Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XIII

Anak Nakal Season 2 BAB XIII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XII

BAB XIII

I Hate You

NARASI ISKHA

Tentunya kabar mengejutkan tentang Mas Pandu ini membuatku juga shock. Pasti Faiz juga bersedih. Aku dan Faiz sedang jalan-jalan di lapangan sepak bola sambil membicarakan hal ini. Sekolah elit ini emang gedhe. Punya lapangan basket, sepak bola dan lapangan baseball. Mas Faiz tampak bersedih.

“Sebentar lagi kenaikan kelas,” ujarku. “Mas udah punya rencana mau kuliah di mana?”

Mas Faiz mengangkat bahu.

“Koq nggak tahu sih?” tanyaku.

“Aku belum kepikiran sampai ke sana. Ingin menikmati masa putih abu-abu dulu deh,” jawabnya. “Tapi aku kasihan ama Pandu, belum lulus tapi dia sudah harus pakai kursi roda. Di rumah ia shock banget, bahkan marah-marah. Salah sedikit marah, ini marah itu marah.”

“Yah, mungkin dia sedang tertekan mas. Nggak banyak orang yang bisa menerima kenyataan nggak bisa jalan lagi,” kataku.

“Tapi, aku lihat Vira selalu menyemangatinya. Mungkin karena alasan Vira akhirnya dia lambat laun mengerti dan bisa menerima,” katanya.

“Mbak Vira setia banget ya sama Mas Pandu,” kataku.

“Iya, tentu saja,” katanya. “Vira adalah hidupnya Pandu, kalau tanpa Vira mungkin Pandu sekarang ini sudah tiada.”

“Sebentar lagi kan dia lulus. Trus habis itu pisah dong sama mas Pandu?” tanyaku.

“Betul juga ya, sepertinya begitu. Tapi kalau dari apa yang aku lihat, dia tak mungkin begitu saja meninggalkan Mas Pandu. Terlebih lagi dia sudah memberikan banyak hal kepada Mas Pandu.”

Aku melihat dari jauh seseorang yang didorong dengan menggunakan kursi roda. Itu mereka! Aku bisa melihat Mas Pandu didorong dengan menggunakan kursi roda. Seorang gadis cantik rambutnya panjang, matanya tampak bersinar, pupilnya sangat gelap, bibirnya tipis dia lebih tinggi dari aku. Itu adalah Vira.

“Itu mereka,” kataku.

Faiz menggandeng tanganku dengan erat, entah kenapa. Seolah-olah ia tak ingin lepas dari aku. Atau mungkin ada alasan lain? Apakah karena Vira? Kami pun berpapasan.

“Hai, Mas Pandu, Vira?!” sapa Faiz.

“Hai Bro, mau kemana?” tanya Pandu.

“Mau pulanglah,” jawabku.

“Oh, nggak bawa kendaraan?” tanya Pandu.

“Nyante aja, aku mau nemenin Iskha jalan-jalan dulu,” jawab Faiz.

Mataku tak berkedip melihat Vira. Aku iri. Iri sekali. Dia lebih cantik dariku. Aku tahu sekarang kenapa Mas Faiz dulu memilihnya. Dan kalau aku merasa cemburu, maka itu wajar. Dia menyibakkan rambutnya yang menutup matanya. Aduuh…cakepnya, aku yang sesama wanita saja bisa iri. Dan aku bisa merasakan tangan Mas Faiz erat sekali menggenggam tanganku.

“Ya sudahlah, aku mau pergi. Hati-hati Vir, jangan dijatohin!” kata Faiz.

“Iya,” jawab Vira singkat.

Vira tak banyak bicara. Tapi ia juga dari tadi menatapku. Seakan-akan berbicara, “Apakah kau yang sekarang jadi tambatan hati Faiz?” Dan tatapan mataku pun membalas dengan perkataan, “Iya, aku sekarang jadi tambatan hatinya.” Kami pun berpisah. Kami berjalan beberapa meter menjauh dari mereka, lalu tangan Faiz mengendur. Kenapa?

“Kenapa tangan Mas tadi menggenggam tanganku erat?” tanyaku.

“Karena aku takut,” jawabnya. Ia menghentikan langkahnya. Aku pun ikut berhenti. Aku menoleh kepadanya.

“Takut apa?”

“Aku takut aku kehilangan dirimu. Aku takut kalau aku melihat Vira lagi aku akan melupakan dirimu, aku tadi megenggam erat tanganmu karena aku tak ingin lari darimu,” katanya sambil menatap mataku tanpa berkedip. Mas Faiz jujur kepadaku. Berat memang melupakan cinta pertama, aku bisa merasakanmo itu. Dan mungkin Mas Faiz adalah cinta pertamaku. Yang sebelumnya? Anggap aja cinta monyet.

***

Sebenarnya teror itu belum selesai. Setelah aku diberikan kardus berisi bangkai kucing. Beberapa minggu kemudian dikirimi bangkai tikus. Lalu dikirimi bangkai kepala anjing. Dan itu yang paling membuatku shock. Ayahku sampai marah dan menyuruh pihak kepolisian untuk menangani kasus ini. Awalnya dikirim tanpa kurir, tapi setelah itu dikirim pakai paket eskpedisi resmi. Hanya saja alamat pengirimnya palsu semua. Polisi pun sampai bingung menangani kasus ini. Akhirnya setiap paket yang datang kepada kami untuk sementara ini kalau dari orang yang tidak dikenal langsung kami buang.

Tak hanya itu saja. Ternyata ada juga surat. Seminggu ada dua kali surat. Isinya senada. Tulisan haters. Misalnya “AKu Benci Kamu”, “PELACUR MURAHAN”, “PERGI KAU DARI SINI!” Apa-apaan sih? Siapa juga yang mengirimi ini. Sebegitu bencinyakah dia kepadaku? Aku sampai tak habis pikir.

Akhirnya kami pun melaksanakan Ujian Akhir Semester. Aku tentu saja sangat percaya diri. Belajarku nggak bakal sia-sia. Singkat cerita ujianku memuaskan. Aku dapat nilai yang paling tinggi di kelas. Itu juga aku sangat terkejut. Aku naik kelas. Mas Faiz juga, iya dong. Dia peringkat pertama di sekolah ini. Dan mbak Vira sudah lulus. Akhirnya tak ada lagi penghalang hubunganku ama Mas Faiz. Setidaknya dengan tidak adanya mbak Vira di sekolah, aku tak perlu lagi merasa cemburu ketika kami berpapasan. Setelah kenaikan kelas ada libur panjang sebenarnya. Hanya saja ada kejadian yang sangat menyakitkan sampai aku tak pernah menduganya ini bakal terjadi.

Pada liburan sekolah ini jadwal manggungku padat. Aku tidak lagi mengisi di Kafe Brontoseno untuk beberapa waktu, karena ngisi di beberapa tempat. Kemudian juga ngisi jumpa fans, sampai capek rasanya. Ada salah satu event organizer yang mengontrakku untuk manggung di sebuah Konser salah satu band papan atas. Tentu saja kami sangat senang. Seminggu bisa tiga kali manggung. Dan aku butuh tenaga ekstra tentunya. Salah satu yang perlu dijaga adalah aku nggak boleh makan gorengan, harus banyak-banyak minum air putih.

Biar pun jadwal manggungku padat, Mas Faiz setia banget dampingi aku. Duh, udah kaya’ suami istri aja. Hihihi, kemana-mana lengket kaya’ perangko. Apalagi ketika aku manggung ia pasti ada di deretan paling depan. Dia bilang aksi panggungku selalu luar biasa. Makasih mas atas pujiannya. Tapi semenjak jadi pacarnya lagu-lagu ciptaanku kebanyakan selalu romance, teman-teman bandku saja sampai mengatakan ini itu “efek jatuh cinta”. Aku ketawa aja mendengarnya.

Malam ini akhir dari manggungku. Semua kontrak udah selesai. Duit sudah dikantongi dong. Waktunya pulang. Sekali lagi aku dianter ama Mas Faizku yang cakep.

“Kamu bisa lihat nggak pake lensa kontak merah kaya’ gitu?” tanyanya.

“Sebenarnya sih nggak, tapi berhubung aku konsen ama nyanyi jadinya ya nggak kerasa,” jawabnya.

“Ohh, gitu.”

Aku sudah melepas lensa kontakku dan memakai kacamata minusku lagi. Di mobil ini aku masih ingat bagaimana aku petting ama dia dulu. Aduhhh….kalau ingat itu lagi jadi gimana gitu. Untungnya energiku selalu aku arahkan untuk gerak dan latihan, sehingga kalau untuk masalah horni pasti aku bisa mengontrolnya. Nggak tahu Mas Faiz. Apa dia ingat ama kejadian itu atau nggak? Atau ia malah sering bayangin itu sampe “self service”? Aku sejujurnya nggak pernah melakukan “self service”. Kalau lagi kepengen ya…itu tadi yang penting gerak sampe keringetan dan sampai nggak kepengen lagi.

Kami sebenarnya bercumbu sudah beberapa kali. Dan Mas Faiz termasuk lelaki yang kuat tidak mengajakku untuk melakukan ML. Dan lucunya setiap kali petting akulah yang selalu memintanya, kadang juga mancing. Trus dia sendiri yang nanggepin. Hihihi. Hari ini aku ingin ngasih dia sesuatu. Rencananya aku ingin melakukan oral sex ke dia. Tapi nggak tahu ia mau apa nggak. Aku beberapa kali ini melihat bokep lewat internet, gimana sih caranya blowjob. Aku juga sampai belajar buku Kamasutra. Iya, emang lebay, trus ngapain? Emang nggak pernah ML.

“Mas, berhenti di depan situ deh, sebentar!” kataku.

“Ok,” katanya.

Mobil pun berhenti. Tempat itu lumayan sepi dan gelap. Sebenarnya tinggal satu blok lagi kami sudah sampai di rumahku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Matiin mesinnya dong!” kataku.

Ia memutar kunci kontak. Mobil pun berhenti. Ia juga mematikan lampu.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku segera mengusap-usap dadanya. Kumundurkan kursinya sehingga aku dan dia sekarang bisa berpelukan. Ia rupanya tanggap dan segera melumat bibirku. Kami berciuman dengan ganas. “Hmmhhh….muachh…hhmmm,” keluhku.

Hari ini aku sudah berniat untuk memberikan sesuatu yang spesial. Aku pun mengelus-elus batangnya yang besar itu. Besar banget dan panjang. Begitu aku elus-elus tambah keras saja. Aku pun berinisiatif.

“Aku buka ya?” tanyaku.

Ia mengangguk. Segera kubuka ikat pinggangnya. Kemudian kancing celananya, lalu resletingnya. Kuturunkan celananya dan menyembulah sebuah tongkat lunak hangat berurat. Gede banget. Sudah mengacung seperti Menara Eifel. Hihihi lebay ah…

“Hari ini, aku mau ngasih mas sesuatu, sudah siap?” tanyaku.

“Sesuatu apa?” tanyanya.

Aku mendekatkan wajahku ke penisnya itu. Kucium kepala penisnya. Ada bau khas pria di sana. Sesuatu yang sangat berbeda dengan bau milik wanita. Tapi aku baru tahu seperti ini bau Mas Faiz. Kutempelkan hidungku di kulit batang kemaluannya dan kuhirup dalam-dalam aromanya.

“Oohh..Iskhaaa….ahhh!”

Aku genggam batangnya lalu aku jilati. Ku remas-remas, kukocok lalu dengan perlahan kujilati di belahan kepalanya. Menurut buku Kamasutra itu salah satu tempat yang bisa menstimulus libido laki-laki. Kemudian aku ke buah dzakarnya. Mulutku sudah menangkap satu bola. Mas Faiz meremas rambutku, pinggulnya menggeliat.

“Ohh…Iskhaa..hhmmhh…” katanya dengan mata terpejam. Ia sangat menikmati ternyata. Aku lalu segera memasukkan ujung penis itu ke mulutku. HAP!

Rasanya seperti apa yaa…ya seperti kulit sih, rasanya seperti ketika aku mencium leher Mas Faiz. Ada rasa keringat. Ada rasa seperti agak asin, tapi lembut. Rasa seorang lelaki. Lidahku aku putar-putar di kepala penisnya. Mas Faiz keenakan lagi. Kugelitiki penisnya hingga ia melenguh berkali-kali. Menggeliat.

“Iskhaa…kamu apain itu….enak banget,” ujarnya.

Hihihi. Aku lakuin lagi, sambil kepalaku aku majuin pelan-pelan, lalu aku mengulum batangnya. Kepalaku naik turun sambil kuhisap. Sesekali aku berhenti mengocok penisnya dengan tanganku, tapi lebih ke menghisapnya sampai pipiku kempot. Ketika itu aku pun meremas buah dzakarnya. Itu akan memberikan efek melayang kepadanya. Dan benar. Mas Faiz matanya terpejam dan pasrah. Ia pasti keenakan. Aku kemudian mengocok penisnya, lalu lidahku berputar-putar di kepala penisnya, sambil terus kuhisap.

“Isskhaa…jangan! Aarghh..aku mau keluar…!” katanya.

Aku tidak pernah merasakan rasa sperma laki-laki. Hari ini aku ingin merasakannya. Mas Faiz sudah jadi milikku. Aku ingin membuat dia tak pernah melupakanku. Aku ingin menampung spermanya di mulutku. Ini semata-mata untuk orang yang aku cintai. Aku pun makin cepat mengocok penisnya dan mulutku menahan kepala penisnya.

“Iskhh….uuuggghhh…..KELUARRRRR!” jeritnya.

Penisnya berkedut-kedut. Sebuah semburan cairan panas menyemprot mulutku. Rasanya asin, kental, gurih, amis…campur aduk jadi satu. Banyak sekali, entah berapa kali kedutan penis itu menyemprot. Aku tetap menahannya hingga benda itu tenang tidak menyemprot lagi. Pipiku sekarang tembem, menampung mungkin ada setengah gelas sperma. Kuambil tissue. Kemudian kumuntahkan di tissue itu hingga semua isinya tumpah di sana bersama ludahku. Tampak sperma Mas Faiz yang asin itu kental, berwarna putih dan sedikit berbusa. Mungkin itu karena campuran ludahku. Sebagian spermanya sudah masuk ke kerongkonganku tertelan. Agak gimana gitu rasanya. Tapi aku tak merasa jijik sama sekali. Karena ini aku lakukan demi cintaku kepadanya. Cintaku kepada Mas Faiz adalah seutuhnya.

“Iskha, kamu…,” Mas Faiz tak melanjutkan kata-katanya.

Aku lalu membuka kaca jendela mobil dan membuang tissue yang penuh sperma tadi.

“Enak?” tanyaku.

Mas Faiz mengangguk.

“Mau lagi?” ledekku.

“Ya kalau boleh sih,” ujarnya.

“Huuu…maunya,” aku mencubit perutnya. “Ntar yah, kalau kita udah resmi suami istri. Mas Faiz minta kapanpun aku akan memberikannya. Anggap saja ini hadiah biar Mas Faiz nggak lupa kepadaku.”

“Tidak kamu beri pun aku tak akan lupa padamu,” kata Mas Faiz sambil mengusap pipiku.

Wajahku tiba-tiba memerah. Habis dioral eh dia malah tambah romantis. Aku jadi malu.

****

Tak berapa lama mobil sudah ada di depan rumah. Setelah mas Faiz menciumku ia pun pergi. Hmm, lampunya koq sudah mati sih? Padahal masih jam sepuluh malam. Aku membuka pintu rumah. Lho, nggak dikunci? Saat aku masuk tiba-tiba lampu menyala. Dan…ada yang aneh. Seluruh perabot yang ada di rumahku tidak ada. Pianoku, tidak ada. Lemariku, foto-foto yang ada di dinding, mesin jahit ibu, sepedaku juga. Ada apa ini? Kemana semuanya? Dan di sana ada seorang wanita duduk di sebuah kursi menghadapku.

“Selamat malam Iskha,” sapanya.

“Siapa?” tanyaku. “Ayah? Ibu? Bayu??”

“Tak perlu khawatirkan mereka. Mereka semua sudah aku suruh pergi jauh beserta barang-barang mereka. Di depanmu ada sebuah rekomendasi pindah sekolah ke kota lain,” kata wanita itu.

Aku melihat sebuah map yang berisi kertas-kertas. Aku pun mengambil map itu. Di dalamnya ada surat rekomendasi dari Diknas bahwa aku telah menyetujui untuk pindah ke sekolah lain. Apa-apaan ini? Siapa wanita ini?

“Maaf, membuatmu bingung. Aku Putri Hendrajaya, kakak Faiz. Hari ini, aku ingin kamu tidak ada lagi di kota ini,” katanya.

Aku terkejut,”Apaa?? Ti…tidak bisa begitu!”

“Kenapa tidak? Semua kepindahanmu sudah selesai, hanya kamu saja yang belum pergi. Seluruh barang-barang semuanya sudah diangkut tadi siang. Aku sudah mentransfer ke rekenigmu uang sebesar 700 juta. Dengan uang sebesar itu kau bisa memulai kehidupan baru. Dan sekarang aku minta, jangan pernah menemui Faiz lagi, jangan pernah datang ke sekolah lagi, jangan pernah menghubungi dia lagi, dan jangan pernah mencintai dia lagi!”

“Apa-apaan ini? Kau kakaknya Mas Faiz? Kenapa? Kenapa mbak melakukan ini? Apa salahku?”

“Salahmu? Salahmu adalah karena engkau telah merebut Faiz dariku! Dan aku tak terima ini, aku tak terima. Faiz adalah milikku untuk selamanya!” kata Putri. Dia kemudin berdiri dan berjalan menghampiriku. Ia mencengkram leherku sambil menatap tajam mataku. “Ingatlah, kalau sekali lagi kamu mencoba menghubungi Faiz, menemuinya, atau masih di kota ini, ingatlah nyawa keluargamu ada ditanganku. Apa kamu ingin Bayu yang masih kecil itu aku hilangkan dari hadapanmu?”

“Jangan! Jangan mbak, jangan! Kumohon lepaskan mereka! Kenapa harus keluargaku? Mereka tak ada hubungannya ama masalah ini,” kataku gemetar. Jelas sekali yang ada di hadapanku ini sekarang benar-benar wanita terjahat yang pernah aku kenal.

“Tentu saja ada hubungannya. Tanpa mereka, aku tak ada senjata untuk bisa mengusirmu. Ingat! Sekali kamu menghubungi Faiz…itu akhir dari keluargamu!” ancam Putri. Dia lalu melepaskan cengkramannya.

Dia mengeluarkan sebuah kertas dan pena. Ia menyerahkan dua benda itu kepadaku. Aku menerimanya.

“Tulislah pesan terakhirmu untuk Faiz. Aku bukan wania yang jahat sepenuhnya. Paling tidak hal itu akan membuatnya tenang dengan kepergianmu,” katanya.

“Jangan mbak, kumohon. Aku tak bisa hidup tanpa Mas Faiz!” kataku memohon.

“Jadi apakah kira-kira hadiah-hadiah yang aku kirimkan dari bangkai kucing oh, sebenarnya itu kucingku sendiri yang aku bunuh. Lalu tikus, anjing apa nggak cukup? Kamu mau bangkai adikmu juga?” ancamnya.

“Tidak mbak, tidak! Baiklah, baiklah! Aku akan menurut. Aku akan menulis. surat buat Mas Faiz,” kataku.

“Bagus, sebaiknya kamu cepat menulisnya. Karena sebentar lagi kamu akan dijemput oleh orang yang akan mengantarkanmu ke rumahmu yang baru. Aku sudah membelikan rumah buatmu, bahkan di sekolahmu yang baru nanti aku juga sudah mengurus semuanya. Aku tidak jahat-jahat amat kan?” katanya.

Putri kemudian pergi keluar rumah. Aku berbalik melihatnya yang dengan tenang berjalan keluar rumah. Tampak di luar sebuah mobil sedan hitam sedang menunggunya. Sebelum masuk ke mobil ia menatapku tajam sambil melambaikan tanganku dengan senyum penuh kemenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*