku.

“Bagus itu, harus semangat. Jangan sia-siakan kesempatan ini,” katanya.

“Bagaimana hubunganmu ama Faiz?” tanya istrinya.

“Kami masih sering kontak lewat email dan chatting,” jawabku.

“Oh begitu, bagaimana kabar dia sekarang?” tanya Bu Hendrajaya.

“Baik bu, aku lihat dia sekarang agak gemukan. Katanya terlalu banyak protein, kepengen diet,” jawabku.

“Oh ya? Hahaha. Ada foto terbarunya? Ibu ingin lihat,” katanya.

Aku mengeluarkan ponselku. Kubuka gambar foto dia yang sedang bergaya di depan Havard. Kemudian kuserahkan ponselku kepada beliau. Bu Hendrajaya tampak terharu.

“Oh…Faiz,” beliau mengusap-usap ponselku. Tampak kerinduan terpancar dari ibunya Mas Faiz ini. Mas Faiz benar-benar total tidak menghubungi keluarganya, putus hubungan. Dan akulah yang jadi perantara mereka. Mungkin karena itulah mereka sangat baik kepadaku. Seolah-olah aku adalah aset utama mereka.

“Kudengar kamu bikin album Iskha?” celetuk Mbak Vira.

“I..iya mbak,” jawabku.

“Hmm…kapan terbitnya?” tanyanya.

“Secepatnya, sudah produksi, sudah rekaman koq,”jawabku.

“Wah, hebat yah,” kata Bu Hendrajaya.

“Yah, mau gimana lagi. Sudah hobinya sejak kecil bermain musik,” kata ayahku.

“Harus didukung itu. Bukan begitu?” kata Pak Hendrajaya.

Setelah itu acara dilanjut dengan makan malam, karena hidangan sudah disiapkan oleh para pelayan. Entah berapa pelayan yang dipunyai oleh Pak Hendrajaya ini. Mereka semuanya profesional. Masakannya enak-enak. Mas Pandu tampak dilayani oleh Mbak Vira. Dan terkadang disuapinya karena tangan Mas Pandu gemetar. Ia sepertinya sudah tak bisa lagi memegang sendok. Dengan telaten aku perhatikan Mbak Vira menyuapi Mas Pandu. Aku pun merasa iba kepada mereka.

Setelah makan malam itu aku pulang bersama keluargaku. Paling tidak malam itu Pak Hendrajaya menyambut baik kami. Keluarga mereka sangat merestui hubunganku dengan Mas Faiz. Wajah ibunya tentu saja sangat gembira melihat foto-foto anaknya itu. Aku masih penasaran di mana Mbak Putri? Walaupun memang perlakuannya tak bisa dimaafkan, tapi aku merasa kasihan kepadanya. Dia pasti sangat mencintai Mas Faiz.

NARASI VIRA

Aku menemui Iskha di kafe. Akhir-akhir ini aku dekat dengan dirinya. Kami juga jadi teman akrab sekarang. Sering curhat, sering berbagi perasaan. Iskha orangnya ramah, baik. Aku jadi iri dengannya. Dia orangnya rendah hati. Pantaslah Faiz nggak mau pisah dengan dia. Dia menurutku penyempurna hidup Faiz.

Albumnya sudah terbit dan isinya tentang cinta dan kerinduan. Apakah ini curahan hatinya? Dia bersolo karier. Walaupun kegiatannya dengan kelompok bandnya The Zombie Girls masih aktif tapi dia mencoba solo karier. Tak usah ditanya. Albumnya baru dua bulan sudah terjual 1 jt kopi. Rekor memang. Lagunya bagus-bagus. Aku bahkan menyimpan mp3nya.

Dia sekarang banyak manggung seminggu sekali. Kadang juga diundang di acara tv. Menemui dia di kafe seperti biasanya dengan anggota bandnya pun adalah hal yang sangat langka. Dia sudah jadi artis sekarang. Diwawancarai wartawan, dikuntit bahkan kehidupannya dengan Faiz pun mulai dibongkar.

“Hai Mbak?!” sapanya.

“Hai, masih ngisi di kafe aja? Kan kamu sudah banyak job sekarang,” kataku.

“Aku memang berinisiatif koq mbak. Lagian, aku menawarkan diri. Kafe ini, adalah kafe kenanganku. Aku udah minta ama Direkturnya untuk mengijinkan aku mengisi di sini kapan pun aku mau. Mereka sangat senang. Aku bahkan tak ingin minta honor yang muluk, nggak dibayar pun aku mau.”

“Oh begitu, wah. Aku jadi temannya artis nih, boleh minta tanda tangannya,” candaku.

“Ah, mbak ini. Biasa ajalah!” katanya. “Kalau mau tanda tangan sini tangannya aku corat-coret!”

“Enak aja,” kami pun tertawa lepas.

Aku banyak ngobrol dengan Iskha. Tapi satu hal yang kami selalu hindari dari setiap pembicaraan adalah tentang Faiz. Rasanya ia tak mau membicarakannya. Dan aku juga demikian.

“Gimana Mas Pandu mbak?” tanyanya.

“Dia….sudah tak bisa menggerakkan tangannya. Awalnya ia tak bisa menulis, membuat garis lurus saja nggak bisa. Tangannya gemetar hebat padahal hanya memegang pensil. Setelah itu hanya kepalanya saja yang bisa bergerak. Dia lumpuh total,” jelasku.

“Aku turut berduka mbak.”

“Makasih. Aku sendiri tak tahu apakah Pandu bisa bertahan berapa lama lagi.”

Tiba-tiba kami pun hening. Aneh memang. Aku bisa berbagi perasaanku dengan Iskha. Tapi itulah yang terjadi. Iskha menggenggam tanganku memberikan ketenangan dan menepuk-nepuknya.

“Makasih Iskh,” kataku.

“Besok kita jalan-jalan yuk, berdua aja,” ajaknya.

“Kemana?”

“Terserah deh. Aku yang traktir.”

“Siapa takut.”

*****

NARASI PUTRI

Faiz sudah berusia 2 tahun. Dia aku gendong. Dia barusan menangis ketika suara guntur menggelegar sehingga terbangun. Di luar sepi dan gelap. PLN lagi-lagi mematikan aliran listrik di saat hujan deras seperti ini. Aku sekarang tinggal bersama ayah kandungku. Johnny Amartand. Ibuku tak ingin aku tinggal sendiri, maka dari itulah dia menghubungi ayah kandungku. Awalnya Ayah tiriku menolaknya tapi akhirnya tak ada pilihan lain. Satu-satunya yang membuatnya setuju adalah bahwa ayahku berjanji akan menjagaku, karena dia juga sudah merindukanku sejak dulu.

Kami tinggal di kebun teh. Jauh dari Jakarta. Di sini penghasilan ayah adalah sebagai buruh petani teh. Itu saja sudah cukup bagiku. Aku masih menyimpan foto Faiz. Aku selalu menunjukkan kepada Faiz, ini ayahmu. Kamu besok kalau sudah besar hormati dia ya? Entah kenapa Faiz setiap melihat foto itu selalu tenang. Ia seolah tahu kalau itu adalah ayahnya.

Ayah menyalakan lampu petromak. Ruangan pun kembali terang.

“Lagi-lagi listriknya mati kalau hujan,” ujar ayahku.

“Mungkin takut terkena geledek yah,” kataku.

“Tapi ya nggak gini juga kan? Hampir pasti kalau hujan mati,” ujarnya. “Faiz masih nangis?”

“Sudah tenang,” jawabku.

Sudah tiga tahun ini aku meninggalkan keluarga Hendrajaya. Ibu masih menghubungiku sekali-kali. Menanyakan kabarku dan anakku. Aku juga bertanya kabar Faiz, sekarang sudah kuliah di luar negeri. Sesuatu yang luar biasa menurutku. Aku selalu bilang ke Faiz kecil agar suatu saat nanti meniru ayahnya kuliah di sana. Dia mana mengerti? Tapi aku selalu bicara dengan dia. Dan yang membuatku terharu adalah dia pertama kali mengucapkan kata “ayah”. Ingin rasanya aku bertemu dengan dia dan kutunjukkan kepadanya ini Faiz kecil, bisa bilang “ayah” untuk pertama kali walaupun aku hanya menunjukkan fotonya.

Kutidurkan dia ke tempat tidurnya lagi. Ia sudah lelap. Wajahnya benar-benar mirip ama Faiz. Aku ciumi dia berkali-kali. Cepatlah besar anakku. Ibu bangga ama kamu. Ibu sangat menyayangimu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*