Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XV

Anak Nakal Season 2 BAB XV

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XIV

BAB XV

When The Hatred Comes

NARASI PUTRI

Menang, aku menang. Puas sekali rasanya. Mengusir Iskha, dan kemarin aku memberikan obat perangsang ke Faiz. Gilaaaaa….aku sampai melayang. Faiz sampai lima kali orgasme non-stop. Gila…gila bener. Tapi dia melakukannya dengan membayangkan Iskha. Padahal aku nggak kepingin seperti itu. Ah, bodo amat. Yang penting sekarang Faiz pasti akan mencintaiku, aku akan memiliki dirinya selamanya. Dasar Iskha, ia tahu kan sekarang bagaimana kekuatan uang??

Seminggu ini aku hampir tiap hari bercinta dengannya. Entah deh, jadi hamil apa nggak. Tapi setiap sperma yang keluar darinya tak aku sia-siakan. Kalau nggak keluar dimulut, pasti nyembur di rahimku. Puas banget aku. Pacarku nggak pernah seperkasa Faiz. Kapanpun aku mau dia pasti siap. Hanya saja, berkali-kali ia selalu membayangkan bahwa aku adalah Iskha. Kenapa selalu Iskha? Kenapa selalu dia?

Sebenarnya tiap hari aku beri dia obat perangsang. Biar dia selalu bernafsu. Dan memang Faiz nafsu banget tiap hari. Seperti hari ini, aku memberikannya jus kesukaannya, kalau kemarin jus mangga, sekarang jus sirsak. Dia senang-senang aja sih tak ada curiga. Aku oral dia, ooh…aku kangen ama penisnya.

NARASI FAIZ

“Kak, sebaiknya kita nggak usah melakukannya lagi ya, aku mohon!” kataku.

Kak Putri kini ada di kamarku. Dan dia ada di atas ranjangku sedang mengoral penisku. Ia seolah-olah tak mempedulikan aku. Sudah seminggu ini dia begitu kepadaku. Ketika malam kadang dia sendiri yang masuk ke kamarku kalau aku tidak masuk ke kamarnya. Dia seperti haus sex. Apa emang nafsunya besar?

“Kenapa sih dek? Kamu katanya mau nolong kakak, nggak papa kalau kakak kepengn ama kamu?” katanya.

“Iya sih, tapi rasanya nggak enak aja. Aku sudah punya Iskha kak, aku tak ingin dia sampai ….,” aku tak meneruskan.

“Sampai apa? Malu punya pacar yang ngentotin kakaknya sendiri?” sambung kakakku.

“Iya,” jawabku jujur.

“Sudahlah Iz, nggak apa-apa. Toh keluarga kita juga melakukannya koq,” katanya.

“Maksud kakak?”

“Oh, kamu belum tahu ya? Sayang sekali.”

Aku tak mengerti apa yang dibicarakan olehnya.

“Ada sebuah rahasia, tapi kamu harus ngeluarin ini dulu ke mulut kakak yach?”

“Ayolah kak, bilang saja!”

“Nggak, keluarin dulu! Aku janji akan cerita tapi keluarin dulu pejuhnya di sini!”

Aku tak bisa apa-apa, akhirnya aku pun menikmati saja oralan kakakku. Dia benar-benar memaksaku untuk bisa ejakulasi. Aku pun mau tak mau harus bisa merasakan sesuatu yang membuatku bisa terangsang. Aku pun membayangkan Iskha yang melakukannya. Dan benar. Ketika membayangkan Iskha, penisku mengeras lebih dari biasanya. Kakakku makin bersemangat, dan setelah beberapa lama mem-blowjobku akhirnya keluar juga.

Kakakku menampung spermanya lalu menelannya. Gila….semuanya ditelan habis. Ia bahkan masih menjilati penisku dan membersihkan sampai tak ada setetes pun sperma tersisa di sana. Gila banget. Aku langsung lemas setelah itu. Entah kenapa kakakku jadi binal seperti ini.

“Nah, sudah kan? Sekarang aku tagih janji kakak. Katakan apa yang aku tidak tahu!” pintaku.

“Baiklah, sesuai janjiku. Sebenarnya bunda Vidia, Bunda Nur, Bunda Laura itu masih satu keluarga sama ayah,” katanya dengan enteng. Seolah-olah hal itu bukan hal yang besar.

“Bullshit!” kataku.

“Kalau nggak percaya, tanya aja sama bunda. Bunda tahu koq. Dan Mas Pandu itu lebih pantas disebut pamanmu daripada kakak.”

“What the fuck are you talking about sis?” kataku. “Ini omong kosog kan?”

“Iz, Faiz. Kamu itu tak tahu apa-apa. Ayah sengaja menyembunyikan hal ini dari kamu. Karena apa? Karena kamu pewaris tahtanya. Dia ingin terlihat semuanya tak seperti yang kau lihat. Ia ingin kamu merasa terhormat. Kamu ngerti nggak sih? Satu-satunya yang tidak ada hubungan sedarah itu ya cuma kita aja. Makanya ayah sangat menyayangi kita daripada keluarganya yang lain,” jelas Kak Putri.

“Omong kosong, aku tak percaya ama kakak,” kataku.

“Kau boleh tak percaya, buktinya sudah ada. Itu Pandu!”

“Kenapa dengan Pandu?”

“Kamu tahu, anak yang dihasilkan dari hubungan sedarah akan punya kelainan paling tidak satu dari enam anak akan mendapatkannya. Dan kamu mendapatinya bukan? Pandu punya kelainan otak. Ayah pasti membayar para dokter untuk tutup mulut, tapi yang jelas ibu pandu itu adalah nenekmu! Dan asal kamu tahu saja, aku sudah mengetahui semuanya. Pandu juga tahu. Hanya kamu saja yang tidak diberi tahu. Karena apa? Karena kamu kesayangan dia Faiz!”

Entah kenapa, aku tiba-tiba benci Kak Putri. Dia pasti bohong.

“Kakak pasti bohong.”

“Buat apa aku bohong? Tenang aja, toh keluarga kita melakukannya sudah lama. Kalau aku dan kamu pun melakukannya juga tak apa-apa kan?”

“Aku benci kalian semua,” kataku. Aku membenarkan celanaku dan segera keluar kamar.

“Faiz! Mau kemana?” tanya kakakku.

“Bukan urusanmu!” jawabku.

Aku segera menuju ke garasi. Di sana ada beberapa mobil. Salah satunya mobil Lotus milik Danny. Aku belum pernah sih mencobanya sejak pertama kali menang balapan itu. Aku sudah membawanya ke bengkel dan mengecek semua mesinnya. Dan sekarang aku ingin mencobanya. Tak ada salahnya kan?

Dengan mobil itu akupun pergi. Penjelasan Kak Putri tadi sungguh mengagetkanku.

***

Entahlah, antara pusing, galau, benci semuanya jadi satu. Aku muter-muter tanpa tujuan. Hingga aku melewati perumahan tempat Bunda Vidia tinggal. Aku pun mampir ke sana. Hari masih siang dan matahari masih terik. Aku mengetuk pintu rumahnya. Tak berapa lama kemudian wajah seorang wanita muncul. Dia Bunda Vidia.

“Ehh…Faiz, masuk masuk!” katanya.

Aku pun masuk.

“Silakan duduk Faiz, mau minum apa? Anak-anak sedang keluar,” kata bunda Vidia.

“Aku hanya ingin tanya sesuatu hal,” kataku.

“Tanya apa ya?”

“Apakah benar bunda Vidia ini saudaranya ayah? Dalam arti kalian punya hubungan sedarah?”

Kata-kataku mungkin membuatnya terkejut. Raut wajah bunda Vidia langsung berubah. Dia yang tadinya cerita sekarang berubah drastis menjadi orang yang ketakutan, sedih, entahlah. Yang jelas wajahnya tak mengenakkan. Kelihatan seperti orang yang sangat menyesal.

“Dari mana kamu punya pemikiran itu?” tanya Bunda Vidia.

“Jujur saja, katanya keluarga ini adalah tempatnya kejujuran. Sekarang aku ingin kejujuran dari Bunda Vidia,” kataku.

Bunda Vidia tak langsung menjawab. Ia memejamkan matanya dan mengusap wajahnya. Sepertinya ia menyimpan sebuah jawaban yang berat.

“Kenapa kalian menyembunyikan ini semua dari aku? Kenapa? Kenapa hanya aku yang tidak tahu???”

“Itu…itu memang tak bisa kami lakukan!”

“Kenapa?”

“Karena ayahmu yang melarang. Ia tak ingin kamu jadi orang yang sama seperti dirinya Faiz…” jelas Bunda Vidia.

Dan tiba-tiba otakku pun serasa dipenuhi dengan seluruh kegelapan. Aku tak percaya keluargaku sendiri serusak ini. Aku marah, emosi, frustasi, depresi. Aku sudah kehilangan Vira, kehilangan Iskha. Kakakku sendiri jadi cewek binal. Pandu sakit. Persetan kalian, brengsek kalian. Kalau kalian memang sudah rusak kenapa tidak mengajak aku rusak sekalian. Kenapa kalian tak ingin aku menjadi ayahku sendiri? Arrgghh…

“Bunda jujur? SUngguh?” tanyaku. Nada suaraku berubah.

“Iya, maafkan kami nak, maafkan!”

Entah setan mana yang merasukiku sekarang ini. Aku benar-benar jijik terhadap keluarga ini. Jijik sekali. Orang yang ada di hadapanku ini sudah tidak aku anggap lagi sebagai seorang ibu. Tapi seorang pelacur.

“Bunda!?” panggilku.

“Iya?”

Aku langsung maju ke dirinya kulumat bibirnya. Bunda Vidia meronta.

“Nak Faiz, jangaaannn!”

“Kenapa? Kalau bunda dengan adik sendiri bisa ngentot, maka aku juga bisa kan? Aku sudah ngentot ama Kak Putri, kenapa tidak dengan bunda sendiri? Yang sebenarnya adalah bibiku? Hah?”

“Jangan Faiz, justru kami tak ingin ini terjadi ama kamu,”

“Terlambat, semuanya terlambat. Aku sudah kehilangan semuanya. Demi Pandu aku mengalah sehingga Vira pergi dariku, lalu Iskha pun pergi, dan kemudian aku punya kakak seorang wanita yang binal. Rasanya sudah klop. Kalian sama saja semuanya. Pelacur!”

Bunda Vidia menangis dalam pelukanku. Ia ketakutan melihat mataku. Entah bagaimana raut mukaku saat itu. Yang jelas aku sangat marah sekarang. Bunda Vidia terus meronta, ia pun berhasil mendorongku. Aku mundur beberapa langkah. Ia segera berlari ke kamarnya. Oh tidak semudah itu. Sebelum ia menutup pintunya aku menendang pintu itu sehingga ia terpental ke lantai. Aku sudah masuk sekarang.

“Faiz, jangaaan! AKu mohon! Aku bundamu!” katanya.

“Apakah ayah ketika melakukan ini juga seperti ini? Atau bagaimana?” tanyaku. “Apa bedanya aku dengan ayah? Toh kalian sudah melewati batas. Kalian melanggar hal-hal yang tabu, apa masalahnya denganku!”

“Hentikaaaaannn!” jeritnya.

Aku lalu merobek baju gamisnya. Tubuh bagian atasnya terekspos. Sebuah bra berwarna hitam yang menampung sebuah payudara besar mungkin seukuran ama bundaku terpampang di sana. Sudah turun sih. Tapi aku tak peduli, aku pun menariknya. Dan tiba-tiba payudara itu seperti melompat keluar. Ia mencoba menutupi miliknya itu. Sial, sok suci banget sih. Aku pun menampar bunda Vidia. Ia langsung tergeletak di lantai. Mungkin ia pusing sekarang.

Aku lalu melucuti baju bawahnya. Kutarik celana dalamnya sehingga aku bisa melihat kemaluan seorang wanita yang tercukur rapi. Aku entah kenapa tiba-tiba nafsuku sudah naik. Kepengen banget rasanya ngentot. Tiba-tiba terdengar suara hatiku.

“Jangan Faiz, jangaaaan!” suara itu menjerit di hatiku. Aku tak peduli, aku sudah terangsang sekali sekarang.

“Faiz, kalau kamu ingin lakukan ini sama bunda, silakan! Bunda pasrah. Ini memang salah bunda, lakukan sekarang Faiz!” bunda Vidia menangis. Tubuhnya sudah melemah.

Bagai kesetanan aku pun melepas seluruh pakaianku. AKu sudah telanjang. Melihat pemandangan seorang wanita paruh baya, masih memakai kerudung dengan baju gamis robek dan tubuh sudah terekspos membuatku makin terangsang. Aku menelan ludah berkali-kali. Tubuhnya pun aku angkat dan kubaringkan di atas ranjang. Bunda Vidia memejamkan mata. Ohh..kenapa aku bisa senafsu ini? Kenapa?

Brengsek ah! persetan. Pergi kau dari pikiranku. Jangan coba halangi aku.

Aku mengulum puting bundaku ini. Warnanya coklat cerah. Aku yakin ketika muda pasti warnanya pink. Kulumat puting itu. Bunda Vidia mendesah. Ia meremas sprei ranjang. Aku meremas dada sebelahya. Nikmat banget, aku rasanya ingin terus berlama-lama menikmati payudara itu.

“Faiizz…terus nak, lakukan saja pada bundamu ini. Bunda memang salah, bunda memang pelacur. Aku sudah janji kepada ayahmu, tak akan menyakitimu. Terus Faiz!” perintah Bunda Vidia.

“Tentu saja,” kataku.

Aku menjilati ketiaknya yang terbuka. Bunda Vidia menggeliat kegelian. Tangan kananku lalu menuju ke memeknya. Kugesek-gesek dengan tanganku dan kubelai. Dia menggeliat lagi. Tapi dia masih memejamkan matanya. Tak berani menatapku. Persetan amat. Dasar pelacur. Aku nikmati seluruh lekuk tubuhnya. Harum sekali. Pantas ayah tergila-gila kepadanya. Kulitnya putih. Ohh…Bunda Vidia.

Dan hari itu pun menyetubuhi istri ayahku sendiri. Entah kenapa aku jadi sangat bernafsu seperti ini. Seolah-olah aku baru saja minum obat kuat atau obat perangsang. Aku gagahi bunda Vidia. Oh…nikmat sekali. Tubuhnya masih seksi walau usianya sudah 40 tahun. Aku terus menggoyang penisku keluar masuk memeknya yang sekarang sudah berlendir. Ini lebih tepatnya aku memperkosa. Aku menikmati tubuhnya yang masih berbalut kerudung. Aku menciumnya saat aku akan keluar. Dan…aku pun meledak hebat di rahimnya. Menumpahkan seluruh pejuhku di sana hingga benar-benar aku yakin penisku sudah kering aku baru mencabutnya.

“Kumohon Faiz, sudah. Keluar dari sini. Kumohon, Faiz!” rintih Bunda Vidia.

Aku belum puas sebenarnya. Tapi melihat dia menangis aku pun jadi iba. Bunda Vidia pun aku tinggalkan dengan tubuh telanjang dan spermaku meleleh di belahan memeknya. Aku memakai bajuku lagi lalu keluar dari rumahnya.

Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Aku tak bisa mengendalikan diriku. Aku seperti terhipnotis, ataukah aku sedang kesurupan? Yang jelas aku sudah berada di jalan raya lagi. Dan aku ingin menemui Bunda Nuraini.

Entah kenapa aku tiba-tiba teringat Bunda Nur. Dia juga termasuk istri ayah yang seksi. Entah kenapa aku nafsu sekali kepadanya. Jam segini, pasti ada di rumah. Aku sampai di rumahnya. Rumahnya sepi. Aku langsung masuk begitu saja, tanpa permisi. Rumahku juga kan?

Ternyata Bunda Nur ada di halaman sedang berkebun. Begitu melihatku masuk ia agak terkejut.

“Lho, Faiz? Nggak tahu tadi Bunda. Masuk aja deh, maaf ya tangan buda kotor,” katanya. “Ada apa?”

“Kepengen ngobrol empat mata ama Bunda Nur,” kataku.

“Oh begitu. Sebentar ya,” katanya.

Dia mencuci tangannya di kran yang ada di halaman lalu mengusapkannya ke dasternya. Di rumah sepertinya tak ada orang. Sepi sekali.

“Kemana Laila dan yang lain Bunda?” tanyaku.

“Oh, yang lain sedang keluar. Bunda sendirian di rumah. Pembantu juga lagi mudik,” ujarnya. “Aku ambilin minum ya?”

Bunda Nur beranjak ke dapur. Dan kembali lagi setan itu menguasaiku. Ketika Bunda Nur sedang berjalan lenggak-lenggok meninggalkanku segera saja aku dekap dia.

“Faiz??!” dia kaget tentu saja.

Bunda Nur meronta dengan perlakuanku ini.

“APa yang kamu lakukan? Faiz, lepaskan!” katanya.

“Kalau ayah bisa mendapatkan adiknya sendiri, kenapa aku tak bisa mendapatkan bibiku sendiri kalau begitu?” tanyaku.

“Faiz…kumohon jangan lakukan ini,” dia memohon.

“Sudah terlambat, aku sudah melakukannya kepada Bunda Vidia. Dan aku inginkan Bunda Nur sekarang!” kataku.

“Faizzhhhhhmmmm…,” mulutnya sudah aku cium. Aku memeluk erat tubuh Bunda Nur. Dia meronta kuat. Aku merobek dasternya dengan kasar. Dia meronta, terus meronta. Mendorongku, lagi dan lagi. Tapi tenagaku terlalu kuat. “Faiz, setan apa yang merasuki kamu?”

Aku menamparnya. Bunda Nur terhuyung dan ambruk. Mungkin terlalu keras tamparanku. Pipinya memerah. Dasternya yang robek membuatku makin bernafsu, segera ia aku angkat dan kuletakkan di sofa ruang tamu. Aku tak peduli dengan pintu rumah yang masih terbuka. Aku juga tak peduli kalau ada orang yang akan melihat kami nantinya, bahkan kalau Laila datang pun aku tak peduli. Aku lucuti seluruh pakaiannya hingga kini Bunda Nur telanjang. Tubuhnya nggak jauh beda ama Bunda Vidia. Bedanya mungkin Bunda Nur lebih kurus daripada Bunda Vidia yang montok.

Aku pelorotkan celanaku. Penisku yang sudah tegang sekarang mengarah ke mulutnya.

“Sepongin Faiz, ayo! Sepongin Faiz sebagaimana Bunda nyepongin ayah!” perintahku.

Bunda Nur masih pusing mungkin karena tamparanku. Ia membuka mulutnya perlahan dan membiarkan penisku masuk ke mulutnya. Ia tak menghisapnya, apalagi menjilatinya. Ia pasif. Aku pun menampar dia lagi.

“Dasar pelacur! Ayo sepong!” teriakku.

Dia sekarnag mengangguk-angguk memblowjobku. Ohhh..nikmat sekali. Aku tambah dengan mencubit puting susunya kuat-kuat. Nafas Bunda Nur memburu. Ia mencoba menampik tanganku. Aku lalu merebahkan diri dengan posisi terbalik. Aku buka selakangannya dan kuciumi memeknya. Karena tubuhnya pendek membuatku agak membungkuk.

“Faizz…jangan Faizzz…kumohon!” katanya memintaku.

“Kamu sepongin aku aja nggak usah banyak bacot. Aku ingin merasakan memekmu ini!” kataku.

Dia pun menurut. Aku kini menikmati memeknya yang berasa asin itu. Gurih juga sih. Kusapu bibir memeknya yang berwarna pink itu. Sudah turun onderdil dua tapi masih enak juga sepertinya. Legit. Lidahku sudah menari-nari di sana. Membuat Bunda dan sekaligus bibiku ini menjerit. Berkali-kali pantatnya terkejang-kejang. Aku menekan lidahku sampai masuk ke dalam memeknya. Bunda Nur tak kuasa lagi ia sudah tak menyepongku lagi tapi meremas rambutku. Lalu klitorisnya aku hisap dengan kuat.

“Bunda keluar Faaiiizz….aaaahhkk…!” keluhnya sambil mengangkat pahanya. Cairan ejakulasinya pun keluar. Bahkan ia squirt beberapa kali sampai membasahi wajahku.

“Dasar pelacur, sama ponakan sendiri doyan kan? Sama anak sendiri juga,” kataku.

Aku lalu berbalik dan sudah siap menindihnya. Aku peluk Bunda Nur. Kuciumi bibirnya. Kuarahkan penisku ke sarangnya. Ia sudah pasrah. Kemudian sekali hentak penisku sudah tertelan oleh memeknya. Kulit kemaluanku merasakan kehangatan yang berbeda. Berbeda dari milik Kak Putri, berbeda dari milik Bunda Vidia, dan milik Bunda Nur juga berbeda. Hahahaha…entah kegilaan apa ini.

Aku menyetubuhi Bunda Nur seperti orang gila, aku bahkan tertawa penuh kemenangan ketika aku menyemburkan spermaku di dalam rahimnya. Tak puas satu ronde, Bunda Nur aku setubuhi sampai tiga kali dengan tanpa jeda. Dan produksi spermaku sudah mau habis ketika wajahnya aku semburkan sperma terakhirku. Kusuruh ia membersihkan penisku dengan mulutnya.

Aku lalu lemas dan ambruk di sofa. Aneh memang. Sekarang aku sudah merasa plong. Plong sekali. Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku?? Seperti baru saja minum obat perangsang….

Apa??? Viagra…fuck! aku ingat sekarang. Aku dulu pernah mencoba obat perangsang. Coba-coba saja sih, perasaan seperti ini. Apa yang terjadi kepadaku, libido ini. Dari obat perangsang. Dulu aku melakukannya sekedar ingin tahu rasanya dan aku seharian coli melulu sampai kering. Ini…ini dia, tapi siapa yang melakukannya? Satu-satunya tersangka hanya satu Kak Putri.

Ketika aku melihat Bunda Nur menangis di atas sofa aku pun menyesal. Menyesal sekali. What the fuck????

“Bunda Nur, apa yang aku lakukan? Apa yang aku lakukan?” kataku gemetar.

“Faiz…pergilah, pulanglah! Aku tak ingin ayahmu tahu tentang hal ini!” kata Bunda Nur.

“Maafkan aku bunda, maafkan aku! Aku tak sadar melakukannya. Aku seperti dipengaruhi oleh sesuatu,” kataku.

Dengan langkah gontai aku meninggalkan Bunda Nur yang tanpa sehelai benangpun terbaring di atas sofa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*