Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XVIII

Anak Nakal Season 2 BAB XVIII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XVII

BAB XVIII

Enough

NARASI VIRA

Aku sudah lulus sekarang. Dan aku kuliah ngambil jurusan D2 sekretaris. Memang aku ingin cepat kerja. Nggak mau lama-lama kuliah. Aku sudah mulai sedikit demi sedikit melupakan Faiz. Walaupun begitu, kalau saja ia saat ini ada di depanku aku pasti akan memeluknya, karena rasa cintaku kepadanya masih besar. Dan memory tentang dirinya akan tetap ada pada diriku.

Permasalahannya sekarang ada Pandu. Dia tetap menganggapku sebagai kekasihnya. Aku kasihan juga melihat dirinya mendapatkan senyuman palsuku, cinta palsu. Semuanya palsu. Mungkin dari semua orang dialah yang paling harus dikasihani. Aku yang tidak mencintainya, sakit yang dideritanya, semuanya tak mengenakkan bagi dia. Hari ini seperti biasanya, aku mendorong kursi rodanya semenjak ia tak bisa berjalan kurang lebih setahun lalu. Setiap sore aku mendorongnya, mengajaknya jalan-jalan. Hal itu bisa membuat Pandu sedikit terobati. Benar kata orang-orang aku adalah nyawa Pandu. Karena itu aku tak bisa meninggalkannya.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyaku sambil mendorongnya.

“Suntuk. Faiz sudah nggak ada di rumah lagi,” jawab Pandu.

“Lho? Kenapa? Kemana?” aku baru tahu ini.

“Ceritanya panjang, tapi sebaiknya tak kuceritakan. Ia terlibat cekcok dengan keluarga kami. Dan, ia sudah tak mau lagi tinggal di rumah.”

“Trus?”

“Ya begitulah, aku sendirian bersama ayah, Bunda, Icha dan Rendi. Bonus para pembantu dan sekuriti.”

“Kemana Faiz sekarang?”

“Nggak tahu, dia nggak ngasih kabar. Ponselnya dibuang. Ia sudah ganti nomor, jadi aku tak bisa menghubunginya.”

Aku merenung. Kenapa sampai Faiz seperti itu? Apa yang membuat ia seperti itu? Aku tak pernah melihat Faiz semarah ini kepada keluarganya.

“Nggak usah mengkhawatirkan Faiz, dia bisa menjaga dirinya. Sudah ada Iskha. Kamu nggak perlu khawatir.”

Justru aku khawatir Pandu. Dia bersama Iskha. Dia pasti sudah melupakanku sekarang. Faiz, apakah dia melupakanku? Aku masih ingat bagaimana rasa bibirnya. First kiss itu tak akan pernah aku lupakan. Ah, lagi-lagi aku teringat dia. Aku hanya tersenyum saja biar Pandu tak bisa membaca pikiranku.

“Berhenti sebentar Vir, aku mau ngomong sesuatu,” kata Pandu.

“Iya?” aku pun menghentikan mendorong kursi rodanya.

“Aku hari ini ingin mencukupkan diriku,” katanya.

“Maksudnya?”

“Sebenarnya aku sangat bersalah kepadamu, kepada Faiz, kepada kalian berdua.”

Apa sih maksud Pandu?

“Tapi aku ingin kamu jangan pergi dariku. Kumohon, sekalipun kamu tak mencintaiku tapi jangan pergi dariku.”

“Apa sih? Aku akan tetap di sini aku mencin….”

“Sudah! Jangan ucapkan kata cinta kepadaku. Cukup! Aku tahu semuanya. Sebenarnya apa yang kalian bicarakan di luar ruang UKS aku mendengar semuanya. Semua sentuhan ini, semua perhatianmu, ini semua bukan cinta. Tapi rasa kasihan. Aku tak butuh perasaan itu Vir, aku tak butuh dikasihani. Kalau kamu cinta ama Faiz, bilang saja. Aku tak akan marah karena memang itu adalah pilihanmu. Aku tahu Faiz mengalah agar kau bisa bersamaku. Tapi itu sama saja membohongi perasaanmu. Aku tak bisa Vira, aku tak bisa menerima rasa iba dan kasihanmu itu.”

Aku kaget karena Pandu tahu semuanya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku membuang mukaku ke arah lain. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca.

“Aku tahu perasaanmu, aku minta maaf. Tak perlu lagi kau tunjukkan cintamu kepadamu. Karena aku tahu itu semua palsu. Tapi berjanjilah dampingilah aku sampai akhir hidupku. Aku tak tahu kapan penyakit ini akan menggerogotiku. Aku sudah pasrah Vir. Aku pasrah akan kehidupanku. Tak ada lagi Faiz di rumah. Kami selalu bermain bersama, saling menyayangi tapi sekarang sudah tak ada lagi. Kaulah satu-satunya yang membuatku hidup. Vira…”

Aku langsung berada di depan Pandu. Aku pun mencium bibirnya. Aku tak sanggup lagi mendengarnya bicara. Itu semua adalah perasaannya selama ini. Ia kasihan kepadaku, ia minta maaf kepadaku. Kalau dia jujur dari dulu mungkin aku dan Faiz akan tetap bersama sampai sekarang. Aku berikan ciumanku kepadanya sekarang. Setelah memberikannya aku menunduk.

“Buat apa itu tadi?” tanya Pandu.

“Anggap itu hadiah dari aku,” jawabku. “Aku memang mencintai Faiz sejak dulu. Tapi, aku sudah berjanji untuk menjagamu. Aku akan menjagamu karena ini janjiku kepada Faiz.”

“Vira….hikss…!” Pandu tiba-tiba menangis. “Maafkan aku, seharusnya aku tak melakukan ini. Seharusnya aku tak mengambil kesempatan ini. Seharusnya kau dan Faiz bisa bersama. Kalau saja ini aku lakukan, dia tak akan pergi sekarang.”

Pandu menangis dan memelukku. Ada sebuah rasa penyesalan yang mendalam padanya. Pandu, aku berjanji akan menjagamu sampai akhir nanti. Demi janjiku kepada Faiz. Demi janjiku kepada orang yang aku cintai.

****

NARASI ISKHA

Aku tak sengaja berada di taman ini. Dan aku tak sengaja bertemu dengan Vira dan Pandu. Kata-kata mereka, pembicaraan mereka. Langsung menyentuhku. Mereka tak tahu kalau aku sedari tadi berada di balik pohon. Dekat sekali dengan mereka. Mbak Vira masih mencintai Faiz sampai sekarang. Tidak, aku tak boleh mengalah. Aku akan memperjuangkan Mas Faiz. Dia milikku sekarang. Mbak Vira nggak boleh merebutnya dariku. Tapi…apakah Mas Faiz akan bertahan denganku, sedangkan mbak Vira adalah cinta pertamanya?

Setelah mereka pergi, aku pun segera pulang.

Hari-hariku berikutnya sungguh sedikit murung. Tentu saja percakapan Mbak Vira dan Mas Pandu kemarin itu membuatku galau. Benar sekali kalau misalnya mas Faiz tak mengalah, ia tak akan bertemu denganku. Ia tak akan mungkin pergi dari rumah. Dan semua ini tak perlu terjadi.

Aku sebenarnya akan berangkat ke Kafe sore itu. Tapi dijemput oleh Mas Faiz. Aku menunggu di luar. Hujan turun. Wah, alamat kehujanan nih, pikirku. Aku pun mempersiapkan mantel hujan, sebentar lagi pasti Mas Faiz akan datang. Tapi ada mobil sedan berwarna hitam yang baru saja berhenti dan terparkir di luar sana. Aku mengerutkan dahi. Siapa dia?

Sang Sopir keluar dari mobil sambil membawa payung besar berwarna hitam. Kemudian dia membuka pintu bagian belakang mobil sedan itu. Aku terkejut. Orang ini pak Hendrajaya. Dia memakai kacamata hitam memakai kemeja biru, dasi abu-abu dan jas berwarna hitam. Dia berjalan ke arah rumah kami. Melihatku ada di serambi dia pun segera masuk. Dibukanya pagar dan anak buahnya kerepotan berusaha agar bosnya tidak terkena hujan dengan payungnya.

“Sore?!” sapanya.

Aku terbata-bata, “Sss..sore…pak.”

Kenapa ayahnya Mas Faiz sampai menemuiku? Dia segera berteduh di dalam teras.

“Sss..silakan duduk…pp..pak!” kataku.

“Terima kasih,” kataya. Ia segera mengambil tempat duduk.

“Mau mm…minum apa?” tanyaku.

“Tak perlu repot-repot, aku hanya ingin ngobrol saja,” jawabnya.

Aku pun ikut duduk. Sementara itu aku mengamati anak buahnya masih berdiri saja sambil stand by membawa payung. Aku jadi canggung sendiri, padahal ini rumahku. Nggak biasanya orang sekaya beliau datang ke rumahku seperti ini.

“Aku minta maaf dengan sangat, kepadamu dan juga kepada seluruh keluargamu. Yang dilakukan oleh putriku memang hal yang bodoh. Maafkan kami!” pak Hendrajaya menunduk hormat.

“Saya sudah memaafkan koq pak. Sungguh, saya sudah memaafkan,” kataku.

“Saya yakin kamu orang yang baik. Faiz memilihmu bukan tanpa sebab. Dia sudah dewasa dan dia tahu siapa wanita yang pantas untuknya. Aku tak bisa membujuknya untuk pulang, aku mohon kepadamu agar bisa membujuknya untuk pulang. Ibunya, Pandu, dan adik-adiknya membutuhkan dia sekarang. Rumah kami terasa sepi tanpa kehadirannya. Aku akan berikan apapun untuk itu,” katanya.

“Tapi Pak, saya juga tak bisa melakukannya,” kataku.

“Aku tahu, ini sangat sulit. Faiz memang begitu kalau sedang marah. Dia tak bisa berfikir jernih. Tapi aku selalu berfikir positif, dia bisa jadi anak yang baik dengan mengenalmu. Aku bisa melihatnya sekarang. Tapi tolonglah bujuk dia untuk bisa pulang,” ujarnya.

Aku termenung sekarang. Aku tak tahu harus bicara apa. Membujuk Mas Faiz untuk pulang itu berat.

“Iskha, kalau misalnya kamu tidak keberatan lakukanlah. Aku Doni Hendrajaya tak pernah memohon kepada orang lain. Baru kali ini aku memohon.”

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya Pak, tapi aku tak bisa janji.”

Pak Hendrajaya menarik nafas dalam-dalam. Ia menutup mukanya, mengusap wajahnya. Beliau kemudian berdiri lagi.

“Sampaikan permintaan maafku kepada kedua orang tuamu. Aku sebagai orang tua juga malu, terima kasih dan…jagalah Faiz, kalau kamu sampai menyakitinya aku tak akan memaafkanmu,” katanya sambil tersenyum.

Entah kenapa aku juga tersenyum. Senyumannya sangat tulus. “Iya, Pak. Terima kasih. Aku akan berusaha membujuk Mas Faiz agar pulang.”

Lagi-lagi Pak Hendrajaya tersenyum. Dia kemudian berjalan lagi meninggalkan rumah kami. Hujan masih mengguyurnya dan anak buahnya lagi-lagi disibukkan melindungi sang majikan dari hujan. Aku hanya bisa melihat mereka pergi dengan mobilnya setelah itu. Pak Hendrajaya menyerahkan Faiz kepadaku. Ohh..aku bahagia sekali. Tak berapa lama kemudian Faiz datang dengan motornya. Tampak ia memakai mantel hujan.

Mas Faiz memberi aba-aba kepadaku. Aku melambaikan tangan. Segera aku memakai mantel hujanku, gitarku pun aku lindungi pakai plastik agar tak basah. Ada pelindung khusus sih, seperti sebuah mantel hujan gitu. Setelah itu aku segera naik ke sadel belakang. Kami pun melaju kencang di atas aspal setelah itu.

***

NARASI VIRA

Faiz katanya kerja di Kafe Brontoseno. Aku penasaran, bagaimana keadaan dia sekarang. Malam itu pun aku beranikan diri untuk bisa menemuinya. Hujan makin deras saja saat mobil taksi berhenti di depan kafe itu. Kulihat pengunjungnya juga nggak begitu banyak, mungkin karena hujan. Berita-berita di tabloid sendiri agaknya lebay memberitakan anak keluarga Hendrajaya jadi pelayan kafe dengan judul “PUTRA MAHKOTA HENDRAJAYA MEMISAHKAN DIRI DARI KERAJAAN: Kemungkinan besar cintanya tak direstui sang ayah”. Padahal aku yakin dia tak pernah diwawancarai.

Aku keluar dengan berhujan-hujan dan segera masuk ke sana. Ruangan kafe lumayan besar. Aku pun mengambil tempat duduk di dekat kaca biar bisa menikmati pemandangan hujan dari jauh. Lantunan musik mengalun dari musisi lokal. Oh, itu Iskha dia sedang bernyanyi dan memainkan gitarnya bersama teman-temannya. Pintar main musik, aku jadi iri. Ia all out. Seperti seorang musisi ternama.

Seorang pelayan menghampiriku. Dia …Faiz???

“Sendirian?” tanyanya.

“I..iya,” jawabku.

“Mau minum apa?” tanyanya.

“Yang anget-anget aja deh.”

“Hmm..pilih dong ini ada daftar menunya kan?”

“Cappucino boleh.”

“Oke, ada lagi?”

“Itu aja dulu.”

“Segera hadir.”

Faiz berjalan ke dapur. Ada yang beda dari dia. Dia lebih bersemangat. Lebih apa ya….hmmm…lebih seperti seorang laki-laki. Ah dia kan emang laki-laki. Beda pokoknya. Kalau dulu mungkin dia dimanja oleh keluarganya, tapi sekarang ia berusaha untuk bisa mandiri. Aku tak pernah dilayani oleh Faiz seperti ini. Hihihi.

Sambil menikmati musik. Aku menatap Iskha. Dia selesai satu lagu. Ketika mata kami beradu. Dia mengangguk kepadaku. Aku membalas senyumannya. Aku jarang bicara dengan dia. Tak pernah mungkin. Tapi kami mencintai orang yang sama. Apakah aku sudah terlambat untuk mencintai Faiz sekarang? Pasti sudah terlambat.

Faiz pun datang dengan nampan berisi secangkir Cappucino. “Ini dia pesanannya.”

“Makasih,” kataku. “Bisa temenin aku sebentar?”

Faiz lalu duduk di depanku. “Yap? Ada apa?”

“Kamu sudah banyak berubah ya?”

“Ah, biasa saja deh. Ada sesuatu yang penting kah?”

Aku mengangguk.

“Katakan saja!” katanya.

“Aku masih mencintaimu, Faiz,” bisikku. Aku tak ingin kata-kataku didengar oleh Iskha dan orang lain.

Wajah Faiz berubah. Yang tadinya tersenyum sekarang datar.

“Maafkan aku, tapi aku tak bisa menyimpan ini. Pandu juga sudah tahu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Bagaimana dia bisa tahu?”

“Dia…dia sebenarnya mendengar semuanya di UKS itu…dia dengar semuanya…hiks,” aku tiba-tiba saja menangis. “Faiz…. aku masih mencintaimu. Dia bahkan tak ingin aku menunjukkan cinta palsuku kepadanya. Faiz…apa yang harus aku lakukan?”

Aku tak mampu membendung air mataku. Air mata itu pun turun menetes di punggung tanganku. Faiz terdiam. Aku tahu ia sekarang sedang galau mendengar curhatku. Apakah ia masih mencintaiku?

“Kau masih mencintaiku? Kamu masih mencintaiku bukan?” tanyaku.

Dia tak menjawab. Aku tak sanggup lagi. Aku pun segera beranjak. Aku menaruh uang lima puluh ribu rupiah di atas meja kemudian segera keluar dari kafe itu. Aku tak sanggup lagi menahan kesedihan ini.

“Vir, Vira tunggu!” panggil Faiz. Aku tak peduli aku keluar dari Kafe. Hujan langsung mengguyurku.

Faiz mengejarku. Ia ada di belakangku berusaha meraihku dan aku berbalik.

“Kenapa mengejarku? Kau sudah punya Iskha. Memang nasibku sudah seperti ini. Aku harusnya yang mencintaimu bukan dia. Aku yang harunya bersama denganmu bukan dia. Aku hanya ingin kau bersamaku Faiz. Lihatlah, aku sampai sekarang masih memenuhi janjiku untuk merawat Pandu. Itu semua karena engkau. Pergilah Faiz, temani Iskha. Dia orang yang tepat untukmu. Maafkan aku yang hanya menjadi fatamorgana bagimu,” kataku.

Dari belakangnya tampak Iskha menyusul Faiz. Ia seakan tak mau kehilangan Faiz. Tapi langkahnya terhenti ketika melihatku. Aku berbalik dan menangis dengan guyuran air hujan di malam ini aku pun berjalan pulang ke rumah. Faiz….aku mencintaimu…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*