Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XIV

Anak Nakal Season 2 BAB XIV

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XIII

BAB XIV

Pahit

NARASI FAIZ

Kemana Iskha? Aneh dan lucu. BBM tidak pernah dibalas, dibaca pun tidak. Nomornya tak bisa lagi dihubungi. SMS tak pernah sampai. Dan rumahnya tiba-tiba sepi, tak ada siapa-siapa. Apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa kali ia curhat kepadaku tentang terror yang selalu menimpanya. Memang ini sangat tak bisa dimaafkan. Tapi kalau dia pergi juga, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia tak memberiku kabar? Apakah aku punya salah kepadanya?

Aku hanya menerima sebuah surat yang ia tulis. Dia menempelkan surat itu di pintu rumahnya. Aku membaca surat itu.

Mas Faiz yang sangat aku cintai,

Aku sekarang pergi mas. Maaf kalau mendadak dan tidak mengabarimu sebelumnya. Tapi ini adalah keputusanku. Aku tak bisa lagi menemui mas. Maafkan aku ya. Tidak ada kabar tidak ada apa-apa, tiba-tiba menghilang. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi mas. Aku bingung. Ini semua karena keluargaku.

Mas Faiz, jangan cari aku ya. Kumohon. Mungkin takdir cinta kita hanya sampai di sini. Tapi sungguh aku sangat mencintai Mas Faiz. Aku tak akan melupakan Mas Faiz. Semoga Mas Faiz mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari aku. Aku masih ingat tentang first kiss kita. Itu adalah kenangan yang tak akan aku bisa lupakan. Sejak saat itulah aku mencintaimu. Aku cinta Mas Faiz. Aku cinta Mas Faiz. Mas Faiz, maafkan aku. Tapi kita tak bisa bertemu lagi.

Tertanda

Iskha yang mencintaimu

Mataku pun berkaca-kaca. Tidak mungkin. Kenapa harus terjadi lagi. Dulu Vira sekarang Iskha. Iskha, kemana kamu? Kemana kamu?

Setelah hari itu aku pun galau tingkat tinggi. Aku tidak lagi bersemangat sekolah. Setiap pagi biasanya aku menunggu Iskha di pagar sekolah hanya untuk menyapa dia. Sekarang dia tidak ada. Bahkan sampai satpam menutup gerbang pun aku tak melihat lagi wajahnya. Aku pun bertanya ke pihak sekolahan ia sudah pindah tapi tak dijelaskan pindah ke mana. Aneh sekali.

Di Kafe tempat biasanya dia ngamen pun sudah tidak ada dia lagi. Hani sahabat dekatnya pun tidak tahu. Iskha seperti tiba-tiba lenyap. Iskha, kemana kamu?

Erik pun merasakan kegalauanku. Dia menyapaku, “Kenapa kamu?”

“Iskha menghilang, aku tak tahu kemana dia,” jawabku.

“Lho, koq aneh? Perasaan kamu deket banget ama dia,” katanya.

“Nah, itulah. Aku tak tahu apa yang terjadi tapi dia pergi begitu saja. Dia menghilang begitu saja,” kataku.

“Nggak ninggalin pesan?” tanyanya.

“Ada sih, sepucuk surat,” jawabku.

“Boleh lihat?” tanya Erik.

Aku memberikan surat itu kepada Erik. Erik memicingkan mata, mengerutkan dahinya.

“Hmm…parah nih,” kata Erik.

“Kenapa?”

“Kamu punya musuh ya?”

“Kalau perasaanku sih nggak, tapi kalau ada yang nggak suka ama Iskha memang ada. Dia sering diterror.”

“Nah, ini dia. Kira-kira kamu tahu pelakunya? Soalnya sepertinya suratnya ini terpaksa ditulis. Dia sepertinya takut sekali kepada orang yang menerornya.”

“Aku khawatir sekali kepadanya. Takut kalau-kalau terjadi sesuatu kepada Iskha.”

Erik menepuk pundakku, “Jangan khawatir bro. Aku akan bantu kamu. Aku punya kenalan yang bisa mengurus ini. Akan aku cari dia bersama kawan-kawanku.”

“Yang bener Rik?” tanyaku sumringah

“Kau bisa percayakan ini kepadaku,” jawabnya. “Tapi aku tak janji ini akan mudah.”

“Tak masalah, yang penting bisa menemukannya,” kataku.

“OK, no problem,” kata Erik.

“Kau butuh apa aja tinggal bilang, aku akan dengan senang hati memberikannya kepadamu,” kataku.

“Aku tak butuh duit, tenang aja. Aku melakukannya karena kamu temanku. Semenjak kamu mengenal Iskha, kamu berubah. Lebih banyak terbuka dengan teman-teman yang lain. Aku suka Faiz yang ini, jangan seperti yang dulu. Dan menemukan Iskha adalah hal yang paling aku ingin lakukan,” kata Erik.

Aku langsung memeluk Erik, “Makasih Rik.”

***

Aku pulang ke rumah. Rumahku sepi. Sepertinya tak ada orang. Bunda tak ada. Icha dan Rendi tak ada. Pandu ada di rumah. Tapi dia mengurung diri di kamar. Sama seperti sebelumnya. Aku hanya melihat Kak Putri di ruang keluarga sedang menonton tv. Dia pakai tanktop dan hotpants. Di pinggangnya aku sampai lihat G-String yang dia pakai. Pakaiannya menggoda banget.

“Hai Iz, baru pulang?” tanyanya.

“Iya, nonton apa?”

“Ah, cuma sinetron aja.”

Aku langsung merebahkan diri di sofa. Capek banget. Suntuk, stress.

“Mana bunda dan yang lain?” tanyaku.

“Bunda sedang pergi sama Icha, Rendi ama ayah. Pandu ada di kamar,” katanya.

“Oh begitu,” kataku.

“Capek yah? Aku buatin minum ya?” kata Kak Putri menawarkan diri.

“Tumben baik,” kataku.

“Halaah, emangnya selama ini nggak baik?”

“Hehehehe, nggak koq, bercanda. Boleh deh.”

Kak Putri mengedipkan matanya kepadaku. Aku mulai malas-malasan di kursi. Iskha, lagi-lagi Iskha. Wajahnya terus terbayang dibenakku. Aku pun memasang earphone ke telingaku. Kuputar rekaman lagu-lagunya. Dan semua kenangan itu kembali ada di kepalaku. Kenangan tentang Iskha. Aku seolah-olah masih bisa merasakan sentuhan bibirnya, aku juga masih bisa merasakan ciumannya, halus kulitnya, bau rambutnya. Aku ingat semuanya. Iskha jangan pergi, kumohon. Engkau adalah nyaawaku, bagaimana aku bisa hidup tanpa dirimu???

“Hoi!” Kak Putri mengagetkanku. Earphoneku dilepasnya. “Dipanggil daritadi malah bengong.”

“Sorry, nggak denger,” kataku.

“Nih, minumannya. Jus mangga. Kesukaanmu,” katanya.

“Siapa bilang aku suka jus mangga, jus sirsak kali,” kataku.

“Jus Sirsaknya nggak ada, adanya jus mangga. Mau nggak nih? Kalau nggak aku minum lho,” kata Kak Putri sambil bersiap meminum jus itu.

“Iya deh, iya deh!” aku merebut gelas berisi jus mangga itu.

Aku kemudian meminumnya. Seger dah, lumayan. Ia sepertinya senang aku meminum jus buatannya. Kak Putri tersenyum sambil menatapku.

“Apaan? Ngelihat terus, ada yang aneh ama mukaku?” tanyaku.

“Aku suka kalau kamu minum jus kaya’ gitu. Jadi teringat waktu kamu kecil merengek minta jus mangga,” jawabnya. “Kamu nangis ama bunda buat dibuatin jus mangga, trus aku yang buatin. Ekspresimu minum itu masih sama.”

Melankolis banget sih Kak Putri. Tiba-tiba ia langsung duduk di sampingku dan memelukku. Aku meletakkan jus mangga ke meja. Kak Putri tiba-tiba langsung menciumku. Wah, dia mulai kepengen nih.

“Kak Putri kepengen?” tanyaku.

“Tahu aja,” jawabnya.

“Kak, aku minta maaf. Tapi,…rasanya aku tidak ingin deh, meneruskan hal ini,” kataku.

“Maksudnya?”

“Ini itu salah kak, kita itu melakukan hubungan incest. Ini nggak bener,” kataku. “Kalau kakak sampai hamil gimana? Aku nggak mau keluarga ini hancur gara-gara ini.”

“Ayolah Iz, kakak udah horni nih. Petting aja deh gak papa. Yang penting puasin kakak,” katanya.

“Kak..???”

“Ke kamar yuk!” ajaknya. “Ssshhh…Jangan sampai Pandu tahu.”

Aku pun ditarik olehnya menuju ke kamarnya. Entah kenapa aku tak menolak. Begitu kami sudah masuk kamar dan mengunci pintu Kak Putri langsung menciumiku dengan ganas. Ia melepas seragamku, lalu dia langsung melepas bajunya. Dalam sekejap kami sudah telanjang bulat. Kak Putri terus menciumiku dan menyuruhku untuk meremas dadanya. Petting aja? Dasar, nyatanya kepengen ngentot juga.

Kak Putri menciumi seluruh tubuhku, lalu ia berlutut di hadapanku. Dengan penuh nafsu dia melumat penisku. Dikulumnya penisku dengan mulutnya yang seksi itu. Ouuwwhhh…siapapun pasti bakal takluk dengan blowjob dari Kak Putri ini. Aku lemas, penisku seperti dipelintir-pelintir. Jelas saja ia sudah pengalaman banyak, kalau dibandingkan dengan Iskha, maka Iskha tak ada apa-apanya. Dia cepat sekali mengocok penisku dengan mulutnya itu. Ganas sekali. Penisku makin lama makin tegang. Hampir saja aku keluar tapi dengan cepat Kak Putri berdiri. Sehingga penisku berkedut-kedut karena hampir keluar.

Ladies and gentlemen, tiba-tiba saja libidoku naik. Tidak cuma itu, rasanya aku makin bernafsu saja. Iskha….lagi-lagi aku ingat dia. Entah kenapa tiba-tiba aku meliha Iskha ada di depanku, aku melihat Kak Putri sebagai Iskha. Aku merindukan dia. Aku langsung memeluk bayangan Iskha, aku menciumnya, kulumat bibirnya. Kuremas dadanya. Kami lalu bergumul di atas ranjang. Aku benar-benar bernafsu sekarang. Kuhisapi puting susunya, kuberikan rangsangan-rangsangan. Ohh…Iskha…aku rindu kamu. Biarlah aku curahkan rinduku ini sekarang.

“Ohhh…Faiz!” aku dengar suara erangan kakakku. Aku tiba-tiba tersadar. Ini bukan Iskha.

Aku terdiam dan melihat wajah Kakakku. Dia tersenyum kepadaku. Tapi kemudian berubah lagi menjadi Iskha. Aku kembali menciumnya, Kemudian tangannya mengarahkan penisku ke lubang memeknya. Gatal sekali rasanya ketika ujung penisku digesek-gesekkan di bibir vaginanya. Rasanya ingin saja kutusuk. Kakinya melingkar di pinggangku dan aku pun mendorongnya. BLESSS….

Wajah Iskha tiba-tiba berubah menjadi Kak Putri. Tidak, aku tidak akan ngentotin Iskha, karena aku sudah janji tak akan menyentuhnya sampai kita menikah. Ini Kak Putri. Ini Kak Putri. Tidak, aku tak mau melakukan ini. Aku memang tak ingin melakukannya tapi aku tak bisa menolaknya. Aku menggoyangkan pinggangku maju mundur secara otomatis. Menggesek-gesekkan kemaluanku di dinding kemaluan Kak Putri.

Fuck…fuck…fuccccckk! Yang terjadi biarlah terjadi. Aku percepat goyanganku.

“Aaahh…Faiz, robek memek kakak, ayo yang kencang, biar robek memek kakak!” kata Kak Putri.

“AAAAAAHHHHHHH……,” aku pun keluar. Kak Putri melenguh panjang. Kami orgasme bersama-sama.

Walaupun sudah keluar anehnya aku tidak lemas. Aku masih bersemangat. Dan aku menggarap kakakku lagi dengan berbagai gaya. Entah apa yang terjadi kepadaku kenapa aku sampai kesetanan seperti ini. Yang jelas setelah aku menumpahkan spermaku lima kali ke dalam memeknya aku pun lemas. Kak Putri tampak terlihat puas.

Aku tak terasa hari sudah larut. Penisku ngilu sekali.

“Makasih ya Faiz, hari ini kamu luar biasa. Memek kakak sampe ngilu,” katanya.

Aku tak menjawabnya. Aku segera ambil pakaianku. Kupakai lalu keluar kamarnya. Mungkin Kak Putri merasakannya, tapi aku sama sekali tidak. Rasa bercinta ini hambar. Atau mungkin malah pahit. Tak ada nikmatnya berciuman, tak ada rasa. Aku tak mencintai Kakakku. Itu mungkin sebabnya. Aku cuma berciuman dengan Iskha saja rasanya selangit, tapi tidak dengan kakakku.

(bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*