Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XVI

Anak Nakal Season 2 BAB XVI

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XV

BAB XVI

Pasrah

Aku dalam perjalanan pulang. Hari sudah gelap. Perbuatan Kak Putri ini pasti memberikaku obat perangsang. Hingga aku tak bisa mengendalikan diriku. Keluarga yang sudah rusak. Aku pun tambah rusak. Seharusnya hal itu tak boleh aku lakukan. Terdengar panggilan ponselku saat itu aku menepi sebentar ke SPBU karena bensinku sudah mau habis. Kuangkat.

“Halo Rik, ada apa?” tanyaku.

“Bro, kabar baik,” katanya.

“Apa?”

“Iskha, ketemu,” katanya.

Aku yang tadinya lesu, suntuk, bete, emosi sekarang tiba-tiba semuanya hilang. Aku sangat senang sekali, “Oh ya? Trus?”

“Aku akan BBM alamatnya, hanya saja ada satu hal yang sebenarnya aku tak mau mengatakannya kepadamu. Kuharap kamu jangan shock,” kata Erik.

“Ada apa?”

“Dia diusir ke luar kota oleh kakakmu. Kakakmu mengancam akan menyakiti keluarganya kalau dia masih ada di kota ini. Dia juga yang memindahkan sekolahnya ke sana. Semua orang dibungkam, termasuk pihak sekolah. Bro, sepertinya kamu punya musuh dalam selimut.”

Bagai tersambar geledek, aku tak kuasa lagi kali ini. Kemarahanku sudah pada puncaknya.

“Terima kasih Rik. Terima kasih banyak. Aku memang harus menyelesaikan ini semua. Kamu temanku yang paling baik,” kataku.

“Sama-sama. Kuharap kau bisa bersama lagi dengan Iskha,” katanya.

“Tentu saja,” kataku.

Setelah mengisi bensin dengan pertamax tentunya, aku pun kembali ke rumah. Kemarahanku benar-benar meledak. Aku benar-benar tak menyangka kenapa Kak Putri melakukannya? Kenapa? Kakakku yang aku hormati, yang aku sayangi malah melakukannya. Persetan dengan keluarga ini. Persetan dengan kalian semua.

Aku sudah sampai di rumahku. Satpam yang menjaga gerbang buru-buru membuka pagar. Aku sedikit ngebut dan parkir sembarangan di sana, langsung aku menyerbu masuk. Di dalam rumah, aku melihat Pandu sedang di atas kursi rodanya sedang membaca buku. Dia ada tidak sendiri di ruang keluarga. Ada Bunda, ada Kak Putri, juga ada Bunda Laura ternyata sama si Juni kecil.

“Faiz, dari mana saja kamu?” tanya Bunda.

“Dengarkan baik-baik aku tak akan mengulanginya lagi,” kataku.

Semuanya menoleh kepadaku.

“Mas Pandu, bawa Juni ke kamar dan usahakan jangan sampai mendengar apa yang aku ucapkan,” kataku.

“Kenapa Iz?” tanyanya.

“LAKUKAN CEPAT!” bentakku.

Seketika itu ruangan itu jadi tegang. Juni kecil tampak ketakutan kepadaku. Pandu hanya bisa menurutiku. Dia tahu aku kalau marah tak ada yang bisa menghentikannya.

“Dia marah sekarang. Hati-hati kamu Put!” kata Pandu kepada Kak Putri.

Wajah Kak PUtri yang tadi cerah menyambutku datang sekarang berubah. Ia ketakutan. Juni dan Pandu masuk ke kamar. Setelah aku yakin mereka sudah masuk kamar dan Juni kecil tak akan mengintip keluar aku baru meledak.

“Aku benci kepada kalian,” kataku.

“Ada apa FAiz?”

“Tanya kepada kak Putri apa yang dia katakan kepadaku tadi pagi!” kataku.

“Ada apa Put?” tanya bunda.

“I…itu…,” dia tak melanjutkan.

“Aku tahu semuanya tentang keluarga ini. Aku tahu semuanya. Siapa istri-istri ayah itu. Kau Bunda Laura aku tahu hubunganmu dengan ayah. Aku tahu siapa Bunda Vidia, aku juga tahu siapa Bunda Nur. Aku tahu kenapa Pandu bisa sakit seperti itu. Keluarga yang luar biasa ‘terhormat’,” kataku.

Seketika itu wajah bunda berubah takut. Bunda Laura pun terlihat begitu. Yang lebih takut adalah Kak Putri.

“Faiz, kami sebenarnya tak ingin membicarakan hal ini denganmu agar kamu tak mengikuti jejak ayahmu,” kata Bunda Laura.

“Terlambat, apa bunda tahu aku sudah tidur sama Kak Putri? APa bunda juga tahu kalau aku sudah tidur ama Bunda Vidia dan Bunda Nur?”

Mata bunda berkaca-kaca. Ia menutup mulutnya terlihat wajah sedihnya.

“Faiz?! Apa yang kamu lakukan?” bentak Bunda Laura. “Kau sadar apa yang kamu lakukan?”

“Ini semua gara-gara dia!” aku menunjuk Kak Putri.

Bunda dan Bunda Laura pun menoleh ke arah Kak Putri. Kak Putri menunduk dan tiba-tiba terisak.

“Ada apa ini Put?” tanya Bunda.

“Kak Putri, tak kuduga kau sejahat itu. Kau jahat, sangat jahat!” kataku. “Kenapa kau taruh obat perangsang ke minumanku?”

“Karena aku tak mau kamu pergi dariku Faiz, aku ingin kamu mencintaiku,” kata Kak Putri.

“Putri, kamu sadarkah? Dia ini adikmu!” kata Bunda.

“Aku sadar. Justru itulah aku mencintainya. Aku ingin menjadi istrinya. Aku ingin hidup bersama Faiz bunda. Kalau ayah bisa hidup bersama kakak dan adiknya kenapa aku tidak?” kak Putri berdiri dan hampir saja memelukku. Tapi aku mendorongnya hingga ia jatuh.

“Aku tak butuh dirimu!” kataku.

Kak Putri terbelalak. Ia tak menyangka aku akan mengatakannya.

“Katakan kak, kau sayang kepadaku?” tanyaku

“Tentu saja, aku sayang kepadamu,” jawabnya.

“Kalau kau sayang kepadaku, kalau kau cinta kepadaku, kenapa kau membunuhku?”

“Membunuhmu?”

“Kamu tahu, Iskha adalah nyawaku. Dia adalah hidupku, setiap detak jantungku ada dirinya. Setiap nafasku ada namanya. Jiwaku dan jiwanya sudah terikat satu dengan yang lain. Kenapa kau rusak? Kenapa kau menjauhkan aku dengan dia? Kenapa kau melakukan hal sejahat itu? Kau ini katanya kakak yang menyayangiku, tapi nyatanya kau malah menghancurkan hidupku. Aku tak akan memaafkanm seumur hidupku,” kataku.

“Tidak, Faiz…jangan lakukan itu!” kata kak Putri mengiba.

“Aku akan menjemput Iskha dan satu hal lagi. Aku akan pergi dari rumah ini! AKu muak dengan keluarga Hendrajaya. Aku akan menyendiri, tanpa bantuan kalian aku bisa mandiri,” kataku.

“Faiz, ini gila!” kata bunda.

Aku tak menghiraukannya. Aku segera masuk ke kamarku. Aku persiapkan koporku. Kumasukkan seluruh baju-bajuku, buku-bukuku. Paling tidak yang aku butuhkan saja. Sedangkan yang tidak aku butuhkan aku tinggalkan. Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi dari rumah ini. Aku akan menjemput Iskha. Aku akan kembali kepadanya. Setelah mengepak barang-barang. Aku melihat kamarku sebentar. Aku akan merindukan ruangan ini. Tapi aku tak butuh melankolis seperti ini. Sudah semestinya aku pergi dari dulu.

Aku keluar kamar di ruang keluarga. Aku mendapati Kak Putri menangis tersedu-sedu di hadapan Bunda dan Bunda Laura. Mereka semua menoleh ke arahku ketika mendapati aku membawa kopor besar.

“Faiz…?? Tenang nak, bunda sudah tahu, Putri sudah cerita semuanya. Kumohon jangan lakukan ini!” pinta Bunda. Ia juga bersedih, matanya berurai air mata.

“Aku sudah katakan. Aku tak akan memaafkannya!” kataku.

“Faiz, aku akan menjemput Iskha, aku akan mengembalikan dia kepadamu tapi kau jangan pergi, aku mohon. Maafkan aku, maafkan aku Faiz!” Kak Putri menjerit sambil menangis.

“Aku sudah bilang aku tak akan memaafkanmu! Jangan pernah mengharapkan aku kembali lagi ke sini. Soal warisan, biar ayah berikan saja ke anaknya yang lain. Aku tak berminat, sejak dari dulu aku tak berminat. Kak Putri, aku muak melihatmu!” kataku.

Setelah itu aku melangkah pergi. Kak Putri menahan kakiku. Bunda juga menarik tanganku.

“Faiz, kumohon jangan pergi! Kumohon!” kak Putri dan Bunda melarangku.

Aku terus melangkah sambil menyeret mereka. Mereka berusaha mencegahku untuk pergi. Sudah cukup aku tak memaafkan mereka lagi.

“Demi Bunda Faiz, tolong jangan pergi! Aku akan menghukum kak Putri, tapi kau jangan pergi! Kumohon! Bunda akan bantu mencari Iskha, tapi jangan pergi! Apa yang harus bunda bilang ke ayahmu? Bunda tak tahu apa yang akan bunda katakan kepada ayahmu!” kata bunda.

“Faiz, tolonglah kasihanilah Bundamu. Bundamu tidak bersalah, jangan begini Faiz!” kata Bunda Laura.

Aku meronta sehingga tangan bunda terlepas dariku. Aku lalu menarik kakiku dengan kasar sehingga terlepas dari tangan Kak Putri. Aku lalu berjongkok di depan Kak Putri Wajahku mendekat ke wajahnya.

“Kak PUtri sekarang menangis? Kehilangan orang yang dicintai kan? Kehilangan orang yang disayangi kan? Kakak sekarang tahu bukan rasanya? Rasakan itu. Meneror Iskha, membuat dia takut, mengusir dia. Aku sama sekali tak memaafkan hal ini. Jangan pernah memaksaku lagi untuk pulang. Mau kakak mati kek, mau hidup, mau sakit, aku tak akan lagi peduli ama kakak. Sejak kecil aku melindungi kakak, selalu membela kakak, menyayangi kakak sekarang inikah balasannya?”

Setelah itu aku beranjak meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah aku tempati selama lebih dari sepuluh tahun. Aku ke mobil Lotusku hasil dari menang balap liar. Aku memilih mobil ini karena mobil ini aku dapatkan dengan perjuanganku. Sedangkan mobil Honda City itu adalah dari uang ayahku. Aku sudah bertekad tak ingin menerima uang dari ayahku lagi. Aku sengaja tak membawa ATM dan kartu kredit dari ayahku. Aku hanya membawa ATM dari uang tabunganku sendiri. Yang aku dapat dari hasil balap liarku. Entah nanti aku akan kerja apa di luar sana.

Aku membuang ponselku agar mereka tak menghubungi aku lagi. Aku mengambil uang yang ada di dompetku lalu aku sebar di halaman. Itu uang yang diberikan oleh ayahku. Aku buang semuanya.

Kak Putri masih menangis dan memanggil-manggil namaku. Aku pun pergi. Selamat tinggal keluarga Hendrajaya. Selamat tinggal Mas Pandu. Selamat tinggal masa kecilku.

NARASI PUTRI

“Faizzz…maafkan kakak, maafkan kakak!” aku menjerit sejadi-jadinya.

“Putri, sudah put!” Bunda mencoba menghiburku.

“Bunda, Faiz bunda. Maafkan Putri bunda, maafkan Putri…Faiz….!” aku hanya bisa memelas melihat Faiz pergi dengan mobilnya. Ia tak akan kembali lagi. Aku baru kali ini melihat kemarahan Faiz. Aku memang bersalah. Entah kenapa aku bisa melakukan itu. AKibat hal ini aku kehilangan Faiz untuk selamanya. Aku sudah merampas hidupnya. Aku menyesal. Menyesal sekali. Kini dia membenciku, pergi dari rumah.

Bunda lalu memapahku ke kamar. Kami berdua sama-sama bersedih. Aku masih menangis sambil memeluk bantal. Aku berbaring di kamarku. Bunda mencoba menenangkanku. Bunda Laura juga demikian. Kulihat Pandu dan Juni melongok dari pintu. Mereka keluar ketika Faiz pergi.

“Sudah kubilang, Faiz akan marah,” kata Pandu.

“Kamu tahu ini semua kenapa tak bilang ke Bunda?” tanya Bunda.

“Itu dosanya Kak Putri, bukan dosaku,” jawab Pandu. “Kalau aku di posisi Faiz, aku akan melakukan hal yang sama.”

Pandu lalu pergi bersama Juni. Aku menangi lagi.

“Sudah put, sudah. Ibu juga bersedih,” kata Bunda.

“Bunda, …bunda jangan marahi Faiz ya, kumohon. Ini salahku, semua salahku,” kataku.

“Iya, bunda tak akan memarahi Faiz. Bunda janji,” kata Bunda.

“Satu lagi bunda…aku…sedang mengandung anaknya,” kataku.

“Apa??!” Bunda dan Bunda Laura terkejut.

“Kamu yakin itu anaknya?” tanya Bunda Laura.

“Iya…, ini anaknya. Sebulan ini aku hanya melakukan dengan dia saja,” jawabku.

“Lalu kenapa kau tak bilang ke Faiz biar dia tidak pergi. Mungkin dia bisa memaafkanmu!” kata bunda.

“Dia tak akan memaafkanku bunda. Bagaimana mungkin ia akan terpengaruh kepada anak ini? Bunda lihat sendiri bagaimana dia marah bahkan aku mati pun dia tak akan peduli.”

“Trus bagaimana sekarang?” tanya bunda.

“Aku tak tahu bunda. Yang jelas, aku tak ingin menggugurkannya. Aku ingin merawatnya sebagai kenang-kenangan dari Faiz. Aku akan menyayanginya Bunda. Bantulah Putri melahirkan anak ini bunda. Bunda bisa kan?” tanyaku.

Bunda lalu memelukku. “Putri…kamu adalah anak bunda. Bunda pasti akan meyayangimu, bunda akan lakukan apa saja untukmu.”

Perasaanku sedikit tenang sekarang. Aku mengusap-usap perutku. Anakku…maafkan ibu ya nak. Seharusnya semuanya tidak seperti ini. Tapi kalau kamu lahir nanti jangan marah sama ayahmu ya, marahlah sama ibumu nak. Ibumu yang salah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*