Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XII

Anak Nakal Season 2 BAB XII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB XI

BAB XII

Spark

NARASI DONI

Aku lagi-lagi mengunjungi sekolah anakku Faiz dan Pandu. Aku ingin tanya saja kabar keadaan Pandu kepada dokter yang aku pekerjakan di sekolah ini. Dr. Dhana. Sebenarnya boleh dibilang Dr. Dhana ini adalah dokter pribadiku dulu, tapi setelah itu aku memberikan dia pekerjaan di sekolah ini. Gajinya cukup besar untuk seorang dokter, karena ia selain jadi dokter untuk para siswa juga jadi “dokter” khusus. Ya, pakai tanda kutip.

Seperti hari ini, aku ada di ruangannya sedang berciuman dengan dia. Ciuman panas dan hot. Walaupun aku sudah beristri dan berkeluarga dengan wanita-wanita yang aku cintai. Tapi aku tetap tak bisa lepas dari statusku sebagai PK (Penjahat Kelamin). Entah mungkin emang sudah sifatku. Sifat jelek ini tak bisa lepas begitu saja. Saudara-saudaraku sendiri aku hamili semuanya, bahkan keponakanku sendiri juga demikian. Tapi, aku tidak pernah melakukannya kepada anak-anakku, jangan sampai deh. Cukup berhenti di aku saja penyakit family compo ini.

Kuhisap leher Dhana, kulepas kemejanya satu persatu. Jas dokternya kulepas. Wajah Dhana sudah pasrah. Kami sudah melakukannya berkali-kali setiap kali aku berkunjung di sini. Bahkan keperawanannya pun akulah yang merobeknya dua tahun lalu. Dalam sekejap tubuh bagian atasnya sudah terekspos. Payudaranya masih kencang, maklum belum turun onderdil. Ia mengeluh berkali-kali ketika lidahku sudah menjilati dadanya dan memainkan putingnya. Kuhisap puting berwarna coklat ini.

“Uuuggghh….Don…hmm….dasar, tua-tua keladi, teruss…!” katanya.

“Kamu juga suka kan?” tanyaku.

Ia meremas-remas senjataku dari luar celana. Punyaku sudah mengeras sekarang. “Aku suka yang ini, sangat membuatku ketagihan,” katanya.

Ia lalu melepas ikat pinggangku. Celanku diturunkan dan kini tubuh bagian bawahku sudah tak ada penutup. Kulepas sepatuku. Dhana pun berlutut. Ia langsung melahap kepala penisku, dibasahinya benda lunak-lunak keras itu. Lebih dari itu dijilati dan kemudian dia hisap-hisap buah pelerku. Owwhh…enak banget. Aku perhatikan wajah Dhana. Ia memejamkan mata meresapi rasa penisku.

Walaupun usiaku hampir kepala empat tapi tetap aku masih sanggup untuk menggagahi para wanita seperti Dr. Dhana ini. Dhana sesekali mengapit penisku dengan payudaranya. Dia melakukan titfuck. Dan dia melakukannya sambil menjilati lubang kencingku. Karena aku makin bernafsu segera aku naikkan dia dan kurebahkan di atas meja kerjanya. Persetanlah dengan kertas-kertas yang ada di atasnya. kupelorotkan rok dan celana dalamnya hingga ia telanjang bulat.

“Nafsu banget?” tanyanya.

“Udah nggak tahan,” kataku.

Dia mengakangkan kakinya. Aku siapkan pusakaku di depan lubang kenikmatan miliknya. Klitorisnya aku colok-colok dan kugeseki. Dhana menjerit kecil. Ia sudah basah di bawah sana. Bibirnya dia gigit, tangannya menggapai lenganku. Matanya memohonku untuk segera memasukkan punyaku ke dalam sarangnya. Aku lalu memasukkannya. SLEBBB!

“AAaahhh…sama seperti ketika pertama kali kau gagahi aku, masih keras dan panjang,” kata Dhana.

Aku pun menggerakkan pinggulku maju mundur. Suara beceknya kemaluan kami serta rintihan Dhana membuat ruang UKS ini kian panas. Dhana sudah memejamkan matanya, merasakan tiap gesekan kulit kemaluan kami. Kedua tanganku pun aktif meremasi toketnya yang lumayan besar itu. Ukurannya cukup besar untuk wanita seusia dia, 36B. Mirip toketnya ibu hamil. Tapi ia tak pernah suntik silikon. Tentunya aku tahu mana yang suntik silikon ama yang tidak. Suntik silikon itu tak selembut ini, payudara dokter ini kenyal, lembut, enak diremas.

Puas dengan gaya misionari, aku balikkan tubuhnya. Kini ia tidur tengkurap di atas meja kerjanya. Kedua payudaranya menempel di atas meja. Kalau dari depan mungkin akan terlihat buah dadanya yang montok dan wajah mesumnya. Sangat wajar misalnya kalau aku bernafsu sekali kepada dia. Apalagi pantatnya bahenol dan menggoda untuk disodok. Dia lebih mirip Vidia, istriku. Maka dari itulah aku sama sekali tak kecewa dengan affair ini. Gaya doggy style ini adalah salah satu favoritku, karena aku bisa membelai punggung dan menyodok pantatnya.

Aku menggoyangnya hingga ia ampun-ampun. Suara decitan meja kerjanya makin membuat gaduh ruang UKS.

“Pak…enak paaakk….oooohhh….ohhh!” jeritnya. Mungkin bisa-bisa jeritannya terdengar sampai keluar ruangan.

Makin lama makin licin saja ini lubang memeknya. Aku terus bersemangat menggenjotnya, sementara memeknya terus memijat-mijat batangku. Aku tak takut ia mau hamil atau tidak, aku selalu mengeluarkan spermaku di dalam sana. Entah sudah berapa wanita yang aku hamili. Terus terang pesonaku tak hilang walaupun usiaku sudah tidak muda lagi. Buktinya masih banyak orang yang mengantri untukku. Dan, aku mau nyampe ini rasanya. Aku lalu menjambak rambutnya. Dhana menaikkan kepalanya. Ia tahu kalau aku akan keluar.

Dhana mulai menaikkan tubuhnya pantatnya ikut dia goyangkan. Payudara Dhana bergoyang-goyang. Menggairahkan sekali. Aku meremas-remasnya. Sementara itu penisku makin keras, keras, keras. Akhirnya meledaklah semburan lahar lendirku. Satu, dua, tiga, empat aaahhhh….nikmatnya. Penisku berkedut-kedut, entah berapa banyak yang tumpah di rahim Dhana. Setelah itu aku mencabut kemaluanku. Spermaku sebagian meleleh keluar.

“Aahhh….nikmat banget,” kataku.

Dr. Dhana tampak lemas. Nafasnya terengah-engah. Dia mengambil kursi dan duduk di sana. Dia mengambil tissue di atas mejanya dan mengelap lelehan sperma agar tak mengotori kursi. Aku maju ke arahnya mengarahkan penisku ke wajahnya. Dhana segera melahap dan membersihkan penisku. Ouuhhh…nikmat sekali.

Setelah pertempuran itu aku pun membenahi bajuku, membetulkan dasiku. Sebentar lagi jam istirahat. Nggak lucu kalau murid-murid memergoki diriku sedang ngentot di dalam ruang UKS dengan dokter UKS sekolah. Dokter Dhana pun membuka pintu yang dikuncinya.

“Kau masih hebat, usia sudah tidak muda lagi lho,” katanya.

“Tentu saja, punya istri empat nggak cukup bagiku,” kataku.

“Dasar, tua-tua keladi,” kata Dr. Dhana.

“Aku ingin tanya keadaan Pandu di sini. Apa dia baik-baik saja?”

“Semenjak dia pingsan, sementara ini sih belum ada lagi perkembangan yang signifikan.”

“Apa dia pernah mengeluh di UKS, misalnya sakit atau apa?”

“Semenjak pingsan itu tidak.”

Aku pun merenung. Dokter memang telah memvonis kelainan otak pada Pandu sudah lama. Aku yakin setelah ini efeknya akan terasa. Mulai pingsan, hilang keseimbangan, kaki lumpuh, tubuh lumpuh, tidak bisa menulis, dan terakhir fungsi otaknya terhenti. Dan itu saat-saat terakhirnya. Ketika aku memberitahukan kepada Pandu kondisi dirinya, ia sama sekali tak shock harus bagaimana. Ia malah dengan enteng berkata, “Trus aku harus mengasihani hidupku?”

Memang sebagai seorang ayah, aku serba salah. Mau gimana lagi? Dia adalah anak bundaku. Ya, hasil hubunganku dengan ibu kandungku sendiri. Memang keturunan dari incest pasti akan ada sebuah penyakit atau kelainan. Aku sudah menyadari akan hal ini. Awalnya aku kira aku akan memberikan perusahaanku kepada Pandu, tapi melihat kondisinya seperti ini, aku takut hal yang sama akan menimpa anak-anakku yang lain yang juga dari hubungan incest. Maka dari itu aku memilih Faiz. Dia dan adik-adiknya satu-satunya yang tidak ada hubungan incest.

Aula satu-satunya istriku yang bukan keluargaku. Dan memang diantara istri-istriku aku paling mencintainya. Dan itulah sebabnya aku pun mencintai anak-anaknya. Faiz mendapatkan kedudukan yang lain dimataku. Dia berbeda dari semua anak-anakku. Yang paling pintar, yang paling semangat, tidak pernah malas dan selalu menjadi juara kelas. Maka cocoklah kalau aku memilihnya daripada Pandu.

Tiba-tiba dari luar ada beberapa orang anak berlari ke UKS.

“Bu dokter, bu dokter!” seru mereka.

“Ada apa?” tanya Dr. Dhana.

“Pandu pingsan lagi!” katanya.

Tak berapa lama kemudian Pandu yang tak sadarkan diri dibawa ke ruang UKS dengan bantuan teman-teman mereka. Dia langsung ditaruh di atas ranjang pasien. Aku langsung menemaninya. Dr. Dhana memeriksanya.

“Nggak apa-apa, ia hanya kecapekan,” kata Dr. Dhana.

“Syukurlah kalau begitu,” kataku.

“Tunggu saja, sebentar lagi juga akan sadar koq,” kata Dr. Dhana.

Aku pun menemani Pandu di ruang perawatan. Sampai ia sadar. Begitu ia sadar, ia agak kaget melihatku.

“Ayah?” kata-kata itulah yang keluar pertama kali dari mulutnya.

“Kau tak apa-apa?” tanyaku.

“Sepertinya begitu. Aku tadi seperti melihat kilat gitu setiap aku melangkahkan kaki. Tapi aku duga itu cuma perasaanku saja. Lambat laun makin terlihat dan tiba-tiba aku tak bisa merasakan kakiku. Lalu aku tak sadarkan diri,” jelas Pandu.

“Trus?”

“Hei…mana kakiku?” tanya Pandu.

“Apa maksudmu? Itu kakimu,” jawabku.

“Ayah,Ayah! Tidak, aku tidak bisa merasakan kakiku sendiri!” ujarnya.

“Kau tidak bercanda kan?”

“AKU TIDAK BERCANDA! AYAH! Tolong! Tolong kakiku. Aku tak bisa menggerakkannya. Ayah….aku tak bisa merasakan kakiku! Ayaaaahh! Kembalikan kakiku, kembalikan!” jerit Pandu.

Pandu berteriak histeris. Ia tak bisa lagi merasakan kakinya. Aku tak menduga secepat ini. Sungguh. Setelah itu aku pun memanggil ambulance dan langsung membawanya ke rumah sakit. Akhirnya, hari itu pun dinyatakan bahwa Pandu tidak bisa menggunakan kakinya lagi untuk selamanya dan harus naik kursi roda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*