Home » Cerita Seks Kakak Adik » Anak Nakal Season 2 BAB VIII

Anak Nakal Season 2 BAB VIII

Cerita Sebelumnya : Anak Nakal Season 2 BAB VII

BAB VIII

Mencari Ayah yang Hilang

NARASI HANI

Aku sudah sampai di ibukota sekarang. Sebenarnya juga aku masih bingung dengan kota ini. Angkutan umumnya banyak, Selalu tanya kiri dan kanan. Tujuanku cuma satu, yaitu bertemu dengan Doni Hendrajaya. Dia ayah biologisku. Tujuh belas tahun yang lalu ibuku selingkuh dengan seseorang. Ibuku bernama Dian. Setelah kematian ayahku dialah yang mengurusiku sendirian. Namun akhirnya ibuku pun menyusul ayahku tak berapa lama kemudian. Sebelum beliau meninggal ia berwasiat kepadaku bahwa aku bukan anak kandung ayahku. Aku adalah anak seorang konglomerat. Namanya Doni Hendrajaya. Dulu ibuku berselingkuh dengan dia sehingga lahirlah aku. Dan ini tidak diketahui oleh ayahku. Tentu saja itu pukulan terberat bagiku. Aku tak menyangka ibuku melakukan tindakan seperti itu, mengkhianati ayahku sendiri.

Tapi aku sudah memaafkan ibu. Dan ibu menyesali semuanya. Aku sekarang hanya ingin menuntut pertanggung jawaban kepada Doni Hendrajaya.

Sudah seminggu ini aku berada di ibukota. Aku pun bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Gajinya sih lumayanlah buat hidup. Kafe Brontoseno namanya. Pekerjaan di sini cukup mudah, karena aku bagian kasir. Cuma ngitung uang, tapi juga kadang merangkap melayani pelanggan kalau pelayan yang lain lagi ribet. Kadang juga aku dapat tip.

Aku suka ama salah seorang pelanggan. Dia tipnya sangat besar. Entah siapa namanya aku tak mungkin menanyakan nama ke orangnya. Dia selalu duduk di sebuah meja, sendirian sampai kafe ini hampir tutup. Kudengar sih dia pacarnya salah satu musisi yang ngisi di kafe kami. Dia tiap malam selalu ada di sini. Cakep bangetlah pokoknya. Beruntung banget itu sang vokalis jadi pacarnya.

Ngomong-ngomong soal vokalis, aku kenal dengan vokalis The Zombie Girls ini. Namanya Iskha. Kenalnya juga ya gara-gara dia ngamen di kafe ini. Kalau nggak ya mana bakal kenal? Terkadang juga kalau libur aku diajak ke konser musiknya. Aku pun jadi akrab sama Iskha ini. Orangnya periang, supel, enak deh diajak gaul. Dia juga adalah temanku pertama kali ketika singgah di ibu kota ini. Aku dibantu mulai dari cari kos sampai ngajakin aku jalan bareng ama anggota bandnya. Mereka asyik semua.

“Malem mbak Hani?!” sapa Iskha.

“Malem mbak?! Apa kabar?” balasku.

“Baik,” jawabnya.

Seperti biasa, ia membawa gitarnya dan mulai membuka pembungkusnya. Aku melihat seorang laki-laki duduk di meja yang kosong. Itu lelaki yang aku ceritakan. Iskha menatap ke dirinya penuh arti. Duh enaknya yang pacaran.

“Wah, setia banget sih mbak cowoknya?” kataku.

“Nggak tahu tuh, nempel terus kaya’ perangko. Hihihi,” jawabnya.

“Iya, tiap malam nemenin mbak. Apa nggak ada kegiatan lain dianya?”

“Nggak tahu, tanya aja!” katanya sambil nyengir.

Malam ini pengunjung kafe tak begitu ramai, maka dari itu aku bisa sedikit santai. Aku pun coba mendekati cowok itu. Tampangnya sih bukan dari keluarga biasa. Aku lihat dia memakai syal warna ungu, jaket warna hitam, celana jeans dan sepatu warna coklat. Aku membawa menu dan menanyakan pesanannya.

“Mau pesan apa mas?” tanyaku.

“Ah, seperti biasa aja, Cappucino,” jawabnya.

“Ok,” kataku. “Ada lagi?”

“Nggak tahu deh, udah aja. Nanti kalau tambah aku kasih tahu,” katanya.

Aku pun segera ke dapur memberi tahu pesanan Cappucino. Tak berapa lama kemudian pesanan sudah jadi. Aku segera menuju ke mejanya cowok tersebut.

“Makasih,” katanya.

Aku tak segera beranjak. Aku duduk di kursi di dekatnya.

“Mas cowoknya mbak Iskha ya?” tanyaku.

“Iya,” jawabnya.

“Wah, beruntung ya mbak Iskha. Ditemenin terus kalau malem,” kataku.

“Mau gimana lagi, kalau dia pulang sendirian bahaya kan. Cewek pula,” katanya.

“Bener juga sih. Boleh tahu nama mas?”

“Aku Faiz. Kamu?”

“Aku Hani. Aku juga temennya mbak Iskha. Sering jalan bareng juga. Kami juga kadang curhat-curhatan gitu.”

“Oh ya? Curhat apa saja?”

“Ada deh, itu rahasia cewek. Hehehe.”

“Yaaah…oke deh.”

“Aku tinggal ya mas,” kataku sambil beranjak dan kembali ke tempatku.

“Oke, silakan. Makasih ya,” katanya. Sopan banget.

“Iya, sama-sama,” jawabku.

Malam itu pun berlalu dengan cepat. Bahkan tak terasa sudah selesai pertunjukannya mbak Iskha dan kawan-kawan. Mbak Iskha beres-beres alat musiknya, sama teman-temannya.

“Ok girls, sampai besok yah?” katanya ke teman-temannya.

“Ok, sampai besok,” kata yang lain.

Aku juga sebenarnya udah mau pulang.

“Mau pulang juga Han?” tanyanya.

“Iya nih mbak, mau pulang juga?” tanyaku.

“Iya. Hmm…mau bareng ama aku?”

“Lho, mbak kan bawa sepeda. Aku naik angkot saja, seperti biasa,” kataku.

“Nggak ah, bahaya juga lho angkot malem-malem. Sama mas Faiz aja. Dia bawa mobil koq. Aku tadi bareng sama dia koq. Nggak keberatanlah kalau nambah satu penumpang,” katanya.

“Oke deh,” kataku.

Akhirnya singkat cerita malam itu aku diantar oleh Iskha dan cowoknya. Aku duduk di belakang ditemani gitarnya. Iskha duduk di depan dong mendampingi kekasih tercinta. Selama di mobil ini entah kenapa aku nyaman ya? Apa pengaruh dari cowoknya mbak Iskha. Ah nggak mungkin. Masa’ pesonanya sampai kaya’ gitu. Tapi jujur aku akui cowoknya itu pesonanya luar biasa. Kalau dia punya mobil seperti ini pasti orang kaya.

Tak berapa lama kemudian aku sudah sampai di depan kosku. Aku keluar dari mobil.

“Hati-hati ya mbak!?” kata Iskha.

“OK, makasih banyak,” kataku.

Setelah itu aku hanya melihatnya meninggalkan aku seorang diri di depan rumah kos. Capek rasanya. Aku masuk ke kamarku. Melepas sepatuku. Kukunci pintu kamar dan langsung merebahkan diri. Karena terlalu capek, aku pun terlelap. Tahu-tahu sudah pagi.

***

Hari itu aku libur, karena shift kerjaku. Ada sesuatu yang nggak biasa. Aku punya tamu. Wah, itu mas Faiz, cowoknya mbak Iskha, ada apa ya?

“Eh, Mas Faiz. Ada apa ya?” tanyaku.

“Aku mau minta bantuan nih. Bisa?” tanyanya.

“Bantuan apa ya mas?”

“Begini, sebentar lagi kan Iskha ulang tahun sweet seventeen. Aku ingin memberikan kejutan buat dia. Kira-kira tahu nggak hal yang paling disuka olehnya yang mungkin aku tidak diketahui. Atau mungkin sesuatu yang ia inginkan sejak lama tapi nggak pernah kesampaian?” tanyanya.

“Oh…koq mas tanyanya ke aku?”

“Dia cerita kalau dekat dengan kamu, yah….siapa tahu kamu tahu gitu.”

Aku pun merenung. “Kalau soal apa yang paling diinginkannya dia punya beberapa sih. Diantaranya kepengen ciuman di atas Menara Eifel.”

“Kejauhan woi, yang deket-deket aja,” kata Mas Faiz.

“Hihihihi….hmmm iya. Dia ingin punya piano. Sangat ingin punya piano,” kataku.

“Yang bener? Bukan yang lain? Sepeda motor atau apa gitu? Cincin mungkin? Kalung?”

Aku menggeleng. “Nggak mas. Dia ingin piano. Beneran, suwer. Soalnya dia pernah berkunjung ke mall. Kemudian ada piano di sana yang boleh dimainkan. Ia langsung maen piano di sana. Tentu saja semua orang kagum dong ama permainannya. Dan ia pun bilang kepadaku, kalau saja ia punya uang yang cukup, ia ingin sekali beli piano seperti itu.”

Mas Faiz mengangguk-angguk. “Begitu yah. Oke deh. Besok ulang tahunnya. Aku ingin kalian yang ada di kafe ini kerja sama yah.”

“Dua puluh september ya? Hmm….oke deh,” kataku.

Setelah itu Faiz pergi. Lucu juga ya memberikan kejutan ultah kepada mbak Iskha. Aku pun jadi salah satu pemrakarsa jadinya.

NARASI DONI

Agak lucu ketika hari ini aku diberitahu oleh Faiz dia ingin memperkenalkanku dengan pacarnya. Tujuannya cuma satu yaitu ingin aku menyetujui dan merestui hubungan mereka. Aku berkali-kali sudah bilang, apapun pilihanmu aku ikut. Tapi ternyata Faiz ingin aku melihatnya secara langsung cewek yang menjadi pilihannya itu. Acaranya nanti malam di Kafe Brontoseno.

Aku kenal pemilik Kafe itu, namanya Pak Liem. Salah seorang wirausaha yang terkenal dengan bisnis waralaba Kafenya. Aku memberitahunya kalau aku nanti akan datang ke kafenya untuk ikut-ikut acara sureprise anakku. Pak Liem malah ketawa.

“Pak Doni, sepertinya itu anakmu jatuh cinta banget sama pacarnya sampai kepengen dikenalkan segala,” kata Pak Liem. “Aku tadi juga ditelpon ama anakmu mau ngasih pesta kejutan katanya. Aku sih Ok, Ok saja, apalagi sudah kenal dekat dengan Pak Doni. Bukan begitu?”

“Iya sih Pak Liem. Yah, namanya juga anak-anak. Kita juga pernah muda,” kataku. “Makasih kalau begitu, saya nanti akan mampir ke sana.”

“Iya pak, silakan! Saya sudah menghubungi manajernya,” kata Pak Liem. Pembicaraan kita pun berakhir.

Aku masih ada di kantor sampai malam. Aku pun segera cabut untuk ke tempat kafe itu sesuai janjiku kepada Faiz. Faiz pun menelponku.

“Ayah, sudah berangkat?” tanyanya.

“Iya, ini juga dalam perjalanan,” jawabku.

“Makasih ya yah,” katanya.

“Iya,” kataku.

Setelah dari tempat parkir aku pun segera melajukan mobilku hingga aspal menimbulkan bunyi berdecit. Perjalanan ke kafenya cukup lama karena aku harus berjibaku dengan kemacetan yang luar biasa. Ada telepon masuk lagi. Dari istriku Laura.

“Halo Ma? Ada apa?” tanyaku.

“Papa lembur nggak?” tanyanya.

“Nggak, hanya saja ini si Faiz ingin aku ke pesta kejutan ceweknya. Ada apa ya?”

“Oh, nggak apa-apa. Kalau papa nggak bisa menjemput Juni yang saat ini sedang ada di tempat latihan nggak apa, aku akan telepon dia nanti,” kata Laura.

“Oh, nggak apa-apa. Aku bisa koq. Dia ada di Dojo bukan?”

“Iya.”

“Kebetulan Dojonya deket koq sama kafenya.”

“Oh, syukurlah. Ya udah, hati-hati ya pa.”

“Oke mah.”

Aku pun mampir ke sebuah Dojo sebelum ke kafe itu. Ngajak Juni? Nggak apa-apalah. Dia juga jarang banget aku ajak keluar. Dia berlatih di Dojo beladiri Kendo. Sudah lama menggeluti olahraga ini, semenjak dia masih SMP tepatnya. Mobil aku parkir di luar Dojo. Ia ternyata belum keluar. Segera aku keluar dari mobil dan masuk ke Dojo. Eh, ternyata Juni sudah selesai. Ia berlari-lari kecil menuju ke arahku sambil membawa pedang bambunya.

Ia langsung mencium tanganku.

“Hai pa,” sapanya.

“Hai, gimana latihannya?” tanyaku.

“Yah, seperti biasa,” jawabnya.

Aku dan dia berjalan beriringan.

“Bulan depan mau ada kejuaraan, aku ikut,” katanya.

“Oh ya? Wah, keren dong. Latihan yang keras kalau begitu,” kataku.

“Papa bisa datang?” tanyanya.

Nah, ini. Susah juga jawabnya.

“Papa usahakan yah, kalau papa nggak terlalu sibuk pasti datang,” kataku.

“Nggak bisa gitu dong pa. Sudah berkali-kali kejuaraan papa nggak dateng. Siapa yang bisa menyemangati aku? Sedangkan teman-temanku orang tuanya pasti datang,” Juni ngambek.

“Kan ada kak Faiz kalau papa nggak bisa datang,” kataku.

“Kak Faiz lagi, udahlah pa. Kalau emang papa nggak bisa ya bilang aja nggak bisa,” ia menggerutu lalu masuk ke dalam mobil. Dilemparkan pedang bambunya ke kursi belakang. Aku menghela nafas.

“Baik deh, papa akan datang. Janji. Apapun urusan papa, papa pasti akan datang, tapi dengan satu syarat,” kataku.

Tampak wajah Juni sumrigah. Ia senang sekali, “Apa pa?”

“Syaratnya kamu harus menang,” kataku.

“Pasti dong pa, aku pasti akan menang. Makasih ya pa,” katanya. Ia memelukku.

“Kamu laper kan? Aku ajak kamu ke kafe ya. Sudah lama aku nggak ngajak kamu makan malam. Kakakmu sedang ngasih kejutan buat pacarnya yang sedang ulang tahun,” kataku.

“Oh ya? Ayo pa, ayo! Kita kesana!” katanya bersemangat.

“Iya, iya. Sabar ini juga mobil belum nyala,” kataku.

Kami pun segera ke kafe yang dimaksud. Aku bisa melihat mobil milik Faiz, Honda City Type z yang ia modif terparkir di luar kafe. Aku pun memarkir mobilku di sebelahnya.

“Ah, mobilnya kak Faiz! Aku duluan pa!” Juni segera melompat keluar dari mobil. Ia masih pakai seragam kendonya. Langsung masuk ke dalam kafe. Dasar. Aku pun keluar dari mobil dan masuk ke kafe itu.

Di dalam kafe Faiz langsung menyambutku. Beberapa orang langsung matanya tertuju ke arahku.

“Makasih yah, sudah datang,” kata Faiz.

NARASI HANI

Malam ini spesial tentunya. Faiz akan memberikan sureprise kepada Iskha. Mbak Iskha masih sibuk menghibur para pengunjung kafe yang cukup banyak karena kebanyakan memang undangan dari Faiz. Dia pun menyambut seseorang lelaki paruh baya. Sebelumnya ada seorang yang kira-kira masih remaja langsung masuk dan memeluk Faiz dari belakang. Ia terkejut dan langsung mencium pipi anak itu. Lalu memeluk orang tua tersebut.

“Alamaaak, mimpi apa aku semalam,” kata Tanti rekan kerjaku. Dia salah satu pelayan dan baru saja mengantarkan pesanan seorang pelangan.

“Ada apa Tan?” tanyaku.

“Itu…dia konglomerat, Pak Hendrajaya!” bisik Tanti.

“Hah? Yang bener?” aku terkejut. “Doni Hendrajaya?”

“Iya, masa’ kamu nggak tahu sih?” kata Tanti heran.

Apa-apaan ini? Tak mungkin. Itu Doni Hendrajaya? Ayah biologisku????

“Lho, jadi cowoknya mbak Iskha itu…???” aku bergumam.

“Iya, cowoknya itu putranya. Masa’ kamu nggak tahu sih? Kan barusan muncul di koran-koran,” kata Tanti lagi.

“Yee…jarang juga aku baca koran,” kataku.

Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku bisa berhadapan dengan orang yang katanya ibuku adalah ayah biologisku. Pak Hendrajaya. Tapi…apa dia akan bisa menerimaku? Nggak mungkin. Dia begitu parlente. Aku tak mungkin langsung mengaku kalau aku sebenarnya adalah anaknya. Pantas saja kemarin aku merasa nyaman di mobilnya Mas Faiz. Karena dia adalah kakakku. Terang saja. Sekarang jelas sudah semuanya.

Lalu apa yang harus aku lakukan??

(bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*