Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XVII

Anak Nakal Season 2 BAB XVII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XVI

BAB XVII

Kembalilah Kepadaku

NARASI ISKHA

Mas Faiz, aku tak bisa melupakanmu mas. Sudah sebulan ini aku berada di kota Malang. Malang dan Jakarta. Jauh sekali. Walaupun aku ada rekomendasi pindah ke sekolah yang baru, tapi aku tak masuk ke sana. Aku masih shock. Aku lebih banyak mengurung diri di kamar. Keluar rumah pun jarang. Ibu dan ayah dengan sangat terpaksa mencari penghasilan baru. Ibu masih bisa menjahit sedangkan ayah, tiba-tiba saja mendapatkan surat PHK. Itu sungguh menyakitkan. Ayah sekarang membenci keluarga Hendrajaya. Tapi satu yang beda adalah ayah tak membenci Mas Faiz. Sebab ayah tahu Mas Faiz tak salah.

Faiz. Nama itu terus ada di dalam hatiku. Demi melindungi keluargaku sekarang aku berada di sini. Semua kontak dengan teman-temanku pun hilang. Aku minta maaf kepada mereka. Tapi rasanya tidak cukup.

“Iskha, udah nak. Kamu nggak boleh terus-terusan seperti ini,” kata ibu. “Tuh lihat, matamu sembab. Kamu sedih koq tiap hari sih? Keluar yuk? bantu ibu belanja.”

Aku hanya mengangguk pelan.

“Ibu tahu perasaan kamu kepada Faiz. Dia emang cowok yang baik, tapi keluarganya tak setuju. Ya mau gimana lagi? Ayo dong jangan sedih,” kata ibu.

“Mas Faiz sudah jadi hidupku ibu. Aku tak bisa melupakannya, sakit rasanya rindu ini,” kataku.

“Ibu tahu perasaanmu, ibu juga pernah muda,” kata ibu. “Ibu juga kangen ketika ayahmu pergi jadi masinis. Apalagi keretanya jarak jauh semua. Lebaran tambah dia nggak pulang. Kangen dong pasti.”

Aku tersenyum.

“Nah, begitu tersenyum. Ibu suka kalau kamu tersenyum gitu. Anak ibu yang paling cantik ini,” ibu memelukku. Emang pelukan ibu itu menentramkan.

“Ayo bu, Iskha bantu berbelanja,” kataku. Sambil menggandeng ibu.

Setelah itu aku berbelanja dengan ibuku di pasar untuk kebutuhan sehari-hari. Uang yang diberikan oleh Kak Putri itu lebih dari cukup. Gila apa 700 juta. Tapi ini terlalu banyak. Kami malah berminat untuk mengembalikannya setelah ayah punya pekerjaan baru nantinya. Sebab kami tak punya penghasilan apa-apa dan tiba-tiba sudah tinggal di rumah baru.

Tiap hari aku memainkan piano pemberian Mas Faiz. Benda inilah yang bisa mengingatkanku kepada Mas Faiz. Aku bermain piano sampai terkadang aku menangis. Aku hancur rasanya, tak adakah yang bisa mengerti betapa aku sangat merindukannya? Mas Faiz, apakah engkau dengar kata hatiku? Aku mencintaimu Mas, aku tak akan bisa melupakanmu. Selamanya.

Malam hari ada yang lain hari itu. Saat aku memainkan piano tiba-tiba pintu diketuk.

“Ibu, ada tamu tuh!” kataku.

Tapi ibu tak muncul juga, mungkin sedang sibuk di dapur.

“Bayu!?” panggilku.

“Aku sedang main game nih, ganggu aja!” kata adikku.

Aku pun bete. Aku beranjak dari kursiku. Melodi-melodiku tadi langsung buyar semua meninggalkan suara fals yang aku tekan di tuts piano. Aku heran juga jam sudah menunjukkan pukul 20.00 tapi koq ada ya yang bertamu malam-malam begini. Siapa sih? Padahal kami juga belum lama pindah, mungkin Pak RT atau tetangga sebelah.

Aku pun membuka pintu.

“Ya??..”, mulutku tercekat seketika itu juga saat aku melihat siapa yang ada di depan pintu.

“Siapa Iskha?” suara ibuku datang dari dapur. Ia membawa spatula dan ketika tahu siapa yang ada di depan pintu ia menjatuhkan spatulanya.

“Iskha, kembalilah kepadaku!” kata orang itu. Itu…Mas Faiz. Mas Faiz?? Aku tak bermimpi kan?

“Mas Faiz?” kataku dengan bibir gemetar.

“TIdak mas, kenapa? Kenapa? Kenapa mas ke sini?”

“Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah pergi dari rumah, aku tak akan menempati lagi rumah keluarga Hendrajaya. Rumah petaka itu sudah aku tinggalkan. Aku ingin bersamamu. Kembalilah kepadaku Iskha, engkau adalah nyawaku. Engkau adalah hidupku. Setiap detak jantungku, setiap tarikan nafasku ada dirimu. Iskha…,” kata-kata Mas Faiz itu sangat manis.

Mas Faiz kau pernah membuatku klepek-klepek. Tapi kenapa hari ini kau buat aku klepek-klepek lagi? Aku tak tahu bagaimana wajahku saat itu, senang, gembira, ingin histeris. Tapi, bagaimana dengan keluarganya kalau tahu dia ada di sini? Bagaimana dengan kak Putri?

“Kamu tak usah memikirkan Kak Putri. Ia tak akan berani lagi menyentuh kalian. Aku janjikan itu kepadamu,” kata Mas Faiz.

“Mas Faiz,…aa…aku..,” aku tiba-tiba tak tahu harus berkata apa-apa.

Mas Faiz segera memelukku, tak cuma itu ia langsung menciumku begitu saja. Seketika itu aku seperti seorang yang kehausan di padang Pasir tiba-tiba saja menemukan sebuah oase. Aku memang ingin dicium olehmu Mas. Ciumlah aku, ciumlah aku, lumat bibirku. Peluklah aku karena engkaulah obat ini, engkaulah pelepas dahaga ini. Mas Faiz. Ohhh…aku rindu…

Mas Faiz melepaskan ciumannya dan berkata, “Jangan pergi lagi dariku.”

“Aku tak akan pergi lagi mas. Oh…Mas Faizku,” aku memeluknya lagi.

****

NARASI FAIZ

Setelah menjemput dia dari Malang, Iskha kembali ke rumahnya yang dulu dan kembali sekolah ke sekolahnya yang dulu. Semuanya kembali seperti semula. Aku sudah tak peduli lagi kepada keluargaku. Aku benar-benar mengancam pihak sekolah kalau tidak menerima Iskha lagi sekolah di sana maka akan berurusan dengan diriku. Mereka pun akhirnya mengijinkannya. Iskha tentu saja gembira. Ia bisa berkumpul lagi dengan teman-temannya. Dengan Nailul, dengan Hani, dengan anggota bandnya lagi dengan semuanya.

Hubunganku dengan Iskha kembali lagi. Ia kembali lagi kepadaku. Sesuatu yang tak akan bisa dibeli dengan apapun. Hubunganku dengan Iskha tamba erat kali ini. Aku bahkan tak malu-malu lagi menunjukkan kemesraanku bersamanya dimanapun. Mencium pipinya sekarang sudah tak semalu dulu lagi.

Aku tinggal di sebuah rumah kost. Lagi-lagi Eriklah yang membantuku. Ia memang temanku yang setia kawan. Ia juga membantuku untuk menjual mobil Lotusku di internet. Dan hasil uangnya aku belikan sepeda motor, sebagian lagi aku tabung. Mobil Lotus termasuk mobil sport, jadi harga cukup mahal, apalagi setelah dimodif. Aku menjualnya seharga 800jt. Lumayan juga sih. Ada anak seorang konglomerat yang memang kepingin mobil itu. Okelah.

Tak hanya itu. Untuk mandiri aku bersedia bekerja di Kafe Brontoseno. Hal ini aku lakukan agar aku dan Iskha selalu bersama kemana-mana. Dan tentu saja Iskha sangat menyukainya. Dari anak seorang milyarder menjadi seorang pelayan. Rasanya tak begitu jelek, toh ini juga keinginanku. Semenjak aku kenal Iskha, aku lebih menyukai kesederhanaan. Bagiku bekerja seperti ini bisa melatihku lebih lagi untuk menjadi orang besar suatu saat nanti.

Malam itu aku bekerja seperti biasa. Aku mencatat pesanan pelanggan. Semenjak aku bekerja di sini pengunjungnya lumayan ramai. Terutama cewek-cewek. Aku tahu sih sebagian mereka ingin tahu bagaiman putra Hendrajaya bisa kerja di kafe ini. Terkadang mereka pun menggoda aku.

“Ada lagi yang dipesan?” tanyaku.

“Cukup saja mas,” katanya.

Aku segera meninggalkan meja itu dan ke dapur. Teman-teman yang lain segera membuat pesanan itu. Iskha tampak bernyanyi seperti biasanya. Sambil sesekali melihatku yang bekerja keras. Aku sudah mulai terbiasa kerja seperti ini, nggak jelek juga sih. Walaupun gajinya tak seberapa, paling tidak itu bisa membantuku survive.

Seorang lelaki dengan setelah hitam dan jas masuk ke kafe. Seketika aku kenal siapa dia. Dia ayahku. Aku tahu kenapa ia ada di sini. Ia ingin menemuiku. Ayahku menatapku dari jauh. Dia melambai ke arahku. Aku segera datang kepadanya. Semua orang melirik ke arahku, karena tahu ada Doni Hendrajaya di kafe ini.

“Duduklah!” perintah ayahku.

“Mau pesan apa?” tanyaku.

“Seperti itukah kamu bicara dengan ayahmu, duduklah!” katanya.

“Kalau kau mengambil jam kerjaku maka aku tak bisa melakukannya. Kalau kau ingin bicara maka tunggu aku selesai bekerja,” jawabku.

“Kubilang duduk!” kata ayahku dengan suara datar dan sedikit meninggi.

Aku pun duduk.

Ayah menghela nafas. Ia mengambil rokok disakunya dan mulai menyalakannya. Dia tak bicara hanya menatapku.

“Ayolah, aku tak ada waktu untuk menemani ayah di sini,” kataku.

“Aku kecewa, tapi juga menyesal,” kata ayah. “Kau tak perlu memikirkan tentang pekerjaanmu. AKu bisa saja kataka kepada Pak Liem agar memecatmu, tapi aku tak melakukannya. Aku kecewa karena kau membuat ibumu bersedih. Juga membuat Putri bersedih. Aku sudah tahu semuanya. Dan aku menyesal, menyesal tak memberitahukan hal ini kepadamu.”

“Ayah ingin apa sekarang?” tanyaku.

“Aku ingin kau kembali,” jawabnya.

“Aku sudah bilang tidak mau,” kataku.

“Faiz, dari semua anak-anakku kaulah yang paling aku sayangi. Ketahuilah itu,” jelasnya. “Dan aku akan melakukan apa saja untuk membuatmu kembali.”

“Ayah tak akan bisa, tekadku sudah bulat. Aku sudah tak akan kembali ke keluarga Hendrajaya dan jangan memaksaku.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Bekerja seperti ini? Sedangkan masa depanmu cerah ketika di keluarga ini? Mendapatkan harta, kedudukan semuanya??”

“Aku sudah membulatkan tekad. Ayah tak akan bisa memaksaku.”

Ayah menghisap rokoknya dalam-dalam. Setelah itu ia matikan di asbak yang tersedia di meja. “Tak ada kandidat yang pantas menggantikanku kecuali kau. Aku yakin kau akan kembali. Kalau kamu pulang dan benci dengan putri, tak usah khawatir. Putri sudah pergi dari rumah atas inisiatifnya sendiri. Dia sangat menyesal, mungkin seumur hidupnya akan penuh dengan penyesalan. Perusahaan ini adalah milikmu. Kalau aku tiada nanti, engkaulah yang akan menjalankannya. Kau cerdas, kau sangat berbakat dalam bidang bisnis. Dan keputusanku tidak bisa diubah.”

Ayah berdiri. Aku juga. Tinggi kami sama, menurut orang di antara anak-anaknya akulah yang paling mirip. Dia menepuk pundakku. Sebelum pergi.

“Hari ini aku sudah memaafkanmu terhadap apa yang kau lakukan kepada bunda-bundamu. Mereka juga sudah memaafkanmu. Aku sudah tahu semuanya. Kalau kamu kembali, kami akan dengan senang hati menyambutmu,” kata ayahku. Di pergi begitu saja. Meninggalkan aku sendiri.

Aku menoleh ke arah Iskha. Aku tak tahu kalau semua orang melihatku sekarang ini. Aku kembali ke tempatku dan melanjutkan pekerjaanku. Biarpun ayah berkata demikian. Aku tetap pada pendirianku, tak akan kembali ke sana.

(bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*