Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB XI

Anak Nakal Season 2 BAB XI

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB X

BAB XI

Kenapa?

NARASI PUTRI

Aku bersalah kepada Faiz. Aku hanya memanfaatkannya saja. Itulah yang terjadi sebenarnya. Hanya karena aku diputusin pacar dan dikhianati aku teganya memanfaatkan adik sendiri. Ia pasti marah kepadaku. Dengar-dengar ia mulai move on sekarang dengan teman sekolahnya. Denger kabar sih seorang penyanyi, seorang anak band. Aku pun penasaran seperti apa sih cewek yang mampu menaklukkan hati adikku ini.

Tentu saja aku sudah tahu tentang Vira yang sekarang jalan ama Pandu. Well, boleh dibilang selera Faiz ini boleh juga ya. Vira itu ideal banget. Sayang sekali ia tak mendapatkannya. Beruntung si Pandu.

Aku sendiri tak terlalu dekat dengan Pandu sebenarnya. Aku lebih dekat dengan Faiz karena memang kami lahir dari rahim yang sama. Mungkin karena itulah aku nyaman dengan Faiz. Sejak kecil Faiz itu selalu melindungiku. Mungkin karena dia adalah anak laki-laki pertama. Sejak kecil ayah menasehati Faiz untuk melindungiku, karena dia adalah anak laki-laki. Dan nasehatnya itu berhasil. Dia pasti melindungiku, ketika aku sakit ia pasti merawatku dan aku jadi terlalu butuh kepadanya.

Faiz pun juga demikian. Ia sangat menyayangiku. Mungkin saja akulah yang terkena sindrom suka kepada saudara sendiri. Karena itulah aku tahu mencintai saudara sendiri itu tidak baik, itu hal yang tabu dalam masyarakat. Aku pun mulai membuka diriku untuk cowok-cowok yang mulai mendekatiku. Akhirnya aku pacaran. Satu orang, dua orang, tiga orang, dan yang ketiga inilah aku melepas keperawananku. Jangan dibandingin ama penisnya Faiz, dia mah kecil. Karena aku belum pernah pengalaman ngentot, maka aku kira ya penisnya normal. Tapi setelah itu aku putus. Pacaran berikutnya kami juga melakukan ML. Dan aku mulai lebih terpuaskan hanya saja. Dasar brengsek, dia mengkhianatiku. Hampir semua pacarku hanya memanfaatkanku. Pacar pertama hanya ingin uangku, pacar kedua hanya ingin namaku dan ia memanfaatkanku untuk maksud yang jelek. Pacar ketiga orangnya bodoh. Pacar keempat brengsek. AKhirnya aku kira semua laki-laki itu sama saja.

Tak ada yang seperhatian Faiz. Tak ada lelaki yang lebih baik daripada dia. Jadi, rasanya tak salah kalau aku menyukainya. Tak salah dong aku mencintainya. Ahhh…aku akhirnya mendapatkan keperjakaannya. Sejak saat itulah aku cinta ama Faiz. Aku nasehati dia untuk move on karena tidak bisa bersama Vira. Kan ada aku. Tapi ternyata dia punya pilihan lain. Iskha.

Dia selalu cerita kepadaku, Iskha, Iskha dan Iskha. Kalau dari arti nama berasal dari kata Isk bahasa India artinya cinta. Iseng saja aku cari di youtube seperti apa sih band The Zombie Girls itu? Dan aku cemburu. Sang vokalis itu, aksinya di panggung luar biasa. Aku saja yang nggak tahu tentang band lokal ini jadi tertarik ama lagu-lagunya.

Sore itu aku mengikuti Faiz. Dia menjemput pacarnya. Rumah pacarnya bukan rumah mewah. Biasa saja. Aku nggak menyangka Faiz bisa semesra itu dengan pacarnya. Aku masih mengikutinya, mereka masuk di sebuah Kafe. Oh, ini ya kafe yang sering dibicarakan Faiz. Dia memang cantik, pantas Faiz tergila-gila kepadanya, tapi aku juga cantik koq. Aku cantik. Siapa bilang aku jelek?

Tapi dia pintar bermain musik. Faiz sendiri di ponselnya menyimpan lagu-lagu pacarnya itu. Dia dengarkan setiap hari. Aku sempat melihat playlistnya. Semuanya adalah suara si Iskha. Dia benar-benar tergila-gila ama cewek ini. Aku pun masuk saja ke kafe itu. Diam di mobil juga nggak ada hasilnya. Aku menjauh dan mengamati Faiz dari jauh. Dia duduk dengan seorang pegawai dari kafe ini. Tampaknya mereka juga saling kenal. Setelah pertunjukan musik selesai, Faiz pun berpisah dengan pegawai kafe ini. Ia keluar bersama Iskha.

Aku mengamati mereka saja dari dalam kafe. Di luar mereka berpelukan. Duh…sakit hatiku. Faiz, apa nilai lebih dari Iskha? Apa yang tidak ada pada diriku tapi ada pada dirinya? Duh, mereka berciuman? Wajah mereka mendekat. Mereka berciuman? Tak berapa lama kemudian mereka pergi. Aku buru-buru menyusul mereka.

Ternyata Faiz tidak memulangkan pacarnya. Dia menuju ke sebuah tempat yang jauh dari jalan pulang. Di sini ternyata ada balapan liar. Aku melihat dari jauh, bagaimana Faiz berlomba malam itu. Ternyata Faiz suka balapan liar ya? Aku baru tahu. Sebab ia tak pernah cerita tentang hal ini. Dan dia menang malam itu. Aku masih mengikutinya setelah itu.

Dia menuju jalan pulang ke rumah Iskha. Tapi kenapa mobilnya diparkir agak jauh dari rumah? Mana gelap lagi? Aku tak jelas apa yang mereka lakukan di sana. Aku pun penasaran. Aku turun dari mobil dan mencoba mendekat ke mobil itu. Mungkin karena kegelapan inilah yang sedikit menguntungkanku. Mereka tak melihat aku mengintip mereka. Mereka….oh tidak, Faiz… kau membuat hatiku sakit. Kamu melakukan hal itu dengan dia?? Kamu bercinta dengan dia??

Air mataku meleleh. Aku segera berbalik dan meninggalkan mereka di dalam mobil. Aku masuk ke mobilku dan menangis. Faizku sekarang sudah punya tambatan hati. Dia sudah benar-benar move on. Faiz…. kenapa kita harus menjadi saudara? Aku mencintaimu. Kembalilah kepadaku. Kembalilah ke Kak Putrimu. Aku pun pulang setelah itu.

Setelah pagar dibuka oleh satpam aku segera memasukkan mobil ke garasi. Kemudian buru-buru masuk ke dalam kamar. Kukunci pintu kamarku dan aku menutup mukaku dengan bantal. Siapa lagi yang bisa menyayangiku sekarang? Satu-satunya orang yang bisa mencintaiku sekarang telah punya tambatan hati. Hancur hatiku. Ayahku sudah sibuk dengan dunianya, ibu juga sudah tidak perhatian lagi, dan kini Faiz. Kubenamkan wajahku dalam bantal dan aku berteriak keras. Suaraku tertahan di dalam bantal sehingga tak terdengar apapun.

Aku terbakar rasa cemburu. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku marah. Marah sekali. Faiz, adikku yang aku cintai. Yang aku sayangi.

Tunggu dulu….Tidak. Ini tak boleh terjadi. Aku tak akan ijinkan Faizku direbut olehnya. Tidak oleh siapapun. Sekarang saatnya aku harus memperoleh apa yang menjadi kebahagiaanku. Sejak aku kecil aku ditinggal oleh ayah kandungku. Aku dikhianati oleh pacarku. Masa’ aku harus ditinggalkan oleh Faiz juga? Tidak. Kau boleh menang sekarang setan kecil. Tapi aku akan merebut Faiz darimu. Faiz hanya milikku. Milikku selamanya. Kalau aku tak bisa mendapatkan Faiz, maka kau juga tak akan bisa mendapatkannya. Itulah janjiku.

****

NARASI ISKHA

Ahhh…segarnya tubuhku pagi ini. Udaranya sejuk. Hari minggu, ngapain enaknya? Biasanya sih aku jalan-jalan buat olahraga. Aku mengambil ponselku. Eh, ada BBM dari Mas Faiz. Aku buka, ada foto dia barusan bangun tidur. “Aku mimpi basah nih tadi malam” katanya. Hihihi. Aku kemudian membalasnya, “Kalau mau beneran, sama guling aja”. Dia lalu membalasnya dengan icon senyuman.

Aku ganti baju dengan training dan kaos. Tubuhku sudah kangen ingin digerakkan. Nanti aja deh mandinya setelah berkeringat. Kuambil sepatu kets. setelah itu segera keluar dari kamar. Kulihat piano yang ada di tengah ruangan. Satu-satunya benda berharga pemberian Mas Faiz. Aku selalu memainkannya tiap hari. Benda ini juga membantuku dalam membuat lagu-lagu atau sekedar meredakan emosiku. Ibu dan ayah juga senang koq. Bahkan ayah mulai nyoba-nyoba mainin. Hihihihi.

Aku masih ingat ketika beliau mergoki aku ciuman ama Mas Faiz. Kalau diingat-ingat aku malu sendiri. Habis olahraga, mandi, terus nyuci baju. Kerjaan hari minggu. Apalagi coba? Moga aja Mas Faiz nggak kemari lagi. Malu aku kalau dia ikutan jemurin bajuku. 😛

Aku jadi teringat kejadian tadi malem. Itu pengalaman pertamaku petting. Dan untuk pertama kalinya Mas Faiz menyentuh payudaraku. Dan untuk pertama kalinya aku ngocokin punya cowok. Duh, emang ya yang namanya ngesek itu bikin ketagihan. Sekarang aja aku mikirin Mas Faiz terus. Aku makin sayang ama dia. Tapi aku sungguh bangga jadi pacarnya karena ia berkomitmen untuk tidak ML sampai kami menikah. Entahlah, dia jujur apa nggak. Tadi malem aja hampir saja aku dan dia begituan.

Sebenarnya aku heran. Dia kan katanya bilang Vira itu cinta pertamanya. Tapi koq dia bilang sudah tidak perjaka?? Trus setelah Vira katanya aku. Tapi dia bilang juga prinsipnya adalah nggak bakal ML ama orang yang dicintainya sampai nikah. Lha trus dia ngelakuin sama siapa dong? Duh, aku pusing sendiri mikirnya. Dia nggak mau cerita siapa wanita yang beruntung itu. Eh, beruntung apa nggak sih? Atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku? Tapi aku menyadari koq setiap orang punya masa lalu, ada sesuatu yang pasti disembunyikan, everybody has a secret. Aku tak punya hak untuk memaksanya untuk memberitahu.

Kulihat Bayu sedang nonton acara kartun di tv. Percuma gangguin dia, nggak bakal bergeming sampai acara tv itu selesai. Aku tak lihat ibu, pasti sedang pergi berbelanja. Kulihat ayah sedang ngelap sepeda motornya.

“Pergi dulu yah, lari pagi,” ujarku.

“Hati-hati!” kata ayahku. Dia masih menggosok pelek sepeda motornya yang sebenarnya sudah mengkilap.

Ketika aku keluar ada sebuah kardus di sana. Apa ini?

“Yah, koq ada kardus?” tanyaku.

“Eh, masa’? Buat siapa?” tanya ayah.

Aku lihat ada namaku. To : ISKHA. Aku mengangkat kardus itu. Tak ada nama pengirimnya. Isinya juga tak begitu berat. Aku kocok-kocok, suaranya agak berisik. Gluduk-gluduk! Apaan sih? Jangan-jangan bom lagi. Tapi, ngapain juga aku di bom coba? Aku pun penasaran. Langsung aku buka bungkusnya. Satu lapis, dua lapis….dan aku mencium sesuatu yang aneh. Bau anyir. Ini apaan sih?

Dan ketika sudah terbuka, aku pun terkejut. Aku melompat dan menjerit. Ayah pun segera keluar rumah. Aku segera memeluk ayahku.

“Ada apa?” tanya ayahku.

“I..itu…kucing…kucing mati…!” kataku sambil tergagap-gagap.

Iseng sekali, ini keterlaluan. Siapa? Siapa yang melakukannya? Kenapa? Kenapa????

Segera aku langsung menelpon Mas Faiz.

“Mas Faiz, mas Faiz!” kataku begitu dia mengangkat telepon.

“Ya, ada apa ya?” tanyanya.

“Ke sini mas, cepet ke sini. Cepetan!!” kataku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Sudah, pokoknya ke sini. AKu butuh mas!” kataku sambil menangis.

“Iya, aku segera ke sana,” katanya setelah itu.

Aku lalu ambruk, ayahkulah yang langsung menangkapku. Aku tak sadar setelah itu. Karena benar-benar shock. Dan ketika aku sadar. Ibu, ayah, adikku dan mas Faiz sudah ada di sana. Aku langsung merangkulnya. Aku pun merasa tenang setelah itu.

“Ibu, ayah, bisa tinggalin kami sebentar?” kataku.

Ayah dan ibu saling berpandangan. Kemudian mereka mengajak Bayu pergi. Aku dan mas Faiz berada di dalam kamar.

“Jangan ngelakuin yang aneh-aneh lho ya!” kata ayahnya.

“Tenang aja, aku percaya ama Mas Faiz koq. Aku ingin ngobrol empat mata saja,” kata Iskha.

Setelah semuanya pergi aku lalu mulai menginterogasi mas Faiz.

“Siapa menurut mas yang melakukannya?” tanya

Mas Faiz menatap langit-langit. Ia lalu mengangkat bahu, “Aku tak tahu.”

“Kalau misalnya Vira?” tanyaku.

“Nggak, nggak bakal Vira melakukan ini. Dia lihat darah aja pingsan koq,” jawabnya.

“Siapa tahu menyuruh orang lain?”

“Aku tahu bagaimana Vira. Dia tak akan melakukannya. DIa sudah punya Pandu, buat apa ngejar aku? Kamu masih cemburu ama Vira?”

Aku mengangguk. Eh…dia malah tersenyum. Sebel. Aku langsung pasang muka cemberut.

“Sudah, yakinlah. Vira nggak bakal melakukan ini. Dia terlalu lugu dan polos. Waktu aku ajak balapan liar, dia malah ketakutan. Kamu nggak. Kalian itu beda,” kata Mas Faiz sambil mengusap-usap kepalaku.

“Trus, orang yang pernah mas berikan keperjakaan mas itu? Jangan-jangan dia,” kataku.

“Itu juga nggak bakal,” katanya langsung ia percaya diri sekali bilang itu. AKu jadi curiga siapa orang itu.

“Kenapa? Mas koq tidak pernah cerita tentang dia? Cerita dong!”

“Begini Iskha. Yang satu itu dia tak akan pernah melakukan ini. Aku percaya,” katanya sambil memegah wajahku.

“Alasannya?”

Mas Faiz diam sejenak.

“Kamu tak akan marah kalau aku bicara sejujurnya?” tanya Faiz.

Aku mengangguk. “Kejujuran mas lebih aku sukai, biarkanlah aku nggak penasaran lagi.”

“Dan kamu masih tetap mencintaiku setelah aku berkata yang sejujurnya?”

“Aku janji. Mas benar-benar mencintaiku. Dan aku janji aku tak akan marah, aku tetap akan mencintai mas.”

Mas Faiz mendesah. Mendekatkan wajahnya ke telingaku. Dia berbisik, “Aku melakukan pertama kali dengan Kakakku, Putri.”

JDERRRR!! Aku kaget. Mas Faiz, ama kakaknya sendiri?? No way. Dia pernah melakukan incest…!! Aku terbengong.

“Jangan salah sangka. Aku saat itu melakukannya karena kakakku sedang depresi, ditinggal cowoknya, dikhianati. Dan aku melakukannya karena kasihan kepadanya, ini juga atas inisiatif kakakku sendiri,” katanya lirih, takut ayah dan ibuku dengar. Sebab sudah pasti mereka menguping. Mana mungkin putrinya ditinggal sendirian di dalam kamar.

Aku menunuduk. Kalau dia begituan sama kakaknya ya memang nggak mungkin saudaranya itu berbuat begitu kejam ama aku. Lagian dari semua orang, mas Faiz tak pernah mengajak satupun anggota keluarganya ke sini.

“Lagian kakakku nggak tahu tempat tinggalmu, jadi mana mungkin dia melakukannya? Apalagi di rumah kami punya kucing koq. Dia sangat penyayang ama kucing. Jadi nggak mungkin,” katanya lagi-lagi membela kakaknya. “Sekarang, kamu masih mencintaiku?”

Aku mengangguk pelan, “Sebenarnya aku masih shock. Ternyata orang itu adalah … iya sih, dia mana mungkin melakukannya. Maafkan aku mas. Tapi, mas nggak ngelakuin lagi kan sama dia?”

Mas Faiz menggeleng, “Tidak”

“Syukurlah kalau begitu. Paling tidak, aku tak mau saingannya adalah Kak PUtri. Sebab kalau sainganku adalah dia. Aku pasti kalah. Dia lebih tahu mas, lebih kenal mas, lebih dekat sama mas,…” bibirku tiba-tiba sudah dibekap dengan bibirnya. Aku sedikit kaget.

“Sudah, aku tak mau membahas lagi. Yang jelas sekarang kau sabar, tenang,” kata Mas Faiz setelah menciumku.

Aku mengangguk.

“Mungkin ini perbuatan fansmu yang nggak suka aku jalan bareng sama kamu,” kata Mas Faiz. “Atau perbuatan orang-orang yang nggak suka aku jalan bareng sama kamu. Kamu tahu sendiri di lokerku ada 300 lebih surat cinta. Tersangkanya sangat banyak sekarang ini.”

“Iya mas, benar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*