Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XIX

Anak Nakal Season 2 BAB XIX

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XVIII

BAB XIX

This is (Not) A Good Bye

NARASI ISKHA

Aku tak menyangka Mbak Vira masih mencintai Mas Faiz. Dari cerita yang dia sampaikan. Aku jadi serba salah sekarang. Seharusnya mereka bisa bersama. Aku hanya sebagai penghalang saja rasanya. Mas Faiz akhir-akhir ini diam. Apakah dia juga galau? Aku tak mau mengganggunya. Mungkin beban dia sekarang terlalu banyak. Apalagi sebentar lagi Ujian Akhir. Dia pasti sedang konsentrasi belajar.

Aku sudah membujuk dia untuk pulang ke rumahnya, tapi pendiriannya tetap keras. Ia tak mau. Dia bahkan tak sudi lagi membicarakan keluarganya sendiri. Aku tahu bagaimana perasaannya terhadap keluraganya sekarang ini. Itu sudah cukup bagiku sebagai bukti kalau dia sangat mencintaiku. Aku tidak sensitif, minder. Iya, khususnya kepada Mbak Vira dan Faiz. Sudah jelas mereka berdua masih saling mencintai. Aku seperti berada di tengah-tengah mereka. Aku seperti jurang pemisah hubungan mereka.

Mas Faiz diam lagi ketika hari ini menjemputku. Biasanya ia banyak bicara. Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Aku pun makin galau. Takut kalau ia kembali ke Vira. Takut kalau ia ingin meninggalkanku. Ketika aku diboncengnya kudekap erat dirinya. Mas Faiz, aku tak ingin kamu pergi.

Kami sampai lagi di kafe. Setelah memarkir sepeda motor kami masuk. Teman-teman bandku sudah menunggu. Aku menyapa mereka dan sedikit ngobrol sebelum memulai bermain musik. Mas Faiz bekerja lagi. Ia memang mengambil waktu kerjanya hanya untuk menjemputku setiap hari. Ini pun sudah membuatku senang. Tapi nggak enak juga kalau tiap hari seperti ini. Tapi dia memaksa. Aku tak bisa apa-apa. Mas Faiz langsung menuju ke meja yang ada pelanggannya. Mencatat pesanan dan segera mengantarnya. Mungkin kafe ini tambah banyak pengunjungnya karena ada orang seterkenal Mas Faiz kerja di sini. Tak biasa memang anak konglomerat yang harusnya hidup enak, mewah malah memilih jalan seperti ini. Dan itu semua demi aku.

Malam itu ada yang beda. Mas Faiz ingin bernyanyi.

“Emang bisa mas?” tanyaku.

“Aku gini-gini belajar juga lho. Sudah sebulan. Moga aja kamu suka,” katanya.

“Jadi ini….”

“Ini aku persembahkan untukmu. Moga aja manajer nggak marah aku ngisi lagu,” katanya.

Aku sedikit tertawa.

“Ayo Mas Faiz, kamu bisa,” tampak Hani berseru kepadanya.

Dan dia pun mulai memainkan keyboard. Dia mengubahnya menjadi piano. Awalnya fals. Tapi ia kemudian minta waktu sebentar untuk menandai tuts keyboard itu. Lalu ia mulai lagi. Lagu ini…dia bisa memainkan piano walaupun tangannya tak luwes. Dan ia mulai bernyanyi….Eh…lagu Jepang???

Takaku dono kurai tonde ittara
Haruka tooku no kimi ga mienaku naru no?

Hitomi soraseba raku ni naru no kamo shirenai
Demo itsumo dokoka de mitsumete itai

Wasureru koto nante deki wa shinai kara
Nasu sube mo naku, sora wo miageteru dake.
Maru de kago no naka no chiisana tori no you ni
Mado wo sagashite atemo naku, samayotte iru.

Ima sugu ni aitai kimi ga suki dakara
Kizutsuku koto ga kowakute nigetai kedo
Mienai shigarami ni tsubasa torawaretemo
Soredemo kimi wa kanashii hodo taisetsu na hito.

*** arti bhs Inggris ***

How high would I have to fly
To lose sight of you, so far away?

If I turn my eyes away, I might feel better.
But I want to always be looking at you from somewhere.

Because there’s no way I could forget you.
At my wits’ end, I simply keep staring up at the sky.
It’s almost as if I were like a small bird inside a cage,
Searching for the window, aimlessly wandering around.

I want to see you right away, because I love you,
Even though I want to run away because I’m scared of being hurt.
If this unseen barrier around me should tear away my wings,
Still, you are so precious to me that it makes me sad.

[catatan: Ini lagu berjudul Cage Bird, OSt DN Angel.

Entah kenapa air mataku jatuh. Alunan musiknya…itu…membuatku menangis. Sepertinya ia ingin berpisah dariku. Mas Faiz…bicaralah kepadaku. APa yang ingin mas sampaikan???

Setelah itu disambut tepuk tangan oleh semua orang. Ia lalu menghampiriku yang menangis. Dia menghapus air mataku.

“Mas…mas ingin pergi?” tanyaku.

“Aku ingin kuliah di Havard. Aku dapat beasiswa kuliah di sana. Aku berat ingin menyampaikan ini kepadamu. Maka dari itulah aku diam. Aku persembahkan lagu ini untukmu, agar kau ingat kepadaku. Setelah ujian nanti aku akan pergi ke sana. Aku takut menyampaikan ini kamu jadi sedih,” katanya.

Aku memeluknya. “Mas Faiz, katanya mas Faiz akan menemaniku terus. Kenapa Mas Faiz harus pergi?”

“Ini bukan perpisahan Iskha, aku pergi untuk kembali. Aku pasti kembali…,” katanya.

Aku menangis di dalam pelukannya. Tak hanya itu aku mendekapnya lebih erat dari biasanya. Ia mungkin tahu perasaanku sekarang ini. Ia mengusap-usap rambutku. Ternyata ini yang membuat dia diam. Ia ingin belajar ke luar negeri. Mendapatkan beasiswa di Havard bukanlah hal yang mudah. Mas Faiz pasti belajar dengan keras untuk sampai seperti itu. Terus terang, aku terlalu berburuk sangka kepadanya. Ia masih mencintaiku.

“Janji mas tak akan melupakanku!” kataku.

“Aku janji, aku akan isi ponselku dengan lagu-lagumu. Agar aku ingat terus kepadamu,” katanya.

***

Setelah ujian akhir nasional dan kelulusan. Hari itu pun tiba. Aku mengantar Mas Faiz ke bandara. Tak ada anggota keluarganya yang mengantar. Ia memang tak memberi kabar kepada mereka semua. Mas Faiz sudah bertekad untuk menempuh jalan hidupnya sendiri. Yang turut mengantarnya adalah aku, Erik temannya Mas Faiz dan Hani.

“Baik-baik di sana Bro, jaga diri. Moga sukses,” kata Erik.

“Makasih Rik, lo emang sahabat gue yang paling baik,” kata Mas Faiz. Mereka saling bersalaman dan berpelukan.

“Hati-hati ya mas,” kata Hani.

“Jaga Iskha ya?!” katanya.

“Pasti, Mas sudah kuanggap sebagai kakakku,” kata Hani.

Dia lalu berdiri di hadapanku. Dia menempelkan keningnya ke keningku. Hidung kami bertemu.

“Mas Faiz, aku akan sangat kangen sama mas,” kataku.

“Harus dong, kamu kan pacarku,” katanya menggodaku.

“Ihhh…malah digoda,” gerutuku. “Serius nih.”

Ia ketawa, “Iya, aku tahu. Sudah ya? Kalau lama-lama di sini aku nggak jadi berangkat.”

“Bentar mas, yang lama,” kataku manja.

Kalau bisa sih, adegan di film AADC ada juga dong. Cium aku mas. Cium…tak perlu dikomando sih, dia sudah menempelkan bibirnya ke bibirku. Kami berciuman. Sangat dalam. Mas Faiz menghisap bibirku. Seolah-olah ingin merasakan ciumanku untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu ia mengusap pipiku.

“Jaga diri baik-baik. Aku akan segera kembali. Sering kontak-kontak saja, toh kamu sudah tahu emailku,” katanya. “Sampai nanti.”

Aku mengangguk. Mas Faiz kemudian menggeret kopornya. Aku mematung. Hanya melihat punggungnya makin menjauh. Bahuku kemudian disenggol Hani.

“Mbak, katakan sesuatu kek, apa gitu. Sebelum ia masuk terminal!” katanya.

AKu pun tersadar. Aku segera berlari ke arahnya.

“Mas Faiiizzz! Aku akan menunggumu. Aku akan menunggumu! Berjanjilah! Kalau kamu pulang dari Amerika nikahi aku! Nikahi aku maas! I LOVE YOU!” teriakku.

Ia melambaikan tangannya kepadaku. Dan kami pun berpisah untuk waktu yang lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*