Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB X

Anak Nakal Season 2 BAB X

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB IX

BAB X

One Step Ahead

NARASI FAIZ

Oke ini agak gila, aku ditantang lagi oleh Danny untuk balapan. Gila apa, apa nggak kapok dia? Tapi memang dia begitu orangnya, kalau dia nggak menang nggak bakal nyerah. Aku sih ok ok aja. Dan kali ini kami balapan di track lurus. Siapa yang paling duluan sampai di garis finish, maka dia yang menang. Tempat yang kami gunakan balapan adalah sebuah jalanan yang memang sepi sih, bekas pabrik. Dan panjang jalan ini 1,5 km. Dan di tengah jalan itu cukup unik ada sebuah rel kereta api yang mana kereta api bisa lewat sewaktu-waktu. Gila bukan?

“Gimana Iz? berani ndak?” tanya Danny.

“Siapa takut. Oke, kapan?” tanyaku.

“Nanti malam?”

“Siap! AYo!”

“Taruhannya agak gedhe kali ini,” tantang Danny lagi.

“Apalagi? Dua puluh juta?”

“Enak aja, siapa yang menang dapatkan mobil yang kalah!”

Wah, berat nih. Dia percaya diri banget. AKu pun menyetujuinya.

“Aku setuju,” kataku.

Gara-gara itu, aku pun mulai memeriksa kondisi mobilku. Dan sejauh ini sih nggak ada masalah. Cek oli, minyak rem, NOS, aki, semuanya beres. Aku pun percaya diri malam nanti pasti menang.

Hari ini seperti biasa, sore itu aku menjemput Iskha di rumahnya. Keluarganya sudah mulai mengenalku. Dan hubungaku dengan Iskha pun sepertinya mereka restui. Dulu sih ayahnya agak galak, sekarang ketika tahu aku nggak seperti orang kaya kebanyakan, mau membuka diri dan bener-bener perhatian kepada putrinya dia pun mulai baik kepadaku. Dan setiap kali aku bertemu dengannya, pasti kami ngobrol panjang tentang masalah kereta api. Ya bagaimana lagi dia kan memang Masinis. Kerjaannya mengoperasikan kereta. Terutama kereta Gajayana. Kadang seminggu sekali baru pulang.

“Aku berangkat ya ayah, ibu,” ujar Iskha.

“Hati-hati!” kata ibunya.

“Faiz, jangan malem-malem nganternya!” kata ayahnya.

“Beres deh,” kataku. “Tapi mungkin agak malem nggak apa-apa ya?”

“Agak malem? Emang mau kemana?” taya ayahnya.

“Ada acara sih, aku mau ngajak Iskha sebentar saja,” kataku.

“Baiklah, malemnya sampai jam berapa?”

“Mungkin jam dua belas, om.”

“Oke, kalau sampai lebih jam dua belas, jangan pernah ngajak putriku keluar lagi.”

“Siap,” kataku.

Iskha membawa gitarnya dan menaruhnya di kursi belakang. Tak berapa lama kemudian mobil sudah membelah aspal.

“Emang mau ngajak aku kemana?” tanya Iskha.

“Sebenarnya, hari ini aku ditantang balapan,” jawabku.

“Hah? Yang bener?” tanyanya.

“Iya.”

“Wow, keren! Pakai mobil ini?”

“Iya.”

“Wah oke oke, aku belum pernah ikut balapan liar. Aku ikut ya. Seru nih kayaknya,” katanya. Ada yang beda dengan Iskha dan Vira. Kalau Vira nggak begitu suka, tapi si Iskha ini sangat semangat sekali. Yah, beda orang ya beda sifat.

Aku sudah mulai melupakan Vira sekarang. Hatiku benar-benar dipenuhi oleh Iskha. Dia selalu berenang-renang di dalam hatiku. Nyanyiannya, suaranya, semuanya. Kami sudah sampai di Kafe. Kami masuk ke sana. Seperti biasa juga ada Hani. Wajahnya lumayan cerah sekarang. Mungkin karena dia kami bantu untuk sekolah lagi. Kami tadi sempat bertemu di sekolah. Dia cukup senang. Bahkan berkali-kali ia bilang berterima kasih kepadaku.

Sebenarnya kepada Iskha harusnya dia berterima kasih. Dialah yang membujukku untuk membantu Hani. Aku tahu ayahku akan mengabulkan permohonanku sebab orangnya juga dermawan koq. Berkat ini juga, hubungan kami dengan Hani juga dekat. Hani dan Iskha selalu bersama-sama, seperti saudara. Entah kenapa rasanya Hani dan aku ini punya daya magnet khusus yang aku tak bisa menjelaskan semua ini. Dia seperti menganggapku seorang kakak. Selama sebulan ini malah ia sering mengikutiku, ingin mengenalku lebih dalam. Kadang pula minta aku ajari untuk beberapa pelajaran sekolah, walaupun sebenarnya harusnya tanya ke Iskha juga bisa. Iskha juga pintar koq, prestasinya di sekolah sangat menggembirakan. Nggak sia-sia sebenarnya dia dapat beasiswa masuk ke sekolah ini. Ia gunakan itu dengan sebaik-baiknya.

“Hai, Mas Faiz!” sapa Hani.

“Hai, juga,” kataku.

“Hai, mbak Iskha,” sapa Hani lagi.

“Hai Non!” Iskha langsung cipika-cipiki dengan Hani.

Yah, seperti malam-malam sebelumnya. Aku menemani Iskha tanpa bosan. Duduk di salah satu meja yang kosong. Menikmati alunan musiknya. Tapi malam ini agak berbeda. Hani menemaniku di meja. Kuharap Iskha nggak bakal cemburu.

“Mas, boleh dong tanya-tanya,” katanya.

“Boleh, ada apa?” tanyaku.

“Ayahnya mas itu orangnya sibuk banget yah? Usahanya apa aja sih?”

“Ya banyak. Mulai dari bisnis waralaba swalayan, properti, makanan dan sekarang sedang mencoba untuk bikin media masa.”

“Woh, keren ya? Awalnya gimana sih bisa segedhe itu?”

“Awalnya ya? Hmmm….beliau nggak pernah cerita sih. Tapi yang jelas dulu ia mulai dari toko kecil, lalu berkembang-berkembang hingga seperti sekarang ini.”

“Kereeenn….besok kalau sudah lulus kepengen deh kerja ke ayahnya Mas.”

“Hahahaha, kamu ini. Ngapain tanya ayahku?”

“Yah, nggak apa-apa kan? Aku juga sudah menganggap mas sebagai kakakku. Dia sekarang jadi orang tua asuhku. Bahkan berani menandatangani surat perwalian, kalau dia jadi waliku. Agak nggak enak aja sih anak yatim piatu dapat orang tua wali seperti beliau.”

“Kenapa nggak enak? Santai aja lagi.”

Malam itu aku ngobrol banyak sama Hani. Tentang dirinya tentunya. Bagaimana kehidupannya selama ini, tentang ibunya, tentang ayahnya yang meninggal ketika dia masih kecil. Walaupun bicara banyak, sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dari diriku. Entah apa. Tak terasa pertunjukan Iskha sudah selesai. Dia pun menghampiri kami.

“Wah, ngobrolnya seru ya? Aku koq nggak diajak?” ledeknya.

“Mbak Iskha cemburu ya?” tanya Hani.

“Nggak, siapa bilang?” elak Iskha.

“Iya, dia cemburu,” kataku.

“Ish…, gak koq,” kata Iskha bersikeras.

“Tenang aja mbak. Aku nggak bakal ngerebut Mas Faiz koq. Aku sudah nganggap dia seperti kakakku. Kalau sampai Mas Faiz naksir aku, aku tabok dia,” kata Hani.

Aku tertawa. Iskha mencoba menahan senyum, tapi tak bisa.

“Pulang?” tanyaku.

“Yuk ah,” kata Iskha.

Setelah membereskan semuanya, kami pun pulang. Iskha berpamitan kepada Hani juga kepada teman-teman bandnya.

“Hati-hati mas bawa barang alus,” ledek temannya.

“Iya dong,” kataku.

Iskha menaruh gitarnya ke dalam mobil. Aku langsung memeluknya dari belakang. Ia pun berbalik. Kening kami saling menempel. Aku agak menunduk dan dia agak mendongak karena aku lebih tinggi.

“Kamu cemburu kan?” tanyaku.

“Nggak usah dibahas ah,” katanya.

“Cemburu juga nggak apa-apa koq. Itu tandanya kamu sayang ama aku,” kataku.

“Mas Faiz, boleh tanya satu hal?” tanyanya.

“Iya?”

“Mas koq nggak pernah mengajak aku Made Love? Aku ingin tahu alasannya. Biasanya cowok-cowok itu kalau sama pacarnya pasti minta yang aneh-aneh.”

“Emangnya kamu kepengen?”

Iskha nggak menjawab. Dia diam seribu bahasa.

“Ditanya koq diem?”

“Kalau mas menginginkannya aku siap koq. Aku mau melepaskan mahkotaku untuk mas.”

Aku menggeleng. “Tidak Iskha, tidak. Hubungan ini bukan untuk siapa untuk siapa, bukan untuk sekedar melepas keperawanan atau keperjakaan. Engkau adalah orang yang aku cintai dan sebelum cinta kita terikat dalam pernikahan aku tak akan melakukannya kepadaku. Ini janjiku.”

Tampak mata Iskha berkaca-kaca, “Oh mass…..” dia memelukku. “Inilah sebabnya aku sangat mencintai mas. Mas itu sempurna di mataku. Nggak seperti cowok-cowok yang lain. Mereka pacaran kalau cuma ada maunya. Tapi nggak bagi mas. Mas lain, Oh Mas Faiz….”

Aku mencium kepalanya. Kudekap erat dia. Tapi memang benar dan aku jujur. Aku akan jaga dia jangan sampai aku ML ama dia sekarang. Aku ingin seluruh cintaku tercurahkan kepadanya nanti kepada ikatan pernikahan.

“Ngomong-ngomong, mas Faiz masih perjaka atau tidak?” tanyanya.

Wah, ini pertanyaan sulit. Apa aku jawab jujur aja ya?

“Iya, aku sudah tidak perjaka lagi,” jawabku. WOi, aku belum sempat mikir. Mulutku tiba-tiba ngomong gitu saja.

Iskha melepaskan pelukanku. Ia memicingkan matanya menatapku. “Sama siapa?”

“Lebih baik aku tak ngomong. Yang jelas, aku sudah jujur kepadamu. Dan tolong jangan tanya siapa ceweknya!” kataku.

Iskha menghela nafas.

“Kamu menyesal pacaran denganku?” tanyaku.

Ia menggeleng. Lalu menatapku. “Aku cuma iri saja ama orang yang membuat mas tidak perjaka.”

“Oh, koq bisa?”

“Ya iyalah, seharusnyakan itu untukku,” kata Iskha. “Aku ingin mas sepenuhnya mencintaiku, tapi ternyata hal itu nggak bisa ya.”

“Aku sudah bilang, cinta tidak dinilai dari perawannya seseorang atau perjakanya seseorang.”

“Tapi tetap aja, ada yang kurang mas. Ya udah deh, mungkin sudah nasib,” katanya sambil menjulurkan lidah. “Aku tahu koq dan mengerti, orang setampan dan sekaya mas ini, pasti banyak yang ngantri sebelum aku. AKu bisa mengerti itu. Dan aku tak menyesal.”

“Oke, jadi kamu tadi cemburu nggak sih?” aku memancing dia lagi.

“Nggak, aku nggak cemburu. Aku tahu koq Hani, aku kenal baik ama dia. Aku cemburu cuma kepada satu orang,” katanya.

“Oh, ya?? Siapa?” tanyaku penasaran.

“Sama Vira,” jawabnya.

Aku terkejut mendengar nama itu.

“Koq bisa? Aku sudah bilang, dia masa lalu aku,” kataku.

“Justru dia masa lalu mas, aku cemburu. Dan aku yakin dia pasti sekarang masih mencintai mas Faiz.”

“Bagaimana kamu bisa tahu?”

“Wanita itu punya feeling mas. Dan feelingku kuat. Orang sebaik mas, selembut mas, tak akan mungkin begitu saja bisa dilupakan dan tak akan begitu saja ditinggalkan. Secara tak langsung dia tak akan sanggup melupakan mas, aku yakin itu. Karena aku juga mencintai Mas Faiz. Dia pasti demikian.”

Entah kenapa kata-kata Iskha itu menusuk. Aku jadi ingat kata-kata Vira. Dia akan berusaha mencintai Pandu sekalipun tidak cinta. Dan dia juga pernah berkata, akan menganggap Pandu sebagai diriku. Aku tak tahu apakah hal itu kan berhasil. Sebab, Pandu bukan diriku kami tak sama. Tapi, aku sekarang sudah ada Iskha.

“Sudahlah, aku tak mau mengingatnya lagi Isk,” kataku.

“Maaf,” katanya.

“Nggak apa-apa, it’s OK,” kataku.

“Jadi kapan kita balapan?” tanyanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

“Kamu sudah siap?” tanyaku.

“Siap dong, yuk?!” ajaknya.

***

Malam itu kami sudah tiba di track yang telah dipersiapkan. Banyak anak-anak muda berkumpul di sana. Musik-musik dari sound mobil berdentuman. Beberapa orang cewek berhot pants dan memakai tanktop berseliweran. Iskha benar-benar excited.

“Ini,…seperti di film-film ya?” katanya.

“Nggak juga sih. Yang di film-film itu terlalu berlebihan,” kataku.

Mobilku pun berhenti di samping mobil Danny. Ia masih memakai Lotusnya.

“Woi, aku datang nih!” kataku. Kemudian aku keluar dari mobil.

“Wah wah, dulu pakai Honda Jazz, sekarang pakai Honda City,” kata Danny. “Emang apa bedanya?”

“Bedalah, Jazz itu milik Pandu, ini milikku pribadi. Nih, surat-suratnya. Kamu menang kamu boleh deh ambil!” kataku sambil menyerahkan ke Henri yang saat itu ada di tengah kami.

“Oke, bagus, ayo Dan, gilirangmu!” kata Henri.

“Kali ini gua yang akan menang,” sesumbar Danny. “Wah, ngomong-ngomong. Udah ganti cewekmu?”

“Kenapa? Kamu nggak bawa cewek?” tanyaku.

“Ikut di mobil juga?” tanyanya. Aku tak menjawab.

Danny mengeluarkan surat-surat mobilnya. Setelah diterima oleh Henri. Kami kembali ke mobil masing-masing.

“Ayo, ayo, ini bakal jadi balapan yang paling seru!” kata Henri.

Mobil kami berdua sudah bersiap di garis start. Henri memberikan instruksi.

“Peraturannya mudah, siapa yang lebih dulu masuk ke dalam pabrik, dialah yang menang. Lihat, ini jalannya lurus sampai ke sana. Kurang lebih 1,5 km. Hati-hati ada kereta api yang lewat tiba-tiba. Kalau kalian sampai ditabrak, ya tewas. Kuharap kalian sudah siap asuransi,” kata Henri.

“Nggak usah khawatir!” kataku.

“Iya, nggak usah khawatir!” kata Danny.

“OK, kita mulai!” kata Henri.

Semua orang bersorak-sorai malam itu. Seorang cewek dengan jaket orange dan hot pants serta high heels maju ke depan. Ia yang akan memberi aba-aba. Mesin mobil kuhidupkan. Kami sudah siap. Sang cewek mengeluarkan sapu tangannya. Danny dan aku berkonsentrasi dengan aba-aba, karena begitu sang cewek menjatuhkan sapu tangan, kami sudah harus melaju cepat.

“Pasang sabuk pengaman Isk, kita akan membelah angin!” kataku.

Iskha mengencangkan sabuk pengamannya. Ia lalu mengusap lenganku. Aku tersenyum kepadanya. Kubelai pipinya, kemudian aku menatap ke depan lagi.

“Ayo, mas Faiz! Jangan kalah,” katanya.

“Tentu saja,” kataku.

Sang cewek pun menjatuhkan sapu tangannya. Aku menekan gas, seketika itu suara roda kami berdecit, seperti terkejut karena tiba-tiba dipaksa untuk melacu dengan kencang. Kedua mobil pun langsung melesat menjauh. Sorak-sorai penonton makin lama-makin hilang. Aku menyandarkan tubuhku ke kursi sambil tetap bersiaga dengan kopling dan tuas gigi. Tanganku hanya sesekali menyentuh kemudi, karena ini track lurus.

Mobil masih imbang, maju barengan beriringan sampai 500m. Danny tiba-tiba menyalakan sesuatu, aku bisa dengar itu, ledakan NOS. Dan bersamaan dengan itu dari arah kiri sebuah kereta api akan melintasi rel. Belum, belum…belummm…kataku dalam hati. Si Danny sudah melesat menjauh melewati rel. Aku terus menekan gas dan gigiku sudah pada top gear. Sementara itu kereta api sudah mulai mendekat. Aku tak yakin apakah kereta api itu akan menyentuhku atau tidak.

“Faiz, Faiz! Ada kereta!” seru Iskha. Ia memegang erat lenganku. Kuku-kukunya hampir saja merobek kulitku. Aku tahu ia tegang, aku juga tegang. Aku membuka sebuah kotak di dekat kemudi. Tombol NOS.

Iskha memejamkan matanya. Ia sudah pasrah, mobilku sampai di rel, bersamaan dengan itu kereta lewat. Suara klakson dari kereta itu terdengar panjang dan keras. Hampir saja mobilku dicium oleh hidung kereta api itu. Dan sesaat setelah melewati rel kereta aku tekan tombol NOS. Terdengar ledakan dari mobilku, seketika itu juga mobil langsung melesat ke depan meninggalkan rel kereta.

Dari depan kulihat mobil Lotus yang melambat. Itu karena Danny terlalu terburu-buru menekan NOS-nya. Sekarang aku pun sudah menyusulnya dan ia mengacungkan jari tengahnya kepadaku dari jendela. Ia tahu ia kalah sekarang. Mobilku pun masuk ke garis finish. Iskha lalu membuka matanya. Aku mengerem penuh, hingga roda mobil berdecit.

Dari kejauhan tampak Danny perlahan-lahan mengerem setelah masuk ke garis finish. Dia menoleh ke arahku. Ia menutup wajahnya. Aku tertawa penuh kemenangan.

“Kita menang mas? Kita menang! YEEEEEYYYY!!!” Iskha bersorak. Ia menggoyang-goyang tubuhku.

Kami kemudian bertemu lagi dengan Henri di tempat semula. Danny dengan wajah jutek menyerahkan kunci mobilnya kepadaku. Lotus men, Lotus!!!

“Sialaaan…mujur banget lo dapat Lotus!” kata Danny. “NOS gua ada gangguan tadi sampai tiba-tiba mobilku jalannya pelan.”

“Lain kali cek dulu kondisi mobilnya dan jangan sembarangan nambahin NOS!” kataku. “Thank’s yah, bokap lo nggak marah kan?”

“Nggak tau,” katanya.

“Peduli amat, hahahaha,” kataku.

“Sialan!” umpat Danny.

“Henri, bawa mobil itu ke rumahku besok. Awas, jangan sampai lecet!” kataku sambil melemparkan kunci kepadanya.

“OK, bro. serahkan saja padaku!” kata Henri.

“Dan, mau aku anter?” ledekku.

“Nggak, makasih, aku jalan kaki saja,” jawabnya.

Aku tertawa.

****

Setelah malam yang panjang itu aku mengantar Iskha pulang ke rumah. Fiyuh….untung masih jam 23.30. Jadi masih bonus 30 menit dong. Aku menghentikan mobil di dekat rumahnya. Yah, tidak jauh-jauh amatlah. Aku ingin mengobrol sebentar ama dia. Tapi tempatnya koq agak gelap-gelap gimana gitu.

“Makasih ya mas, hari ini aku puas banget. Nggak pernah ngerasain balap liar sebelumnya,” katanya.

“Sama-sama aku juga suka koq ditemani kamu,” kataku.

“Ngomong-ngomong koq kita berhenti di sini? Mana gelap lagi?”

“Yah, aku ingin bermesraan sama kamu dululah, masa’ nggak boleh?”

“Hayoo…katanya nanti setelah menikah.”

“Iya, setelah menikah. Aku sudah janji koq. Ku akan tepati janjiku. Aku cuma ingin kita lebih dekat aja. Sini! Duduk di pangkuanku!”

“Tapi bagaimana dengan tongkat persenelengnya?”

“Mundurin saja kursinya,” aku menggeser kursiku hingga mundur ke tengah. Iskha langsung menaikkan kakinya dan ambruk di pelukanku. Ia sekarang ada di pangkuanku. Kakinya ia selonjorkan ke samping. Kedua lengannya melingkar di leherku.

“Mas ingin dicium?” tanyanya.

“Very badly,” jawabku.

Bibir kami bersentuhan lagi. Lalu lidah kami saling berpanggut. Cukup lama aku memanggutnya, melakukan french kiss hingga kedua bibir kami sangat basah. Aku kemudian sedikit memberanikan diri menyentuh perut dan pinggangnya. Lalu bergerak ke atas, menggelitiki punggungnya sehinga dadanya maju ke depan menempel di dadaku. Kursi aku miringkan. Iskha merangkak di atasku. Selakangannya sekarang berada di atas bagian tubuhku yang sekarang sudah menonjol.

Iskha masih menciumiku, aku pun mulai meletakkan tanganku di dadanya yang berukuran 34c itu. Ia melepaskan ciumannya dan mengerutkan dahinya.

“Koq sekarang meraba itu?” tanyanya.

“Kamu suka nggak?” tanyaku.

Ia mengangguk. “Janji lho ya, setelah menikah.”

“Iya, aku janji,” kataku.

Aku meremas payudaranya dari luar bajunya. Ia saat itu memakai kaos dan blazer. Blazernya sudah dilepas olehnya, sehingga aku bisa merasakan branya. Nafasnya mulai berat. Aku kemudian menemukan sebuah tonjolan yang mengeras. Tonjolan itu tentu saja putingnya. Ia memejamkan mata menikmati perlakuanku. Selakangannya mulai menggeseki pusakaku. Ia sepertinya mendapatkan kepuasan dengan cara seperti itu.

“Mas Faizz….ohh…,” keluhnya.

Aku menciumi lehernya yang jenjang. Kukecup lembut, lalu kujilati. Kaosnya aku angkat sehingga secara remang-remang aku bisa melihat payudaranya.

“Mas, kepengen lihat?” tanyanya.

“Kalau boleh sih,” jawabku.

Ia lalu melepaskan kancing branya. Kemudian menaikkan branya, terlihatlah olehku dua buah bukit kembar yang sangat ranum. Bau parfum Iskha sungguh menggairahkan. Aku tak begitu ingat bau-bau parfum, tapi baunya sangat khas. Aku pegang kedua payudara itu. Hangat. Jantung Iskha berdebar kencang saat tanganku menyentuh dadanya.

“Berjanjilah kepadaku mas!” katanya.

“Iya?”

“Janjilah untuk setia kepadaku sampai nanti, sampai maut memisahkan kita,” katanya.

“Aku berjanji,” ucapku.

Aku menggelitiki puting susunya sambil meremas-remasnya. Aku menciuminya lagi. Kami bercumbu dengan hot. Terus terang, aku menikmati petting ini. Kemaluan kami sebenarnya sudah bertemu meskipun terpisah oleh kain. Itu saja membuat Iskha keenakan. Aku menaikkan kepalaku dan kuhisap putingnya.

“Ohh…Masku..,” keluhnya.

Aku terus menghisapnya, ini adalah payudara orang yang aku cintai. Aku berusaha selembut mungkin memberikan sentuhan. Ketika bibirku menyentuh kerutan-kerutannya, kuberusaha selembut mungkin. Lidahku pun berusaha selembut mungkin memberikan stimulus di area sekitarnya. Saat aku menghisapnya juga kubasahi dulu puting itu dengan lidahku, baru setelah itu aku hisap, seolah-olah ada air susu keluar dari sana.

“Maasssss…..ooohhh…!” bisiknya.

Aku melakukan itu gantian kiri dan kanan. Iskha makin cepat menggesek-gesekkan kemaluannya. Ia sudah terangsang berat.

“Masss…aku mau nyampe,” katanya.

Ia makin cepat dan ganas. Dan….Ia memelukku erat. Tubuhnya gemetar. Ia sudah orgasme hanya dengan itu. Ia ambruk di atas tubuhku. Nafas kami terengah-engah. Kami berciuman berkali-kali. Kemudian diam beberapa saat. Kubelai rambutnya, ia menatapku. Jarak kedua mata kami sangat dekat, walaupun dihalangi oleh kacamatanya sih.

“Mas belum keluar ya?” tanyanya.

“Iya,” jawabku.

Tiba-tiba ia bangkit. MAu apa dia? Iskha membuka kancing celanaku, disusul membuka resletingku,

“Eh, mau apa?” tanyaku.

“Masa’ aku aja yang keluar mas belum? Boleh ya?” tanyanya.

“Jangan…” cegahku. Terlambat dia sudah melihatnya. Pusakaku menyembul begitu ia menurunkan celana dalamku. Benda itu berdiri kokoh seperti Tugu Monas. Hehehe lebay.

“Ya ampun, gede banget mas?” katanya. “Pantes aku tadi sampai kerasa padahal cuma digesekin diluar.Aku apain nih?”

“Terserah deh,” kataku.

Tangannya yang lembut mulai memegang pusakaku. Ouuwww…lembut sekali, penisku sampai berkedut hanya karena disentuh olehnya.

“Hihihihi, lucu. Berkedut!” katanya. Ia polos apa gimana ya?

“Kamu pernah lihat?” tanyaku.

Iskha menggeleng. “Jujur ini pengalaman pertama aku megang barang cowok.”

“No way!” kataku.

“Dibilang koq,” ujarnya. Ia lalu mengurut dan mengocok dengan lembut penisku.

“Tuh koq bisa ngocok? Belajar dari mana?”

“Yaelah mas, sekarang ini dari internet bisa didapat macem-macem. Kalau cuma ngocok aku juga bisa,” kata Iskha. “Tapi jangan paksa aku untuk oral yah, aku belum siap.”

“Siapa yang maksa?” kataku.

Ia tersenyum. Dikocoknyalah punyaku dengan lembut. Ia pun memijat-mijat buah pelerku, Ohh…nikmat banget. Ia lalu mempercepat kocokannya, lalu pelan. Kadang juga berhenti. Dia meludahi penisku. Di remas-remasnya kepala penisku dengan ludahnya yang banyak tadi. Aku pun kelonjotan, penisku makin tegang dan makin keras.

“Mau keluar?” tanyanya.

Aku mengangguk. Ia segera mengambil tissue yang ada di dashboard mobil. Ia mengocok sambil meremas-remas kepala penisku dan….Aku menaikkan pantatku, seketika itu ia menempelkan tissue ke lubang kencingku. Spermaku muncrat di sana semua. Iskha mengambil tissue lagi, sambil terus mengocok penisku hingga denyutannya hilang. Ia berhenti mengocok.

“Gila, banyak banget!” katanya.

“Kamu sih, pinter banget,” kataku.

“Padahal aku baru melakukan ini kepada mas Faiz lho,” katanya.

Dengan telaten ia membersihkan penisku yang basah dengan tissue. Setelah bersih aku membetulkan celanaku. Ia juga membetulkan bajunya yang acak-acakan. Ia sisir lagi rambutnya. Kulihat jam di mobil menunjukkan 23.50. Fiyuh, dua puluh menit ternyata aku petting di mobil.

“Makasih ya Iskh,” kataku.

“Aku juga mas,” katanya.

Kami lalu tertawa.

“Udah ah, aku anter ke rumah,” kataku.

Kuhidupkan mesin mobilku lalu kuarahkan sampai di depan rumahnya yang tak jauh dari tempat aku parkir ini. Ia mengambil gitarnya dan keluar dari mobil. Aku mengikutinya. Kami berdiri di depan pagar.

“Makasih hari ini,” kata Iskha.

Aku mencium keningnya. “Sampai besok.”

Ia membelai pipiku. Kemudian ia segera masuk ke pagar, sesaat ia menoleh ke arahku. Dari dalam rumah tampak sang ayah sudah menunggu. Ia sempat melongok keluar. Aku menganggukkan kepalaku dan melambai ke arahnya.

“Malem om, tepat waktu kan?” kataku.

Ia mengangguk, “Iya. Makasih.”

One step closer. Aku makin intim ama Iskha. Dan cintaku makin besar kepadanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*